Cerita Antara KitaAugust 15, 2006 12:47 pm

Hmm, kisah ini terjadi di tahun 1999. Usia saya boleh dibilang masih cukup muda untuk mengenal yang namanya sex. Tetapi apa mau dikata, karena sex itu enak maka saya menjadi ketagihan. Anyway, kembali ke cerita saya.

Saya mempunyai seorang temen cewek, sebut saja namanya Vina. Dari postur tubuhnya boleh dijamin semua laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur untuk mencicipinya. Vina mempunyai tinggi kurang lebih 165 cm, 47 kg dan menggunakan bra ukuran 34B (hal itu saya ketahui ketika saya ml sama dia), dan kulitnya kuning langsat. Dengan wajah layaknya cewek kampus, dan tidak terlihat sama sekali kalau dia juga seorang pecinta sex bebas, sama seperti saya.

Beruntung saya memiliki wajah dan badan yang cukup lumayan, sehingga saya tidak mengalami kesulitan dalam mencari teman untuk melepas birahi, apalagi ditambah dengan ukuran saya yang boleh dibilang lebih dari rata-rata. Wajar saja kalau teman cewek saya rajin mengontak saya disaat mereka butuh dan begitupun juga sebaliknya.

Suatu hari, Vina menelpon saya. Dia cerita bahwa dia punya teman kost baru, dan cakep pula. Dia juga bilang kalau temannya itu mirip artis ternama di ibukota, yang namanya sudah terkenal. Dia janji mau mengenalkan saya ke dia. Maka kemudian saya dan Vina membuat suatu janji pertemuan di hari Sabtu.

Pada hari yang telah di janjikan, saya telah membuka sebuah kamar di daerah Juanda, dan seperti yang telah direncanakan, Vina datang membawa seorang temannya yang bernama Santi.

“Tok.. tok.. tok..!” 3 kali saya dengar ketokan pintu, maka secara otomatis saya membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, terlihatlah Vina yang sedang tersenyum kepada saya, dan di belakangnya tampak temannya yang akan dikenalkan ke saya. Dan benar saja, temannya itu menang benar mirip sekali dengan artis ibukota yang Vina ceritakan.

“San, kenalin donk… ini loh temen gue yang gue mau kenalin ke elu.” begitu ucap Vina sambil masuk ke kamar.
“Oh iya, gue Santi… dan elu sapa..?” sapanya ramah.
Saya sempat terdiam sewaktu Santi menjulurkan tangannya, karena saya tidak habis pikir kalau cewek ini begitu cantiknya, dan saya harus dapat mencicipinya hari ini juga.

“Hmm, nama gue A..” begitu saya sadar, langsung saya merespon dengan julurkan tangan.Hmm, kulitnya halus juga, pikir saya. Kalau dari yang saya lihat, Santi ini sedikit lebih pendek dari Vina, tetapi dia mempunyai buah dada yang lebih besar daripada Vina. Kira-kira tingginya 160 cm, 45 kg, dan saya rasa ukuran dadanya 34C, soalnya dadanya besar sekali.

“Eh, loe berdua jangan diem gitu donk, kasih gue minum kek..!” tiba-tiba suara Vina memecahkan kesunyian yang ada.
“Oh iya, sori Vinn, tuh loe ambil aja deh di kulkas..!” jawab saya sekenanya.
“Gini..,” kata Vina. “Temen gue Santi ini seorang janda anak satu, tapi loe pikir deh, umurnya baru 23 dan body-nya masih segini, ngga kecewa donk loe gue bawain yang kaya gini.” lanjut Vina lagi.
“Ah elu bisaan aja Vin,” sahut Santi dengan tersipu, sehingga tampaklah wajahnya yang sedikit memerah.
Aduh.., ini membuat saya jadi horny saja.

Tiba-tiba saja Santi menarik Vina ke kamar mandi.
“Ikut gue bentar deh Vin..!” kata Santi.
Lalu Vina dengan terburu buru juga ikut dan sambil bicara kepada saya, “Dah loe tiduran aja dulu di ranjang, temen gue mau bilang sesuatu kali nih ke gue.”

Tidak lama mereka keluar dari kamar mandi.
“Eh sori yach tadi sempet bikin loe kaget.” kata Santi.
“Eh, ngga apa-apa kok.” jawab saya masih bingung.
“Emangnya kenapa sih tadi..?” saya masih bingung.
“Udah deh loe ngga usah tau, urusan perempuan kok barusan, yang penting sekarang loe santai aja di ranjang loe dan ikutin permainan gue.” timpalnya lagi.

“Wah-wah-wah, permainan apa lagi nih..?” pikir saya dalam hati.
Tapi saya sudah senang sekali, apalagi saya melihat Vina tersenyum nakal ke arah saya. Duh, saya jadi tambah horny saja deh.
“Sebelum gue kasih loe ijin, jangan sekali kali loe sentuh gue, ok..?” kata Santi.
“Ok-ok deh..,” jawab saya meskipun saya masih agak bingung dengan arah permainannya.

Tiba-tiba saja Santi langsung mendekati ke ranjang dan segera menciumi saya di bibir. Yach sudah otomatis saya akan merespon juga donk. Lidah kami saling ‘bergerilya’, sedangkan saya hanya boleh telentang saja di ranjang. Kemudian ciuman Santi turun ke leher saya, hm.. enaknya pikirku. Dijilatinnya leher saya, terus dia juga menjilati kuping saya.
Tanpa sadar saya mendesah, “Ahh, enak, San, terusin dong..!”

“Sekarang gue bukain baju loe, tapi inget..! Tangan loe tetep diam aja yach, jangan sentuh gue sebelum gue kasih ijin..!” sahutnya lagi.
“Aduh sengsara banget nih..! Masa mau ml tapi tangan gue ngga boleh megang-megang sih..!” pikir saya dalam hati.

Dengan cepet Santi membuka baju saya dan langsung dilempar. Dengan sigapnya Santi langsung bergerilya di dada saya, bagaikan seseorang yang lama tidak mendapatkan tubuh laki-laki. Digigitnya kedua puting saya.
“Ahhh, enak gigitan loe,” saya mendesah pelan.
Samar-samar saya melihat Vina duduk di samping saya sambil memperhatikan wajah saya dan dia tersenyum.

Tanpa sadar tangan saya mencoba mencari buah dada Santi untuk saya remas-remas. Eh tanpa saya duga, tiba-tiba saja tangan saya ditepis oleh Santi dan Vina.
“Gue kan udah bilang, kalo belum gue kasih ijin jangan sentuh gue..!” kata Santi.
“Iya, loe tuh gimana sih..?” kata Vina, “Ikutin donk permainannnya Santi..!” lanjut Vina.
“Yach habis gimana donk..? Namanya juga reflek..!” timpal saya sambil mendesah dan agak kecewa.

“Pokoknya loe sabar deh..!” kata Santi sambil membuka celana saya.
“Hmm.., cd model low cut dengan warna hitam nih..!” ujar Santi sambil bergumam sendiri.
“Loe tau aja kesukaan gue..!” kata Santi, “Dan loe seksi banget dengan cd warna gini, bikin gue horny juga tau..!” kalimat Santi yang terakhir sebelum dia mulai ber-’karaoke’.
“Oohh, enak, sedot lagi donk yang kuat San..!” kata saya sambil mendesah.

Kurang lebih 5 menit Santi telah ber-’karaoke’ terhadap penis saya. Kemudian Santi dengan sigapnya melepas seluruh baju, celana dan pakaian dalamnya.
“Nah, sekarang loe baru boleh sentuh gue..!” kata Santi.
Maka karena dari tadi saya sudah menahan mau nyentuh dia tapi tidak boleh, maka kesempatan ini tidak saya sia-sia kan. Langsung saja saya rebahkan Santi di ranjang dan gantian saya ciumi bibirnya, dan Santi juga membalasya dengan tidak kalah ganasnya. Kemudian saya turuni ciuman saya ke daerah lehernya. Hmm, lehernya yang bersih itu saya ciumi dan saya jilati. Samar-samar saya mendengar Santi mulai mendesah.

Kali ini saya turun ke buah dadanya, saya menjilati dulu pinggirnya secara bergantian, dari kanan ke kiri. Tetapi saya tidak menyentuh sedikit pun putingnya Santi.
Dan Santi kemudian bicara, “Ayo donk isepin puting gue, please..!”
“Wah ini saatnya balas dendam nih..!” pikir saya dalam hati.
“Hah..? Loe minta diisepin puting loe, sabar yach sebelum gue mood, gue ngga bakal isep puting loe..!” jawab saya sambil tersenyum.
Saya lihat Vina juga ikut tersenyum melihat temannya terkapar pasrah.

Tidak lama setelah saya memainkan buah dadanya, saya turun ke vaginanya. Tampaklah bulu-bulu vagina Santi yang begitu halus dan dicukur rapih. Dengan sigap saya langsung menghisap vagina santi.
“Ohh.., ohh.., enakk..! Terusin donk Sayang..!” sahut Santi sambil mendesah.
Kalimat itu membuat saya tambah semangat, maka saya tambah liar untuk menghisap vaginanya.

“Sayang, aku mau keluar,” lirih santi.
Dan tiba-tiba saja cairan vagina Santi keluar diiringin teriakan dari Santi yang kemudian saya telan semua cairan vagina Santi.
“Duh Say, kamu kok hebat sih maenin memekku..?” tanya Santi.
Yang saya lakukan hanya tersenyum saja.
“Please donk, masukin punya kamu sekarang..!” pinta Santi dengan memelas.
“Nanti dulu, puting kamu belum gue hisap..!” jawab saya.
Maka dengan cepat langsung puting yang berwarna coklat muda itu saya hisap dengan kencanganya secara bergantian, kiri dan kanan.

“Ahhh, enakk Sayang, terusin..! Tambah kenceng donk..!” teriak Santi.
Hmm, mendengar suara cewek lagi terangsang begitu membuat saya tambah horny lagi, apalagi si ‘adik’ sudah dari tadi menunggu giliran ‘masuk’. Maka langsung saja saya memasukkan penis saya ke vaginanya.
“Shit..! Sempit banget nih memek..!” pikir saya dalam hati.
Setelah sedikit bersusah payah, akhirnya masuk juga barang saya ke vaginanya.
“Gila bener San, barang loe enak dan sempit banget sih..?” jawab saya dengan napas yang mulai tidak teratur.
Dan kalimat saya dibalas dengan senyum oleh Santi yang sedang merem melek.

Begitu masuk, langsung saya goyangkan. Yang ada hanya suara Santi yang terus mendesah dan teriak.
“Ahhh terus Sayang, tambah cepet donk..!”
Dan sekilas di samping saya tampak Vina sedang meremas-remas buah dadanya sendiri.

“Sabar Vin, akan tiba giliran loe, sekarang gue beresin dulu temen loe ini..!” jawab saya sambil sambil menggoyangkan Santi.
Vina hanya dapat menganggukan kepala, soalnya dia tahu ini bagian dalam permainan yang mereka buat, jadi Vina juga tidak boleh ikut sedikit pun dalam permainan saya dan Santi.

Tidak lama kemudian Santi minta gantian posisi, kali ini dia mau di atas.
“Gue cepet keluar kalo di atas..!” katanya santai.
Kami pun berganti posisi. Berhubung Santi tadi sudah keluar, maka kali ini ketika kami ‘main’ vagina Santi sudah becek.
“Ahh.., enakk.., barang lo berasa banget sih..!” jawab Santi sambil merem melek.

5 menit kemudian Santi teriak, “Ahh.., gue keluar lagi..!” dan dia langsung jatuh ke pelukan saya.
Tetapi saya kan belum keluar, wah tidak begini caranya nih. Ya sudah akhirnya saya gantian dengan gaya dogy.
Kali ini kembali Santi menjerit, “Terusiin Sayang..!”
Tidak lama kemudian saya merasa kalau saya sudah mau keluar.
“San, mau keluarin dimana..?” tanya saya.
“Di muka gue aja.” jawabnya cepat.

Kemudian, “Croott.., crott..!” sperma saya saya keluarkan di wajah Santi.
Kemudian Santi dengan cepat membersihkan penis saya, bahkan saya saja sampai ngilu dengan hisapannya. Tidak lama saya pun jatuh lemas di sampingnya. Dan saya tetep melihat Vina tetap meremas dadanya dan dia pun melihat saya dengan tatapan ingin mendapat perlakuaan yang sama seperti temannya.

“Vin, ke kamar mandi dulu yuk, gue mau bersih-bersih nih..!” jawab saya sambil mengajak Vina.
Kemudian Vina dengan cepat menarik saya ke kamar mandi. Di kamar mandi kami saling membersihkan satu sama lain.
“Vin, gue istirahat dulu yach, gue cape banget soalnya,” timpal saya dengan suara lemas tapi penuh dengan kebahagiaan.
“Ok deh, tapi jangan lama-lama yach, gue udah ngga tahan nih..!” jawab Vina sambil membersihkan penis saya.

Tidak lama kemudian Santi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, saya dan Vina kemudian keluar dari kamar mandi. Begitu sampai di ranjang, tiba-tiba saja Vina mencium saya dengan ganasnya. Secara otomatis pula saya membalasnya. Kemudian ciuman Vina mulai turun ke leher saya dan dada saya. Saya hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Dada saya diremas-remas oleh Vina dan sapuan lidahnya mulai turun ke daerah bawah.

“Hmm.., barang loe bakal gue paksa berdiri lagi nih..!” kata Vina dengan suara menggoda.
Kemudian tanpa diperintah Vina segera mencium dan mengulum penis saya dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan.
“Ahh.. ahh.. ahh.., enak Vin..!” timpal saya.
Sekilas saya melihat Santi baru keluar dari kamar mandi dan sedang memakai bajunya.
“Loe ngga mau ikutan lagi San..?” tanya saya.
“Ngga ah, gue lemes banget, gantian loe urus temen gue aja deh, gue mau istirahat dulu,” jawabnya santai.

Kemudian saya tidak mau kalah, segera saya raih buah dada Vina dan segera saya hisap. Saya mulai dari putingnya yang kanan, kemudian beralih ke yang kiri, saya remas-remas juga dadanya.
“Ahh, yang kenceng Sayang..!” jawab Vina lirih.
Kurang lebih 5 menit saya memainkan dadanya, kemudian saya turun ke vaginanya. Tampaklah vagina Vina ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapih itu sudah tampak basah.

“Hmm.., udah basah loe Vin, dah ngga tahan yach..?” kata saya sambil tersenyum.
Vina hanya menangguk saja tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kemudian saya mendekatkan mulut saya ke depan vagina Vina, dan langsung saya hisap dan saya jilat vaginanya.
“Ohh.., ohh.., teruss..! Enak..!” itulah suara yang terdengar dari mulut Vina.

Setelah 10 menit saya memainkan vaginanya, saya ingin melakukan gerakan lebih jauh. Dan dengan segera saya memasukkan penis saya ke dalam vagina Vina.
“Hmm, pelan-pelan yach..!” jawab Vina.
Saya hanya tersenyum dan segera mencium Vina, dan dia pun membalasnya dengan penuh semangat.

Blesss, seluruh penis saya kini berada di dalam vagina Vina. Dan tanpa dikomando lagi saya segera bergerak diikuti goyangan pinggul Vina. Tanpa sadar Vina memeluk saya begitu eratnya dan saya memperhatikan wajah Vina yang sedang merem melek seakan-akan tidak ingin berhenti memperoleh kenikmatan.

5 menit kemudian Vina ingin berganti posisi.
“Eh, gantian dogy yuk..!” pinta Vina.
Ya sudah, saya turuti saja kemauan Vina.
“Bless, bless.., bless..!” sedikit terdengar suara penis dan vagina yang sedang berlomba, karena vagina Vina sudah basah dan menurut saya Vina tidak lama lagi akan keluar.

Dan benar saja dugaan saya, tiba-tiba saja Vina teriak, “Ah.., ahh.., ahh.., gue keluar..!”
Kemudian Vina langsung jatuh lemas dengan posisi telungkup, sementara penis saya masih tertancap dalam vagina Vina. Maka saya segera menggerakkan penis saya supaya saya juga dapat keluar. Tidak lama saya terasa bahwa saya ingin keluar.
“Keluarin di mana Vin..?” tanya saya.
“Di dalam ajalah, biar loe enak..!” jawabnya dengan suara yang terbata-bata.

Lalu, “Crott, crott..!” penis saya segera mengeluarkan semburan spermanya.
“Ahh..!” saya bersuara dengan keras, “Enak banget..!” lanjut saya.
Kemudian saya langsung rebah di sebelah kanan Vina, sementara Santi sedang tersenyum memperhatikan kami berdua.
“Wah-wah-wah, cape loe yach berdua..?” kata Santi.
Saya yang sudah lemas hanya dapat tersenyum dan tiduran di samping Vina.

Setelah istirahat beberapa menit, kemudian saya dan Vina ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu kami bertiga pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kenangan indah bersama. Nah, nantikan cerita saya di periode berikutnya, mohon para pembaca memberi saran dan komentar terhadap cerita saya.

TAMAT

Cerita Antara Kita 12:44 pm

sebut aja nama gw adi,gw seorang karyawan disuatu kantor keuangan..karena gw masih baru.otomatis gw jg lum punya duit buat bayar cicilan rumah..jadi gw pututusin buat ngontrak sebuah rumah petak di daerah kalibata…disitu ada lima rumah kontrakan yg berdekatan…kebetulan gw punya tetangga namanya mba dewi..dia operator indosat…dia sudah nikah sich,tapi menurut gw…tubuhnya ok2 aja….sering dia membangkitkan gairah mudaku..apalagi pas bangun tidur..dia suka pakai gaun yg tipis…meskipun dia sudah menikah selama 4 tahun,dia belum juga dikaruniai anak..itu yg sering mba dewi ma mas eko curhatin ke gw…
kasian sich…tapi gimana lagie..setelah di sek dokter,,ternyata mas eko mandul
sampai suatu malam…terdengar pintu gw diketuk..”di..ada yg mau kami omongin,kata mereka…setengah ngantuk aku persilakan mereka masuk..
km besok malam bisa kerumah khan?????…ada pesta kecil2an di rumah…
tanpa pikir panjang gw jawab iya aja…sampai besokny aku bener2 kerumah mereka…setelah cerita sebentar..akhirnya mba dewi ngomong..di..gw ama eko dah 4 tahun,gw pengen punya anak…lo bisa bantuin g??
bantuin apa mba???tanya gw…lo setubuhin gw di..please……
mau khan????tapi mba??
sebelum aku jawab tiba2 mba dewi udah membungkam aku dengan ciumannya…sambil tangannya meraba selangkanganku…
aku coba berontak..tapi nafsuku sudah memenuhi ubun2ku…aku balas ciumannya…dalam sekejap aku sudah melorotin gaun tidurnya..mba dewi sudah telanjang bulat…dengan ganasnya dia melucuti pakaian ku…setelah itu mulutny langsung diarahkan ke kontolku…ought…nikmat bgt rasanya..
bijiku juga dilahapnya…setelah itu dia aku suruh terlentang..kemaluannya aku jilatin…aku cari kacangnya..trus aku gigit2..mba dewi melenguh nikmat…sambil meremas payudaranya…dia berteriak2 …terus di..terus di…satu jam kami salang jilat..kulum,,sampai akhirnya tangannya membimbing kontolku ke kemaluanya…masukin ya sayang ya….aku masukin kontolku,,ternyata masih rapat..ough..ough..tiap kali ku genjor ia selalu berteriak….sampai akhirnya cairan spermaku masuk semua ke liang vaginanya…tiga kali kami mengulanginya….
sesudah itu…akhirnya mas eko keluar..sambil menepuk bahuku..dia berkata..makasih di…”aku hanya bisa bengong melihat mas eko dan mba dewi…”"sambil bengong aku berpamitan pulang….
dua bulan setelah peristiwa itu aku dapat sms dari mba dewi…di..makasih..atas bantuannya,..bulan ini aku telat..
mas eko jg titip salam…
aku hanya bs mengelus dada…ya tuhan….
tapi aku g bisa bayangin apakan anak mba dewi mirip suaminya ato mirip aku????

Cerita Antara Kita 12:42 pm

Namaku Adi, mahasiswa tingkat akhir masih nunggu ujian akhir. Sewaktu di perpustaan kampus,tiba-tiba HP dikantong berbunyi. Tumben mbak puspita nelpon nih.. Mbak puspita adalah istri saudara sepupuku, dulu rumah kita berdekatan sehingga kita sudah kenal dekat. Umurnya kira-kira akhir 30-an. Sekarang dia tinggal di apartemen berdua saja dengan suaminya, kedua anaknya yang masih SD ditaruh di rumah kakeknya di sebuah kota di Jawa Tengah - biar murah ngongkosin sekolahnya ceritanya padaku.
“Hi Di apakabar?” begitu suaranya yang lembut membuka pembicaraan.
“Baik Mbak, Mbak sendiri gimana kabarnya, tumben nelpon ada cerita apa nih?”. “Baik2 aja, eh kamu mahasiswa psikologi kan? Mbak mau konsultasi sedikit boleh ngga?”. “Konsultasi apa mbak?” jawabku heran.. “Mbak malu ceritanya, tapi kamu janji kan ngga cerita sama siapa-siapa”
“Janji deh mbak…” “Mbak masih malu, lewat sms aja deh”
“Iya deh”
Tidak berapa lama HP ini berbunyi lagi, pasti dari dari Mbak Pus nih..
“Di, saya malu mau cerita tapi saya perlu bantuan kamu. Mbak pikir kamu bisa menolong. Saya punya problem dengan kehidupan seks saya, sekarang saya ngga tahu kenapa saya ngga bisa menikmati seks lagi. Bayangan yang ada setiap mas roy (suaminya) mengajak berhubungan saya selalu ketakutan tapi mas roy terus memaksa akibatnya vagina saya sampai perih dan sakit. Saya baca di beberapa literatur kalau saya ini mengalami apa yang dibilang vaginismus. Saya ngga tahu mau cerita sama siapa lagi karena mas roy sekarang galak dan rada-rada egois. Mumpung dia lagi keluar negeri 2 minggu mbak minta tolonh kamu aja”
Oh begini ceritanya, sepertinya mbak pus ini kena trauma perlakuan suaminya jadi ada sedikit ketakutan dan perlu bantuan agar traumanya bisa hilang.
“Ok mbak saya mengerti masalahnya, gimana kala kita ngobrol-ngobrol di nanti sore di tempat yang santai?”
“Mbak jemput kamu di kampus jam 5 ya”

PART II
Sore itu mbak pus datang menjemput, dia masih tidak berubah seperti beberapa tahun silam. Putih, tidak terlalu kurus, dengan rambut sunsilknya yang sebahu. Sore itu dia memakai kemeja putih dengan celana panjang warna coklat. Mas roy bodoh sekali menyiksa wanita secantik ini, aku membatin…
“Hi Adi, apakabar” sambil cipika-cipiki di dalam mobilnya ” kita ke apartemen aja yuk, ngga ada siapa-siapa di sana”. Kita berdua langsung berangkat, kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh dari kampus tapi macetnya itu kalau sudah sore. Sambil mengatur ac aku melirik mukanya yang manis itu.

“Di kamu mau minum apa?” mbak pus bertanya dari dapur. “Kopi aja mbak”, mbak pus membawa beberapa makanan ringan dan minuman sebagai pelengkap obrolan di sore itu.
“Jadi gimana menurut pendapat kamu?” mbak pus memulai pembicaraan “Saya kira mbak ngga apa apa kok”.”Masak sih” balasnya setengah heran. “Saya bisa bantu mbak tapi mbak mesti percaya sama saya 100%”.
“Hmm, memang kamu mau bantu gimana?”"Pertama sih mbak harus dibuat percaya bahwa seks itu tidak menakutkan”. “Caranya gimana?” dia terus bertanya.”Mbak percaya dengan saya kan?” “Percaya deh”.”Pertama, mbak takut kan melihat laki-laki telanjang dengan penis yang berdiri tegang?”.. “Betul, mbak langsung gimana gitu” dia menukas.
“Sekarang kita sama sama telanjang yuk”
“Hmm..” ada sedkit keengganan dimukanya. “Mbak percaya deh saya ngga akan ngapa-ngapain”
Aku mulai membuka pakaian sendiri, mulai dari kaos, celana panjang, dan diakhiri dengan cd. Walaupun terlihat enggan, mbak pus menuruti permintaan aku juga walaupun akhirnya dia duduk di sofa dengan melipat kakinya dan menutupi dadanya dengan bantal. Aku sendiri duduk biasa dengan penis yang sudah tegang..
“Maksud kamu apa di dengan kita berdua telanjang seperti ini?”
“Seperti yang saya bilang barusan, mbak ngga perlu takut lihat laki-laki telanjang dengan penis tegang seperti saya sekarang ini” .. “Kita nonton tv yuk” aku ajak dia ke depan tv, di depan tvnya ada karet tebal yang empuk buat alas duduk. Dia ikut ke depan tv dan akhirnya kita nonton tv berdua dengan santai. Mbak pus juga mulai percaya bahwa aku ngga akan ngapa-ngapain dia walaupun kita berdua sudah sama-sama telanjang. Sampai kira-kira jam 10 malam aku berpakaian dan pamit pulang. “Mbak, pulang dulu ya, sudah malam nih” “Makasih yah, hati-hati di jalan” Mbak pus memberikan ciuman ringan di bibir. Di kamar kost aku langsung onani.. ngga tahan melihat tubuh mbak pus.. Dua hari berturut-turut mbak pus aku terapi seperti itu

PART III
Aku datang lagi ke apartemennya. Mbak pus menyambut lagi dengan senyumnya yang manis itu.
“Gimana sekarang ?” tanyanya manja. “Sekarang masih seperti kemarin kan” Mbak pus langsung membuka kaos putih yang membungkus tubuhnya, dadanya tidak besar tapi mungil dan padat dengan putingnya berwarna merah muda sementara selangkangannya relatif tidak banyak ditumbuhi bulu-bulu halus.
“Hmm, sekarang mbak pus harus mencoba merangsang diri sendiri” aku memulai pembicaraan dan membuka pakaian sendiri. “Kita ke kamar yuk, di kamar kan ada meja rias yang besar” Mbak pus berdiri di depan cermin sementara aku duduk di kasur. “Mbak, coba remas-remas dada mbak”
Mbak pus menuruti permintaanku, beberapa saat kemudian terlihat mukanya memerah..”Di, enak juga yah begini” aku menjawab “Terusin aja mbak kalau sudah bisa enak, coba satu tangan elus-elus paha dalam sementara tangan yang satu lagi masih meremas dada”. Mbak pus kembali menuruti permintaanku dan terlihat napasnya sudah mulai tidak teratur.
“Mbak, aku ke kamar mandi sebentar yah” aku sudah tidak tahan melihat pemandangan ini, akhirnya aku tumpahkan saja air mani yang sudah bertumpuk sambil onani di kamar mandi.
“Kamu kok lama sekali di kamar mandi, eh kenapa sudah tidak berdiri lagi.. kamu onani yaa?” mbak pus tersenyum. “Iya mbak” aku menjawab sambil tersipu”..”Mbak juga sudah bisa merasakan rangsangan walaupun belum banyak”.”Syukurlah, barangkali kalau mbak lakukan sambil tiduran, sensasinya akan beda”..”Mbak coba deh selama 2-3 hari ini”..

PART IV
Karena hari ini libur maka aku janji datang pagi-pagi. Mbak pus kembali datang menyambut, pagi ini sepertinya dia baru selesai mandi jadi segarnya masih terasa.
“Di, aku coba saran kamu. Ternyata mbak jadi sangat terangsang sampai mbak jadi basah dan mbak gosok-gosok kelentitnya sampai mbak lemas keenakan”
“Kalau saya tambahin lagi enaknya gimana mbak?” aku tersenyum.. “Mau donng” dia tersenyum manja.
Kita berdua berdiri di depan cermin besar di kamanya, mbak pus mulai meremas-remas dadanya sendiri. Aku mulai membelai-belai rambutnya sambil menciumi lehernya “Diii…, enak emph..” napasnya mulai memburu… Berdua kita sama sama meremas-remas dadanya. Mak pus cuma bisa menahan napas ketika aku mulai menciumi dadanya, perutnya kemudian pahanya. Aku mulai meraba selangkangannya yang sudah basah dan mencari kelentitnya. Mbak pus mengacak-ngacak rambutku ketika aku sudah mulai menciumi selangkangannya. Akhirnya dia tidak tahan lagi dan berbaring di ranjang.
“Adi kamu nakal sekali…” mbak pus tersenyum.
“Mbak, kita onani sama-sama yuk” Aku meminta dia merangsang kelentitnya dan memasukkan jari-jari ke dalam memeknya sendiri. aku berbaring di sampingnya sambil mengocok penis yang sudah tegang ini.
Mbak pus mulai melenguh keenakan, keringatnya terlihat di sekujur tubuhnya..
“Di, mbak mau keluar… ohhh.. emmmphh” ..kedua kakinya menjepit erat tangannya. “Mbak, aku juga mau keluar”,.. aku berlutut sambil terus mengocok.. “Ohh, mbak keluar duluan nihh..” Aku terus mengocok sambil mengarahkan penis ini ke hadapan dia. Crott… crott 2 kali semburan air mani ini membasahi perut mbak pus yang terbaring lemas.
“Mbak kita mandi sama yuk” mbak pus pun melangkah ke kamar mandi. Kita saling membersihkan dan mengeringkan tubuh. Siang itu kita habiskan di tempat tidur, istirahat

Cerita Antara Kita 12:35 pm

Nama saya Vita. Sebenarnya itu bukan nama asli saya, tetapi nama samaran
yang diberikan Arthur dalam kisahnya di Arthur: Snow, Ski & Sex. Menurut
orang, wajah saya cantik sekali. Mataku yang sayu sering membuat pria
tergila-gila padaku. Saya sendiri tidak GR tapi saya merasa pria banyak
yang ingin bersetubuh dengan saya. Saya senang saja karena pada dasarnya
saya juga senang ML.

Saya dibesarkan di keluarga yang taat beragama. Dari SD hingga SMP saya
disekolahkan di sebuah sekolah berlatar belakang agama. Sebenarnya dari
kelas 6 SD, gairah seksual saya tinggi sekali tetapi saya selalu berhasil
menekannya dengan membaca buku. Selesai SMP tahun 1989, saya melanjutkan
ke SMA negeri di kawasan bulungan, Jakarta Selatan.

Di hari pertama masuk SMA, saya sudah langsung akrab dengan teman-teman
baru bernama Vera, Angki dan Nia. Mereka cantik, kaya dan pintar. Dari
mereka bertiga, terus terang yang bertubuh paling indah adalah si Vera.
Tubuh saya cenderung biasa saja tetapi berbuah dada besar karena dulu saya
gemuk, tetapi berkat diet ketat dan olah raga gila-gilaan, saya berhasil
menurunkan berat badan tetapi payudaraku tetap saja besar.

Di suatu hari Sabtu, sepulang sekolah kami menginap ke rumah Vera di
Pondok Indah. Rumah Vera besar sekali dan punya kolam renang. Di rumah
Vera, kami ngerumpi segala macam hal sambil bermalas-malasan di sofa. Di
sore hari, kami berempat ganti baju untuk berenang. Di kamar Vera, dengan
cueknya Vera, Angki dan Nia telanjang didepanku untuk ganti baju. Saya
awalnya agak risih tetapi saya ikut-ikutan cuek. Saya melirik tubuh ketiga
teman saya yang langsing. Ku lirik selangkangan mereka dan bulu kemaluan
mereka tercukur rapi bahkan Vera mencukur habis bulu kemaluannya.
Tiba-tiba si Nia berteriak ke arah saya..

“Gile, jembut Vita lebat banget”

Kontan Vera dan Angki menengok kearah saya. Saya menjadi sedikit malu.

“Dicukur dong Vita, enggak malu tuh sama celana dalam?” kata Angki.
“Gue belum pernah cukur jembut” jawabku.
“Ini ada gunting dan shaver, cukur aja kalau mau” kata Vera.

Saya menerima gunting dan shaver lalu mencukur jembutku di kamar mandi
Vera. Angki dan Nia tidak menunggu lebih lama, mereka langsung menceburkan
diri ke kolam renang sedangkan Vera menunggui saya. Setelah mencoba
memendekkan jembut, Vera masuk ke kamar mandi dan melihat hasil saya.

“Kurang pendek, Vita. Abisin aja” kata Vera.
“Nggak berani, takut lecet” jawabku.
“Sini gue bantuin” kata Vera.

Vera lalu berjongkok di hadapanku. Saya sendiri posisinya duduk di kursi
toilet. Vera membuka lebar kaki saya lalu mengoleskan shaving cream ke
sekitar vagina. Ada sensasi getaran menyelubungi tubuhku saat jari Vera
menyentuh vaginaku. Dengan cepat Vera menyapu shaver ke jembutku dan
menggunduli semua rambut-rambut didaerah kelaminku. Tak terasa dalam waktu
5 menit, Vera telah selesai dengan karyanya. Ia mengambil handuk kecil
lalu dibasahi dengan air kemudian ia membersihkan sisa-sisa shaving cream
dari selangkanganku.

“Bagus kan?” kata Vera.

Saya menengok ke bawah dan melihat vaginaku yang botak seperti bayi. OK
juga kerjaannya. Vera lalu jongkok kembali di selangkanganku dan
membersihkan sedikit selangkanganku.

“Vita, elo masih perawan ya?” kata Vera.
“Iya, kok tau?”
“Vagina elo rapat banget” kata Vera.

Sekali-kali jari Vera membuka bibir vagina saya. Nafasku mulai memburu
menahan getaran dalam tubuhku. Ada apa ini? Tanya saya dalam hati. Vera
melirik ke arahku lalu jarinya kembali memainkan vaginaku.

“Ooh, Vera, geli ah”

Vera nyengir nakal tapi jarinya masih mengelus-elus vaginaku. Saya
benar-benar menjadi gila rasanya menahan perasaan ini. Tak terasa saya
menjambak rambut Vera dan Vera menjadi semakin agresif memainkan jarinya
di vaginaku. Dan sekarang ia perlahan mulai menjilat vagina saya.

“Memek kamu wangi”
“Jangan Vera” pinta saya tetapi dalam hati ingin terus dijilat.

Vera menjilat vagina saya. Bibir vagina saya dibuka dan lidahnya menyapu
seluruh vagina saya. Klitorisku dihisap dengan keras sehingga nafas saya
tersentak-sentak. Saya memejamkan mata menikmati lidah Vera di vaginaku.
Tak berapa lama saya merasakan lidah Vera mulai naik kearah perut lalu ke
dada. Hatiku berdebar-debar menantikan perbuatan Vera berikutnya.

Dengan lembut tangan Vera membuka BH-ku lalu tangan kanannya mulai meremas
payudara kiriku sedangkan payudara kananku dikulum oleh Vera. Inikah yang
namanya seks? Tanyaku dalam hati. 18 tahun saya mencoba membayangkan
kenikmatan seks dan saya sama sekali tak membayangkan bahwa pengalaman
pertamaku akan dengan seorang perempuan. Tetapi nikmatnya luar biasa. Vera
mengulum puting payudaraku sementara tangan kanannya sudah kembali turun
ke selangkanganku dan memainkan klitorisku. Saya menggeliat-geliat
menikmati sensualitas dalam diriku. Tiba-tiba dari luar si Nia memanggil..

“Woi, lama amat di dalam. Mau berenang enggak?”

Vera tersenyum lalu berdiri. Saya tersipu malu kemudian saya bergegas
memakai baju berenang dan kami berdua menyusul kedua teman yang sudah
berenang.

Di malam hari selesai makan malam, kita berempat nonton TV dikamar Vera.
Oiya, orang tua Vera sedang keluar negeri sedangkan kakak Vera lagi keluar
kota karenanya rumah Vera kosong. Setelah bosan menonton TV, kami
menggosipkan orang-orang di sekolah. Pembicaraan kami ngalor-ngidul hingga
Vera membuat topik baru dengan siapa kita mau bersetubuh di sekolah. Angki
dan Nia sudah tidak perawan sejak SMP. Mereka berdua menceritakan
pengalaman seks mereka dan Vera juga menceritakan pengalaman seksnya, saya
hanya mendengarkan kisah-kisah mereka.

“Kalau gue, gue horny liat si Ari anak kelas I-6″ kata Nia.
“Iya sama dong, tetapi gue liat horny liat si Marcel. Kayaknya kontolnya
gede deh” kata Angky.
“Terus terang ya, gue dari dulu horny banget liat si Alex. Sering banget
gue bayangin kontol dia muat enggak di vagina gue. Sorry ya Vera, gue kan
tau Alex cowok elo” kata saya sambil tersenyum.
“Hahaha, nggak apa-apa lagi. Banyak kok yang horny liat dia. Si Angky dan
Nia juga horny” kata Vera. Kami berempat lalu tertawa bersama-sama.

Di hari Senin setelah pulang sekolah, Vera menarik tangan saya.

“Eh Vita, beneran nih elo sering mikirin Alex?”
“Iya sih, kenapa? Nggak apa-apa kan gue ngomong gitu?” tanya saya.
“Nggak apa-apa kok. Gue orangnya nyantai aja” kata Vera.
“Pernah kepikiran enggak mau ML?” Vera kembali bertanya.
“Hah? Dengan siapa?” tanya saya terheran-heran.
“Dengan Alex. Semalam gue cerita ke Alex dan Alex mau aja ML dengan kamu”
“Ah gila loe Vera” jawab saya.
“Mau enggak?” desak Vera.
“Terus kamu sendiri gimana?” tanya saya dengan heran.
“Saya sih cuek aja. Kalo bisa bikin teman senang, kenapa enggak?” kata
Vera.
“Ya boleh aja deh” kata saya dengan deg-degan.
“Mau sekarang di rumahku?” kata Vera.
“Boleh”

Saya naik mobil Vera dan kami berdua langsung meluncur ke Pondok Indah.
Setiba di sana, saya mandi di kamar mandi karena panas sekali. Sambil
mandi, perasaan saya antara tegang, senang, merinding. Semua bercampur
aduk. Selesai mandi, saya keluar kamar mandi mengenakan BH dan celana
dalam. Saya pikir tidak ada orang di kamar. Saya duduk di meja rias sambil
menyisir rambutku yang panjang. Tiba-tiba saya kaget karena Vera dan Alex
muncul dari balkon kamar Vera. Rupanya mereka berdua sedang menunggu saya
sambil mengobrol di balkon.

“Halo Vita” kata Alex sambil tersenyum.

Saya membalas tersenyum lalu berdiri. Alex memperhatikan tubuhku yang
hanya ditutupi BH dan celana dalam. Tubuh Alex sendiri tinggi dan tegap.
Alex masih campuran Belanda Menado sehingga terlihat sangat tampan.

“Hayo, langsung aja. Jangan grogi” kata Vera bagaikan germo.

Alex lalu menghampiriku kemudian ia mencium bibirku. Inilah pertama kali
saya dicium di bibir. Perasaan hangat dan getaran menyelimuti seluruh
tubuhku. Saya membalas ciuman Alex dan kita berciuman saling berangkulan.
Saya melirik ke Vera dan saya melihat Vera sedang mengganti baju
seragamnya ke daster. Alex mulai meremas-remas payudaraku yang berukuran
34C.

Saya membuka BH-ku sehingga Alex dengan mudah dapat meremas seluruh
payudara. Tangan kirinya diselipkan kedalam celana dalamku lalu vaginaku
yang tidak ditutupi sehelai rambut mulai ia usap dengan perlahan. Saya
menggelinjang merasakan jari jemari Alex di selangkanganku. Alex lalu
mengangkat tubuhku dan dibaringkan ke tempat tidur.

Alex membuka baju seragam SMA-nya sampai ia telanjang bulat di hadapanku.
Mulut saya terbuka lebar melihat kontol Alex yang besar. Selama ini saya
membayangkan kontol Alex dan sekarang saya melihat dengan mata kapala
sendiri kontol Alex yang berdiri tegak di depan mukaku. Alex menyodorkan
kontolnya ke muka saya. Saya langsung menyambutnya dan mulai mengulum
kontolnya. Rasanya tidak mungkin muat seluruh kontolnya dalam mulutku
tetapi saya mencoba sebisaku menghisap seluruh batang kontol itu.

Saya merasakan tangan Alex kembali memainkan vaginaku. Gairah saya mulai
memuncak dan hisapanku semakin kencang. Saya melirik Alex dan kulihat ia
memejamkan matanya menikmati kontolnya dihisap. Saya melirik ke Vera dan
Vera ternyata tidak mengenakan baju sama sekali dan ia sudah duduk di
tempat tidur. Alex lalu membalikkan tubuhku sehingga saya dalam posisi
menungging.

Saya agak bingung karena melihat Vera bersimpuh dibelakang saya. Ah
ternyata Vera kembali menjilat vagina saya. Nafas saya memburu dengan
keras menikmati jilatan Vera di kemaluan saya. Di sebelah kanan saya ada
sebuah kaca besar dipaku ke dinding. Saya melirik ke arah kaca itu dan
saya melihat si Alex yang sedang menyetubuhi Vera dalam posisi doggy style
sedangkan Vera sendiri dalam keadaan disetubuhi sedang menikmati vaginaku.

Wah ini pertama kali saya melihat ini. Saya melihat wajah Alex yang
ganteng sedang sibuk ngentot dengan Vera. Gairah wajah Alex membuat saya
semakin horny. Sekali-kali lidah Vera menjilat anus saya dan kepalanya
terbentur-bentur ke pantat saya karena tekanan dari tubuh Alex ke tubuh
Vera. Tidak berapa lama, Alex menjerit dengan keras sedangkan Vera
tubuhnya mengejang. Saya melihat kontol Alex dikeluarkan dari vagina Vera.
Air maninya tumpah ke pinggir tempat tidur.

Alex terlihat terengah-engah tetapi matanya langsung tertuju ke vagina
saya. Bagaikan sapi yang akan dipotong, Alex dengan mata liar mendorong
Vera ke samping lalu ia menghampiri diriku. Alex mengarahkan kontolnya
yang masih berdiri ke vaginaku. Saya sudah sering mendengar pertama kali
seks akan sakit dan saya mulai merasakannya. Saya memejamkan mata dengan
erat merasakan kontol Alex masuk ke vaginaku. Saya menjerit menahan perih
saat kontol Alex yang besar mencoba memasuki vaginaku yang masih sempit.
Vera meremas lenganku untuk membantu menahan sakit.

“Aduh, tunggu dong, sakit nih” keluh saya.

Alex mengeluarkan sebentar kontolnya kemudian kembali ia masukkan ke
vaginaku. Kali ini rasa sakitnya perlahan-lahan menghilang dan mulai
berganti kerasa nikmat. Oh ini yang namanya kenikmatan surgawi pikir saya
dalam hati. Kontol Alex terasa seperti memenuhi seluruh vaginaku. Dalam
posisi nungging, saya merasakan energi Alex yang sangat besar. Saya
mencoba mengimbangi gerakan tubuh Alex sambil menggerakkan tubuhku maju
mundur tetapi Alex menampar pantatku.
“Kamu diam aja, enggak usah bergerak” katanya dengan galak.
“Jangan galak-galak dong, takut nih Vita” kata Vera sambil tertawa. Saya
ikut tertawa.

Vera berbaring di sebelahku kemudian ia mendekatkan wajahnya ke diriku
lalu ia mencium bibirku! Wah, bertubi-tubi perasaan menyerang diriku. Saya
benar-benar merasakan semua perasaan seks dengan pria dan wanita dalam
satu hari. Awalnya saya membiarkan Vera menjilat bibirku tetapi lama
kelamaan saya mulai membuka mulutku dan lidah kami saling beradu.

Saya merasakan tangan Alex yang kekar meremas-remas payudaraku sedangkan
tangan Vera membelai rambutku. Saya tak ingin ketinggalan, saya mulai ikut
meremas payudara Vera yang saya taksir berukuran 32C. Kurang lebih lima
menit kita bertiga saling memberi kenikmatan duniawi sampai Alex mencapai
puncak dan ia ejakulasi. Saya sendiri merasa rasanya sudah orgasme kurang
lebih 4 kali. Alex mengeluarkan kontolnya dari vaginaku dan Vera langsung
menghisap kontolnya dan menelan semua air mani dari kontol Alex.

Saya melihat Alex meraih kantong celananya dan mengambil sesuatu seperti
obat. Ia menelan obat itu dengan segelas air di meja rias Vera. Saya
melihat kontol Alex yang masih berdiri tegak. Dalam hati saya
bertanya-tanya bukankah setiap kali pria ejakulasi pasti kontolnya akan
lemas? Kenapa Alex tidak lemas-lemas? Belakangan saya tau ternyata Alex
memakan semacam obat yang dapat membuat kontolnya terus tegang.

Setelah minum obat, Alex menyuruh Vera berbaring ditepi tempat tidur lalu
Alex kembali ngentot dengan Vera dalam posisi missionary. Vera memanggil
saya lalu saya diminta berbaring diatas tubuh Vera. Dengan terheran-heran
saya ikuti kemauan Vera.

Saya menindih tubuh Vera tetapi karena kaki Vera sedang ngangkang karena
dalam posisi ngentot, terpaksa kaki saya bersimpuh disebelah kiri dan
kanan Vera. Saya langsung mencium Vera dan Vera melingkarkan lengannya ke
tubuhku dan kami berdua berciuman dengan mesra. Saya merasakan tangan Alex
menggerayangi seluruh pantatku. Ia membuka belahan pantatku dan saya
merasakan jarinya memainkan anusku.

Saya menggumam saat jarinya mencoba disodok ke anusku tetapi Alex tidak
melanjutkan. Beberapa menit kemudian, Vera menjerit dengan keras. Tubuhnya
mengejang saat air mani Alex kembali tumpah dalam vaginanya. Saya mencoba
turun dari pelukan Vera tetapi Vera memeluk tubuhku dengan keras sehingga
saya tidak bisa bergerak. Tak disangka, Alex kembali menyodorkan kontolnya
ke vaginaku. Saya yang dalam posisi nungging di atas tubuh Vera tidak bisa
menolak menerima kontol Alex.

Alex kembali memompakan kontolnya dalam vaginaku. Saya sebenarnya rasanya
sudah lemas dan akhirnya saya pasrah saja disetubuhi Alex dengan liar.
Tetapi dalam hatiku saya senang sekali dientotin. Berkali-kali kontol Alex
keluar masuk dalam vaginaku sedangkan Vera terus menerus mencium bibirku.
Kali ini saya rasa tidak sampai 3 menit Alex ngentot dengan saya karena
saya merasakan cairan hangat dari kontol Alex memenuhi vaginaku dan Alex
berseru dengan keras merasakan kenikmatan yang ia peroleh. Saya sendiri
melenguh dengan keras. Seluruh otot vaginaku rasanya seperti mengejang.
Saya cengkeram tubuh Vera dengan keras menikmati sensual dalam diriku.

Alex lalu dalam keadaan lunglai membaringkan dirinya ke tempat tidur. Vera
menyambutnya sambil mencium bibirnya. Mereka berdua saling berciuman. Saya
berbaring disebelah kiri Alex sedangkan Vera disebelah kanannya. Kita
bertiga tertidur sampai jam 5 sore. Setelah itu saya diantar pulang oleh
Vera.

****

Itu adalah pengalaman seksku yang sangat berkesan. Bertahun-tahun kemudian
saya sering horny tetapi saya harus memendam perasaan itu karena belum
tahu cara melampiaskannya. Dan sekarang saya merasa senang sekali karena
akhirnya bisa merasakan kenikmatan bersetubuh baik dengan pria maupun
wanita. Masing-masing ternyata mempunyai kenikmatan tersendiri.

Cerita Antara Kita 12:32 pm

Miyori sebenarnya bukan gadis paling cantik yang pernah kukenal, tetapi entah mengapa, sejak pertama kali aku meninggalkan kedua orangtuaku di Tokyo untuk berkuliah di Kobe, Miyori seakan memberikan kepadaku rasa percaya diri baik bagi pribadiku maupun tugas-tugas akademisku. Satu hal yang kuketahui, Miyori telah memiliki seorang tunangan di Hiroshima, namanya Ito. Miyori dan tunangannya itu saling mengunjungi minimal tiga bulan sekali.

Suatu kali, kami menyelesaikan tugas laboratorium jauh lebih awal daripada jadwal yang kita tetapkan. Setelah makan siang bersama, kami bersantai ria duduk di atas lantai sambil bersandaran ke dinding. Aku berkata, “Miyori-san, apakah anatawa menyadari bahwa Hiroshi memberikan perhatian khusus pada Miyori?”

Miyori mengangguk pelan, dengan senyuman seolah ada sesuatu yang lucu. “Miyori-san… Hiroshi mengharapkan bila terjadi sesuatu di antara Miyori-san dan Ito-san, Hiroshi boleh menggantikan tempat Ito-san.” “Hiroshi-san”, kata Miyori, “Miyori menghargai perasaan Hiroshi pada Miyori. Bagaimanapun, Miyori sudah menambatkan hati pada pemuda lain…” Aku merasa hatiku hancur berantakan. Hari itu serasa menjadi neraka. Itulah saat pertama dalam hidupku aku menyatakan dan ditolak cinta. Miyori tahu persis perasaanku. Dipegangnya kedua tanganku sambil berkata, “Hiroshi-san, berjanjilah pada Miyori bahwa Hiroshi akan menjalin hubungan yang baik lagi dengan gadis yang lain!”

Keesokan harinya, ketika kami belajar bersama lagi, aku membisikkan ke telinganya, “Miyori-san, Hiroshi senang sekali bisa membuat Miyori-san tertawa terpingkal-pingkal seperti kemarin itu.”
Miyori memandang ke arahku, tersenyum dan tertawa kecil, “Habis cerita kamu lucu sih…”
“Sama seperti Michiko dulu waktu melihat tubuhku…” kataku pelan.
Miyori menatap matanya ke arahku, terdiam. Tak lama kemudian ia berkata, “Apa yang Hiroshi lakukan bersama Michiko?”
“Hiroshi memberitahu Michiko bahwa Hiroshi seorang pria…” jawabku lirih.
“Kenapa? Apakah Hiroshi suka melakukan hal itu?” tanyanya lagi.
“Tidak! Hiroshi memberitahukannya hanya kepada orang-orang yang Hiroshi cintai…”
Miyori terdiam dan tersenyum lucu. Sambil mengembalikan perhatiannya pada buku di hadapannya, Miyori berkata lirih, “Asyik, dong?”

Seperti tersumbat tulang aku mencoba berbicara lagi, “Asyik? Bolehkah Hiroshi memberitahu Miyori-san bahwa Hiroshi seorang pria?”
Miyori hanya menggerakkan matanya yang kecil itu kepadaku, sebentar kemudian tersenyum simpul, setengah tertawa kecil mengatakan, “Boleh, asal gratis…”
“Apa maksudnya gratis?” tanyaku berbasa-basi.
“Maksudnya gratis ialah Miyori tidak memberikan sesuatu balik apapun pada Hiroshi…”

Tak lama kemudian kami berada di dalam dormitory Miyori. Aku berkata, “Miyori, sebelum aku memberitahukan pada Miyori, bolehkah Hiroshi menyatakan sesuatu di telinga Miyori dan Miyori menjawabnya?” Miyori menjawab, “Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak memberikan sesuatu balik kepada Hiroshi!” Aku berkata lagi, “Tidak ada hubungannya dengan hal itu kok…” Miyori menganggukkan kepala sambil berkata, “Boleh…”
Aku menghampiri Miyori yang berdiri terpaku di sana. Tanganku memegang kedua tangannya, dan mulutku kudekatkan pada telinganya.
“Miyori-san, kalau Hiroshi melakukan hal ini pada Miyori-san, itu pertanda bahwa Hiroshi masih mencintai Miyori-san…” Miyori terdiam kaku, tidak mengatakan apa-apa. Aku meneruskan, “Ini saat pertama dalam hidup Hiroshi bahwa Hiroshi menyatakan diri sebagai seorang pria di hadapan gadis yang menolak cinta Hiroshi.

Miyori seperti terkesiap mendengar itu semua. Mukanya merah, diam, tidak mengatakan sepatah katapun. Tak lama kemudian aku mengambil sebuah kursi, mendekatkannya ke tempat tidur, dan mensilakan Miyori duduk di situ. Aku merebahkan diriku ke tempat tidur, dan perlahan melepas sabukku. Tiba-tiba Miyori tertawa terpingkal-pingkal.
“Miyori-san…” bisikku perlahan, “Sebentar lagi Miyori-san akan memahami tubuh seorang pria…” Tawa Miyori semakin meledak. Aku belum pernah melihat seorang wanita tertawa seperti itu. Aku ingin memastikan bahwa aku menikmati setiap detik dari derai tawa Miyori. Kelihatannya ini adalah saat pertama Miyori akan melihat dan akan memahami tubuh seorang pria, dan akulah pria itu.

Aku sudah tidak sabar lagi melihat wajah Miyori merah padam dan tertawa terpingkal-pingkal melihat tubuhku. Sepertinya derai tawanya tak bisa dihentikan oleh apapun. Ia tak lagi mendengar ucapanku. Aku juga tak ingin mengecewakannya dengan memotong rasa gembiranya di tengah jalan, jadi kuturunkan pakaianku perlahan-lahan sampai rambut tubuhku terlihat. Sepertinya Miyori sudah tidak tahan lagi dengan gelak tawanya yang menjadi-jadi. Dipeganginya perutnya dan sesekali melihat ke arah lain.
“Aduh… aku sudah tidak tahan lagi…” katanya memegangi perutnya yang mungkin sakit akibat tertawanya itu. Aku juga sudah tidak tahan lagi untuk berhenti. Dengan sekejap mata kulepas pakaian terakhirku dari kedua kakiku. Miyori semakin terpingkal-pingkal melihat tubuh priaku. Sebenarnya aku ingin mengajak tangannya membelainya lembut, tetapi tidak kulakukan karena satu tangannya memegangi perutnya dan tangan yang lain di depan mulutnya. Rupanya ia tanpa sengaja mengeluarkan banyak air ludah karena tertawanya itu.

Aku membelai-belai tubuhku sendiri. Aku membisikkan kepadanya, “Miyori-san, ini tubuh Hiroshi…” Tak lama kemudian aku menarik nafas panjang, berbisik pada Miyori, “Miyori, perhatikan tubuh Hiroshi…” dan aku melepas jauh nafasku, memancarkan air kepriaanku dan mendesah panjang beberapa kali karena kenikmatan. Miyori semakin tertawa terpingkal-pingkal. Tak lama kemudian aku terbaring diam di sana. Miyori masih tertawa. Akhirnya aku mengambil handuk yang sudah disiapkan, membersihkan tubuhku, membalutnya, mengambil semua pakaianku dan berjalan ke kamar mandi membersihkan diri. Tawa Miyori sedikit mereda ketika aku selesai membersihkan diri dan berpakaian lengkap kembali. Miyori tertawa cekikikan waktu aku berkata, “Miyori, besok Hiroshi teruskan lagi. Kapan saja Miyori menginginkan untuk melihat tubuh Hiroshi, Hiroshi selalu bersedia…” Tak lama kemudian ia reda, dengan senyum panjang menungging di bibir, Miyori menyilakan aku pulang.

Keesokan harinya aku kembali memperlihatkan tubuhku pada Miyori di tempat yang sama. Ia kembali tertawa terpingkal-pingkal dan cekikikan, tetapi tidak seperti tawanya pada saat pertama. Dibutuhkan tiga kali “pernyataan” sampai Miyori mengganti tawanya dengan senyumnya yang lebar, dan dua kali “pernyataan” lagi untuk mengganti senyumnya yang lebar itu dengan tatapan matanya yang mungil itu. Saat yang keenam, Miyori mengajak Ryu dan Ellin untuk melihat tubuhku, Ryu dan Ellin tertawa terpingkal-pingkal, tetapi Miyori hanya tersenyum lucu, dan sorotan matanya tidak lagi “menghunjam” tubuhku, tetapi menikmati gelak tawa Ryu dan Ellin.

Miyori akhirnya menikah dengan pria lain, tetapi aku bisa memastikan bahwa pria itu bakal salah tingkah melihat Miyori yang sudah memahami tubuh seorang pria.

Cerita Antara Kita 12:29 pm

Nama saya Adul Roman, kerja di Perusahaan Umum Kereta Api sebagai Pembantu masinis (Stoker). Kerjaku ringan hanya membantu masinis melihat dan mengawasi sinyal selama kereta dalam perjalanan. Awal kisah saya dan teman saya Yanto (masinis) membawa kereta api Argo Bromo dengan nomer chasis Locomotif CC 20322. Lokomotif Dari Stasiun Jatinegara menuju stasiun Manggarai karena gerbongnya ada di manggarai. Setelah di gandeng di Manggarai kereta berjalan menuju stasiun Gambir untuk melayani penumpang di Gambir.

Setibanya di gambir lokomotifnya di langsir sehingga sekarang lokomotif berada di selatan, yang sebelumnya berada di utara. Setelah itu saya melapor ke kepala stasiun untuk memberi tahu bahwa kereta siap untuk berangkat. Setelah itu saya menuju lokomotif kembali. Dalam perjalannan menuju lokomotif saya melihat cewek, wah body dan mukanya oke juga. Saya sapa dia “Mbak mau ke mana, kok seperti orang bingung…?”, Lalu dia membalas sapaanku, “Mau ke Surabaya nggak punya karcis”. Melihat kesempatan ini saya langsung kontan mengajak dia naik di kabin lokomotif. Saya dan cewek itu berjalan menuju lokomotif. Karena tangga naik ke lokomotif tinggi, saya bantu cewek itu untuk naik ke loko, saya dorong pantatnya. Setelah itu cewek tsb dan saya sudah berada dalam lokomotif.
Temanku Yanto (masinis) menegurku, “Siapa tuh cewek,…?”.
Saya jawab “biasa Penumpang nggak punya karcis”.
Lalu saya nanya ke cewek itu ” Nama kamu siapa, kok nggak beli karcis…?”.
Dia menjawab namanya Lulu tujuannya Surabaya dan dia tidak punya uang untuk beli karcis kereta api.

di dalam lokomotif hanya ada dua tempat duduk satu untuk Masinis di sebelah kanan dan satu lagi untuk asisten masinis di sebelah kiri. Antara bangku masinis dan bangku asitennya dibatasi oleh panel kemudi yang tingginya kurang lebih satu meter, sehingga antara keduanya hanya kelihatan kepalanya saja. Lulu itu duduk di pangkuanku karena tempat duduk dalam lokomotif agak besar kurang lebih diameternya 50 cm. Sinyal berwarna hijau sebagai tanda Kereta siap berangkat, ketika kepala stasiun membunyikan sempritan (semboyan 40 dalam dunia perkereta apian) sebagai tanda kereta aman untuk jalan lalu saya bunyikan klakson lokomotif sebagai acknowledgement atau pengakuan bahwa perintah di terima. ” Kwooeengg…”, masinis Yanto mulai memutar handle tenaga sehingga terdengar suara mesin Diesel Lokomotif berderu-deru. Kereta mulai berjalan.

Di dalam lokomotif jantungku berdebar debar dan kemaluanku tegang karena pantat cewek itu menempel ke celanaku.
Saya ngomong ke cewek itu, “kamu ke Surabaya tempat siapa…?
“Teman”, jawabnya.
Lalu saya ngomong lagi”,temannya cewek atau cowok”.
“Cowok”, jawabnya.
Goncangan kereta membuat pantat Lulu menggesek-gesek penisku. Membuat batang penisku semakin mengeras. Karena dalam lokomotif gelap saya cium saja lehernya, waah… Nih cewek diam saja padahal dia tahu kalau penisku sudah tegang berat.. Dan nempel di Celananya. Kemudian Lulu berkata jangan Mas Adul nanti ketahuan Masinis teman Mas Adul kan Lulu malu, saya jawab tenang saja nggak bakal dia tahu. Saya cium leher dan pipinya sambil tangan kiriku meraba-raba payudaranya dan tangan kananku memegang klakson locomotif. Klakson ada dua sebelah kanan untuk masinis dan klakson sebelah kiri untuk Asisten masinis. Setiap kali Lulu mendesah kenikmatan, saya bunyikan klakson atau lonceng lokomotif agar tidak terdengar oleh masinis.

Jam yang terpampang pada panel kemudi menunjukkan pukul 22:00. Saya tetap mencium pipi dan lehernya tangan kiriku masih bermain di payudaranya. Saya merasakan payudaranya semakin keras. Lalu tangan kananku meraba-raba payudara sebelah kanan dan tangan kiriku meraba pahanya yang masih terbungkus celana jean. Saya pijat-pijat dengkulnya sambil badanku merapat ke tubuhnya sehingga menekan buah dadanya. Tangan kiriku mulai meraba-raba selangkangannya yang masih menggunakan jeans dan kadang jari-jari tanganku menusuk-nusuk sedikit.

Tanpa sadar, saya sejak tadi tangan Lulu meraba-raba batang kemaluanku. Saya waktu itu memakai celana biru, di bukanya retsleting celanaku dan tangannya meraba-raba penisku yang masih terbungkus CD. Aduh nikmatnya saya berkata dalam hati. Saya tidak mau kalah, saya buka retsleting jeansnya dan tanganku masuk ke dalam jeansnya, tidak tahunya nih cewek tidak memakai Celana Dalam. Tanganku bisa meraba liang kewanitaannya. Sambil meraba-raba saya dan Lulu berciuman. Bibirnya yang indah saya lumat-lumat. Lulu makin lama makin keras dan cepat mengocok-ngocok batang kemaluanku dan tangan kiriku memainkan liang kewanitaannya. Saya gosok clitorisnya dan ini membuatnya semakin basah. Lulu menggelinjang-gelinjang kenikmatan. Itu semua saya lakukan terus sampai daerah Pekalongan. Setelah tiba di stasiun pekalongan saya dan Yanto turun dari lokomotif karena di gantikan oleh masinis dan asisten masinis dari Surabaya. Lulu tidak mau duduk di pangkuan Asistem masinis dari Surabaya, dia memilih duduk di bawah dengan menggelar koran. Sebelum kereta berjalan meninggalkan pekalongan Lulu memberi kartu nama yang berisi alamat dan no telp.
Setelah itu Lulu sering naik kereta api di lokomotif dia selalu menelponku kapan saya dinas membawa KA Argo Bromo

Cerita Antara Kita 12:25 pm

Aku dan istriku sudah menikah belasan tahun. Dalam waktu yang sudah cukup lama ini, otomatis kehidupan sex kami sudah mulai kehilangan gairahnya. Tapi istriku sebenarnya adalah seorang yang cukup hot dalam kehidupan sex. Cuma waktu yang membikin semuanya menjadi monoton. Suatu waktu aku menawarkan untuk mencari jalan keluar dari kemonotonan ini, yang ujung-ujungnya adalah mencari orang ketiga. Istriku menolak dengan cepat solusi ini. Tapi dari waktu kewaktu kehidupan sex kami semakin mengalami penurunan dan sampai suatu saat aku dengan agak memaksa untuk menjalankan solusi yang pernah kami bicarakan, yaitu orang ketiga. Berbulan-bulan waktu berlalu dan suatu saat istriku setuju dengan hati yang berat dan penuh dengan berbagai syarat. Mulai dari aku tidak boleh cemburu, aku harus ikut, dia tidak mau oral sex dan mau melihat dulu kalau orang ketiganya dan macam-macam. Akhirnya dia menelepon seseorang yang kita dapatkan dari koran dan membuat janji di satu hotel.

Pada hari yang telah ditentukan kami bertemu dengan orang tersebut, dalam service yang tertulis massage+++. Setelah bertemu kami semua berhalo ria dan mulai bercerita. Didalam kamar hotel itu, kami duduk di sofa dan istriku masih tetap saja kikuk dan aku juga tidak bisa menangkap reaksinya, apakah dia siap atau tidak, walaupun dia tetap ramah seperti biasanya. Setelah sekian lama aku memulai inisiatif untuk menuju kekamar mandi untuk menghilangkan kekikukan kami. Dikamar mandi orang tersebut yang sebelumnya mengenalkan diri dengan nama Ivan mulai membantu istriku untuk melepas bajunya, akupun mulai melepas bajuku dan sebelum aku selesai, aku sudah melihat istriku telanjang tanpa sehelai kainpun di badannya. Ivanpun membimbing istriku untuk masuk ke bawah pancuran air dan mulai melepas bajunya. Setelah Ivan sendiri selesai melepas bajunya, istriku mulai memandang kemaluan Ivan yang besar dan berisi. Harus kuakui bahwa untuk ukuran itu aku kalah. Mungkin istriku juga sudah mulai membayangkan, bagaimana selanjutnya. Ivan lalu mulai memandikan istriku yang sudah agak lebih rileks dan waktu tangan Ivan menyentuh buah dada atau kemaluannya. terlihat istriku memejamkan matanya tanda keenakan. Dan atas inisiatif istriku dia mengambil sabun dan mulai membersihkan kemaluan Ivan yang juga terlihat berubah mimik wajahnya keenakan. Setelah itu giliranku di service oleh istriku dengan sabun. Setelah itu kami langsung menuju ke bed hotel. Diatas ranjang aku mulai dengan menciumi bibir istriku dan Ivan dengan profinya mulai membuka kaki istriku yang sedang terlentang dan mulai menciumi kemaluannya. Tanpa diduga istriku merespon dengan erangan yang asalnya lemah dan menjadi semakin keras, tanda bahwa dia mulai menikmati permainan ini. Akupun mulai bangkit dan semakin hot menciumi istriku sampai ke buah dadanya. Kami melakukan pemanasan awal untuk istriku ini cukup lama, untuk memberikan waktu agar hilang semua perasaan aneh. Aku sempat melihat Ivan dalam menyervice bagian bawah istriku selain menciumi kemaluannya juga memasukan sekali-kali jarinya kedalam liang kenikmatan itu dan suatu waktu aku melihat dia menciumi dan menjilati anus istriku, yang tidak diduga memberikan kenikmatan bagi istriku. Dan setelah sekian lama aku melihat Ivan juga memasukkan jarinya kedalam anus istriku, aku sama sekali tidak menyangka hal itu dibiarkan oleh istriku, karena sebenarnya didalam persyaratannya, dia tidak mau ada permainan anal, apalagi doppel penetration seperti di film2x. Kami sebenarnya juga sekali waktu mempraktekkan anal-sex, tapi untuk hal ini, sebenarnya istriku menolak dan meminta itu menjadi persyaratan, tapi apa yang aku lihat, dia menikmati sekali waktu Ivan memaju-mundurkan jarinya di lubang anus sambil terus menciumi klitoris istriku. Dengan fantasiku yang sudah menjadi-jadi, aku menyodorkan penisku kemulut istriku yang langsung di respon dengan menggebu-gebu. Sesekali aku melihat Ivan mengocok penisnya sendiri untuk menjaga supaya tetap tegang. Kemudian aku menarik badan istriku dengan kepala menuju pinggir ranjang supaya kepalanya agak tergelai dipinggir ranjang, setelah kepalanya tergelai aku masukkan penisku kemulutnya dan mulai kugoyang penisku. Pandangan jadi lebih jelas apa yang di lakukan Ivan dengan vagina dan anus istriku. Selang beberapa saat aku mau tanya istriku apa dia mau ganti posisi aku dibawah menservicenya dari bawah, dia setuju, mungkin karena istriku mulai ingin melihat penis Ivan. Kami lalu bertukar posisi dan aku melihat bagaimana ternyata istriku tanpa sabar menarik penis Ivan dan mulai mengocoknya. Aku melihat bahwa jari istriku tidak cukup untuk melingkar di penis Ivan yang membuktikan bahwa penis Ivan jauh lebih gemuk dari punyaku, yang panjangnya juga sekarang nyata lebih panjang dari punyaku yang sebenarnya juga tidak kecil. Mungkin si Ivan juga sudah mulai terangsang yang mengakibatkan penisnya jadi lebih besar lagi dibanding sewaktu mandi. Dan tanpa kusangka istriku memasukan penis Ivan kemulutnya dan membiarkan Ivan juga menggoyang penisnya didalam mulut istriku. Akupun yang sibuk di bawah juga merasa heran waktu aku memasukkan jariku kedalam anus istriku setelah memainkan vaginanya yang juga sudah basah, aku merasa bahwa anus istriku sangat longgar dan lembut, dengan mudah aku bisa memasukkan tiga jariku tanpa ada protes dari istriku. Aku tidak tahu bagaimana cara Ivan mempersiapkan anus istriku sampai seperti itu. Padahal kalau kami mau melakukan anal-sex, aku harus lama mempersiapkan anus istriku supaya dia tidak merasa sakit, walaupun seringkali terjadi, anus istriku tetap tegang dan waktu memasukkan, dia tetap merasa sakit. Hebat benar orang ini, pikirku. Aku juga melihat bagaimana istriku ternyata tidak hanya di service mulutnya, sekali-kali dia memegang penis Ivan dengan erat dan menciumi dengan penuh gairah. Sampai pada waktunya istriku meminta aku mulai memasukkan penisku ke vaginanya, akupun merespon dengan senang hati dan mulai menggoyang vaginanya dengan penisku. Istriku mulai mendesah-desah dan semakin lama semakin keras. Melihat hal itu, nafsuku mulai menjadi-jadi yang berakibatkan kepada ketahananku, sebelum aku melepas cairan berhargaku aku menarik penisku keluar dan istriku menjerit dan berteriak kepada Ivan, untuk segera memasukan penisnya menggantikan aku. Ivan segera cepat2x melayani permintaan istriku dan menggoyangkan penisnya dengan kekuatan penuh. Istriku semakin menjadi-jadi dengan desahannya, aku yang duduk ambil nafas di sebelah istriku bisa melihat bagaimana penis Ivan memang betul2x memenuhi vagina istriku sampai-sampai klitoris istriku ikut keluar masuk mengikuti irama goyangan Ivan. Yang menyebabkan istriku semakin mendesah-desah keenakan, mungkin karena penis tidak sebesar itu, penisku tidak sanggup memuaskan vagina sekaligus klitorisnya. Dulu aku memang sering membantunya dengan vibrator, dimana penisku menggoyang vagina istriku dan istriku menggunakan vibratornya untuk merangsang klitorisnya. Didalam desahannya, istriku mengatakan supaya aku bersiap-siap untuk menggantikan Ivan, bilamana Ivan sudah tidak tahan lagi. Aku mengiyakan dan mulai memainkan buah dadanya dan menciumi juga mulut istriku. Tapi Ivan memang betul2x profi, belum lama dia menservice vagina istriku dengan penisnya, kaki istriku tiba2x gemetaran dan desahan panjang keluar dari mulut istriku, dia orgasme, tapi dasar profi, dia tahu, dia tetap mengoyangkan penisnya keluar masuk dan kulihat penisnya begitu basah oleh cairan dari vagina istriku, sudah lama sekali, penisku basah seperti penis Ivan sekarang. Istriku betul2x orgasme dashyat. Istriku pun meminta supaya dia tidak berhenti menggoyang. Setelah aku mulai bisa menahan keteganganku aku minta kepada Ivan untuk ganti posisi. Aku balik istriku untuk posisi doggy style, aku goyang istriku lewat belakang, sambil memainkan pantatnya, dan sekali-kali aku melihat anus istriku terbuka lubangnya, yang menandakan bahwa anusnya masih longgar dan siap untuk di goyang. Tapi aku masih takut, karena itu juga syarat dari istriku, tidak anal-sex. Aku urungkan niatku, daripada merusak suasana. Memang benar orgasme kedua seorang wanita selalu lebih mudah dan lebih hebat dari yang pertama, setelah beberapa menit aku suplai dengan penisku, istriku mengerang lagi keras dan aku bisa merasakan gerakan tubuhnya yang lagi orgasme mengejang dan kemudian menangis sambil berkata ..oh…terus…terus…. Tapi aku sekarang juga tidak mau menghentikan gerakanku dan dengan kedua tanganku aku menopang tubuh istriku yang lemas mau jatuh dari posisi doggy style-nya dan terus kugoyang. Aku mengisyaratkan kepada Ivan untuk bersiap menggantikan aku, aku lihat 2 jarinya sedang berada dimulut istriku dan diisap oleh istriku. Rupanya waktu tadi, sewaktu istriku mau orgasme, Ivan memasukkan jarinya supaya istriku bisa lebih enjoy menikmati orgasmenya sambil menggigit jari Ivan. Ivan kemudian bersiap siap dan kemudian menggantikan aku untuk terus menggoyang. Waktu penis Ivan kembali memenuhi vaginanya, istriku kembali mendesah-desah hebat. Akupun tak mau kalah aku goyang mulut istriku dengan penisku. Selang beberapa saat, Ivan menarik keluar penisnya dan memasukkan lagi, tapi waktu itu istriku sempat terkejut dan merapatkan pahanya, aku nggak tahu apa yang terjadi, setelah paha istriku kembali melebar dalam posisinya yang masih doggy style, aku baru tahu, Ivan sedang menyikat anus istriku dengan penisnya, aku kembali terpengerah. Dan kali ini ini istriku kelihatan menikmati sekali permainan anal Ivan. Karena besarnya penis Ivan, aku melihat anus istriku menjadi begitu menggairahkan.Dan anehnya istriku tidak merasa sakit. Karena memang sudah 2 jam permainan ini, istriku mulai kelelahan dan minta supaya Ivan berada dibawah dan dia diatas. Selama Ivan dibawah, dia menggoyang vagina istriku dari bawah dan aku memperhatikan dari belakang, bagaimana penis Ivan menghujam-hujam di vagina istriku, tanpa disangka, istriku memintaku untuk memasukkan penisku ke anusnya, ya ampun… istriku sudah lupa daratan. Akupun tidak menolak dan mulai meng-anal istriku dengan doppel penetration. Istriku semakin menjadi-jadi, teriakannya semakin menggila, sampai suatu saat badannya bergetar lagi dan mulai menangis lagi keenakan. Aku cabut penisku waktu istriku gemetaran, karena kali ini sungguh hebat erangannya, aku sampai bertanya apa semua ok. Kali ini kulihat anusnya yang begitu melebar dan berdenyut-denyut, yang membikin aku semakin terangsang. Dia cuma menjawab lirih, ya..ya.. Karena mungkin istriku sudah kelelahan setelah orgasme yang ketiga, dia meminta supaya kami semua mengarahkan penis kami ke wajahnya dan meminta kami untuk menyemprotkan sperma kami ke dalam mulutnya sambil dia diposisi terlentang. Aku berkata kepada Ivan supaya dia keluar duluan. Dengan bantuan tangan dan mulut istriku, Ivan menyemprotkan seluruh amunisinya kedalam mulut istriku yang terbuka menunggu semprotan sperma dari Ivan, dan masih sempat kulihat bagaimana banyaknya sperma Ivan begitu keras disemprotkan kedalam mulut istriku dan kemudian oleh Ivan, ditekan-tekan penisnya untuk mengeluarkan sisa spermanya yang kemudian menetes masuk kedalam mulut istriku yang kemudian ditelan oleh istriku. Melihat itu aku tidak bisa lagi menahan spermaku dan akupun menyemprotkan spermaku ke dalam mulutnya dan kemudian aku masukkan penisku ke mulut istriku sambil kutekan-tekan untuk mengeluarkan sisa spermaku langsung didalam mulut istriku.

Cerita Antara Kita 12:19 pm

sebelumnya, mari memfantasikan tokoh tokohnya melalui pic berikut inii:

INEM (pembantu yang nakal)
[img=http://img61.imageshack.us/img61/5769/inemao2.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/3131/inem1uw3.th.jpg]

INDAH (pacarku yang cantik)
[img=http://img162.imageshack.us/img162/3904/indahby7.th.jpg]
[img=http://img516.imageshack.us/img516/8569/indah1si8.th.jpg]

EVI (adik pacarku yang hiper)
[img=http://img59.imageshack.us/img59/1632/evial8.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/6462/evi1li9.th.jpg]

FANI (kakak pacarku yang binal)
[img=http://img227.imageshack.us/img227/4373/fanisb2.th.jpg]
[img=http://img113.imageshack.us/img113/1607/fani1ru8.th.jpg]

Mamanya Indah, Evi dan Fani (mama yang sableng)
Sorry, pic nya belom ada yang pas

Kujilati memeknya, kuremas tetek kanannnya, kemudian aku meminta Indah berdiri dan menungging, lalu kusodok memeknya dari belakang sambil membelai perutnya yang putih mulus. Ketika sedang menikmati tubuh Indah, aku melihat Inem pembantu Indah yang berusia sekitar 20 tahunan sedang memperhatikan kami dari sudut jendela kamar yang menghadap Taman. Aku berlagak acuh seperti tak memperhatikannya, Inem pun nampak asyik meremas payudaranya dengan tangan kanan, dan mengelus elus roknya dengan tangan kirinya sambil merem melek.

“Aku keluar sayang, ujar Indah”.

Saat itu Indah terkulai lemas dan duduk bersila dihadapanku. Karena melihat batang kontolku yang masih mengacung, Indah pun hanya bisa mengocokkan kontolku dengan tangan kanannya sambil berkata: “sabar ya sayang, aku akan keluarin punya kamu kok”!

Sambil tersenyum, aku menggesek gesekkan kontolku di kepala Indah, kemudian memasukkan kontolku di mulutnya, Indah kemudian mengelus elus bulu disekitar perutku. Hampir 5 menit Indah menjilati, menghisap, sampai meludahi kontolku, namun aku belum mengeluarkan sperma.

Akhirnya Indah bertanya: “kamu maunya apa sayang, supaya kamu juga keluar”?

Hmmm, boleh nggak aku masukin pantat kamu sayang”, sahutku!

“Tapi kan sakit sayang” balas Indah.

Aku langsung memintanya nungging dan berkata : “iya deh, aku pelan pelan ya masukinnya”.

“Aduhhhhhhh”, teriak Indah!

“sabar sayang, kamu kan mau aku keluar, sahutku!

Akupun terus menyodokkan kontolku hingga amblas di pantat Indah, dan nampaknya Indah menangis, namun aku tetap mengeluarkan dan memasukkan kontolku secara perlahan lahan sambil meraba raba pinggangnya yang sexy, hingga akhirnya kontolku amblas di pantatnya.

“Wow, rasanya luar biasa sayang”, ujarku bersemangat!

Tak sampai 7 menit, aku pun rasanya ingin mengeluarkan sperma karena jepitan pantat indah itu. Lalu kucabut kontolku dari pantat Indah dengan cepat, dan menyemprotkan spermaku di teteknya. Indah memukul dadaku dengan tangan kanannya, kemudian menciumku dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya kami mandi bersama, dan setelah itu aku berkemas pulang, karena sebentar lagi keluarganya akan pulang dari Puncak. Ketika Indah ke dapur untuk mengambilkanku sekaleng bir, tiba tiba aku melihat Inem yang sedang mencolokkan jarinya ke memeknya. Dengan acuh, aku keluar dari kamar dan bergegas balik setelah menenggak sekaleng bir pemberian Indah.

Halo sayang, kamu ke rumahku aja duluan ya. Mama, Papa, dan Kakak lagi ke Bandung liat Nenek yang sakit. Aku ada praktikum, dan nanti jam 5 sore aku dah pulang kok, kasian Evi (Adik Indah yang masih kelas 1 SMA) ketakutan kalau sendirian dirumah, sahut Indah lewat handphonenya. Iya Sahutku. Siang itu aku memang bermaksud mengerjakan paper di rumahku, namun berhubung Indah telah berpesan, akhirnya aku segera berangkat ke rumah Indah. Bukan apa apa, biasanya jika keinginannya tidak dipenuhi, maka Indah sering ngambek dan tidak memberiku jatah biologis.
Sesampainya di rumah Indah, aku disambut Evi dengan manja. Setelah makan siang, kamipun memutar DVD. Sampai pertengahan film terdapat adegan hot yang membuatku tidak enak hati menontonnya bersama Evi.

“Matiin aja ya Vi”, ujarku.

“Biarin aja kak” cuma sebentar kok, sahut Evi.

Hampir 10 menit, adegan hot itu berulang ulang beberapa kali, hingga akhirnya kumatikan. Evi pun ngambek, dan lari ke kamar tidurnya diatas, lalu kudengar ia mengunci pintu.
30 menit aku terdiam sendirian membaca makalahku. Tiba tiba Inem datang membawakanku segelas es teh manis. Inem memang seorang pembantu, namun mukanya mirip Dian Sas*** (walau Inem sedikit lebih hitam, namun panta dan teteknya lebih besar milik Inem), apalagi hari itu ia mengantarkan minuman dengan rambut kuncir kudanya dan kaos putih ketatnya yang menyembulkan teteknya yang besar. Inem pun kembali ke dapur setelah mengantarkan minuman untukku. Dari belakang kuperhatikan garis celana dalam Inem yang nampak di rok yang dikenakannya. Jalannya pun menggodaku! Aku jadi teringat peristiwa waktu itu, saat Inem memperhatikan aku dan indah yang sedang bercinta.
Kulihat jam, waktu telah menunjukkan jam 2.30 Wib. Otakku benar benar sudah dipenuhi nafsu ketika melihat DVD tadi, ditambah memandangi Inem yang sexy. Akupun segera ke belakang untuk pura pura ke kamar mandi. Sengaja aku tidak menyalakan lampu kamar mandi dan membuka pintunya. Dari kaca kamar mandi kuperhatikan Inem mencuri curi pandang ke arah pantatku yang terbuka sedikit. Sambil memainkan kontolku yang baru kucuci, kemudian aku keluar kamar mandi tanpa menutup celana, lalu ku arahkan ke pandangan Inem.

Kemudian aku berjalan kearah Inem, kemudian meletakkan tangannya ke kontolku, sambil berkata: “kamu mau Nem, ayo isep deh”.

“Takut ah den”, kata Inem.

“Nggak apa apa Nem, ayo dimasukin mulut kamu”, sahutku menggoda!

Inem pun menjilati dan menghisap kontolku.

“Ahhhh, kamu hebat banget jilatnya Nem”, ujar saya.

Inem memang hebat memainkan lidahnya dipinggiran kepala kontolku. Lebih nikmat dari yang dilakukan Indah.

“Den, ini Inem kok nggak dipegang, sahutnya sambil menunjukkan memeknya.

Inem pun memberanikan diri untuk minta dijilati seperti mbak Indah waktu itu. Hmmm, memek Inem harum sekali. Ketika asyik menjilati memek Inem dan meremasi teteknya, tiba tiba Evi dating dan mengagetkan kami. Inem nangis dibawah kaki Evi, dan saya pun hanya bisa terdiam membisu.

“Kakak munafik, nonton nggak mau, tapi Inem digituin”, ujar Evi lantang.

“Pokoknya Evi aduin sama mbak Indah”, sahutnya lagi.

Akupun menarik tangan Evi, dan memohonnya untuk tidak melaporkan pada Indah. Ketika memegang tangannya, tiba tiba Evi meremas kontolku yang masih terbuka tak terbalut sehelai benangpun, dan kemudian Ei berkata: “ya sudah, kalau nggak mau dilaporin, ajak Evi juga”.

Aku kaget juga mendengarnya. Evi beranjak ke ruang tamu sambil menarik tanganku, mengunci pintu, kemudian membuka celana pendek dan celana dalamnya berwarna putih bergambar hello kitty.

“Inemmmmmmmm………” teriak Evi memanggil Inem.

Ayo, pokoknya kakak dan Inem harus menjilati ini Evi juga, ujarnya sambil menunjuk memeknya.

Sambil mengangkang, Evi membenamkan kepala saya dan Inem di memeknya yang mini dan berjembut tebal seperti hutan rimba.

“Ahhhh, enak kak, enak kak ahhhh”, ujar Evi mendesah desah.

Kemudian ia menjambak Inem, dan menyuruh Inem turut menjilati teteknya yang masih terbungkus kaos. Inem pun menjilatinya dengan buas sambil mengarahkan pantatnya ke arahku untuk minta dipegang juga. Aku pun meremas remas pantat inem yang sexy itu.
Waktu telah menunjukkan jam 4.15 WIB, dan aku memberitahukan Evi, kalau mbak Indah akan pulang jam 5 sore ini. Akhirnya, Evi menendang badanku hingga jatuh di karpet, dan menampar Inem hingga pipinya merah.

Kemudian Evi berkata: “pokoknya besok pagi kakak harus bolos kuliah dan jemput Evi di depan sekolah. Besok kita ke puncak berdua ya. Awas kalau bohong, Evi laporin ke mbak Indah”, ujarnya dengan marah sambil mengacung acungkan jarinya.

Entah apa yang dikerjakannya terhadap Inem, namun ia menarik tangan Inem dan menyeretnya kekamarnya diatas.
Tepat jam 5 Indah datang. Setelah menciumku, Indah pun berlalu kekamarnya untuk mandi. 30 menit kemudian, Indah keluar memakai daster dan menanyakan Evi dan Inem. Kemudian kukatakan mereka diatas sejak aku datang tadi. Tanpa basa basi, Indah menarikku ke kamar. Sesampainya dikamar, ia mengangkat bagian bawah dasternya, memelukku dari depan, dan meletakkan tanganku di pantatnya sambil membisikkan: “aku mau dong dijilatin pantatku”. Aku menjilati tubuh indah mulai dari pantat hingga basah. 30 menit aku bergumul dengan Indah, dan lagi lagi kulihat Inem di sudut jendela kamar yang sedang mengamati kami. Saat itu Indah memintaku untuk kembali memasukkan kontolku ke pantatnya, namun alangkah kagetnya aku saat berganti posisi menungging menyodok pantat Indah, kulihat Evi yang sedang menjilati pantat Inem diluar sana. Akupun semakin terangsang, hingga 1 jam berlalu, dan kami pun selesai dengan permainan ini. Setelah mandi, aku pamit pulang dengan alasan nanti Evi bangun.

INEM (pembantu yang nakal)
[img=http://img61.imageshack.us/img61/5769/inemao2.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/3131/inem1uw3.th.jpg]

INDAH (pacarku yang cantik)
[img=http://img162.imageshack.us/img162/3904/indahby7.th.jpg]
[img=http://img516.imageshack.us/img516/8569/indah1si8.th.jpg]

EVI (adik pacarku yang hiper)
[img=http://img59.imageshack.us/img59/1632/evial8.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/6462/evi1li9.th.jpg]

FANI (kakak pacarku yang binal)
[img=http://img227.imageshack.us/img227/4373/fanisb2.th.jpg]
[img=http://img113.imageshack.us/img113/1607/fani1ru8.th.jpg]

PART.II (antara Indah, adiknya, Inem pembantunya, kakaknya dan Mamanya)

Pagi ini aku tidak bisa memakai mobil, karena adikku meminjam untuk acara sekolahnya. Aku jadi kalang kabut, mengingat janjiku sama Evi kemarin. Mana mungkin ke puncak dengannya naik bis? Kalau tak ditepati, Evi pasti melapor pada Indah. Aku pusing tujuh keliling. Aku mampir ke warung di depan rumah untuk membeli rokok. Aku terdiam sambil merokok di depan warung. Tak berapa lama, Randy kawan adikku datang menghampiriku dengan motor ninja RR nya, dan menanyakan adikku. Aku mengatakan ia telah pergi dari jam 6 pagi tadi.

“Kak, aku titip motor di rumah boleh ya. Biar aku susul Randy ke sekolah naik taxi. Soalnya kalau motor ditinggal di sekolah nggak ada yang jaga, hari ini kan semuanya study tour ke Bandung”, sahut Randy kalem.

Mendengar itu, akupun mendapat ide cemerlang. Namun, apakah enak ke puncak dengan Evi naik motor? Daripada nggak jadi samasekali dan Evi ngadu dengan Indah, kayaknya ide ini perlu dicoba. Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam motor dari Randy.

“Ya udah kak, pake aja motorku, aku ambilnya besok siang aja ya”, sahut Randy

Setelah menghubungi Evi via handphone, akhirnya aku berangkat ke sekolahan Evi di sekitaran melawai.

“kok naik motor kak”, sahut Evi.

Akupun menjelaskan semuanya, dan Evi memahaminya. Namun Evi minta dibelikan jaket terlebih dahulu, hingga akhirnya kami mengendarai motor kea rah Plaza Senayan. Jam menunjukkan pukul 8.30 WIB, dan Plaza Senayan belum dibuka. Akhirnya kami memarkir motor dan Evi pun menelpon mamanya untuk memberitahukan ia akan pulang malam untuk mengerjakan tugas sekolah di rumah Sheila kawannya. Setelah itu kami mengobrol layaknya sepasang suami istri yang kasmaran. Bahkan sesekali Evi mengelus elus kontolku. Tak terasa, jam sudah menunjukkan jam 10.00 WIB, akhirnya kami segera masuk ke Metro dept. store di lantai tiga .

“Kak, yang ini aja ya. Harganya juga nggak terlalu mahal kok” ujar Evi. Kemudian ia membawanya kekamar ganti.

“Kak, liat sini dong”, teriaknya memanggilku kekamar ganti. Evipun menarikku masuk ke kamar ganti, lalu memaksaku meremas teteknya, dan tangan kanannya meremas kontolku yang telah mengeras dibalik jelana jeansku. Evi menciumiku seperti orang kesetanan. Mulai bibirku, pipiku, kupingku terus sampai ke leherku diciumi oleh Evi dengan membabi buta. Aku pasrah saja melihatnya, namun aku menikmatinya.

“maaf, disini dilarang melakukan hal asusila” ujar SPG sambil menyibakkan tirai kamar ganti. Kamipun bergegas ke kasir untuk membayar diiringi dengan senyuman mesem para SPG.

“Aku ke toilet dulu ya kak, mau ganti celana jeans dan pakai jaket. Oh ya, celana dalam kakak dilepas dong”, bisik Evi di telingaku.

Aku menjadi heran sendiri dengan Evi. Kenapa ia memintaku melepaskan celana dalam? Mengapa ia sebuas ini? Inikah Evi kecil itu? Apa yang merasukinya? Ahhh pusing, pikirku. Akupun ke toilet untuk melepaskan celana dalamku, kemudian bergegas keluar menunggu Evi. 10 menit kemudian Evi keluar dari toilet. Aku terpana melihat penampilan Evi siang itu. Pantatnya yang menyembul dibalik celana jeansnya. Teteknya yang mini dibiarkan menyembul tanpa BH dan memperlihatkan putingnya yang tertarik kaos ketatnya. Evi menggandeng tanganku dan kamipun berjalan ke parkiran dan melajukan motor ke arah Bogor lewat Depok.
Ketika melintasi jalur parung yang sepi, Evi mulai membelai belai kontolku yang masih terbungkus celana jeans. Evi membuka retsletingku, menutupi tangannya yang sedang memegang kontolku dengan tas sekolahnya, kemudian mengocok ngocokkan kontolku dengan lembut dan membisikkan suaranya yang mendesah desah di telingaku.

“kak, keluarin dong yang pertama diatas motor untuk Evi. Evi kan lebih hebat dari kak Indah dan Inem. Mmmmm ….ayo dong kakkk……” ujar Evi terbata bata.

Akupun membagi konsentrasi antara menikmati kocokan lembut Evi dan mengendarai motor yang kupacu 50 km/jam saja.

“ayo dong sayang, keluarin untuk Evi”, sahutnya lagi mendesah berulangkali seperti orang yang kesurupan.

“Ahhh ….. enak sayangg…..”, sahutku! Crooottttt……Pejuku keluar hingga tumpah membasahi speedometer. Lalu Evi memintaku menepi sejenak di tepi jalan yang sepi dan berbatasan dengan hijaunya persawahan. Evi turun dari motor, tanpa malu dan takut takut, ia pun memintaku langsung turun dari motor kemudian menarik tanganku kebelakang pohon besar di tepi jalan itu. Kemudian ia langsung jongkok, dan menghisap kontolku yang basah. Walau hanya 2 menit, sensani yang dibuat Evi membuat kenikmatan yang terkira untukku. Aku mencium keningnya sebagai ucapan terima kasih, lalu beranjak kemotor sambil melap maniku di speedo meter dengan jariku. Ketika aku ingin membuangnya, Evi menarik tanganku dan menjilati jariku tersebut. Ah, gila bener anak ini pikirku, namun aku senang sekali.
Pukul 15.00 WIB kami tiba di vila keluarga Evi di Megamendung. Setelah berbasa basi, menyogok dan mengencam mang Danu penjaga vila supaya tidak memberitahukan kedatangan kami, akhirnya kami masuk ke vila. Sesampainya di dalam, Evi langsung mengajakku mandi air hangat. Setelah mandi, kamipun beristirahat di kamar Evi hingga tertidur selama 1 jam.

“ahhhh…..ahhh …mmmmm” kudengar suara itu samar samar.

Dan aku merasakan geli dibagian kontolku. Rupanya Evi sedang menjilati sambil mengocoki kontolku. Yang lebih hebat, Evi melumuri kontolku dengan coklat. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati ulah adik pacarku ini. Kontolku yang semakin mengeras dan mengacung langsung ditidurkan oleh Evi yang menindih tubuhku sambil menggesek gesekan memeknya di kontolku.

“kak, Evi sudah keluar 2 kali nih. Evi masih mau terus kak” ujar Evi sambil menciumi tetekku yang berbulu.

Akupun mulai terbangun sepenuhnya, dan mendorong tubuh Evi hingga berdiri. Aku menjilati pantat Evi dari belakang, hingga kemudian kumasukkan tanganku ke lubang pantatnya.

“Aduh, sakit kakak” jerit Evi.

“Aku kan masih perawan kak, masukin aja burungnya kakak disini”, sambil menunjuk memeknya yang mini itu,

“Hah, jadi kamu belum pernah ya Vi” tanyaku kaget.

“Udah deh kak, ayo dong”, sahut Evi manja sambil menjilati tetekku.

Aku pun mencium Evi dengan lembut mulai dari mata, hidung, telinga, hingga kami berciuman dengan hebatnya sambil tanganku meremas remas pantatnya.

“Kak, masukin Evi dong. Evi udah nggak kuat nih” rintihnya memohon.

Kutidurkan tubuh Evi dengan lembut. Kucium bibirnya yang ranum. Kujilati teteknya bergantian dan sesekali kusedot hingga membuatnya meringis kegelian. Lalu kujilati pusernya, hingga akhirnya memeknya yang masih mini itu kujilati.

“Ayo kak, masukin dong” sahut Evi memelas sekali lagi.

Akupun mengarahkan kontolku kemukanya, lalu memintanya menjilatinya sejenak. Kemudia kugesek gesekkan kontolku di memeknya dan mulai memasukkannya dengan perlahan.

“aduh kak, sakittttt….” Jerit Evi!

“Sabar sayang, kakak masukinnya pelan pelan ya” sahutku sambil memaksa masuk kontolku di lobang memeknya yang sangat sempit itu. Ah, sungguh menggemaskan memek adik pacarku ini. Tubuhnya yang putih, mukanyanya yang imut, rambutnya yang panjang dan lurus terurai, bibirnya yang berwarna pink, tetek mungilnya yang mancung, kakinya yang jenjang, gayanya yang manja, nafsunya yang membara….dan sekarang aku mendapatkan keperawanannya pula. Ahhhhh ….. Evi, aku sayang kamu dik.

“Aaaakkkkhhhhh……” teriak Evi kesakitan.

“Arrrrrggghhhhh …..” teriakku kenikmatan.

Kontolku telah masuk 1/2 di memek Evi. Dengan perlahan lahan aku terus menembusnya dengan mendorongnya secara perlahan lahan. Darahpun mengalir dari memek Evi ketika kontolku masuk ¾ dimemeknya. Aku terkagum kagum memandangi darah perawan Evi yang mengalir.

“Terima kasih Evi. Aku sayang kamu”, kataku lembut sambil terus mengeluar masukkan kontolku hingga amblas sepenuhnya di memek Evi.

“Sekarang udah enak kak. Ayo lagi kak. Yang lembut sayang” ujar Evi terbata bata sambil menetekan airmata.

“Iya sayang” sahutku sambil terus mendulang kenikmatan dengannya. Tangan kananku terus meraba raba perutnya yang langsing terawat.

“ahhhh …. Aku sudah mau keluar kak, sedikit lebih cepat dong kak” ujar Evi memohon.

Evi pun menarik tangannku, menjambak rambutku, menciumiku membabi buta, lalu berteriak kenikmatan.

“ahhhhh kak……enaaakkkkk…….jangan dicabut dulu sayang” sahut Evi.

Akupun terus memutar mutar kontolku, mendorongnya, menariknya hingga membuat Evi menarik selimut di tempat tidur. Evi terkulai lemas, kemudian kucabut kontolku dengan perlahan. Kontolku masih keras dan mengacung, karena aku belum keluar.

Evi melirik kontolku, lalu menarik tanganku dan mengucapkan terima kasih sambil berbisik: “sabar sebentar ya kak, Evi masih capek” katanya dengan nada lemah.

Aku masih mengocok kontolku dengan lembut. Akupun heran, kenapa aku belum keluar di lobang perawan senikmat ini? Mungkin karena aku telah keluar pertama kali saat diatas motor tadi, dan biasanya keluar yang kedua ini menjadi lebih lama. Aku tetap terangsang saat memandangi darah yang tertumpah di sprei tempat tidur. Evi berdiri menghampiriku, mengangkat kaki kanannya ke sisi tempat tidur, menarik kontolku yang masih mengacung, dan kembali memasukkannya dalam posisi berdiri.

“Ayo kak, masukin lagi” kata Evi

Akupun menggendong Evi dengan perlahan kearah lemari yang berdempetan dengan tempat tidur, namun tak kulepaskan kontolku yang telah menancap setengah di memeknya.
Kudorong Evi, kuciumi bibirnya, kumasukkan kontolku sepenuhnya, mengeluarkannya setengah, memasukkannya kembali, memutarnya, hingga akhirnya kupacu dengan cepat hingga membuat Evi mendesah desah kenikmatan sepertiku.

“kak…ayo terus kak…..enak…..enak ahhhhh…kakak hebatttt……ahhhhh” ujar Evi setengah berteriak.

Aku terus memacu kontolku keluar masuk hingga merasakan memeknya Evi yang telah basah sekali. Kuremas teteknya, kucupang lehernya kiri dan kanan, kujambak rambutnya lalu kucium, bahkan kugigit bibir pinknya dengan lembut hingga membuat Evi menjerit.
“ahhhhh……Evi…..aku mau keluar sayang……” sahutku lantang.

Walaupun dalam kenikmatan yang luar biasa, aku masih ingat bahayanya jika kumuntahkan maniku didalam, hingga akhirnya kucabut kontolku, kemudian kuminta Evi menungging membelakangiku, dan tanpa permisi langsung kuludahi pantat Evi, dan kuhujamkan kontolku dipantatnya yang juga masih perawan. Evi menjerit kesakitan sampai menangis dan berusaha meronta ronta, namun aku terus memegangi tubuhnya dan menghujamkan kontolku hingga masuk sepenuhnya di pantat Evi.

“kakakkkkkkk….sakitttttt” teriak Evi sambil menangis!

Namun aku tetap memasukkannya, mengeluarkannya dan sesekali meremas pantas Evi yang montok. Tak sampai 3 menit aku memuntahkan maniku di pantat Evi, hingga keluar membasahi pantatnya. Setelah kucabut, aku meminta Evi menjilati dan menghisapnya. Evi pun menurutinya sambil melirikku dengan mata nakalnya. Setelah membersihkan kontolku dengan mulutnya yang imut itu, Evi balas menggigit perutku hingga terluka sedikit.

“biar tau rasa” sahut Evi sambil berdiri dan menciumiku.

Wah, untunglah Evi tak marah pikirku. Luar biasa sekali hari ini. Akhirnya kami berdua tertidur pulas tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.
Tiba tiba aku terbangun dan langsung melihat jam yang telah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Aku segera membangunkan Evi. Herannya, Evi bukan bergegas mandi, namun justru meraih kontolku dan menghisapnya. Kali ini Evi memintaku diam saja di tempat tidur. Evi menjilati dan menghisap kontolku sesukanya, bahkan sesekali menciumi tetekku. Evi terus melakukan aksinya, hingga akhirnya air maniku keluar sedikit membasahi kontolku. Evi menggesek gesekkan kontolku di pipinya, kemudian mengajakku mandi.
Ketika menyabuni tubuhnya, Evi pun kembali mengocokkan kontolku dengan sabun. Kali ini Evi tidak memintaku memasukkan kontolku dimemeknya, namun ia segera duduk di toilet, membuka memeknya, dan memintaku menjilatinya dari ujung jempol kakinya.
Mengingat semua yang telah diberikan kepadaku, akhirnya kuturuti kemauannya. Bahkan ketika ingin beranjak menjilati betisnya, Evi memintaku untuk kembali menghisap jari jari kakinya.

“kak, sekarang jilat betis sampai ini Evi ya” sambil menunjuk memeknya.

20 menit kujilati mulai paha hingga memeknya sampai membuat Evi kembali mengalami puncak kenikmatan. Setelah itu ia kembali meraih kontolku, menjilati, mengocok, dan melumatnya hingga 5 menitan. Sekali lagi aku keluar, dan Evi memandikan aku dengan air hangat. Hingga akhirnya kami berpakaian kembali setelah mandi, dan Evi mengecupku lembut serta memasukkan sprei tempat tidurnya kedalam tasku. Untuk kenang kenangan, katanya.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan jam 20.50 WIB. Aku merasa lelah sekali, dan merasa tak sanggup untuk pulang ke Jakarta dengan motor. Akhirnya aku menghubungi pak Jaya penjaga vila keluargaku yang terletak tak jauh dari vila Evi. Aku meminta pak Jaya menyewa mobil angkot untuk mengantar kami ke Jakarta. Pukul 21.20 WIB pak Jaya datang menjemputku di vila Evi. Setelah motor dimasukkan kedalam angkot, kamipun pamitan ke pada mang Danu dan pak Jaya. Namun mang Danu memintaku untuk membawa hasil panen melon di kebun belakang. Aku tak mau, namun mang Danu memaksaku mengambilnya dibelakang vila. Sesampainya di belakang, mang Danu mengajakku berbicara serius mengenai kedatangan neng Fani tadi sore ketika kami tertidur.
Neng Fani yang dimaksudkan oleh mang Danu adalah kakak dari Indah pacarku dan Evi.
Neng Fani tidak mau mengganggu kalian, karena neng Fani juga datang dengan cowok gelapnya. Fani adalah kakak tertua dari Indah dan Evi. Fani yang berusia 30 tahun, dan telah menikah. Namun Fani sering berselingkuh dengan brondong, karena suaminya berlayar di Eropa. Walaupun 30 tahun, Fani memiliki tubuh yang sangat sempurna. Teteknya yang 36C, pantatnya yang montok, tubuhnya yang langsing, kulitnya yang putih bersih, parasnya yang cantik, bibirnya yang tebal, bicaranya yang rada cadel, rambutnya yang hitam lurus terurai, matanya yang tajam sampai kebiasaannya pipis di lantai dikamar mandi yang tak pernah dikuncinya itu memang sering membuatku mencuri curi pandang terhadapnya.

“Neng Fani sih orangnya bebas teuingg den. Soklah jangan takut dimarahin. Mamang juga sering melihat neng Fani begituan dengan berganti ganti lalaki di vila ini kok” ujar mang Danu.

Wah, penjelasan mang Danu tersebut membuatku tenang dan terangsang juga untuk mencicipi mbak Fani. Setelah selesai menjelaskan semuanya, akhirnya aku memberikan uang damai kepada mang danu untuk informasinya, lalu kami membawa melon ke angkot dan segera pulang ke Jakarta. Selama dalam perjalanan, Evi bercerita mengenai kebiasaannya mencuri blue film milik mbak Fani dan mbak Indah. Dari sanalah ia mempelajari semua yang dipraktekkan tadi denganku. Aku berlagak tenang dan acuh saja mendengarnya.
Pukul 00.30 WIB kami sampai di rumah Evi. Aku tak mengantarnya ke rumah, karena orang rumah mengira Evi dari rumah temannya untuk belajar. Setelah Evi pulang, kamipun berlalu ke rumahku.

Cerita Antara Kita 12:02 pm

Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukanku, aku termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini kualami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibukku yang lalu di tempat kost. Di tempat kost kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sari. Aku heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sari bekerja di dekat kost sini.

Sari cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuatku bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan aku bisa mendapatkannya, pikirku. Menikmati tubuhnya, menancapkan penisku ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya.

Perlu pembaca ketahui, umurku sudah 35 tahun. Belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, aku baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Anik, teman sekantorku dan dengan Esther. Dengan pacarku, aku belum pernah melakukannya. Swear..! Beneran.

Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga aku dapat menikmati gerak-gerik Sari dari kamarku yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah aku selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Aku paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, aku mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seksku.

Sambil memanggil nama Sari, crot crot crot.., muncratlah spermaku, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sari. Aku juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Aku keluar kamar dan di bawah terang lampu neon atau terang bulan, kutelanjangi diriku dan mengocok penisku, menyebut-nyebut nama Sari sebagai imajinasi senggamaku. Bahkan, aku pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sari, kumuntahkan spermaku menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu.

Sari kuamati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya. Bahkan beberapa kali kulihat suka pulang pagi-pagi, dan itu adalah pengamatanku sampai kejadian yang menimpaku beberapa hari sebelum bulan itu.

Seperti biasanya, aku melakukan masturbasi di luar kamarku. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Aku melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalamku. Aku telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penisku sambil kusebut nama Sari. Tapi tiba-tiba aku terhenti mengocok penisku, karena memang Sari entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang.

Dia memandangiku dari kejauhan, melihat diriku telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya kutangkap dia tidak grogi melihatku, tidak juga kutangkap keterkejutannya melihatku. Aku yang terkejut.

Setelah dia masuk kamar, dengan cuek kulanjutkan masturbasiku dan tetap menyebut nama Sari. Yang kurasakan adalah seolah aku menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku di kamarnya. Malam itu aku tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam.

Paginya, ketika aku bangun, sempat kusapa dia.
“Met pagi..” kataku sambil mataku mencoba menangkap arti lain di matanya.
Kami hanya bertatapan.

Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu.
“Kok semalam sampai larut sih..?” tanyaku.
“Kok tak juga diantar seperti biasanya..?” tanyaku lagi sebelum dia menjawab.
“Iya Mas, aku lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam.” jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi.
“Semalam nggak terkejut ya melihatku..?” aku mencoba menyelidiki.
Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantungku copot melihat dan menikmati senyum Sari pagi ini yang berbeda. Aku rasanya dapat tanda-tanda nih, sombongnya hatiku.

Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamarku berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kostku in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamarku ada pohon mangga besar yang cukup rindang.

Rasanya nasib baik berpihak padaku. Sejak saat itu, kalau aku berpapasan dengan Sari atau berbicara, aku dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, kukatakan terus terang saja kalau aku sangat menginginkannya. Sari diam saja dan memerah lagi, dapat kulihat walau tertunduk.

Aku mengajaknya menikmati malam Minggu tengah malam kalau dia mau. Aku akan menunggu di halaman dekat kamarku, kebetulan semua teman-teman kostku pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.

Aku harus siapkan semuanya. Kusiapkan tempat tidurku dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Aku mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, aku ingin menikmati tubuh Sari di halaman, di meja, di rumput dan di kamarku ini. Betapa menggairahkan, seolah aku sudah mendapat jawaban pasti.

Sabtu malam, malam semakin larut. Aku tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Aku memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Aku sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja kucuci Sabtu sore dan kuletakkan di depan kamarku sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, aku sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.

Tengah malam hampir jam setengah satu aku keluar. Tidak kulihat Sari mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, aku mulai melepasi bajuku sampai telanjang, tangan kiriku memegangi tiang jemuran dan tangan kananku mengocok penisku. Sambil kusebut nama Sari, kupejamkan mataku, kubayangkan sedang menikmati tubuh Sari. Sungguh mujur aku waktu itu. Di tengah imajinasiku, dengan tidak kuketahui kedatangannya, Sari telah ada di belakangku.

Tanpa malu dan sungkan dipeluknya aku, sementara tanganku masih terus mengocok penisku. Diciuminya punggungku, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penisku yang menegang kuat.
“Sari.. Sari.. achh.. achh.. nikmatnya..!” desahku menikmati sensasi di sekujur penisku dan tubuhku yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sari.
“Uhh.. achh.. Sari, Sari.. ohhh.. aku mau keluar.. ohh..” desahku lagi sambil tetap berdiri.

Kemudian kulihat Sari bergerak ke depanku dan berlutut, lalu dimasukkannya penisku ke mulutnya.
“Oohhh Sari… Uhh Sariii.., Saarrii… Nikmat sekali..!” desahku ketika mulutnya mengulumi penisku kuat-kuat.
Akhirnya aku tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spemaku memenuhi mulut Sari, membasai penisku dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikirku.

Lalu Sari berdiri dengan mulut yang masih menyisakan spermaku, aku memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita-citaku menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang.

Kulumati bibirnya, kusapu wajahnya dengan mulutku. Kulihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus kuciumi Sari, tanganku berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. aku ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus. Aku segera melepaskan tali telami dasternya di atas pundak, kubiarkan jatuh di rumput.

Ahh.., betapa manis pemandangan yang kulihat. Tubuh sintal Sari yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahhh.., membuat penisku mengeras lagi. Kulumati lagi bibirnya, aku menelusuri lehernya.
“Ehh.., ehhh..!” desis Sari menikmati cumbuanku.
“Ehh.., ehhh..!” sesekali dengan nada agak tinggi ketika tanganku menggapai daerah-daerah sensitifnya.

Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya kuciumi dari atas. O my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini. Aku mau menikmatinya dan membuatnya mendesis-desis malam ini. Tanganku yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, kubuang melewati jendela kamarku, entah jatuh di mana, mungkin di meja atau di mana, aku tidak tahu. Uhhh.., aku segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, kuputari kedua bukitnya. Aku tetap berdiri. bergantian kukulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan.

Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kananku atau kiriku juga bermain di putingnya, sementara mulutku menguluminya juga. Tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiriku seolah mau lepas. Sari menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukanku. Lalu aku kembali ke atas, kutelusuri lehernya dan mulutku berdiam di sana. Tanganku sekarang meraih celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kubantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat.

Kutangkap kedua tangan Sari dan kuajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing-masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penisku menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Aku memutar tubuhnya, kusandarkan di dadaku dan tangannya memeluk leherku.

Kemudian kuremasi buah dadanya dengan tangan kiriku, tangan kananku menjangkau vaginanya. Kulihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu kuraba, kucoba sibakkan sedikit selakangannya. Sari tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tanganku berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leherku, mulutnya kubiarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah.

Kubimbing Sari mendekati meja kecil yang kusiapkan di samping gudang. Kusuruh dia membungkuk. Dari belakang, kuremasi kedua buah dadanya. Kulepas dan kuciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaanku.

Setelah itu aku turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu kujilati vaginanya. Mulutku menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepalaku terjepit.
“Oohh.., ehh.., aku nggak tahan lagi.., masukkan..!” pintanya.

Malam itu, pembaca dapat bayangkan, aku akhirnya dapat memasukkan penisku dari belakang. Kumasukkan penisku sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama aku terdiam sebelum kemudian kugenjot dan menikmati sensasi orgasme. Aku tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Aku hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing.

Aku berhasil memuntahkan spermaku ke vaginanya, sementara aku mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Aku dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasiku malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yang benar-benar hebat. Aku bersenggama dengan Sari dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, aku melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur.

Ahh Sari, dia berada dalam pelukanku sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamarku. Aku bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Kulihat kedua cucu ibu kostku sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidupku dan Sari.

Pembaca, itulah pengalamanmu dengan Sari di kost. Aku sudah dua malam Minggu bersamanya. Betapa hebat di bulan ini. Aku bisa, aku bisa.. dan mau terus berburu lagi. Ahh.., hidup memang menggairahkan dengan seks, dengan wanita. Hanya, aku harus super selektif memilihnya. Semoga pengalamanku ini berguna buat sobat muda.

TAMAT

Cerita Antara Kita 11:59 am

Untuk membentuk agar bulu kemaluanku tumbuh dengan rapih, suatu hari timbul niat isengku untuk mencukur total. Kusiapkan alat-alat dahulu sebelum kumulai aksinya. Mulai dari gunting, kaca cermin, lampu duduk, dan koran bekas untuk alas agar bekas cukuran tidak berantakan kemana-mana. Kupasang cermin seukuran buku tulis tepat di depan kemaluanku untuk melihat bagian bawah yang tidak terlihat secara langsung. Tidak lupa pula kunyalakan lampu duduk di antara selangkanganku. Kumulai pelan-pelan, kugerakkan pisau cukur dari atas ke bawah.

Baru mulai aku menggoreskan pisau cukur itu, aku dengar suara langkah masuk ke kamarku, segera aku lihat bayangan di kaca buffet, tidak jelas benar, tapi aku bisa menebaknya bahwa dia adalah si Eni, kemenakan dari ibu kost.

Aku bingung juga, mau membereskan perangkat ini terlalu repot, tidak sempat. Memang aku melakukan kesalahan fatal, aku lupa mengunci pintu depan ketika kumulai kegiatan ini. Akhirnya dalam hitungan detik muncul juga wajah si Eni ke dalam kamarku. Dalam waktu yang singkat itu, aku sempat meraih celana dalamku untuk menutupi kemaluanku. Sambil meringis berbasa-basi sekenanya.
“He… he… ada apa En..?” sapaku gelagapan.
“Eh, Mas Adi lagi ngapain..?” kata Eni yang nampaknya juga sedang menyembunyikan kegugupannya.

Si Eni memang akrab dengan saya, dia sering minta bimbingan dalam hal pelajaran di sekolahnya. Khususnya pada mata pelajaran matematika yang memang menjadi kegemaranku. Eni sendiri masih sekolah di SMU. Berkata jorok memang sering kami saling lakukan tetapi hanya sebatas bicara saja. Apalagi Eni juga menanggapinya, dengan perkataan yang tidak kalah joroknya. Tapi hanya sebatas itulah.

Kembali pada adegan tadi, dimana aku tengah kehabisan akal menanggapi kehadirannya yang memergokiku sedang mencukur bulu kemaluan. Akhirnya kubuka juga kekakuan ini.
“Enggak apa-apa En, biasa… kegiatan rutin.”
“Apaan sih..?”
“Eni sudah berusia 17 tahun belum..?”
“Emangnya kenapa kalau udah..?” kata Eni masih berdiri dengan canggung sambil terus menatapku dengan serius.
“Gini En, aku khan lagi nyukur ini nih, aku minta tolong kamu bantuin aku. Soalnya di bagian ini susah nyukur sendiri…” kataku sambil kuulurkan pisau cukur padanya.
“Mas Adi, ih..!” tapi ia terima juga pisau cukurnya, sambil duduk di dekatku.
Aku angkat celana yang tadi hanya kututupkan di atas kemaluanku.

“Eni tutup dulu pintunya yach Mas..?”
Dia menutup pintu depan dan pintu kamar. Sebenarnya masih ada pintu belakang yang langsung menuju ke dapur rumah induk. Namun pada jam segini aku yakin bahwa tidak ada orang di dalam. Selesai Eni menutup pintu, dia agak kaget melihat kemaluanku terbuka, sambil menutup mulutnya ia meminta agar aku menutupnya.
“Tutup itunya dong..!” katanya dengan manja.
Aku katupkan kedua pahaku, batang kemaluanku aku selipkan di antaranya, sehingga tidak terlihat dari atas, sedangkan bulunya terlihat dengan jelas.
“Nah begini khan nggak terlihat…” kataku, dan Eni nampaknya setuju juga.

Eni ragu-ragu untuk melakukannya, namun segera aku yakinkan.
“Nggak apa-apa En, kamu khan sudah 17 tahun, berarti sudah bukan anak-anak lagi, lagian khan cuman bulu, kamu juga punya khan, udah nggak apa-apa. Nanti kalau aku sakit, aku bilang deh..”
“Bukannya apa-apa, aku geli hi.. hi..” sambil cekikikan.
Dengan super hati-hati dia gerakkan juga pisau cukur mulai menghabisi bulu-bulu kemaluanku. Karena terlalu hati-hatinya maka ia harus melakukannya dengan berulang-ulang untuk satu bagian saja.

Sentuhan-sentuhan kecil tangannya di pahaku mulai menimbulkan getaran yang tidak bisa kusembunyikan. Dan ini membuat kemaluanku semakin tegang, tidak hanya itu, hal ini juga menyebabkan siksaan tersendiri. Dengan posisi tegang dan tercepit di antara pahaku menjadikan kemaluanku semakin pegal. Sampai akhirnya tidak bisa kutahan, kukendorkan jepitan kedua pahaku, sehingga dengan cepat meluncurlah sebuah tongkat panjang dan keras mengacung ke atas menyentuh tangan Eni yang masih sibuk mempermainkan pisau cukurnya.

Begitu tersentuh tangannya oleh benda kenyal panas kemaluanku, dia kaget dan hampir berteriak.
“Oh, apa ini Mas..? Kok dilepas..?” katanya gugup ketika menyadari bahwa batang kemaluanku lepas dari jepitan dan mengarah ke atas.
“Iya En. Habis nggak tahan. Nggak apa-apa deh, dihadapan cewek harus kelihatan lebih gagah gitu..”
“Mas Adi sengaja ya..?”
“Suer.., ini cuma normal.”

Eni masih memperhatikan kemaluanku yang sudah besar dan kencang dengan wajah yang sulit digambarkan. Antara takut dan ingin tahu. Lalu dia raih kain yang ada di dekatku untuk menutupinya.
“Kenapa ditutup En..?”
“Aku takut, abis punya Mas Adi besar banget.”"Emangnya Eni belum pernah melihat kemaluan laki-laki..?” tanya saya.
Eni diam saja, tapi digelengkan kepalanya dengan lemah.
“Ayo deh diteruskan,” bisikku.
Kali ini Eni menjadi super hati-hati mencukurnya. Mungkin takut tersentuh kemaluanku. Sedangkan aku sangat ingin tersentuh olehnya. Tapi aku khawatir dia semakin takut saja. Akhirnya kubiarkan saja dia menyelesaikan tugasnya dengan caranya sendiri.

Akhirnya harapanku sebagian terkabul juga. Ketika Eni mulai mencukur bulu bagian samping kemaluanku, mau tidak mau dia harus menyingkirkan kemaluanku.
“Maaf ya Mas..!” dengan tangan kirinya ia mendorong kemaluanku yang masih tertutup kain bagian atasnya ke arah kiri, sehingga bagian kanannya agak leluasa. Untuk lebih membuka areal ini, aku rebahkan tubuhku dan kubentangkan sebelah kakiku.

Eni dengan sabar memainkan pisau cukurnya membersihkan bulu-bulu yang menempel di sekitar kemaluanku, nafasnya mulai memburu, dan kutebak saja bahwa dia juga sedang horny. Walaupun masih dengan ragu-ragu dia tetap memegang kemaluanku. Didorong ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah. Aku hanya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tanpa kusadari kain penutup kepala kemaluanku sudah tersingkap, dan ini nampaknya dibiarkan saja oleh Eni, yang sekali-kali melirik juga ke arah kepala kemaluanku yang mulus dan besar itu.

Lama-kalamaan, Eni semakin terbiasa dengan benda menakjubkan itu. Dengan berani, akhirnya dia singkapkan kain yang menutup sebagian kemaluanku itu. Dengan terbuka begitu, maka dengan lebih leluasa dia dapat menyantap pemandangan yang jarang terjadi ini. Aku diam saja, karena aku sangat menyukainya serta bangga mendapat kesempatkan untuk mempertontonkan batang kemaluanku yang lumayan besar.

“Udah bersih Mas…”
Kulihat kamaluanku sudah pelontos, gundul. Wah, jelek juga tanpa bulu, pikirku.
“Di bawah bijinya udah belum En..?” aku pura-pura tidak tahu bahwa di daerah itu jarang ada bulu.
Lalu dengan hati-hati ia sigkapkan kedua bijiku ke atas. Uh, rasanya enak sekali.
“Udah bersih juga Mas…” ia mengulanginya.
Katanya datar saja. Menandakan bahwa hatinya sedang ada kecamuk. Aku tarik lengannya, dan dengan sengaja kusenggol payudaranya, dan kukecup keningnya.
“Terima kasih ya En..!”

Tanpa kusadari, sejak dia memberanikan diri mencukur bulu kemaluanku tadi, buah dadanya yang berukuran sedang terus menempel pada dengkulku. Begitu kukecup keningnya, dia diam saja, mematung sambil menundukkan mukanya. Lalu kuangkat dagunya dan kucium bibirnya, kupeluk sepuas-puasnya. Keremas paudaranya dan nafasnya makin memburu. Aku raih kemaluannya tapi dia diam saja, kuselipnkan satu jarinya dari sela-sela celana dalamnya. Wah, ternyata sudah basah bukan main. Namun Eni segera terkejut, dan melepaskan diri dariku. Disun pipiku, dan dia segera lari ke rumah induk lewat pintu belakang.

Aku benar-benar puas, kupandangi tampang kemaluan gundulku yang masih tegak.
“Suatu saat nanti engkau akan mendapat bagiannya…” kataku dalam hati.

Sejak peristiwa itu, kami memang tidak pernah bertemu dua mata dalam suasana yang sepi. Selalu saja ada orang lain yang hilir mudik di kamarku. Sampai akhirnya liburan datang dan kami semua masing-masing pulang kampung untuk beberapa waktu. Liburan sekolah sudah selesai, Eni sudah datang lagi setelah berlibur ke rumah orang tuanya di Tabanan, Bali. Begitu juga aku yang datang sebelum masa kuliahku dimulai.

Waktu itu hujan deras. Eni masih berada di kamarku (suasananya sepi karena tidak ada orang sama sekali, termasuk di rumah induk) untuk minta bimbingan atas pelajarannya. Begitu selesai, Eni menyandarkan tubuhnya ke dadaku sambil berkata.
“Mas, itunya sudah tumbuh lagi belum..? Hi… hi…” sambilnya ketawa cekikikan.
“Oh, itu..? Lihat aja sendiri.” sambil kupelorotkan celana pendekku sampai lepas, dan kemaluanku yang masih lunglai menggantung.
“Mas Adi ih, ngawur…” katanya.
Tapi walaupun demikian, ia santap juga pemandangan itu sambil menyibakkan sebagian T-Shirt-ku yang menutupi daerah itu. Bulu-bulu yang sudah rapih memenuhi lagi sekitar kemaluanku, segera terlihat dengan jelas.

“Nah, begitu khan lebih oke…” katanya.
“Aku kapok En, nggak mau nyukur plontos lagi.”
“Kenapa Mas..?”
“Waktu mau numbuh. Bulunya tajam-tajam dan itu menusuk batangku.”
“Habis Mas Adi sukanya macem-macem sih..!” sambil terus memandang kemaluanku yang masih tergantung lunglai, “Mas, kok itunya lemes sih..?”
“Iya En, sebentar juga gede, asal diusap-usap biar seneng.”
“Ah Mas Adi sih senengnya enak terus.”
Walaupun berkata seperti itu, mau juga Eni mulai memegang kemaluanku dan digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Membuat batang kemaluanku semakin besar, keras dan mengacung ke atas. Eni makin menyandarkan kepalanya ke dadaku. Dan langsung saja saya peluk dia, sedemikian rupa hingga payudaranya tesentuh tangan kiriku. Rupanya Eni tidak pakai BH, sehingga kekenyalan payudaranya langsung terasa olehku. Kupermainkan payudaranya, aku pencet, menjadikan Eni terdiam seribu bahasa tetapi nafasnya semakin cepat. Demikian pula Eni dengan hati-hati memainkan kemaluanku, masih terus dibolak-balik, ke kanan dan ke kiri.

Aku cium bibir Eni, dan dia menanggapinya dengan tidak kalah agresifnya. Barangkali inilah suatu yang ditungu-tunggu. Aku lepas blouse-nya, dan payudaranya yang masih kencang dan mulus dengan putingnya yang kecil berwarna coklat muda segera terpampang dengan jelas. Karena tidak tahan, aku langsung menciuminya. Hal ini menjadikan Eni semakin menggeliatkan tubuhnya, tandanya dia merasa nikmat. Aku ikuti dia ketika dia mambaringkan tubuhnya di tempat tidur. Aku hisap-hisap putting payudaranya, sementara rok dan celananya kupelorotkan. Eni setuju saja, hal ini ditunjukkan dengan diangkatnya pantat untuk memudahkanku melepaskan pakaian yang tersisa.

Begitu pakaian bagian bawah terlepas, segera tersembul bukit mungil di antara selangkangannya, rambutnya masih jarang, nyaris tidak kelihatan. Sekilas hanya terlihat lipatan kecil di bagian bawahnya. Pemandangan ini sungguh membuat nafsuku semakin memuncak. Begitu kuraba bagian itu, terasa lembut. Makin dalam lagi barulah terasa bahwa dia sudah banyak berair. Eni masih merem-melek, tangannya tidak mau lepas dari kemaluanku. Begitu pula ketika kulepas pakaianku. Tangan Eni tidak mau lepas dari alat vitalku yang semakin keras saja.

Begitu aku sudah dalam keadaan bugil, aku kembali mempermainkan kemaluannya, ketika jari tengahku mau memasuki vaginanya yang sudah banjir itu. Pinggulnya digoyangkannya tanda mengelak, aku hampir putus asa.
Tetapi kudengar suara manjanya, “Jangan pakai tangan Mas. Pakai itu saja.” sambil menarik-narik alat vitalku ke arah vaginanya.

Aku segera mengambil posisi. Tangan lembutnya membimbingnya untuk memasuki arah yang tepat. Kugosok-gosokkan sebentar di bibir vaginanya yang berlendir itu. Rasanya nikmat sekali. Setelah kurasa tepat berada di ambang lubangnya, aku dorong sedikit, agar bisa memasukinya. Tapi nampaknya tidak mau masuk. Aku coba sekali lagi, tidak mau masuk juga.
“Kamu masih perawan En..?” akhirnya aku tanya dia.
Diantara jelita dan wajahnya yang sudah seperti tidak sadar itu, aku lihat kepalanya menggeleng dan itu adalah suatu jawaban.

Usaha menembus lubang kenikmatan itu aku tunda dulu. Operasiku berpindah dengan memagut-magut seluruh tubuhnya. Eni semakin terengah-engah menerima perlakuanku. Erangan-erangan yang terkesan liar semakin membuatku bernafsu. Aku kecup putingnya, perutnya, dan pahanya. Ketika aku mengecup pahanya, sepintas aku lihat vaginanya menganga, semburat warna merah tua yang licin sungguh menarik perhatianku. Jilatanku makin dekat ke arah vaginanya. Begitu lidahku menyentuh bibir kemaluannya, Eni berteriak kelojotan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku semakin bersemangat menjilatinya.

Setelah kurasa jenuh, dan kehabisan variasi menjilati vaginanya. Kembali kuarahkan kemaluanku ke arah barang yang paling dilindungi wanita ini. Kembali tangan Eni membimbing kemaluanku. Setelah tepat di depan gerbang kenikmatan, aku dorong sedikit.
“Bless…”
Kepala kemaluanku bisa masuk sedikit, Eni meringis, tapi terus menekan bokongku. Maksudnya, jelas agar aku masuk lebih banyak lagi. Aku dorong lagi, tetapi lubangya terlalu sempit. Walaupun hanya kepala saja yang masuk, tetapi aku berusaha memaju-mundurkan, agar gesekan yang nekmat itu terasa. Setelah beberapa kali aku memaju-mundurkan, sekali lagi aku dorong lebih dalam lagi. Berhasil..! Kini kemaluanku sudah sepertiga berada di dalamnya. Aku berusaha sabar, aku gerakkan maju mundur lagi. Setelah beberapa kali, aku mendorong lagi. Begitulah kulakukan berulang-ulang sampai semua kemaluanku tertelan dalam remasan vaginanya. Kudiamkan untuk sesaat di dalam, kurasakan denyutan-denyutan yang sangat nikmat yang membuat seluruh tubuhku mengejang. Kugerakkan lagi bokongku dengan arah maju-mundur. Tanpa kusangka, Eni menjerit sambil mengejang.

“Terus Mas… terus Mas… aku sampaaiii… ouh… ouh…” jeritan itu lumayan keras.
Aku segera tutup mulutnya dengan bibirku. Bersamaan dengan itu, kemaluanku terasa diremas-remas. Ujung kemaluanku seakan menyentuh dinding yang membuatku merasa geli bukan main. Akhirnya aku tidak tahan juga untuk mengeluarkan spermaku ke dalam liang kewanitaannya. Beberapa semprotan agaknya semakin menjadikan Eni semakin liar dan semakin meregangkan tubuhnya. Kami orgasme bersama-sama, dan itu sangat meletihkan. Dan aku tidak ingin cepat-cepat melupakan fantasi yang hebat itu. Kami tertidur untuk beberapa waktu.

Begitu aku bangun, rupanya Eni sudah tidak ada. Yang ada hanyalah secarik kertas menutupi kemaluanku dengan tulisan, “YOU ARE THE GREAT”.

Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara rutin dua minggu sekali, paling lama sebulan sekali. Namun tidak melakukan di rumah tetapi kubawa ke hotel di luar kota secara berganti-ganti yang kemungkinan kecil untuk diketahui oleh orang yang kami kenal. Sampai akhirnya, kami berpisah. Aku lulus dan diterima kerja di luar kota. Eni kuliah di kota yang jauh sekali dari tempatku berada. Kalau ia membaca tulisan ini, maka ia akan bersyukur karena namanya sudah aku samarkan. Sekedar untuk mengingatkan saja ketika kami begituan, kemaluannya kujuluki TEMBEM. Dan ia menyebut kemaluanku dengan julukan TOLE (mungkin dari kata KONTOLE).

TAMAT