Namaku Adi, mahasiswa tingkat akhir masih nunggu ujian akhir. Sewaktu di perpustaan kampus,tiba-tiba HP dikantong berbunyi. Tumben mbak puspita nelpon nih.. Mbak puspita adalah istri saudara sepupuku, dulu rumah kita berdekatan sehingga kita sudah kenal dekat. Umurnya kira-kira akhir 30-an. Sekarang dia tinggal di apartemen berdua saja dengan suaminya, kedua anaknya yang masih SD ditaruh di rumah kakeknya di sebuah kota di Jawa Tengah - biar murah ngongkosin sekolahnya ceritanya padaku.
“Hi Di apakabar?” begitu suaranya yang lembut membuka pembicaraan.
“Baik Mbak, Mbak sendiri gimana kabarnya, tumben nelpon ada cerita apa nih?”. “Baik2 aja, eh kamu mahasiswa psikologi kan? Mbak mau konsultasi sedikit boleh ngga?”. “Konsultasi apa mbak?” jawabku heran.. “Mbak malu ceritanya, tapi kamu janji kan ngga cerita sama siapa-siapa”
“Janji deh mbak…” “Mbak masih malu, lewat sms aja deh”
“Iya deh”
Tidak berapa lama HP ini berbunyi lagi, pasti dari dari Mbak Pus nih..
“Di, saya malu mau cerita tapi saya perlu bantuan kamu. Mbak pikir kamu bisa menolong. Saya punya problem dengan kehidupan seks saya, sekarang saya ngga tahu kenapa saya ngga bisa menikmati seks lagi. Bayangan yang ada setiap mas roy (suaminya) mengajak berhubungan saya selalu ketakutan tapi mas roy terus memaksa akibatnya vagina saya sampai perih dan sakit. Saya baca di beberapa literatur kalau saya ini mengalami apa yang dibilang vaginismus. Saya ngga tahu mau cerita sama siapa lagi karena mas roy sekarang galak dan rada-rada egois. Mumpung dia lagi keluar negeri 2 minggu mbak minta tolonh kamu aja”
Oh begini ceritanya, sepertinya mbak pus ini kena trauma perlakuan suaminya jadi ada sedikit ketakutan dan perlu bantuan agar traumanya bisa hilang.
“Ok mbak saya mengerti masalahnya, gimana kala kita ngobrol-ngobrol di nanti sore di tempat yang santai?”
“Mbak jemput kamu di kampus jam 5 ya”
PART II
Sore itu mbak pus datang menjemput, dia masih tidak berubah seperti beberapa tahun silam. Putih, tidak terlalu kurus, dengan rambut sunsilknya yang sebahu. Sore itu dia memakai kemeja putih dengan celana panjang warna coklat. Mas roy bodoh sekali menyiksa wanita secantik ini, aku membatin…
“Hi Adi, apakabar” sambil cipika-cipiki di dalam mobilnya ” kita ke apartemen aja yuk, ngga ada siapa-siapa di sana”. Kita berdua langsung berangkat, kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh dari kampus tapi macetnya itu kalau sudah sore. Sambil mengatur ac aku melirik mukanya yang manis itu.
“Di kamu mau minum apa?” mbak pus bertanya dari dapur. “Kopi aja mbak”, mbak pus membawa beberapa makanan ringan dan minuman sebagai pelengkap obrolan di sore itu.
“Jadi gimana menurut pendapat kamu?” mbak pus memulai pembicaraan “Saya kira mbak ngga apa apa kok”.”Masak sih” balasnya setengah heran. “Saya bisa bantu mbak tapi mbak mesti percaya sama saya 100%”.
“Hmm, memang kamu mau bantu gimana?”"Pertama sih mbak harus dibuat percaya bahwa seks itu tidak menakutkan”. “Caranya gimana?” dia terus bertanya.”Mbak percaya dengan saya kan?” “Percaya deh”.”Pertama, mbak takut kan melihat laki-laki telanjang dengan penis yang berdiri tegang?”.. “Betul, mbak langsung gimana gitu” dia menukas.
“Sekarang kita sama sama telanjang yuk”
“Hmm..” ada sedkit keengganan dimukanya. “Mbak percaya deh saya ngga akan ngapa-ngapain”
Aku mulai membuka pakaian sendiri, mulai dari kaos, celana panjang, dan diakhiri dengan cd. Walaupun terlihat enggan, mbak pus menuruti permintaan aku juga walaupun akhirnya dia duduk di sofa dengan melipat kakinya dan menutupi dadanya dengan bantal. Aku sendiri duduk biasa dengan penis yang sudah tegang..
“Maksud kamu apa di dengan kita berdua telanjang seperti ini?”
“Seperti yang saya bilang barusan, mbak ngga perlu takut lihat laki-laki telanjang dengan penis tegang seperti saya sekarang ini” .. “Kita nonton tv yuk” aku ajak dia ke depan tv, di depan tvnya ada karet tebal yang empuk buat alas duduk. Dia ikut ke depan tv dan akhirnya kita nonton tv berdua dengan santai. Mbak pus juga mulai percaya bahwa aku ngga akan ngapa-ngapain dia walaupun kita berdua sudah sama-sama telanjang. Sampai kira-kira jam 10 malam aku berpakaian dan pamit pulang. “Mbak, pulang dulu ya, sudah malam nih” “Makasih yah, hati-hati di jalan” Mbak pus memberikan ciuman ringan di bibir. Di kamar kost aku langsung onani.. ngga tahan melihat tubuh mbak pus.. Dua hari berturut-turut mbak pus aku terapi seperti itu
PART III
Aku datang lagi ke apartemennya. Mbak pus menyambut lagi dengan senyumnya yang manis itu.
“Gimana sekarang ?” tanyanya manja. “Sekarang masih seperti kemarin kan” Mbak pus langsung membuka kaos putih yang membungkus tubuhnya, dadanya tidak besar tapi mungil dan padat dengan putingnya berwarna merah muda sementara selangkangannya relatif tidak banyak ditumbuhi bulu-bulu halus.
“Hmm, sekarang mbak pus harus mencoba merangsang diri sendiri” aku memulai pembicaraan dan membuka pakaian sendiri. “Kita ke kamar yuk, di kamar kan ada meja rias yang besar” Mbak pus berdiri di depan cermin sementara aku duduk di kasur. “Mbak, coba remas-remas dada mbak”
Mbak pus menuruti permintaanku, beberapa saat kemudian terlihat mukanya memerah..”Di, enak juga yah begini” aku menjawab “Terusin aja mbak kalau sudah bisa enak, coba satu tangan elus-elus paha dalam sementara tangan yang satu lagi masih meremas dada”. Mbak pus kembali menuruti permintaanku dan terlihat napasnya sudah mulai tidak teratur.
“Mbak, aku ke kamar mandi sebentar yah” aku sudah tidak tahan melihat pemandangan ini, akhirnya aku tumpahkan saja air mani yang sudah bertumpuk sambil onani di kamar mandi.
“Kamu kok lama sekali di kamar mandi, eh kenapa sudah tidak berdiri lagi.. kamu onani yaa?” mbak pus tersenyum. “Iya mbak” aku menjawab sambil tersipu”..”Mbak juga sudah bisa merasakan rangsangan walaupun belum banyak”.”Syukurlah, barangkali kalau mbak lakukan sambil tiduran, sensasinya akan beda”..”Mbak coba deh selama 2-3 hari ini”..
PART IV
Karena hari ini libur maka aku janji datang pagi-pagi. Mbak pus kembali datang menyambut, pagi ini sepertinya dia baru selesai mandi jadi segarnya masih terasa.
“Di, aku coba saran kamu. Ternyata mbak jadi sangat terangsang sampai mbak jadi basah dan mbak gosok-gosok kelentitnya sampai mbak lemas keenakan”
“Kalau saya tambahin lagi enaknya gimana mbak?” aku tersenyum.. “Mau donng” dia tersenyum manja.
Kita berdua berdiri di depan cermin besar di kamanya, mbak pus mulai meremas-remas dadanya sendiri. Aku mulai membelai-belai rambutnya sambil menciumi lehernya “Diii…, enak emph..” napasnya mulai memburu… Berdua kita sama sama meremas-remas dadanya. Mak pus cuma bisa menahan napas ketika aku mulai menciumi dadanya, perutnya kemudian pahanya. Aku mulai meraba selangkangannya yang sudah basah dan mencari kelentitnya. Mbak pus mengacak-ngacak rambutku ketika aku sudah mulai menciumi selangkangannya. Akhirnya dia tidak tahan lagi dan berbaring di ranjang.
“Adi kamu nakal sekali…” mbak pus tersenyum.
“Mbak, kita onani sama-sama yuk” Aku meminta dia merangsang kelentitnya dan memasukkan jari-jari ke dalam memeknya sendiri. aku berbaring di sampingnya sambil mengocok penis yang sudah tegang ini.
Mbak pus mulai melenguh keenakan, keringatnya terlihat di sekujur tubuhnya..
“Di, mbak mau keluar… ohhh.. emmmphh” ..kedua kakinya menjepit erat tangannya. “Mbak, aku juga mau keluar”,.. aku berlutut sambil terus mengocok.. “Ohh, mbak keluar duluan nihh..” Aku terus mengocok sambil mengarahkan penis ini ke hadapan dia. Crott… crott 2 kali semburan air mani ini membasahi perut mbak pus yang terbaring lemas.
“Mbak kita mandi sama yuk” mbak pus pun melangkah ke kamar mandi. Kita saling membersihkan dan mengeringkan tubuh. Siang itu kita habiskan di tempat tidur, istirahat
