Cerita Antara KitaAugust 17, 2006 3:27 pm

Saya tidak malu menyebut diri seorang penggila seks. Secara fisik, saya biasa2 saja. Tapi secara materi saya seorang eksekutif muda yang sedang menapak kesuksesan. Oleh karenanya, saya tidak pernah kesulitan mencari pemuas hobby saya yang satu itu. Hampir semua sudut ibukota telah saya jelajahi untuk mencari pengalaman seks yang berbeda setiap kalinya. Mulai dari salon esek2, PSK di pinggiran jalan, ABG yang sering mangkal di mal-mal, pijat Thailand, sampai gadis Sashimi sudah pernah saya icip-icip. Saya sudah mengenal setiap sudut kehidupan malam ibukota sebaik saya mengenal telapak tangan saya sendiri.
Keinginan mencari pengalaman seksual yang baru itu lah yang menyebabkan saya menerima tawaran bisnis rekanan saya untuk sebuah proyek perhotelan di Bali. Saya ingin mengeksplorasi pulau yang terkenal akan keindahan alamnya dan keindahan malamnya.
Hari pertama di Bali saya habiskan dengan meeting untuk mendiskusikan proyek kami di Bali. Ternyata reputasi saya sebagai penggila seks sudah terkenal di kalangan rekanan bisnis saya. Tak heran di penghujung rapat kami, salah seorang dari mereka memberikan saya satu kartu nama.
“Pak Yohan, saya mendengar bahwa anda merupakan pecinta keindahan.” ujar Tandi, calon manajer personalia dari hotel yang akan kami rintis tersebut.
Kurang mengerti, saya pun bertanya. “Maksud bapak?”
“Banyak orang mengatakan bahwa karya terindah yang pernah diciptakan adalah wanita”, balasnya.
“Saya dengar anda sudah paham semua sudut di ibukota, bukan? Ingin mencoba bertualang di Bali? Saya kenal beberapa teman dan saya jamin petualangan terliar anda akan anda alami di Bali” lanjut Tandi sambil memberikan saya sebuah kartu nama.
“Selamat menikmati, Pak Yohan”, sambungnya sambil berlalu dari hadapan saya.
“Massage Pancawarna. Jln Kuta Arjo No. 45 Kuta”, begitu yang tertulis di kartu nama tersebut. Menarik, pikir saya. Saya pun tidak membuang2 lebih banyak waktu dan segera menuju alamat tersebut.
Taksi yang saya kendarai berhenti di depan sebuah rumah toko berlantai 2 bercat putih dan sedikit memantulkan sinar lampu di tengah keremangan malam yang sunyi. Toko itu bernama “Toko Pancawarna”. Memasuki teras toko tersebut seorang gadis penjaga toko bertanya.
“Ada yang bisa saya bantu pak?”, tanyanya.
Bingung hendak menjawab apa, saya menyerahkan kartu nama tersebut dan bertanya, “Benar, ini Massage Pancawarna?”.
Sedikit terkejut, gadis itu memanggil seorang ibu2 dengan riasan yang berlebihan.
“Selamat malam, bapak. Temannya pak Tandi, ya? Panggil saja saya Mami, silahkan masuk pak.”
Saya pun masuk mengikuti mami ke dalam rumah. Keadaan di dalam rumah benar2 berbeda dengan di luarnya. Penerangan remang2 di rumah bercat merah muda dengan keharuman yang memabukkan.
“Panggilkan Nadia, Aisyah, Yumiko, Novana dan Stella”, suruh sang Mami kepada gadis pelayan tersebut.
“Anda sedang beruntung Pak Yohan, kelima primadona kami sedang kosong malam ini”
Kelima wanita yang dipanggil sang Mami tersebut menampakkan diri mereka dan memperkenalkan diri mereka satu per satu.
Nadia adalah seorang wanita berwajah oriental dengan bibir yang penuh, kulit yang putih mulus dan rambut sebahu. Putingnya seakan mengintip dari kaos ketat putih yang dikenakannya. “36B” nilaiku berdasarkan pengalamanku malang melintang di dunia “perlendiran”.
Aisyah agak pemalu walaupun payudaranya yang tersimpan di dalam BH cup F tidak malu-malu. Wajahnya ayu dan tingkah lakunya tidak mencerminkan profesi yang sedang digelutinya saat ini. Pantas dia menjadi salah satu primadona tempat ini.
Yumiko mengingatkanku pada Azumi Kawashima, salah satu bintang JAV (Japanese Adult Video) yang filmnya sering kutonton sambil bermasturbasi. Putih dan montok. Sangat montok.
Novana agak misterius, sulit untuk menentukan asalnya. Tapi asalnya tidak penting. Yang lebih penting adalah kulitnya yang cokelat terbakar matahari, wajahnya yang nakal dan payudaranya yang mengintip dari kameja yang hanya dikancing sekenanya itu.
Stella adalah cewek bule berambut pirang dan wajahnya sedikit berbintik yang malah menambah sensualitasnya. Dengan payudara yang tergolong besar untuk ukuran wanita kaukasian, kesan pelacur susah untuk tidak dikait2 kan dengannya.
Setelah berkenalan, aku pun segera disergap oleh mereka dan mataku ditutup dengan kain.
Mereka menuntunku ke suatu tempat dan merebahkanku di atas tempat yang empuk. Mereka mulai melucuti pakaianku dan celanaku. Masih mengenakan celana dalam, aku merasakan elusan yang nikmat di penisku sehingga mengeras. Halangan celana dalam malah membuatku semakin terangsang. Aku mencoba meraba-raba dan tanganku menggapai sesuatu yang lembek dan seiring remasanku sesuatu itu menjadi semakin mengeras. Kemudian tanganku dipegang dan diarahkan ke atas kepalaku. Aku mendengar bunyi sesuatu terkunci dan seketika itu juga tutup mataku dibuka. Kedua tanganku terikat borgol dan aku melihat Aisyah, Yumiko dan Novana berebutan membuka celana dalamku. Nadia tidak membuatku melihat siapa pemenangnya karena ia segera mendekatkan wajahnya dan mulai menjilati wajahku sampai akhirnya berlabuh di mulutku dan lidah kami saling memagut. Pengalaman dipijat Thailand membuatku mengetahui bagian Stella dalam pesta seks kami. Sekujur tubuhku dipijat oleh payudaranya yang semakin mengeras seiring luasnya areal yang dipijatnya.
“Oh, aku serasa di puncak dunia, pikirku” sambil berdesah keenakan. Seiring desahanku yang semakin menggebu, perlakuan mereka berkurang dan kemudian kusadari mereka saling merangsang satu sama lain. Aisyah menjilati vagina Yumiko yang sedang meremas payudara Novana. Sementara itu, Nadia dan Novana berciuman sampai-sampai lidah mereka saling menjilat dengan liarnya. Hanya Stella yang sekarang berganti tugas untuk mengulum penisku. “MMh mmh” suaranya. Aku serasa menonton film orgy lesbian dan bermasturbasi hanya saja saat ini fungsi tanganku sudah digantikan oleh mulut Stella.
Aku tahu bahwa mereka melakukan ini agar masing2 turn on dengan maksimal agar mereka semakin bersemangat untuk melayani aku.
Merasa puas ber”lesbian”ria, mereka membuka borgolku dan membiarkanku menuntaskan fantasiku yang sudah kususun sewaktu mengamati mereka tadi.
Aku memposisikan diri di tengah ranjang dan menyuruh Nadia, Stella dan Novana mengambil posisi membungkuk ala doggy style. Aku bergantian memasukkan penisku di liang mereka sebanyak yang aku anggap adil sementara sekujur tubuhku basah dijilati oleh Yumiko dan Aisyah.
Merasa puas ber”doggy style”, kami berubah posisi. Kali ini vagina Yumiko yang mendapat bagian sementara Yumiko dan Novana berciuman dan mulutku sendiri dipenuhi lidah Stella. Tangan kiriku meremas2 payudara Nadia dan tangan kananku menggesek klitoris Aisyah.
Sudah selesai mengeksporasi semua bagian dari wanita2 tersebut, aku pun segera menuju partai pamuncak.
Aku dan Novana saling berhadapan dan saling mendekatkan kelamin kami satu sama lain. Sementara itu yang lainnya saling menggesek klitoris teman mainnya yang berganti-ganti.
Hampir mencapai puncak, aku menyerahkan Novana untuk di”orgasme”kan oleh rekan-rekannya sambil aku menciumi Nadia untuk “cooling down” agar sperma jangan keluar dulu sambil menjaga tingkat kekerasannya. Setelah merasa cukup, aku menikmati vagina Nadia. Aku memutar badannya sehingga aku menghadapi punggungnya yang mulus dan mulai menggerayangi payudaranya sambil memompa penisku ke vaginanya. ” Ah.., nikmatnya”. Nadia adalah wanita favoritku dari kelima pelacur tersebut sehingga aku belum sempat menikmati Stella, aku merasa klimaks.
Aku mencabut penisku dari vagina Nadia dan tanpa dikomando kelima wanita itu bergantian menjilati penisku dan..
” Ah” Semburan maniku begitu kencang dan membasahi wajah kelima wanita itu dan mereka saling menjilati wajah satu sama lain…
………

Keesokan harinya aku pun pulang ke Jakarta karena urusanku di Bali sudah selesai. Setelah menikmati malam yang luar biasa itu, kehidupan malam Jakarta kurasa biasa2. Karena itu saat temanku mengajakku untuk berbisnis restoran di Bali, aku tidak berpikir dua kali. Aku ingin menuntaskan Stella…………..

Cerita Antara Kita 3:18 pm

Cerita ini bermula dari suatu kebetulan yang tidak disengaja. Sampai saat ini aku suka tertawa sendiri kalau mengingat awal kejadian ini. Bermula dari suatu Sabtu siang, aku janjian ketemu dengan salah seorang teman chat-ku. Namanya Fenny, mahasiswi tingkat akhir di salah satu PTS di Jakarta Barat. Teman chat-ku yang satu ini cukup misterius. Aku nggak pernah tau dia tinggal dimana, dengan siapa, bahkan aku tak pernah dikasi nomer telepon rumahnya. Kampusnya pun aku nggak yakin kalau yang disebutnya benar.

Saat janjian dengan Fenny pun hanya lewat SMS. Biasanya aku nggak pernah meladeni teman-teman chat yang janjian ketemu via SMS. Kapok, dulu pernah dibo’ongin. Tapi entah kenapa aku penasaran sekali dengan Fenny. Akhirnya kami janjian untuk ketemu di Mal Kelapa Gading, tepatnya di Wendy’s. Resenya, Fenny juga nggak mau kasi tau pakaian apa yang dia pakai dan ciri-cirinya. Pokoknya surprise, katanya.

Itulah kenapa hari Sabtu siang ini aku bengong-bengong ditemani baked potatoenya Wendy’s sambil menunggu kedatangan Fenny. Sudah hampir satu jam aku menunggu tapi tidak ada kabar. SMS-ku nggak dibales-bales, mau telepon pulsa udah sekarat. Aku hanya duduk sambil memperhatikan sekelilingku yang cukup sepi. Mataku tertuju pada seorang wanita keturunan Chinese berumur kira-kira 30-an yang duduk sendirian di salah satu sudut. Herannya sejak tadi wanita tersebut memperhatikanku terus. Aku sempat berpikir apa dia yang bernama Fenny. Tapi rasanya bukan. Akhirnya karena bete menunggu aku pun meninggalkan Wendy’s.

Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh dan melihat wanita yang kuperhatikan tadi tersenyum ke arahku.
“Rio ya?” tanyanya. Aku terkejut. Kok dia tau namaku. Jangan-jangan wanita ini benar Fenny. Aku mengangguk.
“Iya, mm.. Fenny?” tanyaku. Wanita itu menggeleng sambil mengernyitkan kening.
“Bukan, kok Fenny sih? Kamu Rio yang di Kayuputih kan?” aku tambah bingung mendengarnya.
“Bukan, lho tante bukan Fenny?”.

Kemudian wanita itu mengajakku berteduh di salah satu sudut sambil menjelaskan maksud yang sebenarnya. Aku mendengarkan, lantas aku juga gantian menjelaskan. Akhirnya kami sama-sama tertawa terbahak-bahak setelah tau duduk persoalannya. Wanita itu bernama Linda, dan dia juga sedang janjian dengan teman chat-nya yang juga bernama Rio, seperti namaku. Akhirnya kami malah berkenalan karena orang-orang yang kami tunggu tak kunjung datang juga. Aku memanggilnya Ci Linda, karena dia menolak dipanggil tante. Kesannya tua katanya.

Siang itu Ci Linda malah mengajakku jalan-jalan. Aku ikut dengan Altis-nya karena aku tidak membawa mobil. Ci Linda mengajakku ke butik teman maminya di daerah Permata Hijau. Tante Wiwin, sang pemilik butik adalah seorang wanita yang sudah berusia di atas 50 tahun, tubuhnya cukup tinggi dan agak montok. Kulitnya yang putih bersih hari itu dibalut blus transparan yang bahunya terbuka lebar dan celana biru tua dari bahan yang sama dengan bajunya. Agak-agak eksentrik. Dasar desainer pikirku. Karena hari itu butik Tante Wiwin tidak begitu ramai, kami bertiga ngobrol-ngobrol sambil minum teh di salah satu ruang santai.

“Aduh Yo.. maaf..” seru Tante Wiwin. Wanita itu menumpahkan teh yang akan dituangnya ke cangkirku tepat di celanaku bagian pangkal paha. Aku sedikit mengentak karena tehnya agak panas.
“Nggak pa-pa Tante…” jawabku seraya menepuk-nepuk kemejaku yang juga kena tumpahan teh. Tante Wiwin reflek menepis-nepis bercak teh yang membasahi cenalaku. Ups.. tanpa sengaja jemari lembutnya menyentuh batang kemaluanku.
“Eh.. kok keras Yoo? Hihihi…” goda Tante Wiwin sambil memijit-mijit kemaluanku. Aku jadi tersenyum. Ya gimana nggak keras sedari ngobrol tadi mataku tak lepas dari bahu Tante Wiwin yang mulus dan kedua belah paha Ci Linda yang putih.
“Iya.. Tante sih numpahin…” jawabku setengah bercanda.
“Idih.. Tante Wiwin kumat genitnya deh… biasa Yo, udah lama nggak… awww!!” Ci Linda tak sempat menyelesaikan celetukkannya karena Tante Wiwin mencubit pinggang wanita itu.
“Iya nih Tante, udah numpahin digenitin lagi. Pokoknya bales tumpahin juga lho hihihi…” aku gantian menggoda wanita itu. Tante Wiwin malah tersenyum sambil merangkul leherku.
“Boleh, tapi jangan ditumpahin pake teh ya..” bisiknya di telingaku. Aku pura-pura bego.
“Abis mau ditumpahin apa Tante?” tanyaku. Tante Wiwin meremas batang penisku dengan gemas.
“Ya sama ‘teh alami’ dari kamu dong sayang.. mmmhhh…. mmmm…” Tante Wiwin langsung mengecup dan melumat bibirku. Aku yang memang sedari tadi sudah horny menyambut lumatan bibir Tante Wiwin dengan penuh nafsu. Kedua tanganku memeluk pinggang wanita setengah baya itu dengan posisi menyamping. Sementara tangan Tante Wiwin yang lembut merangkul leherku. Ah.. lembut sekali bibirnya.

Ci Linda yang melihat adegan kami tidak tinggal diam. Wanita berkulit putih mulus itu mendakati tubuhku dan mulai memainkan kancing celana jeansku. Tak sampai semenit wanita itu sudah berhasil melucuti celana jeansku sekaligus dengan celana dalamnya. Tanpa ampun lagi batang penisku yang sudah mulai mengeras itu berdiri tegak seolah menantang Ci Linda untuk menikmatinya. Ci Linda turun ke bawah sofa untuk memainkan penisku. Jemarinya yang lembut perlahan-lahan mengusap dan memijit setiap centi batang penisku. Ugghh.. birahiku semakin naik. Lumatan bibirku di bibir Tante Wiwin semakin bernafsu. Lidahku menjelajahi rongga mulut wanita setengah baya itu. Tante Wiwin merasa keasyikan.

Aku yang semakin terbakar nafsu mencoba menularkan gairahku ke Tante Wiwin. Dari bibir, lidahku berpindah ke telinganya yang dihiasi anting perak. Tante Wiwin menggelinjang keasyikan. Dia meminta waktu sebentar untuk melepas anting-antingnya agar aku lebih leluasa. Lidahku semakin liar menjelajahi telinga, leher dan bahu Tante Wiwin. Tampaknya wanita itu mulai tak kuasa menahan birahinya yang semakin memuncak. Dia melepaskan diri dari tubuhku dan memintaku untuk melorotkan celananya. Tanpa disuruh kedua kalinya aku pun langsung melucuti Tante Wiwin sekaligus dengan bajunya, hingga tubuh wanita itu bersih tanpa sehelai benang pun.

Gila, udah kepala empat tapi tubuh Tante Wiwin masih kencang. Kulitnya yang putih betul-betul terasa halus mulus. Sambil bersandar pada pegangan sofa, Tante Wiwin merentangkan kedua belah pahanya yang mulus dan memintaku melumat kemaluannya yang bersih tanpa bulu. Tanpa basa-basi aku langsung mendekatkan wajahku ke vaginanya dan mulai menjilati daerah pinggir kemaluannya.

“Hhhmmmm.. sshhh…. terusss Yoo….” desah Tante Wiwin keasyikan. Aku terus menjilati vaginanya sambil tangan kananku membelai pangkal pahanya yang mulus. Di bawah, Ci Linda masih asyik mempermainkan kemaluanku. Kelima jemarinya yang lentik lincah sekali membelai dan mengocok batang penisku yang ujungnya mulai basah. Sesekali lidahnya membasahi permukaan penisku. Sebagian batang penisku tampak merah terkena lipstik Ci Linda. Kepala wanita itu naik turun mengikuti ayunan kenikmatan di penisku. Ahhh… lembut sekali mulut Ci Linda mengulumnya. Saking asyiknya tak sadar aku sampai menghentikan permainanku dengan Tante Wiwin untuk merasakan kenikmatan yang diberikan Ci Linda. Tante Wiwin tersenyum melihat ekspresiku yang mengejang menahan nikmat. Wanita itu merengkuh kepalaku untuk melanjutkan tugasku memberi kenikmatan untuknya.

Aku semakin buas melumat kemaluan Tante Wiwin. Jemariku mulai ikut membantu. Liang kemaluan Tante Wiwin sudah kutembus dengan jari tengahku. Sambil kukocok-kocok, aku menjilati klitorisnya. Wanita itu menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat. Kedua tangannya yang lembut menjambak rambutku.

Tanpa kusadari, Ci Linda sudah melucuti dirinya sendiri sampai telanjang bulat. Tiba-tiba wanita itu naik ke atas tubuhku dan bersiap mengurung penisku dengan vaginanya yang lembut. Kedua tangannya merengkuh leherku. Tubuhnya mulai merendah hingga ujung penisku mulai menyentuh bibir vaginanya. Dengan bantuan tangan kiriku, perlahan penisku mulai masuk ke dalam liang kenikmatan itu, dan…. sssllppp blleeessss.. Amblas sudah penisku di liang kemaluan Ci Linda. Sambil memeluk bahuku, tubuh Ci Linda naik-turun. Ugghh.. nikmat sekali. Aku sampai nggak bisa konsen ngelumat vagina Tante Wiwin. Tapi aku nggak mau kalah. Yang penting Tante Wiwin mesti diberesin dulu.

Sambil menahan birahiku yang sudah di ubun-ubun gara-gara Ci Linda, aku terus melumat vagina Tante Wiwin. Jari tengahku yang kini sudah dibantu jari manis semakin cepat mengocok-ngocok di dalam vagina Tante Wiwin. Lidahku semakin liar menjelajahi klitoris dan bibir vaginanya. Tubuh Tante Wiwin pun semakin menggelinjang tak karuan. Sepertinya wanita itu sudah tak kuasa lagi menahan kenikmatan yang kuberikan. Aku pun mulai merasa dinding vaginanya berdenyut.

“Sssshhh… ooohhh… Riioooo…..aahhhh….” Tante Wiwin mendesah meregang nikmat sambil meremas kepalaku yang masih menempel ketat di vaginanya. Aku merasakan rembesan lendir yang cukup deras dari dalam sana. Hmmm… aroma vagina yang begitu khas segera tercium. Aku pun menghirup lendir-lendir kenikmatan itu sambil menjilati sisa-sisa yang menempel di vagina Tante Wiwin. Setelah puas melepas kenikmatannya, Tante Wiwin mengangkat kedua pahanya dari tubuhku dan membiarkan aku leluasa menikmati permainan dengan Ci Linda.

Bebas dari tubuh Tante Wiwin, kini Ci Linda yang mendekap tubuhku erat. Payudaranya yang bulat dan montok menempel ketat di dadaku. Ahh.. kenyal sekali. Aku semakin merasakan kekenyalannya karena tubuh Ci Linda naik-turun. Sementara bibir kami asyik saling melumat.
“Mmhhh..ssllppp…aahh…mmmmmm…” berisik sekali kami berciuman. Tante Wiwin sampai geleng-geleng melihat kami berdua yang sama-sama dipacu birahi.

Kemudian kami bertukar posisi. Tubuh kami berguling ke arah berlawanan sehingga kini tubuh Ci Linda duduk bersandar di sofa dengan posisi kedua kaki mulusnya yang mengangkang. Sambil bertumpu pada lutut di lantai, aku bersiap memasukkan penisku lagi ke dalam liang kemaluan Ci Linda. Ugghh… kali ini lebih mudah karena vagina Ci Linda sudah basah. Pantatku maju mundur seiring kenikmatan yang dirasakan Ci Linda. Wanita itu bahkan sudah tak kuasa memeluk tubuhku. Kedua tangannya direntangkan untuk menahan rasa nikmat yang dirasakannya. Aku semakin menggoyang pantatku dengan keras. Aku tahu bahwa sebentar lagi Ci Linda akan mencapai klimaks, namun aku juga tahu bahwa Ci Linda tak mau kalah denganku. Aku melihat ekspresinya yang berusaha menahan nikmat.

“Terus Yo… bentar lagi tuh.. hihihi…” goda Tante Wiwin. Aku tersenyum kemudian mengecup bibir wanita yang sedang duduk di samping Ci Linda tersebut. Tante Wiwin malah membantuku dengan menjilat, mengisap dan mengulum payudara dan puting Ci Linda.
“Aahhh… Yoooo… sssshhhhh…..” akhirnya Ci Linda meregang kenikmatannya. Aku merasakan cairan hangat membasahi penisku di dalam vaginanya. Aku mendekap tubuh Ci Linda yang hangat.
“Hh.. gila kamu Yo, aku pikir bakal kamu duluan…” ujar Ci Linda. Aku tersenyum sambil melirik ke arah Tante Wiwin.
“Ya kan berkat bantuan Tante Wiwin..” jawabku seraya mencubit hidung Tante Wiwin. Wanita itu memelukku.
“Nah, sekarang giliran aku lagi Yo, kamu kan belum puasin aku dengan pentunganmu itu hihihi… Ayo, kali ini pasti kamu udah nggak tahan..” Tante Wiwin menantangku bermain lagi. Tanpa diminta dua kali aku langsung menjawab tantangannya. Aku pun melakukan hal yang sama seperti dengan Ci Linda tadi. Kali ini aku mengakui permainan Tante Wiwin yang jauh lebih liar dan berpengalaman. Akhirnya kami klimaks bersama-sama. Aku klimaks di dalam vagina Tante Wiwin yang hangat.

Ruang santai itu memang betul-betul hebat. Tak seorang karyawan pun yang mengetahui apa yang baru saja kami lakukan. Setelah puas bermain, kami bertiga mandi bersama. Tadinya setelah mandi kami mau melanjutkan lagi di kamar tidur Tante Wiwin. Tapi karena sudah sore, sebentar lagi suami Tante Wiwin pulang. Untungnya Ci Linda punya ide untuk melanjutkan di hotel. Tante Wiwin pun setuju, namun aku dan Ci Linda berangkat duluan.

Malam itu kami check-in di salah satu hotel di daerah Thamrin. Aku dan Ci Linda lebih dulu melanjutkan permainan. Satu jam kemudian Tante Wiwin baru datang melengkapi kenikmatan kami. Dan yang bikin aku surprise, malam itu Tante Wiwin mengajak teman seprofesinya yang umurnya kira-kira lebih muda 3 atau 5 tahun, namanya Tante Ida. Malam itu aku betul-betul puas bersenang-senang dengan mereka bertiga. Kami melepas birahi sampai jam 3 pagi. Kemudian kami tidur sampai jam 9 pagi, lantas kembali menuntaskan permainan. Aku betul-betul tidak menyangka kalau gara-gara salah orang bisa sampai seperti ini.

Sampai kini aku nggak pernah ketemu dengan Fanny, teman chat-ku. Kami pun nggak pernah SMS-an lagi. Entah kemana perginya Fanny. Tapi yang jelas semenjak kejadian itu, aku terus keep contact dengan Ci Linda, Tante Wiwin dan Tante Ida. Sekarang Ci Linda sudah menikah dan tinggal di Australia dengan suaminya. Tapi kami masih sering kontak. Sedangkan dengan Tante Wiwin dan Tante Ida, aku masih terus berhubungan untuk sesekali berbagi kenikmatan. Tadinya mereka ingin memeliharaku sebagai gigolo, namun aku menolak karena aku melakukannya bukan untuk uang dan materi, tapi untuk kesenangan saja. Kadang kalau Ci Linda sedang di Indonesia, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi butik Tante Wiwin bersama-sama untuk melepas birahi. Tempat Tante Wiwin sering dijadikan tempat affair kami agar suaminya tidak curiga.

Oke, segitu dulu pengalamanku. Salam manis buat Ci Linda yang lagi hamil 3 bulan. Mudah-mudahan kesampean dapat anak laki-laki. Buat Tante Wiwin dan Tante Ida, thank’s buat kehangatan yang diberikan. Juga buat Fanny, my mysterious friend yang udah membuka jalan hehehe… Lain kali kalau ada pengalaman yang berkesan, aku akan ceritakan lagi di situs ini.

TAMAT

Cerita Antara Kita 3:12 pm

Memang sudah tidak aneh kalau ada dua orang anak kembar yang menyukai selera yang sama dalam segala hal, termasuk soal memilih pacar. Tapi ada sedikit pengalamanku yang benar-benar hebat dengan dua anak kembar di sekolahku. Bukan berpacaran dengan salah satu dari mereka atau keduanya sekaligus, tapi meniduri mereka berdua sekaligus, itu baru luar biasa.

Hari itu seperti biasanya, aku tidak langsung pulang dari sekolah, aku dan beberapa orang temanku duduk-duduk sambil sedikit ngobrol, yah tentu saja tidak jauh dari soal cewek dan seks.Alf salah satu temanku yang kebetulan duduk di sebelahku bercerita tentang pengalamannya dengan satu dari sepasang kakak beradik yang kembar. Kalau saja mereka tidak ketahuan penjaga sekolah, pasti Alf sudah berhasil melakukan niatnya. Alf sedikit kecewa dengan pengalamannya itu, tapi dia sedikit senang karena dia berhasil meremas dada kanan gadis itu sambil menciumnya.

Saat itu kedua gadis kembar itu lewat, dan dengan gaya centilnya mereka menyapa kami berempat. Alf yang sedari tadi bercerita langsung berdiri hendak menghampiri mereka, tapi seketika itu juga dilihatnya penjaga sekolah yang memergoki mereka, kontan saja Alf duduk lagi. Aku sendiri tetap duduk sambil memandang kedua gadis itu menjauh dari kami berempat. Lumayan juga, memang tidak terlalu cantik, tapi cukup manis.

Dua hari kemudian, tanpa sepengetahuan ketiga temanku, kuajak salah satu dari mereka makan siang di kantin sekolah, sebut saja namanya Adriana. Aku yakin ketiga temanku tidak tahu, karena mereka berencana untuk berenang sepulang sekolah. Aku sedikit berbincang-bincang dan saat itu kakak kembar gadis itu datang, sebut saja Cinderella datang menghampiri kami berdua. Dia datang ketika aku mengajak Adriana sedikit refreshing setelah pra-EBTA yang benar-benar bikin kepala pusing.

Cinderella langsung merengek untuk ikut juga, tentu saja aku tidak menolak, kapan lagi aku bisa mengajak dua orang gadis pergi bersama, apalagi mereka kembar. Akhirnya kami bertiga sepakatuntuk pergi ke Pangandaran, kebetulan sekolah libur 3 hari setelah pra-EBTA.

Singkat cerita, kami sampai ke Pangandaran, dan kami menyewa 2 kamar, satu untukku dan satu lagi untuk mereka berdua. Tentu saja kami sedikit berjalan-jalan dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Aku sebenarnya tidak ingin tidur, karena itu aku tetap terbangun walaupun aku berbaring di tempat tidurku.

Pukul 11 tepat, pintu kamarku diketuk. Ketika kubuka, Adriana dengan tenang masuk ke kamarku. Aku memang memintanya untuk datang ke kamarku kalau kakak kembarnya sudah tidur. Kamiberbincang sebentar, dan akhirnya perbincangan itu kuakhiri dengan sebuah ciuman. Mulanya hanya ciuman selamat malam, tapi begitu tahu kalau dia membalasnya, aku tidak segera melepaskan bibirnya, dan terus kulumat bibir seksinya itu.

Tanganku yang semula diam, mulai nakal dan memanjat naik ke dadanya, tetapi ketika kuremas dadanya, Adriana meronta, “Aku sudah milik orang lain, apalagi dia Alf temanmu.”
Aku tersenyum, “Aku tidak akan mengambilmu darinya, hanya untuk malam ini saja.”
Adriana tersenyum nakal, diraihnya tanganku, “Oke, siapa takut..!”
Aku tersenyum, lalu melanjutkan permainanku. Kupagut lagi bibirnya, sedang tanganku tidak lagi meremas dadanya, kedua tanganku melingkar di tubuhnya, dan kulepas bra di balik baju tidurnya.

Setelah selesai melaksanakan tugasnya, barulah kedua tanganku bermain-main di depan, meremas, mengelus dan sesekali memelintir puting dadanya yang sudah mengeras. Adriana tidak menolak ketika kulepas kaosnya. Kulihat dengan jelas kedua gunung yang menggoda itu, tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat mataku terbelalak. Tanpa menunggu aba-aba lagi, langsung kusambar keduanya, kuremas sedikit kuat.

Adriana mendesah dalam, dipegangnya tanganku seolah memohon untuk lebih lembut sedikit. Aku tahu hal itu, karenanya kulepaskan dada kirinya, tapi sebagai gantinya, hap.., buah dadanya seolah kumakan dengan liar. Kuhisap sedikit sambil kumainkan lidahku memutar putingnya yang sudah berdiri tegak di puncak kedua bukit itu.

Belum selesai kubermain, aku tersentak kaget. Kulihat Cinderella berdiri di ambang pintu yang lupa kukunci. Dia tersenyum ke arahku, lalu mendekat. Aku benar-benar menyesal karena lupa mengunci pintu, tapi penyesalanku berubah menjadi senyum kemenangan ketika Cinderella membuka pakaian tidurnya.
“Jangan hanya berani melawan adikku, bagaimana kalau kau buktikan kejantananmu pada kami berdua sekaligus..?”

Aku tidak banyak berbicara lagi, kusambar tubuh Cinderella yang sudah setengah telanjang itu, kutarik bra-nya hingga putus, lalu kubanting dia ke tempat tidurku. Seperempat detik kemudian lidahku sudah bermain di puting dadanya yang sedikit lebih besar dari Adriana. Cinderella mendesah dalam sambil menikmati permainanku, kulihat Adriana duduk memandang kami berdua, kutarik tubuhnya, dan kubaringkan di sampingku. Cinderella di sebelah kananku, dan Adriana di sebelah kiriku, sedang aku telungkup di tengah sambil meremas dada mereka. Selagi tanganku bekerja meremas dan mengelus, mulutku bergantian menghisap dan menjilati dada mereka yang lainnya secara bergantian.

Setelah kurasa cukup, aku berdiri, dan membuka seluruh pakaianku, begitu pula Adriana dan Cinderella. Kubuka agak lebar kaki Adriana, dan lidahku langsung bermain di sekitar kemaluannya. Adriana bergoyang-goyang keenakan. Kutarik kepala Cinderella ke selangkangan kakiku dan tanpa disuruh lagi, langsung dikulumnya kejantananku. Hebat juga permainannya, sesekali dihisapnya kejantananku, lalu dijilatinya kepalanya yang berwarna ungu, itu membuatku sedikit geli dan semakin liar menjilat kemaluan Adriana.

Kulihat juga klit-nya mulai terlihat walau tersembunyi, kugosok dengan telunjukku, dan Adriana mendesah sambil menegangkan otot pinggulnya. Aku tahu dia menyukainya, karena itu kugosok lagi, dan sesekali kujilat benda itu. Tidak lama kemudian Adriana menyerah, tubuhnya menggoncang hebat, dan dia sedikit memekik menahan nikmatnya puncak birahi. Kemaluannya semakin basah, dan terlihat lendir mengalir perlahan dari sela surga dunia itu.

Kudorong kepala Cinderella, dan kuregangkan lebih lebar paha Adriana. Cinderella tahu kalau aku akan menusuk kemaluan Adriana, karena itu dia duduk di belakang Adriana, sepertinya hendak membantu Adriana menahan goncangan-goncangan yang sebentar lagi akan terjadi. Kugosokkan sebentar kepala kejantananku yang sudah basah oleh liur Cinderella. Dan kutekan sedikit di kemaluan Adriana. Tangannya meremas sprei dan mulutnya terbuka sedang matanya terpejam.

Setelah masuk kepala kejantananku, kugerakkan naik turun sedikit, dan dengan sedikit hentakan, seluruh kejantananku masuk semua ke dalam kemaluannya. Adriana menjerit tertahan dan tubuhnya terdorong ke belakang. Cinderella berusaha menahannya dan kembali menegakkan tubuh Adriana yang seolah tergeletak tidak bertenaga.

Setelah itu kugerakkan pinggulku maju mundur, dan sesuai dengan irama maju mundur itu, Adriana mendesah-desah. Cinderella sendiri memeluk adiknya sambil mengelus lengannya, seolah menghibur kalau ini akan segera berakhir. Semakin lama kocokanku semakin cepat, dan desahan Adriana sudah berganti menjadi jeritan-jeritan tertahan yang membuat nafsuku semakin membara. Beberapa menit kemudian kurasakan kejantananku panas, aku akan mencapai puncak, karena itu kupercepat gerakanku, dan ketika hampir keluar, kucabut kejantananku dari kemaluan Adriana.

Aku teringat artikel yang kubaca di situs ini, yang berjudul “Pria Multi Orgasme” (kalau tidak salah). Karena itu segera kutekan bagian bawah buah kemaluanku, tempat antara dubur dan batang kemaluanku (lengkapnya, baca saja artikel itu). Aku tetap merasa kenikmatan orgasme, dan kulihat tidak ada mani yang keluar dari kejantananku, hanya saja ketika kenikmatan itu berakhir, kulepas jariku dan kulihat cairan bening keluar sedikit dari kejantananku. Adriana sendiri bergoncang-goncang menikmati puncak keduanya. Cinderella sedikit kesulitan menahan badan adiknya yang bergoncang-goncang.

Tetapi akhirnya itu berakhir. Adriana segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh keringat. Aku tidak menunggu lagi, kejantananku yang sudah sangat basah masih tetaptegang dan siap digunakan, karena itu aku langsung menyambar tubuh Cinderella yang sepertinya sudah tidak sabar juga.

Aku tidak perlu membasahi kemaluannya, karena sudah sangat basah. Rupanya dia menikmati dan menonton pertunjukkanku dengan adiknya. Kali ini aku tidak bermain dari depan, kubalikkan tubuhCinderella dan kutusuk dia dari belakang. Cinderella berusaha menahan goncangan ke depan dengankedua tangannya, tapi sepertinya dia tidak kuat, berkali-kali aku harus menarik pinggulnya yang semakin terseret maju akibat kocokanku.

Di luar dugaanku, ternyata dengan teknik pria multi orgasme itu aku menjadi lebih lemah, dan belum aku puas mendengar jeritan dan desahan Cinderella, kejantananku sudah panas dan hampir keluar. Aku segera melepaskan kejantananku dari kemaluan Cinderella, dan sambil memberi sedikit waktu pada kejantananku, kukunci pintu yang lupa kukunci. Tidak lama, tapi cukup untuk memberi waktu pada kejantananku untuk beristirahat.

Setelah itu kulanjutkan permainanku, kukocok kemaluan Cinderella dari belakang, dan beberapa saat kemudian kucabut lagi, kali ini kuarahkan ke lubang duburnya. Kutekan, tapi hanya sedikit saja yang masuk. Kutekan lagi lebih keras, dan terus menerus, tapi tidak juga masuk semuanya. Aku tidak peduli, kukocok walaupun sulit. Akhirnya aku menyerah, kepala kejantananku terasa sakit karena lubang duburnya jauh lebih sempit dari kemaluannya.

Kubalikkan tubuh Cinderella yang sudah basah karena keringat, dan kukocok kemaluannya dari depan. Cinderella menjerit dan berdesah sebelum akhirnya mencapai puncak. Aku sendiri sudahhampir mencapai puncak, karena itu kupercepat gerakanku, semakin cepat dan semakin liar. Ketika hampir keluar, kucabut dari kemaluannya, dan kuselipkan di antara dada Cinderella.

Kugosok-gosokkan seolah sedang mengocok kemaluannya, dan tidak lama kemudian aku mendesah panjang dibarengi dengan cairan putih kental yang memancar keluar ke wajah Cinderella, dan jugaleher serta di sela-sela dadanya. Setelah berbaring sebentar, aku menggendong Cinderella ke kamar mandi, dan membersihkan diri di sana, bertiga dengan Adriana.

Kami sempat bermain sebentar di kamar mandi, tapi tidak sampai puncak, karena aku sudah terlalu lelah untuk bermain dengan mereka. Kami tidur bertiga dengan tubuh masih telanjang, dan paginya kami pulang ke Bandung dengan sejuta kenikmatan. Malam itu benar-benar menyenangkan dan tidak akan kulupakan seumur hidupku.

Melalui cerita ini juga aku ingin meminta maaf pada Alf, “Sorry, kutiduri pacarmu. Tapi dia memang benar-benar luar biasa. Aku sungguh-sungguh menyesal tidak mengajakmu ikut, tapi mungkin lain kali kita bisa bermain berempat dengan mereka berdua. Sekali lagi maafin aku ya Alf, aku janji lain kali nggak bakalan niduri dia lagi tanpa ijin eloe..”

TAMAT

Cerita Antara Kita 3:06 pm

Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman pertamaku saat kehilangan keperjakaanku ketika baru selesai semester 1 kuliah. Awalnya begini, aku dan 3 orang sahabatku Steven, Erwin dan Wan Fu sudah akrab sejak kelas 1 SMA. Ketika kuliah hanya tinggal aku & Steven yang sekampus, Erwin dan Wan Fu telah berpisah, tapi kami masih sering kumpul bareng dan main bersama.

Pada hari itu kuliah semester awal telah kami selesaikan. Kami berencana untuk main ke villa milik Steven di Puncak. Rencana ini kami buat cukup mendadak, 2 hari sebelum keberangkatan, sehingga aku & Steven hanya sempat menghubungi Erwin, telepon di rumah Wan Fu sepertinya sedang rusak karena tidak nyambung-nyambung. Berhubung rumahnya jauh maka besoknya, sehari sebelum berangkat kami bertiga dengan mobilnya Steven pergi ke rumahnya memberitahu sekalian membeli keperluan besok.

Sesampai di sana, ternyata di rumah hanya ada kakaknya, Mei Fang yang membukakan pintu untuk kami. Ci Mei Fang orangnya sangat cantik, rambutnya sebahu lebih, wajah oval, kulit putih, tubuh jangkung seksi hampir 170 cm dan payudaranya itu lho, benar-benar aduhai, mungkin 35B. Mungkin pembaca tahu aktris top Jepang, Noriko Sakai, hampir mirip dialah Ci Mei Fang. Waktu itu umurnya 24 tahun, kuliah S2. Ketika menyambut kami, dia memakai kaos hitam tanpa lengan dan celana pendek, sehingga makin terlihat keindahan tubuhnya.

Di rumah itu hanya dia sendirian, Wan Fu dan orang tuanya sedang mengikuti undangan di luar kota, besok sore baru pulang.
“Kok Cici nggak ikut, kan boring di rumah sedirian, Ci?” tanya Erwin.
“Ahh, Cici kurang suka ikut pesta-pesta kayak gituan, terlalu banyak basa-basi, lagian banyak godaan makanan enak, Cici takut gendut nih.” jawabnya ramah.
“Ngapain aja Ci sendirian gini, nggak takut malamnya, perlu kita temenin nggak?” kataku bercanda.
Tapi malah dia jawab, “Bener nih mau temenin Cici, ya udah kalo gitu masuk aja, temenin Cici ngobrol, sepi nih.”
Kamipun agak heran mendengar jawaban itu, setelah saling pandang sejenak kami akhirnya setuju. Steven memarkir mobilnya ke pekarangan.

Tiba di ruang tamu, Ci Mei Fang menyuguhkan minum & snack untuk kami. Dia juga menawarkan rokok, tapi hanya Steven yang menerima, yang lain tidak merokok. Ci Mei Fang menyulut rokoknya dan mulai membuka obrolan. Ternyata orangnya ramah dan enak diajak ngomong sampai obrolan-obrolan yang agak nyerempet. Sambil nonton kami ngobrol dan bercanda panjang lebar.
Di tengah obrolan Erwin bertanya, “Pernah nggak, Cici nonton film BF?”
Dijawabnya, “Pernah, tapi jarang.. Oh iya, Cici baru ingat, 2 hari lalu papa pinjam VCD kayak gitu, mau liat nggak kalian, Cici tau kok tempat simpannya.”
Aku berpikir, “Gile nih cewek, nggak malu-malu banget ngomong gitu sama cowok!”
Ditawarin begitu ya kami iya-iya aja, siapa sih yang nggak mau. VCD dinyalakan, adegan-adegan di film membuat ruang tamu yang luas itu hening karena semua terpaku pada TV.

Kira-kira 1 jam kurang film itu berakhir.
“Rame ya Ci filmnya, nontonnya serius amat tadi”, kata Steven.
Ci Mei Fang berkata, “Kalian bertiga pernah nggak melakukan kayak tadi?”
Kami semua menggeleng, “Belum Ci, emang Cici pernah?” tanyaku.
Bukannya menjawab, Ci Mei Fang malah memanggilku duduk di sebelah kirinya, menyuruh Steven yang sejak tadi di sebelah kanannya agar lebih mendekat, dan Erwin disuruh duduk jongkok di depannya.
Setelah kami mengelilinginya dia berkata, “Mau nggak kalian Cici ajarin supaya jadi pria dewasa?”
“Hah, maksud Cici apa?” tanya Erwin pura-pura tidak mengerti.
“Begini maksud Cici”, katanya sambil meraih tanganku & Steven lalu ditumpangkan ke kedua payudaranya. Aku kaget sekali waktu itu.
“Ahh, jangan gitu Ci, malu, Cici kan udah punya tunangan”, kataku pelan.
“Nggak apa-apa kok ini cuma pelajaran bukan cinta, tunangan Cici orangnya liberal, dia juga pernah main dengan perempuan lain, yang penting kita berdua saling mengerti, seks bukan berarti cinta kan”, jawabnya.
Dia juga meraih tangan Erwin dan meyuruhnya meraba-raba kemaluannya.

Ternyata Mei Fang tidak memakai BH karena waktu kuraba buah dadanya, aku dapat merasakan puting susunya yang menonjol. Sekarang Erwin menarik lepas celana pendek Mei Fang dan aku membuka kaosnya, jadi sekarang Mei Fang hanya dibalut CD putihnya yang tipis, terlihat jelas bulu-bulu hitamnya yang tidak terlalu lebat. Payudaranya yang besar dan padat serta putingnya yang kecoklatan itu membuat nafsuku bangkit, tanpa diperintah lagi kukulum puting kirinya, sementara puting kanannya dikulum Steven, Erwin membuka lebar paha Mei Fang dan mengelus-elus belahan di tengahnya yang masih tertutup CD itu.

Lidahku mulai naik ke lehernya, pipinya dan akhirnya aku beradu lidah dengannya, permainan lidahnya benar-benar hebat, sampai sesak nafasku dibuatnya, dia juga mulai horny, kurasakan dari nafasnya yang kacau. Sementara tangannya membuka reitsleting celanaku lalu masuk ke celana dalamku, batang kemaluanku yang sudah tegang sejak tadi seakan-akan mau meledak saja begitu tangannya mulai mengocoknya. Steven yang duduk di sebelah kanannya masih mengisap payudaranya dan tangannya masuk ke dalam CD Mei Fang sehingga sekarang kemaluan Mei Fang sedang dimainkan oleh Erwin dan Steven, CD-nya juga sudah mulai basah. “Ahhh.. kalian hebat sekali, padahal kalian bilang belum pernah melakukannya.. uhhh..!”

Sekarang dia mengeluarkan batang kejantananku dan menjilatinya, Steven melepas CD Mei Fang sehingga sekarang dia sudah polos sama sekali. “Kalian juga buka baju dong, masa cuma Cici sendiri yang bugil kan nggak enak.” Kami pun melepas baju, mula-mula sih memang agak risih karena baru pertama kali bugil di depan cewek, tapi lama-lama biasa saja. Setelah menyingkirkan meja ruang tamu, Mei Fang berbaring telentang di permadani di ruang itu. Erwin yang belum menikmati payudaranya mengulum benda kenyal itu sedangkan Mei Fang sendiri kini memainkan biji peler Steven dengan mulutnya.

Kini giliranku menjilati kemaluan Mei Fang, cairan yang sudah membasahi liang kewanitaannya itu kujilati sampai bersih, lalu lidahku mulai menjelajahi daerah itu, kujilat klistorisnya, dan kulihat juga daging kecil di tengahnya, kumain-mainkan benda itu dengan jariku. Ulahku membuatnya berkelejotan, “Ohhh, jangan gitu ah, Her, geli nih.. uhhh..!” Tanpa mempedulikannya aku terus melakukannya. “Aduh… Her, jahat kamu ah, ohhh.. ohhh.. geli nih.. gulppp.. emhh!” Erangannya mendadak terhenti karena Steven memasukkan kemaluannya ke mulut Mei Fang, sehingga hanya terdengar suara, “Emmhm.. emhh”, saja.

Sebelum memuntahkan isi kemaluannya, Steven melepaskan kuluman Mei Fang, “Jangan Ci, jangan dikeluarin sekarang nanti aja biar lebih seru”, kata Steven. Lalu Mei Fang berkata, “Ahh.. Cici udah nggak tahan lagi, cepat tusuk Cici, jangan cuma jilat-jilat aja dong..”. Aku yang berada di dekat liang senggamanya langsung mengambil inisiatif, kunaikkan kedua kaki Mei Fang ke bahuku seperti gaya di film tadi, perlahan-lahan lalu kumasukkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya. Dengan lancar kuterobos lubang itu karena Mei Fang sudah tidak perawan dan juga tidak terlalu ketat lagi. “Cici ini pasti orangnya termasuk gila seks nih, masa masih 24 tahun udah nggak sempit lagi”, kataku dalam hati.

Selama beberapa waktu kusetubuhi dia sampai akhirnya aku merasa ada cairan hangat keluar dari sana. Tubuh Mei Fang menegang menekuk ke atas, tangannya meremas rambut Erwin yang sedang menjilati payudaranya, pertanda dia sudah orgasme. Dia melepas kulumannya pada batang kemaluan Steven disertai erangan panjang “Ooohh.. hebat kamu Her, hebat.. uhhh!”

Aku benar-benar lelah setelah menyemburkan maniku di liang kewanitaannya. Aku beristirahat sebentar dan membiarkan kedua temanku tetap bermain dengan Mei Fang. Kali ini Steven melakukan doggy style, batang kemaluannya dimasukkan ke pantat Mei Fang, sedangkan Erwin yang berada di bawahnya memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Mei Fang. Mei Fang kini sedang ditusuk 2 senjata, badannya bergerak maju mundur mengikuti gerakan kedua temanku itu. “Ahhh.. yaa.. terus lebih dalam lagi.. uhhh.. uhhh.. kalian pintar baru pertama main sudah sehebat ini.. ahhh!” Seluruh ruang tamu itu dipenuhi suara erangan Ci Mei Fang.

Sesaat kemudian Steven melepas batang kemaluannya dan berpindah ke depan wajah Mei Fang. “Ci cepet buka mulut nih, gua mau keluar nih”, dan, “Croot…” sperma Steven membasahi mulut mungil Mei Fang. Dia menelan semuanya dan membersihkan yang tertinggal di bibirnya, belum itu saja, dengan cepat diraihnya batang kemaluan Steven yang masih berlepotan itu lalu dikulum dan dijilati sampai bersih kembali. “Aduh Cici ganas banget sih, emangnya rasanya enak gitu Ci, sampe nafsu gitu?” tanya Steven. Tanpa menjawab Mei Fang terus mengulum batang kemaluan itu dengan rakusnya seperti binatang kelaparan. Sementara itu Erwin yang berada di bawahnya pun sudah ejakulasi dan dia membuang maninya di liang kewanitaan Mei Fang. Setelah itu tubuh Mei Fang terkulai lemas di atas Erwin dengan nafas terengah-engah, rupanya dia baru mengalami orgasme hebat.

Aku yang sudah memulihkan tenaga mengatur posisi Mei Fang dan menyelipkan bantal kursi agar Mei Fang menyandarkan kepalanya. “Her, kamu mau bikin posisi apa lagi sekarang?” tanyanya. Lantas aku berlutut di tengah badannya dan kujepit batang kemaluanku di antara payudara padat itu. Aku mulai mengocok di daerah itu dan Steven sedang menikmati liang kewanitaannya, dia merentangkan kedua paha mulus itu dan menancapkan batang kemaluannya dalam-dalam sementara itu juga Mei Fang sedang mengulum batang kemaluan Erwin di sampingnya.

Dalam waktu kira-kira 15 menit akhirnya kusiram wajah Mei Fang dengan maniku, ditambah lagi Erwin pun turut menyiramnya di mulut Mei Fang, tidak lama setelah itu Steven ejakulasi di payudara Mei Fang. Saat itu Mei Fang benar-benar basah kuyup oleh peluh dan sperma, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa dari 3 laki-laki sekaligus. Mei Fang menyeka sperma yang membasahi dada dan wajahnya dengan jarinya lalu dijilatinya dengan rakus. Aku berkata, “Ihhh, Cici kok seneng banget sih minum sperma, rasanya enak banget ya Ci?” tanyaku mesra. “Yaaa.. rasanya kayak kamu minum cairan cinta Cici aja kayak gitulah kira-kira?” jawabnya.

Tubuhku benar-benar lelah setelah bercinta dengannya, mungkin karena waktu itu masih amatiran. Jam 9 malam setelah istirahat dan mandi di sana baru kami pamitan pulang, sebelumnya Ci Mei Fang mentraktir kami di sebuah kafe dekat daerah itu. Dia menyuruh merahasiakan hal ini pada siapapun termasuk Wan Fu, dia juga bercerita pada kami bahwa waktu SMA dia adalah anak alim & prestasinya menonjol, namun sejak putus dengan pacar pertamanya 2 tahun yang lalu dia sering bermain gila dengan berbagai laki-laki teman kuliahnya.

Hari itu adalah saat pertama dan terakhirku bercinta dengannya karena hari-hari selanjutnya ada Wan Fu, sehingga dia bersikap cuek bebek terhadap kami. Dan 1 tahun kemudian, Mei Fang pergi ke Canada dilamar tunangannya yang sudah bekerja tetap dan menjadi warga negara sana. Aku selalu mengingatnya karena bagiku dia adalah pengalaman pertamaku dan guru seks-ku.

TAMAT

Cerita Antara Kita 3:02 pm

Sinopsis: Sesampainya di Kotabumi, Andi berkenalan dengan beberapa orang wanita, mulai dari teman ngebrik, siswi SLTP yang jual mahal, sampai penjual Indomie. Namun cintanya kepada Irda, membuatnya selalu kembali ke Ciganjur. Buku diary ini walau tidak penuh intrik seperti di telenovela, tapi cukup enak dibaca.

Awal Februari 1994

Aku menghampiri Lala dan menarik tubuhnya, kucium bibirnya, kulumat. Dia terperanjat dan hampir saja menampar wajahku, tapi niatannya itu urung dan dia hanya tersenyum simpul. Dengan raut wajah yang penuh tanya dia menatapku, “Kenapa?”
“Aku menciummu karena aku mau menciummu, kau keberatan?”
“Tidak!” raut wajah yang merahnya memudar mengatakan itu. “Aku hanya kaget dan senang..” meluncur itu dari bibirnya yang tebal sensual.
“Adi, kupikir kau mau menciumku bukan hanya karena kamu mau menciumku, tapi adakah hal lain dibalik semua itu?”
“Ada, aku ingin kau jadi pacarku.”
Memerah lagi wajahnya dan ia kelihatan senang sekali.

Sejak saat itu hampir setiap malam minggu aku mendatanginya untuk bercumbu dan bercerita tentang apa saja, pekerjaan, percintaan, atau seks dan setiap kalinya kami bercumbu kami selalu melakukan hal-hal yang aku senangi, merayunya, merabanya, memangkunya, bahkan memasukkan tangannya ke dalam celanaku.

Aku senang ketika aku mencium telinganya yang bersih, meremas payudaranya yang besar dan kencang, merasakan kehangatan tubuhnya yang tak begitu tinggi namun mempunyai anggota badan yang mampu membuat semua pria melirikkan mata dan berdecak kagum. Aku suka mendengar lirihannya saat kutelusuri kemaluannya yang lembab dan bulu-bulu pemanisnya yang lembut dan memberikan imajinasi yang membuatku payah.

Dia suka sekali ketika aku memangkunya, dan dia menaikkan bajunya yang kemudian tersembul payudara yang putih jernih dengan puting yang masih merah senja, dan aku mengulumnya, menyedotnya dalam-dalam, dan dia mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun sehingga antara penis dan kemaluannya yang masih tertutup celana terjadi gesekan yang cukup membuatku bertambah semangat menyedot puting susunya.

Akhir Agustus 1994

Ayah mengajakku pergi camping ke Cikole - Lembang sore itu. Aku mau saja, walaupun sore itu aku baru saja kembali dari pekerjaanku. Jelek-jelek begini aku bekerja pada sebuah perusahaan yang cukup besar dan gajiku mencukupi kebutuhanku selama satu bulan. Aku pergi ke tempat camping bersama ayah dan seorang sahabat sejatiku. Di tempat camping aku berjumpa dengan dua orang gadis yang masih belia, dan kedengarannya dia masih duduk di bangku SMEA kelas dua. Aku dan sahabatku berkenalan dengan mereka, singkat kata kami mulai bercengkrama satu sama lain.

Pertemuan yang singkat. Memang aku baru mengenalnya beberapa jam yang lalu, tapi dari semua yang diceritakannya, tingkah lakunya, dan tutur sapanya padaku seolah dia memberikan apa yang sangat kubutuhkan, yaitu cinta dan nafsu.

Malam itu udara Cikole cukup dingin, membuat aku dan dia berpelukan untuk menghangatkan diri masing-masing, tapi rupanya “setan” berkata lain. Lama-lama aku menjadi tergoda untuk menciumnya, meraba bagian yang sensitive, dan mulai dengan sentuhan-sentuhan kecil di daerah yang katanya belum pernah dijamah sebelumnya oleh orang lain. Aku dan dia terlena dalam pelukan, sampai-sampai kami berpelukan dalam keadaan telentang, aku di atas, dan dia di bawah, oh hangatnya.

“Irda…” begitulah namanya, “Keberatan kalau aku mencintaimu?” kata-kata itu meluncur saja dari mulutku tanpa kusadari sebelumnya.
Dia tidak menjawab, sepertinya dia perlu cukup waktu untuk memikirkan hal tersebut. Tak apalah, toh umpan sudah kulempar, tinggal aku menunggu apakah dia mau makan umpanku.

Awal September 1994

Kejadian di Cikole itu berbuntut panjang yang akhirnya membawaku selalu ingin bertemu dengan Amry. Lalu bagaimana dengan Lala? Ah, aku hampir lupa dengan pacarku yang satu itu. Aku tidak akan melupakan semua yang telah terjadi dengannya, tapi kejadian di tempat kerjanya cukup membuatku kecewa. Sore itu aku mampir ke tempat kerja Lala, niatanku menjemputnya sambil jalan-jalan sore, tapi ketika aku masuk ke tempat kerjanya, aku melihat dia sedang mengelus-elus pipi seorang pria teman kerjanya. Aku sendiri heran Kenapa aku tidak marah! Aku malah mencuekkannya. Kusapa dia dan dia terbelalak. Ingin sekali dia menjelaskan perbuatannya, tapi sayangnya perbuatannya itu cukup membuat alasan bagiku untuk menyudahi hubungan kami.

Kali ini setiap malam minggu aku tidak lagi bertemu dengan Lala tapi aku punya gebetan baru, Irda yang bekulit kuning langsat, berambut panjang dan bertubuh ideal, oke deh. Tidak seperti hubunganku dengan Lala, dia gadis yang agak pendiam dan libidonya jauh di bawah Lala yang selalu bergairah. Hubungan intim kami hanya sebatas ciuman saja, tidak lebih, dan itu kurang kusukai. Tapi aku menghormatinya karena dia mungkin masih belia dan dia masih belajar dalam hal ini, dia masih anak sekolah.

Irda tak dapat menahan isakannya ketika aku memberitahu tentang mutasi pekerjaanku dari Ciganjur ke Kotabumi yang jaraknya lumayan agak jauh. Tapi “live must go on”. Bagaimanapun aku harus tetap menjalankan semuanya dan itu tidak merubah yang sudah terjadi. Kucium bibirnya untuk meredakan isakannya. Aku berupaya membuat hatinya senang, tapi dia berkata lain. Dibalasnya ciumanku, dilumat, dikulum, dan memeluk tubuhku erat-erat seolah tak ingin berpisah jauh.

Kami saling berpelukan lama sekali, sampai-sampai kami bergulingan di lantai. Hasrat kami pun mulai menggebu. Irda yang menurutku pendiam ternyata pada waktu itu libidonya meningkat. Dia membuka pakaianku dan aku hanya memakai celana dalamku saja. Aku tak mengerti apa kemauannya, tapi kuikuti saja sampai dimana dia akan melakukannya. Ternyata dia membuka pakaiannya juga dan hampir telanjang bulat. Dia mengulum meremas putting susuku, dan menjilatinya. Tak kuasa lagi aku pun langsung merangkulnya, menciumnya dan membuka pakaian dalamnya sehingga dia dalam keadaan tubuh tanpa selembar benang pun. Dia sepertinya sudah rela memberikan tubuh dan jiwanya kepadaku.

Kuremas susunya, kupuntir putingnya dan kusedot-sedot dengan mulutku.
“Ahh Adi, teruskan sayang jangan berhenti, aku sayang padamu. oh.” Irda merintih kenikmatan dan itu membuatku semakin bergairah.
Tangannya mulai menggerayangi alat vitalku, dan tanganku pun mulai meraba bagian yang berjumput kecil di bagian tengah di antara kedua pahanya. Terasa agak lembab, namun memberikan kesan yang membuat otakku semakin panas. Kemudian.. Semuanya terhenti tatkala berkumandang adzan maghrib, dan kami pun segera mengucap nama Tuhan kami, dan besyukur semuanya tidak terjadi.

Di tempat kerjaku yang baru.

Semula aku ragu apakah aku dapat berkembang di tempat kerjaku yang baru, sebab rasa pesimis dalam hati membuat sejuta pertanyaan. Tapi semua itu dapat kulalui, aku membuat suasana yang nyaman untuk diriku sendiri di sana. Tak banyak yang dapat kuceritakan, hanya pekerjaan yang terkadang agak membosankan, kadang membuat senang dan terkadang menantang.

Kantor baruku itu terletak pada ujung suatu perumahan yang agak besar dengan dibatasi dan dikelilingi oleh perkampungan, kebun dan sawah. Agak ramai memang, dan aku mulai menikmati keramaian di sekelilingku. Aku tidak mempunyai teman sebaya, yang kudapatkan hanya orang-orang yang usianya rata-rata jauh di atasku. Hal itulah yang membuatku terkadang bosan akan suasana ini, pikirku harus mendapatkan teman yang sebaya yang dapat diajak berbicara, diskusi dan lain-lain.

Sampai pada suatu hari, aku mengisi kebosananku dengan “berbicara melalui pesawat radio 2 meteran” atau lebih populernya ngebrik. Singkat kata aku kenalan dengan seorang gadis di udara, dan aku mengajaknya “kopi darat”.

“Lusi nama aslimu?” aku bertanya.
“Ya, Lusia Anggiwening lengkapnya,” dia menjawab, “Nama aslimu siapa?” dia balik bertanya.
“Adi, Adi Layung Gilar, kau boleh memanggilku Adi atau Gilar, atau apa sajalah, tapi jangan Layung, aku tidak suka dipanggil dengan nama itu.”
“Kenapa?”
“Kedengarannya seperti jaman Majapahit, kataku.”
Dia tersenyum dan menyibakkan rambut ikal sebahunya ke belakang, dan terlihat barisan gigi yang putih, bibir yang sensual. Pendeknya raut wajah yang agak melankolis. Aku menatapnya dalam-dalam dan dia agak tersipu.

“Mau tambahkan kopinya lagi, atau kamu mau yang lain?” pertanyaannya padaku membuat tatapanku memudar.
“Kalau boleh aku minta yang lain deh.”
“Apa itu?” tanyanya.
“Besok ajak aku berkeliling kota ini. Aku ingin lebih jauh mengenal kota baruku ini. Itu juga kalau kamu tidak keberatan..” pintaku.
“Kamu mau pergi ke tempat seperti apa?” dia bertanya lagi sebelum sempat memjawab pertanyaanku tadi.
“Misalnya tempat yang ramai seperti mall, atau ke tempat yang sepi seperti pegunungan atau terserah kamu saja deh yang jadi tuan rumah..” jawabku.
“Baiklah, aku akan membawamu pergi berkeliling kota ini, asal syaratnya terserah aku, dan kamu jemput aku besok pagi, setuju?”
“Setuju.”

Aku melewati hari itu dengannya, berdua, berkeliling kota, makan, jajan, jalan kaki, tertawa, bercanda, sampai tak terasa hari sudah menjelang sore.
“Pulang yuk.” pintanya, “Sudah sore nih. Aku tidak mau terlambat pulang.”
“Oke Non, kita pulang, tapi suatu hari nanti aku ingin kita pergi jalan-jalan lagi. Kamu mau kan?”
“Mau saja, tapi kalau nanti kamu yang ajak aku, yah.”

Aku agak kecewa tentang teman baruku itu, halnya aku ingin berteman dengan seseorang yang mempunyai gender yang sama seperti aku, tapi malahan dapat seorang gadis. Aku takut aku lupa dengan pacarku, “Irda”. Sejak itu hampir setiap malam aku bercengkrama dengan Lusi melalui pesawat radio HT, dan kami membicarakan hal-hal yang kami senangi.

3 bulan berlalu…

Aku pulang ke Ciganjur 2 kali setiap bulannya, dan tak kulewatkan aku menemui pacarku Irda, dan sepertinya dia mulai terbiasa dengan keadaan ini. Rindu terlepaskan setiap dua minggu sekali kami pergunakan dengan sebaik-baiknya, bercumbu, bercinta. Tapi sejak kejadian 3 bulan lalu, kami tidak terlalu jauh melangkah dalam hubungan intim, hanya sampai pada saling memegang alat vital, mengocok penisku, menguntil klitorisnya, sampai kami orgasme dengan tidak berhubungan suami istri, dan sampai detik itu aku juga tidak berani memasukkan benda apapun ke dalam vaginanya.

“Adi, aku kangen berat” suaranya lirih berbisik di telingaku.
“Aku juga, bagaimana kabarmu minggu ini, baik saja kan?”
“Aku baik-baik saja, tapi kangen ini selalu saja menggangu konsentrasiku mengikuti pelajaran sekolah. Aku terlanjur sayang sama kamu.”
Aku hanya tertawa mendengar penjelasannya. Kupeluk dia dan kucium keningnya. Dia masih terlalu polos. Malam itu kami lewati dengan kerinduan masing-masing yang ada dalam hati dengan ngobrol, ciuman, pelukan, tapi tidak untuk yang satu itu.

“Ir, besok kita pergi yuk!” aku mulai mengalihkan pembicaraan.
“Kemana?” tanyanya.
“Beberapa temanku mengajakku pergi ke Danau, katanya sih kita harus membawa pasangan kita masing-masing, semacam kencan ganda, atau seperti itulah.”
“Berapa orang yang ikut?” tanyanya lagi.
“Kira-kira tiga sampai empat orang, aku kurang pasti tuh.”
Irda terdiam sejenak seperti menimbang-nimbang ajakanku.
“Pulangnya malam enggak?” bertanya lagi dia.
“Sampai jam tiga sore deh. Aku janji, nanti aku yang bilang sama ortumu. Gimana, mau kan?”
“Baiklah, kau jemput aku besok pagi, tapi sekarang kau bilang dulu sama mama dan papaku.”

Danau itu…

Kami pergi ke danau enam orang atau tiga pasang, yang dua pasang adalah sobatku yang membawa pacarnya masing-masing. Acara di sana tidak lain halnya seperti di tempat lain, kami berperahu, makan, bercengkrama, ngobrol, berlari-lari. Pendeknya kami semua menikmati acara hari itu.Sampai pada tengah hari, hanya aku dan Irda yang tersisa duduk pada tikar tempat kami ngobrol dan makan tadi.

“Ir, pada kemana mereka?” tanyaku.
“Engga tau tuh, tadi mereka ada di sekitar sini, tapi sekarang tidak kelihatan sama sekali.”
“Sepertinya mereka mencari tempat khusus buat berdua-duaan..” kataku.
“Iya kali.” Irda mendukung.
“Yah, jadi tinggal kita berdua yang jagain tikar.” aku bersungut.
Tapi waktu itu hanya kami berdua, duduk di tepi danau saling tidak bicara, saling berpelukan, mencium keningnya, bibirnya. Rasa sayang yang ada dalam hatiku bertambah ketika kemanjaannya kepadaku bertambah pula.

“Adi, kamu sayang padaku kan?” pertanyaan Irda seolah memecah keheningan sekitar danau.
“Yah, aku sayang padamu.”
Tepi danau yang Indah itu menjadi saksi bisu, menyaksikan rasa sayang yang kami tumpahkan masing-masing. Dalam benakku kuyakinkan bahwa aku akan menunggunya dan akan kujadikan dia “Istriku”, karena begitu sayang aku kepadanya.

Pukul dua siang, kami pulang.

Setelah aku mengantar Irda sampai depan rumahnya, Irda sempatnya membisikkan pertanyaan lagi.
“Adi kamu betul-betul menyayangi aku?”
Aku mengangguk memastikannya.

Hari-hari selanjutnya kami yakin akan cinta kami. Sampai pada suatu pagi di awal bulan April 1995.

Awal April 1995.

Aku agak kecewa dengan Lusi yang pindah dari rumah bibinya ke rumah orang tuanya. Yah, selama ini dia tinggal bersama bibinya yang rumahnya tidak terlalu jauh dari kantorku. Seharian aku mencarinya lewat radio, tapi hasilnya nihil. Sampai pada suatu pagi, ketika aku sedang mencuci motor di pelataran parkir depan kantorku. Aku memang tinggal dekat sekali dengan kantor, perusahaanku menyediakan sebuah mess bagi karyawan yang tinggalnya jauh dari tempat dimana dia tinggal sesungguhnya.

Pandanganku tertumpu pada seorang gadis yang sedang berjalan melewati depan kantor, dan dia melirikkan matanya seolah dia ingin tahu apa yang sedang kukerjakan. Wuih… matanya, wajahnya cantik nian gadis ini. Baru kali ini aku melihat gadis yang cantik, dengan kepolosan wajahnya yang lebih polos dari Irda pacarku, tapi lebih cantik. Wajahnya bulat telur, matanya besar dan Indah dengan bulu mata yang lentik, hidungnya kecil dan mancung, bibirnya tipis kecil dan seksi, rambut sebahu hitam mengkilat, kulit putih dengan potongan tubuh ideal, 165 tinggi dan 45 kg perkiraanku. Seperti bidadari.

Aku melayangkan senyuman padanya, tapi senyumanku tidak dibalasnya. Dia malah melengos dan tidak mengacuhkanku. Aku tertantang dengan kesombongannya. Serentak aku kasak kusuk mencari tahu siapa gadis itu. Pertama aku bertanya pada satpam kantorku, dia tidak tahu. Pada tetanggaku!
“Yah, anak itu keponakannya Ibu Komala tuh. Rumahnya tepat di belakang messmu..” kata tetangga yang kukenal sejak tiga bulan lalu.
“Masa sih mas? Kok aku yang hampir enam bulan tinggal di sini baru melihatnya?”
“Dia kan tidak tinggal di sini, hanya aku tahu kalau dia suka mampir ke rumah Bu Komala itu. Kenapa? Kamu tertarik sama dia? Dia memang cantik kok..” menggodaku dia.
“Ah, tidak mas. Hanya saja sepertinya dia itu sombong sekali. Masa aku tersenyum dia cuma membalas dengan lirikannya dan `ngelengos’ gitu aja, tanpa mau memandangku sebentar saja.”

Sebetulnya yang ada dalam pikiranku dan hatiku hanyalah Irda semata. Dia pujaanku, dia kekasihku yang baik, yang selama ini tidak pernah menuntut banyak dari diriku. Bahkan kalau sudah waktunya ‘apel’ dan aku tidak dapat hadir karena kepentingan keluargaku dia tidak marah. Dia mengerti keadaanku. Sesungguhnya gadis seperti ini yang kuinginkan menjadi istriku. Perempuan yang mengerti, tidak pencemburu, baik hati, berani dan jujur. Irda, hanya kamu yang memenuhi semuanya itu. Tapi lirikan gadis di pagi dua hari yang lalu itu selalu menggangu perasaanku. Kenapa yah? Dia selalu hadir dalam benakku, apa karena dia lebih cantik? Ah, segera saja kusingkirkan pikiran-pikiran yang dapat membuatku lupa pada Irda.

Bukan waktu yang sebentar untuk mengetahui namanya, sekolahnya, rumahnya. Ah, anak sekolah rupanya. Dia masih duduk di bangku SLTP kelas 3. He.. he.., tapi dari penampilannya itu dia seperti gadis yang sudah beranjak dewasa. Apakah memang umurnya sudah dewasa tapi dia tidak naik kelas karena otaknya bodoh? Ihh amit-amit dah, tapi enggaklah. Dari tingkah lakunya dia tidak menampakkan orang yang bodoh. Benar sekali memang dia masih duduk di bangku SLTP kelas 3 dan umurnya kira-kira baru 15 tahun. Amel namanya. Aku cukup senang dengan hanya mengetahui namanya saja, dan sempat terlintasi dalam benakku bagaimana caranya agar aku dapat berkenalan.

Tapi memang dia itu gadis yang angkuh. Sore itu aku melihatnya sedang bermain volley di lapangan belakang kantorku. Aku sengaja mengawasinya agak jauh dan berdiri di depan gang rumahnya. Pikiranku aku bisa mencegatnya kalau dia pulang. Benar, dia harus melewatiku kalau dia mau pulang, seraya mengawasi Amel yang berjalan ke arahku. Aku tersenyum ketika dia lewat di depan batang hidungku, tapi di luar dugaan dia sama sekali tidak menoleh malah sepertinya dia menganggapku tidak ada di situ. Dengan tatapan yang lurus ke depan dia berjalan di depanku dengan seenaknya. Awas kamu Amel.

Di rumah Irda…

Tangannya menjambak rambutku, ketika kukulum putting payudaranya, kuhisap-hisap, kupuntir dengan jariku dan sesekali kujilat.
“Adi, teruskan sayang. Aku menikmatinya.” Irda mendesah dan sesekali melenguh kenikmatan.
Tanpa satu patah kata pun aku melanjutkan aksiku menggerayangi tubuh Irda yang sudah setengah telanjang. Dengan cepat aku membuka baju sebelah atas dan mencopot bra yang sudah sejak tadi terkulai ke atas. Dan tanpa diminta dia pun membuka semua pakaianku hingga kami berdua dalam keadaan telanjang penuh.

Kami berdua berpelukan, bergulingan, berciuman, yang tanpa disadari hampir setengah jam kami melakukan itu. Entah yang keberapa kalinya aku mencium dan menjilati daging kecil dengan jumputan bulu di antara kedua paha di bawah pusarnya. Harum yang khas membuat hasratku semakin menggebu. Apalagi saat itu dia mengelinjang kegelian bercampur dengan kenikmatan yang dirasakannya. Nafsu semakin memuncak dan pada akhirnya aku yang masih dalam keadaan terkendali memutuskan untuk melakukan penetrasi vaginanya dengan penisku.

Terbersit wajah takut penuh pertanyaan pada Irda, tapi aku meyakinkannya dengan anggukanku. Dia membalas dan menganggukan kepalanya. Tak kubiarkan terlalu lama, langsung saja si kepala baja yang kerasnya sudah seperti kayu kumasukkan dalam mulut vaginanya. Irda merintih dan aku membiarkannya dan terus mendesak penisku untuk masuk dengan pasti. Irda menjerit lirih dan mendorong tubuhku. Tampak dia seperti kesakitan. Dari vaginanya nampak cairan berwarna merah muda yang encer. Kuusapkan telunjukku pada cairan itu.
“Kamu masih perawan Irda, apakah kamu tidak akan menyesalinya?”
Irda terdiam. Sejenak kami terdiam dalam suasana yang tidak mengenakkan.

“Adi, tolong ulangi sekali lagi, aku ingin mencobanya.”
“Kamu…”
“Sudahlah, ayo kita lakukan sekali lagi.”
“Baiklah.”

Suasana tadi membuat gairahku menurun dan si kepala baja kelihatan sudah tidak semangat lagi untuk melakukan peperangan, dan Irda mengerti akan keadaan itu. Lalu dia mulai membelai si kepala baja, menciuminya, mengulumnya. Keluar, masuk, keluar, masuk melalui mulutnya, dan secara otomatis kepala baja yang cukup besarnya mengeras kembali.
“Ayo Adi ‘dia’ sudah siap..!”

Tak kutunggu lagi, kumasukkan si kepala baja ke dalam mulut vagina yang sudah semenjak tadi lembab. Rupaya ketika sedang mengulum penis, Irda merasakan rangsangannya melonjak. Tak susah seperti tadi, dan karena lembab si kepala baja tidak menemui kesulitan untuk penetrasi. Dan Irda pun sepertinya tidak merasa kesakitan, malahan kulihat wajahnya yang tampak memohon untuk mempercepat masuknya si kepala baja.

Sleep…., Irda tampak melenguh. Mungkin liang vaginanya yang tadinya sepet kini kemasukan sebuah benda yang cukup besar dan memberi kenikmatan yang luar biasa. Kutekan pinggulku, kuangkat, tekan, angkat sampai beberapa kali lamanya, sampai menimbulkan suara yang indah didengar. Dan untuk sekali lagi kami melakukan senggama dengan semangat 45 dan akhirnya kami berdua puas sekali. Setelah kejadian itu hampir 2 kali dalam satu bulan, kami melakukan senggama, sesempat-sempatnya, di rumah Irda, di mobil atau di mana saja asal terlampiaskan hasrat kami berdua.

Tiga Bulan Berlalu.

Pagi cerah diiringi lagu Chrisye yang mengalun dari speaker active pada komputerku membuat suasana hati bersemangat untuk melakukan aktivitas keseharianku, sampai pada akhirnya aku merasa ada yang tak beres dengan perutku. Laparrr oy.

Beranjak menuju warung (baca=warung, tapi agak besar dan lengkap) dengan niat membeli sebungkus Indomie.
“Mbak beli Indomienya dan telur satu butir!”
Aku tidak mengira bahwa yang biasanya meladeni warung itu adalah wanita setengah baya, tapi kini warung tersebut diladeni oleh seorang gadis yang belum mandi dan cengar-cengir melihat ke arahku.
“Beli apa?” sapanya.
“E..e beli Indomie Mbak..” kataku hampir tergagap.

Meskipun belum mandi tapi garis wajahnya dan garis tubuhnya membersitkan kecantikan dan keindahan yang jarang sekali dimiliki oleh gadis lain. Aku memujanya. Entah karena sifat playboy-ku atau rasa penasaran yang selalu dan selalu menggoda setiap kali melihat gadis yang cantik. Tapi ini lain, dia lebih cantik dari gadis-gadis yang telah kukenal sebelumnya. Bukan Adi kalau tidak penasaran mendapatkan apa saja dari Gadis itu.

“Eh rasanya saya baru melihat kamu di sini..” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa kusadari sebelumnya.
“Iyah, aku sedang liburan. Aku berasal dari Bundang, kamu orang sini asli yah?” tanyanya.
“Bukan, aku asli orang Bundang juga. Di mana rumahmu di Bundang?”
“Di Perumahan Bundang Riung Permai. Kamu di mana..?”
“Aku di jalan Rawajali..” kataku.

Dari pembicaraan yang berujung sebuah perkenalan kecil, namanya Viera, akhirnya aku mendapatkan apa yang kuincar dari dia, apalagi kalau bukan nomor telepon, alamat rumah. Selang beberapa hari yang kesetiap harinya aku selalu saja membuat alasan untuk membeli, permenlah, rokok, Indomie, pokoknya alasan yang bisa bikin aku ngobrol sama dia. Aku mengajaknya nonton bioskop, dan dia mau.

Waktu itu aku menonton film yang agak panjang jalan ceritanya. Kalau tidk salah film berjudul “Brave heart” sebuah film kolosal yang penuh dengan drama. Awalnya kami hanya berbincang-bincang, tapi selanjutnya kami… hanya berciuman, (hanya) dan saat itulah aku merasa dunia ini mau pecah, ketika aku menciumnya dan dia membalas ciumanku. Bibir kami berdua benar-benar terpagut dan aku merasakan untuk pertama kalinya wanita mempunyai ciuman yang dasyat, hebat. Entah gaya apa yang dia pakai, tapi cukup membuatku kerepotan membalasnya. Wanita hebat pikirku.

Dari hal tersebut di atas, hubungan kami berkelanjutan sampai pada suatu hari kami menetapkan hari jadian kami berpacaran, tapi ada syarat yang dia ajukan, yaitu dia tidak mau terikat apapun dengan segala urusan yang berbau cemburu, ketidak bolehan dan lain-lain yang pasalnya tidak mau repot dengan aturan undang-undang pacaran. Aku oke saja sebatas aku dan dia saling percaya.Tambah satu koleksiku.

Seperti halnya anak kecil yang mempunyai mainan baru, aku hampir lupa bahwa aku tidak saja mempunyai pacar 1 tapi kini 2, dan aku harus dapat mengatur jadwal untuk mengunjungi sang pacarku itu masing-masing.

Hubunganku dengan Viera biasa saja, tak ada yang spesial, hanya saja aku bangga bahwa aku dapat bergaul dengan gadis yang cantiknya seperti… tepatnya foto model yang biasa kutemukan di majalah remaja. Apa karena dia anak seorang jendral aku tidak pernah berani melakukan apa saja yang sifatnya mengarah ke hubungan intim, sejauh itu kami hanya berciuman, berpelukan. Yah, karena kebutuhan sexualku kucurahkan semuanya ke Irda. Aku masih perlu waktu.

September 1995

Amel! Dia kan yang berjalan itu? aku bergumam sendirian. Yah pasti dia itu si Amel. Kemana saja dia selama ini, aku hampir lupa bahwa aku punya janji sama dia, janji bukan Adi kalau aku tidak dapat berkenalan dengannya.

Pucuk di cinta ulam tiba, atau hanya suatu kebetulan, pagi hari aku dapat telpon, ternyata dari Amel.
“Ini Mas Adi?” sahut suara di seberang telpon di sana.
“Iyah ini Adi, ini siapa yah, dan ada perlu apa?”
“Ini Amel, ada perlu, sedikit minta tolong boleh kan?” tanyanya dengan suara manja.
“Boleh aja tapi jangan minta duit, aku engga punya..” aku berseloroh.
“Bukan, bukan itu yang dimaksud. Amel mau minta Mas Adi nganter Amel bersama teman-teman ke tempat di mana Amel mau caving (baca=kegiatan mengarungi gua).”
“Oh bisa, kapan ya?” tanyaku.
“Besok, hari Sabtu jam 6 pagi Amel tunggu di depan Sekolah Amel. Ok!” manjanya.

Wow, yes, cihui, akhirnya kudapatkan yang kutunggu selama ini, awas yah kamu! Tapi aku bingung, darimana dia tahu nomor telepon dan namaku. Usut punya usut, ternyata selama ini dia adalah keponakan dari salah satu penghuni rumah di belakang kantorku, yang ternyata tantenya (janda=red) mempunyai hubungan khusus dengan salah satu bos-ku (bosku ada 4). Dia tahu tentang aku dari bosku itu.

Cerita mengantar Amel ke kegiatannya tidak menarik, dan rasanya kurang seru bila aku menceritakannya. Karena tidak seperti yang kuharapkan sebelumnya, dia masih cuek. Tapi yang seru, ketika aku mengantarnya pulang ke rumah tantenya itu, didapati sang tante yang kelihatannya kurang enak badan. Sang tante dengan wajah yang kuyu itu minta diantar ke dokter yang letaknya tidak berjauhan dengan rumah Amel sebenarnya.

Sambil menunggu giliran diperiksa dokter, aku diajak Amel ke rumah dia yang sebenarnya adalah rumah neneknya. Tapi selama ini, dari kecil dia diurus oleh neneknya yang kelihatan baik tapi wajahnya memancarkan sifat yang disiplin. Dari sana aku tahu banyak tentang dirinya, tapi tidak sampai pada latar belakangnya, dan itu tak ingin aku mengetahuinya, cukup sampai aku mulai kenal dan seterusnya.

Aku pulang dengan tantenya, karena Amel tidak harus menginap di rumah tantenya, maka seharusnyalah aku yang mengantar tantenya itu, dan itu beralasan karena rumah kami berdekatan.

Hari demi hari, minggu ke minggu, sampai dua bulan berlalu, Amel tidak mengetahui aku sudah punya pacar 2 orang. Dia hanya tahu bahwa setiap akhir Minggu aku harus pulang menjenguk orang tuaku. Dan selama itu kami sering bertemu, bercerita, bercengkrama, nonton, tanpa ada hal-hal negatif yang muncul dari pikiranku. Kenapa yah aku ini? Biasanya ada ikan langsung sambar, tapi kali ini lain rasanya. Mungkin karena dia anak sekolah dan aku harus menghormatinya dan tidak ingin merusak keluguan dari anak sekolah yang mulai beranjak dewasa. (Jadi agak dewasa nih).

Sampai pada akhirnya dia mengungkapkan isi hatinya kepadaku bahwa dia selama dua bulan ini kagum kepada diriku, karena aku dapat membuat dirinya bahagia, keluar dari masalah keluarganya, dan pendeknya dia mulai mencintaiku.

29 Desember 1995

Aku jadian dengannya. Amel gadis lugu dengan sifat yang sedikit egois, arogan dan cantik.

“Uhh ahh… teruskan Adi, jangan berhenti di situ.”
Lala dengan mata terpejam-pejam dan tangan yang mengapai-gapai tak karuan, sehingga sedikitnya kukunya menggores pipiku. Kumasukkan lagi si kepala bajaku ke dalam vaginanya yang sudah penuh dengan cairan kewanitaannya, sehingga menimbulkan suara yang ribut tapi indah. Yah, aku dan Lala sedang bersenggama di dalam mobil temanku. Ceritanya aku pulang ke Bundang untuk menyambangi orang tuaku, dan ketika Lala mengajakku pergi keluar lewat telepon, aku tidak menolaknya. Aku dan dia berteman dan aku sudah lupa tentang hubungan kami dulu, tapi kalau diajak keluar sekedar makan dan jajan aku tidak keberatan. Tapi yang dia minta ternyata lain, sesudah makan dan jajan dia mengajakku berhubungan intim. Tentu saja kami tidak mempunyai tempat selain dalam mobil, dan mobil itu kupinjam dari salah seorang temanku.

“Adi oh… Ufh nikmat sekali sayang, teruskan, teruskan.”
Aku mengocok alat vitalku dengan hitungan rumus yang kudapatkan dari salah satu buku sex, yaitu 1 s/d 9 secara pelan dan yang kesepuluh keras, lalu 1 s/d 8 pelan dan 9 s/d 10 keras begitu seterusnya, dan cukup membuat Lala membisikkan kata teruuuus.. karena perlakuanku. Sampailah gelegak darah yang kurasakan pada pangkal leherku dan terus menjalar sampai keubun-ubun, dan bersamaan dengan itu rasanya ujung penisku mulai didesaki desakan hebat dari arah dalam. Pada kondisi tersebut kulihat Lala yang masih memejamkan mata dan sesekali merintih.

“Kamu sudah sampai belum?” tanyaku.
“Sedikit lagi sayang, sudah hampir..” jawabnya.
“Aku sudah tak kuat lagi nih..” engahku.
Tanpa basa basi dia bangkit dan mengeluarkan penisku dari vaginanya.
“Sebentar sayang, jangan sekarang. Kita sama-sama menuju puncaknya yah.”
Tanpa aku kira sebelumnya, dia menggenggam ujung penisku dan menekannya hingga aku merasa kesakitan.
“Ehh.. mau diapain itu..?” sergahku.
“Tenang, aku mau bikin kamu kuat 1 atau 2 menit lagi.”
Oh begitu, ternyata dia dapatkan sedikit ilmunya itu dari membaca buku.

Setelah itu dalam posisi duduk dia mengangkangiku dari atas dan tubuhnya menghadapku. Dia jongkok dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Naik, turun, naik, turun tubuhnya, maju dan mundur dengan pagutan bibir yang tak henti-hentinya mengeluarkan bisikan uff heh dan sebagainya. Benar saja hal yang dilakukannya tadi membuat penisku yang tadinya terasa melesak hebat kini tidak terasa lagi. Aku jadi semangat untuk membuat kita menuju klimaks. Goyangan pinggulnya membuat mataku terpejam-pejam. Pagutan lengan kita berdua rasanya tidak bisa dilepaskan. Sampai akhirnya kami pun klimaks secara bersama-sama dengan kenikmatan yang luar biasa nikmatnya. Lalu kami pulang.

“TAMAT”

Cerita Antara Kita 2:53 pm

Hallo, nama saya Lilian. Saya mau bercerita tentang pengalaman saya beberapa waktu yang lalu. Saya adalah wanita yang memiliki hyperseksual yang dalam hal ini kecanduan akan kebiasaan sepongan (melakukan oral seks terhadap kemaluan pria). Sudah lama sekali saya waktu pertama kali menghisap kemaluan pria. Waktu itu umur saya 16 tahun. Dan setelah kejadian itu, saya sudah mendapatkan 2 kejantanan pria lagi untuk saya sepong. Saya benar-benar tidak puas dengan tidak terpenuhinya keinginan saya untuk menghisap kemaluan pria. Masalahnya saya sering dipingit orang tua, apalagi ditambah dengan lingkungan sekolah saya yang merupakan sekolahan khusus cewek. Jadi saya sering sakaw (menagih) kemaluan pria. Suatu malam, saya sudah benar-benar tidak tahan lagi. Buku dan VCD porno pun tidak bisa memuaskan saya. Bahkan waktu saya melakukan masturbasi pun saya tetap merasa kurang puas.

Saya yang sehabis masturbasi, membuka jendela kamar saya yang berada di lantai 2 rumah saya. Waktu itu jam 23:30. Saya melihat jalanan di depan rumah sudah sepi sekali. Tiba-tiba ide gila saya mulai lagi. Saya dengan nekat, diam-diam keluar rumah sambil bertelanjang tanpa sepengetahuan siapa pun yang ada di rumah karena semua sudah pada tidur. Saya sampai nekat melompat pagar dengan harapan ada cowok atau pria yang melihat dan memperkosa saya. Apapun asal saya bisa menghisap kemaluannya.

Di komplek saya memang sepi sekali pada jam-jam segitu. Saya sedikit menyesal juga, kenapa saya tidak keluar agak lebih sore. Agak dingin juga malam itu atau mungkin juga karena saya tidak memakai selembar pakaian pun. Di ujung jalan, saya melihat masih ada mas Agus, tukang nasi goreng langganan saya yang masih berjualan. Langsung saya sapa dia.
“Mas Agus, nasi gorengnya dong…” pinta saya.
“Lho, mbak Lili..? Ngapain malam-malam begini masih di luar? Ngga pake apa-apa lagi…” sahutnya sambil terheran-heran melihat saya yang tanpa sehelai benang pun di tubuh.
“Abis panas sih, Mas. Kok tumben masih jualan..?”
Mas Agus tidak menjawab. Tetapi saya tahu matanya tidak bisa lepas dari payudaraku yang putih polos ini.
“Ngeliatin apa mas..?” kutanya.
“Ah ngga…” katanya gugup.
Lalu mas Agus menyiapkan penggorengannya untuk memasak nasi goreng pesananku. Saya lihat ke arah celananya, saya tahu batang kemaluannya sudah berubah jadi bertambah besar dan tegang. Karena saya sudah tidak tahan lagi untuk segera menghisap kemaluannya, saya nekat juga. Saya jongkok sambil membuka ritsletingnya dan mengeluarkan batang kejantanannya dari dalam CD-nya. Tidak pakai basa-basi, saya masukkan alat vitalnya mas Agus ke dalam mulut saya. Saya jilat-jilat sebentar lalu saya hisap dengan bibir. Saya yakin mas Agus merasakan senang yang tiada tara, seperti mendapatkan rejeki nomplok. Tidak hanya itu, saya juga menjilati dua telor mas Agus. Memang agak bau sih, tetapi saya benar-benar menikmati kejantanan mas Agus yang sekarang dia mulai bersuara, “Mmmh… mmmh… uhhh…”

Kira-kira 15 menit saya menikmati kemaluannya mas Agus, tiba-tiba mas Agus menyuruh saya untuk berdiri. Dia memelorotkan celana dan CD-nya sendiri sampai bawah dan menyuruh saya berbalik. Sekarang saya membelakangi mas Agus. Mas Agus jongkok dan menjilati kemaluan saya. Saya langsung merasakan kenikmatan yang hebat sekali. Hanya sebentar dia melakukan itu. Selanjutnya dia berdiri lagi dan memasukkan batang kejantanannya ke liang senggama saya. Kami berdua melakukan senggama sambil berdiri. Saya melakukannya sambil pegangan di gerobak nasi gorengnya. Saya sudah benar-benar merasa keenakan.

“Uuuh… akkhh… akkh… akhhh…” saya menjerit-jerit kegilaan, untung tidak ada yang mendengar.
“Mas, kalo udah mau keluar, bilang ya…” pinta saya.
“Udah mau keluar nih…” jawabnya.
Langsung saja saya melepaskan batang kejantanannya dari liang vagina saya dan jongkok di hadapan kemaluannya yang mengacung tegak. Tetapi setelah saya tunggu beberapa detik, ternyata air maninya tidak keluar-keluar. Terpaksa saya kocok dan hisap lagi batang kejantanannya, saya jilati, dan saya gigit-gigit kecil. Setelah itu tibalah saatnya saya menerima upah yang dari tadi saya sudah tunggu-tunggu, yaitu air maninya yang memang lezat.
“Crot.. crot.. crot…” semuanya saya minum seperti orang yang kehausan.
Langsung saja saya telan dan saya bersihkan kejantanannya dari air mani yang tersisa.

Bertepatan dengan itu, 2 laki-laki lewat di depan kami. Ternyata mereka adalah bapak-bapak yang tinggal di komplek ini yang sedang meronda.
“Lho, mas Agus lagi ngapain..?” kata seorang bapak di situ.
“Ah ngga pak… mmm… ini mbak Lily…” jawab mas Agus malu-malu.
“Ini Om, saya habis ‘gituan’ sama mas Agus…” saya jawab begitu nekat dengan harapan 2 bapak ini juga mau memperkosa saya seperti yang telah saya lakukan dengan si penjuali nasi goreng.
Mereka keheranan setengah mati mendengar pengakuan saya itu.
“Adik ini tinggal dimana?” tanya salah satu dari mereka.
“Di sana, di blok F.” jawab saya.
“Ayo pulang sudah malam..!”
Dan saya pun diseret pulang. Saya takut setengah mati karena jika sampai saya dibawa pulang, pasti ketahuan sama orang tua dan saya bakal digantung hidup-hidup.

Di tengah jalan, saya beranikan diri berkata pada mereka, “Om, mau nyusu ngga..?”
“Jangan main-main kamu…”
“Ayolah Om…. saya tau kok, Om mau juga kan ngewe sama saya..?”
Mendengar itu, si Om langsung terangsang berat. Saya langsung mengambil kesempatan meraba-raba batang kejantanannya yang tegang.
“Ayo dong Om… saya pengen banget lho…” saya bilang lagi untuk menegasakan maksud saya.
Bapak yang satunya lagi langsung setuju dan berkata, “Ya udah, kita bawa ke pos ronda aja pak Karim…” dan pak Karim pun setuju.

Setibanya di sana, ternyata masih ada 3 orang lagi yang menunggu di sana, termasuk bang Parli, hansip di komplek saya. Saya kegirangan sekali, bayangkan saya akan mendapatkan 6 batang kejantanan dalam semalam. Gila… beruntung sekali saya malam itu. Setelah kami berenam ngobrol-ngobrol sebentar tentang kejadian antara saya dan mas Agus, saya langsung memberanikan diri menawarkan kesempatan emas ini ke mereka, “Saya sebenernya pengen banget ngerasain barangnya bapak-bapak ini…”
Mereka langsung terlihat bernafsu dan terangsang mendengar perkataan saya, dan saya jeas mengetahuinya. Saya suruh mereka berlima melepas celana dan CD mereka sendiri dan duduk di bangku pos hansip itu. Mereka berbaris seperti menunggu dokter saja. Batang kemaluan mereka besar-besar juga. Saya langsung memulai dengan batang kejantanan yang paling kanan, yaitu senjata keperkasaannya bang Parli. Saya hisap, saya gigit-gigit kecil, saya kocok di dalam mulut saya, dan saya jilati keseluruhan batangnya dan termasuk juga telurnya. Begitu juga pada batang keperkasaan yang kedua, ketiga, keempat, dan yang terakhir miliknya pak Karim.

Setelah selesai, saya masih belum puas kalau belum meminum air mani mereka. Lalu saya duduki batang kejantananmya bang Parli sampai masuk ke liang senggama saya. Saya kocok-kocok di dalam vagina saya. Sementara itu, pak Karim dan satu bapak lainnya menjilati dan menghisap puting susu saya, sedangkan yang dua bapak lainnya menunggu giliran. 10 menit setelah itu, saya sudah setengah tidak sadar, siapa yang menggenjot lubang senggama saya, siapa saja yang menghisap buah dada saya, batang kejantanan siapa saja yang sedang saya sepong, seberapa keras jeritan saya dan berapa kali saya sudah keluar karena orgasme. Ada pula saatnya ketika satu senjata kejantanan masuk ke lubang vagina saya, sedangkan satu senjata lagi masuk ke lubang anus saya sambil saya menghisap 3 batang kemaluan secara bergantian. Pokoknya saya sudah tidak sadar lagi. Karena merasakan kenikmatan yang benar-benar tiada tara.

Untungnya mereka tidak mengeluarkan air maninya di dalam lubang kewanitaan saya, kalau tidak bisa hamil nanti saya… berabe dong..! Lagipula saya berniat meminum semua air mani mereka. Akhirnya saat yang saya tunggu-tunggu, yaitu saatnya saya berjongkok di depan mereka dan mereka mengelilingi wajah saya sambil mengocok-ngocokkan barang mereka masing-masing. Sesekali saya masih juga menghisap dan menyedot kelima batang kejantanan itu dengan lembut.
Akhirnya, “Crot… crot… crot… crot…. crot…” saya malam itu seperti mandi air mani. Saya merasa puas sekali.

Waktu pulang, saya diantarkan bang Parli, si hansip. Ketika sudah sampai di depan rumah saya, sekali lagi bang parli membuka ritsletingnya dan menyodokkan batang kejantanannya ke dalam lubang senggama saya. Saya melakukannya sambil nungging berpegangan ke pagar depan rumah saya. Selama 10 menit saya dan bang parli melakukan senggama di depan pagar rumah saya. Air maninya sekarang terpaksa dikeluarkan di punggung saya. Saya tidak menyesal karena air maninya kali ini tidak terlalu banyak. Saya melompat pagar lagi, dan masuk ke kamar diam-diam. Sampai di kamar sudah jam 3 lebih. Badan saya seluruhnya malam itu bau sperma. Saya langsung tidur tanpa mandi dahulu karena besoknya saya harus ke sekolah. Saya yakin mereka semua akan tutup mulut sebab takut dengan istri mereka masing-masing.

Kalau ada cowok-cowok yang mau dihisap batangnya dan diminum air maninya, hubungi saya melalui emali saya. Siapa tahu saya lagi sakaw berat…

TAMAT

Cerita Antara Kita 2:47 pm

Sebuah taksi berhenti di ujung jalan komplek perumahan Hidden Land. Maria Andrews keluar dari taksi, membawa sebuah koper dan tas ransel. Siang itu panas dan sepi. Komplek perumahan Hidden Land adalah sebuah komplek perumahan mewah dan beberapa diantaranya menerima kos untuk mahasiswa atau mahasiswi, karena Hidden Land dekat dengan Universitas Hidden Land, sebuah universitas yang tidak sembarangan orang dapat kuliah disana.

Maria Andrews sengaja tidak langsung turun di tempat kos yang ditujunya. Ia ingin berjalan melihat-lihat komplek perumahan itu. Maria seorang wanita cantik, berambut panjang bergelombang dan tingginya 181 cm. Ia tidak merasa kesulitan membawa koper dan tas ranselnya. Ia terus berjalan menyusuri jalan dan ia mulai berbelok. Sebuah pos keamanan di belokan yang ia lewati tidak menyita perhatiannya. Tetapi kemudian terdengar seorang dengan suara berat menyapanya dari sana.

“Hei, aku belum pernah melihatmu. Kamu bukan orang sini ya..?”
Maria menoleh ke belakang dan ia mendapatkan seorang laki-laki sekitar 50 tahunan, tidak terlalu tinggi, kekar, dan menggendong sebuah senapan di punggungnya. Setengah badannya keluar dari jendela yang tidak ada kacanya dan kedua tangannya menopang tubuhnya. Wajahnya menunjukkan bahwa waktu mudanya ia tidak pernah menjadi pujaan gadis-gadis di masanya.

“Ya, aku bukan orang sini. Tapi sebentar lagi akan menjadi warga sini.” kata Maria tersenyum.
“Kau cantik sekali. Mirip seperti isteriku.” kata pria itu, “Aku Mr Jones. Maukah nanti malam kau datang ke sini melayani kontolku..? Atau aku yang akan datang ke tempatmu. Sudah lama sekali aku tidak ngentot..!”
Maria terhenyak. Ia tidak menjawab lagi omongan orang tua itu dan meneruskan perjalanannya dengan gelisah. Pikirnya laki-laki itu pasti gila.

Maria sampai ke sebuah rumah bernomor 50, rumah tanpa pagar (semua rumah di Hidden Land memang tidak memakai pagar) yang halamannya tertata dengan baik dan ada satu ring basket berdiri tegak di sana. Seorang pria keluar dari mobil mewah berwarna merah yang terparkir tidak jauh dari ring basketnya. Ia menghampiri Maria yang terpana melihatnya. Pria itu sangat tampan, tetapi ia tidak mengenalnya.

“Kamu pasti yang bernama Maria Andrews ‘kan? Aku David.” kata pria itu yakin kemudian tersenyum kepada Maria.
“Ya, betul. Tapi kamu siapa..? Apakah kita pernah bertemu..?” tanya Maria ingin tahu.
Ia yakin belum pernah ketemu pria itu. Waktu ia ingin melihat-lihat dan menyewa tempat ini, ia tidak pernah bertemu dengannya. Pikirnya pria itu mungkin teman pemilik rumah ini.
“Eh..? Garry tidak memberi tahu ya..?” tanya David heran.
“Kalau Garry aku tahu.” kata Maria.

“Garry itu adikku. Waktu kau melihat-lihat tempat ini, aku sedang ke luar negeri dan Garry yang jaga di sini. Orang tuaku tinggal tidak jauh dari sini. Tapi sekarang mereka yang ke luar negeri, keliling dunia. Dasar curang..!” kata David, “Tapi setelah melihatmu, aku malah merasa beruntung tidak ke luar negeri.”
“Tapi kau tahu dari mana aku Maria Andrews yang dimaksud Garry..?” Maria penasaran.
“Oh, kalau itu… Garry pernah bilang wanita yang akan kos di sini sangat cantik. Aku baru saja pulang main basket tadi dan kemudian melihat wanita yang sangat cantik yang belum pernah kulihat sebelumnya. Lagian kau kan juga ada di depan halamanku.” kata David, “Kau jauh lebih cantik dari yang digambarkan Garry. Dasar, seleranya tentang wanita buruk sekali..!”
Maria tersanjung mendengar ucapan David, tetapi tidak lama kemudian dia cemberut.

“Eh.., tadi katamu kamu baru pulang main basket ya..? Kamu tahu aku akan datang hari ini..?” tanya Maria.
“Ya, tentu saja. Tapi tidak tahu jam berapa kau akan datang.” kata David keheranan melihat wajah Mariah ditekuk-tekuk seperti panci penyok.
“Dasar..! Kalau tadi kau belum pulang bagaimana..? Masa aku disuruh menunggu di depan pintu..? Seharusnya kau jangan pergi..!” kata Maria kesal, “Aku tidak dapat membayangkan kalau aku menunggu di depan pintu..!”
“Bodoh..! Ya, jangan nunggu dong..! Kamu kan bisa pergi ke tempat lain dulu. Mal, misalnya.” kata David agak kesal tetapi terlihat pura-pura.

“Apa..!?”
“He… he… he… Becanda kok..!” kata David, “Biasanya aku menitipkan ke Mr. Jones, tapi aku lupa tadi. Kamu sudah ketemu dengan Mr. Jones kan..?”
“Ya. Si maniak itu kan..?”
“Jangan begitu. Isterinya meningal 20 tahun lalu. Ia sangat mencintai istrinya yang kata orang-orang sangat cantik. Tapi kalau kau digodanya, ladeni saja, dia tidak akan tahan..!” kata David, “Kita masuk yuk..! Sekalian akan kuperkenalkan teman kosmu.”
“Yang dari Italia itu..?”
“Kamu sudah pernah bertemu dengannya..?”
“Belum.”
“Dia wanita yang cantik juga. Tapi tidak semenarik kamu.”
“Kamu mau merayuku ya..? Apa kamu seperti Mr. Jones..?”"Tidak. Kalau kau meladeni godaanku, aku malah akan senang. Senang sekali aku dikelilingi dua wanita cantik.”

Maria mengikuti David yang membawakan kopernya dari belakang. Secara tidak sadar ia sedang mengagumi David. Pria itu begitu seksi, tinggi 193 cm, atletis, tampan. Ia membayangkan yang lebih jauh lagi. Ia membayangkan kemaluannya disodok-sodok batang kejantanannya yang menurutnya pasti besar. Ia sangat menginginkan bercinta dengannya suatu hari nanti. Sebetulnya waktu bertemu Garry dia menetapkan hati harus disenggamai dengannya suatu hari. Tetapi setelah bertemu David, perasaan itu semakin besar, semakin ingin merasakan liang senggamanya disetubuhi batang kemaluan yang besar. Selama ini ia hanya memasukkan jarinya saja.

David memberikan kunci kamar Maria, kemudian memanggil Andrea Milona teman kosnya yang kamarnya tepat di seberang kamar Maria. David dan Andrea menghampiri kamar Maria, kemudian membuka pintunya. Pintu itu sama sekali tidak berbunyi. David terbelalak melihat pemandangan di depannya. Maria Andrews sedang menurunkan celana jeans-nya. Pantatnya terlihat jelas oleh David. Hanya belahannya saja yang ditutupi celana dalamnya. Buah dadanya bergoyang-goyang lembut. David tidak berkedip sama sekali. Andrea melihat David dengan curiga.

“Hai, Maria..!” tiba-tiba Andrea menyapa Maria.
Maria berdiri dan menoleh ke belakang, kemudian membalasnya. David mencubit pantat Andrea. Ia menggerutu sendirian. Sekarang tubuh Maria terlihat jelas oleh David. Rambut panjang Maria tidak bisa menutupi buah dadanya yang montok. Celana David sudah membentuk tenda. Maria menutupi dadanya dengan tenang setelah melihat David. Ia mencuri pandang juga ke arah celana David, menebak-nebak besar batang kejantanan David.

“Kalau masuk ketuk pintu dulu dong..!” kata Maria, “Kan lagi ganti gaju..!”
Kemudian ia merapihkan rambutnya dan mengambil kaos dari tasnya. Seolah-seolah ingin memamerkan dadanya, dan sepertinya ia sudah biasa bertelanjang dada. David semakin berdebar-debar. Sementara Andrea heran melihat Maria tidak panik sama sekali.
“Mana aku tahu kau langsung ganti baju..?” kata David berdebar-debar.
Menurutnya alasan itulah yang paling tepat.
“Dasar tidak profesional..!” kata Maria, “Ya sudah, tidak apa-apa.”

*******

Bukan yang pertama kali bagi Maria Andrews telanjang dada di depan orang. Bahkan ia pernah telanjang bulat. Usianya sekarang 20 tahun, tapi waktu masih 17 tahun, Maria sudah mencoba jalan di catwalk. Ia menarik perhatian banyak orang saat itu. Ia sering telanjang di depan desainer-desainer, yang katanya untuk bisa membuatkan pakaian yang cocok dengan bentuk tubuhnya. Ia dengan senang hati menerima tawaran foto bugil untuk majalah-majalah khusus pria, dan memenangkan berbagai penghargaan, seperti Tubuh Terindah, Dada Terseksi, Kemaluan paling menggairahkan, dan berfoto duduk mengengkang dengan kedua tangannya menopang tubuhnya dengan wajahnya yang terlihat sangat bernafsu dan bergairah.

Tubuhnya digerayangi dan dijilati sepuluh pria telanjang dari usia 15-65 tahun. Di kiri kanannya, seorang tua dan remaja membuka bibir kemaluannya dan lidah mereka sangat dekat dengan bibir kewanitaannya, tanpa menghalangi pembaca dalam gambar setelah ia memenangi Gadis Idaman untuk Disetubuhi. Hanya ibunya yang sedikit berkomentar tentang foto-fotonya, tetapi tidak sampai melarangnya. Sementara, ayah dan kedua kakak laki-lakinya mendukung sepenuh hati. Mereka mengoleksi majalah-majalahnya dan sok membahas kekurangan dan kelebihan ekspresi Maria bersama dengan Maria langsung.

Maria, Andrea, dan David ngobrol banyak sambil membantu membereskan barang-barang yang dibawa Maria. David senang sekali melihat semua pakaian yang dibawa Maria, ketat dan seksi-seksi. Andrea Milona akan memulai kuliah tahun keduanya di universitas yang berbeda dengan Maria yang baru akan memulai tahun dan semester pertamanya di Universitas Hidden Land. Sedangkan David sedang menganggur setelah lulus tahun lalu dari Universitas Hidden Land. Kuliah Maria dan Andrea baru akan dimulai tiga minggu lagi. Selama tiga minggu itu pula David berusaha mencari perhatian kepada Andrea dan Maria dengan konyol.

Ia memasang video porno di malam hari dengan suara keras di TV ruang keluarga yang ada di antara kamar Maria dan Andrea, padahal kamarnya ada di tingkat dua. Onani di situ juga. Tentu saja Maria dan Andrea mengintip dari kamarnya, walaupun mereka tahu kalau David sudah tahu jika mereka sedang mengintip, dan keesokan harinya mereka membahasnya. David tidak pernah memakai celana dalam di rumah dan berjalan mondar-mandir dengan tersenyum-senyum di depan TV dengan celananya yang membentuk tenda besar kalau Maria dan Andrea sedang nonton TV. David selalu memegang dan meraba-raba mereka, terutama Maria kalau sedang nonton bersama dan mereka hanya menepis-nepisnya tanpa berkomentar.

Kemudian suatu hari David menanyakan kunci mobilnya kepada Maria dan Andrea yang sedang duduk-duduk berdua di sofa sambil mengeluarkan batang kemaluannya dan menggaruk-garuk serta mengelusnya sebentar. Maria dan Andrea terbengong-bengong melihat pemandangan di depannya. Tepat di depan mata mereka sebuah batang kemaluan besar setengah keras. Baru kali ini mereka melihat sejelas itu. Mereka saling pandang.
Pikiran mereka sama, “Mungkin ada sembilan inchi..!”
Selama tiga minggu itu juga Maria mendengar ocehan-ocehan Mr. Jones seperti, “Maria, kontolku bisa memuaskanmu. He.. He… He.., Memekmu hanya untuk kontolku.” dan sebagainya, tapi Maria tidak pernah menanggapinya.

Hingga suatu saat, David dan Maria melakukan persetubuhan akibat kejadian tabrakannya mereka di depan kamar mandi Maria. Saat itu mereka bermain di dalam kamar mandi, karena memang ternyata niat diantara mereka itu sudah tidak kuat lagi mereka tahan.

Beberapa hari kemudian, kejadian diantara Maria dan David rupanya diketahui Andrea yang sempat memperhatikan hubungan diantara mereka berdua melalui lubang kunci kamar Maria. Saat itu Maria dan David sedang melakukan dogie style, mereka saling memadu cinta di atas kasur Maria. Kejadian itu tidak membuat Andrea malu, tetapi bahkan dia menjadi terangsang dan juga menginkan hubungan tubuh dengan David.

Suatu sore, ketika Maria sedang kuliah dan David sedang bersantai di depan TV, Andrea mendekati David dan mencoba untuk merangsangnya. Pucuk di cinta ulam tiba, tanpa penolakan David langsung mengajak Andrea yang menggunakan pakain seksi itu ke kamarnya. Mereka bermain cinta sampai David keluar 3 kali, dan Andrea sampai tidak kuat lagi berdiri.

Perbuatan mereka di rumah itu berlangsung terus hingga David mendapatkan istri dan pindah ke luar negeri. Itulah kisah di sekitar Hidden Land.

TAMAT

Cerita Antara Kita 2:41 pm

Sore-sore Iseng Chating Di Warnet, Pas Chat, Aku Berkenalan Dengan Cewek, Nick Name Nya Saijidah (NAma Samaran) Di MIRC. Kita Berkenalan Lalu Janjian Untuk Ketemu.
Mungkin Aku Kira Dia Bercanda Atau Hanya Cowok Yang Menyamar Jadi Cewek. Tapi Satu Bulan Kemudian Ada Yang Menelpon Ke HP Ku, Terdengar Suara Seorang Wanita Berbicara, Dan Ternyata Dia Saijidah.
Kami Langsung Berjanji Akan Ketemu DI Tempat Kostnya, Pada Hari Yang Di Janjikan Aku Datang Kekostnya, Dan Di Sambut Oleh Seorang Wanita Yang Tidak Begitu Cantik Dan Tidak Begitu Jelek.

Pada Pertemuan Pertama Kami Hanya Berbicara Saja Tentang Diri Kami MAsing-masing. Tapi Nggak Tahu Kenapa Timbul Keinginan Ku Untuk Menyium Dirinya, Pas Ada Kesempatan Aku Cium Dia, Dan Reaksi nya Dia Diam Saja. Dalam Hatiku Bersyukur Untung Tidak Digampar.

Pada Pertemuan Kedua Terjadilah Kejadian Yang Kuharapkan Untuk Menidurinya. Baru Sampai Aku Mencium pipinya, Kita Berbicara Sebentar, Dan Tak Tahu Siapa Mulai Kami Mulai Berciuman Dan Berpelukan.

Namanya Tangan Ingin Ikutan, Tangan Ku Mulai Menjalar Kebuah Dadanya, Yang Ukurannya 34b Itu. Kuremas remas, Taoi Agak Susah Tangan Ku Kealingan BHnya. Kucium Terus Dan Secara Spontan Aku Meminta Membuka Bajunya, Dan Terpampanglah Buah Dada Yang Sangat Menantang. Langsung Saja Kusuruh Buka Bhnya Sekalian, Dan Ternyata Ia Menurut.
Kudekati Dia, Kucari Bibirnya Yang Mungil, Kucium Sambil Tangan ku Memainkan Pentil Yang Ada Di Panyudaranya Sambil Berdiri. Kami Makin Bernafsu, Tanpa Disadari Celanaku Sudah Melorot Kebawah, Kupikir Ini Tanda Dia Meminta Lebih Dari Yang Kami Lakukan. Yang Tadinya Aku Meremas Dadanya, Sekarang Tanganku Berpindah Kedaerah Kemaluannya. Kuremas Saja Selangkangannya, Waktu Itu Dia Masih Setengah Telanjang, Dia Merintih, Kubuka Saja Celananya, Setelah Itu Terlihatkah Seorang Perempuan Utuh Tanpa Busana.

Aku Mulai Bergerilya Dan Saat Itu Juga Aku Menjilat Memeknya. Pada Saat Itu Kontol Ku Sudah Menegang, Aku Berhenti Dan Memengang Kontolku Dan Mengarahkan Kemulutnya, Ternyata Dia Seorang Pemain Lama Dalam Soal Sex. Terbukti Dia Mengerti Apa Yang Kumaksud Dan Blowjobnya Sangat Ihhaghgghaghagha Mungkin Itu Kata Yang Tepat, Karena Sangat Wah Deh.

Dikulum Seperti Anak Kecil Yang Sedang Menikmati Loliponya. Saking Enaknya Aku Kaget Ketika Ia Berhenti Dan Langsung Berdiri Untuk Mengambil Posisi Jongkok, Dan Memegang Lagi Kontolku Mengarahkan Kelubang Kemaluannya.

Dia Sangat Aktif Sekali Sampai2x Dia Yang Mengontrol Pergerakan Kami. Bunyi Khas Dari Bersebuh Terus Berbunyi Yang Memacu Semangat Kami, Dia Memutar, Naik turun, Oh Enak Sekali, Aku Hanya Bisa Menikmatinya Dan Sesekali Memegang Buah Dadanya.
Setelah Sekian Lama Tiba-tiba Dia Mempercepat Gerakannya, Sambil Tangannya Megemgam Tangan Ku Meremas Dengan Keras Dan Akhirnya Dia Teriak, Dan Aku Tahu Dia Mengalami Orgasme. Dan Beberpa Menit Kemudian, Timbul Tanda-tandanya Aku Akan Keluar Juga.
Aku Balikan Posisi Sehingga Dia Tiduran Dibawahku, Ku Genjot Dengan Cepat Sampai terengar Bunyi Benturan Kedua Paha Kami. Dan Tak Lama Aku Cabut Kemaluanku Kuarahkan Kemulutnya Dan Keluarlah Sperma Ku Yang Kental Dan Terasa Nikmatnya. Lalu Aku Terbaring Disampingnya Menikmati Sisa-sisa Pergulatan Kami. Kucium Pipinya dan Kubelai Rambutnya.
Mungkin Kami Capai Kami Tertidur dan Terbangun Ketika Beduk Maghrib Terdengar, Setelah Itu Kami Mandi, Mencari Makanan, Dan Kami Melakukannya Lagi.

Mungkin Cerita Ini Jauh dari Standar Seperi Cerita-Cerita Lainnya, Disini Aku Hanya Mencoba Menceritakan Kembali Kenangan Ku dengan Saijidah.

Thanx

Cerita Antara Kita 2:38 pm

Namaku Antonie. Saat ini umurku 30 tahun. Sebenarnya aku sudah berumah tangga dengan seorang istri yang cantik dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang ganteng berumur 4 tahun. Tapi hasrat untuk berpetualang dan menikmati hubungan sex yang bervariasi membuatku ingin mencoba mencari pasangan selain istriku.

Aku tidak suka ‘jajan’. Sebab selain takut akan resiko2 yang tidak diinginkan, aku juga tidak suka hubungan yang didasari ‘jual beli’, aku merasa tidak ada romantismenya. Hubungan seperti itu hanya seperti kalo kita ingin buang air kecil di toilet umum, setelah selesai tinggal mengeluarkan uang receh, lalu pergi. Belum lagi mengingat resiko penyakit menular seksual yang sekarang bermacam-macam jenisnya.

Aku mempunyai beberapa kisah menarik sehubungan dengan petualanganku untuk mencoba variasi seksual selain dengan istriku. Hampir keseluruhan affair itu aku lakukan dengan wanita-wanita yang kukenal baik melalui chatting di internet ataupun perkenalan tanpa sengaja di kendaraan umum ketika delam perjalananku menuju ke tempat kerja. Aku berharap dengan cerita yang kukirim ini, para pembaca akan memberi masukan, baik berupa saran maupun hal-hal lainnya.

Salah satu cerita yang akan kubagi disini adalah pengalaman pertamaku dengan seorang gadis muda, seorang wanita yang bekerja sebagai seorang karyawati disebuah perusahaan yang bergerak dalam penyediaan tempat pameran, seminar, dan lain-lain.

Petualangan yang akan kuceritakan ini terjadi tidak terlalu lama berselang. Sebagai seorang karyawan sebuah perusahaan asing yang yang bergerak dibidang konsultasi teknis yang berlokasi di daerah Kelapa Gading,aku berangkat dan pulang dari kantor selalu menggunakan kendaraan umum. Aku biasanya menggunakan bis Patas AC. Aku selalu berusaha untuk memilih tempat duduk yang bersebelahan dengan seorang wanita.

Ini adalah pertimbanganku agar perjalanan yang cukup jauh dari lokasi tempat tinggalku menjadi nyaman. Karena dengan duduk bersebelahan dengan wanita, pertama-tama aku merasa aman karena akan jauh dari dari rasa was-was terhadap kemungkinan menjadi korban copet. Kedua, aroma para wanita biasanya lebih enak, dan tentu saja akan merupakan penambahan rasa aman selama diperjalanan.
Pada suatu ketika, aku duduk bersebelahan dengan seorang dara cantik.

Aku biasanya membawa majalah untuk dibaca2 agar dapat mengusir kejenuhan perjalanan. Sebab dengan jarak perjalanan yang cukup jauh, tanpa kegiatan apa - apa akan membuat suasana menjadi jenuh dan membosankan. Ketika aku sedang asyik membaca, gadis cantik disebelah aku kuperhatikan juga ikut melirik bacaan yang sedang kubaca. Aku ketahui dari ekor mataku yang meliriknya memperhatikan bacaan yang kubawa. Kemudian aku mulai berbasa-basi kepadanya.

” Ke kantor yah Mbak ? ” tanyaku klise untuk memecahkan kekakuan.
” Iya..” jawab gadis itu singkat.
” Kantornya dimana ? ” tanyaku lagi untuk lebih memperpanjang pembicaraan.
“Di Kemayoran”

Lalu kamipun terlibat pembicaraan mengenai hal-hal yang ringan. Sebelum aku turun, aku tak lupa meminta nomor teleponnya. Dan meminta izin apakah aku bisa meneleponnya di kantor. Singkat cerita, kamipun selalu berhubungan melalui telepon. Selanjutnya kuketahui kalo dia bernama Wiwiek.

Gadis itu mempunyai rambut yang indah serta bibir yang sensual sekali. Tingginya sekitar 165 cm. Kami terkadang janjian untuk pulang bareng, karena rute bis yang kami lalui sama. Suatu saat aku mengajaknya untuk nonton di Atrium, Senen. Sebelum film diputar, kami makan dulu di salah satu fast food resto yang ada disitu. Dari situ dia lalu bercerita tentang masalah pribadinya.

Dia bercerita bahwa dia mempunyai affair dengan atasannya yang sudah mempunyai istri di kantor. Aku bertanya kenapa tidak mencari pria yang lebih muda dan masih single. Dia menjawab bahwa dia sudah terlanjur sayang dengan pria ini. Aku bilang dia harus berusaha melepaskan diri dari pria berisitri ini. Aku punya cara, tawarku. Lalu kamipun memasuki teater 21, karena film sudah mulai diputar.

Selama film diputar, aku berusaha untuk menciumnya. Tapi dia masih berusaha bertahan. Akhirnya, aku bersabar aja. Lalu ketika film sudah usai, aku mengajaknya untuk mencari tempat ngobrol dan makan lagi, karena perutku belum kenyang dengan makanan ‘fast food’ tadi. Kami menuju ke Hotel Cempaka Sari, dimana disitu kuketahui juga memiliki restoran. Setelah memesan nasi makanan dan minuman. Aku menawari kepada Wiwiek untuk makan dikamar agar lebih nyaman dan bisa sambil ngobrol.

Lalu Entah apa yang terlintas di pikirannya, dia langsung mengiyakan saja ajakanku itu. Lalu aku menuju ke front office dan memesan kamar sambil mengatakan agar makanan yang kami pesan tadi langsung diantar kekamar. Sesampainya dikamar, aku menawarkan agar dia mandi dulu. Dia bilang nanti aja, setelah selesai makan. Setelah selesai makan, aku berbaring ditempat tidur. Aku menatap wajah gadis yang memang cantik ini. Lalu aku menarik tangannya untuk bersama berbaring di kasur. Lalu aku mulai memancingnya bercerita lebih jauh lagi tentang affair dirinya dengan atasannya di kantor.

Sambil bercerita aku dekatkan diriku semakin dekat dengan dengan tubuhnya. Kugenggan tangannya lalu kubelai rambutnya. Dia diam tidak bereaksi. Lalu tanganku berpindah membelai pipinya, Pelan2 tanganku kuturunkan ke bibirnya, dia juga diam tak bereaksi. Kulihat matanya terpejam. Lalu aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku mencium pipinya. Dia agak mengelak kali ini. Aku lalu membaringkan dirinya tepat di bawahku. Dia memejamkan matanya. Aku tau ini adalah sebuah tanda. Lalu kukecup kening, kedua pipinya. Kemudian aku beralih kebibirnya yang sensual itu. Dia hanya diam tidak membalas.
“Jangan ah…” ujarnya.

Aku tidak menghiraukan larangannya. Karena aku tau dia mulai menyukai serangan2ku. Aku membelai payudaranya sambil kukecup terus bibirnya. Perlahan, dia mulai mengerang dan membuka mulutnya.
“Ah..ssshhh..jangan… aku gak bisa kayak gini…ssshhhh” protesnya perlahan tanpa melakukan perlawanan yang berarti.

Aku lalu mulai membuka, kancing bajunya. Namun dia menggenggan tanganku bermaksud melarang aku untuk meneruskan perbuatanku. Aku harus agak sabar memang. Kuturunkan wajahku ke perutnya yang masih dibungkus kemeja warna coklat muda. Ku tatap belahan selangkangannya yang juga masih ditutupi celana yang senada dengan kemejanya. Lalu kecium belahan diantara kedua pahanya. Dia merintih lagi.

“Ahhhh…”
Aku terus mencium daerah yang paling sensitive tersebut selama beberapa saat. Dia mulai merenggangkan kakinya.
“Buka aja yah celananya, biar agak enakan ?” ujarku untuk meminta izinnya.
“Jangan ah . Begini aja. Nanti keterusan”
“Gak apa apa kok. Gak bakalan sampai keterusan” jawabku menenangkan hatinya.
Lalu kutarik risleting celananya. Kemudian kuturunkan perlahan celananya. Dia menaikkan pinggulnya membantu .Terlihatlah cd nya yang berwarna cream yang terbuat dari bahan katun halus. Tepat ditengahnya terpampang gundukan indah yang kelihatan mulai basah. Lalu kucium gundukan itu.

“Ahh..sshhhhhh….” Wiwiek memegang kepalaku. Sambi terus mengecup dan menjilat gundukan vaginanya yang masih tertutupi cdnya, aku membuka celana jeans yang kupakai. Lalu kulempar jeans tersebut tak perduli ia terbang kemana. Lalu aku melepas juga kemejaku. Kulihat Wiwiek menatap diriku yang bugil dan agak kaget melihat penisku yang sudah menegang dan siap menyerang. Dia terlihat pasrah dan tak perduli lagi apa yang akan kulakukan selanjutnya.Lalu kuturunkan lagi wajahku ke wajahnya. Aku mengecup bibirnya.

Kali ini dia membalas. Bahkan dia melingkarkan tangannya ditubuhku. Aku meregangkan kedua belah kakinya. Kugesek2kan penisku di diatas vaginanya yang masih berbalut cd. Lalu aku memegang penisku. Aku udah gak tahan. Aku mencari2 sela diantara cd nya untuk bisa menyentuh vaginanya dengan kepala penisku.
“Jangan dimasukin…ahhhh…aku gak bisa.. ssshhh….” Kembali dia protes. Tapi aku tidak perduli. Aku tau dia mulai menyukai permainanku. Setelah kubuka sedikit celah cdnya yang tepat menutupi bibir vaginanya, aku menggosok2an kepala penisku di bibir vaginanya, tentu masih dengan bantuan tanganku. Terasa basah dan berlendir. Lalu aku mencari2 liang vagina yang merupakan target utamaku. Ketika terasa kepala penisku sudah tepat berada di depan liang vaginanya yang licin dan basah, aku mendorong pantatku perlahan.

“Ohhhh…. ssshhhhh…. jangannn… ahhhhhh…” Dia mengerang ketika kepala penisku mulai menerobos masuk. Aku lalu menekan lebih kuat lagi. Dan…blsssesbbb…masuklah dengan sukses penisku kedalam liang kenikmatan miliknya. Matanya yang indah itu sedikit terbelalak, lalu terpejam kembali

“Ahhhhh…sshhhhh…ohhhhh….” Dia melingkarkan kedua kakinya ke pinggangku.
Aku terus menyodok dan mendorongkan penisku kedalam vaginanya. Aku melakukannya cukup lama. Sekitar 25 menit. Lalu terlihat dia menegang dan merangkulku dengan kencang. Aku tau ini saatnya dia orgasme. Aku juga tidak mau kehilangan moment ini. Aku semakin mempercepat ritme kocokan penisku menghujam liang vaginanya.
“Ahhhh…jangan dikeluarin didalam …hhhhh..ohhh…yahhhhh…”Bisiknya.

Lalu terasa aliran klimaks mulai mengaliri diriku. Aku merasa penisku akan memuntahkan sperma. Aku mengocok semakin keras. Lalu aku memeluk dirinya erat2 berbarengan dengan tarikan kakinya yang semakin memeluk pinggangku dengan kuat. Aku tak berdaya lagi. Dan, crot..crot..crot….tumpahlah spermaku menghujani liang vagina sampai ke rahimnya.

“Ahhhhh…..” Dia mengerang keras.
Aku menatapnya lemas tanpa mengeluarkan penisku yang masih berada didalam vaginanya yang terasa masih memijat-mijat penisku. Terlihat dia tersenyum, tapi kulihat ada linangan air mata dipipinya.

” Kamu nakal. Tapi kamu sangat lama bercinta daripada pacarku” Katanya.
Sesudah itu tertidur, hingga jam dua pagi aku terbangun kembali. Aku menatap disekelilingku dan mencoba-mencoba menginngat apa yang telah terjadi. Kemudian kulihat seorang wanita terbaring disisiku. Wiwiek. Ah,ternyata dia begitu masih menggairahkan, pikirku dalam hati. Aku lalu berpikir untuk menyetubuhinya sekali lagi. Lalu kubuka selangkangannya yang telah dia tutupi dengan celana dalamnya. Kemudian kujilat celah diantara pahanya. Aku lalu mengeluarkan penisku. Kubuka cdnya pelan-pelan tanpa berusaha membangunkannya. Kuusap bukit berbulu yang indah tersebut tepat ditengah-tengah, terasa begitu basah. Lalu kulumuri batangku dengan lendir vaginanya yang beraroma sangat khas.

Aku sudah nggak tahan. Lalu perlahan kuarahkan kepala penisku yang mengkilat kedepan liang vaginanya yang kubuka dengan bantuan dua jari tanganku. Lalu kudorong perlahan. Keliatan dia menggeliat sebentar. Lalu terdiam kembali. Aku mendorong penisku lebih dalam, dan karena laing vaginanya sudah begitu basah, amblas semua batangku menyeruak daging empuk,hangat dan lembab tersebut. Aku lalu menyodok dan mengocok dengan perlahan. Terdengar dia mendesis, tapi seakan tidak mau membuka matanya. Crep.. crep.. crep.. jlebb.. jleb. Semakin cepat dan semakin cepat. Dia lalu merintih halus.
“Ahhhh…. ssshhhhh… sss…”

Aku lalu melihat dia mengejang dan kakinya merapat. Aku tau dia mulai merasakan orgasmenya, ntah dia sadar atau tidak. Aku lalu juga merasa gumpalan-gumpalan naik mengarah ke kepala penisku siap untuk dimuntahkan. Lalu kutekan dalam-dalam penisku ketika kurasa semburan maniku akan meledak. Crott… crott… crott… crott… crott.
“Hekkhh… ahhhhhh….”jeritnya. Aku tau dia merasakan semburan maniku yang panas telah membanjiri liang vagina hingga ke rahimnya. Sampai-sampai ketika kuacabut perlahan, terliat menetes masih dalam kekentalan keluar disela-sela liang vagina hingga menetes ke paha dan lubang anusnya. Ah, betapa nikmatnya,pikirku.

Lalu kami terus terlelap hingga keesokan pagi. Sejak saat itu. Wiwiek tidak mau bertemu lagi denganku. Dia hanya bilang, dia merasa bersalah telah mengkhianati pacarnya yang telah beristri tersebut. Dan ketika aku meneleponnya sekali-sekali sambil mengingatkan dirinya tentang peristiwa malam tersebut, dia hanya bilang agar jangan terulang kembali dan hanya menjadi rahasia kami berdua saja. Ah.. Wiwiek.

Nah itu, adalah sedikit pengalamanku. Bagi wanita2 yang mau berbagi pengalaman denganku, dan mau membuktikan kejantananku, silahkan email aku di alextanj@yahoo.com. or generasibiroe@walla.com. Aku tunggu.

Cerita Antara Kita 2:34 pm

Nama saya Vito, 35 tahun. Berawal dari hobby saya berenang, kira-kira 3 minggu yang lalu, saya memulai hubungan lagi dengan seorang ibu rumah tangga, kali ini beserta putrinya yang masih kelas 2 SMP. Ceritanya begini,…

Waktu itu saya berenang di kolam renang milik sebuah Country Club, dimana saya tercatat sebagai membernya. Saat itu sudah amat sore, sekitar pukul 5. Saya baru saja naik ke pinggir kolam renang untuk handukkan. Saya melihat ada seorang gadis mungil bersama anak perempuan kecil, gadis itu kira-kira berusia antara 14-15 tahun. Karena gadis itu berdiri tidak jauh dari saya, saya liatin aja dia. Untuk usia segitu, badannya bolah dibilang bagus, wajah manis, kulit putih bersih, rambut panjang, swimsuit yang benar-benar sexy dan sekilas saya lihat bibir dan dadanya yang menantang sekali. Setelah saya perhatikan baik-baik, tiba-tiba ‘adik kecil’ saya bangun, bagaimana tidak,… ternyata dia tidak mengenakan celana dalam. Hal ini nyata sekali dari belahan vaginanya yang tercetak di baju renangnya itu.

Eh,…ngak disangka-sangka, si anak kecil (yang ternyata adiknya), menghampiri saya, lalu dia bilang “Om, mau main bola sama Grisa gak ?”
“Eh,… mmh,… boleh,… kamu sama kakakmu ya ?” tanya saya gugup.
“Iya,… itu kakak !” katanya sambil menunjuk kakaknya. Lalu saya hampiri dia dan kami berkenalan. Ternyata, gadis manis itu bernama Revi, dan juga, dia baru kelas 2 SMP. “Mmh, Revi cuma berdua sama Grisa ?” tanya saya mencoba untuk menghangatkan suasana.
“Nggak Om, kami sama mami. Mami lagi senam BL di Gym diatas!” kata Revi sambil menunjuk atas gedung Country Club. “Ooo,… sama maminya, toh” kata saya,”Papi kamu ndak ikut Rev ?”
“Nggak, Papi kan kalo pulang malem banget, yaa,… jam-jam 2-an gitu deh. Berangkatnya pagiii bener” katanya lucu.
Saya tersenyum sambil memutar otak untuk dapat berkenalan sama maminya, “Mmh, mami kamu bawa mobil Rev ? kalo ndak bawa, nanti pulang sama Om saja, mau ndak ? Sekalian Om kenalan sama mami kamu, boleh kan ?”
“Boleh-boleh aja sih Om. Tapi, rencananya, habis dari sini, mau ke Mall sebentar. Grisa katanya mau makan McD.”
“O,.. ya udah ndak apa-apa. Om boleh ikut kan ? Nanti pulangnya Om anterin” Tapi yang menjawab si kecil Grisa, “Boleh,… Om boleh ikut,….”

Sekitar 1/2 jam kami mengobrol, mami mereka datang. Dan ternyata, orangnya cantik banget. Tinggi dan postur tubuhnya benar-benar indah. Buah dada yang besar dan ranum, leher dan kulit yang putih,… pokoknya mirip. Singkat cerita, kami pun berkenalan. Revi dan Grisa berebut bercerita tentang awal kami semua berkenalan, dan mami mereka mendengarkan sambil tersenyum-senyum, sesekali melirik ke saya. Nama mami mereka Imel, umurnya sudah 29 tahun, tapi bodinya,… 20 tahun. Ngobrol punya ngobrol, ternyata Imel dan suaminya sedang pisah ranjang. Saya dalam hati berkata, wah,… kesempatan nih. Makanya setelah makan dari Mall, saya memberanikan diri untuk mengantarkan mereka ke rumah, dan ternyata Imel tidak berkeberatan. Setelah sampai di rumahnya di bilangan Cilandak, saya dipersilahkan masuk, langsung ke ruang keluarganya.

Waktu itu sudah hampir jam 8 malam. Grisa yang sepertinya capek sekali, langsung tidur. Tapi saya, Imel dan Revi ngobrol-ngobrol di sofa depan TV.”Mel, suamimu sebenarnya kerja dimana?”, tanya saya.
“Anu mas,… dia kontaraktor di sebuah perusahaan penambangan gitu,” jawab Imel ogah-ogahan.
“Iya Om, jangan nanya-nanya Papi.Mami suka sebel kalo ditanya tentang dia,” timpal Revi, yang memang kelihatan banget kalo dia deket sama maminya.Mendengar Revi bicara seperti itu, Imel agak kaget, “Revi, nggak boleh bicara gitu soal Papi, tapi bener mas, aku ngak suka kalo ditanya soal suamiku itu”.
“Iya deh, aku nggak nanya-nanya lagi,…” kata saya sambil tersenyum.”Eh Iya,… Mas Vito mau minum apa ?” tanya Imel sembari bangkit dari sofa, “Kopi mau ?
“Eh,… iya deh boleh,… ” jawab saya.Tak lama kemudian Imel datang sambil membawa 2 cangkir kopi.”Ini kopinya,…” katanya sambil tersenyum. Revi yang sedang nonton TV, dengan mimik berharap tiba-tiba berkata, “Om, malem ini nginep di sini mau ya ? bolehkan mam ?” Imel yang ditanya, menjawab dengan gugup, “Eh,… mmh,… boleh-boleh aja,… tapi emangnya Om Vito mau ?” Merasa dapat durian runtuh, saya menjawab sekenanya, “Yah,… mau sih,… ”
Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan jam 1/2 12 malam ketika Imel berdiri dari sofa dan berkata, “Mas Vito,aku mau ganti baju tidur dulu ya ?”
“Eh, iya,… ” jawab saya, “kamu ndak tidur Rev, kan besok sekolah ?”"Mmh, belom ngantuk,… ” jawabnya lucu.Tak lama kemudian, Imel datang lagi ke ruang TV dengan mengenakan busana tidurnya yang tipis sekali. Di dalamnya dia hanya memakai celana dalam jenis G-string dan Bra tanpa tali. Revi yang sedang tidur-tiduran di karpet terbelalak kaget melihat maminya memakai baju se-sexy itu.”Ya ampun,… mami,… bajunya itu lho, gak sopan banget.”
“Gak papa Rev’, mami udah lama nggak pake baju ini. Sekalian nyobain lagi,” kata Imel sambil tersenyum ke arah saya, “Om Vito aja nggak keberatan, masa kamu keberatan sih ?”

Saya yang masih terkagum-kagum dengan kemulusan body Imel, tidak bisa bicara apa-apa lagi.” Rev’ kamu tidur sana, sudah malam. Besok terlambat sekolah,… mami masih mau ngobrol sama Om Vito,… sana tidur!” kata Imel.Saya yang memang sudah pingin sekali mencoba tubuh Imel, juga ikut-ikutan ngomong, “Iya, Rev’ besok telat masuk sekolahnya,… kamu tidur duluan sana.”Revi sepertinya kesal sekali di suruh tidur, “Aaahh,… mami nih. Orang masih mau ngobrol sama Om Vito kok,…” tapi dia masuk juga ke kamarnya.
Setelah ditinggal Revi, saya mulai melakukan agresi militer.”Mel, kok kamu pake baju kaya gitu sih ? kamu tidak malu apa sama aku, kita kan baru kenal. Belum ada 1 hari,… kamu ndak takut apa kalo’ aku apa-apain ? “Mas, aku memang sudah lama nggak pake baju ini. Kalaupun toh pake, suamiku sudah nggak peduli lagi kok sama aku. Dia lebih memilih sekretarisnya itu,” kata Imel dengan mimik muka sedih.”Berarti suami mu itu tolol. Dia nggak liat apa, kalo istrinya ini punya badan yang bagus, kulitnya putih, bibirnya tipis,… wah, kalo aku jadi suamimu, thak perem kamu ndak boleh keluar kamar,” kata saya bercanda.
“Dan lagi kamu punya ‘itu’ mengkel banget,…”Si Imel menatap saya dengan wajah lugu, “Itu apa mas ?”"Mmh, boleh aku jujur tidak ?”"Boleh,… ngomong aja “”Anu,… payudaramu itu lho,… mengkel banget, dan lagi aku yakin kalo ‘anu’mu pasti seukuran satu sendok makan” kata saya sambil melakukan penetrasi dengan mengelus pahanya.”Ooo,… ini,” kata Imel sambil memegang buah dadanya sendiri, “Mas Vito mau ? terus apaku yang seukuran…”Belum selesai Imel berbicara, langsung saja aku potong dengan memegang dan mengelus kemaluannya, “Ini,.. mu,… buka dong bajumu !” kata saya asal.
Imel yang sepertinya sudah setengah jalan, langsung melepas kain tipis yang menutupi tubuhnya. Sambil mengulum bibirnya yang tipis dan hangat, saya langsung membuka bra-nya. Imel dengan gerakan spontan yang halus sekali, membiarkan celana dalamnya saya lucuti.”Mas, aku sudah telanjang. Sekarang gantian ya,…” kata Imel tanpa memberi saya kesempatan bicara, Imel langsung melepas baju dan celana serta celana dalam saya, akibatnya dia shock setengah mati melihat batangan saya yang sudah terkenal itu. Hebatnya lagi, dia tanpa minta ijin, langsung jongkok di bawah saya dan mengulum si ‘adik’ dengan beringas. Sekitar 5 menit kemudian, dia berdiri dan menyuruh saya untuk menjilati bibir vertikalnya. Imel kelojotan setengah mati, ketika lidah saya menyapu dengan kasar klitorisnya.

Imel saya suruh terlentang di karpet dan membuka kakinya, ‘Veggy’nya yang sudah basah itu, saya hajar dengan gerakan tajam dan teratur. Sambil terus menyerang, saya meremas buah dadanya yang besar, dan menghisap lidahnya dalam-dalam ke mulut saya. Sekitar 10 menit kami melakukan gaya itu, kemudian dia berdiri dan membelakangi saya dengan posisi menungging dan berpegangan di meja komputer didepannya, dia membuat jalan masuk dengan menggunakan kedua jarinya. Langsung saya pegang pantatnya dan saya tusuk dia perlahan-lahan sebelum gerakan makin cepat karena licinnya liang surga itu. Tak lama kemudian, Imel bergetar hebat sekali,… dia orgasme, tapi cairan sperma saya belum juga mau keluar. Saya percepat gerakan saya, dan tidak memperdulikan erangan dan desahan Imel, dalam hati saya berkata, dia enak sudah klimaks, aku kan belum. Tak lama kemudian saya sudah ndak tahan. Saya tanya : “Mel, aku mau keluar,… dimana nih ?”Di tengah cucuran keringat yang amat banyak, Imel mendesah sambil berpaling ke arah saya, “Di dalam aja mas ! biar lengkap “Benar saja, akhirnya cairan saya, saya semprotkan semua di dalam liang vaginanya. Banyak sekali, kental dan lengket.

Setelah itu, kami duduk di sofa sambil dia saya suruh menjilati ‘Mr. Penny’ saya. Hisapan Imel tetap tidak berubah, tetap penuh gairah, walaupun bibirnya terkadang lengket di kepala ‘Mr. Penny’ saya.Sekitar 5 menit, Imel menikmati si ‘vladimir’, sebelum dia akhirnya melepaskan hisapannya dan bangun.”Mas, aku ke kamar mandi dulu ya,” katanya, “Aku mau nyuci ‘ini’ dulu,” sambil dia mengelus vaginanya sendiri.”Ya,… jangan lama-lama,… ” kata saya.Karena sendirian, saya kocok saja sendiri batangan saya. Tiba-tiba si Revi keluar kamar,… dia berdiri di depan pintu kamarnya sambil memperhatikan saya. Saya kaget sekali.”Loh, Rev… kamu belum tidur ?” tanya saya setengah panik.”Belum.” Jawabnya singkat. Lalu dia berjalan ke arah saya, sementara saya berusaha menutupi ‘Mr. Penny’ saya dengan bantal sofa. “Om, tadi ngapain sama mami ?” tanyanya lagi.”Eh,… anu,… Om sama mami lagi… ” belum selesai saya menjelaskan, Imel masuk ke ruang TV.

Dia kaget sekali melihat Revi ada di situ. Sambil tangan kanannya menutupi vaginanya dan tangan kirinya menyilang menutupi buah dadanya yang ranum (tidak semua tertutupi sih…),Imel berkata, “Rev kamu ngapain, kok belum tidur ?”Revi berpaling menghadap Maminya, “Aku nggak bisa tidur, Mami tadi berisik banget. Ngapain sih sama Om Vito ?”Akhirnya saya menjelaskan, setelah sebelumnya menyuruh Imel duduk di samping saya, dan Revi saya suruh duduk di karpet, menghadap kami.”Revi, kamu kan tahu, Papi sama Mamimu sudah pisah ranjang selama hampir 4 bulan. Sebenarnya Om sama Mami sedang melakukan kegiatan yang sering dilakukan sama Mami dan Papimu setiap malam. Om dan istri Om juga sering melakukan ini,” kata saya sambil melirik Imel yang terlihat sudah agak santai. “Tapi karena sekarang ndak ada Papi, Mami minta tolong Om Vito untuk melakukan hal itu.”Revi terlihat sedikit bingung, “Hal itu hal apa Om ?”Di sini, Imel mencoba menjelaskan, “Rev, Mami jangan disalahin ya,…Revi sayang Mami kan ?”Revi tersenyum, “Iya lah, mi. Revi saayyaaaang banget sama Mami. Tapi Revi mau tahu, Mami sama Om Vito ngapain ?”Saya tersenyum sendiri mendengar rasa ingin tahu Revi yang cukup besar, “Om Vito sama Mami lagi making love.

Kamu tahu artinya kan ?”"Mmh,… iya dikit-dikit. Jelasin semua dong Om,… Revi mau lihat,” jawab Revi.Wah,… kaget sekali mendengar Revi bicara begitu. Lalu saya melirik Imel, dan Imel mengangguk mengerti. “Revi beneran mau lihat Mami sama Om Vito making love ?” tanya Imel.Revi menjawab dengan polos, “Iya mau. Dan kalau Om Vito mau ngajarin, Revi juga mau diajarin,… biar bisa”. Saya beneran seperti ketiban durian runtuh, “Mmhh, tanya Mami ya ?! soalnya Om tidak bisa ngajarin, kalo Mamimu tidak ngijinin,… Om sih mau aja ngajarin.”Revi merajuk, merayu Maminya, “Mi, boleh ya ?”Imel ragu-ragu menjawab, “Kamu lihat aja dulu deh ya ?!”Sambil tersenyum Revi menjawab, “Iya deh,…,” senang sekali ia.
Setelah itu, Revi saya suruh mundur beberapa langkah, dia masih duduk dan memperhatikan dengan serius, ketika saya ‘memamerkan’ batangan besar saya. Dan Revi hanya bisa melongo ketika saya mengulum bibir Maminya sambil mengelus-elus vagina yang tanpa bulu itu. Tak lama kemudian, Imel saya suruh untuk melakukan pekerjaan menghisap lagi. Sambil Imel disibukkan dengan pekerjaannya itu, saya menyuruh Revi untuk duduk mendekat disamping saya.”Lihat Rev, Mami seneng banget kan ?” kata saya. Sementara Imel melirik kami sambil terus menjilati ‘Mr. Penny’ saya. “Revi sudah pernah ciuman belom ?” tanya saya.”Belum Om.”"Mau Om ajarin ndak ?” tanya saya lagi sambil melingkarkan tangan saya di lehernya.”Mau !” jawabnya singkat.”Ya sudah,… Revi ikutin Om aja ya,… apa yang Om Vito lakukan, diikutin ya ?!”Belum sempat Revi menjawab, saya langsung saja mengulum bibirnya, tegang sekali si Revi. Ketika saya menarik lidah saya dengan lembut di dalam mulutnya, Revi terasa berusaha mengikuti, walaupun dengan gerakan yang tidak beraturan.

Imel terus menghisap batangan saya, ketika saya melucuti tubuh anaknya yang putih bersih dan mulus itu. Buah dada Revi memang belum begitu besar, tapi untuk ukuran anak kelas 2 SMP, sudah cukup ranum. Puting susunya masih berwarna merah muda dan ketika saya memilin-milinnya, si Revi bergelinjang kegelian. Tak lama kemudian, Imel berlutut di depan saya dan membantu Revi melepas celana dalamnya yang berwarna hijau muda. Revi menurut aja ya sama Om Vito “kata Imel. Sementara saya meremas-remas toketnya, Imel menyuruh Revi untuk menggenggam batang ‘Mr. Penny’ saya.”Rev, sekarang kamu jongkok disini ya ” kata Imel, “Kamu hisap ‘Mr. Penny’nya Om Vito, seperti Mami tadi. Jangan dihisap terus, nanti kamu kehabisan nafas, ” Imel tersenyum sayang kepada Revi, “Kadang di lepas, terus di jilat-jilat. Pokoknya kayak Mami tadi. Bisa kan ?”Revi menjawab singkat, “Bisa, mam “Saya mengarahkan si ‘adik’ ke mulut Revi, sambil mengelus rambutnya yang hitam legam. “Pelan-pelan Rev, jangan ditelan semuanya ya !” Revi tersenyum.Imel memperhatikan cara Revi menghisap, kadang dia memberikan instruksi.

Tak lama setelah itu, saya menyuruh Revi berdiri. Saya tersenyum memandang vaginanya yang masih rapat, tampak bulu-bulu halus menghiasi lubang sempit yang berwarna putih kemerahan itu. Terus terang saya tidak tega untuk menembusnya. Ya sudah, saya ciumi dan jilati saja ‘Veggy’ muda itu. Revi benar-benar kegelian. Akhirnya, Imel menyuruh Revi istirahat. Pekerjaannya dilanjutkan oleh Imel. Tanpa berbasa-basi, Imel langsung menduduki ‘Mr. Penny’ saya, dan mulai melakukan gerak maju mundur, nikmat sekali. Sambil Imel terus mengerjai ‘Mr. Penny’ saya, saya meremas-remas toketnya. Setelah itu, kami pindah tempat. Saya berbaring di karpet, dengan Imel masih menduduki si ‘adik’, kali ini dia membelakangi saya. Revi yang hanya diam melihat aksi kami, saya suruh mendekat ke arah saya. Saya menyuruh dia untuk jongkok, dengan posisi ‘Veggy’nya di mulut saya. Sambil saya remas pantatnya, saya tembus liang sempit itu dengan lidah, terkadang, saya sapu dengan jari, sampai akhirnya, setengah jari tengah saya, masuk ke ‘Veggy’nya dan direspon dengan gerakan yang sangat liar. Revi mulai mendesah tidak karuan, sementara pada saat bersamaan, Maminya mendesah keenakkan.

Saya mulai serius menanggapi Imel. Revi saya suruh menyingkir. Setelah itu, saya membalik tubuh Imel, sekarang dia yang dibawah. Saya lebarkan kakinya dan saya tusuk dengan tajam dan tanpa ampun. Kali ini, Imel bertahan cukup lama, dia sudah mulai terbiasa dengan tusukan-tusukan saya. Akhirnya Imel tidak tahan juga, begitu juga saya. Dia orgasme, berbarengan dengan saya yang kembali memuntahkan sperma ke dalam liang kemaluannya. Setelah melepas si ‘vladimir’, Revi saya suruh menjilatinya.”Mmmhhh,….. Om… kok asin sih rasanya ?” protes Revi.Imel sambil terengah-engah menjawab, “Memang gitu rasa sperma. Tapi enak kan ? Mami bagi dong ?!”Saya senyum-senyum saja melihat anak beranak itu berebut menjilati ‘Mr. Penny’ saya. Saya memegang kepala ibu dan anak itu, dan dengan maksud bercanda, kadang saya buat gerakan yang memaksa mereka harus berciuman dan menempelkan lidah masing-masing. Mereka tertawa dan tersenyum ceria, tanpa beban.

Sekali dua kali, kami masih sering bersenggama bertiga. Tapi sekali tempo, saya hanya berdua saja dengan Revi, yang benar-benar telah merelakan keperawanannya saya ambil. Tapi kalau dengan Imel,… wow, jangan ditanya berapa kali, kami sering janjian di sebuah restoran di PIM, dan Grisa, anak bungsu Imel, selalu diajak. Pernah suatu saat, ketika saya dan Imel sedang ‘perang alat kelamin’ di kamar mandi rumahnya (tanpa menutup pintu), Grisa tiba-tiba masuk dan menonton dengan bingung adegan saya dan Maminya yang sedang nungging di bathtub. Dia bertanya kepada Maminya (walaupun tidak dijawab, karena sedang ’sibuk’ “Mami diapain Om Vito, kok teriak-teriak ?” katanya. Dan dia pun ikut menyaksikan kakaknya, yang saya senggamai di ruang TV, di samping Maminya yang telanjang bulat, dengan sperma di buah dadanya yang besar itu (bila saya buang di luar, dia tidak mau membersihkan sendiri, selalu menyuruh Revi untuk menjilatinya).
Kami masih sering melakukan itu sampai sekarang.