Akibat Pergaulan BebasAugust 21, 2006 7:41 am

Cerita ini terjadi sekitar 1995 yang lalu saat saya masih kuliah di semester satu sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Nama saya denny, sekarang saya bekerja sebagai system engineer suatu perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Ceritanya begini. Pada suatu pagi saya ditelepon oleh seorang kawan lama saya yang bernama Herry, yang baru datang dari Bandung untuk suatu keperluan. Kebetulan sekali saat itu saya tidak ada kuliah, sehingga dapat bebas pergi ke mana pun. Sesampainya di sana ternyata teman saya telah lama menunggu di kamarnya, dan saya pun masuk, tetapi tidak lama kemudian, Herry pamit kalau dia ada janji mau pergi ke kantor temannya di Jl. Rasuna Said dan saya pun menunggu di kamarnya sampai Herry pulang.

Ternyata menunggu merupakan suatu yang sangat menjengkelkan, tak terasa telah satu jam kupindah-pindahkan channel televisi dari CNN sampai STAR TV, tapi semua terasa membosankan, sehingga pada suatu ketika bel di kamar berbunyi, ting tong… ting tong, malas kubuka pintu. Terlihat sesosok tubuh wanita dengan tinggi kurang lebih 167 cm dengan rok span dan pakaian kerja, seksi dengan dada kupikir sekitar 36B.

“Permisi, mau bertemu Bapak Herry ada?” tanyanya.
“Mm.. oh Bapak Herry sedang pergi ke Jl. Rasuna Said, ada janji?” tanyaku.
“Ya… boleh saya menunggu?” tanyanya.
“Silakan”, jawabku sambil mengajak dia masuk.
Wanita itu pun masuk dan duduk di sofa. Jam saat itu menunjukkan pukul 10 pagi.
“Mbak ini siapa ya?” tanyaku memberanikan diri.
“Saya Selly, utusan dari cabang Bandung yang menjemput Pak Herry ke mari”, jawabnya.
“Ooo… perkenalkan saya Denny, teman Herry.”

Selly memang sosok wanita ideal. Selain anggun, dia juga cantik, kalau dilihat mirip Drew Barrymore. Jam menunjukkan pukul 11.00, dan Herry belum pulang juga. Aku sudah gelisah juga, soalnya di kamar hotel begini bersama seorang wanita cantik. Perlahan-lahan kuberanikan untuk duduk di sebelah Selly.

“Mmm… gimana ya Mbak… kok belum datang juga Herry”, kataku membuka kebisuan.
“Ah.. nggak apa kok, kan ada Mas Denny”, jawabnya sambil memegang tanganku.
Wah lampu hijau nih pikirku. Gila juga nih orang, aku sempat grogi dipegang kayak gitu.
“Mau ke kamar kecil bentar ya Denn… di mana sih tempatnya?” tanyanya manja.
“Di situ tuh”, kataku cuek.
“Nitip tasnya ya!” katanya lagi, dan Selly pun masuk ke kamar kecil.
“Awww… awww… tolong Den… ada kecoa…” jeritnya dari dalam kamar mandi.
Kupikir mana mungkin sih di hotel bintang lima macam begini ada kecoa. Tapi aku bangkit juga menuju kamar mandi. Baru sampai di depan pintu kamar mandi Selly sudah menarik tanganku.
“Masuk… sini…” katanya sambil menutup pintu. Kulihat Selly sudah melepaskan rok spannya, hanya tinggal CD sama baju saja. Dan dia pun langsung mencium mulutku. Aku yang belum siap mental malah menghindari ciumannya. “Mana kecoanya?” tanyaku pura-pura bodoh. Habis baru sekali ini sih aku dibegitukan oleh wanita.
“Ini nih masuk ke dalam celana”, jawabnya cuek.

Dia terus berusaha menciumi mulutku, lama kelamaan aku terangsang juga. Gantian kuciumi juga mulutnya. Sekitar tiga menit acara pagut-memagut itu pun berlangsung. Kupraktekan cara mencium yang sering kulihat di film porno. Kemudian tanganku pun segera merambah bukit kembarnya dari celah-celah bajunya. Gila benar ini anak, ternyata dia tidak memakai BH. Langsung kumainkan bukit kembarnya dan kupelintir sedikit-sedikit putingnya. Terasa putingnya mengeras, kata orang sih tanda-tandanya sudah terangsang. “Awww… pelan-pelan dong Den”, protesnya saat kupelintir putingnya. Terus kuciumi lehernya yang jenjang, Selly pun cuma mendesah, “Aah… hmmm… ahhh… Deenn…” langsung kubuka bajunya dan semakin terpampang jelas gundukan di dadanya yang menggairahkan. Kuciumi kedua bukit kembarnya dan kujilat-jilat putingnya, lagi-lagi dia bergumam, “Terus Den…. ahh.. ouchhh….” aku melanjutkan menciumi pusarnya, terus ke bawah pusarnya. Terpampang dengan jelas rambut tipis berbentuk segitiga di pangkal pahanya. Kujilati sepuas-puasnya.

Setelah itu dia kubimbing duduk di samping bathtub dan duduk di situ. Terus dia kusuruh membuka pahanya. Ooh, seperti ini toh liang kemaluan wanita. Soalnya seumur-umur baru kali ini aku melihat langsung yang asli. Langsung saja kulihat dari dekat. “Kok diliatin doang Denn… dijilatin donk”, kata Selly. Aku diam saja, terus kusibakan bibir kemaluannya dan terlihat di situ daging yang menonjol. Barangkali ini yang disebut klitoris pikirku. Terus dengan iseng kupelintir daging itu pelan-pelan. “Ahh… ouhh… Denn.. ahh… terus Den… mainin klitorisku ahhh”, wah benar juga pikirku. Terus perlahan kupegangi dalamnya, kok agak lembab dan basah. Wah rupanya Selly terangsang berat nih. Kulihat lebih dekat lagi, tiba-tiba saja tangan Selly membenamkan kepalaku ke dalam pangkal pahanya. “Jilatin dong Den.. ahhh.. ahhh.. jangan nakal, gitu dong… masa cuma diliatin aja”, aku pun terus menjilati kedua bibir kemaluannya. Mmm… terus kujilati juga klitorisnya dan cairan yang ada di situ rasanya asin-asin nikmat dan baunya itu loh bikin batang kemaluanku semakin mengeras saja. Terus kujilati dengan ganas klitorisnya sambil kugigit sedikit. “Ahhh… Denn… ouchh… Denyy… akkhhh… akkuu.. akkh.”

Terlihat cairan semakin deras saja yang keluar dan Selly semakin membenamkan kepalaku ke dalam kemaluannya. Wah rupanya Selly sudah klimaks nih, “Ahh… Denn ouchh… aku keluarr…” katanya. Kujilati semua cairan yang keluar dari kemaluan Selly. Terus dia pun berdiri dan menuju ke tempat tidur. Wah gila nih perempuan, masa aku dianggurin, pikirku. Aku terus mengikuti dia pergi ke tempat tidur. Rupanya dia duduk di samping tempat tidur. “Sini deh Den… gantian aku yang mainin kontolmu”, katanya. Aku menurut saja dan aku rebahan di tempat tidur dengan kaki di lantai. Terus Selly mulai memainkan kemaluanku dari luar celana dalam. Dia jilati batang kemaluanku yang dari tadi sudah sangat tegang, terus dibukanya CD-ku pakai giginya. “Wah nih orang pasti kebanyakan lihat film-film gituan”, pikirku. Setelah CD-ku lepas, gantian dia mainkan kantong kemaluanku, dia jilati ke atas dan ke bawah. Rasanya sungguh mengejutkan. Terus dia pegangi batangku dengan kedua tangannya dan dijilat-jilatin kepalanya sambil matanya melihat ke arahku. Langsung dia benamkan seluruh batang kemaluanku ke dalam mulutnya dan dikocok-kocok pakai mulutnya yang mungil. “Oohh… Selly… akhhh… uhhh”, desahku merasakan nikmat di sekujur batangku. Sambil terus mengulum-ngulum batang kemaluanku, dia pun memijit-mijit buah kemaluanku, rasanya linu-linu nikmat.

Setelah berlangsung 5 menit, Selly pun mulai bosan dengan permainannya. “Den, kita main beneran yuk”, katanya. Aku pun tanpa berpikir langsung menjawab dengan semangat 45, “Ayooo!” Selly langsung duduk di atas pahaku dan memegang batang kemaluanku sambil diarahkan ke dalam lubang kemaluannya. Blesss… seluruh batang kemaluanku masuk ke dalam liang kemaluannya. Terasa lembab dan nikmat tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. “Ahhh.. mmmm… uhh… aahh…” desah Selly sambil merem melek menikmati pergesekan batang kemaluanku dengan liang kemaluannya. Tak lupa tangannya pun ikut-ikutan memegangi kedua buah dadanya. “Ohh… Denny… akhhh… uhhh… yeahh… Dennyy… ahhh.” Aku pun dengan reflek mengimbangi permainannya dengan menaik-turunkan batang kemaluanku, sehingga terdengar bunyi pluk… pluk… ketika batang kemaluan dan liang kemaluan berbenturan. “Ahhh… oughh… mmmhhh… ahhh…” desah Selly.

Selly pun makin menjadi-jadi, dia pun kemudian memegangi rambut kepalanya dan kurasakan gerakannya semakin liar, “Ahhh… uhhh… ahhh.” Aku bantu merangsangnya dengan memegangi kedua payudaranya. Tak lama kemudian Selly pun menjerit, “Dennnyy.. ahh… ouhh.. akuu.. mau… keluar… ahhh…” Di kepala batang kemaluanku pun terasa ada aliran yang tak dapat dibendung lagi, “Kita keluar sama-sama Sell… ahh… ouhh…” Kurasakan cairan hangat menyemprot pada kepala batang kemaluanku dan menyebabkan kepala batang kemaluanku tak dapat menahan aliran yang deras dari dalam batang kemaluanku. “Ahh… aku keluarr… Selly”, teriakku. “Akuu.. jugaa… Denny… akhh.” Kemudian kami pun lemas dan tertidur sampai pukul 5 sore.

Sampai tiba-tiba terdengar bunyi bel, tet… tet… wah gila nih, Herry pulang. Langsung saja kubangunkan, “Selly… Sell… Selly… bangun…” ternyata Selly tidur dengan nyenyaknya. Aku cuek saja soalnya susah kalau membangunkan orang yang tidur dengan berjuta kenikmatan. Akhirnya pintu hotel kubuka, ternyata wanita bule yang mengetuk pintu. “Excuse me… Is this Mr. John’s Room, 513?” tanyanya. “Oh… No, I think… its beside this room”, jawabku sekenanya dan wanita bule itu pun pergi ke kamar sebelah. Setelah dibel berkali-kali ternyata tidak ada orangnya. Dia pun pergi ke arahku lagi. “He is not in his room”, katanya. “Bisa sa.. ya… tunggu di sini?” katanya. Wah bisa juga dia ngomong Indonesia, pikirku. “Oh… sure… tentu”, kataku. “silakan masuk.” Dia pun duduk di sofa. Karena kamar ini termasuk luas, sekitar 7x7 meter, maka Selly yang tertidur di springbed tak kelihatan.

“Anda dari mana?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Oh… I come from USA, Nevada”, katanya.
“Oh… Las Vegas”, kataku.
“Anda sudah menikah?” tanyaku lagi.
“Ya… saya… menikah 2 tahun lalu dan saya sudah cerai selama setahun”, katanya lagi.
Wah kesepian juga nih cewek, pikirku. Kalau dilihat-lihat wanita ini tingginya sekitar 170-an, wajahnya mirip-mirip Dana Scully-nya X-File, usianya sekitar 30-an. Kalau dilihat bodinya sih mantap juga. Rambutnya sebahu, matanya biru, bibirnya, wah sensual sekali.

“Can I know your name?” tanyaku.
“Jessica”, katanya sambil mengulurkan tangan.
“Denny”, kataku.
“What is your job Denny?” tanyanya.
“I’m student”, kataku.
“What major?” tanyanya.
“Informatics”, kataku.
Wah bisa-bisa dua jam cuma nanya masalah sekolah nih pikirku. Harus dihentikan nih. Kuberanikan tanya soal lain. Sambil pindah duduk ke samping Jessica.

“Can I know something about life?” tanyaku.
“Yah… apa? please in Indonesian, cause I think you can not speak fluently in english”, katanya.
Wah ketahuan deh modalku, pikirku.
“Ini agak pribadi, nggak apa-apa?” tanyaku.
“No problem, cause I think kamu orang baik-baik”, katanya.
“Kalau udah cerai, gimana kamu memenuhi kebutuhan biologismu?” tanyaku.
“Maksud kamu seks?” tanyanya.
“Yes…” kataku mantap.
“Saya bisa main seks kapan saja, dan dimana saja dengan orang yang kusuka, that’s menyebabkan my husband menceraikan saya.”
Wah gila juga nih cewek pikirku.
“Kamu pernah main seks Denny?” tanyanya.
“No..” jawabku.
Dia pun tersenyum melihatku, terus lihat wanita tergolek di atas ranjang. Wah ketahuan deh kalau menipu.

“Siapa dia Denny?” tanyanya.
“She is my sister”, jawabku sembarangan.
“Oh.. jadi kamu betulan belum pernah ya… mau belajar sama saya, Denny?” tanyanya.
“Wah mau sekali Jessy”, kataku mantap.
“Sini Denny… kamu ke depanku.. apa your sister tidak marah kalau lihat kita Denny?” tanyanya.
“Nggak apa-apa Jessy”, kataku sambil mendekat ke depannya. Terus dia membuka bajunya. “Sini Denny… kamu pegang dada saya”, katanya. Terus kupegangi susunya yang ukurannya 36C.
“And cium bibirku Denny”, katanya.

Aku tanpa dikomando langsung menciumi bibir Jessica. Langsung mulut kami beradu, kulumat bibir yang sensual itu dan lidah kami pun saling berbelit, “Ouchhh… mmm…” terus aku langsung turun ke lehernya yang jenjang dan dia pun mendesah, “Aahhh… mmm… ouchhh… sssh… Denn.. kamu membuat akuu… ahh….” Kulanjutkan ke susunya, kulumat kedua putingnya pakai mulut. “Ahhh… ouhhh… shh… Dennyy… oooo… kamu memang nakal baby, yeahhh… ahhh…” Terus kubuka rok spannya dan CD-nya, langsung kuturun ke pangkal pahanya. Kujilat habis kemaluannya dengan rakus. “Aahhh… stop Dennyyy… akan kuberikan gaya favoritku kepadamu”, katanya. Padahal sudah basah liang kemaluannya. Sepertinya dia sudah terangsang berat. Langsung saja kulepaskan celana jeans-ku, dan kemudian Jesicca pun membantu melepaskan CD-ku sambil memegang batang kemaluanku yang 7 inchi.

“Kemaluan yang bagus”, katanya sambil meremas batanganku yang sudah tegang berat. “Coba kamu duduk di kursi ini sayang”, katanya. Aku pun duduk dan terus dia duduk di atas kedua pahaku. Wah asyik juga nih kayaknya. Terus dia memegang kemaluanku yang sudah tegang berat dan dia arahkan ke dalam lubang kemaluannya dan dia pun duduk di atasku, blesss… kemaluanku pun masuk ke dalam liang kemaluan Jesica. Dia lalu menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun. “Ouchhh… yeahh… mmm… oohh… ohhh… ini seperti naik kuda saja, Denny”, katanya. “Aakkhh… oukkkhh.” Aku pun mengimbangi dengan menaik-turunkan pinggulku. “Mmm… akhhh… ssshhh… ukhhh… akh… Denyy… ukhh… yeajjhhh… yeahhh… oukhhh…” Tiba-tiba saja Jessica teriak-teriak tak keruan dan tak lama kemudian… “Dennyy… aku keluaaaarrr…” terasa panas cairan menyembur dari lubang kenikmatan Jessica dan tanpa kulepaskan masih saja kukocok lubang kemaluan Jessica dengan batang kemaluanku. “Yeah… ouchhh Dennyyyyy… tolong berhenti Denny… akhhh… ouchhh…” masih tetap saja kukocok. Malahan tambah kencang frekuensinya. “Tolong… hentikan sayang akkhh… akhh…” Tanggung nih pikirku. Tiba-tiba saja Jessica meronta dan karena sudah diambang klimaks. Begitu Jessica mencabut cengkeraman liang kemaluannya pada batang kemaluanku, langsung saja cairan sperma yang sudah di ujung kepala keluar semua. “Oouchh… baby…” langsung saja mulut Jesicca menyambar kepala kemaluanku dan dilumatnya habis cairan di kepala kemaluanku.

Tiba-tiba saja Selly terbangun, “Dennyy… Dennyy…” aku dan Jessica kaget bukan main. Untungnya aku bisa mengatasi keadaan yang sangat gawat ini.
“Ada apa sayang? enak ya tidurnya”, kataku tanpa dosa. Untunglah Selly dapat memahami keadaan ini.
“Denn… siapa tuh?” tanyanya, dan Jessica pun masih dengan telanjang bulat mendekati Selly dan berjabat tangan.
“Jessica”, katanya.
“I’m sorry… udah ganggu tidurmu ya?” kata Jessica.

Tanpa berkata apa-apa, Selly malah langsung menciumi Jessica. Wah nggak aku sangka, ternyata si Selly ini biseks dan Jessica mungkin karena terbawa oleh Selly juga mengikuti saja. Kedua wanita itu pun terhanyut dalam permainannya. Aku dari sofa cuma mangamati permainan mereka. Selly kemudian menciumi seluruh leher Jessica dan Jessica pun meraba pantat Selly. Kemudian Selly mencium dan menjilati buah dada Jessica. “Ohh… uchhh… ssshh”, hanya kata itu yang mencuat dari mulut Jessica. Kemudian Selly pun turun ke perut Jessica dan kemudian menjilati dengan rakusnya. Tak lama kemudian Jessica rebah di atas spring bed dan kakinya diletakkan di lantai. Selly kemudian menciumi seluruh permukaan kemaluan Jessica mulai dari bibir-bibirnya. “Kamu memang pemain yang hebat sayang, mmmm… ukhh… sss…” kata Jessica. Selly pun mulai menjilat-jilat dan mengaduk isi kemaluan Jessica tanpa kompromi. Dengan lidahnya dia mulai merangsang seluruh syaraf yang ada di vagina Jessica dan dengan reflek pinggul Jessica pun bergerak-gerak ke atas dan ke bawah mengimbangi jilatan-jilatan yang menimpa pada pangkal pahanya.

“Aahh… uhhh… yess… ohss… babyy…” jerit Jessica saat Selly menjilati klitorisnya dan menggigit-gigit klitorisnya pelan-pelan. Tampak terlihat kemaluan Jessica bertambah basah saja. Tak lama kemudian mereka pun berhenti dan melihat ke arahku. “Wah gawat, bisa jadi pejantan buat mereka berdua nih”, pikirku khawatir.
“Hey Denny… mau gabung?” tanya Selly sambil tersenyum nakal.
“Ah nggak… aku liat aja…. udah capek”, jawabku.
Mereka pun melanjutkan aksinya. Sekarang kayaknya mereka mau 69. Eh tapi tunggu dulu, ternyata Jessica mengambil tas hitamnya di atas meja dan mengambil sesuatu. Oh ternyata dia bawa vibrator yang berbentuk batang kemaluan. “Hi… Selly… kamu akan lebih nikmat dengan alat ini”, kata Jessy sambil memberi vibrator ke Selly.

Kemudian Jessica pun kembali duduk di sampingku. Terlihat Selly langsung menghidupkan vibrator tersebut dan memasukkannya ke dalam liang vaginanya. “Aahhh… ohhh… ujhhh…. ssss…” jerit Selly kesenangan dengan mainan barunya. “Hai Jessy… mainan ini bener-bener dahsyat shhhhh… ohhh”, katanya sambil merem-melek. Jessica pun tersenyum di sampingku sambil mengelus-elus batang kemaluanku yang sudah tidur. “Lebih dahsyat pake ini…” sahut Jessica. Wah diperlakukan demikian tentu saja kemaluanku bangkit lagi.

“Mau lagi Denn?” tanya Jessy.
“Tidak!” jawabku.
“Sure?” katanya sambil mulutnya turun mendekati batang kemaluanku dan dia pun nmenjilat-jilat biji kemaluanku dari bawah ke atas. “Please relax Denny”, aku pun sambil tiduran menikmati jilatannya. “Ahhh… ouckhh… shhh… aku hampir keluar Jessyyy…” jerit Selly saat dia mencapai orgasme dengan vibrator. Jessy pun sudah nggak menghiraukan jeritan Selly. Dia sudah asyik dengan kemaluanku dan dia mulai menjilati kepala kemaluanku dan memainkan lidahnya di ujungnya. Hal ini membuatku sangat geli dan nikmat. “Jessyy… ssshhh, uch…” dan Jessy pun mulai memasuk-keluarkan batang kemaluanku di kerongkongannya dan setelah 10 menit acara kulum batang kemaluan, aku pun menjerit, “Jessyy… aku mau keluaarrr…” dan air maniku pun bercucuran di muka Jessy. “Ah enak sekali”, kata Jessy sambil tersenyum genit. Akhirnya kami bertiga pun tertidur. Sampai akhirnya sekitar pukul 6 pagi terbangun dan kami beriga kembali ke tempat masing-masing.

TAMAT

Cerita Antara Kita 7:39 am

Kalau ada orang yang benci pada dirinya sendiri, barangkali aku adalah orangnya. Aku sungguh benci pada tubuhku, wajahku, rambutku dan semuanya. Ya…, perasaan itu semua timbul karena segala kelebihan yang kumiliki justru mengancam diriku sendiri. Berkali-kali jiwaku terancam karena mereka ingin memperkosaku.

Yang Jebih mengherankan adalah mereka bukanlah orang lain, melainkan orang-orang yang aku kenal. Orang yang sangat dekat dengan diriku. Sungguh memalukan.

Sampai sekarang aku masih terus memikirkan mengapa orang-orang di sekelilingku ingin memperkosaku. Ya ayah kandung, ayah tiriku, dan paman. Entah mengapa mereka begitu bernafsu melihatku. Padahal mestinya mereka jadi pelindungku. Aku hampir tak percaya akan semua ini. Begitu berat beban yang harus kupikul sehingga aku hampir bunuh diri. Kupikir hanya itu jalan satu-satunya untuk keluar dan persoalan ini.

Beruntunglah saat aku mengambil pisau dapur ketahuan paman. Saat itu juga aku dicegah untuk tidak melanjutkan niatku. Aku terksiap begitu dibentak paman, “Apa kamu sudah gila ya?” Mendengar itu aku cuma bisa menangis, tak kuasa berbuat apa-apa. Rasanya segala yang kuperbuat serba salah.

Waktu itu aku memang ikut paman, setelah ayah dan ibu bercerai. Aku berpikir dengan ikut paman akan lebih aman. Tidak berpihak kepada ayah maupun ibu. Biarlah paman Sebagai pengganti orang tuaku.

Di rumah itu aku diberi kamar sendiri. Kebetulan paman dan bibi tidak punya anak. Hitungannya aku ini sebagai anak angkatnya. Mugkin karena itu aku sangat diperhatikannya, meski aku diambilnya ketika usiaku sudah menginjak remaja, 16 tahun.

Hari-hari pertamaku tinggal bersamanya dengan penuh keceriaan. Akupun mulai lupa dengan persoalan ayah dan ibu. Kupikir tak ada gunanya aku ikut memikirkan persoalan mereka, toh aku sudah dewasa.

Dalam sehari-hari aku memang tergolong gadis yang lincah. Dalam berbusana aku paling suka dengan rok mini. Mungkin karena aku senang menampakkan kelebihanku pada paha dan kaki yang putih mulus. Ditambah tubuhku yang ramping dan padat berisi. Dengan tinggi badan 167 cm dan berat 48 kg, ditunjang dengan kesempurnaan payudaraku yang berukuran 36C memang membuat banyak pria yang tertarik bahkan tergila-gila pada diriku.

Sungguh aku tak menyangka jika kesempurnaan penampilanku yang seperti itu malah menjadi bumerang. Memang banyak pria kemudian tergoda melirikku. Tapi yang tidak kusangka sama sekali kalau bahkan pamankupun ikut tergoda.

Malam itu aku tidur tanpa sempat ganti baju. Tidak biasanya aku memang ganti baju. Hanya kalau ingin saja, aku ganti baju tidur. Saat tidur itulah rupanya aku lupa mengunci pintu kamar. Aku baru terbangun ketika kurasa ada tangan nakal mengusap-usap pahaku. Betapa aku terkejut, ternyata yang ada di sisi tempat tidurku adalah pamanku sendiri. Aku terpekik, tapi seketika itu juga tangan paman membekap mulutku.

Dengan penuh harap aku memohon agar paman tak melanjutkan niatnya. Pamanpun memohon maaf dan menyatakan kehilafannya. Kuakui istri paman memang tidak begitu cantik. Ia juga tak begitu pintar merawat diri, sehingga tubuhnya yang gemuk dibiarkan begitu saja. Dalam berpakaian sekenanya, paling banter pakai daster lusuh atau kaos oblong. Kupikir-pikir memang, kok mau-maunya paman sama bibi. Apa tidak ada wanita lain, kata batinku.

Aku tak menyalahkan kalau kemudian paman melirik wanita lain, yang tidak kumengerti karena wanita yang dipilih adalah aku, kemenakannya sendiri. Untuk beberapa hari aku masih terus berpikir, jangan-jangan paman akan mengulangi perbuatannya lagi. Itu makanya setiap tidur aku tak bisa nyenyak. Kadang-kadang tengah malam aku terbangun, hanya khawatir paman tiba-tiba masuk kamarku.

Setelah kupikir-pikir, akhirnya kuputuskan untuk keluar dari rumah paman. Daripada tiap hari hatiku tak tenang. Sebenarnya bibi sempat bertanya-tanya tentang keinginanku itu. Apalagi aku masih sekolah, saat itu kelas 2 di sebuah SMU Negeri di Surabaya. Tapi dengan alasan aku kangen pada ayah, dia pun melepaskanku. Pamanku sendiri memaklumi, bahkan masih sempat minta maaf berkali-kali padaku. Rupanya dia sangat menyesali perbuatannya.

Selanjutnya aku memang pergi ke rumah ayah di Bali. Aku sudah tak ingat dengan sekolahku. Pikirku yang penting bagaimana bisa terbebas dari rasa takut. Aku berharap dengan ikut ayah hatiku bisa tentram. Sejak pisah dengan Ibu, ayah memang tinggal di sana karena alasan dagang. Ternyata ayahku sudah menikah lagi dengan seorang gadis asal Kalimantan. Ayahku sendiri berasal dari Sunda.

Aku lebih memilih tinggal bersama ayah karena ibuku telah menikah lagi Bahkan ibu telah menikah untuk kedua kalinya. Yang terakhir dia menikah dengan seorang pegawai negeri.

Ketika melihat aku datang, ayah sangat senang. Kebetulan dari pernikahan dengan gadis Kalimantan itu, ayah belum juga dikaruniai anak. Jadilah aku dijadikan anak yang manja. Bagi ibu tiriku juga tak masalah. Dia menganggapku sebagai adiknya, kebetulan dia masih sangat muda, usianya sekitar 30 tahun.

Di rumah ini pun aku mendapatkan sebuah kamar. Hari-hariku boleh dikata lebih banyak bersama ibu tiri. Itu karena ayah terlalu sibuk dengan usahanya di luar. Aku hanya bertemu ayah ketika terlambat tidur, atau pagi sekali sebelum dia berangkat kerja.

Sekali waktu aku sudah tertidur pulas ketika ayah datang. Saat itulah ayah masuk ke kamarku yang hanya ditutup kain gorden. Lagi-lagi kejadian serupa yang dilakukan paman terjadi. Aku terbangun ketika ayah sedang asyik mengusap-usap pahaku. Saat itu aku memang sedang mengenakan rok mini. Mungkin ayah sangat terangsang saat menatap rokku yang tersingkap. Aku tak menyangka sama sekali jika ayah bisa berbuat seperti itu. Tidakkah ia ingat bahwa aku ini anaknya, darah dagingnya.

Mengapa dia mesti berbuat seperti itu kepadaku. Toh dia sudah punya istri. Apalagi istrinya juga tidak jelek-jelek amat dan masih muda. Tapi itulah manusia, ketika sudah dikuasai nafsu, akal sehatnya pun hilang. Andai saja aku tak terbangun, entah apa yang terjadi. Mungkin aku sudah ditindihnya. Rupanya Tuhan masib menyayangi diriku. Sejak kejadian itu pikiranku kembali kalut. Kadang-kadang aku berpikir betulkah aku ini anak kandungnya. Jangan-jangan aku cuma anak angkatnya, Sebab kalau memang aku anak kandungnya, mengapa ayah, paman tak melihat aku sebagai bagian dari dirinya.

Seperti ketika paman hendak memperkosaku, akupun berkali-kali menyadarkan ayahku. Aku meminta agar ayah sadar. “Sadarlab pak! Ingat aku ini anakmu masak tega menodai..”, kataku setengah berbisik karena takut terdengar ibu tiriku. Untunglah ayah tak memaksa, dan dia pun minta maaf atas apa yang baru ia lakukan.

Esok harinya kami berusaha bersikap seperti biasa, seakan tak terjadi apa-apa. Ayah pun segera berangkat, sepertinya dia sangat malu atas kejadian semalam. Tinggalah aku merenung. Aku lebih banyak berdiam di kamar dengan pura-pura membaca majalah. Padahal hatiku sangat gelisah.

Tidak lama setelah kejadian itu, akhirnya kuputuskan kembali ke Surabaya. Kupikir biarlah aku hidup bersama ibu dan ketiga adik-adikku Selama ini, tiga adik-adikku itu, 2 laki-laki dan seorang perempuan, memang ikut ibu. Barangkali dengan hidup di rumah yang banyak orang aku terhindar dan tangan-tangan jahil. Aku yakin bahwa di rumah ibu lebih aman, apalagi ayah tiriku usianya sudah 50 tahun. Jadi tak mungkin dia macam-macam. Aku juga sekamar dengan adik-adikku.

Sejak saat itu aku juga mulai menjaga penampilanku. Aku tak lagi senang memakai rok mini meski itu menjadi busana favoritku. Tapi barangkali sudah suratan nasibku harus jadi korban kebiadaban. Aku tak habis pikir ada apa sebenarnya ditubuhku sehingga bisa memancing hasrat para lelaki untuk memperkosaku.

Hari ini, siang hari, ketika adik-adikku pada sekolah dan ibu ke pasar. Tiba-tiba saja ayah tiriku yang biasa kupanggil abah sudah mendekapku dari belakang. Belum sempat aku bertanya, dia sudah membalikkan tubuhku dan mendorongku ke tempat tidur. Dalam posisi berhadap-hadapan, akhirnya aku berusaha lepas sambil mengingatkannya. Aku memohon pada abah agar dia tak melakukannya. Pada saat-saat genting itulah ibu datang dan menyelamatkan diriku.

Aku langsung keluar dan mengadu pada ibu. Di pangkuannya aku menangis sejadi-jadinya. Mengetahui kejadian itu, ibu sangat marah. Tapi rupanya abah sudah pergi meninggalkan rumah. Sejak saat itu ibu mewanti-wanti. Ia bilang kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan mengatakannya.

Entah sudah berapa hari abah tidak pulang, tapi yang kutahu kemudian Ibu mencaci maki abah ketika kembali ke rumah. Abah rupanya sadar dan minta maaf berkali-kali kepada Ibu. Ia juga memanggilku kemudian minta maaf atas perbuatannya. Aku dan Ibu akhirnya berangkulan dan bertangis-tangisan. Kulihat abah hanya menunduk lesu di kursi. Barangkali juga menangis.

Sejak kejadian itu aku betul-betul dibuat bingung. Mau pergi, tapi mau kemana lagi. Sepertinya aku lolos dan mulut singa, tapi masuk mulut buaya. Akibat kejadian demi kejadian, aku jadi takut dekat laki-laki. Setiap ada laki-laki yang ingin mendekat, aku jadi curiga. Aku betul-betul trauma, tak tahu harus bagaimana menghadapinya.

Berhari-hari aku merenung, tapi ibu terus membesarkan hatiku agar tabah menghadapi cobaan ini. Yang penting belum terjadi kan? Percayalah untuk kedua kalinya takkan terulang lagi. Imi akan menjagamu Nak”, kata ibuku memberi keyakinan. Untuk tidak menambah kalut pikiran ibu, akupun mengurungkan niatku untuk menceritakan kejadian sebelumnya. Sampai sekarang dia tak tahu kalau sebenarnya percobaan perkosaan ini sudah untuk ketiga kalinya menimpa anak gadisnya. Pikirku biarlah masalah ini kupendam sendiri, yang penting kegadisanku masih utuh. Aku hanya berharap jangan sampai terulang lagi.

Hari-hari selanjutnya kucoba menenangkan diri sambil terus memperbaiki sikapku. Aku juga mulai mengisi hari-hariku dengan kesibukan. Daripada tidak Sekolah, aku ikut kursus komputer dan Bahasa Inggris. Bukan itu saja, diwaktu-waktu senggang aku masih sempatkan ikut fitnes, meski hanya sekali atau dua kali seminggu. Sungguh, dengan ikut fitnes itu tubuhku makin tampak padat berisi dan kata teman-teman aku tambah cantik. Tapi walaupun begitu aku jarang sekali memakai rok, apalagi rok mini. Aku lebih suka memaka celana panjang dengan baju yang tertutup.

Abahku juga rupanya sudah menyadari kesalahannya dan tak pernah lagi melirik-lirik diriku. Mungkin takut sama ibu. Mereka berdua tampak lebih sibuk mengurusi tokonya yang selalu ramai dengan pengunjung.

Disaat-saat aku mulai tenang, timbul masalah-masalah baru dalam hidupku. Dua orang paman tiriku, saudara abah tiriku sama-sama mencintaiku. Pamanku itu kakak beradik, tapi hatiku berkata lebih senang adiknya. Bukan saja usianya yang lebih pas dengan usisiaku, tapi juga wajah adiknya lebih ganteng.

Rupanya mereka berdua, sebut saja Paman A dan Paman B saling bersaing ketat untuk merebut hatiku, meski di antara mereka tak saling tahu. Entah mengapa aku begitu sulit menolak ajakan mereka. Makanya ketika A membelikan cincin atau keperluan lainnya, akupun menerimanya saja. Padahal Jujur kukatakan aku tak begitu suka dengannya. Kepada B aku suka, tapi sayang terlalu pecemburu. Aku khawatir terjadi apa-apa di antara mereka.

Pada saat bersamaan aku berkenalan dengan Kus, seorang rnahasiswa sebuah PTS di Surabaya. Pemuda ini cukup terpelajar, akupun senang. Herannya, yang mengenalkan Kus kepadaku adalah paman B. Mereka adalah teman akrab. Aku betul-betul dibuat bingung oleh ketiga laki-laki ini. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan. Kus sendiri mengaku telah punya tunangan. Tapi katanya dia lebih mencintai aku.

Dalam usia 19 tanun sekarang sebenarnya aku juga sudah kepingin kimpoi. Tapi siapa di antara ketiga laki-laki itu yang layak kupilih? Dengan A atau B tidak mungkin, sebab bagaimanapun dia adalah pamanku, meski hanya paman tiri. Dengan Kus aku masih ragu, walaupun seandainya disuruh memilih aku pilih dia.

Dalam kebingunan, rasanya aku ingin pergi jauh untuk menenangkan diri. Aku ingin kerja, meski itu di luar negeri sekalipun. Tentu pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan yang kumiliki. Tapi dimana?

TAMAT

Cerita Bersambung 7:30 am

“Mah, papa ikut anak anak balik ya. Bali baru saja nelpon papa dan minta rapat mendadak” ujar Papa lewat handphone.

“Iya Pah, bye” sahut mama sambil mematikan speaker phone 9300 nya, lalu mematikan handphone.

Akhirnya Mama meminta kami mengenakan pakaian. Kamipun segera berhamburan ke perpustakaan di sebelah rumah.

“Aduh mbak, gimana nih. Kontolku masih tegang dan retsleting celana nggak bisa ditutup” sahutku memelas pada mbak Fani.

Mbak Fani berusaha membetulkan posisi kontolku yang tidak bisa ditutup oleh celana tersebut, namun tetap saja tak bisa ditutupi oleh celana ataupun kaosku. Mbak Fani pun keluar perpustakaan, dan tak lama kemudian kembali menghampiriku.

“kata mama, pas papa pulang kamu ngumpet aja di kamar Inem. Kamu disuruh nunggu, sampai papa berangkat ke bali. Mama mau ngomong sama kita semua. Tenang aja, papa nggak pernah keruang belakang tempat kamarnya Inem kok.” ujar mbak Fani sambil sesekali mengocokkan kontolku dengan tangan kanannya.

Tepat pukul 20.00 WIB papa dan semua sampai dirumah, namun sejak jam 19.00 WIB aku telah diminta menunggu di kamar Inem. Aku sendirian di kamar Inem yang berukuran 3x3 m itu. Kunyalakan radionya Inem, dan tanpa sadar aku tertidur. Tepat pukul 23.00 WIB aku dibangunkan oleh Inem.

“Den, dipanggil ibu di ruang tengah tuh” sapa Inem ketakutan.

Kulihat kontolku, masih saja mengacung dan keras. Aku kebingungan dengan hal yang satu ini. Sambil berusaha membetulkan kontolku, tiba tiba Inem mesem mesem dan berkata: “Aduh Den, jangan harap jadi kecil sebelum 2 hari. Dulu aja mas Ivan supir bapak sampai cuti 2 hari karena kontolnya dibuat keras seperti ini sama mbak Fani ”.

“Ya sudahlah Nem, ditutup sama kaos saja” sahutku kebingungan.

Kamipun menuju ruang tamu. Semua tertunduk malu, sedangkan mama hanya termenung melihat semua anak gadisnya. Aku dan Inem dipersilahkan duduk oleh mama, namun semua anak gadisnya masih saja tertunduk. Kamipun diinterogasi oleh mama. Satu persatu menangis, termasuk mama. Karena tak bisa lagi menahan amarah, akhirnya mama berteriak dengan keras: “SUNDALLLLL……………”
Suasana ruangan menjadi semakin hening dan mencekam. Mama memandangi kontolku yang masih menonjol namun setengah tertutup kaos.

“itu kamu kenapa”? Tanya mama sinis sambil menunjuk kontolku

Aku hanya terdiam tak bisa menjawab, hingga akhirnya mbak Fani angkat bicara, diikuti lirikan Indah dan Evi. Mendengar penjelasan mbak Fani, Indah berusaha menutup mulutnya karena tertawa.

“kamu jangan cengengesan Ndah” ujar mama marah kepada Indah.

Mama pun meminta satu persatu anak gadisnya menjelaskan semua yang terjadi. Mulai dari Evi, Indah, Mbak fani, bahkan Inem. Mama nampak kaget mendengar penjelasan mereka yang lebih spesifik itu.

“Jadi, kalian ini benar benar maniak seks ya. Mama sedih sekali mendengar dan melihat ini semua” ujar mama sambil meneteskan air mata sekali lagi.

“Baiklah kalau demikian. Mama mau keluar sebentar, dan jangan ada diantara kalian yang melakukan itu lagi. Semuanya tidur dikamar masing masing”. Ujar mama sambil menarik tanganku ke ruangan belakang, lalu memintaku masuk dikamar Inem, kemudian mama keluar sambil mengunci pintu kamar dari luar.

Tepat jam 01.00 pagi mama membangunkan aku yang tertidur pulas di kamar Inem. Lagi lagi aku melirik kontolku yang masih mengacung dan keras.
Mama mengajakku ke ruang makan, dan mempersilahkanku menikmati makanan yang telah disajikan di meja. Mama pun memanggil semua anak gadisnya. Selesai makan, kami kembali diminta ke ruang tamu. Mama meminta kami semua duduk di karpet, sedangkan mama duduk diatas sofa. Kami semua kaget, karena saat itu mama melepaskan jilbabnya. Ah, cantik sekali mama jika tanpa jilbab. Terpampang tulang pipinya yang sexy, kulit putihnya, dan payudaranya yang seperti pepaya. Biasanya tetek itu tertutup jilbab, namun akhirnya dapat terlihat dengan jelas dibalik bajunya yang ketat. Mama pun melepaskan kacamatanya, jam tangannya, lalu menyilangkan kakinya dan kemudian menepukkan tangannya dengan keras beberapa kali. Tiba tiba dari teras depan masuk seorang laki laki dan perempuan yang telah telanjang bulat dihadapan kami.

“Saya meminta kalian menari dan bermesraan dihadapan kami, namun jangan sekali kali menjamah satu orangpun dari kami. Silahkan dimulai” ujar mama ketus kepada kedua orang tersebut.

Kami semua tertunduk malu. Tiba tiba dengan suara lantang mama meminta kami memperhatikan sepasang kekasih yang meliuk liukan tubuhnya sambil sesekali berciuman mesra. Setelah 30 menit berlalu, aku melihat posisi duduk masing masing kami yang mulai berubah ubah karena memperhatikan kedua orang yang bermesraan di depan kami. Tanpa sadar, Indah terlebih dulu memberanikan diri memegang payudara kanannya. Memutarnya, meremasnya, dan sesekali berganti ke payudara kirinya yang masih terbungkus kaos, namun tak memakai BH. Evi hanya bengong, sambil sesekali menatap kami satu persatu. Lain halnya dengan mbak Fani, ia hanya menatapi mama dengan muka penuh kebingungan.

“Kenapa kamu Fani. Nggak usah pura pura alim lah. Perhatikan saja mereka, dan lakukan seperti yang kamu biasa lakukan” tantang mama dengan nada sinis kepada Fani.

Tidak tau karena kesal dengan amarah mama, atau karena sudah horny, namun tiba tiba saja mbak Fani meraih kontolku,mengocoknya perlahan lahan sambil melirik takut ke mama. Evi memperhatikan aku dan mbak Fani, sedangkan Inem dan Indah masih terus memperhatikan kedua orang yang menari dan bermesraan dihadapan kami. Aku mulai melihat Indah mulai memasukkan tangannya lewat bawah kaos untuk memegang teteknya.

“Ayo, kok kalian hanya segini aja? Katanya maniak seks”? ujar mama ketus

“Sekarang buka baju kalian semua” tambah mama dengan suara lantang

Kami bingung mendengar ucapan mama. Kami pun saling pandang menandakan kebingungan dengan perintah mama tersebut.

“Ayo buka bajunya semua” kata mama dengan tegas sekali lagi.

Kamipun mulai melepaskan pakaian kami satu persatu, hingga akhirnya semua berbugil ria. Yang membuatku bingung adalah 2 buah bekas kecupan di payudara Evi. Seingatku, aku tidak pernah membuat “duatanda mata” itu di payudaranya. Ah, sudahlah pikirku. Tiba tiba penari lelaki bertanya pada mama: “kok tante nggak ikutan bugil”

“Kurang ajar kamu. Kamu saya bayar untuk menari, bukan nasehati saya” ujar mama marah sambil kembali memerintahkan kami untuk saling pegang pegangan.

Karena Evi dan Inem masih saja bengong, akhirnya mama minta Inem meraba raba Evi. Evi pun kaget, namun nampak menikmatinya. Mama memanggilku sambil membuka plastik yang ada di meja. Mama mengeluarkan salep, obat obatan dan air mineral. Mama mengolesi ujung pahaku dengan salep, dan mengurutnya lembut. Sesekali kuperhatikan pandangan liar mama ke kontolku, namun ketika aku memperhatikan, mama segera membuang muka. Aku disuruh duduk di sofa oleh mama, dan Inem dan semua anak gadisnya meminum pil yang diberikannya. 20 menitan kami disuruh duduk terdiam di sofa, dan mama memberikan segepok uang kepada pasangan penari tersebut dan mempersilahkan mereka berpakain dan pulang. Setelah menerima uang, dengan nakalnya penari pria meremas tetek mama dan kemudian berlalu bersama pasangannya.

“bangsat” kata mama berteriak diikuti gelak tawa kami semuanya.

Aku terheran, karena kontolku tiba tiba berubah warnanya menjadi kemerahan, dan aku seperti merasakan kekuatan baru di tubuhku. Disisi lain, aku melihat duduk Inem dan para anak mama yang seperti orang gatel.

“Sebentar lagi ya” kata mama misterius sambil mesem mesem.

“Mah, aku pengen ke toilet nih” ujar mbak Fani, diikuti Inem, Indah dan Evi. Semua anak perempuan mama berhamburan ke toilet.

“Kalau lihat saya, kamu terangsang nggak” Tanya mama padaku ketika ditinggalkan oleh semua putrinya dan pembantunya.

Aku hanya bisa terdiam dan tertunduk. Saat tertunduk, aku seperti kaget melihat urat kontolku yang membesar di sekitar batangnya.

“Kenapa, bingung ya lihat itu kamu jadi seperti itu”? Tanya mama dengan nada sinis, sambil menunjuk kontolku.

“Sini ditambahin, biar semakin besar lagi” sahut mama.

“kesini kata saya” teriak mama sekali lagi.

Mama mengambil salep itu lagi, kemudian mengoleskannya di kepala kontolku. Kepala kontolku terasa dingin setelah diolesi salep itu. Kemudian mama memintaku meminum kapsul. kapsul itu berwarna coklat dan putih. Setelah itu mama mempersilahkanku duduk. 5 menit kemudian, aku terasa ingin pipis juga, hingga akhirnya aku pamit ke toilet. Mama hanya mengangguk mempersilahkan.
Sesampainya di toilet, aku kaget juga melihat Inem yang sedang dijilati, dikobel kobel memeknya, dihisap putingnya, diraba raba perutnya secara berebutan oleh Indah, mbak Fani dan Evi. Karena mereka tidak melihatku, akhirnya aku memutuskan pipis di kamar mandi belakang. Di kamar mandi aku memperhatikan kontolku yang sangat keras dan berurat urat, berwarna merah padam, dan bagian kepalanya menjadi lebih besar dari biasanya. Apa ini, pikirku bingung? Akupun seperti merasakan dorongan seksual yang hebat sekali, dan tanpa sadar mengocokkan kontolku sendiri secara perlahan.

“Kenapa pipis disini” kata mama lembut, namun membuatku kaget.

Mama memegang kontolku erat erat, dan menariknya seperti menarik belalai gajah. Karena tak bisa mengendalikan diri, aku memberanikan diri meremas pantat mama yang mulai turun itu.

“Kamu jangan kurang ajar ya” ujar mama sambil melepas kontolku dan menamparku.

Kali ini mama menarik tanganku, namun lagi lagi aku tak bisa mengendalikan dorongan seksual yang begitu luar biasa, hingga kali ini aku memberanikan diri meremas payudara kiri mama dari samping.

“Kamu ini memang bandel ya” sahut mama sambil menamparku sekali lagi.

Mama pun memintaku mengikutinya. Rupanya mama telah meminta semua putrinya dan Inem ke kolam renang di samping rumah. Alangkah kagetnya aku kali ini, karena kali ini aku melihat mbak Fani telah menjilati memek Evi dengan buasnya. Indah menghisap tetek Inem sambil meraba raba memek Inem.

“Lihat buasnya mereka semua. Saya tidak menyalahkan kamu karena telah menggauli mereka semuanya. Ini memang salah saya” kata mama sambil meneteskan air mata

“Ini kali terakhir kamu main dengan tiga putriku, karena saya akan bawa mereka ke Sydney dengan saya untuk menetap disana. Saya juga telah memberitahukan ini dengan mereka. Jadi, kali ini nikmati saja sepuasnya” ujar mama tegas.

“Kalau gitu, aku boleh dong gituan juga dengan mama” sahutku memberanikan diri.

Aku memang tergiur untuk menikmatinya, sejak ia membuka jilbabnya dan memperlihatkan tetek pepayanya yang sampai saat ini masih tertutup baju ketatnya. 10 menitan aku tidak mendapatkan jawaban. Akupun tak berani lagi meremas atau memegang mama, karena takut ditampar lagi.

“Saya tetap tidak mau. Kenapa sih nafsu lihat saya? Sana, main saja dengan mereka semua” ujar mama.

Tiba tiba semua putrinya dan Inem menghampiri aku dan mama. Tanpa malu malu, mbak Fani langsung memegang kontolku. Indah meraba raba pantat mbak Fani, dan Evi berciuman sangat mesra sambil mengadu lidahnya dengan Inem. Aku melupakan mama, dan menikmati sensansi yang sangat baru dan luar biasa ini.

“Den, Inem mau dong dimasukin” sahut Inem memelas.

“Enak aja kamu Nem, aku dulu ya sayang” sahut Indah sambil memasukkan memeknya di kontolku

“Auuuwwww….kok jadi besar begini sih say” kata Indah sambil terus berusaha memasukkan kontolku kememeknya.

Mbak Fani berdiri dibelakangku, kemudia meminta Evi mendorong tubuh Indah supaya terdorong kuat. Sedangkan Inem jongkok di antara kontolku dan memek Indah sambil berusaha menjilatinya.

“Ahhhhhh…. Dorongnya pelan pelan dong Vi” ujar Indah kepada Evi yang mendorongnya dari belakang.

Karena merasa terlalu lama, mbak Fani membalikkan badanku kehadapannya dengan kasar. Mbak Fani menggenggam kontolku dengan keras, mendorongku ke tembok dekat pintu, lalu mendorong tubuhnya dengan kuat untuk memaksa kontolku yang besar masuk ke memeknya.

“akkkkhhhhhh…….besar amat sayang” teriak mbak Fani sambil terus memutarkan pantatnya, mendorong, memutarnya, mengangkat kaki kanannya sedikit, hingga akhirnya kontolku terbenam sepenuhnya di memeknya. Mbak Fani menarik tubuhnya perlahan lahan, mendorongnya, menariknya, hingga membuat kami merasakan kenikmatan.

“Terusss mbbb….akkkk…..” sahutku lembut

“mmmm…..ayo sayang…..” seru Evi menjilati kontolku dari bawah.

“creeettttttt….” Kontolku membasahi memek mbak Fani dan mulut Evi. Aku langsung berjalan menuju Indah, kuhujamkan kontolku dengan kasar di memek Indah.

“Ahhhh sayang….ennna kkkkk ….ennnakkk ….”ujar Indah terbata bata

“Ayo sayang ….mmmm” sahutku pada Indah sambil memutar mutar kontolku dengan cepat.

“Akhhhhhh……….enakkkk” kata Indah sambil terkulai lemas dipundakku.

Akupun mencabut kontolku dari memek Indah, dan meminta Evi menungging. Kuludahi pantat Evi, kucolok pantatnya dengan perlahan, lalu kusodokkan kontolku dipantatnya.

“Ahhhhhhh kakakkakakkk..kkkk…kakkk….sakitttttt” teriak Evi.

Aku tak memperdulikannya lagi. 3 menit aku bermain di pantat Evi dengan buas, hingga akhirnya kumuncratkan maniku di pantatnya. Maniku menetes keluar bercampur darah dari pantatnya. Lalu kucabut kontolku dan duduk di kursi. Evi nampak kesakitan dengan pantatnya, hingga mbak Evi melap pantat Evi, kemudian menjilatinya dengan rakus. Inem menghampiriku, dan tanpa permisi memasukkan kekontolku ke memeknya. Inem menggoyangkan memeknya dikontolku. Inem memutarnya, menaikkan, menurunkan hingga gerakannya semakin cepat. 5 menit Inem menggoyangku, lalu berkata: “kalau mau keluar, bilang ya den”

Aku tidak mempertanyakan alasan Inem yang memintaku memberitahukannya jika ingin keluar, hingga akhirnya aku mulai merasa ingin memuntahkan maniku.

“sekarang mau keluar Nem” sahutku cepat, dan Inem memperlambat gerakannya.

“Mbak Indah sini” panggil Inem kepada Indah yang sedang asyik menjilati memek Evi dan mbak Fani secara bergantian.

Tangan kiri Inem menuntun Indah jongkok bersamanya didepan kontolku sambil tangan kanannya mengocok kontolku dengan cepat.

“cretttt…..” berceceranlah maniku dimuka Indah dan Inem.

Indah dan Inem menarikku dan menghampiri mbak Fani dan Evi yang sedang asyik memainkan lidah mereka sambil saling meremas tetek. Setelah menghampiri mereka, Indah berbisik pada mbak Fani, Evi dan Inem, hingga akhirnya mereka berempat duduk berderet dan mengangkang membuka memek mereka. Indah memberikan komando, agar aku mengentoti kami satu persatu secara bergantian mulai dari yang paling kiri.
Aku mulai memasukkan kontolku di memek Evi. Tangan kanan Evi merangkul pantatku, seakan memaksaku menghujamkan kontol dalam dalam

“ayo kakak, lebih cepat lagi” ujar Evi bernafsu

Kuayun kontolku dengan cepat dimemek Evi, namun tiba tiba Indah menarik tanganku, meraih kontolku, memasukkannya ke memeknya, namun kali ini indahlah yang menaik turunkan memeknya.

“Ahhhhh…..sayang, kamu sodok juga dong” ujar Indah memelas.

Aku mengeluarkan mani dimemek Indah di menit kelima, lalu mbak Fani menarikku dan ia membalikkan badannya, menungging, lalu memintaku memasukkan kontolku ke pantatnya. Kepala mbak Fani tertempel ke tanah, sedangkan kedua tangannya mengempit pantatnya yang telah menjepit kontolku. Kusodok pantat mbak Fani dengan kasar hingga membuatnya meraung raung.

“aduh…. Aduhhhh…. aduh …..” jerit mbak Fani lantang

Aku tak memperdulikannya, namun kontolku semakin dijepit lebih hingga akhirnya kumuntahkan maniku di pantatnya. Mbak Fani langsung membalikkan tubuhnya, dan mengangkang kembali, lalu memintaku menghujamkan kontolku di memeknya. Namun di luar dugaan, Inem menarik lenganku dan memaksa kontolku masuk di memeknya. Inem menggoyangku dengan lembut selama 5 menit, hingga akhirnya aku mencabut kontolku, dan memuntahkan maniku ke arah mbak Fani.
Sekarang Evi berdiri dan menarik tanganku, kemudian memintaku kembali mengentotinya. Kali ini Evi mengikuti gaya Indah. Evi memajukan tubuhnya, bahkan memutarnya hingga membuatku kegelian.

“Ahhhh Eviiiii eeenn….aaaaakkkkkkkkkk sayang” ujarku terbata bata

Indah, Inem dan mbak Fani mengelilingi aku dan Evi. Sekarang aku memacu kontolku dengan cepat di memek Evi. Mbak Fani menjilati tetek kiri Evi. Indah meremas remas tetek kanan Evi, dan Inem menjilati pantatku dari belakang.

“Ahhhhhhhhh……aku mau keluar sayang” ujar Evi berteriak

Evi terkulai lemas menandakan ia telah keluar, namun aku terus memacu kontolku dengan cepat sambil sesekali menggoyangnya. Evi terkulai tak berdaya sambil mendesis seperti ular.

“Kalau mau keluar, bilang ya sayang” bisik mbak Fani lembut ditelingaku.

“Aku udah mau keluar mbak” sahutku

Mbak Fani pun meminta Indah dan Inem jongkok bersama sambil mengatakan: “semprot muka kami sayang”.

Kutarik kontolku dari memek Evi, dan kusemprotkan di muka Inem dan Indah. Ketika ingin menyemprotkan mbak Fani, kontolku sudah tak bisa mengeluarkan mani lagi. Akhirnya mbak Fani menjepitkan bibirnya dari samping kekontolku. Ia mengocok kontolku dengan gaya khasnya.

“Akkkhhhhh….gelllllllllliiiiiii mbak” sahutku sambil merinding

Mbak Fani melepaskan bibirnya dari kontolku, lalu mengocoknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya meremas remas pantatku.

“Ayo sayang, semprot mbak dong” ujar mbak Fani terbata bata.

Aku melepaskan tangan mbak Fani yang sedang mengocok kontolku, dan meminta Indah yang mengocokkannya, dan meminta mbak Fani memejamkan matanya. Sambil mengocok kontolku, Indah menghisapi putting tetekku. Semakin lama, Indah semakin kencang dan kasar mengocok kontolku, hingga akhirnya kumuntahkan maniku di mata mbak Fani. Kali ini kuminta Inem menjilati maniku di mata mbak Fani. Inem pun menurutinya, dan menjilati mata mbak Fani yang berlumuran maniku. Aku nampak kelelahan, demikian halnya dengan Indah dan Evi yang telah terkulai lemas. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk kedalam kolam berenang bersamaan.
5 menit didalam kolam renang membuat badan kami segar kembali. Indah mulai naik dari kolam berenang, diikuti Inem, lalu Evi. Ketika mbak Fani ingin turut naik, aku menarik tangannya, lalu menyenderkan tubuhnya di tangga kolam. Aku mengangkat kaki kanan mbak Fani, lalu meletakkannya di tangga, dan memasukkan kontolku ke memeknya. Aku berciuman sangat mesra hingga mempermainkan lidah kami, bahkan sesekali mbak Fani menggigit lidahku.

“Ayo sayang, goyang mbak Fani” ujar mbak Fani dengan manja.

Kumasukkan kontolku perlahan, hingga akhirnya kupacu dengan cepat. Mbak Fani mendesah desah seperti orang kesurupan, hingga akhirnya kuciumi bibirnya. Mbak Fani mendorong tubuhku, hingga kontolku terlepas dari memeknya, namun ia menarik tanganku kembali, dan sekarang mbak Fanilah yang mendorongku ke tangga kolam. Mbak Fani mengangkat kaki kirinya, memasukkan memeknya ke kontolku, lalu memutar tubuhnya hingga memacu tubuhnya dengan cepat. 10 menit kami bergumul di tangga kolam, hingga akhirnya aku menjambak rambut mbak Fani, merangkulnya erat erat hingga memelukku rapat dan kumuntahkan maniku di memeknya. Aku dan mbak Fani berpelukan, lalu kukecup bibirnya dengan lembut.
Indah memberikan handuk padaku dan mbak Fani. Kami berjalan ke arah Evi dan Inem yang terkulai di kursi panjang. Mbak Fani dan Indah duduk berpangkuan. Tiba tiba kulihat mama yang masih duduk sambil melipatkan tangannya dan menyilakan kakinya.
Melihat mama, aku memberanikan diri untuk bertanya pada mbak Fani.

“Mbak, boleh nggak aku ngentot sama mama?” ujarku pelan dan penuh rasa cemas.

Mbak Fani tidak menjawab, namun Indah berkata: “kalau berani, coba aja”

Akupun berlalu menuju mama sambil mengocokkan kontolku dengan cepat, sambil diiringi lirikan mata mbak Fani dan tatapan tajam Indah. Aku tiba dihadapan Mama, dan mama melepaskan tangannya yang berlipat sambil nampak kebingungan menghadapi aku yang datang menghampirinya sambil mengocok kontolku . Kali ini aku tidak memegang, namun aku terus mengocokkan kontolku dan mengarahkannya ke baju ketat mama.

“Eh…eh…eh… kamu mau ngapain” ujar mama kebingungan melihat ulahku

Mama berusaha berdiri, namun aku mendorongnya lembut hingga ia duduk kembali di kursi. Mama meronta ronta sambil teriak memanggil nama nama anaknya serta Inem. Indah, mbak Fani, Evi disusul Inem berlarian menghampiriku dan mama.

“Fani, tolong mama mau diperkosa nih” teriak mama lantang.

“Indah, tolong mama dong. Evi, Nemmmmmm” teriak mama lagi dengan nada yang lebih keras.

Rumah besar mereka memang membuat tetangga tidak bisa mendengar kami. Mama terus berteriak, namun aku terus mengocokkan kontolku dengan lembut, hingga akhirnya kumuncratkan maniku di baju ketat mama.

“aduhhh, gimana sih ini…. Kamu tuh…..” ujar mama sambil melap maniku dari bajunya.

Indah, Evi dan Inem hanya terdiam, dan tiba tiba mbak Fani mengeluarkan suaranya dengan lembut: “kalau mama mau, nggak apa apa kok mah. Kami nggak ngadu deh ke papa. Lagian, tadi aku lihat mama meremas remas payudara mama kok”

“ngaco kamu Fani” ujar mama sedikit geram

Aku membelai belai kontolku, dan kali ini kuberanikan untuk mengarahkannya ke memek mama yang masih terbungkus rok. Mama mendorongku, lalu kembali melipatkan tangannya. Kali ini Indah yang mengocokkan kontolku dengan lembut sambil mengarahkannya ke baju ketat mama, dan mbak Fani membisikan sesuatu di telinga mama. Aku tidak mendengar bisikan mbak fani, namun akhirnya mbak Fani menarik tanganku, kemudian membimbingnya ke arah mama, namun mereka semua mundur 2 meter dari kursi mama. Aku terdiam 5 menit dihadapan mama sambil mengocokkan kontolku dengan lembut.

“Kok ngocoknya pelan, yang cepat dong. Muntahkan lagi di baju mama” ujarnya sinis sambil melepaskan lipatan tangannya.

Ahhh, luar biasa sekali pikirku. Aku tak tau apa yang dibisikkan mbak Fani pada mama. Aku hanya mengocokkan kontolku lebih cepat, hingga sekali lagi kumuntahkan maniku di baju mama. Aku mengurut kontolku dengan keras, hingga mengeluarkan tetes mani terakhir, setelah itu aku terdiam 5 menit memperhatikan kontolku yang masih saja mengacung dan keras. Aku memandang mama, demikian sebaliknya.

“Kok, cuma dibaju” kata mama nakal

Akupun segera meremas tetek pepayanya yang masih terbungkus BH dan baju ketatnya itu, lalu mama membisiki telingaku: “saya nggak suka yang kasar kasar. Yang lembut ya”

Akupun menarik lembut kepala mama kearah kontolku, kemudian memintanya menjilatinya. Mama mengocokkan kontolku terlebih dahulu, lalu menjilatinya, menghisapnya, hingga mengocokkannya kembali. Aku mencabut kontolku dari mulutnya, kemudian memuncratkan maniku sekali lagi di bajunya.

“Aduh, kamu kok suka muncratin disini sih” kata mama menggoda

Akupun membuka bajunya dengan lembut sambil meletakkan tangan kanannya dikontolku, lalu ia mengocokknya. Aku sungguh kaget melihat tetek mama yang indah. Bentuknya memang seperti papaya, jatuh kebawah bergelayutan, namun puttingnya masih berwarna kemerahan. Aku meremas teteknya dengan lembut, hingga akhirnya aku melepaskan kontolku dari tangannya, dan mengarahkannya ke tetek kanan mama. Kumainkan kontolku di putingnya, lalu kuminta mama meludahi belahan teteknya. Aku meminta mama maju sedikit kedepan, lalu kuletakkan kontolku dibelahan dadanya, kemudian kujepit dengan tetekanya yang kurapatkan dengan tangan kiri dan kananku. Aku mengentoti teteknya saat ini. 5 menit kuentoti tetek mama, hingga akhirnya aku memuncratkan mani didagunya. Mama memintaku membersihkan mani didagunya dengan lidahku. Aku menunjukkan keberatan, namun mama memaksaku. Akhirnya aku kembali meletakkan kontolku di belahan teteknya, menjepitnya, lalu kukocokkan lagi seperti tadi. Mama melepaskan kontolku dari jepitan teteknya, dan memintaku menuruti kemauannya. Dengan berat hati, kujilati maniku didagu mama, hingga kemudian ia menjambakku dan meghisap mulutku hingga menyedot semua maniku yang tercecer di lidahku. Mama memintaku menjulurkan lidah, dan ia menghisapnya seperti kontol.

“Sekarang, hisap putting mama, lalu buka rok dan celana mama ya” kata mama lembut.

Kuhisap putingnya kirinya, kuangkat tetek kanannya hingga menggelantung lalu kuremas remas. Mama mendesis seperti ular sambil berusaha meraih kontolku.

“Ayo say, sekarang ke sini mama” ujar mama sambil mengelus elus memeknya yang masih terbungkus rok dan celana dalam.

Akupun jongkok dihadapan perutnya, kujilati pusarnya sambil memintanya mengangkat tubuhnya agar aku bisa menaikkan roknya. Kuangkat roknya hingga menutupi perutnya, kemudian kubuka kakinya dan kugigit memeknya yang masih terbungkus celana dalam putih bersihnya.

“kamu heeee….bat sayangggggg” sahut mama terbata bata

“Ayo dong, lepas celananya” sahutnya lagi sambil membelai rambutku seperti anak kecil.

Kubuka celana dalam mama hanya sampai di betis, lalu kuraba pahanya hingga pangkalnya. Mama nampak merinding dan mendesis keenakan. Sekarang kuraba memeknya yang telah basah. Kurentangkan kakinya dengan kasar hingga celana dalamnya yang di betis robek. Kubuka seluruh celana dalamnya yang telah robek itu lalu kuciumi.

“Sayang, sudah nggak tahan nih. Ayo dong jilatin” ujar mama sambil menggoyang goyangkan tetek kanan dan kirinya.

Kujilati memek mama yang sudah sedikit lebar itu. Mama memintaku memasukkan lidahku kememeknya, hingga akhirnya tangan kanannya menempelkan kepalaku ke memeknya hingga membuatku tak bisa bernafas.

“Kita ke kolam ya” ujar mama lembut sambil menggandeng tangan kananku

Sesampainya di kolam, mama memegang besi tangga kolam, lalu menungging. Mama mengarahkan kontolku di pantatnya. Kuhujamkan kontolku hingga terbenam, dan mama meringis. Mama memintaku untuk membenamkan kontolku dipantatnya lalu menyuruhku diam saja. Tiba tiba ia memberikan kedua tangannya padaku untuk dipegang. Dalam posisi menungging, kontolku terbenam di pantatnya dan tangan kami berpegangan, tiba tiba mama memutar pantatnya perlahan lahan, hingga akhirnya berputar dengan cepat sekali. 2 menit pertama aku menyemprotkan maniku di pantatnya. Menit ke 5 aku memuntahkan mani yang kedua. Menit ke 10 kumuntahkan yang ketiga hingga maniku menetes di lantai.

“Mahhhh…..ampuuuuuunnnnn……..nikkkmaattt….beett…..t tuuullll” kataku sambil meringis

“ahhh….ahhhhh….ouuuuhhhhhhhhhggggghhhhh….” sahut mama sambil melepaskan tanganku dan mencabut kontolku dari pantatnya.

Mama langsung menghisap kontolku, mengocoknya dan sekarang ia menyenderkan pantatnya dibesi kolam, lalu memasukkan kontolku di memeknya sambil berkata: “tadi kan mama yang kerja dan puaskan kamu, sekarang puaskan mama ya”.

Karena tak mau dianggap egois, akupun meminta mama berbaring dilantai, kemudian aku mulai memainkan jariku dimemek mama. Satu jari kumasukkan, namun mama belum bereaksi apapun. Dua jaripun demikian. Akhirnya kumasukkan tiga jariku, namun mama baru bereaksi sedikit. Memek mama memang sudah lebar. Kontolku yang sebesar nampaknya masih longgar jika menembus memeknya. Aku sedikit kebingungan, hingga akhirnya aku melepaskan jam tangan dan cincinku. Aku meludahi tangan kananku, lalu mulai menggesek gesekkannya di memek mama. Mama mulai mendesis desis, saat bulu tanganku menggesek memeknya. Selanjutnya kumasukkan tiga jariku kememeknya, lalu empat jari, hingga akhirnya kumasukkan kepalan tanganku secara perlahan

“Ahhhhhhh…..sakiiiiitttttttt…..” teriak mama

Aku tak memperdulikannya, hingga akhirnya kepalan tanganku menembus memek lebarnya. Kuludahi tanganku 5 kali sambil kumasukan dan kukeluarkan di memek mama.

“Ahhhh nikkkkkmatttt…terusss….terussss….akkkkhhhh … ohhhhh ……lebihhh ceeeeeppp……aattttttttt sayanggg” teriak mama

Tangan kiriku kupuaskan untuk meremas remas tetek pepayanya, dan tangan kananku kukeluarkan dan kumasukkan dengan cepat dimemeknya. Aku merasakan mama telah keluar, namun aku terus memacu tanganku lebih cepat hingga akhirnya mama keluar kali yang kedua. Setelah melihat tetesan darah, aku mencabut tanganku perlahan, diikuti teriakan mama: “auwwwww”

“jilatin dong say” ujar mama lirih

Kujilati cairan bercampur darah dimemek mama sambil sesekali meremas lipatan perutnya yang putih dan menggoda. Mama menjambak rambutku, dan menariknya kemukanya sambil berkata: “terima kasih sayang, mama puas sekali”

“aku juga ma” sahutku sambil mengangkatnya berdiri.

Mama memanggil semua putrinya dan Inem. Setelah mereka datang, mama meminta mereka semua jongkok dihadapan kontolku, diiringi dengan mama. Mama meminta semua menjilati kontolku secara bersamaan. 10 menit mereka menjilati, menghisap sampai menggigit biji pelerku hingga aku memuntahkan mani selama 5 kali di muka mereka masing masing.

Aku mengambil jamku dilantai, dan waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Akhirnya kami masuk satu persatu kedalam rumah. Evi memelukku dari depan, mengangkat kaki kanannya, memasukkan kontolku ke mememknya, lalu dengan perlahan mengambil posisi di gendong olehku.

“Ayo kak, kita mandi air hangat didalam, tapi kakak gendong aku ya” bisik Evi sambil terus memaju mundurkan dan memutarkan memeknya yang tertancap kontolku. Akupun berjalan menuju kamar mandi dengan jalan perlahan, karena kedua kaki Evi menjepit erat pantatku.

Di kamar mandi, aku dimandikan oleh mereka semua. Setelah mbak Fani menghandukiku, mama mengoleskan salep yang lain dengan yang tadi, lalu ia memintaku berpakaian.
Mereka pun berpencar ke kamar masing masing, dan aku memakai kaos dan celanaku. Aku melirik kontolku, dan kali ini kulihat telah kembali seperti semula. Setelah berpakaian, aku menuju ruang tengah. Mama memangil semua putrinya serta Inem. Semuanya telah mengenakan pakaian. Mama berbicara serius sehubungan dengan keputusannya memisahkan kami. Akupun menyetujui keputusan tersebut, dan akhirnya mama memintaku membuka retsleting celana ku dan mengeluarkan kontolku sekali lagi. Mama meminta semua yang disitu menghisap kontolku untuk terakhir kalinya. Mulai dari Evi, mbak Fani dan Inem kusemprot dengan mani di mulut mereka. Sampai di Indah pacarku, aku berhenti sejenak, memintanya berdiri, memeluknya sambil meneteskan airmata.

“Maaf kalau aku punya salah ya Ndah” bisikku di telinga Indah

Tanpa berkata apapun, Indah mengocokkan kontolku dengan tangannya, lalu mengisapnya hingga kusemprotkan maniku yang tidak banyak lagi dimukanya. Akhirnya aku bergeser ke arah mama, dan membiarkan kontolku dihadapnnya. Mama membuka kancing dasternya hingga tetek pepayanya menyembul. Mama meletakkan kontolku dibelahan dadanya, kemudian menjepit kontolku dengan teteknya, meludahi belahan dadanya, hingga akhirnya ia mengocokkan kontolku dengan tetek pepayanya. Mama mengeluarkan maniku sebanyak 2 kali, hingga yang ketiga kontolku tak mengelurkan setetes mani pun. Mama mencabut kontolku dari teteknya, menghisapnya dengan buas, lalu mengurut kontolku seperti memeras jeruk. Kontolku benar benar mengecil sekarang, lalu mama memasukannya kedalam celana dalamku, menciumnya, lalu menutup retsletingku. Aku pun berpamitan pada mereka semua, hingga akhirnya tak bertemu mereka hingga saat ini.

TAMAT

Cerita Bersambung 7:27 am

“Aku sedang inginnnya” DEWA 19 mengalun dari MP.3 9500 membuktikan Indah yang menelponku.

“ya sayang” sahutku

“Aku nggak biasa ketemuan hari ini, lagi jalan nyari buku sama Sheila. Jangan nakal nakal ya say…blab la bla…. Dan diakhiri dengan muacchhhh” sahut Indah mesra lewat 9300 nya

“Iya, aku juga ke bandara nganter bibi yang mau pulang ke Jogja. Aku naik taksi, soalnya capek sekali nih. Besok siang aku jemput di kampus ya. Byee..” sahutku sambil mematikan handphone.

Setelah menunggu 2 jam, pukul 13.00 WIB akhirnya bibi boarding dan aku take off dengan taxi lagi. Aku keluar tol Kelapa Gading, dan bermaksud makan di sekitaran Kelapa Gading. Namun sayang, jalanan macet sekali, hingga akhirnya kubatalkan saja dan meminta taxi langsung meluncur ke bilangan selatan Jakarta. Melihat kondisi tol yang juga macet, akhirnya aku meminta supir taxi lewat non tol saja. Diperempatan ex Coca cola kulihat 300 E merah milik Indah melintas. Dibalik kaca beningnya, kulihat 3 orang didalam mobil. Rambut panjang Indah yang khas serta memperlihatkan gaya menyupirnya yang seperti orang bingung, dan disampingnya ada Sheila kawannya yang khas dengan rambut cepaknya. Satunya lagi pasti pacar Sheila, si Andi yang khas dengan gundul gothicnya itu. Aku meminta supir taxi mengejarnya, namun lampu lalulintas telah merah. Untung lampu hijau, hingga aku meminta supir taxi mengejarnya. Lumayan kalau diantar Indah pikirku, karena ongkos taxi sudah menunjukkan angka Rp. 100.000. Kami pun berusaha mengikuti mobil Indah yang berbelok ke bilangan Pulo Mas. Kira kira 100 meter dari jalan raya, aku melihat mobil Indah belok kekanan dan masuk ke suatu wilayah. Kamipun mengejarnya, dan sampai di depan wilayah itu aku membaca sebuah papan bertuliskan “HOTEL”. Mau ngapain nih si Indah. Beli buku kok di hotel? Pikirku kebingungan. Akupun meminta supir taxi menjauhi mobilnya, hingga dari kejauhan kulihat mobil tersebut masuk ke suatu garasi, lalu garasi tersebut langsung ditutup. Aku mencium gelagat kurang beres, hingga akhirnya aku meminta supir taxi menunggu 10 menit, hingga akhirnya aku membayar taxi dan turun menghampiri kamar tersebut.

“Maaf mas, mau kemana?” tanya seorang room boy padaku.

“Oh, saya sudah janjian sama kawan saya yang didalam sini pak” sahutku kalem.

“Silahkan mas” jawabnya kalem juga.

Aku masuk perlahan lahan melalui pintu kecil yang tidak berisik seperti roling door disampingnya yang berisik jika dibuka. Kemudian aku membuka pintu kamar, dan melihat Indah sedang membelai belai kepala Andi gundul yang sedang menjilati memek Indah. Sheila pun sedang asik menjilati tetek kanan Indah sambil tangan kirinya berusaha mengocokkan kontol Andi gundul.
Mereka bertiga kaget, dan satu persatu langsung duduk di sisi tempat tidur. Aku memberikan bogem mentah tepat di mata kanan Andi, kemudian menampar Sheila dan Indah.

“Kamu kok gitu sih N’dah” kataku dengan suara sedikit keras.

“Maaf ya sayanggg….” jawab Indah memelas dan berusaha memelukku.

“”Kita main berempat aja. Elu silahkan deh make Sheila” kata Andi bersemangat.

Tanpa basa basi, sekali lagi aku menendang Andi tepat di kepalanya hingga ia terjatuh ke lantai. Ketika berusaha melawan, sekali lagi kutendang kepalanya. Andi terkapar di lantai, dan akupun bergegas keluar dan menendang mobil Indah hingga penyok.
Aku berlari mencari taxi kedepan, dan setelah dapat taxi akupun melaju ke selatan Jakarta. Inikah karma, karena berselingku dengan Evi adiknya, pikirku bingung? Aku hanya terdiam hingga satu jam, hingga kemudian sampai di rumah. Setelah menenggak segelas Chivas milik ayah, mulai pukul 17.00 WIB sampai 20.00 WIB aku tertidur pulas di kamar. Sekitar pukul 21.00 WIB aku merasakan elusan lembut dibagian kontolku. Aku sedikit terbangun, dan melihat Indah sedang berusaha membuka retsletingku. Aku menampiknya dan berdiri. Akupun marah marah terhadapnya dengan berbagai makian, dan Indah hanya bisa tersedu sedu menangis sambil terus meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Hampir satu jam kami ribut, dan tiba tiba mamaku masuk menanyakan masalah kami.

“Semuanya baik baik saja kok mah” sahutku

“Ya sudah, nanti ke bawah ambil platinum card mama, kalian jalan jalan ya” sahut Mama

Akupun merasa tidak enak ribut dirumah, hingga akhirnya aku pergi keluar dengan Indah.

Setelah berputar putar hingga akhirnya sampai ke daerah menteng, kamipun tetap tidak menemukan titik temu, akupun memarkirkan mobil. Tiba tiba Indah bertanya : “Untuk nebus perbuatan aku. Kamu mau apa? Aku tetap diam sampai 10 menitan. Ketika melamun, tiba tiba aku terbayang bayang untuk berselingkuh dengan mbak Fani. Otakku mulai nakal dan berkata dalam hati: “Ah, alangkah nikmatnya jika bisa meremas tetek mbak Fani yang 36C, kontolku dihisap dan dijepit bibirnya yang sexy, menggoyang pantatnya yang sexy, ….”. Ketika aku bengong membayangkan keseksian mbak Fani, tiba tiba sekali lagi Indah bertanya sekali lagi: “biar impas, kamu mau selingkuh dengan siapa. Aku rela kok?
Tanpa dikomando, akupun langsung mengucapkan: “mbak Fani”!
Nampak nampak wajah kaget di muka Indah. Kamipun berdebat, hingga akhirnya Indah terdiam, lalu mengatakan: “Ya sudahlah, nanti aku usahain. Tapi kamu jangan tinggalin aku ya sayang” sahut Indah manja sambil memelukku. Aku rada heran juga dengan anak ini dan keluarganya, namun kunikmati sajalah, bahkan saat ini ia sudah mulai menjilati kontolku diatas mobil. Setelah maniku mau keluar karena dijilati Indah, aku menarik mukanya dan menyemprotkjan maniku di bajunya hingga belepotan. Herannya, Indah hanya mesem mesem sambil mengambil tissue untuk memgelap baju.
Pukul 23.00 WIB aku mengantar Indah sampai di gerbang, sambil berpesan: “Pokoknya, kalau perjanjian kita belum terlaksana, aku nggak mau ketemu”. Setelah Indah masuk, aku segera menancap Wranglerku.
Ini sudah hari ketiga, dan Indah belum juga menghubungiku. Pukul 12.00 WIB Indah menghubungiku via telepon rumah.

“Kamu nanti malam jam 8 an datang aja ke rumah ketemu mbak Fani tuh. Kami semua ke puncak untuk refreshing”. Sahut Indah di telepon

“Mbak Faninya marah nggak? Kamu bilang apa? Dan berbagai pertanyaan cemas lain kutanyakan pada Indah

“Aku tuh pernah nangkep basah mbak Fani selingkuh sama si Ivan supir papa, jadi nggak usah takut. Kayaknya dia juga kesenengan tuh. Nggak usah hot hot ya mainnya” sahut Indah dengan nada ngambeknya.

“Ya udah. Byeee” sahutku.

Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Sekarang waktunya kerumah Indah pikirku. Pukul 19.30 WIB aku sampai lebih dulu di rumah Indah. Ternyata si Inem nggak ikut, malah ialah yang membukan pintu untukku.

“Loh, neng Indah kan ke puncak den. Mau gituin saya lagi ya den? Tapi ada neng Fani lo den” kata Inem dengan gaya menggodanya.

“Inemmmm, persilahkan masuk dong kalau ada tamu” teriak mbak Fani lantang

Akupun masuk, duduk, dan baca majalah, namun aku tidak melihat mbak Fani disitu. 15 menit aku menunggu sambil membaca majalah, hingga akhirnya Inem mengantarkan minum dan berbisik: “dipanggil mbak Fani di perpustakaan sebelah tuh den”.

Akupun menyapa mbak Fani, dan ia mempersilahkan aku duduk. Saat itu ia masih mengenakan pakaian kantor berikut sepatu hak tingginya. Mbak Fani ngobrol seputar mobil denganku, hingga akhirnya memintaku mengambilkan catalog mobil yang terletak di bagian atas lemari perpustakaan mereka.
Saat mengambil kursi untuk membantuku mengambil buku itu, mbak Fani membuka lemari dan mengambil sebotol air mineral, 2 buah kapsul berwarna biru dan satu botol kecil.
Ketika aku menaiki kursi dan berusaha meraih buku tersebut, mbak Fani menghampiriku dengan membawa 2 buah pil biru dan air mineral tersebut. Mbak Fani memintaku meminum 2 buah pil tersebut. Akupun meminumnya, dan aku paham, kalau itu adalah Viagra. Setelah aku minum, mbak Fani langsung membuka retseling celanaku saat aku berdiri diatas kursi. Mukanya persis di depan kontolku yang mulai mengeras dan mengacung didepan hidungnya. Mbak Fani tidak memegangnya dengan tangan, tidak mengocoknya, tidak menjilatinya namun langsung menghisap kontolku dalam dalam hingga pipinya yang cubi itu kempot.

“Ahhhhh…..mbak geliiiiiiiiii” sahutku kegelian.

Mbak Fani terus saja menghisap, melepaskannya, menghisap, melepaskannya, hingga akhirnya ia menjilati biji pelerku dengan rakusnya. Kali ini mbak Fani mengocokkan kontolku dari samping dengan bibirnya yang seksi. Keahliannya mengocokkan kontol dengan bibir perlu diacungi jempol. Mbak Fani membuka celanaku sepenuhnya, dan langsung menghampiri pantatku, menjilatinya, dan saat ini tangan kanannya mengocok kontolku dengan lembut dari belakang.

“Mmmmmmm………….enakkkkkk mbakkkk………”sahutku sampai gemetaran

Mbak Fani masih berpakaian lengkap dengan sepatu kantornya, namun sesekali berusaha membuka celana dalamnya, bahkan hingga melorot hanya sampai di bagian paha. Mbak Fani kembali menghisap kontolku dari depan. Aduh, baru kali ini ada hisapan kontol yang membuat tubuhku seperti tersedot semua ke mulutnya.

“Ahhhhhh…..mbakkkkkkk, aku kok keluarnya cepet nih” sahutku sambil gemetar

“Kalau mau keluar, bilang ya” sahut mbak Fani mendesah

“Sekarang mbak” sahutku lagi

“Tahan yaaaaa, sampai mbak bilang semprot” sahutnya terbata bata

Mbak Fani mengeluarkan kontolku dari mulutnya, mengocoknya dengan tangan kirinya dan ia pun naik keatas kursi tempatku berdiri, menarik roknya keatas dengan tangan kanannya, mengangkat kaki kanannya dan meletakkannya di pinggiran lemari, kemudian mengarahkan kontolku ke memeknya.

“sempyyyyyyootttttt……….” Kata mbak fani mendesah

Akupun menyemprotkan maniku di memeknya hingga basah. Herannya, baru kali ini kontolku langsung mengecil saat keluar. Walaupun telah mengecil, mbak Fani tetap menggesek gesekkan kontolku di memeknya.
Mbak Fani memintaku turun, menggandengku ke sofa, mempersilahkanku duduk sementara ia tetap berdiri, memberikanku minuman, dan membelai rambutku seperti anak anak.
Mba Fani memintaku membukakan jasnya, bajunya dan BH nya, dan iapun membuka seluruh pakaianku. Mbak Fani mengambil botol kecil tadi, dan mengoleskan cairan di botol itu mulai dari lutut hingga pangkal pahaku.

“Aduh mbak, sakittttt” jeritku kesakitan karena urutan mbak Fani yang keras itu

“Sabar ya sayang. Biar kita bisa sampai pagi” kata mbak Fani.

Kemudian mbak Fani memintaku beristirahat sejenak dan kemudian ia memanggil Inem.

“Inemmmmmmmmmm…………” teriak mbak fani dengan keras.

Inem pun datang menghampiri mbak Fani. Aku sedikit bingung dengan sandiwara yang akan dimainkan mbak Fani, namun aku tetap saja mengangkang sambil terkaget kaget melihat ukuran kontolku yang menjadi lebih besar dan panjang dari biasanya. Apalagi saat itu melihat Inem dengan kaos pinknya yang memperlihatkan tetek dibalik BH hitamnya serta rok mini dari bahan kaos serta penampilan mbak Fani yang hanya memakai rok, sepatu hak tinggi dan tetek 36 C nya yang montok itu. Ahhhh, nikmatnya hidup ini pikirku.

“Inem, bersihin memek mbak nih” sambil mengarahkan memeknya yang masih setengah tertutup rok kearah bibir Inem.

Inem pun menjilati memek mbak Fani, sambil mbak Fani membelai rambut Inem. 5 menit memperhatikan mereka, tiba tiba maniku muncrat dengan keras hingga berbunyi “creeeeeeetttttt”.
Mbak Fani dan Inem tersenyum bersamaan, sedangkan aku nampak malu malu. Herannya, kali ini kontolku tidak menciut, melainkan tetap seperti tadi.. Sekarang mbak Fani meminta Inem berdiri diatas meja, membuka rok Inem dan menarik jemput Inem tercabut beberapa helai.

“Aduh mbak, ojo dicabutin lagi donggggg” sahut Inem memelas.

“Diem kamu Nem, nanti nggak mbak ajak lagi lo” ancam mbak Fani sambil menjilati memek Inem dengan rakusnya. Tiba tiba mbak Fani berhenti dan kembali membuka laci kembali. Mbak Fani mengambil beberapa sex toys koleksinya. Ia memilih kontol kontolan berwarna merah. Tanpa basa basi, Mbak Fani memasukkan benda itu ke pantat Inem, hingga membuat Inem meringis.

“Ayo Nem” ujar mbak Fani sambil mengocokkan kontol kontolan itu dengan cepat di pantat Inem.

“Ssssshhhhhh….mbak nikmat nikmmmmmmmm……aaahhhh” sahut Inem menanggapi jilatan dan hujaman kontol kontolan mbak Fani.

Adegan mereka berdua membuatku mengeluarkan mani sekali lagi. “creeeeettt…” namun kali ini sudah mulai sedikit yang keluar. Melihat aku telah keluar dua kali, mbak fani dan Inem menghampiriku, lalu menjilati kontolku secara bergantian.

“Ahhhh….mbak….Nem…..mbak……ennnnnn…..mmmmm……akkkk” ujarku

“Nem, bukain rok mbak pake mulut” kata mbak Fani terbata bata sambil menghisap kontolku.

Aku melihat Inem bersusah payah membukanya dengan mulut, hingga akhirnya terbuka juga. Inem langsung mencabut kontol kontolan yang ditancapkan mbak Fani di pantatnya, kemudian Inem pun langsung menancapkan kontol kontolan itu di pantat mbak Fani.

“Kurang ajarrrrrr kamu Nem” kata mbak Fani berteriak.

Namun Inem tetap saja mengeluar masukkan benda itu di pantat mbak Fani, hingga akhirnya mbak Fani menarik tangan Inem kedepan dan menyuruh saya menjilati tetek Inem yang masih terbungkus kaos pink dan BH itemnya

“Ayo den, jilatnya kerasan dikit dong” mohon Inem dengan nada memelas

Mbak Fani menarik badan Inem dan meletakkannya di kontolku. Mbak Fani membantu Inem dengan menaik turunkan tubuh Inem diatas kontolku.
Mbak Fani mengarahkan memeknya kemulutku dan memintaku menjilatinya. Tak sampai 5 menit, maniku muncrat lagi di memek Inem, kemudian Inem menarik memeknya dan memintaku menjilati memeknya, dan sekarang mbak Fani yang memasukkan kontolku ke memeknya. 5 menit kemudian, akupun memuncratkan maniku kembali di memek mbak Fani, hingga kemudian mbak Fani turut minta dijilati memeknya. 2 buah memek ada di depan mulutku saat ini. Mbak Fani dan Inem berebutan untuk dijilati, sambil mereka berdua berciuman dengan mesra diatas kepalaku.
Mbak Fani berbisik dengan Inem, dan kemudian mereka berpelukan, lalu memasukkan kontolku yang masih tetap tegak berdiri di celah celah tetek mereka yang sedang berpelukan. Sambil berpelukan, mereka menaik turunkan badan mereka yang menjepi kontolku. Sesekali mbak Fani meludahi kontolku. Aku tak bisa menahan sensasi yang baru kualami ini, hingga akhirnya maniku munrat kembali. Mbak Fani dan Inem kembali berebutan menjilati kontolku hingga bersih. Kamipun istirahat, kemudian mbak Fani membuka kaos dan BH Inem, lalu menjilati dan menghisap tetek Inem. Hampir 10 menit aku memperhatikan Inem dan mbak Fani saling menjilat dan menghisap.

“AArrrrrrrrrgggggghhhhh…..creeeeet” aku memuntahkan maniku untuk yang kesekian kali karena melihat ulah mereka. Kali ini mbak Fani meminta Inem menjilati pantatnya, dan kemudian mbak Fani memasukkan kontolku ke memeknya. Mbak Fani memacu tubuhnya naik turun dengan cepat di kontolku. Kali ini dengkulku serasa mau copot.

“Mbakkkkk…….ampppp……unnnnnn…..ssshhhhh ahhhh a……..” sahutku terbata bata

“ayo sayaaanggg puaskan mbbbaaa…….kkkk……”sahut mbak Fani terputus putus

Mbak Fani memacu lebih cepat lagi, hingga akhirnya berusaha menarik kepalaku, menjambakku, menciumiku dengan buas, dan kemudian menghantamkan tubuhnya dengan keras di kontolku.
“Ahhhhhhhhhhhhh…………..” sahut mbak Fani sambil memelukku erat erat hingga akhirnya terkulai lemas diatas tubuhku.

“kamu hebat saying” ujar mbak Fani sambil mencium mata kananku, lalu ia berbalik menuju kursi dan duduk. Heran, kenapa kontolku masih saja terus berdiri, padahal sudah berkali kali memuntahkan mani.

“Sekarang jatah kamu Nem” kata mbak Fani pada Inem

Tanpa basa basi, Inem pun memacu tubuhnya seperti mbak Fani tadi, namun tak sampai 5 menit Inem telah terkulai di tubuhku. Mbak Fani berdiri menghampiri pantat Inem dan kontolku yang masih menyatu, lalu menjilatinya. Inem mulai menaik turunkan tubuhnya kembali diatas kontolku. Perlahan lahan Inem menaik turunkan tubuhnya dikontolku, sambil sesekali memutarnya, hingga akhirnya iramanya semakin cepat seperti tadi. Sudah 10 menit aku digoyang Inem, dan dijilati mbak Fani, namun mereka belum juga berhenti.

“ayo den, akhhhhhhhhhhhhhhh….saya wes keluar den” ujar Inem sambil berdiri dan mencabut memeknya dari kontolku.

Mbak Fani dan Inem menjilati kontolku yang masih tetap mengacung dan besar. Aku benar benar lemas, namun kontolku tak mau mengecil. Mbak Fani dan Inem pun akhirnya memahamiku.

“Aku capek mbakkkk” kataku pada mbak Fani.

Kamipun beristirahat selama 30 menit, dan mbak Fani meminta Inem mempersipkan makan malam. Dengan jalan yang malas malasan, Inem pun berlalu mempersiapkan makanan. Mbak Fani mengurutku dengan lembut.

“Mbak pijit ya sayang” ujar mbak Fani dengan lembut di telingaku sambil menjilati kupingku.

Aku dan mbak Fani tertidur di atas sofa selama 1 jam, dan terbangun saat Inem sedang melap badan kami dengan handuk hangat. Herannya, kontolku masih saja mengacung dan keras. Inem mempersilahkan kami makan. Dalam keadaan bugil, kami menuju meja makan. Mbak Fani tersenyum memperhatikan kontolku yang masih terus mengacung di bawah menja makan kaca milik mereka. Sesekali mbak Fani yang duduk diseberangku memainkan kakinya di kontolku. Dan yang paling kurang ajar adalah tingkah Inem yang masuk ke kolong meja makan dan menjilati kontolku. Buat apa marah, justru nikmat sekali kurasakan. Bahkan sesekali mbak Fani memasukkan jempol kakinya ke pantat Inem.
Selesai makan, kami beristirahat dan menonton CNN selama 1 jam di ruang keluarga. Mbak Fani meletakkan kepalanya dipangkuanku, dan Inem masih terus menjilati biji pelerku dan mengelus elus pahaku sambil menonton TV. Kali ini, mbak Fani hanya meminta Inem duduk diam disofa untuk masturbasi. Kemudian mbak Fani memintaku terlentang di karpet. Seluruh tubuhku dijilati mbak Fani hingga basah, bahkan sesekali ia meludahi tubuhku dan menjilatnya kembali. Aku sungguh terpana melihatnya. Wanita secantik dia, tetek sebesar itu, kulit yang putih seperti ini, rambutnya yang sering melambai lamai saat mengentotiku, bibir sexy, namun mau melayaniku dengan luar biasa seperti ini.

“Mbak masukin lagi ya sayang” ujar mbak Fani sambil mengelus pipiku.

Dengan hati hati, mbak Fani berjongkok diatas kontolku. Ia memasukkan kontolku dengan perlahan ke memeknya. Setelah beberapa kali naik turun, mbak Fani mencabutnya, dan pergi ke arah perpustakaan. Aku tetap tergeletak di karpet, sedangkan Inem masih asyik mendesah desah sendirian sambil memainkan memeknya di sofa.
Mbak Fani kembali membawa benda kecil. Mbak Fani memakaikan ring plastik berduri di kontolku. Mbak Fani kembali jongkok, kakinya tak menyentuh pinggulku, dan dengan hati hati ia memaksa kontolku masuk. Mbak Fani menaik turunkan tubuhnya diatas kontolku, memutar mutar memeknya di tubuhku dengan cepat.

“aaahhhhhh mbakkkk ennnn….aaaa……kkkkk” sahutku meringis.

Mungkin inilah goyangan madura itu pikirku. Selama 20 menit aku telah keluar 3 kali dengan goyangan mbak Fani itu. Akhirnya mbak Fani pun lemas, terkulai dan menciumi bibirku.

“Ma kasih saying. Mbak puas sekali. Kamu hebat” kata mbak Fani

“Iya mbak, aku juga puas. Ma kasi ya mbak” sahutku hingga kemudia aku tertidur.

Kami dibangunkan, dan aku sungguh kaget karena yang membangunkanku adalah Mamanya Indah, Evi dan mbak fani. Aku melihat mbak Fani tertidur pulas di depan kontolku, dan Inem diatas paha mbak Fani. Aku melihat ada yang terganjal di pantatku. Rupanya Inem memasukan kontol kontolan mbak Fani di pantatku. Mama mencabutnya dengan keras, dan melemparkannya ke Inem. Inem pun kaget, demikian halnya dengan mbak Fani. Berhubung baju kami ada di perpustakaan, akhirnya kamipun disidang dalam keadaan bugil di ruang tamu. Herannya, kontolku masih saja menacing dan keras. Entah obat apa yang diberikan mbak Fani padaku.
Setelah menginterogasi kami, akhirnya terbongkarlah semua skandal. Mbk Fani membongkar aksiku di puncak dengan Evi, Mbak Fani membongkar paksaan Indah terhadapnya, dan aku membongkar kelakuan Indah dengan Andy gundul dan Sheila.
Mama terdiam, hingga akhirnya ia mengambil handphonenya.

“Indah, kamu dan Evi pulang ya ke Jakarta. Papa suruh tunggu aja di puncak, nanti mama yang jemput” ujar mama di handphone dan kemudian menutupnya

Bersambung PART IV ….

Cerita Bersambung 7:22 am

Pagi ini aku tidak bisa memakai mobil, karena adikku meminjam untuk acara sekolahnya. Aku jadi kalang kabut, mengingat janjiku sama Evi kemarin. Mana mungkin ke puncak dengannya naik bis? Kalau tak ditepati, Evi pasti melapor pada Indah. Aku pusing tujuh keliling. Aku mampir ke warung di depan rumah untuk membeli rokok. Aku terdiam sambil merokok di depan warung. Tak berapa lama, Randy kawan adikku datang menghampiriku dengan motor ninja RR nya, dan menanyakan adikku. Aku mengatakan ia telah pergi dari jam 6 pagi tadi.

“Kak, aku titip motor di rumah boleh ya. Biar aku susul Randy ke sekolah naik taxi. Soalnya kalau motor ditinggal di sekolah nggak ada yang jaga, hari ini kan semuanya study tour ke Bandung”, sahut Randy kalem.

Mendengar itu, akupun mendapat ide cemerlang. Namun, apakah enak ke puncak dengan Evi naik motor? Daripada nggak jadi samasekali dan Evi ngadu dengan Indah, kayaknya ide ini perlu dicoba. Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam motor dari Randy.

“Ya udah kak, pake aja motorku, aku ambilnya besok siang aja ya”, sahut Randy

Setelah menghubungi Evi via handphone, akhirnya aku berangkat ke sekolahan Evi di sekitaran melawai.

“kok naik motor kak”, sahut Evi.

Akupun menjelaskan semuanya, dan Evi memahaminya. Namun Evi minta dibelikan jaket terlebih dahulu, hingga akhirnya kami mengendarai motor kea rah Plaza Senayan. Jam menunjukkan pukul 8.30 WIB, dan Plaza Senayan belum dibuka. Akhirnya kami memarkir motor dan Evi pun menelpon mamanya untuk memberitahukan ia akan pulang malam untuk mengerjakan tugas sekolah di rumah Sheila kawannya. Setelah itu kami mengobrol layaknya sepasang suami istri yang kasmaran. Bahkan sesekali Evi mengelus elus kontolku. Tak terasa, jam sudah menunjukkan jam 10.00 WIB, akhirnya kami segera masuk ke Metro dept. store di lantai tiga .

“Kak, yang ini aja ya. Harganya juga nggak terlalu mahal kok” ujar Evi. Kemudian ia membawanya kekamar ganti.

“Kak, liat sini dong”, teriaknya memanggilku kekamar ganti. Evipun menarikku masuk ke kamar ganti, lalu memaksaku meremas teteknya, dan tangan kanannya meremas kontolku yang telah mengeras dibalik jelana jeansku. Evi menciumiku seperti orang kesetanan. Mulai bibirku, pipiku, kupingku terus sampai ke leherku diciumi oleh Evi dengan membabi buta. Aku pasrah saja melihatnya, namun aku menikmatinya.

“maaf, disini dilarang melakukan hal asusila” ujar SPG sambil menyibakkan tirai kamar ganti. Kamipun bergegas ke kasir untuk membayar diiringi dengan senyuman mesem para SPG.

“Aku ke toilet dulu ya kak, mau ganti celana jeans dan pakai jaket. Oh ya, celana dalam kakak dilepas dong”, bisik Evi di telingaku.

Aku menjadi heran sendiri dengan Evi. Kenapa ia memintaku melepaskan celana dalam? Mengapa ia sebuas ini? Inikah Evi kecil itu? Apa yang merasukinya? Ahhh pusing, pikirku. Akupun ke toilet untuk melepaskan celana dalamku, kemudian bergegas keluar menunggu Evi. 10 menit kemudian Evi keluar dari toilet. Aku terpana melihat penampilan Evi siang itu. Pantatnya yang menyembul dibalik celana jeansnya. Teteknya yang mini dibiarkan menyembul tanpa BH dan memperlihatkan putingnya yang tertarik kaos ketatnya. Evi menggandeng tanganku dan kamipun berjalan ke parkiran dan melajukan motor ke arah Bogor lewat Depok.
Ketika melintasi jalur parung yang sepi, Evi mulai membelai belai kontolku yang masih terbungkus celana jeans. Evi membuka retsletingku, menutupi tangannya yang sedang memegang kontolku dengan tas sekolahnya, kemudian mengocok ngocokkan kontolku dengan lembut dan membisikkan suaranya yang mendesah desah di telingaku.

“kak, keluarin dong yang pertama diatas motor untuk Evi. Evi kan lebih hebat dari kak Indah dan Inem. Mmmmm ….ayo dong kakkk……” ujar Evi terbata bata.

Akupun membagi konsentrasi antara menikmati kocokan lembut Evi dan mengendarai motor yang kupacu 50 km/jam saja.

“ayo dong sayang, keluarin untuk Evi”, sahutnya lagi mendesah berulangkali seperti orang yang kesurupan.

“Ahhh ….. enak sayangg…..”, sahutku! Crooottttt……Pejuku keluar hingga tumpah membasahi speedometer. Lalu Evi memintaku menepi sejenak di tepi jalan yang sepi dan berbatasan dengan hijaunya persawahan. Evi turun dari motor, tanpa malu dan takut takut, ia pun memintaku langsung turun dari motor kemudian menarik tanganku kebelakang pohon besar di tepi jalan itu. Kemudian ia langsung jongkok, dan menghisap kontolku yang basah. Walau hanya 2 menit, sensani yang dibuat Evi membuat kenikmatan yang terkira untukku. Aku mencium keningnya sebagai ucapan terima kasih, lalu beranjak kemotor sambil melap maniku di speedo meter dengan jariku. Ketika aku ingin membuangnya, Evi menarik tanganku dan menjilati jariku tersebut. Ah, gila bener anak ini pikirku, namun aku senang sekali.
Pukul 15.00 WIB kami tiba di vila keluarga Evi di Megamendung. Setelah berbasa basi, menyogok dan mengencam mang Danu penjaga vila supaya tidak memberitahukan kedatangan kami, akhirnya kami masuk ke vila. Sesampainya di dalam, Evi langsung mengajakku mandi air hangat. Setelah mandi, kamipun beristirahat di kamar Evi hingga tertidur selama 1 jam.

“ahhhh…..ahhh …mmmmm” kudengar suara itu samar samar.

Dan aku merasakan geli dibagian kontolku. Rupanya Evi sedang menjilati sambil mengocoki kontolku. Yang lebih hebat, Evi melumuri kontolku dengan coklat. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati ulah adik pacarku ini. Kontolku yang semakin mengeras dan mengacung langsung ditidurkan oleh Evi yang menindih tubuhku sambil menggesek gesekan memeknya di kontolku.

“kak, Evi sudah keluar 2 kali nih. Evi masih mau terus kak” ujar Evi sambil menciumi tetekku yang berbulu.

Akupun mulai terbangun sepenuhnya, dan mendorong tubuh Evi hingga berdiri. Aku menjilati pantat Evi dari belakang, hingga kemudian kumasukkan tanganku ke lubang pantatnya.

“Aduh, sakit kakak” jerit Evi.

“Aku kan masih perawan kak, masukin aja burungnya kakak disini”, sambil menunjuk memeknya yang mini itu,

“Hah, jadi kamu belum pernah ya Vi” tanyaku kaget.

“Udah deh kak, ayo dong”, sahut Evi manja sambil menjilati tetekku.

Aku pun mencium Evi dengan lembut mulai dari mata, hidung, telinga, hingga kami berciuman dengan hebatnya sambil tanganku meremas remas pantatnya.

“Kak, masukin Evi dong. Evi udah nggak kuat nih” rintihnya memohon.

Kutidurkan tubuh Evi dengan lembut. Kucium bibirnya yang ranum. Kujilati teteknya bergantian dan sesekali kusedot hingga membuatnya meringis kegelian. Lalu kujilati pusernya, hingga akhirnya memeknya yang masih mini itu kujilati.

“Ayo kak, masukin dong” sahut Evi memelas sekali lagi.

Akupun mengarahkan kontolku kemukanya, lalu memintanya menjilatinya sejenak. Kemudia kugesek gesekkan kontolku di memeknya dan mulai memasukkannya dengan perlahan.

“aduh kak, sakittttt….” Jerit Evi!

“Sabar sayang, kakak masukinnya pelan pelan ya” sahutku sambil memaksa masuk kontolku di lobang memeknya yang sangat sempit itu. Ah, sungguh menggemaskan memek adik pacarku ini. Tubuhnya yang putih, mukanyanya yang imut, rambutnya yang panjang dan lurus terurai, bibirnya yang berwarna pink, tetek mungilnya yang mancung, kakinya yang jenjang, gayanya yang manja, nafsunya yang membara….dan sekarang aku mendapatkan keperawanannya pula. Ahhhhh ….. Evi, aku sayang kamu dik.

“Aaaakkkkhhhhh……” teriak Evi kesakitan.

“Arrrrrggghhhhh …..” teriakku kenikmatan.

Kontolku telah masuk 1/2 di memek Evi. Dengan perlahan lahan aku terus menembusnya dengan mendorongnya secara perlahan lahan. Darahpun mengalir dari memek Evi ketika kontolku masuk ¾ dimemeknya. Aku terkagum kagum memandangi darah perawan Evi yang mengalir.

“Terima kasih Evi. Aku sayang kamu”, kataku lembut sambil terus mengeluar masukkan kontolku hingga amblas sepenuhnya di memek Evi.

“Sekarang udah enak kak. Ayo lagi kak. Yang lembut sayang” ujar Evi terbata bata sambil menetekan airmata.

“Iya sayang” sahutku sambil terus mendulang kenikmatan dengannya. Tangan kananku terus meraba raba perutnya yang langsing terawat.

“ahhhh …. Aku sudah mau keluar kak, sedikit lebih cepat dong kak” ujar Evi memohon.

Evi pun menarik tangannku, menjambak rambutku, menciumiku membabi buta, lalu berteriak kenikmatan.

“ahhhhh kak……enaaakkkkk…….jangan dicabut dulu sayang” sahut Evi.

Akupun terus memutar mutar kontolku, mendorongnya, menariknya hingga membuat Evi menarik selimut di tempat tidur. Evi terkulai lemas, kemudian kucabut kontolku dengan perlahan. Kontolku masih keras dan mengacung, karena aku belum keluar.

Evi melirik kontolku, lalu menarik tanganku dan mengucapkan terima kasih sambil berbisik: “sabar sebentar ya kak, Evi masih capek” katanya dengan nada lemah.

Aku masih mengocok kontolku dengan lembut. Akupun heran, kenapa aku belum keluar di lobang perawan senikmat ini? Mungkin karena aku telah keluar pertama kali saat diatas motor tadi, dan biasanya keluar yang kedua ini menjadi lebih lama. Aku tetap terangsang saat memandangi darah yang tertumpah di sprei tempat tidur. Evi berdiri menghampiriku, mengangkat kaki kanannya ke sisi tempat tidur, menarik kontolku yang masih mengacung, dan kembali memasukkannya dalam posisi berdiri.

“Ayo kak, masukin lagi” kata Evi

Akupun menggendong Evi dengan perlahan kearah lemari yang berdempetan dengan tempat tidur, namun tak kulepaskan kontolku yang telah menancap setengah di memeknya.
Kudorong Evi, kuciumi bibirnya, kumasukkan kontolku sepenuhnya, mengeluarkannya setengah, memasukkannya kembali, memutarnya, hingga akhirnya kupacu dengan cepat hingga membuat Evi mendesah desah kenikmatan sepertiku.

“kak…ayo terus kak…..enak…..enak ahhhhh…kakak hebatttt……ahhhhh” ujar Evi setengah berteriak.

Aku terus memacu kontolku keluar masuk hingga merasakan memeknya Evi yang telah basah sekali. Kuremas teteknya, kucupang lehernya kiri dan kanan, kujambak rambutnya lalu kucium, bahkan kugigit bibir pinknya dengan lembut hingga membuat Evi menjerit.
“ahhhhh……Evi…..aku mau keluar sayang……” sahutku lantang.

Walaupun dalam kenikmatan yang luar biasa, aku masih ingat bahayanya jika kumuntahkan maniku didalam, hingga akhirnya kucabut kontolku, kemudian kuminta Evi menungging membelakangiku, dan tanpa permisi langsung kuludahi pantat Evi, dan kuhujamkan kontolku dipantatnya yang juga masih perawan. Evi menjerit kesakitan sampai menangis dan berusaha meronta ronta, namun aku terus memegangi tubuhnya dan menghujamkan kontolku hingga masuk sepenuhnya di pantat Evi.

“kakakkkkkkk….sakitttttt” teriak Evi sambil menangis!

Namun aku tetap memasukkannya, mengeluarkannya dan sesekali meremas pantas Evi yang montok. Tak sampai 3 menit aku memuntahkan maniku di pantat Evi, hingga keluar membasahi pantatnya. Setelah kucabut, aku meminta Evi menjilati dan menghisapnya. Evi pun menurutinya sambil melirikku dengan mata nakalnya. Setelah membersihkan kontolku dengan mulutnya yang imut itu, Evi balas menggigit perutku hingga terluka sedikit.

“biar tau rasa” sahut Evi sambil berdiri dan menciumiku.

Wah, untunglah Evi tak marah pikirku. Luar biasa sekali hari ini. Akhirnya kami berdua tertidur pulas tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.
Tiba tiba aku terbangun dan langsung melihat jam yang telah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Aku segera membangunkan Evi. Herannya, Evi bukan bergegas mandi, namun justru meraih kontolku dan menghisapnya. Kali ini Evi memintaku diam saja di tempat tidur. Evi menjilati dan menghisap kontolku sesukanya, bahkan sesekali menciumi tetekku. Evi terus melakukan aksinya, hingga akhirnya air maniku keluar sedikit membasahi kontolku. Evi menggesek gesekkan kontolku di pipinya, kemudian mengajakku mandi.
Ketika menyabuni tubuhnya, Evi pun kembali mengocokkan kontolku dengan sabun. Kali ini Evi tidak memintaku memasukkan kontolku dimemeknya, namun ia segera duduk di toilet, membuka memeknya, dan memintaku menjilatinya dari ujung jempol kakinya.
Mengingat semua yang telah diberikan kepadaku, akhirnya kuturuti kemauannya. Bahkan ketika ingin beranjak menjilati betisnya, Evi memintaku untuk kembali menghisap jari jari kakinya.

“kak, sekarang jilat betis sampai ini Evi ya” sambil menunjuk memeknya.

20 menit kujilati mulai paha hingga memeknya sampai membuat Evi kembali mengalami puncak kenikmatan. Setelah itu ia kembali meraih kontolku, menjilati, mengocok, dan melumatnya hingga 5 menitan. Sekali lagi aku keluar, dan Evi memandikan aku dengan air hangat. Hingga akhirnya kami berpakaian kembali setelah mandi, dan Evi mengecupku lembut serta memasukkan sprei tempat tidurnya kedalam tasku. Untuk kenang kenangan, katanya.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan jam 20.50 WIB. Aku merasa lelah sekali, dan merasa tak sanggup untuk pulang ke Jakarta dengan motor. Akhirnya aku menghubungi pak Jaya penjaga vila keluargaku yang terletak tak jauh dari vila Evi. Aku meminta pak Jaya menyewa mobil angkot untuk mengantar kami ke Jakarta. Pukul 21.20 WIB pak Jaya datang menjemputku di vila Evi. Setelah motor dimasukkan kedalam angkot, kamipun pamitan ke pada mang Danu dan pak Jaya. Namun mang Danu memintaku untuk membawa hasil panen melon di kebun belakang. Aku tak mau, namun mang Danu memaksaku mengambilnya dibelakang vila. Sesampainya di belakang, mang Danu mengajakku berbicara serius mengenai kedatangan neng Fani tadi sore ketika kami tertidur.
Neng Fani yang dimaksudkan oleh mang Danu adalah kakak dari Indah pacarku dan Evi.
Neng Fani tidak mau mengganggu kalian, karena neng Fani juga datang dengan cowok gelapnya. Fani adalah kakak tertua dari Indah dan Evi. Fani yang berusia 30 tahun, dan telah menikah. Namun Fani sering berselingkuh dengan brondong, karena suaminya berlayar di Eropa. Walaupun 30 tahun, Fani memiliki tubuh yang sangat sempurna. Teteknya yang 36C, pantatnya yang montok, tubuhnya yang langsing, kulitnya yang putih bersih, parasnya yang cantik, bibirnya yang tebal, bicaranya yang rada cadel, rambutnya yang hitam lurus terurai, matanya yang tajam sampai kebiasaannya pipis di lantai dikamar mandi yang tak pernah dikuncinya itu memang sering membuatku mencuri curi pandang terhadapnya.

“Neng Fani sih orangnya bebas teuingg den. Soklah jangan takut dimarahin. Mamang juga sering melihat neng Fani begituan dengan berganti ganti lalaki di vila ini kok” ujar mang Danu.

Wah, penjelasan mang Danu tersebut membuatku tenang dan terangsang juga untuk mencicipi mbak Fani. Setelah selesai menjelaskan semuanya, akhirnya aku memberikan uang damai kepada mang danu untuk informasinya, lalu kami membawa melon ke angkot dan segera pulang ke Jakarta. Selama dalam perjalanan, Evi bercerita mengenai kebiasaannya mencuri blue film milik mbak Fani dan mbak Indah. Dari sanalah ia mempelajari semua yang dipraktekkan tadi denganku. Aku berlagak tenang dan acuh saja mendengarnya.
Pukul 00.30 WIB kami sampai di rumah Evi. Aku tak mengantarnya ke rumah, karena orang rumah mengira Evi dari rumah temannya untuk belajar. Setelah Evi pulang, kamipun berlalu ke rumahku.

Bersambung lagi ke PART III (…kalo asik, kasih GRP dong biar semangat niy )

INEM (pembantu yang nakal)
[img=http://img61.imageshack.us/img61/5769/inemao2.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/3131/inem1uw3.th.jpg]

INDAH (pacarku yang cantik)
[img=http://img162.imageshack.us/img162/3904/indahby7.th.jpg]
[img=http://img516.imageshack.us/img516/8569/indah1si8.th.jpg]

EVI (adik pacarku yang hiper)
[img=http://img59.imageshack.us/img59/1632/evial8.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/6462/evi1li9.th.jpg]

FANI (kakak pacarku yang binal)
[img=http://img227.imageshack.us/img227/4373/fanisb2.th.jpg]
[img=http://img113.imageshack.us/img113/1607/fani1ru8.th.jpg]

Cerita Bersambung 7:19 am

sebelumnya, mari memfantasikan tokoh tokohnya melalui pic berikut inii:

INEM (pembantu yang nakal)
[img=http://img61.imageshack.us/img61/5769/inemao2.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/3131/inem1uw3.th.jpg]

INDAH (pacarku yang cantik)
[img=http://img162.imageshack.us/img162/3904/indahby7.th.jpg]
[img=http://img516.imageshack.us/img516/8569/indah1si8.th.jpg]

EVI (adik pacarku yang hiper)
[img=http://img59.imageshack.us/img59/1632/evial8.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/6462/evi1li9.th.jpg]

FANI (kakak pacarku yang binal)
[img=http://img227.imageshack.us/img227/4373/fanisb2.th.jpg]
[img=http://img113.imageshack.us/img113/1607/fani1ru8.th.jpg]

Mamanya Indah, Evi dan Fani (mama yang sableng)
Sorry, pic nya belom ada yang pas

Kujilati memeknya, kuremas tetek kanannnya, kemudian aku meminta Indah berdiri dan menungging, lalu kusodok memeknya dari belakang sambil membelai perutnya yang putih mulus. Ketika sedang menikmati tubuh Indah, aku melihat Inem pembantu Indah yang berusia sekitar 20 tahunan sedang memperhatikan kami dari sudut jendela kamar yang menghadap Taman. Aku berlagak acuh seperti tak memperhatikannya, Inem pun nampak asyik meremas payudaranya dengan tangan kanan, dan mengelus elus roknya dengan tangan kirinya sambil merem melek.

“Aku keluar sayang, ujar Indah”.

Saat itu Indah terkulai lemas dan duduk bersila dihadapanku. Karena melihat batang kontolku yang masih mengacung, Indah pun hanya bisa mengocokkan kontolku dengan tangan kanannya sambil berkata: “sabar ya sayang, aku akan keluarin punya kamu kok”!

Sambil tersenyum, aku menggesek gesekkan kontolku di kepala Indah, kemudian memasukkan kontolku di mulutnya, Indah kemudian mengelus elus bulu disekitar perutku. Hampir 5 menit Indah menjilati, menghisap, sampai meludahi kontolku, namun aku belum mengeluarkan sperma.

Akhirnya Indah bertanya: “kamu maunya apa sayang, supaya kamu juga keluar”?

Hmmm, boleh nggak aku masukin pantat kamu sayang”, sahutku!

“Tapi kan sakit sayang” balas Indah.

Aku langsung memintanya nungging dan berkata : “iya deh, aku pelan pelan ya masukinnya”.

“Aduhhhhhhh”, teriak Indah!

“sabar sayang, kamu kan mau aku keluar, sahutku!

Akupun terus menyodokkan kontolku hingga amblas di pantat Indah, dan nampaknya Indah menangis, namun aku tetap mengeluarkan dan memasukkan kontolku secara perlahan lahan sambil meraba raba pinggangnya yang sexy, hingga akhirnya kontolku amblas di pantatnya.

“Wow, rasanya luar biasa sayang”, ujarku bersemangat!

Tak sampai 7 menit, aku pun rasanya ingin mengeluarkan sperma karena jepitan pantat indah itu. Lalu kucabut kontolku dari pantat Indah dengan cepat, dan menyemprotkan spermaku di teteknya. Indah memukul dadaku dengan tangan kanannya, kemudian menciumku dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya kami mandi bersama, dan setelah itu aku berkemas pulang, karena sebentar lagi keluarganya akan pulang dari Puncak. Ketika Indah ke dapur untuk mengambilkanku sekaleng bir, tiba tiba aku melihat Inem yang sedang mencolokkan jarinya ke memeknya. Dengan acuh, aku keluar dari kamar dan bergegas balik setelah menenggak sekaleng bir pemberian Indah.

Halo sayang, kamu ke rumahku aja duluan ya. Mama, Papa, dan Kakak lagi ke Bandung liat Nenek yang sakit. Aku ada praktikum, dan nanti jam 5 sore aku dah pulang kok, kasian Evi (Adik Indah yang masih kelas 1 SMA) ketakutan kalau sendirian dirumah, sahut Indah lewat handphonenya. Iya Sahutku. Siang itu aku memang bermaksud mengerjakan paper di rumahku, namun berhubung Indah telah berpesan, akhirnya aku segera berangkat ke rumah Indah. Bukan apa apa, biasanya jika keinginannya tidak dipenuhi, maka Indah sering ngambek dan tidak memberiku jatah biologis.
Sesampainya di rumah Indah, aku disambut Evi dengan manja. Setelah makan siang, kamipun memutar DVD. Sampai pertengahan film terdapat adegan hot yang membuatku tidak enak hati menontonnya bersama Evi.

“Matiin aja ya Vi”, ujarku.

“Biarin aja kak” cuma sebentar kok, sahut Evi.

Hampir 10 menit, adegan hot itu berulang ulang beberapa kali, hingga akhirnya kumatikan. Evi pun ngambek, dan lari ke kamar tidurnya diatas, lalu kudengar ia mengunci pintu.
30 menit aku terdiam sendirian membaca makalahku. Tiba tiba Inem datang membawakanku segelas es teh manis. Inem memang seorang pembantu, namun mukanya mirip Dian Sas*** (walau Inem sedikit lebih hitam, namun panta dan teteknya lebih besar milik Inem), apalagi hari itu ia mengantarkan minuman dengan rambut kuncir kudanya dan kaos putih ketatnya yang menyembulkan teteknya yang besar. Inem pun kembali ke dapur setelah mengantarkan minuman untukku. Dari belakang kuperhatikan garis celana dalam Inem yang nampak di rok yang dikenakannya. Jalannya pun menggodaku! Aku jadi teringat peristiwa waktu itu, saat Inem memperhatikan aku dan indah yang sedang bercinta.
Kulihat jam, waktu telah menunjukkan jam 2.30 Wib. Otakku benar benar sudah dipenuhi nafsu ketika melihat DVD tadi, ditambah memandangi Inem yang sexy. Akupun segera ke belakang untuk pura pura ke kamar mandi. Sengaja aku tidak menyalakan lampu kamar mandi dan membuka pintunya. Dari kaca kamar mandi kuperhatikan Inem mencuri curi pandang ke arah pantatku yang terbuka sedikit. Sambil memainkan kontolku yang baru kucuci, kemudian aku keluar kamar mandi tanpa menutup celana, lalu ku arahkan ke pandangan Inem.

Kemudian aku berjalan kearah Inem, kemudian meletakkan tangannya ke kontolku, sambil berkata: “kamu mau Nem, ayo isep deh”.

“Takut ah den”, kata Inem.

“Nggak apa apa Nem, ayo dimasukin mulut kamu”, sahutku menggoda!

Inem pun menjilati dan menghisap kontolku.

“Ahhhh, kamu hebat banget jilatnya Nem”, ujar saya.

Inem memang hebat memainkan lidahnya dipinggiran kepala kontolku. Lebih nikmat dari yang dilakukan Indah.

“Den, ini Inem kok nggak dipegang, sahutnya sambil menunjukkan memeknya.

Inem pun memberanikan diri untuk minta dijilati seperti mbak Indah waktu itu. Hmmm, memek Inem harum sekali. Ketika asyik menjilati memek Inem dan meremasi teteknya, tiba tiba Evi dating dan mengagetkan kami. Inem nangis dibawah kaki Evi, dan saya pun hanya bisa terdiam membisu.

“Kakak munafik, nonton nggak mau, tapi Inem digituin”, ujar Evi lantang.

“Pokoknya Evi aduin sama mbak Indah”, sahutnya lagi.

Akupun menarik tangan Evi, dan memohonnya untuk tidak melaporkan pada Indah. Ketika memegang tangannya, tiba tiba Evi meremas kontolku yang masih terbuka tak terbalut sehelai benangpun, dan kemudian Ei berkata: “ya sudah, kalau nggak mau dilaporin, ajak Evi juga”.

Aku kaget juga mendengarnya. Evi beranjak ke ruang tamu sambil menarik tanganku, mengunci pintu, kemudian membuka celana pendek dan celana dalamnya berwarna putih bergambar hello kitty.

“Inemmmmmmmm………” teriak Evi memanggil Inem.

Ayo, pokoknya kakak dan Inem harus menjilati ini Evi juga, ujarnya sambil menunjuk memeknya.

Sambil mengangkang, Evi membenamkan kepala saya dan Inem di memeknya yang mini dan berjembut tebal seperti hutan rimba.

“Ahhhh, enak kak, enak kak ahhhh”, ujar Evi mendesah desah.

Kemudian ia menjambak Inem, dan menyuruh Inem turut menjilati teteknya yang masih terbungkus kaos. Inem pun menjilatinya dengan buas sambil mengarahkan pantatnya ke arahku untuk minta dipegang juga. Aku pun meremas remas pantat inem yang sexy itu.
Waktu telah menunjukkan jam 4.15 WIB, dan aku memberitahukan Evi, kalau mbak Indah akan pulang jam 5 sore ini. Akhirnya, Evi menendang badanku hingga jatuh di karpet, dan menampar Inem hingga pipinya merah.

Kemudian Evi berkata: “pokoknya besok pagi kakak harus bolos kuliah dan jemput Evi di depan sekolah. Besok kita ke puncak berdua ya. Awas kalau bohong, Evi laporin ke mbak Indah”, ujarnya dengan marah sambil mengacung acungkan jarinya.

Entah apa yang dikerjakannya terhadap Inem, namun ia menarik tangan Inem dan menyeretnya kekamarnya diatas.
Tepat jam 5 Indah datang. Setelah menciumku, Indah pun berlalu kekamarnya untuk mandi. 30 menit kemudian, Indah keluar memakai daster dan menanyakan Evi dan Inem. Kemudian kukatakan mereka diatas sejak aku datang tadi. Tanpa basa basi, Indah menarikku ke kamar. Sesampainya dikamar, ia mengangkat bagian bawah dasternya, memelukku dari depan, dan meletakkan tanganku di pantatnya sambil membisikkan: “aku mau dong dijilatin pantatku”. Aku menjilati tubuh indah mulai dari pantat hingga basah. 30 menit aku bergumul dengan Indah, dan lagi lagi kulihat Inem di sudut jendela kamar yang sedang mengamati kami. Saat itu Indah memintaku untuk kembali memasukkan kontolku ke pantatnya, namun alangkah kagetnya aku saat berganti posisi menungging menyodok pantat Indah, kulihat Evi yang sedang menjilati pantat Inem diluar sana. Akupun semakin terangsang, hingga 1 jam berlalu, dan kami pun selesai dengan permainan ini. Setelah mandi, aku pamit pulang dengan alasan nanti Evi bangun.

Bersambung ….. (kalo dapet GRP) ….

Akibat Pergaulan Bebas 7:07 am

Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kost dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun lalu itu saya sering tertawa geli. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya kost. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya alami. Namun sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan rapat-rapat, karena bagi saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang sangat menyenangkan.

Keluarga tempat kost saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah namun tetap tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Sus, demikian kami anak-anak kost memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh bagus dan bersih. Menurut ibu kost, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih menggiurkan. Kami berlima anak-anak kost yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Sus. Perempuan yang kalau di rumah tak pernah memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.

“Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Sus sampai sekarang nggak hamil-hamil?” tanya Robin yang kuliah di teknik sipil suatu saat.
“Aku tahu. Suaminya letoi. Nggak bisa ngacung” jawab Krus, anak teknik mesin dengan tangkas.
“Apanya yang nggak bisa ngacung?” tanya saya pura-pura tidak tahu.
“Bego! Ya penisnya dong”, kata Krus.
“Kok tahu kalau dia susah ngacung?” saya mengejar lagi.
“Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Sus sering membentak-bentak suaminya?” tutur Krus.
“Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu”, kata Robin.
“Membantu? Apa maksudmu?” tanyaku tak paham ucapannya.
Robin tertawa sebelum berkata, “Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita”
“Ah kamu saja yang GR. Mungkin Mbak Sus nggak bermaksud begitu”, sergah Heri yang sejak tadi diam.
“Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti”

Diam-diam ucapan Robin itu mengganggu pikiranku. Benarkah apa yang dia katakan tentang Mbak Sus? Benarkah perempuan itu sengaja mengundang birahi kami agar ada yang masuk perangkapnya?

Selama setahun kost diam-diam aku memang suka menikmati pemandangan yang tanpa kusadari sering membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang seperti sengaja dipamerkan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang kehitam-hitaman tampak menonjol. Selain payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36, pinggulnya yang besar sering membuatku terangsang. Ah betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan penisku ke selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya.

Setelah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Mbak Sus. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri pandang ke arah dadanya sambil menelan air liur.

Suatu waktu, ketika berjalan berpapasan, tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya.
“Wah… maaf, Mbak. Nggak sengaja…” kataku sambil tersipu malu.
“Sengaja juga nggak apa-apa kok dik”, jawabnya sambil mengerlingkan matanya.
Dari situ aku mulai menyimpulkan apa yang dikatakan Robin mendekati kebenaran. Mbak Sus memang berusaha memancing, mungkin tak puas dengan kehidupan seksual bersama suaminya.

Makin lama aku bertambah berani. Beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh dia cuma tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan. Bukan menyenggol lagi tetapi meremas. Sialan, reaksinya sama saja. Tak salah kalau aku mulai berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Peluang itu sebenarnya cukup banyak. Seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Dia sendiri telah memberikan tanda-tanda welcome. Cuma aku masih takut. Siapa tahu dia punya kelainan, yakni suka memamerkan perangkat tubuhnya yang indah tanpa ada niat lain. Namun birahiku rasanya tak tertahankan lagi. Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya.

Suatu hari ketika di rumah sepi. Empat temanku masuk kuliah atau punya kegiatan keluar, bapak dan ibu kostku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di luar kota, sedangkan suami Mbak Sus ke kantor. Aku mengobrol dengan dia di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya soal-soal umum dan biasa. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet.

“Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbak Sus lho”, kataku.
“Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model ?”.
“Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbak?”
“Coba apa…”.
“Itu…”.
“Mana?”.
Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti biasa hanya dibungkus kaus.
“Ah… kamu ini”.

Reaksinya makin membuatku berani. Aku mendekat. Mencium pipinya dari belakang kursi tempat duduknya. Mbak Sus diam. Lalu ganti kucium lehernya yang putih. Dia menggelinjang kegelian, tetapi tak berusaha menolak. Wah, kesempatan nih. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di bagian dadanya. Dia berusaha menepis tanganku yang ngawur, tetapi aku tak mau kalah. Remasanku terus kulanjutkan.

“Dik… malu ah dilihat orang”, katanya pelan. Tepisannya melemah.
“Kalau begitu kita ke kamar?”
“Kamu ini nakal yaa”, ujarnya tanpa berusaha lagi menghentikan serbuan tangan dan bibirku.
“Mbak…”.
“Hmm…”.
“Bolehkah mm…, bolehkah kalau saya…”.
“Apa hh…”
“Bolehkah saya memegang susu Mbak ?”.
“Hmm…”, Dia mendesah ketika kujilat telinganya.
Tanpa menunggu jawabannya tanganku langsung menelusup ke balik kausnya. Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya makin kuat. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, berarti dia oke. Tanganku makin bersemangat. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan.

“Dik, tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik. Tanpa disuruh dua kali secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Mbak Sus. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok bawahnya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna krem. Sambil menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Mbak Sus menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh… sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.
“Mbak belum pernah dioral ya ?”.
“Apa itu ?”.
“Vagina Mbak akan kujilati”.
“Lo itu kan tempat kotor …”.
“Siapa bilang ?”.
“Ooo… oh.. oh …”, desis Mbak Sus keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kepelorotkan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Mbak Sus kian keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.
“Aahh… Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh…”.
“mm film biru dan bacaan porno kan banyak mm…”, jawabku.

Tiba-tiba, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk. Wah berabe nih. Aksi liarku pun terhenti mendadak.
“Sst ada tamu Mbak”, bisikku.
“Cepat kau sembunyi ke dalam”, kata Mbak Sus sambil membenahi pakaiannya yang agak berantakan. Aku segera masuk ke dalam kamar Mbak Sus. Untung kaca jendela depan yang lebar-lebar rayban semua, sehingga dari luar tak melihat ke dalam. Sampai di kamar berbau harum itu aku duduk di tepi ranjang. Penisku tegak mendesak celana pendekku yang kukenakan. Sialan, baru asyik ada yang mengganggu. Kudengar suara pintu dibuka. Mbak Sus bicara beberapa patah kata dengan seorang tamu bersuara laki-laki. Tidak sampai dua menit Mbak Sus menyusul masuk kamar setelah menutup pintu depan.

“Siapa Mbak ?”.
“Tukang koran menagih rekening”.
“Wah mengganggu saja itu orang. Baru nikmat-nikmat…”.
“Sudahlah”, katanya sambil mendekati aku.
Tanpa sungkan-sungkan Mbak Sus mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat penisku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Mbak Sus seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.

Lama-lama dia akhirnya dia bisa menikmati dan mulai menirukan gaya permainan ciuman yang secara tak sadar baru saja kuajarkan.
“Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa ? Pacarmu ?”, tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tak merepotkan, kausnya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok bawahnya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang, dan putih mulus.

“Nggak adil. Kamu juga harus telanjang dong”, Mbak Sus pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah ke ranjang, berguling-guling, saling menindih.
“Mbak mau saya oral lagi?” tanyaku.
Mbak Sus hanya tersenyum. Aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Mbak Sus mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Kelihatan dia menemukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan penisku ke mulutnya.
“Gantian dong, Mbak”.
“Apa muat segede itu….”.
Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Mbak Sus agak tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku. Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa.

“Sorry ya Mbak”.
“Ah kau ini mainnya aneh-aneh”.
“Justru di situ nikmatnya, Mbak … Selama ini Mbak sama suami main seksnya gimana ?”, tanyaku sambil menciumi payudaranya.
“Ah malu. Kami main biasa saja kok”.
“Langsung tusuk begitu maksudnya …?”.
“Nakal kau ini”, katanya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang masih tetap tegak berdiri.
“Suami Mbak mainnya lama nggak ?”.
“Ah …”. dia tersipu-sipu. Mungkin malu untuk mengungkapkan.
“Pasti Mbak tak pernah puas ya ?”.
Mbak Sus tak menjawab. Dia malah menciumi bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai berair. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah ingin segera menggenjot vaginanya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus vaginanya, kurasakan tubuh Mbak Sus agak gemetar.
“Ohh …”, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk vaginanya.
Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Mbak Sus mulai menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan.
“Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat.
“Enak Mbak ?”, tanyaku.
“Emmhh …”.
“Puas Mbak ?”.
“Ahh …”, desahnya.
“Sekarang Mbak berbalik. Menungging”.
Aku mengatur badannya dan Mbak Sus menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.
“Gaya apa lagi ini ?”, tanyanya.
“Ini gaya doggy. Senggama lewat belakang. Pasti Mbak belum pernah”.

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang dari belakang. Mbak Sus kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan tiada tara yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.
“Capek ?”, tanyaku.
“Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku”.
“Tapi kan nikmat Mbak”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.
“Kita lanjutkan nanti malam saja ya”.
“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi penisku. Sekarang Mbak yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang penisku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Mbak Sus tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Mbak Sus kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan penisku.
“Oh Mbak… aku mau keluar nih ahh …”.
Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam vaginanya. Mbak Sus kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi relaksasi seperti itu.

“Vaginamu masik nikmat Mbak”, bisikku sambil mencium bibir mungilnya.
“Penismu juga nikmat, Dik”.
“Nanti kita main dengan macam-macam gaya lagi ya”.
“Ah Mbak memang kalah pintar dibanding kamu”.
Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.

“Mbak kalau pengin bilang aja ya”.
“Kamu juga. Kalau ingin ya langsung masuk ke kamar Mbak. Tetapi sst… kalau pas aman lho”.
“Mbak mau nggak main ramai-ramai ?”.
“Maksudmu gimana ?”.
“Ya misalnya aku mengajak salah satu teman dan kita main bertiga. Dua lawan satu. Soalnya Mbak tak cukup kalau cuma dilayani satu cowok.”
“Ah kamu ini ada-ada saja. Malu ah…”.
“Tapi mau mencoba kan ?”.
Mbak Sus tidak menjawab. Dia malah kemudian menciumi dan menggumuli aku habis-habisan. Ya aku terangsang lagi jadinya. Ya penisku tegak lagi. Ya akhirnya aku mesti menggenjot dan menembaknya sampai dia orgasme beberapa kali. Ah Mbak Sus, Mbak Sus

Akibat Pergaulan Bebas 7:05 am

Saya punya sepupu yang cantik sekali, umurnya 28 tahun, seorang wanita karier, namanya Intan. Dia sengaja datang ke tempat saya karena dia ingin ngobrol dan curhat dengan saya. Pada saat itu hari sudah menjelang malam kami terus ngobrol, sebenarnya sih dia curhat kepada saya tentang masalah-masalahnya terutama tentang perkimpoian. Dia dijodohkan oleh orang tuanya dengan cowok yang memang bukan idamannya. Saya menyarankan kepadanya agar bertindak sesuai dengan apa yang dia senangi, jangan dipaksa-paksa. Terus dia bertanya kepadaku apakah saya setuju dengan suatu perkimpoian? saya jawab, pada dasarnya saya sih setuju-setuju saja, tapi untuk saat ini saya lebih senang melakukan free seks dulu, alasannya tidak ada beban apa-apa, sama-sama senang, sama-sama nikmat. Dia bilang itu jalan yang kurang benar, dia bantah pendapatku habis-habisan. Saya jawab lagi, karena dia belum tahu kenikmatan dan kedahsyatan seks, kemudian saya bertanya kepadanya apakah dia pernah merasakan seks? dia jawab belum. Kemudian saya tanya lagi apakah dia pada saat ini ingin tahu bagaimana rasanya seks? dia hanya terdiam saja. Saya tidak perlu jawaban dari mulutnya, saya terus dekatin dia yang duduk di sofa. Saya duduk di sampingnya dan tanganku meraih bahunya, saya peluk dia dan saya berbisik di telinganya kalau saya diizinkan saya bakal beri tahu bagaimana rasanya bersetubuh itu. Dia melirikku tetap dia bisu. Tanganku mulai melepaskan kancing-kancing kemejanya sampai terlepas semuanya, saya lihat payudaranya yang indah tertutup BH-nya. Saya lucuti pakaiannya hingga terbebas dari tubuhnya kemudian saya remas payudaranya yang masih memakai BH. Tanganku terus menyelusup ke dalam BH-nya. Payudaranya semakin lama semakin keras dan kini mulutnya mulai menciumi leherku.

Dengan demikian saya makin berani bertindak semakin jauh, saya buka BH-nya dan akhirnya terlepas dari tubuhnya. Saya ciumi payudara yang indah dengan puting susu yang berwarna merah kecoklat-coklatan dan puting susunya tegak dan keras sekali. Saya kemudian berusaha melepaskan roknya, tidak sulit untuk menanggalkannya. Tanganku mengelus-elus pahanya yang mulus banget dan akhirnya tanganku tepat pada liang senggamanya. Jari-jari tanganku menyelusup ke dalam CD yang masih melekat pada tubuhnya. Ternyata dia sudah basah, terasa telunjukku basah kuyup. Saya sentuh clitorisnya dan jari yang lain berusaha masuk ke dalam lubang kemaluannya. Dia menjerit kecil ketika jari tanganku mulai masuk ke dalam lubang kemaluannya. Saya terus berhenti melanjutkan tindakan itu, lalu saya rebahkan badannya telentang. Saya lucuti CD-nya dan saya mulai membelai belahan memeknya dengan mesra. Dia terpejam menerima perlakuanku terhadapnya sambil kadang-kadang mendesah-desah. Liang kewanitaannya kini mulai saya ciumi dan saya jilati clitorisnya, pinggulnya mulai bergerak-gerak. Entah berapa lama saya “makan” liang senggamanya, lalu ku buka celanaku. Penisku yang tegang kemudian saya arahkan tepat ke lubang kenikmatannya. Saya tekan hingga kepala penisku masuk”,aakkhh…!!”, dia menjerit lirih, saya tidak peduli dengan jeritannya, seret memang agak susah, ku memasukkan penisku tetapi akhirnya masuk juga semuanya. Saya lihat kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan sambil mendesah-desah ketika penisku mulai bergerak keluar-masuk liang kewanitaannya perlahan-lahan. Sengaja saya tidak mempercepat gerakanku karena liang kewanitaannya masih seret lubangnya masih kecil. Tapi lama juga penisku keluar-masuk hingga pada akhirnya gerakanku agak lancar. Saya percepat sedikit pergerakan naik-turun, terdengar samar desahannya, “Aakkhh..!!!, aakkhh..!!! aakkhh..!!!!”, ketika itu kakinya naik ke atas pinggulku dan pantatnya bergerak ke atas kemudian dia berkelonjotan beberapa kali. tidak lama kemudian baru saya keluar… Badan kami lemas sekali, kucabut penisku dari liang senggamanya. Saya lihat liang kewanitaannya, ya ternyata dia masih perawan. Gila bener.. dalam umur segitu dia bisa mempertahankan keperawanannya. Saya bilang, sekarang dia kalau bisa berprinsip seks bebas saja, sebab banyak keuntungannya daripada harus kimpoi.

Akhirnya dia setuju dengan pendapatku dan malam itu saya setubuhi dia beberapa kali lagi dan dia sampai saat ini sangat suka bersetubuh. Saya pernah ketemu lagi dengannya beberapa waktu yang lalu, dia sekarang punya koleksi cowok yang banyak juga.

TAMAT

Cerita Antara Kita 7:00 am

Saya punya kebiasaan onani sama seperti cowok teman-teman saya. Tapi sebagai perangsang, saya nggak hanya memakai buku atau film BF tapi juga orang. Soalnya saudara saya banyak yang cewek plus cakep-cakep masih SMP, bodinya jadi. Karena rumah saya yang besar, saudara saya (terutama yang perempuan) sering menginap, nah waktu itu yang saya suka. Biasanya malam-malam saya naik ke kamar tamu, dan mengendap-ngendap. Saya naik ke atas ranjang dan mulai aksi saya dengan pegang-pegang bodi saudara saya sambil ngocok. Nggak jarang saudara saya tidur nyenyak banget sehingga saya bisa ngobel-ngobel vaginanya.

Nah, kebetulan minggu lalu pas libur Sidang Umum saudara saya menginap. Ada satu saudara perempuan saya yang asli cantik namanya Joyce. Saya kepingin benar ngobel vaginanya tapi nggak dapat, soalnya dia baru kepegang paha saja sudah sadar. Tapi ini malam lain, saya memulai petualangan saya lagi. Saya naik ke kamar atas, terlihat si Joyce tidur dengan posisi nafsuin. Menghadap ke atas (telentang) kaki rada mengangkang. Darah saya sudah berdesir saja. Saya mulai naik ke atas ranjang, ternyata dia memakai celana longgar. perlahan-lahan saya mulai tarik celananya ke bawah dan mengintip ke dalam. Kelihatan CD-nya. Saya sudah mau masukan tangan saja. Tapi saya takut dia bangun. Tapi, lama-lama saya nggak tahan juga. Saya masukan tangan saya, wah dia diam saja. Saya masuk lebih dalam lagi. Nyentuh CD-nya, saya mulai mau tarik CD-nya. Tangan saya satu lagi ngocok-ngocok penis saya. Tahu-tahu dia bagun dan melihat saya lagi pegang penis saya. Wah, saya kaget dan buru-buru kabur sambil berharap dia melupakan dan dikira mimpi. Saya mau tidur lagi, “Sialan”, dalam hati saya. Saya belum klimaks nih. Akhirnya saya tidur juga. Eh, malamnya saya merasa ada yang memegang tubuh saya. Saya bangun, ternyata si Joyce lagi memegang penis saya sambil tangannya masuk ke dalam CD-nya. Astaga, dia kaget juga, tapi terus berbicara.
“Dengan ini kita seri ya?” terus dia mau pergi. Menyadari gelagat asyik ini saya langsung berkata, “Eh jangan pergi. ”
Terus dia bertanya “Emang kenapa loe marah?”
“Nggak kok, loe demen pegangin barang gua, gue kepenget liat barang loe gimana kalau kita tukeran?”
Dia diam sebentar terus bicara, “Yang benar?”
“Iya”,
“Ya sudah dech, tapi loe duluan ya?”
Terus saya pun tarik celana saya yang longgar (maklum piyama) dan terlihatlah penis saya yang asli tegang (Penis saya 12 cm diameter 4 cm). Lumayan buat anak 16 tahun. Dia kelihatan senang ditambah horny.
“Boleh gue pegang?”
“Loe mau apain juga boleh asal jangan disakitin.”
Tangannya bergerak perlahan gemeteran, dia pegang penis saya. Darah saya berdesir waktu tangannya menyentuh penis saya. Baru sekali penis saya dipegang, dielus sama perempuan. Tangan yang satunya memegang celananya sendiri sambil sesekali menggesek. Saya lihat tambah horny.
“Eh, Joyce cukup donk, giliran lu.”
“Nggak ah malu”,
“Eh, loe sudah janji, lagian cuma kita berdua kok.”
“Ya sudah.”
Dia pun mulai memegang celananya.
“Eh, tunggu, boleh nggak saya yang buka?”
Dia berpikir terus bilang, “Boleh dech”,

Tangan saya mulai memegang celananya. Terus saya gesek bagian vaginanya dia diam saja. Terus perlahan-lahan saya tarik celananya turun, kelihatan CD-nya putih. Terlihat di bagian vagina agak basah, perlahan dari samping saya tarik CD-nya. Tangan saya gemetar. Dia juga terlihat agak malu. Saya tarik ke samping, terlihat vaginanya, bulu kemaluannya paling baru 5 lembar (maklum baru 13). Saya buka sedikit, bau amis campur pesing mulai menyebar.
“Boleh saya elus?”
“Boleh”,
Saya mulai mengelus vaginanya, pas saya buka sedikit, kelihatan ada daging kecil di bagian atas, saya heran.
“Ahh, nikmat Di! Lagi donk”,
Tiba-tiba dia teriak, saya kaget. Terus saya dapet ide,
“Gimana kalau vagina lu gue gesek pakai penis saya?”
“Hah, jangan saya masih mau perawan”,
“Tenang cuma luarnya doang gua jamin perawan lu nggak hilang”,
“Benar?”
“Benar”,
“Ya sudah.”
Terus CD-nya saya tarik ke bawah dan CD saya saya turuni sendiri. Saya suruh dia tiduran, terus saya letakan penis saya di atas vaginanya (waktu itu saya sudah takut ketahuan bokap) terus saya gesek naik turun.
“Ahh nikmat Di, nikmat banget cepetan dikit Di.”
Wah saya semakin nafsu saja saya gesek lagi, sementara vaginanya semakin banjir.
“Ahh terus Di, clit gua donk diutamain”,
“Hah, apaan tuh clit?”
“Itu daging kecil yang tadi loe pegang”,
“Oohh.”
Terus saya mulai mencari “clit” tersebut dan saya gesek pakai kepala penis saya. “Ahh nikmat Di terus Di.”
Saya semakin nafsu saja, terus dia bercanda bicara begini,
“Ahh, uhh, ini mah dimasukin lebih nikmat kali ya?”
Saya yang nafsu senang benar dengar begitu. Saya ambil koran terus saya alaskan pantatnya.
“Ngapain Di?”
Saya diam saja terus saya pelan-pelan cari lubang vaginanya dan saya sodok masuk penis saya.
“Ahh, jangan Di, adduuh sakit Di, please jangan ahh!”Saya kasihan juga saya tarik sedikit. Terus saya sodok sekuat tenaga”Ahh sakit banget Di, aduhh…”
Saya cuek terus saya sodok sedikit. Sambil memegang payudaranya saya bisa melihat dia menangis. Tapi saya cuek, saya kayuh saja terus.
“Ahh Di sakit Di, loe tega loe Di, pokoknya perawan gue lu yang ambil.”Tapi lama-lama dia diam juga, dia malah mulai menikmati.
“Ahh, Ahh, ohh, terus nikmat juga, teruss.”

Mungkin karena sama-sama baru, nggak lebih dari 15 menit kita sama-sama klimaks, saya keluarkan sperma saya di dalam, asli nikmat banget. Setelah selesai, kita duduk senderan, koran tatakan tadi ada noda darah, darah perawan dia. Saya lihat dia menangis sambil nmenyandarkan kepalanya ke dada saya.
“Ah, Di, loe ngambil perawan gue, gue nyesel, tapi nikmat kok, gue tapi nggak ngarep loe mau tanggung jawab, asal loe mau begini terus sama gue, lagian gue juga kok yang mulai.”
“Nggak, apapun yang terjadi saya tanggung, setelah cukup umur loe bakal gue nikahin apapun resikonya.”
“Benar?”
“Suer!”
“Asyikk, loe baik deh, lain kali gue mau lagi deh.”

Sekian pengalaman saya dahh!

TAMAT