Pagi ini aku tidak bisa memakai mobil, karena adikku meminjam untuk acara sekolahnya. Aku jadi kalang kabut, mengingat janjiku sama Evi kemarin. Mana mungkin ke puncak dengannya naik bis? Kalau tak ditepati, Evi pasti melapor pada Indah. Aku pusing tujuh keliling. Aku mampir ke warung di depan rumah untuk membeli rokok. Aku terdiam sambil merokok di depan warung. Tak berapa lama, Randy kawan adikku datang menghampiriku dengan motor ninja RR nya, dan menanyakan adikku. Aku mengatakan ia telah pergi dari jam 6 pagi tadi.

“Kak, aku titip motor di rumah boleh ya. Biar aku susul Randy ke sekolah naik taxi. Soalnya kalau motor ditinggal di sekolah nggak ada yang jaga, hari ini kan semuanya study tour ke Bandung”, sahut Randy kalem.

Mendengar itu, akupun mendapat ide cemerlang. Namun, apakah enak ke puncak dengan Evi naik motor? Daripada nggak jadi samasekali dan Evi ngadu dengan Indah, kayaknya ide ini perlu dicoba. Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam motor dari Randy.

“Ya udah kak, pake aja motorku, aku ambilnya besok siang aja ya”, sahut Randy

Setelah menghubungi Evi via handphone, akhirnya aku berangkat ke sekolahan Evi di sekitaran melawai.

“kok naik motor kak”, sahut Evi.

Akupun menjelaskan semuanya, dan Evi memahaminya. Namun Evi minta dibelikan jaket terlebih dahulu, hingga akhirnya kami mengendarai motor kea rah Plaza Senayan. Jam menunjukkan pukul 8.30 WIB, dan Plaza Senayan belum dibuka. Akhirnya kami memarkir motor dan Evi pun menelpon mamanya untuk memberitahukan ia akan pulang malam untuk mengerjakan tugas sekolah di rumah Sheila kawannya. Setelah itu kami mengobrol layaknya sepasang suami istri yang kasmaran. Bahkan sesekali Evi mengelus elus kontolku. Tak terasa, jam sudah menunjukkan jam 10.00 WIB, akhirnya kami segera masuk ke Metro dept. store di lantai tiga .

“Kak, yang ini aja ya. Harganya juga nggak terlalu mahal kok” ujar Evi. Kemudian ia membawanya kekamar ganti.

“Kak, liat sini dong”, teriaknya memanggilku kekamar ganti. Evipun menarikku masuk ke kamar ganti, lalu memaksaku meremas teteknya, dan tangan kanannya meremas kontolku yang telah mengeras dibalik jelana jeansku. Evi menciumiku seperti orang kesetanan. Mulai bibirku, pipiku, kupingku terus sampai ke leherku diciumi oleh Evi dengan membabi buta. Aku pasrah saja melihatnya, namun aku menikmatinya.

“maaf, disini dilarang melakukan hal asusila” ujar SPG sambil menyibakkan tirai kamar ganti. Kamipun bergegas ke kasir untuk membayar diiringi dengan senyuman mesem para SPG.

“Aku ke toilet dulu ya kak, mau ganti celana jeans dan pakai jaket. Oh ya, celana dalam kakak dilepas dong”, bisik Evi di telingaku.

Aku menjadi heran sendiri dengan Evi. Kenapa ia memintaku melepaskan celana dalam? Mengapa ia sebuas ini? Inikah Evi kecil itu? Apa yang merasukinya? Ahhh pusing, pikirku. Akupun ke toilet untuk melepaskan celana dalamku, kemudian bergegas keluar menunggu Evi. 10 menit kemudian Evi keluar dari toilet. Aku terpana melihat penampilan Evi siang itu. Pantatnya yang menyembul dibalik celana jeansnya. Teteknya yang mini dibiarkan menyembul tanpa BH dan memperlihatkan putingnya yang tertarik kaos ketatnya. Evi menggandeng tanganku dan kamipun berjalan ke parkiran dan melajukan motor ke arah Bogor lewat Depok.
Ketika melintasi jalur parung yang sepi, Evi mulai membelai belai kontolku yang masih terbungkus celana jeans. Evi membuka retsletingku, menutupi tangannya yang sedang memegang kontolku dengan tas sekolahnya, kemudian mengocok ngocokkan kontolku dengan lembut dan membisikkan suaranya yang mendesah desah di telingaku.

“kak, keluarin dong yang pertama diatas motor untuk Evi. Evi kan lebih hebat dari kak Indah dan Inem. Mmmmm ….ayo dong kakkk……” ujar Evi terbata bata.

Akupun membagi konsentrasi antara menikmati kocokan lembut Evi dan mengendarai motor yang kupacu 50 km/jam saja.

“ayo dong sayang, keluarin untuk Evi”, sahutnya lagi mendesah berulangkali seperti orang yang kesurupan.

“Ahhh ….. enak sayangg…..”, sahutku! Crooottttt……Pejuku keluar hingga tumpah membasahi speedometer. Lalu Evi memintaku menepi sejenak di tepi jalan yang sepi dan berbatasan dengan hijaunya persawahan. Evi turun dari motor, tanpa malu dan takut takut, ia pun memintaku langsung turun dari motor kemudian menarik tanganku kebelakang pohon besar di tepi jalan itu. Kemudian ia langsung jongkok, dan menghisap kontolku yang basah. Walau hanya 2 menit, sensani yang dibuat Evi membuat kenikmatan yang terkira untukku. Aku mencium keningnya sebagai ucapan terima kasih, lalu beranjak kemotor sambil melap maniku di speedo meter dengan jariku. Ketika aku ingin membuangnya, Evi menarik tanganku dan menjilati jariku tersebut. Ah, gila bener anak ini pikirku, namun aku senang sekali.
Pukul 15.00 WIB kami tiba di vila keluarga Evi di Megamendung. Setelah berbasa basi, menyogok dan mengencam mang Danu penjaga vila supaya tidak memberitahukan kedatangan kami, akhirnya kami masuk ke vila. Sesampainya di dalam, Evi langsung mengajakku mandi air hangat. Setelah mandi, kamipun beristirahat di kamar Evi hingga tertidur selama 1 jam.

“ahhhh…..ahhh …mmmmm” kudengar suara itu samar samar.

Dan aku merasakan geli dibagian kontolku. Rupanya Evi sedang menjilati sambil mengocoki kontolku. Yang lebih hebat, Evi melumuri kontolku dengan coklat. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati ulah adik pacarku ini. Kontolku yang semakin mengeras dan mengacung langsung ditidurkan oleh Evi yang menindih tubuhku sambil menggesek gesekan memeknya di kontolku.

“kak, Evi sudah keluar 2 kali nih. Evi masih mau terus kak” ujar Evi sambil menciumi tetekku yang berbulu.

Akupun mulai terbangun sepenuhnya, dan mendorong tubuh Evi hingga berdiri. Aku menjilati pantat Evi dari belakang, hingga kemudian kumasukkan tanganku ke lubang pantatnya.

“Aduh, sakit kakak” jerit Evi.

“Aku kan masih perawan kak, masukin aja burungnya kakak disini”, sambil menunjuk memeknya yang mini itu,

“Hah, jadi kamu belum pernah ya Vi” tanyaku kaget.

“Udah deh kak, ayo dong”, sahut Evi manja sambil menjilati tetekku.

Aku pun mencium Evi dengan lembut mulai dari mata, hidung, telinga, hingga kami berciuman dengan hebatnya sambil tanganku meremas remas pantatnya.

“Kak, masukin Evi dong. Evi udah nggak kuat nih” rintihnya memohon.

Kutidurkan tubuh Evi dengan lembut. Kucium bibirnya yang ranum. Kujilati teteknya bergantian dan sesekali kusedot hingga membuatnya meringis kegelian. Lalu kujilati pusernya, hingga akhirnya memeknya yang masih mini itu kujilati.

“Ayo kak, masukin dong” sahut Evi memelas sekali lagi.

Akupun mengarahkan kontolku kemukanya, lalu memintanya menjilatinya sejenak. Kemudia kugesek gesekkan kontolku di memeknya dan mulai memasukkannya dengan perlahan.

“aduh kak, sakittttt….” Jerit Evi!

“Sabar sayang, kakak masukinnya pelan pelan ya” sahutku sambil memaksa masuk kontolku di lobang memeknya yang sangat sempit itu. Ah, sungguh menggemaskan memek adik pacarku ini. Tubuhnya yang putih, mukanyanya yang imut, rambutnya yang panjang dan lurus terurai, bibirnya yang berwarna pink, tetek mungilnya yang mancung, kakinya yang jenjang, gayanya yang manja, nafsunya yang membara….dan sekarang aku mendapatkan keperawanannya pula. Ahhhhh ….. Evi, aku sayang kamu dik.

“Aaaakkkkhhhhh……” teriak Evi kesakitan.

“Arrrrrggghhhhh …..” teriakku kenikmatan.

Kontolku telah masuk 1/2 di memek Evi. Dengan perlahan lahan aku terus menembusnya dengan mendorongnya secara perlahan lahan. Darahpun mengalir dari memek Evi ketika kontolku masuk ¾ dimemeknya. Aku terkagum kagum memandangi darah perawan Evi yang mengalir.

“Terima kasih Evi. Aku sayang kamu”, kataku lembut sambil terus mengeluar masukkan kontolku hingga amblas sepenuhnya di memek Evi.

“Sekarang udah enak kak. Ayo lagi kak. Yang lembut sayang” ujar Evi terbata bata sambil menetekan airmata.

“Iya sayang” sahutku sambil terus mendulang kenikmatan dengannya. Tangan kananku terus meraba raba perutnya yang langsing terawat.

“ahhhh …. Aku sudah mau keluar kak, sedikit lebih cepat dong kak” ujar Evi memohon.

Evi pun menarik tangannku, menjambak rambutku, menciumiku membabi buta, lalu berteriak kenikmatan.

“ahhhhh kak……enaaakkkkk…….jangan dicabut dulu sayang” sahut Evi.

Akupun terus memutar mutar kontolku, mendorongnya, menariknya hingga membuat Evi menarik selimut di tempat tidur. Evi terkulai lemas, kemudian kucabut kontolku dengan perlahan. Kontolku masih keras dan mengacung, karena aku belum keluar.

Evi melirik kontolku, lalu menarik tanganku dan mengucapkan terima kasih sambil berbisik: “sabar sebentar ya kak, Evi masih capek” katanya dengan nada lemah.

Aku masih mengocok kontolku dengan lembut. Akupun heran, kenapa aku belum keluar di lobang perawan senikmat ini? Mungkin karena aku telah keluar pertama kali saat diatas motor tadi, dan biasanya keluar yang kedua ini menjadi lebih lama. Aku tetap terangsang saat memandangi darah yang tertumpah di sprei tempat tidur. Evi berdiri menghampiriku, mengangkat kaki kanannya ke sisi tempat tidur, menarik kontolku yang masih mengacung, dan kembali memasukkannya dalam posisi berdiri.

“Ayo kak, masukin lagi” kata Evi

Akupun menggendong Evi dengan perlahan kearah lemari yang berdempetan dengan tempat tidur, namun tak kulepaskan kontolku yang telah menancap setengah di memeknya.
Kudorong Evi, kuciumi bibirnya, kumasukkan kontolku sepenuhnya, mengeluarkannya setengah, memasukkannya kembali, memutarnya, hingga akhirnya kupacu dengan cepat hingga membuat Evi mendesah desah kenikmatan sepertiku.

“kak…ayo terus kak…..enak…..enak ahhhhh…kakak hebatttt……ahhhhh” ujar Evi setengah berteriak.

Aku terus memacu kontolku keluar masuk hingga merasakan memeknya Evi yang telah basah sekali. Kuremas teteknya, kucupang lehernya kiri dan kanan, kujambak rambutnya lalu kucium, bahkan kugigit bibir pinknya dengan lembut hingga membuat Evi menjerit.
“ahhhhh……Evi…..aku mau keluar sayang……” sahutku lantang.

Walaupun dalam kenikmatan yang luar biasa, aku masih ingat bahayanya jika kumuntahkan maniku didalam, hingga akhirnya kucabut kontolku, kemudian kuminta Evi menungging membelakangiku, dan tanpa permisi langsung kuludahi pantat Evi, dan kuhujamkan kontolku dipantatnya yang juga masih perawan. Evi menjerit kesakitan sampai menangis dan berusaha meronta ronta, namun aku terus memegangi tubuhnya dan menghujamkan kontolku hingga masuk sepenuhnya di pantat Evi.

“kakakkkkkkk….sakitttttt” teriak Evi sambil menangis!

Namun aku tetap memasukkannya, mengeluarkannya dan sesekali meremas pantas Evi yang montok. Tak sampai 3 menit aku memuntahkan maniku di pantat Evi, hingga keluar membasahi pantatnya. Setelah kucabut, aku meminta Evi menjilati dan menghisapnya. Evi pun menurutinya sambil melirikku dengan mata nakalnya. Setelah membersihkan kontolku dengan mulutnya yang imut itu, Evi balas menggigit perutku hingga terluka sedikit.

“biar tau rasa” sahut Evi sambil berdiri dan menciumiku.

Wah, untunglah Evi tak marah pikirku. Luar biasa sekali hari ini. Akhirnya kami berdua tertidur pulas tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.
Tiba tiba aku terbangun dan langsung melihat jam yang telah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Aku segera membangunkan Evi. Herannya, Evi bukan bergegas mandi, namun justru meraih kontolku dan menghisapnya. Kali ini Evi memintaku diam saja di tempat tidur. Evi menjilati dan menghisap kontolku sesukanya, bahkan sesekali menciumi tetekku. Evi terus melakukan aksinya, hingga akhirnya air maniku keluar sedikit membasahi kontolku. Evi menggesek gesekkan kontolku di pipinya, kemudian mengajakku mandi.
Ketika menyabuni tubuhnya, Evi pun kembali mengocokkan kontolku dengan sabun. Kali ini Evi tidak memintaku memasukkan kontolku dimemeknya, namun ia segera duduk di toilet, membuka memeknya, dan memintaku menjilatinya dari ujung jempol kakinya.
Mengingat semua yang telah diberikan kepadaku, akhirnya kuturuti kemauannya. Bahkan ketika ingin beranjak menjilati betisnya, Evi memintaku untuk kembali menghisap jari jari kakinya.

“kak, sekarang jilat betis sampai ini Evi ya” sambil menunjuk memeknya.

20 menit kujilati mulai paha hingga memeknya sampai membuat Evi kembali mengalami puncak kenikmatan. Setelah itu ia kembali meraih kontolku, menjilati, mengocok, dan melumatnya hingga 5 menitan. Sekali lagi aku keluar, dan Evi memandikan aku dengan air hangat. Hingga akhirnya kami berpakaian kembali setelah mandi, dan Evi mengecupku lembut serta memasukkan sprei tempat tidurnya kedalam tasku. Untuk kenang kenangan, katanya.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan jam 20.50 WIB. Aku merasa lelah sekali, dan merasa tak sanggup untuk pulang ke Jakarta dengan motor. Akhirnya aku menghubungi pak Jaya penjaga vila keluargaku yang terletak tak jauh dari vila Evi. Aku meminta pak Jaya menyewa mobil angkot untuk mengantar kami ke Jakarta. Pukul 21.20 WIB pak Jaya datang menjemputku di vila Evi. Setelah motor dimasukkan kedalam angkot, kamipun pamitan ke pada mang Danu dan pak Jaya. Namun mang Danu memintaku untuk membawa hasil panen melon di kebun belakang. Aku tak mau, namun mang Danu memaksaku mengambilnya dibelakang vila. Sesampainya di belakang, mang Danu mengajakku berbicara serius mengenai kedatangan neng Fani tadi sore ketika kami tertidur.
Neng Fani yang dimaksudkan oleh mang Danu adalah kakak dari Indah pacarku dan Evi.
Neng Fani tidak mau mengganggu kalian, karena neng Fani juga datang dengan cowok gelapnya. Fani adalah kakak tertua dari Indah dan Evi. Fani yang berusia 30 tahun, dan telah menikah. Namun Fani sering berselingkuh dengan brondong, karena suaminya berlayar di Eropa. Walaupun 30 tahun, Fani memiliki tubuh yang sangat sempurna. Teteknya yang 36C, pantatnya yang montok, tubuhnya yang langsing, kulitnya yang putih bersih, parasnya yang cantik, bibirnya yang tebal, bicaranya yang rada cadel, rambutnya yang hitam lurus terurai, matanya yang tajam sampai kebiasaannya pipis di lantai dikamar mandi yang tak pernah dikuncinya itu memang sering membuatku mencuri curi pandang terhadapnya.

“Neng Fani sih orangnya bebas teuingg den. Soklah jangan takut dimarahin. Mamang juga sering melihat neng Fani begituan dengan berganti ganti lalaki di vila ini kok” ujar mang Danu.

Wah, penjelasan mang Danu tersebut membuatku tenang dan terangsang juga untuk mencicipi mbak Fani. Setelah selesai menjelaskan semuanya, akhirnya aku memberikan uang damai kepada mang danu untuk informasinya, lalu kami membawa melon ke angkot dan segera pulang ke Jakarta. Selama dalam perjalanan, Evi bercerita mengenai kebiasaannya mencuri blue film milik mbak Fani dan mbak Indah. Dari sanalah ia mempelajari semua yang dipraktekkan tadi denganku. Aku berlagak tenang dan acuh saja mendengarnya.
Pukul 00.30 WIB kami sampai di rumah Evi. Aku tak mengantarnya ke rumah, karena orang rumah mengira Evi dari rumah temannya untuk belajar. Setelah Evi pulang, kamipun berlalu ke rumahku.

Bersambung lagi ke PART III (…kalo asik, kasih GRP dong biar semangat niy )

INEM (pembantu yang nakal)
[img=http://img61.imageshack.us/img61/5769/inemao2.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/3131/inem1uw3.th.jpg]

INDAH (pacarku yang cantik)
[img=http://img162.imageshack.us/img162/3904/indahby7.th.jpg]
[img=http://img516.imageshack.us/img516/8569/indah1si8.th.jpg]

EVI (adik pacarku yang hiper)
[img=http://img59.imageshack.us/img59/1632/evial8.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/6462/evi1li9.th.jpg]

FANI (kakak pacarku yang binal)
[img=http://img227.imageshack.us/img227/4373/fanisb2.th.jpg]
[img=http://img113.imageshack.us/img113/1607/fani1ru8.th.jpg]