PART.IV the end (antara Indah, adiknya, Inem pembantunya, kakaknya dan Mamanya)
“Mah, papa ikut anak anak balik ya. Bali baru saja nelpon papa dan minta rapat mendadak” ujar Papa lewat handphone.
“Iya Pah, bye” sahut mama sambil mematikan speaker phone 9300 nya, lalu mematikan handphone.
Akhirnya Mama meminta kami mengenakan pakaian. Kamipun segera berhamburan ke perpustakaan di sebelah rumah.
“Aduh mbak, gimana nih. Kontolku masih tegang dan retsleting celana nggak bisa ditutup” sahutku memelas pada mbak Fani.
Mbak Fani berusaha membetulkan posisi kontolku yang tidak bisa ditutup oleh celana tersebut, namun tetap saja tak bisa ditutupi oleh celana ataupun kaosku. Mbak Fani pun keluar perpustakaan, dan tak lama kemudian kembali menghampiriku.
“kata mama, pas papa pulang kamu ngumpet aja di kamar Inem. Kamu disuruh nunggu, sampai papa berangkat ke bali. Mama mau ngomong sama kita semua. Tenang aja, papa nggak pernah keruang belakang tempat kamarnya Inem kok.” ujar mbak Fani sambil sesekali mengocokkan kontolku dengan tangan kanannya.
Tepat pukul 20.00 WIB papa dan semua sampai dirumah, namun sejak jam 19.00 WIB aku telah diminta menunggu di kamar Inem. Aku sendirian di kamar Inem yang berukuran 3x3 m itu. Kunyalakan radionya Inem, dan tanpa sadar aku tertidur. Tepat pukul 23.00 WIB aku dibangunkan oleh Inem.
“Den, dipanggil ibu di ruang tengah tuh” sapa Inem ketakutan.
Kulihat kontolku, masih saja mengacung dan keras. Aku kebingungan dengan hal yang satu ini. Sambil berusaha membetulkan kontolku, tiba tiba Inem mesem mesem dan berkata: “Aduh Den, jangan harap jadi kecil sebelum 2 hari. Dulu aja mas Ivan supir bapak sampai cuti 2 hari karena kontolnya dibuat keras seperti ini sama mbak Fani ”.
“Ya sudahlah Nem, ditutup sama kaos saja” sahutku kebingungan.
Kamipun menuju ruang tamu. Semua tertunduk malu, sedangkan mama hanya termenung melihat semua anak gadisnya. Aku dan Inem dipersilahkan duduk oleh mama, namun semua anak gadisnya masih saja tertunduk. Kamipun diinterogasi oleh mama. Satu persatu menangis, termasuk mama. Karena tak bisa lagi menahan amarah, akhirnya mama berteriak dengan keras: “SUNDALLLLL……………”
Suasana ruangan menjadi semakin hening dan mencekam. Mama memandangi kontolku yang masih menonjol namun setengah tertutup kaos.
“itu kamu kenapa”? Tanya mama sinis sambil menunjuk kontolku
Aku hanya terdiam tak bisa menjawab, hingga akhirnya mbak Fani angkat bicara, diikuti lirikan Indah dan Evi. Mendengar penjelasan mbak Fani, Indah berusaha menutup mulutnya karena tertawa.
“kamu jangan cengengesan Ndah” ujar mama marah kepada Indah.
Mama pun meminta satu persatu anak gadisnya menjelaskan semua yang terjadi. Mulai dari Evi, Indah, Mbak fani, bahkan Inem. Mama nampak kaget mendengar penjelasan mereka yang lebih spesifik itu.
“Jadi, kalian ini benar benar maniak seks ya. Mama sedih sekali mendengar dan melihat ini semua” ujar mama sambil meneteskan air mata sekali lagi.
“Baiklah kalau demikian. Mama mau keluar sebentar, dan jangan ada diantara kalian yang melakukan itu lagi. Semuanya tidur dikamar masing masing”. Ujar mama sambil menarik tanganku ke ruangan belakang, lalu memintaku masuk dikamar Inem, kemudian mama keluar sambil mengunci pintu kamar dari luar.
Tepat jam 01.00 pagi mama membangunkan aku yang tertidur pulas di kamar Inem. Lagi lagi aku melirik kontolku yang masih mengacung dan keras.
Mama mengajakku ke ruang makan, dan mempersilahkanku menikmati makanan yang telah disajikan di meja. Mama pun memanggil semua anak gadisnya. Selesai makan, kami kembali diminta ke ruang tamu. Mama meminta kami semua duduk di karpet, sedangkan mama duduk diatas sofa. Kami semua kaget, karena saat itu mama melepaskan jilbabnya. Ah, cantik sekali mama jika tanpa jilbab. Terpampang tulang pipinya yang sexy, kulit putihnya, dan payudaranya yang seperti pepaya. Biasanya tetek itu tertutup jilbab, namun akhirnya dapat terlihat dengan jelas dibalik bajunya yang ketat. Mama pun melepaskan kacamatanya, jam tangannya, lalu menyilangkan kakinya dan kemudian menepukkan tangannya dengan keras beberapa kali. Tiba tiba dari teras depan masuk seorang laki laki dan perempuan yang telah telanjang bulat dihadapan kami.
“Saya meminta kalian menari dan bermesraan dihadapan kami, namun jangan sekali kali menjamah satu orangpun dari kami. Silahkan dimulai” ujar mama ketus kepada kedua orang tersebut.
Kami semua tertunduk malu. Tiba tiba dengan suara lantang mama meminta kami memperhatikan sepasang kekasih yang meliuk liukan tubuhnya sambil sesekali berciuman mesra. Setelah 30 menit berlalu, aku melihat posisi duduk masing masing kami yang mulai berubah ubah karena memperhatikan kedua orang yang bermesraan di depan kami. Tanpa sadar, Indah terlebih dulu memberanikan diri memegang payudara kanannya. Memutarnya, meremasnya, dan sesekali berganti ke payudara kirinya yang masih terbungkus kaos, namun tak memakai BH. Evi hanya bengong, sambil sesekali menatap kami satu persatu. Lain halnya dengan mbak Fani, ia hanya menatapi mama dengan muka penuh kebingungan.
“Kenapa kamu Fani. Nggak usah pura pura alim lah. Perhatikan saja mereka, dan lakukan seperti yang kamu biasa lakukan” tantang mama dengan nada sinis kepada Fani.
Tidak tau karena kesal dengan amarah mama, atau karena sudah horny, namun tiba tiba saja mbak Fani meraih kontolku,mengocoknya perlahan lahan sambil melirik takut ke mama. Evi memperhatikan aku dan mbak Fani, sedangkan Inem dan Indah masih terus memperhatikan kedua orang yang menari dan bermesraan dihadapan kami. Aku mulai melihat Indah mulai memasukkan tangannya lewat bawah kaos untuk memegang teteknya.
“Ayo, kok kalian hanya segini aja? Katanya maniak seks”? ujar mama ketus
“Sekarang buka baju kalian semua” tambah mama dengan suara lantang
Kami bingung mendengar ucapan mama. Kami pun saling pandang menandakan kebingungan dengan perintah mama tersebut.
“Ayo buka bajunya semua” kata mama dengan tegas sekali lagi.
Kamipun mulai melepaskan pakaian kami satu persatu, hingga akhirnya semua berbugil ria. Yang membuatku bingung adalah 2 buah bekas kecupan di payudara Evi. Seingatku, aku tidak pernah membuat “duatanda mata” itu di payudaranya. Ah, sudahlah pikirku. Tiba tiba penari lelaki bertanya pada mama: “kok tante nggak ikutan bugil”
“Kurang ajar kamu. Kamu saya bayar untuk menari, bukan nasehati saya” ujar mama marah sambil kembali memerintahkan kami untuk saling pegang pegangan.
Karena Evi dan Inem masih saja bengong, akhirnya mama minta Inem meraba raba Evi. Evi pun kaget, namun nampak menikmatinya. Mama memanggilku sambil membuka plastik yang ada di meja. Mama mengeluarkan salep, obat obatan dan air mineral. Mama mengolesi ujung pahaku dengan salep, dan mengurutnya lembut. Sesekali kuperhatikan pandangan liar mama ke kontolku, namun ketika aku memperhatikan, mama segera membuang muka. Aku disuruh duduk di sofa oleh mama, dan Inem dan semua anak gadisnya meminum pil yang diberikannya. 20 menitan kami disuruh duduk terdiam di sofa, dan mama memberikan segepok uang kepada pasangan penari tersebut dan mempersilahkan mereka berpakain dan pulang. Setelah menerima uang, dengan nakalnya penari pria meremas tetek mama dan kemudian berlalu bersama pasangannya.
“bangsat” kata mama berteriak diikuti gelak tawa kami semuanya.
Aku terheran, karena kontolku tiba tiba berubah warnanya menjadi kemerahan, dan aku seperti merasakan kekuatan baru di tubuhku. Disisi lain, aku melihat duduk Inem dan para anak mama yang seperti orang gatel.
“Sebentar lagi ya” kata mama misterius sambil mesem mesem.
“Mah, aku pengen ke toilet nih” ujar mbak Fani, diikuti Inem, Indah dan Evi. Semua anak perempuan mama berhamburan ke toilet.
“Kalau lihat saya, kamu terangsang nggak” Tanya mama padaku ketika ditinggalkan oleh semua putrinya dan pembantunya.
Aku hanya bisa terdiam dan tertunduk. Saat tertunduk, aku seperti kaget melihat urat kontolku yang membesar di sekitar batangnya.
“Kenapa, bingung ya lihat itu kamu jadi seperti itu”? Tanya mama dengan nada sinis, sambil menunjuk kontolku.
“Sini ditambahin, biar semakin besar lagi” sahut mama.
“kesini kata saya” teriak mama sekali lagi.
Mama mengambil salep itu lagi, kemudian mengoleskannya di kepala kontolku. Kepala kontolku terasa dingin setelah diolesi salep itu. Kemudian mama memintaku meminum kapsul. kapsul itu berwarna coklat dan putih. Setelah itu mama mempersilahkanku duduk. 5 menit kemudian, aku terasa ingin pipis juga, hingga akhirnya aku pamit ke toilet. Mama hanya mengangguk mempersilahkan.
Sesampainya di toilet, aku kaget juga melihat Inem yang sedang dijilati, dikobel kobel memeknya, dihisap putingnya, diraba raba perutnya secara berebutan oleh Indah, mbak Fani dan Evi. Karena mereka tidak melihatku, akhirnya aku memutuskan pipis di kamar mandi belakang. Di kamar mandi aku memperhatikan kontolku yang sangat keras dan berurat urat, berwarna merah padam, dan bagian kepalanya menjadi lebih besar dari biasanya. Apa ini, pikirku bingung? Akupun seperti merasakan dorongan seksual yang hebat sekali, dan tanpa sadar mengocokkan kontolku sendiri secara perlahan.
“Kenapa pipis disini” kata mama lembut, namun membuatku kaget.
Mama memegang kontolku erat erat, dan menariknya seperti menarik belalai gajah. Karena tak bisa mengendalikan diri, aku memberanikan diri meremas pantat mama yang mulai turun itu.
“Kamu jangan kurang ajar ya” ujar mama sambil melepas kontolku dan menamparku.
Kali ini mama menarik tanganku, namun lagi lagi aku tak bisa mengendalikan dorongan seksual yang begitu luar biasa, hingga kali ini aku memberanikan diri meremas payudara kiri mama dari samping.
“Kamu ini memang bandel ya” sahut mama sambil menamparku sekali lagi.
Mama pun memintaku mengikutinya. Rupanya mama telah meminta semua putrinya dan Inem ke kolam renang di samping rumah. Alangkah kagetnya aku kali ini, karena kali ini aku melihat mbak Fani telah menjilati memek Evi dengan buasnya. Indah menghisap tetek Inem sambil meraba raba memek Inem.
“Lihat buasnya mereka semua. Saya tidak menyalahkan kamu karena telah menggauli mereka semuanya. Ini memang salah saya” kata mama sambil meneteskan air mata
“Ini kali terakhir kamu main dengan tiga putriku, karena saya akan bawa mereka ke Sydney dengan saya untuk menetap disana. Saya juga telah memberitahukan ini dengan mereka. Jadi, kali ini nikmati saja sepuasnya” ujar mama tegas.
“Kalau gitu, aku boleh dong gituan juga dengan mama” sahutku memberanikan diri.
Aku memang tergiur untuk menikmatinya, sejak ia membuka jilbabnya dan memperlihatkan tetek pepayanya yang sampai saat ini masih tertutup baju ketatnya. 10 menitan aku tidak mendapatkan jawaban. Akupun tak berani lagi meremas atau memegang mama, karena takut ditampar lagi.
“Saya tetap tidak mau. Kenapa sih nafsu lihat saya? Sana, main saja dengan mereka semua” ujar mama.
Tiba tiba semua putrinya dan Inem menghampiri aku dan mama. Tanpa malu malu, mbak Fani langsung memegang kontolku. Indah meraba raba pantat mbak Fani, dan Evi berciuman sangat mesra sambil mengadu lidahnya dengan Inem. Aku melupakan mama, dan menikmati sensansi yang sangat baru dan luar biasa ini.
“Den, Inem mau dong dimasukin” sahut Inem memelas.
“Enak aja kamu Nem, aku dulu ya sayang” sahut Indah sambil memasukkan memeknya di kontolku
“Auuuwwww….kok jadi besar begini sih say” kata Indah sambil terus berusaha memasukkan kontolku kememeknya.
Mbak Fani berdiri dibelakangku, kemudia meminta Evi mendorong tubuh Indah supaya terdorong kuat. Sedangkan Inem jongkok di antara kontolku dan memek Indah sambil berusaha menjilatinya.
“Ahhhhhh…. Dorongnya pelan pelan dong Vi” ujar Indah kepada Evi yang mendorongnya dari belakang.
Karena merasa terlalu lama, mbak Fani membalikkan badanku kehadapannya dengan kasar. Mbak Fani menggenggam kontolku dengan keras, mendorongku ke tembok dekat pintu, lalu mendorong tubuhnya dengan kuat untuk memaksa kontolku yang besar masuk ke memeknya.
“akkkkhhhhhh…….besar amat sayang” teriak mbak Fani sambil terus memutarkan pantatnya, mendorong, memutarnya, mengangkat kaki kanannya sedikit, hingga akhirnya kontolku terbenam sepenuhnya di memeknya. Mbak Fani menarik tubuhnya perlahan lahan, mendorongnya, menariknya, hingga membuat kami merasakan kenikmatan.
“Terusss mbbb….akkkk…..” sahutku lembut
“mmmm…..ayo sayang…..” seru Evi menjilati kontolku dari bawah.
“creeettttttt….” Kontolku membasahi memek mbak Fani dan mulut Evi. Aku langsung berjalan menuju Indah, kuhujamkan kontolku dengan kasar di memek Indah.
“Ahhhh sayang….ennna kkkkk ….ennnakkk ….”ujar Indah terbata bata
“Ayo sayang ….mmmm” sahutku pada Indah sambil memutar mutar kontolku dengan cepat.
“Akhhhhhh……….enakkkk” kata Indah sambil terkulai lemas dipundakku.
Akupun mencabut kontolku dari memek Indah, dan meminta Evi menungging. Kuludahi pantat Evi, kucolok pantatnya dengan perlahan, lalu kusodokkan kontolku dipantatnya.
“Ahhhhhhh kakakkakakkk..kkkk…kakkk….sakitttttt” teriak Evi.
Aku tak memperdulikannya lagi. 3 menit aku bermain di pantat Evi dengan buas, hingga akhirnya kumuncratkan maniku di pantatnya. Maniku menetes keluar bercampur darah dari pantatnya. Lalu kucabut kontolku dan duduk di kursi. Evi nampak kesakitan dengan pantatnya, hingga mbak Evi melap pantat Evi, kemudian menjilatinya dengan rakus. Inem menghampiriku, dan tanpa permisi memasukkan kekontolku ke memeknya. Inem menggoyangkan memeknya dikontolku. Inem memutarnya, menaikkan, menurunkan hingga gerakannya semakin cepat. 5 menit Inem menggoyangku, lalu berkata: “kalau mau keluar, bilang ya den”
Aku tidak mempertanyakan alasan Inem yang memintaku memberitahukannya jika ingin keluar, hingga akhirnya aku mulai merasa ingin memuntahkan maniku.
“sekarang mau keluar Nem” sahutku cepat, dan Inem memperlambat gerakannya.
“Mbak Indah sini” panggil Inem kepada Indah yang sedang asyik menjilati memek Evi dan mbak Fani secara bergantian.
Tangan kiri Inem menuntun Indah jongkok bersamanya didepan kontolku sambil tangan kanannya mengocok kontolku dengan cepat.
“cretttt…..” berceceranlah maniku dimuka Indah dan Inem.
Indah dan Inem menarikku dan menghampiri mbak Fani dan Evi yang sedang asyik memainkan lidah mereka sambil saling meremas tetek. Setelah menghampiri mereka, Indah berbisik pada mbak Fani, Evi dan Inem, hingga akhirnya mereka berempat duduk berderet dan mengangkang membuka memek mereka. Indah memberikan komando, agar aku mengentoti kami satu persatu secara bergantian mulai dari yang paling kiri.
Aku mulai memasukkan kontolku di memek Evi. Tangan kanan Evi merangkul pantatku, seakan memaksaku menghujamkan kontol dalam dalam
“ayo kakak, lebih cepat lagi” ujar Evi bernafsu
Kuayun kontolku dengan cepat dimemek Evi, namun tiba tiba Indah menarik tanganku, meraih kontolku, memasukkannya ke memeknya, namun kali ini indahlah yang menaik turunkan memeknya.
“Ahhhhh…..sayang, kamu sodok juga dong” ujar Indah memelas.
Aku mengeluarkan mani dimemek Indah di menit kelima, lalu mbak Fani menarikku dan ia membalikkan badannya, menungging, lalu memintaku memasukkan kontolku ke pantatnya. Kepala mbak Fani tertempel ke tanah, sedangkan kedua tangannya mengempit pantatnya yang telah menjepit kontolku. Kusodok pantat mbak Fani dengan kasar hingga membuatnya meraung raung.
“aduh…. Aduhhhh…. aduh …..” jerit mbak Fani lantang
Aku tak memperdulikannya, namun kontolku semakin dijepit lebih hingga akhirnya kumuntahkan maniku di pantatnya. Mbak Fani langsung membalikkan tubuhnya, dan mengangkang kembali, lalu memintaku menghujamkan kontolku di memeknya. Namun di luar dugaan, Inem menarik lenganku dan memaksa kontolku masuk di memeknya. Inem menggoyangku dengan lembut selama 5 menit, hingga akhirnya aku mencabut kontolku, dan memuntahkan maniku ke arah mbak Fani.
Sekarang Evi berdiri dan menarik tanganku, kemudian memintaku kembali mengentotinya. Kali ini Evi mengikuti gaya Indah. Evi memajukan tubuhnya, bahkan memutarnya hingga membuatku kegelian.
“Ahhhh Eviiiii eeenn….aaaaakkkkkkkkkk sayang” ujarku terbata bata
Indah, Inem dan mbak Fani mengelilingi aku dan Evi. Sekarang aku memacu kontolku dengan cepat di memek Evi. Mbak Fani menjilati tetek kiri Evi. Indah meremas remas tetek kanan Evi, dan Inem menjilati pantatku dari belakang.
“Ahhhhhhhhh……aku mau keluar sayang” ujar Evi berteriak
Evi terkulai lemas menandakan ia telah keluar, namun aku terus memacu kontolku dengan cepat sambil sesekali menggoyangnya. Evi terkulai tak berdaya sambil mendesis seperti ular.
“Kalau mau keluar, bilang ya sayang” bisik mbak Fani lembut ditelingaku.
“Aku udah mau keluar mbak” sahutku
Mbak Fani pun meminta Indah dan Inem jongkok bersama sambil mengatakan: “semprot muka kami sayang”.
Kutarik kontolku dari memek Evi, dan kusemprotkan di muka Inem dan Indah. Ketika ingin menyemprotkan mbak Fani, kontolku sudah tak bisa mengeluarkan mani lagi. Akhirnya mbak Fani menjepitkan bibirnya dari samping kekontolku. Ia mengocok kontolku dengan gaya khasnya.
“Akkkhhhhh….gelllllllllliiiiiii mbak” sahutku sambil merinding
Mbak Fani melepaskan bibirnya dari kontolku, lalu mengocoknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya meremas remas pantatku.
“Ayo sayang, semprot mbak dong” ujar mbak Fani terbata bata.
Aku melepaskan tangan mbak Fani yang sedang mengocok kontolku, dan meminta Indah yang mengocokkannya, dan meminta mbak Fani memejamkan matanya. Sambil mengocok kontolku, Indah menghisapi putting tetekku. Semakin lama, Indah semakin kencang dan kasar mengocok kontolku, hingga akhirnya kumuntahkan maniku di mata mbak Fani. Kali ini kuminta Inem menjilati maniku di mata mbak Fani. Inem pun menurutinya, dan menjilati mata mbak Fani yang berlumuran maniku. Aku nampak kelelahan, demikian halnya dengan Indah dan Evi yang telah terkulai lemas. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk kedalam kolam berenang bersamaan.
5 menit didalam kolam renang membuat badan kami segar kembali. Indah mulai naik dari kolam berenang, diikuti Inem, lalu Evi. Ketika mbak Fani ingin turut naik, aku menarik tangannya, lalu menyenderkan tubuhnya di tangga kolam. Aku mengangkat kaki kanan mbak Fani, lalu meletakkannya di tangga, dan memasukkan kontolku ke memeknya. Aku berciuman sangat mesra hingga mempermainkan lidah kami, bahkan sesekali mbak Fani menggigit lidahku.
“Ayo sayang, goyang mbak Fani” ujar mbak Fani dengan manja.
Kumasukkan kontolku perlahan, hingga akhirnya kupacu dengan cepat. Mbak Fani mendesah desah seperti orang kesurupan, hingga akhirnya kuciumi bibirnya. Mbak Fani mendorong tubuhku, hingga kontolku terlepas dari memeknya, namun ia menarik tanganku kembali, dan sekarang mbak Fanilah yang mendorongku ke tangga kolam. Mbak Fani mengangkat kaki kirinya, memasukkan memeknya ke kontolku, lalu memutar tubuhnya hingga memacu tubuhnya dengan cepat. 10 menit kami bergumul di tangga kolam, hingga akhirnya aku menjambak rambut mbak Fani, merangkulnya erat erat hingga memelukku rapat dan kumuntahkan maniku di memeknya. Aku dan mbak Fani berpelukan, lalu kukecup bibirnya dengan lembut.
Indah memberikan handuk padaku dan mbak Fani. Kami berjalan ke arah Evi dan Inem yang terkulai di kursi panjang. Mbak Fani dan Indah duduk berpangkuan. Tiba tiba kulihat mama yang masih duduk sambil melipatkan tangannya dan menyilakan kakinya.
Melihat mama, aku memberanikan diri untuk bertanya pada mbak Fani.
“Mbak, boleh nggak aku ngentot sama mama?” ujarku pelan dan penuh rasa cemas.
Mbak Fani tidak menjawab, namun Indah berkata: “kalau berani, coba aja”
Akupun berlalu menuju mama sambil mengocokkan kontolku dengan cepat, sambil diiringi lirikan mata mbak Fani dan tatapan tajam Indah. Aku tiba dihadapan Mama, dan mama melepaskan tangannya yang berlipat sambil nampak kebingungan menghadapi aku yang datang menghampirinya sambil mengocok kontolku . Kali ini aku tidak memegang, namun aku terus mengocokkan kontolku dan mengarahkannya ke baju ketat mama.
“Eh…eh…eh… kamu mau ngapain” ujar mama kebingungan melihat ulahku
Mama berusaha berdiri, namun aku mendorongnya lembut hingga ia duduk kembali di kursi. Mama meronta ronta sambil teriak memanggil nama nama anaknya serta Inem. Indah, mbak Fani, Evi disusul Inem berlarian menghampiriku dan mama.
“Fani, tolong mama mau diperkosa nih” teriak mama lantang.
“Indah, tolong mama dong. Evi, Nemmmmmm” teriak mama lagi dengan nada yang lebih keras.
Rumah besar mereka memang membuat tetangga tidak bisa mendengar kami. Mama terus berteriak, namun aku terus mengocokkan kontolku dengan lembut, hingga akhirnya kumuncratkan maniku di baju ketat mama.
“aduhhh, gimana sih ini…. Kamu tuh…..” ujar mama sambil melap maniku dari bajunya.
Indah, Evi dan Inem hanya terdiam, dan tiba tiba mbak Fani mengeluarkan suaranya dengan lembut: “kalau mama mau, nggak apa apa kok mah. Kami nggak ngadu deh ke papa. Lagian, tadi aku lihat mama meremas remas payudara mama kok”
“ngaco kamu Fani” ujar mama sedikit geram
Aku membelai belai kontolku, dan kali ini kuberanikan untuk mengarahkannya ke memek mama yang masih terbungkus rok. Mama mendorongku, lalu kembali melipatkan tangannya. Kali ini Indah yang mengocokkan kontolku dengan lembut sambil mengarahkannya ke baju ketat mama, dan mbak Fani membisikan sesuatu di telinga mama. Aku tidak mendengar bisikan mbak fani, namun akhirnya mbak Fani menarik tanganku, kemudian membimbingnya ke arah mama, namun mereka semua mundur 2 meter dari kursi mama. Aku terdiam 5 menit dihadapan mama sambil mengocokkan kontolku dengan lembut.
“Kok ngocoknya pelan, yang cepat dong. Muntahkan lagi di baju mama” ujarnya sinis sambil melepaskan lipatan tangannya.
Ahhh, luar biasa sekali pikirku. Aku tak tau apa yang dibisikkan mbak Fani pada mama. Aku hanya mengocokkan kontolku lebih cepat, hingga sekali lagi kumuntahkan maniku di baju mama. Aku mengurut kontolku dengan keras, hingga mengeluarkan tetes mani terakhir, setelah itu aku terdiam 5 menit memperhatikan kontolku yang masih saja mengacung dan keras. Aku memandang mama, demikian sebaliknya.
“Kok, cuma dibaju” kata mama nakal
Akupun segera meremas tetek pepayanya yang masih terbungkus BH dan baju ketatnya itu, lalu mama membisiki telingaku: “saya nggak suka yang kasar kasar. Yang lembut ya”
Akupun menarik lembut kepala mama kearah kontolku, kemudian memintanya menjilatinya. Mama mengocokkan kontolku terlebih dahulu, lalu menjilatinya, menghisapnya, hingga mengocokkannya kembali. Aku mencabut kontolku dari mulutnya, kemudian memuncratkan maniku sekali lagi di bajunya.
“Aduh, kamu kok suka muncratin disini sih” kata mama menggoda
Akupun membuka bajunya dengan lembut sambil meletakkan tangan kanannya dikontolku, lalu ia mengocokknya. Aku sungguh kaget melihat tetek mama yang indah. Bentuknya memang seperti papaya, jatuh kebawah bergelayutan, namun puttingnya masih berwarna kemerahan. Aku meremas teteknya dengan lembut, hingga akhirnya aku melepaskan kontolku dari tangannya, dan mengarahkannya ke tetek kanan mama. Kumainkan kontolku di putingnya, lalu kuminta mama meludahi belahan teteknya. Aku meminta mama maju sedikit kedepan, lalu kuletakkan kontolku dibelahan dadanya, kemudian kujepit dengan tetekanya yang kurapatkan dengan tangan kiri dan kananku. Aku mengentoti teteknya saat ini. 5 menit kuentoti tetek mama, hingga akhirnya aku memuncratkan mani didagunya. Mama memintaku membersihkan mani didagunya dengan lidahku. Aku menunjukkan keberatan, namun mama memaksaku. Akhirnya aku kembali meletakkan kontolku di belahan teteknya, menjepitnya, lalu kukocokkan lagi seperti tadi. Mama melepaskan kontolku dari jepitan teteknya, dan memintaku menuruti kemauannya. Dengan berat hati, kujilati maniku didagu mama, hingga kemudian ia menjambakku dan meghisap mulutku hingga menyedot semua maniku yang tercecer di lidahku. Mama memintaku menjulurkan lidah, dan ia menghisapnya seperti kontol.
“Sekarang, hisap putting mama, lalu buka rok dan celana mama ya” kata mama lembut.
Kuhisap putingnya kirinya, kuangkat tetek kanannya hingga menggelantung lalu kuremas remas. Mama mendesis seperti ular sambil berusaha meraih kontolku.
“Ayo say, sekarang ke sini mama” ujar mama sambil mengelus elus memeknya yang masih terbungkus rok dan celana dalam.
Akupun jongkok dihadapan perutnya, kujilati pusarnya sambil memintanya mengangkat tubuhnya agar aku bisa menaikkan roknya. Kuangkat roknya hingga menutupi perutnya, kemudian kubuka kakinya dan kugigit memeknya yang masih terbungkus celana dalam putih bersihnya.
“kamu heeee….bat sayangggggg” sahut mama terbata bata
“Ayo dong, lepas celananya” sahutnya lagi sambil membelai rambutku seperti anak kecil.
Kubuka celana dalam mama hanya sampai di betis, lalu kuraba pahanya hingga pangkalnya. Mama nampak merinding dan mendesis keenakan. Sekarang kuraba memeknya yang telah basah. Kurentangkan kakinya dengan kasar hingga celana dalamnya yang di betis robek. Kubuka seluruh celana dalamnya yang telah robek itu lalu kuciumi.
“Sayang, sudah nggak tahan nih. Ayo dong jilatin” ujar mama sambil menggoyang goyangkan tetek kanan dan kirinya.
Kujilati memek mama yang sudah sedikit lebar itu. Mama memintaku memasukkan lidahku kememeknya, hingga akhirnya tangan kanannya menempelkan kepalaku ke memeknya hingga membuatku tak bisa bernafas.
“Kita ke kolam ya” ujar mama lembut sambil menggandeng tangan kananku
Sesampainya di kolam, mama memegang besi tangga kolam, lalu menungging. Mama mengarahkan kontolku di pantatnya. Kuhujamkan kontolku hingga terbenam, dan mama meringis. Mama memintaku untuk membenamkan kontolku dipantatnya lalu menyuruhku diam saja. Tiba tiba ia memberikan kedua tangannya padaku untuk dipegang. Dalam posisi menungging, kontolku terbenam di pantatnya dan tangan kami berpegangan, tiba tiba mama memutar pantatnya perlahan lahan, hingga akhirnya berputar dengan cepat sekali. 2 menit pertama aku menyemprotkan maniku di pantatnya. Menit ke 5 aku memuntahkan mani yang kedua. Menit ke 10 kumuntahkan yang ketiga hingga maniku menetes di lantai.
“Mahhhh…..ampuuuuuunnnnn……..nikkkmaattt….beett…..t tuuullll” kataku sambil meringis
“ahhh….ahhhhh….ouuuuhhhhhhhhhggggghhhhh….” sahut mama sambil melepaskan tanganku dan mencabut kontolku dari pantatnya.
Mama langsung menghisap kontolku, mengocoknya dan sekarang ia menyenderkan pantatnya dibesi kolam, lalu memasukkan kontolku di memeknya sambil berkata: “tadi kan mama yang kerja dan puaskan kamu, sekarang puaskan mama ya”.
Karena tak mau dianggap egois, akupun meminta mama berbaring dilantai, kemudian aku mulai memainkan jariku dimemek mama. Satu jari kumasukkan, namun mama belum bereaksi apapun. Dua jaripun demikian. Akhirnya kumasukkan tiga jariku, namun mama baru bereaksi sedikit. Memek mama memang sudah lebar. Kontolku yang sebesar nampaknya masih longgar jika menembus memeknya. Aku sedikit kebingungan, hingga akhirnya aku melepaskan jam tangan dan cincinku. Aku meludahi tangan kananku, lalu mulai menggesek gesekkannya di memek mama. Mama mulai mendesis desis, saat bulu tanganku menggesek memeknya. Selanjutnya kumasukkan tiga jariku kememeknya, lalu empat jari, hingga akhirnya kumasukkan kepalan tanganku secara perlahan
“Ahhhhhhh…..sakiiiiitttttttt…..” teriak mama
Aku tak memperdulikannya, hingga akhirnya kepalan tanganku menembus memek lebarnya. Kuludahi tanganku 5 kali sambil kumasukan dan kukeluarkan di memek mama.
“Ahhhh nikkkkkmatttt…terusss….terussss….akkkkhhhh … ohhhhh ……lebihhh ceeeeeppp……aattttttttt sayanggg” teriak mama
Tangan kiriku kupuaskan untuk meremas remas tetek pepayanya, dan tangan kananku kukeluarkan dan kumasukkan dengan cepat dimemeknya. Aku merasakan mama telah keluar, namun aku terus memacu tanganku lebih cepat hingga akhirnya mama keluar kali yang kedua. Setelah melihat tetesan darah, aku mencabut tanganku perlahan, diikuti teriakan mama: “auwwwww”
“jilatin dong say” ujar mama lirih
Kujilati cairan bercampur darah dimemek mama sambil sesekali meremas lipatan perutnya yang putih dan menggoda. Mama menjambak rambutku, dan menariknya kemukanya sambil berkata: “terima kasih sayang, mama puas sekali”
“aku juga ma” sahutku sambil mengangkatnya berdiri.
Mama memanggil semua putrinya dan Inem. Setelah mereka datang, mama meminta mereka semua jongkok dihadapan kontolku, diiringi dengan mama. Mama meminta semua menjilati kontolku secara bersamaan. 10 menit mereka menjilati, menghisap sampai menggigit biji pelerku hingga aku memuntahkan mani selama 5 kali di muka mereka masing masing.
Aku mengambil jamku dilantai, dan waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Akhirnya kami masuk satu persatu kedalam rumah. Evi memelukku dari depan, mengangkat kaki kanannya, memasukkan kontolku ke mememknya, lalu dengan perlahan mengambil posisi di gendong olehku.
“Ayo kak, kita mandi air hangat didalam, tapi kakak gendong aku ya” bisik Evi sambil terus memaju mundurkan dan memutarkan memeknya yang tertancap kontolku. Akupun berjalan menuju kamar mandi dengan jalan perlahan, karena kedua kaki Evi menjepit erat pantatku.
Di kamar mandi, aku dimandikan oleh mereka semua. Setelah mbak Fani menghandukiku, mama mengoleskan salep yang lain dengan yang tadi, lalu ia memintaku berpakaian.
Mereka pun berpencar ke kamar masing masing, dan aku memakai kaos dan celanaku. Aku melirik kontolku, dan kali ini kulihat telah kembali seperti semula. Setelah berpakaian, aku menuju ruang tengah. Mama memangil semua putrinya serta Inem. Semuanya telah mengenakan pakaian. Mama berbicara serius sehubungan dengan keputusannya memisahkan kami. Akupun menyetujui keputusan tersebut, dan akhirnya mama memintaku membuka retsleting celana ku dan mengeluarkan kontolku sekali lagi. Mama meminta semua yang disitu menghisap kontolku untuk terakhir kalinya. Mulai dari Evi, mbak Fani dan Inem kusemprot dengan mani di mulut mereka. Sampai di Indah pacarku, aku berhenti sejenak, memintanya berdiri, memeluknya sambil meneteskan airmata.
“Maaf kalau aku punya salah ya Ndah” bisikku di telinga Indah
Tanpa berkata apapun, Indah mengocokkan kontolku dengan tangannya, lalu mengisapnya hingga kusemprotkan maniku yang tidak banyak lagi dimukanya. Akhirnya aku bergeser ke arah mama, dan membiarkan kontolku dihadapnnya. Mama membuka kancing dasternya hingga tetek pepayanya menyembul. Mama meletakkan kontolku dibelahan dadanya, kemudian menjepit kontolku dengan teteknya, meludahi belahan dadanya, hingga akhirnya ia mengocokkan kontolku dengan tetek pepayanya. Mama mengeluarkan maniku sebanyak 2 kali, hingga yang ketiga kontolku tak mengelurkan setetes mani pun. Mama mencabut kontolku dari teteknya, menghisapnya dengan buas, lalu mengurut kontolku seperti memeras jeruk. Kontolku benar benar mengecil sekarang, lalu mama memasukannya kedalam celana dalamku, menciumnya, lalu menutup retsletingku. Aku pun berpamitan pada mereka semua, hingga akhirnya tak bertemu mereka hingga saat ini.
TAMAT
