Cerita Antara KitaSeptember 30, 2006 8:40 pm

panda
Kisah-kisah tentang wanita tidak akan pernah berakhir, setidaknya buatku. Dalam kesibukan pekerjaanku, setiap hari selalu dihiasi oleh keindahan wanita, dengan segala nalurinya. Di atas meja kantorku, kuhiasi dengan photo dari gadis kecil berumur 3 tahun setengah. Dialah anakku, gadis yang paling berharga dalam hidupku. Segala tingkah dan ekspresinya terasa sangat indah bagiku. Dialah penyejuk dalam hidupku di tengah hiruk-pikuknya Jakarta dengan segala permasalahannya. Istriku bahkan beberapa kali marah karena aku tidak bisa memarahi anaknya yang menumpahkan air di lantai atau mengacak-ngacak dompet ibunya. Bagiku dia adalah anak yang sedang berkembang dengan baik. Kadang ingin mencoba melanggar aturan dan mengetahui apa akibatnya. Dan lebih banyak lagi adalah dalam proses berkembang dan belajar. Karena itu aku sangat hati-hati dalam mengeluarkan aturan. Aku hampir tidak pernah mengeluarkan aturan atau perintah, kecuali sesuatu untuk menjaga keselamatannya. Dibanding istriku, aku mungkin lebih sering memandikan anakku. Aku sering bepergian berdua dengan anakku apalagi kalau istriku sedang tugas pada hari sabtu atau minggu. Kadang ke mall untuk mencari makan atau membeli baju, kadang pergi berenang. Sering aku menjadi objek perhatian orang tatkala memandikan gadis kecil di shower pria, kemudian mendandaninya dengan baju yang cantik.

Wanita kedua dalam hidupku adalah istriku. Ia tidak dapat dibandingkan dengan wanita lainnya, karena ia adalah istriku. Aku cukup puas mendapatkannya sebagai istriku. Aku tidak mempunyai keluhan terhadapnya sama sekali. Mungkin juga karena aku masih punya kesempatan jalan dengan wanita lainnya. Sehingga setiap kali ada masalah dengan istriku selalu sirna tatkala aku kembali membuka pintu rumahku. Rasanya ia tidak banyak mengeluh dalam kesehariannya. Apalagi setelah punya anak yang lucu dan kubelikan mobil untuk membantu pekerjaannya. Akan tetapi hidup itu harus punya tantangan. Setelah semuanya terpenuhi, hidup bisa salah arah karena orang tidak mampu merumuskan tantangan dan cita-citanya. Karena itu aku memberikan tantangan kepadanya untuk membesarkan anaknya sehingga kelak menjadi anak yang berguna. Demikian juga aku memberikan tantangan untuk terus belajar dan berprestrasi dalam pekerjaannya. Dari yang kutangkap, istriku cukup bahagia dalam kesehariannya. Rasanya aku tidak salah.

Wanita ketiga dalam hidupku adalah pacar-pacarku. Aku akan protes kalau aku disamakan dengan laki-laki hidung belang atau mata keranjang. Bagiku wanita adalah bagian dari keindahan alam yang patut dinikmati. Aku mungkin termasuk pemuja wanita. Orang lain mungkin menyebutnya kelemahanku adalah wanita, aku tidak peduli. Tetapi wanita memang selalu mempunyai arti yang sangat tinggi bagiku. Karena itu aku sering merasa risih kalau ada orang yang mengolok-olok atau melecehkan wanita. Demikian juga aku merasa risih terhadap wanita-wanita yang menjajakan dirinya. Walau kadang aku memahami bahwa sebagian dari mereka melakukannya karena terpaksa oleh sebuah kebutuhan.

Perjalananku bersama wanita sampai ke tempat tidur selalu diawali dengan sebuah proses yang panjang. Aku tidak mudah dekat dengan sembarang wanita. Dan hanya dengan wanita yang aku merasa comfortable aku bisa jalan. Karena statusku yang sudah berkeluarga, maka pacar-pacarku juga selama ini selalu punya lelaki lainnya. Entah ia sudah bertunangan atau masih pacaran. Kalaupun ada yang belum punya pacar, akan tetapi dalam perjalanannya, akhirnya ia punya pacar yang lain juga. Diantara pacarku, ada yang mempunyai pacar keturunan Chinese. Entah kepikiran apa, akhirnya aku juga menginginkan kalau suatu saat punya pacar keturunan Chinese. Hal tersebut suatu saat kuutarakan kepada temanku Hendro, dua minggu yang lalu. “Oh ada Mas, aku pernah berurusan membantu wanita Chinese, waktu itu dia bersama temannya yang cantik, namanya Linda. Cobalah telepon nih nomor HP-nya.” Melihat pacarku selama ini yang cantik-cantik, Hendro sangat yakin kalau aku bisa dengan mudah menggaet Linda. Betul juga, tanpa membutuhkan waktu yang lama di telepon, Linda sudah mau diajak jalan malam ini.

Setelah aku menutup telepon, Hendro baru cerita bahwa Linda adalah seorang janda, bagiku tentu saja tidak masalah. Tetapi setelah menggambarkan kira-kira usianya dan postur tubuhnya aku menjadi sedikit ragu-ragu. Rasanya memang aku akan susah kenal dengan wanita dengan cepat. Pacarku selama ini selalu ada hubungan panjang dulu. Ada yang tetangga semasa aku masih kost, teman di kantor lama, client kantorku atau sekretaris pacarku. Melihat keraguan, yang memang rata-rata pacarku masih muda-muda, sedang usiaku masih kepala 3, Hendro cepat tanggap. “Nggak apa-apa Mas kalau tidak mau, untuk saya saja, kita suruh dia membawa temannya saja.” Hendro memang bajingan sama perempuan, baginya lancar saja meminta Linda membawa seorang temannya biar kita bisa jalan berdua-dua. Ternyata Linda menyetujuinya.

Tibalah waktu yang dijanjikan. Aku dan Hendro diminta menunggu di Hero Sunter. Tak lama kemudian masuklah sebuah taksi ke pelataran parkir tempat kami berada. “Tuh pasti dia,” ucap Hendro sambil keluar menghampiri mobil yang datang. Sedang aku tetap bersandar di mobil. Memang benar, tak lama kemudian muncullah dua wanita. Yang satu kupastikan sebagai Linda, dengan perawakan yang cukup besar menyalami Hendro terlebih dahulu, tampak mereka sudah pernah kenal, terlihat wajah Chinese-nya. Wanita yang kedua yang kemudian bersalaman dengan Hendro tampak sangat ragu-ragu dan canggung. Kulitnya sangat putih seperti halnya dari ethnis Chinese, tetapi bentuk hidungnya kecil mancung dan matanya bening memancar dengan tajam dihiasi alis yang manis. Aku ragu menebak siapa dia, demikian pula dari sikapnya aku ragu kalau dia merasa nyaman dengan pertemuan ini. Kelihatannya dia ogah-ogahan, pendiam, berbicara sangat singkat seperlunya kalau ditanya. Aku khawatir kalau ia datang dengan terpaksa hanya untuk menemani Linda.

Untuk mencairkan kebekuan, di mobil aku berbasa-basi dengan Linda, apalagi diantara kedua wanita tersebut aku lebih dulu kenal Linda walau hanya lewat telepon. Linda enak diajak bicara, orangnya sangat terbuka, sepertinya dia mudah ‘dekat’ dengan laki-laki, apalagi statusnya yang kosongan saat itu. Sambil nyetir si Hendro berbisik, “Mas mau milih yang mana?” Aku sempat ragu waktu itu. Apakah akan memilih Linda yang sudah kupastikan mudah diajak bergaul tetapi bukan seleraku. Atau si cantik, Tantri, dengan postur badan yang indah tetapi susah akrab. Akhirnya kuputuskan memilih si Tantri. “Ya udah, kalau begitu sudah jelas sasarannya.” Si Hendro memang bajingan, demikian pula si Linda. Mereka dengan mudah berbicara yang nyerempet-nyerempet bahaya. Aku tetap santun, demikian pula Tantri yang lebih banyak diam. Aku beberapa kali menanyakannya kenapa bersikap begitu. Dia menjawab memang sifatnya begitu, dan dia memastikan bahwa senang saja diajak jalan-jalan.

“Tantri kamu sukanya makan apa?” tanyaku penuh perhatian.
“Aku suka makan udang,” balasnya.
“Sama dong dengan aku,” kataku dengan nada sok akrab.
Hanya komunikasi yang memang perlu saja yang bisa kami lakukan. Sangat susah memancing dia untuk berbicara. Kalaupun ditanya, dia menjawab singkat sepatah dua patah kata. Dari jawaban-jawaban pendek itu akhirnya kurangkumkan bahwa Tantri lahir di Bukit Tinggi. Ibunya berasal dari Bandung, almarhum ayahnya punya keturunan dari Timur-Tengah yang berkulit putih bening. Ke Jakarta tiga tahun yang lalu, tinggal kost dekat kantornya di daerah Sunter. Selebihnya Tantri lebih banyak diam atau mendengarkan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Sari Kuring sekitar Jl. Gajah Mada. Linda dan Tantri duduk bersebelahan, berseberangan dengan aku dan Hendro.

Tantri memang tipe orang yang tidak banyak bicara. Namun kala dia berbicara, walau suaranya lembut, menunjukkan dia orang yang lugas dan cerdas. Demikian pula sorot matanya yang tajam menunjukkan sikap yang smart dan tegas. Di kantor dia bekerja di bagian pembukuan, kadang merangkap pada bagian marketing. Aku menyimpulkan dia sebagai orang yang serius, tekun dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Namun dibalik semua itu terlihat ada sebuah misteri. Dia hampir seminggu dua kali pergi ke diskotik. Dibalik diamnya itu, aku mengira dia sedang menghadapi suatu masalah. “Kamu pakai HP nggak,” tanyaku. “Pecah Mas, aku banting. Aku memang begitu kalau sedang marah.” Betul juga dugaanku, dia memang penuh misteri, kalaupun ada masalah, aku memastikan bahwa masalah itu berhubungan dangan pacarnya.

“Kamu mestinya punya pacar yang sudah dewasa, sabar dan penuh pengertian,” saranku diluar konteks pembicaraan sebelumnya, namun aku yakin berhubungan erat dengan dia.
“Kok tahu?” tanyanya yang dilontarkan dengan segera. Ia kelihatan kaget dengan tebakanku, badannya kemudian tegak berdiri, sorot matanya menatap tajam, namun raut wajahnya sedikit tersenyum gembira.
“Kamu orangnya tekun dan serius, karena itu kamu akan sulit sekali menerima sebuah kenyataan kalau ternyata kamu dibohongi.”
“Mas kok tahu aja,” matanya kemudian berubah jadi sayu, namun senyumnya yang manis tidak dapat disembunyikannya. Raut wajahnya kini merekah seolah telah menemukan seseorang yang mengerti terhadap dirinya.
“Kamu sangat cocok untuk mengerjakan pembukuan itu, dan atasan kamu puas dengan pekerjaanmu,” lanjutku.
“Ya begitulah, Mas peramal yah.” Kini sikap dan bahasa tubuhnya terlihat lebih friendly, ia kelihatan lebih rileks dan menunjukkan sikap yang akrab.
“Aku mengerti kamu, lebih dari kamu sendiri,” ucapku, “Sering kali kamu seolah menerima suatu kenyataan.” lanjutku.
Sebelum aku melanjutkan kalimat ia segera menyambungnya, “Padahal dalam hati aku memberontak. Ya emang aku sering begitu.”

Keluar dari tempat makan, Linda mengajak kami untuk pergi ke café tempat dia nongkrong. Keluar dari mobil aku memberanikan diri untuk menggandeng Tantri. Ternyata dia tidak menolak. Kemudian juga ketika mengambil tempat duduk. Aku mengambil tempat bersebelahan dengannya dengan tanganku yang langsung kulingkarkan di pinggangnya. Dia kelihatan nyaman saja. Ini memang pengalaman yang paling cepat ketika aku akrab dengan seorang wanita. Di dalam aku sempat membisikkan bahwa rasanya aku sudah mengenalnya sejak lama. “Tri, kamu kan ngerti pembukuan, dalam neraca pembukuan di kolom sebelah kiri ada asset, dan di sebelah kanan adalah liability. Demikian juga karyawan di kantor. Ada sekelompok karyawan yang menjadi tulang punggung perusahaan. Maju dan mundurnya perusahaan ditentukan oleh sekelompok karyawan ini, yang merupakan asset dari perusahaan. Namun tidak jarang ada sekelompok karyawan yang justru menjadi beban bagi perusahaan atau liability. Akan tetapi kamu termasuk asset perusahaan, Tri.” Ia cukup tersanjung dengan pujianku. Dalam semaraknya café aku sudah larut dengan kehangatan Tantri. Jemarinya kuremas-remas, sesekali kukecup pipinya dan kubisikkan pujian terhadap kecantikannya. Sikapnya tetap tegar, namun tidak menolak semua belaianku.

Keluar dari café Linda menempatkan diri terlebih dahulu duduk di jok depan bersama si Hendro yang nyopir. Sedang aku kemudian membukakan pintu untuk Tantri kemudian duduk bersebelahan di belakang. Tantri sudah kelihatan mengantuk. Kemudian kurebahkan badannya ke pelukanku. Dia mengikutinya. Kubelai dan ciumi dengan penuh kemesraan. Tantri memang orang yang cukup cerdas, tekun, tegar dan tegas dalam bersikap. Namun dibalik sikapnya itu ia rindu kemanjaan. Ia membutuhkan perlindungan sekaligus tempat untuk mengadu. Kelihatannya ia sedang menghadapi masalah dan ingin lari dari kenyataan. Entah apa itu. Ia dengan terus terang bilang biasanya keluar malam seminggu dua kali dan sering juga on. Aku senang dengan pengakuan jujurnya, biasanya wanita sering menyembunyikan kebiasaan-kebiasaan yang bisa dikategorikan kurang baik. “Apakah kebiasaan itu tidak bisa dinegosiasikan?” tanyaku. “Sebenarnya bisa saja kalau aku ada yang memperhatikan,” jawabnya.

Besoknya, Sabtu sore kutelepon Tantri di kantornya. Jam kantor tutup pukul tiga sore. Kukatakan aku kangen dengannya. Dia bilang, “Lalu…” Aku menjawabnya aku ingin ketemu. “Ya udah, jemput aja ke rumah jam limaan sore.” Di memang tegas, tidak banyak basa-basi. Pada jam yang ditentukan mobilku sudah masuk di pekarangan rumahnya. Sebelum aku membuka pintu mobil untuk keluar, Tantri sudah keburu menghampiri. Kubukakan pintu untuknya dari dalam, kemudian mobilku melaju lagi, belum tahu akan ke mana.

“Kamu capek sekali ya?” tanyaku.
“Ya, tidurnya sebentar sekali,” jawabnya.
“Kalau begitu kita cari tempat istirahat saja ya,” pintaku penuh arti.
“Ya boleh.”
Kini aku malah bingung mengartikan jawabannya. Kalau kubilang sewa hotel, takut dibilang kurang ajar. Kalau kuajak istirahat dalam arti duduk-duduk di tempat umum, khawatir jangan-jangan jawabannya lebih dari itu. Mobilku terus kupacu menjauh rumahnya di daerah Sunter. Setelah melewati Kelapa Gading aku menemukan pertanyaan untuk mempertegas dialog terdahulu. “Di daerah sini dimana ya tempat yang bisa disewa untuk istirahat sementara waktu?” Pertanyaanku cukup tegas untuk mengajak dia beristirahat di suatu tempat privat. Namun dengan pertanyaan tersebut aku dapat dengan mudah mengelak bahwa aku hanya bertanya bukan mengajak kalau seandainya ia tidak berkenan. “Aku tahu tempatnya, tetapi tidak tahu masuknya dari mana.” jawabnya. Jawabannya menunjukkan bahwa ia pernah diajak ke tempat seperti itu, tentu saja dengan lelaki. Demikian juga ia tidak menutup-nutupinya seperti kebanyakan wanita yang baru kenalan. Dan rasanya ia juga comfortable kalau kuajak. “Kalau begitu ke tempat biasa aku aja ya?” tanyaku. “Boleh,” jawabnya. Dengan jawaban tersebut maka setengah dari kemungkinan untuk bermain seks dengannya sudah kukantongi.

Setelah masuk kamar aku berbasa-basi dengan memijitnya karena dia kelihatan capai. Selagi tengkurap dia diam saja ketika kaitan BH-nya kubuka. Aku memijitnya sembari mencumbunya. Dia agak ragu-ragu waktu aku akan melepaskan celana panjangnya. Namun akhirnya ia membantu membukanya. Akhirnya perjalanan menelusuri keindahan ciptaan sang penguasa kulalui. Walau pertemuan dengannya cukup singkat tetapi aku merasa telah mengenalnya cukup jauh. Dibalik itu ia masih tetap menyimpan misteri. Tantri, siapakah engkau?. Kamu punya banyak potensi untuk berkembang. Aku ingin merawatmu, membimbingmu dan mendengarkan setiap keluhanmu. Aku ingin suatu saat kelak melihat engkau menjadi wanita yang berhasil dalam karirnya.

Seperti halnya ketika kita sampai pada suatu tempat yang belum pernah kita lalui sebelumnya, disana kita akan menemukan bukti-bukti baru kebesaran Sang Pencipta. Disana pulalah biasanya kita tergugah untuk berinstropeksi dan merefleksikan diri. Kini dalam hatiku pun berkecamuk berbagai pertanyaan. Apakah aku ini sudah termasuk lelaki hidung belang yang mudah mengajak tidur wanita yang baru dikenalnya kemarin. Dan apakah justru aku ini termasuk orang yang tidak menghormati keluhuran wanita karena sering melengkapi persahabatan dengan hubungan seksual, padahal aku termasuk orang yang paling risih kalau ada yang mengolok-olok wanita. Dalam setiap kegelisahan, biasanya hanya kata hatilah yang bisa kita jadikan pegangan. Namun sayangnya kata hati seperti itulah yang selama ini mengalir dalam hidupku. Dalam kegelisahan hatiku, aku mohon saran dan pendapat dari para pembaca, silakan kirim via e-mail. generasibiroe@walla.com

TAMAT

Peace, Love, Unity & Respect 8:31 pm

india
aku masih siswi smu kelas 1 berumur 15 tahun. disini aku tidak akan cerita panjang lebar tentang tubuhku, betapa sexynya aku, atau pengalaman sex.
Sama sekali tidak, aku hanya ingin share tentang kebiasaanku.
aku ada satu kebiasaan yg aneh buat sebagian besar orang,aku senang menunjukkan badanku tapi bukan eksibisionis. aku hanya senang merasakan malu, tetapi malu yang aman dan masih normal (menurut pendapatku loh)
daripada bingung aku cerita kejadian yg sering kulakukan ketika pulang sekolah di angkutan umum.
bila aku sedang mood,aku duduk mengangkangkan kakiku di depan cowok yg lebih muda, sehingga mereka bisa melihat paha dan celana dalamku.aku senang merasakan sensasinya, tiap aku melakukan itu aku merasa malu,selalu pada awalnya aku takut untuk melebarkan kakiku. bagaimana kalau kuceritakan kronologisnya.
aku sengaja naik angkutan umum yang sedikit penumpang dan ada cowok yg lebih muda, baik anak SD atau smp, aku pilih-pilih juga, lihat dulu tampang cowoknya, apabila mereka terlihat tidak sopan aku tidak mau, aku suka apabila ada cowok yg terlihat anak baik-baik,sopan,dan tidak banyak gaya. di angkot aku pasti duduk berhadapan dengan mereka,awalnya aku duduk rapat baik lutut,betis dan sepatuku. selanjutnya aku melebarkan sepatuku sekitar 30cm,dan pelan2 melebarkan lututku agar sejajar dengan sepatuku,biasanya di kondisi ini aku sudah merasa excite,sering aku merapatkan lututku lg, tapi selalu kubuka kembali.biasanya cowok di depanku sudah mulai memperhatikan kakiku dan berharap agar terlihat kembali.rok seragamku tidak ada yg diatas lutut,sehingga pada fase ini mereka hanya melihat pahaku, aku tau ini sebab pernah melakukan simulasi di depan cermin.
setelah mereka tertarik baru aku nekat untuk melebarkan sepatuku lebih jauh, kira2 tumitku terpisah 40cm,lututku biasanya kurapatkan ketika melebarkan tumitku,baru ketika mobil mengerem atau berjalan lagi, aku pura2 melebarkan lutuku seolah menjaga keseimbangan.di fase ini mereka akan dapat melihat celana dalamku dengan jelas, apabila cowok di depanku masih kecil (dari fisiknya) aku berani melakukan kontak mata dan tersenyum,bila mereka sudah besar aku pura2 tidur,sibuk membaca, atau apabila cuma kami berdua di mobil aku pura2 melihat kesana kemari sambil menggerakan kakiku, tentu saja paha dan celana dalamku akan terlihat “hide and seek”.
Untuk cowok yg kulakukan kontak mata, apabila sepi aku dapat nekat melabarkan pahaku sampai membentuk sudut 90 derajat,tapi aku selalu memperhatikan supir agar tidak menyadarinya.dengan kaki dilebarkan selebar itu tentu saja celana dalamku akan terlihat sangat jelas,aku benar-benar malu pada kondisi itu,secara naluri tentu saja aku berusaha merapatkan kakiku,tapi aku selalu menahannya sehingga otot pahaku terasa tegang dan lututku terlihat bergetar,tapi kondisi ini tidak pernah lama, sebab biasanya aku sampai pada tahap ini di dekat tujuanku atau ada orang lain yang naik.waktu terlama yg kulakukan adalah sekitar 25 menit, saat itu angkot berjalan lambat dan tidak ada orang yang naik, supirnya juga asik ngobrol dengan temannya di bangku depan,dan di depanku siswa SD yg terlihat pendiam. waktu itu aku bahkan menaikkan kakiku ke atas ban cadangan sehingga lebih tersingkap lagi.
aku selalu merasa malu mengetahui mereka melihat paha dan celana dalamku,tapi rasa malu yg kurasakan benar2 menyenangkan dan membuat kecanduan.

Akibat Pergaulan BebasSeptember 29, 2006 1:31 pm

babu keren
Pertengahan bulan April yang lalu, kami mendapatkan seorang pembantu baru
bernama Titin, seorang gadis Sunda berumur 15 tahun, berwajah bulat dan
manis dan sangat kekanak-kanakan, rambut sebahu dan berkulit putih,
bertubuh mungil, sangat sexy dengan kedua buah dada yang ranum untuk gadis
seusianya. Ia bercerita kalau dia terdampar ke Jakarta karena melarikan
diri dari rumahnya di kampung saat hendak dikawinkan oleh orang tuanya
dengan seorang lelaki tua yang telah beristeri, sedangkan saat itu ia
sudah menjalin hubungan serius dengan pacarnya. Oleh salah satu kenalannya
dari kampung, yang empunya yayasan penyalur tenaga kerja ia ditampung
sebagai tenaga kerja pembantu.
Dalam minggu pertama kehadirannya di rumah kami, Titin bekerja dengan
rajin, tetapi karena umurnya yang masih muda, ia masih sangat bersifat
kekanakan dan manja. Titin senang berpakaian baju kaos terusan model
daster, sehingga tubuhnya yang mungil dan padat tercetak dengan jelas pada
pakaiannya itu. Aku sangat bernafsu sekali melihat Titin dalam keadaan
seperti itu, terutama bila ia mencuci pakaian, dan kaos yang dipakainya
tersiram air sehingga basah. Penisku langsung menegang dengan keras, ingin
rasanya langsung memeluk dan meremas-remas tubuhnya yang bagus itu.
Sesekali aku dengan halus berusaha menyenggol pinggulnya atau payudaranya
bila berpapasan seakan-akan tidak sengaja, Titin biasanya diam dan
senyum-senyum saja. Aku terus berusaha mencari akal untuk bagaimana
caranya bisa menikmati dan menggeluti tubuh Titin yang ranum itu. Sampai
satu hari, aku menemukan persediaan obat-obatan di lemari dan di situ
terdapat sejumlah obat tidur.
Aku melirik ke arah jam dinding, sudah tengah malam. Aku melirik lagi ke
arah istriku, yang terbaring dengan nyenyak di sisiku. Ia telah tertidur
sekitar setengah jam yang lalu, dan aku memang menunggu saat ini untuk
menyakinkan bahwa tidurnya benar-benar nyenyak.
Saat aku telah yakin benar bahwa isteriku telah tidur nyenyak, karena aku
tahu persis kalau ia sudah tidur, akan sangat susah sekali untuk
membangunkannya, apalagi ditambah minum susu kocok yang dibubuhi obat
tidur. Aku cepat-cepat bangun dari tempat tidur dan langsung berjalan ke
arah kamar mandi. Aku mengambil sehelai handuk kecil serta membasahinya
dengan air hangat serta kemudian keluar dari situ dengan tidak lupa
mengambil handuk, tidak lupa sayapun membuka semua pakaianku sehingga aku
telanjang bulat.
Aku berjalan langsung ke kamar Titin, tempat di mana ia tidur dan saat ini
ia tidur dengan pulas sekali, aku tahu demikian karena iapun meminum
segelas susu kocok bercampur obat tidur sebagaimana isteriku. Pelan-pelan
aku membuka pintu kamarnya dan setelah mataku terbiasa dengan cahaya kamar
Titin, aku dapat melihat badannya yang terbaring di dipan. Titin tidur
tanpa mengenakan pakaiannya, mungkin karena kamar yang agak panas, ia
hanya mengenakan celana dalamnya saja. Payudaranya yang montok tampak
menyembul dengan indahnya, dengan puting yang mencuat kecil
kemerah-merahan. Rambutnya tergerai dan dibalik celana dalamnya yang tipis
terbayang rambut-rambut vaginanya yang tipis. Aku berdiri
memperhatikannya, bibirnya yang manis mengeluarkan napas dalam tidurnya
yang nyenyak. Benar-benar gadis 15 tahun yang menggairahkan. Aku menaruh
handuk kecil dan handuk besar di kaki tempat tidur, kemudian aku menyentuh
pipinya, Titin tidak bereaksi sedikitpun terhadap sentuhan itu, aku
mengulum bibirnya serta meremas dengan pelan kedua buah payudaranya
bergantian. Ooh, kulitnya halus sekali, sungguh enak meremas payudara
Titin ini. Aku mengangkat badannya dan mendekatkan kepada pinggiran tempat
tidur, sehingga kakinya tergantung pada pinggir tempat tidur tersebut.
Celana dalamnya kulepaskan perlahan.
Titin bergerak untuk berbalik, tetapi aku menahannya pada pinggulnya yang
bulat. Kemudian aku membuka kedua belah pahanya yang mulus dan mencium
vaginanya yang kecil, ooh…, enak sekali. Sesekali kusapukan lidahku pada
clitorisnya, kemudian clitorisnya kukulum-kulum dengan bibir dan memainkan
lidahku untuk menjilat-jilatnya, pinggul Titin bergelinjang dan kakinya
secara refleks menjepit kepalaku. Pelan-pelan aku mengangkat kedua belah
kakinya sehingga kedua kaki Titin terlipat dan kedua lututnya menempel
pada payudaranya yang ranum dan kedua telapaknya bertumpu pada pantatnya
yang bulat. Dengan perlahan aku mulai menindih Titin dan menahan agar ia
jangan bergerak sehingga posisinya berubah. Penisku yang sudah sangat
tegang langsung kuarahkan ke vagina kecilnya yang sudah menanti.
Benar-benar gerakan yang susah sekali mengingat Titin tetap tertidur dan
tidak memberikan gerakan bantuan kepadaku.
Aku menekan ujung penis yang sudah benar-benar keras ke arah kedua belah
bibir vagina Titin dan menggosok-gosokan terus berulang-ulang sehingga
cairan mulai membasahi vaginanya. Aku mengisap-isap payudaranya yang ranum
dan tetap menggosok-gosokan ujung penisku ke vaginanya untuk mempersiapkan
vagina Titin menyambut penisku yang besar ini. Aku menekan penisku
pelan-pelan sehingga sepertiga dari penisku mulai amblas ke dalam vagina
Titin yang sempit. Aku berhenti sebentar untuk merasakan kehangatan,
licinnya cairan dan cengkeraman liang vagina Titin pada penisku nikmat
sekali. Aku menekan terus ke dalam liang vaginanya…, aduuh..,
hangatnya…, nikmat.
Setelah penisku masuk setengahnya ke dalam vagina Titin, baru kusadari
bahwa vagina Titin ini sangat sempit sekali. sungguh ketat otot-otot
vaginanya mencengkeram penisku, aku menekan lagi dengan keras sampai
penisku terbenam seluruhnya ke dalam liang vagina Titin sambil menahan
nikmat yang dihasilkan oleh vaginanya yang mulai berdenyut-denyut meremas
penisku. Aku benar-benar tidak dapat menahan kenikmatan yang begitu enak
akibat denyutan dan remasan vagina Titin ini, aku langsung menarik penisku
dengan cepat sehingga tinggal kepala penisku saja di dalam vaginanya
kemudian secara cepat dan keras kubenamkan lagi, begitu berulang-ulang
secara perlahan-lahan, aku merasakan bahwa otot-otot vagina Titin
mengejang dan memberi cengkreaman yang keras kepada penisku yang besar.
Setelah beberapa saat aku diam untuk menikmati kenikmatan vagina ini, aku
mulai lagi untuk menarik dan menggenjot masuk penisku, kuulangi lagi
gerakan ini berulang-ulang, masuk…, keluar…, tarik…, tekan…,
tarik…, tekan dalam-dalam.
Aku benar-benar bernafsu sekali kepada Titin, apalagi saat aku menekan dan
menarik, kedua payudaranya berayun-ayun bagai mengikuti irama gerakanku.
Aku merasa bahwa aku sudah mau sampai puncak orgasme, biarpun aku mau
keadaan ini tetap berlangsung terus, tetapi aku harus cepat-cepat
mengakhiri ini kalau tidak mau tertangkap basah, biarpun Titin dan
isteriku sudah terkena pengaruh obat tidur. Bahaya ketahuan tetaplah
bahaya yang besar bagiku.
Akhirnya, aku merangkul badannya yang mungil melewati kedua belah kakinya
yang terlipat, aku pertemukan kedua tanganku di belakang punggung Titin
dan memeluknya erat sekali ke badanku, kemudian aku memutar pinggulku
sambil tetap menekan ke arah vaginanya sehingga aku bisa menanamkan
penisku sedalam-dalamnya di liang vagina Titin sampai penisku terasa
menyentuh liang peranakannya. Aku benar-benar tidak pernah merasakan hal
seperti ini, mungkin hal ini terjadi karena perbedaan ukuran tubuh dan
penisku yang besar dibanding tubuh Titin yang begitu mungil. Aku menekan
terus, kemudian menarik penisku lagi dan menekan lagi dengan keras dan
cepat, sehingga terasa tubuhnya bagaikan orang yang menggigil dan
cengkeraman vaginanya terasa semakin memuntir batang penisku, benar-benar
enak dan nikmat sekali, Tanpa terasa aku menggigit payudaranya yang kanan
dengan gigiku. Saat aku menekan batang penisku dalam-dalam ke liang
vaginanya, sampailah aku kepuncak kenikmatan bersetubuh, penisku
mengeluarkan cairan mani yang menyemprot masuk ke dalam liang vagina Titin
dalam-dalam. Aku tetap menekan terus dan tidak melepaskan batang penisku
dari dalam vaginanya sampai aku tidak merasakan lagi denyutan-denyutan
yang mencengkram. Begitu aku mencabut batang penisku, aku langsung
menggosok-gosokan ke bibir vaginanya yang kecil itu sebelum aku mengambil
handuk basah untuk mengelapnya.
Aku langsung membersihkan badan Titin dengan handuk lembab untuk menghapus
segala tanda-tanda persetubuhan yang terjadi dan memakaikan celana
dalamnya lagi serta mengatur tubuhnya dengan rapi di tempat tidur. Tanpa
membersihkan diri lagi langsung saja aku menaruh handuk-handuk tersebut ke
tempat cucian dan kemudian kembali ke kamarku.
Esok pagi, aku bangun agak terlambat, isteriku sudah pergi ke kantor
duluan, saat aku ke belakang menuju kamar mandi, tampak Titin sedang duduk
termanggu-manggu melamun di atas sebuah bangku kecil di tempat cucian.
“Ada apa, Tin…, kok pagi-pagi ngelamun siih”, sapaku.
“Aakh…, enggak…, anu Pak…”, jawabnya.
“Anu…, apanya”, kataku lagi.
“Itu…, tadi malem Titin mimpi…, kok…, aneeh bener”, jawabnya
senyum-senyum.
Waktu melewati Titin, aku menengok ke arah belahan payudaranya yang
terlihat dari sela-sela daster kaosnya, tampak sekilas di atas payudaranya
yang sebelah kanan bekas gigitan yang memerah…, Waahh.
T A M A T

Akibat Pergaulan Bebas 1:28 pm

capek
Aku memang terlahir dari keluarga yang cukup berada. Aku anak lelaki
satu-satuya. Dan juga anak bungsu. Dua kakakku perempuan semuanya. Dan
jarak usia antara kami cukup jauh juga. Antara lima dan enam tahun. Karena
anak bungsu dan juga satu-satunya lelaki, jelas sekali kalau aku sangat
dimanja. Apa saja yang aku inginkan, pasti dikabulkan. Seluruh kasih
sayang tertumpah padaku.
Sejak kecil aku selalu dimanja, sehingga sampai besarpun aku terkadang
masih suka minta dikeloni. Aku suka kalau tidur sambil memeluk Ibu, Mbak
Lisa atau Mbak Indri. Tapi aku tidak suka kalau dikeloni Ayah. Entah
kenapa, mungkin tubuh Ayah besar dan tangannya ditumbuhi rambut-rambut
halus yang cukup lebat. Padahal Ayah paling sayang padaku. Karena apapun
yang aku ingin minta, selalu saja diberikan. Aku memang tumbuh menjadi
anak yang manja. Dan sikapku juga terus seperti anak balita, walau usiaku
sudah cukup dewasa.
Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar hanya
karena Mbak Indri menikah. Aku tidak rela Mbak Indri jadi milik orang
lain. Aku benci dengan suaminya. Aku benci dengan semua orang yang bahagia
melihat Mbak Indri diambil orang lain. Setengah mati Ayah dan Ibu membujuk
serta menghiburku. Bahkan Mbak Indri menjanjikan macam-macam agar aku
tidak terus menangis. Memang tingkahku tidak ubahnya seorang anak balita.
Tangisanku baru berhenti setelah Ayah berjanji akan membelikanku motor.
Padahal aku sudab punya mobil. Tapi memang sudah lama aku ingin dibelikan
motor. Hanya saja Ayah belum bisa membelikannya. Kalau mengingat kejadian
itu memang menggelikan sekali. Bahkan aku sampai tertawa sendiri. Habis
lucu sih…, Soalnya waktu Mbak Indri menikah, umurku sudab dua puluh satu
tahun.
Hampir lupa, Saat ini aku masih kuliah. Dan kebetulan sekali aku kuliah di
salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup keren. Di kampus, sebenarnya
ada seorang gadis yang perhatiannya padaku begitu besar sekali. Tapi aku
sama sekali tidak tertarik padanya. Dan aku selalu menganggapnya sebagai
teman biasa saja. Padahal banyak teman-temanku, terutama yang cowok bilang
kalau gadis itu menaruh hati padaku.
Sebut saja namanya Linda. Punya wajab cantik, kulit yang putih seperti
kapas, tubuh yang ramping dan padat berisi serta dada yang membusung
dengan ukuran cukup besar. Sebenarnya banyak cowok yang menaruh hati dan
mengharapkan cintanya. Tapi Linda malah menaruh hati padaku. Sedangkan aku
sendiri sama sekali tidak peduli, tetap menganggapnya hanya teman biasa
saja. Tapi Linda tampaknya juga tidak peduli. Perhatiannya padaku malah
semakin bertambah besar saja. Bahkan dia sering main ke rumahku, Ayah dan
Ibu juga senang dan berharap Linda bisa jadi kekasihku.
Begitu juga dengan Mbak Lisa, sangat cocok sekali dengan Linda Tapi aku
tetap tidak tertarik padanya. Apalagi sampai jatuh cinta. Anehnya, hampir
semua teman mengatakan kalau aku sudah pacaran dengan Linda, Padahal aku
merasa tidak pernah pacaran dengannya. Hubunganku dengan Linda memang
akrab sekali, walaupun tidak bisa dikatakan berpacaran.
Seperti biasanya, setiap hari Sabtu sore aku selalu mengajak Bobby, anjing
pudel kesayanganku jalan-jalan mengelilingi Monas. Perlu diketahui, aku
memperoleh anjing itu dan Mas Herman, suaminya Mbak Indri. Karena
pemberiannya itu aku jadi menyukai Mas Herman. Padahal tadinya aku benci
sekali, karena menganggap Mas Herman telah merebut Mbak Indri dan sisiku.
Aku memang mudah sekali disogok. Apalagi oleh sesuatu yang aku sukai.
Karena sikap dan tingkah laku sehari-hariku masih, dan aku belum bisa
bersikap atau berpikir secara dewasa.
Tanpa diduga sama sekali, aku bertemu dengan Linda. Tapi dia tidak
sendiri. Linda bersama Mamanya yang usianya mungkin sebaya dengan Ibuku.
Aku tidak canggung lagi, karena memang sudah saling mengenal. Dan aku
selalu memanggilnya Tante Maya.
Bagus sekali anjingnya.., piji Tante Maya.
Iya, Tante. Dikasih sama Mas Herman, sahutku bangga.
Siapa namanya tanya Tante Maya lagi.
Bobby, sahutku tetap dengan nada bangga.
Tante Maya meminjamnya sebentar untuk berjalan-jalan. Karena terus-menerus
memuji dan membuatku bangga, dengan hati dipenuhi kebanggaan aku
meminjaminya. Sementara Tante Maya pergi membawa Bobby, aku dan Linda
duduk di bangku taman dekat patung Pangeran Diponegoro yang menunggang
kuda dengan gagah. Tidak banyak yang kami obrolkan, karena Tante Maya
sudah kembali lagi dan memberikan Bobby padaku sambil terus-menerus
memuji. Membuat dadaku jadi berbunga dan padat seperti mau meledak. Aku
memang paling suka kalau dipuji.
Oh, ya…, Nanti malam kamu datang…, ujar Tante Maya sebelum pergi.
Ke rumah… tanyaku memastikan.
Iya.
Memangnya ada apa tanyaku lagi.
Linda ulang tahun. Tapi nggak mau dirayakan. Katanya cuma mau
merayakannya sama kamu, kata Tante Maya Iangsung memberitahu.
Kok Linda nggak bilang sih… aku mendengus sambil menatap Linda yang
jadi memerah Wajahnya. Linda hanya diam saja.
Jangan lupa jam tujuh malam, ya.. kata Tante Maya mengingatkan.
Iya, Tante, sahutku.
Dan memang tepat jam tujuh malam aku datang ke rumah Linda. Suasananya
sepi-sepi saja. Tidak terlihat ada pesta. Tapi aku disambut Linda yang
memakai baju seperti mau pergi ke pesta saja. Tante Maya dan Oom Joko juga
berpakaian seperti mau pesta. Tapi tidak terlihat ada seorangpun tamu di
rumah ini kecuali aku sendiri. Dan memang benar, ternyata Linda berulang
tahun malam ini. Dan hanya kami berempat saja yang merayakannya.
Perlu diketahui kalau Linda adalah anak tunggal di dalam keluarga ini.
Tapi Linda tidak manja dan bisa mandiri. Acara ulang tahunnya biasa-biasa
saja. Tidak ada yang istimewa. Selesai makan malam, Linda membawaku ke
balkon rumahnya yang menghadap langsung ke halaman belakang.
Entah disengaja atau tidak, Linda membiarkan sebelah pahanya tersingkap.
Tapi aku tidak peduli dengan paha yang indah padat dan putih terbuka cukup
lebar itu. Bahkan aku tetap tidak peduli meskipun Linda menggeser duduknya
hingga hampir merapat denganku. Keharuman yang tersebar dari tubuhnya
tidak membuatku bergeming.
Linda mengambil tanganku dan menggenggamnya. Bahkan dia meremas-remas jari
tanganku. Tapi aku diam saja, malah menatap wajahnya yang cantik dan
begitu dekat sekali dengan wajahku. Begitu dekatnya sehingga aku bisa
merasakan kehangatan hembusan napasnya menerpa kulit wajahku. Tapi tetap
saja aku tidak merasakan sesuatu.
Dan tiba-tiba saja Linda mencium bibirku. Sesaat aku tersentak kaget,
tidak menyangka kalau Linda akan seberani itu. Aku menatapnya dengan
tajam. Tapi Linda malah membalasnya dengan sinar mata yang saat itu sangat
sulit ku artikan.
Kenapa kau menciumku.. tanyaku polos.
Aku mencintaimu, sahut Linda agak ditekan nada suaranya.
Cinta… aku mendesis tidak mengerti.
Entah kenapa Linda tersenyum. Dia menarik tanganku dan menaruh di atas
pahanya yang tersingkap Cukup lebar. Meskipun malam itu Linda mengenakan
rok yang panjang, tapi belahannya hampir sampai ke pinggul. Sehingga
pahanya jadi terbuka cukup lebar. Aku merasakan betapa halusnya kulit paha
gadis ini. Tapi sama sekali aku tidak merasakan apa-apa. Dan sikapku tetap
dingin meskipun Linda sudah melingkarkan tangannya ke leherku. Semakin
dekat saja jarak wajah kami. Bahkan tubuhku dengan tubuh Linda sudah
hampir tidak ada jarak lagi. Kembali Linda mencium bibirku. Kali ini bukan
hanya mengecup, tapi dia melumat dan mengulumnya dengan penuhl gairah.
Sedangkan aku tetap diam, tidak memberikan reaksi apa-apa. Linda
melepaskan pagutannya dan menatapku, Seakan tidak percaya kalau aku sama
sekali tidak bisa apa-apa.
Kenapa diam saja… tanya Linda merasa kecewa atau menyesal karena
telah mencintai laki-laki sepertiku.
Tapi tidak…, Linda tidak menampakkan kekecewaan atau penyesalan Justru
dia mengembangkan senyuman yang begitu indah dan manis sekali. Dia masih
melingkarkan tangannya ke leherku. Bahkan dia menekan dadanya yang
membusung padat ke dadaku. Terasa padat dan kenyal dadanya. Seperti ada
denyutan yang hangat. Tapi aku tidak tahu dan sama sekali tidak merasakan
apa-apa meskipun Linda menekan dadanya cukup kuat ke dadaku. Seakan Linda
berusaha untuk membangkitkan gairah kejantananku. Tapi sama Sekali aku
tidak bisa apa-apa. Bahkan dia menekan dadanya yang membusung padat ke
dadaku.
Memangnya aku harus bagaimana aku malah balik bertanya.
Ohh…, Linda mengeluh panjang.
Dia seakan baru benar-benar menyadari kalau aku bukan hanya tidak pernah
pacaran, tapi masih sangat polos sekali. Linda kembali mencium dan melumat
bibirku. Tapi sebelumnya dia memberitahu kalau aku harus membalasnya
dengan cara-cara yang tidak pantas untuk disebutkan. Aku coba untuk
menuruti keinginannya tanpa ada perasaan apa-apa.
Ke kamarku, yuk…, bisik Linda mengajak.
Mau apa ke kamar, tanyaku tidak mengerti.
Sudah jangan banyak tanya. Ayo.., ajak Linda setengah memaksa.
Tapi apa nanti Mama dan Papa kamu tidak marah, Lin, tanyaku masih tetap
tidak mengerti keinginannya.
Linda tidak menyahuti, malah berdiri dan menarik tanganku. Memang aku
seperti anak kecil, menurut saja dibawa ke dalam kamar gadis ini. Bahkan
aku tidak protes ketika Linda mengunci pintu kamar dan melepaskan bajuku.
Bukan hanya itu saja, dia juga melepaskan celanaku hingga yang tersisa
tinggal sepotong celana dalam saja Sedikitpun aku tidak merasa malu,
karena sudah biasa aku hanya memakai celana dalam saja kalau di rumah.
Linda memandangi tubuhku dan kepala sampai ke kaki. Dia tersenyum-senyum.
Tapi aku tidak tahu apa arti semuanya itu. Lalu dia menuntun dan
membawanya ke pembaringan. Linda mulai menciumi wajah dan leherku. Terasa
begitu hangat sekali hembusan napasnya.
Linda..
Aku tersentak ketika Linda melucuti pakaiannya sendiri, hingga hanya
pakaian dalam saja yang tersisa melekat di tubuhnya. Kedua bola mataku
sampai membeliak lebar. Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok tubuh
sempurna seorang wanita dalam keadaan tanpa busana. Entah kenapa,
tiba-tiba saja dadaku berdebar menggemuruh Dan ada suatu perasaan aneh
yang tiba-tiba saja menyelinap di dalam hatiku.
Sesuatu yang sama sekali aku tidak tahu apa namanya, Bahkan seumur hidup,
belum pernah merasakannya. Debaran di dalam dadaku semakin keras dan
menggemuruh saat Linda memeluk dan menciumi wajah serta leherku.
Kehangatan tubuhnya begitu terasa sekali. Dan aku menurut saja saat
dimintanya berbaring. Linda ikut berbaring di sampingku. Jari-jari
tangannya menjalar menjelajahi sekujur tubuhku. Dan dia tidak berhenti
menciumi bibir, wajah, leher serta dadaku yang bidang dan sedikit berbulu.

Tergesa-gesa Linda melepaskan penutup terakhir yang melekat di tubuhnya.
sehingga tidak ada selembar benangpun yang masih melekat di sana. Saat itu
pandangan mataku jadi nanar dan berkunang-kunang. Bahkan kepalaku terasa
pening dan berdenyut menatap tubuh yang polos dan indah itu. Begitu rapat
sekali tubuhnya ke tubuhku, sehingga aku bisa merasakan kehangatan dan
kehalusan kulitnya. Tapi aku masih tetap diam, tidak tahu apa yang harus
kulakukan. Linda mengambil tanganku dan menaruh di dadanya yang membusung
padat dan kenyal.
Dia membisikkan sesuatu, tapi aku tidak mengerti dengan permintaannya.
Sabar sekali dia menuntun jari-jari tanganku untuk meremas dan memainkan
bagian atas dadanya yang berwarna coklat kemerahan. Tiba-tiba saja Linda.
menjambak rambutku, dan membenamkan Wajahku ke dadanya. Tentu saja aku
jadi gelagapan karena tidak bisa bernapas. Aku ingin mengangkatnya, tapi
Linda malah menekan dan terus membenamkan wajahku ke tengah dadanya. Saat
itu aku merasakan sebelah tangan Linda menjalar ke bagian bawah perutku.
Okh…!.
Aku tersentak kaget setengah mati, ketika tiba-tiba merasakan jari-jari
tangan Limda menyusup masuk ke balik celana dalamku yang tipis, dan..
Linda, apa yang kau lakukan… tanyaku tidak mengerti, sambil
mengangkat wajahku dari dadanya.
Linda tidak menjawab. Dia malah tersenyum. Sementara perasaan hatiku
semakin tidak menentu. Dan aku merasakan kalau bagian tubuhku yang vital
menjadi tegang, keras dan berdenyut serasa hendak meledak. Sedangkan Linda
malah menggenggam dan meremas-remas, membuatku mendesis dan merintih
dengan berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Tapi aku hanya
diam saja, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Linda kembali menghujani
wajah, leher dan dadaku yang sedikit berbulu dengan ciuman-ciumannya yang
hangat dan penuh gairah membara.
Memang Linda begitu aktif sekali, berusaha membangkitkan gairahku dengan
berbagai macam cara. Berulang kali dia menuntun tanganku ke dadanya yang
kini sudan polos.
Ayo dong, jangan diam saja…, bisik Linda disela-sela tarikan napasnya
yang memburu.
Aku…, Apa yang harus kulakukan tanyaku tidak mengerti.
Cium dan peluk aku…, bisik Linda.
Aku berusaha untuk menuruti semua keinginannya. Tapi nampaknya Linda masih
belum puas. Dan dia semakin aktif merangsang gairahku. Sementara bagian
bawah tubuhku semakin menegang serta berdenyut.
Entah berapa kali dia membisikkan kata di telingaku dengan suara tertahan
akibat hembusan napasnya yang memburu seperti lokomotif tua. Tapi aku sama
sekali tidak mengerti dengan apa yang d ibisikkannya. Waktu itu aku
benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa. Walau sudah berusaha melakukan
apa saja yaang dimintanya.
Sementara itu Linda sudah menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang
putih mulus. Linda berada tepat di atas tubuhku, sehingga aku bisa melihat
seluruh lekuk tubuhnya dengan jelas sekali.
Entah kenapa tiba-tiba sekujur tubuhku menggelelar ketika penisku
tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembab, hangat, dan agak basah. Namun
tiba-tiba saja Linda memekik, dan menatap bagian penisku. Seakan-akan dia
tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. Sedangkan aku sama
sekali tidak mengerti. PadahaI waktu itu Linda sudah dipengaruhi gejolak
membara dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya.
Kau…, desis Linda terputus suaranya.
Ada apa, Lin tanyaku polos.
Ohh…, Linda mengeluhh panjang sambil menggelimpangkan tubuhnya ke
samping. Bahkan dia langsung turun dari pembaringan, dan menyambar
pakaiannya yang berserakan di lantai. Sambil memandangiku yang masih
terbaring dalam keaadaan polos, Linda mengenakan lagi pakaiannya. Waktu
itu aku melihat ada kekecewaan tersirat di dalam sorot matanya. Tapi aku
tidak tahu apa yang membuatnya kecewa.
Ada apa, Lin, tanyaku tidak mengerti perubahan sikapnya yang begitu
tiba-tiba.
Tidak…, tidak ada apa-apa, sahut Linda sambil merapihkan pakaiannya.
Aku bangkit dan duduk di sisi pembaringan. Memandangi Linda yang sudah
rapi berpakaian. Aku memang tidak mengerti dengan kekecewannya. Linda
memang pantas kecewa, karena alat kejantananku mendadak saja layu. Padahal
tadi Linda sudah hampir membawaku mendaki ke puncak kenikmatan
T A M A T

Cerita Antara Kita 1:25 pm

hayah
Cerita gue berikut ini terjadinya bulan Februari yang lalu…

Gue nih punya anak les privat (SMU kelas satu) namanya Ika, maap kalau ini
nama beneran, Wiro… gak perlu kamu hapus atau samarin, toh banyak yang
namanya Ika, lagian gak seru gitu kalau kamu samarin… anaknya imut
banget… Chinese, putih gitu, rambutnya sebahu, matanya mungil pokoknya
seperti cewek2 di film2 kungfu itu lah.

Ika tuh anak pertama dari dua bersaudara, gua gak dekat-dekat amat ama
keluarganya yang lain… tapi kalau sama si Ika tuh sebulan juga kami udah
deket kaya “kakak beradik” gitu, dia nggak sungkan-sungkan nyandarin
badannya ke gua, bahkan kepalanya gua elus-elus juga dianya gak
keberatan… pokoknya seperti kata novel itu lah… “lha wong sama
kakaknya sendiri…”

Gua pikir, gua tuh udah belai-belai rambutnya, sun pipi… apa lagi yah…
kayaknya masih ada yang kurang gitu… soalnya si Ika tuh lagi
mekar-mekarnya, ranum-ranumnya… tapi soal cowok ya mungkin baru gue
sendiri yang dia kenal, belum pas gitu kalau belum gua kasih tahu
(baca:lihat)…hehehe… kejantanan gua…

Gua tuh baru mikir-mikir gimana ngomonginnya… gua diem-diem suka tegang
kalau dianya duduk deket gua… ya terang aja dia nggak tahu gitu… tiap
pagi abis bangun tidur sering ngebayangin gimana rasanya titit gue diliat
ama Ika..hihihi… ya sambil masturbasi gitu sendirian…

Eh pucuk dicinta durian tiba… si Ika tuh barusan dapet pelajaran Biologi
di sekolahnya… tahu gak pelajaran Biologi kelas 1 SMU… organ
reproduksi manusia!!! Guanya ngeledek, “Ika kamu nggambarnya (organ
reproduksi pria) kok bagus banget, emang udah pernah liat yang
benerannya?” Dianya tuh ketawa cekikikan aja… Oh iya… SMU nya Ika tuh
muridnya cewek semua… nggak ada cowoknya hehehe… trus dianya cerita
kalau KONON… sekali lagi, ini KONON lho… dulu pernah ada cowok masuk
ke sekolahnya dia langsung ditelanjangin ama cewek-cewek…hehehe… tentu
aja waktu itu Ika nya belum di sana…

“Ah Ika… kamu jadi bikin Kak Rudi (nama gue) penasaran aja…”
“Penasaran apa… emang Kak Rudi mau ditelanjangin…?”
“Asal di depannya Ika aja…”

Dianya ketawa cekikikan…

“Boleh nggak Kak Rudi telanjang di depan Ika…”

Ika nya nggak jawab, cuma cekikikan aja… trus gua terusin, abis nggak
tahan nih… “Boleh kan yaa Kak Rudi telanjang di depan Ika?
Pliiiiizzzzzzzzzzzzz…..”

“Hihihi…” Ika nya ngejawab… “Ya entar pas ulang tahunnya Kak Rudi
aja…”

Aduh, gua nggak tahan bener deh… pengen deh waktu itu juga gua keluarin
burung gua… tapi gua tahan-tahanin juga… Itu kejadiannya Bulan
Januari, padahal ulangtahunku bulan Februari… dari hari ke hari si Ika
nya ku godain aja seperti “Ka… entar Kak Rudi telanjangnya (maksudnya di
depan Ika) ampe Kak Rudi ngeluarin hormon yaa….” Si Ika tuh gak tahu apa
itu sperma… apalagi istilah “orgasme” atau yang kayak gituan… makanya
kubilang “hormon” gitu aja… Kalau udah kugodain gitu paling-paling si
Ika nya cuma “hihihihihi… ” aja. Kapan-kapan lagi saking gak tahan
kubilang… “Aduh Ika, Kak Rudi udah gak tahan nih… sekarang aja ya Kak
Rudi telanjangnya…” “Entar aja deh kalau pas ulang tahun…hihihi…”

Seminggu sebelum gua ulang tahun gua ngomong, “Eh Ika, kamu tinggal
seminggu lagi deh bakal jadi cewek yang ngerti alat kelaminnya cowok…”,
besoknya… “…tinggal enam hari lagi kamu jadi cewek yang ngerti
punyanya cowok…” seminggu itu rasanya jadi kaya seabad deh… akhirnya
sambil terengah-engah tiba juga deh hari ulang tahunku….

“Aduh Ika… sebentar lagi kamu bakal ngeliat alat kelaminnya Kak Rudi
deh… Kak Rudi udah nggak punya apa-apa lagi buat Kak Rudi sembunyiin…
Eh tuh mukanya si Ika jadi merah padam gitu, maluuuuuu…. gua juga
nervous banget tiduran di tempat tidurnya dia… dianya udah ketawa
cekikikan gitu… gua pakai pakaiannya juga yang gua mudah terangsang gitu
.. wahhhhh… nggak tahan deh kalau mesti lepas baju ama kaos oblong dulu,
sehingga kuputusin … kukeluarin aja deh alat kelaminku yang udah
meronta-ronta gak karuan itu…

Gua lepas deh sabuk, kancing celana gua… gua turunin perlahan-lahan ampe
tinggal celana dalem gua… aduh… nggak tahan banget deh… abisnya si
Ika nya ketawanya semakin keras gitu… mukanya semakin merah dan lucu
apalagi matanya yang mungil itu… jadi membelalak sambil muter-muterin
bola matanya… Gua usap-usap titit gua yang masih kebungkus celana dalem
ampe besar banget kaya rudal Scud, tegak lurus siap-siap diluncurkan…
trus celana dalem gua kuturunin pelan-pelan… aduh enak banget…
enak…enak… “IKAA… KETAWAIN TERUS DONG…” teriakku, “… bentar lagi
Ika ngeliat nih alat kelaminnya Kak Rudi… “… ampe lepas deh celana
dalem gua… keluar menantang gitu alat kelamin gua…. batangnya tegak
lurus ….dan…dan…

“HUAHAHAAAAAAAHAAAAAAAAA…………” keras banget teriaknya si Ika…
mukanya kocak banget… matanya mbelalak… mulutnya kebuka lebar…
lucuuuuuuuuu banget……HAAAAAAHHHHHHH… seumur-umur baru kali ini dia
ngeliat alat kelamin pria dewasa…. aduh…. belum pernah gua ngerasain
kenikmatan yang kaya gitu… “IKA….. INI ALAT KELAMINNYA KAK
RUDIIIIIIII…………..” teriakku………….. aduh… gua berusaha deh
nunjukin batang kelaminku ke mukanya Ika…. biar dia bisa ngeliat
sebesar-besarnya…SAMPAI NGERTIIIIIIIIIIIIII….

Gua kocok-kocokin alat kelaminku sendiri… “IKA… SEUMUR-UMUR BARU
SEKALI INI DEH KAMU NGELIAT ALAT KELAMINNYA COWOK…” “HAHAHAHA
HIHIHIHI….” kepingkel-pingkel dan cekikikan jadi satu…. gua
ngelinjang-nggelinjang keenakan… nggeliat-geliat kaya cacing
kepanasan… sepuluh menit kemudian… gua nggak tahan lag…. “ADUH . KAK
RUDI UDAH NGGAK TAHAN LAGI IKAAAAAA….” teriakku… sampai akhirnya……
‘CRUTTTTTTTT CRUTTTTTTTT CRUTTTTTTTTTT….” bagaikan lahar merapi tumpah
semua “hormon” eh… “sperma” eh… “AIR KEJANTANANKU”… “OHHHHHH…
ADUH… ENAK….. ENAK…… OHHHHHH… ”

Si Ika masih cekikikan waktu gua selesai orgasme… aduh… gua merasa
“habis” deh, rada nyesel dan bersalah juga… gua lap kaki gua yang
ketumpahan mani … gua bersihin batang kelamin yang udah rada lemes
sampai bersih dan kering…. akhirnya kupakai lagi celanaku… kututupin
alat kelaminku sebagaimana mestinya… si Ika ketawa-ketawa kecil dan
mukanya masih merah waktu semua itu “berakhir”…

Udah deh… Ika udah jadi cewek yang “ngerti” alat kelaminnya cowok…
dalam hal ini alat kelaminku…hehehe… Setelah cuci tangan kukasih sun
manis di pipinya Ika yang masih kemerahan… geser ke depan dikit yaaaa…
dikit lagi… dikit lagi… ampe bibir gue tepat berada di ujung bibirnya
dia… trus dia nundukin kepalanya… artinya gak boleh gua lanjutin…

Ya udah nggak apa-apa… gue juga udah puas banget kok ngeliatin alat
kelamin gue sampai kamu “ngerti”, kataku dalam hati….

Nah teman-teman… gini yah… gua kepengin banget dengerin cerita-cerita
dari kalian yang temanya seperti di atas, “SAAT PERTAMA AKU MELIHAT ALAT
KELAMIN SEORANG PRIA DEWASA” kalau kamu cewek, atau “SAAT PERTAMA SEORANG
GADIS MELIHAT ALAT KELAMINKU / PRIA DEWASA” kalau kamu cowok, yang penting
bukan cerita cowok homo yang tertarik ngeliat alat kelamin cowok
lain…kalau ada yang kayak gitu langsung gua hapus… Cerita yang paling
seru ntar kukasih prize… yang seru deh… Kirimin yah ke
marijuana@mail2world.com… Ingat… prizenya seru banget…

TAMAT

Cerita Antara Kita 1:21 pm

kawan chat
Ini adalah kisah nyataku, Pertama aku ingin memperkenalkan diri dahulu,
aku adalah seorang wanita berusia 27 tahun, namaku…katakan lisa, tempat
tinggalku di semarang, dan sudah setahun menikah, tetapi entah kenapa
belum mempunyai anak, walaupun hubungan sex kami (dengan suami) lakukan
dengan rutin dan lancar, kehidupan sex kami biasa biasa saja, bahkan
cenderung membosankan, karena menurutku kurang bervariasi, tapi aku tidak
pernah berselingkuh dengan orang lain selama ini, karena suamiku sangat
menyayangi aku bahkan cenderung memanjakanku. Tapi kesetiaanku ini
berakhir sampai tanggal 19 Juni 1999 (hari Sabtu). Hal ini dimulai dengan
perkenalanku dengan dunia internet sejak sebulan yang lalu. Secara rinci
aku tidak menjelaskan bagaimana aku belajar internet, tetapi sampai suatu
waktu aku berkenalan dengan seorang cowok dalam acara chatting di web
idola.

Ketika ini aku sedang belajar tentang bagaimana untuk ber chatting di
internet, temanku mengajari aku untuk masuk ke web idola, lalu masuk ke
forum chattingnya. Ketika aku sudah masuk ke forum, ada yang mengirimi aku
private message, ternyata seorang cowok yang berusia 30 tahun,
berkeluarga, juga belum mempunyai anak, namanya…katakan andy, berasal
dari jakarta, bekerja di sebuah perusahaan asing yang sedang mengerjakan
sebuah proyek maintenance jalan KA (jakarta-surabaya), tetapi perusahaan
itu mempunyai kantor cabang di cirebon dan semarang, hingga andy sering
melakukan tugas meninjau kantor cabangnya, termasuk di semarang. Setelah
kami berkenalan lewat chatting, lalu dia juga kadang kadang menelepon
(dari jakarta)…mungkin pakai telepon kantor, tetapi kami belum pernah
bertemu muka, sampai pada tgl 16 juni 1999 andy menelepon aku, dan
mengatakan bahwa dia sedang berada di semarang untuk urusan kerja dan
menawari aku untuk berkenalan dan bertemu muka. Pertama kali aku ditawari
begitu, aku agak bingung, karena hal seperti ini adalah sangat baru
bagiku, sudah mengenal seseorang, tapi belum pernah bertemu, dan sekarang
akan bertemu orang tsb. Tapi akhirnya aku menyetujui dan akhirnya kita
membuat janji untuk bertemu pada hari sabtu pagi (karena kantor andy
libur, hingga andy mempunyai waktu untuk bertemu). Kita menetapkan tempat
bertemunya di lobby hotel graha santika (tempat andy menginap) jam 9 pagi.

Pada hari dan jam yang sudah kita tentukan, aku datang kesana sendirian,
karena suamiku masih bekerja di perusahaannya (perusahaan tempat suamiku
bekerja tidak libur pada hari sabtu), tetapi sampai disana aku tidak
menjumpai andy, akhirnya aku bertanya ke bagian reception, dan menanyakan
apakah ada tamu bernama andy dari jakarta, setelah di check, ternyata ada,
dan aku diberi tahu no kamarnya. Akhirnya aku telepon ke kamarnya, dan
andy mengangkat telepon, aku menanyakan apakah dia lupa dengan janji
bertemunya, andy menjawab bahwa dia tidak lupa, tetapi karena semalam dia
harus bekerja menemani tamu sampai larut malam, akhirnya dia terlambat
bangun, bahkan sekarang belum mandi. Aku dapat memakluminya, tetapi aku
bingung apakah aku harus menunggu di lobby sampai dia selesai mandi, dsb,
atau harus bagaimana, akhirnya andy menawarkan bila aku tidak keberatan,
aku dapat naik ke kamarnya dan menunggu di ruang tamu di kamarnya
(ternyata kamarnya mempunyai ruang tamu sendiri, semacam suite room atau
apa aku tidak menanyakan), aku agak bingung juga, tapi akhirnya aku
menyetujui untuk naik ke kamarnya.

Sesampai didepan kamarnya, aku pencet bel, lalu tidak lama kemudian andy
membuka pintu. Ternyata andy mempunyai wajah yang ganteng sekali, dan
tubuhnya juga sangat macho, setelah kita ber basa basi diruang tamu
kamarnya, andy bilang permisi untuk mandi sebentar dan mempersilahkan aku
untuk main komputernya (dia membawa komputer kecil…notebook..?), dia
bahkan membantu aku untuk meng connect kan ke internet, lalu andy
meninggalkanku untuk mandi. Setelah aku sendirian, aku mencoba untuk masuk
ke web untuk chatting, tetapi entah kenapa kok tidak bisa masuk web tsb,
setengah teriak aku menanyakan ke andy, dan andy menjawab mungkin web tsb
lagi down, dan andy menyarankan untuk mencoba saja web yang lain, caranya
lihat di historynya (aku tidak mengerti artinya..), tetapi karena aku
tidak punya kerjaan, aku mencoba bagaimana caranya untuk membuka
historynya (itupun dengan cara saling teriak dengan andy), sampai akhirnya
aku dengan tidak sengaja membuka web, ini yang pertama aku membuka cerita
seru, ternyata isinya adalah cerita cerita sex dengan bahasa indonesia,
lalu aku mencatat alamat webnya, dengan pertimbangan mungkin aku akan buka
lagi di rumah. Lalu aku mulai membaca cerita cerita yang ditampilkan,
terus terang aku mulai terangsang karena membaca cerita sex tsb, aku
merasa celana dalamku mulai lembab karena vaginaku mulai basah. Sampai
akhirnya andy selesai mandi, dan keluar menemuiku. Pertama dia kaget
melihat aku sedang membaca web cerita seru, akupun sangat malu melihat dia
memergoki aku sedang membaca cerita seru, dan segera aku men disconnect
komputernya ke internet dan menutup layar web cerita seru tsb, tetapi
karena andy sudah terlanjur melihat aku membaca cerita seru, setelah
beberapa waktu dia diam, akhirnya dia tertawa dan menanyakanku apakah aku
pernah masuk ke web tsb, aku dengan malu malu menjawab belum. Andy
bertanya lagi, bagaimana ceritanya..?, aku bingung menjawabnya..sampai
andy tertawa lagi..kali ini sampai terpingkal pingkal…akhirnya aku juga
ikut tertawa.

Setelah suasananya agak mencair, kami mulai ngobrol lagi, tentu dengan
topik internet, ternyata andy sangat menguasai internet, hingga aku
dijelaskan banyak mengenai dunia internet, baru aku tahu bahwa internet
tidak hanya digunakan untuk chatting dan kirim e mail saja, ternyata
sangat banyak manfaatnya. Bahkan andy menjelaskan bahwa di internet kita
dapat membuka web…dewasa, misalnya cerita seru, dan web yang menampilkan
gambar gambar….sex, aku agak penasaran dengan penjelasannya yang
terakhir, dan rupanya andy mengetahui keingin tahuan ku, lalu dia
menawarkan untuk mencoba penjelasannya dengan membuka web web dewasa tsb,
rupanya komputer andy mempunyai satu bagian..(favourite..?), yang isinya
adalah alamat web web dewasa, hingga kita tidak perlu tiap kali menuliskan
melalui keyboard, setelah andy membuka web porno tsb, aku sangat kaget,
karena isinya adalah gambar sepasang cowok-cewek sedang berhubungan sex,
terus terang aku baru pertama kali melihat gambar gambar semacam itu,
hingga aku sangat malu dan tidak tahu harus bagaimana…, tapi sejujurnya
aku mulai terangsang dengan melihat gambar tsb, tetapi kemudian andy
mengganti web tsb dengan web lain yang isinya juga tentang orang
berhubungan sex, tetapi yang ditampilkan adalah film (movie), ini juga
pertama kali aku melihat film orang bermain sex, ternyata film film
semacam itu juga sama dengan blue film (kata andy)..sejujurnya aku belum
pernah melihat blue film, melihat cewek mencium bahkan mengulum penis
sampai mengeluarkan sperma.., dan cowok menciumi vagina cewek….

Aku mulai merasa panas dingin melihat nya, mungkin aku mulai terangsang
berat, dan entah bagaimana dan kapan mulainya ternyata andy sudah
memelukku dan mulai meraba payudaraku, pertama aku ingin berontak, karena
aku merasa ini tidak boleh, tetapi entah bagaimana aku tidak bisa
melakukan apa apa, aku diam saja bahkan menikmati perlakuannya, sampai
tangan andy mulai menjelajah turun ke vagina ku, aku merasa celana dalamku
sangat basah, andy lalu mulai membuka pakaianku, entah bagaimana aku diam
saja, hingga aku sekarang hanya memakai celana dalam dan BH, lalu aku
ditarik masuk ke kamarnya dan aku ditidurkan di tempat tidurnya yang
besar, disini andy mulai menciumi bibirku, terasa sangat hangat, tangan
andy tidak berhenti memainkan payudara dan vaginaku, hingga aku merasa
sangat terangsang sekali, lalu andy mulai membuka BH dan celana dalamku,
dan mulai menciumi puting payudaraku, aku sudah pasrah dengan
perlakuannya, dan sudah setengah sadar dengan apa yang dia lakukan, karena
aku sudah sangat terangsang sekali, sampai ketika dia mulai menciumi
vaginaku, aku merasakan hal yang sangat enak sekali (suamiku belum pernah
menciumi vaginaku), aku merasa ada sesuatu yang akan meledak dari dalam
vaginaku, sampai ketika aku membuka mata, ternyata andy sedang membuka
pakaian nya sampai dia telanjang bulat, ternyata andy mempunyai penis yang
besar sekali, mungkin sekitar 18 - 20 cm, dengan bulu yang lebat, lalu
andy mendekatkan penis di mulutku, sambil dia melanjutkan menciumi
vaginaku. Aku mengerti dengan keinginannya, karena aku baru melihat di web
porno tadi, ada yang saling menciumi penis dan vagina dengan posisi cewek
diatas mengulum penis, dan cowok dibawah menciumi vagina. Walaupun aku
belum pernah melakukan hal tsb, tetapi karena aku sangat terangsang dan
juga setengah sadar, aku masuk kan penis andy kedalam mulutku, terasa
sangat susah karena penis andy besar sekali, tetapi aku berusaha meniru
cara mengulum penis (seperti di web), dan ternyata andy mulai terangsang
dengan kulumanku, aku merasakan penisnya mulai mengeras. Sampai suatu saat
andy melepaskan penisnya dan membalikkan posisinya hingga penisnya tepat
berada didepan vaginaku dan andy mulai menekan penisnya kedalam vaginaku,
aku merasakan hal yang sangat enak sekali, yang belum pernah aku rasakan
dengan suamiku, ketika andy mulai mengocok penisnya (mungkin karena
penisnya sangat besar), setelah beberapa waktu andy mengajak untuk
berganti posisi (aku belum pernah berhubungan sex dengan berganti posisi,
biasanya dengan suamiku aku hanya berhubungan secara biasa saja), andy
menyuruh aku tengkurap setengah merangkak, dan dia lalu memasukkan
penisnya dari belakang, ternyata posisi ini sangat merangsang aku, hingga
dari vaginaku terasa ada yang meledak..(inikah orgasme..?), setelah sekian
waktu andy belum juga mengeluarkan sperma, andy lalu mencabut penisnya
lagi dan menyuruhku untuk duduk dan dia memasukkan penisnya dari bawah,
posisi ini kurang enak buat aku, karena terasa sakit diperut, ada yang
terasa menyodok perutku, untung posisi ini tidak berlangsung lama, karena
andy akan mengeluarkan sperma, andy lalu mencabut penisnya dan mengocok
penisnya sendiri didepan mukaku, sampai ketika dia memuncratkan spermanya,
aku tidak sempat mengelak, hingga spermanya muncrat mengenai mukaku,
bahkan ada yang masuk ke mulutku, terasa asin, aku bingung sekali ketika
andy memintaku untuk menyedot penisnya, aku agak jijik, tetapi aku pikir
sudah kepalang basah, dan aku ingin merasakan bagaimana rasanya menyedot
penis yang sedang mengeluarkan sperma, lalu aku akhirnya menyedot
penisnya, terasa ada sesuatu yang kental masuk kedalam mulutku, rasanya
asin, dan ternyata aku menyedotnya terlalu keras, hingga andy mendesis
desis…entah keenakan atau kesakitan.., sampai akhirnya penisnya
mengecil…

Setelah aku membuang spermanya dari mulutku ke tissue, aku terlentang
sambil beristirahat, ternyata andy langsung mulai menciumi vaginaku lagi,
sampai aku merasa orgasme lagi…ternyata rasanya enak sekali bila vagina
diciumi, setelah selesai kami berdua masuk kamar mandi untuk membersihkan
sperma dimukaku dan mencuci vaginaku, andy juga mencuci penisnya. Ini
adalah pertama kali aku berselingkuh dalam perkawinanku, aku merasa
berdosa terhadap suamiku, tetapi bagaimanapun telah terjadi, dan aku tidak
ingin suamiku mengetahui rahasiaku. Mungkin andy membaca cerita ini,
tetaplah pada janjimu bahwa perbuatan ini adalah yang satu satunya buat
kita, para pembaca yang ingin mengirimkan tanggapan atau berkenalan

TAMAT

Cerita Antara Kita 1:19 pm

bekas
Cerita ini adalah memory ku yang tak dapat ku lupakan. Cerita ini
sunguh-sunguh terjadi dan nama-nama dalam ceritaku ini adalah nama-nama
yang sesungguhnya, tapi yang aku gunakan adalah insialnya saja. Namaku
adalah Eml Amn, seperti judulku di atas, cerita ini mengisahkan tentang
kenangan yang tidak pernah kulupakan bersama mantanku. Baiklah ceritanya
begini….

Malam itu aku ingat bulan Agustus tahun 1994. Namun aku lupa tanggalnya,
hanya aku ingat harinya adalah hari Senin malam sekitar pukul 21.30.Malam
itu bulan purnama, sehingga kami dapat melihat dengan jelas wajah
masing-masing. Aku parkirkan mobil Kijang Rover abu-abu ku di pinggir
pantai Ancol.

“Kemana aja sih lo Rg? Gue bener-bener kangen deh ama lo” aku mulai
membuka pembicaraan. “Ah yang bener….?” jawab Rgn. “Elo sekarang lagi
deket sama siapa?” tanya ku. Rgn menjawab “Ada lah…, namanya Ptt”. Aku
bertanya lagi “Elo udah ngapain aja sama dia?” “Kok elo nanyanya gitu
sih?” ujar Rgn. Aku menjawab “Abis waktu gue pacaran sama elo dulu kan
nggak lebih dari pas foto doang (cuma cipokan sama megang-megang toket),
tiap tangan gue mau kebawah, elo tarik lagi ke atas”. Rgn. terdiam. lalu
mulailah ia menceritakan bahwa karena pergaulan ia sempat ikut-ikutan
dengan teman-temannya sewaktu di SMA swasta Prg Ckn. Lalu salah seorang
temannya menggunakan kesempatan pada saat Rgn sedang setengah fly,
temannya itu memerawaninya. Aku terdiam mendengar ceritanya. Lalu dengan
sangat hati-hati aku berkata kepada Rgn. “Dari dulu gue udah bilang sama
elo, waktu elo mutusin gue, hati-hati jaga diri elo, jangan ikut-ikutan
temen-temen elo yang nggak bener, nanti elo dikerjain sama temen elo
sendiri, dan ternyata bener kan?” Lalu Rgn menjawab “Iya lo Eml., coba gue
dengerin kata-kata elo waktu itu ya”. Lalu aku berkata “Ya udah, yang udah
ya udah, sekarang elo nyesel nggak?” Rgn menjawab “Gue nyesel bukan karena
gue udah nggak perawan lagi, tapi gue nyesel karena perawan gue ilang
dengan cara yang gue nggak rela, dan perawan gue ilang bukan dengan orang
yang bener-bener gue sayangin, kenapa perawan gue ilang bukan sama elo,
kenapa elo gue putusin waktu itu”. Aku terdiam. Dia pun terdiam. Kemudian
aku berkata untuk memecahkan suasana yang agak mendung “Ya udah deh, nggak
usah di seselin Rgn, sekarang gue menuntut keadilan nih, gue pengen
ngerasain juga nih making love sama elo…” Rgn menatap ku dalam. Dengan
cepat aku langsung berkata “Nggak kok Rg…, becanda”. Tanpa kuduga Rgn
tersenyum, dan ia berkata “Boleh….” Aku tersentak, kaget, senang, tidak
percaya. Aku bertanya “Bener nih Rg?” Dan ia hanya tertawa kecil. Kemudian
aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan ku dekatkan wajahku ke
wajahnya, lalu aku cium bibirnya sejenak, lalu aku tarik lagi wajahku agak
menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirkupun kurasakan tergetar,
begitu juga dengan bibirnya.Lalu aku tersenyum, dan ia pun tersenyum.

Kemudian mulailah kami cerita ngalor ngidul, tentang hubungan nya dengan
Ptt pacarnya, tentang betapa ia dan pacarnya itu sudah sangat jauh
hubungannya. Dan aku pun menceritakan tentang diriku. Sampai pada suatu
saat, entah bagaimana mula ceritanya, tiba-tiba aku bertanya kepada Rgn.
“Rgn, tapi jangan marah ya…! Gua mao tanya, barangnya Ptt gede nggak?”
Rgn agak terperengah lalu Rgn tersenyum, dan berkata “Apa-apaan sih elo,
kok nanya begituan segala?. Aku berkata “Serius nih, gue pengen tau?” Rgn
bilang sambil malu-malu kucing “Tauk ah!” Lalu aku berkata padanya “Oke,
elo bilang kan elo udah jauh berhubungan sama Ptt, nah pasti elo kan udah
pernah dong liat punya nya Ptt”. Lalu Rgn sambil tertawa kecil menjawab
“Iya udah…”. Lalu ia berkata “Tapi kan gue belom pernah liat punya lo
Ml”. Lalu aku berkata “Nah, sekarang gue kasih liat nih ya”. Belum sempat
Rgn bereaksi apa-apa tanpa ragu-ragu aku buka zipper (retsletting)
celanaku, lalu aku pelorotkan celanaku dan celana dalamku sampai sebatas
lutut. Aku mendengar Rgn terkejut “Eml… Gilaaa!!!… Itu… apaan
tuh?… Astaga Eml… Guede buanget barang lo?!… Keker, melengkung ke
atas lagi…, itu urat-uratnya aja ampe nonjol-nonjol kayak gitu… iihh
ngeri ah….” Aku hanya tertawa, dan berkata “Ah masak sih Rg segini
gede?” Lalu Rgn berkata “Ya ampun…Eml, mati deh gue kalo begituan ama
elo dengan barang lo yang segede gini, udah pernah elo ukur belom barang
lo Eml? Wah!… pasti cewek lo ngejerit kalo digituin sama elo dong?…”
Aku menjawab “Udah sih, panjangnya sih gue ukur 22 cm kurang 3 mili, terus
garis tengahnya sekitar ampir 7 cm”. Terdengar lagi Rgn berkata “Gila…
gila…”. Lalu aku berkata “Udah deh, sekarang gedean mana sama Ptt?” Lalu
Rgn menjawab “Ya ampun Eml, kalo kayak gini mah Ptt nggak ada apa-apanya”.
Lalu aku bertanya lagi kepada Rgn “Nah sekarang boleh nggak gue minta
jatah gue nih?” Rgn terdiam. Akhirnya dengan setengah berbisik namun yakin
dan mantap Rgn berkata “Boleh deh” Lalu ia tersenyum dan berkata lagi
“Tapi nanti masukkinnya pelan-pelan ya Ml, gue takut, sakit”. Dan aku pun
mengangguk dengan segera.

Singkat cerita, kami berdua pindah ke bangku belakang (tengah) Kijang
Roverku, dengan pakaian yang sudah terlucuti masing-masing. Aku cium
kening Rgn terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua
pipinya, lalu bibirnya. Rgn terpejam dan ku dengar nafasnya mulai agak
terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara. Aku
arahkan multku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah dadanya yang
dari sejak pacaran dulu bagiku buah dada Rgn adalah buah dada yang
terindah, besar, montok, kencang, ukuran 36B, dengan puting yang agak
memerah. Aku mainkan lidahku di puting kedua buah dadanya yang mulai
mengeras. Yang kiri… lalu yang kanan…. Terdengar ucapan Rgn “Eml, elo
tau aja kelemahan gue, gue paling nggak tahan kalo dijilat toketnya…,
aaahhhh….” Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati puting
buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, dan tiba-tiba aku berhenti, lalu
aku bertanya kepada Rgn “Rg elo udah pernah belom dijilatin itu lo? Rgn
menjawab “Belom…, kenapa?…” Aku menjawab “Mau nyoba nggak?”. Rgn
mengangguk perlahan. Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama
lagi langsung aku arahkan mulutku ke kemaluan Rgn yang bulunya lebat, dan
kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas… Aku keluarkan ujung
lidahku yang lancip lalu kujilat dengan lembut kelentit Rgn. Beberapa
detik kemudian ku dengar desahan panjang dari Rgn
“Ssssstttttt………..aaahhhhhhh!!!” Lalu ia berkata “Aaaahhhh….Eml….
gila enak bener……, Gila…. gue baru ngerasain nih enak yang kayak
gini…. aaahhhhhh….., gue nggak tahan nih…., udah deh…..” Lalu
dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku lalu dengan tersenyum ia memandangku.
Tanpa ku duga ia menyuruhku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya
tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi.
Lalu ia memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam
mulutnya. Aaahhh… kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Lalu aku
berkata “Aduh Rg, jangan kena gigi dong… sakit, nanti lecet…” Lalu
sambil kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku
yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri…, ke kanan…, lalu dengan
perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan kemaluanku
semaksimal mungkin kedalam mulutnya. Namun hanya seperempat dari panjang
kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya. Sampai
terdengar suara “Ohk!… aduh Eml, cuma bisa masuk seperempat…” Lalu aku
menjawab “Ya udah Rg, udah deh jangan dipaksaain, nanti elo muntah….” Ku
tarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di bangku belakang (tengah) Kijang
Roverku. Lalu ia membuka paha nya agak lebar, terlihat samar-samar olehku
kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah.Lalu ku pegang batang
kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku rasakan kepala
kemaluanku mulai masuk perlahan, ku tekan lagi agak perlahan, kurasakan
sulit kemaluanku menembus lubang kemaluannya. Ku dorong lagi perlahan, ku
perhatikan wajah Rgn dengan matanya yang tertutup rapat, ia menggigit
bibirnya sendiri, kemudian berdesah berkata “Ssssssstttttttt….
aaaahhhhhhhhhh…, Eml, pelan-pelan ya masukkinnya, udah kerasa agak perih
nih….” Dan aku pun dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang
kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Rgn, aku berupaya untuk dengan sangat
hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke lubang vagina Rgn. Aku
sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong batang
kemaluanku agak keras, dan terdengar dari kemaluanku Rgn suara “Srrph!”
Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Rgn, tampak olehku batang
kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya. Rgn tersentak
kaget, dan aku pun demikian. Lalu Rgn betanya “Aduh Eml, suara apaan tuh?”
Aku menjawab dan menenangkan Rgn “Nggak apa-apa, sakit nggak?” Lalu Rgn
menjawab “Sedikit…” Lalu aku berkata “Tahan ya.., sebentar lagi masuk
kok…” Dan kurasakan lubang kemaluan Rgn sudah mulai basah dan agak
hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam kemaluan Rgn sudah mulai keluar,
dan siap untuk berpenetrasi. Akhirnya aku desakkan batang kemaluanku
dengan cepat dan tiba-tiba agar Rgn tidak sempat merasakan sakit, dan
ternyata usahaku berhasil, ku lihat wajah Rgn seperti orang yang sedang
merasakan kenikmatan yang luar biasa, matanya setengah terpejam, dan
sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara
“Sssshhhhh….. sssshhhh…..” Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi
bibirnya yang sensual…. Aku pun mersakan nikmat yang luar biasa… Ku
tekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada yang
mengganjal, ku perhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga
perempat kedalam lubang kemaluan Rgn, ko coba untuk menekan lebih jauh
lagi, ternyata sudah mentok…, kesimpulannya, batang kemaluanku hanya
dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Rgn. Dan
Rgn pun merasakannya. Ini aku ketahuai karena Rgn pun berkata kepadaku
“Aduh Eml, udah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut gue udah kerasa
agak eneg nih, eneg-eneg enak…, gila…, aduh…, barang lo gede banget
sih Ml….”

Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku kekiri,
lalu kekanan, memutar, lalu kembali kedepan kebelakang, keatas lalu
kebawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Rgn, dalam benak
pikiranku ternyata lubang kemaluan Rgn masih sempit, ini mungkin karena
ukuran batang kemaluanku yang menurut Rgn besar, panjang dan kekar. Lama
kelamaan goyanganku sudah mulai tratur, perlahan tapi pasti, dan Rgn pun
sudah dapat mengimbangi goyanganku, kami bergoyang seirama, berlawanan
arah, bila kugoyang kekiri, Rgn goyang kekanan, bila kutekan pantatku Rgn
pun menekan pantatnya. Namun itu semua aku lakukan dengan perlahan namun
teratur dan pasti, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk
Rgn, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini
berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Rgn merenggut
rambutku, sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat. Tubuh kami
berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas,
namun kami tidak perduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara
pada saat itu. Aku terus menggoyang pantatku kedepan kebelakang, keatas
kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat dimenit ke dua puluh kalau
aku tidak salah, Rgn berkata “Aahh Eml…, agak cepet lagi sedikit
goyangnya…, gue kayaknya udah mao keluar nih….” Rgn mengangkat kakinya
tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa
menit kemudian semakin erat…, semakin erat…, tangannya sebelah
menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit
kecil telingku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang
dari mulutnya memanggil namaku “Eml….. aahhhh………..
Mmmmhhhaaahhhhh………. Aahhhhhhhh……..”. Kurasakan lubang
kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang
kemaluanku, Aaahhhhh…. gila…. ini nikmat sekali… baru kurasakan
sekali ini lubang kemaluan bisa seperti ini. Tak lama kemudian aku tak
tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah
dan………, tubuhku mengejang……. lalu Rgn berseru “Eml…, cabut…,
keluarin di luar…..” Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik
kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan
“Aaaahhhhh….ahhhhh….” Aku mengerang tertahan “Ngggggghhhhhhh……
ngggghhhhhhhh……” Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan
kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali
keluar dari batang kemaluanku, stchrootttth…
stchroottthhhh….scrothhhhh……craattttttthhhhh….., sebagian
menyemprot wajah Rgn, sebagian lagi ke toketnya, kedadanya, terakhir
keperut dan pusarnya…. Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan,
lalu kudengar Rgn berkata “Eml…, enak banget making love sama elo,
rasanya beda sama kalo gue gitu sama Ptt. Enakan sama elo, kalo sama Ptt,
gue jarang keluar, tapi baru sekali gitu sama elo gue bisa keluar, barang
kali karena barang lo yang gede bangeth ya?… Gue nggak bakal lupa deh
sama malam ini, gue akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis gue”
Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Rg, gue juga, gue nggak
bakal lupa”.

Aku antar Rgn pulang ke rumahnya dibilangan Tn Abg. Kami pulang dengan
kenangan manis yang tak dapat kami lupakan selama-lamanya.

Cerita Antara Kita 1:17 pm

asian
Ini pengalaman pertama gue gituan. Lumayan asik lah. Kejadiannya di Kyoto,
Jepang, waktu gue mau cari sekolah. Di sana gue nginep di rumahnya adik
nyokap (nyokap gue orang jepang). Waktu pertama kali gue datang ke sana
gue di kenalin sama istrinya om gue, namanya Atsuko. Tante Atsuko itu
lumayan cakep.

Tapi yang bikin gue lebih tertarik… bodynya…hmmm…kurus nggak, gendut
nggak…tapi padat berisi. yang paling yahud dadanya yang membusung, dan
pantatnya bulet sekal, ugh keren banget…Apalagi waktu doi jemput gue di
airport, doi pake bajunya seksi, serba ketat, dan roknya lumayan pendek
(jangankan ibu-ibu kayak tante gue, di Jepang waktu itu lagi musim
anak-anak sekolah rok seragamnya pada pendek-pendek…mini banget gila!
Pokoknya lebih pendek dari rok seragam anak SMA di Jakarta deh).

Jadi gue biasa ngeliat pahanya yang mulus. Tapi gue nggak enak kalo
curi-curi pandang ke tante gue, nggak enak sama om. Udah bagus gue dikasih
numpang di rumahnya. Kalo diusir, mau jadi apa gue di sana…ongkos gue
pas-pasan…
Kejadiannya waktu pas dua minggu gue di Kyoto. Sore-sorean dikit, waktu
gue lagi asyik-asyik bikin Paper Cc. di ruang tengah, Atsuko pulang dari
kantor… tumben-tumbenan pikir gue…biasanya Atsuko sama om gue baru
pulang kalo udah lewat jam delapan malem. Kali ini dia pulang sendiri.

Lewat pintu belakang, Atsuko langsung masuk ke ruang tengah. Aih, baju
kantornya sensual…a little tiny jacket fitted her body with tight
tanktop underneath, stunningly short skirts that she worn..Ugh…!

“Konichi wa…” sapa gue. eh, bukannya dia jawab malah nanya.
“Nikki, watashi wa kirei desu ka? (Nikki, gue ini oke apa nggak?)”
“Ee (ya).” Jawab gue sambil rada bengong. Maksudnya apa lagi? (untuk
dialog berikutnya langsung bahasa jakarte aja ye, capek gue…)

“Elo suka nggak sama gue..?” tanyanya sambil senyum.
Gue diem sebentar. Sebagai laki-laki gue tau dong apa maksudnya. Gue
deketin dia, terus gue belai rambutnya yang lurus sebahu.

“Gue pulang kantor buru-buru cuma buat elo, Nikki. Gue udah nggak kuat
lagi. Udah lama gue nggak ngerasain enaknya hubungan sex. Kalo gue pulang
sama suami, Si Loyo itu, nggak bakalan gue punya kesempatan berdua sama
elo.”

Atsuko meletakkan kepalanya di dada gue. “Kemarin malam gue ngintip elo di
kamar mandi dan liat elo lagi onani. Terus terang, gue akuin kontol elo
termasuk ukuran king size. Selankangan dan celana dalam gue sampe
basah…gue masturbasi. Gue ngebayangin kalo penis elo itu gue isep dan
dimasukin ke memek gue…mmmhhh…ooohhhh…” Tubuh Atsuko menggelinjang
dalam pelukan gue. Sengaja waktu dia cerita tadi pinggul gue, gue rapetin
ke bodinya, sampai kontol gue yang udeh mulai-mulai tegang itu mepet ke
selangkanganya.

Bibir Atsuko yang asoy itu gue kiss. Bukan cuma bibir yang main, lidah dan
ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya.

Atsuko mulai respons. Sebelah kakinya ngelingker di pinggul gue supaya
lebih mepet lagi. Paha mulusnya terlihat ketika roknya menyingkap tinggi.
Tangan gue mulai main, menjalari pahanya yang tersingkap. Terasa mulus
baget waktu telapak tangan gue menyusuri paha pagian dalamnya. Tangan gue
terus menjalar sampai menyentuh celah di pangkal pahanya yang masih
terbalut celana dalam katun yang lembut.

Celah yang menonjol dari balik pucuk celana dalam itu kerasa mulai lembab.
Masih dibalut celana dalam, memek Atsuko itu gue gelitik-gelitik. Rupanya
celana dalamnya yang udah licin ‘n tekstur katun yang lembut itu terasa
erotik di memeknya.

Atsuko ber-hikuhiku(gelepar)-ria merasakan jari-jari gue yang nakal.
Bibirnya dilepas dari bibir gue.
“Hmmhhh…enak, enak…hmmaaahhh…” jeritnya.
jari-jari gue tambah nakal, menyelip di balik pucuk celana dalamnya
menusuk lubang memeknya yang berlendir dan mengocoknya di dalam.

Atsuko tambah menjerit-jerit. Badanya yang udah lemes itu gue baringkan di
atas sofa.
“Nikki…hhh…masukkin kontol elo…gue udah nggak tahan..hhhh…hhh…”
Atsuko mengap-mengap. Gue sendiri udah nggak tahan ngeliat dia
menggelepar-gelepar gitu.
Buru-buru gue buka celana dan mengeluarkan batangan gue. Mata Atsuko yang
sipit itu membeliak ngeliat penis gue yang katanya king size.

Dengan kasar gue singkap roknya ke atas terus celana dalamnya ku lucutin.
Waktu kontol gue mulai masuk ke memeknya Atsuko lagi-lagi menjerit-jerit
kesakitan. Padahal yang masuk baru kepalanya doang. gue juga heran, udah
lima tahun kawin tuh memek masih sempit juga. Suaminya emang payah!

Gue nggak peduli Atsuko teriak-teriak kesakitan begitu. Kontol gue dorong
lagi sampai mentok membentur dinding rahimnya.
“Nikki…oohhh…sakit..sakit…” jeritnya.
Kontol gue kocok di memeknya. Ugh, biar memeknya udah becek begitu tapi
masih kerasa ketat banget.
Cuman sebentar Atsuko menjerit kesakitan. setelah itu ia mulai
mengejang-ngejang lagi dan bibirnya tak henti-henti menyuarakan
kenikmatan.

Kurang lebih dua puluh menitan akhirnya gue kelimaks. Ugh, rasanya enak
bener…!Mani gue berhamburan keluar, bermuncratan dan menembak-nembak
jauh entah kemana.
Atsuko sendiri sudah beberapa kali memeknya mengejang-ngejang klimaks.
Lendir dari memeknya membanjir…meleber di paha, betis dan pantatnya.
Atsuko menggeletak lemas di sofa. Gue dan dia sama-sama mandi keringat.
Nafasnya terengah-engah tak beraturan.
Dalam nada tersengal-sengal Atsuko masih bisa bicara.
“Gue masih kepengen lagi…” katanya.
“Gue juga masih mau…tapi jangan di sini. Di kamar gue aja, ya,
sayang…”

Atsuko mengangguk sambil tersenyum. Dia gue gendong masuk ke kamar gue dan
gue rebahin di ranjang. Gue baru ngerasa lelah, baru aja selesai gituan
udah ngegendong dia dan mesti naik tangga lagi (kamar gue di atas). Gue
rebahin badan gue di samping Atsuko. Die minta gue cium lagi. Gue ladenin.

Gue tindihin badan badanya, terus gue kiss..french kiss. Lidah ketemu
lidah, membelit, dan saling menjilat. Atsuko menggumam gumam kenikmatan,
entah karena ciuman atau tindihan gue yang bikin di enak gitu. sambil
ciuman gua goyang-goyang pinggul gue sampai kontol gue kerasa kena di
memeknya.

Bosen ciuman, bibir dan lidah gue menjalar ke kuping leher bahu, ketiak,
terus ke toket. Gue rasanya gemes baget ngeliat putingnya yang lumayan
gede, kecoklat-coklatan dan mencuat ke atas itu. gue jilat putingnya
dengan rakus sampai Atsuko ngerasa geli. Puting sebelah kananya gue gigit
lembut terus lidah gue menggelitik putingnya di sela-sela gigi depan gue
sementara toket sebelah kirinya gue remas-remas. Tubuh Atsuko
menggelinyang merasa geli dan nikmat.

Setelah beberapa saat di permainkan, buah dada Atsuko terasa mengeras dan
puting susunya tegak. Lendir memeknya mengalir dan terasa basah di perut
gue.
Atsuko bilang kalo dia pengen nyepong gue. Dia suruh gue menelentang, dan
mulai dia beraksi.

Atsuko memegang kontol gue dengan kelima jarinya. Mengocok-kocok batangan
gue perlahan supaya lebih panjang. Gue menggumam pelan. Asyik juga kalo
kontol dikocokin cewek kayak gini!

Lidah Atsuko mulai merambat ke kepala kontol gue, menjilati cairan pre cum
yang mulai muncul di lubang kencing. Lalu lidahnya menggeser ke batangan,
menjelajahi tiap jenjang kontol gue. Tangan kirinya mengelu-mengelus
kantung zakar gue.
“Atsuko…” gumam gue pelan. Hmmm enak banget, geli-geli nikmat.

Atsuko senyum-senyum ngeliat gue merem-melek kayak gitu. Terus dia membuka
mulutnya dan menjejalkan kontol gue masuk ke dalam mulutnya itu. Kontol
gue diisepnya kenceng-kenceng… Aaaahhhhhh….lalu dengan mulutnya dia
mengocok kontol gue turun naik turun
naik…uuuuggggghhhh…sedap…enak…mmmmhhhh…
Atsuko lalu merubah posisinya untuk melakukan 69. dia di atas gue dan
menyorongkan pantatnya ke muka gue. Gue nggak nunggu dua kali, langsung
aja gue jilat memeknya yang berlendir dan merekah merah itu. Nggak jarang
bibir gue menyedot lubang memeknya, menghisap lendirnya. lidah gue gue
masukin ke dalam lubangnya menjilati dinding-dinding basah, sementara jari
gue mempermainkan kelentitnya.

Atsuko mengerang-ngerang dengan kontol di mulutnya, menyuarakan
kenikmatan. Lendir dari memeknya membajir membasahi muka gue. Atsuko
melepaskan kontol gue dari mulutnya dan meminta gue menyodoknya dari
belakang.
Waktu kontol gue masuk, Atsuko hanya merintih pelan. Rupanya dia udah
biasa merasakan penis gue yang king size ini (dia yang bilang) menembus
lobang memeknya.
Kontol gue mengocok kencang, sampai dia mengejang-ngejang menahan nikmat.
Tanganya yang lentik itu ikut nimbrung merangsang kelentitnya. Jari gue
sendiri nggak tahan pengen menusuk lubang pantatnya.

Permukaan lubang pantat itu gue olesin pake cairan dari memeknya, gue
usap-usap, terus gue masukin tiga jari ke dalamnya.

Kocokan kontol di memek dan jari-jari di lubang pantat itu membuat atsuko
mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua kali memeknya
berkontraksi mencapai klimaks, tapi gue terus mengocok dan mengocok sampai
atsuko lemes. Cairan vaginanya membecek, meleleh turun ke paha.
Setelah Atsuko klimaks yang ke empat kali di ronde ke dua itu, gue udah
ngerasa nggak tahan untuk ikutan klimaks. gue cabut kontol gue dari
memeknya dengan satu gerakan cepat. Gue kocok kontol gue sampai
menyemburkan mani kental kekuningan ke mulut Atsuko yang telah menganga
menanti mani untuk di telan.

Setelah melakukan itu gue sama dia berpelukan dengan kaki saling membelit.
Gue belai-belai sayang dia dengan mesra dan kami saling melempar senyum.
Tiba-tiba Atsuko menitikkan air mata. “coba suami gue semacho elo…”
gumamnya.
“Tenanglah, kalo gue di terima sekolah di sini, gue bakalan lama tinggal
di sini.” kata gue sambil mengecup skilas bibirnya.
“Gue sayang sama elo..gue suka sama elo…” desahnya dikuping gue.

Nggak kerasa waktu cepat berlalu. Tau-tau udah jam setengah sembilan malam
waktu itu. Atsuko meninggalkan ranjang untuk mandi, sedangkan gue masih
terbaring ngorok di atas kasur, merasakan nikmatnya dan letihnya bermain
cinta. Aaahhhh….

TAMAT

Cerita Antara Kita 1:04 pm

kompoi
Namaku Yudha, aku mahasiswa perantauan yang indekos didaerah perumahan
dekat kampus. Tempat kosku tergolong bebas karena Pak Isom, pemilik kos
tinggal agak jauh tempat kostku. Paling sebulan sekali atau dua kali
beliau datang menaih sewa.

Mungkin aku benar-benar terpengaruh mitos tentang betis seorang wanita.
Konon wanita yang memiliki betis indah sangat romantis dan panas dalam
permainan ranjang. Kebetulan tetangga baruku termasuk wanita yang memiliki
betis indah. Yang membuatku menaruh harapan padanya adalah statusnya yang
janda. Wanita itu bernama Yulie, selain memiliki betis yang indah Yulie
juga berwajah cukup cantik dan memiliki tubuh yang sexy.

Suatu hari menjelang sore, hujan mulai turun rintik-rintik, maklum musim
hujan, Yulie datang ke rumahku. Aku cukup terkejut ketika membuka pintu,
dihadapanku berdiri seorang wanita yang cukup cantik dan amat sexy, dengan
mengenakan kaos tipis berwarna putih sehingga warna bra nya yang merah
menyala terlihat cukup jelas. dan celana panjang jins yang dipotong
menjadi celana pendek sehingga memperlihatkan pahanya yang putih dan
mulus. Pucuk dicita ulam tiba pikirku. Aku akan memanfaatkan kesempatan
ini sebaik-baiknya, maka ketika ia memintaku untuk memperbaiki VCD
Playernya yang rewel, langsung aku sanggupi. Untungnya aku memang hobi
dalam mengutak-atik segala peralatan elektronik.

Tanpa banyak bicara, aku langsung mengikuti Yulie kerumahnya. Dia
mengajakku ke kamarnya, aku benar-benar grogi, apalagi Yulie seolah
mengetahui akan kekagumanku terhadap tubuhnya dan dia sengaja
memamerkannya. Saat aku mulai membongkar VCD tersebut, Yulie berada
dihadapanku dan membungkuk sehingga aku dapat melihat dengan jelas buah
dadanya yang ranum, seolah bra yang dikenakannya tidak muat untuk menutupi
keseluruhan buah dadanya. Untuk menutupi hasratku, iseng-iseng aku
menanyakan, mau nonton VCD apa sih? Tak dinyana ia mengambil box VCD dan
menyodorkan padaku, alamak VCD porno. Dan dia pun merengek, cepetan mas,
udah kepengen nonton. Eeem.., mas mau nemenin Yulie nonton ngga? Terang
aja aku langsung mengiakan. Yulie terlihat senang kemudian dia beralih
duduk disebelahku sambil memepetkan tubuhnya, benda yang lembut dan lunak
menempel di lenganku, juga tercium aroma wangi dari tubuhnya makin
membuatku panas dingin. Aku merasa lama sekali dalam memperbaiki kerusakan
VCD playernya, padahal kerusakan seperti ini paling 15 menit selesai.
Akhirnya setelah setengah jam VCD player berhasil aku perbaiki.

Yulie mulai mengambil salah satu VCD dalam box tadi, dan mulai memutarnya.
Dia memilih VCD semi, lalu dia duduk di sampingku. Mendapat isyarat yang
menantang ini, aku mulai berani. Aku langsung melingkarkan tanganku di
pinggangnya, sambil tal henti-hentinya bergerak mengelus-elus pinggangnya
yang ramping. Yulie pun terlihat mulai terangsang, tanganku dipegangnya
dan dituntun untuk meraba-raba daerah yang lebih sensitif. Yulie mulai
mendesah-desah, suaranya merangsang sekali, membuat “rudal” ku memberontak
keras.

Tangan Yulie mulai menyusup di celanaku, tapi dia kesulitan untuk
menggerak-gerakkan tanganya karena celanaku sudah penuh sesak oleh rudal
yang siap tempur. Yulie langsung meraih kaitan celanaku dan membuka
retsluitingnya hanya dengan satu tangan. Benar-benar trampil, apalagi
ketika ia mulai mengelus-elus rudalku, aku benar-benar terhanyut oleh
keahliannya. Lalu dengan cepat, ia pun membuka kaosnya dan melorotkan
celana pendeknya. Benar-benar pemandangan yang indah, tubuh putih mulus
itu kini hanya mengenakan bra warna merah menyala dan celana dalam yang
juga berwarna merah menyala. Kesemuanya berukuran mini sekali. Aku sangat
mengagumi payudaranya yang sangat kencang dan padat dan hanya terbalut
setengahnya oleh bra merah. Tampaknya Yulie tahu aku memandang buah
dadanya dengan mata tak berkedip. Lalu dengan cekatan ia membuka branya
dan menarik kepalaku ke arah bukit kembar itu, aku langsung menghisap
putingnya yang masih berwarna coklat muda itu, Yulie mendesah makin keras.
Aku mencoba segala keahlianku dalam dalam memainkan putingnya. Kuhisap dan
kumainkan dengan lidah, sambil membenamkan wajahku dan memutar-mutarnya,
Yulie kelihatan sangat menyukai permainanku. Selang beberapa lama, dia
menarik wajahku yang masih asyik mempermainkan putingnya, kemudian
mendorongnya agar rebah dikursi. Yulie mulai menciumi leherku, lalu
telingaku. Desahannya makin jelas dan makin merangsangku. Kemudian
ciumannya mulai turun kearah puting ku, dan turun terus hingga kepusar,
lidahnya sempat singgah disana, sehingga makin membuatku bernafsu
mengharapkan kulumannya kearah rudalku, akhirnya di mulai menjilati
seluruh batang rudalku dan turun ke arah zakar. Dihisapnya kuat-kuat buah
zakarku sehingga membuatku menggelinjang, geli dan nikmat. Lalu dia mulai
kepala rudalku sambil mempermainkannya dengan lidah. Oh sungguh nikmat
desisnya, seumur-umur baru kali ini aku merasakan oral yang paling nikmat,
dia mulai mengulum lebih dalam. Aku berusaha bertahan agar tidak
menggerakkan rudalku. Takut kalau dia tersedak. Akhirnya aku tak tahan
hingga mendoronkan rudalku agar melesak lebih dalam kekulumannya. Dia agak
kaget dan hampir tersedak, kemudian mundur. Sori Yul, aku ngga tahan untuk
ngga bergerak, habis nikmat sekali. Ngga papa koq mas. Punya mas sih, yang
kepanjangan, Yuli belum terbiasa yang segini panjang.

Setelah Yulie melepas celana dalamnya, permainan kami lanjutkan kali ini
kami mengambil posisi 69, Yuli mengangkang diatasku, sehingga lubang gua
yang mulai basah itu terpampang dihadapanku. Aku langsung membukanya lebih
lebar dengan kedua ibu jariku, sehingga klentitnya yang sudah membesar
tersebul keluar, aku langsung menghisapnya, Yulie mendesah makin keras,
ooohhh.. enak sekali mas. Kemudian Yulie mulai mengulum rudalku, tambah
lama tambah dalam sehingga keseluruhannya berhasil masuk sampai melewati
tenggorokannya. Aku benar-benar terbuai oleh kenikmatan permainan Yulie.
Aku pun berusaha mengeluarkan seluruh keahlian ku dalam memainkan lidah,
klentitnyanya kuhisap dan kugigit perlahan. Lalu aku memiringkan kepalaku
sehingga bisa menghisap klentitnya dan menjelajahi gua dengan lidahku.
Kujulurkan lidahku sedalam-dalamnya dan menekuknya ke atas berusaha meraih
G-spot. Hanya dua-tiga kali aku berhasil menyenggol G-spot itupun harus
sambil membenamkan wajahku dalam dalam. Tapi hasilnya sungguh menakjubkan,
pinggul Yuli mulai bergoyang-goyang dan memutar makin lama makin kencang.
Dia pun memperlihatkan keahliannya dalam mengulum rudalku. Kelihatan dia
sudah mulai terbiasa dengan rudalku yang cukup panjang. Yulie mulai
mengulum dan menghisap juga menggerak-gerakkan lidahnya saat rudalku
melesak dalam. Akhirnya gerakan pinggulnya yang makin kuat menandakan dia
sudah akan mencapai orgasme. Diapun makin kuat menghisap dan mengulum,
sehingga akupun mulai merasakan akan mencapai orgasme. Akhirnya erangan
tak jelas dari kami berdua menandakan berakhirnya permainan panas kami.
Aku merasakan cairan hangat yang sedikit asin mengalir. Dan aku masih
menghisapnya. Yulie pun masih asik menghisap rudalku yang sudah mulai
mengecil.

Setelah selesai kamipun mandi bersama dan mengulangi permainan dikamar
mandi. Kali ini kami tidak melakukan oral, tapi memainkan doggy style.
Yulie membungkuk sambil memegang pinggir bak mandi. Aku berdiri di
belakangnya dan mulai memainkan rudalku. Maju mundur juga memutar-mutar.
Dorongan dari rudalku yang dalam amat terasa sampai menyentuh dasar
vaginanya. Hal ini makin menambah kenikmatan kami. Makin lama, gerakan
Yulie pun makin mengganas dengan ikut maju mundur dan memutar-mutar
pertanda, dia sudah akan mencapai orgasme. Akibat gerakan erotisnya dari
luar dan denyutan vaginanya yang kuat mencengkram saat akan mencapai
orgasme. Akupun mulai merasakan akan mencapai orgasme. Gerakan maju-mundur
dan putaran makin kupercepat untuk mencapai klimaks yang melegakan.
Beberapa saat kemudian, desahan keras dan sexy keluar dari mulut Yulie.
Hampir bersamaan akupun melenguh keras menyertai semburan sperma yang
keluar dari rudalku.

Setelah selesai mandi, kami pun ngobrol sebentar sembari minum teh
buatannya. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku teringat akan
janjiku dengan Pak Isom, jam 8 malam beliau akan datang menagih tunggakan
sewa kos, gawat bisa diusir nih. Buru-buru aku pamitan pulang, Yulie
mencium pipiku didepan pintu, sambil berbisik kalau senggang sering mampir
ya maass… suara desahannya yang khas dan sexy itu membuat rudalku mulai
bergerak-gerak lagi. Tapi ahhh, masih ada esok hari. Aku mencium keningnya
dan buru-buru pulang, takut tak tahan godaan.

TAMAT

Cerita Antara Kita 12:57 pm

ML
Cerita ini aku alami waktu berlibur di kota S bersama istriku. Saat itu
aku ketemu mantanku waktu kerja di kota itu. Namanya Maya, sebut saja
demikian. Aku dan istriku waktu itu menginap di hotel ‘S’, kami berdua
sudah hampir 3 hari menginap untuk sedikit refresing dari kota J. Selama
ini aku mendengar Maya hidup sendiri, dia sudah putus sama yang katanya
calon suami waktu dulu dikenalkan denganku, dan dia katanya sekarang
adalah biseks (moga-moga bukan begitu yang aku dengar).

Hari keempat setelah usai makan malam, aku dan istriku mulai iseng seperti
biasa suami istri saling cium, saling hisap walaupun dengan pakaian
setengah telanjang, namun gairah kami berdua tidak ada habis-habisnya
(maklum tiap hari pikiran ini dipenuhi pekerjaan kantor, jadi wajar kalau
tiap hari waktu liburan kami senantiasa berhubungan). Kata teman-temanku
aku punya libido seks yang tinggi, makanya istriku kadang-kadang tidak
kuat meladeni diriku di ranjang. Tengah asyik-asyiknya kami penetrasi
pintu kamar hotelku diketuk, aku langsung beranjak tanpa mempedulikan
istriku yang sudah ngos-ngosan tidak karuan. Betapa terkejutnya aku waktu
kubuka pintu, sesosok badan yag anggun berdiri di depanku dengan celana
jeans ketat dan kaos putih ketat terawang. Aku hampir terpesona “Maya…”
kataku setengah gugup. “Ayo masuk,” pintaku, tanpa sadar aku sudah
setengah telanjang (walau hanya memakai celana pendek waktu itu).

Dia mengikutiku masuk ruangan hotel, istriku pun tengah rebahan dan hanya
ditutup oleh selimut hotel.
“Ini Maya, Mah kenalin,” mereka pun saling berjabat tangan.
“Oh, kalian sedang asyik yah, maaf kalo aku mengganggu?” kata Maya
kemudian.
Kami pun agak kikuk, namun Maya dengan santai pun berkata,
“Lanjutin aja, cueklah kalian kan sudah suami istri, ayo lanjutin aja!”
Aku dan istriku heran melihat hal itu, namun dengan sedikit kikuk tanpa
aku pikirkan siapa dia, aku mulai lagi penetrasi dengan istriku (walaupun
agak canggung). Kulumat bibir istriku, turun ke bawah di antara dua
payudara nan indah yang kumiliki selama ini (ukurannya sih 34B)
kujilat-kugigit puting susu istriku, dengan terpejam istriku mendesah,
“Aaahhh… aaahhh…” dia pun tidak memperdulikan sekelilingnya juga
termasuk Maya. Mulutku mulai turun ke arah di lubang kemaluan istriku
dengan tangan kanan dan kiri meremas-remas kedua payudaranya. Kujilati
lubang kemaluan istriku, dia pun mulai bergoyang-goyang. “Mas…
itilnya… aaahhh enak… Mas… terus…” Aku sempat melirik Maya, dia
pun melihat adegan kami berdua seakan-akan ingin ikut menikmatinya.

“Mas, ayo mulai… aku… udah nggak… kuat… nih…” lalu penisku yang
sudah mulai tegak berdiri mulai masuk ke lubang vagina istriku, “Bleess…
sleeppp…” begitu berulang-ulang, tiba-tiba tanpa aku sadari Maya sudah
melepas semua penutup tubuhnya, dia beranjak dari tempat duduk dan
mendekati istriku, dilumatnya bibir mungil istriku. Edan! pikirku, namun
ini memang pengalaman baru bagi kami berdua dan lebih ada variasinya.
Istriku pun ternyata membalas ciuman Maya dengan bergairah, tangan Maya
pun asyik memainkan puting susu istriku. Hampir satu jam aku naik-turun di
tubuh istriku, dan tubuh istriku mulai mengejang “Mas… aku… ke…
lu… aaagghhh…” Tubuh istriku tergeletak lemas di ranjang, Maya tahu
kalau aku belum sampai puncak, ditariknya diriku agar duduk di tepi
ranjang, dengan penis yang masih tegak dan basah oleh sperma istriku. Maya
mulai menjilati penisku dengan bergairah, “Enak Mas cairan istrimu ini,”
katanya. Istriku yang melihat hal itu hanya senyum-senyum penuh arti, Maya
masih dengan bergairah mengulum-ulum penisku yang panjang dan besar itu,
“May, aku pengen…” Dia tahu apa yang kuminta, tanpa bertanya pada
istriku Maya naik di antara kedua kaki, rupanya lubang kemaluannya sudah
basah melihat adeganku dan istriku tadi.

Lalu “Bleesss…” penisku sudah masuk ke vagina Maya. Istriku melihat itu
hanya terdiam, namun kemudian dia bangkit dan mendorongku sehingga aku di
posisi terlentang di ranjang. Ia mulai naik ke tubuhku dengan posisi
lubang vaginanya tepat di atas kepalaku. “Jilati Mas…” pintanya manja.
Aku mulai menjilati lubang kemaluan istriku dan klitorisnya yang indah
itu, istriku dengan posisi itu ternyata lebih bisa menikmati dengan Maya,
mereka saling berciuman dan posisi Maya pun naik-turun di atas penisku.
Istriku dengan bergairah melumat kedua puting payudara indah milik Maya,
setelah setengah jam tubuh Maya mengejang, “Mas… aku… mau… ke…
aaahhh…” cairan panas menerpa penisku, begitu pula aku sudah ingin
mencapai puncak dan tak tahan lagi spermaku tumpah di dalam lubang vagina
Maya. Maya kemudian beringsut dari tempat tidur, dia berjalan ke arah tas
yang ia bawa tadi, lalu mengeluarkan sebuah benda coklat panjang dengan
tali melingkar, itukah yang dinakan “dildo”, aku dan istriku baru tahu
waktu itu.

Maya mulai mengenakan dildonya, persis seperti laki-laki, dia berjalan ke
arah istriku yang sejak tadi rebahan di sampingku. Maya mulai beraksi, dia
menciumi istriku dengan bergairah, melumat puting susu istriku yang tegak,
turun ke vaginanya, dijilatinya dengan puas, klitorisnya dimainkan dengan
ujung lidahnya, istriku tak tahan dia mendesah-desah kenikmatan. “May…
terus…” Maya kemudian melepas vagina istriku yang tadi dijilat dan
digigitnya, dia naik di atas tubuh istriku, lalu tangannya membimbing
dildo yang dia pakai tepat di atas lubang vagina istriku, dengan sekali
tekan masuklah dildo itu, “Aauuggghh…” teriak istriku. “Enak Mas…
lebih enak dari punyamu…” katanya, aku hanya tersenyum. Maya seakan
bergairah sekali dalam permainan itu, seakan-akan dia seorang laki-laki
yang sedang menyetubuhi wanita, istriku pun menikmatinya. Aku sudah tidak
tahan melihat adegan itu, tanpa minta ijin dulu dengan posisi membelakangi
Maya aku melihat warna merah indah vagina milik Maya terpampang di
depanku. Dengan sekali genjot penisku sudah masuk ke lubang itu,
“Bleess…” Mata Maya sampai terpejam-pejam menikmati itu.

Setelah beberapa lama tubuh istriku tampak mengejang dan, “Ahhh… May…
sayang…” Dia lemas untuk kedua kalinya. Maya tiba-tiba menahanku,
sehingga aku terdiam, dia bangkit berdiri dari posisi di atas istriku, dia
mendorongku ke tempat tidur, dia melepas dildonya dan naik ke tubuhku, dia
mulai lagi dengan posisi seperti awal tadi, wow nikmat sekali. Istriku
bangkit dari ranjang, dia iseng mengenakan dildo yang dikenakan Maya tadi,
lalu berjalan membelakangi Maya, istriku melihat dengan indah pantat Maya
yang putih mulus dan halus itu. Dibelainya dengan lembut, dia mendorong
tubuh Maya sehingga terjerambab, dengan posisi itu kami dapat saling
berciuman dengan bergairah. Istriku lalu mengambil posisi, dengan
perlahan-lahan dia memasukkan dildonya di dubur Maya (dia ingin anal seks
rupanya dengan Maya), dengan gerakan lembut dildo itu masuk ke dubur Maya,
Maya pun berteriak, “Aagghhh sa… kit…” istriku pun berhenti sebentar,
lalu dengan gerakan maju-mundur secara pelan dildo itu akhirnya lancar
masuk ke dubur Maya. Mata Maya pun sampai terpejam-pejam, “Mas… aku…
udah… nggakk… ku… at.. la…” kembali cairan panas menyerang
penisku.

Istriku sudah berhenti memainkan dildonya takut Maya menderita sakit.
Tubuh Maya terbaring di ranjang sebelahku, istriku yang nafsunya masih
menggebu langsung menyerangku, dia dengan posisi seperti Maya tadi mulai
naik-turun dan tanganku pun tak ketinggalan memilin kedua puting susunya.
Setelah hampir satu jam kami bergumul, akhirnya klimaks kami berdua
sama-sama mengeluarkan cairan di dalam satu lubang. Istriku kemudian
beringsut, dia ingin mengulum penisku yang masih tegak berdiri dan basah
oleh cairan kami berdua, Maya pun tak ketinggalan ikut mengulum-ngulum
penisku. Betapa nikmatnya malam ini, pikirku.

Akhirnya kami bertiga tertidur karena kecapaian dengan senyum penuh arti
semoga permainan ini dapat kami teruskan dengan didasari rasa sayang bukan
karena nafsu semata di antara kami bertiga. Semoga!

TAMAT