Akibat Pergaulan BebasSeptember 4, 2006 5:28 pm

Kuperkenalkan diri saya lagi, nama saya Henri, kelas 3 SMA di Jakarta. Kalo ini saya tidak akan menceritakan kisah seks saya dengan Jovie seperti dalam cerita sebelumnya “Laporan Biologi.” Tapi kali ini saya akan menceritakan kisah seks saya dengan seorang adik kelas. Kejadiannya kira-kira awal bulan Desember lalu.

Namanya Nia. Ia satu tahun dibawahku. Nia mempunyai wajah yang manis ditemani rambutnya yang sebahu. Kulitnya putih kecoklatan. Badannya kurus namun Nia memiliki payudara yang cukup besar. Sebenarnya saat ia memakai seragam sekolah, sekilas payudaranya tidak tampak besar. Namun saya pernah melihatnya membungkukkan badan, dan terlihat kedua payudaranya yang montok tersebut. Sejak saat itu Nia sering menjadi bahan pembicaraan kawan-kawan lelakiku.

Hubunganku dengan Nia cukup dekat. Terkadang kami suka jalan bareng bersama teman-temanku dan teman-temannya. Cukup banyak cowok yang mengejarnya. Namun sepertinya ia masih senang “jomblo.” Sehingga saya tidak berusaha mendekatinya.

Senin, 5 Desember 2005
Tiba-tiba nia menghubungiku dan meintaku untuk dating ke rumahnya.
(Kring….kring….)
Nia : “Halo. Henry?”
Aku: “Iya. Kenapa ni?”
Nia : “Tolongin gw donk Hen! Besok gw ulangan computer. Lu kan jago ajarin donk.”
Aku: “Ok. Gw kesono sekarang?”
Nia :“Iya. Gw tunggu ya.”
Saya pun langsung bergegas ke rumah Nia yang letaknya tidak begitu jauh dengan rumahku.

Di rumah Nia saya dipersilahkan masuk oleh kakak perempuannya. Rupanya bila dibandingkan antara Nia dan kakaknya, Nia jauh lebih cantik. Denagn melihatnya saya bisa tahu perawakan kakaknya yang tomboi. Setelah masuk saya langsung disuruh duduk di depan computer, di samping ruang keluarga. Sementara Nia sedang mandi.

Sambil menunggu saya mengutak-ngutik computer yang ada di depan saya. Dan kemudian saya menemukan folder yang dihidden. Setelah diunhidden, ternyata nama folder tersebut cukup aneh dan menimbulkan rasa penasaran “skes.” Lalu kudoubleclick folder tersebut dan ternyata masih ada folder lain didalamnya. Kubuka lagi folder demi folder dan akhirnya saya menemukan 2 folder yang namanya “Exploring” dan “Others.” Lalu kubuka folder Exploring. Dan didalamnya kutemukan file-file berupa gambar dan video. Lalu kubuka saja gambar yang namanya “ddg.” Isi dari gambar tersebut sangat mengejutkanku. Ternyata gambar tersebut adalah foto Nia yang bertelanjang dada, sehingga payudaranya yang besar itu terlihat jelas. Lalu kubuka video yang berjudul “mstr”. Video tersebut lebih mengejutkanku lagi. Isinya video Nia sedang meraba-raba vaginanya(masturbasi).
Tanpa pikir panjang langsung kuambil CD-RW dari Cd case ku. Langsung kumasukkan Cd ku ke CD-ROMnya dan untung saja ada di computer Nia ada software Nero. Maka kuburn saja folder “skes” beserta semua isinya. Setelah selesai kuburn, kusimpan kembali CD-RWku da kuhiddenkan kembali folder tersebut.

Tiba-tiba muncul Nia keluar dari kamar mandi sambil mengenakan baju handuk putih
Nia : ”Sori Hen, nunggu lama ya? Aku ganti baju dulu ya”
Aku: “Huihh…Untung tidak ketahuan.”
Setelah itu kami mulai belajar tentang bahan ulangan Nia yaitu Ms.Access.

Sekitar pk.20.00, pelajaran kami berakhir dan saya pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, saya langsung ke kamar dan menyalakan computer. Kumasukkan CD-RW tadi ke CD-ROM. Kubuka satu persatu foto-foto Nia. Foto-foto tersebut membuat nafsuku naik mendadak. Semua bagian tubuh Nia terlihat di foto-foto tersebut mulai dari payudara, perut, paha, pantat, selangkangan sampai vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Apalagi videonya, rata-rata berisi kegiatan masturbasi Nia. Sedangkan di folder Others, isinya gambar-gambar pria bugil dan gambar-gambar porno.

Keesokan harinya saat istirahat saya menghampiri Nia di kelasnya.
Aku: “Bisa gak ulangannya?”
Nia : “Bisa donk, thanks banget ya. Kapan-kapan gw traktir deh.”
Setelah beberapa saat mengobrol, bel masuk berbunyi. Sebelum kembali ke kelas, aku membisikkan sesuatu ke telinganya.
Aku: “You like to EXPLORING, hah?”

Pada sore hari, tiba-tiba Nia mengirik SMS kepada saya.
Isinya “ Hen, kerumah gw ya. Sekarang!Ada yang mo gw omongin.”
Isi SMS tersebut cukup membuatku bingung, namun akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke rumahnya.

Sesampainya disana, Nia sendiri yang membukakan pintu untukku.
Aku: “Ada apa Ni?”
Nia : “Yuk masuk, kita ngomong di dalem aja.”
Aku: “Kok sepi, pada kemana?”
Nia : “Bonyok kan belum pulang, kakak gw lagi nginep rumah temennya.”
Lalu kami duduk di depan computer
Aku: “Lu minta diajarin computer lagi???”
Nia : “Oh, gak. Gw cuma mo nanya tadi maksud bisikan lu di sekolah paan sih?”
Aku: “(Dengan maksud menyindir) Lu tau gak ‘skes’, ’exploring’, ’others’.”
Nia : ”(kaget) Hah!!Egh..eh…Mo minum apa?”
Aku: “Udahlah gak usah pura-pura, itu smua uda gw burn.”
(Lalu kubuka folder skes)
Nia : ”Lu gak kasih liat ke orang lain kan?Jangan donk, please balikin donk!!”
Aku: ”Belum sih, tapi liat aja nanti….”
Nia : ”(berdiri)Sialan! Jahat banget lu! Awa lu! Klo gitu lu mo apa? Duit?!”
Aku: “(berdiri)Gw mo ini!”
Kupeluk Nia dengan kedua tanganku. Kucium bibirnya. Nia memiliki bibir tipis yang seksi dan ternyata terasa lembut yang membuatku semakin nafsu. Kuciumi terus bibirnya. Dan tanganku mulai melakukan aksinya. Kuremas payudara kanannya dengan tangan kiriku. Payudaranya terasa kenyal namun berisi.

Pada awalnya Nia hanya pasrah saja kuperlakukan begitu, namun setelah kuremas payudaranya, ia mulai membalas ciumanku. Dan ia pun gentian menciumi dan menjilati bibirku dengan agresif. Sementara tanganku tetap meremas payudaranya. Ciuman kami saat itu benar-benar terasa ‘panas.’ Lalu kucium telinga sambil berbisik di telinganya, “Lu seksi banget.” Nafas Nia pun mulai tersengal-sengal. Lalu kuturunkan ciumanku ke lehernya. Kujilati mulai dari bawah telinga kiri sampai ke kanan tanpa melepaskan lidahku.

Tangan kananku pun ikut beraksi, kuremas-remas pantatnya. Lalu sambil menciumi lehernya. Kususupkan tangan kananku kedalam celana dan celana dalamnya. Kuraba-raba pantatnya. Lalu kuselipkan jariku di selangkangannya yang ternyata sudah agak basah. Kumasukkan ujung jari tengahku kedalam vaginanya. Terdengar suara Nia yang sudah mendesah-desah. “Aghhh…aghhhh…”

Kuhentikan ciumanku dan kuhentikan remasan ke payudaranya. Kulepaskan celana pendek yang dipakai Nia. Kulepaskan juga celana dalamnya yang bewarna putih. Terlihat bibir kemaluannya yang sudah basah dan ternyata vaginanya bersih tanpa bulu satu pun. Sepertinya baru dicukur. Lalu kujongkokkan diriku dan kumulai lagi ciumanku dari kakinya yang mulus. Kujilati betisnya. Kucium dengkulnya. Kuraba pahanya. Lalu kujilati paha kanan dan kirinya. Nia semakin bernafsu, suaranya semakin mengeras. “Aghh..ahhh.agh..agh….ahhh.”

Lalu kujilati bibir kemaluannya dan akhirnya kumasukkan lidahku kedalam vaginanya. Sambil tanganku meraba-raba pahanya. Lalu kujilat juga klitorisnya yang terlihat memerah. Kupercepat jilatanku.
Nia : “Agh.agh.ah.ah.agh.”
Dan tiba-tiba keluarlah cairan dari kemaluan Nia akibat orgasme yang kuberikan. Cukup banyak cairan yang keluar dari vaginanya. Kujilati cairan tersebut dengan nafsu. Rasanya asin dan sedikit asam. Rasanya mirip dengan cairan kemaluan Jovie.

Setelah itu saya berdiri kembali. Dan kubuka baju yang dikenakan Nia. Terlihat payudaranya yang montok berwarna putih yang dibalut Bra berwarna putih. Dan langsung kubuka kaitan branya.. Kuciumi payudaranya yang sudah mengeras dengan liar. Kumainkan putingnya dengan lidahku. Sementara tanganku yang satu lagi mengusap-ngusap klitorisnya.

Tiba-tiba Nia menarik dan membuka bajuku. Sepertinya Nia sudah tidak tahan untuk disetubuhi. Ia pun membuka celana beserta celana dalamku. Maka penisku yang sudah sangat terangsang muncul keluar. Melihatnya Nia langsung memasukkan penisku kedalam mulutnya. Dan Ia pun mulai mengulumku. Rasanya sungguh nikmat. Nia pintar sekali mengulumku(mungkin gara-gara sering nonton BF). Lidahnya terasa menjilati kepala penisku. Dan ia pun mengulum-ngulum buah pelirku. Terasa geli namun sangat nikmat.

Tiba-tiba Nia menyuruhku untuk duduk di kursi depan computer. Dan Nia pun masih memberikan kuluman yang sangat enak ke penisku. Lalu tiba-tiba Nia berdiri dan membelakangiku. Lalu ia memegang penisku dan berkata, “Masukkin ya, gw uda gak tahan nih.” Gila pikirku, tanpa diminta, ia sudah memberikan vaginanya kepada penisku.
Aku: “Iya…”
Dengan bantuan tangannya akhirnya penisku masuk kedalam vaginanya. Vaginanya sempit. Penisku seperti diurut-urut dengan kekuatan besar. Terasa penisku menembus sesuatu. Sepertinya selaput dara. Rupanya Nia masih perawan. Sambil menahan sakit Nia mulai mengerak-gerakkan pantatnya.
Nia : “Esstt…sakit…”
Aku: ”Tahan sedikit, namanya juga pertama kali, pelan-pelan aja.”
Lalu Nia mulai menggerakkan pingulnya naik-turun. Tanganku pun ikutan dengan meremas kedua payudaranya. Dan akupun mulai mengerakkan pantatku mengikuti tempo gerakan Nia. Seketika Nia mulai terangsang lagi. Nia mulai mengeluarkan desahan yang lebih keras daripada tadi. Sepertinya Nia mudah orgasme(mungkin gara-gara sering masturbasi). Nia pun semakin mempercepat gerakannya, membuatku ingin ejakulasi. Namun kugunakan nafas perut sehingga aku bisa menahannya.
Nia : “Hen….Gw uda mo keluar.”
Nia pun semakin mempercepat gerakannya sambil mendesah keras,” Aghhh…aghhhh…” Dan Nia mencapai orgasme keduanya dan berdiam sebentar diatas pangkuanku. Lalu Nia berdiri dan berkata,”Aghhh…Enak bgt.” Cairan kemaluannya membanjiri penisku dan terlihat bercak darah. Lalu ia jongkok dan mulai mengulum penisku. Sambil tangannya meraba buah pelirku. Lalu ia menjepit penisku diantara kedua payudaranya dan mulai mengocokku dengan kedua gunung tersebut. Sepertinya Nia sudah tidak sabar ingin merasakan spermaku, ia mengocokku dengan sangat cepat dan akhirnya,” Crott… Crott…. Crott… Crott…..Aghhh…ahhh…aghh.” Sekitar tujuh kali penisku berdenyut. Spermaku tumpah di payudaranya dan muncrat ke wajah dan rambut Nia. Dengan lahap Nia menjilati penisku lagi untuk membersihkan sisa-sisa sperma. Bahkan ia pun membersihkan spermaku di payudara dan wajahnya dengan tangannya. Kemudian ia menjilati tangannya yang penuh sperma tersebut tanpa rasa jijik sama sekali.

Kemudian Nia mengajakku istirahat di ranjangnya. Sambil rebahan kami berbincang.
Aku: “Hebat banget lu! Puas gw.”
Nia : “Siapa dulu..Nia..Btw lu harus janji foto-foto gw gak boleh lu kasih ke orang lain. Terserah mo lu simpen ato buang. Tapi klo sampe tu foto nyebar, w gk bkal kasih lu kenikmatan lagi. Gimana? Deal?”
Aku: “Deal.”
Tiba-tiba Nia berdiri diatasku. Kemudian ia mengesek-gesekkan vaginanya ke penisku. Semakin lama nafsuku bangkit kembali, penisku kembali berdiri tegak. Lalu Nia memasukkan penisku kedalam vaginanya. Nia pun mulai mengerak-gerakkan tubuhnya naik-turun dan terkadang depan-belakang. Kami berdua kembali merasakan nikmat. Nia mulai mendesah dan terkadang mengerang keras. Dan saya pun merasakan penisku dijepit oleh dinding vaginanya. “Aghhh…aghhhh….. Aghhh…aghhhh” Kami berdua mendesah kenikmatan. Aku pun ikut menggerakkan pantatku.

Lalu kami tukar posisi, aku diatas dan dia dibawah. Lau kulanjutkan penetrasi. Kugerakkan pantatku maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur. Nia mengerang keenakkan, “Terus hen…terus…” Tubuhnya pun menggeliat-geliat. Dan kupercepat gerakanku dan akhirnya Nia mencapai orgasme ketiganya. Langsung kucabut penisku dan kukocok sebentar di depan wajahnya. Dan akhirnya “Crott…. Crott… Crott… Aghhh…aghhhh.” Kusemprotkan spermaku di wajah Nia (facial), tanpa rasa jijik Nia menjilat spermaku yang ada di pipinya.

Melihat ia menjilati spermaku dengan lahap, membuatku nafsuku bangkit (walaupun penisku belum). Maka kujilati kembali vaginanya yang sudah sangat basah. Kuusap-usap klitorisnya. Kugigit pantatnya. Kumasukkan jariku kedalam vaginanya. Lalu kugerakkan jariku maju mundur.
Nia : “Udah hen, capek bgt…”
Tanpa menghiraukannya kupercepat gerakan jariku. Dan Nia kembali mendesah, “ahh..ahhh.” Dan akhirnya penisku kembali bangun. Lalu kuajak dia doggy style. Walaupun lemas Nia tetap menuruti ajakanku. Ia berdiri di pinggir ranjang dan kemudian nungging. Lalu langsung saja kumasukkan penisku dengan bantuan petunjuknya. Dan akhirnya masuk juga. Kugerakkan lagi pantatku maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur. Lalu Nia berkata, “Ahhh…aghh…enak banget hen, terus…” Lalu kupercepat gerakanku, semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat.
Nia : “Aghhhh….”
Nia kembali merasakan orgasmenya. Cairan kemaluannya menyembur banyak sekali. Lalu setelah kujilati habis, kurebahkan kembali Nia diatas ranjangnya. Ia terlihat kelelahan. Lalu kugesek-gesekan penisku diantara dengkulnya. Kupercepat gerakanku, semakin cepat, semakin cepat….Dan…Crott…. Crott… Crott. Spermaku tumpah di pahanya.

Aku pun juga merasa kelelahan. Tanpa berpakaian dan membersihkan tubuh kami berdua terlelap. Setelah kira-kira 1 jam saya bangun dan mulai membersihkan sisa-sisa sperma ataupun cairan Nia. Sementara Nia masih tidur. “Sungguh nikmat hari ini.. Gw bisa dapet sex partner 1 lagi.”

Cerita Antara Kita 5:23 pm

Liburan kali ini mungkin yang terindah selama hidupku. Billy adalah namaku dan aku berasal dari keluarga yang cukup bahagia.

Kejadiannya sekitar beberapa bulan yang lalu ketika ibuku datang ke Boston tempat aku menuntut ilmu. Tidak kusangka setelah hampir sekitar 9 bulan tidak bertemu, penampilan beliau semakin ok saja. Bagaimana tidak, di usianya yang 40 tahun (aku sendiri 19 tahun) dengan ukuran vital 38C-29-36 ditunjang pula dengan kegiatan fitnes membuat badannya seperti gadis berusia 25 tahun. Nah faktor inilah yang membuat nafsu birahiku berkobar-kobar.

Setelah menginap 2 malam di apartemenku, beliau mengajak untuk keluar kota menikmati alam indah pegunungan. Tanpa pikir-pikir lagi kita segera berkemas dan segera berangkat di pagi hari karena perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 3 jam dengan mobil. Kalau hitung jarak sih seperti dari Jakarta ke Pangandaran. Sesampainya di sana kita segera mencari area perkemahan yang nyaman di dekat sungai. Setelah mendirikan tenda, aku bergegas mencari kayu bakar untuk memasak air dan untuk menghangatkan badan, maklumlah suhu di sini sekitar 5 derajat Celcius. Ibuku sendiri segera menyiapkan peralatan memasak untuk keperluan makan malam.

Menjelang makan malam kita bercerita mengenai keadaan masing-masing. Beliau bercerita mengenai ayah kami yang sekarang sudah semakin sibuk dengan pekerjaannya dan juga adik saya (pria) lagi gila dengan hobinya balap mobil. Aku sadar bahwa setelah kepergianku untuk sekolah ibuku agak kesepian. Sambil bersantap ibuku banyak menanyakan hal-hal pribadi yang menyangkut kehidupanku dan aku jawab dengan jujur apa adanya.
Sambil meneguk beberapa gelas wine, beliau bertanya, “Bill, kamu udah punya pacar belum di sini?”
Kaget juga mendengar pertanyaannya, “Kalo yang tetap sih yah..belum, tapi temen cewe sih banyak. Mau yang bule juga ada kok.” kataku sambil nyerocos.
Beliau tertawa mendengarnya dan aku dipeluknya erat. Entah kenapa kok tiba-tiba batang kemaluanku segera tegang, mungkin karena payudara ibuku yang besar itu mengganjal di dadaku atau juga karena cuaca yang cukup dingin. Beberapa saat kita bersenda gurau melepas rindu dan akhirnya kita memutuskan untuk tidur. Beliau segera terlelap di kantung tidurnya mungkin karena capek di dalam perjalan tadi siang. Sedangkan aku sulit tidur karena masih membayangkan bentuk tubuh ibuku dan juga batang kemaluanku belum turun. Dengan susah payah, akhirnya aku tertidur juga.

Pagi harinya aku terbangun karena sinar matahari masuk ke tenda kami. Kutengok ke katung tidur ibuku, ternyata beliau sudah tidak ada. Setelah sarapan seadanya aku ingin segera mandi di sungai. Jarak dari sungai ke tenda kami sekitar 100 meter. Dari kejauhan aku melihat seorang wanita sedang main air. Ternyata setelah aku dekati tidak lain adalah ibuku sendiri. Penasaran juga, aku semakin dekat sambil mengintip sedang apa sih beliau. Tidak lama kemudian, beliau membuka kaos putihnya dan juga celana pendeknya. Habis itu beliau melihat sekitarnya memastikan tidak ada orang dan juga membuka BH-nya serta celana dalamnya, kemudian langsung terjun ke sungai. Menyaksikan pemandangan yang indah ini, batang kemaluanku kembali menegang bahkan lebih tegang dari kemarin malam. Tanpa disadari aku mengocok-ngocok batang kemaluanku sendiri sambil berkhayal aku sedang ML denga beliau. Melihat pantatnya yang bulat menyembul dari permukaan air, semakin keras pula aku kocok batang kemaluanku.
Tidak tahan lagi, “Crooot… crottt… crot…” maniku keluar.

Kuputuskan untuk tidak jadi mandi dan kembali ketenda. Setelah itu kulihat beliau juga balik ke tenda dengan raut wajah yang segar kembali. Kita bergegas ganti pakaian karena ingin melihat beberapa acara di pusat perkemahan. Menjelang sore, kita kembali ke area tenda untuk istirahat. Aku segera mengambil handuk untuk pergi mandi, karena seharian ini aku memang belum mandi. Aku pamit dan beliau berkata akan segera menyusulku ke sungai. Tentu saja aku kaget campur gembira. Setibanya di sana, ingin tahu juga rasanya mandi berbugil ria di alam terbuka. Kucopot kaos dan celana pendekku sekaligus celana dalamku. Pertama sih aku kedinginan, tapi setelah itu malah keasyikan sampai aku lupa kalau ibuku mau menyusul.

“Bill, kayaknya kamu asyik banget tuh,” tiba-tiba suara beliau menyadarkan lamunanku.
Refleks aku menutupi batang kemaluanku yang sudah lama tegang. Aku sadar mukaku mungkin merah kuning hijau saat itu. Apalagi dia tanpa ragu-ragu membuka kaosnya dan rok mininya.
Terus katanya, “Boleh dong mami ikutan?”
Sambil terheran-heran kujawab, “Bo.. boleh kok…”
Segera beliau masuk ke dalam air. Setelah membasahi badannya, beliau segera melepas BH-nya diikuti celana dalamnya (mungkin beliau menyadari bahwa tidak adil kalau hanya aku yang berbugil ria). Wah birahiku semakin tidak bisa diajak kompromi nih, begitu juga batang kemaluanku yang sudah mulai kram karena kelamaan tegang.

Kami bercanda siram-siraman, saling mengelitiki dan lainnya. Karena sebel dikitikin (aku paling geli soalnya), kupeluk erat ibuku dari belakang sampai beliau tidak bisa bergerak. Ternyata tanpa disengaja, batang kemaluanku yang sudah tegang ini bersentuhan dengan pantatnya yang bulat (seperti punya bayi) itu.
Beliau bilang, “Udah dong Bill, mami sakit nih…. aduh apa nih yang nempel di pantat mami?”
Karena kaget bercampur malu, aku tarik mudur pantatku supaya batang kemaluanku tidak menyentuh pantatnya.
“Bill, Bill mami rasa tadi ada benda yang neken pantat mami. Barang kamu yah?” tanyanya.
Dengan malunya, saya jawab, “Ngga tau tuh mam, mungkin daun kali.”
Ibuku tertawa mendengarnya dan tiba-tiba tangannya sudah memegang batang kemaluanku.
“Nah, ini nih kayaknya yang mengganjal tadi,” katanya sambil mengelus-ngelus batang kemaluanku.

Aku tidak bisa bicara apa-apa, kecuali mengendurkan peganganku. Dielusnya batang kemaluanku dengan lembut sambil dikocok sekali-kali. Aku semakin tidak tahan dibuatnya. Kuciumi lehernya yang putih mulus dari belakang serta tanganku bergerilya ke payudaranya yang besar dan kenyal itu. Terdengar desahan keluar dari mulut ibuku. Rupanya beliau juga sudah tidak kuat menahan nafsunya. Kuputar badannya sehingga kita berhadapan muka dan segera kukulum bibirnya yang seksi itu. Beliau juga membalas ciumanku dengan ganas pula, sehingga lidahku disedot ke dalam rongga mulutnya yang hangat itu. Tidak mau kalah, aku juga melakukan hal yang sama sampai kami kesulitan bernapas karena nafsunya. Air dingin sebatas leher sudah menjadi hangat sepertinya.

Dengan tangan kiri menempel di pantatnya dan satu lagi meremas payudaranya, membuat keadaan semakin berkobar. Kubimbing tangannya menuju batu besar di tepi sungai, lalu kusuruh beliau duduk di atasnya, sementara aku masih berada di dalam air. Kurentangkan kedua belah kakinya yang indah itu dan segera terlihat bukit yang ditumbuhi bulu-bulu halus serta goanya yang mulai terbuka. Dengan insting seorang lelaki, aku jilat lubang kemaluan ibuku, tempat aku muncul di dunia ini 19 tahun yang lalu. Hal ini membuat beliau semakin menekan-nekan kepalaku serta membelai rambutku.
“Ohhh Biiilll… enak banget… terusss… mami udah ngga tahan,” desahnya.
Kujulurkan lidahku semakin dalam dan semakin terasa pula cairan kewanitaannya di lidahku yang terasa sangat nikmat.
“Ohhh yesss… oh yeh… mami keluaaarrr…” tiba-tiba badannya menegang.
Kujilati kembali badannya dari perutnya menuju lehernya hingga tiba di bibirnya. Sekarang badannya sudah berada di dalam air lagi sambil membelakangiku. Kulebarkan kakinya berlawanan arah dan kuisyaratkan untuk lebih membungkuk. Dengan keadaan begitu, aku bisa memasukkan batang kemaluanku yang dari tadi sudah dengan sedikit leluasa.

Ternyata ML di air itu membuat lubang kemaluan menjadi serat dan agak sulit dimasuki. Susah payah juga, sedikit demi sedikit akhirnya amblas juga semuanya (20 cm dengan diameter 4 cm punyaku).
“Oh mmmam, you are the best…,” bisikku.
“And you had the biggest dick inside me.” sahutnya sambil mengulum bibirku.
Mulailah kugenjot, pertama perlahan-lahan, lama kelamaan semakin cepat sambil memutar-mutar batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya seperti orang mengebor. Kadang aku sengaja agak keras sehingga perutku mendorong-dorong pantatnya. Hampir sekitar 20 menit, kami menikmati adegan ini dan sudah yang kedua kalinya ibuku mengalami orgasme.
Sambil merem melek, aku mendesah, “Mam aku udak mau keluar iih… akh… ahhh… crooottt… croottt… crot…”
Tidak tahan lagi aku tembakkan saja spermaku di dalam hampir sebanyak 6 kali tembakan. Dan kelihatan ibuku sangat menikmati pertemputan ini. Kami kembali berciuman seperti layaknya sepasang kekasih.

Sesudah itu, Beliau naik duluan ke atas dan kembali ke tenda sambil membawa bajunya tanpa mengenakannya terlebih dahulu. Sementara aku masih memikirkan apa yang baru saja aku lakukan.

Menjelang malam, kulihat ibuku sedang mempersiapkan makan malam untuk kami berdua. Sambil makan malam, kami kembali membahas apa yang terjadi tadi siang, dan tentu saja beliau berpesan agar semua yang terjadi di sini hanya kami berdua yang mengetahuinya. Aku sih setuju banget. Setelah kenyang dan mencuci peralatan masak, kami kembali mengobrol sambil menikmati wine yang kami bawa. Mengingat besok sudah harus kembali ke kota, kami berdua sepakat untuk membuat kenangan yang tidak terlupakan.

Kembali kami berciuman mesra di samping api unggun sambil kami saling membukakan pakaian kami masing-masing. Udara dingin yang tadinya menyengat berubah menjadi kehangatan yang tiada tara. Tanpa disadari kami sudah telanjang bulat dan posisiku terlentang di tikar. Sambil berciuman tangan beliau mengocok batang kemaluanku yang sudah mulai menegang, dilanjutkan dengan mejilati dadaku dan pentilku, turun menuju perut terus sampai ke jempol kaki. Dihisapnya jempol kakiku yang membuat aku melayang.
“Bill, ini namanya mandi kucing.” terangnya.
“Aduh mam, enak banget, geli tapi enak.” sahutku gemetaran.
Kembali beliau menjilati betisku, dengkulku dan terakhir buah batang kemaluanku dilahapnya. Dijilatinya satu persatu hingga mengkilap terkena sinar api unggun. Gilanya lidah beliau sekali-kali menyapu lubang pantatku yang membuat aku semakin melayang. Tiba akhirnya, lidahnya menjilati kepala batang kemaluanku sebelum dimasukkan ke mulutnya yang hangat.

Dengan sedikit menjulurkan kepalaku, bisa kulihat kepala ibuku naik turun sambil tangannya membelai-belai dadaku. Semakin cepat gairah, kepalanya naik turun sehingga membuatku mau orgasme.
Kubilang, “Mam kayaknya mauuu kkeelluuaarr nih.”
“Yah udah, keluarin aja yah di mulut.” katanya.
Tanpa ragu-ragu kusemprotkan semua spermaku di rongga mulutnya. Lalu terdengar bunyi, “Glek” seperti orang menelan air. Ternyata semua spermaku habis ditelannya tanpa setetes pun tersisa sambil terus menyedot-nyedot batang kemaluanku dengan rakusnya serasa buah batang kemaluanku ikut tersedot. Sesudah puas, beliau bangkit dan mengambil 2 gelas wine untuk kami berdua, kemudian kami toast.
“Bill, mami sayang banget sama kamu.” katanya.
Tidak mau kalah kataku, “Billy juga sayang sama mami, sayang buanget,” kemudian disambutnya dengan ciuman mesra.
Akhirnya, kami tertidur kecapean tanpa sehelai benangpun di dalam kantong tidur yang sama.

Paginya, kami segera berbenah untuk segera kembali ke kota, karena sore harinya ibuku sudah harus kembali ke LA untuk menemui teman lamanya sebelum beliau kembali ke Jakarta. Setibanya di kota aku kembali sibuk mengurus tiketnya dan dia juga sibuk membeli beberapa cindera mata. Sekitar jam 19:30, tibalah waktunya untuk mengantar ibuku ke airport. Terbersit kesedihan di matanya karena kami harus berpisah beberapa saat. Aku juga tidak tahan sebetulnya dengan perpisahan. Setelah boarding, kami mengobrol dulu sejenak, tapi tiba-tiba ibuku menarik tanganku menuju ke suatu tempat. Tempatnya agak pojok seingatku, itu adalah toilet khusus wanita. Setelah menunggu isyarat darinya, baru aku berani masuk dan ternyata kosong. Kami memilih salah satu bilik dan menguncinya dari dalam. Mungkin karena berada di negara yang bebas, aku sedikit tidak terlalu takut. Ibuku mengulumku dengan ganasnya sambil membuka retsleting celana jeansku. Maka dengan mudah batang kemaluanku keluar karena sudah tegang dari tadi. Diciumnya dengan mesra sekali kepala batang kemaluanku berkali-kali yang kemudian dibenamkan dalam-dalam mulutnya.

Di sela-sela kulumannya sempatnya beliau berpesan, “Bill, kalau mami ngga ada, jangan ML sembarangan yah! Pilih-pilih dulu and jangan lupa pake komdom. Buat ngga kena penyakit.”
Aku sih hanya bisa menganggukkan kepala saja, sebab lagi asyik. Semakin menggalak saja beliau menghisapnya, sambil tangannya memainkan buah batang kemaluanku.
“Mam… aku udah mau keluar nihhh… ahhh… uuuhhh… crot… crooot…” kataku sambil menutup mulutku takut terdengar orang lain.
Kali ini mungkin terlalu banyak, sehingga sebagian dari spermaku mengalir keluar melalui bibirnya yang seksi. Diusapnya pakai tangannya kemudian dijilati kembali dengan lidah mungilnya.

Tiba-tiba, kenikmatan kami terganggu karena berita panggilan kepada para penumpang untuk segera naik ke pesawat. Dengan tergesa-gesa aku menaikkan celanaku dan kami merapihkan baju masing-masing.
Sementara itu ibuku malah membuka celana dalam G-stringnya dan memberikannya kepadaku sambil berpesan, “Bill, kamu simpan ini, dan bawa balik ke Jakarta kalo kamu pulang nanti…”
Kaget bukan kepalng, aku terima dan aku masukkan ke dalam kantong celana jeansku.
“Ok Mam, aku janji deh.” sahutku sambil mencium keningnya.
Kami berlari menuju pintu masuk. Sempat-sempatnya aku memperhatikan pantat ibuku terguncang-guncang karena tanpa celana dalam dan dibungkus rok mini ketat. Di depan pintu aku mencium tangannya seperti hubungan normal ibu dan anak. Ibuku bergegas masuk sambil melambaikan tangannya, yang sementara itu aku masih berpikir, sepertinya ada yang janggal di bibir ibuku tadi. Pikir punya pikir ternyata itu bekas spermaku yang membentuk garis putih di atas bibir, seperti orang habis minum susu atau milkshake. Tapi sudah terlanjur masuk, jadi aku tidak sempat untuk memperingati beliau supaya menghapusnya dengan tissue.
“Have a nice flight, Mom… see you soon.” kembali aku bergumam.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:21 pm

Sore hari di tahun 1997 bulan Januari sebelum aku kuliah ke Perth, hujan rintik-rintik menemani perjalananku ke rumahku sepulang dari tempat les bahasa Inggris di LIA, saat itulah kulihat gadis tinggi semampai berjalan di sampingku. Wow… tiba-tiba hatiku berdetak kuat, gadis ini cantik sekali dengan tinggi semampai, memakai baju hitam ketat dengan celana putih kordoroi, serasi dengan kulitnya yang putih bersih. Rambut sepundak kemerahan dengan wajah lonjong manis sekali, dibubuhi mata sipit seperti artis China yang sering kulihat di TV. “Aku harus kenalan!” berontak kata hatiku. Jalannya cepat tanpa melihat ke kanan ke kiri. Wah… berani tidak ya, hatiku bertanya-tanya. Okelah PD saja.

“Hai”, sapaku dengan suara bergetar.
“Baru pulang kuliah ya?” sambil kulihat buku yang dibawanya.
“Iyaa…” responnya.
Wah… gayung bersambut nih, langsung saja kenalan. Sejak saat itulah aku dekat dengan Fei. Gadis yang ternyata satu kompleks perumahan denganku di daerah Jakarta Pusat. Ternyata ia baru di kompleksku dan tinggal bersama pamannya. Pamannya adalah penjual barang elektronik di daerah Glodok. Sebelum ke Jakarta, ia tinggal bersama orang tuanya di Medan, lulus SMA ia melanjutkan pendidikan di FE salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat.

Singkat cerita kami pun pacaran. Terus terang, aku orangnya tidak kuat melihat Fei. Yang paling aku sukai dari bagian tubuhnya, adalah kakinya yang panjang (1 meter 5 senti) dan yang yang paling membuatku sukai lagi adalah betisnya yang putih mulus dengan bentuk yang pas, tak terlalu gemuk dan tak terlalu kecil, seksi sekali. Fei tinggal bersama pamannya dan ke-3 sepupunya yang semuanya perempuan yang masih bersekolah antara SD - SMP, beserta seorang pembantu.

Pengalaman seks-ku dengannya berjalan secara bertahap. Setelah beberapa lama pacaran aku cuma bisa mencium pipinya. Seminggu kemudian bibirnya, lama setelah itu ketika kami berdua nonton di bioskop Lippo Karawaci aku ingat filmnya Star Wars, ia memakai baju hem sutra warna krem dengan rok selutut warna coklat, yang menampakkan bentuk kakinya yang sempurna itu. Baju sutranya begitu lembut hingga mengikuti lekukan dadanya terkadang dari sela-sela antar kancing terlihat belahan dada yang putih mulus, walaupun tidak terlalu besar membuat pikiranku melayang kemana-mana hingga di dalam lampu mulai padam kulihat penontonnya hanya 5 orang, itu pun berada di depan semua. Melihat wajahnya di kegelapan bioskop, aku tidak bisa konsentrasi menonton film. 5 menit… 10 menit… 15 menit… pertama kuelus tangannya, kucium-cium tangannya yang lembut itu. Akhirnya kusentuh pipinya dan mulai kucium bibirnya. Mmh… mengingat buah dadanya tadi birahiku bergejolak, tanganku mulai mengelus-elus pipinya kemudian turun. Kuelus-elus buah dadanya yang membuatku tak bisa tenang.

Sementara bibirnya kulumat dalam-dalam, kurasakan dengan mata terpejam kenikmatan bibirnya itu, mulai lidah kami berpaut saat itu juga. Tiga kancing paling atas bajunya kubuka, tanganku pun mulai masuk ke dalam BH-nya. Wow… kenyal dan kencang dengan puting susunya yang kenyal. Aku mulai memperdalam ciumanku, lidahku mulai kumainkan seiring dengan permainan jari-jariku di puting susunya. Ia mulai mendesah dengan nafas tak teratur, “Mmh… mmhh… mmhh…” suara itu membuatku semakin bernafsu. Kuvariasikan gerakan tanganku dengan meremas buah dadanya. “Mmmhh… mhhh… ssshh….” suara itu membuat batang kemaluanku semakin berdiri tegang. Saking tegangnya sehingga membuat batang kemaluanku sakit. Sambil kuperbaiki posisi dudukku, kusorongkan penutup BH-nya ke depan sehingga payudaranya menonjol. Kuarahkan mulutku ke puting buah dada Fei, kuhisap-hisap putingnya sambil sesekali kumainkan lidahku. “Mmhhh… mhhh…” Fei merasa geli-geli enak. Kuangkat BH-nya ke atas agar tanganku terbebas dari memegangi BH-nya. Buah dada yang telah mengencang itu mancung ke depan menantang untuk kuhisap.

Sementara aku mulai menghisap buah dadanya, tanganku mulai memegang pahanya yang dingin karena udara AC bioskop tetapi makin ke dalam semakin terasa hangat. Dengan agak susah tanganku berusaha merayap ke sumber kehangatan itu. Wah… masih sulit tanganku menjangkaunya, tampaknya Fei tahu akan hal itu. Dia mulai membuka pahanya dan tanganku pun mulai dapat merayap ke atas. Kusentuh selangkangannya yang berbalut CD. “Hmmm hangat…” aku ingin merasakan dalamnya.

Dari tepi CD-nya jariku masuk ke liang kemaluannya yang ditumbuhi rambut itu terasa hangat dan lembut dengan lipatan-lipatan dan gumpalan-gumpalan. Tanganku mulai beraksi di tengah antara kedua lipatan itu, naik turun… naik turun… Fei mulai menggelinjang. Tidak berapa lama ia melepaskan tautan bibirnya di bibirku. Mulutnya terbuka, “Aaahh… ahh… terus Rie… ahhh… ahh… ahhh… teruus… aah…” pada saat itulah kurasakan sesuatu terjadi pada tubuhku. Aku merasa batang kemaluanku menegang sekali. Nafsuku meletup-letup, otot-ototku mengejang dan… “Aahhk… aahhkk..” dan, “Crottt… croottt…” kemaluanku pun muntah di dalam celana. Uhh… enak sekali rasanya, segar.

Sementara tanganku terus bergerak. “Aaahhh… teruusss…” desah Fei sambil mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, “Aaahkk… terus…” sampai akhirnya badannya menegang dan ia menahan nafasnya beberapa saat, “Mhhh… ahhh…” dilepaskan nafasnya, kemudian ia menjauhkan tanganku dari liang kemaluannya.
“Kenapa…?” tanyaku berbisik.
“Enaak lhooo… tapi badan jadi lemes nih…” bisiknya.
“Ya udah… kasian filmnya tuh tidak ditonton…” kataku.
Kurasakan bagian celanaku yang basah terkena air maniku. Untung cuma bagian pinggang, jadi bisa kututup dengan baju, aman.

Malamnya ia menelepon, menceritakan bagaimana rasanya dari pengalaman yang baru kami alami berdua di bioskop tadi. Sebelum kami menyudahi telepon, ia berkata, “Rie… besok kalau tidak ada rencana… datang ke rumahku dong… selama aku libur, si Siti (pembantunya) mau pulang kampung… bantuin aku mengurusi rumah yaa!”
“Oke!” jawabku singkat sambil membayangkan skenario untuk besok.

Esoknya aku pun datang jam 10-an. Setelah paman Fei pergi, sebab paman Fei tidak mau Fei pacaran denganku. Dia mau Fei pacaran sama laki-laki keturunan Tionghoa seperti semua keluarganya. Jadi ceritanya aku dan Fei backstreet-lah. Ketika aku datang, Fei masih memakai daster pink, tingginya di atas lutut. Ups, kemaluanku naik tingggi sekali, tampak sebagian pahanya yang mulus sekali, kakinya yang panjang putih bersih (tidak ada noda totol-totol sama sekali) dan betisnya yang aduhai. Kuperhatikan terus Fei dari atas ke bawah. Hei… tepat di bagian dadanya ada yang menonjol sebesar kacang. Ups… jangan-jangan dia tidak memakai bra nih. Aduh kemaluanku makin membludak ingin keluar dari sarangnya.

“Arie… kamu sudah sarapan?” tanyanya.
“Udah.. udah…” jawabku dengan suara bergetar yang kupaksakan keluar.
“Hei… kenapa.. kamu sakit?” tanyanya lagi.
“Enggak kok… biasa, suara orang bangun pagi”, kataku.
“Kamu bantuin aku nyapu ya… entar habis kamu nyapu… aku ngepel…” katanya.
“Oke”, kataku.

Huuh… menyapu, memikirkan menyapu kemaluanku jadi ciut lagi. Aku pun mulai menyapu, sedangkan Fei mencuci piring bekas sarapan. Selesai menyapu, aku membantu dia mengangkat ember untuk mengepel ke ruang depan. Dengan menggunakan gagang pel ia mulai mengepel lantai ruang depan, sementara aku memperhatikan kaki-kaki yang jenjang itu bagaikan menari-nari bersama tongkat pel. Kuperhatikan betis yang selama ini kupuja-puja itu, putih… mulus, ingin aku menciumnya habis-habisan. Tiba-tiba klotak! Entah karena apa, tongkat pel itu terjatuh ke lantai. “Aduhh…” Fei terkejut.
“Kenapa?” tanyaku. Fei hanya tersenyum dan kemudian dengan membelakangiku, ia menungging mengambil tongkat pel itu. Walah, daster yang tingginya sepaha itu bagian belakangnya terangkat ke atas. Tampak seluruh pahanya yang putih halus mulus itu dan yang membuat celanaku tiba-tiba sesak tampak selangkangan yang dibalut CD warna biru langit itu.

Langsung aku meloncat ke arahnya. Kuelus dan kuciumi pahanya yang halus mulus itu. Begitu lembut, mmh. Fei masih dengan posisi menungging, kusibak dasternya sehingga tampak seluruh celana dalamnya, langsung dengan nafas memburu, kutarik celana itu ke bawah dan kujilati dan kucium pantat yang putih montok menantang itu di selangkangannya. Tampak bibir vertikal liang kemaluan Fei yang hitam tanpa bulu rambut? (padahal tadi malam masih ada loh bulunya). Kuusap dengan lembut bibir yang menggoda itu, lembut dan penuh kehangatan. Bibir tersebut bergerak-gerak seolah-olah berkata, “Ayo… cium aku… isep aku… jilat aku…” Langsung kuarahkan bibirku ke kemaluannya. Aroma kemaluannya yang khas menggodaku untuk mencium kemaluan Fei yang sejak tadi menungguku. Kumainkan lidahku di tengah-tengah bibir kemaluannya. “Ssrrpp… sssrrp… sssrrppp…” kurasakan badan Fei bergetar keenakan. kuremas pahanya yang montok itu sambil terus kumainkan lidahku, “Aahhh… ahhh…” erang Fei.

Tiba-tiba Fei berdiri, diciumnya bibirku yang basah dengan ganas seperti orang yang sudah berbulan-bulan tidak dapat jatah. “Mmhhh… Mmmhh…” dimain-mainkannya lidahnya di dalam mulutku, enak sekali. Kemudian dengan sigap tangannya mulai melepaskan celanaku dan menyelipkan tangannya di CD-ku, “Ihhh… gede amat…!” kejutnya sambil digosok-gosokkan tangannya di batang kemaluanku yang sudah sejak tadi membengkak. “Uuhh… enak…” diturunkannya CD-ku dan dikocoknya terus batang kemaluanku. Saking enaknya sampai seluruh otot tubuhku mengejang, “Teruss… terusss”, kulepaskan tautan bibirnya, “Aahh… ahhh… Feiii.. terus Feii…” kataku sudah tidak tahan lagi. “Aahhh… aah…” dan tak lama kemudian, “Croot… croot… croot…” akhirnya kemaluanku mengeluarkan air mani, diarahkan kemaluanku menjauh dari tubuhnya. Air maniku berceceran di lantai. “Aaah… enaknya.”

Kemudian kuangkat dasternya, tampaklah tubuhnya yang sudah telanjang bulat. Ampun deh bodinya, sudah putih, mulus, bagus, langsing, tinggi, pokoknya seperti wanita model. Batang kemaluanku pun berdiri lagi sedikit demi sedikit. Aku pun melepas segala yang melekat di tubuhku. Tubuhnya kujatuhkan ke sofa kemudian kaki Fei kukangkangi dan aku menimpa tubuh yang empuk itu. “Gimana memekku? Tadi pagi aku cukur lho… khusus buat kamu…” kata Fei. “Huuiii.. Fei gadisku.. I love you…” mulai lagi kucium bibirnya dengan gemas. Mmmhh, tangan Fei menjalar ke bawah meremas-remas batang kejantananku. Kemudian menempelkannya ke bibir kemaluannya yang telah basah itu. Badanku pun kuangkat sedikit dengan siku kiriku sementara tangan kananku mulai mengobok-obok buah dadanya, begitu lembut dan kenyal. Kumainkan putingnya sekali-sekali. Mmmhh… sementara itu lidah kami pun tak bisa diam merasakan keenakan ini, saling menjilati. Kemudian kuarahkan kepalaku ke buah dadanya. Kuciumi buah dadanya, kujilati, kumainkan putingnya dengan lidahku dan kusedot-sedot dengan sesekali kugigit-gigit kecil dengan gemas. Sementara jari telunjukku dan tengah mulai beraksi di liang kemaluannya. Kuusap-usap bibir kemaluannya yang telah licin dengan cairan kewanitaannya.

Tak lama, segera aku bangun dan aku tidur di lantai. Kusuruh ia menindihku dengan kepalanya mengarah ke batang kemaluanku dan dengan kaki mengangkang, dan mengarahkan lubang kemaluannya yang telah memerah ke wajahku. “Hmmmm… srruupp… sruuupp…” aku mulai menjilat klitorisnya. Kujulurkan lidahku memainkan daerah sekitar klitorisnya, kujilat klitorisnya ke atas, ke bawah, ke atas, ke bawah. Fei menggelinjang keenakan, pantatnya pun bergerak mencari spot-spot yang enak. Ia ternyata jago menghisap batang kemaluanku.

Sambil menghisap, sesekali dimain-mainkan lidahnya seperti anak kecil memainkan es krim. Kuvariasikan jilatan pada klitorisnya dengan sedotan. Kemudian bibir-bibir kiri dan kanannya yang hitam itu, kutarik-tarik daging lebih yang nikmat itu dengan sedotan bibirku. “Sruuup… sruppp…” Pinggul Fei bergerak-gerak terus, kadang ke kiri kadang ke kanan, ke atas, ke bawah begitu seterusnya sampai akhirnya ia tekan kemaluannya di mulutku. Hidungku ikut menempel di kemaluannya dan membuatku susah bernafas, dengan masih digoyang-goyangkan sambil mengerang panjang. “Aahh… aahh… aaa… aaahh…” tiba-tiba badannya berbalik dan ia menciumku bertubi-tubi, “Ahhh… enaaak Rie… rasanya seperti melayang…” sambil terus menciumi mukaku. “Enak sih enak.. aku masih gantung nih..” Langsung kuangkat tubuhnya ke bibir sofa dan kukangkangkan kakinya. Kuusap-usap kemaluannya yang masih memerah dan bengkak itu dengan tanganku. Kucari-cari di mana lubangnya.

Setelah beberapa saat kutekan-tekan, akhirnya kutemukan lubangnya. Pertama kucoba memasukkan jari kelingkingku, eh… masuk. Kucoba jari manisku, masuk juga. Kukeluarkan jari manisku yang basah, kucoba masukkan batang kemaluan, “Aaahhh… pelan-pelan… sakit nih…” kata Fei meringis. Kucoba dorong dengan bantuan tanganku, tapi susah sekali masuknya sampai kemaluanku meleot-leot. Akhirnya kuminta tangannya memegangi batang kemaluanku dan tangan satunya melebarkan bibir kemaluan. Aku menahan pahanya agar tubuhnya tidak mundur-mundur. Mulai kudorong batang kemaluanku masuk ke lubangnya, Fei masih meringis tapi aku tidak peduli. Aku harus menembak, kutahan kuat-kuat tubuh Fei dan kusorongkan tubuhku. “Sreep… sreeep… bleesss…” batang kemaluanku masuk tak bersisa.

“Kamu baik-baik aja?” tanyaku.
“Agak-agak pedih sih…” ringisnya.
Aku mulai beraksi. Segera kumaju-mundurkan batang kemaluanku di lubang kewanitaannya. “Aahh… rasanyaaa… tidak terbayangkan… it’s my first time Man!” pikirku. Fei pun beraksi dengan menggoyang-goyangkan pantatnya, hingga bibir-bibir kemaluannya seperti mengulum-ngulum batang kemaluanku.

Kuhujam-hujamkan terus batang kemaluanku. Kulihat ekspresi muka Fei yang belum pernah kulihat sebelumnya dengan mata merem-melek. Bibir seksinya menganga mengeluarkan desahan-desahan yang semakin membuatku bergairah dan mempercepat gerakan batang kemaluanku maju mundur. “Aahh… ahghh…” aku pun ikut merem-melek. Kupindahkan tanganku dari pahanya dan mulai meremas-remas payudaranya yang mengeras. Goyangan-goyangan pinggul kami berkejar-kejaran dengan deru degup jantungku. Suara-suara erangan nikmat bercampur dengan suara gesekan batang kemaluanku dan liang kemaluan Fei yang telah banjir, mengaung ke seisi rumah yang sepi itu. Sampai akhirnya, “Arriee… aakuuu… ngggaak kuu… kuuuat lagii… aaahhh.. ahhh… aaahh… aaaghhh…” Sambil menahan nafasnya, Badan Fei mengejang dengan dada menukik ke atas dan tangan meremas sofa kulit itu. “Creeet… cret… creeet…” terasa keluar cairan dari dalam lubang kemaluannya. Segera kugenjot dengan hujaman-hujaman cepat ke lubang kemaluannya.

Aku merasakan batang kemaluanku akan mengeluarkan mani. Segera kukeluarkan kemaluanku dan disambut dengan kocokan tangan Fei. “Aah… aaahhh… aahhh..” aku mengerang keenakan dan.., “Crooot.. croot.. croot..” air mani keluar dari kemaluanku muncrat kemana-mana mengenai sofa dan lantai sampai tak bersisa lagi. “Aaahh… enaknya hidup ini”. Kurebahkan tubuhku ke sofa, kucium bibir Fei dengan lembut, “Thank’s Fei… I love you so much”, sambil terus menciumi bibirnya. Segera setelah itu kubersihkan tubuhku di kamar mandi dan aku melanjutkan pekerjaan Fei yang terpotong tadi… mengepel! Fei lelah kecapaian dengan tubuh ditutupi daster, ia beristirahat di sofa, wajahnya walaupun letih, tapi menampakkan rasa puas yang luar biasa.

Semenjak itu, setiap hari (kecuali minggu), kami melakukan seks. Setelah pembantu Fei pulang, beberapa hari sekali kami melakukannya di rumahku (kalau sedang tidak ada orang) dan di Ancol. Agar air maniku tak tumpah ke dalam mobil, aku selalu memakai kondom. Masa-masa bahagia kami berakhir, setelah terdengar isu akan terjadinya kerusuhan pada bulan Mei. Fei beserta keluarga pamannya, pergi dari Indonesia pulang ke negeri China, rumahnya di Jakarta dijual. Semenjak itu aku tak pernah berjumpa lagi dengannya. Aku sangat kehilangan Fei, Fei lah cewek yang paling kusayang dan kucintai yang telah memberikan kepuasan lahir batin kepadaku.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:19 pm

Miyori sebenarnya bukan gadis paling cantik yang pernah kukenal, tetapi entah mengapa, sejak pertama kali aku meninggalkan kedua orangtuaku di Tokyo untuk berkuliah di Kobe, Miyori seakan memberikan kepadaku rasa percaya diri baik bagi pribadiku maupun tugas-tugas akademisku. Satu hal yang kuketahui, Miyori telah memiliki seorang tunangan di Hiroshima, namanya Ito. Miyori dan tunangannya itu saling mengunjungi minimal tiga bulan sekali.

Suatu kali, kami menyelesaikan tugas laboratorium jauh lebih awal daripada jadwal yang kita tetapkan. Setelah makan siang bersama, kami bersantai ria duduk di atas lantai sambil bersandaran ke dinding. Aku berkata, “Miyori-san, apakah anatawa menyadari bahwa Hiroshi memberikan perhatian khusus pada Miyori?”

Miyori mengangguk pelan, dengan senyuman seolah ada sesuatu yang lucu. “Miyori-san… Hiroshi mengharapkan bila terjadi sesuatu di antara Miyori-san dan Ito-san, Hiroshi boleh menggantikan tempat Ito-san.” “Hiroshi-san”, kata Miyori, “Miyori menghargai perasaan Hiroshi pada Miyori. Bagaimanapun, Miyori sudah menambatkan hati pada pemuda lain…” Aku merasa hatiku hancur berantakan. Hari itu serasa menjadi neraka. Itulah saat pertama dalam hidupku aku menyatakan dan ditolak cinta. Miyori tahu persis perasaanku. Dipegangnya kedua tanganku sambil berkata, “Hiroshi-san, berjanjilah pada Miyori bahwa Hiroshi akan menjalin hubungan yang baik lagi dengan gadis yang lain!”

Keesokan harinya, ketika kami belajar bersama lagi, aku membisikkan ke telinganya, “Miyori-san, Hiroshi senang sekali bisa membuat Miyori-san tertawa terpingkal-pingkal seperti kemarin itu.”
Miyori memandang ke arahku, tersenyum dan tertawa kecil, “Habis cerita kamu lucu sih…”
“Sama seperti Michiko dulu waktu melihat tubuhku…” kataku pelan.
Miyori menatap matanya ke arahku, terdiam. Tak lama kemudian ia berkata, “Apa yang Hiroshi lakukan bersama Michiko?”
“Hiroshi memberitahu Michiko bahwa Hiroshi seorang pria…” jawabku lirih.
“Kenapa? Apakah Hiroshi suka melakukan hal itu?” tanyanya lagi.
“Tidak! Hiroshi memberitahukannya hanya kepada orang-orang yang Hiroshi cintai…”
Miyori terdiam dan tersenyum lucu. Sambil mengembalikan perhatiannya pada buku di hadapannya, Miyori berkata lirih, “Asyik, dong?”

Seperti tersumbat tulang aku mencoba berbicara lagi, “Asyik? Bolehkah Hiroshi memberitahu Miyori-san bahwa Hiroshi seorang pria?”
Miyori hanya menggerakkan matanya yang kecil itu kepadaku, sebentar kemudian tersenyum simpul, setengah tertawa kecil mengatakan, “Boleh, asal gratis…”
“Apa maksudnya gratis?” tanyaku berbasa-basi.
“Maksudnya gratis ialah Miyori tidak memberikan sesuatu balik apapun pada Hiroshi…”

Tak lama kemudian kami berada di dalam dormitory Miyori. Aku berkata, “Miyori, sebelum aku memberitahukan pada Miyori, bolehkah Hiroshi menyatakan sesuatu di telinga Miyori dan Miyori menjawabnya?” Miyori menjawab, “Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak memberikan sesuatu balik kepada Hiroshi!” Aku berkata lagi, “Tidak ada hubungannya dengan hal itu kok…” Miyori menganggukkan kepala sambil berkata, “Boleh…”
Aku menghampiri Miyori yang berdiri terpaku di sana. Tanganku memegang kedua tangannya, dan mulutku kudekatkan pada telinganya.
“Miyori-san, kalau Hiroshi melakukan hal ini pada Miyori-san, itu pertanda bahwa Hiroshi masih mencintai Miyori-san…” Miyori terdiam kaku, tidak mengatakan apa-apa. Aku meneruskan, “Ini saat pertama dalam hidup Hiroshi bahwa Hiroshi menyatakan diri sebagai seorang pria di hadapan gadis yang menolak cinta Hiroshi.

Miyori seperti terkesiap mendengar itu semua. Mukanya merah, diam, tidak mengatakan sepatah katapun. Tak lama kemudian aku mengambil sebuah kursi, mendekatkannya ke tempat tidur, dan mensilakan Miyori duduk di situ. Aku merebahkan diriku ke tempat tidur, dan perlahan melepas sabukku. Tiba-tiba Miyori tertawa terpingkal-pingkal.
“Miyori-san…” bisikku perlahan, “Sebentar lagi Miyori-san akan memahami tubuh seorang pria…” Tawa Miyori semakin meledak. Aku belum pernah melihat seorang wanita tertawa seperti itu. Aku ingin memastikan bahwa aku menikmati setiap detik dari derai tawa Miyori. Kelihatannya ini adalah saat pertama Miyori akan melihat dan akan memahami tubuh seorang pria, dan akulah pria itu.

Aku sudah tidak sabar lagi melihat wajah Miyori merah padam dan tertawa terpingkal-pingkal melihat tubuhku. Sepertinya derai tawanya tak bisa dihentikan oleh apapun. Ia tak lagi mendengar ucapanku. Aku juga tak ingin mengecewakannya dengan memotong rasa gembiranya di tengah jalan, jadi kuturunkan pakaianku perlahan-lahan sampai rambut tubuhku terlihat. Sepertinya Miyori sudah tidak tahan lagi dengan gelak tawanya yang menjadi-jadi. Dipeganginya perutnya dan sesekali melihat ke arah lain.
“Aduh… aku sudah tidak tahan lagi…” katanya memegangi perutnya yang mungkin sakit akibat tertawanya itu. Aku juga sudah tidak tahan lagi untuk berhenti. Dengan sekejap mata kulepas pakaian terakhirku dari kedua kakiku. Miyori semakin terpingkal-pingkal melihat tubuh priaku. Sebenarnya aku ingin mengajak tangannya membelainya lembut, tetapi tidak kulakukan karena satu tangannya memegangi perutnya dan tangan yang lain di depan mulutnya. Rupanya ia tanpa sengaja mengeluarkan banyak air ludah karena tertawanya itu.

Aku membelai-belai tubuhku sendiri. Aku membisikkan kepadanya, “Miyori-san, ini tubuh Hiroshi…” Tak lama kemudian aku menarik nafas panjang, berbisik pada Miyori, “Miyori, perhatikan tubuh Hiroshi…” dan aku melepas jauh nafasku, memancarkan air kepriaanku dan mendesah panjang beberapa kali karena kenikmatan. Miyori semakin tertawa terpingkal-pingkal. Tak lama kemudian aku terbaring diam di sana. Miyori masih tertawa. Akhirnya aku mengambil handuk yang sudah disiapkan, membersihkan tubuhku, membalutnya, mengambil semua pakaianku dan berjalan ke kamar mandi membersihkan diri. Tawa Miyori sedikit mereda ketika aku selesai membersihkan diri dan berpakaian lengkap kembali. Miyori tertawa cekikikan waktu aku berkata, “Miyori, besok Hiroshi teruskan lagi. Kapan saja Miyori menginginkan untuk melihat tubuh Hiroshi, Hiroshi selalu bersedia…” Tak lama kemudian ia reda, dengan senyum panjang menungging di bibir, Miyori menyilakan aku pulang.

Keesokan harinya aku kembali memperlihatkan tubuhku pada Miyori di tempat yang sama. Ia kembali tertawa terpingkal-pingkal dan cekikikan, tetapi tidak seperti tawanya pada saat pertama. Dibutuhkan tiga kali “pernyataan” sampai Miyori mengganti tawanya dengan senyumnya yang lebar, dan dua kali “pernyataan” lagi untuk mengganti senyumnya yang lebar itu dengan tatapan matanya yang mungil itu. Saat yang keenam, Miyori mengajak Ryu dan Ellin untuk melihat tubuhku, Ryu dan Ellin tertawa terpingkal-pingkal, tetapi Miyori hanya tersenyum lucu, dan sorotan matanya tidak lagi “menghunjam” tubuhku, tetapi menikmati gelak tawa Ryu dan Ellin.

Miyori akhirnya menikah dengan pria lain, tetapi aku bisa memastikan bahwa pria itu bakal salah tingkah melihat Miyori yang sudah memahami tubuh seorang pria.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:16 pm

Perkenalkan namaku Gunawan tetapi teman-teman memanggilku Gundul, mungkin juga disebabkan karena nama Gunawan biasa diperpanjang oleh orang-orang di sekitar tempat kuliahku di Universitas ************ sebagai “Gundul Tapi Menawan”. Memang sih, aku tidak menawan karena wajah dan perawakan tubuhku juga biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa.

Aku saat ini sedang mengambil sastra Cina di Universitas tersebut. Mungkin jika dilihat, aku termasuk the lucky one karena di kelas sastra Cina di Universitas itu hanya ada 10 laki-laki dan sisanya adalah wanita dan 70% dari cewek-cewek tersebut semuanya cantik-cantik dan seksi sehingga aku selalu aktif jika disuruh kuliah.

Aku gemar sekali bermain komputer dan salah satu program kegemaranku adalah ICQ dimana aku bisa berkomunikasi dengan semua orang di seluruh dunia. Karena aku menyukai program ini, aku memutuskan untuk “download” program ini sewaktu aku pulang ke rumah. Setelah aku menyimpan file tersebut di dalam sebuah disket, aku berkemas untuk pulang ke rumah karena sudah tidak sabar untuk memasukkan program tersebut ke dalam komputerku. Seperti biasanya, aku pulang dari kampus dengan menggunakan bis kota. Di dalam bis kota yang ramai, aku duduk di sisi tengah dan tiba-tiba masuklah seorang gadis cantik ke dalam bis yang kugunakan. Gadis itu hanya tersenyum saja dan karena tidak ada tempat duduk lagi, maka gadis itu hanya berdiri saja. Aku merasa kasihan melihat gadis cantik yang membawa barang-barangnya sehingga aku mempersilakan dia untuk duduk di tempat dudukku sementara aku hanya berdiri karena halte di mana aku akan turun sudah berada di depan mata.

“Non, kamu duduk di sini saja”, pintaku dan sambil tersenyum dengan manisnya, dia berjalan ke arahku dan menggantikan tempat dudukku sementara aku hanya berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar karena aku akan turun sebentar lagi. Akhirnya aku tiba di halte yang kutuju dan sambil melempar senyum pada cewek manis tersebut, aku turun dan berjalan ke rumahku yang tidak jauh dari halte tersebut.

Sesampainya di rumah, aku menemui ibuku yang sedang memasak dan adik perempuanku yang sedang bermain dapur-dapuran bersama teman perempuannya. Aku langsung menuju ke komputer dan memulai “transfer” file tersebut ke dalam harddisk dan tak lama kemudian, aku berada di dalam program tersebut. Setelah aku mengisi data informasi dan nickname-ku, aku langsung meninggalkan komputerku yang sedang online untuk makan siang karena perutku yang sudah berbunyi sejak tadi.

Ketika aku sedang makan, tiba-tiba ICQ-ku berbunyi dan menandakan seseorang sedang online dan aku sempat kaget karena aku baru saja menggunakan program tersebut hari ini tetapi sudah ada orang yang mengenal nomor ICQ-ku dan itu benar-benar tidak bisa dipercaya. Saking senangnya, aku meninggalkan sarapan siang yang sudah hampir habis dan aku menjawab panggilan ICQ tersebut. Kami saling berkenalan satu sama lain melalui ICQ dan dia mengenalkan diri bahwa dia bernama Tanya. Dia bercerita bahwa dia baru saja download program ini dan iseng-iseng mengetik nomor secara random. “Kamu benar-benar hoki”, itu kalimat yang kuketik ketika dia menceritakan bagaimana dia mengetahui nomor ICQ-ku.

Akhirnya, kami berdua hanyut dalam percakapan. Kami bercakap-cakap tentang semua hal, dari sekolah, masalah sahabat, cinta dan semuanya dan aku merasa bahwa kami memiliki kecocokan sehingga hubungan kami semakin akrab di ICQ dan hampir setiap kali aku selesai kuliah, aku langsung pulang hanya untuk online dan mencari sahabat ICQ-ku yang baru.

Akhirnya, setelah beberapa minggu dan beberapa kali pertemuan “cyber” kami, aku memberanikan diri untuk mengajaknya bertemu. Sungguh diluar dugaan, dia menerima tawaranku untuk bertemu bahkan dia memberiku alamat rumahnya yang ternyata tidak jauh dari tempat tinggalku.

Disaat itu juga, aku berkata kepada Tanya bahwa aku akan menemuinya sekarang juga dan dia menerimanya dengan senang hati karena kebetulan dia sedang seorang diri sekarang ini dan hanya ditemani oleh satu anjing herder dan satu pembantu perempuan yang sudah tua. Dengan terburu-buru karena penasaran ingin bertemu, aku langsung pamit ke ibuku yang sedang membaca majalah bahwa aku ingin pergi ke rumah tetangga sebentar, kemudian aku langsung pergi ke alamat yang dituju.

Sesampainya di rumah Tanya, aku sungguh kaget sekali karena ternyata dia cewek manis yang pernah bertemu denganku di bis kota dan ketika dia melihatku, dia langsung memelukku dan mencium pipiku sambil mengucapkan, “Gun, terima kasih atas bangkunya ya.” Aku hanya tersenyum saja dan Tanya langsung mempersilakan aku masuk ke dalam rumahnya yang cukup besar. Aku terpaku pada celana dalam ketat yang dipakainya karena saat itu dia hanya mengenakan BH dan celana dalam putih saja.

Di dalam kebingunganku, dia langsung menarikku ke dalam kamarnya dan ketika masuk ke dalam kamarnya, dia langsung menutup pintu dan langsung menciumku. Setelah itu kita ngobrol ngalor-ngidul tentang dirinya, segala macem lah pokoknya. Rupanya dia itu anak bungsu dari 5 bersaudara dan dia anak cewek satu-satunya di keluarganya, jadi tidak heran jika dia sangat manja. Semua kakak-kakaknya sudah bekerja, tiga diantaranya sudah menikah. Rupanya Tanya juga blasteran (Ibunya Chinese, ayahnya Belanda), pantas saja wajahnya agak unik.

Tak terasa kita sudah ngobrol kekitar dua jam, sampai akhirnya kubelai rambutnya yang pirang, dia memejamkan mata, kukecup keningnya, lalu.., “Kiss me..”, desahnya, kukecup bibirnya yang mungil, bibir kami saling berpagutan, tangan kananku memeluk tubuhnya dari samping, terasa hangat buah dada yang menempel di dadaku, kuturunkan ciumanku ke arah lehernya lalu ke buah dadanya, matanya terus terpejam ketika tangan kananku meremas buah dada yang sebelah kiri, sementara bibirku bermain di buah dadanya yang sebelah kanan yang masih terhalang BH-nya.

Lalu aku bangkit dan duduk di samping dia yang masih di atas sofa, kubangkitkan badannya, kubuka BH-nya dan kurebahkan. Kembali terlihat buah dada yang sudah mengeras, kembali kumainkan tanganku dan mulutku mencium bibirnya, dengan posisiku yang agak membungkuk, tangan kananku meraba perutnya lalu turun terus hingga akhirnya masuk ke dalam celana dalamnya, kuraba dengan halus bulu-bulu kemaluannya, kuturunkan tangan kananku menuju liang kewanitaannya, begitu kuraba klitorisnya, dia mendekapku dengan erat, kumainkan jariku di klitorisnya, desahan dan erangannya menghebat, lalu kucoba memasukan jariku ke dalam liang kewanitaannya, sempit sekali dan becek. Kutarik tanganku dan kulepaskan ciumanku seraya aku bertanya, “Tanya, kamu masih perawan?” Dia pun mendesah, “Ya.. tapi jangan kuatir tentang hal itu, aku melakukannya karena aku mencintaimu”, sambil kembali mendaratkan ciumannya ke bibirku, dalam hatiku baru pertama kali ini aku mendapat yang perawan.

Permainan jariku di dalam liang kewanitaannya membuat dia semakin liar, tangan kirinya kini mencoba meraih batang kemaluanku yang sudah sejak tadi minta di pegang, lalu dia bangkit melepas celananya dan melepas seluruh pakaianku, kini kita sudah tidak terbungkus sehelai benang pun, kurebahkan diriku di lantai yang beralaskan karpet, terlihat batang kemaluanku menegang, diraihnya batang kemaluanku, dijilatinya, pertama hanya kepalanya lalu dia masukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya, hanya setengah yang bisa masuk ke dalam mulutnya, tapi biar begitu aku sangat menikmatinya. Kuraih bongkahan pantatnya, kini liang kewanitaannya tepat berada di depan wajahku, kujilati liang kewanitaannya, terus kukulum daging kecil berwarna merah yang menyempil keluar kujilati terus, sampai akhirnya dia mengerang hebat, hisapan terhadap batang kemaluanku semakin erat, buah dadanya mengeras, tubuhnya tegang. Aku tahu kalau dia itu ingin orgasme, terus kujilati sampai akhirnya dia teriak kecil dengan nafas yang terengah-engah, kuhisap semua cairan yang keluar dari liang kewanitaannya, sebagian menetes di pipiku.

Dia terlihat lelah, lalu merebahkan diri di sampingku, kubiarkan dia mengatur nafasnya, kusodorkan soft drink ke arah mulutnya, “Tan.. kamu capek..” tanyaku. “Ngak kok Gun.. Gun lagi yuk..” jawabnya, lalu aku naik ke atas tubuhnya, kucium bibirnya sambil mengarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, kugesekkan batang kemaluanku lalu kudorong pelan, dia mengerang kesakitan, kutahan posisi batang kemaluanku lalu kucoba perlahan-lahan mendorongnya, erangannya sudah tak kupedulikan lagi sampai akhirnya batang kemaluanku masuk semua, sengaja kudiamkan sebentar batang kemaluanku yang sudah masuk seluruhnya, lalu kucoba menariknya dan mendorongnya, erangannya terus terdengar selama dua menit, lalu berubah menjadi desahan-desahan yang di bisikkan di telingaku, aku hanya terdiam sambil terus menaik-turunkan pantatku, kucium bibirnya, kerasnya lantai membuat kami tidak nyaman, lalu kugendong dia tanpa melepaskan batang kemaluanku menuju ranjang dan dia terus menggoyang pantatnya ke kiri dan ke kanan, “Ooohh nikmat sekali..” dalam hatiku aku tidak pernah merasakan hal seperti ini selama hidupku.

Kemudian kurebahkan tubuh kami di atas kasur, lalu kami merubah posisi kini aku berada di bawah. Dia menggoyang pantatnya ke kiri dan ke kanan, lalu dia mengerang kembali dengan hebat, dia kembali orgasme, kurasakan batang kemaluanku di pijat lembut di dalam liang kewanitaannya. Kembali aku naik ke atas tubuhnya yang sudah kelelahan, kembali kuayun pantatku, aku merasakan badannya kembali menegang, begitu juga tubuhku, kontraksi antara liang kewanitaannya dengan batang kemaluanku semakin nikmat saja. Akhirnya kami berdua mengerang, “Tanyaaa.. aku mau.. keluar..” dan “Gunn.. aku juga nggak kuat nich…”

Setelah permainan itu, aku langsung mencium dahinya dengan mesra dan kuungkapkan perasaanku selama aku chat dengannya melalui ICQ. “Tanya, selama kita chat melalui ICQ, aku sudah sayang sama kamu, maukah kamu menjadi kekasihku”, dan dijawab olehnya dengan ciuman di mulutku yang membuatku horny kembali dan mengulang permainan itu kembali. Setelah itu, kami menjadi kekasih sampai hari ini.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:13 pm

Aku seorang pegawai di salah satu perusahaan swasta di kota DKI, nama aku Iwan. Aku berumur 30 tahun dengan tinggi badan 170 cm serta berat badan 65 kg dan kata cewek-cewek sih, aku memiliki wajah dan tubuh yang sangat ideal untuk seorang laki-laki bujangan. Perusahaan tempat aku kerja memberlakukan lima hari kerja yaitu setiap hari senin sampai Jumat, sehingga setiap hari sabtu aku selalu berada di rumah yang merupakan salah satu kompleks elit di kota aku itu. Setiap hari sabtu aku selalu mengisi waktu dengan melihat situs porno, majalah porno, dan menonton film pornoh yang aku sewa di salah satu rental yang berada di kompleks tersebut, dan hal itu berlangsung selama berbulan-bulan.

Suatu saat hal tersebut tidak aku lakukan lagi karena setelah aku melihat Riska anak tetangga aku yang masih duduk di kelas 1 SMP yang kira-kira berumur 12 tahun dan aku sangat terpesona dengan kemolekan tubuh anak tersebut. Riska memiliki tubuh yang indah untuk ukuran anak seumur dia dengan tinggi badan sekitar 155 cm dan berat badan sekitar 45kg serta memiliki dua bukit kembar yang berukuran sedang yang tercermin dari tonjolan padat dibalik seragam sekolah yang ketat dan tank top yang biasa dikenakannya dan yang tidak kalah menariknya lagi ia memiliki pantat yang sangat padat dan berisi yang terlihat dari rok sekolah setinggi lutut dan rok mini yang ia kenakan dan anehnya lagi aku tidak pernah melihat adanya garis CD yang ia kenakan, dan yang pasti memeknya belum ditumbuhi bulu-bulu halus.

Aku sering melihat riska kesekolah setiap hari dengan sengaja berdiri didepan rumah sebelum aku berangkat kerja atau pada sore hari sepulang kerja di saat ia sedang jalan-jalan sore di sekitar kompleks dan pada saat itu aku selalu memandangi riska dengan sangat tajam dan penuh nafsu namun ia tak menyadarinnya dan sampai suatu hari riska mulai menyadarinya dan mulai membalas tatapan aku dengan mata yang sangat menggoda.

Sejak kejadian itu aku selalu terbayang-bayang dengan kemolekan riska setiap usai bekerja namun bukannya aku jatuh cinta padanya tapi aku suka akan kemolekan tubuhnya dan sangat bernafsu untuk mencicipinnya, tetapi nafsu birahi tersebut aku tahan dan aku lampiaskan dengan hanya memandangi tubuhnya dari balik pagar pada sore hari disaat ia sedang berjalan-jalan dikompleks. Riska selalu menggunakan tank top dan rok mini setiap akan berjalan-jalan disekitar kompleks bersama kakak dan sepupunya (Yani yang sedang kuliah smst 2 dan Neni yang duduk di sma kls 3) dan ini dia lakukan setiap sore.

Seperti biasanya pada sore hari setiap pulang kerja aku selalu menunggu riska untuk memandangi tubuhnya, tetapi pada saat itu aku heran karena riska hanya sendiri saja berjalan dengan sangat santai dan seperti biasa pula ia hanya memakai tank top yang pada saat itu berwarna kuning dan rok mini berwarna putih tembus pandang dan yang tidak terlalu ketat. Dengan sangat nernafsu aku tatap dia dari balik pagar dan dia pun membalasnya dan tanpa aku sangka-sangka riska menuju ke pintu pagar rumah aku, dan dalam hati aku bertanya mungkin dia akan marah karena aku selalu menatapnya, tetapi hal tersebut tidak terjadi, dia malah tersenyum manis sambil duduk dideker didepan pagar rumah aku yang membuat nafsu aku semakin tinggi karena dengan leluasa aku dapat memandangi tubuh riska dan yang lebih mengasikan lagi ia duduk dengan menyilangkan pahannya yang membuat sebagian roknya tersingkap disaat angin meniup dengan lembutnya namun ia diam dan membiarkan saja. Dengan penuh nafsu dan penasaran ingin melihat tubuh riska dari dekat maka aku dekati dia dan bertannya “Duduk sendirian nih boleh aku temanin,” dengan terkejut riska mambalikan wajahnya dan berkata “eh…… boooboleh.” Aku langsung duduk tepat di sampingnya dikarenakan deker tersebut hanya pas untuk dua orang. Dan untuk mengurangi kebisuan aku bertannya pada riska “Biasanya bertiga, temennya mana..?”, dengan terbata-bata riska berkata “Gi.. gini om, mereka i.. itu bukan temen aku tetapi kakak dan sepupu aku.” aku langsung malu sekali dan kerkata “Sorry.” kemudia riska menjelaskan bahwa kakak dan sepupunnya lagi ke salah satu mal namannya MM.

Riska mulai terlihat santai tetapi aku semakin tegang jantungku semakin berdetak dengan kerasnya dikarenakan dengan dekatnya aku dapat memandangi paha mulus riska ditambah lagi dua bukit kembarnya tersembul dari balik tank topnya apabila dia salah posisi. Diam-diam aku mencuri pandang untuk melihatnya namun dia mulai menyadarinya tetapi malah kedua bukit kembarnya tersebut tambah diperlihatkannya keaku yang membuat aku semakin salah tingkah dan tampa sengaja aku menyentuh pahanya yang putih tanpa ditutupi oleh rok mininya karena tertiup angin yang membuat riska terkejut dan riskapun tidak marah sama sekali sehingga tangan aku semakin penasaran dan aku dekapkan tangan aku ke pahanya dan dia pun tidak marah pula dan kebetulan pada saat itu langitpun semakin gelap sehingga aku gunakan dengan baik dengan perlahan-lahan tangan kiri aku yang berada di atas pahanya aku pindahkan ke pinggannya dan meraba-raba perutnya sambil hidungku aku dekatkan ketelingannya yang membuat riska kegelian karena semburan nafasku yang sangat bernafsu dan mata ku tak berkedip melihat kedua bukit kembarnya yang berukuran sedang dibalik tank topnya. Tanpa aku sadari tangan kiri aku telah menyusup kedalam tank top yang ia gunakan menuju kepunggunya dan disana aku menemukan sebuah kain yang sangat ketat yang merupakan tali BH nya dan dengan sigapnya tangan aku membuka ikatan BH yang dikenakan riska yang membuat tangan aku semakin leluasa ber gerilya dipunggunya dan perlahan-lahan menyusup kebukit kembarnya serta tangan kanan aku membuka ikatan tali BH riska yang berada di lehernya dan dengan leluasa aku menarik BH riska tersebut keluar dari tank topnya karena pada saat itu riska mengggunakan BH yang biasa digunakan bule pada saat berjemur. Setelah aku membuka BHnya kini dengan leluasa tangan aku meraba, memijit dan memelintir bukit kembarnya yang membuat riska kegelian dan terlihat pentil bukit kembarnya telah membesar dan berwarna merah dan tanpa ia sadari ia berkata “Terusss.. nikmattttt.. Ommmm……….. ahh.. ahhhh….” Dan itu membuat aku semakin bernafsu, kemudian tangan aku pindahkan ke pinggannya kembali dan mulai memasukannnya ke dalam rok mini yang ia kenakan dengan terlebih dahulu menurunkan res yang berada dibelakang roknya, kemudian tangan aku masukan kedalam rok dan CDnya dan meremas-remas bokongnya yang padat dan berisi dan ternyata riska memakai CD model G string sehingga membuat aku berpikir anak SMP kayak dia kok sudah menggunakan G string tetapi itu membuat pikiranku selama ini terjawab bahwa riska selama ini menggunakan G string sehingga tidak terlihat adanya garis CD. Lima menit berlalu terdengar suara riska “Ahh.. terusss Om… terusss.. nikmattttt.. ahh.. ahhhh…” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut riska pada saat aku menyentuh dan memasukan jari tengan aku ke dalam memeknya yang belum ditumbuhi bulu-bulu tersebut dari belakang dan aku pun makin menggencagkan seranganku dengan mengocok memeknya dengan cepat. Tiba-tiba pecahlah rintihan nafsu keluar dari mulut Riska.
“Ouuhhh.. Ommmm.. terus.. ahhh.. ahhhhhhhhh.. ahhhhhhhhhhhhhh..” riska mengalami orgasme untuk yang pertama kali.

Setelah riska mengalami orgasme aku langsung tersentak mendengar suara beduk magrib dan aku menghentikan seranganku dan membisikan kata-kata ketelinga riska “Udah dulu ya..” dengan sangat kecewa riska membuka matanya dan terlihat adanya kekecewaan akibat birahinya telah sampai dikepala dan aku menyuruhnya pulang sambil berkata “Kapan-kapan kita lanjutkan lagi,” ia langsut menyahut “Ya om sekarang aja tanggung nih, lihat memek aku udah basah..” sambil ia memegang memeknya yang membuat aku berpikir anak ini tinggi juga nafsunya dan aku memberinya pengertian dan kemudian ia pulang dengan penuh kekecewan tanpa merapikan tank top dan roknya yang resnya masih belum dinaikan namun tidak membuat rok mininya turun karena ukuran pingganya yang besar, tetapi ada yang lebih parah ia lupa mengambil BH nya yang aku lepas tadi sehingga terlihat bukit kembarnya bergoyang-goyang dan secara samar-samar terlihat putting gunung kembarnya yang telah membesar dan berwarna merah dari balik tank topnya yang pastinya akan membuat setiap orang yang berpapasan dengannya akan menatapnya dengan tajam penuh tanda tanya. Setelah aku sampai di rumah aku langsug mencium BH riska yang ia lupa, yang membuat aku semakin teropsesi dengan bentuk gunung kembarnya dan dapat aku bayangkan dari bentuk BH tersebut.

Sejak kejadian sore itu, lamunanku semakin berani dengan menghayalkan nikmatnya bersetubuh dengan riska namun kesempatan itu tak kunjung datang dan yang mengherankan lagi riska tidak pernah berjalan-jalan sore lagi dan hal tersebut telah berlangsung selama 1 minggu sejak kejadian itu, yang membuat aku bertanya apakah dia malu atau marah atas kejadian itu, sampai suatu hari tepatnya pada hari sabtu pagi dan pada saat itu aku libur, cuaca sangat gelap sekali dan akan turun hujan, aku semakin BT maka kebiasaan aku yang dulu mulai aku lakukan dengan menonton film porno, tapi aku sangat bosan dengan kaset tersebut. Hujanpun turun dengan derasnya dan untuk menghilangkan rasa malas dan bosan aku melangkah menuju keteras rumah aku untuk mengambil koran pagi, tapi setibanya didepan kaca jendela aku tersentak melihat seorang anak SMP sedang berteduh, ia sangat kedinginan dikarenakan bajunya basah semuannya yang membuat seluruh punggunya terlihat termasuk tali BH yang ia kenakan. Perlahan-lahan nafsuku mulai naik dan aku perhatikan anak tersebut yang kayaknya aku kenal dan ternyata benar anak tersebut adalah Riska, dan aku berpikir mungkin dia kehujanan saat berangkat sekolah sehingga bajunya basah semua. Kemudian aku mengatur siasat dengan kembali ke ruang tengah dan aku melihat film porno masih On, maka aku pun punya ide dengan megulang dari awal film tersebut dan akupun kembali ke ruang tamu dan membuka pintu yang membuat riska terkejut.

Pada saat riska terkejut kemudia aku bertannya pada dia “Lo riska ngak kesekolah nih?” dengan malu-malu riska menjawab “Ujan om..” aku langsung bertannya lagi “Ngak apa-apa terlambat.”
“Ngak apa-apa om karena hari ini ngak ada ulangan umum lagi.” riska menjawab dan aku langsung bertannya “Jadi ngak apa-apa ya ngak kesekolah?”. “Ia om”, riska menjawab dan dalam hati aku langsung berpikir bahwa selama ini riska tidak pernah kelihatan karena ia belajar untuk ulangan umum, dan inilah kesempatan yang aku tunggu-tunggu dan aku langsung menawarinya untuk masuk kedalam dan tanpa malu-malu karena udah kedingin dia langsung masuk kedalam ruang tamu dan langsung duduk dan pada saat itu aku memperhatikan gunung kembarnya yang samar-samat tertutupi BH yang terlihat dari balik seragam sekolahnya yang telah basah sehingga terlihat agak transparan.

Melihat riska yang kedinginan, maka aku menawari dia untuk mengeringkan badannya di dalam dan dia pun setuju dan aku menunjukan sebuah kamar di ruang tengah dan aku memberi tahu dia bahwa di sana ada handuk dan baju seadannya. Dengan cepat riska menuju ke ruang tengah yang disana terdapat TV dan sedang aku putar film porno, hal tersebut membuat aku senang, karena riska telah masuk kedalam jebakanku dan berdasarkan perkiraan aku bahwa riska tidak akan mengganti baju tetapi akan berhenti untuk menonton film tersebut. Setelah beberapa lama aku menunggu ternyata riska tidak kembali juga dan akupun menuju keruang tengah dan seperti dugaanku riska menonton film tersebut dengan tangan kanan di dalam roknya sambil mengocok memeknya dan tangan kiri memegang bukit kembarnya. Aku memperhatikan dengan seksama seluruh tingkah lakunya dan perlahan-lahan aku mengambil handy cam dan merekam seluruh aktivits memegang dan mengocok memek dan bukit kembarnya yang ia lakukan sendiri dan rekaman ini akan aku gunakan untuk mengancamnya jika ia bertingkah. Setelah merasa puas aku merekamnya. Aku menyimpan alat tersebut kemudian aku dekati riska dari belakang.

Aku berbisik ketelinga riska, enak ya, riska langsung kaget dan buru-buru melepaskan tangannya dari memek dan bukit kembarnya, aku langsung menangkap tangannya dan berbisik lagi “Teruskan saja, aku akan membantumu.” kemudian aku duduk dibelakang riska dan menyuruh riska untuk duduk di pangkuanku yang saat itu penisku telah menegang dan aku rasa riska menyadari adanya benda tumpul dari balik celana yang aku kenakan. Dengan perlahan-lahan, tanganku aku lingkarkan keatas bukit kembarnya dan ciumanku yang menggelora mencium leher putih riska, tangan kananku membuka kancing baju riska satu demi satu sampai terlihat bukit kembarnya yang masih ditutupi BH yang bentuknya sama pada saat kejadian yang sore lalu. Riska sesekali menggelinjat pada saat aku menyentuh dan meremas bukit kembarnya namun hal tersebut belum cukup, maka aku buka sebagian kancing baju seragam yang basah yang digunakan riska kemudian tagan kiri aku masuk ke dalam rok riska dan memainkan bukit kecilnya yang telah basah dan pada saat itu rok yang ia gunakan aku naikan ke perutnya dengan paksa sehingga terlihat dengan jelas G string yang ia gunakan. Aku langsung merebahkan badannya diatas karpet sambil mencium bibir dan telinganya dengan penuh nafsu dan secara perlahan-lahan ciuman tersebut aku alihkan ke leher mulusnya dan menyusup ke kedua gunung kembarnya yang masih tertutup BH yang membuat riska makin terangsang dan tanpa dia sadari dari mulutnya mengeluarkan desahan yang sangat keras.

“Ahhhhh terussssssss Omm…….. terusssssss…. nikmattttttt….. ahh…. ahhhhhhhhhhh……. isap terus Om.. Ahhhh…….. mhhhhhhhh. Omm…”
Setelah lama mengisap bukit kembarnya yang membuat pentil bukit kembarnya membesar dan berwarna merah muda, perlahan-lahan ciuman aku alihkan ke perutnya yang masih rata dan sangat mulus membuat riska tambah kenikmatan.
“Ahh ugggh…. uuhh…. agh…. uhh…. aahh”, Mendengar desahan riska aku makin tambah bernafsu untuk mencium memeknya, namun kegiatanku di perut riska belum selesai dan aku hanya menggunakan tangan kiri aku untuk memainkan memeknya terutama klitorisnya yang kemudian dengan menggunakan ketiga jari tangan kiri aku, aku berusaha untuk memasukan kedalam memek riska, namun ketiga jari aku tersebut tidak pas dengan ukuran memeknya sehingga aku mencoba menggunakan dua jari tetapi itupun sia-sia yang membuat aku berpikir sempit juga memek anak ini, tetapi setelah aku menggunakan satu jari barulah dapat masuk kedalam memeknya, itupun dengan susah payah karena sempitnya memek riska. Dengan perlahan-lahan kumaju mundurkan jari ku tersebut yang membuat riska mendesah.
“Auuuuuggggkkkk…” jerit Riska.
“Ah… tekan Omm.. enaaaakkkkk…terusssss Ommm…” Sampai beberapa menit kemudia riska mendesah dengan panjang.
“Ahh ugggh…, uuhh…, agh…, uhh…, aahh”, yang membuat riska terkulai lemah dan aku rasa ada cairan kental yang menyempor ke jari aku dan aku menyadari bahwa riska baru saja merasakan Orgasme yang sangat nikmat. Aku tarik tangan aku dari memeknya dan aku meletakan tangan aku tersebut dihidungnya agar riska dapat mencium bau cairan cintannya.

Setelah beberapa saat aku melihat riska mulai merasa segar kembali dan kemudian aku menyuruh dia untuk mengikuti gerakan seperti yang ada di film porno yang aku putar yaitu menari striptis, namun riska tampak malu tetapi dia kemudian bersedia dan mulai menari layaknya penari striptis sungguhan. Perlahan-lahan riska menanggalkan baju yang ia kenakan dan tersisa hanyalah BH seksinya, kemudian disusul rok sekolahnya yang melingkar diperutnya sehingga hanya terlihat G string yang ia kenakan dan aku menyuruhnya menuju ke sofa dan meminta dia untuk melakukan posisi doggy, riska pun menurutinya dan dia pun bertumpuh dengan kedua lutut dan telapak tangannya. Dengan melihat riska pada posisi demikian aku langsug menarik G string yang ia kenakan ke arah perutnya yang membuat belahan memeknya yang telah basah terbentuk dari balik G string nya, dan akupun mengisap memeknya dari balik G string nya dan perlahan-lahan aku turunkan G string nya dengan cepat sehingga G string yang riska kenakan berada di ke dua paha mulusnya, sehingga dengan leluasa dan penuh semangat aku menjilat, meniup, memelintir klitorisnya dengan mulut aku.
“Aduh, Ommm…! Pelan-pelan dong..!” katanya sambil mendesis kesakitan Riska menjatuhkan tubuhnya kesofa dan hanya bertumpuh dengan menggunakan kedua lututnya. Aku terus menjilati bibir memeknya, klitorisnya, bahkan jariku kugunakan untuk membuka lubang sanggamanya dan kujilati dinding memeknya dengan cepat yang membuat riska mendesah dengan panjang.
“Uhh…, aahh…, ugghh…, ooohh”.
“Hmm…, aumm…, aah…, uhh…, ooohh…, ehh”.
“Oooom…, uuhh…” Riska menggeliat-geliat liar sambil memegangi pinggir sofa.
“Ahhh… mhhh… Omm…” demikian desahannya. Aku terus beroperasi dimemeknya. Lidahku semakin intensif menjilati liang kemaluan Riska. Sekali-sekali kutusukkan jariku ke dalam memeknya, membuat Riska tersentak dan memekik kecil. Kugesek-gesekkan sekali lagi jariku dengan memeknya sambil memasukkan lidahku ke dalam lubangnya. Kugerakkan lidahku di dalam sana dengan liar, sehingga riska semakin tidak karuan menggeliat.

Setelah cukup puas memainkan vaginanya dengan lidahku dan aku dapat merasakan vaginanya yang teramat basah oleh lendirnya aku pun membuka BH yang dikenakan riska begitupun dengan G string yang masih melingkar dipahanya dan aku menyuruh di untuk duduk disofa sambil menyuruh dia membuka celana yang aku gunakan, tetapi riska masih malu untuk melakukannya, sehingga aku mengambil keputusan yaitu dengan menuntun tanggannya masuk ke balik celana aku dan menyuruh dia memegang penis aku yang telah menegang dari tadi. Setelah memegang penis aku, dengan sigapnya seluruh celana aku (termasuk celana dalam aku) di turunkannya tanpa malu-malu lagi oleh riska yang membuat penis aku yang agak besar untuk ukuran indonesia yaitu berukuran 20 cm dengan diameter 9 cm tersembul keluar yang membuat mata riska melotot memandang sambil memegangnya, dan aku meminta riska mengisap penis aku dan dengan malu-malu pula ia mengisap dan mengulum penis aku, namun penisku hanya dapat masuk sedalam 8 cm dimulut riska dan akupun memaksakan untuk masik lebih dalam lagi sampai menyentuh tenggorokannya dan itu membuat riska hampir muntah, kemudian ia mulai menjilatinya dengan pelan-pelan lalu mengulum-ngulumnya sambil mengocok-ngocoknya, dihisap-hisapnya sembari matanya menatap ke wajahku, aku sampai merem melek merasakan kenikmatan yang tiada tara itu. Cepat-cepat tangan kananku meremas bukit kembarnya, kuremas-remas sambil ia terus mengisap-isap penisku yang telah menegang semakin menegang lagi. Kemudian aku menyuruh riska mengurut penisku dengan menggunakan bukit kembarnya yang masih berukuran sedang itu yang membuat bukit kembar riska semakin kencang dan membesar. Dan menunjukan warna yang semakin merah.

Setelah puas, aku rebahkan tubuh riska disofa dan aku mengambil bantal sofa dan meletakan dibawan bokong riska (gaya konvensional) dan aku buka kedua selangkangan riska yang membuat memeknya yang telah membesar dan belum ditumbuhi bulu-bulu halus itu merekah sehingga terlihat klitorisnya yang telah membesar. Batang penisku yang telah tegang dan keras, siap menyodok lubang sanggamanya. Dalam hati aku membatin,
“Ini dia saatnya… lo bakal habis,riska..!” mulai pelan-pelan aku memasukkan penisku ke liang surganya yang mulai basah, namun sangat sulit sekali, beberapa kali meleset, hingga dengan hati-hati aku angkat kedua kaki riska yang panjang itu kebahu aku, dan barulah aku bisa memasukan kepala penisn aku, dan hanya ujung penisku saja yang dapat masuk pada bagian permukaan memek riska.
“Aduhhhhhh Omm.. aughhhhghhhhh… ghhh… sakit Omm…” jerit Riska dan terlihat riska menggigit bibir bawahnya dan matanya terlihat berkaca-kaca karena kesakitan. Aku lalu menarik penisku kembali dan dengan hati2 aku dorong untuk mencoba memasukannya kembali namun itupun sia-sia karena masih rapatnya memek riska walaupun telah basah oleh lendirnya. Dan setelah beberapa kali aku coba akhirnya sekali hentak maka sebagian penis aku masuk juga. Sesaat kemudian aku benar-benar telah menembus “gawang” keperawanan riska sambil teriring suara jeritan kecil.
“Oooooohhhhgfg….. sa… kiiiit…. Sekkkallliii…. Ommmmm….”, dan aku maju mundurkan penis aku kedalam memek riska “Bless, jeb..!”
jeb! jeb! “Uuh…, uh…, uh…, uuuh…”, ia mengerang.
“Auuuuuggggkkkk…” jerit Riska.
“Ommm Ahh…, matt.., maatt.., .ii… aku…”
Mendengar erangan tersebut aku lalu berhenti dan membiarkan memek riska terbiasa dengan benda asing yang baru saja masuk dan aku merasa penis aku di urut dan di isap oleh memek riska,namun aku tetap diam saja sambil mengisap bibir mungilnya dan membisikan “Tenang sayang nanti juga hilang sakitnya, dan kamu akan terbiasa dan merasa enakan.”

Sebelum riska sadar dengan apa yang terjadi, aku menyodokkan kembali penisku ke dalam memek riska dengan cepat namun karena masih sempit dan dangkalnya nya memek riska maka penisku hanya dapat masuk sejauh 10 cm saja, sehingga dia berteriak kesakitan ketiga aku paksa lebih dalam lagi.
“Uhh…, aahh…, ugghh…, ooohh”.
“Hmm…, aumm…, aah…, uhh…, ooohh…, ehh”. “Ooommm…,sakkkitt…… uuhh…, Ommm…,sakitttt……….. ahh”.
“Sakit sekali………… Ommm…, auhh…, ohh…”
“Riska tahan ya sayang”. Untuk menambah daya nikmat aku meminta riska menurunkan kedua kakinya ke atas pinggulku sehingga jepitan memeknya terhadap penisku semakin kuat.. Nyaman dan hangat sekali memeknya..! Kukocok keluar masuk penisku tanpa ampun, sehingga setiap tarikan masuk dan tarikan keluar penisku membuat riska merasakan sakit pada memeknya. Rintihan kesakitannya semakin menambah nafsuku. Setiap kali penisku bergesek dengan kehangatan alat sanggamanya membuatku merasa nikmat tidak terkatakan. Kemudian aku meraih kedua gunung kembar yang berguncang-guncang di dadanya dan meremas-remas daging kenyal padat tersebut dengan kuat dan kencang, sehingga riska menjerit setinggi langit. Akupun langsung melumat bibir riska membut tubuh riska semakin menegang.
“Oooom…., ooohh…, aahh…, ugghh…, aku…, au…, mau…, ah…, ahh…, ah…, ah…, uh…, uhh”, tubuh riska menggelinjang hebat, seluruh anggota badannya bergetar dan mengencang, mulutnya mengerang, pinggulnya naik turun dengan cepat dan tangannya menjambak rambutku dan mencakar tanganku, namun tidak kuperdulikan. Untunglah dia tidak memiliki kuku yang panjang..!
Kemudian riska memeluk tubuhku dengan erat. Riska telah mengalami orgasme untuk yang kesekian kalinya.
“Aaww…, ooww…, sshh…, aahh”, desahnya lagi.
“Aawwuuww…, aahh…, sshh…, terus Ommm, terruuss…, oohh”
“Oohh…, ooww…, ooww…, uuhh…, aahh… “, rintihnya lemas menahan nikmat ketiga hampir 18 cm penisku masuk kedalam memeknya dan menyentuh rahimmnya.
“Ahh…, ahh…, Oohh…” dan, “Crrtt…, crtr.., crt…, crtt”, air maninya keluar.
“Uuhh… uuh… aduh.. aduh… aduhh.. uhh… terus.. terus.. cepat… cepat aduhhh..!”
Sementara nafas saya seolah memburunya, “Ehh… ehhh… ehh..”
“Uhhh… uhhh…. aduh… aduh… cepat.. cepat Ommm… aduh..!”
“Hehh.. eh… eh… ehhh..”
“Aachh… aku mau keluar… oohh… yes,” dan… “Creeet… creeet… creeet…”
“Aaaoooww… sakit… ooohhh… yeeaah… terus… aaahhh… masukkin yang dalam Ommm ooohhh… aku mau keluar… terus… aahhh… enak benar, aku… nggak tahaaan… aaakkhhh…”

Setelah riska orgasme aku semakin bernafsu memompa penisku kedalam memeknya, aku tidak menyadari lagi bahwa cewek yang aku nikmati ini masih ABG berumur 12 tahun. Riska pun semakin lemas dan hanya pasrah memeknya aku sodok. Sementara itu … aku dengarkan lirih … suara riska menahan sakit karena tekanan penisku kedalam liang memeknya yang semakin dalam menembus rahimnya. Aku pun semakin cepat untuk mengayunkan pinggulku maju mundur demi tercapainya kepuasan. Kira-kira 10 menit aku melakukan gerakan itu. Tiba-tiba aku merasakan denyutan yang semakin keras untuk menarik penisku lebih dalam lagi, dan..
“Terus.., Omm.., terus.. kan..! Ayo.., teruskan… sedikit lagi.., ayo..!” kudengar pintanya dengan suara yang kecil sambil mengikuti gerakan pinggulku yang semakin menjadi. Dan tidak lama kemudian badan kami berdua menegang sesaat, lalu.., “Seerr..!” terasa spermaku mencair dan keluar memenuhi memek riska, kami pun lemas dengan keringat yang semakin membasah di badan.

Aku langsung memeluk riska dan membisikan “Kamu hebat sayang, apa kamu puas..?” diapun tersenyum puas, kemudian aku menarik penis aku dari memeknya sehingga sebagian cairan sperma yang aku tumpahkan di dalam memeknya keluar bersama darah keperawanannya, yang membuat nafsuku naik kembali, dan akupun memompa memek riska kembali dan ini aku lakukan sampai sore hari dan memek riska mulai terbiasa dan telah dapat mengimbagi seluruh gerakanku dan akupun mengajarinya beberapa gaya dalam bercinta. Sambil menanyakan beberapa hal kepadanya “Kok anak SMP kaya kamu udah mengenakan G string dan BH seksi” riska pun menjelaskannya “bahwa ia diajar oleh kakak dan sepupunya” bahkan katanya ia memiliki daster tembus pandang (transparan). Mendengar cerita riska aku langsung berfikir adiknya saja udah hebat gimana kakak dan sepupunya, pasti hebat juga. Kapan-kapan aku akan menikmatinya juga.

Setelah kejadian itu saya dan riska sering melakukan seks di rumah saya dan di rumahnya ketika ortu dan kakanya pergi, yang biasanya kami lakukan di ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, meja kerja, meja makan, dapur., halaman belakang rumah dengan berbagai macam gaya dan sampai sekarang, apabila saya udah horny tinggal telepon sama dia dan begitupun dengan dia. Riska sekarang telah berumur 14 tahun dan masih suka dateng mengunjungi rumah saya, bahkan riska tidak keberatan bila aku suruh melayani temen-temen aku dan pernah sekali ia melayani empat sekaligus temen-temen aku yang membuat riska tidak sadarkan diri selama 12 jam, namun setelah sadar ia meminta agar dapat melayani lebih banyak lagi katanya. Yang membuat aku berpikir bahwa anak ini maniak sex, dan itu membuat aku senang karena telah ada ABG yang memuaskan aku dan temen-temen aku, dan aku akan menggunakan dia untuk dapat mendekati kakak dan sepupunya.

Untuk ABG yang mau ngesex dengan aku, aku tunggu emailnya. Dan untuk pembaca, sabar aja, aku akan menulis beberapa pengalamanku dengan para ABG di sekitar kompleks tempat tinggal aku diantaranya bersama Yani, Neni (kakak dan sepupu riska, Dini, Butet, Rhina, Mela, Nurul, dll.., dan adapula pengalaman ngesex dengan adik ipar kakaku.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:12 pm

Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya.
“Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian”, gumamku.

Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. “Sekarang minta jatah..”. Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh.

Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.
“Selamat sore Om. Tante ada?”
“Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?”
“Wah gimana ya..”
“Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa”, kataku ramah.

ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong sebelahku.
“Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu”, tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
“Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru..”
“Majalah apa sich?”, tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
“Apa saja. Pokoknya yang terbaru”.
“Oke silakan masuk dan pilih sendiri”.

Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.
“Cari sendiri di rak bawah televisi itu”, kataku, kemudian membanting pantat di sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.

“Nggak ada Om. Ini lama semua”, katanya menyentak lamunan nakalku.
“Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana”
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, “inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu terlampiaskan”.

Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
“Sudah ketemu Ren?” tanyaku.
“Belum Om”, jawabnya tanpa menoleh.
“Mau lihat CD bagus nggak?”
“CD apa Om?”
“Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini.”

Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.
“Film apa sih Om?”
“Lihat saja. Pokoknya bagus”, kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.
“Ihh..”, jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
“Bagus kan?”
“Ini kan film porno Om?!”
“Iya. Kamu suka kan?”
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.

Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.
“Kamu ingin begituan nggak?”, bisikku di telinganya.
“Jangan Om”, katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
“Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo..”
“Tapi.. tapi.. ah jangan Om.” Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak memberontak.
“Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman..”

Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna hitam.

“Ohh.. ahh.. jangan Om”, erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.

Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.

“Ahh..” keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.
“Enak kan beginian?” tanyaku sambil menatap wajahnya.
“Iii.. iya Om. Tapi..”
“Kamu pengin lebih enak lagi?”

Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.

“Kalau sakit bilang ya”, kataku sambil mencium bibirnya sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk.
“Auw.. sakit Om..” Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. “Ouuu..”, dia menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah membasahi sprei.

Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.
“Ahh.. ohh.. asshh…”, dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan atau pundakku.

“Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?”
“Ouuu enak sekali Om…”
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.

Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
“Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.
“Tapi takut Om..”
“Nggak usah takut. Takut apa sih?”
“Hamil”
Aku ketawa. “Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil dong”
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.

“Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD”.
“Kalau ketahuan Tante gimana?”
“Ya jangan sampai ketahuan dong”
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG tetangga.

Cerita Antara Kita 5:11 pm

Karena krismon suamiku terkena PHK 2 bulan yl, hal itu menyebabkan suamiku sampai dirawat dirumah sakit karena stress diabetesnya naik tinggi apalagi suamiku malas diet. Walaupun masih cukup muda tetapi akibat sarafnya tergganngu oleh diabetnya maka suamiku terkena semi impotensi. Aku jadi kurang sekali dpt kucuran air mani sekarang, pdhal seusiaku yg 30 th ini sedang butuh2-nya siraman air mani supaya bisa tetap segar. Aku sendiri kasihan pd suamiku saat ia mau menyetubuhiku, nafsunya bergelora tapi senjatanya tak mau tegang.Untung ada seorang teman baik kita yg punya pabrik plastik membantunya dgn mengankat suamiku menjadi kepala pabrik sejak seminggu yl. Suatu malam saat suamiku sedang rapat di RT, Lud telepon karena suamiku pergi dia ngomong2 dgnku dan bertanya:”Hwa (panggilan akrabku) apakah kamu masih sering disirami oleh suamimu?”. “Siraman apa ?” tanyaku. “Yaah siraman kejantanan yg hangat itu.” katanya.”Acch …Lud, kamu kok tanya macam”sahutku. “Gini lho, kalau kamu mau aku bersedia membantu menyiram dan ini suamimu sudah tahu karena kamu pasti membutuhkannya” jawabnya. “Hwa, aku sekarang sdh steril jadi jangan takut hamil,karena itu suamimu setuju”. “Jangan ngaco lho Lud, nanti suamiku marah.”balasku. “O, silahkan tanya dulu sama suamimu.Oke. Selamat malam” sahutnya. Memang Lud kalau ngomong terbuka, karena ia seorang Indo Belanda. Malam harinya saat mau tidur aku tanya suamiku, kenapa Lud tanya begitu pdku, suamiku menjawab bahwa dia menyadari tidak dpt memberikan siraman yg cukup karena akibat penyakitnya padahal aku membutuhkan itu,jadi terserah aku kalau setuju ya boleh saja.Selang beberapa hari saat suamiku dikantor, Lud telpon aku dan menanyakan keputusan ku, aku hanya menjawab:”Terserah anda berdua, kalau aku menurut saja”. Hari itu suamiku pulang lebih awal dr biasanya dan ketika kutanya, dia bilang kalau nanti malam Lud mau bermalam dirumah kami, pdhal dgn keluarganya pamit bisnis keluar kota. Kira2 jam 8 malam Lud datang kerumahku tanpa bawa sopir. Aku malam itu memakai BH dan CD mini dari renda warma merah lalu kupakai pakaian tidur warna pink yg tipis setengah paha sehingga BH dan CD ku terlihat jelas dr luar. Kita bertiga duduk disofa nonton TV dimana aku duduk ditengah, sambil nonton kita ngobrol2 dan tangannya Lud mulai mengegenggam tanganku erat2. Tepat jam 9 malam, Lud pamit kpd suamiku utk mengajak aku masuk kekamarnya yg telah kusiapkan. Begitu masuk kamar aku langsung dipeluk oleh Lud dan bibirku langsung dicium dan dilumat habis2-an serta tangannya dgn liarnya meraba keseluruh bagian tubuhku terutama daerah2 yg erotis. Aku menyambut hangat lumatan bibirnya sambil menyerahkan tubuhku utk diraba dgn kedua tangannya yg tegap itu,sambil kubalas rabaan dikemaluannya yg terasa sdh mulai tegang. Habis itu aku ditarik kedepan kaca rias dan aku dipeluk dr belakang dgn kedua tangannya meremas kedua buah dadaku hingga mencuat keluar dr BH ku dan kadang2 tangannya turun kebawah disusupkan dr paha masuk kedalam CD dan memekku dimasuki dua jarinya sambil meng-utik2 kelentitku hingga aku mengankat sebelah kakiku agar jarinya bisa bebas bermain dikemaluanku. Leherku diciumi dan remasan2 pd buah dadaku yg membuat birahi ku bergelora apalagi aku bisa melihat bagaimana buah dadaku diremas dr kaca. Aku sebenarnya paginya baru disetubuhi oleh om Anton (langganan salonku) tapi karena nafsuku cukup besar aku tetap semangat dan terangsang lagi dgn Lud. Jadi selain suamiku aku juga menikmati 4 kemaluan laki2 lain yaitu om Anton dgn bosnya, Benny adik iparku dan Lud ini. Pakaian tidurku dilepasnya lalu dia melepas seluruh pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat, kulihat kemaluannya cukup besar tapi tak sebesar kepunyaan om Anton hanya rambutnya lebat sekali dan keriting. Itu bisa menggelitik kelentitku kalau kemaluannya sdh masuk kelubangku. Setelah telanjang dia memelukku lagi dgn meraba, memijit dgn bernafsu bagian2 erotis dr tubuhku sambil melepas Bh dan CD ku hingga kami berdua sdh berpelukan dlm keadaan bugil tanpa ada secuil kainpun yg menghalanginya. Dia kemudian tengkurap ditempat tidur dan aku diminta tenkurap juga diatasnya sambil menggeserkan puting kedua buah dadaku mulai dr pundak terus menggeser kepunggung, pinggang , kedua pahanya dan berakhir dibetisnya kemudian naik lagi. Lud terasa geli dan nikmat sekali mendapat geseran kedua puting buah dadaku itu sedang aku sendiri juga merasakan nikmat dikedua puting buah dadaku bersentuhan dgn tubuhnya. Benar2 pengalaman baru dan indah bagiku permainan ini. Kemudian Lud telentang dan puting buah dadaku juga diminta utk digeserkan mulai pundak, dada, perut dan dikemaluannya kedua puting buah dadaku ku-goyang2-kan utk memukul mukul kepala kemaluannya lalu kugeserkan lagi sampai kepahanya. Puting buah dadaku terasa geli sekali saat bergeser didadanya dan daerah kemaluannya yg penuh bulu, itu menyebabkan birahiku me-letup2, hingga aku tidur telentang minta segera disetubuhi. Lud tahu maksudku lalu dia menancapkan senjatanya kelubangku yg sdh mulai membuka dan basah. Baru beberapa kali kemaluannya Lud masuk keluar dilubangku, tiba2 suamiku masuk kamar dlm keadaan bugil dan senjatanya berdiri tegak. Melihat itu Lud segera mencabut kemaluannya dr lubangku dan mempersilahkan suamiku ganti utk menyetubuhiku. Yaah teman2 baru sekali ini aku merasakan kemaluannya suamiku tegang dan keras spt ini sejak ia sakit diabetes, tapi sayangnya baru beberapa kali kemaluannya masuk keluar dilubangku air maninya sdh menyemprot keluar dan menjadi lemas lagi. Tapi kali ini air maninya betul2 masuk kedalam lubangku sebab terasa hangatnya dlm perutku tidak spt biasanya yg hanya dipinggir luar saja sehingga langsung tumpah keluar kalau kemaluannya dicabut. Rupa2-nya suamiku bisa tegang itu karena mengintip dr pintu saat aku bermain roman dan akan disetubuhi oleh Lud. Langsung Lud memasukkan kemaluannya lagi setelah suamiku selesai dan dia terus menggenjot lubangku dgn kemaluannya, ternyata Lud tahan lama sebab aku sdh klimaks 2 kali hingga lubangku basah kuyup ditambah air maninya suamiku mulai mengalir keluar tapi Lud belum nyemprot juga maninya. Karena kelewat basahnya lubangku hingga timbul suara yg merangsang saat kemaluannya Lud masuk keluar dikemaluanku. Tanpa disangka suamiku yg masih dlm kamar dan melihat Lud menyetubuhiku dan mendengarkan rintihan2 nikmat drku, kemaluan suamiku bisa tegang lagi dan ia minta Lud utk berhenti dulu dan kemudian suamiku ganti yg menancapkan kemaluannya lagi kelubangku, kali ini juga hanya berlangsung kira2 2 menit air maninya sdh keluar lagi. Aku kemudian diminta menungging ditempat tidur hingga air maninya suamiku yg bercampur dgn lendirku meleleh keluar dipahaku, lalu Lud memasukkan kemaluanya dr belakang sambil membungkuk dgn kedua tangannya meremas kedua buah dadaku yg bergantungan. Lud makian lama makin keras dan cepat meng-hunjam2-kan kemaluannya kelubangku hingga aku 2 kali lagi mencapai klimaks baru akhirnya air maninya yg kurasakan kental sekali dan banyak itu berhamburan kedalam lubangku yg membuat hangat tubuhku dan kedua lututku jadi lemas sekali. Malam itu aku tidur disamping Lud dan suamiku tidur sendiri, karena saat fajar kemaluan Lud tegang lagi dan aku diminta utk melayani lagi utk menyalurkan nafsu sexnya sampai air maninya keluar tuntas. Sejak itu hampir tiap minggu sekali Lud bermalam dirumahku utk memberi siraman pdku dan merangsang nafsu sexnya suamiku.Bila pembantuku pulang Lud datang agak sore2 dan pulangnya agak siang jadi bisa bersetubuh 2-3 kali disore sampai malam hari dan fajar sampai jam 10 pagi bisa 2-3 kali lagi masih ditambah dgn suamiku 2 - 3kali tapi hanya sebentar2 saja. Dalam 6 kali bersetubuh dgn Lud itu aku bisa orgasme sampai 20 kali lebih sedang Lud hanya nyemprot sekali maninya tiap bersetubuh, hanya kalau sdh pagi maninya agak sedikit dan encer juga kurang hangat kalau pertama kali bentuknya menyerupai cendol dan banyak serta hangat sekali. Dgn kehadiran Lud, kehidupan rumah tanggaku tidak terganggu, aku tetap mencintai suamiku sadang dgn Lud tak ada perasaan apa2 hanya nafsu saja utk saling memberikan kepuasan sex. Inilah teman2 pengalamanku yg baru terjadi sejak dua bulan ini.

Cerita Antara Kita 5:09 pm

Hai para pembaca setia blogsome ini, aku akan menceritakan kembali tentang pengalaman seksku. Kejadian ini benar-benar kualami, dan bukan cerita bohong atau fiktif. Dan kejadian ini terjadi pada pertengahan bulan Januari 2001 (terserah pembaca untuk percaya atau tidak). Oh ya, namaku Dedi (24 tahun), aku seorang mahasiswa dan seorang karyawan di salah satu cybercafe terkenal di Bandung.

Seperti biasanya jika aku sedang suntuk atau sedang BT, aku selalu pergi ke warnet untuk mengecek atau chatting. Hari Sabtu, tepatnya tanggal 20 Januari 2001, jam 16.00 sore, saat itu aku sedang BT habis. Untuk menghilangkan BT-ku itu, aku langsung saja pergi ke warnet untuk chatting, dan seperti biasanya aku menggunakan nick **** (edited). Aku masuk ke channel-channel yang berbau seks. Alhasil aku mengobrol dengan seorang cewek dengan nick **** (edited), dan mengaku bernama Syalean dari Malaysia.

Umur Syalean lebih tua 1 tahun di atasku, aku ngobrol ngalor-ngidul hingga menyerempet masalah pribadi maupun masalah seks. Dia sendiri merupakan karyawan di sebuah bank di Kualalumpur, dan dia tanggal 23 January 2001 akan ke Jakarta dalam urusan kantor. Aku membujuk dia untuk dapat datang ke Bandung, dan hasilnya dia mau jika masih ada waktu. Saat itu juga kami janjian untuk kopi darat dan berjanji jika ke Bandung dia akan meneleponku.

Sabtu, tanggal 24 January 2001, HP (Handphone)-ku berbunyi dan tertulis nomor yang belum kukenal, terus kujawab langsung telepon itu,
“Hallo…” kataku.
“Hallo… ini Dedi Yach?” tanyanya.
“Benar, saya Dedi, ini siapa yach…?” balasku.
“Ini Syalean dari Kualalumpur yang masa (waktu) itu chatting sama awak (kamu),” katanya.
“Ooo… iya saya baru ingat… ada dimana nich?” tanyaku.
“Sekarang ini saya sudah sampai di Bandung, dan sekarang tidur di Hotel X,” katanya.
“Hah… sudah ada di Bandung… kapan datang ke Bandung?” balasku.
“Kapan nih kita bisa bertemu, bisa tidak kamu ke sini?” katanya.
“Nanti sore saya akan datang ke sana… kita bertemu dimana?” tanyaku.
“Ok… saya tunggu di ***** (edited) Hotel, jam 16.00 jangan sampai terlambat, ok…” katanya.

Tepat jam 16.25, aku meluncur ke hotel itu dengan menggunakan taxi, setelah sesampainya di depan hotel aku langsung menuju ke **** (edited) yang katanya itu. Aku terus mencari meja yang dihuni oleh seorang cewek, dan kulihat ternyata ada 1 meja yang ditempati oleh seorang wanita cantik, bodinya ok. Langsung kuhampiri dia dan langsung bertanya,
“Selamat sore… maaf apakah nona ini nona Sya?” tanyaku.
“Ini pasti Dedi kan…” balasnya.
“Silakan duduk, mau minum atau mau makan?” tanyanya.
“Nggak usah… cukup minum aja dech,” balasku.
Langsung dia memanggil pelayan dan memesan minuman. Dan kami pun langsung terlibat obrolan. Setelah lamanya kami mengobrol lalu dia mengajakku ke atas ke kamarnya. Lalu kami berdua pun beranjak ke kamar.

Di dalam kamarku, sudah tidak tahan lagi melihat kemolekan dan kecantikan wajahnya, langsung dengan semangat “45″ kupeluk dia lalu kucium bibirnya, ternyata tidak ada reaksi dia memberontak, malah dia membalas ciumanku di bibirnya. Sambil berciuman, tanganku mulai bergerilya, aku mulai meremas-remas payudaranya yang besar itu dan ternyata dia pun tidak mau kalah, dia juga meremas-remas batang kemaluanku dari luar celana.

Setelah lama aku berciuman lalu aku mulai membuka bajunya satu persatu hingga dia bugil. Sekarang tampaklah jelas dua buah dada yang besar dan putih itu yang sangat menantang, berukuran 36B, dan juga liang kemaluannya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu kemaluannya. Dan aku pun langsung membuka seluruh pakaian dan celanaku hingga bugil.

Setelah kami berdua bugil, lalu aku mengajaknya naik ke atas tempat tidur, di atas tempat tidur aku mulai menciumi dia dari atas lalu turun ke bawah kedua buah dadanya, kusedot-sedot dan kugigit-gigit kecil puting susunya yang merah itu yang kiri dan yang kanan secara bergantian. Lalu ciumanku mulai turun ke bawah ke daerah selangkangannya, kusibakkan bulu kemaluannya dan kumulai menjilat-jilat kemaluannya yang sudah basah itu sambil jariku, kumasukkan ke lubang kemaluannya sambil aku keluar-masukkan ke lubang kemaluan itu.

Selang beberapa lama, kami pun berubah posisi, kini kusuruh dia memainkan batang kemaluanku, dia mulai menjilat-jilat dan menyedot-nyedot batang kemaluanku, terasa nikmat ketika batang kemaluanku disedot oleh mulutnya sambil batang kemaluanku di kocok-kocok. Aksi sedotannya ke batang kemaluanku tidak lama sekitar 10 menit, lalu dia mulai merubah posisinya berjongkok tepat di atas batang kemaluanku, kemudian batang kemaluanku dituntunnya masuk ke dalam lubang kemaluannya, “Bleess… bleess…” Sekarang batang kemaluanku sudah berada di dalam lubang kemaluannya.

Lalu dia mulai menaik-turunkan pantatnya, dan terdengar desahan-desahan yang keluar dari mulutnya, “Akh… aakkhh… ssss…” sambil dia aktif menaik-turunkan pantatnya, tanganku pun sambil meramas-remas payudaranya.

Selang 10 menit kami pun berubah posisi, kini gantian dia menungging lalu kuarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya lewat belakang, “Bleess…” aku mulai mengocok-ngocok batang kemaluanku di lubang kemaluannya. Tanganku pun tidak mau diam, kuremes-remes payudaranya.

10 menit kemudian aku merasakan di lubang kemaluannya sudah basah, ternyata dia sudah keluar, tetapi aku masih terus mengocok-ngocok batang kemaluanku di lubang kemaluan dia. Selang 3 menit kurubah posisi, kusuruh dia tiduran dan kubuka lebar-lebar kedua pahanya dan kuangkat kakinya ke atas, dan kuarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya dan “Bleess…” aku mulai mengocok lagi batang kemaluanku.

20 menit kemudian aku merasakan aku sudah tidak tahan mau keluar, aku mulai mempercepat kocokan batang kemaluanku, dan aku tanya sama dia, “Sayang, mau keluar nih… di dalam atau di luar?” tanyaku, lalu dijawab, “Di luar saja,” dan akhirnya kucabut batang kemaluanku dan kuarahkan ke mulutnya untuk disedot-sedot dan… “Crrooott… crroott… crrrooott…” air surgaku keluar di dalam mulutnya. Air surga itu oleh dia ditelannya dan batang kemaluanku dibersihkan oleh lidahnya dari noda spermaku. Seketika itu juga kami berdua jatuh terkulai lemas di kasur.

Di saat kami sedang istirahat dan mengatur nafas, burungku masih digenggam oleh tangannya sambil mengocok-ngocoknya. Seketika itu juga batang kemaluanku sudah berdiri dan tegang lagi, lalu dia mengucapkan,
“Ded… kamu pintar sekali, saya puas sekali, ayo kita lanjutin lagi!” katanya.
“Ok.. tuch kan liat dipegangin terus jadi berdiri dech ‘adek’ aku…” candaku.
“Akhh… kamu bisa saja.. (sambil memencet dan mencium batang kemaluanku),” balasnya.
“Sekarang mainin dong kemaluanku!” kataku.
Tanpa basa-basi lagi batang kemaluanku sudah masuk di dalam mulutnya, terasa nikmat saat batang kemaluanku dikenyot-kenyot, dan dikocok-kocok. Lalu dia merubah posisnya (gaya 69) dia mulai naik ke atas badanku dan mengarahkan lubang kemaluannya ke mukaku, aku tahu apa maksudnya, langsung saja kujilati sambil memasukkan jari-jariku ke dalam lubang kemaluannya. Kudengar dia mulai mendesah-desah, “Akkhhh… aakkhhh…” sambil terus mengulum-ngulum batang kemaluanku.

Selang 5 menit kami pun merubah posisi lagi. Kini dia berjongkok di atas selangkanganku, dan batang kemaluanku diarahkan dan dibimbing oleh tangannya masuk ke dalam lubang kemaluannya, dan “Bleess… bleess…” batang kemaluanku sudah masuk lagi ke dalam lubang kemaluannya, dan dia mulai menaik-turunkan pantatnya dan sesekali pantatnya diputar-putar. Saat pantatnya diputar-putar terasa beda sekali dan terasa nikmat.

Sambil batang kemaluanku masuk di lubang kemaluannya, tanganku meremas-remas kedua payudaranya, sambil puting susunya kutarik-tarik, dan dia pun menjerit kecil, “Oww… aahhkkk… terus sayang… enak…” desahnya. 4 menit kemudian kurubah posisinya lagi, kusuruh dia tiduran miring, lalu kumasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya dari belakang, sambil kuangkat kaki kanannya ke atas, terus kukocok-kocok batang kemaluanku di lubang kemaluannya. Dan dia pun mulai menyeimbangkan permainanku dengan memaju-mundurkan pantatnya. Beberapa menit kemudian dia sudah mau keluar, “Ahhkkk… aakkhh… aahkkhh…” aku merasakan lubang kemaluannya basah dan dia pun sudah orgasme, karena aku masih belum keluar, maka kurubah posisinya lagi. Kubaringkan dia, dan aku di atas dia lalu kukocok dan selang 4 menit kemudian ada rasa-rasa aku mau keluar, lalu kubilang sama dia, “Sayang, sudah mau keluar nich… di luar apa di dalam?” tanyaku. Dijawab, “Di luar aja…”

Lalu kocokkan mulai cepat, rasa mau keluar itu sudah ada di ujung, seketika itu juga batang kemaluanku, kucabut dari lubang kemaluannya, lalu kuarahkan batang kemaluanku ke mukanya, kukocok-kocok batang kemaluanku sendri dan… “Crooottt… crrroott…” spermaku menyemprot ke muka dia, lalu kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya minta dibersihkan oleh lidahnya hingga bersih. Setelah permainan nikmat itu selesai akhirnya kami berdua pun tidur pulas masih dengan bertelanjang ria alias bugil.

Nah, para pembaca setia blogsome ini, pembaca boleh percaya atau tidak akan ceritaku, tapi yang jelas ini kejadian yang benar-benar aku alami. Jika ada saran, kritik ataupun ajakan main seks denganku, bisa menghubungiku melalui e-mail.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:06 pm

Fanny Damayanti, adalah seorang gadis dengan wajah cantik, alis matanya melengkung, dan mata indah serta jernih, dilindungi oleh bulu mata lentik, hidung mancung serasi melengkapi kecantikannya, ditambah dengan bibir mungil merah alami yang serasi pula dengan wajahnya. Rambutnya yang hitam dan dipotong pendek menjadikannya lebih menarik, kulitnya putih mulus dan terawat, badannya mulai tumbuh begitu indah dan seksi. Dia tumbuh di kalangan keluarga yang cukup berada dan menyayanginya. Usianya baru 15 tahun, kadang sifatnya masih kekanakan. Badannya tidak terlalu tinggi berkisar 155 cm, badannya ideal dengan tinggi badannya, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus.

Seminggu yang lalu Fanny mulai rutin mengikuti les privat Fisika di rumahku, Renne Lobo, aku seorang duda. Aku mempunyai sebuah rumah mungil dengan dua buah kamar, diantaranya ada sebuah kamar mandi yang bersih dan harum. Kamar depan diperuntukkan ruang kerja dan perpustakaan, buku-buku tersusun rapi di dalam rak dengan warna-warna kayu, sama seperti meja kerja yang di atasnya terletak seperangkat komputer. Sebuah lukisan yang indah tergantung di dinding, lukisan itu semakin tampak indah di latar belakangi oleh warna dinding yang serasi. Ruang tidurnya dihiasi ornamen yang serasi pula, dengan tempat tidur besar dan pencahayaan lampu yang membuat suasana semakin romantis. Ruang tamu ditata sangat artistik sehingga terasa nyaman.

Rumahku memang terkesan romantis dengan terdengar pelan alunan lagu-lagu cinta, Fanny sedang mengerjakan tugas yang baru kuperintahkan. Dia terlalu asyik mengerjakan tugas itu, tanpa sengaja penghapusnya jatuh tersenggol. Fanny berusaha menggapai ke bawah bermaksud untuk mengambilnya, tapi ternyata dia memegang tanganku yang telah lebih dulu mengambilnya. Fanny kaget melihat ke arahku yang sedang tersenyum padanya. Fanny berusaha tersenyum, saat tangan kirinya kupegang dan telapak tangannya kubalikkan dengan lembut, kemudian kutaruh penghapus itu ke dalam telapak tangannya.

Aku sebagai orang yang telah cukup berpengalaman dapat merasakan getaran-getaran perasaan yang tersalur melalui jari-jari gadis itu, sambil tersenyum aku berkata, “Fan, kamu tampak lebih cantik kalau tersenyum seperti itu”. Kata-kataku membuat gadis itu merasa tersanjung, dengan tidak sadar Fanny mencubit pahaku sambil tersenyum senang.

“Udah punya pacar Fan?”, godaku sambil menatap Fanny.
“Belum, Kak!”, jawabnya malu-malu, wajahnya yang cantik itu bersemu merah.
“Kenapa, kan temen seusiamu sudah mulai punya pacar”, lanjutku.
“Habis mereka maunya cuma hura-hura kayak anak kecil, caper”, komentarnya sambil melanjutkan menulis jawaban tugasnya.
“Ohh!”, aku bergumam dan beranjak dari tempat duduknya, mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.
“Minum Coca Cola apa Fanta, Fan?”, lanjutku.
“Apa ya! Coca Cola aja deh Kak”, sahutnya sambil terus bekerja.
Aku mambawa dua kaleng minuman dan mataku terus melihat dan menelusuri tubuh Fanny yang membelakangi, ternyata menarik juga gadis ini, badannya yang semampai dan bagus cukup membuatku bergairah, pikirku sambil tersenyum sendiri.

“Sudah Kak”, suara Fanny mengagetkan lamunanku, kuhampiri dan kusodorkan sekaleng Coca-Cola kesukaan gadis itu. Kemudian aku memeriksa hasil pekerjaan itu, ternyata benar semua.
“Ahh, ternyata selain cantik kamu juga pintar Fan “, pujiku dan membuat Fanny tampak tersipu dan hatinya berbunga-bunga.
Aku yang sengaja duduk di sebelah kanannya, melanjutkan menerangkan pemecahan soal-soal lain, Bau wangi parfum yang kupakai sangat lembut dan terasa nikmat tercium hidung, mungkin itu yang membuatnya tanpa sadar bergeser semakin dekat padaku.

Pujian tadi membuatnya tidak dapat berkonsentrasi dan berusaha mencoba mengerti apa yang sedang dijelaskan, tapi gagal. Aku yang melihatnya tersenyum dalam hati dan sengaja duduk menyamping, agak menghadap pada gadis itu sehingga instingku mengatakan hatinya agak tergetar.

“Kamu bisa ngerti yang baru kakak jelaskan Fan”, kataku sambil melihat wajah Fanny lewat sudut mata.
Fanny tersentak dari lamunannya dan menggeleng, “Belum, ulang dong Kak!”, sahutnya. Kemudian aku mengambil kertas baru dan diletakkan di depannya, tangan kananku mulai menuliskan rumus-rumus sambil menerangkan, tangan lainnya diletakkan di sandaran kursi tempatnya duduk dan sesekali aku sengaja mengusap punggungnya dengan lembut.

Fanny semakin tidak bisa berkonsentrasi, saat merasakan usapan lembut jari tanganku itu, jantungnya semakin berdegup dengan keras, usapan itu kuusahakan senyaman dan selembut mungkin dan membuatnya semakin terlena oleh perasaan yang tak terlukiskan. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi lagi. Tanpa terasa matanya terpejam menikmati belaian tangan dan bau parfum yang lembut.

Dia berusaha melirikku, tapi aku cuek saja, sebagai perempuan yang selalu ingin diperhatikan, Fanny mulai mencoba menarik perhatianku. Dia memberanikan diri meletakkan tangan di atas pahaku. Jantungnya semakin berdegup, ada getaran yang menjalar lembut lewat tanganku.

Selesai menerangkan aku menatapnya dengan lembut, dia tak kuasa menahan tatapan mata yang tajam itu, perasaannya menjadi tak karuan, tubuhnya serasa menggigil saat melihat senyumku, tanpa sadar tangan kirinya meremas lembut pahaku, akhirnya Fanny menutup mata karena tidak kuat menahan gejolak didadanya. Aku tahu apa yang dirasakan gadis itu dengan instingku.

“Kamu sakit?”, tanyaku berbasa basi. Fanny menggelengkan kepala, tapi tanganku tetap meraba dahinya dengan lembut, Fanny diam saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku genggam lembut jari tangan kirinya.

Udara hangat menerpa telinganya dari hidungku, “Kamu benar-benar gadis yang cantik, dan telah tumbuh dewasa Fan”, gumamku lirih. pujian itu membuat dirinya makin bangga, tubuhnya bergetar, dan nafasnya sesak menahan gejolak di dadanya. Dan Fanny ternyata tak kuasa untuk menahan keinginannya meletakkan kepalanya di dadaku, “Ahh..”, Fanny mendesah kecil tanpa disadari.

Aku sadar gadis ini mulai menyukaiku, dan berhasil membangkitkan perasaan romantisnya. Tanganku bergerak mengusap lembut telinga gadis itu, kemudian turun ke leher, dan kembali lagi naik ke telinga beberapa kali. Fanny merasa angan-angannya melambung, entah kenapa dia pasrah saja saat aku mengangkat dagunya, mungkin terselip hatinya perasaan ingin terus menikmati belaian-belaian lembut itu.

“Kamu memang sangat cantik dan aku yakin jalan pikiranmu sangat dewasa, Aku kagum!”, kataku merayu.
Udara hangat terasa menerpa wajahya yang cantik, disusul bibir hangatku menyentuh keningnya, lalu turun pelan ke telinga, hangat dan lembut, perasaan nikmat seperti ini pasti belum pernah dialaminya. Anehnya dia menjadi ketagihan, dan merasa tidak rela untuk cepat-cepat mengakhiri semua kejadian itu.

“Ja.., jangan Kak”, pintanya untuk menolak. Tapi dia tidak berusaha untuk mengelak saat bibir hangatku dengan lembut penuh perasaan menyusuri pipinya yang lembut, putih dan halus, saat merasakan hangatnya bibirku mengulum bibirnya yang mungil merah merekah itu bergeter, aku yakin baru pertama kali ini dia merasakan nikmatnya dikulum dan dicium bibir laki-laki.

Jantung di dadanya berdegup makin keras, perasaan nikmat yang menyelimuti hatinya semakin membuatnya melambung. “Uuhh..!”, hatinya tergelitik untuk mulai membalas ciuman dan kuluman-kuluman hangatku.

“Aaahh..”, dia mendesah merasakan remasanku lembut di payudara kiri yang menonjol di dadanya, seakan tak kuasa melarang. Dia diam saja, remasan lembut menambah kenikmatan tersendiri baginya.
“Dadamu sangat indah Fan”, sebuah pujian yang membuatnya semakin mabuk, bahkan tangannya kini memegang tanganku, tidak untuk melarangnya, tapi ikut menekan dan mengikuti irama remasan di tanganku. Dia benar-benar semakin menikmatinya. Serdadukupun mulai menegang.

“Aaahh”, Fanny mendesah kembali dan pahanya bergerak-gerak dan tubuhnya bergetar menandakan vaginanya mulai basah oleh lendir yang keluar akibat rangsangan yang dialaminya, hal itu membuat vaginanya terasa geli, merupakan kenikmatan tersendiri. Dia semakin terlena diantara degup-degup jantung dan keinginannya untuk mencapai puncak kenikmatan. Diimbanginya kuluman bibir dan remasan lembut di atas buah dadanya.

Saat tanganku mulai membuka kancing baju seragamnya, tangannya mencoba menahannya.
“Jangan nanti dilihat orang”, pintanya, tapi tidak kupedulikan. Kulanjutkan membuka satu persatu, dadanya yang putih mulus mulai terlihat, buah dadanya tertutup bra warna coklat.

Seakan dia sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya, hanya kenikmatan yang ingin dicapainya, dia pasrah saat kugendong dan merebahkannya di atas tempat tidur yang bersprei putih. Di tempat tidur ini aku merasa lebih nyaman, semakin bisa menikmati cumbuan, dibiarkannya dada yang putih mulus itu makin terbuka.

“Auuuhh”, bibirku mulai bergeser pelan mengusap dan mencium hangat di lehernya yang putih mulus. “Aaaahh”, dia makin mendesah dan merasakan kegelian lain yang lebih nikmat.

Aku semakin senang dengan bau wangi di tubuhnya. “Tubuhmu wangi sekali”, kembali rayuan itu membuatnya makin besar kepala. Tanganku itu dibiarkan menelusuri dadanya yang terbuka. Fanny sendiri tidak kuasa menolak, seakan ada perasaan bangga tubuhnya dilihat dan kunikmati. Tanganku kini menelusuri perutnya dengan lembut, membuatnya menggelinjang kegelian. Bibir hangatku beralih menelusuri dadanya.

“Uhh.!”, tanganku menarik bajunya ke atas hingga keluar dari rok abu-abunya, kemudian jari-jarinya melepas kancing yang tersisa dan menari lembut di atas perutnya. “Auuuhh” membuatnya menggelinjang nikmat, perasaannya melambung mengikuti irama jari-jariku, sementara serdaduku terasa makin tegang.

Dia mulai menarik kepalaku ke atas dan mulai mengimbagi ciuman dan kuluman, seperti caraku mengulum dan mencium bibirnya. “Ooohh”, terdengar desah Fanny yang semakin terlena dengan ciuman hangat dan tarian jari-jariku diatas perutnya, kini dada dan perutnya terlihat putih, mulus dan halus hanya tertutup bra coklat muda yang lembut.

Aku semakin tegang hingga harus mengatur gejolak birahi dengan mengatur pernafasanku, aku terus mempermainkan tubuh dan perasaan gadis itu, kuperlakukan Fanny dengan halus, lembut, dan tidak terburu-buru, hal ini membuat Fanny makin penasaran dan makin bernafsu, mungkin itu yang membuat gadis itu pasrah saat tanganku menyusup ke belakang, dan membuka kancing branya.

Tanganku mulai menyusup di bagian dada yang menonjol di bawah bra gadis itu, terasa kenyal dan padat di tanganku.
“Aaahh.. Uuuhh. ooohh”, Fanny menggelinjang gelinjang geli dan nikmat, jemari itu menari dan mengusap lembut di atas buah dadanya yang mulai berkembang lembut dan putih, seraya terus berpagutan. Dia merasa semakin nikmat, geli dan melambungkan angan-angannya.

Ujung jariku mulai mempermainkan puting susunya yang masih kecil dan kemerahan itu dengan sangat hati-hati. “Kak.. Aaahh.. uuhh.. ahh”. Fanny mulai menunjukkan tanda-tanda terangsang hingga berusaha ikut membuka kancing bajuku, agak susah, tapi dia berhasil. Tangannya menyusup kebalik baju dan mengelus dadaku, sementara birahinya makin memuncak. “Ngghh.. “, vaginanya yang basah semakin membuatnya nikmat, pikirku. Fanny menurut ketika badannya diangkat sedikit, dibiarkannya baju dan branya kutanggalkan, lalu dilempar ke samping tempat tidur.

Sekarang tubuh bagian atasnya tidak tertutup apapun, dia tampak tertegun dan risih sejenak, saat mataku menelusuri lekuk tubuhnya. Di sisi lain dia merasa kagum dengan dua gunung indah yang masih perawan yang menyembul di atas dadanya, belum pernah terjamah oleh siapapun selain dirinya sendiri. Sedangkan aku tertegun sejenak melihat pemandangan di depan mataku, birahiku bergejolak kembali, aku berusaha mengatur pernafasan, karena tidak ingin melepaskan nafsu binatangku hingga menyakiti perasaan gadis cantik yang tergolek pasrah di depanku ini.

Aku mulai mengulum buah dada gadis itu perlahan, terasa membusung lembut, putih dan kenyal. Diperlakukan seperti itu Fanny menggelinjang, “Ahh.. uuuhh.. aaahh”. Pengalaman pertamanya ini membuat angan-angannya terbang tinggi. Buah dadanya yang putih, lembut, dan kenyal itu terasa nikmat kuhisap lembut, tarian lidah diputing susunya yang kecil kemerahan itu mulai berdiri dan mengeras.

“Aaahh..!”, dia merintih geli dan makin mendekap kepalaku, vaginanya mungkin kini terasa membanjir. Birahinya semakin memuncak. “Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. Uhh”, rintihnya makin panjang. Aku terus mempermainkan buah dada gadis lugu itu dengan bibir dan lidahku, sambil membuka kancing bajuku sendiri satu persatu, kemudian baju itu kutanggalkan, terlihat dadaku yang bidang dan atletis.

Kembali ujung bibirnya kukulum, terasa geli dan nikmat. Saat Fanny akan membalas memagutnya, telapak tangannya kupegang dan kubimbing naik ke atas kepalanya. Aku mulai mencium dan menghisap lembut, dan menggigit kecil tangan kanannya, mulai dari pangkal lengan, siku sampai ujung jarinya diisap-isap. Membuatnya bertambah geli dan nikmat. “Geli.. ahh.. ohh!”
Perasaannya melambung kembali, ketika buah dadanya dikulum, dijilati dan dihisap lembut. “Uuuhh.!”, dia makin mendekapkan kepalaku, itu akan membuat vaginanya geli, membuat birahinya semakin memuncak.
“Kak.. ahh, terus kak.. ahh.. ssst.. uhh”, dia merintih rintih dan menggelinjang, sesekali kakinya menekuk ke atas, hingga roknya tersingkap.

Sambil terus mempermainkan buah dada gadis itu. aku melirik ke paha mulus, indah terlihat di antara rok yang tersingkap. Darahku berdesir, kupindahkan tanganku dan terus menari naik turun antara lutut dan pangkal paha putih mulus, masih tertutup celana yang membasah, Aku merasakan birahi Fanny semakin memuncak. Aku terus mempermainkan buah dada gadis itu.
“Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. uhh”, terdengar gadis itu merintih panjang. Aku dengan pelan dan pasti mulai membuka kancing, lalu menurunkan retsleting rok abu-abu itu, seakan Fanny tidak peduli dengan tindakanku itu. Rangsangan yang membuat birahinya memuncak membuatnya bertekuk lutut, menyerah.

“Jangan Kak.. aahh”, tapi aku tidak peduli, bahkan kemudian Fanny malah membantu menurunkan roknya sendiri dengan mengangkat pantatnya. Aku tertegun sejenak melihat tubuh putih mulus dan indah itu. Kemudian badan gadis itu kubalikkan sehingga posisinya tengkurap, bibirku merayap ke leher belakang dan punggung.

“Uuuhh”, ketika membalikkan badan, Fanny melihat sesuatu yang menonjol di balik celana dalamku. Dia kaget, malu, tapi ingin tahu. “Aaahh”. Fanny mulai merapatkan kakinya, ada perasaan risih sesaat, kemudian hilang kalah oleh nafsu birahi yang telah menyelimuti perasaannya. “Ahh..”, dia diam saja saat aku kembali mencium bibirnya, membimbing tangannya ke bawah di antara pangkal paha, dia kini memegang dan merasakan serdadu yang keras bulat dan panjang di balik celanaku, sejenak Fanny sejenak mengelus-elus benda yang membuat hatinya penasaran, tapi kemudian dia kaget dan menarik tangannya.

“Aaahh”, Fanny tak kuberikan kesempatan untuk berfikir lain, ketika mulutku kembali memainkan puting susu mungil yang berdiri tegak dengan indahnya di atas tonjolan dada. Vaginanya terasa makin membanjir, hal ini membuat birahinya makin memuncak. “Ahh.. ahh.. teruuus.. ahh.. uhh”, sambil terus memainkan buah dadanya, tanganku menari naik turun antara lutut dan pangkal pahanya yang putih mulus yang masih tertutup celana. Tanpa disadarinya, karena nikmat, tanganku mulai menyusup di bawah celana dalamnya dan mengusap-usap lembut bawah pusar yang mulai ditumbuhi rambut, pangkal paha, dan pantatnya yang kenyal terbentuk dengan indahnya bergantian.

“Teruuuss.. aaahh.. uuuhh”, karena geli dan nikmat Fanny mulai membuka kakinya, jari-jari Rene yang nakal mulai menyusup dan mengelus vaginanya dari bagian luar celana, birahinya memuncak sampai kepala.
“Ahh.. terus.. ahh.. ohh”, gadis itu kaget sejenak, kemudian kembali merintih rintih. Melihat Fanny menggelinjang kenikmatan, tanganku mencoba mulai menyusup di balik celana melalui pangkal paha dan mengelus-elus dengan lembut vaginanya yang basah lembut dan hangat. Fanny makin menggelinjang dan birahinya makin membara. “Ahh.. teruusss ooh”, Fanny merintih rintih kenikmatan.

Aku tahu gadis itu hampir mencapai puncak birahi, dengan mudah tanganku mulai beraksi menurunkan celana dalam gadis itu perlahan. Benar saja, Fanny membiarkannya, sudah tidak peduli lagi bahkan mengangkat pantat dan kakinya, sehingga celana itu terlepas tanpa halangan.

Tubuh gadis itu kini tergolek bugil di depan mataku, tampak semakin indah dan merangsang. Pangkal pahanya yang sangat bagus itu dihiasi bulu-bulu lembut yang mulai tumbuh halus. Vaginanya tampak kemerahan dan basah dengan puting vagina mungil di tengahnya. Aku terus memainkan puting susu yang sekarang berdiri tegak sambil terus mengelus bibir vagina makin membanjir. “Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. uhh”.

Vagina yang basah terasa geli dan gatal, nikmat sampai ujung kepala. “Kak.. aahh”, Fanny tak tahan lagi dan tangannya menyusup di bawah celana dalamku dan memegang serdadu yang keras bulat dan panjang itu. Fanny tidak merasa malu lagi, bahkan mulai mengimbangi gerakanku.

Aku tersenyum penuh kemenangan melihat tindakan gadis itu, secara tidak langsung gadis itu meminta untuk bertindak lebih jauh lagi. Aku melepas celana dalamku, melihat serdaduku yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, mata gadis itu terbelalak kagum.

Sekarang kami tidak memakai penutup sama sekali. Fanny kagum sampai mulutnya menganga melihat serdadu yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, baru pertama kali dia melihat benda itu. Vaginanya pasti sudah sangat geli dan gatal, dia tidak peduli lagi kalau masih perawan, kemudian telentang dan pelan-pelan membuka leber-lebar pahanya.

Sejenak aku tertegun melihat vagina yang bersih kemerahan dan dihisi bulu-bulu yang baru tumbuh, lubang vaginanya tampak masih tertutup selaput perawan dengan lubang kecil di tengahnya.

Fanny hanya tertegun saat aku berada di atasnya dengan serdadu yang tegak berdiri. Sambil bertumpu pada lutut dan siku, bibirku melumat, mencium, dan kadang menggigit kecil menjelajahi seluruh tubuhnya. Kuluman di puting susu yang disertai dengan gesekan-gesekan ujung burung ke bibir vaginanya kulakukan dengan hati-hati, makin membasah dan nikmat tersendiri. “Kak.. ahh, terus ssts.. ahh.. uhh”, birahinya memuncak bisa-bisa sampai kepalanya terasa kesemutan, dipegangnya serdaduku. “Ahh” terasa hangat dan kencang.

“Kak.. ahh!”, dia tak dapat lagi menahan gejolak biraninya, membimbing serdaduku ke lubang vaginanya, dia mulai menginginkan serdaduku menyerang ke lubang dan merojok vaginanya yang terasa sangat geli dan gatal. “Uuuhh.. aaahh”, tapi aku malah memainkan topi baja serdaduku sampai menyenggol-nyenggol selaput daranya. “Ooohh Kak masukkan ahh”, gadis itu sampai merintih rintih dan meminta-minta dengan penuh kenikmatan.

Dengan hati-hati dan pelan-pelan aku terus mempermainkan gadis itu dengan serdaduku yang keras, hangat tapi lembut itu menyusuri bibir vagina.
“Ooohh Kak masukkan aaahh”, di sela rintihan nikmat gadis itu, setelah kulihat puting susunya mengeras dan gerakannya mulai agak lemas, serdadu mulai menyerang masuk dan menembus selaput daranya, Sreetts “Aduuhh.. aahh”, tangannya mencengkeram bahuku. Dengan begitu, Fanny hanya merasa lubang vaginanya seperti digigit nyamuk, tidak begitu sakit, saat selaput dara itu robek, ditembus serdaduku yang besar dan keras. Burungku yang terpercik darah perawan bercampur lendir vaginanya terus masuk perlahan sampai setengahnya, ditarik lagi pelan-pelan dan hati-hati. “Ahh”, dia merintih kenikmatan.

Aku tidak mau terburu-buru, aku tidak ingin lubang vagina yang masih agak seret itu menjadi sakit karena belum terbiasa dan belum elastis. Burung itu masuk lagi setengahnya dan.. Sreeets “Ohh..”, kali ini tidak ada rasa sakit, Fanny hanya merasakan geli saat dirasakan burung itu keluar masuk merojok vaginanya. Fanny menggelinjang dan mengimbangi gerakan dan mendekap pinggangnya.

“Kak.. ahh, terus Kak.. ohh.. uhh”, serdaduku terus menghunjam semakin dalam. Ditarik lagi, “Aaahh”, masuk lagi. “Ahh, terus… ahh.. uhh”, lubang vagina itu makin lama makin mengembang, hingga burung itu bisa masuk sampai mencapai pangkalnya beberapa kali. Fanny merasakan nikmat birahinya memuncak di kepala, perasaannya melayang di awan-awan, badannya mulai bergeter getar dan mengejang, dan tak tertahankan lagi. “Aaahh, ooohh, aaahh” vaginanya berdenyut-denyut melepas nikmat. Dia telah mencapai puncak orgasme, kemudian terlihat lega yang menyelimuti dirinya.

Melihat Fanny sudah mencapai orgasme, aku kini melepas seluruh rasa birahi yang tertahan sejak tadi dan makin cepat merojok keluar masuk lubang vagina Fanny, “Kak.. ahh.. ssst.. ahh.. uhh”, Fanny merintih dan merasakan nikmat birahinya memuncak kembali. Badannya kembali bergetar dan mengejang, begitu juga denganku.
“Ahh.. oohh.. ohh.. aaaahh!”, kami merintih rintih panjang menuju puncak kenikmatan. Dan mereka mencapai orgasme hampir bersamaan, terasa serdadu menyemburkan air mani hangat ke dalam vagina gadis itu yang masih berdenyut nikmat.

Aku mengeluarkan serdadu yang terpercik darah perawan itu pelan-pelan, berbaring di sebelah Fanny dan memeluknya supaya Fanny merasa aman, dia tampak merasa sangat puas dengan pelajaran tahap awal yang kuberikan.
“Bagaimana kalau Fanny hamil Kak”, katanya sambil sudut matanya mengeluarkan air mata.
Sesaat kemudian aku dengan sabar menjelaskan bahwa Fanny tidak mungkin hamil, karena tidak dalam masa siklus subur, berkat pengalamanku menganalisa kekentalan lendir yang keluar dari vagina dan siklus menstruasinya.

Fanny semakin merasa lega, aman, merasa disayang. Kejadian tadi bisa berlangsung karena merupakan keinginan dan kerelaannya juga. Diapun bisa tersenyum puas dan menitikkan air mata bahagia, kemudian tertidur pulas dipelukanku yang telah menjadikannya seorang perempuan.

Bangun tidur, Fanny membersihkan badan di kamar mandi. Selesai mandi dia kembali ke kamar, dilepasnya handuk yang melilit tubuhnya, begitu indah dan menggairahkan sampai-sampai aku tak berkedip memandangnya. Diambilnya pakaian yang berserakan dan dikenakannya kembali satu persatu. Kemudian dia pamit pulang dan mencium pipiku yang masih berbaring di tempat tidur.

TAMAT