Peace, Love, Unity & RespectSeptember 7, 2006 7:37 pm

Siang itu panas sekali ketika aku melangkah keluar dari kampus menuju ke mobilku di tempat parkir. Segera kupacu pulang mobilku, tapi sebelumnya mampir dulu beli es dawet di kios di pinggir jalan menuju arah rumahku. Setelah sampai rumah dan kumasukkan mobil ke garasi, segera kuganti baju dengan seragam kebesaran, yaitu kaos kutang dengan celana kolor. Kucuci tangan dan muka, kemudian kuhampiri meja makan dan mulai menyantap makan siang lalu ditutup dengan minum es dawet yang kubeli tadi, uaaaah… enak sekali… jadi terasa segar tubuh ini karena es itu.

Setelah cuci piring, kemudian aku duduk di sofa, di ruang tengah sambil nonton MTV, lama kelamaan bosan juga. Habis di rumah tidak ada siapa-siapa, adikku belum pulang, orang tua juga masih nanti sore. Pembantu tidak punya. Akhirnya aku melangkah masuk ke kamar dan kuhidupkan kipas angin, kuraih majalah hiburan yang kemarin baru kubeli. Kubolak-balik halaman demi halaman, dan akhirnya aku terhanyut.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi, aku segera beranjak ke depan untuk membuka pintu. Sesosok makhluk cantik berambut panjang berdiri di sana. Sekilas kulihat wajahnya, sepertinya aku pernah lihat dan begitu familiar sekali, tapi siapa ya..?
“Cari siapa Mbak..?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Ehm… bener ini Jl. Garuda no.20, Mas..?” tanya cewek itu.
“Ya bener disini, tapi Mbak siapa ya..? dan mau ketemu dengan siapa..?” tanyaku lagi.
“Maaf Mas, kenalkan… nama saya Rika. Saya dapat alamat ini dari temen saya. Mas yang namanya Adi ya..?” sambil cewek itu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Segera kusambut, aduuuh… halus sekali tanganya.
“Eng… iya, emangnya temen Mbak siapa ya..? kok bisa tau alamat sini..?” tanyaku.
“Anu Mas, saya dapat alamat ini dari Bimo, yang katanya temennya Mas Adi waktu SMA dulu…” jelas cewek itu.

Sekilas aku teringat kembali temanku, Bimo, yang dulu sering main kemana-mana sama aku.
“Oooh… jadi Mbak Rika ini temennya Bimo, ayo silahkan masuk… maaf tadi saya interogasi dulu.”
Setelah kami berdua duduk di ruang tamu baru aku tersadar, ternyata Rika ini memang dahsyat, benar-benar cantik dan seksi. Dia saat itu memakai mini skirt dan kaos ketat warna ungu yang membuat dadanya tampak membusung indah, ditambah wangi tubuhnya dan paha mulus serta betis indahnya yang putih bersih menantang duduk di hadapanku. Sekilas aku taksir payudaranya berukuran 34B.

Setelah basa-basi sebentar, Rika menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu ingin tanya-tanya tentang jurusan Public Relation di fakultas Fisipol tempat aku kuliah. Memang Rika ini adalah cewek pindahan dari kota lain yang ingin meneruskan di tempat aku kuliah. Aku sendiri di jurusan advertising, tapi temanku banyak yang di Public Relation (yang kebanyakan cewek-cewek cakep dan sering jadi model buat mata kuliah fotografi yang aku ambil), jadi sedikit banyak aku tahu.

Kami pun cepat akrab dan hingga terasa tidak ada lagi batas di antara kami berdua, aku pun sudah tidak duduk lagi di hadapannya tapi sudah pindah di sebelah Rika. Sambil bercanda aku mencuri-curi pandang ke wajah cantiknya, paha mulusnya, betis indahnya, dan tidak ketinggalan dadanya yang membusung indah yang sesekali terlihat dari belahan kaos ketatnya yang berleher rendah. Terus terang saja si kecil di balik celanaku mulai bangun menggeliat, ditambah wangi tubuhnya yang membuat terangsang birahiku.

Aku mengajak Rika untuk pindah ke ruang tengah sambil nonton TV untuk meneruskan mengobrol. Rika pun tidak menolak dan mengikutiku masuk setelah aku mengunci pintu depan. Sambil ngemil hidangan kecil dan minuman yang kubuat, kami melanjutkan ngobrol-ngobrol. Sesekali Rika mencubit lengan atau pahaku sambil ketawa-ketiwi ketika aku mulai melancarkan guyonan-guyonan. Tidak lama, adik kecilku di balik celana tambah tegar berdiri. Aku kemudian usul ke Rika untuk nonton VCD saja. Setelah Rika setuju, aku masukkan film koleksiku ke dalam player. Filmnya tentang drama percintaan yang ada beberapa adegan-adegan ranjang. Kami berdua pun asyik nonton hingga akhirnya sampai ke bagian adegan ranjang, aku lirik Rika matanya tidak berkedip melihat adegan itu.

Kuberanikan diri untuk merangkul bahu Rika, ternyata dia diam saja tidak berusaha menghindar. Ketika adegan di TV mulai tampak semakin hot, Rika mulai gelisah, sesekali kedua paha mulusnya digerak-gerakkan buka tutup. Wah, gila juga nih cewek, seakan-akan dia mengundang aku untuk menggumulinya. Aku beranikan diri untuk mengelus-elus lengannya, kemudian rambutnya yang hitam dan panjang. Rika tampak menikmati, terbukti dia langsung ngelendot manja ke tubuhku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, langsung kupeluk tubuh hangatnya dan kucium pipinya. Rika tidak protes, malah tangannya sekarang diletakkan di pahaku, dan aku semakin terangsang lalu kuraih dagunya. Kupandang mata bulat indahnya, sejenak kami berpandangan dan entah siapa yang memulai tiba-tiba, kami sudah berpagutan mesra. Kulumat bibir bawahnya yang tebal nan seksi itu dan Rika membalas, tangannya yang satu memeluk leherku, sedang yang satunya yang tadinya di pahaku sekarang sudah mengelus-elus yuniorku yang sudah super tegang di balik celanaku.

Lidah kami saling bertautan dan kecupan-kecupan bibir kami menimbulkan bunyi cepak cepok, yang membuat semakin hot suasana dan seakan tidak mau kalah dengan adegan ranjang di TV. Tanganku pun tidak mau tinggal diam, segera kuelus paha mulusnya, Rika pun memberi kesempatan dengan membuka pahanya lebar-lebar, sehingga tanganku dengan leluasa mengobok-obok paha dalamnya sampai ke selangkangan. Begitu bolak-balik kuelus dari paha lalu ke betis kemudian naik lagi ke paha. Sambil terus melumat bibirnya, tanganku sudah mulai naik ke perutnya kemudian menyusup terus ke dadanya. Kuremas dengan gemas payudaranya walau masih tertutup kaos, Rika merintih lirih. Lalu tanganku kumasukkan ke dalam kaosnya dan mulai meraba-raba mencari BH-nya. Setelah ketemu lalu aku meraih ke dalam BH dan mulai meremas-remas kembali buah dadanya, kusentuh-sentuh putingnya dan Rika mendesah. Seiring dengan itu, tangan Rika juga mengocok yuniorku yang masih tertutup celana dalam, dan mulai dengan ganas menyusup ke dalam celana dalam meraih yuniorku dan kembali mengocok dan mengelus.

Aku yang sudah mulai terbakar birahi, kemudian melepaskan kaos Rika dan BH-nya hingga sekarang nampak jelas payudaranya yang berukuran 34B semakin mengembang karena rangsangan birahi.
Langsung aku caplok buah dadanya dengan mulutku, kujilat-jilat putingnya dan Rika mendesis-desis keenakan, “Sssh… aaauuh… Mass Adiii… ehhh… ssshhh…” sambil tangannya mendekap kepalaku, meremas-remas rambutku dan membenamkannya ke payudaranya lebih dalam.
Kutarik kepalaku dan kubisikkan ke telinga Rika, “Rika sayang, kita pindah ke kamarku aja yuuk..! Aman kok nggak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita berdua…”
Rika mengangguk, lalu segera kupeluk dan kugendong dia menuju ke kamar. Posisi gendongnya yaitu kaki Rika memeluk pinggangku, tangannya memeluk leherku dan payudaranya menekan keras di dadaku, sedangkan tanganku memegang pantatnya sehingga yuniorku sekarang sudah menempel di selangkangannya.

Sepanjang perjalanan menuju kamar, kami terus saling berciuman. Sesampainya di kamar, kurebahkan tubuhnya di tempat tidur, Rika tidak mau melepaskan pelukan kakinya di pinggangku malahan sekarang mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya.
“Sayang… sabar dong.., lepas dulu dong rok sama celana kamu…” kataku.
“Oke Mas… tapi Mas juga harus lepas baju sama celana Mas, biar adil..!” rajuk Rika.
Setelah kulepas baju dan celanaku hingga telanjang bulat dan yuniorku sudah mengacung keras tegak ke atas, Rika yang juga sudah telanjang bulat kembali merebahkan diri sambil mengangkangkan pahanya lebar-lebar, hingga kelihatan bibir vaginanya yang merah jambu itu.

Aku pun segera menindihnya, tapi tidak buru-buru memasukkan yuniorku ke vaginanya, kembali aku kecup bibirnya dan kucaplok dan jilat-jilat payudara serta putingnya. Jilatanku turun ke perut terus ke paha mulusnya kemudian ke betis indahnya naik lagi ke paha dalamnya hingga sampai ke selangkangannya.
“Auuww… Mas Adiiii… ehhmm… shhh… enaaaakkk Masss…” ceracau Rika sambil kepalanya menggeleng-geleng tidak karuan dan tangannya mencengkeram sprei ketika aku mulai menjilati bibir vaginanya, terus ke dalam memeknya dan di klitorisnya.
Dengan penuh nafsu, terus kujilati hingga akhirnya tubuh Rika menegang, pahanya mengempit kepalaku, tangannya menjambak rambutku dan Rika berteriak tertahan. Ternyata dia telah mencapai orgasme pertamanya, dan terus kujilati cairan yang keluar dari lubang kenikmatannya sampai habis.

Aku bangun dan melihat Rika yang masih tampak terengah-engah dan memejamkan mata menghayati orgasmenya barusan. Kukecup bibirnya, dan Rika membalas, lalu aku menarik tangannya untuk mengocok penisku. Aku rebahkan tubuhku dan Rika pun mengerti kemauanku, lalu dia bangkit menuju ke selangkanganku dan mulai mengemut penisku.
“Oooh… Rik… kamu pinter banget sih Rik…” aku memuji permainannya.
Kira-kira setengah jam Rika mengemut penisku. Mulutnya dan lidahnya seakan-akan memijat-mijat batang penisku, bibirnya yang seksi kelihatan semakin seksi melumati batang dan kepala penisku. Dihisapnya kuat-kuat ketika Rika menarik kepalanya sepanjang batang penis menuju kepala penisku membuatku semakin merem-melek keenakan.

Setelah bosan, aku kemudian menarik tubuh Rika dan merebahkannya kembali ke tempat tidur, lalu kuambil posisi untuk menindihnya. Rika membuka lebar-lebar selangkangannya, kugesek-gesekkan dulu penisku di bibir vaginanya, lalu segera kumasukkan penisku ke dalam lubang senggamanya.
“Aduuh Mas… sakiiit… pelan-pelan aja doong… ahhh…” aku pun memperlambat masuknya penisku, sambil terus sedikit-sedikit mendorongnya masuk diimbangi dengan gerakan pinggul Rika.
Terlihat sudut mata Rika basah oleh air matanya akibat menahan sakit. Sampai akhirnya, “Bleeesss…” masuklah semua batang penisku ke dalam liang senggama Rika.
“Rika sayang, punya kamu sempit banget sih..? Tapi enak lho..!” Rika cuma tersenyum manja.
“Mas juga, punya Mas besar gitu maunya cari yang sempit-sempit, sakit kaan..!” rajuk Rika.

Aku ketawa dan mengecup bibirnya sambil mengusap air matanya di sudut mata Rika sambil merasakan enaknya himpitan kemaluan Rika yang sempit ini. Setelah beberapa saat, aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan pelan-pelan.
“Aaah… uuuhhh… oooww… shhh… ehhmmm…” desah Rika sambil tangannya memeluk erat bahuku.
“Masih sakit Sayaaang..?” tanyaku.
“Nggak Mas… sedikiiitt… auuoohhh… shhh… enn.. ennnaakk.. Mas… aahh…” jawab Rika.
Mendengar itu, aku pun mempercepat gerakanku, Rika mengimbangi dengan goyangan pinggulnya yang dahsyat memutar ke kiri dan ke kanan, depan belakang, atas bawah. Aku hanya bisa merem melek sambil terus memompa, merasakan enaknya goyangan Rika. Tidak lama setelah itu, kurasakan denyutan teratur di dinding vagina Rika, kupercepat goyanganku dan kubenamkan dalam-dalam penisku.

Tanganku terus meremas-remas payudaranya. Dan tubuh Rika kembali menegang, “Aaah… Masss Adiiii… teruuus Maass… jangan berentiii… oooh… Maasss… aaahhh… akuuuu mauuu keluaaar… aaawww…”
Dan, “Cret… cret… crettt…” kurasakan cairan hangat menyemprot dari dalam liang senggama Rika membasahi penisku.
Kaki Rika pun memeluk pinggangku dan menarik pinggulku supaya lebih dalam masuknya penisku ke dalam lubang kenikmatannya. Ketika denyutan-denyutan di dinding vagina Rika masih terasa dan tubuh Rika menghentak-hentak, aku merasa aku juga sudah mau keluar.
Kupercepat gerakanku dan, “Aaah… Rikaaa… aku mau keluar Sayaaang…” belum sempat aku menarik penisku karena kaki Rika masih memeluk erat pinggangku, dan, “Crooot… crooot… crooott…” aku keluar di dalam kemaluan Rika.
“Aduuhhh enakkknyaaa…”
Dan aku pun lemas menindih tubuh Rika yang masih terus memelukku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Aku pun bangkit, sedangkan penisku masih di dalam liang senggama Rika dan kukecup lagi bibirnya.
Tiba-tiba, “Greeekkk…” aku dikejutkan oleh suara pintu garasi yang dibuka dan suara motor adikku yang baru pulang.

Aku pun cepat-cepat bangun dan tersadar. Kulihat sekeliling tempat tidurku, lho… kok… Rika hilang, kemana tuh cewek..? Kuraba penisku, lho kok aku masih pake celana dan basah lagi. Kucium baunya, bau khas air mani. Kulihat di pinggir tempat tidur masih terbuka majalah hiburan khusus pria yang kubaca tadi. Di halaman 68, di rubrik wajah, kulihat wajah seorang cewek cantik yang tidak asing lagi yang baru saja kutiduri barusan, yaitu wajah Rika yang menggunakan swimsuit di pinggir kolam renang.

Yaaa ampuun… baru aku sadar, pengalaman yang mengenakkan tadi bersama Rika itu ternyata cuma mimpi toh. Dan Rika yang kutiduri dalam mimpiku barusan adalah cover girl cantik dan seksi majalah yang kubaca sebelum aku tertidur tadi, yang di majalah dia mengenakan swimsuit merah. Aku pun segera beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Di dalam kamar mandi aku ketawa sendiri dalam hati mengingat-ingat mimpi enak barusan. Gara-gara menghayal yang tidak-tidak, jadinya mimpi basah deeh.

Akibat Pergaulan Bebas 7:35 pm

Hai, saya ingin menceritakan pengalaman hebat saya di Singapore dan saya mohon agar alamat E-mail saya dirahasiakan mengingat cerita ini benar-benar terjadi dan orang yang berhubungan dengan saya di dalam cerita ini sering sekali membaca situs ini sehingga jika tidak dirahasiakan, akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengenai nama dan lokasi peristiwa sudah saya samarkan, sehingga orang yang berhubungan tidak akan mengetahuinya. Mengenai siapa saya, saya rasa semua pembaca sudah mengenal saya karena saya telah banyak sekali kontribusi cerita ke situs ini dan salah satunya adalah GAIRAH PANTI ASUHAN.

Saat ini saya tinggal kost di salah satu apartemen di Singapore dan rumah kost itu dikelola oleh seorang ibu yang tentunya belum pernah menikah dan saya sendiri tidak mengerti mengapa dia berbuat demikian. Saya pernah sekali menanyakan alasan mengapa dia masih single dan dia menjawab bahwa dia sibuk sekali dalam bisnisnya sehigga tidak berpikir untuk memiliki keluarga. Kadang-kadang saya pernah iseng-iseng apakah yang dia lakukan jika dia sedang menginginkan seks dan saya sangat terkejut dikala dia menjelaskan bahwa dia sangat senang sekali bermasturbasi di kamar mandi apalagi di rumah pribadinya (dia tidak tinggal dengan saya), dia hanya tinggal dengan ibunya yang sudah sangat tua dan buta serta pembantunya yang masih berusia 15 tahun dan berasal dari Indonesia juga.

Suatu hari saya menjawab telepon genggam saya karena saya sedang ditelepon seseorang dan saya mengira bahwa itu berasal dari orang tua saya yang berada di Jakarta tetapi berhubung nomor telepon asing yang tercetak di layar HP membuat saya sadar bahwa orang tersebut juga berada di Singapore. Ternyata, itu adalah ibu kost saya yang menelpon saya untuk mengomel-ngomel dengan alasan tagihan listrik dan airnya naik drastis sehingga saya menjadi merasa bersalah. Saya memutuskan pergi ke rumahnya yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya untuk diskusi mengenai jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Setelah menggunakan MRT dan bis, akhirnya sampailah di sebuah rumah yang sangat mewah. Saya akhirnya masuk ke rumah besar itu dan saya dipersilakan duduk dan ibu kost yang bernama Helen itu menyuruh pembantunya yang bernama Sutini untuk membuat orange juice untukku. Tak beberapa lama kemudian, dia memberikan saya beberapa lembar kertas yang berisi tagihan listrik dan airnya dan dia kembali sedih ketika melihat jumlah tagihan tersebut. Saya juga tidak tahu apakah saya sedang sadar ataupun tidak, saya langsung memeluk Tante Helen yang sudah saya anggap sebagai tante saya sendiri dan secara refleks, saya mulai mengelus-elus rambut pendeknya. Rupanya tindakan tidak sadar saya membuat respon yang saya tidak saya duga sama sekali. Dia mencium bibir saya dengan mesra dan mengajak saya pergi ke ruangan tidurnya yang tidak jauh dari tempat kami berciuman barusan.

Setelah saya sudah berada di dalam kamarnya, dia langsung menyerang saya dan menciumi saya. Dia akhirnya bercerita mengapa dia begitu terangsang pada saya. Sesudah dia meneleponku beberapa menit yang lalu, sebenarnya dia sedang masturbasi dan kedatangan saya menganggunya sehingga dia menghukum saya untuk memuaskannya. Saya sangat senang sekali sehingga tanpa menghilangkan kesempatan seumur hidup, apalagi saya belum pernah bercinta dengan wanita setengah baya. Saya langsung membuka seluruh busananya berhubung hawa nafsu saya sudah berada di ubun-ubun, apalagi sebelum saya ke rumahnya, saya melihat cewek cewek seksi di MRT dan bis yang membangkitkan gairah seksual saya.

Setelah dia telanjang bulat, saya langsung mengulum payudaranya dengan penuh nafsu sementara tangan saya menggerayangi daerah sekitar liang kenikmatannya sehingga makin lama liang itu makin basah dan suara mendesahnya semakin keras. Sambil menyebut namaku dan mengelus-elus rambutku, dia membuka mulutnya dan seakan-akan dia menikmati sekali permainan jari-jariku di dalam liang senggamanya. “Joeee, you are so great”, katanya di dalam desahan yang membuat saya menjadi semakin terangsang.

Setelah saya mengulum payudaranya, saya mulai mendekati liang senggamanya dan dengan gilanya, saya mulai menjilati cairan wanita di sekitar kelaminnya sehingga dia mendesah-desah tidak karuan. Sambil terus menekan kepala saya sehingga kepala saya menjadi tenggelam di dalam selangkangannya sehingga saya menjadi kesulitan bernafas untuk sementara waktu, dia terus mengucapkan kata-kata vulgar yang membuat saya semakin terangsang.

Akhirnya permainan oral kami hentikan dan saya mulai menyiapkan kejantanan saya yang sudah tegak menantang dan tanpa aba-aba dari siapapun, saya langsung menancapkan batang kemaluan saya ke dalam liang sorganya yang sudah basah dengan cairan kewanitaannya. “Blesss..” masuknya kejantananku membuat dia menjadi mendesah dan saya sungguh kaget karena liangnya mengeluarkan darah perawannya dan di dalam hati, saya sungguh tidak percaya bahwa wanita berusia 37 tahun masih perawan. Saya kemudian menggenjot tubuhnya sehingga dia makin hot saja berteriak dan mendesah dan sesekali dia menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan karena menerima hujaman senjataku yang tentunya sangat dia idam-idamkan.

Dengan ganasnya, dia menarik saya yang masih meliuk-liuk karena saya sendiri sedang merasakan kenikmatan bersenggama dengan wanita berusia 37 tahun. Dia langsung menciumi bibir saya dengan ganasnya dan memeluk saya dan tak lama kemudian, dia bergetar hebat karena ternyata dia sudah mencapai klimaksnya yang maha dahsyat karena dia bergetar hebat selama dua menit sehingga batang kemaluan saya menjadi sangat nikmat dan seperti dipijit-pijit oleh sesuatu yang maha enak. Klimaksnya dia membuat tubuhnya lelah tetapi bagaimana dengan saya? Saya berpikir bahwa ini cewek pasti egois sekali sehingga tidak ada laki-laki yang mengawininya. Akhirnya saya mencari pelampiasan sendiri. Sambil melihat liang kewanitaannya yang dipenuhi oleh cairan nikmatnya, saya mengocok batang kemaluan saya sendiri untuk mencapai target kepuasan.

Disaat saya sedang masturbasi, tiba-tiba masuklah Sutini ke dalam kamarnya dan dia sungguh kaget ketika melihat nyonyanya dalam keadaan tertidur dengan tubuh telanjang bulat. Melihat itu, dia merasa malu dan ia ingin keluar kamar dan dengan penuh kecepatan, saya langsung menutup pintu kamar sehingga dia tidak bisa keluar dan dia berkata kepadaku, “Tuan, apa yang Tuan lakukan kepada saya.. jangan, Tuan..” Saya tidak peduli dengan apa yang dia teriakkan. Saya langsung menyerbunya sehingga akhirnya kami sama-sama terjatuh ke ranjang yang tidak jauh dari pintu. Saya menciumnya dan kata-kata jangannya telah berubah menjadi kata-kata memohon karena dia menceritakan bahwa dia mengintip segala aktifitas yang sedang kami lakukan tadi sehingga dia ingin sekali menikmati batang kemaluan saya. Tanpa disuruh, dia langsung mendekati batang kemaluan saya yang masih tegang dan dia langsung menjilatinya dengan penuh nafsu sementara saya dengan nafsunya memasukkan jari-jari saya ke dalam celana pendeknya dan memainkan jari-jari saya di sekitar kelaminnya sehingga dia semakin mendesah-desah seperti cacing yang kepanasan.

Nampaknya permainan ini disaksikan kembali oleh Tante Helen dan dia kemudian memanggil kami berdua dengan penuh amarah. Mendengar teriakan nyonyanya, Sutini menjadi sangat malu dan langsung berdiri dan menundukkan kepalanya. Melihat Sutini ketakutan, Tante Helen langsung mendekati Sutini dan langsung menciumnya dan dibalas oleh Sutini dengan penuh birahi. Kemudian, Tante Helen menyuruh saya berbaring dan selanjutnya dia menyuruh Sutini untuk duduk di atas tubuh saya. Sutini makin tidak mengerti apa yang akan terjadi tetapi dia tetap saja menuruti perintah nyonyanya. Dia duduk di atas tubuh saya dan Tante Helen menyuruh saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam liang kelamin pembantunya. Saya menurutinya dengan penuh kesenangan, saya langsung kembali menancapkan batang kemaluan saya sehingga membuat Sutini menjadi kesakitan tetapi Tante Helen menyuruhnya untuk ditahan. Sutini menuruti perintah nyonyanya dan sekarang dia dengan refleks menggoyang-goyangkan tubuhnya sehingga kami berdua menjadi terhanyut dalam kenikmatan tiada tara itu.

Tante Helen hanya tersenyum melihat saya menyetubuhi pembantunya yang sangat montok dan dia sekarang mulai mendekati Sutini dan menyuruh Sutini untuk menjilati liang kewanitaannya yang berada di depan dirinya. Dengan gilanya, dia menjilati liang kewanitaan Tante Helen sehingga Tante Helen kembali mendesah dengan gilanya.

Melihat adegan yang begitu erotis tersebut, saya menjadi sangat terangsang dan mempercepat gerakan saya sehingga sepertinya batang kemaluan saya yang berada di dalam liang kewanitaan Sutini sedang mengaduk-aduk liangnya dan menyodok-nyodok rahimnya. Kami menjadi terhanyut oleh adegan yang sedang kami nikmati bersama dan hal itu berlangsung selama 15 menit karena tak lama kemudian, Tante Helen berteriak dengan penuh gila karena dia merasakan kenikmatan kedua disaat liang kewanitaannya dijilati oleh lidah kecil Sutini sementara Sutini disaat yang bersamaan dengan klimaksnya Tante Helen juga bergetar hebat karena dia sedang mengalami puncak kenikmatan yang baru saja dia rasakan dan tentunya ini merupakan pengalaman pertamanya karena batang kemaluan saya dialiri oleh cairan kewanitaannya dan darah perawannya. Saya melihat Sutini nampaknya lelah sekali setelah merasakan kenikmatan maha dahsyat itu tetapi saya tidak mengijinkan untuk menghentikan permainannya karena saya masih belum klimaks.

Saya kemudian menyuruh Sutini untuk gantian berbaring menggantikan posisi saya dan ketika dia sudah berbaring, saya langsung menancapkan batang kemaluan saya ke dalam liang kenikmatannya dan diiringi oleh teriakan yang bercampur dengan desahan. Saya terus menggenjot tubuhnya selama sepuluh menit dan saya merasakan bahwa saya ingin mengeluarkan kenikmatan saya. Saya berkata kepadanya bahwa cairan laki-laki sangat nikmat jika menyemprot ke dalam liang kewanitaannya sehingga dia memohon pada saya untuk menyemprotkan cairan laki-laki saya ke dalam liang senggamanya. “Ouchhh.. ahhh..” aku berteriak dengan penuh kenikmatan dan bergetar selama tiga menit dan disaat yang bersamaan, saya melihat Sutini sepertinya merasakan kenikmatan kedua dan kami rupanya klimaks secara bersamaan.

Akhirnya saya roboh karena kecapaian dan saya memeluk kedua wanita itu dan sebelumnya memberikan ciuman kepada mereka dengan mesranya. Setelah kejadian itu, Tante Helen kemudian berkata kepada saya, “Next time if you make abuse of my electricity or water, I am gonna punish you with this way..” katanya dengan manja. Di dalam pikiran saya, jika hukumannya begitu nikmat, lain kali saya akan menyalakan listrik 24 jam saja kali ya supaya dia bisa menyetubuhi saya 24 jam, pikirku dengan senyum kepadanya. Disaat dia menjelaskan hukumannya kepadaku, Sutini mohon diri untuk meneruskan pekerjaanya di dapur dan sebelum dia keluar, saya mencium pipinya dengan mesra sebagai tanda terima kasih.

Setelah saya menciumnya, saya berkata kepada Tante Helen bagaimana jika Sutini hamil karena sperma saya yang masuk ke dalam tubuhnya dan dia dengan senangnya menjawab, “I’ll take care of her, honey.. do you know that I am expecting child” mendengar pernyataan itu, leganya hatiku dan aku meninggalkan rumahnya dengan penuh kepuasan.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 7:34 pm

Perkenalkan, nama saya Maimunah, saya sering dipanggil Munah atau Monah. Almarhum suami saya adalah seorang Kapten kapal suatu perusahaan angkutan laut swasta. Umur saya sekarang 46 tahun, dengan dua orang anak yang sudah berumah tangga. Meskipun umur hampir setengah abad, kata orang saya masih cantik dan seksi. Pekerjaan saya sekarang adalah sebagai pedagang konveksi, bahan pakaian saya buat di Yogyakarta, dan dikirim ke Jakarta. Tulisan di bawah ini adalah pengalaman pribadi saya waktu pertama kali berkencan dengan pacar saya.

Entah sudah berapa kali saya naik kereta api malam begini, baru malam ini hati saya berdebar-debar. Ada yang saya takuti? Sama sekali tidak. Jantung saya berdebar-debar karena penumpang di samping saya yang sejak tadi merebahkan kepalanya di atas bahuku. Penumpang itu, seorang laki-laki ganteng yang memperkenalkan dirinya, namanya Nana Permana. Dia berumur kurang lebih 20 tahun lebih muda dari saya, dengan tubuh yang tegap dan kulitnya yang bersih. Meskipun sebagian besar penumpang di atas K.A. VIP Argo Dwipangga sudah lelap, mata saya bahkan tidak mau saya pejamkan. Padahal waktu itu arloji sudah menujukkan pada angka satu. Jam satu malam. Tidak ada lagi suara orang bercakap-cakap atau bergurau. Semua sudah larut dalam mimpinya sendiri-sendiri. Jantungku tambah berdebar ketika dari balik selimutnya, pemuda tadi menyentuh dada saya yang juga tertutup selimut.

Ketika jari-jari tangan kanannya mulai meraba-raba payudara saya, rasanya saya mau berteriak keras-keras ingin memberontak karena kehormatan saya sebagai janda seorang Kapten kapal sedang dinodai. Tetapi saya malu. Nanti orang segerbong akan terbangun semua. Terpaksa saya biarkan saja. Rabaannya makin lama makin aktif. Mula-mula dielus-elusnya seluruh permukaan buah dada saya, lalu diremasnya pelan-pelan. Kadang, buah dada saya ditekan-tekan, lalu diremas-remas lagi. Demikian berganti-ganti payudara kanan dan kiri. Setelah meraba, menekan dan meremas-remas, putingnya dipilin-pilin di antara jari telunjuk dan ibu jarinya. Mula-mula terasa geli, tetapi lama kelamaan terasa nikmat. Payudara saya memang besar, seperti juga pantat saya. Meskipun payudara saya itu tidak lagi kencang seperti waktu muda, tetapi isinya masih padat. Perasaan apa ini? Mungkin perasaan nikmat yang tidak pernah saya rasakan lagi setelah 10 tahun ditinggal suamiku karena dia telah meninggal. Sejak itu, buah dadaku tidak ada yang meraba, demikian juga vaginaku tidak ada lagi yang “mengisi”. Tetapi malam ini, kurasakan kembali kenikmatan itu. Apalagi tangan kiri Mas Nana, juga mulai meraba pantatku.

Tidak itu saja. Tangan pemuda itu juga mulai turun, mengelus-ngelus perutku. Ke bawah lagi, tangan itu menggelitik vaginaku. Mula-mula bibir vaginaku diusap-usap dengan keempat jarinya, sambil ibu jarinya menekan-nekan klitorisku. Rasanya semakin nikmat. Kini saya tidak lagi dan berniat akan berteriak. Saya menikmati perangsangan pada vaginaku. Belum lagi sesekali jari telunjuknya dimasukkan ke liang vagina. Pelan-pelan jari itu diputar mengelilingi seluruh dinding vagina, sambil dimasukkan lewat bibir vagina dalam (labia minora). Aduh, bukan makin. Birahiku semakin terbangun setelah sekian lama saya tidak merasakan birahi yang memang sudah saya tunggu-tunggu. Cairan vagina mulai merembes dari dalam vagina. Saya rasakan debar jantung saya semakin kuat, nafasku sedikit tersengal. Tetapi di tengah gejolak berahiku tersebut, pemuda tadi berbisik, “Kita lanjutkan, di kamar kecil. Saya tunggu!”

Entah setan betina mana yang telah merasuki tubuhku. Yang jelas, bagaikan kerbau dicocok hidungnya, beberapa menit kemudian, saya menyusul pemuda tadi. Sampai di depan kamar kecil, pintunya sudah dibuka oleh Mas Nana. Saya kemudian masuk.
“Aduh… ibu cantik sekali…”
Tersentak juga saya mendengar ucapan pemuda tadi (Cantikkah saya?), tentu. Mana ada janda seorang Kapten kapal yang tidak cantik. Kalaupun ada, jumlahnya tidak banyak. Seberapa cantikkah? Tidak perlu susah-susah membayangkan. Kata orang, saya mirip artis film hot Eva Arnaz, itu artis yang lama pacaran dengan Adi Bing Slamet itu. Namun belum sempat saya menyambut ucapan pemuda yang wajahnya imut-imut mirip bintang sintron Anjasmara, leherku sudah dipeluk dengan kedua tangannya.

Bibirnya segera menerkam dan melumat bibir saya. Ditekannya kuat-kuat, sampai hidung saya tertindih hidung Mas Nana. Karena jadi sulit bernafas, tanganku mendorong dada Mas Nana. Tetapi Mas Nana bukannya mundur, tetapi justru serangannya semakin menggebu, hanya sekarang ke wilayah leher, bawah telinga, serta daerah dagu. Itu semua adalah daerah yang sensitif bagi wanita. Mungkin parfum lembut yang saya pakai ikut juga merangsang nafsu birahi Mas Nana, terlihat dari gerakannya yang seperti harimau kelaparan yang ingin cepat-cepat merobek dan memamah mangsanya. Saya sendiri sangat terangsang dengan bau parfum rambut dan body-lotion Mas Nana. Dan gelegak birahiku itu cukup dipuasi dengan amukan nafsu birahi serangan total Mas Nana.

Disamping wajahnya yang dienduskan ke seluruh tubuh saya, kedua tangannya seolah memegang kemudi yaitu buah dada saya. Meremas, menggoyang-goyang, memutar-memutar dan entah diapakan lagi, semuanya memberikan kenikmatan yang luar biasa. Dengan menempelkan penisnya ke vagina saya, saya seolah diajak terbang memasuki alam maya surga kenikmatan yang sudah lama tidak saya rasakan. Pegangannya ke payudaraku kadang dipindahkan ke alat vital saya, dielus-elus, ditarik-tarik klitorisnya. Rasanya diperlukan lima pasang tangan lagi untuk dapat meraba, menggerayangi, memijat-mijat seluruh tubuhku yang sintal ini sekaligus. Kemudian pindah lagi, sekarang kedua telapak tangannya mencubit dan mencowel pantatku seperti mencowel kue.

Karena terasa sakit, dengan manja saya membisikkan, “Sakit Mas…”
“Habis gemes siih…” jawabnya sambil mencowel lagi.
“Aduhh… Mas… jangan… sakit… sakit sekali… Mas nakal…” desahku
Lama-lama saya tidak kuat lagi bergumul sambil berdiri seperti ini. Denyut jantungku makin meningkat, mengalirkan aliran listrik kebirahian di sekujur tubuhku. Ditambah lagi dengan sentuhan benda bulat, padat dan hangat yang sejak tadi berada di antara kedua pahaku.
“Mas Nana… saya sudah ngga kuat Mas… masukkan sekarang Mas…”
“He ehh.. iya… iya… sayang…” katanya terbata-bata.

Saya didudukkan di atas wastafel, setengah duduk setengah berdiri. Dan benda nikmat itu pelan-pelan dimasukkan ke liang vagina saya.
“Bleeessss..,” bunyi batang kejantanannya memasuki liang nikmatku.
“Aduh… nikmatnya…” teriakku dalam hati.
Setelah masuk, penis itu tetap diam, tidak ditarik keluar. Ini merangsang dinding bagian dalam vaginaku yang langsung mulai meremas-remas benda hangat tadi. Saya rasakan vaginaku seperti berdenyut. Orgasmus. Oh… alangkah nikmatnya. Meremas secara ritmis, mula-mula kuat, lama-lama melemah seiring dengan dengusan nafasku yang makin cepat dan tidak teratur.

Ibarat seorang musafir yang sudah berhari-hari kehausan di tengah padang pasir, itulah rasa nikmat yang saya dapatkan lewat vagina saya. Sudah 10 tahun tidak diberi “makan”. Kenikmatan ini terulang lagi manakala sambil menciumi pipi dan belakang telingaku, batang kemaluan Mas Nana dimasuk-tarikkan ke liang vagina saya yang merekah. Listrik birahi makin meningkat voltasenya. Entah berapa kali vagina saya ber-orgasmus secara beruntun dalam jarak yang demikian pendek. Mungkin lima kali atau lebih saya merasakan orgasmus. Pria yang sudah tua atau kurang perkasa biasanya sudah “loyo” saat batang kemaluannya “dikunyah” vagina wanita seperti saya. Meskipun oragasmus-ku sangat kuat, tetapi batang kemaluana Mas Nana tetap kuat, padat dan hangat. Tidak kendor, loyo atau kempes.

“Hebat benar lawan mainku saat ini.” kata saya dalam hatikarena merasakan nikmat tida tara.
Kini badan saya mulai lemas. Orgasmus yang saya rasakan memakan energi yang cukup banyak. Ya… seperti energi seseorang yang bergulat sambil berlari. Keringat panas keluar dari tubuh saya bercampur dengan keringat Mas Nana yang benar-benar menaikkan birahi kami.
“Saya tembakkan sekarang ya… yang.. sayang…?” bisiknya lembut.
“He… ehh.. saya sudah terangsang sekali Mas…”
Kini batang kejantanan Mas Nana mulai “memompa” vaginaku. Masuk-keluar dan terus masuk-keluar. Mula-mula pelan kemudian makin lama makin cepat. Vaginaku terasa seperti di”charge” (disetrum listrik).

“Terus… terus… masuk-keluar… masuk-keluar… in-out… in-out… terus…” pintaku dalam hati karena membawa perasaan yang luar biasa.
Saya tidak bisa membayangkan wajah saya. Saya juga tidak dapat membayangkan rambut saya yang sudah diacak-acak jari Mas Nana saat menggumuli saya. Tetapi saat batang kejantanan itu dipompakan ke vagianku, saya tidak dapat menceritakan rasanya. Bila saja saat ini saya terbaring di tempat tidur, saya pasti akan bergolek menggeliat-geliat seperti cacing menari di saat kepanasan.

Tiba-tiba, “Dukk..!” batang kejantanan milik Mas Nana berhenti bergerak, masuk sangat dalam ke liang wanitaku. rupanya dia mengalami ejakulasi. Air mani Mas Nana meyemprot ke dalam liang vagina saya. Rasanya saya seperti kram. Pantat Mas Nana secara refleks saya tarik dan tempelkan kuat-kuat ke permulaan vagina saya. Saya lihat Mas Nana menikmati sekali puncak kepuasan itu, demikian juga saya. Nafas kami mulai mengendor. Rasanya seperti baru saja megikuti lomba lari cepat. Kami berdua mandi keringat. Keringat birahi. Keringat kenikmatan di atas sebuah gerbong kereta api yang sedang berjalan.

Cerita Antara Kita 7:33 pm

Pak Vito adalah ketua RT di daerah tempat aku tinggal. Ia sering datang ke rumahku untuk keperluan menagih iuran daerah dan biaya air ledeng. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 50 tahunan dan mempunyai dua istri. Benar kata orang bahwa dia ini seorang bandot tua, buktinya ketika di rumahku kalau aku lewat di depannya, seringkali matanya jelalatan menatap padaku seolah-olah matanya tembus pandang ke balik pakaianku. Bagiku sih tidak apa-apa, aku malah senang kalau tubuhku dikagumi laki-laki, terkadang aku memakai baju rumah yang seksi kalau lewat di depannya. Aku yakin di dalam pikirannya pasti penuh hal-hal yang jorok tentangku.

Pada suatu hari aku sedang di rumah sendirian. Aku sedang melakukan fitness untuk menjaga bentuk dan stamina tubuhku di ruang belakang rumahku yang tersedia beberapa peralatan fitness. Aku memakai pakaian yang enak dipakai dan menyerap keringat berupa sebuah kaus hitam tanpa lengan dengan belahan dada rendah sehingga buah dadaku yang montok itu agak tersembul keluar terutama kalau sedang menunduk apalagi aku tidak memakai BH, juga sebuah celana pendek ketat merk ‘Nike’ yang mencetak pantatku yang padat berisi. Waktu aku sedang melatih pahaku dengan sepeda fitness, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, segera saja kuambil handuk kecil dan mengelap keringatku sambil berjalan ke arah pintu. Kulihat dari jendela, ternyata Pak Vito yang datang, pasti dia mau menagih biaya ledeng, yang dititipkan ayah padaku tadi pagi.

Kubukakan pagar dan kupersilakan dia masuk.
“Silakan Pak duduk dulu ya, sambil nunggu saya ambil uangnya” senyumku dengan ramah sambil mempersilakannya duduk di ruang tengah.
“Kok sepi sekali Dik, kemana yang lain?”
“Papa hari ini pulangnya malam, tapi uangnya udah dititip ke saya kok, Mama juga lagi arisan sama teman-temannya”.
Seperti biasa matanya selalu saja menatapi tubuhku, terutama bagian dadaku yang agak terlihat itu. Aku juga sadar kalau dadaku sempat diintip olehnya waktu menunduk untuk menaruh segelas teh untuknya.

“Minum Pak”, tawarku lalu aku duduk di depannya dengan menyilangkan kaki kananku sehingga pahaku yang jenjang dan putih itu makin terlihat.
Nuansa mesum mulai terasa di ruang tamuku yang nyaman itu. Dia menanyaiku sekitar masalah anak muda, seperti kuliah, hoby, keluarga, dan lain-lain, tapi matanya terus menelanjangiku.
“Dik Citra lagi olah raga yah, soalnya badannya keringatan gitu terus mukanya merah lagi” katanya.
“Iya nih Pak, biasa kan cewek kan harus jaga badan lah, cuma sekarang jadi pegel banget nih, pengen dipijat rasanya, Bapak bisa bantu pijitin nggak?” godaku sambil mengurut-ngurut pahaku.
Tanpa diminta lagi dia segera bangkit berdiri dan pindah ke sebelahku, waktu berdiri kuperhatikan ia melihat putingku yang menonjol dari balik kausku, juga kulihat penisnya ngaceng berat membuatku tidak sabar mengenggam benda itu.

“Mari Dik, kesinikan kakinya biar Bapak pijat”
Aku lalu mengubah posisi dudukku menjadi menyamping dan menjulurkan kakiku ke arahnya. Dia mulai mengurut paha hingga betisku. Uuuhh.. pijatannya benar-benar enak, telapak tangannya yang kasar itu membelai pahaku yang putih mulus hingga membangkitkan birahiku. Akupun mendesah-desah sambil menggigit bibir bawahku.
“Pijatan Bapak enak ya Dik?” tanyanya.
“Iya Pak, terus dong.. enak nih.. emmhh!” aku terus mendesah membangkitkan nafsu Pak Vito, desahanku kadang kusertai dengan geliat tubuh.
Dia semakin berani mengelus paha dalamku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan meremasnya.
“Enngghh.. Pak!” desahku lebih kuat lagi ketika kurasakan jari-jarinya mengelusi bagian itu.

Tubuhku makin menggelinjang sehingga nafsu Pak Vito pun semakin naik dan tidak terbendung lagi. Celana sportku diperosotkannya beserta celana dalamku.
“Aaww.. !” aku berlagak kaget sambil menutupi kemaluanku dengan telapak tanganku.
Melihat reaksiku yang malu-malu kucing ini dia makin gemas saja, ditariknya celanaku yang sudah tertarik hingga lutut itu lalu dilemparnya ke belakang, tanganku yang menutupi kemaluan juga dibukanya sehingga kemaluanku yang berambut lebat itu tampak olehnya, klitorisku yang merah merekah dan sudah becek siap dimasuki. Pak Vito tertegun beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawahnya itu.
“Kamu memang sempurna Dik Citra, dari dulu Bapak sering membayangkan ngentotin kamu, akhirnya hari ini kesampaian juga”, rayunya

Dia mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya yang berlemak dan dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah dan tegak. Aku menatap takjub pada organ tubuh itu, begitu besar dan berurat aku sudah tidak sabar lagi menggenggam dan mengulumnya. Pak Vito begitu membuka pahaku lalu membenamkan kepalanya di situ sehingga selangkanganku tepat menghadap ke mukanya.
“Hhmm.. wangi, pasti Adik rajin merawat diri yah” godanya waktu menghirup kemaluanku yang kurawat dengan apik dengan sabun pembersih wanita.
Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik vaginaku, oohh.. lidahnya menjilati klitorisku, terkadang menyeruak ke dalam menjilati dinding kemaluanku. Lidah tebal dan kumisnya itu terasa menggelitik bagiku, aku benar-benar merasa geli di sana sehingga mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya. Kedua tangannya menyusup ke bawah bajuku dan mulai meremas buah dadaku, jari-jarinya yang besar bermain dengan liar disana, memencet putingku dan memelintirnya hingga benda itu terasa makin mengeras.

“Pak.. oohh.. saya juga mau.. Pak!” desahku tak tahan lagi ingin mengulum penis itu.
“Kalau begitu Bapak di bawah saja ya Dik” katanya sambil mengatur posisi kami sedemikian rupa menjadi gaya 69.
Aku naik ke wajahnya dan membungkukkan tubuhku, kuraih benda kesukaanku itu, dalam genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku menelusuri pelosok batang itu, buah pelirnya kuemut sejenak, lalu jilatanku naik lagi ke ujungnya dimana aku mulai membuka mulut siap menelannya. Oohh.. batang itu begitu gemuk dan berdiameter lebar persis seperti tubuh pemiliknya, sehingga akupun harus membuka mulutku selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya.

Aku mulai mengisapnya dan memijati buah pelirnya dengan tanganku. Pak Vito mendesah-desah enak menikmati permainanku, sementara aku juga merasa geli di bawah sana, kurasakan ada gerakan memutar-mutar di dalam liang vaginaku oleh jarinya, jari-jari lain dari tangan yang sama mengelus-elus klitoris dan bibir vaginaku, bukan itu saja, lidahnya juga turut menjilati baik anus maupun vaginaku. Sungguh suatu sensasi yang hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga semakin bersemangat mengulum penisnya. Selama 10 menitan kami menikmatinya sampai ada sedikit terganggu oleh berbunyinya HP Pak Vito. Aku lepaskan penisnya dari mulutku dan menatap padanya.

Pak Vito menyuruhku mengambil HP-nya di atas meja ruang tamu, lalu dia berkata, “Ayo Dik, terusin dong karaokenya, biar Bapak ngomong dulu di telepon”.
Aku pun tanpa ragu-ragu menelan kembali penisnya. Dia bicara di HP sambil penisnya dikulum olehku, tidak tau deh bicara dengan siapa, emang gua pikirin, yang pasti aku harus berusaha tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Tangan satunya yang tidak memegang HP terus bekerja di selangkanganku, kadang mencucuk-cucukkannya ke vagina dan anusku, kadang meremas bongkahan pantatku. Tiba-tiba dia menggeram sambil menepuk-nepuk pantatku, sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena sudah tanggung aku malahan makin hebat mengocok dan mengisap penis itu sampai dia susah payah menahan geraman nikmatnya karena masih harus terus melayani pembicaraan. Akhirnya muncratlah cairan putih itu di mulutku yang langsung saya minum seperti kehausan, cairan yang menempel di penisnya juga saya jilati sampai tak bersisa.

“Nggak kok.. tidak apa-apa.. cuma tenggorokkan saya ada masalah dikit” katanya di HP.
Tak lama kemudian dia pun menutup HP nya, lalu bangkit duduk dan menaikkanku ke pangkuannya, tangan kirinya dipakai menopang tubuhku.
“Wah.. Dik Citra ini bandel juga ya, tadi kan Bapak udah suruh stop dulu, ee.. malah dibikin keluar lagi, untung nggak curiga tuh orang” katanya sambil mencubit putingku.
“Hehehe.. sori deh Pak, kan tadi tanggung makannya saya terusin aja, tapi Bapak seneng kan” kataku dengan tersenyum nakal.
“Hmm.. kalo gitu awas ya sekarang Bapak balas bikin kamu keluar nih” seringainya.
Lalu dengan sigap tangannya bergerak menyelinap diantara kedua pangkal pahaku. Jari tengah dan telunjuknya menyeruak dan mengorek-ngorek vaginaku, aku meringis ketika merasakan jari-jari itu bergerak semakin cepat mempermainkan nafsuku.

Pak Vito menurunkan kaos tanpa lenganku dari bahu dan meloloskannya lewat lengan kananku, sehingga kini payudara kananku yang putih montok itu tersembul keluar. Dengan penuh nafsu langsung dia lumat benda itu dengan mulutnya. Aku menjerit kecil waktu dia menggigit putingku dan juga mengisapnya kuat-kuat, bulatan mungil itu serasa makin menegang saja. Dia membuka mulutnya lebar-lebar berusaha memasukkan seluruh payudaraku ke mulutnya, di dalam mulutnya payudaraku disedot, dikulum, dan dijilat, rasanya seperti mau dimakan saja milikku itu. Sementara selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku terasa sudah di puncak, mengucurlah cairan cintaku dengan deras. Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli di bawahku sehingga tangannya terhimpit diantara kedua paha mulusku.

Setelah dia cabut tangannya dari kemaluanku, nampak jari-jarinya sudah belepotan oleh cairan bening yang kukeluarkan. Dia jilati cairanku dijarinya itu, aku juga ikutan menjilati jarinya merasakan cairan cintaku sendiri. Kemudian dia cucukkan lagi tangannya ke kemaluanku, kali ini dia mengelus-ngelus daerah itu seperti sedang mengelapnya. Telapak tangannya yang penuh sisa-sisa cairan itu dibalurinya pada payudaraku.
“Sayang kalo dibuang, kan mubazir” ucapnya.
Kembali lidahnya menjilati payudaraku yang sudah basah itu, sedangkan aku menjilati cairan pada tangannya yang disodorkan padaku. Tanganku yang satu meraba-raba ke bawah dan meraih penisnya, terasa olehku batang itu kini sudah mengeras lagi, siap memulai aksi berikutnya.

“Enggh.. masukin aja Pak, udah kepingin nih”.
Dia membalik tubuhku, tepat berhadapan dengannya, tangan kananya memegangi penisnya untuk diarahkan ke vaginaku. Aku membukakan kedua bibir vaginaku menyambut masuknya benda itu. Setelah kurasakan pas aku mulai menurunkan tubuhku, secara perlahan tapi pasti penis itu mulai terbenam dalam kemaluanku. Goyanganku yang liar membuat Pak Vito mendesah-desah keenakan, untung dia tidak ada penyakit jantung, kalau iya pasti sudah kumat. Kaosku yang masih menyangkut di bahu sebelah kiri diturunkannya sehingga kaos itu menggantung di perutku dan payudara kiriku tersingkap. Nampak sekali bedanya antara yang kiri yang masih bersih dengan bagian kanan yang daritadi menjadi bulan-bulanannya sehingga sudah basah dan memerah bekas cupangan.

Kedua tangannya meremas-remas kedua payudaraku, ketika melumatnya terkadang kumisnya yang kasar itu menggesek putingku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Lidahnya bergerak naik ke leherku dan mencupanginya sementara tangannya tetap memainkan payudaraku. Birahiku sudah benar-benar tinggi, nafasku juga sudah makin tak teratur, dia begitu lihai dalam bercinta, kurasa bukan pertama kalinya dia berselingkuh seperti ini. Aku merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi, frekuensi goyanganku kutambah, lalu aku mencium bibirnya. Tubuh kami terus berpacu sambil bermain lidah dengan liarnya sampai ludah kami menetes-netes di sekitar mulut, eranganku teredam oleh ciumannya. Mengetahui aku sudah mau keluar, dia menekan-nekan bahuku ke bawah sehingga penisnya menghujam makin dalam dan vaginaku makin terasa sesak. Tubuhku bergetar hebat dan jeritanku tak tertahankan lagi terdengar dari mulutku, perasaan itu berlangsung selama beberapa saat sampai akhirnya aku terkulai lemas dalam pelukannya.

Dia menurunkanku dari pangkuannya, penisnya terlihat berkilauan karena basah oleh cairan cinta. Dibaringkannya tubuhku yang sudah lemas itu di sofa, lalu dia sodorkan gelas yang berisi teh itu padaku. Setelah minum beberapa teguk, aku merasa sedikit lebih segar, paling tidak pada tenggorokanku karena sudah kering waktu mendesah dan menjerit. Kaosku yang masih menggantung di perut dia lepaskan, sehingga kini aku bugil total. Sebelum tenagaku benar-benar pulih, Pak Vito sudah menindih tubuhku, aku hanya bisa pasrah saja ditindih tubuh gemuknya. Dengan lembut dia mengecup keningku, dari sana kecupannya turun ke pipi, hingga berhenti di bibir, mulut kami kembali saling berpagutan. Saat berciuman itulah, Pak Vito menempelkan penisnya pada vaginaku, lalu mendorongnya perlahan, dan aahh.. mataku yang terpejam menikmati ciuman tiba-tiba terbelakak waktu dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menusuk lebih dalam.

Kenikmatan ini pun berlanjut, aku sangat menikmati gesekan-gesekan pada dinding vaginaku. Buah dadaku saling bergesekan dengan dadanya yang sedikit berbulu, kedua paha rampingku kulingkarkan pada pinggangnya. Aku mendesah tak karuan sambil mengigiti jariku sendiri. Sementara pinggulnya dihentak-hentakkan diatasku, mulutnya tak henti-hentinya melumat atau menjilati bibirku, wajahku jadi basah bukan saja oleh keringat, tapi juga oleh liurnya. Telinga dan leherku pun tak luput dari jilatannya, lalu dia angkat lengan kananku ke atas dan dia selipkan kepalanya di situ. Aahh.. ternyata dia sapukan bibir dan lidahnya di ketiakku yang halus tak berbulu itu, kumis kasar itu menggelitikku sehingga desahanku bercampur dengan ketawa geli.

“Uuuhh.. Pak.. aakkhh.. !” aku kembali mencapai orgasme.
Vaginaku terasa semakin banjir, namun tak ada tanda-tanda dia akan segera keluar, dia terlihat sangat menikmati mimik wajahku yang sedang orgasme. Suara kecipak cairan terdengar jelas setiap kali dia menghujamkan penisnya, cairanku sudah meleleh kemana-mana sampai membasahi sofa, untung sofanya dari bahan kulit, jadi mudah untuk membersihkan dan menghilangkan bekasnya. Tanpa melepas penisnya, Pak Vito bangkit berlutut di antara kedua pahaku dan menaikkan kedua betisku ke pundaknya. Tanpa memberiku istirahat dia meneruskan mengocok kemaluanku, aku sudah tidak kuat lagi mengerang karena leherku terasa pegal, aku cuma bisa mengap-mengap seperti ikan di luar air.

“Bapak udah mau.. Dik.. Citra.. !” desahnya dengan mempercepat kocokkannya.
“Di luar.. Pak.. aku ahh.. uuhh.. lagi subur” aku berusaha ngomong walau suaraku sudah putus-putus.
Tak lama kemudian dia cabut penisnya dan menurunkan kakiku. Dia naik ke wajahku, lalu dia tempelkan penisnya yang masih tegak dan basah di bibirku. Akupun memulai tugasku, kukulum dan kukocok dengan gencar sampai dia mengerang keras dan menjambak rambutku. Maninya menyemprot deras membasahi wajahku, aku membuka mulutku menerima semprotannya. Setelah semprotannya mereda pun aku masih mengocok dan mengisap penisnya seolah tidak membiarkan setetespun tersisa. Batang itu kujilati hingga bersih, benda itu mulai menyusut pelan-pelan di mulutku. Kami berpelukan dengan tubuh lemas merenungi apa yang baru saja terjadi.

Sofa tempat aku berbaring tadi basah oleh keringat dan cairan cintaku yang menetes disana. Masih dalam keadaan bugil, aku berjalan sempoyongan ke dapur mengambil kain lap dan segelas air putih. Waktu aku kembali ke ruang tamu, Pak Vito sedang mengancingkan lagi bajunya, lalu meneguk air yang tersisa di gelasnya.
“Wah Dik Citra ini benar-benar hebat ya, istri-istri Bapak sekarang udah nggak sekuat Adik lagi padahal mereka sering melayani Bapak berdua sekaligus” pujinya yang hanya kutanggapi dengan senyum manis.

Setelah berpakaian lagi, aku mengantarnya lagi ke pintu depan. Sebelum keluar dari pagar dia melihat kiri kanan dulu, setelah yakin tidak ada siapa-siapa dia menepuk pantatku dan berpamitan.
“Lain kali kalo ada kesempatan kita main lagi yah Dik”
“Dasar bandot, belum cukup punya istri dua, masih ngembat anak orang” kataku dalam hati.

Akhirnya aku pun mandi membersihkan tubuhku dari sperma, keringat, dan liur. Siraman air menyegarkan kembali tubuhku setelah seharian penuh berolahraga dan berolahsyahwat. Beberapa menit sesudah aku selesai mandi, ibuku pun pulang. Beliau bilang wangi ruang tamunya enak sehingga kepenatannya agak berkurang, aku senyum-senyum saja karena ruang itu terutama sekitar ‘medan laga’ kami tadi telah kusemprot pengharum ruangan untuk menutupi aroma bekas persenggamaan tadi.

Akibat Pergaulan Bebas 7:32 pm

Nama saya Firman, saya berusia 23 tahun dan saat ini saya kuliah dan bekerja. Cerita ini bermula pada saat saya jalan-jalan dengan teman-teman saya di suatu kawasan di Jakarta yang memang sudah cukup terkenal di kalangan anak muda.

Saat saya sedang melintas di jalan Sudirman saya melihat seorang wanita dan saya menghentikan kendaraan saya lalu kami pun berkenalan.

Wanita tersebut bernama Nia dan dia masih berumur 19 tahun dengan tinggi kurang lebih sekitar 175 dan dengan ukuran bra sekitar 36 C akhirnya saya menawarkan dia untuk mengantar pulang dan dia pun setuju, maka akhirnya kami jalan pulang tanpa ada apa-apa.

Kesokan harinya pada pukul 10.00 Nia menghubungi saya via HP saya
“Hallo, Firman ya?”
“Siapa nih?”, tanya saya
“Nia, masa lupa yang semalam kenalan..”
“Oh, iya.. lagi dimana nih.”
“Lagi di Blok M, kamu ada acara nggak hari ini?”
“Ehmm, nggak ada tuh kenapa?”, jawab saya
“Bisa jemput?”
“Ya udah dimana?”
“Di McDonald Blok M aja ya jam 11.00″
“Ok”

Singkat cerita langsung saya meluncur ke arah Blok M

Sesampainya disana kami ngobrol sejenak lalu kami memutuskan untuk pergi.
“Mau kemana nih?” tanya saya
“Terserah kamu aja..”
“Main kerumahku sebentar yuk mau nggak?”
“Ok”, jawabnya dengan santai.
“Ga takut?”, tanya saya
“Takut apa?”
“Kalo diperkosa gimana?”
Tapi dia dengan santainya menjawab, “Ga usah diperkosa juga mau kok.. he.. he..” sambil melirik kearahku dan mencubit manja pinggangku.
Kemudian saya bertanya, “Bener nih?”
Dia menjawab, “Siapa takut?”

Lalu segera kita meluncur ke arah rumahku di bilangan Tebet yang memang sehari-harinya selalu kosong. Begitu sampai saya lalu mempersilahkan Nia untuk masuk lalu kami duduk bersebelahan dan saya menggoda dia.
“Bener nih nggak takut diperkosa?”

Dia malah menjawab, “Mau perkosa aku sekarang?” ujarnya sambil membusungkan dadanya yang montok itu.

Aku tidak tahu siapa yang memulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu dan saling melumat, dan memainkan lidah nya di mulutku. Tangan kirinya melepas bajuku dan aku tak mau ketinggalan, saya ikut membuka kaos ketatnya itu dan melepas BHnya.

Ciumanku menjalar menyusuri leher dan belakang kupingnya.
“Ahh.. esst.. terus yang..”, Nia udah mulai meracau tidak jelas saat lidah saya turun ke dadanya diantara kedua bukitnya.
Lidah saya terus menjalar di buah dadanya namun tidak sampai pada pentilnya.
Nia mendesah-desah, “Man isep Man ayo Man gue pingin elo isep Man..”

Namun aku tidak memperdulikannya dan masih bermain di sekitar pentilnya dan turun ke perut sambil perlaha-lahan tanganku membuka celananya dan masih tersisa celana dalamnya.
Akhirnya kepalaku ditarik Nia dan ditempelkannya teteknya ke mulutku.
“Ayo Man isep Man jangan siksa gue Man..”
Akhirnya mulutku menghisap tetek sebelah kirinya sedangkan tangan kanan ku meremas-remas tetek sebelah kanannya.
“Ohh.. aah.. esst.. enak Man terus sedot yang keras Man gigit Man ohh..”, racaunya.
Sambil kusedot teteknya bergantian kiri dan kanan tanganku bergerilya di bagian pangkal pahanya sambil menggosok- gosok klitorsnya dari bagian luar celana dalamnya.

Nia pun tidak sabar, akhirnya dia membuka celanaku termasuk celana dalamku sehingga mencuatlah ‘adekku’ yang sudah berdiri tegak itu dan Nia terpana.
“Gila gede banget Man punya elo..”
Dan tanpa dikomando langsung Nia memasukan kontolku ke dalam mulutnya yang mungil, terasa penuh sekali mulut itu, Nia menjilat-jilat ujung kemaluanku terus turun ke bawah sampai selurh batangnya terjilat olehnya.
“Ah.. enak Ni terus Ni” aku pun menahan nikmat yang luar biasa.
Akhirnya aku berinisiatif dan memutar tubuhku sehingga posisi kami menjadi 69. Sesaat aku menjilati bagian bibir vaginanya Nia mendesah.
“Ah.. enak Man esst.. terus Man..”
Akhirnya Nia menggelinjang hebat ketika lidahku menyentuh bagian klitorisnya.
“Ahh.. ma aku sampai Man..” sambil mulutnya terus mengelum penisku sedotan Niapun semakin cepat dan kuat pada penisku maka aku merasakkan denyut-denyut pada penisku.
“Ni, gue juga mau sampai Ni ahh..”
“Barengan ya..”
Mendengar itu Nia makin bernafsu menyedot-nyedot dan menjilati penisku dan akhirnya..
“Acchh.. ach..”, crot.. crot.. crott.., 8 kali penisku menyemprotkan sperma dalam mulut Nia dan dia menelan semuanya sehingga kamipun keluar secara bersamaan.
Akhirnya Niapun menggelimpang disampingku setelah menjilati seluruh penisku hingga bersih.

“Makasih ya Man aku dah lama nggak orgasme sejak suami gue kabur..”, kata Nia
“Emang suami kamu kemana?”
“Ga tau tiba-tiba dia ngilang setelah gue ngelahirin anak gue”
“Lho kamu dah punya anak?”
“Udah umur setahun, Man”

Kemudian Nia memeluk saya dengan eratnya. Lalu dia mendongakkan kepalanya ke arah saya, lalu saya cium bibirnya lembut dia pun membalasnya tapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Kemudian Nia memgang kemaluan saya yang masih terbuka dan meremas-remasnya sehingga secara otomatis ‘adikku’ langsung berdiri dan mengeras.
Kemudian Nia menaiki tubuh saya lalu menjilati habis seluruh tubuh saya mulai dari mulut hingga ujung kaki.
“Ach..” desahku sejalan dengan jilatan di tubuhku.
Kemudian Nia mengulum penisku terlihat jelas dari atas bagaimana penisku keluar masuk mulutnya yang mungil itu.
“Ah. sst.. enak Sayang terus sedot Sayang achh..” desahanku semakin mengeras.

Lalu kuputar tubuhku sehingga posisi 69 dengan Nia diatas tubuhku lalu aku menjilati vagina Nia dan kuisep klitoris Nia.
“Ahh.. enak Man terus Sayang, aku Sayang kamu achh..” desah Nia meninggi.
Kemudian Nia memutar tubuhnya kembali dan dia memegang ‘adikku’ yang sudah siap tempur itu, dipaskannya ke liang vagina setelah pas perlahan-lahan diturunkannya pantat Nia. Sehingga perlahan-lahan masuklah penis saya ke liang senggama Nia
“Auw.. sst.. ohh.. geede banget sih punya kamu yang” lirih Nia.
“Punya kamu juga sempit banget Yang, enak.. ah..” kataku.
Perlahan-lahan aku tekan terus penisku ke dalam vaginanya yang sempit itu. Akhirnya setelah amblas semuanya Nia mulai mengerakan pinggulnya naik turun sehingga membuat penis saya seperti disedot-sedot.
Nia berada diatasku sekitar 15 menit sebelum akhirnya dia mengerang.
“Ahh.. Sayang aku keluar Yang, ahh..” racaunya.

Setelah itu tubuh dia melemas dan memeluk aku namun karena aku sendiri juga mengejar puncak ku maka langsung kubalik tubuhnya tanpa melepas penisku yang ada di dalam vaginanya. Setelah aku berada diatasnya maka langsung kugenjot Nia dari atas terus menerus hampir kurang lebih 20 menit hingga akhirnya Nia mengalami orgasme yang ketiga kali dalam waktu yang singkat ini.
“Ahh.. Sayang aku keluar lagi Sayang ahh..” Desah Nia.
“Kamu lama banget sih Sayang” desah Nia sambil terus menggoyangkan pinggulnya memutar.
“Ahh terus Sayang sstt enak Sayang terus..” racaunya.
“Iya aku juga enak Sayang terus Sayang ahh.. enak Sayang mentok banget ah..” racauku tak kalah hebatnya.

Akhirnya setelah aku menggenjot Nia selama kurang lebih 40 menit aku merasakan seperti ada yang mendesak ingin keluar dari bagian penisku.
“Sayang, aku mau keluar Sayang”
“Mau di dalam atau diluar Sayang?” kataku.
“Bentar Sayang aku juga mau keluar lagi nih ahh..” desah Nia.
“Di dalem aja Sayang biar aku tambah puas” desah Nia lagi.
“Ahh.. sst.. Sayang aku keluar Sayang ahh..” racauku
“Barengan Sayang aku juga sampai ah.. ahh.. oh..” desah Nia.
“Ahh.. Sayang aku keluar Sayang ahh.. sst.. ohh..” desahku.
“Aahh” menyemprotlah spermaku sebanyak 9 kali.
“Emmhh..” saat itu juga si Nia mengalami orgasme.
“Makasih ya Sayang” kata Nia sambil mencium bibirku mesra.

Setelah itu kami langsung membersihkan diri di kamar mandi dan didalam kamar mandi pun kami sempat ‘main’ lagi ketika kami saling membersihkan punya pasangan kami masing-masing tiba-tiba Nia jongkok dan mengulum punyaku kembali dan au dalam posisi berdidi mencoba menahan nikmatnya. Namun aku tidak tahan menahan gejolak yang ada maka aku duduk di ws dan Nia duduk di atasku dengan posisi menghadapku dan dia memasukkan kembali penisnya kedalam vaginanya.
“Bless.. ahh.. sst.. enak Sayang ahh..” racaunya mulai menikmati permainan.

Namun setelah 15 menit aku merasa bosan dengan posisi seperti itu maka aku suruh memutar tubuhnya membelakangi aku dan aku angkat perlahan tanpa melepas penisku dan aku suruh Nia menungging dengan berpegangan pada tepian bak mandi dan ketika dia menungging langsung aku genjot maju mundur sambil meremas-remas buah dadanya yang mengayun-ayun.
“Ah.. Man aku mau keluar Man..” desahnya.
“Man aah..”, terasa cairan orgasme Nia kembali membasahi penisku.
Karena kondisi Nia yan lemas maka aku memutuskan untuk melepaskan penisku dan Nia melanjutkannya dengan mengulum penisku hingga akhirnya..
“Ni aku mau keluar Sayang.. ah..”, Sambil kutekan dalam-dalam kepalanya ke arah penisku sehingga terlihat penisku amblas semua ke mulutnya yang mungil itu.

Dan ketika Nia menyedot penisku maka.. “Ah.. Ni..” akhirnya aku semprotkan seluruh spermaku ke mulut Nia dan aku lihat Nia menelan semua spermaku tanpa ada yang tumpah dari mulutnya bahkan dia membersihkan penisku dengan menjilati sisa-sisa seluruh sperma yang ada.

Setelah itu kami saling membersihkan tubuh kami masing-masing dan kami kembali ke kamar dengan tubuh yang sama-sama telanjang bulat dan kami tiduran sambil berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami dan kami saling mencium dan meraba serta ngobrol-ngobrol sejenak.

Tanpa terasa kami sudah berada di rumahku hampir selama 4 jam. Maka akhirnya kami mengenakan baju kami masing-masing dan setelah itu aku mengantarkan Nia pulang ke kostannya di daerah Blok M dan berjanji untuk saling menghubungi. Hingga saat ini diturunkan kami masih sering melakukan hubungan intim.

Peace, Love, Unity & Respect 7:30 pm

Sampai saat-saat terakhir menjelang kepindahan pekerjaan Eksanti, sejak ia mengajukan surat pengunduran dirinya dari kantorku (baca: Eksanti, Hadirnya Orang Ketiga 1,2), aku sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Yoga, pacar Eksanti. Hingga disuatu sore, dari kaca jendela ruang kerjaku di lantai 3, aku memergoki seseorang yang menjemput Eksanti selepas jam kantor. Semula aku tidak pernah berfikir bahwa laki-laki itu adalah pacar Eksanti, namun karena dalam seminggu ini Eksanti dijemput oleh laki-laki yang sama, barulah aku sadar bahwa laki-laki itulah yang bernama Yoga. Aku mendengar dari teman-teman sekantorku yang lain, bahwa Yoga sedang mendapat training di Jakarta, sehingga ia bisa menjemput Eksanti setiap saat.

Memang sejak kedatangan Yoga di Jakarta, hari-hari terakhir itu Eksanti terlihat semakin cantik karena dandanannya yang semakin modis. Yang selalu tampak menarik bagiku adalah kulit mukanya yang semakin putih bersih, sehingga sangat kontras dengan warna bibirnya yang tipis dan selalu terlihat basah. Model rambutnya yang hitam sebahu, sedikit terurai di dekat telinga, dan diberi sedikit olesan jelly, sehingga senantiasa kelihatan basah. Juga yang kelihatan sensual adalah cara berpakaiannya. Eksanti selalu memakai blouse atau kaos yang agak ketat, sehingga perutnya kelihatan ramping dan payudaranya terlihat agak menonjol. Memang payudaranya sendiri tidak terlalu besar, tetapi terlihat sangat seksi bila ia memakai baju kaos yang ketat, walaupun sudah tertutup dengan stelan blazernya. Satu lagi, yaa… satu lagi yang sangat menarik, bentuk kakinya yang kecil memanjang seperti kaki belalang. Kulitnya putih mulus, tanpa cela ditumbuhi bulu-bulu halus di sepanjang betis dan pahanya. Ia sangat sadar dengan potensi yang dimilikinya itu, sehingga ia sangat senang mengenakan rok span setinggi kira-kira 5 cm di atas lututnya.

******

Sudah lebih dari dua minggu ini Eksanti selalu pulang tepat pukul 17.00, karena Yoga selalu menjemputnya tepat waktu. Namun dalam dua hari terakhir aku perhatikan sudah lebih dari pukul 17.30, Eksanti masih belum beranjak untuk pulang. Karena penasaran aku menanyakan kepadanya, “Santi, kenapa sih aku perhatiin sekarang kamu pulang lebih malam, emang nggak dijemput lagi?”
“Yaachh…, abis yang njemput sudah nggak ada sih Mas…”, sahutnya.
“Masak iya, kemana Mas Yogamu itu?” tanyaku.
“Aaach…, Mas jangan nanya-nanyain dia deh. Janjinya Mas Yoga mau ditraining 2 bulan, lalu langsung ditempatkan di Jakarta. Tapi nyatanya baru sebulan ditraining udah disuruh balik lagi ke Malang, karena di sana ternyata kekurangan orang.” jawabnya dengan nada kesal.
“Sebenarnya sih Mas Yoga berhak untuk menolak permintaan bosnya yang genit itu, tapi katanya ia cinta banget sama pekerjaannya…, jadi yaa… diikutin aja perintah bosnya itu”, ujar Eksanti melanjutkan.
“Wah… hebat dong, orang kayak Yoga. Ia pasti loyal banget sama kantornya dan itu mencerminkan tipe orang yang setia”, jawabku sekenanya.
“Loyal apaan…, Santi nggak ngerti ama dia. Sebenarnya dia lebih cinta sama Santi apa sama pekerjaannya sich…?”, Santi berujar sedikit ketus mendengar komentarku.
Aku tahu dari jawabannya, hubungan mereka pasti sedang bermasalah lagi gara-gara persoalan ini. Sebuah hal yang wajar untuk dua orang yang baru mulai berpacaran, hingga akupun enggan untuk menanggapinya lebih lanjut. Aku tidak mau mencampuri privacy mereka berdua.

******

Beberapa hari kemudian, saat makan siang, aku baru saja datang setelah selesai melakukan meeting di luar kantor. Kantorku sepi sekali, hanya seorang office boy yang sedang duduk di area receptionist di lantai bawah. Ketika aku naik ke ruanganku di lantai tiga, aku melewati area ruang makan kantorku, yang biasanya ramai pada saat jam makan siang seperti ini. Secara kebetulan aku melihat di ruang itu cuma Eksanti yang sedang makan seorang diri. Rupanya teman-temannya yang lain sedang makan diluar kantor. Segera aku menemaninya duduk di depan meja makan itu.
“Makan sendirian saja, San ?”, sapaku kepadanya.
“Iyaa.. Mas. Mas sudah makan?”, sahutnya.
“Sudah. Tadi sekalian meeting sama klien”, jawabku singkat, sambil menarik kursi untuk duduk di depan kursinya.
Sambil makan, Eksanti melihat-lihat iklan bioskop di koran. Tiba-tiba Eksanti berkata, “Waah… film ini bagus, Mas. Santi kepingin nonton, tapi sayang nggak ada yang nemenin”.
“Kalau memang nggak ada teman, emangnya Santi masih mau Mas temenin ?”, tanyaku menyelidik.
“Kalau Mas emang bersungguh-sungguh mau nemenin, kapan Mas bisanya ?, Asal jangan yang malam-malam. Paling lambat yang mulainya jam 8, jadi sekitar jam 10-an kita sudah bisa pulang. Soalnya, ntar nggak enak kalau ada yang ngelihat kita jalan sampai malam, apalagi kalau ketemu temannya Mas Yoga…”, jelas Eksanti panjang lebar. Aku tahu, ia sebenarnya masih dalam posisi yang bimbang antara menjaga kesetiaannya dengan Yoga, atau tetap bersamaku.
“Besok malam…?. Kayaknya jadwal Mas besok nggak begitu padet, jadi bisa ninggalin kantor cepet. Kalau hari-hari berikutnya jadwal Mas sudah sangat padat dengan janji sama klien, jadi nggak akan bisa pulang cepet.” kataku.
“Kalau gitu besok malam yaa.. Mas?”, ia memohon sambil matanya menatapku penuh harap.
“Boleh, Mas jemput jam berapa?”, aku menyetujui permintaannya.
“Santi besok mau pulang cepet aja deh, jadi kira-kira bisa sampai di kost jam 6-an. Lalu mandi dulu. Jadi kira-kira pukul 7 sore kita berangkat yaa…”, kata Eksanti menjelaskan rencananya dengan rinci,
“Oke”, sahutku.

******

Besok sorenya setelah acara di kantor selesai, sengaja aku mandi di kantor lalu siap berangkat ke rumah kost Eksanti di daerah Selatan Jakarta. Untung jalanan belum terlalu macet, sehingga pukul 7 kurang 5 menit, aku sudah sampai di depan pintu kamar kostnya. Sampai di sana ternyata Eksanti belum selesai berdandan, sehingga aku harus menunggu selama beberapa menit. Kemudian ketika ia selesai, kami langsung berangkat karena takut terlambat. Jakarta memang sedang macet-macetnya pada jam-jam itu. Akhirnya setelah dengan sedikit ngebut, kami sampai juga di Grand Wijaya Theater jam 8 malam tepat. Untung ticket box-nya masih buka, dan setelah membeli tiket, kami langsung masuk tanpa sempat lagi membeli snack dan minuman. Aku memang sengaja meminta tempat duduk yang di pinggir. Entah kenapa, sampai saat film dimulai penontonnya hanya sedikit sekali, sehingga ruangan teater tersebut menjadi bertambah dingin.

Artis-artis pemain film-nya memang sexy-sexy, apalagi film yang kami tonton ini terhitung banyak juga adegan panasnya yang sangat berani. Ketika adegan yang panas muncul di layar, Eksanti tiba-tiba memegang tanganku. Suatu saat, ketika adegan filmnya mulai memanas lagi, sebelum tangan Eksanti beraksi meremas tanganku, aku mendahuluinya dengan memegang telapak tangannya erat-erat. Sejenak kemudian, walaupun adegan panas sudah berlalu dari layar film itu, jemari tangannya yang lentik masih tetap berada erat dalam genggamanku. Perlahan-lahan dengan sangat berhati-hati, bersamaan dengan gerakan tanganku, tangan Eksanti aku tumpangkan di atas pahanya. Saat itu Eksanti masih diam saja atas aksi yang aku lakukan ini. Aku menahan nafas menunggu reaksinya. Lalu dengan sedikit perasaan was-was, ujung-ujung jemariku mulai mengelus lembut pahanya yang sedikit terbuka, karena bagian bawah roknya yang pendek itu agak tersingkap pada saat ia duduk tadi.

Beberapa menit hal itu aku lakukan dan Eksanti pun masih tetap diam tanpa melakukan reaksi. Kenekatanku semakin bertambah, dengan menarik tangan Eksanti lebih arah ke atas, sekaligus untuk menyingkap ujung bawah roknya supaya semakin naik ke pangkal paha. Aku melirik ke arah roknya yang kini telah tersingkap sampai hampir ke pangkal pahanya, sehingga pahanya yang putih mulus itu terlihat remang-remang dengan penerangan cahaya dari pantulan layar film saja. Aku pura-pura diam sebentar. Kebetulan muncul adegan panas lagi di layar film dan seluruh telapak tanganku segera meraba lembut pahanya. Eksanti mulai bereaksi dengan memegang bagian atas tanganku. Aku mengira, Eksanti akan melarang kegiatan tanganku ini, tetapi ternyata perkiraanku salah. Tangannya hanya ditumpangkan saja di atas tanganku.

Melihat reaksinya yang seolah memberikan sinyal positif, aku memberanikan lagi operasi ini. Tanganku aku mulai mengusap-usapkan lembut ke kulit pahanya dari atas lutut sampai ke bagian atas dekat pangkal pahanya. Sudah lebih dari 5 menit aku melakukan belaian ini, bergantian paha kanan dan kirinya, tapi Eksanti tetap diam, hingga nafasku sendiri yang mulai memburu. Akhirnya aku memberanikan telapak tanganku untuk mengusap pahanya sampai ke arah selangkangannya, sehingga ujung jariku berhasil menyentuh pinggir renda celana dalamnya. Bibir kewanitaannya mulai aku gelitik dengan 2 jemariku. Saat itu Eksanti kelihatan mendesah sambil membetulkan posisi duduknya. Aku menggelitik terus celah lembut kewanitaannya dengan jari dan kadang-kadang jemariku aku lesakkan ke dalam lubang kewanitaannya yang ternyata sudah basah juga. Belum beberapa lama, Eksanti menggeliat di atas tempat duduknya dan berbisik seolah merintih, “…Mas, jangan digitukan nanti basah semua celana dalam Santi”.

Mendengar desahannya itu, tanganku aku tarik dan aku pindahkan ke pahanya saja. Aku berbisik di telinganya,”Aku suka melakukan yang tadi. Kalau Santi juga suka, nanti lain kali Mas terusin lagi yaa… ?”.
Eksanti mengangguk dan berkata pelan, “Minggu depan saja kita jalan lagi, soalnya kalau keseringan pergi malam-malam, ntar nggak enak sama teman-teman di kost. Apalagi yang kenal dengan Mas Yoga”. Ia terlihat masih saja dalam posisi kebimbangannya, antara harus bersikap setia dengan Yoga, atau menikmati kebersamaan percumbuannya denganku.

Setelah film selesai diputar, sambil berjalan keluar gedung teater, aku merangkul pundaknya dan Eksantipun memegang pinggangku sambil kepalanya disandarkan ke bahuku. Aku mengajak Eksanti makan malam, sekalian sambil mengobrol macam-macam. Sudah cukup lama kami tidak pernah melakukan hal itu. Selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku harus segera mengantarkan Eksanti pulang. Sebelum turun dari mobil, di depan pagar rumah kostnya, aku memeluknya dan diapun membalasnya dengan merangkul leherku kuat-kuat untuk menerima ciuman dan kecupan-kecupan pada bibirnya. Selesai melakukan kecupan mesra itu, dengan sedikit teknik yang sangat halus, tanganku menyambar dan memijit lembut payudaranya.
“Acch.. Mas nakal!!, katanya manja.
“Abis Mas kangen sama yang itu… Bye… bye…“, ujarku dengan senyum simpul

Keesokan harinya, aku bertemu Eksanti lagi di kantor dan kami bersikap biasa-biasa saja sehingga tidak ada teman yang curiga kalau kami telah melakukan sedikit kemesraan semalam.

******

Suatu siang di hari Rabu, kira-kira seminggu setelah acara kami menonton bersama, Eksanti datang ke kamarku dengan membawa laporan-laporan yang harus aku tanda tangani.
“Mas, nanti malam Mas ada acara?”, Eksanti bertanya.
“Kenapa?”, aku bertanya dengan sikap yang berpura-pura acuh. Sejujurnya, dalam hati aku berkata, saat-saat seperti inilah yang paling aku nantikan.
“Kalau Mas ada waktu, Eksanti kepingin makan di luar, tapi sayangnya lagi nggak ada teman,” sahutnya bersungguh-sungguh. Aku memang tidak salah sangka, pucuk di cinta ulam tiba.
“Oke. kalau Santi mau, Mas bersedia nemenin Santi jalan. Jam 5 sore Mas mau meeting dulu dengan klien di Shangrila, jadi kira-kira jam 7 seperti minggu lalu, Mas jemput di tempat kost kamu yaa.. ?”, kataku memberikan tawaran .
“Terima kasih yaa.. Mas”, ia langsung menyetujui tawaranku, matanya nampak berbinar-binar senang.

Sore itu aku sungguh tidak sabar untuk segera menyelesaikan acara meeting dengan klienku. Jam 18.15 sore aku sudah siap berangkat dari Hotel Shangrila, langsung menuju ke rumah kost Eksanti. Eksanti memang sengaja pulang dari kantor lebih awal dari biasanya, sehingga ia telah sampai di rumah kostnya lebih dulu dari kedatanganku. Sesampainya di sana aku menunggu di ruang tamu, dan baru kira-kira 10 menit kemudian Eksanti keluar dari kamarnya.

Aku sempat terpesona beberapa saat. Penampilan Eksanti sore ini benar-benar lain dari kesehariannya. Biasanya ia memakai rok mini, yang dipadukan dengan blouse atau kaos pendek terbuat dari bahan yang agak ketat, dan tertutup rapi dengan setelan blazernya. Kali ini ia tampil dengan memakai gaun panjang warna ungu dengan belahan yang agak tinggi di bagian paha sebelah kirinya. Saat ia berjalan, pahanya kirinya nan putih bersih itu kelihatan dengan jelas. Bahkan dalam posisi tertentu, bagian dalam paha kanannya juga nampak samar-samar mengintip dari belahan gaunnya. Sungguh, makhluk cantik ini kelihatan sexy sekali sore itu.

“Ckkk… ckkk… ckkk…,” komentarku.
Eksanti tersenyum mendengar pujianku, sambil memutarkan tubuhnya. Sungguh lebih mempesona lagi pemandangan yang aku saksikan, karena ternyata punggungnya terbuka lebar sampai ke bawah dengan model huruf V sampai ke atas pinggulnya. Aku yakin sekali kalau Eksanti pasti tidak mengenakan bra saat itu.

Tanpa sempat duduk lagi, Eksanti langsung mengajak aku berangkat. Aku merangkul pinggangnya, Eksanti menjadi agak kikuk. Ia takut kalau teman-teman kostnya menyaksikan kemesraanku kepadanya. Begitu masuk ke dalam mobil, karena sudah tidak tertahankan lagi, aku memohon agar diijinkan untuk mengecup bibirnya yang merah merekah dan selalu tampak basah itu. Kulit mulus punggungnya yang terbuka itu aku belai lembut dengan jemari tanganku, dan aku memeluknya erat. Ternyata dugaanku benar, saat dadanya aku tekan erat-erat ke arah dadaku, terasa gumpalan daging yang kenyal tanpa terlindungi bra menempel erat di dadaku. Denyut jantungku langsung berdetak cepat.

Kemudian mobil mulai aku jalankan dan tangan Eksanti diletakkannya di atas paha kiriku sambil kadang-kadang memijit pahaku.
“Mau makan di mana, Santi ?”, aku bertanya untuk meminta usulannya.
“Terserah Mas, deh” jawabnya pendek.
“Kalau makan steak, Santi suka nggak?” tanyaku lagi.
“Mau Mas, malah sebenarnya Santi sudah agak lama nggak pernah makan steak “, katanya.
“Ke Tonny Roma’s, setuju…?”, aku bertanya lagi untuk menegaskan keinginannya.
“Okay, Mas..”,Ia mengangguk, sambil tersenyum

Akhirnya kami menuju ke sebuah restoran di sekitar bundaran Ratu Plaza. Saat turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran itu, entah mengapa, kali ini malah Eksanti yang tanpa canggung selalu merangkul pinggangku. Eksanti duduk di sebelah kananku. Memang aku sudah mengatur posisi duduk kami sedemikan rupa, supaya tangan kananku bisa selalu berdekatan dengan paha kirinya yang terbuka sampai ke atas. Aku berencana untuk memulai ‘kenakalanku’, dari sejak saat makan malam ini.

Malam itu sikap Eksanti sungguh sangat berbeda dengan sikapnya sewaktu kami menonton film beberapa hari yang lalu. Kali ini Eksanti tampak begitu ceria dan manja. Saat makan, sengaja dalam posisi duduknya Eksanti merapatkan tubuhnya ke tubuhku serta tangannya selalu memegang pahaku. Sebelum memulai aksiku di atas kulit mulus pahanya, tanganku aku pergunakan untuk mengusap-usap kulit lembut punggungnya yang terbuka. Untung saat itu rumah makan masih sepi pengunjung, sehingga tanganku agak bebas ‘berkarya’.

Setelah puas meraba-raba punggungnya, sambil seolah-olah merangkul pinggangnya, dengan lincah aku susupkan tanganku ke dalam roknya. Tanganku merayap ke daerah pinggang, meremas-remas lembut di sana sebentar. Kemudian sedikit turun merayap ke depan, kini tanganku bisa merasakan karet atas celana dalam yang menjepit di atas perutnya. Kemudian tanganku aku tarik untuk bergerak ke atas, menyusup ke bawah ketiaknya dan akhirnya menuju ke samping depan. Aku rasakan ujung jari-jemariku dapat menyentuh bagian samping payudaranya yang benar-benar masih kenyal. Pekerjaaan tanganku berhenti saat waitress membawa makanan ke arah meja kami.

Pada saat makan, tanganku mulai lagi meraba pahanya kiri yang terbuka itu. Eksanti betul-betul penuh pengertian. Saat-saat tangan kananku sibuk meremas gemas pahanya, ia membantuku memotong-motong kecil daging di atas piringku dan menyuapkannya ke dalam mulutku. Tanganku benar-benar ia beri keleluasaan untuk bermain di sepanjang paha mulusnya, bahkan sampai ke bibir kewanitaannya pun sempat aku remas gemas dengan penuh kemesraan. Supaya tidak tampak terlalu mencurigakan, kadang-kadang tangan kananku aku pakai pula untuk menyendok makananku lagi, tetapi memang lebih sering aku gunakan untuk berkarya di sekujur paha dan pangkal kewanitaannya.

Eksanti masih terus menyuapiku dengan makanan, hingga suatu saat Eksanti mendesah dan tangannya memegang tanganku erat-erat seraya berkata, “Ssshhh… Masss.., jari tangan Mas benar-benar hebat, bisa membuat Eksanti basah”.
Aku tidak percaya, maka aku meraba kembali kewanitaannya. Ternyata benar, celana dalam Eksanti terasa sangat lembab, apalagi di sekitar lubang kewanitaannya. Tiba-tiba aku mendapat ide gila yang mungkin agak jorok. Ujung jari telunjukku aku masukkan ke lubang surgawinya agar bisa mengait lendir yang menempel di bibir kewanitaannya. Ternyata usahaku berhasil. Aku melihat ada lendir kental mirip santan menempel di ujung telunjukku. Aku segara menjilat lendir itu dan aku telan bersama makanan yang disuapkan oleh Eksanti. Aku betul-betul merasa “hot” makan daging steak dicampur lendir kenikmatan Eksanti. Aku mendekatkan mulutku ke telinga Eksanti sambil berbisik, “Santi, Mas sayang kamu…”.
Eksanti tampak tertegun sejenak melihat ulah nekatku. Namun ia tersenyum manis dan menjawab lembut sambil mencium pipiku, “Mas, sabar yaa… Sebentar lagi, malam ini Santi akan menjadi milik Mas sepenuhnya. Santi akan memberikan segalanya yang terbaik untuk Mas nanti. Percayalah”.

********

Selesai acara makan malam, karena aku merasa sudah mendapat lampu hijau dari Eksanti, maka tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, aku langsung mengarahkan stir mobilku menuju motel favorit kami di daerah Selatan Jakarta. Motel itu berjarak tidak terlampau jauh dari tempat kami makan sebelumnya. Begitu sampai di gerbang kompleks motel itu, aku segera membelokkan mobilku dan langsung memasuki sebuah garasi yang memang sudah disiapkan oleh petugas di sana untuk mobilku. Sepertinya mereka sudah cukup hapal dengan plat mobilku, sehingga merekapun tahu letak kamar favorit kami berdua. Begitu pintu garasi tertutup, aku melirik Eksanti untuk melihat ekspresi wajahnya, ia sedikit tersenyum. Dengan tidak sabar, kami langsung keluar dari mobil menuju kamar. Eksanti dengan manjanya berjalan merangkul pinggangku, badannya digayutkan ke tubuhku sepenuhnya. Aku segera membereskan administrasi motel, memberi sedikit tips kepada petugas yang telah selesai menyiapkan air minum, sabun dan handuk untuk kami dan langsung mengunci pintu.

Ketika kami tinggal berdua di dalam kamar motel, Eksanti tiba-tiba bertanya, “Mas, ‘pengin banget’ ya..?”
“Kepingin apa..?”, aku balik bertanya dengan nada bercanda.
“Nggak tahu ach..!”, Eksanti tersipu malu.
Aku mencubit hidungnya, kami bercanda dengan penuh kemesraan. Walaupun gelora birahiku sebenarnya sudah sangat ingin aku ledakkan, tetapi aku masih bertahan untuk tidak segera mengumbar nafsuku. Kali ini aku ingin lebih berlama-lama bercanda, bercerita, bermesraan, menikmati saat-saat terakhirku dengan Eksanti. Aku benar-benar tidak ingin terlalu terburu-buru.

Tidak terasa 1 jam sudah kami berada di kamar motel hanya mengobrol, benar-benar hanya mengobrol, tanpa melakukan aktifitas fisik apa-apa. Entah mengapa, dari obrolan-obrolan yang kami lakukan, aku merasakan bahwa Eksanti yang saat ini berada di depan mataku adalah milik Yoga, milik orang lain. Aku ingin, kalaupun malam ini akan terjadi percintaan di antara kami berdua, aku ingin penegasan itu muncul dari mulut Eksanti, bahwa iapun sungguh-sungguh menginginkannya. Aku tidak mau dikasihani. Dan aku juga tidak mau memaksa, walaupun sebenarnya aku sangat ingin melakukannya.

Sampai akhirnya.. tiba-tiba, “Mas, tidak ingin bermesraan dengan Santi malam ini..?” katanya sambil memelukku.
Aku melihat, kali ini mimik wajahnya serius.
“Aku ingin sekali, Santi, sungguh aku ingin sekali. Tetapi aku takut, kalai kamu masih bimbang untuk menerima keberadaanku bersamamu malam ini.”
“Lakukanlah Mas, Santi rela, dan benar-benar mengharapkan belaian Mas.”

Aku terharu mendengarnya, dan tanpa membuang waktu lagi, aku memeluk erat tubuhnya. Dua buah gunung kembarnya terasa mengganjal di dadaku, menghantarkan aliran gairah yang bergejolak. Kejantananku langsung mengeras dan membesar. Eksanti merangkul leherku erat-erat hingga permainan ciuman mulut, bibir dan lidah kami berlangsung dengan hangat dan penuh kemesraan. Saat aku menciumnya, aku mengecup dalam-dalam bibirnya dengan penuh perasaan, sehingga Eksanti bukan hanya merasakan kenikmatan saja tetapi juga merasakan kasih sayangku. Dengan penuh perasaan, aku menciumi seluruh wajahnya yang cantik. Eksanti membalasnya dengan penuh gairah. Bibir kami saling melumat dan menghisap. Tanganku mulai beraksi meremas buah dadanya, mengusapnya lembut. Eksanti pun balas meremas batang kejantananku.

Beberapa saat setelah berciuman dengan mesranya, tanganku mulai meraba lembut kulit punggungnya yang terbuka. Aku merasakan tubuh Eksanti yang hangat di belakang sana. Lalu tanganku beralih memegang tali gaun di kedua bagian pundaknya dan aku menariknya ke samping. Eksanti pun membantu dengan meluruskan tangannya ke atas sehingga gaun bagian atasnya langsung terlepas. Payudaranya yang masih kenyal dan hangat terlihat dengan jelas di depan mataku. Putingnya kelihatan mulai membesar dan menegang dengan warna merah padma membuat aku semakin terpesona. Sambil terus berciuman, satu persatu pakaian Eksanti terlepas dan terhempas ke lantai.

Kini Eksanti hanya menyisakan celana dalam yang membalut tubuhnya saja. Tubuh Eksanti aku angkat dan aku baringkan di atas ranjang dengan masih memakai celana dalam saja. Tapi hal itu tak berlangsung lama, aku segera melepaskan penutup terakhir tubuh Santi itu. Tampak kewanitaannya yang seperti bukit kecil itu tertutup oleh rambut yang cukup lebat. Aku kemudian melepas T-shirt dan celana panjangku, sambil memandangi tubuh indah Eksanti yang terbaring di atas ranjang dengan pose yang sangat menggiurkan. Eksanti pun tidak mau kalah melepas penutup terakhir tubuhku.

“Occh.., gemes sekali deh Mas, kalau Santi ngelihat yang ini..!”, matanya berbinar-binar tajam menatap tajam ke arah kejantananku.
“Memangnya punya Mas Yogamu…?”, aku belum sampai pada ujung kalimat pertanyaanku, dan langsung dipotong oleh Eksanti, “…paling separohnya..!, Achh, Mas jangan ngomongin dia lagi sekarang ach..!!”
Meskipun kekesalan Eksanti itu diucapkannya dengan nafas yang memburu dan wajah yang sedikit memerah menahan gairah, namun aku bisa merasakan bahwa kejantanan Yoga mungkin relatif lebih kecil dibandingkan milikku. Tetapi dalam kondisi seperti saat ini, untuk apa aku harus membanding-bandingkannya, masa bodoh saja.

Dalam keadaan tanpa sehelai benangpun, kami terus saling memberikan rangsangan ke titik-titik gairah yang semakin membakar birahi kami. Aku merebahkan tubuh ramping Eksanti ke atas ranjang, aku memandangi tubuhnya yang indah. Payudaranya yang mencuat menantang, kulit putih mulusnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, rambut kewanitaannya nampak hitam berjejer rapi layaknya barisan semut sampai ke pusarnya, membuat nafsuku semakin memuncak.

Aku mendekati kepala Eksanti, kemudian mulai mencium wajah cantiknya. Sementara tanganku menjelajahi seluruh lembah dan bukit puncak payudaranya. Jari-jemariku merayap ke bawah membelai lembut sampai ke pusar dan perut rampingnya. Ciumanku beranjak turun, segera lidahku mulai menelusuri lehernya yang jenjangnya. Terus turun.. menuju ke bukit-bukit payudaranya yang sangat menantang, aku mencium dengan lembut bergantian yang kiri lalu yang kanan. Putingnya yang tampak telah menegang dan memerah warnanya itu, aku hisap, aku jilat, dan kadang aku gigit-gigit pelan dengan jepitan bibirku. Sementara tanganku semakin liar beraksi di sekitar celah kewanitaan dan pahanya. Sekali-kali rambut kewanitaannya aku usap-usap lembut perlahan, sambil jari tengahku menggelitik daging kecil di antara celahnya. Kacang kecil itu mulai nampak memerah, berdenyut cepat, mengembang mengempis seperti jantung manusia. Eksanti makin mendesah hebat, “Aaach…!!”.

Kepalaku semakin turun ke arah bawah tubuh indah Eksanti. Lidahku mulai menyapu-nyapu perutnya, pelan… makin ke bawah sampai pubis di daerah sekitar kewanitaannya. Kepalaku bergoyang ke kanan dan kiri, hingga bibirku ikut membasahi kulit mulus kedua pahanya. Tanganku terus mengusap-usap dan memijit betis serta telapak kakinya. Ciuman dan jilatan lidahku semakin beranjak turun menuju ke lututnya, kemudian turun lagi ke betis, tumit kaki, lalu berakhir di telapak kakinya. Jari-jemari kakinya pun aku hisap satu persatu, hingga semuanya basah oleh air liurku. Eksanti kegelian. Kepalaku beranjak naik. Bibirku mulai menghisap daerah selangkangan Eksanti dengan membuka lebar-lebar kedua pahanya. Lalu dengan sedikit kasar, daerah di antara anus dan kewanitaan itu, aku cium.., aku kecup.., aku jilat.. aku gigit.. semuanya. Eksanti mendesah-desah nikmat dan terasa mulai ada cairan lendir bening yang menetes keluar dari celah surgawinya.
“Masss..! Terus… mass..!”, Eksanti mulai meracau, pertanda bahwa birahinya sudah makin memuncak.
Aku semakin bersemangat, seluruh lekuk tubuh Eksanti tidak ada yang lolos dari jilatan lidahku.

Kepalaku masih berada di bagian bawah, terjepit diantara kedua paha mulusnya. Jemari tanganku menyibakkan bulu kewanitaannya yang hitam. Lidahku mulai asyik menjilati kacang kecilnya dan kadang menerobos, mengoyak, mencabik celah kewanitaannya. Eksanti semakin mengerang nikmat, rambutku diremas-remas kuat saat klitorisnya aku hisap-hisap lembut dengan jepitan bibirku.
“Sudah Mass.., Santi nggak tahan..!”
Tetapi aku masih belum merasa puas menikmati keindahan gelinjang tubuh dan ekspresi nikmat di wajah Eksanti. Lidahku semakin asyik bermain di liang senggamanya, dan aku ingin lebih dari itu . Aku mulai memasukkan satu jariku ke dalam rongga kewanitaannya, sementara lidahku terus menjilati klitorisnya. Jari-jemariku berputar mencari titik g-spotnya. Tanganku yang lain asyik meremas payudaranya dan memilin-milin putingnya sampai mencuat mengeras. Seluruh tubuh Santi meliuk-liuk menahan kenikmatan yang aku berikan.

Hampir setengah jam aku tiada henti memainkan emosi jiwa dan birahi Eksanti. Hingga akhirnya tubuh Eksanti mengejang kaku dan berteriak panjang melepas orgasmenya yang pertama. Terlihat dari lubang kewanitaannya mengalir deras cairan cintanya. Mulutku langsung mencucup ke arah lubang itu dan aku sedot kuat-kuat…, hingga sruuuttt… lendir birahinya masuk ke dalam mulutku. Aku menggelitik terus selangkangannya supaya cairan cintanya keluar lebih banyak lagi. Ternyata benar, Eksanti masih mengeluarkan lebih banyak lagi cairan cintanya yang langsung masuk semuanya ke dalam mulutku. Rasanya asin-asin, asam dengan bau yang sangat khas. Birahiku menjadi lebih panas, berkobar-kobar lebih hebat setelah meminum lendir cintanya.

Eksanti diam sejenak, mungkin menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dialaminya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Eksanti tiba-tiba berdiri dan mendorong tubuhku hingga terlentang di atas kasur. Langsung saja Eksanti aku ajak bermain dengan pose 69. Aku segera naik ke atas tubuhnya dan kejantananku aku posisikan di persis hadapan mulut Eksanti. Ia dengan sigap mulai mempermainkan batang keperkasaanku dengan lidah dan mulutnya. Aku sendiri kembali menyingkap bulu-bulu pubisnya yang rimbun itu. Aku menjilat-jilat liar klitorisnya, menggigit-gigit lembut dan kadang-kadang aku kembali menarik-nariknya dengan jepitan bibirku. Eksanti tampak terangsang sekali dengan permainan mulutku di daerah kewanitaannya itu. Apalagi pahanya sekarang aku buka lebar-lebar dan daerah selangkangan antara anus dan kewanitaannya aku gosok terus dengan jari-jemariku, kadang-kadang aku jilati lagi.

Begitu klitorisnya aku getar-getarkan dengan ujung lidahku yang bergerak begitu cepat, hanya semenit saja Eksanti sudah berontak dengan kaki dan pantatnya digerakkan kesana kemari.
Ia kemudian mengaduh keras, “Occhhh mass…, Santi nggak tahan… Santi keluarrr…, lemas masss… ouchhh…”.
Saat itu terasa lendirnya meleleh deras dan kembali membasahi ujung hidungku. Segera mulutku kembali mencucup lubang kewanitaannya, aku menyedot semua lendir cinta yang keluar dari lubang surgawinya. Sungguh, akupun juga merasakan nikmat dari lelehan lendirnya itu. Kewanitaan Eksanti menjadi basah semua, campuran antara air liurku dengan lendir cintanya.

Setelah gelombang birahinya mereda, aku sekarang membelai rambutnya dan mengusap keringat yang banyak muncul membasahi keningnya seraya bertanya, “Eksanti, kamu sudah capai?”.
“Belum Mas, Eksanti cuma lemas saja karena nggak kuat menahan kenikmatan yang luar biasa dari permainan lidah Mas tadi. Rasanya sampai ujung rambut dan ujung kaki Mas,” sahutnya.
“Kalau begitu kita bercinta lagi yaa…?” pintaku.
Eksanti mengganggukan kepala sambil tersenyum, “..mas tadi curang, ntar Santi mau balas..!”, ia menambahkan.

Lalu dengan lincahnya lidah Eksanti yang hangat mulai menelusuri tubuhku. Sekarang aku yang mendesah tak karuan, apalagi dengan ganasnya Eksanti menjilat-jilat puting dadaku. Dihisapnya pelan dan kadang digigit, sementara tangannya dengan lembut mengocok kejantananku yang kian membengkak dan mengeras.
“Santiii.., Mas sudah nggak tahan..!”
Tetapi sepertinya Eksanti tidak peduli, kini kejantananku sudah berada di dalam mulutnya yang mungil, sementara jari-jarinya tetap mengelus-ngelus dadaku dan menjentik-jentik puting dadaku, membuat seluruh aliran darahku bergejolak menahan kenikmatan yang luar biasa. Tanganku dengan gemas meremas pinggul dan buah pantat Santi yang kenyal. Payudaranya juga terus aku elus dan putingnya aku pilin lembut.

Nafsu Eksanti kembali bangkit dan ia langsung menduduki kejantananku yang sudah basah oleh lumasan air liurnya. Jari-jemarinya membimbing kejantananku memasuki celah kewanitaannya. Berapa kali sudah kepala kejantananku meleset dan mengenai buah pantat Eksanti. Dalam posisi seperti ini memang agak sulit, karena bibir kewanitaan Eksanti agak mengering. Cairan cintanya telah habis terkuras tadi, apalagi lobang kewanitaan Eksanti memang masih tampak sangat rapat. Jari-jemariku saja tadi masih terasa terjepit keras oleh denyutan dinding-dinding kewanitaannya, apalagi kejantananku nanti…

“Mas di atas deh..!” akhirnya Eksanti menyerah.
Aku membuka paha Eksanti lebar-lebar, bulu kewanitaannya yang hitam aku sibakkan ke samping. Dengan perlahan-lahan kejantananku aku gosok-gosokkan di sekitar daging kecil merahnya. Eksanti dengan rasa tidak sabar langsung saja memegang batang kejantananku dan mengarahkan ujung kepalanya ke sasaran.
“Tekan Masss..!, yang kerass…”
Aku segera memajukan pinggulku sedikit, “Blessshh..!”
“Achhh..”, Eksanti menjerit saat kepala kejantananku terbenam.
“Kenapa Santiii..? Sakit..?” aku kuatir Eksanti merasa kesakitan.
Eksanti hanya menggeleng dan semakin erat memelukku. Jepitan bibir kewanitaan Eksanti di batang kejantananku sungguh luar biasa nikmatnya. Benar-benar sesak, membuat kejantananku semakin membengkak dan mengeras.

Perlahan aku mulai memompa, setengah kejantananku terdorong masuk, lalu aku tarik kembali, masuk lagi, tarik lagi, begitu seterusnya. Sementara erangan dari mulut Eksanti semakin tidak jelas, dengus nafas kami berdua sudah seperti lokomotif tua menahan kenikmatan yang kian menyerang tubuh kami. Gerakanku semakin cepat dan tidak beraturan.
“Oh.., masss… nik… mat..! Santi mau keluar..!”
“Tahan Santii..! Mas juga mau keluar…”
Akhirnya saat kejantananku aku sentakkan kuat, hingga amblas sedalam-dalamnya, sekujur tubuh Eksanti bergetar hebat. Kedua tangannya menahan pantatku agar menusuk semakin dalam, kedua kakinya yang mulus menjepit kuat pundakku.

“Aacchhh… Masss…” Santi sudah orgasme lagi.
Kejantananku terasa hangat akibat semburan air cinta dari dalam kewanitaan Eksanti, sementara aku sendiri mencoba bertahan sekuat mungkin agar spermaku jangan sampai keluar terlebih dahulu. Terjanganku semakin melambat untuk memberikan keleluasaan bagi Eksanti menikmati sisa-sisa orgasmenya. Aku diamkan sejenak kejantananku di dalam kewanitaan Eksanti, menikmati denyutan-denyutan lembut di seluruh batang kejantananku.

“Mas.., Santi puas sekali, multi orgasme Santi datang betubi-tubi,” Santi mengerang lirih.
“Memangnya, sebelumnya Santi nggak pernah ngalamin yang seperti ini..?”, aku sedikit heran mendengar ungkapannya.
“Entahlah.., sepertinya yang ini lain. Mas, belum keluar ya..?”, Eksanti balik bertanya kepadaku.
“He.. eh..,” aku mengangguk.
“Kenapa..? Nggak enak, ya..?”, Eksanti merasa bersalah.
“Enggak, bukan itu. Malam ini aku hanya ingin memberikan kepuasan yang maksimal untuk Santi..!”, aku berkata sambil mengecup lembut keningnya.
“Jangan begitu dong.., Mas kan belum..? Ayo dong..! Keluarin..!” Eksanti merengek manja.
“Kamu masih kuat..?” tanyaku.
“He-em..,” Eksanti mengangguk mantap.

Kejantananku yang masih menegang di dalam kewanitaan Eksanti mulai aku naik-turunkan kembali, Aku mendorong batang kejantananku pelan-pelan ke lubang kewanitaannya. Kemudian aku tarik keluar lagi pelan-pelan. Setelah masuk… keluar… masuk… keluar… dengan lancar berulang-ulang, lalu kejantananku langsung aku benamkan seluruhnya ke dalam kewanitaannya. Eksanti menghela napas panjang menahan sakit dan nikmatnya akibat masuknya terlalu cepat ke dalam. Karena itu aku gerakkan pantatku memutar searah jarum jam. Pelan tapi pasti, Eksanti mulai terbawa nafsu kembali. Luar biasa, padahal Eksanti sudah 3-4 kali menikmati orgasmenya, tapi ternyata dia masih menginginkannya lagi. Aku semakin bersemangat. Eksanti menjerit-jerit nikmat karena klitorisnya tergesek oleh bulu-bulu pubisku dan dinding dalam kewanitaannya tergesek-gesek oleh otot-otot kekar batang kejantananku yang mengeras. Dan akhirnya Eksanti pun kembali mampu dengan lincah menggoyang-goyangkan pinggulnya mengimbangi tusukan-tusukan kejantananku.

Ia berbisik lirih, “Ouucchh… Masss…, nikmattt…, rasanya luar biasa. Aku mau sampaiii… lagi mass…”. Mendengar bisikannya itu, aku langsung mencium payudaranya yang sebelah kiri, karena Eksanti sering mengatakan payudara kirinya lebih sensitive daripada yang kanan. Putingnya langsung aku getarkan lagi dengan ujung lidahku. Tidak beberapa lama kemudian, hanya beberapa detik, terasa kewanitaannya mencengkeram kejantananku dan berdenyut-denyut cepat. Kembali ada lendir hangat yang menyiram kejantananku. Eksanti sudah mencapai klimaksnya yang kesekian kali, ia tampak terkulai lemas.

“Capek, Santi…?” tanyaku.
“Iya.., Mas,” sahutnya lirih manja.
“Tolong Mas, please…, Eksanti mau merasakan air maninya Mas di kewanitaanku,” pintanya.
“Sekarang ?” tanyaku.
“Iya.., mas”, ia menjawab mantap.
“Tahan sebentar lagi yaa.., nanti aku semprotkan”, aku semakin bersemangat

Lima belas menit kembali berlalu, peluh sudah membasahi seluruh tubuh kami, berbagai gaya sudah aku jalani, dan Eksanti sungguh pandai mengimbanginya. Apa lagi waktu doggy style, goyangan pantatnya sungguh nikmat sekali. Aku hampir tidak tahan. Aku segera membalikkan Eksanti ke posisi konvensional, saling berhadapan, sambil terus menusuk. Aku menghisap ganas kedua bukit payudara Eksanti yang sexy. Putingnya yang tegang mencuat, aku hisap kuat-kuat. Eksanti mengerang hebat, dan dia membalas dengan mengusap-usap pula puting dadaku. Ternyata disinilah kelemahanku. Rasa nikmat yang aku terima dari dua arah, dada dan kejantananku, membuat seluruh sumsumku bergetar hebat.

“Sannti.., Mas mau keluar.. Santiiiii..!”
“Bareng, Mas..! Ayoo lebih cepat..!”
Dengan menguras seluruh kemampuanku, aku terus mempercepat tusukanku. Kapala kejantananku rasanya sudah menggembung menahan sperma yang akan muncrat. Gerakan pantatku sudah tidak beraturan lagi, hingga akhirnya, saat tusukanku semakin keras, dan puting dadaku dipilin keduanya oleh jemari lentik Eksanti, aku merasa akan segera melepaskan puncak ejakulasiku. Aku mengkonsentrasikan segenap pikiranku pada segala keindahan tubuh Eksanti yang ada di depan mataku. Ekspresi wajahnya sangat sensual, bibirnya yang merah basah tampak semakin merangsang. Aku genjot terus menggerakan kejantananku naik turun dan semakin lama semakin cepat. Sampai suatu saat Eksanti menggeliat, menggelinjang tak keruan sambil menarik lepas sprei dan meremas-remasnya. Dan akhirnya… plass… plass… plass.. (8x). Air maniku tumpah ruah, sambil aku tekankan kejantananku dalam-dalam di kewanitaannya. Eksanti merasakan semburan kehangatan yang sangat ia inginkan di dalam rongga rahimnya.
“Achhh..! Aku keluar Santiii..!”
“Ssshhh… aaccchhh, Eksanti merasakan kehangatan yang luar biasa dari air manimu, mas”
Dan Eksanti pun orgasme lagi untuk yang ke sekian kalinya. Kejantananku kembali merasakan bibir kewanitaannya berdenyut-denyut. Kuku-kuku jemari tangannya menancap keras di pundakku dan tubuhnya mengejang kaku.
“Achhh..!” Eksanti menjerit keras seiring dengan gerakan pinggulku yang terakhir.
Yah.., kami orgasme bersamaan.

*********

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Eksanti merebahkan kepalanya di dadaku. Aku hanya mampu membelai-belai lembut rambutnya. Aku mencium mesra keningnya, dan kami berdua tekulai lemas berpelukan. Setelah beberapa saat, tidak terasa kami tertidur lelap bertindihan sambil berpelukan. Tiba-tiba Eksanti terbangun. Jam telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Eksanti cepat-cepat beranjak dari pembaringan, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari segenap cairan cinta kami yang membasahi kewanitaannya. Setelah selesai, ia mengambil handuk yang dibasahi dengan air hangat lalu membersihkan kejantananku. Aku masih tetap terlelap di atas tempat tidurku. Begitu aku merasakan kehangatan di bawah sana, akupun terbangun. Eksanti menatapku dengan tersenyum manis. Setelah kejantananku bersih, sesaat ia mengecup ujung kepalanya lalu Eksanti bergegas memakai gaunnya kembali. Celana dalamnya tidak ia kenakan, hanya dilipat dan dimasukkan ke dalam tas kecilnya. Celana dalam itu masih basah terkena lendir saat aku permainkan kewanitaannya di restoran tadi malam. Demikian pula denganku, aku segera mengenakan pakaian dan bersiap untuk keluar dari motel ini

********

“Santi, kapan kamu benar-benar effektif off dari kantor kita?”, aku bertanya kepada Eksanti dalam perjalanan kami pulang.
“Mungkin minggu depan, saat akhir bulan. Surat persetujuan pengunduran diri dari personalia sudah Santi terima. Perusahaan yang baru juga sudah menyiapkan segala kebutuhanku di tempat baru”, ia menjawab pertanyaanku dengan mata menerawang.
“Terus… Santi, jadi menikah dengan Yoga ?”, aku kembali bertanya mengagetkannya.
Ada sedikit nada cemburu dalam pertanyaanku itu.
“Entahlah, mungkin masih 2-3 bulan baru sempat mikir persiapannya”, tatapan mata Eksanti semakin menerawang.
“Kenapa?” tanyaku dengan berhati-hati.
“Santi menunggu persetujuan penempatan Yoga di Jakarta dulu”, sahutnya tegas.

Tiba-tiba Eksanti merebahkan kepalanya ke bahuku sambil berkata, “Eksanti sengaja nggak akan kimpoi cepat-cepat dulu kok Mas, nunggu kalau mungkin ada suatu mukjizat”.
“Maksud Santi?” tanyaku keheranan .
“Siapa tahu suatu saat aku mendapat kabar gembira dari Mas. Dan akhirnya kita, aku dan Mas malah bisa menikah, bukan aku dengan Yoga… Malam ini aku benar-benar merasakan kenikmatan yang sangat dari Mas. Lebih dari itu, Eksanti merasakan Mas menyayangi Santi dengan penuh kasih… Kemesraan yang Mas ungkapkan kepada Santi, seperti layaknya kemesraan sepasang suami istri yang dipenuhi rasa cinta, Bukan hanya sekedar nafsu semata…”, ia menjelaskan dengan sesekali menghela nafas panjang.
“Benar…?”, aku menukas ucapannya dengan tersenyum.
“Semoga benar begitu, yaa… Mas. Echh.., kapan-kapan kalau Eksanti kepingin, masih boleh ‘kan merasakan kasih sayang Mas lagi…?”, ia memohon sambil mencium mesra pipiku.
“Kapan saja Eksanti merasa kangen, Mas selalu akan bersedia nemenin. Tetapi Eksanti harus benar-benar mengatur waktunya, jangan sampai hubunganmu dengan Yoga terganggu yaa…!” pesanku. Ia mengangguk, sambil sekali lagi menghela nafas panjang. Aku merasakan, ada suatu kebimbangan yang melanda fikirannya dengan hebat.

Saat mobilku sampai d depan pagar rumah kostnya, Eksanti tidak segera turun. Ia malah merangkul leherku dan menarik keras kepalaku. Ia mencium seluruh wajahku dengan penuh perasaan. Terlihat matanya memerah dan berkaca-kaca. Aku menjadi trenyuh dibuatnya. Aku membelai rambutnya dan aku mengusap matanya yang mulai berair, sambil berbisik lirih,”Eksanti jangan sedih. ‘Kan kalau kamu mau, setiap saat kita masih bisa bertemu. Santi malam ini sudah capek ‘kan, nanti langsung istirahat yaa.., jangan melamun macam-macam yaa.. sayang?”, aku berpesan sambil membelai lembut rambutnya. Eksanti pun kemudian turun dari mobilku dengan tersenyum kecil. Rasa gundahnya sedikir mencair, setelah ia mendengarkan kata-kataku yang terakhir.

*****

Seminggu sejak kejadian malam itu, Eksanti akhirnya benar-benar mengundurkan diri dari kantorku. Ia pindah ke perusahaan lain, walaupun masih tetap berada di Jakarta. Ia masih menjadi kekasih Yoga, dan bahkan akan segera merencanakan pernikahannya. Walaupun demikian, aku juga masih menjadi kekasih gelapnya. Ia sering mengaku, tidak pernah mencapai kepuasan dan kebahagiaan dari Yoga seperti yang ia peroleh dariku. Tetapi bagaimanapun, menurutku Eksanti memerlukan status yang jelas dan masa depan yang lebih pasti. Sejujurnya, aku tidak mau mengganggunya lagi. Tetapi, sanggupkah aku menahan rasa itu..?

TAMAT

Peace, Love, Unity & Respect 7:27 pm

sinchan cilik

Aku masih duduk di bangku SLTP saat itu. Di saat aku dengan teman-teman yang lain biasa pulang sekolah bersama-sama. Usiaku masih terbilang hijau, sekitar tiga belas tahun. Aku tidak terlalu tahu banyak tentang wanita saat itu. Di kelas aku tergolong anak yang pendiam walaupun sering juga mataku ini melirik pada keindahan wajah teman-teman wanita dikelasku waktu itu.
Aku memang tidak seperti David, salah satu temanku yang biasa pulang bersama-sama selepas sekolah usai. Walaupun kulitnya terbilang gelap, hidung besar dan pesek tapi pengetahuannya tentang wanita terbilang banyak. Terlebih mengingat usianya yang hanya terpaut tiga bulan lebih muda dariku.

Temanku yang satu ini tergolong pria playboy. Pacarnya banyak, sering gonta-ganti. Hampir tiap minggu selalu tampil cewek dengan wajah baru disampingnya. Gila memang, walaupun secara jujur buatku seleranya sangat berbeda. Aku senang dengan cewek yang kalem, seperti putrid solo layaknya dengan wajah manis bersahaja. Biasa-biasa saja. Sementara David senang dengan cewek yang agresif dan periang, wajah rupawan bak-Tamara Blezinsky layaknya.

Hal ini jugalah yang membawa aku dan teman-teman yang lain kedalam sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi kami saat duduk dibangku SLTP dulu.
Semuanya bermula dari selera siplayboy David terhadap perempuan. Kebiasaannya untuk tak melewatkan barang sedetikpun perhatiannya terhadap keindahan wanita membawa aku, Syarif dan Bagong kesebuah rumah di komplek pemukiman Griya Permai. Komplek perumahan yang biasa kami lewati saat pulang menuju kerumah masing-masing.
Mulanya aku dan Bagong sedang asyik bercanda, tertawa cekikikan seperti biasa sementara Syarif mendengarkan dengan wajah dingin membeku. Secara tiba-tiba David menepuk pundakku dengan keras. Matanya tertuju kesatu rumah dengan tajamnya. Ternyata disana kulihat ada seorang wanita dengan mengenakan rok mini baru saja keluar meninggalkan mobilnya untuk membuka pintu pagar rumah.

“Heh, vid. Kenapa sih elu tiap lihat perempuan mata elu langsung melotot kayak begitu ?” tegurku.
“Elu itu buta ya, mam. Elu kagak lihat bagaimana bongsornya bodi tuh wanita ??” balasnya cepat.
“David, david.. bisa-bisanya elu nilai perempuan dari jarak jauh begini-ini” sambung Bagong “Itu mata.. apa teropong”
“Wah, kalau untuk urusan wanita kita nggak pake mata lagi, men. Nih, pake yang disini nih.. dibawah sini” jawab David sambil menunjuk-nunjuk kearah kemaluannya.
“Kalau gua udah ngaceng, perempuan diseberang planet juga bisa gua lihat” kata David dengan senyum penuh nafsu.
“Jadi sekarang elu lagi ngaceng, nih ?!” tanya Syarif yang sedari tadi hanya bisa tenggelam dengan pikiran-pikirannya.
“So pasti, men. Nih kontol udah kayak radar buat gua. Makanya gua tahu disana ada mangsa” jawab David dengan lagi-lagi menunjuk ke arah kemaluannya.
“Gila lu, vid” kataku.
“Ha-alah, enggak usak munafik deh mam, elu juga ngaceng kan, waktu melihat roknya siDina kebuka di kelas. Gua kan tau… elu juga kan gong ?” balas David cepat.
“yah, itu kan kebetulan. Bukannya dicari, ya kan mam ?” tanya Bagong kepadaku.

Aku sendiri hanya bisa tersipu malu mendengarnya. Didalam hati aku memang mengaukui kalau saat itu paha Dina yang panjang dan mulus telah membuat tongkat kemaluanku berdiri tegak tanpa bosan. Aku memang sering mengamati paha siDina teman kelasku dulu secara sembunyi-sembunyi.
“Sekarang begini aja” ujar David kemudian “Elu pada berani taruhan berapa, kalau gua bisa masuk kerumah tuh wanita ?”
“Elu itu udah gila kali ya, vid. Elu mau masuk kerumah itu perempuan ??” jawabku cepat.
“Udah deh.. berapa ? Goceng ??”tantangnya kepada kami. Sejenak aku, Bagong dan Syarif hanyut dalam kebingungan. Teman kami yang satu ini memang sedikit nekat untuk urursan wanita.
“Boleh” jawabku pendek.
“Goceng ??”potong Bagong cepat “Wah gua udah bisa beli mensen tuh”
“Ha-alah, bilang aja kalau elu takut jatuh miskin. Iya kan, gong ?” balas David dengan sedikit menekan.
“Siapa bilang, kalau perlu, ceban juga hayo” jawab Bagong tak mau kalah.
“Oke, oke.. heh, heh, heh. Sekarang tinggal elu nih, rif. Kalau melihat tampang elu sih, kayaknya gua ragu”
“Heit tunggu dulu” ujar Syarif. Dia langsung cepat-cepat merogoh kantong celananya. Selembar uang kertas lima ribuan langsung dikibas-kibaskan didepan kedua mata David.
“Gua langsung buktikan aja sama elu.. nih”
“Oke. Sekarang elu pada buka tuh mata lebar-lebar” kata David kemudian.

David langsung berjalan menuju kerumah yang dimaksud. Tampak disana sang pemilik rumah telah memasukkan mobilnya. Saat ia hendak menutup pagar, aku lihat David berlari kecil menghampirinya. Disana kulihat mereka sepertinya sedang berbicara dengan penuh keakraban. Aneh memang temanku ini. Baru saja bertemu muka dia sudah bisa membuat wanita itu berbicara ramah dengannya, penuh senyum dan tawa.

Dan yang lebih aneh lagi kemudian, beberapa saat setelah itu David melambaikan tangannya kearah kami bertiga. Dia mengajak kami untuk segera datang mendekatinya. Setelah beberapa langkah aku berjalan, kulihat David bahkan telah masuk ke pekarangan rumah menuju ke pintu depan rumah dimana wanita itu berjalan didepannya. David memang memenangkan taruhannya hari itu. Di dalam rumah kami duduk dengan gelisah, khususnya aku. Bagaimana mungkin teman kami yang gila perempuan ini bisa dengan mudah menaklukkan wanita yang setidaknya dua puluh tahun lebih tua usianya dari usia kami. Sesaat setelah David selesai dengan uang-uang kami ditangannya, akupun menanyakan hal tersebut.

“Gila lu, vid. Elu kasih sihir apa tuh wanita, sampai bisa jinak kayak merpati gitu ??” tanyaku penasaran.
“Heh, heh, heh.. kayaknya gua harus buka rahasianya nih sama elu-elu pada” jawabnya.
“Jelas dong, vid. Goceng itu sudah cukup buat gua ngebo’at. Elu kan tahu itu” tambah Bagong lagi.
“Begini. Kuncinya itu karena elu-elu semua pada blo’on” jelas David serius.
“Apa maksudnya tuh !” tanya Syarif cepat.
“Iya, elu-elu pada blo’on semua karena elu-elu kagak tahu kalau perempuan itu sebenarnya tante teman gua.. Ferdi” tambahnya lagi.
“Ferdi, anak kelas satu A” tanyaku pensaran.
“Ketua OSIS kita, vid ??” tambah Bagong lagi.
“Betul. Nah dia itu punya ibu, ibunya punya abang.. nah perempuan ini adalah istrinya”
“Wah, sialan kita sudah dikadalin nih sama… playboy cap kampak” kata Bagong.
“Itu kagak sah, vid. Itu berarti penipuan”sambung Syarif.
“Itu bukan penipuan. Kalau elu tanya apa gua kenal kagak sama tuh perempuan, lalu gua jawab enggak.. itu baru penipuan” jelas David.

Aku mencium bau pertengkaran diantara teman-temanku saat itu sehingga akupun tidak ingin menambahinya lagi. Terlebih, tidak lama kemudian wanita yang kemudian kami tahu bernama Susan itu, datang dengan membawa minuman segar buat kami.
“Ada apa kok ribut-ribut. Kelamaan ya minumannya ?” tanya tante Susan. Suaranya terdengar renyah ditelinga kami dan senyumannya yang lepas membuat kami berempat langsung terhenyak dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
“Ah, nggak apa-apa tante” jawab Bagong.
David yang duduk disebelahnya terlihat serius dengan pikirannya sendiri. Baju t-shirt yang dikenakan tante Susan memiliki belahan dada yang rendah sehingga disaat beliau membungkuk menyajikan gelas kepada kami satu-persatu, David terlihat melongok-longokkan kepalanya untuk dapat melihat isi yang tersembunyi dibalik pakaian beliau saat itu. Aku sendiri bisa menyaksikannya, kedua payudara beliau yang besar, penuh berisi. Menggelantung dan bergoncangan berulangkali disetiap ia menggerakkan badannya.

“Ini tante buatkan sirup jeruk dingin untuk kalian, supaya segaran” jelas tante Susan ”Hari ini panasnya, sih”
Saat tante Susan selesai dengan gelas-gelasnya, iapun kembali berdiri tegak. Keringat yang mengucur deras dari kedua dahinya memanggil untuk diseka, maka beliaupun menyekanya. Tangan beliau terangkat tinggi, tanpa sengaja, ketiak yang putih, padat berisi terlihat oleh kami. Beberapa helai bulunya yang halus begitu menarik terlihat. Jantungku terasa mulai cepat berdetak. Karena saat itu juga aku tersadarkan kalau dibalik pakaian yang dikenakan tante Susan telah basah oleh keringat. Lebih memikat perhatian kami lagi, disaat kami tahu bahwa tante Susan tidak mengenakan BH saat itu.

Kedua buah putting susunya terlihat besar menggoda. Mungkin karena basah keringatnya atau tiupan angin disiang hari yang panas, membuat keduanya terlihat begitu jelas dimataku. Aku sendiri tidak ambil pusing dengan lingkungan disekitarku karena tongkat kemaluanku telah berdiri keras tanpa bosan. Rasanya aku ingin sekali melakukan onani bahkan, kalau mungkin, mengulum kedua puting susu beliau yang menantang dengan berani.
“Tante habis mengantar om kalian ke bandara hari ini. Jadi tante belum sempat beres-beres ngurus rumah” katanya lagi.
Ditengah pesona buah dada yang menggoda nafsu birahiku, perhatianku terpecah oleh tangisan suara bayi. Aku baru tahu kemudian, bahwa itu adalah anak tante Susan yang pertama. Beliaupun terpanggil untuk menemuinya dengan segera.

“Kalian minum dulu, ya. Tante kebelakang dulu.. oh, iya David. Mungkin Ferdi datang agak terlambat karena dia sedang ada rapat OSIS”
“Iya tante. Nggak apa-apa. Kami tunggu aja deh” kata David.
Hanya selang beberapa menit kemudian, tante Susan sudah menemui kami kembali di ruang tamu. Namun satu hal yang membuat kami terkejut kegirangan menyambut kedatangannya dikarenakan beliau terlihat asyik menyusui bayinya saat itu. Bayi yang lucu tetapi buah dada yang menjulur keluar lebih menyilaukan pandangan jiwa muda kami berempat.

Tante Susan terlihat tidak acuh dengan mata-mata liar yang menatapi buah dada segar dimulut bayinya yang mungil. Ia bahkan terlihat sibuk mengatur posisi agar terasa nyaman duduk diantara David dan Bagong saat itu.
“Bagaiman sirup jeruknya, sudah diminum ?” tanya tante Susan cepat.
“Sudah , tante” jawab David pendek. Matanya menatap tajam kearah samping dimana payudara tante Susan yang besar dan montok terlihat tegas dimatanya.
“Ini namanya Bobby” jelas tante Susan lagi sambil menatap anak bayinya yang imut itu “Usianya baru sembilan bulan”
“Wah, masih kecil banget dong tante” balas David.
“Iya, makanya baru boleh dikasih susu aja”
“ASI ya, tante ?” tanya David polos.
“Oh, iya. Harus ASI, nggak boleh yang lain” jelas beliau dengan serius.
“Kalau orang bilang susu yang terbaik itu ASI, tante ?”
“Betul, David. Dibandingkan dengan susu sapi misalnya. Ya, susu ibu itu jauh lebih bergizi.. heh, heh, heh” tambah tante Susan penuh yakin.
“Ibu saya juga suka bikinkan saya susu setiap pagi, tante” kata David menjelaskan.
“Oh, iya… bagus itu”

Tante Susan diam sejenak. Beliau memperhatikan bayinya yang sudah mulai terlihat tidur. Namun David terlihat mulai berharap sesuatu yang lain dari payudara beliau yang besar menggoda.
“Tapi susu yang saya minum setiap hari.. ya, susu sapi tante” sambung David lagi penasaran. Sementara tante Susan masih terlihat sibuk dengan bayinya . Namun beberapa saat setelah itu beliau mengatakan sesuatu yang mengejutkan kami.
“Susu ibu tetap lebih bagus. Bahkan di India ada yang bisa menyusui anaknya hingga berusia sepuluh tahun”
“Wah, asyik juga tuh” sela Bagong cepat.
Tante Susan, dengan sekonyong-konyong, menarik bagian sisi bajunya dimana buah dadanya yang masih tertutup, tersingkap lebar. Buah dada beliaupun melejit keluar dengan cepat. Kami berempat dibuat terkesima olehnya. Ini adalah pengalaman yang paling heboh dalam sepanjang sejarah hidup kami saat itu.

“Tuh, kamu bisa mencobanya” kata tante Susan kepada Bagong yang duduk disamping beliau. Puting susu berwarna merah delima terlihat menonjol kearahnya. Bagongpun tanpa berfikir panjang menyentuh payudara beliau dengan perlahan.
“Ayo ! jangan lama-lama, tante nggak punya banyak waktu” tegur beliau mengingatkan.
Bagongpun meremas buah dada beliau serta mulai berani memainkan putting susunya dengan beberapa gerakan memelintir.
“Pentilnya nggak usah dipencet-pencet lagi. Udah keluar kok. Kamu coba langsung menghisapnya kayak anak tante ini” jelas beliau lagi.
“”Iya, gong. Elu ‘ngerti kagak caranya netek ?! Kayak gini nih..” sela David cepat dan langsung mengatupkan mulutnya ke puting susu beliau yang merah merona itu.
“Akh, David.. aduh, pelan-pelan yah” kata tante Susan kaget.

Saat itu, hari yang sesungguhnya telah dimulai. Tante Susan menggilir kami satu persatu untuk disusui olehnya. Anaknya yang masih orok bahkan dibaringkan diatas sofa yang kosong untuk lebih mempermudah beliau menyusui anak angkatnya saat itu. Aku si-pengintip, David si-gila dan Syarif yang berdarah dingin serta tentu saja Bagong si-pemabuk, memulai hari pertama pendidikan ekstra kurikuler kami saat itu. Karena semenjak hari baik itu, pada setiap hari-hari tertentu dalam seminggu kami pasti berkunjung kerumah tante Susan.

Dirumah tante Susan, beliau senantiasa menyambut kami dengan ramah dan penuh perhatian. Beliau tidak pernah mengecewakan kami. Menyusui kami dengan sabar satu persatu. Himgga kami tamat menyelesaikan pendidikan kami ditingkat SLTP, tante Susan meyakinkan kami bahwa kami sudah saatnya untuk mandiri. Dan memang kamipun merasa demikian. Setamat SLTP kami berempat berpisah dibanyak SLTA. Namun persahabatan kami tetap ada walau dibatasi oleh banyak kesibukan masing-masing. Sekarang, David telah menjadi seorang pengacara dari salah satu koruptor kelas wahid di negeri kita ini. Syarif menjadi salah seorang penceramah kondang yang keluar masuk televisi tetapi yang paling mengesankan menurutku adalah Bagong. Sekarang Bagong telah menjadi ketua partai terkenal yang sangat anti-KKN. Aku sendiri sekarang bekerja sebagai salah satu reporter berita dari sebuah stasiun televisi swasta terkemuka di Indonesia.

Itu semua, kami yakini berkat “susu” tante Susan yang telah kami terima disaat duduk dibangku SLTP dulu.
Terima kasi tante Susan.

Cerita Antara Kita 7:26 pm

Aku masih ingat, waktu itu masih klas 4 SD. Jadi aku dan kawan-kawan sama sama berkhitan. Takut juga aku. Setelah berkhitan, luka kemaluanku dirawat. Seminggu, luka kemaluanku masih belum sembuh. Tiap hari harus dibersihkan lukanya. Untunglah ada Bude Is, adik Ibuku, membantu membersihkan luka kemaluanku. Malu juga aku rasanya. Tahu sendirilah, menunjukkan kemaluanku, kan?
“Nggak apa-apalah, sebab Andi masih anak-anak. Baru berumur 10 tahun.” kata Bude Is.

Bude Is berumur 32 tahun. Setiap pagi dia menolong mencucikan luka bekas khitananku, memberi obat dan membalutnya dengan perban. Kata Ibuku, aku tidak boleh malu. Dia Budeku sendiri. Aku ini badannya saja yang besar. Seperti murid yang berumur lebih dari 12 tahun saja. Aku suka sekali main bola kaki. Jadi, badanku kuat dan kekar. Bude Is bekerja di Kantor kelurahan di kota Pekanbaru.

Aku tahu bahwa Budeku ini baru saja diceraikan oleh suaminya. Rupanya, suaminya sudah kimpoi sebelum kimpoi dengan dia. Dia tidak mau dimadu katanya. Jadi dia minta cerai setelah perkimpoian berjalan baru 6 bulan. Kasihan juga dia. Dulu dia datang ke rumah dengan berderai airmata. Ibu dan Bapak kasihan juga melihatnya. Karena rumah kami kecil, tidak ada lagi kamar kosong, jadi Ibu menyuruhku tidur sekamar dengan Bude Is. Jadi tidak menjadi masalah bagiku, karena dia Budeku sendiri. Lagi pula aku anak saudaranya, dan masih anak-anak lagi. Badanku saja yang besar, tapi umurku masih kecil. Belum tahu apa-apa.

Bude Is pun dapat mengajariku pelajaran Matematik. Sekarang aku sudah tidak suka menonton TV lagi. Bila hari sudah malam setelah makan, aku langsung masuk kamar untuk membaca buku. Ibu menyuruhku belajar, dan Bude Is mengajarkan jika aku mendapat kesulitan di dalam pelajaranku. Ibu suka aku belajar dengan Bude Is. Dulu Bude Is hendak menjadi guru, tapi dia lebih suka menjadi pegawai pemerintahan.

Bude Is memang agak cantik. Sekali lihat seperti Krisdayanti. Tinggi semampai, bidang dadanya luas, pantatnya lebar. Padat. Dadanya montok dan berisi. Suaranya lembut dan pandai membujuk dan memanjakan. Dulu dia orang paling cantik di kantornya. Setelah itu ada pemborong konstruksi / bangunan yang senang sama dia. Itu sebabnya dia mau kimpoi. Tapi setelah kimpoi baru diketahui bahwa orang tersebut sudah kimpoi dan mempunyai anak. Bude Is tidak suka ditipu dan dimadu, dan minta cerai.

Bude Is bila tidur, dia suka memeluk guling dan mengempitkanya di sela pahanya. Kadang-kadang aku melihat kainnya tersibak, sehingga kelihatan pahanya yang putih mulus. Aku tidak ambil pusing karena dia Budeku sendiri. Memang kulitnya putih mulus. Tidak seperti Ibuku, kulitnya coklat. Bapak Budeku adalah keturunan Cina. Nenekku keturunan Melayu. Nenek kimpoi setelah ayah Budeku meninggal, setelah itu Ibuku lahir. Jadi Bude Is lebih tua 3 tahun dari Ibuku.

Setelah 3 minggu, luka kemaluanku sudah baikan. Libur sekolahku pun sudah berakhir. Aku harus ke sekolah lagi. Tiap pagi Bude Is membangunkanku. Dia selalu lebih pagi. Pagi-pagi dia selalu memandikanku. Dia menyabuni badanku, menggosok daki di badanku. Kami pun mandi sama-sama. Sebab aku anak-anak dan masih kecil, jadi aku mandinya telanjang saja. Bude Is berkemben saja jika mandi. Dia pakai kain basah yang sudah lusuh. Kain itu diikat dari atas dada sampai ke pangkal paha atas lutut. Putih mulus kulit pahanya.

Setelah selesai mandi, dia menolongku mengenakan pakaian sekolah. Habis itu dia pun mengenakan bajunya dengan ditutupi pintu lemari yang ada kaca cerminnya. Mula-mula dia tanggalkan handuk yang melilit tubuhnya dari kamar mandi, dan menggantikanya dengan pakaian kerjanya. Setelah itu dia memakai celana dalamnya. Aku tidak dapat melihatnya. Lama-lama aku sudah lupa untuk melihat badannya. Aku tahu, dia bertelanjang bulat di belakang pintu lemari kaca itu. Kadang-kadang aku berkhayal juga, gimana bentuk tubuhnya bila Bude Is tidak memakai pakaian. Tentu sangat seksi sekali tubuhnya.

Malam itu aku tidur lebih awal. Menjelang tengah malam cuaca agak panas. Memang di kamarku tidak ada kipas angin, apalagi yang namanya AC. Lagi pula cuaca waktu itu musim panas. Maka malam-malam pun terasa panas. Aku dengar Bude Is gelisah. Panas. Setelah itu dia bangun. Aku pura-pura tidur. Mata kututup rapat-rapat. Kuintip, dia lagi membuka bajunya. Setelah itu dia buka celana dan celana dalamnya. Dia letakkan di sudut kamar. Kemudian dia berkemben menggunakan sarung. Dia naik ke tempat tidur dan tidur di sebelahku.

Kali ini dia tidur dengan gaya yang lain. Dia tidur menyonsang. Kepalanya ke ujung kakiku, dan kakiku dekat wajahnya. Bila udara sudah agak dingin, barulah rasa kantuk datang. Hampir saja aku tertidur lelap, tiba-tiba aku rasakan pantatku kena peluk. Aku terjaga. Rupanya Bude Is memeluk pantatku. Dia tidak sadar. Setelah itu kepalaku terasa kena jepit oleh pahanya. Dia kira aku ini bantal guling agaknya. Bantal guling ada di belakang dia. Boleh jadi dia benar-benar tidak sadar.

Cahaya lampu di beranda luar masuk dari ventilasi ke dalam kamar tidur, sehingga aku dapat melihat paha mulus Bude IS. Putih semua. Aku mau memejamkan mata kembali. Tetapi kalau aku mulai tertidur, Bude Is mulai gelisah. Dia merapatkan kepalaku di bawah perutnya. Mmhh..! Ada bau yang masih asing bagiku, sepertinya berasal dari pangkal pahanya Bude Is. Belum pernah aku mencium bau seperti itu. Seperti wangi sabun mandi bercampur dengan sedikit pesing. Makin lama baunya makin makin mengusikku. Bila aku gerakkan kepala, maka dia makin kuat menjepit. Bagiku, bau itu masih asing. Akhirnya aku tertidur sampai pagi.

Besok pagi dia membangunkanku. Seperti biasa, kami mandi sama-sama lagi. Seperti tidak ada kejadian apa-apa. Dia berbuat seperti biasanya. Dia mandikan aku. Dia gosok kemaluanku.
“Sudah sembuh lukanya,” kata Bude Is, “Nggak usah diberi obat lagilah.” katanya.
Dipencetnya ujung kemaluanku. Dia tanya, “Sakit nggak..?”
Aku geleng kepala, “Nggak.” kataku.
Dia pun tersenyum melihatku.

“Andi, kalau mandi harus disabuni setiap hari seperti ini.” katanya.
Diambilnya sabun, digosok ke tapak tangannya, dan langsung diusapkannya ke batang kemaluanku. Sekali dua kali, tidak apa-apa, ketika dia gosok berulangkali aku merasakan kenikmatan. Kemaluanku menjadi tegang dan terasa mau kencing.
Aku bilang ke Bude, “Nanti dulu Bude, Andi mau kencing.”
Dia pegang batangnya dan mengarahkannya. Dan aku pun kencing. Setelah itu dia cuci. Tidak ada sedikit pun berprasangka yang lainnya, karena aku masih kecil.

Selesai dia memandikan aku, dia pula sekarang yang mandi. Dia gosok badannya, ketiaknya, payudaranya dan celah pahanya dengan sabun. Sampai berbusa badannya karena sabun. Baru aku tahu bagaimana bentuk payudara perempuan. Aku pernah melihat payudara Ibuku waktu menyusui adik, tapi lembek saja. Payudara Bude Is beda. Bagus dan putih. Padat. Kelihatan waktu dia menggosok payudara dan di sela-sela bawah payudaranya. Aku lihat ketiaknya ada bulu sedikit. Tapi kadang-kadang kain basahnya terangkat waktu dia menggosok payudaranya.

Aku lihat ke bawah perutnya ada bulu. Banyak dan lebat. Dipandanginya wajahku. Aku melihat ke arah lain, berpura-pura tidak melihat ke bawah perutnya. Dia tersenyum. Aku pun tersenyum. Bude Is tidak marah. Aku tidak mau melihat lama-lama. Aku malu untuk melihat. Karena aku masih kecil. Lagi pula aku merasakan suatu kenikmatan yang lain rasanya. Dia siram badannya. Kemudian dia berjongkok. Diangkatnya kain basahannya sampai-sampai nampak pantatnya. Uuhh putihnya. Dia buang air kecil membelakangiku. Berdesir bunyinya. Aku tidak perduli, karena memang selalu begitu.

Lalu aku tanya, “Apa sebabnya perempuan kalau buang air kecil bunyinya lain?”
Bude menjawab, “Besok Bude tunjukkan apa sebabnya.”
Aku tanya, “Kapan?”
Dia jawab, “Nantilah.”
Bila aku mendengar dia kencing hari itu, aku merasa perasaanku menjadi lain. Habis itu dia cebok dan berdiri. Kami masuk ke kamar. Dia pakaikan baju dan celanaku. Setelah itu dia berpakaian. Seperti itulah tiap hari.

Malam ini, sekali lagi cuaca panas. Bude Is terbangun. Dia buka baju lagi, dan menggantikan dengan sarung. Ketika tidur, dia pun menjepit kepalaku seperti malam kemarin. Aroma itu kembali mengusikku. Tapi agak lain dari malam kemarin. Ketika dia memeluk pinggulku, aku merasakan kemaluanku menyentuh mulutnya. Kemudian aku merasakan ujung kemaluanku seperti dijilat. Geli sekali rasanya. Kukepitkan pahaku untuk melindungi kemaluanku. Tapi tidak bisa karena kepala Bude Is menghalangi pahaku. Lama-lama aku biarkan saja.

Aku rasa mula-mula dia menjilat kepala kemaluanku, setelah itu ada rasa sepertinya kepala kemaluanku masuk ke dalam mulutnya. Aku rasakan lidahnya menjilat dan menguit-nguit kepala kemaluanku di dalam mulutnya. Uhh.., gelinya, bukan main lagi. Aku rasa kemaluanku, aku menjadi tegang. Aku mengerang menahan geli. Aku mendengar suara berdecap-decap sepertinya sedang menghisap ujung kemaluanku, ada suara “Crup.., ceruppp..”
Bude Is menyedot kepala kemaluanku beserta air liurnya. Aku tidak dapat berbuat apa-apa, kutahan saja. Aku merasakan hendak kencing.

Lama juga Bude Is berbuat seperti itu, tapi kutahan, sebab terlalu geli. Pantatku bergoyang gelisah. Tapi Bude Is memeluk pantatku kuat-kuat. Aku tidak dapat bergerak. Terpaksalah aku biarkan saja. Ketika aku sudah tidak tahan lagi, aku kencing dalam mulutnya. Banyak sekali. Aku rasakan nikmat sekali kencing di dalam mulut Bude Is. Waktu kencing, kurasakan seperti dalam khayalan saja rasanya. Kututup mataku. Dalam gelap itu, aku tidak melihat apa-apa.

Saat itu juga aroma dari pangkal paha Bude Is bertambah kuat. Rasanya ingin aku untuk mendekatkan hidungku ke sumber aroma tersebut. Habis itu badanku terasa letih. Lama-lama aku tertidur sampai pagi. Esok paginya dia bangunkan aku. Seperti biasa, kami mandi bersama-sama lagi. Apa yang terjadi tadi malam, seakan kami tidak ingat saja. Bertingkah seperti biasa.

Seperti biasa, Bude memandikan aku. Kemaluanku dibersihkan dan digosok.
Aku tanya sama Bude, “Kenapa tadi malam aku kencing tapi rasanya lain sekali, Bude?”
Dia jawab, “Itu tanda kau sudah besar.”
Dipencetnya ujung kemaluanku. Dia tanya, “Sakit nggak..?”
Aku menggeleng kepala, “Nggak.” kataku.
Dia pun tersenyum padaku, katanya, “Lain kali Bude ajarkan bagaiman caranya Andi bisa kencing enak..”
Aku menganggukkan kepala.

Seperti itulah setiap malam. Aku tidak ceritakan kepada siapa pun. Karena dia Budeku sendiri. Dia sangat sayang padaku. Lagi pula dia seperti guruku sendiri. Pada hari Sabtu awal bulan, Bapak dan Ibuku hendak pulang ke kampung dengan adik yang belum sekolah.
Ibu berkata padaku, “Ibu dan Bapak bersama adik mau ke kampung. Satu minggu lamanya. Karena Andi sekolah, maka Andi sama Bude aja di rumah. Lagi pula Bude Is kan kerja. Dia tidak cuti.”
Aku jawab, “Nggak apa-apalah. Lagipula Bude Is ada menemani.”

Sore itu Bude Is mengajakku nonton film bioskop. Dia baru gajian. Setelah itu kami makan sate dan jalan-jalan. Dibelikannya aku baju dan celana dalam. Sedangkan Bude membeli BH warna merah kusam dengan celana dalam warna hijau pucat dan body-lotion juga sabun mandi cair wangi. Parfum satu botol. Kemudian setelah sore kami pulang. Sekalian dia beli kipas angin merk Sharp. Hari memang panas.

Sesampai di rumah, Bude Is menyiapkan makanan. Kami makan sama-sama. Setelah makan, Bude Is mau mandi. Aku pun juga mau mandi, sebab badanku berkeringat habis jalan-jalan. Lengket rasanya. Kami masuk kamar mandi. Seperti biasa aku buka baju, disiram dan disabuni badanku. Kali ini dia pakai sabun cair yang dibeli tadi. Dia pun menyiram badannya dan bersabun juga. Busanya banyak sekali. Dia suruh aku duduk mencangkung di tepi bak air dalam kamar mandi. Kemudian dia tuang sabun cair itu ke telapak tangannya. Digosoknya semua badanku. Wangi sekali aroma sabunnya. Banyak busanya. Selangkangku juga Bude bersihkan dengan menggosok sabun yang di tangannya, aku merasa geli.

“Kalau Andi geli, tutup saja matanya, ya..!” kata Bude dengan suaranya yang lembut.
Aku menutup mata. Aku rasakan batang kemaluanku tegang. Lain rasanya. Tidak seperti biasanya, karena dia sudah biasa mengobati kemaluanku setelah berkhitan dulu. Waktu dia menggosok batang kemaluanku, aku rasa enak sekali. Geli. Badanku lemah, lututku menggigil seakan mau terduduk. Karena takut jatuh, aku pegang kain kemben di tubuh Bude. Entah bagaimana kainnya terlucuti. Copot. Melorot sampai ke pusarnya.

Dia bilang, “Nggak apa. Biarkan.. Bude pun mau menyabuni badan juga.”
Bude biarkan badan atasnya terbuka. Dia hanya mengikat kain basahannya di bawah perutnya. Di bawah pusarnya. Perutnya kelihatan. Ikatannya longgar saja. Kelihatan pusar dan payudaranya. Berayun-ayun dan bergoyang-goyang di depan mataku. Aku nikmati pemandangan itu. Sebab betul-betul terpampang di depanku. Alamak, besar juga payudara Bude Is. Sshhh..! Seperti buah semangka besarnya.

Di tengah-tengahnya ada puting sebesar jari kelingking. Di sekelilingnya ada lingkaran sebesar duit coin seratus besar, ketika aku lirik ke atas perutnya yang putih. Warnanya coklat. Kontras dengan warna kulit Bude Is yang memang putih mulus. Jadi jelas sekali beda antara coklat sekeliling putingnya dengan kulit payudaranya yang putih. Sshh.., geram aku dibuatnya. Belum pernah aku melihat payudara wanita sejelas di depan mataku seperti saat ini. Ibuku waktu menyusui adik pun, selalu ditutup dengan selendangnya atau Ibu pergi ke kamar menyusukan adik, tetapi kali ini justru Bude mempertontonkannya padaku.

Tengah aku berkata dalam hati, Bude Is mengambil sabun cair lalu dituangkan ke tanganku.
“Untuk apa Bude?” tanyaku.
Bude menyuruhku menggosok badannya, menggosok payudaranya. Kemudian disuruh menggosok perutnya, pusarnya. Terus balik ke payudaranya, sampai ke ketiak-ketiaknya. Kulihat ketiak Bude ada bulu. Bulunya sedikit dan halus. Sementara itu, dia terus menggosok paha dan kemaluanku. Aku rasa geli-geli enak. Sshh.., desisku menahan rasa nikmat dan geli.

Kain basahan mandinya dibuka sekarang. Tanggal semua. Tenggorokanku terasa kering tiba-tiba. Aku menelan ludah. Sshh.., geramku. Aku belum pernah melihat perempuan telanjang di depanku. Adikku pun belum pernah melihatku lihat telanjang. Bude menyuruhku menggosok bawah pusarnya. Awalnya aku rasa tidak mau. Malu aku rasanya. Aku tatap wajahnya.
Bude berkata, “Gosoklah di bawah perut Bude. Nggak apa-apa. Bude nggak marah kok.”
Aku pun menggosok kemaluan Bude. Tapi aku tidak lihat di situ. Malu aku.

Aku tidak melihat apa pun. Tanganku gemetaran ketika aku mulai meraba kemaluannya. Rasanya kemaluannya agak kesat. Aku rasa itu bulu kemaluannya. Bude Is merapatkan dadanya ke wajahku. Wajahku menempel di antara dua payudaranya. Puting payudaranya berwarna merah kehitaman. Aku tidak berani lihat ke bawah, aku malu melihat kemaluannya. Aku tahu ada banyak bulu disana. Ihhh.., geram aku. Lagi pula aku takut Bude marah. Bude menggosok aku, aku pun menggosok dia.

Bude menyuruhku meremas-remas payudaranya. Rasanya kenyal-kenyal empuk. Kulihat Bude Is memejamkan mata. Dadanya bergemuruh berdegup kencang seperti orang habis berlari kencang. Kemaluanku makin kuat dipegangnya. Bude menyorong tarik batang kemaluanku. Ketika aku menggosok kemaluannya, dan meremas payudaranya, menghisap puting payudaranya, kurasakan kenikmatan tersendiri. Kenyal dan lembut terasa di mulutku. Aku ikuti apa yang disuruh Bude.

Tidak lama setelah itu, Bude menarik tanganku dan meletakkannya ke bawah perutnya. Bude menyuruhku memainkan daging sebesar kacang tanah. Bude menyuruhku menguit-guit. Aku pun mengnarik-narik daging kecil yang sudah agak keras itu. Tapi aku belum juga berani melihat ke bawah.
Bude bilang, “Kalau nggak mau melihat, aku boleh tutup mata.”
Aku memainkan daging kecil itu dengan tangan kiri. Disodorkanya payudaranya ke mulutku dan disuruhnya menghisap putingnya. Sedangkan tangan kananku dibawanya meremas payudaranya yang di sebelah kanan. Aku hanya mengikuti. Bude pun meneruskan mengurut-urut dan mengocok-ngocok kemaluanku. Lama juga kami melakukan itu. Terasa nikmat bagiku.

Tiba-tiba aku mendengar Bude Is menarik nafas dalam-dalam. Panjang sekali. Dia memeluk tubuhku. Ditekannya payudaranya ke tubuhku. Aku lemas karena didekap kuat. Badannya tegang mengeras, seperti orang ngejan.
Dia melenguh seperti orang sakit kepala, “Uhh.. sstt..!” mulutnya mendesis seperti orang menahan rasa perihnya luka.
Disuruhnya aku menggosok daging kemaluannya lebih cepat. Aku pun lebih cepat memaikan dan menggosoknya.

Aku mengangkat wajahku. Tapi ditekannya lagi ke dadanya lebih kuat. Digosok-gosokannya wajahku di payudaranya. Aku rasa aku seperti mau lemas. Aku pun menghisap kuat puting payudaranya. Tanganku sebelah lagi terus meremas payudaranya. Tidak lama setelah itu aku mendengar Bude Is mengerang, seperti orang yang telah lega. Letih nampaknya.

Lalu dia mandi menyiramkan air ke tubuh indahnya. Kain untuk penutup badan yang tergeletak di lantai dibilas dan digantung di kamar mandi. Dia keluar memakai Handuk. Dia masuk duluan ke dalam kamar. Berkemben handuk saja. Aku masih di kamar mandi menyiram badan menghilangkan busa sabun. Kemaluanku tegang dan merah karena digosok Bude Is tadi. Setelah mandi terus melap badan dan masuk ke dalam kamar untuk mengenakan baju baru yang dibelikan Bude tadi.

Ketika aku masuk dalam kamar, kulihat Bude Is bersandar di dinding tempat tidur. Dia masih memakai handuk. Matanya terpejam. Seperti orang letih saja. Diam. Aku merasa takut juga. Boleh jadi perbuatanku tadi membuat Bude Is tidak suka.
“Marahkah Dia..?” tanyaku dalam hati.
Aku pun naik ke atas tempat tidur, duduk dekatnya.
Kutanya, “Bude marah ya..?”
Matanya membuka memandangiku. Dia tersenyum. Rambutnya wangi.
“Nggak.” katanya.

Dirangkulnya aku menempel ke tubuhnya. Wajahku dekat ke lehernya. Diusapnya punggungku, seperti berbagi rasa sayang padaku. Hatiku sangat senang sekali.
Bude Is bilang, “Luka Andi sudah baik..?”
Aku mengangguk dan balik bertanya, “Tadi kenapa Bude seperti orang sakit?”
“Apa Bude sakit..?”
Dia menggelengkan kepala, katanya, “Kalau tidak ada orang membantu Bude seperti Andi perbuat tadi, kepala Bude terasa sakit. Badan Bude terasa lemas.” katanya.

“Bolehkah Andi menolong Bude?” kutanya.
Lalu dia menjawab, “Entahlah. Kalau Andi nggak cerita sama orang lain, Andi boleh nolong Bude untuk nyembuhkan sakit kepala Bude.” katanya.
Kujawab, “Andi sumpah nggak cerita pada siapa pun Bude. Andi sumpah. Betul..!”
“Benar ya Ndi..?” Bude menatap wajahku.
Dia tersenyum seperti tidak percaya. Aku sangat kasihan melihat Bude. Aku mengangguk.

Kemudian dia berkata, “Bude mau minta tolong sama Andi untuk mijitin badan Bude, boleh nggak? Capek jalan-jalan tadi,” katanya.
Aku mengangguk. Bude Is pun memposisikan badannya untuk telentang. Di punggungnya diletakkan bantal. Disuruhnya aku mengambil minyak yang dibeli tadi di pinggir ranjang dan duduk di sebelah kanannya. Dituangkannya di telapak tangannya. Aromanya wangi. Dia menyuruhku untuk menyingkap handuk di dadanya. Kubuka, terpampang payudaranya seperti gunung. Putingnya merah coklat.

Dia menyuruhku memijat seperti di dalam kamar mandi tadi. Aku lakukan. Dia menyuruhku meremas-remas dan memainkan putingnya. Lama-kelamaan putingnya menjadi keras. Mata Bude Is terpejam seperti orang tidur. Lama aku berbuat begitu. Aku hanya diam saja memperhatikan mimik wajah Bude. Kemudian dia menyibakkan handukku. Dipegang-pegang dan diremas-remasnya kemaluanku, kemudian diurut-urutnya. Aku merasa nikmat. Aku merasakan kemaluanku tegang. Minyak itu melicinkan kemaluanku. Aku merasa kemaluanku makin tegang dan makin panjang. Kepalanya tersa mengembang.

Kemudian dia menyuruhku mengelus perutnya. Perutnya agak gemuk. Ouuh.., lembut dan kenyal. Dia menyuruhku memutar-mutar jari telunjuk kananku di pusarnya. Sedangkan tangan kiri meremas-remas payudaranya. Kadang aku putar-putar puting payudaranya. Aku melakukannya agar Bude Is sembuh dari sakit kepalanya. Lagian dia baik hati. Kami pun tinggal berdua saja. Kalau dia sakit, pada siapa kuminta tolong antar ke rumah sakit. Semua itu menjadi pikiran bagiku.

Setelah itu Bude Is menyuruhku membuka handuknya lagi.
“Andi tolong urut paha Bude, yaaa..!” lembut suaranya.
Waktu aku menyibakkan handuknya, aku melihat bulu hitam kemaluan Bude Is. Uhh.., geramku. Tidak pernah aku melihat bulu kemaluan perempuan sebelumnya.

Aku melihat wajahnya. Dia melihat wajahku.
“Andi, pijitin paha Bude, ya..?”
Lalu dia meneteskan minyak dalam botol tadi ke tanganku. Aku melihat paha Bude putih dan mulus, bagus sekali. Betisnya padat, licin dan putih, seperti kapas. Aku pura-pura tidak meliat bulu kemaluannya. Lebat. Hitam. Banyak di bawah perutnya, seperti jambang. Kuraba bulunya. Halus. Lembut. Kemaluannya tertutup oleh ketebalan bulunya.

Kemudian Bude Is membuka pahanya. Aku malu untuk melihat.
Bude pun berkata, “Andi lihatlah..! Ada belahannya kan..?”
Aku diam saja, karena belum pernah melihat kelamin perempuan. Kulihat wajahnya. Bude meremas-remas kemaluanku. Aku merasa nikmat. Dia menyuruhku mengurut pangkal pahanya. Tangan Bude Is mengurut-urut batang kemaluanku. Kadang-kadang diremasnya batang kemaluanku pelan-pelan. Enak sekali rasanya. Geli bila kena kepala kemaluanku di jarinya.

“Andi lihat nggak celah rambut kemaluan Bude, ada air nggak..?” kata Bude.
Jadi sekarang kuberanikan untuk melihat dekat-dekat. Dia yang menyuruh. Kusibakkan bulu vaginanya, nampak ada alur panjang dari atas ke bawah. Di celah kemaluan itu ada air. Aku mengangguk.
“Andi sibakkanlah dan buka belahan itu, lihat di sebelah atas ada daging sebesar kacang goreng, ada nggak..?” dia tanya padaku.
Huhh.., aku geram sekali. Selama hidup aku tidak pernah melihat kemaluan perempuan yang dewasa seperti Bude Is. Tapi sekarang Bude menyuruh melihat punyanya. Aku tidak tahu mau berbuat apa. Tidak pernah sekali pun melihat itu.

Sebelum aku menyibakkan kulit yang dia bilang itu, aku melihatnya dulu betul-betul. Ketika kusibak bulunya, aku melihat kemaluan Bude seperti terbelah dari atas memanjang ke bawah. Ada jalur. Panjang. Seperti mulut bayi tembam. Seperti bukit kecil. Tapi jalur yang terbelah itu tertutup rapat. Tidak kelihatan apa-apa.
Aku bilang, “Nggak ada Bude. Nggak ketemu.”
Bude Is ketawa. Dia berkata dengan suara lemah lembut, “Andi, lihatlah dekat-dekat..!”

Kemudian kusibakkan kulit itu kiri-kanan, terbukalah kemaluannya.
“Udah nampak belum..?” katanya.
Menggigil juga tanganku ketika aku mengusik kemaluannya seperti yang dia suruh. Aku pun membuka dengan ujung jari. Aahhhk.., ketika terbuka aku kaget. Rupanya, dalam kulit luar ada kulit lagi. Warnanya merah. Memang ada air. Aromanya aneh dan enak. Aku belum terbiasa dengan aroma itu. Aku mainkan dan sibakkan. Berlendir. Melekat di jariku. Rupanya di dalamnya ada lidah, di kiri dan di kanan. Kusibakkan lagi, nampak di bawah seperti ada lubang. Kecil saja. Rasanya lembek. Seperti daging kecil.

Kemudian aku bertanya, “Ini dia Bude..?”
Dia menjawab, “Bukan. Bukan di bawah. Tapi diatass..,”
Aku melihat ke sebelah atas. Kusibakkan lagi. Kutekan baru kelihatan daging kecil menonjol.
“Haha.. itulah yang Bude maksud..!” kata Bude. “Pintar kamu Ndi..” katanya lagi.
Aku senang karena berhasil menemukannya. Kutekan sedikit dengan dua jempolku. Kulit luarnya masuk ke dalam. Tonjolannya seperti kemaluan kucing. Luarnya dibungkus kulit. Pendek saja ukurannya, tapi kelihatan. Sepertinya keras. Memang ada daging sebesar biji kacang goreng.

Aku mengangguk lagi, “Ada Bude..!” kataku.
“Ya, itulah itil kepala bawah Bude. Namanya itil atau kelentit. Andi mainkan seperti mainkan puting susu Bude tadi, ya… Nanti dia akan keras. Mainkan perlahan-lahan ya. Nanti akan berkurang sakit kepala Bude. Andi lakukan lah yaaa..!” Bude Is seperti minta tolong kepadaku.
Aku pun menuruti kemauan Bude. Ada aroma lagi datang dari kemaluan Bude Is. Aku senang aromanya. Makin kumainkan klitoris Bude, makin kuat aromanya. Enak sekali. Sepertinya wangi sabun dan bau agak mentega bercampur menjadi satu. Ingin rasanya aku mencium lebih dekat ke kemaluan Bude.

“Ada air liur keluar di bibirnya, Bude.” kataku.
Bude menjawab, “Nggak apa-apa, Andi mainkanlah terus sampai Bude puas.” katanya lagi.
Aku melihat Bude Is rilek saja. Matanya tertutup rapat. Nafasnya kencang. Tangannya memegang sprei ranjang dan diremas-remasnya.
“Sakit Bude..?” kutanya dia.
Dia hanya menggelengkan kepala, “Nggaak..!” katanya pelan.
“Andi lakukan terus sampai Bude bilang berhenti.” katanya lagi.
Aku terus melakukannya.

Lama-lama kurasakan paha Bude Is meregang. Betisnya mengeras. Jari kakinya juga meregang. Dia mengerang, “Uuhh.., hhhmm.., iss.. isshh..! Enaak Ndi..!” katanya, “Gosok dengan kencang Ndiii..!”
Aku pun mengikuti. Aku pun ingat waktu dulu. Ibu menyuruhku memijat kepalanya. Aku pun disuruh menggosok, tapi di dahinya. Ibu pun bilang enak juga. Tapi Bude Is agak lain. Dia menyuruhku memainkan kepala kecil di dalam kemaluannya. Kelentitnya. Ku dengar nafasnya makin kencang, kepalanya digelengkan ke kiri dan ke kanan. Dia menyuruhku meremas buah dadanya kuat-kuat. Aku meremas.

Tidak berapa lama kulihat Bude agak lega. Kemudian Bude membuka matanya, dan senyum padaku. Aku pun tersenyum.
“Udah sembuh sakit kepala Bude..?” kutanya.
Dia menjawab, “Belum seberapa hilangnya. Sekarang coba Andi telungkup di atas badan Bude, bolehkan..?” katanya.
Aku pun bertanya, “Telungkupnya gimana Bude..?” kataku.
Bude Is pun memegang pinggulku. Ditariknya aku ke atas dadanya. Dia menanggalkan handukku. Aku pun telanjang sudah, dan aku telungkup, pinggulku di atas dadanya. Kepalaku tepat di atas kemaluannya. Ahhk.., aroma kemaluanya enak sekali.

Kemudian Bude Is menyuruhku untuk menunggingkan pinggulku, berlutut di atas wajahnya. Aku pun menunggingkan pantatku dengan mengangkangkan pahaku tepat di atas wajahnya. Bude pun membuka dan mengangkangkan pahanya lebar-lebar. Kemaluannya menonjol karena pantatnya dialasi dengan bantal. Bude menyuruhku menyibakkan celah kemaluannya dengan jari. Kusibakkan.
“Ada airnya nggak, Ndi?” Bude Is bertanya. Kujawab ada.
“Andi lihat agak ke bawah, ada lubang, kan?” katanya lagi.
Aku jawab, “Ya.”

Bude menyuruhku meletakkan lidah di celah kemaluannya. Dia menyuruhku menyapukan vaginanya dengan lidahku. Setelah itu dia menyuruhku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang itu. Tekan dan tarik pelahan-lahan. Aku memasukkan jariku ke lubang kemaluan Bude. Mmhh, aroma air kemaluan Bude Is memang enak menusuk hidungku. Rasanya seperti sampai di otak kenikmatanku. Wangi. Kuhisap air vagina Budeku. Bude Is pun memegang kemaluanku yang sudah mulai tegang sedikit. Aku merasakan seperti dijilat. Seperti malam dulu, kubiarkan.

Setelah itu aku merasakan seperti dikulum kepala kemaluanku. Dimainkanya dengan lidah. Dan kurasakan kemaluanku seperti menyentuh bibir mulutnya. Kurasakan ujung kemaluanku seperti kena jilat di dalam mulutnya. Enak dan geli betul rasanya. Kurapatkan kakiku, tapi terhalang kepala Bude. Aku terpaksa menahan rasa enak dan geli. Badanku meriang. Lama-kelamaan hanya rasa enak yang terasa. Aku merasa Bude menjilat-jilat, habis itu rasanya kepala kemaluanku masuk ke dalam mulutnya. Habis semua batang kemaluanku. Kadang-kadang dikeluarkan kemaluanku, dijilat-jilatnya buah pelirku. Aku biarkan saja. Enak dan nikmatnya makin bertambah.

Kurasakan lidahnya mengulum kepala kemaluanku. Uhh.., gelinya bukan main. Kurasa kemaluanku semakin tegang. Aku mengerang menahan nikmat. Kudengar dia seperti menghisap kuat-kuat ujung kemaluanku. Crup.. cruppp.. bunyi air liurnya. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Kutahan saja. Aku terasa mau kencing. Aroma dari kemaluan Bude Is masuk ke lubang hidungku sewaktu dia memeluk pinggulku. Aku terus menjilati kemaluannya seperti yang dia suruh. Jariku pun kudorong tarik di dalam lubang kemaluanya. Berlendir dan banyak, sehingga meleleh sampai ke pangkal jari tanganku. Bulu vaginanya kulihat basah kuyup. Air liurku bercampur dengan lendir Bude. Mulutku pun belepotan seperti adikku makan bubur bayi.

Aku terus menjilati kemaluan Bude. Aku dan Bude Is mengerang kenikmatan seperti orang sakit kepala. Aku mulai merasa melayang-layang. Keringatku mulai meleleh di tubuhku. Kujilat terus kemaluan Bude sampai Bude keluar peluh juga. Tiba-tiba Bude Is menyuruhku bangun. Dia menyuruhku pergi ke kamar mandi untuk kencing dulu. Memang benar. Aku kencing. Banyak sekali. Langsung kubasuh wajahku dan kumur-kumur.

Setelah kembali ke kamar, Bude menyuruhku untuk telentang. Dia naik ke atas dadaku. Aku di bawah. Aku diam saja. Aku tidak tahu apa yang mau Bude lakukan. Kubiarkan saja karena Bude lebih tahu apa yang akan dilakukannya. Bude menyuruhku meremas-remas buah dadanya seperti tadi. Aku meremasnya. Kemaluanku pun mulai mengeras. Dipegangnya batang kemaluanku. Dikocoknya seperti dalam kamar mandi tadi. Setelah keras, Bude menyuruhku untuk memejamkan mata. Kurasakan perlahan-lahan diarahkan kepala kemaluanku di lubang vaginanya, di tempat yang kujilati tadi. Diusap-usapnya kepala kemaluanku sampai berlumur lendir vaginanya. Aku rasakan licin. Basah.

Kemudian ditekan pelan-pelan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. Kurasakan kemaluanku masuk ke dalam lubang kemaluannya. Panas rasanya. Seperti kejepit. Ditekannya dalam-dalam. Kemudian Bude Is berhenti. Dia menarik nafas panjang. Waktu berhenti aku merasakan kepala kemaluanku seperti kena urut dalam vaginanya. Dikemut-kemut. Bude Is merebahkan dadanya di wajahku. Aku sudah paham. Kupegang payudaranya, keremas-remas sambil kukulum puting susunya.
“Oouuh.., Andi sudah pintar yaa..?” katanya, suaranya menggetar.

Aku terus menghisap. Terus kuraba-raba payudaranya. Aku merasa gerah, badan Bude Is pun sudah berkeringat. Aku terus meremas payudaranya. Sesekali kudengar Bude menarik nafas panjang. Bunyi nafasnya juga bertambah kencang. Nafasku pun begitu. Bude menyuruhku memainkan biji kacang di celah kemaluannya. Bude membantu tanganku dengan membungkukkan badannya, sehingga tanganku lebih leluasa memainkan kelentitnya.

Setelah itu Bude Is menggoyang pantatnya yang lebar itu. Ke atas dan ke bawah. Pelan-pelan saja. Aku merasakan ada sesuatu yang menjalar di batang kemaluanku. Bude memutar-mutar lubang kemaluannya dengan cara memutar-mutar pantatnta yang lebar itu di atas kemaluanku. Seperti orang mengaduk dodol. Dia goyang ke kiri dan ke kanan. Habis itu diangkat dan tekan pinggulnya. Aku rasakan nikmat tiada taranya. Jari tengah Bude meraba lubang pantatku. Bulu kemaluan Bude kena ke pangkal kemaluanku. Geli. Bunyi nafasnya bertambah keras.

“Enak nggak Ndii..?” tanya Bude Is.
Kujawab, “Hhhmm..” mataku tidak dapat kubuka, badanku terasa seperti melayang. Batang kemaluanku makin tegang dan keras. Aku pikir karena digenjot Bude. Diusapnya pantatku. Lembut saja. Bude Is memang pintar mengusik tempat yang membuatku melayang. Enak. Bude Is terus menggenjot dan menggoyangkan pantatnya ke atas ke bawah, kadang memutar. Sesekali dirapatkannya wajahnya ke wajahku. Diciumnya mulutku. Kubuka mulutku. Dihisap lidahku. Seperti orang berciuman di TV. Aku pun membalas. Kuhisap lidahnya seperti yang diajarkannya tadi.

Bude Is seperti bertengger di atas kemaluanku. Sedikit demi sedikit batang kemaluanku terpacak keras, terbenam masuk ke dalam lubang kemaluannya. Dia menggenjot dari atas. Aku tahan di bawah. Dia memelukku kuat-kuat, sehingga membuatku susah untuk bernafas. Kami seperti beradu tenaga. Memang Bude Is mudah memasukkan batang kemaluanku, sebab lubang kemaluannya sudah banyak lendir. Kemaluanku rasanya licin bila disorong tarik di dalam lubang kemaluanya.

“Aahhgg..!” Bude Is merengek setiap kali dia bergoyang.
“Enaaak Nddiii..!” katanya padaku.
Aku mulai meriang. Tenggorokanku kering. Ada rasa seperti kesemutan di tenggorokanku saat Bude menggenjot pantatnya. Kutusuk dan hentakkan kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Bude. Semakin cepat dia genjot, semakin sering dia merengek, “Eh eh es eh eh ess..!”
Sambil menggenjot dari atas, tanganku mengusap-usap payudaranya. Puting payudaranya kuputar-putar. Kadang kuangkat kepalaku agar dapat aku menghisap puting payudaranya.

Puas bermain tanganku di putingnya. Begitu seterusnya sehingga puting susu Bude menjadi tegang dan keras.
Mulutnya melenguh, “Uh uh uh..!”
Bude Is membiarkanku untuk berbuat sesuka hati terhadap payudaranya. Semakin kuremas dia semakin melenguh dia. Kuat. Enjotannya pun makin kuat dan cepat. Hisapan kemaluan Bude Is memang kuat, lama-lama aku seperti mau kencing. Aku tidak bisa rasanya menahan kencing.
Aku memberitahu Bude, “Bude, Andi mau kencing niih..!”
Bude Is menjawab, “Nggak apa-apa, kencing aja dalam lubang kemaluan Bude.”

Terus Bude menggenjot lebih cepat, lagi dan lebih. Lama-lama aku sudah tidak tahan lagi. Melihatku makin tidak tahan, Bude Is memeluk bahuku. Maka terpancutlah kencingku, aku memekik, “Budee.. Andi udah mau.. keluaarr.., aahhk..!”
Aku sudah nggak tahan. Bude Is pun menekan habis kemaluannya dan menggenjot, angkat, enjot, angkat, enjot. Cepat. Lebih sering. Tenggorokannya pun mengeluarkan bunyi dari dalam.
“Arrrgg.., Andi.., Aarrgghh..!”

“Andi dah keluar Bude.” kataku sambil memeluk pinggang Bude erat-erat.
Kupeluk seperti itu agar kemaluanku terbenam lebih dalam ke dalam lubang kemaluan Bude. Wajah Bude kelihatan berkerut. Aku tidak tahu, apakah sakit kepalanya kambuh lagi. Pelan-pelan dia tekan pinggulku karena mau mencabut kemaluanku yang tertanam dalam lubang kemaluannya. Bude Is masih memelukku. Lubang kemaluan Bude masih belum mau melepaskan kemaluanku. Entah berapa kali aku pancutkan ke dalam rahim Bude. Aku rasa kencingku banyak. Kencingku memancut tidak putus-putus. Pekat rasanya.

Aku melihat biji mata Bude Is terbeliak bila aku kencing dalam rahimnya. Hangat pancutan air kencingku itu dapat kurasakan mengalir di buah pelirku. Mungkin di dalam kemaluan Bude sudah penuh dengan air kencingku tadi. Aku diam saja. Bude Is juga terdiam. Seperti bisu. Dia memelukku. Keringat Bude mengalir di dahinya. Aroma keringatnya wangi-wangi amis. Ketiaknya menempel di hidungku. Batang kemaluanku terasa mulai kendur. Berangsur-angsur menjadi kecil. Lama Bude Is membiarkan kemaluanku di dalam lubang kemaluannya.

Waktu itu perasaanku sangat bangga, karena aku berhasil menolong mengobati sakit kepala Bude Is. Kemaluan Bude memang enak menjadi tempat kencingku. Memang pintar dia membuatku kencing. Enak. Liang kemaluan Bude pun sangat kuat mengemut batang kemaluanku. Kemutannya saja dapat membuatku melayang lupa diri. Kuharap dia senang hati, karena aku menolongnya menyembuhkan sakit kepalanya. Aku tidak menyangka, anak lelaki sepertiku boleh kencing di dalam liang kemaluan perempuan. Nikmat pula. Aahhh..!

Lebih kurang sepuluh menit Bude Is memeluk tubuhku. Dia sepertinya tertidur. Mulutku mengulum puting payudaranya. Bude membiarkan saja. Kuremas, kumainkan, kuhisap putingnya. Ketika dia bangun, baru dia cabut kemaluanku dari lubang kemaluannya. Diciumnya pipiku.
“Masih sakit kepala Bude..?” kutanya.
Dia menjawab, “Tidakk Sayang. Udah baikan sekarang. Kan tadi Andi udah menyiram sama air ke dalam kemaluan Bude..?” dia tersenyum.
“Apa..? Andi tadi kencing Bude.” kataku.
“Husyy.. itu bukan kencing. Air mani namanya.” diajarkannya aku namanya.

Setelah itu kami tidur. Bude Is memelukku. Waktu mau tidur, diurut-urutnya batang kemaluanku. Aku pun meremas-remas payudaranya. Mulutnya menghisap lidahku. Aku pun begitu juga.

Cerita Bersambung 7:23 pm

Saya baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan melilitkan sehelai handuk seperti biasanya. Karena kamar mandi berada di dalam kamar utama, saya tidak terlalu menghiraukan penampilan saya dari kamar mandi, bahkan biasanya keluar dari kamar mandi tanpa memakai apa-apa.

Dan saya langsung menuju meja rias untuk berias karena pagi ini saya harus menghadiri rapat perusahaan untuk mengadakan kontrak kerja dengan mitra bisinis saya.

Saya sebagai salah satu direktur dari perusahaan suami, saya harus hadir dan seharusnya suami pun yang menjabat sebagai Direktur utama harus hadir, tapi karena suami baru pulang dari dinas di luar negeri selama sebulan untuk mengadakan negosiasi dengan mitra bisinisnya yang di luar negeri dan masih terlalu capai katanya dan memang kontrak akan ditanda tangani oleh saya saja.

Ternyata di sudah bangun sementara saya sedang mandi tadi, dan sekarang masih di tempat tidur sambil memainkan remote control tv untuk melihat berita hari ini.

Seperti biasanya, didepan meja rias saya mulai berias.

Saya melepas handuk yang melilit di badan saya dan mulai memberi body lotion ke seluruh badan. Mulai dari kaki dan terus ke paha dan sampai selangkangan, terus ke atas.

Dibagian dada sedikit agak lama memberikan lotion nya terutama dibagian payudara saya yang berukuran 36B ini. Sedikit saya tekan dengan kedua tangan saya. Saya sedikit merasa suatu kenikmatan dan memang terlihat dengan mulai mengeras nya puting saya. Mungkin memang sedang masa subur dan lagi sudah lama saya tidak berhubungan dengan suami karena di tinggal dinas. Dari kaca saya mengintip, sepertinya suami sedang memperhatikan saya berias. Suami memberi oleh-oleh untuk saya tadi malam begitu sampai. BH buatan salah satu product dari inggris yang lucu dan sexy.

BH yang hanya menyanggah payudara dari bawah ini hampir tidak memiliki cup atau lebih dikenal dengan sebutan quarter bra, sudah jelas puting saya tidak tertutup oleh BH nya tapi tetap menjaga bentuk payudara.

Saya mulai memakai stocking terlebih dahulu, yang hanya menutupi kaki saya sampai ke pangkal paha, dan terus dilanjutkan dengan melilitkan garter ke pinggang saya dan tidak lupa menjepit stocking saya ke tali garter. Karena suami sudah bangun saya memanggilnya, “mas tolong dong ke sini ikatkan tali BH ini”.

Suami yang tidur dengan mengenakan T shirt dan celana dalamnya saja bangun dari tempat tidur dan menuju ke meja rias untuk membantu saya.

“mas bagus ini BH nya, enak dipakai sepertinya…sexy lagi”. Sambil tersenyum dia membantu memasangkannya dari belakang. Sambil tetap menghadap kaca saya menanyakannya “pinter juga milihnya mas, gimana pas tidak kelihatannya”.

Dari belakang saya, suami mengulurkan tangannya dan memegang bagian depan BH yg dia berikan itu. Sambil memeriksa bagian depan BH, dengan nakalnya tangannya menyentuh dan menekan payudara saya yang tidak tertutup oleh BH ini.

Saya sedikit mendesah, “ah….mas nakal nih tangannya….”, sambil tetap meremas kedua payudara saya dia menjawab “kenapa memangnya tangan saya…”, dia mulai menjepit ke dua puting saya dengan jari telunjuk dan jari manisnya, sambil sedikit menariknya dengan perlahan. “Enak ya rasanya…sudah lama kan tidak saya pijit”.

“Ah mas menggoda saja orang mau kerja”. Kedua puting dengan cepatnya mengeras, terasa sakit bercampur nikmat. “Ah….ah….enak sekali rasanya”, saya segera ingin berbalik menghadap dia rasanya, tapi dia menahannya, tangan kanan saya mulai melilit kan ke tengkuk nya dari depan dan menngelus rambutnya yang berombak. Sementara itu tangannya tetap meremas payudara saya. Oh begitu nikmatnya, saya betul-betul terangsang. Sementara itu tangan kanannya mulai bergerak menuju bawah dengan perlahan dan sampai ke bawah puser. Saya belum mengenakan celana dalam.

Dia mulai mengelus rambut bawah saya yang tidak banyak ini.

“Aduh kamu sudah banjir sepertinya…..”, memang saya merasa bagian bawah saya sudah mulai lembab, dan dia terus mengelus dengan lembutnya.

Mendadak saya merintih agak keras “ah…ah…!!” ketika dia memainkan bibir bawah saya., tidak kuat lagi saya berdiri tegak, dengan sedikit membungkuk, kedua tangan saya memegang pinggir meja rias untuk bertahan. Tangan kanannya bergerak lebih jauh lagi.

Saya merasakan cairan kental dan licin keluar membasahi bibir bawah.

Seperti terpeleset, jari tengah tangan kanannya memasuki tubuh saya dan menggerak gerakannya di dalam vagina saya “ah…. ah… aduh mas…ah… saya tidak tahan…..enak sekali…”. Saya sudah tidak sabar lagi, tangan kiri saya menuju belakang dan memegang pinggulnya dan menariknya supaya lebih mendekat dengan saya, dan segera menyelinap ke dalam celana dalamnya, saya mulai memegang penisnya yg sudah membesar dan keras itu, dan dengan berirama saya gerakkan. “ah…ah…” dia mulai merintih kecil.

Sementara itu dia menambah jari telunjuknya untuk masuk ke saya, “gimana….enak…rasanya” katanya. “Ah…mas enak sekali….terus gerakkan mas… jangan berhenti…satu lagi mas…ah…!!” saya minta jari manisnya juga.

Saya mulai menarik celana dalamya ke bawah, dan dengan bantuan tangan kirinya celana nya pun jatuh ke bawah.

Saya membungkuk lebih dalam lagi dan dia mulai merapatkan pinggulnya ke pantat saya, dan saya merasakan penisnya yang hangat itu menempel di bibir bawah saya. Jari tangan kanannya yang sudah basah dia keluarkan dari dalam saya dan kembali meremas remas payudara kanan saya sambil memainkan puting saya. Semetara itu tangan kirinya memegang pinggul saya untuk lebih mantap. Pinggulnya mulai dia gerakkan berirama.

Saya hanya bisa lihat dia dari kaca saja. Sesekali ujung penisnya menyentuh mulut vagina saya, seakan mau memasukinya, dia sengaja tidak memasukkannya dulu.

Membuat saya gregetan untuk bertahan, saya sudah terangsang sekali.

“Ayo mas…saya sudah tidak tahan lagi…..ah..ah..!!” saya memintanya.

“Mau apa kamu….bilang dong…” dengan nada menggoda.

Saya pegang ujung penisnya yang sedang menempel di mulut vagina, “ini….mau ini…cepat…ah..ah.. jangan buat penasaran….ah..!!” dan lebih membungkuk lagi saya, posisi saya sudah siap untuk dimasukinya.

Pelahan-lahan dia mulai memasukinya, dan saya merasakannya, sebuah benda yang hangat mulai masuk ke dalam saya, “ah…ah… ayo terus mas….saya mau semuanya..ah”.

Dia hanya memasukkan setengah saja, membuat saya tambah penasaran, pinggulnya mulai bergerak ke depan dan belakang dengan berirama. “ah…terus..terus mas… saya mau semuanya…ah.. sampai mentok mas.. ah”.

“ah..emm..enak tidak, mau semuanya ya..”, dia bertanya, belum sampai saya jawab dia mulai mendorong penisnya jauh lebih ke dalam lagi, dan saya pun merintih dan merasakan sesuatu yang enak sekali. Pinggul nya terus bergerak berirama, dan mulai menambah cepat irama nya, tentu saja membuat saya tenggelam ke kenikmatan.

Tiba-tiba dia melepaskan penisnya dari dalam saya, dan menegakkan saya sambil memutarkan tubuh saya sehingga berhadapan dengan dia. Pinggang saya dia pegang dengan kedua tangannya dan mengangkat badan saya dan dia dudukan di meja rias, kemudian dia membentangkan kedua kaki saya. Dia kemudian mulai merapat dan memasukkan kembali penisnya ke dalam saya, “ah…ah…” saya pun merintih lebih keras karena nikmatnya. Dan dia mulai menggerakkan pinggulnya lagi. Kedua tangannya meremas-remas payudara saya dan juga memainkan puting saya dengan menjepit dengan jari telunjuk dan tengahnya.

Dia mulai mencium saya, dan saya langsung menyambutnya dengan membuka mulut saya sedikit, dan lidah dia mulai memasuki mulut saya dan saya sambut dengan lidah saya.

Kedua lidah saling bercengkrama dan membuat lebih nikmat.

Irama gerakan pinggulnya semangkin cepat, dan saya tahu dia mulai mendekati klimaks.

“Tunggu mas, saya mau sama-sama mas…ah..!!”, saya ingin mencapai klimaks bersama-sama, dan saya lebih konsentrasi lagi sambil menjepit penis nya.

“Ah…mas.. ayo mas.. saya sudah mau keluar
mas…ah..sama-sama…mas..!!”.

Dan seperti pistol meledak, dari penisnya keluar cairan panas yang terasa begitu panas dan kencang dalam tubuh saya, dan saya pun beberapa detik kemudian mencapai klimaks.

Irama gerakan pinggulnya mulai menurun perlahan-lahan , dan saya memeluk kepalanya dan saya ciumi kuping kirinya sambil berbisik “ah…nikmat sekali mas…sudah lama kita tidak begini”, dan pinggulnya sudah berhenti bergerak, tapi penisnya masih tetap di dalam saya, dan dia mengecup bibir saya dengan mesranya. “Ah…”, dia merintih sedikit karena penisnya yg masih didalam saya jepit.

Dia mulai mengeluarkan penisnya dari dalam saya, dan saya masih dalam posisi duduk di meja rias, saya merasakan cairan kental putih keluar dari dalam saya membasahi meja rias.

“Mitra kita akan tertarik dengan kecantikan kamu nanti”, katanya dengan penuh arti.

Di luar mobil sudah menunggu saya, saya keluar dari rumah dan pamit.

Saya memakai onepice merah panjang, potongan di dada sedikit rendah sehingga kelihatan sedikit belahan dada saya dan sedikit menonjol kedua puting saya dari balik gaun merah ini, BH saya hanya menyangga buah dada saya dan puting saya tidak tertutup oleh BH sehingga sepintas seperti tidak memakainya.

Supir saya membukakan pintu belakang dan saya masuk, sebelum pintu di tutup saya menarik bagian rok saya yg masih sedikit menempel di bagian pintu karena kancing bagian rok saya yg ada di depan sengaja saya buka sampai pertengahan paha, supaya lebih mudah bergerak dan sedikit terlihat sexy dengan belahan di depan.

Supir sepertinya sedikit melirik ke paha saya ketika itu, tapi seperti sudah biasa dia terus menutup pintu.

“Jon tolong mampir ke hotel Hyatt dulu untuk jemput tamu, dan baru kita ke kantor”.

Di lobby hotel tamu saya sudah menunggu, dia bersama wakilnya.

“Wah maaf pak Robert agak telat sedikit, tadi jalanan sedikit macet”.

Saya berbohong, padahal jalan tidak macet, tentu saya tidak bisa bilang bahwa saya telat karena menikmati sex di pagi hari.

Bapak Robert ini sepertinya masih muda dan tampan, badannya tegap dan tinggi. Masih muda sudah menjadi president suatu perusahaan yang lumayan besar.

Di mobil saya duduk di sebelah kanan, kemudian pak Robert di tengah dan wakilnya di kanan. Sambil sedikit memiringkan badan masing-masing kami berbincang-bincang tentang kota Jakarta. Sambil berbincang-bincang, sesekali-kali dia mencuri pemandangan dengan melirik ke bagian dada saya yang belahan bajunya sedikit rendah ini. Saya tahu itu, tapi saya berpura-pura seperti tidak sadar dan juga saya tahu bahwa yang dia lihat adalah bagian yang menonjol dari balik baju saya di sekitar buah dada saya.

“Pak Robert sudah umur berapa putranya?” saya sengaja menanyakanya untuk memastikan sudah berkeluarga atau belum. Dia tersenyum dan “Saya belum berkeluarga bu”, sambil tersenyum. “Kalau begitu bisa lebih santai dulu dong di Jakarta setelah kerjaan selesai” dengan nada memancing saya bertanya.

Tidak lama kemudian kami sudah sampai di kantor. Mobil berhenti dan supir membukakan pintu sebelah kiri. Wakil pak Robert turun dahulu dan kemudian dia, sambil bergeser saya juga menunggu untuk keluar, dan ketika saya memutarkan badan untuk mengambil tas saya yang ada di belakang kursi, belahan rok saya terbuka sampai pangkal belahan, tapi saya tidak sempat membenarkannya dan langsung ke luar. Di depan pintu pak Robert sudah menunggu saya untuk turun, dan dia pasti telah melihat pangkal paha saya dan bahkan mungkin telah lihat celana dalam saya yang hitam dan agak transparant itu.

Pintu lift di loby terbuka dan saya persilahkan Tamu saya masuk dahulu dan kemudian saya. Kantor saya ada di tingkat 30, di dalam lift tidak terlalu penuh, tapi di tingkat 3 banyak yang masuk sehingga kami mundur ke belakang. Karena penuhnya, saya terdorong sampai menyentuh pak Robert, “maaf pak Robert” saya minta maaf kepadanya.

Dalam lift saya merasakan tangan pak Robert yang menempel ke pantat saya, merasa tidak sopan, dia mengeser tangannya agar tidak menyentuh, tapi rupanya justru membuat posisinya semakin tidak enak. Bagian depannya langsung menempel ke bagian belakang saya. Saya merasa ada sesuatu yang keras menyentuh bagian belakang saya, penisnya mengeras rupanya. Belum sampai lebih jauh merasakannya lift terbuka dan kami harus keluar. Ruang rapat sudah siap dan saya persilahkan masuk, dan beberapa menit kemudian rapat dimulai. Ada dua hal kontrak yang kami bicarakan dan pada awal rencana kami akan menanda tangani kedua kontrak kerja, tapi setelah satu jam rapat berjalan ada satu hal yang harus dikonfirmasikan dan pak Robert minta ditunda sehari, akhirnya kami menandatangani satu kontrak kerja saja.

Untuk menjamu tamu, saya membuat appoitment untuk diner malam ini di hotel pak Robert jam 20 malam. Pak Robert dengan diantar oleh mobil saya kembali ke hotel.

Sore jam 16 saya bersiap-siap untuk pulang kerumah karena nanti malam ada diner dengan pak Robert. Ketika sampai di rumah ternyata ada pesan dari suami bahwa dia harus keluar kota dan baru kembali besok pagi.

Saya langsung menuju meja rias dan membuka baju untuk mandi. Setelah buka baju, saya duduk dahulu di kursi meja rias sambil membuka BH saya, dan sedikit istirahat dulu.

Saya merasakan kelembaban di celana dalam saya, dan merabanya dari atas celana, ternyata basah, naluri sex saya sedang tinggi. Dari selangkangan kaki, celana dalam saya geser sehingga tangan saya dapat menyentuh bibir bawah yang sudah basah ini, dengan halus saya mengelus-ngelusnya sambil membayangkan tadi pagi, tapi tiba-tiba imajinasi saya berubah seakan akan pak Robert yang muda dan ganteng itu sedang mencium dan menjilat vagina saya. Cairan yang hangat dan licin semangkin membasahi, dengan tidak sadar jari telunjuk saya sudah masuk ke dalam vagina dan terus saya gerakkan keluar masuk dari vagina saya, “ah..ah..a.h..” saya mulai merintih dengan nikmatnya. Seperti kurang puas dengan jari, saya membuka laci meja rias dan mengeluarkan mainan saya.

Mainan ini berbentuk penis ukuran orang eropa dan bisa bergerak-gerak dengan memakai baterai. Mula-mula ujungnya saya tempel di ujung mulut vagina saya, “ah..ah!!”, denyut jantung mulai cepat dan saya mulai memasukkan nya perlahan-lahan sambil berimajinasi yang masuk itu penis pak Robert. Saya masukkan sampai habis, bukan main rasanya, seperti benar-benar melakukan sex, mainan ini bergerak terus di dalam badan saya. Saya mulai menggerakkan mainan perlahan dengan men keluar masukan ke vagina dengan berirama, seperti orang laki-laki sedang memasukan punyanya ke vagina wanita.

“ah…ah!!…ah ah ah..”, irama gerakkan mulai cepat dan cepat, saya pun mulai tidak sadarkan diri, sementara tangan kanan menggerakkan mainan, tangan kiri saya mulai meremas payudara kanan saya dan sambil memainkan puting yg sudah dari tadi mengeras.

Selama lima menit, terus saya mainkan mainan ini dan irama tangan pun semangkin cepat, dan saya sudah mendekati kelimax. “ah..ah… keluar!!..ah..ah”, tanpa saya atur pinggul saya bergerak menyentak dan mainan yg didalam saya jepit….

Cairan kental bening keluar banyak dari celah vagina yg masih dimasuki oleh mainan ini.

Kepala dan tangan, saya rebahkan di meja rias, sementara mainan penis ini masih bergerak di dalam vagina saya. Kurang lebih tiga menit kemudian saya mulai menarik maian yang masih bergerak dalam vagina saya, mainan sudah jelas basah dan licin oleh cairan saya.

Mainan saya bersihkan dengan tisue dan saya simpan kembali di laci, dan saya baru melepas celana dalam yg sudah basah ini dan melepas gartar, kedua stocking saya, dan menuju kamar mandi.

Saya pilih gaun biru gelap untuk diner malam ini. Setelah memakai minyak wangi ke seluruh badan, saya mulai mengenakan stocking hitam dari kaki kiri dan terus saya tarik sampai setengah paha dan diteruskan dengan yang kanan. Saya lebih senang stocking model seperti ini dari pada panty socking, lebih praktis apabila ingin ke kamar kecil. Gartarpun saya pilih yang hitam, dan saya jepit tali gartar ke ujung stocking yang ada di pertengahan paha. Saya pilih celana dalam hitam yang berbentuk sangat minim yang hanya pas-pasan menutupi bagian depannya, sedangkan bagian belakang hampir seperti tidak memakai celana dalam, hanya berupa garis yang menutupi belahan bagian belakang, sehingga dari luar baju tidak akan terlihat garis celana dalam. Gaun malam saya bagian bawahnya panjang sampai ke mata kaki dengan dua belahan di samping sampai dua puluh centimeter dari atas lutut. Bagian punggung terbuka, dan bagian depan gaun dari dada terus ke atas dan bersimpul di kuduk kepala, tentu tidak berlengan dan belahan dada nya sampai setinggi bawah payudara, gaun hanya pas menutupi bagian payudara saja.

Gaun seperti ini tidak bisa memakai BH yg umumnya, biasanya hanya berupa cup saja.

Tapi saya kurang enak memakai BH yg hanya cup saja. Malam ini payudara saya langsung di tutup oleh gaun saja, tidak memakai BH.

Setelah merapih kan gaun dengan melihat dari kaca setinggi badan kemudian saya memilih sepatu untuk malam ini. Saya pilih warna hitam bludru dan dengan hak yang tinggi.

Peace, Love, Unity & Respect 7:18 pm

Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.

Suatu hari di sore hari Rida terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangannnn! Lepaskannn!”, Rida berusaha meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Rida mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.

Tubuh Rida memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak rambut Rida sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.
“Sret!”, Rida tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.
Menyusul branya ditarik dengan kasar. Rida benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh..!”, Rida merintih.
Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Rida dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Rida hanya mampu menangis tak berdaya.

Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Rida membuka mulutnya. Rida memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Rida.
“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Rida menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Rida dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Rida yang sudah basah.
Rida menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Rida sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu. Rida masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Rida berusaha meronta, tapi tak berdaya.

Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Rida lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Rida ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Rida gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Rida merasa akan muntah. Tapi Warto terus menekan hidung Rida hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Rida hingga bersih. Rida tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Rida. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Rida terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Rida menangis sesengggukan. Diman memakai celana dalam Rida untuk membersihkan sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Rida terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.

Rida ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Rida dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.
“Ayo Rida, kulum punyaku!”, Rida yang hanya mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh…, mmmhhh.., mhhh…”, Rida menangis tak berdaya.
Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
“Akkkghhh! Isep teruss…!, Ayooo”.
Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Rida. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Rida dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Rida bergiliran.

Tubuh Rida yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Rida ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Rida dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Rida.

Ketika telah selesai Rida telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Rida pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.
“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas…”.
Akhirnya muncul ide mereka yang lain.

Tubuh telanjang Rida diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Rida yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam. Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Rida disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Rida tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.

Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.
“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.
Rida berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Rida mulai dijadikan bulan-bulanan. Rida hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.

Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Rida bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.
“Ini kan teller di bank depan?”

Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Rida dengan berbagai posisi. Rida yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Rida tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Rida sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.

TAMAT