Cerita Antara KitaSeptember 15, 2006 5:54 pm

Aku adalah seorang preman.

Pembaca, mungkin anda kaget mendengarkan pengakuanku ini. Tapi, itulah kenyataannya. Kalau pengertian “preman” adalah orang bebas (freeman) maka aku memang benar-benar bebas, tidak terikat jam kerja kantor, tidak perlu takut dibentak-bentak bos dan hal-hal menyebalkan lainnya. Kenapa ? ha….anda pasti sudah bisa memperkirakan. Sebabnya adalah karena aku adalah seorang pengangguran. Salah satu dari ribuan pengangguran di ibu kota tercinta kita.

Ini bermula setelah aku lulus SLTA di kampungku dua tahun yang lalu, aku berkelana ke Jakarta dengan segudang harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.Tetapi, seperti sudah menjadi cerita klasik di Jakarta, semua angan-anganku itu terempas habis. Setelah berpuluh-puluh kantor kudatangi dan kuajukan lamaran, ternyata tidak ada satupun yang menanggapi. Ijazah SMA yang begitu dibanggakan di kampungku, di Jakarta ternyata tidak ada harganya sama sekali.

Setelah lelah dan hampir putus asa, akhirnya aku mendapat pekerjaan juga. Bukan pekerjaan kantor, tetapi menjadi supir tembak mobil angkutan kota (angkot ) di salah satu jalur di Jakarta selatan. Supir sebenarnya adalah temanku satu kampung di Pulau kami, dan karena kebaikan hatinya ia mau membagi kesempatan mengemudi angkotnya dan berbagi pendapatan denganku. Lumayanlah, dapat juga sedikit uang untuk menyambung hidup di Jakarta.

Tetapi bagaimanapun, hidup ini tetap berat. Trayek angkot yang kupegang ini bukanlah trayek gemuk, sehingga kesempatanku untuk menjadi supir tembakpun tidak terlalu banyak. Akhirnya aku lebih sering nongkrong di terminal di mana angkot trayekku bersarang, duduk mencangkung sambil memikirkan nasibku yang kuanggap super sial ini. Dan Rudi, si pengemudi angkot temanku itu juga sering duduk mencangkung menemaniku karena begitu sepinya penumpang.

Pada waktu duduk mencangkung berdua seperti itu, tidak jarang pembicaraan kami melantur ke mana-mana. Bagaimanapun kami masih muda (25 tahun) sehingga pembicaraan mengenai seks bukan hal yang aneh. Apalagi dengan suasana yang menekan seperti ini, obrolan jorok merupakan cara yang paling bagus untuk melupakan kesumpekan. Berbagai topik mengenai seks sudah kami bicarakan, tetapi semuanya yah……cuman omong doang. Kami tidak pernah bisa merealisasikannya. Kami belum punya pacar, karena kami takut kalau pacaran pasti perlu dukungan duit yang cukup. Ke pelacuran, sama saja. Dari mana kita dapat duit untuk membayar perempuan macam begitu. Serba susah. Untuk makanpun sudah susah, apalagi untuk hal-hal lain.

Jadi, di sinilah kami. Duduk mencangkung sambil merokok (itu satu-satunya kenikmatan yang mati-matian kami usahakan untuk mendapatkannya). Di depan kami berlalu lalang ratusan calon penumpang, semuanya sibuk dengan pikiran dan permasalahannya sendiri. Tidak jarang kami melihat calon penumpang yang cantik, dengan tubuh bahenol melintas. Biasanya kalau sudah lewat yang macam itu pembicaraan kami pasti mulai berkembang ke arah yang serba jorok. Mulai saling terka apakah cewek itu masih perawan atau tidak, berapa ukuran branya, sampai kira-kira posisi bersetubuh yang paling enak dilakukan bersamanya.

Setiap hari berbicara seperti itu, pikiran kami semakin pusing saja. Keinginan untuk berhubungan dengan perempuan, benar-benar mendesak untuk dipenuhi. Tapi apa daya ? benci betul aku dengan segala ketidak berdayaanku ini. Sampai akhirnya,si Rudi temanku mengeluarkan ideenya yang gila untuk memenuhi impian kami berdua mengenai perempuan. Ideenya benar-benar gila sehingga aku terhenyak mendengarnya.

“Sin, kita perkosa cewek saja ya” katanya tiba-tiba, di tengah acara nongkrong kita ( o ya, namaku Tosin. Aku lupa memperkenalkan diri sejak tadi).

Aku menengoknya dengan pandangan kaget :”elu ngaco ah” kataku :” cari perkara saja. Kalau mau bergurau cari cara yang lain saja deh.” Tapi si Rudi menggeleng. Tidak seperti biasanya, ia kelihatannya serius sekali :” bener Sin, aku nggak bergurau. Kita cari cara memerkosa yang paling aman, pokoknya kita puas dan risikonya sekecil mungkin.”

Lalu ia mulai menceritakan rencananya. Setiap hari, kira-kira pukul 22.00 malam angkotnya selalu dinaiki seorang gadis yang “tubuhnya aduhai sekaliii..” (ini menurut kalimatnya si Rudi lho ). Dia rupanya mahasiswi atau siswi kursus apalah tidak jelas, tetapi ia selalu pulang malam sendirian dengan angkot si Rudi. Ia selalu berhenti di perempatan di tengah perjalanan angkot kami, sehingga Rudi juga tidak tahu di mana rumahnya. Kelihatannya ia meneruskan perjalanan dengan menumpang angkot lain lagi yang menuju rumahnya.

“Jadi, serba rahasia” kata si rudi, mulai bersemangat :’ maksudku, kita bekap dia di depan lapangan bola, lalu kita mainin di bedengnya si Meeng. Kalau sudah selesai kita tutup matanya, kita putar-putar dan kita buang di tengah jalan.” Si meeng adalah kuli bangunan teman kami, yang tinggal di bedeng di pinggir lapangan bola. Sekarang bedengnya memang lagi kosong karena Meeng lagi pulang kampung.

Enak aja, pikirku :”emangnya dia tidak mengenal dan mengingat kamu ? kan dia tiap hari naik angkotmu, pasti dia lihat dan kenal kamu. Selesai kita makan dia pasti lari lapor ke polisi ” Rudi menggaruk- garuk kepalanya. Benar juga, mungkin begitu pikirnya. Akhirnya dia kehilangan semangat untuk meneruskan membahas rencananya.

Tetapi semua keadaan berubah seminggu kemudian. Di hari senin yang naas, angkot kita menabrak sebuah mobil Honda civic hitam sehingga bumper belakang mobil itu penyok ke dalam. Itu benar-benar kesalahan si Rudi, sehingga dia tidak bisa mengelak lagi ketika si pemilik mobil meminta pertanggung jawabannya untuk memperbaiki mobilnya di bengkel. Saat kami di bengkel dan pemilik bengkel mengkalkulasi biaya perbaikannya, wajah Rudi pucat seketika. Satu juta rupiah!! aduh mak, dari mana kita mendapat duit sebanyak itu. Tetapi Rudi tidak bisa menolak. KTP dan SIM-nya ditahan oleh pemilik mobil dan baru akan diberikan ketika mobilnya sudah selesai direparasi dan Rudi membereskan pembayarannya.

Akhirnya, dengan segala daya upaya si Rudi dapat meminjam uang sebesar satu juta untuk membayar perbaikan itu. Itupun dengan setengah mengemis (atau juga setengah mengancam) pada beberapa orang yang dikenalnya. Ia memasukkan uang yang sangat berharga itu pada amplop dan dengan hati-hati menyelipkan di kantong celananya.

Sore itu, kami nongkrong di tempat biasanya. Rudi mencangkung di sebelahku, matanya merah dan wajahnya kucel. Pasti pikirannya penuh dengan masalah bagaimana ia harus mengembalikan hutang yang (menurut ukuran kami) segunung itu. Berkali – kali ia menghela napas, menyedot rokok dengan keras dan menggaruk-garuk kepalanya. Aku tidak berani memberi komentar sama sekali, takut kalau salah ngomong dia akan semakin ruwet pikirannya.

Akhirnya setelah hampir satu jam saling berdiam diri, Rudi berdeham dan berkata serak :” Sin, aku mau pulang saja ke kampung. Nggak kuat aku di Jakarta” lalu ia menceritakan rencananya dengan cepat. Dia mau lari saja besok langsung ke Pulau kami, tidak bilang pada siapa-siapa. Tentunya setelah masalah pembayaran ke bengkel beres dan dia telah mendapatkan lagi SIM dan KTPnya. Masalah bayar utang, sebodo amat. Dia akan membayarnya kapan-kapan saja dari kampung kalau sudah punya duit.

Tapi dia ingin membalas dendam pada kota yang kejam ini, ”kota ini sudah menodai kita, Sin” katanya”, sebelum aku pergi, aku mau menodai salah satu warganya. Biar tahu rasa.” Lalu dengan nada emosi ia mengutarakan rencananya untuk memperkosa si cewek bahenol penumpang angkotnya, seperti rencananya dahulu. Toh tidak perlu takut lagi dikenal, karena dia akan lari pulang besok. Masalah aku ? terserah saja. Kalau aku mau ikut hayo….kalau nggak, ya terserah. Begitulah katanya.

Setelah menimbang-nimbang untung ruginya, aku sepakat untuk ikut. Aku memutuskan untuk ikut pulang saja ke kampung, percuma hidup di Jakarta. Aku toh tidak punya gantungan apa-apa di jakarta ini, jadi bebas saja. Jadi, kalau bisa merasakan tubuh gadis Jakarta sebelum angkat kaki, apa salahnya….

Nah, begitulah awal mulanya. Setelah sepakat bulat, malam harinya aku ikut Rudi nongkrong di angkotnya (biasanya aku tidak pernah ikut narik malam hari). Pukul sembilan tiga puluh malam, terminal sudah sepi dan udara sangat dingin karena hujan rintik-rintik. Hampir tidak ada penumpang yang datang, hanya beberapa pedagang rokok yang duduk meringkuk di bedengnya. Aku hampir putus asa menungu kehadiran bidadarinya si Rudi, sampai akhirnya….

“Itu dia..” bisik Rudi bersemangat. Aku menengok ke arah yang ditunjuknya, dan aku terbelalak. Di bawah terang lampu mercury aku melihat seorang gadis berjalan santai, memakai celana jeans selutut dan kaos putih, ditutupi jaket parasut hijau. Rambutnya sebahu, wajahnya cakep betul (sepertinya indo). Tapi yang paling membelalakkanku adalah tubuhnya. Untuk ukuran gadis Indonesia, dia sangat tinggi (mungkin hampir 172 cm). Tubuhnya sangat atletis, bahkan agak cenderung kekar.Aku hampir pasti dia seorang atlit. Cara berjalannya juga seperti berderap, cepat dan tegas. Mulutnya bergerak-gerak terus, sepertinya sedang mengunyah permen karet.

Dengan cepat ia naik ke angkotku, memilih duduk di depan di sebelah si Rudi. Tepat sekali seperti rencana, pikirku. Aku duduk di belakang, dan karena antara bagian depan dan belakang angkot ini tidak ada kaca pembatas maka aku dapat melihat calon korban kami dengan lebih jelas lagi.

Memang dia cantik betul, tetapi….ada sesuatu yang menggelisahkanku. Entah apa. Tetapi aku punya perasaan bahwa sesuatu yang tidak beres akan terjadi.

“Selamat malam No..on…” kata Rudi dengan gaya disopan-sopankan. Sok yakin kalau si cewek ini mengenalnya. Aku duduk meringkuk di bangku belakang, tepat di belakang Rudi. Aku memakai topi yang kusungkupkan ke wajahku. Bagaimanapun juga, aku masih kuatir kalau korbanku ini mengenaliku nanti. Di balik jaketku aku menyimpan sebilah belati.

“Selamat malam” sahut si cewek. Aduh mak, suaranya juga agak berat, hampir seperti suaranya penyanyi January Christy itu lho. Tetapi malah suaranya itu semakin menambah keseksiannya. Aku merasa nafsuku mulai naik. Yah, maklumlah, dua tahun di Jakarta tidak pernah berhubungan dengan cewek, hanya berani mengkhayal dan onani tiap hari….

Si Rudi segera menstarter angkotnya dan mobil tua itu mulai bergerak maju. ini berbeda dengan biasanya ( Rudi biasanya paling anti menjalankan angkotnya sebelum penumpang penuh). Mobil kami bergerak ke luar terminal, berbelok ke kiri dan melaju di jalan raya. Rupanya si cewek merasakan juga perubahan ini :”lho, kok masih kosong sudah jalan, bang?” katanya,. Suaranya yang berat dan seksi tersebut cukup ramah terdengar. Nafsuku semakin naik.

“Iya non, soalnya sudah malam, sekalian pulang. Saya sudah ngantuk” kata Rudi dengan sopan. Mobil tua ini melaju terus, melewati masjid raya, supermarket HERO yang sudah tutup, dan tiba-tiba dengan cepat berbelok ke jalan kecil di kiri. Ini bukan jalur trayek kami, jalan di kanan kiri kosong dan sangat gelap. Kami melewati lapangan bola yang sudah kami rencanakan sebagai tempat pelaksanaan rencana kami. Di kejauhan terlihat samar-samar gubuk si Meeng yang terletak di sudut lapangan bola, dikelilingi tanaman bambu.

Si cewek kelihatan kaget :”lo, bang, kemana kita? Ini kan bukan jalan biasanya?” ia melihat ke kanan kiri yang sangat gelap. Dari suaranya terasa keheranan dan kemeneketehean yang merebak. Rudi menukas, kini dengan suara dingin :” tenang aja non, pokoknya non nggak usah ngelawan. Kita nggak ingin menyakiti non kok” Rudi terkekeh :’malah kita akan memberi non kenikmatan. Percaya deh”.

Aku yang duduk di belakang segera bertindak cepat. Tanganku mengambil pisau di balik jaketku dan menodongkan ke lehernya yang jenjang dan putih :” betul non” kataku :”ikuti saja kami, pokoknya nikmat dan puas. Sekarang non turun dari mobil ini . Cepat !”. Dengan tetap kemeneketehean, si cantik itu turun dari angkot dan segera kami ikuti. Rudi dengan cepat memegang tangan kirinya dan aku memegang tangan kanannya. Dengan dibimbing oleh kami berdua dan dengan pisau yang tetap mengarah ke lehernya, si cewek itu kami gelandang ke gubuk si Meeng di pinggr lapangan bola.

Gubuk itu gelap sekali dan kotor. Setelah kami masuk, Rudi menyalakan lampu minyak di dinding dengan korek apinya. Terlihat di depan kami ada kasur yang digeletakkan di lantai, sebuah meja reyot dan kursi yang sama reyotnya. Di sepanjang dinding tergantung alat-alat kerja si Meeng, antar lain palu, gergaji dan segulung tali kasar dari sabut kelapa. Bau apak dan pengap menyergap ke dalam hidung kami.

Dengan pura-pura kasar kami mendudukkan si cewek di kursi. Kami berdua berdiri di sebelahnya, agak canggung juga dengan apa yang akan kami lakukan. Aku tetap menodongkan pisauku ke lehernya. Si cewek tampak memandang kami, anehnya matanya lebih menampakkan kemeneketehean daripada ketakutan, ” kalian…., apa yang kalian inginkan?” tanyanya sambil menatap kami berganti-ganti, “kalau mau uang, gih ambil saja di tas saya ini. Ambil aja semua……saya nggak apa-apa kok”. Ia menunjuk tas tangan merk versace yang sekarang terletak di meja.

Si Rudi berdeham,dan mengeluarkan suara yang dibuat seperti mengancam, ” he…., kamu kira kita ini perampok kampungan apa begitu ? kita nggak perlu duitmu, tahu? Kita pingin ngerasain tubuhmu yang bahenol ini. Kita akan sedot seluruh kenikmatanmu, tahu ? jangan ngelawan !!” sambil nyerocos begitu si Rudi meluncurkan tangannya ke dada si cewek dan meremas buah dadanya dengan kasar. Aneh, si cewek sama sekali tidak menghindar. Dia diam saja ketika si Rudi meremas-remas buah dadanya yang kelihatan cukup besar. Matanya tetap memandang kami berganti-ganti.

“Jadi….. jadi……kalian ingin memperkosaku ? begitu ? “ walah, to the point banget pertanyaannya. Tapi anehnya tidak ada kesan takut di wajahnya. Malah sekilas kulihat bibirnya menyungging senyum. Rudi juga tampak kemeneketehean melihat respons si cewek ini, sehingga ia harus berdeham dahulu sebelum menjawab :” eh…..kamu jangan norak gitu. Kalau kamu mau sama mau, kan namanya bukan diperkosa ? pokoknya kamu nurut saja, nanti tidak ada yang disakiti. Ngerti ?” Rudi membentak. Tetapi dari nada suaranya jelas bahwa bentakannya itu cuma dibuat-buat, untuk menutupi kemeneketeheannya.

Tetapi respons si cewek benar-benar mengagetkan kami. Tiba-tiba ia tertawa terkikik dan berkata ceria :” waah….. asyiikk…”. Kami berdua melongo mendengarnya. Lha, ini ada cewek mau diperkosa kok malah bilang asyik!. Belum hilang keheranan kami, tiba-tiba tanpa diduga si cewek itu menjulurkan tangannya dengan sangat cepat dan menepis pisau yang ada di tanganku. Aku dengan reflek berusaha menghidar, namun terlambat. Tangannya yang halus dan mulus itu mencengkeram pergelanganku, dan dengan kekuatan yang sangat luar biasa meremasnya. Rasa nyeri dan ngilu luar biasa menyerang pergelanganku. Aku berteriak dan menjatuhkan pisau di tanganku. Belum lagi pisau itu jatuh di lantai, si cewek dengan sigap menangkapnya dengan tangan kanannya.

Rudi melongo dan terperangah melihat kejadian yang tidak diduga-duga ini. Dan sebelum dia sadar, si cewek melompat dan menendang perut Rudi sedemikian kerasnya sehingga aku mendengar suara tersedak seperti orang mau muntah. Rudi terpelanting dan terbanting menabrak tembok papan di belakangnya. Sebuah ember yang digantung di papan persis di atas kepalanya jatuh dan menghantam kepalanya. Ia jatuh terduduk dan tampak sangat pusing dan kesakitan.

Si cewek kuntilanak itu terus beraksi. Ia memelintir lenganku yang masih dipegangnya, sehingga aku berteriak kesakitan. Didorongnya tubuhku sedemikian kerasnya sehingga aku jatuh berdebam ke depan. Mulutku nyungsep di lantai tanah, rasanya sakit sekali. Cewek itu terkikik-kikik (benar-benar mirip kuntilanak) dan kini ia bergerak ke dinding. Diambilnya gulungan tali sabut kelapa di dinding (biasanya dipakai si Meeng untuk tali pagar), dan dengan gerakan kilat mengikat tangan kami di belakang punggung. Aduh, kami sekarang betul-betul jadi tawanan.

Si cewek itu sekarang berdiri di depan kami yang duduk menggelosor di lantai,tubuhnya yang bongsor menjulang tinggi. Ia menendang kami dengan mata liar, ” he, denger nih kalian berdua” katanya, ” kalo elu pikir bisa memperkosa gua, lo cuman ngimpi doang. Sebaliknya, gua sekarang yang akan perkosa elo” dia terkikik-kikik :” gua sudah lama berfantasi memperkosa dua cowok, nggak pernah kesampaian. Eh, sekarang ada yang menawarkan diri. Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Kita mulai yok” katanya. Dan dengan gerakan sangat cepat ia membuka celana dan jaketnya.

Sewaktu dia membuka jaket parasutnya, kulihat terdapat tulisan di punggung kaos t shirtnya. Dengan terkejut aku membaca :” PERGURUAN BELA DIRI …..” (aku sensor, nanti ada yang tersinggung ). Namun yang sangat mengerikan adalah tulisan di bawahnya ”PELATIH”. Aduh mak, ternyata kita mau memperkosa pelatih silat ! dasar si Rudi brengsek, mau perkosa cewek saja tidak milih-milih dahulu. Habislah sudah kita, pikirku. Dasar kita orang malang, orang celaka, orang……….

“Bangun !” bentak si cewek, membuyarkan lamunanku. Ketika aku menengoknya, astaga, dia sudah telanjang bulat di depan kami. Tubuhnya benar-benar bagus, kulitnya mulus, buah dadanya yang besar tegak menantang meskipun tanpa disangga bra. Perutnya benar-benar ramping tanpa lemak, dan pahanya yang putih mulus tegak panjang seperti kaki belalang. Dan pandanganku segera mengarah ke selangkangannya : tampak segunduk kecil bulu kemaluan berwarna kehitaman, hanya sedikit saja di atas bibir kemaluannya. Bagian lain kemaluannya bersih tanpa bulu, berwarna kemerahan dan sangat mulus.

Aduh, dalam keadaan biasa aku pasti sudah konak setengah mati. Tetapi dalam kondisi sekarang, rasanya sulit untuk sekedar membangkitkan nafsu. Apalagi di tangan si kuntilanak itu masih tergenggam pisauku yang terhunus.

Rudi seperti dicocok hidungnya menuruti perintah si dewi kuntilanak itu. Dengan susah payah ia mengangkat badannya sehingga kini ia dalam posisi duduk menggelosor di lantai. Wajahnya penuh ketakutan menunggu apa yang akan terjadi.

Cewek itu tertawa terkikik kikik melihat ekspressi Rudi, yang bercampur antara memelas dan takut. Tangannya mengelus-elus rambut Rudi yang ikal :” jangan takut sayaaang…….aku Cuma mau kamu menghisap kenikmatanku kok” katanya, menirukan ancaman kami tadi. Tiba – tiba ia menarik rambut Rudi ke belakang sehingga wajahnya mendongak :” sekarang, kalau kamu mau menghisap kenikmatanku, nih….hisaplah”. Ia bergerak ke depan, ke kepala Rudi. Tangan yang satu tetap menarik kepala Rudi ke belakang, sedang tangan lainnya meraba ke kemaluannya yang kini hanya beberapa senti saja di depan wajah Rudi. Jemarinya yang lentik dan mulus dengan lembut membelai-belai bulu kemaluannya yang tidak begitu lebat itu, dan akhirnya jari tengah dan telunjuknya membuka bibir kemaluannya lebar-lebar.

Aku dapat melihat bagian dalam kemaluannya yang sangat merangsang, berwarna merah muda dan tampak basah. Ia merendahkan badannya sehingga kini kemaluan itu benar-benar menempel di mulut Rudi. Kulihat mata temanku membelalak, napasnya megap-megap karena sulit menarik udara bebas. Hidungnya tersumbat oleh kemaluan cewek ganas itu. “ Ayoo, monyong, cepetan keluarkan lidahmu” kata si cewek memerintah. Napasnya juga kedengaran memburu, tampaknya ia sangat terangsang. Kulihat Rudi menuruti perintahnya, menjulurkan lidahnya panjang-panjang dan mulai menyapukannya ke bibir dan bagian dalam kemaluan si cewek itu.

Pemandangan selanjutnya sungguh menakjubkan (sekali lagi, dalam situasi lain aku pasti sudah sangat terangsang ). Si cewek menggerak-gerakkan pinggulnya ke depan dan ke belakang, sehingga kemaluannya bergesekan lebih keras dengan lidah Rudi. Mulutnya mendesis – desis menahan kenikmatan, ” ooh….hebat kamu. Terus, jilatiin….masukin lidahmu ke dalam lobangku”. Rudi tampaknya menurut, ia menegangkan lidahnya dan mengarahkan ke lobang kemaluan si cewek. Kini gerakan si kuntilanak berubah, tidak maju mundur lagi tetapi ke atas dan ke bawah.

Aku melihat lidah Rudi keluar masuk lobang kemaluannya, yang semakin lama tampak semakin basah, “aaah…. enak, enak,…. lidahmu enak. Ayo terus”, desah si cewek tidak terkontrol lagi. Tangannya yang memegang kepala Rudi tampak bergetar, dan akhirnya pisau yang digenggamnya jatuh berdenting ke lantai. Kesempatan bagus, pikirku. Aku mulai bergerak ke arah pisau itu, tetapi langsung berhenti karena si cewek memandangku dengan pandangan penuh ancaman. Tanpa menghentikan goyangannya, ia mendesis padaku :” awas, jangan coba yang aneh-aneh. Gua akan gorok leher lo kalau berani-berani ambil itu pisau “. Mendengar ancaman itu langsung nyaliku ciut dan kuurungkan niatku.

Tampaknya si cewek sudah puas dilayani oleh lidah Rudi. Ia mengangkat pinggulnya dan berhenti sejenak dengan napas tersengal-sengal, ”Huaaduuh… enak sekali. Tetapi aku belum keluar nih. Kamu harus bikin aku keluar yah.” Dan dengan berakhirnya perkataan itu, sekali lagi ia merendahkan tubuhnya dan menempelkan kemaluannya ke mulut Rudi. Kali ini benar-benar menempel, tidak ada ruang sedikitpun untuk bernapas bagi si Rudi.

Si cewek menggerakkan pinggulnya ke depan dan kebelakang dengan cepat dan liar, ”sekarang hisap. Ayo hisap!” perintahnya pada si Rudi. Temanku yang malang itu tidak bisa mengelak lagi, disedotnya kemaluan si cewek begitu rupa sehingga kulihat pipinya cekung ke dalam :” aaghh….hisap terus. Monyet, mulutmu enak sekali “ si cewek benar-benar kehilangan kontrol, seluruh tubuhnya yang telanjang bergoyang-goyang dan bergetar, merasakan rangsangan yang sangat hebat di kemaluannya.

Akhirnya, tak lama kemudian, ia mengejan dan mengeluarkan teriakan yang (benar-benar) keras. Mulutnya mendongak ke atas :” aaaww….. aku keluaar….. auuu…” aduh, kalau saja gubuk si Meeng ini tidak begitu jauh dari rumah penduduk, pasti suara teriakan itu akan terdengar. Tapi namanya juga gubuk di tengah lapangan bola, sudah hampir tengah malam lagi, pasti tidak ada yang mendengar.

Aku melihat si cewek sekarang berdiri tegak ( aduh, siapa sih namanya? Penasaran betul aku untuk mengetahuinya ). Wajahnya merah, napasnya terengah-engah. Buah dadanya yang tegak menantang tampak semakin tegak, kedua putingnya yang berwarna coklat kemerahan tampak tegang karena terangsang. Kedua tangannya mengelus-elus kemaluannya, yang kini tampak sangat basah, belepotan dengan air maninya yang menetes-netes ke bawah.

Aduh mak, belum pernah aku melihat wanita orgasme dengan cairan sebanyak itu ! aku melihat wajah si Rudi, yang tetap mendongak ke atas. Astaga, wajahnya (bukan Cuma mulutnya lho) benar-benar belepotan dengan cairan orgasme si cewek. Ekspresi wajahnya sungguh tidak bisa ditebak, antara meneketehe, takut, tetapi (tampaknya) juga sangat terangsang. Matanya nanar dan terus memandang kemaluan si cewek yang sekarang agak jauh dari wajahnya. Ia tampaknya juga mendambakan sesuatu yang lebih dari barang indah yang baru saja dikulumnya tadi itu.

Si cewek tersenyum melihat ekspresi si Rudi :” kamu puas juga yah? Kamu minta lagi ?” tanyanya genit. Rudi diam saja. Ia malah pelan-pelan menurunkan pandangan matanya dan menundukkan kepalanya. Si cewek tampaknya tersinggung melihat itu :” kamu nggak suka yah ? kurang ajar kamu, dasar cowok pemerkosa sialan !” dan…plaaak…..sebuah tamparan yang sangat kuat mendarat di pipi Rudi. Temanku yang malang itu berteriak, dan terjengkang ke belakang. Tangannya yang masih terikat di punggung menyebabkan ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk melawan. Kini ia telentang tanpa daya di lantai tanah yang kotor.

Si cewek sekarang melompat dengan ganas, mengangkang di atas tubuh Rudi yang telentang. Sekali lagi kemaluannya mendekati wajah Rudi :” kalau kamu nggak puas sama yang tadi, nih…nih…gua kasih yang lain….yang lebih banyak”. Dan astaga, kulihat cairan deras keluar dari kemaluannya, menyemprot ke wajah Rudi. Si kuntilanak itu kencing ! kulihat wajah temanku yang malang itu bergerak ke kiri ke kanan, berusaha menghindari semburan cairan yang menyemprot itu. Tetapi tentu saja tidak berhasil. Akhirnya ia pasrah, diam saja sambil menutup matanya. Kulihat wajahnya lucu sekali, seperti hampir menangis.

Si cewek itu tetap berdiri di atas kepala Rudi, mulutnya terkikik-kikik melihat wajah Rudi yang serba memelas :’haaah…rasain lo ! dikasih yang enak pura-pura nggak suka…..sekarang gua kasih yang super pesing dan asin…” kemudian ia bergerak menjauh, kakinya menendang kepala Rudi yang masih telentang :” tuh, tidur sana. Sementara gua udah abis sama elo”. Si cewek sekarang memutar tubuhnya, dan dengan ngeri kulihat ia memandang wajahku dengan penuh nafsu :” masih ada satu lagi nih, makanan gua” katanya. Tangannya mengambil lagi pisau yang tadi terjatuh kelantai, dan dengan langkah pelahan berjalan ke arahku. Aku serasa melihat seorang algojo datang, siap mencabik-cabik tubuhku yang malang ini.

“ Ja…jangan mbak…” kataku ketakutan, ketika ia telah mencapai tubuhku. Ia memandang heran :”lho, emangnya kenapa? Aku juga mau memberimu kenikmatan kok.” Katanya sambil terkikik (sungguh, ketawanya itu mengingatkanku pada ketawa kuntilanak di film ). Ia membungkuk, mengelus-elus kepalaku (aku masih duduk menggelosor di lantai). Dipandanginya wajahku dengan teliti :” kamu orang Arab ya?” tanyanya tiba-tiba. Wah, aneh juga pertanyaanya. Aku menjawab dengan suara gemetar :’ bu…bukan mbak. Tapi kakekku memang turunan India” aku jujur saja. Memang wajah dan penampilanku menampakkan aku bukan orang pribumi asli. Ia terkikik lagi :” naah…benar kan dugaanku. Arab kek, India kek…..pasti kamu punya kelebihan. Kontolmu gede kan ?” walah, pertanyaannya bener-bener jorok. Aku coba menyengir :” eeh….soal itu, mbak lihat sendirilah. Selera orang kan berbeda-beda”. Ia mengangguk-angguk, dan akhirnya keluar perintahnya, ” berdiri kamu !”

Nah, ini dia, saat perkosaanku sudah tiba. Dengan gemetar dan susah payah aku berdiri. Tanganku yang masih terikat di belakang punggung sungguh membuat gerakanku terbatas. Kini aku sudah berdiri tegak, berhadapan dengannya dalam jarak beberapa puluh senti. Aduh mak, ia betul-betul cantik. Wajahnya agak mirip bintang film Tamara Blezinski. Baru dapat kulihat kelebihannya setelah ia berdiri sedekat ini denganku. Ia telanjang bulat, memperlihatkan seluruh keindahan tubuhnya. Aku masih berpakaian lengkap, baju dan celana jeans. Sepintas aku membaui parfum tubuhnya. Aku merasa mulai terangsang.

Ia memandang tubuhku lekat-lekat :” gua pingin ngerasain kontol elo. Jangan menolak atau bikin macem-macem. Gua tusuk entar perut elo”. Ia mengacungkan pisaunya ke wajahku. Walah, hilanglah sudah rangsangan yang tadi sempat timbul. Rupanya si kuntilanak ini memang benar-benar menyukai melihat lawan mainnya menderita. Ia tidak mau melihat lelaki yang disetubuhinya merasa menang atau menggagahinya. Matilah aku.

“ Gua buka bajumu” katanya. Dengan cepat ia membuka kancing bajuku, sehingga dadaku yang berbulu lebat tampak keluar (aku tidak pakai kaos dalam). Ia memandang dengan kagum, dirabanya bulu dadaku dengan jemarinya yang panjang :” ck…ck…ck…hebat sekali. Gua benar-benar dapat makanan enak malam ini “ katanya. Kemudian tangannya dengan cepat beralih ke celanaku, membuka ritsletingnya dan gerakan kilat memelorotkan celanaku bersama dengan celana dalamnya sekalian. Sekarang aku berdiri telanjang, baju terbuka dan celana yang sudah diturunkan sampai mata kaki. Kemaluanku yang memang (sangat) besar tampak menggantung layu,kepalanya yang berwarna kemerahan tampak mengeriput.

Si cewek berteriak kagum melihatnya :”waaw….bener perkiraanku. Kontolmu besaar banget !” ia sekarang berjongkok dihadapanku, tepat di depan kemaluanku. Tangannya yang tidak memegang pisau memegang-megang, mengelus dan memijit-mijitnya :’ kalo masih tidur aja sudah segini, berapa besarnya kalau ngaceng?” ia mengangkat kemaluanku sehingga tertarik ke depan :” aku bangunin yah” katanya. Dan tanpa bicara lagi, dibukanya mulutnya dan dimasukkannya kemaluanku ke dalamnya. Dihisapnya kemaluanku dengan kuat, lidahnya menjulur menyelusuri batangnya dan bibirnya yang mungil dan seksi digerak-gerakkannya kedepan dan ke belakang.

Sensasinya sungguh luar biasa. Aku merasa mulai terangsang hebat, tetapi….mataku beralih ke tangannya yang lain. Pisau yang berkilat itu masih tergenggam erat, dan meskipun ia sibuk mengulum kemaluanku tetapi ia tetap tidak lupa mengarahkan pisau itu ke perutku (mungkin ia kuatir juga kalau aku melawan atau menendangnya ). Melihat itu, plaas…hilanglah sensasi rangsangan itu. Rasa takut kembali mencekamku. Kontolku yang hampir sempat menegang di dalam mulutnya, melayu kembali.

Dia rupanya merasakan perubahan itu. Dia menggerakkan mulut dan lidahnya semakin kuat, dibantu jari-jarinya mengocok pangkal kemaluanku yang masih ada di luar mulutnya. Tetapi, dasar namanya orang ketakutan, aku sama sekali tidak terangsang. Kemaluanku layu saja di dalam mulutnya, malah semakin lama semakin mengecil.

Si cewek tampak makin kesal dan marah melihat itu. Diludahkannya kemaluanku dari dalam mulutnya dan mengomel :” kamu gimana sih ? udah capek gua sepong belum juga bangun ! he…..kamu impoten ya? Bilang terus terang,biar nggak salah kalau aku tusuk kontolmu abis ini.” Aduh, aku benar-benar takut sekarang. Daripada terjadi apa-apa, aku bilang jujur saja :” mbak, bukannya aku impoten. Masalahnya….. aku serem sekali mbak. Bagaimana aku bisa terangsang kalau pisau mbak nempel terus di perut. Coba dirangsang yang bener gitu, aku pasti tegang”. Kulihat si cewek memandang wajahku (dia tetap berlutut di depanku). Kulihat matanya, tampaknya dia mengakui kebenaran alasanku itu.”Gitu ya?” katanya. Dia menelan ludah, menarik napas dan pelan-pelan berdiri. Pisau yang dipegangnya dilemparkan jauh-jauh ke sudut rumah :’ ya udahlah. Sekarang gua pakai cara yang lain” katanya. Ia kembali berdiri di depanku, hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuhku.

Kini wajahnya berubah sama sekali lain. Kalau tadinya tampak serem dan sangar penuh nafsu binatang, kini berubah menjadi sayu, sendu dan tampaknya sangat mendambakan kenikmatan dariku. Matanya sayu. Aduh, sungguh dia tampak semakin cantik. Dia mendekatiku, mengelus rambutku dan mendekatkan bibirnya ke bibirku. French kiss nih, pikirku. Kusambut mulutnya dengan mulutku, dan sedetik kemudian lidah kami bergumul dalam ciuman. Napas kami memburu. Buah dadanya menggesek-gesek dadaku, putingnya bergesekan dengan putingku (tinggi kami hampir sama). Di bagian bawah kurasakan bulu kemaluannya bergesekan dengan batang kemaluanku, terasa hangat dan basah. Aku mendesah. Dia sungguh luar biasa. Dalam sekejap ketakutanku hilang dan nafsuku mulai naik.

Ciuman si cewek sekarang beralih dari mulutku, berpindah ke telinga, leher, dan terus menurun ke dadaku. Dihisapnya putingku berganti-ganti kiri-kanan, sementara tangannya mengelus-elus dadaku yang berbulu. “ Aaah….” Aku mendesah. Ia memandang wajahku :” mulai terangsang yah? Bohong apa beneran?” tanyanya dengan nada lucu:” beneran mbak” kataku :” tuh lihat, kontolku sudah mulai tegak.” Ia memandang ke bawah, melihat kemaluanku yang mulai bangun :”iya yah” katanya gembira :” sekarang gua tegangin maksimal yah. Lihat ini”. Dia duduk berlutut, mulai menciumi perut dan pusarku. Dengan sangat akhli ia menghisap dan menjilat bagian perutku, menimbulkan getaran rangsangan yang sangat hebat. Jilatannya semakin turun dan kini mulutnya sibuk menciumi bulu-bulu di pangkal kemaluanku. Ditarik-tariknya bulu itu dengan bibirnya, sambil mulutnya terus menggeram-geram seperti orang gemas.

Kini aku benar-benar terangsang. Kakiku bergetar, kemaluanku perlahan-lahan menegang dan kini hampir berdiri tegak seratus persen. Warna batang kemaluanku yang kehitaman, dengan kepala berwarna kemerahan dan otot-otot yang semakin menonjol tampak kontras dengan warna kulit pipi si cewek yang putih mulus dan berkali-kali bergesekan dengan batang kemaluanku itu, ketika dia sibuk menjilati dan menarik-narik bulu kemaluanku.

Dia memandang kemaluanku yang sudah tegak seperti tiang bendera itu dengan selera besar :” gitu dong sayang, itu baru namanya cowok yang baik….sekarang gua terusin rangsangannya yah.” Ia memegang kemaluanku, kukira akan dikulum di mulutnya. Tetapi ternyata tidak, ia mendekatkan kemaluanku ke buah dadanya yang montok, putih dan tegak itu. Digesek-gesekkannya kemaluanku ke putting susunya berganti-ganti, sehingga putting itu semakin menegang kecang. Kemudian ia menekan kepala kemaluanku ke putting susunya sehingga putting itu tertekan ke dalam buah dadanya. Kemudian ia menggerak-gerakkan batang kemaluanku dengan gerakan memutar sehingga gesekannya semakin keras. Aku mengerang keenakan. Ia memandang wajahku dengan pandangan puas, bangga atas kemampuannya membangkitkan nafsu laki-laki yang baru beberapa menit lalu masih mengkerut ketakutan.

Kini ia menjauhkan diri sedikit dariku, dan memegang paha kiriku :” buka kakimu sayang” desisnya, suaranya tampak penuh rangsangan. Ia membantu mengangkat kaki kiriku, dan dan kakiku ditumpangkan ke kursi reyot di sebelahku. Kini batang kemaluanku tegak bebas ke depan, dan kedua bolanya menggantung bebas pula. Si cewek ini bergerak, merunduk ke bawah dan menyungkupkan kepalanya ke bawah selangkanganku.

Aku tidak bisa melihat apa yang dilakukannya, tetapi kurasakan jilatan lidahnya menyapu bagian bawah tubuhku, di antara lobang dubur dan bola kemaluanku. Lidahnya terus bergerak dengan akhli ke arah kedua bola itu, dijilatinya berganti-ganti dan akhirnya dikulumnya dengan kuat sehingga kudengar suara berkecipak. Aku semakin terangsang, hingga terasa seluruh tubuhku bergetar. Aku mendesis :” mbak…mbak….kulum kemaluanku dong…..aku pingin sekali….” Aku sama sekali lupa bahwa aku dalam posisi diperkosa, kedua tanganku masih terikat. Yang kulihat di depan mataku adalah seorang wanita yang sangat cantik sedang sibuk menjilat dan menghisap bagian bawah tubuhku dengan nafsu bergelora.

Ia mendengar pemintaanku dan tampaknya akan meluluskannya. Dilepaskannya kulumannya dari bola kemaluanku, dan kini ia duduk bersimpuh di depanku. Kepalanya mendongak ke atas, matanya setengah terpejam. Dia membuka mulutnya lebar-lebar :” gih masukin burungmu ….” Katanya :” jangan takut, enggak akan gua gigit kok”. Ia masih juga sempat bercanda. Aku merendahkan badanku ( aduh, tanganku yang terikat ini benar-benar mengganggu). Aku arahkan kemaluanku ke mulutnya yang terbuka lebar, dan dengan pelan-pelan mendesakkannya ke dalam. Si cewek tetap membuka mulutnya lebar-lebar, matanya semakin terpejam. Ketika ia merasakan kemaluanku memasuki mulutnya, ia bersuara dengan manja :” aaa….” Katanya. Terus dan terus ia mengeluarkan suara itu, sampai aku menghentikan tusukan kemaluanku karena aku merasa sudah menyentuh ujung kerongkongannya.

Aku diam menunggu reaksinya. Ia tidak menutup mulutnya, tetapi lidhnya mulai bergerak, menyelusuri batang kemaluanku yang berada dalam mulutnya. Dipermainkannya batangku dengan lidahnya, digulirkan ke kiri kanan dan ditekan-tekannya ke dinding mulutnya di kiri dan kanan. Terasa hangat, basah dan sangat merangsang. Kemudian ia menekan batangku dengan lidahnya hingga menekan langit – langit mulutnya, dan ia mulai menggerakkan kepalanya kemuka dan kebelakang. Aakhh…..kenikmatan yang tiada tara. Aku hanya dapat mendesisi-desis menikmati rangsangan ini, dan ikut menggerakkan pinggulku ke depan dan ke belakang mengikuti irama goyangan kepalanya. Selanjutnya si cewek mulai mengatupkan bibirnya, dan kemaluanku terasa dihisap ke dalam : ” uummm….” Gumamnya manja, ketika ia mulai menyedot dengan kuatnya. Lidahnya terus saja menari-nari, menggesek sekujur batang kemaluanku.

Aku tak tahan lagi. Terasa ada desakan kuat dari dalam batang kemaluanku. Celaka, aku akan keluar ! wah, daripada salah lagi, aku segera mengumumkannya kepada si cewek :” mbak, mbak, aku sudah mau keluar. Aku nggak tahan lagi….” Erangku.kepalaku memutar ke muka dan kebelakang, menahan rangsangan yang sangat hebat itu.

Mendengar kata-kataku, si cewek tia-tiba melepaskan kulumannya :” eeh….nanti dulu” katanya :” gua masih pengen ngerasain kontolmu. Jangan keluar dulu dong”. Ia cepat cepat berdiri dan mengeluarkan komandonya lagi :” sekarang kamu telentang….cepat,cepat!”. Aku berusaha mematuhinya, tetapi karena tanganku diikat di belakang aku hampir kehilangan keseimbangan. Untung, sebelum jatuh si cewek memegang tubuhku dan membantuku tidur telentang. Setelah aku siap, dia memandang kemaluanku yang tetap tegang dan mencuat ke atas hampir tegak lurus :” sekarang gua mau ngewe kamu” katanya :” rasain yah”. Sambil berkata begitu, ia berjongkok di atas tubuhku dan mengarahkan kemaluanku dengan tangannya ke arah lobang kemaluannya. Vagina yang indah itu merekah dan memerah, siap menerima tusukan kemaluanku.

Dia memasukkan batangku ke lobang kemaluannya, dan mulai berusaha menekan ke dalam. Dan pada saat itu aku merasa sangat takjub. Lobang kemaluan kuntilanak ini kecil sekali ! tampak ia sangat susah payah memaksakan kontolku untuk masuk, wajahnya memerah dan mulutnya mendesah-desah tidak karuan. Aduh….kemaluanku rasanya seperti diperas. Belum pernah aku merasakan lobang kemaluan sekencang ini. Dahulu di kampung aku pernah menyetubuhi si marni, teman sekelasku di SMA. Dia masih perawan, tetapi toh lobangnya tidak seperet ini. Sungguh luar biasa. Aku merasa di sepanjang dinding vaginanya terdapat tonjolan-tonjolan melingkar yang menggesek batangku. Sensasinya sungguh luar biasa. Aku harus dengan susah payah menahan muncratnya maniku. Aku berusaha menahannya dengan cara memikirkan hal-hal lain selain seks.

Akhirnya dia berhasil menusukkan seluruh kemaluanku.” Aahh…” desisnya puas. Ia menghentikan tekanannya, dan kini ia duduk berjongkok di atas badanku. Ia menundukkan kepalanya, mencoba melihat batang kemaluanku yang sudah melesak ke dalam lobang kenikmatannya. Jari-jarinya yang lentik mengelus pangkal kemaluanku yang masih ada di luar, dan mengelus – elus bibir kemaluannya yang sekarang terbelah lebar karena desakan senjataku. “ Ck…ck…” gumamnya kagum :” barang segede ini kok ada di dunia ya. Apa nggak sobek memekku ini?” tanyanya dengan manja.

Ia memandang wajahku dan tersenyum manis. Hilanglah sudah wajah kuntilanak pemerkosa, kini kulihat wajah wanita cantik yang sedang dalam kebersamaan denganku menggapai kenikmatan duniawi. Rasanya hampir aku jatuh cinta padanya.” Aku mulai yah” katanya. Ia menelungkupkan tubuhnya di atas badanku, dan kini mulai menaik turunkan pinggulnya dengan berirama. Aku hanya bisa diam dan menikmati. Rasanya aku ingin memeluk tubuhnya, meremas buah dadanya yang kini menggantung di atas dadaku, melumat bibirnya…….tapi apa daya, tanganku masih terikat di punggung. Aku mau minta dibukakan, tetapi rasa takut masih tersisa di benakku. Jangan-jangan dia marah….lebih baik aku diam sajalah dan menikmati apa yang dilakukannya.

Si cewek menggerakkan tubuhnya dengan semakin liar. Kadang-kadang ia menegakkan tubuhnya dan menggenjot kemaluanku dengan gerakan ke atas dan ke bawah. Kadang-kadang kalau sudah lelah, dia menelungkupkan lagi tubuhnya di atas tubuhku. Aku hanya bisa diam. Akupun hanya bisa menurut ketika ia menyodorkan buah dadanya ke mulutku :” nih, bisa nggak kamu isep….enak lho”. Ya, tentu saja enak dan memang itulah keinginanku. Jadi meskipun dengan susah payah, kuangkat kepalaku dan kuhisap putting kemerahan yang tegak di depan mulutku itu.

Dia membantu dengan mengangkat kepalaku dan mengarahkan agar buah dadanya menekan mulutku. Mulutnya mendesah kenikmatan. Pinggulnya terus begoyang, kemaluannya semakin basah sehingga dapat kudengar suara berkecipak ketika ia kemaluanku bergesekan dengan dinding vaginanya. “ aaggh…. auukhh…. enak sekali, mas” (astaga, dia sekarang memanggilku mas). :” terusiin…. dalemiin…. aku mau keluuuaarr…. auuu…” keluar lagilah teriakan tarzannya yang terkenal, berkumandang ke seluruh gubuk kecil ini. Tubuhnya semakin bergoyang tidak karuan, dan akhirnya ia menjatuhkan badannya ke atas badanku :” aku keluar…aku keluar….uuhh…” napasnya tersengal-sengal seperti kuda habis ikut balapan. Kukecup keningnya, hampir hampir dengan perasaan sayang. Kurasakan cairan sangat banyak berleleran keluar dari lobang kenikmatannya, meleleh hingga ke bola kemaluanku.

Setelah mengatur napasnya, ia memandang wajahku. Dielusnya dahiku yang juga berleleran keringat :” kamu belum keluar ya?” katanya penuh sayang (wah,rupanya dia juga lupa lagi memperkosa). “ belum mbak..” kataku. Aneh juga, kemaluanku yang tadinya hampir muncrat sekarang masih tetap tegak perkasa. Si cewek tersenyum :” aku kasih kamu hadiah khusus, karena aku puas banget tadi. Kamu mau keluar dalam memekkku atau di mulut?” waduh, dua tawaran yang sama sama nikmat. Aku menyengir:” dua-duanya saja mbak. Keluar di memek dulu lalu mbak isep. Mau?” dia memijit hidungku dengan manja:” curang kamu. Maunya enak sendiri”. Aku terus menggoda:” mau nggak?” tanyaku sambil ketawa. “ Mauu…” jeritnya. Dan setelah itu, ia mulai menggenjot lagi.

Kemaluanku mulai keluar masuk lagi dalam lobang kemaluannya, bergesekan dengan tnjolan-tonjolan nikmat di sekitar dindingnya. Gerakannya tidak terhambat lagi, karena kemaluannya sudah sangat basah. Digoyangnya pinggulnya dengan berirama, ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah.

Setelah sepuluh menit, aku merasa sesuatu mendesak dalam kemaluanku. Nah, ini dia :” mbak, mbak…” kataku:” aku sudah mau keluar…cepetin…” ia membuka mata mendengar eranganku itu (selama ini dia menutup matanya menikmati permainan kami). “ beneran?” katanya bergairah. Tiba-tiba dia menegakkan badan, dicopotnya kemaluanku dari lobangnya begitu cepat sehingga terdengar suara “plop”. Dia mengangkat badannya dan dengan cepat memegang kemaluanku yang sudah sangat basah kuyup dengan lendir :” mana?” katanya gemas :” kok belum keluar? Ini kan lendir gua, bukan punyamu”.

Sambil berkata begitu, ditundukkannya kepalanya dan dimasukkanlah seluruh kemaluanku ke mulutnya. Betul-betul seluruh, pembaca yang budiman, karena sudah tidak ada lagi sisa batangku yang ada di luar. Bibirnya sudah bergesekan langsung dengan bulu di pangkal kemaluanku. Aku merasa kepala kemaluanku bukan hanya menyentuh ujung kerongkongannya, tetapi sudah betul-betul masuk ke kerongkongan itu sendiri ( kok dia tidak muntah ya? Pikirku).

Dengan kondisi seperti itu, ia mulai lagi dengan tarian lidahnya, menggesek seluruh permukaan batangku. Digigit-gotnya dengan halus, sambil mulutnya mengguman tidak jelas. Aku tak tahan lagi. Kupandang wajah cantik itu dari posisiku yang masih telentang. Matanya yang setengah terpejam, pipinya yang mulus tampak cekung karena sedang sibuk menyedot barangku, dan bibir merahnya yang seksi tampak sedang melingkari pangkal batangku dengan ketat…….aku mengangkat pantat sedikit, dan crooot….crooot…..muncratlah seluruh tangki maniku di dalam mulutnya. Banyak sekali ! ku lihat ia tersedak menahan semburan air hangat itu, tetapi dia tetap berusaha menampungnya.

Dia tetap mengisap kemaluanku hingga semprotan terakhir keluar. Kulihat ia berusaha menelan maniku tanpa melepaskan batangku dari mulutnya. Tampaknya dia berhasil (tidak ada sedikirpun yang meleleh dari mulutnya!). batangku tetap dikulumnya, seakan dia merasa sangat sayang melepaskannya. Akhirnya kemaluanku mulai mengecil, semakin kecil hingga akhirnya lepas sendiri dari mulutnya.

Dia tampak sangat puas. Dipalingkannya wajahnya ke arah wajahku, napasnya tampak tersengal-sengal dan kulihat bibirnya yang indah berlepotan dengan air maniku yang rasanya sudah kusemprotkan berliter-liter banyaknya di dalam mulutnya. Dia tersenyum manis :” hebat….hebat deh kamu….kontol gede, mani banyak dan kental banget……luar biasa “ katanya dengan napas tersengal sengal. Dipandanginya kontolku yang sudah layu dengan pandangan kagum. Dielus-elusnya barang kebanggaanku yang sudah menganggur selama dua tahun itu, dicium-ciumnya dengan gemas. Aku mulai terangsang lagi. Kemaluanku mulai berdiri tegak. Si cewek kuntilanak itu memandang dengan geli, dan menjentikkan jarinya ke batang kemaluanku :” maunyaa….gitu aja sudah ngaceng lagi. Nggak usah ya. Gua udah puas banget.” Sambil berkata begitu ia berdiri dan melangkah menjauh.

Ia berjalan ke arah meja, mengambil rokok Marlboro dari dalam tasnya dan menyalakannya sebatang. Ia berjalan mengitari kami yang masih menggelosot di lantai, tetap telanjang bulat : ” tentu kalian heran ya, kenapa aku melakukan ini “ katanya. Nada suaranya kini berubah serius.

Aku tak tahan lagi menahan keingin tahuanku, dan bertanya :” mbak ini siapa sih namanya?”. Ia tersenyum manis memandangku (aduh, dia benar-benar cantik) :” namaku Brunnhilde. Papaku orang Jerman, mamaku orang sini asli. Aneh ya namaku?” aku cuma mengangguk :” papaku pecinta opera Wagner, jadi ia mengambil nama salah satu tokoh operanya untuk namaku. Brunnhillde, dewi pujaan para ksatria Teutonik”. Wah, udah nggak nyambung aku. Kalau soal dangdut sih aku paham. Kalau opera ?

Si cewek kuntilanak itu menarik napas dalam-dalam, dan duduk di kursi reyot tepat di depanku. Kakinya mengangkang lebar-lebar sehingga aku dapat melihat dengan jelas bibir kemaluannya yang hampir bebas bulu itu, merekah dengan indahnya. Aku hampir tidak dapat menahan nafsuku yang mulai menaik kembali. Ia mengulaikan kepalanya ke belakang, rambutnya yang kecoklatan tergerai dengan indahnya :” aah…” katanya mendesah.

Wajahnya tampak menerawang, seperti mengingat masa lalu yang gelap :” nasibku buruk…buruuk sekali…” desahnya :” aku ingat sepuluh tahun yang lalu, pas waktu malam seperti ini, di sebuah flat di kota Wasenaar….aku diperkosa oleh lima orang cowok bergajulan. Bayangkan, aku baru umur lima belas tahun waktu itu” jadi dia sekarang berusia dua puluh lima tahun, pikirku . Dia melanjutkan :” kaki tanganku diikat, aku dipaksa mengisap lima batang kemaluan yang nggak ketulungan gedenya, disuruh menelan muncratan air mani mereka semua,dikencingin….” Dia menutup mata, menggeleng-menggeleng :” tiga cowok menusuk kontolnya sekaligus, satu di memekku, satu di pantat dan satu di mulut. Memuakkan sekali. Aku benci…benciii….” Tubuhnya yang indah kini bergetar dan bergoyang-goyang. Aku baru sadar sekarang kalau cewek ini sedang mengalami goncangan jiwa yang berat. Aku kasihan kepadanya.

Ia terus melanjutkan ceritanya, matanya tetap menerawang ke atas :” sejak saat itu aku benci laki-laki. Aku selalu menghindar berhubungan dengan laki-laki, dan lebih suka berhubungan dengan sesama cewek. jadi lesbian ternyata lebih enak dan nikmat.” Tanpa sadar ia mengelus-elus kemaluannya, sepertinya ia mengingat pengalaman lesbinya :”tapi aku masih dendam. Aku masih ingin memperkosa laki-laki, seperti aku dahulu telah diperkosa. Aku ingin melihat mereka ketakutan, memohon-mohon kepadaku…dan aku dapat memuaskan nafsuku” ia sekarang memandang kami :” eh….siapa kira saat ini keinginanku itu terkabul? Sudah tujuh tahun aku balik ke Indonesia, ikut perguruan silat milik pamanku. Aku pingin dengan kepandaian silatku aku akan menaklukkan laki-laki. Hi hi hi…sekarang sudah kesampaianlah semuanya.”

Ia tiba tiba berdiri dan mendekatiku. Dielusnya kepalaku dengan perasaan sayang :” tapi, ternyata yang kudapat lebih dari yang kuharapkan. Bukan hanya balas dendam, tetapi kepuasan seks sepenuhnya. Terima kasih ya sayang” katanya padaku. Dan tiba-tiba ia merendahkan tubuhnya dan menekankan kemaluannya ke wajahku. Wah, mulai lagi nih, pikirku. Aku tidak menolak bahkan dengan beringas aku mulai menjilati kemaluannya yang sangat merangsang itu. Seks oral yang kulakukan ternyata membuatnya menggelinjang tidak karuan. Aku sudah tidak memperdulikan lagi teknik-teknik untuk memuaskan pasangan dengan cara itu, aku seruduk saja mulutku dan kumainkan lidahku dengan tidak beraturan di bibir luar kemaluannya,mendesak ke dalam lobang kemaluannya dan mempermainkan kelentitnya yang sudah sangat menegang.

Aku betul-betul seperti kesetanan. Dengan menggeram – geram aku meremas kemaluan cewek itu dengan mulutku, tidak kuperdulikan lagi bau anyir dan pesing yang timbul dari kumpulan berbagai cairan yang melengket di sana- air maniku, cairan vaginanya, ditambah air kencing yang tadi disiramkan ke muka Rudi – semuanya hilang dari benakku. Yang kupikirkan adalah kelezatan dan kenikmatan menggumuli alat kelamin seorang wanita sangat cantik yang sekarang tersedia gratis bagiku.

Demikian terangsangnya aku, sehingga aku tidak lagi menyadari bahwa suara dan erangan si wanita itu sudah berubah. Bukan lagi erangan kenikmatan, tetapi lebih seperti raungan orang gila – ia melenguh dan berteriak, menggoyangkan pinggulnya sehingga memeknya bergesek semakin keras ke bibirku. Tangannya menjambak rambutnya sendiri dan ditarik tariknya seperti orang kesetanan. Akhirnya, ” aakhh……haarrghh……. aku keluaaarr…keluaaarrr….!!” Teriakannya sungguh keras, sehingga aku tersadar dari lamunan nafsuku. Kulihat tubuh yang berdiri di atasku itu menegang kencang, dan crooot………muncratlah air kenikmatannya di wajahku, begitu banyak sehingga aku meneketehe apakah ini air mani atau air kencing. Aku tergagap-gagap dan mencoba menelannya sebanyak mungkin, tetapi tidak bisa….aku akhirnya hanya bisa pasrah saja menerima semburannya, sama seperti si Rudi tadi.

Si Brunnhilde ( bener nggak aku nulisnya ) tampak sangat puas. Ia terkikik-kikik tidak terkendali, dan ketika aku menengadahkan wajahku, dengan terkejut kulihat sederet senyuman setan di wajahnya yang cantik. Dia bukan lagi si cewek ganas yang kulihat sebelumnya, tetapi di matanya terlihat sinar dendam yang menyeramkan. Napasnya memburu dan kulihat air liur menetes dari pinggir bibirnya. Dia benar-benar gila ! aku sampai terpana memandangnya, hingga beberapa saat sebelum kesadaranku kembali. Dengan cepat, aku berusaha menarik kepalaku dari jepitan selangkangannya, tapi…..terlambat !!

Kakinya yang jenjang tiba-tiba mengatup di sekeliling kepalaku. Aku tersedak kaget, karena praktis seluruh wajahku terbenam di kemaluannya. Hampir-hampir aku tidak bisa bernapas. Kugoyang kepalaku, dengan kuat berusaha melepaskan diri, namun gagal ! jepitan kakinya luar biasa kuatnya ( baru kuingat dia pelatih silat ) sehingga semua usahaku untuk melepaskan diri jadi sia-sia saja.

Kudengar suara ketawanya mengikik :”rasain….rasaiiin…” jeritnya :” elo kira gua mau lepasin elo begitu saja ? dasar laki-laki, pemerkosa wanita !! sekarang, mampus elo !! mampuuss…” suaranya benar-benar suara orang gila. Dengan ngeri kulihat, dia sama sekali tidak main-main. Dia ingin membunuhku, dengan membekap mulut dan hidungku di kemaluannya…..perlahan-lahan kegelapan melingkupi penglihatanku. Pemandangan terakhir yang kulihat adalah gundukan bulu kemaluannya, tepat di depan mataku, yang dahulunya tampak begitu merangsang……

Aku mulai pingsan.

Tetapi, tiba-tiba kudengar suara mengaduh keras dari si kuntilanak itu : ” aduuh…bangsat….sakiit….” dan bersamaan dengan teriakan itu, jepitan kakinya melonggar. Dengan sisa sisa kesadaranku, aku segera menggelosor dan mengguling ke bawah, menjauhinya dan mengambil napas dengan tersengal-sengal. Setelah cukup tenang, aku memandang ke arahnya lagi. Kulihat sosok laki-laki berdiri menghalangi pandanganku. Ternyata Rudi !

Rupanya dia mempergunakan kesempatan waktu si cewek setan itu menikmati jilatanku tadi, untuk melepaskan ikatan tangannya. Kini dia sudah bebas, dan sepotong kaju berada di tangannya. Rupanya dia tadi memukul tubuh si cewek dengan sekeras-kerasnya, sehingga ia terjengkang ke belakang. Kini kuntilanak itu rebah telentang, matanya memancarkan ketidak percayaan :” kamu…kamu berani melawanku ? dasar kurangajar, bangsaaat……rasakan pembalasanku !” dengan ganas ia berusaha berdiri, tetapi sekali lagi..Buukk….Rudi menghantam badannya dengan kayu itu, tepat mengenai lengannya. Sekali lagi ia menjerit dan tersungkur.

Rudi memandangku, yang masing terpana :” bangun,Sin ! ayo kita balas kelakuan orang gila ini. Ayo!” ia melihatku, dan menyadari bahwa tanganku masih terikat di punggung. dengan cepat ia membukanya, sehingga akupun bebas. Dengan sempoyongan aku kini berdiri, masih telanjang bulat. “ Rud…Rud….” Desisku :” udahlah, kita lari saja. Ini terlalu berbahaya, gawat buat kita nanti….” Tetapi si Rudi tampaknya sudah betul-betul kesetanan. Dia tidak mau mendengarku lagi, bahkan kini mulai melucuti pakaiannya :” elo enak saja, sudah menikmati tubuhnya, memeknya….gua belon ! malah tadi gua dikencingi! Gua kagak terima ! “ kini dengan tubuh telanjang bulat ia mendekati si cewek, yang masih meringkuk di sudut. Dijambaknya rambut si cewek, dipaksanya berdiri. Kuntilanak itu tampaknya masih kesakitan dan schock, sama sekali tidak melawan. Rudi siap mensetubuhinya, ketika tiba-tiba…..

BRAAAKK !! pintu reyot gubuk itu terbanting jatuh. Dan dengan pandangan terpana kulihat puluhan orang berdiri di luar. Sebagian membawa senter, dan dengan wajah ingin tahu menongolkan kepalanya ke dalam.

“Ooo…ini to sumber teriakan – teriakan tadi” desis salah seorang yang berpakaian Hansip. Dia mengedarkan matanya ke lingkungan gubuk, dan pandangannya terpana pada tubuh si cewek yang meringkuk di sudut, telanjang bulat :” masya allah…..apa yang terjadi ?” teriaknya. Mendengar itu, kerumunan orang itu tak terbending lagi. Mereka berebutan masuk ke dalam, dan dengan pandangan sangat kaget melihat kami bertiga : aku dan Rudi berdiri telanjang bulat, tangan Rudi membawa sepotong kayu. Dan di sudut, si cewek duduk meringkuk, tubuhnya yang telanjang nampak kacau dengan memar di lengannya tampak jelas….

Si kuntilanak memandang ke sekeliling, dan wajah setannya tadi tiba-tiba berubah lagi dengan drastis. Kini yang terlihat adalah wajah seorang wanita sangat cantik yang tersiksa, napas tersengal sengal dan air mata bercucuran, ”Ampun, tolong pak…. saya diperkosa paak….” Erangnya. Orang-orang berseru kaget, dan salah seorang tua yang tampaknya ulama, buru-buru mendatanginya dan menutupi tubuh si cewek dengan sarung yang tadi tersampir di pundaknya :” masya allah…astagfirrullah…..tenang neng, tenang. Sekarang ada bapak ya, neng aman…” di peluknya si cewek yang sekarang menangis tersedu sedan. Dasar kuntilanak, pikirku, hebat benar dia bersandiwara.

Seorang laki-laki yang berkumis dan brewokan mendekatiku :” apa yang kalian lakukan, hah ? memperkosa cewek ? berani bener lo, mencemari kampung kami…” dan tanpa basa basi ia menampar wajahku. Aku mengaduh, dan berteriak :” bohong pak, bohong…bukan kita yang memperkosa, dia yang memperkosa kita pak ! hampir kita dibunuhnya !” ku lihat Rudi, yang juga gemetaran tubuhnya, mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan. Wajahkau tampak sepucat kertas.

Tetapi, mana ada yang percaya pada perkatan kami ? “ kalian tukang ngarang, mana bisa cewek memperkosa cowok ? buktinya aja sudah jelas, nggak perlu banyak bacot lagi !! “ dan bersamaan dengan itu, serangkaian pukulan bertubi-tubi mengenai tubuh kami. Ku dengar suara-suara mencaci :” pemerkosa bangasat!” “ bunuh!” “ bakar aja!” dan si hansip tadi mendekatiku yang sudah tersungkur di lantai. Kakinya yang bersepatu lars menendang kepalaku seperti bola, begitu kerasnya sehingga ku dengar suara gemeretak.

Pandanganku kembali gelap. Tetapi sebelum kesadaranku hilang, aku sempat melihat sepintas si cewek, yang kini dipeluk oleh beberapa bapak tua yang mencoba menenangkannya. Ia juga melihatku. Dan di matanya terpancar kepuasan setan, mulutnya selintas menyungging senyum kemenangan…..

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:52 pm

Perkenalkan, namaku Adi. Aku seorang mahasiswa disebuah perguruan negeri di kota Purwokerto. Aku punya pacar namanya Westi setiap hari selasa dan sabtu , kami selalu bertemu. Karena kami ikut kursus bahasa inggris di sebuah tempat kursus bahasa asing yang cukup terkemuka. Di tempat kursus itu pula kami pertama kali bertemu.

Sekedar informasi, Westi adalah seorang pelajar di sebuah SMK terkenal di kota ini. Westi mempunyai wajah yang cantik dan imut, membuat setiap orang tak bosan-bosan memandangnya. Dengan tinggi 167 cm dan berat 50 kg, dan kulit yang putih bersih ia tampak sangat menggairahkan ketika mengenakan seragam sekolahnya. Westi berangkat sekolah dengan membawa sepeda motor sendiri, jadi aku tak perlu tiap hari mengantar dan mejemputnya.

Meskipun lugu Westi sangat menggairahkan. Yang paling menonjol dari Westi ialah pantatnya yang besar dan padat. Sekal sekali. Agak kontras dengan bentuk tubuhnya yang langsing. Roknya yang memanjang sampai kemata kaki, tak bisa menyembunyikan lekuk buah pantatnya yang bergoyang naik-turun dan kekanan-kiri ketika berjalan. Didukung payudaranya yang cukup besar untuk ukuran seusianya. Ukuran branya mungkin sekitar 34b.

Setelah pulang kursus pada hari sabtu, kami sepakat untuk jalan-jalan dulu ke alun-alun kota. Pukul 22.05 WIB, aku mengantarnya pulang. Tapi tiba-tiba Tigerku ngadat, terpaksa kami berhenti dulu cari bengkel untuk perbaiki motorku dulu. Setelah jadi kami melanjutkan perjalanan tapi saat itu sudah jam 22.55 malam.

“aku kemalaman nih … “.kata westi.
“aku pasti dimarahin aku nggak berani pulang…..”
“kalo nggak pulang kita kemana …nggak mungkin balik ke kost ku” ….balasku
“kita ke rumah tante ku aja, kebetulan aku bawa kunci rumahnya. Tante ku sedang keluar kota untuk urusan bisnis , jadi rumahnya kosong”. kata westi
“ehmm oke dech …..” kataku.

Kami akhirnya telah berada dalam rumah tante nya Westi. Rumahnya cukup besar, tetapi agak terasing dari tetangga. Setelah makan malam aku dan westi nonton tv sambil tiduran di ruang keluarga.Tak sengaja aku melihat permukaan buah dada Westi yg besar dan ranum, menonjol seolah ingin keluar dari kaos street nya yang ketat penis ku pun mula bereaksi. Aku sudah coba menahan tapi birahi ku sudah telanjur tinggi aku tindih dia dari belakang sambil ku tarik kedua lengannya ke belakang.

“jangan………apa yang kamu lakukan Di….”
“tenang aja west nggak akan sampe masuk kok….” balas ku.

Westi meronta,tapi apa daya seorang perempuan akhirnya setelah meronta selama sekitar 15 menit dia akhirnya lemas juga. Aku gosokkan penis ku ke pantatnya yg besar, yang saat itu dibungkus jeans yang cukup ketat. Sambil ku remas-remas bongkahan pantatnya yang padat berisi wah nikmat .…….

“pantat loe kualitas nomer satu West…..ouuhh….semok banget!!”.
“ooohh.., ohhhh… janggaaaaannn…. jangan Di……aku pacar kamu sendiri….”rintih westi

Namun aku nggak peduli aku balik tubuh nya aku lepas pakaian atasnya, sehingga rambut nya yang keriting sepundaknya tergerai bebas. Kuremas-remas dengan kasar susu nya yang masih terbungkus kaos yang dikenakannya.

Kutarik bra nya. Payudaranya bergoncang naik turun karena kutarik bra nya dengan paksa.Kulihat payudara westi yg besar tapi kencang dan kenyal. Kulit payudaranya putih bersih, ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar wilayah dadanya. Urat-urat berwarna kehijauan melintang di buah dadanya. Aku jilat aku sedot sedot, sambil sesekali aku gigit-gigit gumpalan daging di dadanya itu.

Wah asyik dan nikmat, sementara tanganku yg satunya memilin-milin puting susu Westi yang coklat kemerahan dan mulai mengeras. Mungkin Westi mulai terangsang. Kutekan kedua susu nya sampai tergencet, sehingga melebar ke samping. Ku tampar-tampar kedua gunung kembarnya sampai memerah. Westi pasti merasakan panas pada kedua payudaranya saat ini.

“Aauhhh… auhh… ihhhh… ooohhhh……. ahhhhh” rintih westi menahan geli dan nyeri pada kedua payudaranya. Kujepit puting susu sebelah kanan nya dengan kedua jariku. Kemudian
kuplintir-plintir sambil kutarik-tarik keatas. Sambil kuhisap sekuat-sekuat nya, hingga putting susu Westi mengeluarkan sedikit cairan putih yang lengket.

“ouuhh……. sakiiitt…… ampuunn……. Di…………iii……peerriiihh….” erang Westi.
Kemudian kulepas celana jeans nya, dan ku tarik CD nya ke bawah.
“ohhhh…. jangan Di…….pleaseeee…….ouuuhhhh…….”.tubuh westi menggelinjang terangsang.

Aku lepas CD ku dan kumasukakan penis ku ke mulutnya dengan paksa. Kujepit klitorisnya dengan kedua jariku, kutarik dan kuperkeras jepitanku.

“aahhh..eeghhhh……….eeghhhhh….sakkkiittt…….Dii….sak kkitttt……”. Westi terus menggeliat mencoba melepaskan jariku.”
“jilat kemudian sedot penis gue,klo nggak gue tarik sampai lepas klitoris loe!!!!”.

Westi ketakukan, dengan terpaksa ia mulai menjilati penisku, kemudian mulai mengulumnya.
“Waaaoooo ….. Westii mengulum penis ku. Wah… nikmat sekali …..”

Aku jejal kan penis ini kemulutnya sampai masuk ke tenggorokannya, hingga ia kehabisan nafas aku tarik penis ku dari mulutnya .Aku lepas cd nya kemudian ku elus-elus pahanya yang putih bersih dengan bulu-bulu halus. Aku angkat paha Westi dan melebarkannya.

Kepala ku menunduk memperhatikan vagina Westi yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Kepala ku bergerak dan mulut ku mulai menjilati vagina Westi yang gemuk dan lipatan daging yang kemerahan itu. Westi terengah-engah merasakan kemaluannya ada yang menjilati. Hanya suara erangan gadis itu saja yang terdengar.

Sementara mulut ku menjilati vagina Westi, tangan ku bergerak ke atas dan memijat-mijat payudara Westi serta mempermainkan putting susu gadis itu.. Westi menggeliat antara sakit, geli dan takut. Kubuka bibir vagina Westi, kemudian kumasukan jari telunjukku ke dalam liang kemaluannya.ku masuk keluarkan dengan cepat. Kukorek-korek lobang vaginanya sampai lubangnya mulai terbuka agak lebar Vagina Westi mulai basah akibat rangsanganku. Tiba-tiba Westi mengangkat pinggulnya dan melemah. Rupanya Gadis itu telah orgasme. Dari vagina Westi keluar cairan kental bening yang lengket .

Ketika melihat bibir vagina gadis itu telah basah, cepat-cepat Aku arahkan kontol ku yang sudah menegang dan mendekatkannya ke liang vagina Westi. Langsung saja kutempelkan kepala penisku di depan lobang vaginanya, kemudian dengan sekuat tenaga ku dorong penisku. Aku masuk kan penis ini ke vaginanya, masih sulit maklum,dia masih perawan jadinya lobang vaginanya masih sangat kecil . Sambil memegangi pinggul gadis itu, Aku menggerakkan pinggul ku, dan ” hup.…………ooohhh”.

Walaupun dengan susah payah akhirnya kontol ku masuk amblas ke dalam lubang kemaluan westi. Westi menjerit kesakitan. Kurasakan kontol ku hangat dan serasa ada yang memijat-mijat. Aku mulai mengerakkan kontol ku maju mundur. Tangan ku memegang pundak gadis itu sedangkan mulut ku menciumi putting susu Westi yang masih mengeluarkan cairan keputihan seperti susu itu.

Westi mendesah-desah, membuat ku semakin bergairah . Aku goyangkan penis ku naik turun. Kutekuk kedua kakinya keatas, sehingga kedua paha westi yang putih mulus itu menyentuh payudaranya. Kupompa vaginanya naik-turun, sampai keluar darah perawannya yang mengalir membasahi bibir vagina dan turun ke anus westi ke belahan pantatnya.

“ohh ohhhh …. ohh… aakhh….. aahhh” Westi mengerang kesakitan

“Sakittt Di…… aaaakhh…. aku mohon…. hentikan….. Di….” Westi terus memohon, tapi aku tak peduli. aku terus bor lobang kemaluannya sambil kukulum dan kuhisap mulutnya yang mungil. air liur mengalir membasahi bibir, hidung, pipi, dan sekitar lehernya. kujilat dan kuhisap air liur westi dan kuteguk dengan nikmat.

Dan kuganti permainan ku. Kubalikkan tubuh Westi. Dan memposisikan tubuh telanjang Westi itu seperti Anjing. Dari arah belakang kembali Kuhujamkan kontolku ke liang memek Westi. “hebat West….oooh….. memek loe rapet banget….”.Gerakan ku semakin cepat. Kedua tangan ku semakin kasar meremas-remas susu gadis itu.

Westi semakin mengerang-ngerang kesakitan. Tapi Aku tak peduli. Terus saja Aku maju mundurkan pinggulnya dengan cepat.Sambil menepuk-nepuk bongkahan pantatnya yang padat dan kenyal dengan keras. Sehingga bekas tepukan ku mengecap merah membentuk telapak tangan di kulit pantat Westi yang putih mulus itu

“aahhakhh……aahhkkk…. peee.. eerrii.. ii.. hhhh……. Diii…. iii…. aku ngga… taa.. haannn..”
“Wee…ess…tti….iii….loee…emang pantas….. jadi aan.. jii.. i. ng… oohh…. gila… enaknya.”
“aaakkkhhh…. hhh……akhh…….. ohh…. ohh…… ouhhh” Westi terus merintih kesakitan.

Aku semakin bersemangat. Sampai akhirnya tubuh ku mengejang dan akhirnya pejuku menyembur ke dalam rahim Westi, memenuhi lobang vaginanya.

“Ohhh….nikmattt………… ….…gue masukin peju gue ke lobang loe…Westt……” .

Setelah diam beberapa saat membiarkan kontol ku tertanam di lubang vagina Westi. Sambil menikmati jepitan vagina Westi yang otot vagina nya berdenyut-denyut. Aku lepaskan kontol ku dan membalikkan tubuh Westi serta mengangkat kepala gadis itu serta memaksa Westi menjilati penis ku yang masih basah oleh sperma dan darah.

Setelah penisku bersih aku tergeletak disamping Westi sambil membelai rambutnya. Wajahnya terlihat pucat merasakan sakit pada selangkangan nya.

Aku bergegas ke kamar mandi.Aku mandi dan setelah itu aku kembali keranjang aku pandangi tubuh westi yang dalam posisi menyamping tergolek lemah tak berdaya sambil kedua tangan memegangi selangkangannya.

Tiba tiba penis ku bereaksi lagi setelah melihat pantat putihnya yang mulus dan padat berisi itu, aku langsung menindihi nya dan menciumi bibir nya dengan ganas beda dengan tadi sekarang Westi tampak pasrah menerima perlakuanku. Aku remas-remas dan kutarik-tarik susunya aku keluarkan penis ku lalu aku jejelin ke mulutnya. Westi kupaksa mengulum penis ku oohhh… ohhh… aku merintih keenakan merasakan surga dunia.

Kemudian kuletakkan penisku tepat diantara kedua payudara Westi, kutekan kuat-kuat kedua susu Westi hingga menjepit erat penis ku. Langsung kugerakkan penisku maju mundur

“uuu…. uuhhhhh…………toket loe empuk West………kenyal banget”
“eeeghhh…….. ehh……. ehh……. ouuu.. hh…..”. Westi meringis kesakitan sambil kedua tangan nya berusaha melepas cengkraman tanganku pada kedua susu nya.

Kupercepat irama gerakan penisku. Urat-urat payudara Westi terlihat sangat jelas, seperti mau keluar dari kulit payudara nya yang montok itu..

Setelah itu aku balik tubuhnya sekarang Westi dalam keadaan tengkurap, aku ciumi bongkahan pantatnya sambil ku jilat-jilat. Aku masukkan penis ku kelubang anusnya.

“errgghhh…… oouhh… jangan… Di… aku mohon jangan disitu!!! sakiitttt……. Dii…” westi terus memohon.

Perlahan kutekan kepala Westi hingga turun menyentuh lantai. Sepasang tangan ku menarik pantatnya ke atas hingga Westi menungging. Westi sangat ketakutan. Aku terus mengerjai pantat Westi. Sulit sekali.aku buka belahan pantatnya, kemudian kujilati dubur Westi sambil kumasukan jari tengah ku ke dalam lubang anusnya.. Ujung jari ku mulai mendorong masuk ke anusnya, sakit yang amat sangat menyengat Westi.

Perlahan, aku mulai memutar-mutar jariku membuat liang anus Westi membuka menyakitkan. Aku terus mendorong dan memutar hingga akhirnya seluruh jari tengah ku masuk ke dalam anus Westi dan mulai bergerak keluar masuk. Tangan Westi meremas tempat tidur di bawahnya dengan gigi yang gemeretak, berusaha menahan sakit yang amat sangat. Aku masuk-keluarkan jariku dengan cepat, Westi menggelinjang kesakitan.

“ooooohhhhhhhhh…… akhhhhhh…”westi menjerit “sakittttttttttt……. ampun Dii…… akhhhh… ouuhh……. “.
“Yes, ini bener-bener hari keberuntungan gue, gue udah lama pengen ngerasain pantat lo West,”

Westi gemetar ketakutan aku berlutut di belakangnya, tubuhnya tersentak ketika tangan ku membuka belahan pantatnya dan mulai merabainya lagi.

“aku mohon, aku mohon……jangan lakukan, aku nggak tahan sakitnya Diii……kamu sudah masukin punya mu di mulut ku dan vagina ku, apakah itu ngga cukup buat kamu dii…aahhh…. argghhh…” Westi terus memohon.

Setelah lubang duburnya agak terbuka, aku masukan lagi jari telunjukku. Dengan kecepatan tinggi ku masuk-keluarkan kedua jariku didalam lubang dubur Westi. Westi terus meronta, sambil megap-megap menahan nafas karena kesakitan. Setelah kurasa lubang duburnya terbuka cukup lebar, kucabut kedua jariku yang berlumur darah anusnya.
kemudian kumasukkan kedua jariku itu kedalam mulut Westi, kuoleskan ke lidahnya sampai kedua jariku bersih.

Kuarahkan penisku yang menegang keras ke lobang dubur Westi yang memerah dan berkerut. kutarik rambutnya dengan kencang.
“Aaakkkhhhh.. hh…… akhhhhh… ooooohhhhh….. sakiiiiiitttttttt…… Diiii”

Rasa sakit langsung menyengat pantat Westi, ia berusaha merangkak ke depan, tapi tanganku yang di rambutnya membuatnya harus diam tak bergerak, punggung Westi melengkung menahan sakit. Pantatnya terangkat ke atas. Tangan ku di perut Westi memeganginya dan menariknya agar punggung Westi lurus kembali. Westi terengah-engah, Meluruskan punggungnya, dipegangi oleh tangan ku, tak berdaya menunggu rasa sakit selanjutnya.

Westi menjerit dengan keras sekali ketika aku berhasil memasukkan sebagian penisku ke dalam duburnya.Westi merasakan lubang anusnya membesar diterobos oleh penis ku, sedangkan aku merasakan rasa panas di kepala hingga batang penisku ketika hampir seluruhnya telah masuk ke dalam anus Westi.

“Jangan, jangan….. Diiii…. aku mohon, sakit sekali, sakit, berhenti…. Sakiiitt…Diii……aku ngga ku…. aatttt….. aaaarrgghh….” Westi menjerit-jerit.
“Oke, sayang, gue udah masuk semua dan gue akan segera mulai pake pantat lo”.

Aku tak peduli aku paksa dan akhirnya masuk seluruhnya, kudiamkan sejenak sambil kupandangi batang penisku yang tertanam di belahan pantat Westi.Aku goyangkan pantat westi ke kanan kiri naik turun wah rasanya nikmat. Kemudian ku maju mundurkan pinggulnya, sambil kukeluar-masukkan batang penisku dalam lobang duburnya yang sangat sempit dan kering.

“ooohhh………..oohhh…gilaa…..dubur loe West……lebih sempit dari dubur ayam”.

Lubang anusnya tampak masih seret tapi itu menambah nikmat aku naik turun kan pinggangku sambil ku cengkeram pinggulnya. Westi menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan sakit semampunya, tangan di rambutnya menarik kepalanya hingga menempel di atas kasur. Westi yang cantik sekarang menungging, kepala menempel di atas kasur, pantatnya di atas dengan sebuah penis masuk di dalam anusnya. Westi merasa dirinya seperti penuh, seakan-akan dirinya ingin buang air.

“wooo aoooo …. ooohhh….. oooooohhhh.” kepala Westi menengadah keatas, bibirnya membentuk huruf O. membisu, karena suaranya tertahan di tenggorokannya.Kuangkat lagi pinggulnya mulai turun, sehingga sekarang Westi dalam keadaan menungging dengan kokoh. Kusodok-sodok pantatnya sambil kuremas-remas susu Westi. Darah menyelimuti penisku ketika kutarik keluar. Di iringi erangan suara Westi.Cairan anus Westi mengalir keluar bercampur darah turun ke vaginanya, kemudian mengalir terus ke paha westi yang putih mulus.

Anus Westi sangat sempit dan panas. Aku sangat menikmati jepitan anus Westi di penisku, menikmati pijatan di penisku. Penis ku sebenarnya juga merasa sakit karena saking sempitnya anus Westi, tapi tanpa peduli aku kembali mulai bergerak keluar masuk. Kulihat liang anus Westi yang kupaksa penisku masuk hingga pangkalnya, dan ketika kutarik penis ku, Aku menikmati sekali otot-otot anus itu berdenyut memijati batang penis ku, Sampai tinggal kepala penis ku yang masih tertinggal di anus Westi, Kemudian kudorong lagi penis ku masuk. Sakit semakin menjadi-jadi menyerang pantat hingga seluruh tubuh Westi.

Setelah kurang lebih 15 menit aku menyodomi Westi, aku merasakan peju ku mau keluar. Kutarik rambut Westi kebelakang sehingga wajahnya menatap dengan mulut menganga ke atas. Sementara tangan kiriku menekan pantatnya, kudorong penisku sampai sedalam-dalamnya ke dalam lubang dubur Westi. Akhirnya peju ku menyembur di dalam anus Westi. Ketika cairan panas terasa mengalir masuk di anus Westi. Ia menjerit dan menjerit tanpa daya ketika sperma ku membuat anusnya semakin perih.

“Aaaaaahhhhhh…………. oouhhh…. sssshhhh…gilaaa… aaa…Wessss….. dubur loe gue masukin peju gue……”.

Di pantat Westi penis ku mulai kutarik keluar perlahan. Ketika sampai dikepala penis, aku berhenti sejenak, Dan kemudian perlahan kembali kutarik hingga terlepas seluruhnya dari jepitan anus Westi. “Uugghhhh,” Westi mengerang ketika penis ku terlepas dari jepitan anusnya. Cairan mengalir keluar dari anusnya.

Westi melihat ke belakang dan melihat di antara kedua kakinya menetes sperma kental berwarna putih dengan bercak-bercak merah dan kuning mengumpul di kasur. Tubuh Westi bergetar dan tersungkur lemas.

Kucabut penisku, sambil rebahan disamping tubuh Westi yang basah oleh keringatnya. Ia pingsan karena kecapaian dan merasakan sakit yang luar biasa pada kedua lobang di selangkangannya.

kejadian malam itu sempat aku abadikan dalam sebuah photo. Aku gunakan agar Westi tidak menceritakan penderitaannya kepada orang lain. Terutama ortunya. Aku rutin menyetubuhi dia, terutama menyodominya. Minimal seminggu dua sekali. Entah sudah seberapa lebar lobang anusnya sekarang.

Sampai akhirnya aku harus pindah ke luar kota karena mengurus bisnis yang ditinggalkan Ayahku. Tetapi aku masih menyimpan photo-photonya. Jika aku sempat aku kembali ke Purwokerto. Untuk membantu Westi melebarkan lobang vagina dan anusnya. Sekarang dia kelas 3, dan masih melanjutkan sekolahnya.

Aku tidak keberatan berbagi kemontokan pantat Westi kepada para pembaca 17tahun yang budiman. Biar para pembaca sendiri yang membuktikan kesempurnaan tubuh Westi dan jepitan anus nya yang fantastis. Jika ada yang tertarik, silahkan hubungi e-mail saya untuk informasi lebih lengkap. Saya butuh dua penis lagi untuk mengisi kekosongan tiga lobang utama si Westi secara bersama-sama. Ada yang berbaik hati mau membantu saya………..???

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:50 pm

Aku lulus SMA tahun 1996, setelah lulus aku langsung meneruskan studiku di New York. Di sana aku tinggal di sebuah apartemen milik saudara jauhku, di sana aku tinggal bersama seorang temanku yang dari Jakarta juga, jadi biaya tinggal bisa dibagi dua supaya irit. Sebenarnya aku datang ke sini bersama dengan pacarku, Widya, tapi dia tinggal di apartemen lain bersama temannya yang wanita juga, karena orang tua tidak setuju kami yang masih pacaran tinggal dalam satu rumah. Tapi kadang jika ada kesempatan kami sering diam-diam melakukan hubungan kelamin, terutama bila roomate masing-masing tidak ada. Aku jadian dengannya sudah sejak kelas 3 SMA, dan mulai berhubungan badan sejak di sini. Dia seorang yang berparas cantik bagaikan artis-artis Asia Timur, berkulit putih bersih, tingginya sekitar 165 cm, badan langsing dan padat, rambutnya lurus panjang sedada dicat kemerahan.

Kami melewati hari-hari kuliah dan kehidupan muda-mudi di sana dengan gembira sampai akhir tahun 1998 yang lalu. Saat itu di sana sudah mulai suasana Natal, teman-temanku banyak yang sudah pulang termasuk roomate-ku, aku dan Widya pun sudah bersiap-siap akan pulang liburan juga. Tapi karena kehabisan tiket pesawat ke Indonesia kami berdua terpaksa menunggu seminggu kemudian. Roomate-ku pulang paling awal karena kebetulan ibunya sakit. Setelah dia pergi sambil menunggu tanggal kepulangan kami, Widya sering ke apartemenku bahkan menginap di sini, saat itu temannya juga sudah pulang.

Beberapa hari sebelum pulang. Aku dan Widya pulang dari taman hiburan pada larut malam, kami sampai di apartemenku kira-kira jam 10 malam. Saat itu daerah di sekitar sana sudah sepi, aku masuk dan membuka pintu. Kami begitu terkejut ketika kulihat ruang tamu sudah berantakan seperti habis ada pencuri, dan kudengar suara gaduh di kamarku. Segera aku ke sana dengan membawa pisau dapur untuk memeriksanya. Pintu kamar kudobrak tapi belum sempat aku mengetahui apa-apa kepalaku sudah dipukul dari belakang sampai pingsan.

Aku tidak tahu apa-apa selanjutnya sampai aku merasa tubuhku digoncang-goncang seseorang, aku tersadar dan menemukan diriku sudah dalam keadaan terikat di sebuah kursi dan mulutku disumpal kain sehingga tidak bisa bersuara. Aku melihat seorang pria negro di depanku yang menyuruhku bangun, orangnya berbadan tinggi besar dan kepalanya plontos. Dan satu orang lagi juga negro berbadan agak gemuk. Yang membuatku panas adalah si negro gendut itu sedang duduk di pinggir ranjangku sambil memangku Widya yang saat itu tinggal memakai BH dan celana dalamnya saja.

Widya menangis minta dilepaskan. Tapi si gendut itu tidak menghiraukannya, dia meremas-remas payudara Widya yang masih terbungkus BH itu, menjilati lehernya, lalu berkata, “Diam, jangan macam-macam atau kupatahkan lehermu, nurut saja kalau mau selamat!”. Dan si botak berkata kepadaku, “Hei, sudah bangun ya, pacarmu boleh juga, kami pinjam dia sebentar ya, baru pergi”, dia berkata begitu sambil menepuk-nepuk pipiku, aku mau berontak tapi tak bisa apa-apa. Lalu dia mendekati Widya dan berkata, “Ok, sayang, ini waktunya pesta, ayo kita bersenang-senang!” Dia menyuruh Widya berlutut di depannya dan menyuruhnya membukakan celananya lalu mengulum batang kemaluannya.

Sambil menangis Widya memohon belas kasih, “Jangan… tolong jangan perkosa saya, ambil saja semua barang di sini!” belum selesai berkata tiba-tiba, “Pllaakkk…” si botak menampar pipinya dan menjambak rambutnya, dengan paksa Widya dibuat berlutut di depannya, “Masukkan ke dalam mulut kamu, hisap atau saya bunuh kamu!” Terpaksa dengan putus asa Widya membuka celananya dan begitu dia menurunkan celana dalamnya tampaklah benda hitam panjang berwarna hitam, tanpa buang waktu si botak segera memasukkan benda itu ke mulut Widya, batang kemaluannya tidak dapat sepenuhnya masuk karena terlalu besar, dengan kasar dia memaju-mundurkan kepala Widya.

Temannya yang gendut juga tidak tinggal diam, setelah dia melepas semua pakaiannya dia berdiri di samping Widya, menyuruh Widya mengocokkan batang kemaluannya dengan tangan, batang kemaluan si gendut tidak sebesar temannya, tapi diameternya cukup lebar sesuai dengan tubuhnya. Sekarang Widya dalam posisi berlutut dengan mulut dijejali kemaluan si botak dan tangan kanannya mengocok batang kemaluan si gendut.

“Emmhh.. benar-benar enak emutan gadis Asia, lain dari yang lain”, kata si botak.
“Iya, kocokannya juga enak banget, tangannya halus nih”, timpal yang gendut. Si botak akhirnya ejakulasi di mulut Widya, cairan putih kental memenuhi mulut Widya menetes di pinggir bibirnya seperti vampire baru menghisap darah, dan Widya terpaksa meminum semuanya karena takut ancaman mereka. Setelah itu mereka melepas BH dan CD Widya sehingga dia benar-benar telanjang bulat sekarang, tampaklah payudara 34B-nya dan bulu-bulu kemaluannya yang lebat.

Kali ini si gendut duduk di pinggir ranjang dan menyuruh Widya berjongkok di depannya sambil memijati batang kemaluan dengan payudaranya. Widya terpaksa menggesek-gesekkan payudaranya di kemaluan itu sambil menjilati ujung batang kemaluannya sehingga si gendut mendengus keenakan. Sementara itu si botak berbaring di bawah kemaluan Widya dan menjilati liang kemaluannya sambil sesekali menusuk-nusukkan jarinya ke liang kemaluan itu.

sekitar 10 menit dikocok, si gendut memuncratkan maninya dan membasahi wajah serta payudara Widya. Kali ini dia sudah tak tahan dengan rasa cairan itu, sehingga dia memuntahkannya. Melihat itu si gendut jadi gusar, dia lalu menjambak rambut Widya dan menampar pipinya sampai dia jatuh ke ranjang, “Pelacur, kurang ajar, berani-beraninya membuang air maniku… kalo sekali lagi begitu kurontokkan gigimu, dengar itu!” bentaknya. Kemarahanku bangkit karena pacarku diperlakukan begitu, aku meronta-ronta di kursiku tapi ikatannya terlalu kencang sehingga hanya dapat membuat kursi itu bergoyang-goyang. Melihat reaksiku si gendut berkata, “Kenapa? Kamu tidak terima ya pacarmu kami pinjam, tapi sayang sekarang kamu nggak bisa ngapa-ngapain, jadi jangan macem-macem ya, ha.. ha.. ha..!”

Mereka kembali menggerayangi tubuh Widya, kali ini si gendut membuka lebar pahanya dan memasukkan batang kejantanannya ke liang kemaluan Widya. Batang kemaluan yang ukurannya besar itu dimasukkannya dengan paksa ke liang kemaluan Widya yang masih sempit, sehingga dari wajah Widya terlihat dia menahan sakit yang amat sangat. Sementara itu si botak dengan ganasnya beradu lidah dengan Widya sambil tangannya turut bekerja memilin-milin putingnya. Si gendut memaju-mundurkan pantatnya dengan cepat. Selama beberapa menit digenjot akhirnya badan Widya menegang sampai secara refleks dia memeluk si botak yang sedang menjilati payudaranya, dia mengalami orgasme sampai akhirnya melemas kembali.

“He… he… he… Baru kali ini kan loe ngerasain pria Negro, gimana rasanya enak tidak, jawaaabbb…!” bentak si gendut sambil menarik rambutnya.
Karena takut mereka semakin gila, terpaksa dengan berlinang air mata dia menjawab, “E.. e.. enak, enak sekali!”
“Jawab lebih keras supaya pacar loe dengar pengakuan loe!” kata si botak.
“Iya, saya suka sekali bercinta dengan kalian”, jawabnya dengan lebih keras.
“Tuh, kamu dengar kan, apa kata pacarmu, dia suka pada kami, ha.. ha.. ha..!” ejek mereka padaku.

Hatiku benar-benar serasa mau meledak tapi aku tidak bisa apa-apa. Kemudian si botak membuat posisi badan Widya gaya posisi anjing, dia memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke pantatnya hingga terbenam seluruhnya, lalu dia menariknya lagi dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda panjang itu di pantat Widya hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelakak disertai teriakan panjang, “Aaahhh…! Stoop, kumohon jangan!” Mereka berdua malah tertawa-tawa menyaksikan hal itu. Si gendut menimpali, “Ssttt, tenang sayang, jangan terlalu ribut, kalo ada orang masuk kalian berdua celaka nanti!” Sekarang Widya sedang menghisap kemaluan si gendut sementara si botak menggenjotnya dari belakang.

Payudaranya yang bergantung itu juga dimainkan oleh mereka berdua. Tidak lama si botak ejakulasi karena terlalu sempit. Dari mulut Widya yang dipenuhi batang kemaluan yang besar itu hanya terdengar, “Emhh… emhh… emmhh!” Mereka berganti posisi lagi, kali ini si botak memangku Widya dengan membelakanginya dan menancapkan batang kemaluannya ke liang kemaluan Widya. Dia menggerakkan pantatnya naik turun, dan Widya pun tanpa terasa, turut mengikuti irama gerak si gendut. Si botak mengambil sekaleng bir dari kulkas dan menyiramkannya ke tubuh Widya lalu menjilat-jilat tubuh mulus itu. Si gendut juga sambil bergoyang menjilati leher jenjang Widya, lidah si botak lalu bermain dalam mulutnya sementara tangannya meremas-remas payudara kenyal padat itu. Widya yang sudah tidak berdaya itu hanya bisa menangis sambil menatap padaku dengan ekspresi menyedihkan dan sesekali mengeluarkan suara, “Ahhh… emmhhh… ahhh…”

Setelah si gendut selesai dengan gaya pangkuannya, tampaknya si botak belum puas. Dia memiringkan tubuh Widya lalu mengangkat kaki kanan Widya ke bahunya dan mulai melancarkan tusukan-tusukan mautnya di liang kemaluan Widya. Dia menahan sakit bercampur nikmat itu dengan menggigit kain bantal, wajahnya yang sudah penuh air mata dan memar bekas tamparan itu tidak membuat iba kedua bajingan itu, si botak tanpa kenal ampun berkali-kali menghujamkan senjatanya dengan sepenuh tenaga. Temannya yang gendut itu juga menjilati payudara Widya, lidahnya bermain-main di ujung putingnya.

Akhirnya Widya pingsan karena kehabisan tenaga. Mereka membuang mani mereka di tubuh mulus itu dan meratakannya hingga mengkilap. Yang lebih kejam lagi si botak malah mengencingi tubuh yang sudah tidak berdaya lagi. Sesudah beres-beres mereka berkata padaku, “Hei, kami kembalikan tuh pacarmu, dia cantik tapi sayang terlalu lemah, baru segitu saja sudah pingsan, tapi kami cukup puas juga kok sama servisnya, thank you man, bye…” Mereka pun menghilang di kegelapan malam bersama hasil jarahannya. Kasihan sekali nasib Widya sejak malam jahanam itu, dia sering termenung dan menangis sendirian.

Sepulangnya ke Jakarta dia juga tidak mau kembali lagi ke New York. Terpaksa kuliahnya dilanjutkan di Indonesia saja. Memang melalui terapi intensif, dia mulai bisa kembali bergaul seperti biasa. Tapi dia masih trauma pada orang negro, melihat negro di film pun dia kadang merasa agak kaget. Untung aku dan keluarganya terus memperhatikan dan masih mau menerima dia apa adanya. Yang disayangkan adalah pelakunya belum tertangkap, dan sejak itupun aku pindah apartemen agar tidak terlalu terpikir pada peristiwa nahas itu. Dan memang kabarnya daerah itu memang tidak begitu aman karena lokasinya tidak jauh dari tempat mangkalnya geng-geng dan pengangguran. Aku hanya berharap suatu hari kedua bajingan itu tertangkap dan mendapat hukuman seberat-beratnya.

TAMAT

Peace, Love, Unity & Respect 5:49 pm

Bar itu terletak di sudut kota, bagian paling gelap dari Jakarta. Bar itu bisa buka mulai dari pagi hingga pagi lagi, tanpa pernah kelihatan tutup. Hampir seluruh pengunjungnya adalah laki-laki pemabuk, preman, pembuat onar. Wanita, sangat jarang, atau bisa dikatakan tidak pernah datang atau mengenali tempat itu. Mulai dari pukul 12 siang, sejumlah preman sudah mulai minum-minum, membuat pengunjung yang peminum biasa cepat-cepat pergi meninggalkan bar itu. Empat dari mereka bermain bola sodok dan yang lima lainnya sedang berbicara dengan Rony. Sekitar pukul tujuh malam seorang sosok wanita masuk. Ia sama sekali tidak cocok dengan tempat itu.

Selly, wanita itu, sudah dijanjikan akan dijemput oleh pacarnya sekitar pukul tujuh, dan pacarnya mengatakan agar ia berpakaian seksi dan sensual. Bagi Selly sendiri, itu bukan masalah. Ia menghabiskan sepanjang sore berbelanja dan berdandan. Ia kemudian mengenakan gaun malam hitam. Bagian dadanya lumayan rendah membuat belahan dadanya terlihat, tapi tidak terlalu banyak. Buah dada Selly tidak besar, tapi padat dan bulat, dan tetap mengacung walaupun ia tidak mengenakan BH sekalipun. Pantatnya juga terlihat bulat di tutupi oleh gaun malam itu. Selly terlihat tinggi karena di kakinya ia memakai sepatu dengan hak setinggi sepuluh senti. Panjang gaun malam itu hanya sampai sepuluh senti di atas lutut Selly, membuat kaki Selly yang panjang terlihat jelas, halus, putih mulus. Karena ketatnya gaun yang ia pakai, Selly harus berjalan perlahan, masuk ke dalam bar itu. Rambut Selly yang berwarna kecoklatan jatuh tergerai di punggungnya. Secara keseluruhan penampilan Selly membuat bar itu semakin terasa panas.

Pacarnya bilang bahwa ia akan menjemput Selly untuk makan malam, tapi sekarang Selly sendiri tidak yakin apakah memang tempat ini yang dimaksudkan, setelah matanya melihat keadaan di sekelilingnya. Ia sendiri harus bertanya beberapa kali untuk bisa sampai ke tempat ini. Selly yang tidak melihat teman kencannya, memutuskan untuk memesan soft drink dan menunggu sebentar. Selly menghampiri tempat duduk kosong di sebelah meja bola sodok, dan duduk di situ berharap teman kencannya akan segera datang dan membawanya pergi dari situ.

Keempat orang yang sedang bermain bola sodok memandanginya sejenak dan mengenali Selly, mereka berkata bahwa mereka adalah fans berat Selly dan mengajaknya untuk ikut dalam permainan bola sodok mereka. Dengan sopan Selly mengucapkan terima kasih dan menolak tawaran itu, dan mengatakan bahwa ia sedang menunggu temannya.

Masing-masing dari keempat orang itu menatap Selly untuk beberapa saat, dan Selly sendiri merasa merinding ketika matanya menatap mata mereka. Mereka menjilati bibir mereka setiap kali mata Selly beradu pandang dengan mereka. Setelah minum-minum beberapa gelas kemudian, suasana semakin menakutkan bagi Selly. Mereka berdiri di sebelah Selly sambil mengusapi selangkangan mereka menunggu giliran untuk menyodok bola. Mereka mulai melontarkan kata-kata jorok seakan-akan Selly tidak ada di situ.
“Hei Non, gimana kalo lo buka kaki lo, jadi kita bener-bener punya lubang beneran buat disodok!” seseorang dari mereka berkata.
“Gimana kalo kita nyanyi sama-sama di ranjang Non?” yang lain menimpali.

Selly berusaha mengacuhkan mereka, tapi mereka terus melontarkan kalimat-kalimat jorok itu. Selly memutuskan untuk menunggu teman kencannya di luar sehingga ia tidak harus melihat orang-orang itu. Tapi seseorang segera mendekatinya dan menempatkan tangannya di bahu Selly serta mendorongnya duduk kembali sementara ia sendiri duduk di sebelah Selly.
“Taruhan yuk?!, Kalo gue bisa masukin bola di sudut itu, lo kulum punya gue di mulut lo!” katanya keras, sambil kemudian menjilat dan mencium telinga Selly.

Selly hanya bisa memandangi dia dengan mulut terbuka tak percaya. Ia sama sekali tidak percaya mendengar perkataan laki-laki itu. Seumur hidupnya belum pernah ada orang yang berbicara sedemikian vulgar kepadanya. Ketika Selly tidak mengatakan apa-apa, orang itu memasukkan tangannya ke dalam gaun Selly, merabai pahanya dan berusaha membuka kaki Selly. Selly meronta dan memandang sekelilingnya dengan tatapan memelas mohon pertolongan. Orang yang lain kemudian berteriak bahwa sekarang giliran laki-laki itu untuk main. Ketika laki-laki itu bangkit, Selly merasa lega, tapi tidak lama. Laki-laki lain menggantikan orang itu dan dua orang lainnya menghadangnya di depan. Laki-laki yang bertaruh tadi menyodok bolanya. Ia kemudian melemparkan tongkatnya ke atas meja, memandang Selly sambil menyeringai, dan perlahan berjalan mendekati Selly.
“Lo utang satu kali sama gue!” katanya singkat.

Rony segera berlari mendekati pintu dan menguncinya. Dua orang menarik Selly yang meronta dan menjerit, dari atas tempat duduknya. Kedua laki-laki itu berkata kalau Selly bisa berteriak sekuat tenaga, tapi tetap akan melayani mereka apapun yang terjadi! Wajah Selly memutih pucat ketakutan, dan memohon pada mereka untuk melepaskan dirinya. Selly berkata, dirinya tidak membawa banyak uang, tapi mereka bisa mengambil kartu kredit dan semua uang yang ada di dompetnya kalau mereka melepaskan dirinya. Laki-laki yang menang taruhan tadi hanya tertawa dan menurunkan ritsluiting celananya.
“Gue nggak butuh duit lo! Lo bisa simpen duit lo! Tapi yang pasti lo nggak bakalan bisa nyimpen badan lo cuma buat lo sendiri!” katanya.

Selly akan segera diperkosa beramai-ramai. Selly hanya mempunyai dua pilihan. Melawan dan berharap bisa melarikan diri, atau berusaha rileks dan berdoa mereka tidak melukai dirinya. Ketika Selly melihat sepuluh orang mengeliling dirinya, Selly menyadari ia harus menyerahkan dirinya.

Tiba-tiba, Selly dipaksa untuk berlutut. Rony tadi memegang rambut dan kepala Selly hingga tidak dapat bergerak. Laki-laki yang bertaruh tadi maju mendekati Selly. Ketika ia mengeluarkan penisnya, ia memerintahkan Selly untuk segera mengulumnya dan jika ia berani mengigit penisnya, ia akan merontokan gigi Selly dan melanjutkan memperkosa mulut Selly. Rony tadi mendorong kepala Selly ke depan. Laki-laki di depan Selly memajukan penisnya mendekati muka Selly. Ketika penisnya sudah tegang dan keras, ia menjepit hidung Selly untuk membuat Selly membuka mulutnya.

Ketika Selly kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, ia mendorong penisnya ke dalam mulut Selly. Laki-laki itu berhenti begitu bibir Selly telah melingkar di penisnya dan membiarkan Rony di belakang Selly membantunya. Rony tadi mulai mendorong dan menarik kepala Selly. Kepala Selly bergerak maju dan mundur tanpa henti, terus menerus. Lipstik Selly yang berwarna merah menempel di batang penis yang ada di mulutnya. Dan ketika kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Selly tersedak, tapi Rony tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Selly. Selly dipegangi hingga tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain.
“Lumayan! Anget dan empuk! Tapi gue pikir dia musti banyak berlatih soal beginian.” Kata laki-laki di depan Selly.
“Mungkin dia belon pernah pake mulutnya? Gimana? Lo udah pernah pake mulut lo Selly sayang?” tanya yang lain.
“Tentu aja dia pernah! Mulutnya nggak dipake buat makan doang tau?! Liat aja tuh bibir, punya lo kayak dijepit sama tuh bibir kan?” kata Rony sambil melihat dari bahu Selly.

Laki-laki pertama tadi lalu mendorong Rony untuk menjauh. Tangannya kemudian menjambak rambut Selly dan mulai menggerakannya dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Selly. Semua orang dapat mendengar suara dahi Selly yang menumbuk perut orang itu, dan erangan Selly yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya.

Ketika laki-laki itu akan mengalami orgasem ia mendorong kepala Selly hingga hidung Selly terbenam di dalam rambut kemaluan orang itu tanpa bisa menarik nafas. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Selly. Dan dari sudut mulut Selly sperma menyemprot keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Selly. Kemudian orang itu mulai bergerak lagi tanpa henti. Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Selly ke atas gaun hitam yang dikenakan Selly. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Selly, Selly megap-megap menarik nafas dan terbatuk-batuk memuntahkan sperma yang masih ada di tenggorokannya.

Dua orang kemudian memegangi Selly sementara yang lain mulai melepaskan pakaian mereka. Selly sendiri tak berdaya untuk melarikan diri, setelah baru saja ia mengalami shock karena sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya, tapi mereka tetap memeganginya.

Ketika semuanya telah telanjang bulat, ia diangkat dan diletakan di atas meja bola sodok dan langsung dipegangi oleh empat orang laki-laki, setiap orang memegangi tangan dan kakinya. Kaki Selly terbuka lebar dan tubuhnya telentang, lampu di atas kepala Selly membuat matanya terpejam karena silau. Rony mendekat dan naik ke atas meja.

Perlahan ia menggosokan penisnya yang besar ke kaki Selly. Yang lain hanya bisa memandang iri pada penis Rony yang panjangnya hingga 25 senti dan selalu ia yang mendapat kesempatan pertama. Rony memerintahkan orang di dekat kepala Selly untuk mengangkat kepala Selly hingga Selly bisa melihat ketika penis Rony mulai masuk ke vagina Selly. Orang yang memegangi kaki Selly berusaha membuka kaki Selly lebih lebar, tapi terhalang oleh gaun yang dikenakan Selly. Rony langsung menarik gaun tersebut robek hingga pinggang Selly.

Orang-orang berseru kagum ketika melihat apa yang dikenakan Selly di bawah gaunnya. Ia mengenakan stocking warna hitam dengan celana dalam sutra berenda yang mirip dengan bikini. Orang yang memegang tangan Selly lalu menarik gaun bagian atas, terlihatlah BH warna hitam yang menutupi separuh dari buah dada Selly. Puting susu Selly tampak mencuat dari balik BH yang tipis dan berenda itu.

“Gila! Lo pake pakaian kayak gini dan lo musti dipaksa buat ngulum punya dia! Kata Rony.
“Mungkin lo nggak suka sama kita semua ya? Lo anggep kita nggak pantes lo layanin, gitu? Jadi lo pikir cuma Roy yang berhak nidurin lo? Lo dandan kayak gini biar Roy napsu sama lo kan? Asal lo tau aja Selly, buat sementara waktu Roy atau siapapun juga nggak bisa nidurin lo! Karena mereka semua musti nunggu lo selesai ngelayanin kita semua di sini! Sekarang kita liat seberapa hotnya lo!”.

Selly terpana, menyadari nama teman kencannya adalah Roy! Roy yang mengajak dirinya makan malam! Roy yang meminta agar Selly berpakaian seksi! Roy yang memintanya agar menunggu di bar ini Roy telah menjual tubuh Selly untuk para preman ini!
Setelah menarik lepas celana dalam dan BH Selly, Rony menyuruh orang-orang yang memegangi Selly melepaskannya. Selly berusaha meronta dan menendang Rony, tapi ia kalah cepat. Rony langsung memegang kedua pergelangan tangan Selly yang ramping dengan satu tangan dan menekannya di atas meja dekat kepala Selly, sementara ia menempatkan pinggulnya diantara kedua kaki Selly. Rony kemudian berusaha membuka kaki Selly dengan kedua lututnya dan mengarahkan penisnya yang sudah keras ke vagina Selly dengan bantuan tangannya yang masih bebas. Dengan satu kali dorongan, Rony dengan keras memasuki vagina Selly. Selly menjerit sekeras-kerasnya, dan makin meronta-ronta, tanpa daya menghentikan Rony memperkosa dirinya. Rony sendiri menikmati sekali segala jeritan dan rontaan Selly. Ia menyeringai setiap kali Selly menjerit kesakitan.

Ketika Rony sedang memperkosanya, laki-laki lainnya ikut menyakiti Selly dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuh Selly. Mereka mulai dengan memainkan buah dada Selly dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik dan menjepit puting susunya. Seseorang menutup mulut Selly dengan tangannya sehingga seluruh jeritan Selly hanya berupa erangan tak jelas. Kaki Selly diangakat tinggi-tinggi dari atas meja sementara tangan-tangan merabainya, menikmati halusnya kaki Selly. Seseorang berusaha membuka belahan pantat Selly dan sesuatu yang basah dimasukkan ke liang duburnya. Dua buah penis menampari wajah Selly, mengenai pipi dan matanya.

Beberapa menit kemudian jeritan Selly hanya tinggal erangan dan rintihan tapi Rony memperkosa Selly tanpa henti, terus bergerak makin cepat. Setelah lama kemudian, Rony menarik penisnya hingga hampir terlepas dari jepitan vagina Selly, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga. Kepala Selly terdongak dan jeritan melengking terdengar, melolong panjang keluar dari mulut Selly yang masih tertutup oleh tangan. Rony mengejang beberapa saat dan bergerak beberapa kali, dan penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina Selly. Sperma, bercampur dengan darah, mulai mengalir keluar dari vagina Selly. Sperma Rony menyembur tanpa henti, hingga mengalir dan tergenang di atas meja bola sodok. Laki-laki yang lain kemudian melepaskan pegangan mereka pada diri Selly dan bertengkar mengenai giliran siapa selanjutnya.

Selly hanya bisa berbaring tak bergerak ditindih oleh Rony, kaki dan tangannya masih terbuka lebar, ia menangis histeris. Satu-satunya yang telah Selly jaga, mulai dari SMA, universitas, hingga kini, adalah keperawanannya. Selly ingin menyimpan keperawanannya itu untuk malam pertama di hari pernikahannya. Ia telah diperkosa dan keperawanannya telah hilang.
“Gila! Dia masih perawan! Gue taruhan si Roy pasti nggak tau soal ini! Artis kayak lo masih ada yang perawan juga ya Selly, gue pikir lo udah kasihin ke produser lo!” kata Rony.

Ia menatap Selly yang masih terus menangis.
“Udah dong Selly, jangan nangis terus! Perawan lo udah ilang sekarang, nasi udah jadi bubur! Lo mustinya bangga ama diri lo, soalnya punya lo masih sempit banget! Pokoknya paling sempit dari semua yang udah pernah gue pake! Lagipula kita baru aja mulai!” katanya pada Selly.

Rony kemudian menarik penisnya keluar. Semua orang melihat bagaimana vagina Selly menjepit penis itu ketika penis itu perlahan keluar dari vagina Selly. Seorang laki-laki segera naik ke atas meja setelah Rony turun. Ia tidak terlalu terburu-buru. Sekarang, Selly dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka dan penis itu sedikit demi sedikit masuk ke dalamnya. Kesakitan kembali tercermin di wajah Selly, ketika ia merasa tubunnya seperti dirobek oleh penis yang masuk.
“Lo jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, masih ada yang laen! Cepet atau lambat lo pasti temuin yang lo suka!” bentak orang itu.

Perkataan orang itu membuat apa yang telah ia takutkan selama ini menjadi nyata. Selly akan diperkosa bergantian oleh seluruh orang yang ada di bar itu. Dan ia tidak punya pilihan sama sekali. Selly hanya bisa menyerahkan dirinya dan melayani mereka hingga selesai. Sekarang Selly hanya berharap ia bisa keluar dari situ hidup-hidup, dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami.

Selly kemudian berusaha berpikir bagaimana membuat semua siksaan ini semakin cepat berakhir. Ia berusaha mengingat adegan-adegan film-film erotis yang pernah dilihatnya. Ia berusaha mengingat apa yang harus dilakukan untuk mendorong seorang pria cepat mencapai orgasme.

Selly kemudian melingkarkan tangannya ke leher laki-laki yang ada di atas tubuhnya dan menariknya mendekat, lalu menciumi bibir laki-laki itu. Selly lalu melingkarkan kakinya ke tubuh laki-laki itu dan menggosokan kakinya yang terbungkus stocking ke pinggul dan pantatnya. Walaupun rasa sakit masih terus menyerang kewanitaan Selly, Selly terus saja melingkarkan dan mengunci kakinya ke pantat dan menariknya hingga penis laki-laki itu masuk lebih dalam ke dalam vagina Selly, dibarengi oleh Selly dengan mengangkat pinggulnya. Sebelah tangan Selly mengusapi rambut laki-laki itu sementara yang lainnya merabai pundak dan punggungnya. Ia menciumi dan mengulum lidah laki-laki itu sembari mengeluarkan erangan seakan-akan ia menikmati semuanya. Selly berusaha mengingat semua adegan erotis yang pernah dilihatnya, berusaha membuat laki-laki yang sedang memperkosanya segera mengalami orgasme.

Berhasil! Ia menyemburkan spermanya ke dalam vagina Selly yang sudah terisi oleh sperma Rony. Lalu dengan segera orang lain menggantikan laki-laki itu, kemudian laki-laki lain menyusul, setelah itu temannya juga mulai memperkosa Selly. Selly berusaha membuat mereka orgasme secepat mungkin, tapi akhirnya Selly tidak bisa lagi menahan semua itu. Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan ia sudah kehabisan tenaga melayani laki-laki itu. Selly lalu menangis dan memohon pada semuanya agar melepaskan dirinya. Laki-laki yang sedang menindihnya meremas buah dada Selly keras-keras hingga Selly menjerit kesakitan.
“Jangan berisik! Lo belon ngelayanin temen-temen gue! Masih ada lima orang lagi!” bentaknya pada Selly.

Tiba-tiba orang itu menarik penisnya keluar dan merangkak ke dada Selly. Selly sudah sangat ketakutan sekarang hingga ia hanya bisa berbaring dengan mata terpejam erat, menunggu orang selanjutnya yang akan mengambil giliran memperkosanya. Ia sama sekali tidak menyadari orang yang baru saja memperkosanya mengarahkan penisnya ke muka Selly. Dan tepat sebelum orang itu orgasme Selly membuka matanya. Sperma segera menyembur ke seluruh wajah Selly. Seseorang memegangi kepala Selly, hingga seluruh sperma itu keluar menyembur dari penis itu. Ketika orang itu puas ia menarik rambut Selly dan menamparkan penisnya ke wajah Selly.
“satu-satunya yang boleh lo mohon cuma ini tau? Lo sendiri yang masuk ke sini pake pakaian kayak gini dan lo mohon kita berhenti? Lo bercanda apa? Lo musti ngelayanin kita sampe kita nggak bisa bangun lagi! Ngerti” Orang itu membentak Selly.

Lima orang terakhir kemudian mengambil giliran masing-masing dan memperlakukan Selly sama dengan orang sebelumnya. Ketika hampir orgasme, mereka menarik penisnya keluar, merangkak di atas dada Selly, dan memyemprotkan sperma mereka ke seluruh wajah dan buah dada Selly kemudian menarik rambut Selly untuk membersihkan penis mereka. Dan ketika orang yang terakhir selesai Selly berbaring hampir tak sadarkan diri.

Wajah, buah dada, dan puting susu Selly seluruhnya dilumuri sperma. Sperma itu mengalir turun dari sisi wajahnya, masuk ke telinga dan leher Selly. Selly tidak bisa membuka matanya karena semuanya tertutup oleh sperma. Selly harus bernafas melalui mulutnya karena sperma sudah masuk ke hidungnya. Rambut Selly yang kecoklatan terlihat kusut karena terkena sperma yang mengering di rambutnya. Ketika orang-orang itu beristirahat sejenak, Selly hanya berbaring di atas meja bola sodok, kakinya terbuka lebar dan sperma mengalir keluar dari vaginanya, menunggu orang selanjutnya memperkosa dirinya. Vagina Selly tampak memar, memerah, dan terasa sakit karena baru saja dimasuki sepuluh orang bergantian tanpa henti.

Dua orang menarik tubuh Selly turun dari meja bola sodok itu dan menyeretnya ke kamar mandi. Mereka kemudian membersihkan tubuh Selly dengan kertas tisu yang kasar dari sperma yang menempel. Dan ketika tubuhnya diseret keluar lagi, Selly melihat meja bola sodok tadi telah dipindahkan ke pinggir ruangan. Di tengah ruangan itu sekarang tergelar matras kusam dan delapan laki-laki telanjang bulat berdiri mengelilinginya. Selly didorong ke tengah-tengah lingkarang orang itu, hingga ia terjatuh ke atas matras, tubuhnya tersungkur tak berdaya untuk mengangkat tubuhnya. Selly merasakan tangan-tangan di seluruh tubuhnya mulai menarik, mendoorng dan mengangkat tubuhnya. Ketika Selly membuka matanya ia melihat seseorang telah berbaring telentang di bawah tubuhnya.

Orang itu adalah si Rony, dan penisnya sudah tegak berdiri. Kedua bibir vagina Selly kemudian dibuka oleh dua pasang jari-jari ketika perlahan tubuh Selly diturunkan mengarah ke penis Rony. Denga sisa-sisa sperma yang ada, penis itu dapat lebih mudah masuk ke dalam vagina Selly. Dan Selly sendiri hanya mengerang, merasakan kembali sakit walaupun tidak lagi menyengat ketika pertama kali ia diperkosa oleh Rony tadi. Seseorang kemudian menarik rambutnya, dan sebuah penis lain mendekati mulutnya. Selly dengan perlahan membuka mulutnya, berharap mereka tidak akan menyakitinya jika ia menuruti kemauan mereka. Penis itu masuk hingga ke tenggorokan Selly dan berhenti tak bergerak. Selanjutnya Selly merasakan sebuah tangan mendorong tubuhnya hingga turun. Kemudian tangan-tangan lain mulai membuka belahan pantatnya. Selly panik dan berusaha merangkak menjauhi tangan-tangan itu. Dengan merangkak Selly membuat penis di mulutnya masuk makin dalam ke tenggorokannya.
“Hei, lo suka juga akhirnya! Kalo gitu ayo mulai aja sayang!” kata orang yang memasukan penisnya ke mulut Selly sambil tersenyum.

Ia mulai menggerakan pinggulnya secepat dan sekuat tenaga. Tubuh Selly yang terdorong mundur karena gerakan orang itu, disambut dengan sebuah penis lain di liang anusnya. Sekarang rasa sakit yang perlahan mulai hilang dari tubuh Selly, kembali menyengat seluruh tubuhnya. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, sakit yang tidak pernah dirasakan Selly sebelumnya. Pikiran Selly menjerit-jerit kesakitan, sedangkan mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas diredam oleh penis yang keluar masuk. Rasa sakit itu makin menjadi-jadi, ketika ketiga orang itu mulai bergerak berirama. Tubuh Selly seperti terkoyak-koyak ketika penis-penis itu bergantian keluar masuk di dalam vagina dan anusnya. Dua orang kemudian mendekat memegangi tubuh Selly hingga ia tidak terjatuh ke samping. Semua lubang di tubuh Selly, mulut, vagina dan anus dipergunakan oleh mereka untuk memuaskan nafsu mereka secara bersamaan. Kemudian dua orang terkahir tadi menarik tangan Selly, melingkarkan jari-jari Selly di penis mereka dan menyuruhnya untuk mulai mengocok penis-penis mereka, sementara dua orang lainnya berlutut di samping Selly, dan menarik buah dadanya untuk kemudian digosokan pada penis mereka.

Sekarang Selly sudah dalam keadaan berlutut, tubuhnya bergoyang maju mundur. Tujuh dari sepuluh orang itu terus-menerus menggunakan tubuh Selly untuk membuat mereka puas. Tidak seorang pun peduli dan melihat bahwa Selly sama sekali tidak bisa bergerak. Semuanya tampak sangat bernafsu memperoleh bagian tubuh Selly.

Setelah beberapa menit rasa sakit itu mulai bisa ditekan oleh Selly. Selly terus memejamkan matanya karena ia tidak ingin melihat bagaiman orang-orang itu mempergunakan tubuhnya untuk memuaskan mereka. Ia hanya berharap semua itu segera selesai, karena dirinya hampir tidak bisa lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Orang di anus Selly lebih dulu orgasme. Ketika ia selesai dan menarik penisnya keluar, orang lain maju dan dengan mempergunakan sperma orang yang pertama, ia melumasi penisnya dan memasukannya ke anus Selly. Lalu orang di mulutnya menyemburkan sperma, membuat Selly tersedak tak bisa bernafas, berusaha sekuat tenaga menelan sperma orang itu. Lalu penis itu ditarik dan digantikan oleh penis lain, yang kali ini lebih besar. Selly berusaha membuka mulutnya, tapi orang itu tidak sabar dan langsung mendorong penisnya masuk, dan mulai bergerak. Ia mendorong penisnya dalam-dalam dan tidak menariknya keluar, terus menahannya di dalam tenggorokan Selly. Selly kemudian merasakan getaran dari tubuh Rony di bawahnya dan cairan hangat mengalir ke dalam vaginanya, segera setelah itu orang lain menggantikan posisi Rony tadi.

Orang-orang tadi bergantian memperkosa Selly di seluruh lubang yang ada, ia terus menelan semua sperma yang disemburkan di dalam mulutnya. Dua orang di depan wajahnya mengocok penisnya masing-masing dan mengarahkan penisnya ke wajah Selly. Ketika Selly melihat ke bawah, orang di bawah tubuhnya sedang menatap wajahnya dan kepalanya diganjal oleh kedua tangannya. Tak lama kemudian sperma kembali masuk ke dalam vagina Selly, dua detik kemudian sperma menyembur ke anusnya.

Penis lain kembali masuk ke vagina Selly. Selly kembali memejamkan matanya, ia sekarang hanya bisa mengeluarkan suara erangan, yang semakin tinggi ketika penis lain masuk ke anusnya. Ketika ia membuka matanya lagi, Selly melihat sebuah penis diarahkan ke wajahnya. Kepala penisnya berwarna ungu bulat, dan beberapa detik kemudian sperma menyembur menghantam wajahnya mengalir masuk ke mulutnya. Orang tubuh kemudian minggir dan sebuah penis lain maju mendekat.

Sepanjang malam Selly terus melanyani sepuluh orang itu hingga semuanya mendapat bagian menggunakan mulut, vagina dan anusnya paling sedikit satu kali. Dan ketika orang-orang tersebut puas dan menjauh dari tubuh Selly, tubuh Selly tetap tak bergeming dalam posisi merangkak, Selly lalu mengangkat wajahnya berusaha melihat orang-orang yang mengelilinginya, setelah itu semuanya gelap dan tubuhnya jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:48 pm

Ibuku adalah seorang dosen komputer di sebuah perguruan tinggi di Indonesia. Ia memiliki banyak mahasiswa maupun mahasiswi dan karena kepiawaian Ibuku dalam mengajar, banyak mahasiswanya yang datang ke rumahku unuk meminta diajar secara privat. Kisah ini adalah nyata yang terjadi ketika Ibuku sedang tidak di rumah. Namaku adalah Joe. Saat itu aku sedang dalam masa pengangguran karenanya aku hanya tinggal di rumah sehingga membuatku sangat bosan karena kegiatanku sepanjang hari hanya menonton VCD dan bermain komputer saja.

Tetapi kebosananku berakhir ketika salah seorang mahasiswi Ibuku datang kerumah. Ingrid namanya, dia kuliah di Universitas **** ***** (edited). Karena Ibuku kebetulan sedang ada urusan, maka Ingrid menunggunya datang dikarenakan ada urusan yang sangat penting dengan Ibuku. Karena aku tidak ada pekerjaan dan aku sangat bosan dengan kegiatanku, maka aku menemaninya menunggu Ibuku. Tetapi, aku sengaja tidak memberitahukan kepadanya bahwa Ibuku sedang pergi ke luar kota bersama Bapakku selama beberapa hari. Jika kuperhatikan dengan seksama, Ingrid sama sekali tidak jelek. Bagiku dia bahkan menarik sekali, dengan proporsi badan yang bagus dan seksi dan dikombinasikan dengan rambutnya yang panjang tergerai dan hitam. Sekilas wajahnya mirip dengan Maudy Kusnaedi dan karenanya aku tidak bosan-bosannya menatap Ingrid sambil terus mengajaknya bercakap-cakap sambil menawarkannya minum segelas air jeruk.

Sampai suatu ketika, dia minta ijin untuk pergi ke WC dan aku menunjukkannya lokasi WC yang berada di belakang kamar orang tuaku. Di saat dia pergi kesana, aku memasukkan pil perangsang yang kubeli sewaktu aku masih berkuliah di luar negeri dulu. Pil perangsang itu larut dengan air jeruk tetapi tidak memberikan perubahan pada warna maupun rasa air jeruk itu sendiri. Setelah itu, aku hanya tersenyum-senyum memikirkan rencanaku selanjutnya sambil menunggu Ingrid keluar dari WC. Setelah Ingrid kembali dari WC, ia kembali duduk dan mengajakku ngobrol mengenai bisnis orang tuaku sambil meminum air jeruk yang kusuguhkan kepadanya. Beberapa menit setelah ia meminumnya, ia memperlihatkan reaksi dari obat tersebut, dia berkali-kali meminta maaf kepadaku karena ia merasa kegerahan dan setelah itu ia mulai membuka pakaiannya.

Di saat ia membuka pakaiannya, aku dapat melihat sosok Ingrid yang hanya mengenakan BH dan celana dalamnya. Hal ini membuat penisku mendadak berdiri dan siap dimasukkan ke “lubang kenikmatan”. Aku mengajak Ingrid ke kamarku sambil kuberikan alasan agar aku dapat menyalakan Air Conditioner sehingga dia tidak lagi kegerahan. Ia percaya saja dan mengikutiku ke kamar. Di dalam kamarku, ia duduk di ranjang sambil sesekali mengusap dadanya. Aku menjadi tidak tahan melihat adegan ini sehingga aku mulai mencium bibirnya. Ketika aku menciumnya, tidak ada perlawanan sama sekali. Kami bermain lidah hingga 10 menit. Dikala kami bermain lidah, aku mulai membuka BH dan celana dalamnya. Setelah dia bugil, kemudian aku membuka pakaianku sendiri. Disaat aku sedang membuka pakaianku, Ingrid mengusap-usap tubuhnya dan memainkan jari-jarinya di sekitar vaginanya sehingga membuatnya basah. Aku tidak tahan lagi maka kudekati vaginanya dan memainkan lidahku di dalam vaginanya.

Aku sempat terkejut karena ternyata Ingrid masih perawan sehingaa aku berpikir bahwa ini adalah hari keberuntunganku. Aku terus menjilati vagina Ingrid berulang-ulang dan diiringi dengan desahan Ingrid yang sangat sensual, “Hmm…, shhh…, aahh…”. Aku tidak peduli dan terus menjilatinya hingga beberapa saat kemudian Ingrid menjepit kepalaku dengan kedua kakinya sehingga membuatku menjadi sulit bernafas selama beberapa saat dan tubuhnya mendadak menjadi gemetar dan ia berteriak tertahan sambil melengkungkan punggungnya yang membentuk siluet yang indah sekali. Aku mengerti kalau dia sedang klimaks, aku senang sekali tetapi juga sekaligus belum puas, why? Karena aku sendiri belum memperoleh kepuasan darinya. Setelah ia terbaring lemas karena klimaks tersebut, aku segera saja memasukkan penisku yang panjang karena sudah tegang ke dalam vagina Ingrid. Ketika penisku merobek keperawanannya, ia berteriak kesakitan dan aku merasakan penisku telah dibasahi oleh darah segar keperawanannya, tapi aku tidak ambil peduli. Sambil kucium bibirnya yang seksi, tanganku bermain di puting susunya, juga kutusukkan penisku ke dalam liang vaginanya.

Teriakan yang tadi kudengar lama kelamaan berubah menjadi desahan-desahan dan tangannya mulai aktif memegang dan menekan-nekan selangkanganku seakan- akan menginginkan agar aku memasukkan penisku lebih dalam lagi. Tusukanku di dalam liangnya membuatnya mendesah-desah sensual dan memintaku mempercepat gerakan. Aku terus mempercepat gerakanku hingga dapat kurasakan vaginanya semakin basah. Ia memintaku mengubah posisi. Ia sekarang berada di atas. Dengan hati-hati ia menindihku dan memasukkan penisku yang masih tegang ke dalam liang vaginanya. Dengan posisi berbaring, kupeluk punggung Ingrid sambil menaik-turunkan tubuhnya sehingga aku merasa semakin nikmat karena pijitan vaginanya. Aku semakin mempercepat gerakan sehingga membuat adegan yang kami lakukan semakin panas karena Ingrid terus menggenjot tubuhku sambil tangannya memainkan puting susunya sambil sesekali menekan-nekan payudaranya yang cukup besar itu.

Setengah jam terus berlalu dan aku mulai merasakan seolah-olah akan ada ledakan dalam diriku dan dirinya. Aku mengetahui bahwa dia akan klimaks lagi karena dia semakin kuat mendesah dan juga semakin cepat menggenjot tubuhku. Aku semakin tidak tahan dan kusemprotkan cairan kejantananku ke dalam liang kewanitaannya dan di saat yang bersamaan pula, Ingrid berteriak dengan disertai getaran hebat sambil semakin cepat menggenjotku. Penisku terasa seperti sedang di”pipis”in olehnya karena ada cairan yang mulai membasahi penisku. Setelah beberapa menit kami bersama-sama melepaskan nafsu, aku mencium bibir Ingrid dan memeluknya. Aku bermain cinta dengannya hingga sore hari dan kemudian kuberitahu padanya bahwa orang tuaku baru akan kembali seminggu kemudian. Tetapi di luar dugaanku, karena justru hal ini malah membuatnya senang karena itu berarti dia bisa tinggal untuk bercinta bersamaku selama seminggu. Setelah itu, aku dan Ingrid terus menerus bercinta di rumahku sampai dengan Ibuku kembali dari luar kota.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:47 pm

Di kampusku ada seorang gadis yang cantik jelita, namanya Ai Ling, ia keturunan China. Kulitnya putih mulus, rambutnya di-highlight kemerahan panjang, bentuk tubuh langsing dan proporsional. Sekali melihatnya kita akan langsung mengetahui bahwa ia anak orang kaya. tetapi yang paling kusuka darinya yaitu payudaranya yang besar, kutaksir berukuran sekitar 36B. Aku sering bermasturbasi dengan membayangkan kubuka BH-nya pelan-pelan dan tampaklah dua gunung padat menawan. Lalu kubayangkan kuperkosa ia, kubuat badannya dan susunya terguncang-guncang, tak peduli ia menjerit-jerit kesakitan dan meronta-ronta. tetapi itu tak perlu kuceritakan lebih lanjut, karena akan kuceritakan pengalamanku yang sesungguhnya, yaitu memperkosa Ai Ling.

Kampusku, T, terkenal dengan mayoritas mahasiswa keturunan Chinanya. Kami kaum pribumi hanya menjadi warga minoritas di sana. Sudah minoritas, kebanyakan laki-laki pula. Kalaupun di antara kami ada yang perempuan, biasanya jelek, gendut dan hitam kulitnya seperti kulitku. tetapi jangan memandang enteng diriku, aku berbadan besar, tinggi dan “adikku” panjangnya 18 cm bila sedang “on”. Suatu hari si Ai Ling ini datang ke kampus dengan memakai baju ketat berwarna merah yang menonjolkan keindahan bentuk payudaranya dan celana panjang hitam yang memperlihatkan lekukan pinggulnya. Sebenarnya sudah biasa ia datang ke kampus dengan pakaian seperti itu, tetapi kali ini aku tak sanggup menahan birahiku yang sudah tertahan sejak lama. Pokoknya kali ini aku harus mendapatkannya, pikirku waktu itu. Ia lewat di depanku, aku hanya bisa menahan ludah mencium bau harum tubuhnya dan melihat kedua susunya yang seakan minta kuremas-remas. Saat ia menuju ke arah mobilnya kuikuti ia. Kebetulan tempat parkir kampusku sepi karena waktu itu sudah sore sekali, jam 6:00. Saat ia membuka pintu mobil, kubekap mulutnya dan kutempelkan pisau di lehernya yang jenjang.

“Heh! Lu jangan macem-macem ya kalo masih pengin hidup! Sekarang kita masuk mobil, lu yang mengemudi dan ingat, pisau ini siap ngeluarin usus lu kalo lu macem-macen di jalan!” ancamku. “I… iya Mas, ampun! Jangan sakiti saya!” kata Ai Ling meratap mohon ampun. Rencana itu berjalan sukses, satpam yang menjaga pintu gerbang kampus tidak curiga begitu mobil kami lewat. Jelas ia tak berkutik, di sampingnya ada aku yang memeganginya dan menempelkan pisau di pinggangnya.

Sepanjang jalan Ai Ling meratap-ratap mohon belas kasihan, ia bilang aku boleh mengambil semua duitnya, perhiasan dan handphone jika ia dibiarkan pergi. Mimpi kali dia, mana mungkin aku melepaskan gadis secantik dia tanpa di-”mainin” dulu. Akhirnya kami sampai di rumahnya. Sudah kuselidiki dulu kalau ia tinggal sendirian di rumah besar itu tanpa pembantu dan orangtua. Orangtuanya sering ke luar negeri untuk urusan bisnis. Kugiring ia ke dalam kamar khusus karaoke yang kedap suara dan kukunci pintunya. Sebelumnya aku sudah mencabut kabel telepon, mengunci pagar dan lain-lain agar tidak tampak sesuatu yang mencurigakan dari luar. Wajahnya sudah pucat pasi membayangkan apa yang akan kuperbuat. “Mas mau apa… Aaw!” Aku segera merobek t-shirtnya dan terlihat dua buah bukit indah yang seakan tidak cukup ditampung oleh BH-nya. Ia lari ke ujung kamar, tetapi aku segera memburunya dan menarik BH-nya hingga kini payudaranya terlihat jelas. Susunya ternyata lebih besar dari dugaanku dan warnanya lebih putih dari kulit tangannya. Dengan nafsu kuremas-remas, ia berteriak kesakitan dan meronta melepaskan diri. Aku semakin bernafsu, kutarik celananya dengan paksa sambil kuremas susunya lebih kuat lagi.

Tanpa kesulitan aku berhasil merobek celana dalamnya, ia kalah tenaga denganku yang berbadan besar ini. Langsung kuangkat ia, pantatnya kuangkat dengan tanganku dan kemaluannya kupompa dengan paksa. Ia berteriak kesakitan karena ukuran batang kemaluanku yang besar itu dan dengan kalap mencakar dan memukul mukaku. Tindakannya justru membuatku semakin bernafsu, makin cepat dan dalam kupompa dia. Ia menjerit-jerit dan mencakar tangan dan dadaku. Justru rasa sakit membuatku makin bernafsu, dengan kasar kugoncang dia naik-turun seperti naik kuda-kudaan. Rupanya Ai Ling masih perawan, aku bisa merasakan darah segar mengalir dari lubang kewanitaannya ke pangkal pahaku. Pantas ia merasakan sakit yang amat sangat, itu karena aku menembus selaput daranya dengan paksa. Posisi sekarang berubah, aku duduk dengan dia duduk di pangkuanku. Lama-lama tenaganya melemah dan tiba-tiba ia mengejang, kedua kakinya melingkari punggungku. Kurasakan kemaluannya telah basah, rupanya pompaanku yang ganas dan ukuran kemaluanku telah membuatnya orgasme walau ia berusaha menolaknya. Ai Ling langsung lemas dan tanpa perlawanan ia jatuh ke belakang. Karena aku belum sampai, kutahan tubuhnya agar tetap di pangkuanku dan terus kupompa ia. Dalam posisi itu kuhisap pentilnya yang coklat dan kugigit payudaranya yang besar hingga berdarah dan memerah. Ai Ling hanya bisa menangis sesenggukan tanpa melawan lagi, sudah pasrah rupanya.

15 menit, aku belum juga ejakulasi, kubalik tubuhnya hingga menungging dan tanpa basa-basi kutembus anusnya langsung sampai sedalam-dalamnya dengan batang kemaluanku yang 18 cm itu. Sejenak Ai Ling seperti tersentak kaget dan berusaha melepaskan diri. Ia meronta sekuat tenaga tetapi kupegangi pinggangnya dengan kedua tanganku kuat-kuat. Ia kembali mencakarku membabi buta dan rasa sakit itu membuatku lebih bersemangat memompa Ai Ling. Satu tanganku kugunakan untuk meremas susunya kuat-kuat dan satunya lagi kugunakan untuk menyodok kemaluannya dalam-dalam keluar masuk. Kali ini ia benar-benar tidak bisa berkutik. Kurasakan anusnya sudah lecet tergesek oleh batang kemaluanku tetapi kemaluannya basah karena rangsangan hebatku. Tiba-tiba ia menggigit tanganku yang kugunakan untuk meremas susunya. Aku terpaksa melepaskannya karena kesakitan dan ia berhasil melepaskan anusnya dari batang kemaluanku. Ai Ling lari ke pintu tetapi ia tak bisa membukanya karena kuncinya ada di saku celanaku. Nafsuku yang belum terpuaskan membuatku marah, kuburu ia dan kupukul muka serta payudaranya yang besar dan kenyal itu. Ai Ling terjerembab dengan mulut berdarah. “Oh jadi elu mau maen kasar ya, OK!!” teriakku. Kupukuli dada, perut dan mukanya hingga ia jatuh lemas dengan muka sembab. Kulitnya yang putih mulus tampak memerah dan Ai Ling sudah setengah sadar, yang jelas ia tak bisa bangkit lagi.

Dari tasku kukeluarkan dua anting-anting berbentuk ring dan salah satunya kutindikkan ke puting payudara Ai Ling. Ai Ling menjerit kesakitan dan darah langsung mengalir di susunya. Aku semakin bernafsu melihatnya dan ia memberontak berusaha lari lagi. Kali ini kupukul ia kuat-kuat sampai ia pingsan dan memudahkanku untuk memasang anting-anting kedua. Darah yang mengalir dari puting dan kemaluan Ai Ling semuanya kuhisap dan kujilati sampai kering. Dengan pingsannya dia, aku bisa sesuka hati berganti posisi. Pertama kuangkat ia dan kududukkan di pangkuanku sambil kunaik-turunkan pinggulnya. Lalu dari belakang kupompa ia sekuat tenaga. Masih belum juga aku ejakulasi. Kedua kakinya kunaikkan ke bahuku dan kubentang lebar-lebar lalu kupompa kemaluannya yang berdarah-darah dengan kencang. Perlu sekitar 50 kali pompaan untuk mengeluarkan spermaku. Semuanya kutumpahkan di dalam sebanyak 5 kali semprotan. Sisanya yang mengalir keluar kuambil dan kulapkan di susu dan perutnya. Kunikmati dulu keadaan itu, dimana batang kemaluanku masih tertancap di lubang kemaluannya. Kulihat wajah cantiknya yang bersimbah peluh masih pingsan, tampak tak berdaya, nafsuku timbul lagi. Sayang sekali jika aku hanya menyetubuhinya satu kali hari ini.

Kupapah ia ke kamar mandinya yang ternyata sangat mewah. Bak mandinya kuisi dengan air hangat sampai penuh dan Ai Ling kubaringkan di situ. Kulit putih mulusnya yang basah kuyup membuat batang kemaluanku yang tadinya lemas kembali tegang. Aku duduk di dalam bak mandi itu juga, dihadapannya, dan kali ini dengan leluasa kujamah seluruh tubuhnya dan kuremas-remas payudaranya yang besar itu. Putingnya yang beranting-anting kuisap, kusedot seluruh darah yang tersisa. Lalu kuangkat tubuhnya dan kusedot kemaluannya sampai seluruh cairan kewanitaannya habis. Tiba-tiba aku teringat, Ai Ling bisa sadar kapan saja dan meronta-ronta. Dengan cepat kucari tali untuk mengikat kedua tangannya ke belakang erat-erat. Di dalam bak mandi itu aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. Kupompa ia dengan cepat selama 15 menit. Karena merasakan ada benda yang mengganjal dan keluar masuk di kemaluannya, akhirnya Ai Ling sadar. Ia mendesah karena belum sepenuhnya sadar dari pingsannya. Aku tak peduli, kugenjot terus ia sampai cairan maniku keluar dan kutumpahkan di dalam kemaluannya. Ia akhirnya sadar, menangis sesenggukan dan berusaha meronta walau tangannya terikat. Ia kembali merintih mohon ampun dan mengeluh kesakitan di kemaluannya.

Kucabut batang kemaluanku dan kulihat kemaluannya, ternyata agak bengkak kemerahan. Rupanya kemaluannya tak sanggup menampung batang kemaluanku yang besar dan gesekan terus-menerus yang kasar. Entah kenapa, keadaan itu malah membuatku makin terangsang. Ketidakberdayaan Ai Ling dan kemaluannya yang bengkak itu membuatku bernafsu memasukkan batang kemaluanku yang besar ke lubang kemaluannya sekali lagi. Kali ini kutancapkan dalam-dalam dan kupompa ia sekuat-kuatnya. Ia menjerit-jerit kesakitan mohon ampun, meronta-ronta dengan tangan terikat, tetapi aku tetap memompanya dengan penuh semangat di bak mandi itu. Akhirnya ia pingsan karena kusenggamai terus-menerus selama 3 jam. Kulihat kemaluannya sudah bengkak dan kembali mengeluarkan darah. Kemudian kufoto ia dengan kamera yang sudah kupersiapkan sebanyak 1 rol film dari berbagai posisi. Kucuci cetak foto itu dan kutunjukkan ke Ai Ling tiga hari kemudian pada saat ia masuk kuliah. Ia kuancam dengan janji tak akan kuedarkan foto itu asal ia mau kusenggamai tiap hari di rumahnya. Dengan terpaksa akhirnya Ai Ling melayaniku tiap hari sampai aku bosan dan mencari mangsa lain. tetapi yang membuatku bangga, walaupun ia kuperkosa, tetapi ia selalu orgasme berkali-kali setiap kupakai tubuhnya.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:46 pm

Shawn pulang kerja jalan kaki, jalanan cukup sepi, sementara suara guruh sesekali terdengar. Awan terlihat mendung dilangit malam itu.

Cewek yang tingginya sekitar 170 cm, langsing, kakinya juga jenjang banget (Shawn waktu itu pake rok yg rada mini) mempercepat jalannya.

Pukul 20:00 jalanan diluar rumah Shawn, sepi jarang ada mobil yang lewat. Penduduk kota sudah tahu akan ada badai besar malam itu. Kelima berandal yang bertubuh kekar itu mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Mereka mau membalas cewek bertampang melankolis itu yang memergoki mereka mencuri minuman keras tadi,dengan melaporkan satpam. Mereka berencana berpesta memperkosa cewek itu habis-habisan sebagai balasannya.

“Sssstttt…..hati-hati jangan berisik…..ayo sini….” Bisik Emilo sambil memberi aba-aba untuk segera maju bersembunyi dikebun rumah Shawn yang penuh semak-semak.

Sementara itu Shawn tidak mengetahui kalau dirinya diikuti oleh para berandal sejak sepulang kerja tidak menaruh curiga. Cewek itu menyalakan kran air mandi, lalu menuju kekamarnya. Shawn menyalakan lagu disco, sambil melepaskan baju kerjanya.

Di kebun para berandal sudah mulai mengendap- endap sambil menyusun rencana untuk masuk ke dalam rumah. Edi dan Jack mendapat tugas mengawasi jalanan, sedangkan Emilo membuka pintu depan, Joe dan Billie mencari jalan masuk lewat belakang. Pada saat itu secara tidak sengaja Joe melewati jendela kamar Shawn yang lagi membuka baju kerjanya. Roknya berada diatas ranjang, sementara Shawn yang tubuhnya cuma terbungkus kemeja kerja dan celana dalam sambil berdisco membuka kancing kemejanya. Joe segera memanggil Billie untuk melihat pemandangan itu. Mereka menelan ludah melihat Shawn yang meliuk-liuk merangsang menari disco. Ukuran dadanya yang sekitar 36B keliatan jelas banget belahannya ketika cewek itu sudah melepas kemejanya.

“Wow, Joe…LOOK AT HER TITS….aku ingin segera mencicipi tubuhnya….” Bisik Billie tanpa melepaskan padangan matanya menatap tubuh Shawn yang hanya mengenakan baju dalam.

“He…he….he…sabar, Bill…nanti kita cicipi sama-sama, sampai pagi!” sahut Joe yang makin bernapsu melihat hal itu.

Beberapa saat kemudian Shawn beranjak menuju kekamar mandi. Sementara itu Emilo yang berhasil membuka pintu depan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk masuk. Para berandal itu sudah memperhitungkan segalanya, mereka mengunci pintu dari dalam sehingga nanti mereka bebas bertindak. Kabel telpon sudah mereka putus, cewek itu tinggal sendirian dan lagi badai yang akan datang sangat menguntungkan rencana mereka. Dengan leluasa mereka masuk ke kamar cewek itu. Jack membuka kulkas, yang lain masuk ke kamar Shawn. Edi memeriksa lemari pakaian Shawn.

“Hai….lihat apa yang kutemukan!” sambil menunjukkan barang temuannya. Joe segera menyahut celana dalam itu.

“Hmmmmm….mmmm…” Joe mencium celana dalam.
“Ingat aku yang pertama bercinta dengannya!” sahutnya sambil tersenyum penuh arti. Para berandal itu tak sabar membayangkan apa yang akan mereka nikmati. Lalu mereka mengambil posisi untuk bersembunyi.

Shawn selesai mandi menuju keruang tengah. Tubuhnya hanya terbalut oleh baju dalam dan kemeja putih, duduk menikmati acara TV kabel. Waktu itu pukul 20:30, cewek itu tidak menaruh curiga bahwa ada orang lain dalam rumahnya. Tiba-tiba dari arah belakang salah seorang berandal maju mendekap tubuhnya. Shawn terkejut dan segera berontak melepaskan diri.

“EVER BEEN GANG RAPED BABY? DON’T KNOW WHAT YOU BEEN MESSIN! YOU STILL REMEMBER US DON’T YOU……” ejek Edi.
Shawn segera mengenali wajah itu menjadi ketakutan sekali, ia tak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

Joe maju menerkamnya tiba-tiba, cewek itu menjerit ketakutan ketika berhasil dipeluk. Ia meronta-ronta dan menendang Joe. Tanpa disadarinya tendangannya mengenai selangkangan Joe membuatnya meringis kesakitan dan melepaskan dekapannya. Shawn segera melepaskan diri dan lari menuju pintu depan. Para berandal segera mengejarnya sambil menyorakinya. Dengan sekuat tenaga pintu depan itu berusaha dibuka, tetapi usahanya sia-sia.

“Wooooo……woooooo……ha…ha…ha….ayo sayang, mau lari kemana kamu hah….ayo sini…ha…ha….ha…” Ejek para berandal yang mengejarnya dari belakang. Shawn segera dikepung oleh para berandal. Mereka menyoraki ketidak berdayaannya. Shawn didesak terus sampai merapat kedinding, Joe yang tadi meringis kesakitan mulai maju. Pada saat cewek itu hampir putus asa, ia berhasil berkelit dari kepungan berandal itu, lolos dan lari menuju ke dapur, Shawn bermaksud lari lewat pintu belakang. Para berandal segera mengejarnya lagi. Nasib sial bagi Shawn, begitu tangannya berhasil menyentuh gagang pintu, para berandal berhasil menangkapnya kembali. Rambut pirang Shawn yang panjangnya sebahu terjambak, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Aaaahhhh….aammpun…aaah” hiba Shawn, sementara para berandal tersenyum sinis memandangnya.
“Sayang…. Kami akan memberimu pengalaman yang tak akan kau lupakan! kau tadi telah merusak acara pesta kami, sekarang kau harus membayarnya dengan tubuhmu yang indah itu……ha…ha..ha…, oya kau juga akan menyesal telah menendang punyaku, akan kujoblos kau sampai mampus! ” Joe maju dari kerumunan temannya.

Shawn tak berdaya, rambutnya dijambak sementara tangannya dilipat kebelakang. Dari dapur ia diseret menuju ruang tamu saat itu pukul 20:45. Disana ia dikelilingi oleh kelima berandal sambil didorong-dorong.

“Sayang, kita akan berpesta denganmu!” seru Edi tak sabar sambil mendorong ke arah Billie.
“Ha…..ha…ha…. kau tak akan bisa lolos kali ini….” Ejek Billie sambil mendekap tubuh Shawn. Mereka berteriak-teriak membuat Shawn makin ketakutan.

“Kemarikan dia Bill….HEY BABE, I BET MY COCK WOULD FEEL REAL GOOD WARPED UP IN YOUR PUSSY!” seru Jack tak sabar, sambil mempraktekkan gaya bercinta penuh napsu. Shawn didorong ke arah Jack yang segera merangkul nya dari depan. Mulutnya segera mencari dada cewek itu, sementara pinggulnya bergerak maju mundur seakan sedang bercinta dengannya.

“Wooooo…. Wooooou…..FUCK YOU GIRL, FUCK YOU…..” Jack menggerayangi cewek itu.
“Aaaahhhh…….aaam…punnn….aahhh…..jaa…aa ahhhh!!!” jerit Shawn ketakutan.

Tiba-tiba dengan satu sabetan, tangan salah satu berandal merobek kemeja putih Shawn, membuat cewek itu terpelanting. Emilo segera mendekap dari belakang. Sekarang tubuh Shawn hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, membuat mereka makin menjadi-jadi.

“Ah…aahh…aahh!” jerit Shawn ketika tangan Emilo yang mendekap tubuhnya dari belakang mulai menggerayangi pahanya.
“Kita akan memberimu pengalaman yang tak terlupakan, manis…ha…ha…ha…” bisik Emilo.

Para berandal lainnya ikutan beraksi. Tangan Edi meremas remas buah dada Shawn. Jack memburu kemaluan Shawn, sementara Billie dan Joe buka baju dan celana panjang mereka sambil tertawa sinis. Tubuh para berandal itu terlihat begitu kekar dan berotot.

“HEY, SOMEBODY GET BEHIND THE BITCH AND HOLD HER ARMS, I’M FUCKING HER FIRST!” Joe memberi aba-aba yang langsung disetujui teman-temannya. Cewek itu meronta-ronta di bopong kelima berandal itu keruang tengah.

“Jack, Emilo, kau pegangi tangan dan kakinya, terlentangkan dia di meja ini” perintah Joe.
Lonceng berdentang menunjukkan pukul 21:00. Disana Shawn diterlentangkan di atas sebuah meja bundar. Masing-masing tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh para berandal. Sinar lampu diatas meja membuat cewek itu silau, Shawn hanya bisa melihat tubuh-tubuh kekar mengerubunginya dan tangan-tangan berotot meraba-raba dadanya, wajah sinis dan suara tawa para berandal mengejek ketidak berdayaannya.

Lidah Joe menelusuri lehernya yang jenjang. Shawn berontak berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya tenaga seorang cewek dibanding dengan lima laki-laki yang kesetanan. Jack dan Edi memegangi kakinya, sementara tangan kanan dan kiri Shawn dipegangi erat-erat oleh Emilo dan Billie. Joe mencumbunya dengan kasar dan penuh napsu, tangannya dengan liar meremas-remas buah dada Shawn.

“I CAN SEE THE NIPPLES POKING AT HER BRA!” kata Joe yang langsung disambut oleh tawa para berandal.
“HEY, CUT THAT BRA OFF MAN. WHAT’S WRONG WITH YOU?” sahut Emilo sudah tidak sabar lagi.
“Aaaah…..aaah….ooh…jangan…..aahkh!” jerit Shawn ketika dengan satu hentakan kasar tangan Joe merobek BH yang dikenakannya. Para berandal makin seru menyorakinya. Mulut Joe segera melumat buah dada Shawn yang sintal, sementara tangan kirinya masih meremas-remas buah dada sebelah kanan Shawn. “Aaaaah….aaoooh…..ooooh…aahh …aaaahh…aaahhhhh….” desah Shawn mengeliat-liat. Putingnya dijilati penuh napsu oleh lidah Joe.

“Ha….ha….ha…. kau sungguh mengiurkan sayang!” tawa Billie menelan ludah tak sabar ingin segera menikmati gilirannya. Joe sekarang membuka celana dalamnya sendiri, penisnya yang hitam besar 10 inci itu terlihat tegak siap beraksi.

“Kenyal sekali…..ha…ha…ha…”seru Joe sambil menerkam dan mulutnya menciumi buah dada cewek itu dengan buas. Tubuh Shawn mengeliat-liat membusur, sementara buah dadanya diremas-remas sampai merah. Lidah Joe menelusuri buah dada Shawn, lalu turun ke daerah perut dan menjilati pusarnya. Beberapa saat kemudian sambil tersenyum sinis, mata Joe memelirik kearah paha Shawn.

“Oooohhh….jangan…..aaahhhh….” hiba Shawn ketakutan tidak berani membayangkan diperkosa oleh kelima berandal kekar dan berotot.

Lalu tangan Joe mulai memelorot celana dalam Shawn. Cewek itu berusaha mempertahankannya,
“Ha..ha…ha…percuma kau berontak manis!” ejek Joe ketika Shawn berontak sekuat tenaga, tetapi Billie dan Emilo makin erat memegangi tangan Shawn, perlahan- lahan celana dalamnya terlepas, rambut kemaluan Shawn terlihat ketika celana dalam berwarna pink itu dari pinggul dilorot turun kepahanya dan akhirnya terlepas.

“Cihuuuiiii……Ha…ha…ha….PARTY TIMES… ha…ha…ha….” Teriaknya sambil memutar-putar celana dalam itu, lalu dicium dalam-dalam menikmati aromanya dan dilemparkan kelantai. Mata Joe jelalatan memandangi Shawn yang telanjang bulat terlentang diatas meja. Shawn lemas karena ketakutan, ia tak berani membayangkan para berandal itu akan ‘menelan tubuhnya ramai-ramai’. Para berandal makin ramai menyorakinya, mata mereka jelalatan memandang setiap lekuk tubuh Shawn. Emilo yang tadi memegangi tangan Shawn digantikan oleh Billie.

“Oooooh…..aaaahh….am…pun…..aaaah…jang… an…aaahh..” hiba tangis Shawn.
“Diam!….THERE’S GOING TO BE A BIG PARTY IN YOUR PUSSY TONIGHT…..Ha…ha…ha…kita lihat siapa yang paling hebat bercinta denganmu!” ejek Emilo mendekati Shawn sambil mengeluarkan pisau lipat. Shawn ketakutan ketika Emilo memainkan pisau itu diantara buah dadanya sambil tersenyum sinis memandang tubuhnya. Pisau itu bergerak kearah puting susunya dan diputar-putar mengelilingi belahan buah dada Shawn yang naik-turun karena napasnya tak beraturan. Hal itu membuat para berandal benar-benar terangsang. Pisau itu terasa dingin di buah dada Shawn, lalu pisau itu bergerak kearah perut cewek itu dan turun ke daerah bawah pusar cewek itu. Edi menyeringai penuh arti ketika mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Emilo dengan pisau lipatnya.

“Ayo Milo, cukur sampai habis…..ha…ha…ha…ha…” seru Edi kegirangan.
“Aaaahh…..ohhhh…jangan….aaah….” teriak Shawn sambil berontak, tetapi para berandal itu makin mempererat pegangannya, sementara pisau lipat itu dengan buas mulai beraksi mencukur rambut kemaluannya.

“Ha…ha….ha… kesempatan yang langka ini tak akan kami lewat begitu saja. Ayo manis berteriaklah semaumu, tak akan ada yang mendengarmu saat ini.” Ejek Joe sambil menerkam buah dada Shawn, diremasnya kuat-kuat membuat cewek itu mengerang kesakitan sementara Emilo mencukur rambut kemaluannya tanpa foam pelicin sehingga Shawn merasa perih. Billie, Jack dan Edi yang memegangi kaki dan kedua tangan Shawn tertawa melihat cewek itu meronta-ronta. “Aaaaaagggg….aaaaoooohh….ooooohhh…oohh.. .” desah Shawn buah dadanya diremas-remas oleh Joe. Suara desahan itu membuat para berandal itu makin terangsang.

Dengan buas pisau Emilo beraksi, dalam beberapa menit saja rambut kemaluan Shawn telah tercukur habis. Daerah kulit bawah perut Shawn yang tadinya ada rambut kemaluannya terlihat memerah. Emilo tersenyum puas, Joe segera maju sambil mementang kaki cewek itu lebar-lebar, sekarang ia berada diantara pahanya , memandang kemaluan Shawn yang terlihat jelas karena rambut disekitar daerah itu habis tercukur.

“Ha…ha…ha…buah dadamu sungguh lezat, NOW I’LL EAT YOUR PUSSY!” kata Joe sambil menjilatkan lidahnya sementara matanya melirik kearah kemaluan Shawn.
“Oooooh….lepas…kan….jang…an ..oooOOAAHH!” tangis Shawn terhenti ketika Joe mulai menjilatinya. Lidah itu seakan menjulur panjang menjelajahi lorong vagina Shawn. Tubuh cewek itu mengelinjang-gelinjang, sementara lidah Joe bergerak seperti cacing menggali lobang.

“Oooooohhhhh…aaaauuuuoooo…oooouuu…aaaah. ..” Desis Shawn sementara kepalanya hanya bisa menggeleng ke kiri dan kanan. Tubuh Shawn bergetar, tangannya mengepal erat-erat, Emilo menciumi leher dan daerah sekitar ketiak, sambil tangannya mencubit puting susu cewek itu. Jack melepaskan kaki cewek itu, dan ikutan mencumbu perut Shawn. Lidah Jack menjilati pusar cewek itu.

“Uuuuuuhhhh….oooouuh…ooohhh…” suara desah Shawn makin keras, ketika lidah Joe masuk makin dalam divaginanya.
“Ha…ha…ha….percuma kau berontak sayang, mau tak mau kau akan menikmati pesta ini!” ejek salah satu berandal.
Buah dada Shawn memerah dan mengembang karena remasan tangan Emilo.

Joe makin bersemangat, ketika vagina Shawn mulai berlendir. Lidah itu menjelajah makin dalam bersamaan dengan pekik desah Shawn. Emilo masih mengulum buah dada cewek itu. Putingnya disedot kuat-kuat, membuat cewek itu mengeliat menahan rasa nikmat dan sakit yang bercampur menjadi satu. Tanpa disengaja dari puting buah dada Shawn keluar cairan putih seperti susu. Emilo lebih bersemangat lagi menyedoti cairan itu, sementara tangannya meremas-remas buah dada Shawn agar keluar lebih banyak.

“Uuuuggghhhh……uuuuuhhhh….uuuhhhh….aaauuuhh hhh….” desis Shawn dengan napas tersedak-sedak.
“Ha…ha…ha….ternyata tubuhmu menghianatimukan? Diam-diam kau menikmatinya……BITCH!!!!” ejek Emilo sambil menyedoti buah dada Shawn, kanan-kiri.

Lonceng berbunyi menunjukkan pukul 21:30. Rupanya para berandal itu senang bermain-main dengan tubuhnya dan berniat melakukan WARMING-UP sebelum memperkosanya. Shawn hanya bisa mengeliat-liat dikerubuti para berandal yang kekar. Lidah Joe dengan lahapnya menjilati vagina Shawn. Tidak puas hanya lidah, sekarang jari tangan Joe ikutan beraksi. Jari tengah dan telunjuk Joe masuk di lobang kemaluan cewek itu, diputar-putar seolah-olah mengaduk-aduk vagina Shawn, sementara lidahnya ikut menjilati bibir kemaluan Shawn.

“Aaaauuuuhhhhh……uuuuuhhh…..aaahhhh” desah cewek itu makin keras, membuat para berandal itu tertawa mengejek ketidak berdayaannya. Jari tangan Joe menusuk masuk dan bermain-main dengan klitorisnya, membuat Shawn mengelinjang-gelinjang. Mata Shawn terpejam, kepalanya menggeleng ke kiri kanan, Jack menciumi pusarnya, tangan Emilo meremas-remas buah dadanya. Setelah puas bermain-main, Joe mementang kedua kaki Shawn.

“Joe mau pakai kondom?” tanya Billie. Joe menolak usul Billie.
“NO WAY….Ha…ha…ha….I WANT TO FEEL SKIN TO SKIN…ok sekarang saatnya manis… NOW LETS SEE JUST HOW TIGHT YOUR CUNT IS!” Joe mengangkat pinggul Shawn tinggi-tinggi. Penisnya sekarang digesek-gesekkan disekitar bibir kemaluan Shawn berusaha menyibak belahannya. Mata cewek itu terbelalak kaget ketika merasakan kepala penis Joe yang besar dan hangat. Batang penis itu berdenyut-denyut dibibir kemaluannya.

“Ohhh…ohhhh sekarang saatnya!” pikiran Shawn melayang jauh ketika Joe mulai beraksi menindih tubuhnya.
“Ayo Joe cumbu dia sampai mampus……Cihuuui!!!” para berandal itu memberi semangat.

Joe merasakan rasa hangat yang mengalir pada kepala batang kemaluannya yang sudah menancap tepat pada pintu gua kenikmatan milik cewek itu. Joe menekan perlahan, seperempat dari bagian kepala kemaluannya mulai terbenam ….Shawn menahan napas …. ditekan lebih dalam lagi …. separuh dari bagian kepala kemaluannya melesak masuk …. dengan lebih bertenaga Joe mendesak batang kemaluannya untuk masuk lebih dalam lagi.

“Ayo Joe! sedikit lagi! Masukin saja semua! Biar dia rasain Joe!” Emilo menyoraki Joe sambil meremas-remas buah dada Shawn.

“AAAgggh!!!!” Pekik Shawn merasakan sesuatu yang menyakitkan dipangkal pahanya ketika seluruh kepala kemaluan Joe sudah terbenam kedalam liang hangat miliknya, dengan satu hentakan yang kuat, penis Joe menyeruak masuk ke dalam vagina Shawn membuatnya memekik kesakitan.

Sementara badai diluar mulai turun dengan deras dimulailah pesta perkosaan itu. Shawn terlentang diatas meja bundar diruang tengah, tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh Billie dan Edi, buah dadanya dijilati, disedoti oleh Jack dan Emilo, sementara penis Joe mengoyak-koyak vaginanya dengan ganas.

“Aaagh…..aaahh….ooooh….ooohh…” suara rintih Shawn seiring dengan gerakan ayunan pinggul Joe yang kuat. Senti demi senti batang kemaluan Joe menelusur masuk menerobos keketatan liang kemaluan Shawn yang sudah basah berlendir itu. Setiap ayunan Joe membuat tubuhnya mengelepar kesakitan karena penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam. Suara desahan Shawn membuat para berandal itu makin bernapsu menikmati tubuhnya.

“Ayo Joe…..genjot terus sampai mampus….. ha…ha…ha…” seru salah satu berandal.
Joe merasakan begitu ketatnya ujung kemaluannya terjepit di dalam vagina Shawn, selang beberapa saat penis itu terhenti menerobos keluar masuk.

“CAN’T SEEM TO GET MY COCK DEEP ENOUGH INTO YOU BABY!” Joe mengatur posisi pinggulnya, “YOU SO DAMN TIGHT!.” kemudian dengan satu hentakan yang kuat membuat batang penis itu hilang tertelan kemaluan Shawn.
“AAAaaaaggggkkk!!” suara lolong histeris Shawn ketika dengan satu hentakan kuat tanpa masalah penis itu beraksi lagi di liang vagina Shawn yang berlendir, rupanya selaput perawan Shawn robek.

“Uuuugggghhhh…. SO YOU’RE STILL A VIRGIN? Ha…ha…ha….manis, kau tak akan melupakan pengalaman ini!” ejek Joe, Penis itu dengan mudah menerjang keluar masuk dengan cepat, sementara tubuhnya menghentak hentak barbar diatas Shawn yang mendesah-desah tak berdaya. Kemaluan Shawn terasa akan robek oleh desakan penis Joe yang menyeruak masuk keluar dalam-dalam seperti membor kilang minyak. Joe melengkuh-lengkuh nikmat, pinggulnya berayun-ayun memompa, penis itu keluar masuk.

Kaki Shawn terangkat tinggi diatas meja terayun-ayun seirama gerakan pinggul Joe menghujamkan keluar masuk batang penisnya yang dengan barbar beraksi divaginanya.

Shawn berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu. Para berandal itu menyanyikan lagu “ROW YOUR BOAT”.
“Aaaahhh…aaaahh….ammm….pun….aahh…
aaahh…aaahh….sakit..ahhhhh..aaaahhh….”jerit Shawn. Pinggul Joe bergerak seperti pompa. Penis itu keluar masuk seiring desahan Shawn.

“Ayo Joe coblos terus, coblos…coblos…woooo…
wooooo BABY….” teriak Emilo sambil menciumi dada cewek itu.

“Delapan puluh delapan……delapan puluh sembilan….sembilan puluh…Ayo…” dengan semangat Edi menghitungi setiap hujaman penis Joe.

“Aaaaahhh….wahhhhaaa….aaaah….uuuuh…
uuugh….” pekik Shawn, sementara Joe berayun-ayun diatas tubuhnya. Cewek itu hanya bisa terisak-isak. Suara petir menyambar di sela-sela badai.

“YEAAAHHH. HOW’S IT FEEL, BABE, HOW’S IT FEEL WITH A REAL MAN’S BIG COCK IN YOUR BELLY? OOOOOOOOOOOOO YOU FEEL SO GOOD, SO HOT.” ejek Joe sambil memaksa Shawn yang mendesah untuk melihat penisnya mengenjot keluar masuk lorong vaginanya. Shawn bisa merasakan setiap inci dari otot dibatang penis Joe bergerak menelusuri lorong kemaluannya.

“Uuuh…uuuh….uuaah…” lengkuh Joe, sudah sekitar setengah jam dia berayun-ayun diatas cewek itu, keringat membasahi tubuh keduanya, tetapi gerakan pinggulnya tetap ganas, penisnya menyodok-sodok dikemaluan Shawn, tangannya menggerayangi pahanya dengan liar.

Sementara itu Emilo membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, penisnya panjang, (tetapi tidak sebesar Joe sekitar 8.7 inci) sudah tegak menegang. Jack masih asyik menyedoti puting buah dada Shawn. Sesekali cewek itu berusaha memberontak, tetapi Edi dan Billie mempererat pegangannya. Joe melengkuh-lengkuh nikmat di atas tubuh Shawn yang mengeliat-liat menahan berat tubuh Joe yang menindihnya.

“Seratus enam puluh enam…… seratus enam puluh tujuh…..seratus enam puluh delapan…..ayo Joe taklukan dia….ha…ha…ha…” Edi menyemangati yang langsung diikuti oleh para berandal yang lain.

“Seratus tujuh puluh tiga….seratus tujuh puluh empat…seratus tujuh puluh lima….” Para berandal yang lain ikutan menyemangati Joe.

Tubuh dan buah dada Shawn berguncang-guncang seirama dengan hentakan genjotan Joe yang makin liar. Vaginanya terasa terbakar oleh gesekan penis Joe yang buas.

“Aaaaaaahhhh…..aaaaaa….aaaaaahh…..aahhhh…. ..ooooohhh” Shawn melolong menahan sakit.
“Ayo…….ayo….seratus delapan puluh delapan…..seratus delapan puluh sembilan….seratus sembilan puluh….ha…ha…ha…” Edi memberi semangat.

“Uuuuaah….uuuuuh….uuughh…tubuhmu nikmat sekali!” Joe mengejek Shawn yang mengigit bibirnya menahan sakit. Pinggulnya maju mundur diantara selangkangan cewek itu. Jack dengan gemas mengigit puting buah dada Shawn, sementara tangannya yang satu meremas- remas buah dada sebelah kanan.

“Aaaaahh……uuuughhh…..uuughh…uuukkkh….ooo uuuughh…” rintih Shawn, sementara gerakan Joe mulai pelan, tapi mantap.

“Seratus sembilan puluh enam…..seratus sembilan puluh tujuh….” Semua berandal menyemangati Joe. Batang penisnya keluar masuk dengan barbar.
“”I’M COMING, BABY!” lengkuh Joe.
“OH GOD! NO, PLEASE ! NOOOOO!! NOO! DON’T COME INSIDE ME!!! NOOO, PLEASE!!!!…..AAAKKKHHHH!” kepala Shawn terjengkang keatas, sementara terdengar suara lolong kesakitan ketika batang penis itu menghujam dalam-dalam divaginanya.

Dengan satu hentakan kuat Joe mencapai klimax, penisnya menyemburkan sperma dalam lorong kemaluan Shawn.

“Uuuuuugggh…..ha…ha…ha….bagaimana?” ejek Joe sambil mencabut penisnya dengan perkasa.
“kau akan digilir sampai pagi!!…..ha…ha…ha…NEXT!!!” seru salah satu berandal.

Sementara itu kilat diluar menyambar-yambar, waktu itu pukul 22:25. Shawn hanya bisa terisak-isak, Emilo maju sambil menyeringai. Tanpa perlawanan yang berarti, Emilo sudah berada di antara selangkangan cewek itu.

“Ha…ha…ha…IS MY TIME TO RIDE, BABY I’M GONNA TAKE MY TIME AND FUCK YOU NICE AND SLOW. LET’S SEE HOW LONG I CAN KEEP MY DICK HARD IN THIS WONDERFULLY TIGHT CUNT OF YOURS. SEE HOW LONG I CAN KEEP YOU MOANS…..!” ejek Emilo, sementara batang penisnya dengan mudah masuk ke vagina Shawn. Emilo memulai gerakannya, pinggulnya bergerak memutar, memastikan penisnya masuk penuh, lalu bergerak maju mundur perlahan tapi dalam. Pinggulnya berayun-ayun pelan dan mantap, diantara kedua paha Shawn yang terbuka lebar, sambil meremas-remas buah dadanya. Kadang jari-jari tangan Emilo melintir-lintir puting susu cewek itu, tubuh Shawn hanya bisa mengeliat-liat, sementara dari bibirnya yang terbuka terdengar suara erangan dan desah.

Penis itu beraksi di vaginanya, pinggulnya diangkat ke antara pinggang Emilo yang maju mundur. Jack meninggalkan kerumunan menuju kulkas diruang makan. Joe duduk disofa, sambil melihat teman-
temannya beraksi diatas tubuh Shawn. Billie masih dengan erat memegangi tangan kanan dan kiri Shawn, juga Edi yang memegangi kedua kaki Shawn. Suara desah erangan cewek itu bagai musik merdu ditelinga mereka. Tubuh Shawn basah kuyup karena keringat, sementara Emilo melengkuh-lengkuh nikmat.

“Ooooooooohhhhhh…….uuuuuuhhhhh…..uuuhhhh…. .uuhhh…..
ha…ha…ha….” suara Emilo, penisnya yang panjang tanpa ampun terus mengenjot kemaluan Shawn. Buah dadanya dijadikan bual-bualan oleh Emilo. Giginya mengigiti putingnya dengan gemas, membuat Shawn menjerit kesakitan. Terlihat bercak-bercak merah bekas cupangan disekitar leher dan dada ditubuh Shawn.

“Aaaahhh…..aaaaoooohhh….ooooohhhhhh…ooooohhh h…..” desah Shawn merasakan penis Emilo menusuk keluar masuk divaginanya. Sudah sekitar lima belas menit Emilo beraksi, tubuh Shawn berguncang-
guncang seirama ayunan pinggul Emilo.

“Hai lihat apa ini…..” seru Jack yang baru kembali dari kulkas sambil membawa sebotol selai.
“Oh…ho…ho…hooo…sayang kita sekarang benar-benar menikmati tubuhmu!!!” teriak Edi girang. Beberapa saat kemudian tubuh Shawn diolesi selai, Emilo mengolesi buah dadanya sambil terus menggarap vagina Shawn.

“Ha…ha…ha… bagaimana?……kau masih kurang puas?……Kau tidak suka punyaku?…… Manisku cepat atau lambat kau akan menikmati pesta ini!” Ejek Emilo sambil menatap Shawn yang terengah-engah tak berdaya.

Joe yang duduk disofa tersenyum sinis melihat teman-temannya mengerjai Shawn. Matanya jelalatan memandangi setiap lekuk tubuh cewek itu. Tubuhnya terguncang-guncang seirama ayunan penis Emilo.
“Hei Joe……ayo ikutan!!…ha….ha…ha..wow…tubuhmu sungguh mengairahkan…..woooo…. woooouuuu….” ajak Jack sambil mengoleskan selai di paha Shawn.
Joe bangkit dari sofa menuju ke teman-temannya yang menikmati tubuh Shawn.

Penisnya mulai tegak lagi, melihat adegan didepannya. Joe segera ikutan mengoleskan selai di dada, sementara Jack meratakan keseluruh tubuh Shawn. Suara erangan cewek itu membuat mereka begitu bernapsu. Edi melepas celananya, kepala penisnya besar ( 11 inci ) maju ikutan mengolesi tubuh Shawn dengan selai.

Pukul 23.10. Kilat dan guntur bersahutan diluar, membuat jalanan bertambah sepi.
“Hah…hah….hah……uuuggghhh…”lengkuh Emilo, sekarang ayunannya tidak perlahan seperti pertama, tetapi berirama cepat dan dalam. Vagina Shawn terasa perih terbakar oleh gesekan penis Emilo.
“Ha….ha…ha….. tunggu punyaku manis, YOU WILL LOVE IT!” seru Edi sambil mengolesi penisnya sendiri dengan selei sehingga kepala penis itu terlihat gilap dan lebih besar dari yang sebelumnya.

“Uuuuuggghhhh…….uuuuuggghh…… uuuugggghhhh……”desah Shawn pendek seirama keluar masuk penis Emilo di kemaluannya.
Edi meremas-remas penisnya sendiri, sambil memandangi setiap lekuk tubuh Shawn.
“Ha…ha…ha….Ed, kau sudah tak sabar ya?……” tanya Billie sambil matanya terkagum melihat penis Edi yang makin besar, sehingga kepala penis itu seperti jamur.
“Oooooohhhhhh….uuugggghhh…..oooohh……
oooohh……..HERE I CAMEEE……!!!!” jerit klimax Emilo, penisnya menghujam dalam-dalam sambil menyemprotkan cairan putih.
“Aaaaaaakkkkkhhhhhhh……oooohhh……” pekik Shawn diantara lengkuhan nikmat Emilo.
Emilo mencium kening Shawn yang terlentang terengah-engah diatas meja.
“FUCK YOU BABE!…..ha…ha..ha….” ejek Emilo sambil mencabut penisnya.

Posisinya segera digantikan oleh Edi. Kepala penis yang besar itu digesek-gesekkan di antara paha Shawn. Edi memandangi tubuh Shawn yang sintal dan mulus basah oleh keringat.

“LET’S GO TO HEAVEN, manis…ha…ha…ha….” Bersamaan dengan kata itu Edi menciumi buah dada Shawn, sementara tangannya mengesek-gesekkan penisnya di bibir kemaluan cewek itu.

Teriakan Shawn tertelan badai yang ganas, pukul 23.45. Shawn, meronta-ronta tubuhnya membusur digumuli Edi yang penuh napsu, sementara para berandal yang lain tertawa terbahak-bahak. Tangan Shawn yang dipegangi oleh Billie,membuatnya tak bisa melawan, sehingga dengan leluasa Edi menciumi tubuhnya. Dari leher, lidah Edi terus menelusur turun ke buah dadanya, disedotnya kuat-kuat buah dada cewek itu, membuatnya mengerang kesakitan, lidahnya menjilati dengan lahap cairan yang keluar dari puting susu Shawn. Tiba-tiba dengan hentakan yang kuat penis Edi menerobos masuk kemaluan cewek itu.

“Aaaaakkkkkkkhhhhh…….”Shawn berteriak kesakitan. Penis itu terus berusaha masuk penuh, Shawn bisa merasakan kepala penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam di vaginanya.
“Uuuuugggghhhhh…..sempit sekali….uuuuaahh…
hhhaaaa….”seru Edi sambil terus mendorong masuk penisnya.
“Ayo…..Ed,……ha….ha…ha….masukkan semuanya….biar mampus dia!” teriak Joe menyemangati Edi.

Sekarang kepala penis itu sudah masuk, Edi diam sebentar merasakan otot vagina Shawn yang berusaha menyesuaikan diri dengan penisnya. Dinding vagina Shawn serasa meremas-remas penisnya, membuatnya lebih tegang.

“Ha….ha…ha….kulumat kau, manis!” bisik Edi sambil mulai menggenjotkan penisnya dengan barbar. Joe menciumi leher Shawn, Jack meremas-remas buah dadanya, Emilo meratakan olesan selai, sedangkan tangan Edi mementang pahanya agar lebih leluasa penisnya bisa maju mundur diliang kemaluan Shawn.

“Aaaahhhh……aaahhhhhh…..aaaggghhhh…
aaahhhhh…” lolongan desah Shawn digarap ramai-ramai. Suara desah dan erangan Shawn terdengar bagai musik merdu ditelinga para berandal. Tanpa menghiraukan Shawn yang sudah kelelahan, mereka terus berpesta menikmati tubuh cewek itu. Bagai menyantap hidangan lezat, mereka melahap dan menjilati tubuh Shawn yang basah, mengkilat karena olesan selai dan keringat. Penis Edi menerobos keluar masuk dengan cepat, sementara disetiap hentakan tubuhnya terdengar erangan Shawn menghiba kesakitan. Jack yang meremas-remas buah dadanya sekarang mulai menjilatinya penuh napsu, sedangkan putingnya disedoti agar keluar cairan seperti susu, Joe terus menciumi leher Shawn yang jenjang, sementara Emilo meratakan olesan selai.

“Uuugggh…….uuuuggghhh……..aauughh…..
uuugghhh….uuuuggghhh….” rintih Shawn, sudah sekitar lima belas menit Edi berpacu dengan birahi, peluh membasahi tubuhnya. Edi melengkuh-lengkuh penuh napsu, menikmati setiap inci hujaman penisnya dilorong kemaluan Shawn.

“Haaah…..haaah….uuuggh…..bagaimana manis, asik bukan…..kau akan digilir sampai pagi…ha…ha…
ha….Haah….haaah….” seru Edi sementara pinggulnya bergerak seperti memompa diantara kedua paha Shawn. Buah dada cewek itu memerah diremas-remas dengan kasar oleh para berandal. Tubuh Shawn berguncang-guncang dengan ganas seirama ayunan Edi.

“He…he…he…..buah dadamu lezat sekali, ya…..kau akan membayarnya dengan tubuhmu sayang!” ejek Jack sambil menjilatkan lidahnya keudara sementara tangannya meremas-remas buah dada cewek itu dengan napsu. Shawn hanya bisa terisak-isak sambil menahan sakit disekujur tubuhnya yang basah kuyup karena keringat dan selai. Penis Edi makin ganas menggenjot cewek itu.

“Aaaauuh…..aaagggh……uuuuugggghhhh…
uuuughhhhh….” pikik desah Shawn. Vaginanya terasa panas dan perih oleh gesekan penis Edi yang barbar.

Badai masih ganas, didekat lantai meja makan, terlihat BH dan celana dalam Shawn berserakan sementara diatas meja Shawn diperkosa dengan ganas oleh lima berandal yang kekar, tubuhnya dipentang dan dijilati penuh napsu. Buah dadanya dicengkram dan diremas-remas, lehernya diciumi, puting dan pusarnya dijilati, seluruh tubuhnya diolesi selai, sementara Edi melengkuh-lengkuh nikmat, cewek itu hanya bisa merintih dan mendesah karena penis besar dan hitam beraksi menghentak-hentak barbar keluar masuk diantara selangkangannya. Waktu menunjukkan 24:16 Edi sudah hampir mencapai klimax, irama ayunan pinggulnya makin cepat tanpa perduli Shawn yang terengah-engah kelelahan, Jack menggigit puting buah dadanya, membuat Shawn mengerang kesakitan.

“aakkkh….aaahh…ooooohhhh…” rintih Shawn diantara lengkuh nikmat Edi.
“Huuuh…uuuhhh…..uuuuhhh…..uhhhh….
HUUAAAHHHH…..” jerit Edi mencapai klimax, dengan satu hujaman yang kuat, penisnya masuk hilang tertelan dilorong vagina Shawn.

“Aaaaakkkkhhhh….” jerit Shawn tertahan, tubuh cewek itu mengeliat kejang, lalu lunglai, pingsan kelelahan, sementara penis itu menyemburkan banyak sprema dalam vaginanya. Peluh menetes dari tubuh Edi yang masih menindih cewek itu.

“Ha…ha…ha….tubuhmu sungguh menggairahkan sekali…” Raut wajahnya terlihat puas, beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya, sambil mencium leher Shawn yang masih pingsan. Jack siap-siap maju mengambil posisi.

“Biarkan dia istirahat dulu, nggak enak kalau nggak ada perlawanan” Cegah Joe.
“Kita beri dia obat perangsang saja!” usul Billie sambil tersenyum penuh napsu.
“Jangan, kita simpan itu untuk yang terakhir” Joe duduk disofa.

Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 24:40, Shawn yang baru saja siuman dibopong ramai-ramai menuju kamarnya, disana cewek itu dilempar ke ranjang dan langsung diterkam oleh para berandal yang sekarang semuanya sudah telanjang bulat. Cewek itu berusaha berontak melarikan diri, tetapi dengan cekatan para berandal itu menerentangkan tubuh Shawn. Cewek itu berteriak ketakutan ketika para berandal dengan buas menggumuli tubuhnya.

“Aaaahhhh…..aampun…..aaaahhhh….”hiba Shawn, sementara Edi dengan kasar mulai meremas-remas buah dada kanannya. Joe berusaha mencium bibirnya yang merah merekah. Emilo menjilati dan menyedoti puting sebelah kiri.

“Aaaaduuuhh…aaaaawww…aaaahhh…..ja….
ja….ngan…”teriakan Shawn tak digubris. Jack maju mengambil posisi diantara kedua kakinya, tersenyum sinis sambil membungkuk menciumi leher cewek itu. Shawn mengeliat-liat tak berdaya. Lidah Jack menelusur turun dari lehernya menuju perutnya Shawn.

“Aaaaaahhh…..le…paskan…..aaaahhh” jerit Shawn ditengah kerubutan berandal. Jack mulai menjilati daerah pusar Shawn.

“Manis…tadi kulihat kau suka disco! bagaimana kalau sambil diputarkan lagu…hmmm?…
disco…rock…atau metal?….OK metal saja!” Billie mengejek Shawn. Beberapa saat kemudian terdengar lagu metal, membuat para berandal itu lebih bersemangat menikmati setiap lekuk tubuh Shawn.

“Ha…ha…ha…manis, kami masih belum puas!” ejek Jack. Billie membaca surat yang ditemukannya dimeja rias pinggir ranjang.

“Hmmmm…..SO YOUR NAME’S Shawn McCatry….
INTERESTING….” gumam Billie sambil melihat Shawn yang mendesah-desah tak berdaya dijilati dan diciumi teman-temannya. Beberapa saat kemudian Billie naik keatas ranjang, berbaring disamping cewek itu.

“Nah Shawny sayang, ARE YOU READY TO LOSE YOUR VIRGINITY IN ANOTHER HOLE? kau benar-benar beruntung manis! kau pasti puas!” kata Billie sambil menjilat muka cewek itu yang menangis ketakutan. Billie merangkul tubuhnya dari samping dan digulingkan menghadapkan keatas terlentang sehingga posisinya sekarang dibawah Shawn.

“Hai….sayang pestanya dilanjutkan. Manis kau pikir tadi sudah yang paling sakit, tunggu yang ini kau akan rasain sakit yang sebenernya!” kata Emilo sambil menerkam gemas buah dadanya.

“Dan sekarang kau dapat kehormatan manis BECAUSE I’LL TAKE YOUR ASS VIRGINITY!!” mata Shawn terbelalak ketakutan.
“Oooohhh….jang…aan…PLEASE!!!!” hiba Shawn disela isak tangisnya.

“Shawny kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya sayang!” ejek Billie.
Cewek itu berusaha berontak sekuat tenaga, tapi kerubutan dan remasan dibuah dadanya membuatnya tak bisa berkutik. Shawn didudukkan tepat diatas tubuh Billie, berandal itu mengarahkan penisnya yang tegak di lobang anus cewek itu dan segera dihujamkan dalam anus Shawn tanpa pelumas sehingga membuatnya menjerit kesakitan.

“AAAAKKKKKKKHHHHHH!!!!” lolong Shawn, sementara penis Billie (10 inci) masuk penuh dalam anusnya, sekarang cewek itu dipaksa tidur terlentang. Jack diatas menindihnya sementara Shawn meronta-ronta kesakitan, anusnya terasa sakit oleh batang penis Billie yang berada dibawahnya. Jack yang sudah puas menjilati perut Shawn, sekarang mementang kedua paha Shawn, mengarahkan penisnya (8 inci) ke lorong vagina cewek itu. Apa daya tenaga seorang cewek yang dikeroyok lima lelaki kekar, dengan mudah masing-masing tangan Shawn diikat dengan tali BH dijeruji pilar ranjangnya agar tidak bisa berontak.

Jack segera memasukkan penisnya ke vagina Shawn yang masih meronta-ronta, sambil tertawa terbahak-bahak. “Ha….ha…ha…. sayang sekarang kau rasakan ini!” sambil berkata seperti itu, Jack dan Billie mulai menggoyangkan pinggul mereka. Penis Billie bergerak naik-turun dianus sedangkan penis Jack menyodok keluar masuk seirama nada metal yang makin bersemangat. Teriakan cewek itu tertelan oleh bunyi halilintar yang keras. Usaha Shawn untuk berontak membuat ikatan ditangannya makin erat dan menyakitkan. Tubuh Shawn meronta-ronta kesakitan, tanpa disadarinya gerakannya itu makin membuat Jack dan Billie yang memperkosanya makin terangsang. Tubuhnya mulai menggelinjang kesana kemari, pinggulnya bergerak-gerak ke kanan, kiri, memutar, sementara Billie yang dibawah mempertahankan kecepatan ritme keluar masuk batang penisnya dianus Shawn. Suara kecipak akibat gesekan kemaluan mereka berdua semakin terdengar. Sodokan batang penis Billie dianus Shawn membuat tubuh cewek itu meliuk-liuk tak beraturan dan semakin lama semakin bergerak naik seolah menantang kejantanan Jack.

“Ha…ha…ha….Shawny kau suka ya? Nih akan kumasukkan lebih dalam lagi! HAAAHHHH!!!!” teriak Jack sambil bertumpu pada remasan tangannya dibuah dada cewek itu ia menyodokkan penisnya lebih dalam ke vagina Shawn.

“Oooooohhhh……aaahhh….aaahhhh…aahh…
ampun…amp..aaaaahhh…aaahh!!!!” erang Shawn kesakitan. Sementara kedua penis berandal itu mengkoyak-koyak vagina dan anusnya, begitu penuh nafsu, ganas dan liar. Melihat pemandangan itu dan terbakar oleh api birahi, para berandal lainnya sambil tertawa terbahak-bahak melihat ketidak berdayaan Shawn, mereka meremas-remas penis mereka sendiri.

“Ohhh….ha…ha…ha….bagaimana sayang, bagaimana rasanya….puas nggak? tenang pestanya masih lama….tunggu giliran kita…ha…ha…ha..” seru para berandal lainnya.

Beberapa menit saja penis mereka sudah tegak tegang siap beraksi kembali. Ranjang berderit-derit seirama musik metal dan gerakan mereka yang barbar, Shawn ditindih ditengah-tengah mereka yang menghentak-hentak berpacu dalam birahi. Gerakan Billie bagaikan dongkrak memaksa tubuh Shawn mengelinjang keatas mengundang penis Jack masuk ke lorong vaginanya, sedangkan gerakan Jack yang seperti memompa dari atas menekan kebawah sehingga penis Billie masuk penuh, begitu seterusnya, membuat cewek itu terengah-engah menahan rasa sakit di anus dan vaginanya sekaligus. Billie menciumi leher, tengkuk, telinganya penuh napsu.

“Uuuggh…uuggh…uuuughhh….” rintih Shawn seirama ayunan kedua penis itu. Cewek itu bisa merasakan seakan-akan kedua penis itu saling bertemu dan bergesekan didalam perutnya, hanya berbeda lorong saja.

Jack dan Billie melengkuh-lengkuh nikmat. Buah dadanya diremas-remas dengan kasar sekali oleh Jack. Shawn merasakan kesakitan, tapi remasan dibuah dadanya membuatnya tetap tersadar. Para berandal yang lainnya bersorak-sorak menyemangati keduanya melahap tubuh Shawn , Penis-penis mereka digesek-gesekkan di tubuh cewek itu. Waktu menunjukkan Pukul 01:20 sementara pesta perkosaan itu makin brutal terbawa napsu birahi para berandal. Badai diluar makin ganas dan guntur sesekali menggelegar menelan teriakan Shawn. Joe menemukan lipstik dimeja rias dan dioleskan dengan paksa dibibir Shawn.

“Oooooohhhh….ooouuugggg……uuuugggg” suara desah kesakitan yang keluar dari mulut Shawn. Bibirnya yang merah oleh warna lipstik terbuka lebar. Shawn memejamkan mata, berusaha menghiraukan rasa sakit ditubuhnya.

“Uuuuhhh..uuuuhhhh….YOU HAVE A TIGHT ASS, BABY!!! Hah….Yiiiihhaaaaaaa…….” seru Billie merasakan nikmat dibatang penisnya. Tangannya meraba-raba paha Shawn yang terbuka lebar oleh desakan pinggul Jack. Para berandal yang lainnya sibuk mengesek-gesekkan penis mereka pada tubuhnya yang tak berdaya.

“OKAY, BABY, NOW I’M GOING TO GIVE YOU SOMETHING NICE TO SUCK ON WHILE YOU GET SOME EXERCISE FROM BEHIND! BE NICE AND DON’T BITE OR YOU KNOW WHAT WILL HAPPEN.” kata Joe yang memainkan penisnya didekat pipi Shawn. Para berandal lainnya langsung tertawa mengejek cewek itu. Shawn terkejut mendengar itu, para berandal itu masih belum puas menikmati tubuhnya. Kelima berandal itu sudah memperkosanya habis-habisan dan sekarang Joe yang merengut keperawanannya akan memaksanya untuk mengulum penisnya.

“I’M IN LOVE WITH YOUR SEXY MOUTH. LET’S SEE IF IT FEELS AS GOOD AS I THINK IT WILL!” Shawn berusaha mengelak ketika penis Joe disodorkan di mulutnya. Hal itu membuat Joe marah.

“Buka mulutmu BITCH!!!” Shawn mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Joe memberi tanda pada teman-temannya dan mereka mengerti….tiba-tiba dengan serentak penis Billie dan Jack menghujam dalam-dalam dan Joe menjambak rambut Shawn, sehingga cewek itu mengerang kesakitan….pada saat itulah dengan segera batang penis Joe masuk penuh dalam mulut Shawn, hampir menyentuh ujung tenggorokannya, membuatnya tersedak.

“Mmmmmhhh….mmmhhh…mmmmhhh….” teriakan Shawn teredam oleh penis Joe. Para berandal lainnya tertawa sinis.

“OPEN WIDE!” perintah Joe memaksa cewek itu mengulum seluruh batang penisnya. “LOOK AT ME HONEY….THAT’S NOT WIDE ENOUGH FOR ME!” Shawn terpaksa menurutinya, sementara Billie dan Jack masih terus berpacu.

“THAAAT’S A GOOD GIRL, NOW YOU BETTER START SUCKING” sekali lagi Joe memerintahnya sambil memaju mundurkan pinggulnya, penisnya terlihat keluar masuk dalam mulut Shawn.

“Hhmmmmm….mmmmmhhh….mmmmmhhhh…” Jerit Shawn tertahan, Joe masih menjambak rambutnya dan mendorong maju mundur kepala cewek itu. Setiap kali batang penis itu masuk penuh, membuat Shawn tersedak. Lidah Shawn berusaha menahan penis itu masuk lebih dalam. Joe, Billie dan Jack makin ganas, sepertinya mereka menikmati setiap inci tubuh Shawn.

Hujan badai dan angin diluar masih belum reda, sementara pukul menunjukkan 01:43. Jack sudah hampir mencapai puncaknya, ia makin mempercepat ayunan pinggulnya, batang penisnya terlihat cepat sekali menerobos vagina Shawn. Sedangkan penis Joe masih beraksi di mulut Shawn. Kepalanya yang terdorong maju mundur beradu dengan perut Joe seirama lagu metal. Batang penis yang besar itu bergerak keluar masuk diantara bibir Shawn , dan batangnya terlihat merah karena terkena lunturan lipstik dari bibirnya.

“Aaaahhhh…… WARM AND JUICY! SHE NEEDS MORE PRACTICE GIVING HEAD THOUGH.” erang Joe kenikmatan, matanya terpejam. Billie yang berada di bawah, tangannya meremas-remas buah dada Shawn, sementara kedua berandal yang lainnya, Emilo dan Edi menjilati putingnya. Penis Billie masih terbenam keluar masuk dianus cewek itu.

“Eeemmmmmhhhh…..mmmmhhhhh…..mmmmmghhh” desah Shawn terbungkam. Jack makin memacu ayunan batang penisnya sambil mencengkram pinggul Shawn. Wajahnya terlihat merah berkeringat, napasnya memburu menuju puncak birahi. Gerakan itu juga mempengaruhi Billie, penisnya menerobos naik turun cepat sekali.

“Hah…hah…hah…hah…hah…HAAAAHHH….
I’M CUUMMMIN!” teriak Jack, tubuhnya mengejang, penis itu menyemburkan cairan putih dalam vaginanya, wajah Jack mengexpesikan kepuasan. Batang penis itu masih berada didalam lorong vaginanya sampai sprema yang disemburkannya habis, dan Jack mundur kebelakang. Billie yang dibawahnya juga hampir mencapai klimax menyusul Jack.

“Ooooohhh….uuuuuggghhh….uuuuggghh……
uuuggghhhhh……UUUUUUUUGGGGGGGHHHHHHH!!!!” teriak Billie sambil mencengkram buah dada cewek itu kuat-kuat, penisnya menghujam dalam anus Shawn dan menyemprotkan Sperma banyak sekali membasahi lorong anusnya. Emilo dan Edi yang menciumi makin bernapsu sekali menjilati putingnya.

“Oooohhhhh……nikmat sekali…..aaahhh….
ooooohhh…” lengkuhnya puas, sementara itu ia tetap dibawah Shawn. Tinggal Joe yang masih beraksi, bibir Shawn serasa membalut erat batang penisnya yang keluar masuk dengan cepat. Dari pinggir bibirnya terlihat cairan putih mulai keluar menetes ke dagunya. Lidah cewek itu bisa merasakan setiap urat dari batang penis Joe yang merah kelunturan lipstiknya.

“Eeeemmmmhhhhh….eemmmmmppp…mmmppphhh…” desah Shawn setiap kali, kepalanya terbentur perut Joe, yang menarik rambutnya maju mundur. Billie yang dibawah meremas-remas buah dadanya yang sintal, membuat tubuhnya terkunci tak bisa berontak. Tangannya yang masih terikat tali BH juga membuat para berandal itu puas menikmati setiap jengkal tubuhnya yang indah itu. Beberapa saat kemudian Joe mencapai puncak birahinya, batang penis itu menerjang masuk dalam bibir Shawn dan menyemburkan sperma hangat dalam tenggorokannya membuat cewek itu tersedak menelan cairan itu.

Pukul 02:15, Tanpa memberi kesempatan istirahat, Emilo dan Edi maju mengambil giliran mereka. Mereka berdua tertawa sinis melihat Shawn yang masih merintih kesakitan setelah diperkosa vagina, anus dan mulutnya secara bersamaan. Edi maju diantara kedua paha Shawn, dan mengarahkan penisnya ke bibir kemaluannya. Beberapa saat kemudian terdengar erangan dari bibir Shawn, sisa sperma masih menetes didagu cewek itu. Buah dadanya berguncang-guncang bersamaan gerakan ‘SUPER’ penis Edi yang sudah memompa keluar masuk di vaginanya.

Sambil tersenyum sinis, Emilo jongkok diperut Shawn, “I’ll FUCK YOUR TITS….” katanya dan segera tangannya meremas-remas buah dada cewek itu, sementara penisnya berada diantara kedua lembah itu, terjepit, tergesek-gesek diantara buah dadanya yang merah, bergerak maju mundur.

“Aaaaahhhhh…….auuuuhhhhh…..aaaaahhh…
aaaaahhhh……uuuuugggghhhh…..” desah Shawn diantara derit ranjang. Ketiga berandal lainnya, tertawa terbahak-bahak. Dengan tangan masih tetap terikat erat oleh tali BH dijeruji ranjang yang berderit-derit, tubuhnya terasa sakit semua buah dadanya yang diremas-remas, diputar kiri-kanan dengan buas menjepit batang penis Emilo yang beraksi maju mundur diantara buah dadanya, sementara pinggul Edi menghentak-hentak barbar diselangkangannya yang terbuka lebar. Vaginanya perih oleh hujaman penis yang bertubi-tubi. Shawn bisa melihat pantulan gaya kedua berandal yang sekarang melahap tubuhnya itu dikaca cermin meja rias. Suara erang desahan dan gayanya diperkosa membuat para berandal itu sangat terangsang. Tidak terlintas sedikitpun dipikiran para berandal untuk berhenti. Pukul menunjukkan 02:43 sudah setengah jam mereka mengenjot tubuh cewek itu.

“Uuuuggghhh….uuuuuhhh….uuuugghhh….
uuugghhh….uuuuugggghhhh….” disela-sela halilintar yang mengelegar terdengar rintihannya, Shawn sudah lemas, diperkosa oleh lima berandal, semuanya main double. Tubuhnya mengeliat-liat lemah menahan rasa sakit.

“Ha…ha…ha…OH BABY YOU’RE SO DAMN HOT… I’M GONNA FILL YOUR HOLE AGAIN…Yeeehaaa…HAH….HAH…
HAAAGGHH….HAAAGGGHHHH…..! seru Edi makin brutal menghujamkan batang penisnya, membuat ranjang makin berderit-derit keras, wajahnya tegang menahan nikmat, sampai akhirnya penisnya menyemburkan sperma dilorong kemaluan Shawn. Emilo juga hampir mencapai klimaxnya, buah dada cewek itu padat mengembang merah. Putingnya mengeras, beberapa tetes cairan susu keluar dari sana, membasahi tangan Emilo yang dengan gemas meremat-remat buas.

“Oooohhhh….buah dadamu ternyata enak sekali…
ooooohhhh…..uuuuggghhh….HOW IT’S FEEL BABY…MY COCK BURIED BETWEEN THEM…SQUEEZING…POUNDING…THRUSTING…
ooohhh….OOOOHHH…” peluh menetes dari dahi Emilo yang melengkuh nikmat. Edi sudah duduk disamping ranjang, mengamati Emilo yang masih belum selesai. Bersama keempat berandal lainnya mereka mengerubungi dan menyoraki memberi semangat Emilo. Batang Penisnya yang besar jelas terlihat urat-uratnya terbenam dan bergerak maju mundur terjepit dibuah dada cewek itu.

“Uuuuhhhh…..ooouuuhhh….uuuuhhhh…” rintih Shawn. Beberapa saat kemudian tubuh Emilo mengejang dan dari kepala penis itu tersembur cairan putih kental membasahi wajah dan buah dada Shawn.

“NEED TO FRESHIN YA UP, CLEAN THAT FUCKIN PUSSY AND OUT SO NOBODY’S DICK SLIPS OUT!” celutuk Billie sambil melepas ikatan tangan Shawn.

Badai masih ganas, seperti suasana ‘pesta’ dirumah Shawn. Pukul 03:10 cewek itu oleh kelima berandal diseret kekamar mandi, sebelah kamarnya. Disana kepala Shawn dibenamkan kedalam air berkali-kali, selama beberapa saat, sementara tubuhnya dibersihkan oleh air dingin dari pancuran shower. Air dingin itulah yang membuat Shawn yang sudah setengah pingsan menjadi bangun, napasnya tersedak oleh air yang masuk keparu-parunya. Tangan-tangan meraba-raba seluruh tubuhnya membersihkannya dari lumuran selai dan sperma para berandal.

“Nah sayang, sekarang kita coba gaya DOGGIE STYLE versiku!” seru Joe sambil memerintah teman-temannya untuk menunggingkan tubuh cewek itu. Mereka dengan semangat segera melakukan perintah Joe. Shawn pasrah, tubuh dipaksa menungging, sementara tangan kanan dan kirinya dipegangi erat-erat oleh Emilo dan Billie sehingga tubuhnya tidak jatuh, Jack menjambak rambutnya sehingga kepala Shawn mengadah kedepan, sedangkan Joe membopong pinggul cewek itu. Sekarang posisi Shawn menggelantung nunging dengan batang penis Joe yang siap beraksi di lobang anusnya. Air shower yang menyirami wajahnya, membuat rambutnya basah kuyup, dari pandangannya yang terganggu oleh sebagian rambutnya yang menutupi mata, Shawn bisa melihat Edi yang tersenyum sinis melihat ke pasrahannya.

“Oh…ampun….am…pun….PLEASE,….
lepas…kan….aku…” hiba Shawn kepada para berandal itu. Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar hibaan cewek itu.

“A HOT SEXY BODY LIKE YOURS NEEDS TO BE FUCKED ALL THE TIME!” sahut Jack yang menjambak rambutnya. Percuma Shawn menghiba, dari pantatnya yang sekarang nunging, terasa kepala batang penis Joe yang mulai dimasukkan ke lorong anusnya. Tubuhnya bergetar membayangkan rasa sakit yang akan dirasakannya lagi.

“Am…..pun…..jang….an…ohh…..ja…ngan …
jang…an….Aaagggkkkkk!!!” jeritnya menghiba kesakitan merasakan sesuatu yang besar mulai masuk dilorong anusnya.

“FUCK YOU GIRL!!!!” seru Joe sambil mulai mengenjotkan batang penisnya menjelajahi lorong anusnya yang sempit itu.

“Aaaggghhh….aaggghhhh….aaahhhh….aaahhh.. ..” erang Shawn terdengar mengema diruangan kamar mandi, tubuhnya yang nungging berayun-ayun maju mundur bersamaan gerakan pinggul Joe. Edi yang tidak ikut memegangi tubuh Shawn, maju jongkok disamping tubuhnya, matanya memandang buah dadanya yang mengelantung terayun-ayun. Lalu ia mulai ikut meremas dan menghisap buah dada sebelah kanan cewek itu dengan rakusnya.

“Aaaaagghh….amm…punn….aaaahhh….aaahhh. ..
sa…kit……aaahh……aaa…duuuhhh……aaaahh h….” desahannya yang mengema terdengar makin sexy ditelinga para berandal. Joe makin brutal menghajar anusnya. Tangannya mencengkram pinggul Shawn erat-erat, mempertahankan posisi cewek itu agar tetap menungging. Tubuh Shawn serasa akan terbelah menjadi dua oleh hujaman penisnya. Suara benturan antara paha Joe dan pantat Shawn terdengar jelas desela-sela curahan air shower.

“Ayo Joe….cobos terus….ha…ha…ha….” seru Emilo yang memegangi tangan Shawn, penisnya menjadi tegang lagi mendengar suara desahan Shawn. Rambutnya yang tergerai basah menjuntai diantara leher dan pipinya. Joe melihat batang penisnya menerjang keluar masuk di anus Shawn, sementara ia melengkuh-lengkuh menikmati setiap hujaman ayunannya. Lorong anus yang sempit mencengkram erat batang penis Joe. Shawn meringis menahan rasa sakit dianusnya.

“Ooooohhh….nikmat sekali rasanya…uuuggghhh…
uuuggghhh….” Joe menikmati setiap inci hujaman batang penisnya dianus cewek itu.

Tubuh Shawn terguncang-guncang seirama genjotan Joe, rambutnya yang dijambak oleh Jack membuatnya menegadah kedepan, dari sela-sela rambutnya yang tergerai ia bisa melihat Edi yang sekarang jongkok dibawah dadanya dengan rakus menghisapi puting buah dadanya yang terayun-ayun.

“Aaaahhh….aaagggghhh….aaagghhh….” erang Shawn kesakitan. Penis Jack yang dekat dengan wajah Shawn sudah tegang, dipukul dan digesek-gesekkan dipipinya agar mengeras. Shawn tidak bisa mengelak, karena posisi Jack yang menjambak rambutnya, membuat wajahnya didepan selangkangan berandal itu. Sebentar saja penis itu sudah mengeras, siap beraksi. Dari matanya Shawn bisa melihat penis itu begitu besar dan dekat dengan wajahnya.

“SUCK ON IT, YOU LITTLE BITCH… PUT IT IN YOUR MOUTH LIKE BEFORE…” perintah Jack agar Shawn segera mengulumnya.

Penis yang sudah tegang itu dengan paksa menghujam dalam mulut Shawn, dan segera bergerak maju mundur seirama gerakan ayunan penis Joe di anusnya. Setiap kali penis Joe menghujam dianusnya, bibir cewek itu mengulum penuh batang penis Jack, begitu juga sebaliknya, saat Jack menghujamkan penisnya di mulut Shawn, batang penis Joe melesak masuk dalam lorong anusnya.

“Eeemmmm…eemmmm….mmmmhh” desah Shawn terbungkam oleh hujaman penis Jack. Sementara itu Emilo dan Billie yang memegangi tangan kanan dan kirinya tertawa terbahak-bahak. Edi yang berada di pinggir menghisapi puting Shawn yang menggelantung, memandang posisi “DOGGIE STYLE” itu dengan penuh napsu.

“Ohhhh…..yeah…..aahhh…aaahhhh….aaahhh….y ii….haaa…..” lengkuh Joe
menikmati setiap inci hujaman penisnya dianus Shawn.
“Ha…ha…ha…menggairahkan sekali….ayo Joe sikat terus….ha…ha..ha…” komentar Edi terangsang oleh gaya posisi Shawn diperkosa oleh kedua temannya. Di dinding pipi cewek itu terlihat batang penis Jack bergerak maju mundur.

“Hemmp…eemmmpp….mmmpp….mmmmhhh” suara desahan Shawn seiring irama ayunan Joe dan Jack. Air mata Shawn menetes bercampur oleh derasnya siraman air shower. Mulutnya terasa getir dan pekat oleh cairan berlendir yang mulai keluar dari kepala penis Jack. Tanpa perasaan belas kasihan, melihat Shawn yang berusaha mengambil napas lewat sela-sela hidungnya yang kadang tersedak air, Jack dengan ganas memaksa kepala Shawn bergerak maju-mundur dibantu oleh ayunan Joe yang memompa batang penisnya di anus cewek itu.

“Ooohhh…yeah….SO THIGHT….OOOHHH…SO HOT…DAMN SEXY ASS!”
lengkuh Joe sambil menarik penisnya dari lorong anus Shawn. Edi yang sudah puas menciumi buah dadanya memaksa cewek itu untuk meremas-remas penisnya. Shawn tak dapat menolak, Emilo yang memegangi tangannya membantu Edi memaksa Shawn.

“Aaaahhh…aaaahhhh… GOOD GIRL….aaaahhhh…” puji Edi dengan nada mengejek ketidak berdayaan Shawn. Ditelapak tangannya, cewek itu bisa merasakan (11 inci)
batang super penis Edi makin lama bertambah tegang dan besar.

Jam dinding dikamar Shawn menunjukkan pukul 03:45, Joe sudah hampir klimax. Beberapa saat kemudian setelah hujaman brutal dianus Shawn, dari batang penis Joe menyemburkan sperma.

“Aaaaahhhhh…..aaaahhh….ooohhh….yeah….F UCK YOU GIRL….ha…ha…ha…”
ejek Joe puas menyodomi Shawn.
Sementara Jack juga hampir mencapai klimax, lengkuhannya terdengar mendengus-dengus, dari sela-sela bibir Shawn yang membalut rapat batang penisnya terlihat cairan putih kental keluar menetes didagunya.

“Eeemmmppphhh….eemmmphhh….EEEMMPPPP!!!! teriak Shawn terbungkam saat penis Jack menyemprotkan sisa sperma ditenggorokkannya. Tanpa disenggaja tangannya mengenggam erat penis Edi, membuat Edi menjerit kesakitan.

“…..AAAAHHHH……” pekik Shawn ketika sebuah tamparan mendarat dipipinya.
“… BITCH…I ORDER YOU TO SQUEEZE IT SLOWLY….NOT TO GRAP IT
HARD…DAMN BITCH…” Edi menyumpahi cewek itu.

“Joe, bantu ikat dia di tiang pancuran!” perintah Edi. Dengan kasar tubuh Shawn dibopong sementara kedua tangannya diikat diatas tiang pancuran shower. Shawn berusaha berontak tetapi para berandal itu terlalu kuat baginya. Beberapa saat saja tangannya sudah terikat erat ditiang pancuran shower.

Mereka tertawa memandangi tubuh Shawn yang tersiram air pancuran yang masih mengguyur dari atas. Posisi buah dadanya yang bulat besar mengelantung tertarik oleh kedua tangannya yang terikat erat ditiang pancuran sehingga terlihat menantang. Edi segera mendekati tubuhnya

“Oh…ampun…jangan….aahh…aahhh…ampun!! ” iba cewek itu ketakutan sementara kakinya menendang-tendang tetapi dengan cekatan Edi segera mengangkap salah satu kakinya, dan dengan mudahnya segera mendekap tubuh cewek itu. Penisnya yang tegak dan super besar itu tergesek-gesek di daerah bawah perut dan paha Shawn yang masih berontak berusaha melepaskan pelukan Edi.

Edi terbahak-bahak melihat Shawn meronta-ronta, baginya itu merupakan suatu tantangan untuk ditaklukan. Shawn tidak menyadari hal itu, bahwa semakin dirinya meronta-ronta, semakin para berandal itu terangsang. Gerakan-gerakannya terlihat erotis bagi para berandal. Edi mendesaknya merapat kedinding kamar mandi, sementara tangannya meraba-raba menelusuri tubuh Shawn dari lengannya terus turun menuju lingkar buah dadanya yang sintal, diremas-remasnya sebentar buah dadanya, lalu bergerak turun menelusuri lekuk ketiaknya dan pinggangnya yang ramping, lalu mengerayang lebih kebawah lagi menuju pinggulnya dan berhenti di belahan pantat Shawn yang sintal dan bulat, diremas-remasnya dengan penuh napsu, sementara bibirnya menciumi leher dan puting buah dadanya yang basah kuyup oleh siraman air shower.

Penisnya tegang sekali siap menghujam ke kemaluan Shawn. Rontaan-rontaan Shawn membuat penis itu tergesek-gesek diantara paha dan bibir vaginanya, dengan buas Edi tetap menggumuli tubuh Shawn. Para berandal yang lain menyoraki Edi yang berusaha menaklukan cewek itu. Tubuh Shawn terguncang-guncang membusur, sementara Edi menciumi leher dan mengigit buah dadanya.

“Oooohhh….aammm…punn…aaah…jang…ann.. ” Shawn memelas diantara gumulan tubuh Edi yang kekar berotot.
“Ed, kita gilir digarasi saja!” celutuk Emilo memberi ide.
“Ha..ha..ha…bagaimana manis?” ejek Edi pada Shawn.

Halilintar mengelegar bersamaan dengan para berandal yang tertawa terbahak-
bahak sambil menyeret Shawn menuju kegarasi, mereka melewati jam dinding yang ketika itu menunjukkan pukul 4.10. Garasi Shawn berada di basement, beberapa saat kemudian mereka sudah menerlentangkan tubuh Shawn diatas kap mobil Jeep. Shawn berusaha berontak, tetapi tangan kanan dan kirinya segera dipegang erat-erat oleh Jack dan Emilo lalu diikat dengan kabel ditiang kaca spion mobil, sementara Edi menindih tubuhnya agar tak banyak berontak.

“Ok…Shawny sayang, sekarang kita lanjutkan pestanya, ha…ha…ha…” seru Edi sinis memandang tubuh Shawn yang diikat terlentang diatas kap mobil, hasratnya mulai naik lagi. diremas-remasnya buah dada cewek itu dengan gemas, membuat Shawn mengerang menghiba kesakitan, sedangkan Emilo menciumi lehernya, Jack dan Billie menelan ludah menanti giliran mereka.

“Ayo Joe tunggu apa lagi” ajak Emilo melihat Joe meninggalkan garasi.
“Ok beres, aku keatas sebentar mau ambil kamera” sahut Joe sambil meninggalkan garasi. Rupanya Joe tadi dikamar Shawn melihat kamera dan sekarang muncul ide diotaknya. Ruangan garasi itu terlihat remang-remang, sesekali gerakan tubuh para berandal itu terlihat disela-sela cahaya halilintar dengan liar mengumuli tubuh Shawn.

“Aaagghhh…aaahhh…ampun…lepaskan…aaaggg ..” hiba Shawn berusaha melepaskan cengkraman dibuah dadanya.
Makin Shawn berontak makin buas Edi meremas-remas buah dadanya. Cairan seperti susu itu mulai keluar lagi dan dengan lahapnya mulut Edi menyedoti putingnya.
“Ha…ha…ha…sayang sebentar lagi kau akan difoto bersama kita…ha…ha..ha…bagaimana?” seru Emilo sinis.
“BE A GOOD POSE WILL YA? wooo….woooo…woooo…ha…ha…ha…”
ejek Billie sambil tertawa.

Shawn kaget, membayangkan difoto dalam keadaan diperkosa, betapa memalukannya. Tubuhnya akan diclose up pada bagian-bagian tertentu, sementara para berandal akan dengan leluasa mengambil gambar pose dirinya.

“Aaahhh….oh…PLEASE NO…PLEASE…” Shawn menghiba agar para berandal itu tidak memfotonya. Para berandal itu tetap tak menggubris.

“Shawny…” Edi memanggil namanya membuat lamunan cewek itu berhenti, “LET’S FUCKING YOUR CUNT!!! BABY…YIIHAAAAA……..” Penis Edi yang sudah tegang tiba-tiba beraksi memasuki vagina Shawn dengan satu hentakan keras.

“Aaaakkkkkhhhh….aaahhhh….ooohhh…” tubuh Shawn menggelepar kesakitan oleh genjotan ‘SUPER’penis Edi. Penis itu mulai menerjang masuki vaginanya. Walaupun sudah banyak sekali penis yang menghajar vaginanya, tetapi ‘Super’ penis Edi membuat lubang vagina itu terasa sesak dan sempit.

“Aaaaakkkhhh…aaakkkhhh…aaaahhh…aahhhh… ” lolong desah Shawn sementara pinggul Edi bergerak maju mundur mengenjotkan batang penis itu agar masuk lebih dalam dikemaluan cewek itu. Kali ini Edi bermain “FAST IN AND SLOW OUT”, ia ingin agar Shawn menikmati permainannya

“Ha…ha…ha…bagaimana sayang…hemm…ahhh…aahhh….OOOHHH YEAAHH
…aahhh…” ejek Edi sementara tubuhnya menerjang maju menghujamkan penisnya agar masuk penuh dilorong kemaluan Shawn, lalu ditarik keluar perlahan melewati dinding vagina Shawn. Menghujam lagi dan ditarik keluar perlahan, berkali-kali membuat Shawn mengelinjang kesakitan, sementara dari mulut Edi keluar lengkuhan-lengkuhan nikmat setiap kali penis itu ditarik keluar dan dengan segera menghujam kembali.

“Aaahhh….aaaahhh…ooohhh….aahh….uuuhhhg g” suara erangan Shawn sementara tubuhnya mengeliat-liat merasakan setiap genjotan dan urat dibatang penis Edi.
‘SUPER’ penis itu menerjang dengan cepat dan setelah masuk penuh dalam lorong vagina Shawn, ditarik keluar perlahan-lahan, berulang-ulang terus membuat cewek itu menjerit kesakitan pada setiap ayunan Edi. Tangan Emilo meremas-remas buah dadanya yang tersentak terayun-ayun oleh irama genjotan Edi. Lidahnya dengan lincah menjelajahi putingnya yang mengeras. Sekilas cahaya menyilaukan menerangi para berandal yang berpesta pora menggumuli tubuh Shawn yang terpentang diatas kap mobil Jeep.

“Ha…ha…ha…terus Ed…” kata Joe yang telah kembali dengan membawa beberapa botol bir dan sambil menjepretkan kamera polaroidnya.
“Ouuch…aaahhh…aaahhgghhh…Joe…THIS BITCH WAS TRULY A WONDERFUL FUCK!!” seru Edi.

Joe segera maju mendekat, matanya penuh napsu melihat tubuh Shawn yang mengeliat-liat dibawah genjotan Edi. Senyum tersungging dibibirnya, lalu tangannya menuangkan botol bir keatas tubuh Shawn. Bir itu membasahi daerah dadanya yang langsung disambut oleh hisapan mulut Emilo. Shawn merasakan dinginnya bir membasahi tubuhnya, sementara lengkuhan demi lengkuhan keluar dari mulut Edi menikmati ayunan penisnya yang terjepit erat diatara dinding vagina cewek itu.

“Aaaaahhhh….aahhh…aaahh….” rintih Shawn, tubuhnya tergoncang-goncang diatas kap mobil, sementara Emilo menyedoti putingnya kanan-kiri dengan lahap.
KLIK….KLIK…KLIK….Beberapa kilatan lampu blitz menerangi ruangan, Joe memberi aba-aba kepada mereka untuk berpose.
“Ooohhh….aahhh…jaaa…ngannn…PLEASE….aaaah hh….” hiba Shawn kepada Joe agar tidak memfotonya.
“Hooo….hoooo….hooooo…lihat ini sayang….lihat….” ejek Joe memaksa Shawn melihat hasil foto polaroid yang langsung jadi tersebut. Shawn dapat melihat dengan jelas hasil gambar foto ekspresi wajahnya yang mendesah kesakitan, sementara Emilo mencengkam buah dadanya dengan ganas dan Edi mengangkat pinggulnya sambil menghujamkan ‘SUPER’ penisnya.
“Ha…ha…ha…bagus bukan manis?” seru Joe, beberapa saat kemudian tiga gambar foto sudah jadi lagi. Joe mengamati gambar-gambar tersebut dengan puas.
“Ha…ha…ha…sungguh menggairahkan sekali…!” komentar Billie dan Jack dengan antusias, “…bagus untuk kenang-kenangan!” kata mereka sambil tangannya meremas-remas penis mereka.

Shawn itu mengelepar-gelepar kesakitan, berusaha melepaskan diri, tapi ikatan dikedua pergelangan tangannya terasa erat mencengkram. Gerakan-gerakannya makin membuat kedua berandal itu makin bernapsu dan gemas. Emilo mencengkram buah dada sebelah kanan dan mulutnya mengigit puting sebelah kiri Shawn, sementara Edi dengan brutal mengenjotkan ‘SUPER’ penisnya dalam-dalam.

“AAAKKKHHH….aaaahhhggg….ooohhh…” teriak Shawn tubuhnya membusur kejang kesakitan.
KLIK…Joe mengambil kesempatan itu dengan menjepretkan kameranya.
“Ha…ha…ha…itu baru pose yang bagus sekali!” serunya dengan riang.
“Bagaimana rasanya manis,….enak bukan goyangnya? kau pasti puas sekali setelah pesta ini usai…ha…ha..ha…ooohhhh….SO THIGHT…uuuaaahhhh….uh…uuuhhhh…oohhh..” ejek Edi yang melihat Shawn terengah-engah.

Shawn memejamkan mata untuk berusaha untuk melupakan rasa sakit, cewek itu merasaan malu dan marah, kalau ingat bahwa dirinya mencapai orgasme pertama dan kedua ketika ia diperkosa diatas meja beberapa jam yang lalu oleh Emilo dan Edi, ketiga saat Billie, Jack dan Joe memperkosanya sekaligus secara sodomi dan oral. Dan sekarang diatas kap mobil jeep ini ia juga sangat terangsang dan merasa akan orgasme lagi oleh genjotan batang penis Edi yang bermain “FAST IN AND SLOW OUT”. Ia benci pada dirinya yang mendesah mengerang kesakitan, sementara tubuhnya berbicara lain. Dan lebih benci lagi karena para berandal itu tahu dan mengejeknya.

“Oh…ooohh…Shawn…jangan sampai aku…ah…aahhh…orgasme…aaakkkhh…
lagi…ayo…apa yang…ter..jadi…aakkkhhh…aku ini…sedang…aaaahhhh…ooohh…di…perkosa…
aahh…tapi…aahh…penis…ini…ohhh…oooaaahh hh….jangaaaaAAAKKKHHH….” pikiran itu lenyap bersamaan erang orgasme yang keluar dari bibir Shawn. Tubuhnya membusur kejang, tapi Edi masih juga mempertahankan ritme ayunannya. Joe menjepretkan kameranya, membuat Shawn tersadar…”ha…ha…ha…bagus, bagus sekali…..” serunya mengomentari cewek itu.
Billie, Jack dan Emilo tertawa sinis melihat reaksi tubuh cewek itu. Edi mencengkram pinggul Shawn dan makin bersemangat menghujamkan batang penisnya.

“JEEH…OOOOHHHH…OOOHHH…OOOAAAHH…”suara desahan Shawn makin keras bersamaan gelombang orgasme yang memuncak. Emilo dan Billie menyedoti cairan seperti susu yang keluar dari putingnya yang basah oleh keringat, bir. Jack meneguk botol bir sementara matanya liar menatap gerakan-gerakan tubuh Shawn yang mengeliat-liat erotis menahan berat badan Edi yang berayun-ayun ganas menghujamkan ‘SUPER’ penisnya dalam lorong vagina cewek itu.

“Aaaaahhhhh….OOOHHHH….UUUUUHHHH…..”lengk uh Edi merasakan jepitan dalam dinding vagina Shawn makin erat membalut batang penisnya. Edi berkonsentrasi tetap mempertahankan ritme permainannya, sementara batang penisnya seakan-akan mau meledak, berdenyut-denyut kencang sekali dalam vagina Shawn. Joe dengan semangat menjepretkan kamera polaroidnya berkali-kali untuk mengabadikan kejadian erotis didepannya, biji mata Shawn terlihat putihnya saja, sementara dari bibirnya terdengar erangan nikmat dan sakit bercampur menjadi satu,
“aaaaahhhh… aaaahhh… aaakkkhhh… aaakkhhhh… oooouuuhhh…..aammm…
aammmm…puuunn….aaaakkkhhh….” cewek itu mengerang, membusur mengeliat-liat digumuli para berandal. Jepretan-jepretan kamera Joe seakan tidak diperdulikannya lagi.

“FUCCKKKKK…..YOUUUUU…..BABEEE…EAAATTTT…THI SSSSS…
CUMMMM……” jerit Edi bersamaan dengan itu ‘SUPER’ penisnya menghujam dengan brutal dalam lorong vagina Shawn sambil menyemburkan sprema yang kental dan pekat. Tubuh Shawn mengejang beberapa saat dan kemudian lunglai lemas kelelahan.

“aaaooohhh…ooohhh….aaahh..aahhh…” desahnya kelelahan, sementara tubuhnya mengeliat lunglai.
“Ha…ha…ha…FUCK YOU!!!”ejek Edi sambil mencabut ‘SUPER’ penisnya dengan perkasa.
Badai masih belum berhenti, saat itu pukul 5.05, langit masih gelap tertutup awan badai yang menyelimuti kota itu membuat jalanan Tubuh Shawn terasa sakit dan lelah sekali setelah dirangsang sehingga empat kali orgasme.

“AAAAOOOOOWWWW….” tiba-tiba sebuah sengatan yang menyakitkan menyerang buah dadanya, membuat Shawn meraung kesakitan, tubuhnya yang terlentang diatas kap mobil jeep berusaha bangkit, tetapi ikatan ditangannya membuatnya tertahan.

“He…he…he…Shawny….YOU’RE NOUGHTY GIRL…pura-pura melawan….
padahal…diam-diam kau menikmatinya YOU MUST BE PUNISH FOR THAT….
Ha…ha…ha…” ejek Emilo, tangannya membawa sebuah gagang besi berkabel yang disambungkan pada sebuah aki mobil.

“AAAWWWWW…….AAAAKKKKHHHH….” raung Shawn ketika sebuah sengatan listrik menyerang buah dadanya lagi.
“He…he…he…nih rasakan!” Emilo menyentuhkan gagang besi itu pada pahanya.

“AAAAAGGGGHHHH……WAAAAGGGHHH…..” raung demi raungan keluar dari mulut Shawn ketika batang besi itu menyetrum paha dan dadanya. Napasnya tersengal-sengal kesakitan. Jack menuangkan bir ditubuh cewek itu, kadang memaksanya untuk minum. Shawn yang tak berdaya mengikuti kemauan Jack, beberapa teguk bir terpaksa ditelannya,
“UUUUGGGHHH….AAAAWWWW….” teriak kesakitan Shawn ketika Emilo masih menyengatkan batang besi itu berkali-kali, disekitar dada dan ketiaknya.

“Hai…Bill Viagranya dipakai dong!” usul Joe yang dari tadi sibuk menjepretkan kameranya mencari pose-pose Shawn yang mengeliat-liat tak berdaya.
“Ok….JUST WAIT BABY….ha…ha…ha…” seru Billie sambil membagi-bagikan obat kuat (perangsang) ke Joe, Emilo dan Jack.

“AAAAAWWWWW…..AAAAGGGHHHHH!!!!!” rupanya Emilo masih belum puas bermain dengan batang besi beraliran listrik itu dan sekarang ia menyentuhkannya pada puting buah dada Shawn, membuat cewek itu menjerit keras sekali.

Berkali-kali batang besi itu menyengat tubuhnya sementara Jack memaksanya minum bir sambil sesekali menuangkan air bir itu keatas tubuhnya. Air bir itu ternyata menjadi penghantar listrik ketika batang besi disentuhkan pada tubuh Shawn.

“AAAAAAAAAAGGGGGGGGHHHHHHKKKKK!!!!!” raung Shawn mengejang ketika Emilo menyetrum buah dadanya merasakan aliran listrik menyengat seluruh tubuhnya. Cewek benar-benar lemas kesakitan disetrum.

Dalam keadaan setengah pingsan, Shawn dibopong menuju keruang tamu. Waktu itu menunjukkan pukul 5.30, obat perangsang yang diminum oleh para berandal sudah mulai bekerja. Tubuh Shawn diterlentangkan diatas sofa, sementara beberapa berandal lain mengerubunginya. Jack menjilati buah dadanya, sementara Emilo dan Billie mengesek-gesekan batang penisnya ke wajah dan leher Shawn sedangkan Joe menciumi daerah perutnya.

Edi tertawa mendengar erangan dan rintihan yang keluar dari mulut Shawn. Sesekali para berandal itu memaksa Shawn untuk mencium kepala batang kemaluan mereka. Beberapa saat kemudian Shawn dipaksa berdiri dan Billie merangkul tubuhnya dari belakang sementara tangannya meremas-remas buah dadanya, dengan buas Billie menjilati tengkuk leher Shawn. Cewek itu makin tidak dapat berontak ketika Emilo ikutan maju dari depan menghimpit tubuhnya. Mulut Emilo segera menuju putingnya.

“Aaaaww….aaahhh…oooohhh…am…pun….” Shawn hanya mengerang kesakitan ketika tangan Billie meremas kedua buah dadanya dengan gemas, sementara Emilo yang berada didepan menjilati putingnya.

Beberapa menit kemudian kedua berandal itu secara serentak menggendong Shawn. Dari belakang tangan Billie memapah bongkahan pantatnya, sedangkan dari depan tangan Emilo merangkul pinggul cewek itu. Shawn terkejut, tetapi tidak berdaya, cewek itu hanya bisa menghiba ketika tangannya dipaksa untuk merangkul pundak Emilo. Tanpa perlawanan yang berarti paha Shawn dipentang sehingga pinggul Emilo berada diantaranya.

“Ha…ha…ha…sayang NOW I WANT SOME PUSSY…” bisik Emilo ditelinganya. Penisnya yang sudah siap segera menghujam dalam lorong vagina Shawn.

“Aaaahhh….aaaahhh….aakkkhh…” erangannya kesakitan ketika Billie dan Emilo secara bersamaan menghujamkan penis mereka ke anus dan vaginanya. Kedua berandal itu tertawa sambil berayun-ayun menghimpit tubuh Shawn. Ketiga berandal yang lain tersenyum mengejek Shawn yang sekarang diperkosa Emilo dan Billie sambil berdiri. Tangan Emilo membopong kedua pahanya sementara tangan Billie merangkul dari belakang sambil meremas-remas buah dadanya.

“Aaahhh…aaahhh…aaooww…aahhh…” desahannya bersamaan hentakan-hentakan liar kedua pinggul Emilo dan Billie yang menghimpit tubuh Shawn yang meronta-ronta kesakitan. Kepala cewek itu mengeleng kiri-kanan sambil mengerang kesakitan. Gerakan kedua berandal itu bagaikan piston kereta api, secara bergantian penis mereka keluar masuk menjelajahi anus dan lorong kemaluan Shawn.

Para berandal yang lain menyoraki memberi semangat kepada Billie dan Emilo yang berpacu menuju puncak kenikmatan.
Tubuh Shawn mengejang kesakitan diantara himpitan kedua berandal tersebut, sementara itu Lidah Billie menjelajahi tengkuk leher Shawn yang jenjang.

“Ooohhhh…uuugghhh…YESSS…YESSS…uuuggh.. .” lengkuh Billie menikmati sempitnya lorong anus Shawn.
Gerakan kedua berandal itu makin menjadi-jadi, seiring rontaan tubuh Shawn. Shawn terengah-engah ditengah himpitan Emilo dan Billie yang mempompakan penis mereka dengan ganas. Tangan Shawn mencengkram bahu Emilo erat-erat, sementara Billie yang berada dibelakangnya mempertahankan ritme ayunan penisnya dalam anus cewek itu.

“FUCK HER…woooo…woooo…woooo…FUCK HER…” seru salah seorang berandal memberi semangat kepada mereka berdua. Emilo mempercepat genjotan penisnya dalam lorong vagina Shawn, membuat Shawn mengerang kesakitan.
Butiran keringat membasahi tubuh mereka bertiga, sementara itu Emilo dan Billie melengkuh-lengkuh menikmati jepitan lorong anus dan kemaluan Shawn pada batang kemaluan mereka.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba mereka berdua berhenti dan lalu tukar posisi, Sekarang Emilo dari belakang sedangkan Billie dari depan. Shawn masih lemas, maka dengan mudah mereka memulai lagi adegan perkosaan itu. Penis mereka terasa makin lama makin besar dan makin berdenyut setiap kali bergesekan dalam kedua lorong anus dan kemaluan Shawn. Billie yang sekarang berada didepan segera menciumi leher Shawn, sementara Emilo yang membopongnya dari belakang mengulum kuping sebelah kanan, membuat Shawn mendesah terengah-engah.

“Oooooohhhh……uuuuggghhhhh……” teriakan kenikmatan keluar dari mulut Emilo, sementara penisnya menyemburkan sperma dalam lorong anus Shawn.
Emilo segera membopong tubuh Shawn keatas sofa, sementara itu Billie masih juga dengan semangat menghujamkan penisnya dalam kemaluan Shawn. Kedua tangan Shawn segera dipegangi oleh ketiga berandal yang lainnya agar tidak banyak berontak. Hentakan-hentakan dari tubuh Billie membuat posisi kepala Shawn mengelantung keluar dari arena sofa. Dari mulutnya yang terbuka terdengar desahan-desahan yang membuat ketiga berandal lainnya bangkit lagi hasratnya. Penis mereka sudah berdiri lagi dan kelihatannya bertambah besar karena obat perangsang yang mereka minum tadi.

“Oooohhh….ooohhhh….HOW IT FEELS BABY…..oohh…..
uuuuhhhhh….YEAH….” lengkuh Billie matanya terpejam kenikmatan. Joe memainkan penisnya dibuah dada Shawn sementara Jack menyedoti buah dada sebelah kiri, sedangkan Edi meremas-remas penisnya yang besar itu.

Beberapa saat kemudian, Billie mencapai puncak kenikmatan, menyemburkan spermanya dalam lorong kemaluan Shawn. Kelima berandal itu membiarkan Shawn terlentang terengah-engah diatas sofa, sementara mereka menyalakan TV menikmati acara TV kabel yang menyiarkan film blue. Adegan dalam film itu kebetulan setengah S&M yang membuat mereka sangat terangsang.

Suara jeritan-jeritan kesakitan dari film itu membuat penis mereka bertambah tegang dan tegak membesar. Pukul menunjukkan 6.50, suasana diluar gelap, jalanan masih sepi, sedangkan hujan masih deras tapi badai sudah mulai berhenti. Sesekali mobil lewat didepan rumah Shawn. Cewek itu merasakan tubuhnya ngilu semua, sementara anus dan vaginanya perih sehabis disodomi dan diperkosa. Setengah sadar Shawn mendengar suara sirine mobil patroli polisi, maka dengan tenaga yang masih tersisa cewek itu berusaha bangkit dari sofa dan sambil terhuyun-huyun Shawn menuju ke jendela ruang tamu untuk meminta tolong. Tapi sial baginya, Joe mengetahuinya dan dengan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk segera menangkap Shawn.

“Ha….ha…ha…mau kemana kau manis….” ejeknya sambil menjambak rambut Shawn.
“Ooooww….ooooaauuu…ammm…punn…please…lepa skan aku…..amm…pun…” hiba Shawn berusaha melepaskan diri. Suara sirine itu makin mendekat, tiba-tiba Joe tertawa sinis.
“Oh…kamu mau panggil polisi ya?…ha…ha..ha…ok LET’S TRY IT!!!….BITCH!!!” Joe segera menyeretnya mendekati jendela kaca diruang tamu. Para berandal itu segera mematikan lampu rumah, lalu dengan nada dan gaya mengejek, tirai jendela kaca dibuka dan tubuh Shawn didempetkan didepan kaca jendela, sementara kedua tangannya dipentang dan dipegangi erat-erat, Joe dari belakang segera menghujamkan batang penis itu di vagina Shawn.

“AAAKKKHHH!!!!….aaahhh…ahhhh….aakkkhhh.. ..” jerit Shawn sementara batang penis itu beraksi keluar masuk dengan kasar, membuat tubuhnya menempel dikaca jendela. Buah dadanya terhimpit dikaca jendela, sedangkan mobil patroli polisi lewat didepannya. Shawn merasa kecewa sekali, harapan satu-satunya untuk minta pertolongan lepas begitu saja didepan matanya. Suara jeritan Shawn tak terdengar oleh polisi itu yang beberapa saat kemudian sudah makin menjauh dari rumah Shawn.

“Ha…ha…ha…BITCH!!!…” Joe menyumpai cewek itu, rambutnya dijambak dengan kasar, membuat kepalanya menegadah keatas. Tubuh Shawn terguncang-guncang, naik turun terhimpit kaca jendela, sementara dari belakang Joe tertawa mengejek dirinya. Kira-kira sepuluh menit kemudian, Joe berhenti dan segera menyeret Shawn menuju tengah-tengah ruangan.

“Kau harus puasin kita semua…Ed, Bill…HOLD HER ARMS…I WANT TO GIVE HER A LESSON!!!” kata Joe dengan kasar.
“Aaaoooo….aaammm…punn…aaahh..” jerit Shawn yang rambutnya masih dijambak. Joe segera memerintahkan teman-temannya untuk membopong tubuh Shawn terlentang. Edi segera memegang erat-erat tangan kanan, sedangkan tangan kirinya di pegangi oleh Billie. Joe maju membopong pinggul Shawn, kaki cewek itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tapi dengan mudah dapat dihindari.

“FUCK YOU…BITCH!!!!…LET’S FUCKING YOUR CUNT!!!” senyum sinis menyungging dibibir Joe. Dengan satu hentakan yang kuat, batang penis Joe menerobos masuk dalam liang kemaluan Shawn. Cewek itu mengerang kesakitan diantara ayunan batang penis yang dengan barbar mengoyak-koyak vaginanya.

“Aaaahhhh…aakkkhh….ooouuuchhhh…oohhhh… .” desah Shawn menahan sakit. Tubuhnya terayun-ayun dibopong terlentang, sementara pantat Joe menghentak-hentak menghujamkan penisnya diantara paha Shawn yang secara otomatis terbuka oleh desakan pinggulnya. Kepala Shawn sampai terjengkang keatas menahan rasa sakit, sementara Edi dan Billie yang memegangi tangan cewek itu mengikuti ayunan Joe yang mencengkram pinggul Shawn dengan ganas. Tubuh Shawn terayun-ayun liar, dan dari mulutnya yang terbuka keluar erangan dan desahan kesakitan tapi suara itu teredam oleh tawa dan kata-kata ejekan dari para berandal lainnya.

Joe tidak perduli keadaan cewek itu, matanya terpejam berkonsentrasi menikmati hujaman keluar masuk batang penisnya yang sekarang seakan terbalut erat didinding vagina Shawn.

“Oooohhh….ooohhh…BABY,….FUCK YOU…ohhh…
uuunnhhh…..aaahhhh….uuuhhh…YIHAAAAA…..” jeritnya kenikmatan dan semakin berutal menggenjotkan batang penisnya yang tegak dalam lorong kemaluan Shawn. Emilo dan Jack tertawa terbahak-bahak mengomentari gaya Joe memperkosa Shawn. Lengkuhan-lengkuhan nikmat keluar dari mulut Joe yang mempercepat ritme genjotan batang penisnya di lorong vagina Shawn.

“Aaahhh…aakkkhhh…aaddduh….aahh…” erang Shawn sementara matanya terpejam menahan sakit. Cewek itu malu bercampur sedih, tak berdaya, para berandal itu benar-benar secara total menikmati tubuhnya, Shawn menyesal karena tadi menghalangi mereka mencuri minuman keras. Ia tidak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

“Ha…ha…ha….sungguh menggairahkan sekali tubuhmu ini…uuuggghhh…” bisik Joe membuyarkan lamunan Shawn. Tangan Joe mencengkram erat pinggulnya, sementara batang penis itu bergerak keluar masuk dengan brutal di lorong kemaluannya. Shawn bisa merasakan batang penis itu tegak seperti tongkat yang beraksi mengaduk-aduk kemaluannya dengan gerakan yang brutal dan buas sekali. Setiap hujaman dan genjotan keluar masuk penis itu membuatnya mengerang kesakitan. Jack menyirami tubuh Shawn dengan bir yang diminumnya.

“Hai Jack….suntik dia obat perangsang…biar tambah asyik pestanya….” ide Joe yang langsung disambut dengan suara tawa para berandal lainnya. Shawn kaget mendengar itu dan berusaha berontak, tapi cengkraman dikedua tangan dan pinggulnya makin erat membuatnya tak berkutik. Joe tertawa mengejek ketidak berdayaan Shawn, sementara pinggulnya maju mundur menghujamkan batang penisnya dilorong kemaluan Shawn.

“Ha…ha…ha…WHAT’S A MATTER BABY….SOON YOU’LL BEG FOR COCKS!!!!….ha…ha…ha….BITCH!!!!” seru Joe sambil mengenjotkan penisnya dalam lorong kemaluan Shawn.

“ooohhh… jangan….amm…punnn….Oooowww!!!” jerit cewek itu meronta-ronta ketika Jack menyuntikan obat perangsang itu pada lengannya. Shawn tak berkutik dikerubuti oleh lima berandal yang penuh napsu. Joe masih melengkuh-lengkuh berkonsentrasi merasakan nikmat di batang penisnya. Kepala penisnya berdenyut-denyut setiap kali menerobos keluar masuk lorong vagina cewek itu seakan mau meledak.

Batang penis itu terlihat hitam besar dan tegak terbalut erat oleh lorong vagina Shawn. Kepala cewek itu terjengkang menegadah setiapkali batang penis itu menerjang maju memasuki vaginanya.

“Aaahhhh……aaahhhh…aooohhh… uuuugghhhh….” desah Shawn sementara kakinya terayun-ayun. Para berandal yang lain menyoraki Joe, memberi semangat.

“HUUUHHH…..uuuhhhhhh….uuuugghhhh…..
UUAAHHH!!!” pekiknya bersamaan dengan spermanya menyemprot dari kepala penisnya. Tubuh Shawn langsung lunglai ketika tangan Joe melepaskan cengkramannya dipinggul cewek itu.

“ahhh…aoohhh…..uuhhh….” erangnya terengah-engah sementara kedua tangannya masih dipegangi oleh Edi dan Billie.

“YOU’RE SO DAMN HOT SEXY ASS, BABY…I WANT TO FUCK YOUR ASS HOLE” ejek Edi yang memang dari tadi belum mencicipi sempitnya lorong anus Shawn. Belum sempat cewek itu membayangkan rasa sakit yang bakal dialaminya, tubuhnya sudah dibopong menuju kekamarnya dan langsung dilempar keranjang lagi.

Jack tertawa terbahak-bahak melihat tubuh Shawn yang sudah lemas ini berusaha melawan. Rontaan-rontaan cewek itu menjadi tak berarti ketika tubuhnya ditelungkupkan diatas Jack dan Edi yang dari belakang merangkul dirinya. Jack mengarahkan penisnya agar bisa masuk dalam kemaluan Shawn. Tanpa perlawanan yang berarti, penis Jack menyeruak masuk dari bawah, lalu sekarang tubuh Shawn dipaksa menungging dan kedua tangannya diikat lagi ditiang ranjang dengan tali BH yang tadi dipakai juga untuk mengikat dirinya. Sedangkan Edi dari belakang meremas-remas penisnya yang terlihat besar dan makin besar saja karena obat perangsang yang sudah bekerja.

“Ohhh….he…..he….ampun…please….ampun sudah….jangan…” hibanya sambil terisak-isak. Tapi tak seorang pun dari berandal itu yang berniat untuk berhenti atau menghentikan Edi yang mulai meraba-raba dan menciumi pantat Shawn, sambil sesekali memukul-mukul kecil. Giginya terasa dingin menyentuh kulit pantat Shawn, diciuminya pantat cewek itu penuh napsu, sampai terlihat merah. Shawn bisa merasakan batang penis itu tegak diantara celah pantatnya ketika Edi mendekap
tubuhnya sementara tangannya meremas-remas buah dadanya.

“Ohhhh….ooohhhh……..aahhh….ammm….punnn… .”desah Shawn dengan napas yang berat karena menahan reaksi obat perangsang yang sudah mulai bekerja.
“FELL MY COCK….bagaimana rasanya… besar bukan SWEET HEART….” bisik Edi sambil menciumi leher Shawn.
“Ohhhh…aaahhhh…auuuhhh…” napas cewek itu makin berat berusaha menahan rangsangan dari obat dan remasan-remasan Edi maupun gerakan penis Jack divaginanya.

Para berandal lainnya bersorak-sorak, ketika Edi mengarahkan pinggulnya membimbing batang penis yang besar dan berurat itu memasuki anus Shawn. Mata Shawn terbelalak merasakan ukuran ‘BIG SIZE’ batang penis Edi. Isak tangisnya berhenti karena menahan sakit. Batang penis itu masuk perlahan-lahan menerobos keketatan anus Shawn.

“aaaaaahh…..aaaaahhhhhhhhhhh” jerit Shawn sambil menggigit bibirnya. Sesekali pinggul Shawn meronta, tapi pukulan kecil pada pantatnya membuatnya berhenti. Bekas telapak tangan merona merah dikulit pantat Shawn. Edi tak sabar untuk segera membenamkan seluruh batang penisnya.

“Aaaccckhhhhh….” jerit Shawn tersendat, bersamaan dengan lengkuhan nikmat ketika dengan kasar Edi menghujamkan sisa batang penisnya dalam lorong anus cewek itu sehingga sekarang hilang terbenam didalamnya.
” LET’S START SODOFUCKING YOUR TIGHT ASS HOLE….” bisik Edi ditelinga Shawn sambil tersenyum sinis.

Beberapa saat kemudian terdengar lengkuhan demi lengkuhan nikmat disetiap ayunan pinggul Edi. Matanya terpejam-pejam menikmati ketatnya lorong anus cewek itu membalut batang penisnya.

“uuuuuchhhhh….uuuuhhhh……uuuuuuhhhh…uuucchh h…
uuucchhhh…” desis Edi, sementara pinggulnya maju mundur memompa pinisnya menembus anus Shawn. Tangannya mencengkram pinggul cewek itu agar tidak banyak berontak. Jack yang dari bawah juga menikmati jepitan vagina Shawn, sambil kedua tangannya menopang dibuah dada cewek itu yang terayun-ayun ketika tubuhnya mulai bergerak didorong oleh gerakan penis di anusnya. Jemarinya bermain-main dengan putingnya. Sesekali gerakan Edi membuat cewek itu menelungkup sehingga Jack dapat menciumi daerah leher depannya, sedangkan Edi dari belakang mengulum daun telinga sebelah kirinya.

“Aaacckkk….aakkk…..aaackkkk…aaahhhh…..aaaa hhh…” desahnya setiapkali, mata Shawn terpejam merasakan rangsangan demi rangsangan yang mulai timbul akibat pengaruh obat yang disuntikkan tadi.

“Ha…ha…ha….I KNEW WHAT YOU FEEL…baby…DON’T RESIST IT….ha…ha…ha…” ejek Jack sambil tangannya terus meremas-remas buah dada Shawn. Sementara Edi dan Jack menikmati tubuh Shawn, para berandal yang lain memindahkan TV kekamar, dan mereka melanjutkan acara TV kabel itu. Emilo dan Billie meremas-remas penisnya sambil menikmati acara film blue. Suara dari film itu menambah sensasi tersendiri dalam ruangan tersebut. Joe yang berdiri dipinggir ranjang membelai-belai rambut Shawn, sementara Edi dengan brutal penisnya menerobos keluar masuk anus cewek itu. Jack yang berada dibawah juga tidak kalah bersemangat, merasakan ayunan cewek itu akibat gerakan Edi.

“aaaakkkk…aaakkkhhh……aahhh…mmm…pppuuunn. ..” erang Shawn, sementara tubuhnya terhentak-hentak liar.

“Ha….ha…ha….bagaimana rasanya sayang…. I SWEAR THAT YOU COULDN’T WALK EASY AFTER THIS….ha..ha…ha…” seru Joe membuat teman-temannya tertawa.

Kedua pergelangan tangan Shawn terlihat merah melingkar oleh ikatan tali BHnya. Rasa sakit dan nikmat bercampur menjadi satu menjalar diseluruh tubuh Shawn, dan makin lama makin meningkat bersamaan hujaman kedua penis itu. Tak pernah Shawn membayangkan merasakan rasa seperti itu. Kedua penis itu bergerak seirama, menghujam, mengaduk-aduk, keluar masuk, penuh dengan napsu mengirimkan sensasi ke seluruh tubuhnya.

“Aaaacckkkk….aaakkkkhhhh…..aaahhh….” desah cewek itu sementara tangannya mengenggam erat tali BH yg diikatkan dipergelangan tangannya. Edi dari belakang dengan semangat terus menghujamkan batang penisnya bergerak keluar masuk anus Shawn. Penis itu terasa seperti besi panas yang membuat nafas Shawn terputus-putus.

“HEY, Ed! I THINK SHE LIKES YOU!”, komentar Billie. Suara yang dapat didengar Shawn selain erangannya sendiri hanya suara pinggul Edi yang menumbuk pantatnya ketika ia mendorong penisnya keluar masuk lorong anusnya. Didaerah lehernya Shawn bisa merasakan panas napas Edi yang memburu, sementara mulutnya menciumi leher dan tengkuk cewek itu. Buah dadanya yang mengacung bergerak naik turun berirama dengan nafasnya yang tersengal-sengal, sementara Jack dari bawah meremas-remasnya dengan kasar sekali.

“Ahhh…ahhhhh….aauuuggghhh….” mata Shawn terpejam merasakan semua sensasi itu. Dari mulutnya terdengar desah dan rintihan yang membuat mereka makin bernapsu. Otot vagina dan anus Shawn mencengkram erat kedua penis itu, sehingga Edi dan Jack makin melengkuh-lengkuh. Butiran keringat menetes mengalir turun dari bahu Shawn menuruni belahan buah dadanya. Tubuhnya saat ini terlihat sangat seksi sekali dan bau keringat dan napsu memenuhi kamar, membuat kelima berandal itu mabuk kepayang.

Desakan penis Edi di anus Shawn mendorong vaginanya menelan penuh batang penis Jack yang dibawah, sehingga Jack melengkuh-lengkuh nikmat. Tangannya dengan gemas meremas-remas buah dada cewek itu membuat Shawn makin mengelinjang-linjang erotis.

“Aaaahhhh….aaaaaaiiiihhh…aaahhh…aaaggkkk…” erang Shawn, sementara Edi menciumi tengkuknya. Lidahnya menyapu belakang leher dan telinga cewek itu, membuat Shawn mendesah-desah.

Jack makin mendekati klimaks, penisnya terhujam-hujam menggila oleh gerakan Shawn yang terayun-ayun diatasnya. Tangannya mencengkram kedua buah dada cewek itu dengan gemas. Shawn hanya bisa mendesah-desah ditengah-tengah himpitan tubuh Jack dan Edi.

“Uuuggghhh…uuugghhh….eemmmgggg…uuhhh…” lengkuh kedua berandal itu, merasakan nikmat di batang penisnya.
“augghhh…uuugghhhh…..UUUUUGGHHHHHHHH………. …..” erang cewek itu, tubuhnya mengejang mengeliat membusur.

“I THINK, THIS BITCH JUST CAME!…ha..ha..ha…YEEHAAA!!!!” seru Jack mengejek Shawn yang mengerang orgasme menerima rangsangan yang liar dan buas dari kedua berandal yang menyetubuhinya penuh napsu.

Mata cewek itu memejam, sementara tubuhnya yang sudah basah kuyup karena keringat mengejang terlihat sangat sexy, buah dadanya mengacung dalam genggaman Edi yang masih terus memompakan penisnya menelusuri keketatan anusnya. Mulutnya mengerang membuka, Jack yang dari bawah merasakan penisnya makin licin oleh cairan orgasme cewek itu. Lidah Jack berusaha menjilat leher jenjang Shawn, yang dari tadi bergerak mengeleng kiri-kanan.

“Ooooccchhhhh, nikmat bukan rasanya? hemmm?” seru Edi dari belakang, sambil meremas dada Shawn.
“Aaacccchhh….ampun…..aaaaaaaccchhhhh!” erang cewek itu tak berdaya, tubuhnya lemas dirangsang berjam-jam. Tubuh Shawn masih terguncang-guncang oleh hentakan kedua berandal yang masih mendengus-dengus berpacu mencapai klimax yang makin mendekat.

Kedua penis itu menerjang dengan ayunan yang mantap dan cepat, Jack dan Edi merasakan ujung kepala penis mereka yang sudah berdenyut-denyut seakan siap meledak di setiap saat. Kedua berandal itu melengkuh bersahut-sahutan merasakan sensasi kenikmatan yang makin menjadi-jadi itu. Sementara Shawn masih mengejang orgasme ditengah himpitan mereka berdua.

“HAH…..HAH….HAH…….UUUUUUAAAAAHHHHH!!!! !” dengus Edi sambil menyemprotkan sperma di anus Shawn. Beberapa detik kemudian Jack yang dibawah segera menyusul mencapai klimax.
“Ha…ha..ha……I CAME BABE……..TAKE THIS CUMMMM!!!….
……UUUUUUUGGGGGHHHHHHH………” penis itu hilang dalam himpitan lorong vagina cewek itu, dan dari kepalanya tersembur sperma. Shawn mengejang-ngejang sesaaat dalam himpitan kedua berandal itu, napas ketiganya mendengus-dengus, tubuh mereka basah oleh keringat.

Tiga berandal yang lain tak sabar menunggu, penis mereka sendiri tegang tegak siap beraksi. Edi yang berdiri terlebih dahulu melepaskan dekapannya dari Shawn. Tubuh cewek itu langsung jatuh di atas Jack yang masih mengatur napasnya. Billie melepaskan ikatan tangan Shawn dan membalik tubuh cewek itu sehingga terlentang diatas ranjang. Jack bangkit berdiri sambil tersenyum sinis memandang Shawn.

“YO….THIS OUR TURN….” Joe memberi tepukan tangan pada Jack.
Billie dan Emilo sudah maju mengerubungi cewek itu. Joe tersenyum sambil meremas-remas penisnya memastikan sudah benar-benar tegang. Dengan lincah lidah kedua berandal itu menyapu leher dan buah dada Shawn yang kemerahan diremas-remas dari tadi. Sesekali lidah Emilo menyusup ke daun kuping cewek itu sementara Billie dengan rakusnya melahap puting dadanya. Tangan Shawn tak berdaya mendorong tubuh kedua berandal itu.

Tenaganya sudah terkuras disetubuhi dengan buas oleh mereka, yang terdengar hanya erangan dan desahan-desahan kecil. Joe maju diantara paha Shawn yang terbuka, digesek-gesekkannya sebentar kepala penisnya yang besar itu di bibir kemaluan cewek itu. Belum sempat Shawn menyadari, dengan cepat batang penis itu segera menghujam dalam lolong vaginanya yang basah karena cairan orgasme dan sperma dari Jack. Batang itu bergerak keluar masuk dengan cepat dan licin, sementara Billie dengan lahap menciumi buah dada Shawn.

Karena tangan Shawn yang berusaha berontak, maka dengan sigap Emilo segera mengikatnya kembali ditiang ranjang. Gerakan Joe liar, menghujam, memutar, mengaduk-aduk, membuat cewek itu terengah-engah. Untuk mempertahankan ritme ayunannya, Joe mencengkeram pinggul Shawn. Kaki cewek itu terbuka dan terayun-ayun oleh gerakan pantat Joe yang memompakan penisnya. Tubuh Shawn ditarik agar lebih merapat di cengkraman Joe, sehingga tangannya tertarik keatas lurus. Emilo dan Billie sambil tersenyum-senyum mengejek, menjilati buah dada dan putingnya penuh napsu.

“Hmmmmmm…mmmmm…sslluupppppppppppsss……ha… ha…haa….
hmmppppmmm….ssluuppssssssss……..” tawa mereka dengan rakus melahap buah dada cewek itu.
Shawn mengerang dan mendesah tak berdaya, tubuhnya mengeliat-liat terlentang, sementara lorong vaginanya menerima setiap hujaman penis Joe yang buas.
“Ooohhh…uuugghhh…uuuhgggg…ooogghhhh….” desis Shawn menjadi-jadi menahan semua sensasi yang diterima tubuhnya. Putingnya menjadi bual-bualan kedua berandal itu. Dengan lincah lidah Emilo dan Billie menjelajahi buah dadanya yang tak berdaya terguncang-guncang seiriama genjotan ayunan Joe, tangan kedua berandal itu kadang meremas dan mencubit puting dan buah dadanya dengan gemas.

Joe melenguh-lenguh menikmati setiap terobosan penisnya yang makin lama makin berdenyut-denyut siap meledak, tangannya mencengkram erat pinggul Shawn mempertahankan ritme permainan penisnya. Kaki Shawn terayun-ayun kesana kemari, sementara jari-jari kakinya menutup rapat, menahan semua rangsangan-rangsangan yang terjadi.

“amp…ammppunn…aaacchh…aacchhhh…aacckk….. .” lolong Shawn menghiba.
Ketiga berandal itu makin semangat mengerjai tubuh Shawn, Joe tahu bahwa Shawn mulai terangsang oleh permainan mereka bertiga. Otot-otot vaginanya terasa mencengkram batangnya yang berdenyut-denyut itu. Emilo berpindah posisi, sekarang lidahnya menelusuri leher dan daerah ketiak Shawn, sementara Billie masih dengan rakus melahap kedua buah dadanya.

“ooohhhhhhh…aacckkkkkkkkk…accckkkkkkkkkkk…aa aahhhhh..aahhhhhhhh…….” Shawn makin histeris ketika hujaman Joe makin ganas sementara Billie menghisap buah dadanya kuat-kuat sedangkan Emilo memainkan lidahnya didaerah ketiak Shawn. Jari tangannya dan kakinya sampai mengepal kejang menahan sensasi itu.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:44 pm

Cerita ini bermula dari waktu saya masih berumur kurang lebih 10 sampai 13 tahun. Persisnya saya sudah lupa. Waktu itu saya mempunyai teman bernama Alex. Alex tinggal dengan keluarganya tidak jauh dari tempat saya tinggal. Alex mempunyai seorang kakak perempuan bernama Mona. Umurnya 4-5 tahun lebih tua dari kami, jadi waktu itu saya dan Alex masih SD kelas 5, sedangkan dia sudah SMA.

Mona ini orangnya seksi sekali. Bukan berarti dia sering pakai baju seksi atau bicara yang nyerempet-nyerempet hal begituan, tapi tidak tahu kenapa kalau saya sedang berada dalam satu ruangan dengan dia, selalu pikiran saya membayangkan hal-hal yang erotik tentang dia yang saya tidak pernah terpikirkan sama wanita lain.

Tubuhnya sebetulnya biasa-biasa saja, tidak terlalu tinggi, tapi proporsional. Dan kalau orang sekarang bilang, body-nya bahenol dan tetap jelas lekuk-lekuk tubuhnya tampak bila dia berpakaian. Rambutnya panjang sebahu dengan payudara yang sedikit lebih besar dari rata-rata, dan mengacung ke atas.

Suatu ketika saya sedang main ke rumah Alex, Ayah Mona sedang membetulkan mobilnya di kebun depan rumah Mona. Kami semua berada di situ melihat ke dalam mesin mobil tersebut. Saya berdiri persis kebetulan di sebelah Mona. Dia berada di sebelah kanan saya. Pada waktu itu Mona memakai baju jenis baju tidur, berbentuk celana pendek dan baju atasan. Warnanya biru muda sekali sampai hampir putih dengan gambar hiasan bunga-bunga kecil yang juga berwarna biru muda.

Lengan bajunya lengan buntung, dan pas di pinggir lengan bajunya di hiasi renda-renda berwarna putih manis. Bajunya karena itu pakaian tidur jadi bentuknya longgar dan lepas di bagian pinggangnya. Bagian bawahnya berupa celana pendek longgar juga, sewarna dengan bagian atasnya dengan bahan yang sama.

Semua melihat ke dalam mesin mobil sehingga tidak ada yang melihat ke arah saya. Pada saat itu lah saya melirik ke arah Mona dan melihat payudara Mona dari celah bawah ketiaknya. Perlu diingat bahwa tinggi badan saya pada umur itu persis sepayudara Mona. Dia tidak menggunakan BH waktu itu. Puting susunya yang coklat dan mengacung kelihatan dengan jelas dari celah itu karena potongan lengan bajunya yang kendor. Hampir seluruh payudara Mona yang sebelah kiri dapat kelihatan seluruhnya. Tentu saja dia tidak sadar akan hal itu.

Suatu ketika ada juga saat dimana kami sedang bersama-sama melihat TV di ruang tamu. Saya duduk di sofa untuk satu orang yang menghadap langsung ke TV. Dan Mona duduk di sofa panjang di bagian sebelah kiri dari TV di depan kiri saya. Saya dapat langsung melihat TV, tapi untuk orang yang duduk di sofa panjang itu harus memutar badannya ke kiri untuk melihat TV, karena sofa panjang tersebut menghadap ke arah lain.

Mona akhirnya memutuskan untuk berbaring telungkup sambil melihat TV karena dalam posisi tersebut lebih mudah. Dia memakai baju tidur berupa kain sejenis sutera putih yang bahannya sangat lemas, sehingga selalu mengikuti lekuk tubuhnya. Baju tidur ini begitu pendek sehingga hanya cukup untuk menutupi pantat Mona. Bagian atasnya begitu kendor sehingga setiap kali tali bahunya selalu jatuh ke lengan Mona dan dia harus berulang-ulang membetulkannya.

Dalam posisi telungkup begitu baju tidurnya pun tersingkap sedikit ke atas dan menampakkan vagina Mona dari belakang. Kebetulan saya duduk di bagian yang lebih ke belakang dari pada Mona, jadi saya dapat melihat langsung dengan bebasnya. Semakin dia bergerak, semakin bajunya tersingkap ke atas pinggulnya. Mona pada saat itu tidak memakai pakaian dalam sama sekali, karena kebetulan rumah sedang sepi dan sebetulnya itu waktu tidur siang.

Kadang-kadang pahanya merenggang dan vaginanya lebih jelas kelihatan lagi. Mona agaknya tidak perduli kalau saat itu saya sedang berada di situ juga. Sesekali dia bangun untuk ke dapur mengambil minum, dan sekali ini tali bajunya turun lagi ke lengannya dan menampakkan sebagian payudara kiri Mona. Kali ini dia tidak membetulkannya dan berjalan terus ke arah dapur.

Karena banyak bergerak dan membungkuk untuk mengambil sesuatu di dapur, akhirnya payudara kirinya betul-betul tumpah keluar dan betul-betul kelihatan seluruhnya. Sambil berjalan balik dari dapur, Mona tidak kelihatan perduli dan membiarkan payudara kirinya tetap tergantung bebas. Sesekali dia betulkan, tapi karena memang baju tidurnya yang belahan dadanya terlalu rendah, akhirnya turun lagi dan turun lagi. Dan setiap kali payudaranya selalu meledak keluar dari balik bajunya, kalau tidak yang sebelah kanan yang sebelah kiri. Mona tetap kelihatan seperti tidak terjadi apa-apa, walaupun satu payudara terbuka bebas seperti itu.

Mona kembali berbaring telungkup di sofa panjang melihat ke arah TV. Sekarang payudara kanannya yang tergantung bebas tanpa penutup. Setelah beberapa lama dan menggeser-geser posisinya di atas sofa, sekarang baju tidurnya sudah tidak rapi dan terangkat sampai ke pinggulnya lagi. Karena posisi pahanya yang sekarang tertutup, saya hanya dapat melihat sebagian bawah pantat Mona yang mulus dan sexy.

Mona menggeser posisinya lagi, dan sekarang tali baju yang sebelah kiri turun. Sekarang kedua payudaranya bebas menggantung di tempatnya tanpa penutup. Dari posisi saya tentunya hanya dapat melihat yang bagian kanannya karena saya duduk di bagian kanan. Mona balik lagi ke dapur untuk yang kesekian kalinya mengambil minum dan tetap membiarkan payudaranya terbuka dengan bebas. Dan balik lagi telungkup melihat TV.

Saya mencoba mengajaknya mengobrol dalam posisi itu. Tentu saja tidak mungkin karena dia menghadap ke arah TV. Pertama-tama dia ketahuan sedang malas diajak ngobrol dan hanya terlihat ingin melihat TV. Karena saya tetap bertanya-tanya ini itu ke dia, akhirnya dia pun mulai menanggapi saya.

Suatu ketika karena dia harus menghadap saya tetapi malas duduk, akhirnya dia membalikkan diri ke arah kanan untuk menghadap ke saya. Pada saat itu lah vaginanya terlihat dengan sempurna terpajang menghadap saya. Perlu diketahui, payudara Mona masih tetap tergantung bebas dan padat tanpa penutup karena dia tidak repot-repot lagi membetulkan letak tali bajunya.

Baju tidur Mona terangkat lagi sampai ke pinggul. Dan dia tetap ngobrol seperti seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Cukup lama juga kami ngobrol dengan posisi dia seperti itu. Kadang-kadang malah kakinya mengangkang menampakkan vaginanya. Dan dia tetap bersikap seakan-akan tidak ada apa-apa dan tetap berbicara biasa.

Akhirnya saya tidak kuat lagi. Suatu saat, pada saat dia mengambil makanan dari atas meja dan posisinya membelakangi saya, vagina Mona mengintip dari celah pahanya dari belakang tepat 1-2 meter di depan wajah saya. Saya buka retslueting saya yang dari tadi sudah berisi penis yang sudah keras tidak kepalang tanggung, dan mengeluarkannya dari celana dalam saya.

Dari belakang saya menghampiri Mona perlahan. Pada saat ini dia masih belum tahu dan masih tetap memilih-milih makanan, sampai terasa ada tangan yang memegang kedua payudaranya dari belakang dan merasakan ada benda panjang, besar dan hangat menyentuh-nyentuh di sela-sela paha dan belahan pantatnya.

Mona terkejut. Saya tetap meremas dan memainkan kedua payudara Mona dengan kedua tangan saya dan mulai perlahan-lahan menyelipkan penis saya ke dalam vaginanya. Vagina Mona selalu basah dari pertama karena dia dapat menjaga situasi dirinya sehingga tetap basah walaupun pada saat-saat dia tidak nafsu untuk bermain sex. Penis saya masuk ke dalam Vagina Mona dari belakang. Mona melenguh tanpa dapat berbuat apa-apa karena semuanya berlangsung begitu cepat. Tangannya bertumpu ke atas meja makan.

Mungkin dia bertanya-tanya juga dalam hati, ini anak SD tapi nafsunya sudah seperti orang dewasa. Saya mulai membuat gerakan maju mundur sambil tangan saya masih meremas-remas payudaranya. Mona terdorong-dorong ke meja makan di depannya, payudaranya bergoyang-goyang seirama dengan dorongan penis saya ke dalam vaginanya. Kaki Mona dalam posisi berdiri mengangkang membelakangi saya.

Akhirnya saya klimaks. Sperma demi sperma menyemprot dengan kuatnya ke dalam vagina Mona, sebagian meleleh keluar dari dalam vagina ke bagian paha dalam Mona yang masih berdiri mengangkang membelakangi saya. Setelah semprotan terakhir di dalam vagina Mona, kami masih berdiri lemas tanpa merubah posisi. Kepala saya lunglai ke depan, kepala Mona juga, napas kami terengah-engah, dan keringat banjir membasahi tubuh kami.

Akhirnya saya menarik penis saya keluar dari vagina Mona, dan kembali memasukkannya ke dalam celana dalam dan menarik kembali retslueting ke atas. Mona masih terengah-engah dalam posisi yang belum berubah bertumpu dengan kedua tangan ke atas meja makan. Vagina dan belahan pantatnya masih terpajang bebas bergerak seirama dengan desah napasnya.

Saya kembali duduk di depan TV, dan Mona kembali ke sofa panjang tempat tadi dia berbaring, tapi sekarang dia tidak telungkup, melainkan duduk tanpa membetulkan letak dan posisi bajunya atau membersihkan bekas-bekas sperma dan keringat yang ada di sekujur tubuhnya.

Mona duduk bersandar rileks dan vaginanya terlihat terpajang dengan jelas karena posisi duduknya yang terbuka lumayan lebar. Matanya setengah terpejam tergolek di atas sandaran sofa. Tangannya lunglai di samping badannya. Napasnya masih terengah-engah. Dia melirik sedikit ke arah saya dan tersenyum. Saya pun tersenyum nakal padanya bagaikan normalnya anak umur 13 tahun. Dan dia berdiri berjalan masuk menuju ke kamar tidurnya.

Mona ini kalau lagi merasa sendirian di rumah memang betul-betul cuek. Pada saat lain dimana saya sedang main ke rumah Alex tapi Alexnya belum pulang sekolah, Mona kerap kali memakai baju semaunya dan sangat minim tanpa repot-repot pakai pakaian dalam. Kadang-kadang hanya memakai T-shirt sebatas pantat yang kebesaran dan longgar tanpa pakai apa-apa lagi, dan sudah kebiasaan Mona kalau duduk posisinya tidak rapi, sehingga pinggul dan selangkangannya seringkali merenggang dan menampakkan vaginanya yang segar dan basah.

Kadang-kadang dia hanya memakai gaun tidur putih ‘backless’ tipisnya yang mini dengan belahan dada rendah sebatas puting, sehingga puting susunya seringkali nampak mengintip keluar. Atau mondar-mandir hanya memakai kimono handuk hijau mudanya sebatas paha. Dan kalau pakai kimono begitu dibiarkannya tali pinggangnya tidak diikat hingga bagian depannya tubuhnya terbuka. Jalan ke dapur atau duduk nonton TV di sofa tanpa membenarkan letak kimononya, atau makan siang setengah telanjang. Dan Mona sudah biasa begitu jika merasa tidak ada orang di rumah. Vaginanya selalu bebas tanpa penutup.

Ada kalanya dimana dia baru pulang sekolah dan masih berbaju SMA putih abu-abu. Semasuknya di rumah yang pertama dilepas adalah celana dalam dan BH-nya dulu. Dan itu dilakukannya dengan ekspresi seperti dia sedang melepas sepatu dan kaos kakinya, yaitu di ruang tamu, dan di depan mata saya.

Pernah celana dalam dan BH-nya dilempar ke arah wajah saya sambil dia tertawa bercanda, atau biasanya dilemparkan saja semaunya di lantai. Terus biasanya dia kemudian makan siang sambil nonton TV dengan baju OSIS SMA-nya ditambah payudaranya yang montok padat berisi dan terkocok-kocok jika Mona bergerak dengan puting susunya yang tercetak jelas. Biasanya penis saya perlahan-lahan mengeras.

Kalau lagi tidak tahan, tanpa basa basi saya buka retslueting celana, keluarkan penis, angkat rok SMA-nya sampai ke pinggang, tidak perduli dia sedang melakukan apa dan memasukkan penis saya tanpa minta ijin dia dulu. Biasanya sih dia kaget, tapi tidak berkata apa-apa sambil mulai menikmati gerakan penis saya mengaduk-ngaduk vaginanya.

Setelah sperma saya tumpah di dalam, dia pun kembali meneruskan apapun aktivitasnya yang sempat terhenti oleh sodokan penis saya. Malah seringkali sepertinya aktivitas Mona tidak terganggu dengan adanya gesekan penis tegang dalam vaginanya. Karena pernah suatu waktu dia masak di dapur dengan telanjang bulat karena mungkin pikirnya tidak ada orang di rumah.

Selagi dia masih menghadap ke arah kompor, pelan-pelan dari belakang saya menghampiri dengan penis teracung. Perlahan-lahan saya selipkan penis berat saya yang sudah keras di antara celah selangkangannya dari belakang.
Dia kaget dan menengok sebentar, dengan suaranya yang khas dan nada cuek biasanya dia hanya bilang, “Eh kamu..!”
Kemudian secara refleks dia melebarkan posisi antara kedua kakinya, sedikit menunggingkan pantatnya dan membiarkan saya bermain dengan payudaranya dan melanjutkan memasukkan penis saya dari belakang dan menyantapnya sampai selesai.

Memang karena badan saya yang masih setinggi bahunya, setiap kali saya harus naik ke kursi agar dapat memasukkan penis saya ke dalam vagina Mona. Dan itu saya lakukan ‘anytime-anywhere’ di rumahnya selama hanya ada Mona sendiri di rumah.

Sepertinya Mona begitu merangsang karena pakaiannya dan cara dia menempatkan posisi tubuhnya yang seakan-akan selalu menyediakan vaginanya yang segar, bersih, sehat, basah dan berlendir itu 24 jam buat limpahan sperma dari penis saya yang bersih, besar, berat dan panjang (walaupun waktu itu saya masih di bawah umur) ini di dalamnya. Mungkin ini yang membedakan dia dengan remaja-remaja perempuan lainnya.

TAMAT

Peace, Love, Unity & Respect 5:43 pm

Tamara Blezynski dan suaminya, turun dari mobil di depan rumah mereka. Mereka baru saja berkunjung ke kerabat mereka di Bandung, dan pada pukul 11 malam ini baru bisa sampai di rumah. Pada saat mereka berdua turun dari mobil, tiba-tiba ada Panther hitam yang mendekati sambil menyalakan lampu mobil yang sangat terang. Karena silau dan kaget, Tamara tidak langsung sadar bahwa mobil tersebut telah ada di sampingnya. Segera saja pintu Panther itu terbuka dan tiga pasang tangan keluar dari dalam mobil. Yang pertama memegang tangan kiri, yang kedua menarik tangan kanannya, dan yang ketiga meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya masuk ke Panther. Setelah Tamara masuk ke dalam. Panther tersebut langsung tancap gas.

Di dalam mobil, Tamara melihat ada lima orang yang bertampang beringas yang pertama dipanggil Boss oleh yang lain, ada juga yang Botak, yang satu lagi bermuka Bopeng dan di sampingnya ada salah satu matanya ditutup kain hitam ala bajak laut. Sedangkan di depan ada lagi yang berambut Jabrik.

“Lepaskan! Apa-apaan ini?! Tolong!” teriak Tamara sambil meronta-ronta, sementara ada tangan-tangan penculiknya menggerayangi tubuhnya. Ada yang meremas pinggulnya, mengelus pahanya, dan yang membuat Tamara menjerit kesakitan adalah Boss dan Botak yang meremas payudaranya keras-keras.
“Aaaah, jangan! Jangan! Lepaskan saya! Tolong!” erang Tamara sambil berontak tanpa hasil.
Para penculik tersebut membuat Tamara seperti boneka selama perjalanan ke markas penculik tersebut. Akhirnya Panther tersebut berhenti dan dengan dipegangi oleh 4 orang masing-masing di tangan dan kaki, Tamara yang sudah kelelahan meronta selama perjalanan digotong masuk ke sebuah ruangan. Dalam ruangan itu hanya ada satu ranjang dan lemari besi.

“Ikat dia!” Boss menyuruh 4 anak buahnya mengikat tangan dan kaki Tamara ke sudut-sudut ranjang, sehingga tubuh Tamara membentuk huruf X, kaki dan tangannya membuka lebar.
“Gimana sekarang Boss?” tanya Jabrik sambil menjilati bibirnya. Dia sudah sangat terangsang, batang kemaluannya sudah menegang dari tadi.
“Kita giliran! Pertama gue, trus selanjutnya loe gantian!” putus sang Boss, “Sekarang loe semua telanjangin aja dulu dia.”
“Jangan! Jangan! Lepaskan!” Tamara mulai meronta-ronta lagi ketika Botak, Mata Satu, dan yang lainnya mendekatinya dan langsung merobek-robek bajunya sampai dia telanjang bulat. Tamara menangis sekeras-kerasnya sambil terus berusaha melepaskan diri.

“Wow, bodinya oke banget” seru Botak, “Gila, bunder ama sih loe. Gue taruhan pasti enak banget ngisep puting susu loe!” Setelah itu mereka semua langsung melepas pakaiannya masing-masing. Tamara menggigil ketakutan melihat ukuran kejantanan mereka yang luar biasa besarnya. Sementara anak buahnya menggerayangi tubuh Tamara dari pinggir ranjang, sang Boss langsung naik ke atas ranjang dan mengambil posisi di atas Tamara.

“Gimana? Loe udah siap kan Sayang? Tenang aja loe bakal ngerasain yang belon pernah loe rasain lewat suami loe!” kata si Boss sambil mengocok batang kemaluannya agar benar-benar tegang.
“Jangan! Lepaskan saya! Saya janji tidak lapor polisi!” mohon Tamara sambil menangis.
“Hush! Kita di sini mau senang-senang Sayang! Masa loe mau pergi dulu!” kata si Boss sambil mulai mengarahkan batang kejantanannya ke liang senggama Tamara.

“Jangan.. jangan.. saaakkkit, jaangaaakkkhh” Tamara berteriak-teriak ketika si Boss mulai mendorong masuk batang kejantanannya.
“Buset! Sempit amat memek loe.. Loe seminggu maen berapa kali sih ama suami loe?!” dengus si Boss sambil terus mendorong batang kejantanannya yang baru bisa masuk sampai kepala, sementara Tamara menjerit sejadi-jadinya, karena selain masih sempit, liang kewanitaannya juga kering sekali sehingga setiap si Boss mendorong batang kejantanannya sakitnya bukan main.

“Jangan! Ampun! Sakit sekali! Saya nggak kuat! Ampuungghhh” Tamara kembali mendengus kesakitan ketika si Boss mulai mendorong-dorong batang kejantanannya lagi.
“Dorong sekalian aja Boss!” saran Bopeng sesaat waktu dia berhenti mengisap-isap puting susu Tamara.
“Oke Sayang! Loe siap ya! Gue mau dorong loe sekali lagi”, si Boss bersiap sambil mengusap keringat di dadanya, Tamara merintih-rintih ketika sodokan si Boss berhenti sejenak. “Sakit sekkhhh.. Aaarrgghhh.. aaakkhhh…” si Boss mendorong keras-keras batang kejantanannya sambil memegangi pinggul Tamara. Hasilnya seluruh batang kejantanannya bisa masuk sambil diiringi jeritan Tamara yang melengking tinggi. Setelah itu mulailah si Boss bergerak maju mundur perlahan, setiap tarikan dan dorongan semuanya diiringi oleh erangan Tamara.

Akhirnya setelah 15 menit maju mundur, si Boss mulai bergerak makin cepat. Tamara yang sudah kelelahan mengerang dan lemas, mulai merasakan sakit yang menggigit liang kewanitaannya, sementara si Boss makin cepat maju mundur sampai seluruh ranjang berguncang-guncang.

“Sakittt! Aaah, ampuuun! Ampuun…” Tamara tak berdaya, tubuhnya juga terbanting-banting di ranjang seirama dengan gerakan si Boss. Tubuh Tamara juga sekarang berkilau karena air liur yang dari lidah-lidah penculiknya yang menjilati tubuhnya dari paha sampai wajahnya. Sekarang si Mata Satu sedang mengigiti puting susunya sementara si Bopeng menjilati wajahnya. Si Jabrik meremas-remas susunya dan si Botak meraba sisa tubuh Tamara yang lain.

“Eeeggh, gue mau keluar Sayang, eegh.. eegh.. eegh..” dengus si Boss “Yaa.. ya.. gue keluarin Sayang, akk.. eaaah.. eaaahh..” tubuh si Boss mengejang sesaat sambil mendorong batang kejantanannya masuk ke liang kemaluan Tamara. Dari batang kejantanannya keluar sperma yang saking banyaknya sampai menetes keluar.

“Aaaah! Gue puas bener nih! Gimana dengan loe Sayang?” perlahan si Boss menarik keluar batang kejantanannya yang lemas.
“Ampun, sakit sekali! Saya mohon, ampun..” erang Tamara lirih karena kesakitan dan kecapaian diperkosa si Boss selama 20 menit lebih.
“Oke sekarang giliran loe semua, jangan rebutan, dia udah jadi milik kita sekarang! Gue mau duduk dulu biar kontol gue bisa istirahat!” si Boss berkata sambil bersila di lantai, “Lo semua tunjukin gue kalo loe jantan oke?!”
“Beres Boss”, seru mereka serempak.
“Sekarang gue duluan!” si Jabrik naik ke atas ranjang.
“Halo Tamara sayang! Kita mulai aja ya! Gue jamin punya gue lebih besar dari Boss!” Tamara kembali membelalakkan mata sambil berteriak.

Tak lama kemudian kontol besar milik si Jabrik sudah menyodok liang kewanitaan Tamara yang sudah tidak karuan bentuknya dan sodokan ganas ini membuat Tamara meneteskan air matanya. Berjam-jam lamanya Tamara mesti menerima siksaan dari laki-laki yang sudah lapar akan seks dan tubuh Tamara yang sangat seksi dan menggairahkan itu. Setelah mereka semua puas menyemprotkan cairan kenikmatan mereka ke dalam liang kemaluanTamara. Mereka menampar Tamara sehingga tamara menjadi pingsan dan ketika dia sadar, dia sudah berada di sebuah hutan yang dia sendiri tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

Tak lama kemudian, Tamara melihat sebuah cahaya lampu senter di kejauhan dan dia berpikir bahwa sebentar lagi dia bisa melaporkan kejadian yang baru saja dia alami ke polisi. Tetapi sayang sekali karena dugaan dia salah sama sekali. Cahaya cahaya lampu itu berasal dari pemuda-pemuda desa dan ketika mereka melihat tubuh Tamara yang seksi dan panas itu, mereka tidak menolong Tamara tetapi mereka malah memperkosa Tamara. Sungguh pedih hati Tamara menerima kenyataan bahwa dia harus melayani 20 pemuda pemuda sekaligus. Ada beberapa pemuda yang menjilati payudaranya yang gempal, ada yang memasukkan kejantanannya ke dalam liang kewanitaan Tamara yang penuh dengan sperma yang sudah tidak tahu lagi milik siapa sperma itu dan ada pula yang menancapkan batangannya ke dalam anus Tamara dan mulut Tamara yang indah sekarang mesti melayani batang kemaluan dari 3 pemuda dan dia mesti menjilatinya satu persatu sehingga tak lama kemudian wajah cantik Tamara sudah dihiasi oleh sperma pemuda-pemuda itu. Setelah mereka semua puas memuaskan nafsu bejat mereka, mereka meninggalkan Tamara seorang diri di hutan yang gelap itu.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:42 pm

Pada saat itu saya mempunyai teman akrab yang bernama Deni. Saya dan dia sama–sama sekolah di sekolah yang sama, hanya berbeda kelas, dia di kelas II-E, sedangkan saya di kelas II-F, tetapi kami berteman. Deni adalah seorang anak yang berkecukupan dan bisa dibilang kaya. Deni mempunyai dua rumah, rumah yang satu dipakai oleh kedua orang tuanya, sedangkan rumah yang satunya lagi oleh orang tuanya dikontrakkan ataupun dikoskan kepada para pegawai atau mahasiswa, dan kebetulan sekali Deni diam di rumah yang dikontrakkan tadi. Dengan alasan biar tidak susah dan jauh dari sekolah dan ingin belajar hidup sendiri, maka Deni diperbolehkan tinggal di rumah yang satunya itu.

Memang kebutuhan hidup Deni selalu dipenuhi oleh orang tuanya, dimana kedua orang tuanya bekerja dan Deni mempunyai adik 2 orang, tetapi masih kecil–kecil. Di rumah Deni yang dikoskan tersebut, dari sekian banyak orang yang tinggal, ada seorang wanita yang bernama Eka. Sebut saja Mbak Eka, Mbak Eka tersebut mempunyai bentuk tubuh yang aduhai, dengan ciri-ciri dia mempunyai tinggi sekitar 160 cm dengan badan ideal dan wajah imut–imut, kulit putih, pokoknya cantik dan rambut hitam panjang sebahu. Mbak Eka tersebut sudah keluar sekolah SMA telah 2 tahun dan pada waktu itu Mbak Eka bekerja di perusahaan swasta yang masuk kerjanya selalu kebagian masuk siang atau biasa disebut shift dua.

Deni dan saya sendiri suka pulang sekolah siang hari, kira–kira pukul 13:00 siang, karena saya sekolah pagi. Setiap pulang sekolah Deni selalu pulang ke rumah. Yang ada di rumah hanyalah tersisa Mbak Eka saja, sebab yang lainnya bekerja berangkat pagi dan baru pulang sore hari. Setiap sehabis pulang sekolah, Deni sering sekali dan bahkan hampir tiap hari mengintip Mbak Eka yang sedang mandi untuk pergi ke kantor. Kamar mandi di rumah Deni hanya satu, dan Deni tidur di kamar atas, sedangkan kamar mandi tersebut ada celah yang menembus dari atas. Kata si Deni biar cahaya matahari masuk ke kamar mandi untuk mengirit uang. Deni mengintip Mbak Eka yang imut–imut dan berbody mulus itu. Mbak Eka pun mempunyai payudara yang tidak kalah dari model–model majalah top Idonesia dan mempunyai bulu–bulu yang seksi di sekitar alat kelaminnya.

Pada saat mandi Mbak Eka sering sekali selalu seperti meraba–raba payudaranya sendiri, dan tidak jarang juga Mbak Eka suka seperti menggosok–gosokkan tangannya ke alat kelaminnya. Pernah juga Mbak Eka sepertinya memasukkan tangannya sendiri ke dalam alat kelaminnya atau goa hiro-nya itu dengan mendesah seperti kesakitan dan kenikmatan, “Eeh… ehhh… uuuhh.. uuuhh… iiihhh… ahhh…”

Karena Deni sering sekali mengintip Mbak Eka mandi pada siang hari untuk pergi ke kantor, Deni menjadi terobsesi untuk menyetubuhi Mbak Eka. Deni pun setelah mengintip Mbak Eka mandi, dia sering sekali langsung melakukan kocokan terhadap alat kelaminnya (loco–loco), karena Deni terangsang oleh bentuk tubuh sensual milik Mbak Eka. Karena Deni sering melakukan hal tersebut, akhirnya Deni pun meminta foto-nya Mbak Eka dengan alasan buat kenang–kenangan. Mbak Eka pun memberikannya tanpa curiga sedikit pun. Rasa nafsu birahinya Deni pun semakin meningkat, sebab Deni melakukan onani terhadap alat kelaminnya sambil memandangi foto Mbak Eka. Hampir tiap hari Deni setelah pulang sekolah selalu melakukan aktifitasnya seperti itu. Hubungan Deni dan Mbak Eka memang dekat, karena Mbak Eka pun kepada Deni sudah menganggap seperti adik sendiri, sedangkan Deni ingin sekali menjadi pacar Mbak Eka, apalagi berhubungan badan dengannya, itulah impian Deni.

Mbak Eka memang selalu hobby nonton film yang semi porno, seperti film remaja barat. Tidak jarang juga menonton bersama Deni di ruang tengah tamu. Bila ada film baru, Deni selalu membawa teman–teman kami, khususnya cowok dan kalau cewek sulit diajaknya, bahkan banyak yang bilang film yang kami tonton itu jorok.

Hingga suatu hari, Mbak Eka kebetulan libur dan Deni setelah habis pulang sekolah langsung bertanya kepada Mbak Eka, “Mbak kok belum mandi..? Enggak masuk kantor yah Mbak..?”
Dengan nada semangat Mbak Eka pun menjawab, “Enggak Den, kan Mbak hari ini libur Deni…”
Pada waktu itu munculah ide gila dibenak Deni. Deni langsung pergi ke sebuah rental VCD yang letaknya tidak jauh dari rumah Deni. Waktu itu Deni sangat beruntung, Deni mendapatkan kaset vcd tersebut, dan film yang dipinjam Deni bukanlah film cerita tentang kehidupan remaja yang selalu dipinjam dan ditonton oleh kami. Film yang dipinjam Deni pada waktu itu film luar yang memang sebuah film yang bukanlah film semi, melainkan film vulgar atau blue film ataupun bisa dibilang film porno.

Setelah dari tempat penyewaan VCD, Deni segera pulang dengan perasaan sudah tidak sabar ingin menonton film tersebut bersama–sama Mbak Eka.
Sesudah sampai, Mbak Eka bertanya pada Deni, “Deni habis dari mana, kok kayaknya cape Den..?”
Deni langsung menjawab dengan nafas kelelahan, “Ohh… oh.., i.. ini Mbak, habis pinjam film, Mbak mau nonton enggak..?” dengan hati yang berharap supaya Mbak Eka pun ikut menonton.
Dan Mbak Eka pun menjawab, “Emangnya film apaan tuh Den..?”
“Oh.., ini filmnya pasti deh okey, Mbak pokoknya pasti ingin nonton deh..!”
Mbak Eka pun akhirnya ingin tau juga apa film tersebut, “Oke deh Den, tapi Mbak Eka beres–beres dulu yach Den..!”
“Iyah deh Mbak, Deni tunggu di atas…”
Memang di kamar Mbak Eka tidak ada TV dan kebetulan di kamar Deni ada TV.

Setelah menonton Mbak Eka sangat terkejut melihat film tersebut.
“Den kok ini film-nya full gar amat, dan Kamu harusnya enggak nonton yang ginian Den..?”
“Ah Embak.., kan Deni udah gede Mbak, masa harus nonton film Doraemon melulu, bosankan Mbak… lagian biar tidak jenuh.”
Mbak Eka pada waktu itu terlihat dirinya terangsang oleh adegan–adegan yang diperagakan di film tersebut, terlihat Mbak Eka saat menonton duduknya tidak mau diam dan sekali-kali Mbak Eka pun sepertinya menelan air ludahnya. Deni pun pada waktu itu sudah pasti batang kejantanannya sudah menegang, yang rasanya ingin juga melakukan adegan–adegan seperti di film tersebut, karena sang putri sebagai lawan mainnya sudah di depan mata dia.

Tapi setelah film kedua selesai, Mbak Eka langsung meminta ijin untuk pergi ke kamar tidurnya dan Deni pun membereskan kaset VCD tersebut. Tidak lama kemudian Mbak Eka masuk ke kamar mandi, tetapi Deni pada saat itu tidak ingin lagi mengintip Mbak Eka, melainkan ingin sekali berhubungan tubuh bersama Mbak Eka.

Deni sambil menunggu Mbak Eka keluar dari kamar mandi, berpura-pura menonton TV di tengah rumah tersebut. Tidak lama kemudian terlihatlah Mbak Eka keluar dari kamar mandi yang hanya memakai handuk saja sehingga pada saat itu Deni pun semakin terangsang ingin sekali langsung menerkam Mbak Eka.
Mbak Eka pun sambil jalan menuju ke kamar tidurnya bertanya kepada Deni, “Deni Kamu mau mandi juga..?”
Deni langsung menjawab, “Ah enggak Mbak..!”

Tidak lama kemudian Mbak Eka masuk kamar, dan Deni pada saat itu langsung saja secara diam–diam ingin mengintip Mbak Eka. Hari itu adalah suatu keberuntungan bagi Deni, karena ternyata pintu kamar Mbak Eka tidak ditutup rapat. Pada waktu itu Deni yang tidak berpikir panjang langsung saja masuk ke dalam kamar Mbak Eka dan langsung menutup pintu Mbak Eka dan menguncinya. Mbak Eka sangat terkejut karena pada saat itu Mbak Eka sedang memakai CD-nya yang baru sampai ke pahanya.
“Deni.., Kamu apa–apaan Deni..? Kamu berani kurang ajar Den..?” kata Mbak Eka terkejut.
Tanpa dihiraukannya omongan Mbak Eka, Deni langsung menerkam Mbak Eka bagaikan harimau menerkam rusa. Langsung saja Mbak Eka berontak dan marah. Deni mendorong Mbak Eka ke kasur tidur dan langsung menutup mulut Mbak Eka agar bungkam seribu kata.

Deni pada saat itu memang sudah kemasukan setan, Deni langsung menyiumi bibir Mbak Eka sampai dengan payudara Mbak Eka sambil memegang kedua tangan Mbak Eka. Posisi mereka pada saat itu Deni di atas badan Mbak Eka yang hanya memakai CD sampai dengan pahanya. Mbak Eka pun berontak, sehingga Deni menyiumi bibir Mbak Eka tersebut merasa sulit. Setelah itu, Deni menyiumi bibir, leher dan sampai payudara Mbak Eka. Setelah ada 10 menit dengan gigitan kecil, akhirnya Mbak Eka sepertinya sudah pasrah akan tindakan Deni tersebut.

Karena terlihat di wajah Mbak Eka sudah pasrah dan tidak berontak lagi sambil meneteskan air mata, akhirnya Deni melepaskan bajunya dan celananya hingga Deni tidak memakai sehelai kain apa pun. Deni langsung saja melepaskan CD yang akan dipakai oleh Mbak Eka yang hanya sampai di pahanya. Secara sepontan Deni memegang kedua kaki Mbak Eka dan langsung menariknya sehingga alat kelamin Mbak Eka sudah di ujung pintu kenikmatan. Tanpa basa–basi Deni memasukkan batang kejantanannya yang sudah menegang dari tadi dengan bantuan tangannya, tetapi anehnya batang kejantanan Deni sulit sekali dimasukkan ke dalam liang keperawanan Mbak Eka, sehingga Deni berusaha secara paksa.
Akhirnya Deni dapat menembus tembok sempit liang kewanitaan Mbak Eka, sehingga Mbak Eka langsung menjerit kesakitan, “Ahhh… ahh… aawww…” karena pada saat itu kesucian Mbak Eka sudah hilang oleh batang kejantanannya Deni.

Karena mendengar Mbak Eka menjerit, nafsu birahinya Deni semakin bertambah. Deni terus mengayun batang keperkasaannya ke depan, mundur-depan-mundur untuk menuju gerbang kenikmatan yang diharapkan Deni pada klimaksnya berhubungan seks. Sekitar 15 menit kemudian, Mbak Eka merasakan liang senggamanya sudah lecet, sehingga Mbak Eka ingin sekali melepaskan batang kejantanan Deni dari liang kewanitaannya. Tetapi Deni tidak melepaskannya, malahan menarik paha Mbak Eka agar tetap pada keadaannya. Hal ini mengakibatkan Mbak Eka terlihat lemas sekali dan tidak lagi berontak, karena memang sudah benar-benar lelah di 20 menit terakhir setelah perlakuan tidak senonoh yang dilakukan Deni terhadapnya. Tidak lama kemudian, batang kejantanan Deni pun terasa hangat, lecet, dan akhirnya terasa deyutan–deyutan seperti ingin mengeluarkan cairan. Dan akhirnya cairan penyumbur Deni pun menyempot ke dalam liang senggama milik Mbak Eka.

Karena deni melihat Mbak Eka sudah lemas, Deni pun segera mengambil tindakan langsung menggenjot kembali batang kemaluannya ke dalam dan keluar liang senggama Mbak Eka secara cepat. Dari mulai sempit hingga terasa liang senggama Mbak Eka semakin lebar. Memang kali ini tidak menyempit lagi, laju jalannya batang kemaluan Deni tidak terhimpit lagi dan terasa saat itu pula terlihat adanya cairan yang dikeluarkan dari liang senggama Mbak Eka. Pemandangan ini membuat Deni bertambah semangat.
Mbak Eka pada saat kelelahan hanya bisa mengucapkan, “Ahhh… ahhh… iiih… uuhh… aaaw… uuuh… iiihh… eehhh…” saja.
Dan deni tidak berkata apa–apa karena terlalu nikmatnya perasaan yang dapat Deni rasakan saat itu.

Hingga ada 1 jam berlanjut, Deni akhirnya melepaskan batang kejantanannya dari dalam liang kewanitaan Mbak Eka. Terlihat cairan mani yang bercampur antara yang dikeluarkan oleh batang keperkasaan Deni dengan air mani yang dikeluarkan oleh Mbak Eka. Mbak Eka hanya tergeletak setelah Deni tidak lagi menggagahinya. Mbak Eka terhempas ke dalam penderitaan birahi dengan tubuh tidak tutupi apa–apa dan matanya sayu meneteskan air mata. Deni karena kelelahan juga tergeletak di samping Mbak Eka dan menikmati keberhasilan dirinya yang telah mencapai kenikmatan dalam berhubungan badan yang selalu diinginkannya.

Setelah beberapa lama, Deni dan Mbak Eka tergeletak di kasur. Deni segera bangun dan langsung menerkam Mbak Eka kedua kalinya dengan memeras payudara Mbak Eka, sehingga Mbak Eka kembali mengucapkan desahannya.
“Ahh.. ahhh.. Den jangan… diterusin Dennn… jangann… Denn..!”
Deni tidak menghiraukan ucapan Mbak Eka tetapi justru langsung Deni meraba–raba dan sekali-kali memasukkan tangannya ke dalam liang kewanitaan Mbak Eka. Mbak Eka menjerit kesakitan karena liang senggamanya seperti dirobek–robek oleh tangan nakal Deni.
“Aaawww… awww… iiihhh… uuuhhh… aaauuw..!”

Seteleh itu keluarlah cairan yang hangat dari liang senggama Mbak Eka. Deni langsung menjilati cairan tersebut dari liang kewanitaan yang sudah banjir milik Mbak Eka. Mbak Eka pun anehnya tidak kesakitan, tetapi justru kegelian.
“Den… Den… aduh… geli… Den… geli… Den..!”
Karena batang keperkasaan Deni masih sangat tegang tetapi Deni juga melihat Mbak Eka sudah benar–benar kelelahan. Akibatnya, Deni langsung mengocok (mengonani) batang kejantanannya dengan tangannya dengan frekuensi yang sangat cepat, sehingga Deni ingin mengeluarkan air maninya. Tanpa memberi aba-aba, Deni langsung menyodorkan kemaluabnnya tepat di mulut Mbak Eka. Tidak lama kemudian air mani menyempot ke mulut Mbak Eka dan langsung Deni menyusut-nyusutkan batang kejantanannya ke mulut Mbak Eka yang masih tergeletak kelelahan di kasur.

Deni langsung mengambil tangan Mbak Eka dengan bantuan tangannya sendiri untuk memegang batang keperkasaannya yang sudah loyo. Deni menyuruh Mbak Eka untuk memegang dengan kepalan yang keras dengan bantuan tangan Deni dan langsung mengayunkan keluar ke dalam hingga Deni merasa puas pada saat itu.

Setelah kejadian tersebut, hubungan Deni dan Mbak Eka menjadi renggang. Dan beberapa minggu sesudah itu, akhirnya Mbak Eka pindah kontarkan. Tidak lagi di rumah Deni. Dan akhirnya Deni sangat kehilangan Mbak Eka karena memang secara diam–diam Deni pun mencintai Mbak Eka.
“Mbak Eka-ku sayang Mbak Eka-ku malang…” ucap Deni dengan menyesal.

TAMAT