Shawn pulang kerja jalan kaki, jalanan cukup sepi, sementara suara guruh sesekali terdengar. Awan terlihat mendung dilangit malam itu.

Cewek yang tingginya sekitar 170 cm, langsing, kakinya juga jenjang banget (Shawn waktu itu pake rok yg rada mini) mempercepat jalannya.

Pukul 20:00 jalanan diluar rumah Shawn, sepi jarang ada mobil yang lewat. Penduduk kota sudah tahu akan ada badai besar malam itu. Kelima berandal yang bertubuh kekar itu mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Mereka mau membalas cewek bertampang melankolis itu yang memergoki mereka mencuri minuman keras tadi,dengan melaporkan satpam. Mereka berencana berpesta memperkosa cewek itu habis-habisan sebagai balasannya.

“Sssstttt…..hati-hati jangan berisik…..ayo sini….” Bisik Emilo sambil memberi aba-aba untuk segera maju bersembunyi dikebun rumah Shawn yang penuh semak-semak.

Sementara itu Shawn tidak mengetahui kalau dirinya diikuti oleh para berandal sejak sepulang kerja tidak menaruh curiga. Cewek itu menyalakan kran air mandi, lalu menuju kekamarnya. Shawn menyalakan lagu disco, sambil melepaskan baju kerjanya.

Di kebun para berandal sudah mulai mengendap- endap sambil menyusun rencana untuk masuk ke dalam rumah. Edi dan Jack mendapat tugas mengawasi jalanan, sedangkan Emilo membuka pintu depan, Joe dan Billie mencari jalan masuk lewat belakang. Pada saat itu secara tidak sengaja Joe melewati jendela kamar Shawn yang lagi membuka baju kerjanya. Roknya berada diatas ranjang, sementara Shawn yang tubuhnya cuma terbungkus kemeja kerja dan celana dalam sambil berdisco membuka kancing kemejanya. Joe segera memanggil Billie untuk melihat pemandangan itu. Mereka menelan ludah melihat Shawn yang meliuk-liuk merangsang menari disco. Ukuran dadanya yang sekitar 36B keliatan jelas banget belahannya ketika cewek itu sudah melepas kemejanya.

“Wow, Joe…LOOK AT HER TITS….aku ingin segera mencicipi tubuhnya….” Bisik Billie tanpa melepaskan padangan matanya menatap tubuh Shawn yang hanya mengenakan baju dalam.

“He…he….he…sabar, Bill…nanti kita cicipi sama-sama, sampai pagi!” sahut Joe yang makin bernapsu melihat hal itu.

Beberapa saat kemudian Shawn beranjak menuju kekamar mandi. Sementara itu Emilo yang berhasil membuka pintu depan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk masuk. Para berandal itu sudah memperhitungkan segalanya, mereka mengunci pintu dari dalam sehingga nanti mereka bebas bertindak. Kabel telpon sudah mereka putus, cewek itu tinggal sendirian dan lagi badai yang akan datang sangat menguntungkan rencana mereka. Dengan leluasa mereka masuk ke kamar cewek itu. Jack membuka kulkas, yang lain masuk ke kamar Shawn. Edi memeriksa lemari pakaian Shawn.

“Hai….lihat apa yang kutemukan!” sambil menunjukkan barang temuannya. Joe segera menyahut celana dalam itu.

“Hmmmmm….mmmm…” Joe mencium celana dalam.
“Ingat aku yang pertama bercinta dengannya!” sahutnya sambil tersenyum penuh arti. Para berandal itu tak sabar membayangkan apa yang akan mereka nikmati. Lalu mereka mengambil posisi untuk bersembunyi.

Shawn selesai mandi menuju keruang tengah. Tubuhnya hanya terbalut oleh baju dalam dan kemeja putih, duduk menikmati acara TV kabel. Waktu itu pukul 20:30, cewek itu tidak menaruh curiga bahwa ada orang lain dalam rumahnya. Tiba-tiba dari arah belakang salah seorang berandal maju mendekap tubuhnya. Shawn terkejut dan segera berontak melepaskan diri.

“EVER BEEN GANG RAPED BABY? DON’T KNOW WHAT YOU BEEN MESSIN! YOU STILL REMEMBER US DON’T YOU……” ejek Edi.
Shawn segera mengenali wajah itu menjadi ketakutan sekali, ia tak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

Joe maju menerkamnya tiba-tiba, cewek itu menjerit ketakutan ketika berhasil dipeluk. Ia meronta-ronta dan menendang Joe. Tanpa disadarinya tendangannya mengenai selangkangan Joe membuatnya meringis kesakitan dan melepaskan dekapannya. Shawn segera melepaskan diri dan lari menuju pintu depan. Para berandal segera mengejarnya sambil menyorakinya. Dengan sekuat tenaga pintu depan itu berusaha dibuka, tetapi usahanya sia-sia.

“Wooooo……woooooo……ha…ha…ha….ayo sayang, mau lari kemana kamu hah….ayo sini…ha…ha….ha…” Ejek para berandal yang mengejarnya dari belakang. Shawn segera dikepung oleh para berandal. Mereka menyoraki ketidak berdayaannya. Shawn didesak terus sampai merapat kedinding, Joe yang tadi meringis kesakitan mulai maju. Pada saat cewek itu hampir putus asa, ia berhasil berkelit dari kepungan berandal itu, lolos dan lari menuju ke dapur, Shawn bermaksud lari lewat pintu belakang. Para berandal segera mengejarnya lagi. Nasib sial bagi Shawn, begitu tangannya berhasil menyentuh gagang pintu, para berandal berhasil menangkapnya kembali. Rambut pirang Shawn yang panjangnya sebahu terjambak, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Aaaahhhh….aammpun…aaah” hiba Shawn, sementara para berandal tersenyum sinis memandangnya.
“Sayang…. Kami akan memberimu pengalaman yang tak akan kau lupakan! kau tadi telah merusak acara pesta kami, sekarang kau harus membayarnya dengan tubuhmu yang indah itu……ha…ha..ha…, oya kau juga akan menyesal telah menendang punyaku, akan kujoblos kau sampai mampus! ” Joe maju dari kerumunan temannya.

Shawn tak berdaya, rambutnya dijambak sementara tangannya dilipat kebelakang. Dari dapur ia diseret menuju ruang tamu saat itu pukul 20:45. Disana ia dikelilingi oleh kelima berandal sambil didorong-dorong.

“Sayang, kita akan berpesta denganmu!” seru Edi tak sabar sambil mendorong ke arah Billie.
“Ha…..ha…ha…. kau tak akan bisa lolos kali ini….” Ejek Billie sambil mendekap tubuh Shawn. Mereka berteriak-teriak membuat Shawn makin ketakutan.

“Kemarikan dia Bill….HEY BABE, I BET MY COCK WOULD FEEL REAL GOOD WARPED UP IN YOUR PUSSY!” seru Jack tak sabar, sambil mempraktekkan gaya bercinta penuh napsu. Shawn didorong ke arah Jack yang segera merangkul nya dari depan. Mulutnya segera mencari dada cewek itu, sementara pinggulnya bergerak maju mundur seakan sedang bercinta dengannya.

“Wooooo…. Wooooou…..FUCK YOU GIRL, FUCK YOU…..” Jack menggerayangi cewek itu.
“Aaaahhhh…….aaam…punnn….aahhh…..jaa…aa ahhhh!!!” jerit Shawn ketakutan.

Tiba-tiba dengan satu sabetan, tangan salah satu berandal merobek kemeja putih Shawn, membuat cewek itu terpelanting. Emilo segera mendekap dari belakang. Sekarang tubuh Shawn hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, membuat mereka makin menjadi-jadi.

“Ah…aahh…aahh!” jerit Shawn ketika tangan Emilo yang mendekap tubuhnya dari belakang mulai menggerayangi pahanya.
“Kita akan memberimu pengalaman yang tak terlupakan, manis…ha…ha…ha…” bisik Emilo.

Para berandal lainnya ikutan beraksi. Tangan Edi meremas remas buah dada Shawn. Jack memburu kemaluan Shawn, sementara Billie dan Joe buka baju dan celana panjang mereka sambil tertawa sinis. Tubuh para berandal itu terlihat begitu kekar dan berotot.

“HEY, SOMEBODY GET BEHIND THE BITCH AND HOLD HER ARMS, I’M FUCKING HER FIRST!” Joe memberi aba-aba yang langsung disetujui teman-temannya. Cewek itu meronta-ronta di bopong kelima berandal itu keruang tengah.

“Jack, Emilo, kau pegangi tangan dan kakinya, terlentangkan dia di meja ini” perintah Joe.
Lonceng berdentang menunjukkan pukul 21:00. Disana Shawn diterlentangkan di atas sebuah meja bundar. Masing-masing tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh para berandal. Sinar lampu diatas meja membuat cewek itu silau, Shawn hanya bisa melihat tubuh-tubuh kekar mengerubunginya dan tangan-tangan berotot meraba-raba dadanya, wajah sinis dan suara tawa para berandal mengejek ketidak berdayaannya.

Lidah Joe menelusuri lehernya yang jenjang. Shawn berontak berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya tenaga seorang cewek dibanding dengan lima laki-laki yang kesetanan. Jack dan Edi memegangi kakinya, sementara tangan kanan dan kiri Shawn dipegangi erat-erat oleh Emilo dan Billie. Joe mencumbunya dengan kasar dan penuh napsu, tangannya dengan liar meremas-remas buah dada Shawn.

“I CAN SEE THE NIPPLES POKING AT HER BRA!” kata Joe yang langsung disambut oleh tawa para berandal.
“HEY, CUT THAT BRA OFF MAN. WHAT’S WRONG WITH YOU?” sahut Emilo sudah tidak sabar lagi.
“Aaaah…..aaah….ooh…jangan…..aahkh!” jerit Shawn ketika dengan satu hentakan kasar tangan Joe merobek BH yang dikenakannya. Para berandal makin seru menyorakinya. Mulut Joe segera melumat buah dada Shawn yang sintal, sementara tangan kirinya masih meremas-remas buah dada sebelah kanan Shawn. “Aaaaah….aaoooh…..ooooh…aahh …aaaahh…aaahhhhh….” desah Shawn mengeliat-liat. Putingnya dijilati penuh napsu oleh lidah Joe.

“Ha….ha….ha…. kau sungguh mengiurkan sayang!” tawa Billie menelan ludah tak sabar ingin segera menikmati gilirannya. Joe sekarang membuka celana dalamnya sendiri, penisnya yang hitam besar 10 inci itu terlihat tegak siap beraksi.

“Kenyal sekali…..ha…ha…ha…”seru Joe sambil menerkam dan mulutnya menciumi buah dada cewek itu dengan buas. Tubuh Shawn mengeliat-liat membusur, sementara buah dadanya diremas-remas sampai merah. Lidah Joe menelusuri buah dada Shawn, lalu turun ke daerah perut dan menjilati pusarnya. Beberapa saat kemudian sambil tersenyum sinis, mata Joe memelirik kearah paha Shawn.

“Oooohhh….jangan…..aaahhhh….” hiba Shawn ketakutan tidak berani membayangkan diperkosa oleh kelima berandal kekar dan berotot.

Lalu tangan Joe mulai memelorot celana dalam Shawn. Cewek itu berusaha mempertahankannya,
“Ha..ha…ha…percuma kau berontak manis!” ejek Joe ketika Shawn berontak sekuat tenaga, tetapi Billie dan Emilo makin erat memegangi tangan Shawn, perlahan- lahan celana dalamnya terlepas, rambut kemaluan Shawn terlihat ketika celana dalam berwarna pink itu dari pinggul dilorot turun kepahanya dan akhirnya terlepas.

“Cihuuuiiii……Ha…ha…ha….PARTY TIMES… ha…ha…ha….” Teriaknya sambil memutar-putar celana dalam itu, lalu dicium dalam-dalam menikmati aromanya dan dilemparkan kelantai. Mata Joe jelalatan memandangi Shawn yang telanjang bulat terlentang diatas meja. Shawn lemas karena ketakutan, ia tak berani membayangkan para berandal itu akan ‘menelan tubuhnya ramai-ramai’. Para berandal makin ramai menyorakinya, mata mereka jelalatan memandang setiap lekuk tubuh Shawn. Emilo yang tadi memegangi tangan Shawn digantikan oleh Billie.

“Oooooh…..aaaahh….am…pun…..aaaah…jang… an…aaahh..” hiba tangis Shawn.
“Diam!….THERE’S GOING TO BE A BIG PARTY IN YOUR PUSSY TONIGHT…..Ha…ha…ha…kita lihat siapa yang paling hebat bercinta denganmu!” ejek Emilo mendekati Shawn sambil mengeluarkan pisau lipat. Shawn ketakutan ketika Emilo memainkan pisau itu diantara buah dadanya sambil tersenyum sinis memandang tubuhnya. Pisau itu bergerak kearah puting susunya dan diputar-putar mengelilingi belahan buah dada Shawn yang naik-turun karena napasnya tak beraturan. Hal itu membuat para berandal benar-benar terangsang. Pisau itu terasa dingin di buah dada Shawn, lalu pisau itu bergerak kearah perut cewek itu dan turun ke daerah bawah pusar cewek itu. Edi menyeringai penuh arti ketika mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Emilo dengan pisau lipatnya.

“Ayo Milo, cukur sampai habis…..ha…ha…ha…ha…” seru Edi kegirangan.
“Aaaahh…..ohhhh…jangan….aaah….” teriak Shawn sambil berontak, tetapi para berandal itu makin mempererat pegangannya, sementara pisau lipat itu dengan buas mulai beraksi mencukur rambut kemaluannya.

“Ha…ha….ha… kesempatan yang langka ini tak akan kami lewat begitu saja. Ayo manis berteriaklah semaumu, tak akan ada yang mendengarmu saat ini.” Ejek Joe sambil menerkam buah dada Shawn, diremasnya kuat-kuat membuat cewek itu mengerang kesakitan sementara Emilo mencukur rambut kemaluannya tanpa foam pelicin sehingga Shawn merasa perih. Billie, Jack dan Edi yang memegangi kaki dan kedua tangan Shawn tertawa melihat cewek itu meronta-ronta. “Aaaaaagggg….aaaaoooohh….ooooohhh…oohh.. .” desah Shawn buah dadanya diremas-remas oleh Joe. Suara desahan itu membuat para berandal itu makin terangsang.

Dengan buas pisau Emilo beraksi, dalam beberapa menit saja rambut kemaluan Shawn telah tercukur habis. Daerah kulit bawah perut Shawn yang tadinya ada rambut kemaluannya terlihat memerah. Emilo tersenyum puas, Joe segera maju sambil mementang kaki cewek itu lebar-lebar, sekarang ia berada diantara pahanya , memandang kemaluan Shawn yang terlihat jelas karena rambut disekitar daerah itu habis tercukur.

“Ha…ha…ha…buah dadamu sungguh lezat, NOW I’LL EAT YOUR PUSSY!” kata Joe sambil menjilatkan lidahnya sementara matanya melirik kearah kemaluan Shawn.
“Oooooh….lepas…kan….jang…an ..oooOOAAHH!” tangis Shawn terhenti ketika Joe mulai menjilatinya. Lidah itu seakan menjulur panjang menjelajahi lorong vagina Shawn. Tubuh cewek itu mengelinjang-gelinjang, sementara lidah Joe bergerak seperti cacing menggali lobang.

“Oooooohhhhh…aaaauuuuoooo…oooouuu…aaaah. ..” Desis Shawn sementara kepalanya hanya bisa menggeleng ke kiri dan kanan. Tubuh Shawn bergetar, tangannya mengepal erat-erat, Emilo menciumi leher dan daerah sekitar ketiak, sambil tangannya mencubit puting susu cewek itu. Jack melepaskan kaki cewek itu, dan ikutan mencumbu perut Shawn. Lidah Jack menjilati pusar cewek itu.

“Uuuuuuhhhh….oooouuh…ooohhh…” suara desah Shawn makin keras, ketika lidah Joe masuk makin dalam divaginanya.
“Ha…ha…ha….percuma kau berontak sayang, mau tak mau kau akan menikmati pesta ini!” ejek salah satu berandal.
Buah dada Shawn memerah dan mengembang karena remasan tangan Emilo.

Joe makin bersemangat, ketika vagina Shawn mulai berlendir. Lidah itu menjelajah makin dalam bersamaan dengan pekik desah Shawn. Emilo masih mengulum buah dada cewek itu. Putingnya disedot kuat-kuat, membuat cewek itu mengeliat menahan rasa nikmat dan sakit yang bercampur menjadi satu. Tanpa disengaja dari puting buah dada Shawn keluar cairan putih seperti susu. Emilo lebih bersemangat lagi menyedoti cairan itu, sementara tangannya meremas-remas buah dada Shawn agar keluar lebih banyak.

“Uuuuggghhhh……uuuuuhhhh….uuuhhhh….aaauuuhh hhh….” desis Shawn dengan napas tersedak-sedak.
“Ha…ha…ha….ternyata tubuhmu menghianatimukan? Diam-diam kau menikmatinya……BITCH!!!!” ejek Emilo sambil menyedoti buah dada Shawn, kanan-kiri.

Lonceng berbunyi menunjukkan pukul 21:30. Rupanya para berandal itu senang bermain-main dengan tubuhnya dan berniat melakukan WARMING-UP sebelum memperkosanya. Shawn hanya bisa mengeliat-liat dikerubuti para berandal yang kekar. Lidah Joe dengan lahapnya menjilati vagina Shawn. Tidak puas hanya lidah, sekarang jari tangan Joe ikutan beraksi. Jari tengah dan telunjuk Joe masuk di lobang kemaluan cewek itu, diputar-putar seolah-olah mengaduk-aduk vagina Shawn, sementara lidahnya ikut menjilati bibir kemaluan Shawn.

“Aaaauuuuhhhhh……uuuuuhhh…..aaahhhh” desah cewek itu makin keras, membuat para berandal itu tertawa mengejek ketidak berdayaannya. Jari tangan Joe menusuk masuk dan bermain-main dengan klitorisnya, membuat Shawn mengelinjang-gelinjang. Mata Shawn terpejam, kepalanya menggeleng ke kiri kanan, Jack menciumi pusarnya, tangan Emilo meremas-remas buah dadanya. Setelah puas bermain-main, Joe mementang kedua kaki Shawn.

“Joe mau pakai kondom?” tanya Billie. Joe menolak usul Billie.
“NO WAY….Ha…ha…ha….I WANT TO FEEL SKIN TO SKIN…ok sekarang saatnya manis… NOW LETS SEE JUST HOW TIGHT YOUR CUNT IS!” Joe mengangkat pinggul Shawn tinggi-tinggi. Penisnya sekarang digesek-gesekkan disekitar bibir kemaluan Shawn berusaha menyibak belahannya. Mata cewek itu terbelalak kaget ketika merasakan kepala penis Joe yang besar dan hangat. Batang penis itu berdenyut-denyut dibibir kemaluannya.

“Ohhh…ohhhh sekarang saatnya!” pikiran Shawn melayang jauh ketika Joe mulai beraksi menindih tubuhnya.
“Ayo Joe cumbu dia sampai mampus……Cihuuui!!!” para berandal itu memberi semangat.

Joe merasakan rasa hangat yang mengalir pada kepala batang kemaluannya yang sudah menancap tepat pada pintu gua kenikmatan milik cewek itu. Joe menekan perlahan, seperempat dari bagian kepala kemaluannya mulai terbenam ….Shawn menahan napas …. ditekan lebih dalam lagi …. separuh dari bagian kepala kemaluannya melesak masuk …. dengan lebih bertenaga Joe mendesak batang kemaluannya untuk masuk lebih dalam lagi.

“Ayo Joe! sedikit lagi! Masukin saja semua! Biar dia rasain Joe!” Emilo menyoraki Joe sambil meremas-remas buah dada Shawn.

“AAAgggh!!!!” Pekik Shawn merasakan sesuatu yang menyakitkan dipangkal pahanya ketika seluruh kepala kemaluan Joe sudah terbenam kedalam liang hangat miliknya, dengan satu hentakan yang kuat, penis Joe menyeruak masuk ke dalam vagina Shawn membuatnya memekik kesakitan.

Sementara badai diluar mulai turun dengan deras dimulailah pesta perkosaan itu. Shawn terlentang diatas meja bundar diruang tengah, tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh Billie dan Edi, buah dadanya dijilati, disedoti oleh Jack dan Emilo, sementara penis Joe mengoyak-koyak vaginanya dengan ganas.

“Aaagh…..aaahh….ooooh….ooohh…” suara rintih Shawn seiring dengan gerakan ayunan pinggul Joe yang kuat. Senti demi senti batang kemaluan Joe menelusur masuk menerobos keketatan liang kemaluan Shawn yang sudah basah berlendir itu. Setiap ayunan Joe membuat tubuhnya mengelepar kesakitan karena penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam. Suara desahan Shawn membuat para berandal itu makin bernapsu menikmati tubuhnya.

“Ayo Joe…..genjot terus sampai mampus….. ha…ha…ha…” seru salah satu berandal.
Joe merasakan begitu ketatnya ujung kemaluannya terjepit di dalam vagina Shawn, selang beberapa saat penis itu terhenti menerobos keluar masuk.

“CAN’T SEEM TO GET MY COCK DEEP ENOUGH INTO YOU BABY!” Joe mengatur posisi pinggulnya, “YOU SO DAMN TIGHT!.” kemudian dengan satu hentakan yang kuat membuat batang penis itu hilang tertelan kemaluan Shawn.
“AAAaaaaggggkkk!!” suara lolong histeris Shawn ketika dengan satu hentakan kuat tanpa masalah penis itu beraksi lagi di liang vagina Shawn yang berlendir, rupanya selaput perawan Shawn robek.

“Uuuugggghhhh…. SO YOU’RE STILL A VIRGIN? Ha…ha…ha….manis, kau tak akan melupakan pengalaman ini!” ejek Joe, Penis itu dengan mudah menerjang keluar masuk dengan cepat, sementara tubuhnya menghentak hentak barbar diatas Shawn yang mendesah-desah tak berdaya. Kemaluan Shawn terasa akan robek oleh desakan penis Joe yang menyeruak masuk keluar dalam-dalam seperti membor kilang minyak. Joe melengkuh-lengkuh nikmat, pinggulnya berayun-ayun memompa, penis itu keluar masuk.

Kaki Shawn terangkat tinggi diatas meja terayun-ayun seirama gerakan pinggul Joe menghujamkan keluar masuk batang penisnya yang dengan barbar beraksi divaginanya.

Shawn berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu. Para berandal itu menyanyikan lagu “ROW YOUR BOAT”.
“Aaaahhh…aaaahh….ammm….pun….aahh…
aaahh…aaahh….sakit..ahhhhh..aaaahhh….”jerit Shawn. Pinggul Joe bergerak seperti pompa. Penis itu keluar masuk seiring desahan Shawn.

“Ayo Joe coblos terus, coblos…coblos…woooo…
wooooo BABY….” teriak Emilo sambil menciumi dada cewek itu.

“Delapan puluh delapan……delapan puluh sembilan….sembilan puluh…Ayo…” dengan semangat Edi menghitungi setiap hujaman penis Joe.

“Aaaaahhh….wahhhhaaa….aaaah….uuuuh…
uuugh….” pekik Shawn, sementara Joe berayun-ayun diatas tubuhnya. Cewek itu hanya bisa terisak-isak. Suara petir menyambar di sela-sela badai.

“YEAAAHHH. HOW’S IT FEEL, BABE, HOW’S IT FEEL WITH A REAL MAN’S BIG COCK IN YOUR BELLY? OOOOOOOOOOOOO YOU FEEL SO GOOD, SO HOT.” ejek Joe sambil memaksa Shawn yang mendesah untuk melihat penisnya mengenjot keluar masuk lorong vaginanya. Shawn bisa merasakan setiap inci dari otot dibatang penis Joe bergerak menelusuri lorong kemaluannya.

“Uuuh…uuuh….uuaah…” lengkuh Joe, sudah sekitar setengah jam dia berayun-ayun diatas cewek itu, keringat membasahi tubuh keduanya, tetapi gerakan pinggulnya tetap ganas, penisnya menyodok-sodok dikemaluan Shawn, tangannya menggerayangi pahanya dengan liar.

Sementara itu Emilo membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, penisnya panjang, (tetapi tidak sebesar Joe sekitar 8.7 inci) sudah tegak menegang. Jack masih asyik menyedoti puting buah dada Shawn. Sesekali cewek itu berusaha memberontak, tetapi Edi dan Billie mempererat pegangannya. Joe melengkuh-lengkuh nikmat di atas tubuh Shawn yang mengeliat-liat menahan berat tubuh Joe yang menindihnya.

“Seratus enam puluh enam…… seratus enam puluh tujuh…..seratus enam puluh delapan…..ayo Joe taklukan dia….ha…ha…ha…” Edi menyemangati yang langsung diikuti oleh para berandal yang lain.

“Seratus tujuh puluh tiga….seratus tujuh puluh empat…seratus tujuh puluh lima….” Para berandal yang lain ikutan menyemangati Joe.

Tubuh dan buah dada Shawn berguncang-guncang seirama dengan hentakan genjotan Joe yang makin liar. Vaginanya terasa terbakar oleh gesekan penis Joe yang buas.

“Aaaaaaahhhh…..aaaaaa….aaaaaahh…..aahhhh…. ..ooooohhh” Shawn melolong menahan sakit.
“Ayo…….ayo….seratus delapan puluh delapan…..seratus delapan puluh sembilan….seratus sembilan puluh….ha…ha…ha…” Edi memberi semangat.

“Uuuuaah….uuuuuh….uuughh…tubuhmu nikmat sekali!” Joe mengejek Shawn yang mengigit bibirnya menahan sakit. Pinggulnya maju mundur diantara selangkangan cewek itu. Jack dengan gemas mengigit puting buah dada Shawn, sementara tangannya yang satu meremas- remas buah dada sebelah kanan.

“Aaaaahh……uuuughhh…..uuughh…uuukkkh….ooo uuuughh…” rintih Shawn, sementara gerakan Joe mulai pelan, tapi mantap.

“Seratus sembilan puluh enam…..seratus sembilan puluh tujuh….” Semua berandal menyemangati Joe. Batang penisnya keluar masuk dengan barbar.
“”I’M COMING, BABY!” lengkuh Joe.
“OH GOD! NO, PLEASE ! NOOOOO!! NOO! DON’T COME INSIDE ME!!! NOOO, PLEASE!!!!…..AAAKKKHHHH!” kepala Shawn terjengkang keatas, sementara terdengar suara lolong kesakitan ketika batang penis itu menghujam dalam-dalam divaginanya.

Dengan satu hentakan kuat Joe mencapai klimax, penisnya menyemburkan sperma dalam lorong kemaluan Shawn.

“Uuuuuugggh…..ha…ha…ha….bagaimana?” ejek Joe sambil mencabut penisnya dengan perkasa.
“kau akan digilir sampai pagi!!…..ha…ha…ha…NEXT!!!” seru salah satu berandal.

Sementara itu kilat diluar menyambar-yambar, waktu itu pukul 22:25. Shawn hanya bisa terisak-isak, Emilo maju sambil menyeringai. Tanpa perlawanan yang berarti, Emilo sudah berada di antara selangkangan cewek itu.

“Ha…ha…ha…IS MY TIME TO RIDE, BABY I’M GONNA TAKE MY TIME AND FUCK YOU NICE AND SLOW. LET’S SEE HOW LONG I CAN KEEP MY DICK HARD IN THIS WONDERFULLY TIGHT CUNT OF YOURS. SEE HOW LONG I CAN KEEP YOU MOANS…..!” ejek Emilo, sementara batang penisnya dengan mudah masuk ke vagina Shawn. Emilo memulai gerakannya, pinggulnya bergerak memutar, memastikan penisnya masuk penuh, lalu bergerak maju mundur perlahan tapi dalam. Pinggulnya berayun-ayun pelan dan mantap, diantara kedua paha Shawn yang terbuka lebar, sambil meremas-remas buah dadanya. Kadang jari-jari tangan Emilo melintir-lintir puting susu cewek itu, tubuh Shawn hanya bisa mengeliat-liat, sementara dari bibirnya yang terbuka terdengar suara erangan dan desah.

Penis itu beraksi di vaginanya, pinggulnya diangkat ke antara pinggang Emilo yang maju mundur. Jack meninggalkan kerumunan menuju kulkas diruang makan. Joe duduk disofa, sambil melihat teman-
temannya beraksi diatas tubuh Shawn. Billie masih dengan erat memegangi tangan kanan dan kiri Shawn, juga Edi yang memegangi kedua kaki Shawn. Suara desah erangan cewek itu bagai musik merdu ditelinga mereka. Tubuh Shawn basah kuyup karena keringat, sementara Emilo melengkuh-lengkuh nikmat.

“Ooooooooohhhhhh…….uuuuuuhhhhh…..uuuhhhh…. .uuhhh…..
ha…ha…ha….” suara Emilo, penisnya yang panjang tanpa ampun terus mengenjot kemaluan Shawn. Buah dadanya dijadikan bual-bualan oleh Emilo. Giginya mengigiti putingnya dengan gemas, membuat Shawn menjerit kesakitan. Terlihat bercak-bercak merah bekas cupangan disekitar leher dan dada ditubuh Shawn.

“Aaaahhh…..aaaaoooohhh….ooooohhhhhh…ooooohhh h…..” desah Shawn merasakan penis Emilo menusuk keluar masuk divaginanya. Sudah sekitar lima belas menit Emilo beraksi, tubuh Shawn berguncang-
guncang seirama ayunan pinggul Emilo.

“Hai lihat apa ini…..” seru Jack yang baru kembali dari kulkas sambil membawa sebotol selai.
“Oh…ho…ho…hooo…sayang kita sekarang benar-benar menikmati tubuhmu!!!” teriak Edi girang. Beberapa saat kemudian tubuh Shawn diolesi selai, Emilo mengolesi buah dadanya sambil terus menggarap vagina Shawn.

“Ha…ha…ha… bagaimana?……kau masih kurang puas?……Kau tidak suka punyaku?…… Manisku cepat atau lambat kau akan menikmati pesta ini!” Ejek Emilo sambil menatap Shawn yang terengah-engah tak berdaya.

Joe yang duduk disofa tersenyum sinis melihat teman-temannya mengerjai Shawn. Matanya jelalatan memandangi setiap lekuk tubuh cewek itu. Tubuhnya terguncang-guncang seirama ayunan penis Emilo.
“Hei Joe……ayo ikutan!!…ha….ha…ha..wow…tubuhmu sungguh mengairahkan…..woooo…. woooouuuu….” ajak Jack sambil mengoleskan selai di paha Shawn.
Joe bangkit dari sofa menuju ke teman-temannya yang menikmati tubuh Shawn.

Penisnya mulai tegak lagi, melihat adegan didepannya. Joe segera ikutan mengoleskan selai di dada, sementara Jack meratakan keseluruh tubuh Shawn. Suara erangan cewek itu membuat mereka begitu bernapsu. Edi melepas celananya, kepala penisnya besar ( 11 inci ) maju ikutan mengolesi tubuh Shawn dengan selai.

Pukul 23.10. Kilat dan guntur bersahutan diluar, membuat jalanan bertambah sepi.
“Hah…hah….hah……uuuggghhh…”lengkuh Emilo, sekarang ayunannya tidak perlahan seperti pertama, tetapi berirama cepat dan dalam. Vagina Shawn terasa perih terbakar oleh gesekan penis Emilo.
“Ha….ha…ha….. tunggu punyaku manis, YOU WILL LOVE IT!” seru Edi sambil mengolesi penisnya sendiri dengan selei sehingga kepala penis itu terlihat gilap dan lebih besar dari yang sebelumnya.

“Uuuuuggghhhh…….uuuuuggghh…… uuuugggghhhh……”desah Shawn pendek seirama keluar masuk penis Emilo di kemaluannya.
Edi meremas-remas penisnya sendiri, sambil memandangi setiap lekuk tubuh Shawn.
“Ha…ha…ha….Ed, kau sudah tak sabar ya?……” tanya Billie sambil matanya terkagum melihat penis Edi yang makin besar, sehingga kepala penis itu seperti jamur.
“Oooooohhhhhh….uuugggghhh…..oooohh……
oooohh……..HERE I CAMEEE……!!!!” jerit klimax Emilo, penisnya menghujam dalam-dalam sambil menyemprotkan cairan putih.
“Aaaaaaakkkkkhhhhhhh……oooohhh……” pekik Shawn diantara lengkuhan nikmat Emilo.
Emilo mencium kening Shawn yang terlentang terengah-engah diatas meja.
“FUCK YOU BABE!…..ha…ha..ha….” ejek Emilo sambil mencabut penisnya.

Posisinya segera digantikan oleh Edi. Kepala penis yang besar itu digesek-gesekkan di antara paha Shawn. Edi memandangi tubuh Shawn yang sintal dan mulus basah oleh keringat.

“LET’S GO TO HEAVEN, manis…ha…ha…ha….” Bersamaan dengan kata itu Edi menciumi buah dada Shawn, sementara tangannya mengesek-gesekkan penisnya di bibir kemaluan cewek itu.

Teriakan Shawn tertelan badai yang ganas, pukul 23.45. Shawn, meronta-ronta tubuhnya membusur digumuli Edi yang penuh napsu, sementara para berandal yang lain tertawa terbahak-bahak. Tangan Shawn yang dipegangi oleh Billie,membuatnya tak bisa melawan, sehingga dengan leluasa Edi menciumi tubuhnya. Dari leher, lidah Edi terus menelusur turun ke buah dadanya, disedotnya kuat-kuat buah dada cewek itu, membuatnya mengerang kesakitan, lidahnya menjilati dengan lahap cairan yang keluar dari puting susu Shawn. Tiba-tiba dengan hentakan yang kuat penis Edi menerobos masuk kemaluan cewek itu.

“Aaaaakkkkkkkhhhhh…….”Shawn berteriak kesakitan. Penis itu terus berusaha masuk penuh, Shawn bisa merasakan kepala penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam di vaginanya.
“Uuuuugggghhhhh…..sempit sekali….uuuuaahh…
hhhaaaa….”seru Edi sambil terus mendorong masuk penisnya.
“Ayo…..Ed,……ha….ha…ha….masukkan semuanya….biar mampus dia!” teriak Joe menyemangati Edi.

Sekarang kepala penis itu sudah masuk, Edi diam sebentar merasakan otot vagina Shawn yang berusaha menyesuaikan diri dengan penisnya. Dinding vagina Shawn serasa meremas-remas penisnya, membuatnya lebih tegang.

“Ha….ha…ha….kulumat kau, manis!” bisik Edi sambil mulai menggenjotkan penisnya dengan barbar. Joe menciumi leher Shawn, Jack meremas-remas buah dadanya, Emilo meratakan olesan selai, sedangkan tangan Edi mementang pahanya agar lebih leluasa penisnya bisa maju mundur diliang kemaluan Shawn.

“Aaaahhhh……aaahhhhhh…..aaaggghhhh…
aaahhhhh…” lolongan desah Shawn digarap ramai-ramai. Suara desah dan erangan Shawn terdengar bagai musik merdu ditelinga para berandal. Tanpa menghiraukan Shawn yang sudah kelelahan, mereka terus berpesta menikmati tubuh cewek itu. Bagai menyantap hidangan lezat, mereka melahap dan menjilati tubuh Shawn yang basah, mengkilat karena olesan selai dan keringat. Penis Edi menerobos keluar masuk dengan cepat, sementara disetiap hentakan tubuhnya terdengar erangan Shawn menghiba kesakitan. Jack yang meremas-remas buah dadanya sekarang mulai menjilatinya penuh napsu, sedangkan putingnya disedoti agar keluar cairan seperti susu, Joe terus menciumi leher Shawn yang jenjang, sementara Emilo meratakan olesan selai.

“Uuugggh…….uuuuggghhh……..aauughh…..
uuugghhh….uuuuggghhh….” rintih Shawn, sudah sekitar lima belas menit Edi berpacu dengan birahi, peluh membasahi tubuhnya. Edi melengkuh-lengkuh penuh napsu, menikmati setiap inci hujaman penisnya dilorong kemaluan Shawn.

“Haaah…..haaah….uuuggh…..bagaimana manis, asik bukan…..kau akan digilir sampai pagi…ha…ha…
ha….Haah….haaah….” seru Edi sementara pinggulnya bergerak seperti memompa diantara kedua paha Shawn. Buah dada cewek itu memerah diremas-remas dengan kasar oleh para berandal. Tubuh Shawn berguncang-guncang dengan ganas seirama ayunan Edi.

“He…he…he…..buah dadamu lezat sekali, ya…..kau akan membayarnya dengan tubuhmu sayang!” ejek Jack sambil menjilatkan lidahnya keudara sementara tangannya meremas-remas buah dada cewek itu dengan napsu. Shawn hanya bisa terisak-isak sambil menahan sakit disekujur tubuhnya yang basah kuyup karena keringat dan selai. Penis Edi makin ganas menggenjot cewek itu.

“Aaaauuh…..aaagggh……uuuuugggghhhh…
uuuughhhhh….” pikik desah Shawn. Vaginanya terasa panas dan perih oleh gesekan penis Edi yang barbar.

Badai masih ganas, didekat lantai meja makan, terlihat BH dan celana dalam Shawn berserakan sementara diatas meja Shawn diperkosa dengan ganas oleh lima berandal yang kekar, tubuhnya dipentang dan dijilati penuh napsu. Buah dadanya dicengkram dan diremas-remas, lehernya diciumi, puting dan pusarnya dijilati, seluruh tubuhnya diolesi selai, sementara Edi melengkuh-lengkuh nikmat, cewek itu hanya bisa merintih dan mendesah karena penis besar dan hitam beraksi menghentak-hentak barbar keluar masuk diantara selangkangannya. Waktu menunjukkan 24:16 Edi sudah hampir mencapai klimax, irama ayunan pinggulnya makin cepat tanpa perduli Shawn yang terengah-engah kelelahan, Jack menggigit puting buah dadanya, membuat Shawn mengerang kesakitan.

“aakkkh….aaahh…ooooohhhh…” rintih Shawn diantara lengkuh nikmat Edi.
“Huuuh…uuuhhh…..uuuuhhh…..uhhhh….
HUUAAAHHHH…..” jerit Edi mencapai klimax, dengan satu hujaman yang kuat, penisnya masuk hilang tertelan dilorong vagina Shawn.

“Aaaaakkkkhhhh….” jerit Shawn tertahan, tubuh cewek itu mengeliat kejang, lalu lunglai, pingsan kelelahan, sementara penis itu menyemburkan banyak sprema dalam vaginanya. Peluh menetes dari tubuh Edi yang masih menindih cewek itu.

“Ha…ha…ha….tubuhmu sungguh menggairahkan sekali…” Raut wajahnya terlihat puas, beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya, sambil mencium leher Shawn yang masih pingsan. Jack siap-siap maju mengambil posisi.

“Biarkan dia istirahat dulu, nggak enak kalau nggak ada perlawanan” Cegah Joe.
“Kita beri dia obat perangsang saja!” usul Billie sambil tersenyum penuh napsu.
“Jangan, kita simpan itu untuk yang terakhir” Joe duduk disofa.

Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 24:40, Shawn yang baru saja siuman dibopong ramai-ramai menuju kamarnya, disana cewek itu dilempar ke ranjang dan langsung diterkam oleh para berandal yang sekarang semuanya sudah telanjang bulat. Cewek itu berusaha berontak melarikan diri, tetapi dengan cekatan para berandal itu menerentangkan tubuh Shawn. Cewek itu berteriak ketakutan ketika para berandal dengan buas menggumuli tubuhnya.

“Aaaahhhh…..aampun…..aaaahhhh….”hiba Shawn, sementara Edi dengan kasar mulai meremas-remas buah dada kanannya. Joe berusaha mencium bibirnya yang merah merekah. Emilo menjilati dan menyedoti puting sebelah kiri.

“Aaaaduuuhh…aaaaawww…aaaahhh…..ja….
ja….ngan…”teriakan Shawn tak digubris. Jack maju mengambil posisi diantara kedua kakinya, tersenyum sinis sambil membungkuk menciumi leher cewek itu. Shawn mengeliat-liat tak berdaya. Lidah Jack menelusur turun dari lehernya menuju perutnya Shawn.

“Aaaaaahhh…..le…paskan…..aaaahhh” jerit Shawn ditengah kerubutan berandal. Jack mulai menjilati daerah pusar Shawn.

“Manis…tadi kulihat kau suka disco! bagaimana kalau sambil diputarkan lagu…hmmm?…
disco…rock…atau metal?….OK metal saja!” Billie mengejek Shawn. Beberapa saat kemudian terdengar lagu metal, membuat para berandal itu lebih bersemangat menikmati setiap lekuk tubuh Shawn.

“Ha…ha…ha…manis, kami masih belum puas!” ejek Jack. Billie membaca surat yang ditemukannya dimeja rias pinggir ranjang.

“Hmmmm…..SO YOUR NAME’S Shawn McCatry….
INTERESTING….” gumam Billie sambil melihat Shawn yang mendesah-desah tak berdaya dijilati dan diciumi teman-temannya. Beberapa saat kemudian Billie naik keatas ranjang, berbaring disamping cewek itu.

“Nah Shawny sayang, ARE YOU READY TO LOSE YOUR VIRGINITY IN ANOTHER HOLE? kau benar-benar beruntung manis! kau pasti puas!” kata Billie sambil menjilat muka cewek itu yang menangis ketakutan. Billie merangkul tubuhnya dari samping dan digulingkan menghadapkan keatas terlentang sehingga posisinya sekarang dibawah Shawn.

“Hai….sayang pestanya dilanjutkan. Manis kau pikir tadi sudah yang paling sakit, tunggu yang ini kau akan rasain sakit yang sebenernya!” kata Emilo sambil menerkam gemas buah dadanya.

“Dan sekarang kau dapat kehormatan manis BECAUSE I’LL TAKE YOUR ASS VIRGINITY!!” mata Shawn terbelalak ketakutan.
“Oooohhh….jang…aan…PLEASE!!!!” hiba Shawn disela isak tangisnya.

“Shawny kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya sayang!” ejek Billie.
Cewek itu berusaha berontak sekuat tenaga, tapi kerubutan dan remasan dibuah dadanya membuatnya tak bisa berkutik. Shawn didudukkan tepat diatas tubuh Billie, berandal itu mengarahkan penisnya yang tegak di lobang anus cewek itu dan segera dihujamkan dalam anus Shawn tanpa pelumas sehingga membuatnya menjerit kesakitan.

“AAAAKKKKKKKHHHHHH!!!!” lolong Shawn, sementara penis Billie (10 inci) masuk penuh dalam anusnya, sekarang cewek itu dipaksa tidur terlentang. Jack diatas menindihnya sementara Shawn meronta-ronta kesakitan, anusnya terasa sakit oleh batang penis Billie yang berada dibawahnya. Jack yang sudah puas menjilati perut Shawn, sekarang mementang kedua paha Shawn, mengarahkan penisnya (8 inci) ke lorong vagina cewek itu. Apa daya tenaga seorang cewek yang dikeroyok lima lelaki kekar, dengan mudah masing-masing tangan Shawn diikat dengan tali BH dijeruji pilar ranjangnya agar tidak bisa berontak.

Jack segera memasukkan penisnya ke vagina Shawn yang masih meronta-ronta, sambil tertawa terbahak-bahak. “Ha….ha…ha…. sayang sekarang kau rasakan ini!” sambil berkata seperti itu, Jack dan Billie mulai menggoyangkan pinggul mereka. Penis Billie bergerak naik-turun dianus sedangkan penis Jack menyodok keluar masuk seirama nada metal yang makin bersemangat. Teriakan cewek itu tertelan oleh bunyi halilintar yang keras. Usaha Shawn untuk berontak membuat ikatan ditangannya makin erat dan menyakitkan. Tubuh Shawn meronta-ronta kesakitan, tanpa disadarinya gerakannya itu makin membuat Jack dan Billie yang memperkosanya makin terangsang. Tubuhnya mulai menggelinjang kesana kemari, pinggulnya bergerak-gerak ke kanan, kiri, memutar, sementara Billie yang dibawah mempertahankan kecepatan ritme keluar masuk batang penisnya dianus Shawn. Suara kecipak akibat gesekan kemaluan mereka berdua semakin terdengar. Sodokan batang penis Billie dianus Shawn membuat tubuh cewek itu meliuk-liuk tak beraturan dan semakin lama semakin bergerak naik seolah menantang kejantanan Jack.

“Ha…ha…ha….Shawny kau suka ya? Nih akan kumasukkan lebih dalam lagi! HAAAHHHH!!!!” teriak Jack sambil bertumpu pada remasan tangannya dibuah dada cewek itu ia menyodokkan penisnya lebih dalam ke vagina Shawn.

“Oooooohhhh……aaahhh….aaahhhh…aahh…
ampun…amp..aaaaahhh…aaahh!!!!” erang Shawn kesakitan. Sementara kedua penis berandal itu mengkoyak-koyak vagina dan anusnya, begitu penuh nafsu, ganas dan liar. Melihat pemandangan itu dan terbakar oleh api birahi, para berandal lainnya sambil tertawa terbahak-bahak melihat ketidak berdayaan Shawn, mereka meremas-remas penis mereka sendiri.

“Ohhh….ha…ha…ha….bagaimana sayang, bagaimana rasanya….puas nggak? tenang pestanya masih lama….tunggu giliran kita…ha…ha…ha..” seru para berandal lainnya.

Beberapa menit saja penis mereka sudah tegak tegang siap beraksi kembali. Ranjang berderit-derit seirama musik metal dan gerakan mereka yang barbar, Shawn ditindih ditengah-tengah mereka yang menghentak-hentak berpacu dalam birahi. Gerakan Billie bagaikan dongkrak memaksa tubuh Shawn mengelinjang keatas mengundang penis Jack masuk ke lorong vaginanya, sedangkan gerakan Jack yang seperti memompa dari atas menekan kebawah sehingga penis Billie masuk penuh, begitu seterusnya, membuat cewek itu terengah-engah menahan rasa sakit di anus dan vaginanya sekaligus. Billie menciumi leher, tengkuk, telinganya penuh napsu.

“Uuuggh…uuggh…uuuughhh….” rintih Shawn seirama ayunan kedua penis itu. Cewek itu bisa merasakan seakan-akan kedua penis itu saling bertemu dan bergesekan didalam perutnya, hanya berbeda lorong saja.

Jack dan Billie melengkuh-lengkuh nikmat. Buah dadanya diremas-remas dengan kasar sekali oleh Jack. Shawn merasakan kesakitan, tapi remasan dibuah dadanya membuatnya tetap tersadar. Para berandal yang lainnya bersorak-sorak menyemangati keduanya melahap tubuh Shawn , Penis-penis mereka digesek-gesekkan di tubuh cewek itu. Waktu menunjukkan Pukul 01:20 sementara pesta perkosaan itu makin brutal terbawa napsu birahi para berandal. Badai diluar makin ganas dan guntur sesekali menggelegar menelan teriakan Shawn. Joe menemukan lipstik dimeja rias dan dioleskan dengan paksa dibibir Shawn.

“Oooooohhhh….ooouuugggg……uuuugggg” suara desah kesakitan yang keluar dari mulut Shawn. Bibirnya yang merah oleh warna lipstik terbuka lebar. Shawn memejamkan mata, berusaha menghiraukan rasa sakit ditubuhnya.

“Uuuuhhh..uuuuhhhh….YOU HAVE A TIGHT ASS, BABY!!! Hah….Yiiiihhaaaaaaa…….” seru Billie merasakan nikmat dibatang penisnya. Tangannya meraba-raba paha Shawn yang terbuka lebar oleh desakan pinggul Jack. Para berandal yang lainnya sibuk mengesek-gesekkan penis mereka pada tubuhnya yang tak berdaya.

“OKAY, BABY, NOW I’M GOING TO GIVE YOU SOMETHING NICE TO SUCK ON WHILE YOU GET SOME EXERCISE FROM BEHIND! BE NICE AND DON’T BITE OR YOU KNOW WHAT WILL HAPPEN.” kata Joe yang memainkan penisnya didekat pipi Shawn. Para berandal lainnya langsung tertawa mengejek cewek itu. Shawn terkejut mendengar itu, para berandal itu masih belum puas menikmati tubuhnya. Kelima berandal itu sudah memperkosanya habis-habisan dan sekarang Joe yang merengut keperawanannya akan memaksanya untuk mengulum penisnya.

“I’M IN LOVE WITH YOUR SEXY MOUTH. LET’S SEE IF IT FEELS AS GOOD AS I THINK IT WILL!” Shawn berusaha mengelak ketika penis Joe disodorkan di mulutnya. Hal itu membuat Joe marah.

“Buka mulutmu BITCH!!!” Shawn mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Joe memberi tanda pada teman-temannya dan mereka mengerti….tiba-tiba dengan serentak penis Billie dan Jack menghujam dalam-dalam dan Joe menjambak rambut Shawn, sehingga cewek itu mengerang kesakitan….pada saat itulah dengan segera batang penis Joe masuk penuh dalam mulut Shawn, hampir menyentuh ujung tenggorokannya, membuatnya tersedak.

“Mmmmmhhh….mmmhhh…mmmmhhh….” teriakan Shawn teredam oleh penis Joe. Para berandal lainnya tertawa sinis.

“OPEN WIDE!” perintah Joe memaksa cewek itu mengulum seluruh batang penisnya. “LOOK AT ME HONEY….THAT’S NOT WIDE ENOUGH FOR ME!” Shawn terpaksa menurutinya, sementara Billie dan Jack masih terus berpacu.

“THAAAT’S A GOOD GIRL, NOW YOU BETTER START SUCKING” sekali lagi Joe memerintahnya sambil memaju mundurkan pinggulnya, penisnya terlihat keluar masuk dalam mulut Shawn.

“Hhmmmmm….mmmmmhhh….mmmmmhhhh…” Jerit Shawn tertahan, Joe masih menjambak rambutnya dan mendorong maju mundur kepala cewek itu. Setiap kali batang penis itu masuk penuh, membuat Shawn tersedak. Lidah Shawn berusaha menahan penis itu masuk lebih dalam. Joe, Billie dan Jack makin ganas, sepertinya mereka menikmati setiap inci tubuh Shawn.

Hujan badai dan angin diluar masih belum reda, sementara pukul menunjukkan 01:43. Jack sudah hampir mencapai puncaknya, ia makin mempercepat ayunan pinggulnya, batang penisnya terlihat cepat sekali menerobos vagina Shawn. Sedangkan penis Joe masih beraksi di mulut Shawn. Kepalanya yang terdorong maju mundur beradu dengan perut Joe seirama lagu metal. Batang penis yang besar itu bergerak keluar masuk diantara bibir Shawn , dan batangnya terlihat merah karena terkena lunturan lipstik dari bibirnya.

“Aaaahhhh…… WARM AND JUICY! SHE NEEDS MORE PRACTICE GIVING HEAD THOUGH.” erang Joe kenikmatan, matanya terpejam. Billie yang berada di bawah, tangannya meremas-remas buah dada Shawn, sementara kedua berandal yang lainnya, Emilo dan Edi menjilati putingnya. Penis Billie masih terbenam keluar masuk dianus cewek itu.

“Eeemmmmmhhhh…..mmmmhhhhh…..mmmmmghhh” desah Shawn terbungkam. Jack makin memacu ayunan batang penisnya sambil mencengkram pinggul Shawn. Wajahnya terlihat merah berkeringat, napasnya memburu menuju puncak birahi. Gerakan itu juga mempengaruhi Billie, penisnya menerobos naik turun cepat sekali.

“Hah…hah…hah…hah…hah…HAAAAHHH….
I’M CUUMMMIN!” teriak Jack, tubuhnya mengejang, penis itu menyemburkan cairan putih dalam vaginanya, wajah Jack mengexpesikan kepuasan. Batang penis itu masih berada didalam lorong vaginanya sampai sprema yang disemburkannya habis, dan Jack mundur kebelakang. Billie yang dibawahnya juga hampir mencapai klimax menyusul Jack.

“Ooooohhh….uuuuuggghhh….uuuuggghh……
uuuggghhhhh……UUUUUUUUGGGGGGGHHHHHHH!!!!” teriak Billie sambil mencengkram buah dada cewek itu kuat-kuat, penisnya menghujam dalam anus Shawn dan menyemprotkan Sperma banyak sekali membasahi lorong anusnya. Emilo dan Edi yang menciumi makin bernapsu sekali menjilati putingnya.

“Oooohhhhh……nikmat sekali…..aaahhh….
ooooohhh…” lengkuhnya puas, sementara itu ia tetap dibawah Shawn. Tinggal Joe yang masih beraksi, bibir Shawn serasa membalut erat batang penisnya yang keluar masuk dengan cepat. Dari pinggir bibirnya terlihat cairan putih mulai keluar menetes ke dagunya. Lidah cewek itu bisa merasakan setiap urat dari batang penis Joe yang merah kelunturan lipstiknya.

“Eeeemmmmhhhhh….eemmmmmppp…mmmppphhh…” desah Shawn setiap kali, kepalanya terbentur perut Joe, yang menarik rambutnya maju mundur. Billie yang dibawah meremas-remas buah dadanya yang sintal, membuat tubuhnya terkunci tak bisa berontak. Tangannya yang masih terikat tali BH juga membuat para berandal itu puas menikmati setiap jengkal tubuhnya yang indah itu. Beberapa saat kemudian Joe mencapai puncak birahinya, batang penis itu menerjang masuk dalam bibir Shawn dan menyemburkan sperma hangat dalam tenggorokannya membuat cewek itu tersedak menelan cairan itu.

Pukul 02:15, Tanpa memberi kesempatan istirahat, Emilo dan Edi maju mengambil giliran mereka. Mereka berdua tertawa sinis melihat Shawn yang masih merintih kesakitan setelah diperkosa vagina, anus dan mulutnya secara bersamaan. Edi maju diantara kedua paha Shawn, dan mengarahkan penisnya ke bibir kemaluannya. Beberapa saat kemudian terdengar erangan dari bibir Shawn, sisa sperma masih menetes didagu cewek itu. Buah dadanya berguncang-guncang bersamaan gerakan ‘SUPER’ penis Edi yang sudah memompa keluar masuk di vaginanya.

Sambil tersenyum sinis, Emilo jongkok diperut Shawn, “I’ll FUCK YOUR TITS….” katanya dan segera tangannya meremas-remas buah dada cewek itu, sementara penisnya berada diantara kedua lembah itu, terjepit, tergesek-gesek diantara buah dadanya yang merah, bergerak maju mundur.

“Aaaaahhhhh…….auuuuhhhhh…..aaaaahhh…
aaaaahhhh……uuuuugggghhhh…..” desah Shawn diantara derit ranjang. Ketiga berandal lainnya, tertawa terbahak-bahak. Dengan tangan masih tetap terikat erat oleh tali BH dijeruji ranjang yang berderit-derit, tubuhnya terasa sakit semua buah dadanya yang diremas-remas, diputar kiri-kanan dengan buas menjepit batang penis Emilo yang beraksi maju mundur diantara buah dadanya, sementara pinggul Edi menghentak-hentak barbar diselangkangannya yang terbuka lebar. Vaginanya perih oleh hujaman penis yang bertubi-tubi. Shawn bisa melihat pantulan gaya kedua berandal yang sekarang melahap tubuhnya itu dikaca cermin meja rias. Suara erang desahan dan gayanya diperkosa membuat para berandal itu sangat terangsang. Tidak terlintas sedikitpun dipikiran para berandal untuk berhenti. Pukul menunjukkan 02:43 sudah setengah jam mereka mengenjot tubuh cewek itu.

“Uuuuggghhh….uuuuuhhh….uuuugghhh….
uuugghhh….uuuuugggghhhh….” disela-sela halilintar yang mengelegar terdengar rintihannya, Shawn sudah lemas, diperkosa oleh lima berandal, semuanya main double. Tubuhnya mengeliat-liat lemah menahan rasa sakit.

“Ha…ha…ha…OH BABY YOU’RE SO DAMN HOT… I’M GONNA FILL YOUR HOLE AGAIN…Yeeehaaa…HAH….HAH…
HAAAGGHH….HAAAGGGHHHH…..! seru Edi makin brutal menghujamkan batang penisnya, membuat ranjang makin berderit-derit keras, wajahnya tegang menahan nikmat, sampai akhirnya penisnya menyemburkan sperma dilorong kemaluan Shawn. Emilo juga hampir mencapai klimaxnya, buah dada cewek itu padat mengembang merah. Putingnya mengeras, beberapa tetes cairan susu keluar dari sana, membasahi tangan Emilo yang dengan gemas meremat-remat buas.

“Oooohhhh….buah dadamu ternyata enak sekali…
ooooohhhh…..uuuuggghhh….HOW IT’S FEEL BABY…MY COCK BURIED BETWEEN THEM…SQUEEZING…POUNDING…THRUSTING…
ooohhh….OOOOHHH…” peluh menetes dari dahi Emilo yang melengkuh nikmat. Edi sudah duduk disamping ranjang, mengamati Emilo yang masih belum selesai. Bersama keempat berandal lainnya mereka mengerubungi dan menyoraki memberi semangat Emilo. Batang Penisnya yang besar jelas terlihat urat-uratnya terbenam dan bergerak maju mundur terjepit dibuah dada cewek itu.

“Uuuuhhhh…..ooouuuhhh….uuuuhhhh…” rintih Shawn. Beberapa saat kemudian tubuh Emilo mengejang dan dari kepala penis itu tersembur cairan putih kental membasahi wajah dan buah dada Shawn.

“NEED TO FRESHIN YA UP, CLEAN THAT FUCKIN PUSSY AND OUT SO NOBODY’S DICK SLIPS OUT!” celutuk Billie sambil melepas ikatan tangan Shawn.

Badai masih ganas, seperti suasana ‘pesta’ dirumah Shawn. Pukul 03:10 cewek itu oleh kelima berandal diseret kekamar mandi, sebelah kamarnya. Disana kepala Shawn dibenamkan kedalam air berkali-kali, selama beberapa saat, sementara tubuhnya dibersihkan oleh air dingin dari pancuran shower. Air dingin itulah yang membuat Shawn yang sudah setengah pingsan menjadi bangun, napasnya tersedak oleh air yang masuk keparu-parunya. Tangan-tangan meraba-raba seluruh tubuhnya membersihkannya dari lumuran selai dan sperma para berandal.

“Nah sayang, sekarang kita coba gaya DOGGIE STYLE versiku!” seru Joe sambil memerintah teman-temannya untuk menunggingkan tubuh cewek itu. Mereka dengan semangat segera melakukan perintah Joe. Shawn pasrah, tubuh dipaksa menungging, sementara tangan kanan dan kirinya dipegangi erat-erat oleh Emilo dan Billie sehingga tubuhnya tidak jatuh, Jack menjambak rambutnya sehingga kepala Shawn mengadah kedepan, sedangkan Joe membopong pinggul cewek itu. Sekarang posisi Shawn menggelantung nunging dengan batang penis Joe yang siap beraksi di lobang anusnya. Air shower yang menyirami wajahnya, membuat rambutnya basah kuyup, dari pandangannya yang terganggu oleh sebagian rambutnya yang menutupi mata, Shawn bisa melihat Edi yang tersenyum sinis melihat ke pasrahannya.

“Oh…ampun….am…pun….PLEASE,….
lepas…kan….aku…” hiba Shawn kepada para berandal itu. Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar hibaan cewek itu.

“A HOT SEXY BODY LIKE YOURS NEEDS TO BE FUCKED ALL THE TIME!” sahut Jack yang menjambak rambutnya. Percuma Shawn menghiba, dari pantatnya yang sekarang nunging, terasa kepala batang penis Joe yang mulai dimasukkan ke lorong anusnya. Tubuhnya bergetar membayangkan rasa sakit yang akan dirasakannya lagi.

“Am…..pun…..jang….an…ohh…..ja…ngan …
jang…an….Aaagggkkkkk!!!” jeritnya menghiba kesakitan merasakan sesuatu yang besar mulai masuk dilorong anusnya.

“FUCK YOU GIRL!!!!” seru Joe sambil mulai mengenjotkan batang penisnya menjelajahi lorong anusnya yang sempit itu.

“Aaaggghhh….aaggghhhh….aaahhhh….aaahhh.. ..” erang Shawn terdengar mengema diruangan kamar mandi, tubuhnya yang nungging berayun-ayun maju mundur bersamaan gerakan pinggul Joe. Edi yang tidak ikut memegangi tubuh Shawn, maju jongkok disamping tubuhnya, matanya memandang buah dadanya yang mengelantung terayun-ayun. Lalu ia mulai ikut meremas dan menghisap buah dada sebelah kanan cewek itu dengan rakusnya.

“Aaaaagghh….amm…punn….aaaahhh….aaahhh. ..
sa…kit……aaahh……aaa…duuuhhh……aaaahh h….” desahannya yang mengema terdengar makin sexy ditelinga para berandal. Joe makin brutal menghajar anusnya. Tangannya mencengkram pinggul Shawn erat-erat, mempertahankan posisi cewek itu agar tetap menungging. Tubuh Shawn serasa akan terbelah menjadi dua oleh hujaman penisnya. Suara benturan antara paha Joe dan pantat Shawn terdengar jelas desela-sela curahan air shower.

“Ayo Joe….cobos terus….ha…ha…ha….” seru Emilo yang memegangi tangan Shawn, penisnya menjadi tegang lagi mendengar suara desahan Shawn. Rambutnya yang tergerai basah menjuntai diantara leher dan pipinya. Joe melihat batang penisnya menerjang keluar masuk di anus Shawn, sementara ia melengkuh-lengkuh menikmati setiap hujaman ayunannya. Lorong anus yang sempit mencengkram erat batang penis Joe. Shawn meringis menahan rasa sakit dianusnya.

“Ooooohhh….nikmat sekali rasanya…uuuggghhh…
uuuggghhh….” Joe menikmati setiap inci hujaman batang penisnya dianus cewek itu.

Tubuh Shawn terguncang-guncang seirama genjotan Joe, rambutnya yang dijambak oleh Jack membuatnya menegadah kedepan, dari sela-sela rambutnya yang tergerai ia bisa melihat Edi yang sekarang jongkok dibawah dadanya dengan rakus menghisapi puting buah dadanya yang terayun-ayun.

“Aaaahhh….aaagggghhh….aaagghhh….” erang Shawn kesakitan. Penis Jack yang dekat dengan wajah Shawn sudah tegang, dipukul dan digesek-gesekkan dipipinya agar mengeras. Shawn tidak bisa mengelak, karena posisi Jack yang menjambak rambutnya, membuat wajahnya didepan selangkangan berandal itu. Sebentar saja penis itu sudah mengeras, siap beraksi. Dari matanya Shawn bisa melihat penis itu begitu besar dan dekat dengan wajahnya.

“SUCK ON IT, YOU LITTLE BITCH… PUT IT IN YOUR MOUTH LIKE BEFORE…” perintah Jack agar Shawn segera mengulumnya.

Penis yang sudah tegang itu dengan paksa menghujam dalam mulut Shawn, dan segera bergerak maju mundur seirama gerakan ayunan penis Joe di anusnya. Setiap kali penis Joe menghujam dianusnya, bibir cewek itu mengulum penuh batang penis Jack, begitu juga sebaliknya, saat Jack menghujamkan penisnya di mulut Shawn, batang penis Joe melesak masuk dalam lorong anusnya.

“Eeemmmm…eemmmm….mmmmhh” desah Shawn terbungkam oleh hujaman penis Jack. Sementara itu Emilo dan Billie yang memegangi tangan kanan dan kirinya tertawa terbahak-bahak. Edi yang berada di pinggir menghisapi puting Shawn yang menggelantung, memandang posisi “DOGGIE STYLE” itu dengan penuh napsu.

“Ohhhh…..yeah…..aahhh…aaahhhh….aaahhh….y ii….haaa…..” lengkuh Joe
menikmati setiap inci hujaman penisnya dianus Shawn.
“Ha…ha…ha…menggairahkan sekali….ayo Joe sikat terus….ha…ha..ha…” komentar Edi terangsang oleh gaya posisi Shawn diperkosa oleh kedua temannya. Di dinding pipi cewek itu terlihat batang penis Jack bergerak maju mundur.

“Hemmp…eemmmpp….mmmpp….mmmmhhh” suara desahan Shawn seiring irama ayunan Joe dan Jack. Air mata Shawn menetes bercampur oleh derasnya siraman air shower. Mulutnya terasa getir dan pekat oleh cairan berlendir yang mulai keluar dari kepala penis Jack. Tanpa perasaan belas kasihan, melihat Shawn yang berusaha mengambil napas lewat sela-sela hidungnya yang kadang tersedak air, Jack dengan ganas memaksa kepala Shawn bergerak maju-mundur dibantu oleh ayunan Joe yang memompa batang penisnya di anus cewek itu.

“Ooohhh…yeah….SO THIGHT….OOOHHH…SO HOT…DAMN SEXY ASS!”
lengkuh Joe sambil menarik penisnya dari lorong anus Shawn. Edi yang sudah puas menciumi buah dadanya memaksa cewek itu untuk meremas-remas penisnya. Shawn tak dapat menolak, Emilo yang memegangi tangannya membantu Edi memaksa Shawn.

“Aaaahhh…aaaahhhh… GOOD GIRL….aaaahhhh…” puji Edi dengan nada mengejek ketidak berdayaan Shawn. Ditelapak tangannya, cewek itu bisa merasakan (11 inci)
batang super penis Edi makin lama bertambah tegang dan besar.

Jam dinding dikamar Shawn menunjukkan pukul 03:45, Joe sudah hampir klimax. Beberapa saat kemudian setelah hujaman brutal dianus Shawn, dari batang penis Joe menyemburkan sperma.

“Aaaaahhhhh…..aaaahhh….ooohhh….yeah….F UCK YOU GIRL….ha…ha…ha…”
ejek Joe puas menyodomi Shawn.
Sementara Jack juga hampir mencapai klimax, lengkuhannya terdengar mendengus-dengus, dari sela-sela bibir Shawn yang membalut rapat batang penisnya terlihat cairan putih kental keluar menetes didagunya.

“Eeemmmppphhh….eemmmphhh….EEEMMPPPP!!!! teriak Shawn terbungkam saat penis Jack menyemprotkan sisa sperma ditenggorokkannya. Tanpa disenggaja tangannya mengenggam erat penis Edi, membuat Edi menjerit kesakitan.

“…..AAAAHHHH……” pekik Shawn ketika sebuah tamparan mendarat dipipinya.
“… BITCH…I ORDER YOU TO SQUEEZE IT SLOWLY….NOT TO GRAP IT
HARD…DAMN BITCH…” Edi menyumpahi cewek itu.

“Joe, bantu ikat dia di tiang pancuran!” perintah Edi. Dengan kasar tubuh Shawn dibopong sementara kedua tangannya diikat diatas tiang pancuran shower. Shawn berusaha berontak tetapi para berandal itu terlalu kuat baginya. Beberapa saat saja tangannya sudah terikat erat ditiang pancuran shower.

Mereka tertawa memandangi tubuh Shawn yang tersiram air pancuran yang masih mengguyur dari atas. Posisi buah dadanya yang bulat besar mengelantung tertarik oleh kedua tangannya yang terikat erat ditiang pancuran sehingga terlihat menantang. Edi segera mendekati tubuhnya

“Oh…ampun…jangan….aahh…aahhh…ampun!! ” iba cewek itu ketakutan sementara kakinya menendang-tendang tetapi dengan cekatan Edi segera mengangkap salah satu kakinya, dan dengan mudahnya segera mendekap tubuh cewek itu. Penisnya yang tegak dan super besar itu tergesek-gesek di daerah bawah perut dan paha Shawn yang masih berontak berusaha melepaskan pelukan Edi.

Edi terbahak-bahak melihat Shawn meronta-ronta, baginya itu merupakan suatu tantangan untuk ditaklukan. Shawn tidak menyadari hal itu, bahwa semakin dirinya meronta-ronta, semakin para berandal itu terangsang. Gerakan-gerakannya terlihat erotis bagi para berandal. Edi mendesaknya merapat kedinding kamar mandi, sementara tangannya meraba-raba menelusuri tubuh Shawn dari lengannya terus turun menuju lingkar buah dadanya yang sintal, diremas-remasnya sebentar buah dadanya, lalu bergerak turun menelusuri lekuk ketiaknya dan pinggangnya yang ramping, lalu mengerayang lebih kebawah lagi menuju pinggulnya dan berhenti di belahan pantat Shawn yang sintal dan bulat, diremas-remasnya dengan penuh napsu, sementara bibirnya menciumi leher dan puting buah dadanya yang basah kuyup oleh siraman air shower.

Penisnya tegang sekali siap menghujam ke kemaluan Shawn. Rontaan-rontaan Shawn membuat penis itu tergesek-gesek diantara paha dan bibir vaginanya, dengan buas Edi tetap menggumuli tubuh Shawn. Para berandal yang lain menyoraki Edi yang berusaha menaklukan cewek itu. Tubuh Shawn terguncang-guncang membusur, sementara Edi menciumi leher dan mengigit buah dadanya.

“Oooohhh….aammm…punn…aaah…jang…ann.. ” Shawn memelas diantara gumulan tubuh Edi yang kekar berotot.
“Ed, kita gilir digarasi saja!” celutuk Emilo memberi ide.
“Ha..ha..ha…bagaimana manis?” ejek Edi pada Shawn.

Halilintar mengelegar bersamaan dengan para berandal yang tertawa terbahak-
bahak sambil menyeret Shawn menuju kegarasi, mereka melewati jam dinding yang ketika itu menunjukkan pukul 4.10. Garasi Shawn berada di basement, beberapa saat kemudian mereka sudah menerlentangkan tubuh Shawn diatas kap mobil Jeep. Shawn berusaha berontak, tetapi tangan kanan dan kirinya segera dipegang erat-erat oleh Jack dan Emilo lalu diikat dengan kabel ditiang kaca spion mobil, sementara Edi menindih tubuhnya agar tak banyak berontak.

“Ok…Shawny sayang, sekarang kita lanjutkan pestanya, ha…ha…ha…” seru Edi sinis memandang tubuh Shawn yang diikat terlentang diatas kap mobil, hasratnya mulai naik lagi. diremas-remasnya buah dada cewek itu dengan gemas, membuat Shawn mengerang menghiba kesakitan, sedangkan Emilo menciumi lehernya, Jack dan Billie menelan ludah menanti giliran mereka.

“Ayo Joe tunggu apa lagi” ajak Emilo melihat Joe meninggalkan garasi.
“Ok beres, aku keatas sebentar mau ambil kamera” sahut Joe sambil meninggalkan garasi. Rupanya Joe tadi dikamar Shawn melihat kamera dan sekarang muncul ide diotaknya. Ruangan garasi itu terlihat remang-remang, sesekali gerakan tubuh para berandal itu terlihat disela-sela cahaya halilintar dengan liar mengumuli tubuh Shawn.

“Aaagghhh…aaahhh…ampun…lepaskan…aaaggg ..” hiba Shawn berusaha melepaskan cengkraman dibuah dadanya.
Makin Shawn berontak makin buas Edi meremas-remas buah dadanya. Cairan seperti susu itu mulai keluar lagi dan dengan lahapnya mulut Edi menyedoti putingnya.
“Ha…ha…ha…sayang sebentar lagi kau akan difoto bersama kita…ha…ha..ha…bagaimana?” seru Emilo sinis.
“BE A GOOD POSE WILL YA? wooo….woooo…woooo…ha…ha…ha…”
ejek Billie sambil tertawa.

Shawn kaget, membayangkan difoto dalam keadaan diperkosa, betapa memalukannya. Tubuhnya akan diclose up pada bagian-bagian tertentu, sementara para berandal akan dengan leluasa mengambil gambar pose dirinya.

“Aaahhh….oh…PLEASE NO…PLEASE…” Shawn menghiba agar para berandal itu tidak memfotonya. Para berandal itu tetap tak menggubris.

“Shawny…” Edi memanggil namanya membuat lamunan cewek itu berhenti, “LET’S FUCKING YOUR CUNT!!! BABY…YIIHAAAAA……..” Penis Edi yang sudah tegang tiba-tiba beraksi memasuki vagina Shawn dengan satu hentakan keras.

“Aaaakkkkkhhhh….aaahhhh….ooohhh…” tubuh Shawn menggelepar kesakitan oleh genjotan ‘SUPER’penis Edi. Penis itu mulai menerjang masuki vaginanya. Walaupun sudah banyak sekali penis yang menghajar vaginanya, tetapi ‘Super’ penis Edi membuat lubang vagina itu terasa sesak dan sempit.

“Aaaaakkkhhh…aaakkkhhh…aaaahhh…aahhhh… ” lolong desah Shawn sementara pinggul Edi bergerak maju mundur mengenjotkan batang penis itu agar masuk lebih dalam dikemaluan cewek itu. Kali ini Edi bermain “FAST IN AND SLOW OUT”, ia ingin agar Shawn menikmati permainannya

“Ha…ha…ha…bagaimana sayang…hemm…ahhh…aahhh….OOOHHH YEAAHH
…aahhh…” ejek Edi sementara tubuhnya menerjang maju menghujamkan penisnya agar masuk penuh dilorong kemaluan Shawn, lalu ditarik keluar perlahan melewati dinding vagina Shawn. Menghujam lagi dan ditarik keluar perlahan, berkali-kali membuat Shawn mengelinjang kesakitan, sementara dari mulut Edi keluar lengkuhan-lengkuhan nikmat setiap kali penis itu ditarik keluar dan dengan segera menghujam kembali.

“Aaahhh….aaaahhh…ooohhh….aahh….uuuhhhg g” suara erangan Shawn sementara tubuhnya mengeliat-liat merasakan setiap genjotan dan urat dibatang penis Edi.
‘SUPER’ penis itu menerjang dengan cepat dan setelah masuk penuh dalam lorong vagina Shawn, ditarik keluar perlahan-lahan, berulang-ulang terus membuat cewek itu menjerit kesakitan pada setiap ayunan Edi. Tangan Emilo meremas-remas buah dadanya yang tersentak terayun-ayun oleh irama genjotan Edi. Lidahnya dengan lincah menjelajahi putingnya yang mengeras. Sekilas cahaya menyilaukan menerangi para berandal yang berpesta pora menggumuli tubuh Shawn yang terpentang diatas kap mobil Jeep.

“Ha…ha…ha…terus Ed…” kata Joe yang telah kembali dengan membawa beberapa botol bir dan sambil menjepretkan kamera polaroidnya.
“Ouuch…aaahhh…aaahhgghhh…Joe…THIS BITCH WAS TRULY A WONDERFUL FUCK!!” seru Edi.

Joe segera maju mendekat, matanya penuh napsu melihat tubuh Shawn yang mengeliat-liat dibawah genjotan Edi. Senyum tersungging dibibirnya, lalu tangannya menuangkan botol bir keatas tubuh Shawn. Bir itu membasahi daerah dadanya yang langsung disambut oleh hisapan mulut Emilo. Shawn merasakan dinginnya bir membasahi tubuhnya, sementara lengkuhan demi lengkuhan keluar dari mulut Edi menikmati ayunan penisnya yang terjepit erat diatara dinding vagina cewek itu.

“Aaaaahhhh….aahhh…aaahh….” rintih Shawn, tubuhnya tergoncang-goncang diatas kap mobil, sementara Emilo menyedoti putingnya kanan-kiri dengan lahap.
KLIK….KLIK…KLIK….Beberapa kilatan lampu blitz menerangi ruangan, Joe memberi aba-aba kepada mereka untuk berpose.
“Ooohhh….aahhh…jaaa…ngannn…PLEASE….aaaah hh….” hiba Shawn kepada Joe agar tidak memfotonya.
“Hooo….hoooo….hooooo…lihat ini sayang….lihat….” ejek Joe memaksa Shawn melihat hasil foto polaroid yang langsung jadi tersebut. Shawn dapat melihat dengan jelas hasil gambar foto ekspresi wajahnya yang mendesah kesakitan, sementara Emilo mencengkam buah dadanya dengan ganas dan Edi mengangkat pinggulnya sambil menghujamkan ‘SUPER’ penisnya.
“Ha…ha…ha…bagus bukan manis?” seru Joe, beberapa saat kemudian tiga gambar foto sudah jadi lagi. Joe mengamati gambar-gambar tersebut dengan puas.
“Ha…ha…ha…sungguh menggairahkan sekali…!” komentar Billie dan Jack dengan antusias, “…bagus untuk kenang-kenangan!” kata mereka sambil tangannya meremas-remas penis mereka.

Shawn itu mengelepar-gelepar kesakitan, berusaha melepaskan diri, tapi ikatan dikedua pergelangan tangannya terasa erat mencengkram. Gerakan-gerakannya makin membuat kedua berandal itu makin bernapsu dan gemas. Emilo mencengkram buah dada sebelah kanan dan mulutnya mengigit puting sebelah kiri Shawn, sementara Edi dengan brutal mengenjotkan ‘SUPER’ penisnya dalam-dalam.

“AAAKKKHHH….aaaahhhggg….ooohhh…” teriak Shawn tubuhnya membusur kejang kesakitan.
KLIK…Joe mengambil kesempatan itu dengan menjepretkan kameranya.
“Ha…ha…ha…itu baru pose yang bagus sekali!” serunya dengan riang.
“Bagaimana rasanya manis,….enak bukan goyangnya? kau pasti puas sekali setelah pesta ini usai…ha…ha..ha…ooohhhh….SO THIGHT…uuuaaahhhh….uh…uuuhhhh…oohhh..” ejek Edi yang melihat Shawn terengah-engah.

Shawn memejamkan mata untuk berusaha untuk melupakan rasa sakit, cewek itu merasaan malu dan marah, kalau ingat bahwa dirinya mencapai orgasme pertama dan kedua ketika ia diperkosa diatas meja beberapa jam yang lalu oleh Emilo dan Edi, ketiga saat Billie, Jack dan Joe memperkosanya sekaligus secara sodomi dan oral. Dan sekarang diatas kap mobil jeep ini ia juga sangat terangsang dan merasa akan orgasme lagi oleh genjotan batang penis Edi yang bermain “FAST IN AND SLOW OUT”. Ia benci pada dirinya yang mendesah mengerang kesakitan, sementara tubuhnya berbicara lain. Dan lebih benci lagi karena para berandal itu tahu dan mengejeknya.

“Oh…ooohh…Shawn…jangan sampai aku…ah…aahhh…orgasme…aaakkkhh…
lagi…ayo…apa yang…ter..jadi…aakkkhhh…aku ini…sedang…aaaahhhh…ooohh…di…perkosa…
aahh…tapi…aahh…penis…ini…ohhh…oooaaahh hh….jangaaaaAAAKKKHHH….” pikiran itu lenyap bersamaan erang orgasme yang keluar dari bibir Shawn. Tubuhnya membusur kejang, tapi Edi masih juga mempertahankan ritme ayunannya. Joe menjepretkan kameranya, membuat Shawn tersadar…”ha…ha…ha…bagus, bagus sekali…..” serunya mengomentari cewek itu.
Billie, Jack dan Emilo tertawa sinis melihat reaksi tubuh cewek itu. Edi mencengkram pinggul Shawn dan makin bersemangat menghujamkan batang penisnya.

“JEEH…OOOOHHHH…OOOHHH…OOOAAAHH…”suara desahan Shawn makin keras bersamaan gelombang orgasme yang memuncak. Emilo dan Billie menyedoti cairan seperti susu yang keluar dari putingnya yang basah oleh keringat, bir. Jack meneguk botol bir sementara matanya liar menatap gerakan-gerakan tubuh Shawn yang mengeliat-liat erotis menahan berat badan Edi yang berayun-ayun ganas menghujamkan ‘SUPER’ penisnya dalam lorong vagina cewek itu.

“Aaaaahhhhh….OOOHHHH….UUUUUHHHH…..”lengk uh Edi merasakan jepitan dalam dinding vagina Shawn makin erat membalut batang penisnya. Edi berkonsentrasi tetap mempertahankan ritme permainannya, sementara batang penisnya seakan-akan mau meledak, berdenyut-denyut kencang sekali dalam vagina Shawn. Joe dengan semangat menjepretkan kamera polaroidnya berkali-kali untuk mengabadikan kejadian erotis didepannya, biji mata Shawn terlihat putihnya saja, sementara dari bibirnya terdengar erangan nikmat dan sakit bercampur menjadi satu,
“aaaaahhhh… aaaahhh… aaakkkhhh… aaakkhhhh… oooouuuhhh…..aammm…
aammmm…puuunn….aaaakkkhhh….” cewek itu mengerang, membusur mengeliat-liat digumuli para berandal. Jepretan-jepretan kamera Joe seakan tidak diperdulikannya lagi.

“FUCCKKKKK…..YOUUUUU…..BABEEE…EAAATTTT…THI SSSSS…
CUMMMM……” jerit Edi bersamaan dengan itu ‘SUPER’ penisnya menghujam dengan brutal dalam lorong vagina Shawn sambil menyemburkan sprema yang kental dan pekat. Tubuh Shawn mengejang beberapa saat dan kemudian lunglai lemas kelelahan.

“aaaooohhh…ooohhh….aaahh..aahhh…” desahnya kelelahan, sementara tubuhnya mengeliat lunglai.
“Ha…ha…ha…FUCK YOU!!!”ejek Edi sambil mencabut ‘SUPER’ penisnya dengan perkasa.
Badai masih belum berhenti, saat itu pukul 5.05, langit masih gelap tertutup awan badai yang menyelimuti kota itu membuat jalanan Tubuh Shawn terasa sakit dan lelah sekali setelah dirangsang sehingga empat kali orgasme.

“AAAAOOOOOWWWW….” tiba-tiba sebuah sengatan yang menyakitkan menyerang buah dadanya, membuat Shawn meraung kesakitan, tubuhnya yang terlentang diatas kap mobil jeep berusaha bangkit, tetapi ikatan ditangannya membuatnya tertahan.

“He…he…he…Shawny….YOU’RE NOUGHTY GIRL…pura-pura melawan….
padahal…diam-diam kau menikmatinya YOU MUST BE PUNISH FOR THAT….
Ha…ha…ha…” ejek Emilo, tangannya membawa sebuah gagang besi berkabel yang disambungkan pada sebuah aki mobil.

“AAAWWWWW…….AAAAKKKKHHHH….” raung Shawn ketika sebuah sengatan listrik menyerang buah dadanya lagi.
“He…he…he…nih rasakan!” Emilo menyentuhkan gagang besi itu pada pahanya.

“AAAAAGGGGHHHH……WAAAAGGGHHH…..” raung demi raungan keluar dari mulut Shawn ketika batang besi itu menyetrum paha dan dadanya. Napasnya tersengal-sengal kesakitan. Jack menuangkan bir ditubuh cewek itu, kadang memaksanya untuk minum. Shawn yang tak berdaya mengikuti kemauan Jack, beberapa teguk bir terpaksa ditelannya,
“UUUUGGGHHH….AAAAWWWW….” teriak kesakitan Shawn ketika Emilo masih menyengatkan batang besi itu berkali-kali, disekitar dada dan ketiaknya.

“Hai…Bill Viagranya dipakai dong!” usul Joe yang dari tadi sibuk menjepretkan kameranya mencari pose-pose Shawn yang mengeliat-liat tak berdaya.
“Ok….JUST WAIT BABY….ha…ha…ha…” seru Billie sambil membagi-bagikan obat kuat (perangsang) ke Joe, Emilo dan Jack.

“AAAAAWWWWW…..AAAAGGGHHHHH!!!!!” rupanya Emilo masih belum puas bermain dengan batang besi beraliran listrik itu dan sekarang ia menyentuhkannya pada puting buah dada Shawn, membuat cewek itu menjerit keras sekali.

Berkali-kali batang besi itu menyengat tubuhnya sementara Jack memaksanya minum bir sambil sesekali menuangkan air bir itu keatas tubuhnya. Air bir itu ternyata menjadi penghantar listrik ketika batang besi disentuhkan pada tubuh Shawn.

“AAAAAAAAAAGGGGGGGGHHHHHHKKKKK!!!!!” raung Shawn mengejang ketika Emilo menyetrum buah dadanya merasakan aliran listrik menyengat seluruh tubuhnya. Cewek benar-benar lemas kesakitan disetrum.

Dalam keadaan setengah pingsan, Shawn dibopong menuju keruang tamu. Waktu itu menunjukkan pukul 5.30, obat perangsang yang diminum oleh para berandal sudah mulai bekerja. Tubuh Shawn diterlentangkan diatas sofa, sementara beberapa berandal lain mengerubunginya. Jack menjilati buah dadanya, sementara Emilo dan Billie mengesek-gesekan batang penisnya ke wajah dan leher Shawn sedangkan Joe menciumi daerah perutnya.

Edi tertawa mendengar erangan dan rintihan yang keluar dari mulut Shawn. Sesekali para berandal itu memaksa Shawn untuk mencium kepala batang kemaluan mereka. Beberapa saat kemudian Shawn dipaksa berdiri dan Billie merangkul tubuhnya dari belakang sementara tangannya meremas-remas buah dadanya, dengan buas Billie menjilati tengkuk leher Shawn. Cewek itu makin tidak dapat berontak ketika Emilo ikutan maju dari depan menghimpit tubuhnya. Mulut Emilo segera menuju putingnya.

“Aaaaww….aaahhh…oooohhh…am…pun….” Shawn hanya mengerang kesakitan ketika tangan Billie meremas kedua buah dadanya dengan gemas, sementara Emilo yang berada didepan menjilati putingnya.

Beberapa menit kemudian kedua berandal itu secara serentak menggendong Shawn. Dari belakang tangan Billie memapah bongkahan pantatnya, sedangkan dari depan tangan Emilo merangkul pinggul cewek itu. Shawn terkejut, tetapi tidak berdaya, cewek itu hanya bisa menghiba ketika tangannya dipaksa untuk merangkul pundak Emilo. Tanpa perlawanan yang berarti paha Shawn dipentang sehingga pinggul Emilo berada diantaranya.

“Ha…ha…ha…sayang NOW I WANT SOME PUSSY…” bisik Emilo ditelinganya. Penisnya yang sudah siap segera menghujam dalam lorong vagina Shawn.

“Aaaahhh….aaaahhh….aakkkhh…” erangannya kesakitan ketika Billie dan Emilo secara bersamaan menghujamkan penis mereka ke anus dan vaginanya. Kedua berandal itu tertawa sambil berayun-ayun menghimpit tubuh Shawn. Ketiga berandal yang lain tersenyum mengejek Shawn yang sekarang diperkosa Emilo dan Billie sambil berdiri. Tangan Emilo membopong kedua pahanya sementara tangan Billie merangkul dari belakang sambil meremas-remas buah dadanya.

“Aaahhh…aaahhh…aaooww…aahhh…” desahannya bersamaan hentakan-hentakan liar kedua pinggul Emilo dan Billie yang menghimpit tubuh Shawn yang meronta-ronta kesakitan. Kepala cewek itu mengeleng kiri-kanan sambil mengerang kesakitan. Gerakan kedua berandal itu bagaikan piston kereta api, secara bergantian penis mereka keluar masuk menjelajahi anus dan lorong kemaluan Shawn.

Para berandal yang lain menyoraki memberi semangat kepada Billie dan Emilo yang berpacu menuju puncak kenikmatan.
Tubuh Shawn mengejang kesakitan diantara himpitan kedua berandal tersebut, sementara itu Lidah Billie menjelajahi tengkuk leher Shawn yang jenjang.

“Ooohhhh…uuugghhh…YESSS…YESSS…uuuggh.. .” lengkuh Billie menikmati sempitnya lorong anus Shawn.
Gerakan kedua berandal itu makin menjadi-jadi, seiring rontaan tubuh Shawn. Shawn terengah-engah ditengah himpitan Emilo dan Billie yang mempompakan penis mereka dengan ganas. Tangan Shawn mencengkram bahu Emilo erat-erat, sementara Billie yang berada dibelakangnya mempertahankan ritme ayunan penisnya dalam anus cewek itu.

“FUCK HER…woooo…woooo…woooo…FUCK HER…” seru salah seorang berandal memberi semangat kepada mereka berdua. Emilo mempercepat genjotan penisnya dalam lorong vagina Shawn, membuat Shawn mengerang kesakitan.
Butiran keringat membasahi tubuh mereka bertiga, sementara itu Emilo dan Billie melengkuh-lengkuh menikmati jepitan lorong anus dan kemaluan Shawn pada batang kemaluan mereka.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba mereka berdua berhenti dan lalu tukar posisi, Sekarang Emilo dari belakang sedangkan Billie dari depan. Shawn masih lemas, maka dengan mudah mereka memulai lagi adegan perkosaan itu. Penis mereka terasa makin lama makin besar dan makin berdenyut setiap kali bergesekan dalam kedua lorong anus dan kemaluan Shawn. Billie yang sekarang berada didepan segera menciumi leher Shawn, sementara Emilo yang membopongnya dari belakang mengulum kuping sebelah kanan, membuat Shawn mendesah terengah-engah.

“Oooooohhhh……uuuuggghhhhh……” teriakan kenikmatan keluar dari mulut Emilo, sementara penisnya menyemburkan sperma dalam lorong anus Shawn.
Emilo segera membopong tubuh Shawn keatas sofa, sementara itu Billie masih juga dengan semangat menghujamkan penisnya dalam kemaluan Shawn. Kedua tangan Shawn segera dipegangi oleh ketiga berandal yang lainnya agar tidak banyak berontak. Hentakan-hentakan dari tubuh Billie membuat posisi kepala Shawn mengelantung keluar dari arena sofa. Dari mulutnya yang terbuka terdengar desahan-desahan yang membuat ketiga berandal lainnya bangkit lagi hasratnya. Penis mereka sudah berdiri lagi dan kelihatannya bertambah besar karena obat perangsang yang mereka minum tadi.

“Oooohhh….ooohhhh….HOW IT FEELS BABY…..oohh…..
uuuuhhhhh….YEAH….” lengkuh Billie matanya terpejam kenikmatan. Joe memainkan penisnya dibuah dada Shawn sementara Jack menyedoti buah dada sebelah kiri, sedangkan Edi meremas-remas penisnya yang besar itu.

Beberapa saat kemudian, Billie mencapai puncak kenikmatan, menyemburkan spermanya dalam lorong kemaluan Shawn. Kelima berandal itu membiarkan Shawn terlentang terengah-engah diatas sofa, sementara mereka menyalakan TV menikmati acara TV kabel yang menyiarkan film blue. Adegan dalam film itu kebetulan setengah S&M yang membuat mereka sangat terangsang.

Suara jeritan-jeritan kesakitan dari film itu membuat penis mereka bertambah tegang dan tegak membesar. Pukul menunjukkan 6.50, suasana diluar gelap, jalanan masih sepi, sedangkan hujan masih deras tapi badai sudah mulai berhenti. Sesekali mobil lewat didepan rumah Shawn. Cewek itu merasakan tubuhnya ngilu semua, sementara anus dan vaginanya perih sehabis disodomi dan diperkosa. Setengah sadar Shawn mendengar suara sirine mobil patroli polisi, maka dengan tenaga yang masih tersisa cewek itu berusaha bangkit dari sofa dan sambil terhuyun-huyun Shawn menuju ke jendela ruang tamu untuk meminta tolong. Tapi sial baginya, Joe mengetahuinya dan dengan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk segera menangkap Shawn.

“Ha….ha…ha…mau kemana kau manis….” ejeknya sambil menjambak rambut Shawn.
“Ooooww….ooooaauuu…ammm…punn…please…lepa skan aku…..amm…pun…” hiba Shawn berusaha melepaskan diri. Suara sirine itu makin mendekat, tiba-tiba Joe tertawa sinis.
“Oh…kamu mau panggil polisi ya?…ha…ha..ha…ok LET’S TRY IT!!!….BITCH!!!” Joe segera menyeretnya mendekati jendela kaca diruang tamu. Para berandal itu segera mematikan lampu rumah, lalu dengan nada dan gaya mengejek, tirai jendela kaca dibuka dan tubuh Shawn didempetkan didepan kaca jendela, sementara kedua tangannya dipentang dan dipegangi erat-erat, Joe dari belakang segera menghujamkan batang penis itu di vagina Shawn.

“AAAKKKHHH!!!!….aaahhh…ahhhh….aakkkhhh.. ..” jerit Shawn sementara batang penis itu beraksi keluar masuk dengan kasar, membuat tubuhnya menempel dikaca jendela. Buah dadanya terhimpit dikaca jendela, sedangkan mobil patroli polisi lewat didepannya. Shawn merasa kecewa sekali, harapan satu-satunya untuk minta pertolongan lepas begitu saja didepan matanya. Suara jeritan Shawn tak terdengar oleh polisi itu yang beberapa saat kemudian sudah makin menjauh dari rumah Shawn.

“Ha…ha…ha…BITCH!!!…” Joe menyumpai cewek itu, rambutnya dijambak dengan kasar, membuat kepalanya menegadah keatas. Tubuh Shawn terguncang-guncang, naik turun terhimpit kaca jendela, sementara dari belakang Joe tertawa mengejek dirinya. Kira-kira sepuluh menit kemudian, Joe berhenti dan segera menyeret Shawn menuju tengah-tengah ruangan.

“Kau harus puasin kita semua…Ed, Bill…HOLD HER ARMS…I WANT TO GIVE HER A LESSON!!!” kata Joe dengan kasar.
“Aaaoooo….aaammm…punn…aaahh..” jerit Shawn yang rambutnya masih dijambak. Joe segera memerintahkan teman-temannya untuk membopong tubuh Shawn terlentang. Edi segera memegang erat-erat tangan kanan, sedangkan tangan kirinya di pegangi oleh Billie. Joe maju membopong pinggul Shawn, kaki cewek itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tapi dengan mudah dapat dihindari.

“FUCK YOU…BITCH!!!!…LET’S FUCKING YOUR CUNT!!!” senyum sinis menyungging dibibir Joe. Dengan satu hentakan yang kuat, batang penis Joe menerobos masuk dalam liang kemaluan Shawn. Cewek itu mengerang kesakitan diantara ayunan batang penis yang dengan barbar mengoyak-koyak vaginanya.

“Aaaahhhh…aakkkhh….ooouuuchhhh…oohhhh… .” desah Shawn menahan sakit. Tubuhnya terayun-ayun dibopong terlentang, sementara pantat Joe menghentak-hentak menghujamkan penisnya diantara paha Shawn yang secara otomatis terbuka oleh desakan pinggulnya. Kepala Shawn sampai terjengkang keatas menahan rasa sakit, sementara Edi dan Billie yang memegangi tangan cewek itu mengikuti ayunan Joe yang mencengkram pinggul Shawn dengan ganas. Tubuh Shawn terayun-ayun liar, dan dari mulutnya yang terbuka keluar erangan dan desahan kesakitan tapi suara itu teredam oleh tawa dan kata-kata ejekan dari para berandal lainnya.

Joe tidak perduli keadaan cewek itu, matanya terpejam berkonsentrasi menikmati hujaman keluar masuk batang penisnya yang sekarang seakan terbalut erat didinding vagina Shawn.

“Oooohhh….ooohhh…BABY,….FUCK YOU…ohhh…
uuunnhhh…..aaahhhh….uuuhhh…YIHAAAAA…..” jeritnya kenikmatan dan semakin berutal menggenjotkan batang penisnya yang tegak dalam lorong kemaluan Shawn. Emilo dan Jack tertawa terbahak-bahak mengomentari gaya Joe memperkosa Shawn. Lengkuhan-lengkuhan nikmat keluar dari mulut Joe yang mempercepat ritme genjotan batang penisnya di lorong vagina Shawn.

“Aaahhh…aakkkhhh…aaddduh….aahh…” erang Shawn sementara matanya terpejam menahan sakit. Cewek itu malu bercampur sedih, tak berdaya, para berandal itu benar-benar secara total menikmati tubuhnya, Shawn menyesal karena tadi menghalangi mereka mencuri minuman keras. Ia tidak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

“Ha…ha…ha….sungguh menggairahkan sekali tubuhmu ini…uuuggghhh…” bisik Joe membuyarkan lamunan Shawn. Tangan Joe mencengkram erat pinggulnya, sementara batang penis itu bergerak keluar masuk dengan brutal di lorong kemaluannya. Shawn bisa merasakan batang penis itu tegak seperti tongkat yang beraksi mengaduk-aduk kemaluannya dengan gerakan yang brutal dan buas sekali. Setiap hujaman dan genjotan keluar masuk penis itu membuatnya mengerang kesakitan. Jack menyirami tubuh Shawn dengan bir yang diminumnya.

“Hai Jack….suntik dia obat perangsang…biar tambah asyik pestanya….” ide Joe yang langsung disambut dengan suara tawa para berandal lainnya. Shawn kaget mendengar itu dan berusaha berontak, tapi cengkraman dikedua tangan dan pinggulnya makin erat membuatnya tak berkutik. Joe tertawa mengejek ketidak berdayaan Shawn, sementara pinggulnya maju mundur menghujamkan batang penisnya dilorong kemaluan Shawn.

“Ha…ha…ha…WHAT’S A MATTER BABY….SOON YOU’LL BEG FOR COCKS!!!!….ha…ha…ha….BITCH!!!!” seru Joe sambil mengenjotkan penisnya dalam lorong kemaluan Shawn.

“ooohhh… jangan….amm…punnn….Oooowww!!!” jerit cewek itu meronta-ronta ketika Jack menyuntikan obat perangsang itu pada lengannya. Shawn tak berkutik dikerubuti oleh lima berandal yang penuh napsu. Joe masih melengkuh-lengkuh berkonsentrasi merasakan nikmat di batang penisnya. Kepala penisnya berdenyut-denyut setiap kali menerobos keluar masuk lorong vagina cewek itu seakan mau meledak.

Batang penis itu terlihat hitam besar dan tegak terbalut erat oleh lorong vagina Shawn. Kepala cewek itu terjengkang menegadah setiapkali batang penis itu menerjang maju memasuki vaginanya.

“Aaahhhh……aaahhhh…aooohhh… uuuugghhhh….” desah Shawn sementara kakinya terayun-ayun. Para berandal yang lain menyoraki Joe, memberi semangat.

“HUUUHHH…..uuuhhhhhh….uuuugghhhh…..
UUAAHHH!!!” pekiknya bersamaan dengan spermanya menyemprot dari kepala penisnya. Tubuh Shawn langsung lunglai ketika tangan Joe melepaskan cengkramannya dipinggul cewek itu.

“ahhh…aoohhh…..uuhhh….” erangnya terengah-engah sementara kedua tangannya masih dipegangi oleh Edi dan Billie.

“YOU’RE SO DAMN HOT SEXY ASS, BABY…I WANT TO FUCK YOUR ASS HOLE” ejek Edi yang memang dari tadi belum mencicipi sempitnya lorong anus Shawn. Belum sempat cewek itu membayangkan rasa sakit yang bakal dialaminya, tubuhnya sudah dibopong menuju kekamarnya dan langsung dilempar keranjang lagi.

Jack tertawa terbahak-bahak melihat tubuh Shawn yang sudah lemas ini berusaha melawan. Rontaan-rontaan cewek itu menjadi tak berarti ketika tubuhnya ditelungkupkan diatas Jack dan Edi yang dari belakang merangkul dirinya. Jack mengarahkan penisnya agar bisa masuk dalam kemaluan Shawn. Tanpa perlawanan yang berarti, penis Jack menyeruak masuk dari bawah, lalu sekarang tubuh Shawn dipaksa menungging dan kedua tangannya diikat lagi ditiang ranjang dengan tali BH yang tadi dipakai juga untuk mengikat dirinya. Sedangkan Edi dari belakang meremas-remas penisnya yang terlihat besar dan makin besar saja karena obat perangsang yang sudah bekerja.

“Ohhh….he…..he….ampun…please….ampun sudah….jangan…” hibanya sambil terisak-isak. Tapi tak seorang pun dari berandal itu yang berniat untuk berhenti atau menghentikan Edi yang mulai meraba-raba dan menciumi pantat Shawn, sambil sesekali memukul-mukul kecil. Giginya terasa dingin menyentuh kulit pantat Shawn, diciuminya pantat cewek itu penuh napsu, sampai terlihat merah. Shawn bisa merasakan batang penis itu tegak diantara celah pantatnya ketika Edi mendekap
tubuhnya sementara tangannya meremas-remas buah dadanya.

“Ohhhh….ooohhhh……..aahhh….ammm….punnn… .”desah Shawn dengan napas yang berat karena menahan reaksi obat perangsang yang sudah mulai bekerja.
“FELL MY COCK….bagaimana rasanya… besar bukan SWEET HEART….” bisik Edi sambil menciumi leher Shawn.
“Ohhhh…aaahhhh…auuuhhh…” napas cewek itu makin berat berusaha menahan rangsangan dari obat dan remasan-remasan Edi maupun gerakan penis Jack divaginanya.

Para berandal lainnya bersorak-sorak, ketika Edi mengarahkan pinggulnya membimbing batang penis yang besar dan berurat itu memasuki anus Shawn. Mata Shawn terbelalak merasakan ukuran ‘BIG SIZE’ batang penis Edi. Isak tangisnya berhenti karena menahan sakit. Batang penis itu masuk perlahan-lahan menerobos keketatan anus Shawn.

“aaaaaahh…..aaaaahhhhhhhhhhh” jerit Shawn sambil menggigit bibirnya. Sesekali pinggul Shawn meronta, tapi pukulan kecil pada pantatnya membuatnya berhenti. Bekas telapak tangan merona merah dikulit pantat Shawn. Edi tak sabar untuk segera membenamkan seluruh batang penisnya.

“Aaaccckhhhhh….” jerit Shawn tersendat, bersamaan dengan lengkuhan nikmat ketika dengan kasar Edi menghujamkan sisa batang penisnya dalam lorong anus cewek itu sehingga sekarang hilang terbenam didalamnya.
” LET’S START SODOFUCKING YOUR TIGHT ASS HOLE….” bisik Edi ditelinga Shawn sambil tersenyum sinis.

Beberapa saat kemudian terdengar lengkuhan demi lengkuhan nikmat disetiap ayunan pinggul Edi. Matanya terpejam-pejam menikmati ketatnya lorong anus cewek itu membalut batang penisnya.

“uuuuuchhhhh….uuuuhhhh……uuuuuuhhhh…uuucchh h…
uuucchhhh…” desis Edi, sementara pinggulnya maju mundur memompa pinisnya menembus anus Shawn. Tangannya mencengkram pinggul cewek itu agar tidak banyak berontak. Jack yang dari bawah juga menikmati jepitan vagina Shawn, sambil kedua tangannya menopang dibuah dada cewek itu yang terayun-ayun ketika tubuhnya mulai bergerak didorong oleh gerakan penis di anusnya. Jemarinya bermain-main dengan putingnya. Sesekali gerakan Edi membuat cewek itu menelungkup sehingga Jack dapat menciumi daerah leher depannya, sedangkan Edi dari belakang mengulum daun telinga sebelah kirinya.

“Aaacckkk….aakkk…..aaackkkk…aaahhhh…..aaaa hhh…” desahnya setiapkali, mata Shawn terpejam merasakan rangsangan demi rangsangan yang mulai timbul akibat pengaruh obat yang disuntikkan tadi.

“Ha…ha…ha….I KNEW WHAT YOU FEEL…baby…DON’T RESIST IT….ha…ha…ha…” ejek Jack sambil tangannya terus meremas-remas buah dada Shawn. Sementara Edi dan Jack menikmati tubuh Shawn, para berandal yang lain memindahkan TV kekamar, dan mereka melanjutkan acara TV kabel itu. Emilo dan Billie meremas-remas penisnya sambil menikmati acara film blue. Suara dari film itu menambah sensasi tersendiri dalam ruangan tersebut. Joe yang berdiri dipinggir ranjang membelai-belai rambut Shawn, sementara Edi dengan brutal penisnya menerobos keluar masuk anus cewek itu. Jack yang berada dibawah juga tidak kalah bersemangat, merasakan ayunan cewek itu akibat gerakan Edi.

“aaaakkkk…aaakkkhhh……aahhh…mmm…pppuuunn. ..” erang Shawn, sementara tubuhnya terhentak-hentak liar.

“Ha….ha…ha….bagaimana rasanya sayang…. I SWEAR THAT YOU COULDN’T WALK EASY AFTER THIS….ha..ha…ha…” seru Joe membuat teman-temannya tertawa.

Kedua pergelangan tangan Shawn terlihat merah melingkar oleh ikatan tali BHnya. Rasa sakit dan nikmat bercampur menjadi satu menjalar diseluruh tubuh Shawn, dan makin lama makin meningkat bersamaan hujaman kedua penis itu. Tak pernah Shawn membayangkan merasakan rasa seperti itu. Kedua penis itu bergerak seirama, menghujam, mengaduk-aduk, keluar masuk, penuh dengan napsu mengirimkan sensasi ke seluruh tubuhnya.

“Aaaacckkkk….aaakkkkhhhh…..aaahhh….” desah cewek itu sementara tangannya mengenggam erat tali BH yg diikatkan dipergelangan tangannya. Edi dari belakang dengan semangat terus menghujamkan batang penisnya bergerak keluar masuk anus Shawn. Penis itu terasa seperti besi panas yang membuat nafas Shawn terputus-putus.

“HEY, Ed! I THINK SHE LIKES YOU!”, komentar Billie. Suara yang dapat didengar Shawn selain erangannya sendiri hanya suara pinggul Edi yang menumbuk pantatnya ketika ia mendorong penisnya keluar masuk lorong anusnya. Didaerah lehernya Shawn bisa merasakan panas napas Edi yang memburu, sementara mulutnya menciumi leher dan tengkuk cewek itu. Buah dadanya yang mengacung bergerak naik turun berirama dengan nafasnya yang tersengal-sengal, sementara Jack dari bawah meremas-remasnya dengan kasar sekali.

“Ahhh…ahhhhh….aauuuggghhh….” mata Shawn terpejam merasakan semua sensasi itu. Dari mulutnya terdengar desah dan rintihan yang membuat mereka makin bernapsu. Otot vagina dan anus Shawn mencengkram erat kedua penis itu, sehingga Edi dan Jack makin melengkuh-lengkuh. Butiran keringat menetes mengalir turun dari bahu Shawn menuruni belahan buah dadanya. Tubuhnya saat ini terlihat sangat seksi sekali dan bau keringat dan napsu memenuhi kamar, membuat kelima berandal itu mabuk kepayang.

Desakan penis Edi di anus Shawn mendorong vaginanya menelan penuh batang penis Jack yang dibawah, sehingga Jack melengkuh-lengkuh nikmat. Tangannya dengan gemas meremas-remas buah dada cewek itu membuat Shawn makin mengelinjang-linjang erotis.

“Aaaahhhh….aaaaaaiiiihhh…aaahhh…aaaggkkk…” erang Shawn, sementara Edi menciumi tengkuknya. Lidahnya menyapu belakang leher dan telinga cewek itu, membuat Shawn mendesah-desah.

Jack makin mendekati klimaks, penisnya terhujam-hujam menggila oleh gerakan Shawn yang terayun-ayun diatasnya. Tangannya mencengkram kedua buah dada cewek itu dengan gemas. Shawn hanya bisa mendesah-desah ditengah-tengah himpitan tubuh Jack dan Edi.

“Uuuggghhh…uuugghhh….eemmmgggg…uuhhh…” lengkuh kedua berandal itu, merasakan nikmat di batang penisnya.
“augghhh…uuugghhhh…..UUUUUGGHHHHHHHH………. …..” erang cewek itu, tubuhnya mengejang mengeliat membusur.

“I THINK, THIS BITCH JUST CAME!…ha..ha..ha…YEEHAAA!!!!” seru Jack mengejek Shawn yang mengerang orgasme menerima rangsangan yang liar dan buas dari kedua berandal yang menyetubuhinya penuh napsu.

Mata cewek itu memejam, sementara tubuhnya yang sudah basah kuyup karena keringat mengejang terlihat sangat sexy, buah dadanya mengacung dalam genggaman Edi yang masih terus memompakan penisnya menelusuri keketatan anusnya. Mulutnya mengerang membuka, Jack yang dari bawah merasakan penisnya makin licin oleh cairan orgasme cewek itu. Lidah Jack berusaha menjilat leher jenjang Shawn, yang dari tadi bergerak mengeleng kiri-kanan.

“Ooooccchhhhh, nikmat bukan rasanya? hemmm?” seru Edi dari belakang, sambil meremas dada Shawn.
“Aaacccchhh….ampun…..aaaaaaaccchhhhh!” erang cewek itu tak berdaya, tubuhnya lemas dirangsang berjam-jam. Tubuh Shawn masih terguncang-guncang oleh hentakan kedua berandal yang masih mendengus-dengus berpacu mencapai klimax yang makin mendekat.

Kedua penis itu menerjang dengan ayunan yang mantap dan cepat, Jack dan Edi merasakan ujung kepala penis mereka yang sudah berdenyut-denyut seakan siap meledak di setiap saat. Kedua berandal itu melengkuh bersahut-sahutan merasakan sensasi kenikmatan yang makin menjadi-jadi itu. Sementara Shawn masih mengejang orgasme ditengah himpitan mereka berdua.

“HAH…..HAH….HAH…….UUUUUUAAAAAHHHHH!!!! !” dengus Edi sambil menyemprotkan sperma di anus Shawn. Beberapa detik kemudian Jack yang dibawah segera menyusul mencapai klimax.
“Ha…ha..ha……I CAME BABE……..TAKE THIS CUMMMM!!!….
……UUUUUUUGGGGGHHHHHHH………” penis itu hilang dalam himpitan lorong vagina cewek itu, dan dari kepalanya tersembur sperma. Shawn mengejang-ngejang sesaaat dalam himpitan kedua berandal itu, napas ketiganya mendengus-dengus, tubuh mereka basah oleh keringat.

Tiga berandal yang lain tak sabar menunggu, penis mereka sendiri tegang tegak siap beraksi. Edi yang berdiri terlebih dahulu melepaskan dekapannya dari Shawn. Tubuh cewek itu langsung jatuh di atas Jack yang masih mengatur napasnya. Billie melepaskan ikatan tangan Shawn dan membalik tubuh cewek itu sehingga terlentang diatas ranjang. Jack bangkit berdiri sambil tersenyum sinis memandang Shawn.

“YO….THIS OUR TURN….” Joe memberi tepukan tangan pada Jack.
Billie dan Emilo sudah maju mengerubungi cewek itu. Joe tersenyum sambil meremas-remas penisnya memastikan sudah benar-benar tegang. Dengan lincah lidah kedua berandal itu menyapu leher dan buah dada Shawn yang kemerahan diremas-remas dari tadi. Sesekali lidah Emilo menyusup ke daun kuping cewek itu sementara Billie dengan rakusnya melahap puting dadanya. Tangan Shawn tak berdaya mendorong tubuh kedua berandal itu.

Tenaganya sudah terkuras disetubuhi dengan buas oleh mereka, yang terdengar hanya erangan dan desahan-desahan kecil. Joe maju diantara paha Shawn yang terbuka, digesek-gesekkannya sebentar kepala penisnya yang besar itu di bibir kemaluan cewek itu. Belum sempat Shawn menyadari, dengan cepat batang penis itu segera menghujam dalam lolong vaginanya yang basah karena cairan orgasme dan sperma dari Jack. Batang itu bergerak keluar masuk dengan cepat dan licin, sementara Billie dengan lahap menciumi buah dada Shawn.

Karena tangan Shawn yang berusaha berontak, maka dengan sigap Emilo segera mengikatnya kembali ditiang ranjang. Gerakan Joe liar, menghujam, memutar, mengaduk-aduk, membuat cewek itu terengah-engah. Untuk mempertahankan ritme ayunannya, Joe mencengkeram pinggul Shawn. Kaki cewek itu terbuka dan terayun-ayun oleh gerakan pantat Joe yang memompakan penisnya. Tubuh Shawn ditarik agar lebih merapat di cengkraman Joe, sehingga tangannya tertarik keatas lurus. Emilo dan Billie sambil tersenyum-senyum mengejek, menjilati buah dada dan putingnya penuh napsu.

“Hmmmmmm…mmmmm…sslluupppppppppppsss……ha… ha…haa….
hmmppppmmm….ssluuppssssssss……..” tawa mereka dengan rakus melahap buah dada cewek itu.
Shawn mengerang dan mendesah tak berdaya, tubuhnya mengeliat-liat terlentang, sementara lorong vaginanya menerima setiap hujaman penis Joe yang buas.
“Ooohhh…uuugghhh…uuuhgggg…ooogghhhh….” desis Shawn menjadi-jadi menahan semua sensasi yang diterima tubuhnya. Putingnya menjadi bual-bualan kedua berandal itu. Dengan lincah lidah Emilo dan Billie menjelajahi buah dadanya yang tak berdaya terguncang-guncang seiriama genjotan ayunan Joe, tangan kedua berandal itu kadang meremas dan mencubit puting dan buah dadanya dengan gemas.

Joe melenguh-lenguh menikmati setiap terobosan penisnya yang makin lama makin berdenyut-denyut siap meledak, tangannya mencengkram erat pinggul Shawn mempertahankan ritme permainan penisnya. Kaki Shawn terayun-ayun kesana kemari, sementara jari-jari kakinya menutup rapat, menahan semua rangsangan-rangsangan yang terjadi.

“amp…ammppunn…aaacchh…aacchhhh…aacckk….. .” lolong Shawn menghiba.
Ketiga berandal itu makin semangat mengerjai tubuh Shawn, Joe tahu bahwa Shawn mulai terangsang oleh permainan mereka bertiga. Otot-otot vaginanya terasa mencengkram batangnya yang berdenyut-denyut itu. Emilo berpindah posisi, sekarang lidahnya menelusuri leher dan daerah ketiak Shawn, sementara Billie masih dengan rakus melahap kedua buah dadanya.

“ooohhhhhhh…aacckkkkkkkkk…accckkkkkkkkkkk…aa aahhhhh..aahhhhhhhh…….” Shawn makin histeris ketika hujaman Joe makin ganas sementara Billie menghisap buah dadanya kuat-kuat sedangkan Emilo memainkan lidahnya didaerah ketiak Shawn. Jari tangannya dan kakinya sampai mengepal kejang menahan sensasi itu.

TAMAT