Cerita Antara KitaSeptember 19, 2006 7:32 pm

Kisahku ini terjadi pada waktu aku masih kuliah disebuah universitas negeri dikota L. Namaku Ivan, dikampus aku dikenal bukan saja oleh mahasiswa seletingku tapi juga kakak-kakak leting dan adik-adik letingku. Mungkin ini semua patut kusyukuri karena aku mempunyai wajah yang tampan menurut teman-temanku. Ada saja tanggapan mereka tentang diriku hingga bisa-bisanya mereka menjuluki aku “Abang Tampan”. Memang wajahku diberi kelebihan sedikit oleh yang maha kuasa, rambut gondrong dengan alis yang bersambung, hidung mancung, bibir merah serta dilengkapi dengan jambang yang panjang. Dan bukannya aku sombong, mukaku tak pernah dihinggapi oleh yang namanya jerawat.

Kelebihan yang patut aku syukuri ini tidak membuat aku menjadi seorang yang haus akan pertualangan cinta. Mungkin karena aku berasal dari sebuah keluarga sederhana dan senantiasa menjalankan norma-norma agama membuatku agak pemalu serta tertutup akan masalah-masalah yang berbau seks.

Kisahku ini diawali dengan perkenalanku pada seorang gadis asal kota M, yang kebetulan berlibur dikota L. Namanya Meli, dia masih duduk dikelas ii SMU pada sebuah sekolah bergengsi di kotanya. Dari awal melihatnya aku sudah begitu tertarik, bagaikan terhipnotis pada pandangan pertama. Kulitnya yang kuning langsat dan tubuh yang tinggi semampai sangat menarik hatiku. Apalagi bila dia tersenyum, lesung di pipinya membuat dia semakin mempesona dimataku. Hal ini belum pernah kualami sebelumnya, yang biasanya aku cuek dengan yang namanya wanita harus membuat pengecualian untuk yang satu ini.

Singkat cerita setelah beberapa hari kami berkenalan dan beberapa kali berjumpa, dia telah menjadi pacarku yang sangat kucintai. Banyak persamaan pada diri kami hingga kami cepat merasa cocok. Dengan pengalaman-pengalaman akan seluk-beluk pacaran, kujalani hari-hariku bersama Meli sebatas peluk dan cium pipi saja. Mungkin hanya ini keberanian yang dapat kulakukan sebagai awal masa pacaran. Hingga pada suatu malam (tepatnya malam minggu) karena keadaan cuaca mendung kuajak Meli untuk mengunjungi tempat kostku, dan kebetulan akupun hanya sendiri ditempat itu. Di kamarku kami hanya duduk-duduk mendengar musik dan saling bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing. Entah dari mana keberanian itu datang, aku mencoba duduk lebih dekat dengan Meli yang pada saat itu sedang membolak-balik sebuah majalah remaja di atas ranjangku. Lalu dalam keadaan hening seperti itu, Melipun kelihatan salah tingkah dan untuk menutupinya dia sengaja mengikuti irama musik Paint my love-nya Michael Learns to Rock yang telah mengalun sejak tadi.

Sejenak kupandangi wajahnya yang ayu dengan kulit muka putih kemerahan, lalu kuraih dagunya hingga dia berpaling ke wajahku, kukecup keningnya sambil kukatakan “Aku sayang kamu Meli”, dia hanya diam dengan mata yang sedikit sendu. Ingin rasanya aku mencium bibirnya seperti pernah kulihat pada film-film barat dan Blue film tapi semakin kubayangkan hal itu semakin kencang rasanya detak jantung ini. Dengan sedikit berhati-hati kuberanikan diri untuk mengecup bibirnya. Meli hanya diam dan sedikit memejamkan matanya. Dengan hati yang tidak karuan ini kuciumi hidungnya lalu perlahan-lahan turun ke bibirnya dan kuhisap pelan-pelan. Tanpa kuduga diapun membalas lumatan bibirku sambil sedikit bergeser dan memeluk diriku. Sungguh nikmat rasanya, rangsangan hebat yang belum pernah kurasakan. Sekian lama kami berpaut bibir, perlahan-lahan kuturunkan kecupanku ke lehernya dan kurebahkan dia hingga tidur telentang. Hingga saat kutindih Meli mendesah-desah bagai orang kehabisan nafas. Secara reflek pula tanganku menyentuh dua buah bukit kenyal dan langsung kuremas perlahan-lahan.

Udara dingin dan situasi seperti ini membuatku tidak bisa lagi menahan rangsangan hebat di dalam diri ini, tanganku mulai bergerak menarik baju Meli yang dia masukkan ke dalam roknya, lalu kusingkap hingga terlihat kulit perut yang putih bersih dan pusar yang indah. Kukecup dan kujilati tengah perutnya hingga Meli terengah-engah, dan tanpa kusuruh dia langsung membuka bajunya sendiri. Begitu terpana aku dengan pemandangan asing seperti ini, dua buah bukit yang ditutupi BH tipis membuatku terdiam beberapa saat, tapi Meli yang sudah terangsang hebat nampaknya mulai menyerangku dengan memeluk dan menciumku serta perlahan-lahan melepas satu persatu kancing bajuku. Setelah bajuku ditanggalkan lalu dia mulai mengecup dadaku dan menjilat perutku yang ditumbuhi bulu-bulu halus dialurnya. Kenikmatan luar biasa yang tak pernah kualami hingga penisku yang sejak tadi mengeras rasanya telah lembab oleh keringat dingin kenikmatan.

Perlahan-lahan kuraih wajahnya dan langsung kulumat bibirnya, permainan lidahpun sedikit demi sedikit mulai kujalani dengan agak kaku. Kemudian kupeluk dirinya sambil tanganku melepas kait BH yang menutupi dua buah bukit kembarnya. Setelah keadaan kami telanjang bagian atasnya, bagaikan hilang kesadaran langsung kuciumi daging kenyal yang ujungnya sedikit kemerah-merahan itu, dan penisku pun kugesek-gesekkan pada alat kelaminnya yang masih terhalangi rok. Biarpun kami tidak membuka celana kami masing-masing tapi gesekan itu membuat pelukan kami semakin menguat dan akupun semakin tak bisa menahan diriku lagi, hingga beberapa saat kemudian cairan sperma keluar membasahi celana dalamku dan dalam sekejap tercium bau sperma. Melipun tampaknya tahu akan hal itu dan Iapun tersenyum, katanya sih.. seperti bau aroma bayclean (cairan pemutih kain). Melipun menolak tawaranku untuk memuaskan dirinya, agar kami sama-sama puas. Mungkin karena malu dan menganggap kejadian ini hanya reflek belaka. Setelah dia kuantarkan pulang, akupun mulai membayangkan kejadian yang baru saja kualami, dan akupun berpikir begitu cepatnya aku klimaks hanya karena gesekan saja. mungkin juga karena hal ini adalah pertama sekali aku melakukannya.

Setelah masa liburannya habis, kemudian dia pamit padaku dan pulang kembali ke kota asalnya M. Kenangan manis itu membuat kami selalu diliputi rasa rindu, Interlokal, surat-menyurat adalah obat bagi kerinduan kami. Perkenalan dengan orang tuanya pun semakin membuat hatiku yakin akan memilikinya, begitu juga dengan Meli orang tuaku pun telah kuperkenalkan padanya. Pada saat itu kurasakan tiada halangan lagi bagi kami untuk menyatu seutuhnya. Hingga suatu saat musibah itu datang, Meli meninggal dunia setelah sebulan aku diwisuda untuk program D3. Sungguh pilu hatiku saat itu, kepergiannya yang tak terduga telah meninggalkan kenangan indah semenjak dia menjalani masa-masa indah denganku. Sudah 6 bulan berlalu hingga saat sekarang kutuliskan kisahku, masih terbayang kesan-kesan manis yang kujalani bersama Meli.
Maafkan aku Meli, semoga engkau tenang dialam sana.

TAMAT

Cerita Antara Kita 7:27 pm

Cerita ini terjadi saat saya kuliah dulu. Saya saat itu sangat pemalu dan tidak banyak teman wanita. Ceritanya begini, pada waktu ujian tengah semester, saya dipanggil ke rumah dosen wanita yang masih agak muda, sekitar 26 tahun. Ia juga lulusan dari perguruan tinggi tersebut. Dipanggil ke rumahnya karena saya diminta untuk mengurus keperluan dia, karena dia akan ke luar kota. Malam harinya saya pun ke rumahnya sekitar jam 7 malam. Saat itu rumahnya hanya ada pembantu (yang juga masih muda dan cantik). Suaminya ketika itu belum pulang dari rapat di puncak.

Saat saya membuka pintu rumahnya, saya agak terbelalak karena dia memakai gaun tidur yang tipis, sehingga terlihat payudara yang menyumbul keluar. Saat saya perhatikan, dia ternyata tidak memakai BH. Terlihat saat itu buah dadanya yang masih tegar berdiri, tidak turun. Putingnya juga terlihat besar dan kemerahan, sepertinya memiliki ukuran sekitar 36B.

Sewaktu saya sedang memperhatikan Dosen saya itu, saya kepergok oleh pembantunya yang ternyata dari tadi memperhatikan saya. Sesaat saya jadi gugup, tetapi kemudian pembantu itu malah mengedipkan matanya pada saya, dan selanjutnya ia memberikan minuman pada saya. Saat ia memberi minum, belahan dadanya jadi terlihat (karena pakaiannya agak pendek), dan sama seperti dosen saya ukurannya juga besar.

Kemudian dosen saya yang sudah duduk di depan saya berkata, (mungkin karena saya melihat belahan dada pembantu itu) “Kamu pingin ya “nyusu” sama buah dada yang sintal..?”
Saya pun tergagap dan menjawab, “Ah… enggak kok Bu..!”
Lalu dia bilang, “Nggak papa kok kalo kamu pingin.., Ibu juga bersedia nyusuin kamu.”
Mungkin karena ia saya anggap bercanda, saya bilang saja, “Oh.., boleh juga tuh Bu..!”

Tanpa diduga, ia pun mengajak saya masuk ke ruang kerjanya.
Saat kami masuk, ia berkata, “Andre, tolong liatin ada apaan sih nih di punggung Ibu..!”
Kemudian saya menurut saja, saya lihat punggungnya. Karena tidak ada apa-apa, saya bilang, “Nggak ada apa-apa kok Bu..!”
Tetapi tanpa disangka, ia malah membuka semua gaun tidurnya, dengan tetap membelakangiku. Saya lihat punggungnya yang begitu mulus dan putih. Kemudian ia menarik tangan saya ke payudaranya, oh sungguh kenyal dan besar. Kemudian saya merayap ke putingnya, dan benar perkiraan saya, putingnya besar dam masih keras.

Kemudian ia membalikkan tubuhnya, ia tersenyum sambil membuka celana dalamnya. Terlihat di sekitar kemaluannya banyak ditumbuhi bulu yang lebat.
Kemudian saya berkata, “Kenapa Ibu membuka baju..?”
Ia malah berkata, “Sudah.., tenang saja! Pokoknya puaskan aku malam ini, kalau perlu hingga pagi.”
Karena saya ingin juga merasakan tubuhnya, saya pun tanpa basa-basi terus menciuminya dan juga buah dadanya. Saya hisap hingga ia merasa kegelian. Kemudian ia membuka pakaian saya, ia pun terbelalak saat ia melihat batang kejantanan saya.
“Oh, sangat besar dan panjang..! (karena ukuran penis saya memang besar, sekitar 17 cm dan berdiameter 3 cm)”

Dosen saya pun sudah mulai terlihat atraktif, ia mengulum penis saya hingga biji kemaluan saya.
“Ah.. ahh Bu… enak sekali, terus Bu, aku belum pernah dihisap seperti ini..!” desah saya.
Karena dipuji, ia pun terus semangat memaju-mundurkan mulutnya. Saya juga meremas-remas terus buah dadanya, nikmat sekali kata dosen saya. Kemudian ia mengajak saya untuk merubah posisi dan membentuk posisi 69.

Saya terus menjilati vaginanya dan terus memasukkan jari saya.
“Ah.. Andre, aku sudah nggak kuat nih..! Cepat masukkan penismu..!” katanya.
“Baik Bu..!” jawab saya sambil mencoba memasukkan batang kemaluan saya ke liang senggamanya.
“Ah.., ternyata sempit juga ya Bu..! Jarang dimasukin ya Bu..?” tanya saya.
“Iya Andre, suami Ibu jarang bercinta dengan Ibu, karena itu Ibu belum punya anak, ia pun juga sebentar permainannya.” jawabnya.
Kemudian ia terus menggelinjang-gelinjang saat dimasukkannya penis saya sambil berkata, “Ohh… ohhh… besar sekali penismu, tidak masuk ke vaginaku, ya Ndre..?”
“Ah nggak kok Bu..” jawab saya sambil terus berusaha memasukkan batang keperkasaan saya.
Kemudian, untuk melonggarkan lubang vaginanya, saya pun memutar-mutar batang kemaluan saya dan juga mengocok-ngocoknya dengan harapan melonggarkan liangnya. Dan betul, lubang senggamanya mulai membuka dan batang kejantanan saya sudah masuk setengahnya.

“Ohhh… ohhh… Terus Ndre, masukkan terus, jangan ragu..!” katanya memohon.
Setelah memutar dan mengocok batang kejantanan saya, akhirnya masuk juga rudal saya semua ke dalam liang kewanitaannya.
“Oohh pssfff… aha hhah.. ah…” desahnya yang diikuti dengan teriakannya, “Oh my good..! Ohhh..!”
Saya pun mulai mengocok batang kemaluan saya keluar masuk. Tidak sampai semenit kemudian, dosen saya sudah mengeluarkan cairan vaginanya.
“Oh Andre, Ibu keluar…” terasa hangat dan kental sekali cairan itu.
Cairan itu juga memudahkan saya untuk terus memaju-mundurkan batang keperkasaan saya. Karena cairan yang dikeluarkan terlalu banyak, terdengar bunyi, “Crep.. crep.. sleppp.. slepp..” sangat keras. Karena saya melakukannya sambil menghadap ke arah pintu, sehingga terdengar sampai ke luar ruang kerjanya.

Saat itu saya sempat melihat pembantunya mengintip permainan kami. Ternyata pembantu itu sedang meremas-remas payudaranya sendiri (mungkin karena bernafsu melihat permainan kami). Oh, betapa bahagianya saya sambil terus mengocok batang keperkasaan saya maju mundur di liang vagina dosen saya. Saya juga melihat tontonan gratis ulah pembantunya yang masturbasi sendiri, dan saya baru kali ini melihat wanita masturbasi.

Setelah 15 menit bermain dengan posisi saya berada di atasnya, kemudian saya menyuruh dosen saya pindah ke atas saya sekarang. Ia pun terlihat agresif dengan posisi seperti itu.
“Aha.. ha.. ha…” ia berkata seperti sedang bermain rodeo di atas tubuh saya.
15 menit kemudian ia ternyata orgasme yang kedua kalinya.
“Oh, cepat sekali dia orgasme, padahal aku belum sekalipun orgasme.” batin saya.

Kemudian setelah orgasmenya yang kedua, kami berganti posisi kembali. Ia di atas meja, sedangkan saya berdiri di depannya. Saya terus bermain lagi sampai merasakan batas dinding rahimnya.
“Oh.. oh.. Andre, pelan-pelan Ndre..!” katanya.
Kelihatannya ia memang belum pernah dimasukan batang kemaluan suaminya hingga sedalam ini. 15 menit kemudian ia ternyata mengalami orgasme yang ketiga kalinya.
“Ah Andre, aku keluar, ah… ah… ahhh… nikmat..!” desahnya sambil memuncratkan kembali cairan kemaluannya yang banyak itu.

Setelah itu ia mengajak saya ke bath-tub di kamar mandinya. Ia berharap agar di bath-tub itu saya dapat orgasme, karena ia kelihatannya tidak sanggup lagi membalas permainan yang saya berikan. Di bath-tub yang diisi setengah itu, kami mulai menggunakan sabun mandi untuk mengusap-usap badan kami. Karena dosen saya sangat senang diusap buah dadanya, ia terlihat terus-terusan bergelinjang. Ia membalasnya dengan meremas-remas buah kemaluan saya menggunakan sabun (bisa pembaca rasakan nikmatnya bila buah zakar diremas-remas dengan sabun).

Setelah 15 menit kami bermain di bath-tub, kami akhirnya berdua mencapai klimaks yang keempat bagi dosen saya dan yang pertama bagi saya.
“Oh Andre, aku mau keluar lagi..!” katanya.
Setelah terasa penuh di ujung kepala penis saya, kemudian saya keluarkan batang kejantanan saya dan kemudian mengeluarkan cairan lahar panas itu di atas buah dadanya sambil mengusap-usap lembut.

“Oh Andre, engkau sungguh kuat dan partner bercinta yang dahsyat, engkau tidak cepat orgasme, sehingga aku dapat orgasme berkali-kali. ini pertama kalinya bagiku Andre. Suamiku biasanya hanya dapat membuatku orgasme sekali saja, kadang-kadang tidak sama sekali.” ujar dosen saya.
Kemudian karena kekelalahan, ia terkulai lemas di bath-tub tersebut, dan saya keluar ruang kerjanya masih dalam keadaan bugil mencoba mengambil pakaian saya yang berserakan di sana.

Di luar ruang kerjanya, saya lihat pembantu dosen saya tergeletak di lantai depan pintu ruangan itu sambil memasukkan jari-jarinya ke dalam vaginanya. Karena melihat tubuh pembantu itu yang juga montok dan putih bersih, saya mulai membayangkan bila saya dapat bersetubuh dengannya. Yang menarik dari tubuhnya adalah karena buah dadanya yang besar, sekitar 36D. Akhirnya saya pikir, biarlah saya main lagi di ronde kedua bersama pembantunya. Pembantu itu pun juga tampaknya bergairah setelah melihat permainan saya dengan majikannya.

Saya langsung menindih tubuhnya yang montok itu dengan sangat bernafsu. Saya mencoba melakukan perangsangan terlebih dulu ke bagian sensitifnya. Saya mencium dan menjilat seluruh permukaan buah dadanya dan turun hingga ke bibir kemaluannya yang ditumbuhi hutan lebat itu. Tidak berapa lama kemudian, kami pun sudah mulai saling memasukkan alat kelamin kami. Kami bermain sekitar 30 menit, dan tampaknya pembantu ini lebih kuat dari majikannya. Terbukti saat kami sudah 30 menit bermain, kami baru mengeluarkan cairan kemaluan kami masing-masing. Oh, ternyata saya sudah bermain seks dengan dua wanita bernafsu ini selama satu setengah jam. Saya pun akhirnya pulang dengan rasa lelah yang luar biasa, karena ini adalah pertama kalinya saya merasakan bercinta dengan wanita.

Saat ini saya pun sedang mencoba bermain seks lewat chatting dengan orang bule di internet. Tetapi saya ingin merasakan bermain seks dengan wanita Indonesia asli. Dapatkah pembaca membantu saya, silakan kirim email ke saya.marijuana@mail2world.com

TAMAT

Cerita Antara Kita 7:25 pm

Pertama kali saya bertemu dengan Priscilla adalah tiga tahun yang lalu. Saat itu kami masih duduk di tingkat dua salah satu SMU swasta di Jakarta. Priscilla adalah seorang gadis tercantik di sekolah kami pada saat itu. Tubuhnya sungguh-sungguh sempurna. Tingginya kurang-lebih 173 cm, dengan berat badan saya kurang tahu, tetapi benar-benar pas, tidak terlalu kurus malah cenderung padat berisi (tapi tidak gemuk).

Waktu itu saya adalah murid pindahan dari sekolah swasta lain. Saat saya pertama kali masuk kelas pada hari pertama sekolah, mata saya langsung tertuju ke Priscilla. Saya ingat sekali saat itu dia memakai seragam batik sekolah kami yang berwarna ungu dengan rambut dikuncir agak tinggi dan di kiri-kanan dahinya terurai rambutnya tipis jatuh sampai ke rahangnya yang indah. Secara reflek saya langsung mencari bangku kosong di dekatnya. Saya berhasil duduk di belakangnya. Beberapa bulan telah berlalu dan kami sudah mulai dekat satu sama lain. Saya suka menelepon dia walaupun tidak terlalu sering. Dari situ pula saya tahu bahwa dia belum punya pacar. Wah, girangnya hati ini ketika tahu hal tersebut.

Suatu hari di bulan September, saat itu sedang pelajaran Aljabar (saya sangat benci pelajaran ini). Saat itu, seperti biasanya, saya menghabiskan waktu melihat tengkuknya yang begitu mulus, sesekali pandangan itu diusik oleh rambutnya yang mengayun indah bagaikan berirama. Tiba-tiba Pak Tono memanggil saya untuk maju ke depan mengerjakan sebuah soal yang–menurut saya–sangat sulit sekali. Tentu saja seperti yang kita duga, saya tidak bisa mengerjakannya dan saya benar-benar malu karena selanjutnya Priscilla dipanggil untuk membetulkan pekerjaan saya yang menurut Pak Tono sudah keterlaluan.

Akhirnya bel istirahat berbunyi. Saya langsung ke kantin. Saya memesan semangkok sotomie. Saat saya ingin membayar, saya baru sadar bahwa uang saya tertinggal di kelas. Langsung saja saya bilang ke penjualnya untuk menunggu sebentar karena saya mau ngambil uang dulu di kelas. Saya terkejut bukan kepalang karena Priscilla tiba-tiba sudah berada di depan saya, kami terpisahkan hanya 40 cm. Bau parfumnya langsung memicu adrenalin. Karena saya tinggi (184 cm), saya bisa melihat bagian bawah lehernya yang sungguh indah. Tak tertahankan, saya meneguk ludah. Tiba-tiba dia menyerahkan uang Rp.3.000 ke penjual sotomie dan untuk pertama kalinya mendengar suaranya yang manja tepat di telingaku, “Ini pak, sekalian sama punya dia.” saya cuma bisa tertegun melihat dia melangkah kembali ke kelas seiring bunyi bel yang panjang.3

Sorenya sewaktu saya sedang latihan basket buat besok tes lay-up, Priscilla menelepon saya.
“Lou, kamu kan jago main basket…, Ajarin Priscillia yaa…”, Terdengar suara manjanya di ujung sana, mana bisa saya menolak?”.
“Boleh…, kamu datang saja…, eh, apa saya yang ke situ?”.
“Saya ke sana aja, alamat kamu di mana?”, Langsung saya sebutkan alamat rumahku.
20 menit kemudian…

Luar biasa, Priscillia datang memakai celana pendek, baju ketat yang dilapisi baju basket, dan sepasang snickers Nike. Rambutnya dikuncir kuda. Dia datang diantar sopirnya yang menunggu di luar. Dia tampak cantik sekali.
“C’mon Lou, mari kita mulai…”, Katanya semangat banget. Kami lalu mulai latihan dribbling. Dia cepat sekali berkeringat dan membuatnya tampak sporty, saya suka cewek sporty. Lalu kami mulai latihan lay-up. Saya beritahu pelan-pelan sambil sesekali mencuri pegang bagian tubuhnya. Saya pegang tangannya pura-pura kasih tahu cara lay-up yang benar. Sewaktu dia melakukan lay-up yang tidak masuk, secara reflek saya merebound bola tersebut, namun secara tidak sengaja siku saya menyenggol payudaranya dengan cukup keras. Payudaranya sungguh sangat kenyal dan bulat hampir bulat sempurna. Terasa olehku mukaku mulai panas karena salah-tingkah. Muka diapun memerah, entah karena panas atau karena malu. Kami berdua terdiam, dia menundukkan kepalanya.
“Ayo coba lay-up lagi!” Kataku mencoba memecahkan keheningan sambil memberikan bola itu kepadanya. Dia mendongak, memandangku lama sekali sampai mukaku merah. Dia terus memandangku dengan tatapan yang penuh arti, namun saya tidak dapat menebak artinya. Sampai saya akhirnya mengucapkan kata maaf tanpa sadar. Dia tersenyum, “Maaf kenapa?” Mukaku pasti seperti tomat sekarang merahnya. Saya lalu berbalik dan masuk ke dalam sambil berseru bahwa saya mau ambil minum dulu. Kalau tidak begitu, saya bisa salah tingkah dibuatnya. Tidak lama kemudian dia pamit pulang.

Keesokan harinya saat tes lay-up dia tersenyum manis sekali ke saya yang tentu saja memancing ‘paduan suara’ teman-teman. Tiga hari sesudah itu saya memberanikan diri mengajaknya pergi nonton. Saya telepon, yang mengangkat ternyata adiknya.
“Halo, bisa dengan Priscilla?” Tanyaku dengan suara yang luar biasa lembut.
“Dari siapa nih?” Sahutnya.
“Lou…”.
“Siapa?”.
“Temennya, Lou..”.
“Lho…, saya adiknya, bukan temennya…”.
“Ye…, Nama saya Lou…”.
“Oo…, Bentar Lou.” Adiknya agak ngeselin juga.
“Allo…, Lou? Kenapa?” Suaranya terdengar sungguh manja.
“Eh…, eh., lo lagi ngapain?”
“Baca Sidney, Windmill of the Gods, bagus lho…”.
“Oo…” Dalam hati saya bertanya-tanya, apa juga… Masa’ windmill dibaca?
“Lo…, mau.. Eh, nonton tidak? Atau, yeah.., jalan…, Kalau bisa sih nonton…” Jelek amat, masa’ ngajakin cewek pergi kayak gitu.
“Hmm…, lu ngajakin kencan yaa…? Mau kencan sama saya? Panggil yayang dulu dong…” Duh…, gile. Saya digoda sama nih cewek. Udah lah, bodo amat, so’ agresif aja deh.
“Sayang mau nonton gakk?”.
“he he..,boleh, kamu ke sini deh, kita nonton yang jam tujuh aja ya, abis tanggung baca bukunya, tidak pa-pa kan?”.

Sebelum nonton saya beli popcorn dan cola dulu. Sengaja saya beli colanya cuma satu biar bisa ngelancarin taktik saya. Saya sudah tidak mau sopan-sopan lagi, habis dikerjain terus. Biar deh, agresif dikit.
Kami nonton di B1 dan B2, dia duduk di B1, berarti di sebelah kanan saya. Pas film sudah jalan seperempatnya saya mulai ngelancarin taktik saya.
“Cill, tolong ambilin cola dong, saya aus nih…”.
Sewaktu dia mengambilkan cola itu, saya langsung bentangin tangan saya di bangku dia sehingga ketika dia balik tangan saya sudah langsung ngerangkul pinggangnya. Dia agak terkejut, tapi tidak mengeluh, cuma tersenyum. Saya minum colanya sedikit, terus saya tawarkan ke dia, “Mau tidak Cill?”
“Mau dong”, Dia lalu menyedot cola (bekas sedotan saya). setelah itu colanya ditaruh di bawah oleh dia. Saya mulai melancarkan aksi saya. Pelan-pelan saya geser badan saya makin dekat ke dia. Saya pegang tangan dia pakai tangan kiri saya sementara tangan kanan saya masih merangkul dia. Dia masih asyik nonton.

Saya lihatin mukanya lama banget sampai dia sadar sendiri. Saya bisikin ke telinga dia betapa cantiknya dia malam itu dan betapa saya dibuat terpesona olehnya. Dia tersenyum dan mengatakan bahwa dia sayang sama saya dan pengen jadi cewek saya. Gila! Saya kaget sekali, benar-benar tidak nyangka bakal jadi seperti ini, walaupun, sumpah, saya pengen kayak gini, tapi bingung caranya. Saya bilang lagi ke dia bahwa saya juga mau dia jadi cewek saya, saya mau menyayangi dia secara utuh. Lalu saya kiss lembut keningnya, pipi kirinya dan pipi kanannya. Dia balas hal yang sama. Kami saling menatap. Saya angkat tangan kirinya dan saya kiss telapak tangannya dengan lembut sambil ngomong, “I love you with all my heart from now, and forever i wish it to be…” Dia lalu memeluk saya, tangannya di tengkuk saya sementara tangan saya di sekeliling pinggangnya. Untuk memastikan saya tanya lagi, “Cill, kita jalan…?”

Dia menatap saya dengan tatapan marah, saya langsung bingung. “Lho kenapa? saya salah ngomong ya?” Dia melototin saya, dan pas saya mau ngomong lagi dia menutup mulut saya dengan telunjuknya dan mulai menggerakkan mukanya menghampiri muka saya. Detak jantung saya sudah kenceng sekali saat pelan-pelan telunjuknya dilepaskan dari bibir saya. Reflek saya basahin bibir saya, tapi sebelum lidah saya masuk ke dalam rongga mulut, lidah Priscilla sudah menyentuh lidah saya. Saya kaget, saya tidak pernah seperti ini. Penis saya sudah tegak sejak pertama kali saya rangkul dia tapi sekarang sudah maksimal kayaknya. Pelan-pelan dia membuka mulut saya dengan lidahnya. Saya yang belon pengalaman dituntun sama dia. Saya tidak tahu dia sudah berapa kali beginian, tapi bagi saya dia sangat ahli.

Sekarang tangan kanan dia ditaruh di atas dada kiri saya sementara kami masih saling menjilat lidah. Tiba-tiba dia menarik mulutnya dan meminta saya yang ngekiss dia sekarang. Saya tidak mau bilang tidak bisa karena belum pernah maka saya maju aja pelan-pelan. Bibir saya tinggal 3 cm lagi dari bibirnya, matanya sudah terpejam dan nafasnya terdengar sangat teratur. Kedua tangannya sekarang ada di dada saya sementara tangan kanan saya di pinggangnya dan tangan kiri saya di pahanya. Nafas saya memburu saat bibir saya tinggal sekian milimeter lagi. Dia tersenyum dan memindahkan tangan kanannya ke balik kepala saya dan mulai menuntun saya. Bibir kami bersentuhan, saya tidak tahu harus berbuat apa. Karena bibir bawahnya yang masuk, maka saya hisap pelan bibirnya. Perlu saya kasih tahu bibir atas dia tipis dan bibir bawahnya tipis, tapi tidak setipis yang di atas. Pokoknya menurut saya seksi.

Dia menghisap lembut bibir atas saya. Tangannya diusap-usapkan ke dada saya. Saya mulai berani, saya gerakkan tangan saya ke leher dia. Saya belai lembut lehernya pakai punggung tangan saya. Tangan saya makin naik membelai wajahnya yang remang-remang tertimpa cahaya film. Tiba-tiba dia memasukan lidahnya ke dalam rongga mulut saya dam menyentuh lidah saya. Lidah saya ditekan-tekan, dielus, dan dibelai pakai lidah dia. Badan saya sedikit mengejang menerima sensasi tersebut. Dia menarik mulutnya dan tersenyum simpul.
“Jangan tegang gitu dong Lou…, tidak pa-pa kok, pelan-pelan aja…, tidak usah terbebani..” Dia ngomong gitu, tidak tahu kenapa tapi bisa bikin saya rileks sedikit.

Dia lalu kembali mendekatkan wajahnya ke saya. Secara otomatis bibir saya membuka, tapi kembali saya dibuat terkejut oleh sensasi yang lebih hebat lagi. Bibir bawah saya secara intens dijilat olehnya dengan gerakan seperti orang memakai lipstik.

Saya mulai berani, setelah dia selesai menjilati bibir saya, saya mendekatkan wajah saya ke telinganya. Menurut buku yang saya baca telinga cewek termasuk yang paling sensitif terhadap rangsangan. Saya kulum telinga di bagian lubang tindikannya. Saya naikkan lidah saya ke dekat lubang telinganya dan mulai menjilati seluruh lekuk daun telinganya. Saya tempelkan mulut saya dan saya sedot pelan tepat di lubang telinganya. Dia mendesah dan mengejang sedikit. Pelan-pelan, masih dengan lidah, saya menuruni lehernya yang jenjang. Akhirnya saya sampai di pangkal lehernya. Saya kecup lehernya percenti sampai dia merem dan mendongakkan kepalanya memberi jalan buat lidah saya.

Saat itu ada ledakkan di film yang menghasilkan cahaya terang sehingga saya bisa melihat belahan dadanya yang indah. Saat itu dia memakai kemeja lengan panjang yang digulung dengan kerah V yang rendah dan rok pendek. Pelan-pelan saya beranikan diri saya dan mulai bergerak makin ke bawah. Saya mulai mencapai belahannya dan sedikit lama bermain di situ. Dia mulai menggeliat tapi masih tetap terpejam. Saya buka kancing pertamanya, dia tidak sadar kayaknya. Belahannya semakin dalam, saya jilatin lagi buah dadanya. Saya hisap-hisap sedikit dengan sepelan mungkin. Tangan kiri saya bergerak menyentuh payudaranya dari luar. Saya bikin bentuk lingkaran dengan jari telunjuk di atas payudaranya, dia mulai mengerang. Saya juga membuat lingkaran dengan lidah saya di atas payudaranya. Tangan saya meremas-remas pelan. Kurang puas hanya bermain di luar, saya masukkan tangan saya ke balik kemejanya.
“Eits…, nakal ya..”, Katanya sambil menarik tangan saya keluar dan dengan setengah terkejut mengancing kembali kancingnya yang terbuka. Dia lalu memandang saya, saya bisa merasa muka saya merah. Dia pegang tangan saya dan membisikkan lembut di telinga kiri saya, “Sekarang menurut lu, kita udah jalan belum?” yang langsung dilanjutkan dengan kecupan hangat di telinga saya yang membuat saya menggigil. Dia tersenyum dan mulai menonton film lagi. Saya merangkul dia sambil mencium kecil wajahnya. Tidak berapa lama film usai, dia saya antar pulang sampai depan pagar. Dia berbisik kepadaku.
“Lou, lu musti janji lu tidak bakalan onani ya?” saya mengangguk menyanggupi.
“Kenap…”.
Sebelum saya bisa selesai bertanya dia sudah nge-kiss saya di bibir lama banget dan kemudian menjentikkan jari telunjuknya ke penis saya yang sudah tegang sambil tersenyum.
Malam itu saya susah banget tidurnya, kebayang terus yang di bioskop dan di rumah dia. Oh,indahnya cinta.

TAMAT

Cerita Antara Kita 7:23 pm

Kenalkan namaku Andi aku tinggal di kota x di Prov x
Semua ini berawal dari 3 tahun yang lalu ketika itu aku masih sma.Hubungan ku dengan mamaku sangat baik dan bisa dikatakan cukup dekat.Tak jarang kami bermain seperti seorang kakak dan adik… atau teman sendiri.Papa sendiri jarang pulang ke rumah karena beliau kerja di sebuah perushaan asing yang jauh dari rumah.Memang semua itu bisa terjadi karena mamaku melahirkanku umur 18 tahun.Ya dia memilih kimpoi muda bersama papa yang kala itu sudah berkerja di perusahaan asing…Tak heran pasangan muda mudi ini diberi restu untuk menikah dan lahirlah aku.
Suatu malam sehabis pulang dari bimbingan belajar aku merasa sangat ngantuk.. jam didinding menunjuk ke angka 9.30.. cepat pula aku bergegas ke kamar..”ma aku pulang” kataku.. namun tak ku dengar balasan… tapi apa peduli ku mungkin dia sedang di toilet kataku… Tak lama kemudian ku dengar suara gaduh disebuah kamar…lalu aku menyadari bahwa kamar tersebut adalah kamar mamaku…Namun ini sudah malam aku pun malas.jadi kuputar tubuhku dan bergegas ke kamarku..
Kembali aku terbangun dari tidurku mendengar suara gaduh.Kali ini aku harus melihatnya… ketika ku intip di lubah pintu apa yang ku lihat tidak dapat dipercaya…mamaku sedang bermain dengan alat vibrator”hm…mm….mm…”kakinya menyeret nyeret kasur menahan sakitnya”…..mm…mm..”Terus Kupandangi namun apa yg kudengar selanjutnya tidak dapat ku percaya..”…ndi…mm…mm.. ndi terus…ah..”jantungku pun berdebar tidak menyangka apa yg kudengar.
Aku pun pergi ke kamar untuk menyembunyikan diriku dan tidur….
Jam 12 aku terbangun..sayup sayup ku dengar suara”ndi”…setelah mataku terbuka lebar ternyata itu mama”ada apa ma,malem2x begini”kulihat mama memakai daster yang sangat tipis,,,sampai sampai bh dan celana dalamnya dapat terlihat olehku..dan akupun masih bisa melihat celana dalamnya yang basah….”ndi … maafkan mama..”seketika itu pula mama mencium bibirku dan memainkan lidahnya”mmm…”kataku…lalu ku hentikan sebentar”ada apa ma?”aku bertanya selagi jantungku berdebar”ndi mama kesepian selama ini ayahmu tidak pernah ada di dekat mama,,,mama butuh,,seorang pria yg selalu ada di mama yaitu kamu ndi”aku tidak bisa berfikir apa apa”tapi ma..andi kan..”belum selesai aku menjawab mama kembali menciumku”semalam ini saja ndi…”kemudian setelah itu dia memelukku kurasakan hangatnya tubungnya …

Buah dadanya mengenai dadaku…”ma andi…kan…”aku ingin memastikan ada apa ini”ngga apa 2x ndi sekali ini saja…”kami pun melanjutkannya…dengan alami..kumasukan jari2xku ke daster mama untuk ku buka…”ah….”sahut mama… lalu kumasukan tangan lainnya ke dalam celana mama yang sudah basah…”ma maaf andi juga laki2x biasa andi ngga bisa tahan”kataku dengan perasaan bersalah”ndi ngga apa2x mama bisa memakluminya,mama juga membutuhkannya ayo teruskan”kumasukan jari ku ke dalam vagina mama yang hangat,, inilah tempat ku pernah dilahirkan tidak kusangka begtitu indah dan nikmatnya”ah…ah…”mama tak kuasa menahan gerakan tanganku di alat vitalnya.. lalu ku cium buah dadanya kemudian ku hisap putingnya”ndi ayo ndi … ah…. isep aja…mama masih pengen kamu menyusu ke mama kaya waktu dulu…ah…”kami pun melakukannya selama mungkin… kira2x setelah 15 menit berlalu gejolak gairah tidak bisa kami tahan…”ma andi pengen..”kataku”stt… sudah mama sudah tau kok.. ayo andi masukin aja..”lalu ketika ku keluarkan alat vitalku mama langsung memerah begitu juga dengan alat vitalnya…lalu ku masukan secara perlahan….”hmmm….m…mmm..”mama menahan rasa sakit”ah…ndi mama ngga nyangka ukuran nya… ah…mm… cukup buat… mmm.. mama…ah…”akhirnya aku sampai pada ujungnya,dan kamipun berhenti sejenak..”ndi selamat datang lagi di tubuh mama”aku rasakan ada tembok diujungnya”ayo andi gerak sama2x…perlahan ya ndi…”kata mama menuntunku”iya ma..”Kami duduku berhadapan mama diatas ku dan aku dibawahnya,buah dadanya tepat berada di depan mataku…,, sedikit ku goyangkan “ah…andi…ah…”desah mama”ma…ma..ah…”kata ku kami pun bergerak perlahan dengan perlahan…
secara perlahan aku meraba ke pantat mamaku..”hmmm..mmm..”mama yang masih menahan sakitnya gerakan ku..
akhirnya tanganku mencapai pantatmama lalu giliranku yang mengatur tempo dengan tanganku..”ahh…ah…”mama sudah tidak bisa menahan lagi teriakannya..
lalu ku percepat tempo gerakanya”ahh… andi…ah.. mama satik ndi..”kata mama padaku”mama andi juga maa..”balasku
“ayo ndi cium lagi mama ah…”lalu mama mencium ku lagi”ah…ah..”teriak mama seraya melepaskan ciumanku..lalu terlihat
cairan keluar dari kedua mulut kami… membasahi tubuh kami”ah..ah..”teriakan mama sangat keras begitujuga denganku”maa…maa…..”…
tangan mamapun merangkul ku dan memegang erat tubuhku”ndi suka ngga…ah…dengan mama..”tanya mama”iya mahandi suka…”balasku lagi
lalu mama menyuruhku untuk pindah”ndi coba sekarang angkat mama,,,ah…tapi jangan andi lepas ya..ah..”tanpa basa basi lagi aku pun mengangkat tubuh mama yang besar dengan
sekuat tenagaku,, dan aku pun berdiri dengan menahan mama yang masih tetap menyatu dengan ku”ahh.. sekarang coba andi duduk di ruang tamu..mmm..”lalu aku pun berjalan dengan tetap
menggedong mamaku yang tetap menempel padaku,,aku melangkah dengan hati2x sedikit demi sedikit…buah dadanya semakin rapat ke arahku..
dan mama masih tetap menggerakan tubuhnya…”ah..ah..”lalu akupun berhasil mencapai ruang tengah..”di kursi yang mana ma?”diriku sudah tidak kuat lagi menahan berat badan mama
“yang itu ndi yang kecil..jangan di sofa..ah..ah..andi duduk di sana ya ndi..ahh..”mama memilih bangku kecil yang hanya muat untuk satu orang dan aku pun duduk disana “ahh…ah…”teriakan mama semakin keras mungkin sudah hampir mencapai orgasmenya”maa.. andi udah mau keluar maa..”
“ndi mama juga ah…”lalu kurasakan aliran yang menjalar ke seluruh tubuhku”maaa andi mau keluar maa..ah..”sahutku”ndi ayo cpet keluarin ndi.. mama juga udah mau ah..”seketika itu aku berusaha untuk menarik mama keluar
tak disangka bangku yang kami pakai bergoyang dan mengakibatkan kami hilang keseimbangan”ah… ayo ndi cpet..ah.. andi.. andi..”kami pun jatuh ke karpet empuk,,, dengan posisi mamaku dibawah dan aku diatasnya”aahh…ah..”kataku”hmmm andi ndii..”akat mamaku
ketika jatuh penisku menusuk dalam ke bagian tubuh mama… dan kusadari bahwa itu adalah bagian dari rahim mama,,, “ahh…………ahhh….”aku pun mengeluarkan bibit bibit bayi ku di dalam rahim mama yang sangat dalam”ahh… andii… apa yang kamu lakukan ndii ah..”
seketika itu pula mama mengeluarkan orgasmenya,,, telur2x mama keluar dengan banyaknya tiada henti begitu pula dengan sperma ku…”ahhh….ah….”aku terus mengeluarkan cairan hormonku kedalam mama begitu juga mama”ahh……”
dan kami pun berhenti berteriakk.. lalu kusadari bahwa penisku berhenti orgasme setelah 1 menit kemudian “hah hah hah”desahan nafasku”hmmm..”dan mama memejamkan mata,, (posisi kami masih menyatu)
“ma maaf andi tadi hilang keseimbangan ma…”kataku dengan perasaan bersalah”ngga apa apa ndi..”balas mama yg masih terlihat cape (tapi ma tadi andi ngeluarinnya di dalam.. andi takut bersalah ma.. andi takut..”kataku
“andi ngga perlu takut kok..”kata mama”nanti kalo mama hamil apa kata orang,, tadi andi ngeluarinnya di rahim mama”kataku kembali”ngga apa2x ndi kalo mama hamil mama seneng… sebenernya mama pengen punya anak lagi ndi.. tapi dair siapa
papa jarang pulang,, mama cuma bisa berharap ke kamu ndi”aku pun terdiam”jadi andi mau bantu mama hamilkan??”tanya mama”iya andi coba ma..”

setelah itu kami pun melakukannya dengan sering sehari sampai 4 kali bahkan lebih… mama tidak memakai baju didalam rumah agar aku dapat melakukannya kapan saja… kadang ketika mama sedang masak aku lakukan,, ketika sedang makan pun tak jarang posisi kami menyatu..
ketika mandi kami selalu melakukannya di bathhun “ma ini yang keberapa ya ma?”….”ini yang ke 27 kali ndi ayo terus kasih bibit andi lagi ke mama..”….”iya ma…”…..
bahkan ketika tidur kami tetap dalam keadaan menyatu hingga ke sekokan harinya…dan ke esokan harinya cairan sudah mengering di masing2x alat vital kami…
beberapa minggu kemudian setelah kami melakukannya selama 1 bulan mengatakan padaku”ndi kamu akan jadi kakak dan ayah ndi…”setelah itu kami pun tersenyum satu sama lain

beberapa bulan kemudian perut mama semakin membesar dengan bayiku didalamnya.. dan papa belum tahu akan hal ini.. walaupun perut mama yang semakin besar karena kata dokter anaknya adalah kembar,tidak menyurutkan niat kami untuk tetap bercinta”ah…ayo ndi…ahh…”mama semakin bergairah dengan 2 bayiku didalam
perutnya “maa mama kelihatanya semakin bergairah sejak mama hamil ma? ah….”tanyaku”iya ndi mama semakin bergairah..sejak mama mengandung bayi andi…ahh..” tidak hanya itu buah dadanya pun ikut membesar karena susunya mulai terisi..”ma boleh andi nyusu ma?”aku memintanya karena tidak tahan melihat
puting yang penuh dengan susu bergoyang kesana kemari…”ahh.. hmm.. iya … ndii.. ah,.,boleh”aku pun menghisap manisnya susumama,, sambil memegang perut mama yang besar,bulu2x mamapun mengeluarkan cairan,, seperti diketiaknya lalu kujilati ketiaknya”hmmm… ah…”tahan mama dengan gairah yang amat sangat
“ndi mama mau keluar ndi…”teriak mama”ma andi juga ma… andi udah ngga tahan…ah…”lalu kami pun mengeluarkan cairan reproduksi kami bersamaan.. meskipun hamil mama tetap selalu bergairah…

syukurlah beberapa bulan kemudian mama melahirkan bayi sepasang bayi kembar yang sehat…”ndi mama pengen punya anak lagi ndi…”kata mama setelah melihatku menggendong bayi..

setelah itu papa mengetahui hubungan kami dan memutuskan untuk pergi… setelah itu aku dan mama hidup berdua kami tetap melakukan hubungan intim… mamaku selalu terus menginginkan anak…

selama bertahun2x kami pun melakukan hal tersebut dan memiliki belasan anak… dan mama selalu bahagia

Cerita Antara Kita 6:59 pm

Sinopsis: Pergaulan pabrik dalam hal seks kabarnya lebih berani daripada anak gaul di perkotaan. Di antara para karyawati, ada satu gadis manis yang menjadi primadona di pabrik itu. Sebagai atasan, Sugala Tjahyadi tidak menemui hambatan dalam melakukan pendekatan. Dengan obat bius, Linda berhasil diboyong ke Cottage.

Aku lebih senang mengangkat pengalaman pribadiku yang mungkin sebagian orang menganggapnya dunia pinggiran, karena tidak ada bahasa asing (biar kelihatan exclusive dan Bonafide), tidak ada kata atau kalimat yang menyulitkan yang bikin orang buka kamus, karena di lingkungan aku kerja banyak sekali mpok-mpok, mbak-mbak, mas-mas, yang pendidikannya pas-pasan, hanya sekedar bisa baca dan menghitung gaji setiap hari Sabtu. Nah yang ini perlu sekali diketahui oleh seluruh pembaca supaya wawasan tambah luas, dan rasa sosialnya semakin bertambah.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pergaulan pabrik dalam hal seks lebih berani daripada ‘anak gaul’ di perkotaan. Aku sebagai pengawas kadang-kadang ingin juga menikmati keringat anak buahku yang tidak kenal parfum. Hanya saja aku kuatir tidak dapat bertindak adil kepada seluruh karyawan/ti, kalau saja perhatian dan penilaianku bukan berdasarkan pekerjaan malah berdasarkan bisa atau tidaknya ‘dipakai’. Lagian aku tidak mau dimanfaatkan oleh anak buahku hanya karena mencicipi nikmat sesaat. Jadi aku hanya dapat melihat pergaulan anak buahku yang rata-rata berani. Di depan umum saja seenaknya main tepuk pantat karyawati yang bahenol, bagaimana kalau di tempat tersembunyi? Entah, sudah beberapa pasang anak buahku yang menikah karena ‘kecelakaan’, dan entah sudah berapa pasang yang disidang oleh security karena tertangkap ‘mojok’.

Tapi dari sekian ratus karyawati ada seorang yang menjadi primadona, namanya sebut saja Linda. Belum lama jadi karyawati, pernah berkerja sebagai kasir di NAGA swalayan, pendidikannya termasuk lumayan untuk ukuran buruh yaitu SMEA, wajahnya sepintas mirip Iis Dahlia penyanyi dangdut kenamaan (Kenal nggak..?). Pokoknya cantik, hidungnya mancung, bibirnya sensual dan berkumis halus. Alis matanya tebal rapih tanpa cukuran, rambutnya hitam sebahu, kulitnya putih bersih, dadanya perkiraanku 36B. Cuma sayangnya pantatnya kurang bahenol, meskipun pinggangnya ramping, tapi justru berdasarkan pengalamanku pantat yang model begini yang dapat memberikan kepuasan maksimal dalam persetubuhan. Biasanya yang pantatnya bahenol cuma enak dipandang tapi kurang sip untuk dinikmati.

Linda tidak sombong dan mudah bergaul dengan siapa saja, murah senyum, dan kelihatannya ‘jinak’. Gaya bicaranya seperti menggoda. Aku sendiri setelah berpikir panjang akhirnya mengambil keputusan untuk mendekatinya. Pendekatan pertama waktu jam istirahat. Kebetulan dia sedang makan di kantin, dan hanya ada beberapa orang saja yang makan di situ (mungkin harganya mahal, sehingga sebagian besar karyawan/ti makannya di luar pabrik).

“Mari makan, Pak..!” Linda langsung berbasa-basi ketika aku datang.
“Terima kasih..,” aku menjawab tawarannya dan langsung memesan makanan dan minuman.
Kami terlibat dalam obrolan yang mengasyikan sampai tak terasa jam istirahat berakhir. Aku membayarkan semua makanan termasuk teman-teman Linda (yang begini aku sudah biasa, jadi teman-teman Linda tak curiga sedikitpun bahwa aku ada maksud tertentu).

Ternyata makan siang itu adalah awal dari segalanya. Aku jadi sering ’sengaja’ makan siang di kantin supaya dapat memandang wajahnya yang cantik. Dan pada pertemuan yang kesekian kalinya aku mencoba mengajaknya makan di luar. Ternyata dia ok saja, bahkan waktu aku tawarkan untuk menjemput di rumahnya, dia malah tidak mau, dan minta dijemput di tempat yang dia tentukan. Wah, aku sih tambah senang jadi tidak ‘terikat’.

Sore itu sepulang jam kerja, aku menemuinya di tempat yang telah dijanjikan. Ternyata dia sudah ada di sana. Penampilannya kali ini jauh berbeda dengan penampilannya saat kerja. Jeans dan kaos ketat yang dipakainya membuat jakunku naik-turun. Bagaimana tidak? Buah dadanya yang memang besar seperti mau loncat dari dadanya.

Sepanjang perjalanan aku tak dapat berkonsentrasi menyetir. Pikiranku dipenuhi dengan ‘permainan’ seks yang akan kami lakukan, serta kenikmatan yang sebentar lagi kurasakan. Tapi aku juga agak takut bila dia menolak. Akhirnya aku belokkan mobilku ke arah rumah makan Kalasan untuk pendekatan lebih dalam. Kami mengobrol tak tentu arah bagai sepasang kekasih. Juga tentang ekonomi keluarganya yang morat-marit sejak ditinggal pergi ayahnya. Bahkan selesai makan dan aku membayar Rp 80.000,- dia agak terkejut.

“Wah, sayang banget, Pak..! Makan begitu saja 80.000…”
“Memangnya kenapa..?” aku balik bertanya.
“Ah, nggak sih. Saya jadi ingat adik saya yang belum bayar SPP 3 bulan.”
Aku baru mengerti bahwa meskipun dia tidak kentara seperti orang susah, tapi sesungguhnya dia amat tersiksa dengan jerat kemiskinan yang dialaminya. Aku jadi tergugah mendengarnya.

“Memang berapa SPP adik kamu sebulan..?”
“40.000″ jawabnya pendek.
Aku keluarkan dompetku dan memberikan Rp 200.000,-
“Nih, untuk bayar SPP adik kamu.”
“Nggak usah, Pak..!” dia bersikeras menolak.
Aku sedikit memaksanya dan akhirnya dia menerima.
“Tapi, Bapak Ikhlas dan tanpa pamrih..?”
“Iya..,” meskipun ada sedikit pamrih, kan tidak mungkin aku ungkapkan, batinku dalam hati.

Setelah makan, Aku mengajaknya ke pantai dan duduk berdua ditemani riak gelombang dan semilir angin yang menerpa wajah kami.
“Lin, kalau sedang berdua begini, kamu jangan panggil ‘Bapak’. Panggil aja ‘Kakak’, ok..?”
“Eh, ya Pak. Eh.. ya Kak.”
Aku melingkari tanganku di pundaknya, dia tampak sedikit grogi.
“Jangan Kak, Linda malu..,” tangannya berusaha menepis tanganku.
“Tidak mengapa, kan nggak ada orang.”
“Tidak! Linda tidak mau.”
Aku mengalah dan hanya mengobrol saja.

“Memangnya kamu belum pernah pacaran..?” tanyaku.
“Sudah, tapi belum pernah sedikitpun Linda bersentuhan dengan pacar Linda.”
Aku menangguk mengerti. Berarti gadis ini masih suci, otak iblisku langsung berfikir keras.
“Sebentar ya, Lin. Kakak mau cari minuman dulu.”
Aku beranjak, dan membeli 2 kaleng sprite di counter-counter yang banyak bertebaran di pinggir pantai. Kukeluarkan serbuk perangsang yang kusiapkan dari rumah, dan kutaburkan di minumannya.

“Lin, ini minumannya..,” aku menawarkan.
Tanpa curiga sedikitpun Linda langsung meminumnya. Aku tersenyum dalam hati. Tak lama reaksinya mulai kelihatan. Aku lihat tubuhnya berkeringat.
“Kak, kepala Linda agak pusing. Pulang yuk..!”
“Baru jam 07:00, ntar aja yah..?”
Linda semakin banyak meminum sprite yang sudah kutaburkan serbuk, dan mungkin akibat terlalu banyak Linda tak sadarkan diri. Aku sedikit panik. Aku segera memapahnya ke Cottage terdekat. Aku diam sejenak memikirkan apa yang harus kulakukan.

Mumpung dia tak sadar, aku segera melepaskan kaos ketat yang dipakainya. Tampak branya sudah tak cukup menampung buah dadanya yang besar dan putih. Bulu ketiaknya sangat lebat dan hitam, kontras dengan kulitnya yang putih. Nafasku semakin memburu terbawa nafsu. Kulumat bibirnya yang sensual, kuciumi lehernya, kupingnya dan seluruh tubuhnya hingga Linda bugil tanpa sehelai benang pun melekat pada tubuhnya. Sambil melepas pakaianku sendiri, aku memandangi keindahan tubuhnya, terutama buah dadanya dan kemaluannya yang amat rimbun.

Setelah sama-sama bugil, aku kembali mencumbunya, meskipun dia belum siuman dan seperti orang mati tapi aku tak perduli. Kugunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Putingnya yang kemerahan kulumat dengan rakusnya, kuhisap dalam-dalam. Lidahku menari-nari menelusuri keindahan lekuk-lekuk tubuhnya. Aroma ketiaknya yang khas tanpa parfum pun tak luput dari ciumanku, sampai pada lipatan pahanya yang penuh dengan hutan rimbun. Lidahku menyibak rerumputannya, dan tampak segaris kemaluannya yang kelihatannya masih rapat. Lidahku terus mencar-cari klitorisnya.

Setelah ketemu, lidahku mengitarinya dan kadang menghisap lembut, sampai aku sendiri sudah tak tahan dan dengan kuat kuhisap klitorisnya. Aku terkejut. Ternyata rambutku tiba-tiba ada yang meremas kuat.
“Ahhh.., terus Kak..!” Linda ternyata sudah siuman dan mulai merasa keenakan.
Aku semakin semangat. Jari-jariku langsung bergerak ke arah buah dadanya dan kupilin-pilin kedua putingnya, sementara lidahku semakin asyik mendorong untuk masuk ke liang kemaluannya. Tapi sungguh sulit sekali rasanya. Kemaluannya sama sekali tidak ada lubang.

Linda semakin merintih tidak karuan. Secara reflek tangannya mencari pegangan. Kuarahkan senjataku yang sudah meregang kaku ke jarinya, dan Linda dengan kuatnya menarik senjataku. Aku merasakan kenikmatan. Percumbuan kami kian panas. Lumatan bibirku di bibirnya disambut dengan rakusnya. Sepertinya Linda benar-benar terpengaruh kuat oleh obat yang kuberikan. Bahkan dia sudah mengangkangkan pahanya dan membimbing senjataku untuk memasuki lembahnya, dan menarik pinggulku agar senjataku terdorong. Tapi aku mencoba menahannya karena aku yakin Linda masih dalam pengaruh obat. Aku menarik nafas panjang dan menenangkan debar jantungku.

Linda terus memaksa… Aku semakin bimbang. Bagaimanapun juga aku masih punya nurani. Aku tak mau merusak kegadisan orang, apalagi sampai merusak masa depannya. Aku kuatkan hati dan bangkit dari lingkaran nafsu yang telah membelenggu kami berdua. Aku ambil air segayung dan menyiram kepalaku dan kepala Linda. Nafsuku yang sudah memuncak langsung drop, dan Linda sendiri kelihatannya mulai sadar, dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Oh, apa yang terjadi..?” Linda panik, bangkit dan memukul dadaku. Aku mencoba bersabar.
“Kakak jahat..” Linda semakin kencang memukulku, aku merangkul tubuhnya.
“Sabar sayang, semua belum terjadi.”
“Tapi tubuh Linda sudah kotor. Kakak kejam menjebak Linda.”
“Siapa yang menjebak Linda?”

Setelah suasana agak reda, aku baru menjelaskan kepadanya (tentunya berbohong) bahwa semua yang terjadi adalah kehendak dia sendiri yang memancing gairahku. Bahkan aku malah yang menolaknya, dan memang Linda dalam keadaan setengah sadar dan seperti bermimpi juga mengiyakan bahwa aku yang menolaknya.

Sejak kejadian itu Linda semakin akrab denganku. Meskipun akhirnya dia tahu bahwa aku sudah mempunyai pacar yang sudah seperti istri, tapi dia tidak dapat melupakanku karena aku yang pertama menjamah tubuhnya.

Ternyata aku orangnya gampang jatuh cinta, tapi gampang juga bosan. Hubungan yang semakin erat dengan Linda dan hanya sebatas (maksimal) oral, membuatku jenuh, sementara untuk bertindak lebih dari oral aku tidak berani karena terbentur virginitas yang kuanggap masih perlu dijunjung meskipun hanya sekedar untuk membuktikan kepada suaminya bahwa dia dapat menjaga diri.

Sebenarnya aku lebih suka dengan Linda dari pada pacarku yang sebentar lagi akan married denganku, tapi kan tidak mungkin aku memalingkan seluruh hidupku kepada Linda, sedangkan pacarku sudah jalan hampir 5 tahun denganku. Kesetiaan serta pengorbanannya sudah benar-benar teruji selama kurun waktu tersebut dan hubungan kami sudah seperti suami istri. Untunglah Linda pun mengerti dan menyadari konsep pemikiranku, hingga secara perlahan Linda mulai menjauh dan mendapatkan penggantiku. Meskipun hatiku sempat panas juga melihat dia mesra dengan lelaki lain tapi aku harus iklas (Selamat berbahagia Linda).

Kembali aku menjalani rutinitas kehidupanku sehari-hari yang sangat menjemukan, hingga akhirnya aku menemukan sesuatu yang baru dan benar-benar baru dalam kehidupanku. Waktu itu aku sedang santai membaca iklan di harian Poskota untuk menukar mobilku. Tak sengaja aku melihat iklan panti pijat dan dari sekian puluh iklan, ada beberapa yang menyediakan pijat khusus untuk wanita dengan tenaga pria. Aku berpikir pasti ini iklan gigolo terselubung. Aku langsung mendapatkan ide untuk mengiklankan diri. Uang dapat, seks dapat. Wah, pasti asyik. Hari itu juga aku langsung pasang iklan dengan nomor pager dan HP untuk terbit besok.

Semalaman aku tak dapat tidur memikirkan pengalaman baru apa yang akan kualami besok, hingga tanpa sadar aku jatuh tertidur.
“Kring…” Suara weker di kamarku mengagetkanku.
Buru-buru aku mematikan dering weker yang selalu setia mengingatkanku untuk disiplin dalam kerja. Aku duduk sejenak untuk menyesuaikan tubuh dan jiwaku ke alam pagi yang cerah. Aku teringat bahwa hari ini aku pasang iklan. Cepat-cepat kuaktifkan HP dan pagerku. Sekian menit kutunggu tak ada yang masuk.
“Ah, mungkin masih terlalu pagi,” pikirku.
Memang sih saat ini baru pukul 06:00 pagi. Tidak mungkin ada orang yang butuh di ‘pijat’. Aku tersenyum sendiri dan langsung menuju kamar mandi untuk siap-siap ke kantor.

Waktu yang berjalan di kantor terasa lama sekali. Mungkin akibat aku terlalu mengharap order masuk. Sekitar pukul 10:00, melodi JIKA-nya Melly berkumandang di HP-ku. Aku lihat sepintas nomor si penelpon tidak kukenal.
“Hallo..,” sapaku seramah mungkin.
“La..! Gimana sih pesanan gua belum dikirim.”
Aku kaget setengah mati. Ternyata yang ngebel adalah Pak Daniel teman bisnisku yang paling akrab dan menanyakan sikat gigi hotel pesanannya.

“Lho, Pak Daniel dimana..?”
“Gua lagi di rumah saudara nih. Gimana, udah ada kabar belum..?”
“Eh ya, besok kayanya baru bisa kirim. Itupun sore..!” jawabku.
“Yah wis, gua tunggu yah. Jangan sampai gagal lagi..!”
“Iya! Beres boss!”
“Iya wis, thank’s yah..!”

Aku jadi geli sendiri. Aku pikir ada ‘order’, tidak tahunya order juga sih, tapi bukan yang lagi kutunggu. Tak lama gantian pagerku bergetar. Aku segera membaca pesan yang tertera.”Hubungi saya di 546xxxx. Saya tertarik dengan Anda.” pengirimnya Ibu Ella.
Aku bersorak gembira dan tak buang waktu lagi, kuhubungi juga saat itu dari ruangan kantorku.

“Hallo..,” terdengar suara wanita di gagang telponku.
“Selamat siang. Bisa bicara dengan Ibu Ella..?”
“Dari mana yah..?”
“Dari Rudy, Bu..!” (Oh ya aku iklan pakai nama Rudy)
“Oh ya. Kamu masih kuliah atau kerja..?”
“Saya sudah kerja, Bu..!” jawabku sopan.
“Eh, jangan panggil saya Ibu. Panggil aja Tante, ok..?”
“Iya, Tante.”
“Kamu udah lama jadi pemijat..?”
“Baru ini kali, Tante..” jawabku jujur.
“Usia kamu berapa..?”
“26, Tante.”

Obrolan kami semakin ngalor ngidul, bahkan Tante Ella menanyakan size aku segala. Pokoknya semua data tentang aku dikorek habis-habisan. Dan sepertinya dia puas dengan data diriku. Bahkan dia mulai membuka data dirinya, bahwa dia adalah istri seorang pria kaya raya yang mempunyai banyak perusahaan. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu di apartemennya (sewa atau beli aku tidak tahu) di daerah Ancol, Jakarta utara.

Tepat jam 11:00 siang aku keluar kantor. Dengan alasan dinas luar aku memacu mobilku. Sampai di lobi apartemennya, aku mencari-cari Tante Ella yang katanya memakai jeans, dan kaos biru.Sampai mataku lelah memandang, aku belum dapat menemukan sosok yang kucari. Aku mulai putus asa. Satu jam sudah aku menunggu, namun baru saja aku beranjak dari bangku dan ingin pulang, pundakku ditepuk seseorang.

“Rudy, yah..?”
Aku berbalik, dan ternyata sosok yang kucari sudah di depan mata. Celana jeans dan kaos ketat biru. Tapi alamakkkk. Wajahnya sudah banyak keriput, kutaksir usianya 50-an. Kaos ketatnya banyak tonjolan-tonjolan lemak di pinggang dan perutnya, dan yang bikin aku shock orangnya pendek dan gemuk.
“Kenapa, nggak suka..?” suara Tante Ella menyadarkanku dari keterkejutanku.
“Ach, nggak. Tante cantik,” ujarku melawan kata batinku.

Tante Ella mengajakku minum di pinggir kolam renang yang tersedia di apartemen situ. Obrolan kami ngalor ngidul, sementara aku berusaha tidak membuatnya kecewa dengan segala kebohonganku.Akhirnya acara puncak pun tiba. Tante Ella menggiringku memasuki apartemennya yang luas. Aku masih bingung dan seperti orang bodoh, sementara Tante Ella sudah membuka seluruh pakaiannya hingga bugil, dan tengkurap di ranjang. Dengan tangan gemetar aku mulai melakukan pijatan-pijatan lembut di pundaknya. Tapi rupanya Tante Ella memang niatnya ‘main’ dari awalnya. Makanya baru 2 menit aku melakukan pijatan, tante Ella langsung mengerjai tubuhku. Kemeja dan celanaku sudah melayang ke lantai, dan sebagai wanita cukup umur Tante Ella paham sekali mana daerah sensitif lelaki.

Kini aku yang berbalik dipijatnya. Sapuan lidah Tante Ella yang basah di sekujur tubuhku membuatku lupa. Nafsuku yang tadinya drop perlahan mulai bangkit. Senjataku yang sudah tegang dilumatnya dan tanpa permisi lagi Tante Ella langsung menaiki tubuhku dan menduduki senjataku yang sudah mengacung.
“Sleeep..,” senjataku memasuki liang kewanitaan Tante Ella.
Lumayan seret. Kupejamkan mataku membayangkan bahwa yang berada di atasku adalah Nafa Urbach, sementara Tante Ella semakin ganas bergerak liar dan menggoyangkan pinggulnya sambil menjilati dadaku.

“Ufh..,” nikmatnya luar biasa.
Aku mencoba bertahan. Dan tak lebih dari 10 menit seluruh tubuh Tante Ella seperti bergetar dan mengejang melepaskan orgasmenya yang pertama.
“Accchh, Rud..,”
Tante Ella merebahkan tubuhnya di sampingku. Aku yang ingin segera menuntaskan hasratku memeluk tubuhnya. Namun nafsuku mendadak drop kembali saat kenyataan yang aku rasakan di tanganku tidaklah kencang dan kenyal, tapi lembek dan penuh lemak. Nafsuku drop. Senjataku secara perlahan mengecil kembali. Aku rebah di samping tubuh Tante Ella dan memandang langit-langit sambil merenungi yang baru saja terjadi.

“Tit…” pagerku yang berada di kantong celanaku yang berhamburan di lantai berbunyi sekali, pertanda ada pesan yang belum terbaca.
Aku segera melompat dari ranjang dan membaca pesan yang masuk.
“Saya tertarik dengan anda, harap hubungi saya di 424xxxx dari Yenny.”
“Kenapa, Rud..? Ada order lagi yah..?” rupanya Tante Ella sudah bangkit dari kelelahannya.
“Ah nggak, Tante. Kebetulan saja ada saudara saya yang lagi perlu dengan saya,” aku mencoba berbohong.
“Kenapa dia nggak hubungi HP kamu..?”

Aku agak gugup juga. Untunglah aku dapat menguasai keadaan.
“Mungkin nggak dapat signal, Tante.”
“Maaf Tante, saya mungkin nggak bisa lama-lama. Saya harus kembali ke kantor.”
Tanpa meminta persetujuannya aku segera mandi dan langsung merapihkan diri.

Selesai merapihkan diri, kulihat Tante Ella masih dalam keadaan bugil. Tampak sekali bentuk tubuhnya yang… apa lagi saat dia berjalan dan mengambil sesuatu di tasnya.
“Nih untuk kamu Rud..!” Tante Ella rupanya mengambil uang di Tasnya untukku.
“Nggak usah Tante…” aku mencoba menolak.
“Tidak apa-apa, Tante puas dengan permainan kamu, Rud.”
Tante Ella memaksa dan memasukkan uang tersebut di kantong celanaku. Setelah berbasa-basi akan menghubungi kembali dan mengucapkan terima kasih, aku segera pergi dan langsung menuju parkiran, “Bebas sudah aku,” pikirku.

Baru saja pantatku duduk di belakang setir, pagerku berbunyi kembali.
“Saya janda usia 35 tahun, bersih, putih dan sexy, harap hubungi saya di 08169xxxxx.”
Wah, ramai juga nih order, namun mengingat aku banyak kerjaan di kantor dan aku takut ketemu yang seperti Tante Ella, aku cuekin pesan itu sementara dan kembali ke kantor.Terus… (Kalau tidak salah waktu itu aku dapat 6 orang tante dan 4 di antaranya seperti Tante Ella, yang 2-nya agak bagus. Ada satu yang berdua dengan suaminya. Pokoknya benar-benar pengalaman baru. Kalau tidak percaya, silakan coba!)

TAMAT