Cerita Antara KitaSeptember 20, 2006 9:46 am

Dalam Pesawat Menuju Ke Australia

Perjalanan tali cinta antara aku dan Yonash ini sangat tidak kusangka sebelumnya, aku merasa bahwa hidup perkimpoianku kuanggap normal saja bahkan aku merasa ‘happy married’, namun malang dan untung dari perjalanan hidup manusia itu tak bisa kita perdiksi sebelumnya.

Pangil saja aku Liana, tubuhku ramping tinggi badan 161 cm dan dadaku penuh, pinggul dan pantatku bulat keras, kulitku bersih cenderung agak olive, domisiliku di kota di negara bagian New South Wales Australia. Sejak aku masih muda usia kota ini telah menjadi tempat tinggalku.

Kepergianku sementara dari kotaku ini adalah karena suamiku minta ditemani sementara, berhubung suamiku sedang menghadapi masalah mengenai businessnya di Indonesia, 18 bulan aku tinggal di Indonesia, hingga meletuslah ‘Reformasi’ dari mahasiswa dan tergulingnya rezim lama. Adanya ‘geger’ ini, anak-anakku di Aussie menangis menginginkan aku kembali ke Australia saja, mereka meminta aku untuk menemaninya lagi.

Seminggu kemudian aku berangkat kembali ke Australia, seperti biasa suamiku mengantarkan sampai bagian terdalam dari Airport Cengkareng atau dikenal dengan nama Airport Sukarno-Hatta, tak terjadi apa-apa diantara kami semuanya masih biasa, aku dekap suamiku dan kucium pipi dan bibirnya, tanda rasa kehilanganku melanda, akan ‘perpisahan’ yang mungkin akan relative lama ini. Tak lupa suamiku selalu mengingatkanku untuk mengurus anak-anak dengan baik dan jaga diri baik-baik, seperti biasa suami memesankan kepada istrinya, semuanya ini aku jawab dengan anggukan dan linangan airmataku yang tak tertahan.

Segera setelah pemberitahuan dari krew pesawat yang mempersilahkan para penumpang untuk naik kepesawat, suamiku melepas pelukannya dan mengecup kening dan bibirku yang terahir saat keberangkatan itu. Kugenggam tas tanganku dikiri dan satu tas kecil lagi isi oleh-oleh yang tidak terlalu berat sekali di tangan kananku, aku berjalan menapaki lorong kecil menuju ke pesawat.

Setelah mendapat petunjuk pramugari dimana aku harus duduk, aku menuju kenomor yang telah ditentukan, sisi kiri paling depan di bagian kelas ekonomi, di pinggir jendela. Aku berjalan lurus, sementara didepanku adalah orang yang agak gemuk, karena terhalang pandanganku aku berusaha menembus pandang lewat sela-sela badan sebelah kirinya, tepat didepan tempat duduk yang akan aku tuju orang lagi2 gemuk itu berhenti, akupun berhenti sambil menerobos pandanganku kearah bakal tempat dudukku.

Kali ini mataku tertegun beberapa detik, karena melihat orang laki-laki seumuranku sudah duduk ditempat duduk di sebelah tempat dudukku. Rupanya diapun memandangku dan beradulah pandangan kita berdua beberapa saat, sinar yang bening penuh gelombang setrum ber beban watt yang tinggi tembus ke jantung hatiku, aku terpaku sejenak sambil menunggu orang gemuk tersebut lewat.

Setelah orang yang gemuk itu berjalan lagi, kembali aku ganti berhenti ditempat orang gemuk tersebut berdiri sambil mengamati nomorku, tiba-tiba seorang di depanku, dalam keadaan setengah duduk, menanyakan akan nomor tempat dudukku, dia menawarkan mengangkat tas oleh-olehku untuk dinaikkan dikompartmen atas, segera aku ucap kan terima kasih padanya.

Aku berbalik arah dan menuju ke tempat dudukku, langsung aku duduk.
“Permisi saya duduk disebelah anda”
Kemudian aku duduk ditempatku dengan menghempaskan tas tanganku, dilantai depan kakiku, sambil merilekskan badanku yang agak capek, letih dan sedikit tegang. Secepat itu juga aku mendengar sapaan orang sebelahku, dengan ramahnya.
“Waah kayak capek banget ya Dik, namaku Yonash”, seraya mengulurkan tangannya kepadaku, langsung aku jawab sekenaku.
“Iya nih, perjalanan yang panjang dan macet, bikin lelah otot dan tulangku, namaku Liana” dan kamipun berjabatan tangan.

Sewaktu aku berjabatan tangan dengannya, kembali darahku berdesir, terasa aliran aneh yang melanda tubuhku, dan sempat dadaku berdetup kencang, walau aku tahan dan aku simpan tidak aku perlihatkan kepadanya. Setelah itu kamipun terlibat dalam obrolan yang ringan-ringan, Yonash mengatakan bahwa kepergiannya keAustralia untuk training selama 6 bulan, sebelum meneruskan kenegara ‘Terbitnya Matahari’, untuk belajar mengambil Phdnya, profesinya adalah sebagai Guru Besar disalah satu Universitas dikota jawa barat. Aku pun menceritakan akan profesiku dan tujuanku kembali keAustralia untuk menemani anak-anakku dan mencari kerja kembali dikotaku.

Perjalanan dari Jakarta keDenpasar hanya terlibat percakapan normal dan santai, kami menikmati hidangan ringan dan ‘Orange Juice’, teh atau kopi, kacang tanah dibalut tepung dan madu sebagai jodoh nya. Selepas dari Denpasar, Bali, dalam penerbangan selanjutnya kamipun menjadi lebih rileks dan hangat dalam bercanda, kami saling menceritakan pengalaman, sendau gurau istrinya dan suamiku bila kita akan berpisahan sementara, juga segala pengalaman indah dan jenaka keluarga kita masing-masing. Dari situ juga aku temukan dia sudah berputri yang masih relative kecil di banding anak-anakku, karena memang aku menikah diumur yang dini untuk zaman sekarang, sambil bekerja dan kuliah.

Sedari detik perkenalan itu, getaran kecil-kecil bergerak dari dadaku sampai keseluruh tubuhku, satu atau dua kali dalam percakapan kami, aku rasakan kegugupan bila mata kami saling beradu, karena tak tahan aku menentang sinar matanya yang aku anggap ada suatu daya tarik yang melumpuhkan tenagaku, terasa aku menderita karena meredam rasa aneh kali ini.

Waktu semakin larut, tiba saatnya kami mendapat hidangan makan malam, Yonash mendapat bagiannya dulu, namun ngak tahu mengapa siPramugari itu tidak memberikan bagianku langsung padaku, melainkan diberikan melalui Yonash, dan Yonashpun meletakkan dimeja kecilku, sambil membelai lengan kananku lembut. Cukup kaget dan berdetup keras dadaku, berdesir darahku menerima perlakuan yang begitu, sambil aku ucapkan terima kasih aku sambut nampan makanan itu, kupegang kugeser sedikit untuk membetulkan letaknya di atas meja kecil tersebut.

Masih dalam keadaan bingung atas perlakuan Yonash tersebut, dia mengucapkan ’selamat makan’ padaku dan akupun mengucapkan hal yang sama kepadanya, namun tiba-tiba sewaktu dia menyenduk makanannya, bukannya Yonash memasukkan kedalam mulutnya, namun sebaliknya disodorkannya sendok penuh makanan tersebut ke mulutku.

Sempat beberapa saat aku bingung tidak keruan dan aku pandangi wajah dan matanya untuk memastikan perbuatannya kepadaku, dia memberikan senyum khasnya sambil mengangguk mengiyakan perbuatannya. Sekali lagi aku terpukau dalam situasi ini, akhirnya secara otomatis aku membuka mulutku untuk mempersilahkan suapan makanan Yonash masuk kemulutku, sambil tersipu-sipu aku mengunyahnya dan menelan makanan tersebut. Dari mulai itu dia kembali memberikan suapan beberapa kali dan memberanikan diri membuka mulutnya untuk memberikan kesempatan aku berbuat hal sama padanya. Yonash terlihat sangat bahagia ketika mendapat suapan demi suapan dari tanganku, hal ini membuat aku agak canggung dan tegang sementara.

Selesai makan malam dan mulailah kita mengobrol lagi mengenai hobby kami, ternyata kami mempunyai beberapa kesamaan hobby, salah satunya ialah membaca buku, setelah usai makan tersebut dia lebih banyak bercanda ringan dan berdendang, namun tangan kirinya tak henti-henti nya mengapit tangan kananku diusap-usap sepuasnya dengan tangan kanannya. Sewaktu film ditayangkan, lampu mulai dipadamkan, Yonash menelusupkan tanggan kirinya kebelakang pundakku dan memelukku.
“Lipat saja sandaran tangan tengah ini, biar Liana lebih rileks”, katanya.

Tanpa kusadari, dengan gemuruh detup jantungku serta didihan darahku, aku turuti permintaannya. Terasa enak sekali dipeluknya, tercium bau parfum ‘aftershave’ di wajahnya, yang lain baunya dari kepunyaan suamiku, namun enak juga, lembut aku menyukainya, tak sadar aku menyandar didadanya sebelah kirinya dengan rasa damai, sedang dia masih berdendang kecil melantunkan lagu-lagu kesukaannya, yang rupanya akupun menyukainya.

Tiba-tiba tangan kanan Yonash meraih daguku dan menariknya kemukanya, kemudian Yonash merundukan wajahnya, secara tak sadar, akupun memejamkan mataku, dalam pejaman mataku terasa kecupan bibir hangatnya mendarat dikening kemudian pipiku, tangan kanan Yonash membelai pipiku dengan lembut, kemudian dia letakkan lagi kepalaku didada kirinya lagi.

Selang lima menit lagi, tangannya meraih daguku lagi dan menariknya kembali, kali ini kecupannya mendarat dibibirku dengan lembut, terasa kehangatan dan kelembutan bibirnya menggetarkan jiwaku sesaat diiringi deburan darahku serta detupan jantungku semakin mengencang, walaupun begitu aku masih tetap menahannya dengan sempurna. Sambil meneruskan belaiannya Yonash berbisik kembali padaku.
“Liana mau masih nonton film atau mau tidur?”
“Jika ingin tidur, tidur sajalah di pahaku sini biar Liana lebih nyaman”, katanya.

Bersamaan dengan itu ditariknya lagi daguku dengan lembut dan ditempelkannya lagi bibir hangat Yonash pada bibirku dengan lebih erat dan memasukan lidahnya dalam mulutku, kali ini kusambut lidahnya yang menari dalam rongga mulutku lalu kusedotnya lidah serta liurnya kami berpangutan dengan hangat dan mesranya. Lilitan lidah kami seperti tak ingin terpisahkan satu dari yang lain, seiring detup dada kami berdua yang semakin kencang, desiran darah kamipun melaju hangat, mengalahkan semburan udara dari ‘Air Conditioning’ didalam kabin pesawat tersebut. Adapun tangan Yonash tak henti mengusap-usap lengan serta meremas-remas lenganku dengan lembut.
Dia berkata, “Liana, thanks ya kau menerima sayangku”
Aku menjawab dengan anggukan lembut pula, tanpa keluar kata-kata dari mulutku yang terkunci karena rasa bahagia.

Sambil merebahkan tubuhku dipangkuannya menghadap ke atas, kedua kakiku aku tekuk ke atas supaya muat seluruh tubuhku disepanjang dua kursi pesawat tersebut. Yonash meneruskan lagi dendang lagunya serasa membuai jiwaku, rambutku yang panjang sebahu tak luput juga dari sasaran belaian tangannya kanannya, sedang tangan kirinya mengusap-usap paha luarku, seolah diriku adalah anaknya sulung yang sedang ditidurkan. Sesekali dirundukkannya kepalanya lalu dikecupnya keningku, hidung dan pipiku, bibirnya terus menjalar dan bermuara di mulutku, hingga kita tertautan, berpangutan kuat.

Menjelang tengah malam keadaan kami semakin terbalut bara asmara yang menggebu, birahi kami telah menutup sebagian perasaan2 kami yang lain. Dengan kecupan-kecupannya yang ‘intense’, tangannya diselusupkan kedalam jumper yang kukenakan, Yonash meraba-raba dadaku dari luar bajuku namun dibawah jumperku, kemudian dia lebih berani lagi menelusup masuk kedalam blus atasku meraba Bra yang kukenakan.

Amboi.., desiran darahku semakin kencang seolah badanku dialiri setrum listrik kecil-kecil yang semakin menguat menjadi beribu-ribu watt merata di seluruh tubuhku, bulu kudukku berdiri menerima kenikmatan yang tak kusangka sangka ini, rasanya tiada pernah aku merasakan perasaan ini terhadap suamiku sendiri.

Saat aku merasakan perasaan indah, nikmat deburan darahku sendiri yang mendera badan dan jiwaku.
Yonash berkata, “Liana, tidurlah aku akan menjagamu, percayalah aku melindungimu”
Sambil tangan kanannya masuk satu lapis lagi kedalam bluse yang aku kenakan Yonash mengelus elus sembulan buah dadaku yang mencuat separoh, karena aku mengenakan ‘half cup bra style’.

Karena tak tahan menerima rangsangan setrum yang kuat itu, aku secara otomatis mendongkakkan kepala dan badanku keatas aku mencari bibir Yonash, aku sambar bibirnya hingga kembali kami berpangutan dalam selama kira 3 menit, tangan kirinya mengelus-elus bagian vitalku dari luar celana panjangku, adapun didalamnya terasa lelehan ‘magma’ dari memekku yang tak tertahankan lagi.

Pesawat membubung terbang tinggi, dari ketinggian itu kadang kami menerpa udara yang kosong.
Yonash mengatakan, “Di ketinggian itu udara diluar adalah 15 derajat Celcius atau lebih kecil lagi, tak ada kehidupan di luar pesawat ini”
Walau aku tak begitu mengerti apa yang dia ucapkan namun aku iyakan tanda mau mengerti apa yang menjadi statementnya.

Ketika pesawat terbang berjalan bergeronjalan, diberitahukan oleh krew pesawat bahwa kita diharuskan memakai sabuk pengaman, Yonash menyelimuti tubuh dan kakiku yang separuh aku tekuk ke atas agak mengangkang sedikit, setelah itu dia selusupkan tangan kirinya didalam celana pajangku yang tanpa retsleting, terbuat dari ‘elastine cotton’, mulailah dia membelai gundukan kenikmatanku, dalam hitungan menit basahlah sudah celana dalamku, karena getaran birahi yang melanda tubuhku, dimenit keempat aku miringkan tubuhku menghadap badan bawah Yonash, spontan aku elus dari luar kemaluan Yonash yang mengeras, menggunakan bibirku, karena tegangnya kemaluanya,Yonash menyelimuti badan bagian bawah, lalu Yonash membuka retsletingnya perlahan lahan, maka aku keluarkan kemaluan Yonash yang sudah mengeras mendongkak kedepan dari celananya. Ukurannya kemaluan memang hanya normal saja tak terlalu besar, jadi tidak terlalu merepotkan suasana kami.

Dengan situasi yang baru ini, aku menjadi lebih leluasa membelai kemaluan Yonash dengan bibir hangatku, aku pulas dan aku sapu kemaluan Yonash yang tegang dengan lidahku. Hati-hati sekali kami melakukannya kami hanya bisa mendesah dengan sangat pelan dalam kegelapan kabin pesawat, nyaris kita tahan suara desahan kenikmatan kami. Dengan penuh waspada, tangan kanan Yonash memegang selimutnya, menjaga bila ada orang lewat, atau salah satu crew lewat, dia akan masih sempat menarik selimutnya menutupi wajahku dan kemaluannya yang sedang aku sepong.

Pelan tapi pasti, jari-jari kiri Yonash memainkan klitorisku keatas dan kebawah, terkadang Yonash memasukan jarinya kepermukaan relung kenikmatanku, atau masuk sekalian kedalamnya kemudian menari disekitar G-spotku, hingga aku bisa mencapai orgasme dan mengejang, maka kujepit tangan Yonash dengan otot vaginaku, terasa denyutan berkali-kali sehingga keluarlah cairan nikmatku di jari tangannya, disertai dengan erangan, desahan lembut, kami jaga agar orang-orang disekitar tak terpengaruh dengan kegiatan dan suara kami.

Adapun Yonash sendiri juga mencapai puncaknya karena kocokan mulutku dan elusan tanganku pada kemaluannya, hal ini terjadi tak lama setelah aku mencapai orgasmeku, dia tetap dalam posisi duduk agak memerosotkan badannya ke bawah sedikit sambil tetap memangku kepalaku yang menghadap dikemaluannya, dia mengejang sambil mengeluarkan spermanya dimulutku, kutelan semua spermanya tanpa sisa dan kujilati sisanya yang tercecer disekitar kemaluannya sampai bersih dan licin kembali.

Dalam keadaan ini kami tak berpikir khawatir lagi akan keadaan pesawat yang berjalan bergeronjalan, malah kadang terasa nikmat sekali sewaktu pesawat anjlok turun dari ketinggiannya, terasa seolah aku mendapatkan ayunan di atas jentera birahi asmara yang bergelora, kenikmatanku pun menjadi terasa lebih sempurna sewaktu bersamaan waktu Yonash memainkan tangan Yonash dalam liang kenikmatanku, ngilu, geli dan denyutan memekku bertambah, dera jantungku semakin berpacu cepat, obsesiku untuk ingin memuaskan dan dipuaskan semakin besar meronta, dalam keterbatasan kami.

Akan tetapi walau indah kenikmatan bisa kita tuai bersama, aku akui kegiatan begini sangat memeras tenaga, karena kita sama-sama menahan perasaan emosi kita. Semua tenaga yang seharus nya bisa kita buang keluar dengan lantunan suara erangan, rintihan dari emosi kita supaya meringankan beban kita, malah sebaliknya kita tahan sekuat tenaga, akibatnya semua enegy tertahan didalam tubuh, hal ini menjadikan benar-benar badan merasa lelah sekali setelah kita mencapai puncak kenikmatan.

Aku melihat jam ditanganku jam 2:30 malam.
Dan Yonash pun membisik di telingaku, “Thank you Liana, aku memutuskan untuk menjenguk kamu, bila aku telah ’settledown’ di Melbourne, ini teleponku dan tolong berikan teleponmu dan alamat di kotamu”
Tiga jam kami tertidur, tiba-tiba para anak pesawat telah membangunkan kami, dan diumumkan bahwa kami segera akan mendarat di Sydney, dan pesawat akan melanjutkan penerbangannya ke Melbourne.

Begitu selesai pendaratan sempurna akupun merapikan rambut, dan bajuku siap untuk turun, sebelumnya Yonash sempat memberikan kecupan dikening dan mulutku, sambil mengatakan, “Nantikanlah aku dikotamu sayang, akan aku jelang kau adindaku”
“Tak sabar aku menerima kasihmu lagi, jantungku berdetup, sesiran darah dan setrum sangat kuat melanda diriku sayang”
Katanya sambil melempar senyum khas dan matanya pun sangat sayu, aku sambut bisikannya dengan senyum dan anggukan dalam dan berlalu.

Kamipun berpisah, sama halnya rasa dalam diriku, getaran setrum ribuan watt melanda badanku, desiran darahku tak mau padam, pikiranku galau dan gontai, detak jantungku terasa semakin kuat. Otakku waras dan ingatanku jelas sadar mengetahui keberadaanku, namun perasaan mendera, emosi dan getaran dalam tubuhku melonjak-lonjak menghempasku jauh dari kesadaranku.

Sesampai dirumah, akupun istirahat sebentar, namun sejak saat itu telponku selalu berdering dan sms selalu berdenting, dan aku selalu menuai rindu dari technology modern itu. Sementara itu aku melamar pekerjaan kemana-mana, aku dapatkan kerjaan pada minggu kedua setibaku dikotaku ini, adapun pekerjaan itu sangat menantang citaku dan aku merasa kerasan bekerja di perusahaan baru ini.

Kunjungannya Di Kotaku

Saat yang kunantikan tiba, Yonash datang dari Melbourne, aku menjemputnya dari Airport, bagai dua sejoli yang dimabuk asmara membara, kami saling mencium dan berpangutan menuju kemobilku, didalam mobil tangannya dia selalu membelai, cerita yang dituturkan seperti kita lama tak pernah berkomunikasi, terus sambung menyambung.

Yonash selalu berdendang riang disetiap langkahnya, santai sekali, seperti orang tidak punya beban dalam kehidupannya, kadang aku sendiri bertanya, “Apakah yang membuat orang ini santai, periang sekali, seolah tidak ada yang membuatnya khawatir dalam hatinya”

Kami menuju kehotelnya dijantung kotaku, kedua tangan Yonash selalu meremas, mengelus tangan kiriku, sementara aku mengatur pemindahan versneling. Sesampai di kamar, barang-barang bawaannya diletakkan ditempatnya, langsung Yonash memburuku dan menciumiku dari kening, pipi, leher, sambil tangan Yonash membuka kancing baju depanku dan tangannya menelusup kedadaku dan meremas susuku yang padat dengan penuh nafsu, ketika bibirnya menyentuh bibirku, lidahnya menelusup kerongga mulutku menari-nari di langit-langitku bahkan kadang menekan,menghisap dan membelit lidahku.

Tak kalah galakku dalam berpangutan, aku sambut liar lidahnya, aku ganti menyerang menghisap liur dan lidahnya kuat-kuat, tanganku mulai membuka baju Yonash dan tercium parfumnya, kegemaranku, hal ini membuat birahiku bertambah, nafsu bangkit mengebu, badanku terasa mekar dan buas, seolah aku ingin menelan seluruh tubuh Yonash kedalam diriku.

Kembali aku sedot lidah dalam mulutnya juga air liurnya, kulilitkan lidahku dan kutekan dalam-dalam, tiba-tiba Yonash memondongku perlahan, membawanku ketempat tidur dan merebahkan tubuhku. Dadaku terasa sesak sekali ditindihnya, seolah darahku mengguncang keras ingin muncrat dari kepalaku, karena menahan rinduku kepadanya, diriku sebagai terbang diangkasa bersama Yonash, dia yang telah lama aku rindukan.

Yonash berhasil membuka baju atasku dan juga membuka kaitan BHku dengan cekatan, dia daratkan bibirnya pada payudaraku yang menyembul kenyal, dimainkannya puntingku dengan lidahnya yang kasar, disapunya, digigitnya pelan-pelan dengan penuh kasih dan kebuasan lelaki, hal ini membuatku sangat kegelian, mengelinjang, dan melenguh kenikmatan, jilatan lidahnya turun senti demi senti, inci demi inci menuju ke perut dan pusarku, kemudian lidahnya dimasukkannya kepusarku, tangan Yonash masih asyik memainkan puntingku dengan putaran dan pijitan yang membuat aliran-aliran nikmat pada diriku, gairahku mendaki dan melambung ke atas angkasa raya.

Lima menit kemudian jilatan Yonash semakin turun kebawah, tangan kanannya membuka kancing celana panjangku, dan mendorong celana panjang serta CDku kebawah yang kubantu dengan mengangkat pantatku sekedarnya kemudian dengan kaki kananku aku tarik celana itu ke bawah dan aku tendang nya jauh dari tempat tidur.

Yonash masih membungkuk mencium dan menjilat perut bawahku, akhirnya sampai juga pada gundukan nikmatku, sambil jongkok dia membuka memekku untuk lebih lebar,Yonash memperhatikan dan meraba memekku yang tiada berambut itu. Keadaan kakiku masih menjuntai di luar tempat tidur, ini memudahkan Yonash mengusap dan menjilatnya dengan mulut dan lidahnya.

Kumudian dengan pelan-pelan jari tangan kanannyapun menyelinap kedalam belahan vaginaku, terasa nikmat sekali perlakuannya ini, Yonash meraba bagian dalam dari vaginaku dan dimasuknya tangan itu ke lobang vaginaku, terasa sekali dia memporak porandakan ketenangan G spotku, jari itu bergeser keatas kebawah, kiri dan kanan seolah menari diantara dinding relung nikmatku, kenikmatan indah yang timbul membuatku mengeliat seperti cacing kepanasan, sedangkan lidah kasarnya tetap menyapu clitorisku naik turun ke arah vertical seputar kelentitku.

Yonash agak lama bermain di halaman depan ini, hingga aku terasa ngilu tak tertahankan, darahku berdesir kencang, dera kenikmatan memukul-mukul sukmaku, hingga aku tak kuat lagi membendungnya, akupun berteriak seperti biasa mulutku tak bisa diam bila menerima kenikmatan seperti yang kurasakan kali ini, denyutannya mencapai ubun-ubunku.
“Yonash aachh sshheett eechh, enak sekali Yonashh”
“Yonash ampun, Liana keluar yaa sayang!”

Aku menggelinjang, berdesis dan mendesah, bahkan aku keluarkan teriakan, dan teriakan keras sekali karena ku mencapai orgasme yang indah sekali, karena perlakuan Yonash yang pandai membelai menyapu kelentit, dan clitorisku juga cara meraba relung kenikmatanku.
Yonashpun menegakkan kepala dan memandangku sambil tersenyum, merangkulku kuat dan berkata, “Sayang, kau sangat menggairahkan dengan teriakanmu yang bebas, Liana aku mencintaimu sayang berusahalah sebebas-bebasnya berekspresi, kita akan nikmati bersama ya”

Aku merasa lemas dan lunglai, tulangku seperti dicopoti, namun denyutan vaginaku belum juga reda, hingga kami berpelukan lama sekali sambil berpanggutan kembali. Yonash membiarkan aku dipelukannya, meredakan birahi dan kenikmatanku secara natural, selanjutnya dia membelai rambutku dan menciumi seluruh muka, mulut dan leherku, dengan perlakuannya terasa aku sangat disayanginya dan diperlakukan seperti seorang ‘ratu’, terbuai aku dipelukan tangannya, rasa damai melanda diriku.

“Sayang, gundukan memekmu menantang ke atas, dan memekmu ‘Juicy’ sekali, ku ingin memasukkannya kontolku dalam kehangatan relung nikmatmu sayang”
Selang beberapa saat kemudian, gairahku kembali lagi, kudorong perlahan-lahan tubuh Yonash dari badanku, melepaskan pelukannya. Aku bangkit, kulayangkan pandanganku kecelana panjangnya yang masih belum dibuka, kulepas retsletingnya dan kuturunkan celana panjangnya juga celana dalamnya yang berwarna biru muda, kubelai kemaluannya yang sudah sangat keras mendongkak kedepan, aku pandangi dia dengan kagum, karena saat itu aku baru bisa melihat dengan jelas kemaluannya yang pernah memuncratkan spermanya dalam mulutku beberapa minggu yang lalu dipesawat.

Kemaluan Yonash sangat indah dan kuning langsat, bagai kulitnya Yonash yang kuning dan bersih, rambut kemaluannya pun tak terlalu tebal, hanya tumbuh dipangkal kemaluan atasnya saja. Setelah puas memandanginya dan membelainya, kudaratkan bibirku padanya, terasa kehangatan menerpa bibirku, maka aku julurkan lidahku dikepalanya kemaluannya yang telah mengkilat membasah dengan cairan beningnya, tanda birahinya telah melanda Yonash dengan kuatnya.

Kukulum kepala kemaluan itu dan kujilat sekelilingnya juga urat di bagian atas yang terasa agak lunak memanjang sejurus dengan lubang kemaluan, pada bagian atas. Kutahu tentu dia akan mengelinjang dan terasa kengiluan mendera dirinya. Betul juga dia mengerang dan berdesis keras, sambil tanganku mengocok nya dengan ritme pelan dan kemudian mempercepat ritme kocokan.

“Acchh Liana, kau pandai sekali sayang, kau apakan kontolku ini sayang?”
Berulang-ulang kulakukannya dan berulang kali juga teriakan serta erangan Yonash terlontarkan sambil matanya merem melek.
“Liana sayang, aku suka sekali kau perlakukan seperti ini, kau sangat memahamiku dan keinginanku”
Merasa terpujilah diriku, makin bersemangatlah aku melakukan sepongan untuk Yonashku.

Karena birahiku juga sudah melanda diriku makanya kulepaskan kontol Yonash dari mulutku dan cepat aku bangkit dan jongkok di atas panggulnya dan menyelipkan kontol Yonash kedalam relung kenikmatanku, aku genjot-genjot kontol tegangnya Yonash dengan irama seperti mengendarai kuda sembrani, kugoyangkan pantatku kekiri dan kanan, memutar juga naik dan turun, tak lupa juga dengan kupijit kontol itu dengan gerakan mendenyutan otot vaginaku dengan sekuat tenagaku, hingga tanpa kontrol Yonash teriak, mengerang kuat mendapat perlakuan dariku ini.
“Liana memekmu mengempot ayam, kontolku terasa enak sekali, terasa seperti disedot-sedot, dipijat dan dipilin pilin sayang, enak aacchh aduhh aachh sshhett”
“Bisa mati aku nanti kau ginikan sayang”

Yonash bangkit dan membalikkan tubuhku, dengan tanpa mencopot kemaluannya dan bergantilah posisilah kita, dan Yonash mengangkat kedua kakiku ke pundaknya dan dia jongkok bertumpu kedua lututnya dihadapan vaginaku, dan dia menggenjotnya lima kali didalam dan ditarik, memasukkan lagi, genjot lima kali lagi, dengan ritme yang semakin lama makin cepat.

Dengan perlakuan begini, gesekkan batang kontol Yonash menerpa berulang ulang pada G-spotku, relung kenikmatankupun ngilu, nikmat melanda didalam sana, tubuhku mengelinjang dan kepalaku menggelepar, seluruh badanku gemetar, mulutku mendesah dan melenguh.
“Yonash aku maauu keluar lagi ngak tahaan nih kontolmu enak sekali Yonash”.
“Saayang Liana kita sama-sama keluar ya, spermaku sudah mengumpul diujung kontolku siap menyemproot, bisa dikeluarkan dimana sayang?”
“Yonash please, lepaskan didalam saja, biar kita bisa menikmati bersama”
Tak lupa kupijit kontol Yonash dengan otot vaginaku.
“Liana, enak empotan memekmu sayang aku nggak tahaann”

Achir nya creett, creet, creet, keluarlah air sperma Yonash didalam relung kenikmatanku. Disini ada suatu kehebatan dari pada kemaluan Yonash, walaupun sudah muncrat spermanya, namun tetap tegang tidak cepat menjadi lembek, sambil menurunkan kakiku ke posisi mengangkang, Yonash masih terus aktif bergerak-gerak maju mundur, sedang aku sudah terkapar tergolek tak berdaya. Tak hentinya Yonash menggoyangkan kemaluannya terus menerus sambil santai membelai tubuhku, menciumi buah dadaku berlama2 sambil menikmati tubuhku, dia memelukku.

Sedikit demi sedikit redalah gairahku dan diapun melepaskan kemaluannya yang masih tetap kencang kemudian direbahkannya tubuhnya di sampingku sambil menggeser posisiku, dengan memiringkan badanku, kali ini Yonash mendekapku dari belakang dan memasukkannya kembali kemlauannya itu dalam relung kenikmatanku dari belakang sambil menciumi punggungku, membisikkan kata-kata mesra dan terima kasih, bagaikan Yonash berhutang berjuta-juta pada diriku. Dari perlakuan ini aku merasa sangat dihargai dan diperlakukan sebagai orang yang betul dia dambakan.

Setelah setengah jam lebih dia puas dengan permainan kontolnya dalam relung nikmatku untuk yang pertama kali ini, kemudian dia berdiri dan mengendongku kekamar mandi dan mandi bersama berendam dan saling menyabuni badan dan kemaluan kita masing-masing dengan penuh kasih sayang dan damai.

Karena rabaan dan belaian Yonash disekitar kemaluanku, aku tergairah lagi ingin mengentotin Yonash lagi, dan aku duduki lagi Yonash yang masih berendam di air hangat itu dan kali ini aku menghadap di kaki nya dan aku goncangkan badanku dan kupijit lagi kontolnya dengan otot vaginaku, tak peduli aku akan gelombang air yang memuncrat tumpah di lantai kamar mandi, terus aku kakukan genjotan karena terasa ada sensasi tersendiri making love dalam bathtub kamar mandi, enak terbuai, terayun bagaikan di awang-awang, akupun dapatkan lagi orgasmeku, aku bungkukkan badanku, aku terkam pergelangan kaki Yonash dan aku gigit kaki betis kakinya, Yonash pun teriak mengisaratkan dia juga akan memuncratkan spermanya dan tangannya menggapai pantatku, diremasnya pantatku yang bulat kencang.
“Liana, aku keluar lagi sayaangg aachh sayaangg!”

Setelah kami reda dari kenikmatan, aku pun bangkit dan jongkong,tepat memekku berada di atas mulut Yonash, kakiku di atas dua sisi pinggir bathtub sambil berpegang pada keran besi ditengah bathtub itu.
Lalu aku berkata pada Yonash, “Yonash tolong bersihkan memekku ini dengan lidah dan bibirmu ya sayang”
Yonash pun melakukan seperti apa yang ku inginkan dengan senang hati sambil menepuk-nepuk, mengelus-elus pantatku dengan kedua tangannya.

Beberapa saat kemudian Yonash menarik tubuhku turun dengan pelan dan mendudukan aku dalam air lagi didepannya, membelakanginya. Yonash mendekapku erat dari belakang sambil menciumi punggungku, Yonash tahu sekali bila aku suka diperlakukan begini sehabis ML. Maka tergambar dalama ingatanku dengan jelas, hal ini tak pernah terjadi dikehidupan perkimpoianku dengan suamiku, sebaliknya, aku sangat merasa dihargai sekali oleh Yonashku.

Puas kami bermain cinta di kamar mandi kami pun mandi lagi, selesai mandi aku keringkan tubuh Yonash, aku bedaki dengan talkum kesayanganku. Yonash pun senang sekali menerima sentuhan kasih dari mulai mengeringkan tubuh dan kontolnya kemudian kubedakin tubuhnya sampai aku pakaikan T shirt dan jubah mandinya, setelah semuanya rapi, kamipun berajak ketempat tidur dan istirahat.

Terhenyak kami dari tidur, karena deringan telephone dari Hpku, kulirikkan mata kearah jam tanganku, jam menunjukkan jam 3:15 sore, terbangunlah kami berdua dan ternyata anakku yang menelphone, melaporkan bahwa dia mendapat nilai bagus pada assignmentnya. Aku katakan pujian pada anakku dan pesan bahwa Mama lagi meeting, kira 4-5 jam lagi baru pulang, silahkan makan duluan, karena Mama mau makan diluar dengan orang kantor.

Setelah kututup Hpku, secepat itu juga Yonash menyambar pinggangku dan menciumi lagi, dan kamipun making Love lagi dengan berbagai styles kita coba, kadang aku sandarkan Yonash dengan bantal di’head bed’dan aku jongkok di atas kemaluannya dan aktive naik turun, atau aku yang bersandar dan Yonash yang menyodokan kemaluannya dengan bersimpuh didepan memekku, kakiku diangkat di pinggang nya satu agak miring. Juga kita coba style lain dengan aku bersandar tidur miring, dari belakang Yonash angkat kaki kiriku, dimasukkannya kontol Yonash dari belakang, sambil tiduran miring dibelakangku seraya menggeser badan dan kepalanya menjauh dari badanku, Acchh style yang ini sangat aku senangi, style ini enak sekali rasanya, aku bisa blingsatan karena bergetar semua badan dan sukmaku mencari pegangan, sensasi yang ditimbulkan sangat berbeda untuk kami berdua, kami bisa mengerang dan melenguh sama kuat sampai kepuncak orgasmeku tercapai. Style ini lain dari yang biasa kita lakukan, dimana kita masih bisa saling berpegangan tangan, bersentuhan kulit sama kulit atau berciuman untuk meredakan getaran birahi kita yang ditimbulkan.

Paginya adalah hari Jum’at, ku minta ijin untuk ‘off’, karena bulan itu aku punya cukup kelebihan jam kerjaku untuk 1 hari ‘off’. Pada jam 7.00 pagi Hpku bergetar ditanganku, sedianya aku yang akan menelphone Yonash, namun dia telah mendahuluiku. Yonash mengatakan bahwa dia sudah siap dijemput, menjawab ajakanku kesalah satu Winery ‘Hungerford Hill’ NSW, diluar kotaku, disana aku sudah membooking cottage, untuk 2 malam, karena anak-anakku pun akan ikut kamping dengan kelasnya kepantai selama 2 hari. Kesempatan ini aku gunakan untuk berwisata dengan Yonash menikmati perkebunan anggur dan pabrik wine di NSW Australia.

Menuju ke Winery tersebut kami harus menempuh pejalanan 2.5 jam dengan kendaraan, cottage-cottage didaerah itu dibuat berjauhan jaraknya antara satu dengan yang lain, adapun pagar mengelilingi tiap cottage tersebut dengan ketinggian 170 cm.

Di halaman belakang ada meja dari batu yang ditatah sebagai sarana meja makan bila kita mengadakan BBQ, dengan diatapin pohon anggur yang tumbuh merambat di atasnya menjadikan suasana ini menjadi asri, nyaman sangat romantis. Kamipun terbuai, bara asmara kami terbakar lagi, birahi kami menggelora, keinginan selalu ML disitu semakin menjadi obsesi kami berdua, sambil melihat kupu-kupu warna warni terbang menikmati kehangatan udara, bahkan burung bercengkerama, ada juga yang memadu kasih di atas kami.

Yonash selalu berkata, “Mari kita coba hidup seperti di zaman purba, buka baju aja yuk”
Aku pun tidak menolaknya, udara saat itu sekitar 21 derajat Celcius, matahari bersinar bagaikan menumpahkan sinar emasnya, langitpun biru tak setitik awan menodainya, angin tidak banyak ulah menggangu keindahan alam saat itu, orang Australia selalu berusaha keluar rumah untuk menikmati hari indah seperti ini, mereka menyebutnya ‘a glorious day’.

Akupun senang dengan suasa ini, karena memang disuasana ‘glorious day’ ini, nafsu birahiku selalu bangkit, ingin aku menikmati dakian birahi dalam bercinta yang menggebu, ingin aku merasakan dengusan nafsu Yonash yang sedang buas liar ingin menerkamku. Kesempatan ini tidak akan kami lewatkan, semasa kami sedang dirundung asmara, baranya menghangatkan tubuh kami, keinginan kami untuk ML sangat kuat, memekku selalu berdenyut meminta di sambangi oleh kontol Yonash yang selalu mengeras tegang.

Akhirnya kami putuskan meja batu itu menjadi tempat kegiatan utama kami memadu kasih dan ML disiang hari itu, sambil membakar keratan-keratan daging ayam dan kambing, juga sosis-sosis, ditungku pembakaran yang telah disediakan di dekat meja makan tersebut.

Kadang aku duduk di meja batu itu, Yonash menjilatin memekku dengan rakus sambil duduk di bangku kayu nya, atau Yonash yang duduk dimeja dan aku aktif menyepong kontolnya yang hangat dari bawah, bahkan kami juga betul-betul ML meja itu dengan telanjang bulat, desahan erangan,lengkingan tak pernah kita tahan lagi, kenikmatan demi kenikmatan kita gapai,kita renggut dan tuai bersama-sama.

Kami juga bercinta di gudang belakang cottage, hal ini terjadi sewaktu kami membutuhkan kable perpanjangan digudang, karena sewaktu aku nungging mengorek tumpukan barang digudang menarik kabel yang ku maksud ada di bawahnya, badanku dan pantatku bergoyang, Yonash yang ada di belakangku kontan konak lagi kontolnya, dan menerkamku dari belakang, nafasnyapun tak bisa dikendalikan. Sempat juga aku kaget karena tak aku sangka Yonash tiba-tiba menjadi buas, dan setelah ku tenggok ke belakang matanya yang sayu telah memohon dan mulutnya menyerbu mulutku, kelumat bibirku.
“Liana, Liana, aku tak tahan lihat pantatmu bergoyang nafsuku memburu, aku ingin ngentot kamu disini, please let me into your warm body”
“Liana aku ingin merenggut kepuasan denganmu, tolong kamu pegangan ujung lemari ini akan aku masukkan kontolku ini dari belakang ya?”

Aku dekap dia, aku elus rambutnya aku cium dalam bibirnya yang menganga.
Lalu kubisikkan kepadanya, “Yonash sayang, OK, kita ngentot disini, kita nikmati berdua ya, tunggu aku sampai aku mencapai orgasmeku ya”
Langsung aku memposisikan diriku seperti kemauannya, kemudian Yonash menusukkan kontolnya di vaginaku dari belakang, aku berteriak kegelian dan pompaan Yonash sangat enak, dan menyentuh seluruh lorong kenikmatanku, bahkan sampai dinding rahimku yang terdalam.
Aku pun menjerit, “Yonash, kau pandai, Yonash kontolmu memberikan kepuasan didalam sana, pompa lagi Yonash enak sekali, ach Yonash aku keluaar”
Sampailah aku di puncak orgasmeku, langsung Yonash melepas kontolnya dan meraih pinggangku dan membalikkan badanku berhadapan dengannya, menggangkat tubuhku dan menjuruhku merangkulnya lehernya kuat-kuat dan memompa kontol Yonash kembali. Sambil aku dongkakan badanku kebelakang, aku memompa kontol Yonash keatas kebawah, hingga Yonash mencapai ejakulasinya.
Diapun teriak sambil memejamkan matanya dan membuka mulutnya, “Achh Liana aku sampai, enak liana memekmu enak sempit, menghimpit kontolku, aku keluaar liana.. aach, aku puas”
Kuhentikan pompaanku, namun denyutan memekkupun terasa bahwa aku akan mencapai orgameku lagi, maka aku pun berteriak kembali, sambil merangkul erat leher Yonash, kucium kuat mulutnya.

Pagi hari biasanya kita keluar melihat lembah dan ngarai didaerah itu, kemudian kita melihat pabrik Wine dalam cara memproses anggur menjadi wine. Setelah kita puas mencobai wine dan melihat-lihat sekitar daerah itu, kami kembali lagi ke cottage, Yonash memasak dan aku menyiapkan mejanya, karena Yonash memang senang memasak dan banyak akalnya.

Setelah makan kamipun tiduran sambil bercerita tentang kejadian keseharian yang aneh disekitar kita sampai tertidurlah kita sejenak. Namun tiba-tiba Yonash bangun dia menarikku dan menyodorkan kontolnya yang sudah tegang mengeras, sambil meminta dangan mata sayunya supaya aku mau menyepongnya, menjilat dan menghisapnya dengan mulutku, kulakukan semuanya ini dengan suka hati, aku kocok lagi batang kemaluan itu yang akhirnya dia mengerang menikmati ejakulasinya disertai kenikmatan yang tiada tara. Segera aku hisap spermanya yang memuncrat kuat ke mulutku dan kujilati semuanya tanpa sisa sedikitpun.

Kemudian selanjutnya Yonash memasukkan kemaluannya dalam memekku dalam posisi tiduran miring dari belakang sambil meremas payudaraku dan menciuminya dari belakang, tarian dan gerakan kemaluan Yonash hangat mengenai dinding vaginaku yang terdalam dan aku tak kuat untuk berdiam diri, dengan lebih membungkukkan badanku ke depan lagi, desahanku keluar, erangan, lengkingan jeritanku membahana, karena orgasmeku tercapai lagi.

Sore menjelang malam hari, Yonash yang suka melihat TV itu duduk dikarpet didepan TV, saat itu aku ingin mencari perhatiannya, dan memekku sudah berdenyut lagi, aku pengin making love lagi. Tanpa sungkan aku hampiri dia, dan kusodorkan memekku ke mulutnya sambil berdiri, dengan begitu dia segera menyambut dengan juluran lidahnya, menyapu dan melumatnya sepuasnya sampai akupun mengerang lalu kamipun meneruskan ML kami lagi. Hari itu nyaris kita tidak pakai pakaian, minim sekali yang kita pakai di malam yang dingin itu, kita tidur di karpet dengan bara kehangatan heater semalaman.

Kami betul-betul sangat menikmati permainan cinta yang indah yang kita ciptakan itu, kegiatan ini kami teruskan selama Yonash mengunjungi aku. Kami ML dihotelnya tiap hari sepulangku dari kerja disore sampai menjelang malam. Makan malam bersama, cari ‘ice cream’ yang enak berdua, belanja makanan dan barang kecil berdua. Kadang kami pergi kepantai berdua disore hari, menikmati ’sunset’ sambil bercumbu, berlarian dipasir pantai, seperti kita sedang menikmati dunia remaja kembali.

Selama Yonash di Melbourne 6 bulan, aku berkunjung 3 kali keapartemen Yonash dan Yonashpun menjenguk kekotaku 4 kali. Kami rasanya tak ingin dipisahkan dan kami benar-benar menikmati permainan gelombang cinta kami. Bagiku, Yonash adalah orang yang menggugah aku dari tidur nyenyak, membuka langit biru diatasku, melebarkan cakrawala didepan mataku, untuk menikmati cinta dan permainan birahi yang penuh gelora di dunia ini.

Di Negeri Sakura

December akhir 1998, Yonash harus pulang ke Indonesia, sebulan kemudian Yonash tulis surat bahwa dia sudah di Negeri ‘Sakura’, Negeri ‘Terbitnya Matahari’, Yonash akan mengundangku kesana dalam waktu dekat.

Komunikasi antara aku dan Yonash ‘intense’ sekali , badanku selalu gemetar seolah gelombang listrik ribuan watt dikirimnya dari jauh menyeberangi lautan dan benua menerpa diriku, pikiranku tidak bisa focus menghadapi masalah kerjaan dan hidup keseharianku sendiri. Walau semuanya itu kutekan sebaik mungkin, namun arus Listrik ini sangat kuat menghempasku tak berdaya, aku tak dapat menipu diriku, aku terhanyut oleh birahi cinta. Otakku sadar betul akan keberadaanku, namun perasaanku, badan mencuat meronta, badanku menggigil panas-dingin tak karuan, meminta semua hasrat birahiku terpenuhi aku inginkan selalu bersua dan ML dengan Yonashku.

Enam bulan kemudian aku diutus perusahaan dimana aku bekerja untuk pergi ke ‘Negeri Sakura’, sebagai wakil perusahaan dalam menghadiri pameran dagang yang senyawa dengan warna dari perusahaan kami bergerak, adapun kota tepatnya adalah Kyoto. Bagai anjing yang kena pukul, serta merta aku menyanggupi kepergian ke kota itu, aku tulis email kepadanya bahwa aku akan datang selama 2 minggu, Kyoto 4 hari dan sisanya kekota tempat Yonash belajar.

Benar, pada saat aku mendarat dibandara, Yonash sudah menjemput dengan senyum khasnya, dan menyapa.
“Mengapa kok tegang sekali sayang lelah ya?”
“Rilekslah nanti aku pijitin dan akan segar sempurnalah tubuhmu lagi”

Sambil mengapit tanganku menyingkir dari keramaian orang-orang, kecupannya mendarat dibibirku, berpangutanlah kami terasa getaran sukma dan deburan darahku tak henti melanda diriku, cukup lama kami berpangutan, melepaskan rindu selama 6 bulan yang tak tersalurkan.

Sesampai di hotel setelah ‘check in’ dan masuk kamar, langsung Yonash menelanjangiku, mengendongku ketempat tidur, dibelainya seluruh tubuhku, dikeluarkannya ‘body cream’ dari tasnya yang sengaja dibawa dari kotanya.

Dilumurinya tubuhku sedikit dengan ‘body cream’ dan mulailah dia memijat sekujur badanku, setelah itu dia menyelimuti tubuhku dan dia pun merebahkan tubuhnya disampingku sambil meremas-remas payudaraku dan membelai tubuhku, hingga tertidur lelaplah diriku selama 2.5 jam, rupanya perjalanan 12.5 jam lebih membuat aku betul-betul penat.

Yonash membiarkan aku tidur, kesempatan itu dia pergunakan untuk membaca Journal dan material bacaan kuliahnya. Sebangunku Yonash gendong tubuhku kekamar mandi dengan air hangat yang telah tersedia, dan dimandikannya diriku.

Spontan ketika dia menyabuni badanku akupun menyabuni badan Yonash, dari sentuhan mesra ini timbullah gairah syahwatku, segera kutarik Yonash mendekat kebadanku dalam bathtub penuh air, kaki kita saling menyilang dan badan kita berhadapan, kumasukkan kemaluan Yonash dalam memekku, sambil berkata:

“Yonash sayang, kita ngentot lagi yang indah ya, aku rindu ML dengan mu, kontolmu enak”

Dia terseyum mengiyakan, mulailah aku memeras kontol Yonash dengan otot vaginaku, dan aku ciumi Yonash dari bibir, pipi, kuping dan lehernya, sedang Yonash mengayun pantatnya maju dan mundur. Puas dengan gaya ini, aku bangun dan aku tunggingkan badanku sambil berpegangan kran air, aku buka dua pahaku kakiku dan aku minta Yonash untuk mengentot aku dengan ‘doggy style’, juga ‘bull style’ dimana Yonash merebahkan badannya di punggungku dan tangannya meremas-remas payudaraku, Huuh nikmat sekali kontol Yonash menyentuh dinding terdalam dari liang kenikmatanku, menggeliat tubuh bagian dalamku, seolah kontolnya menari didalam disana, tak tahan aku mendapatkan dera nikmat yang tibul dari gesekan kontol Yonash, ngilu dan nikmat semakin menjadi sensasi hebat timbul dari dalam sana,hingga Yonash dan aku harus mengerang, desahan dari mulut kita tak terelakkan, getaran tubuhkupun tak kunjung berhenti, akhirnya akupun mencapai orgasme. Yonashpun teriak untuk kedua kalinya, dia mencapai ejakulasinya bersamaan denganku.

Setelah kita selesai dengan styles ini, seperti biasa kontol Yonash belum lemas dan sambil menyiram dan menyabuni badanku kontolnya masih menancap dimemekku, diangkatnya badanku dan diputarnya badanku berhadapan dengannya, tanganku merangkul kuat lehernya, kemudian dia berdiri sambil membopongku diayun-ayunkannya badanku naik turun, dan Yonash menahan badanku dengan kedua kakinya agak mengkangkang tegak sekuat tenaga, hingga terasa nikmat melanda tubuhku kembali.

Dibawanya aku di meja dekat kaca kamar mandi, didudukkannya aku di ‘vanity’ itu, lalu Yonash mengentotku sambil berdiri, Yonash mendengus, melenguh dan mengaduh dia keluarkan lagi spermanya divaginaku dan akupun mulai terasa akan mencapai orgasme, maka aku cenkeram, aku cakar pundak dan punggung atasnya memakai kukuku, aku jeritkan ngiluku karena aku betul-betul mencapai orgasme yang sangat tinggi dan lama.
“Yonashh aku keluaarr lagi, enak sekali Yonash kontolmu aku puas sekali Yonash!”
“Yonash memekku berdenyut-denyut aachh enak Yonash”
“Yonash cium aku Yonash please, Yonash kiss me please!”, begitulah racauanku bila aku merasakan kenikmatanku dikala aku mencapai orgasmeku.

Esoknya kami pergi nonton pameran dagang undangan dari kantorku setengah harian, setelah makan siang direstoran didekat gedung pameran itu, sorenya kita nonton Orchestra, distasiun underground Kyoto, tepatnya sebelah kanan atas dari pintu masuk stasiun itu, tepat dibelakang Department Store Takashimaya.

Sepulang dari nonton Orchestra kami kekolam renang campur laki-laki dan perempuan, dan telanjang bulat. Kami berendam diair panas, kemudian ganti keair dingin, selang-seling tiga kali, dengan perubahan kondisi air tersebut, membuat kemaluan Yonash menegang keras lagi.Keadaan tubuhkupun terasa ada dorongan sensasi yang hebat, ingin dipenuhinya hasrat besar untuk melakukan ML, ditambah lagi karena dari sentuhan-sentuhan yang kami lakukan, memekku berdenyut-denyut hebat lagi, ingin merasakan desakan kontol Yonash didalam sana dan ingin kujepitnya kontol Yonash keras2 dengan otot vaginaku.

Dalam keadaan demikian kami betul-betul terbuai, hasrat untuk ML kami menjadi sangat menggebu, seolah sukmaku dan sukmanya meronta ronta ingin keluar, memadu cinta kita berdua diudara bebas. Kemaluan Yonash kudapati semakin lebih keras menegang, Yonash menarikku dengan kuat berusaha memasukkan kemaluannya kedalam memekku dengan buasnya, akan tetapi aku berhasil menahannya.
“Yonash sayang, kau ‘wild’ sekali kali ini kontolmu konak, kita dikamar saja ya sayang, kita puasin disana ya”
“Liana ‘bidadariku’, aku ‘wild’ sekali saat ini, ingin aku merenggut kepuasan dari dirimu kali ini lebih lebih”.
“Bagaikan aku ketagihan candu Liana, aku ingin ngentot lagi sama kamu sampai puas sekali sayang”, deru nafasnya sangat kencang, matanya redup sayu namun buas, bagaikan kemasukan dewa birahi dari salah satu kuil Jepang.
Kubelai rambutnya yang basah, kusambut ciumannya yang hangat menyalurkan setrum listrik beribu watt kembali padaku. Aku bimbing Yonash keatas dan aku tarik handuk dari pinggir kolam untuk menutupi kemaluan Yonash yang menegang.

Namun diluar dugaanku, Yonash malah menggendongku menuju ke salah satu kamar disitu yang kebetulan memang tersedia kamar untuk pasangan laki-perempuan menyalurkan hasrat syahwatnya, maka Yonash langsung meletakkan aku di tempat tidur dan Yonas mengentotiku sambil berdiri dan kedua kakiku lurus di dua sisi pinggangnya, dua tangan dia memegang kedua paha atasku, kita ngentot, dengan ‘Rickshaw style’ atau gaya ‘gerobag dorong’, Yonash melenguh, mendesah dan mendengus, akupun melengking keenakan karena kebuasan Yonashku, aku meleguh dan teriak keras bila kontol konak Yonash menyentuh G-spotku, dinding vaginaku yang terdalam tersasa tergesek-gesek, dihempas-hempaskannya dengan kontolnya yang tegang keras sekali.

Tiba-tiba Yonashpun teriak menyambut ejakulasinya, yang aku susul juga teriakanku yang panjang karena aku mendapatkan orgasmeku. Yonash terpuruk ambruk di dadaku sambil kontolnya masih menanjap di memekku, kami berpelukan. Maka aku belai rambut Yonash yang masih basah itu, dengan penuh kasih sayang.
“Yonash kontolmu kuat, dan gagak sekali, enak menerpa dan menari didalam sana”

Yonash tak menjawab hanya senyumannya dan redup matanya, yang menerangkan bahwa dia masih mau lagi bertarung denganku. Sepuluh menit kemudian Yonash mengangkatku, dengan kontolnya masih menancap di memekku, dan duduklah dia di pinggir tempat tidur, dan meminta aku memompanya naik turun. Aku berusaha memuaskan Yonash dengan senang hati, aku lakukan pemompaan kontol Yonash sambil badanku agak condong kebelakang dijaga dengan kedua tangan Yonash yang kuat memegangi pinggangku supaya aku tidak terbalik jatuh kebelakang.

Setelah kami daki nafsu asmara kita selama 3 menit, kamipun mencapai ke puncaknya, kami berdua melantunkan kepuasan aku mencapai orgasme dan ejakulasinya Yonash hampir bersamaan, maka melengking, berteriak bebaslah kita berdua. Rupanya pelayan-pelayan situ sudah memahami keadaan kami dan merekapun berlagak tuli dan tak perduli.

Setelah kami membersihkan diri lagi kamipun cari makan malam kemudian kembali pulang ke Hotel, terasa lelah sekali badanku dan tertidurlah aku. Dibiarkannya aku tertidur, Yonash mengambil buku untuk belajar lagi, setelah 3jam dia belajar, dibangunkannya diriku dan kami ML lagi dibalkon dengan ‘doggy style’ juga dikursi, yang terbuat dari besi, aku duduki Yonash yang sedang duduk dikursi balkon itu, aku masukkan kemaluan Yonash ke memekku posisiku membelakanginya, dengan agak condong ke depan kakiku mengkakang diantara dua kakinya, aku pompa kontol Yonash naik turun terus menerus, sambil Yonash memegang pinggangku.

Enak sekali rasanya dengan style ini memekku seolah digesek dan diaduk2 di tempat G-spotku, rasa ngilu tak terperikan seluruh relung kenikmatanku bergetar hebat, hingga akupun teriak histeris seperti macan betina melolong karena kena luka dari lawannya, hal ini tak bisa kutahan bila mendapatkan orgasmeku yang sangat mikmat, akupun memanggil namanya, “Yonash, Yonash! Gila kau, enak sekali kontolmu sayang!”
Sambil aku jepit, pijit kontol Yonash memakai otot vaginaku kuat-kuat, maka Yonashpun melengkikkan suaranya rupanya dia sampai kepuncak pendakiannya dan menyeprotkan spermanya yang terkumpul diujung kontolnya kedalam memekku.

Pagi harinya, biasa Yonash bangun pagi, mandi terus belajar, dengan lampu mejanya. Sesegera Yonash melihat aku mengeliat, langsung dia naik lagi ke tempat didur dan mencari gundukan nikmatku dan di jilatinnya gundukan segitiga nikmatku dengan buas dan rakusnya, cepat sekali dia membuka bajuku dan baju dia sendiri, dalam hitungan menit Yonash udah membalikkan badanku di atas badannya dengan kontol yang sudah menantang siap untuk di sepong, jadilah kita memainkan 69 kesukaan kami untuk ber”foreplay”.

Setelah kami puas dengan raungan, teriakan ngilu dan geli berganti kita rasakan, dengan sigap namun penuh hati-hati Yonash membalik tubuhku, memposisikan tubuhku nungging dengan kepala miring di tempat tidur, Yonash menusukkan kontolnya dari belakang sambil menekuk kakinya ke belakang di tempat tidur, style ini selalu menjadikan badanku gemetar karena Yonash pandai sekali menyentuhkan kontolnya dalam relung nikmatku yang terdalam hingga menerpa G-spotku berulang kali, sangat ngilu rasanya bila terkena hentakan kontol Yonash, hingga kami sampai pada puncak nikmat kami masing-masing.

Setelah puas bermain cinta pagi itu, kami membersihkan diri, aku segera menyiapkan sarapan Yonash. Kemudian dia kembali belajar, akupun membaca bukuku novelku, sambil duduk bersandar bantal di ‘Head bed’ dengan kedua pahaku aku tekuk keatas terbuka tanpa CD, tak jarang Yonashpun menghampiriku dan mencium memekku dengan buasnya. Aku suka sekali diperlakukan begini, dan Yonashpun suka melihat aku seperti ini duduk tanpa CD didepannya sambil belajar.

Demikianlah tiap hari selama kami di Kyoto, pagi bangun tidur kami sudah tergairah untuk making love sepuasnya, kemudian Yonash meneruskan belajarnya. Jam 8:15 kami pergi ke pameran sampai siang hari, selanjutnya kami melihat kuil-kuil dan paviliun-paviliun kuno. Setelah puas pesiar, kami pulang istirahat, akan tetapi banyak sebab yang selau membuat kita tergairah untuk kita terhanyut ‘makinglove’ lagi, entah karena tiba-tiba aku minta ciuman Yonash yang kuat dan dalam, atau kadang hanya karena pandangan kita beradu, ataupun dengan sengaja Yonash meraba, mengeluarkan tetekku untuk di hisapnya sambil dia mengerjakan sesuatu di hotel itu. Tak lelahnya kita ML, kadang 3-4 kali dari sore sampai malam hari, mulai oral sex sampai beberapa styles ML bisa kita lakukan. Tak jarang kita tertidur lupa tidak memakai baju, karena udara sangat mendukung di ’spring’ mau menuju ke ’summer’itu.

Hari kelima kita naik kereta cepat ke kota Yonash belajar, Yonash menyewa apartemen di daerah tidak jauh dari kampusnya, kami leluasa sekali ML di apartemennya dari mulai di teras belakang, di kamar, dikamar mandi dan meja makan, di atas meja dapur, sambil tiduran ataupun berdiri, aku akui stamina Yonash sangat tinggi, dia mampu ML berdiri sambil memondongku berlama-lama, sambil dia menciumi bibirku tak henti hentinya.

Bila aku merasa capek dibiarkannya diriku tidur adapun Yonash kemudian memasak nasi dan lauk atau dia mengerjakan tugasnya, dan bila aku bangun dia sudah siap menyuapkan makanan dimulutku, apa saja yang dekat dengannya entah itu makanan kecil atau hanya sekedar ‘jelly fruits in the cup’ kesukaannya.

Hari ke 3 dikotanya, Yonash dimintai tolong supervisornya untuk tidur dirumahnya, karena dia mau pergi ke Taiwan untuk tugas disana seminggu, dan dia boleh bawa temannya, dan kamipun pindah kesana. Rumah itu lebih besar dari apartemen Yonash, juga kebun di belakang sangat yaman, kami lakukan Ml didalam rumah dan diudara terbuka dibawah pohon-pohon cemara normal besar yang di pangkas seperti bonsai.

Disiang yang yaman 19 derajat Celcius itu kami ada di halaman belakang dibawah pohon cemara tersebut membaca Novelku, ditariknya diriku, dilepaskannya celanaku dan bajuku, di dekapnya aku sambil Yonash bersandar di batang pohon cemara itu.
“Liana kita ngentot di udara terbuka ya, aku pengin kepuasan darimu saat ini dibawah pohon ini, Liana tinggal disini dampingi aku disini sayang, kita ngentot disini terus menerus ya!”
Aku tak menjawab, hanya senyum saja, karena aku tahu itu racauan Yonash bila ingin melampiaskan nafsu birahi asmaranya bersamaku, dia sadar bahwa aku harus kembali di asalku, aku hanya mengelus rambutnya dan menciumi mulut, pipi dan lehernya.

Segera kami making love sambil berdiri berlama-lama sambil menikmati burung-burung bernyanyi di atas kita, mungkin malah burung-burung itu melihat dan menikmati suasana indah kita yang sedang ‘hot’ ngentot di halaman belakang itu, acchh rasanya dunia ini hanya milik kita berdua.

Esokannya kami bangun jam 8:30, karena spring time, humiditi udara disitu agak tinggi, artinya kita agak banyak berkeringat. Maka kamipun memutuskan untuk mandi dikamar mandi belakang, dimana bak mandi tersebut bentuknya seperti bak mandi di indonesia akan tetapi letaknya dibawah permukaan tanah, kedalam, sedangkan kamar mandi yang depan bermodel “bathtub” dan “shower”, seperti di barat.

Kami berdua turun dalam air hangat yang sudah kita sediakan. Karena sempitnya bak tersebut yang hanya memang bisa untuk dua orang, maka kita tidak sabunan badan dulu, hanya saling meraba dan mencium, dari sentuhan itu nafsu birahi kami bangkit lagi kemudian kami saling mendekap.

Aku mulai meraba kemaluan Yonash yang ternyata memang kemaluan Yonash sudah berdiri menentang dan keras. Aku elus-elus batangnya, juga dua buah zakarnya yang menjadi agak mengecil karena membesarnya batang kemaluan Yonash tersebut. Aku suruh Yonash duduk di pinggiran bak mandi tersebut dan aku mulai menyepong kepala kemaluannya sambil berdiri didalam bak mandi, jilatanku menjalar terus ke batang kemaluan dan sampai ke kedua buah zakarnya, kuhisap buah zakar itu, kumainkan dalam mulutku.

Yonashpun kegelian dan mulai mendesah, mengerang, dengan sedikit mengangkat kaki kanan Yonash aku jilati semua paha dalam Yonash hingga Yonash menggigil kegelian.
“Liana enak Liana, teruskan liana, enak sekali ingin aku mendapat sepongan tiap hari begini”
“Tinggallah bersama aku disini terus, Liana sayang, aku membutuhkanmu”
Sekali lagi aku tak menjawabnya, hanya terus melirik keatas dan terus melakukan jilatanku ke arah batang dan kembali kekepala kemaluannya. Yonas memegang kepalaku dan menjambaknya kuat-kuat dia berusaha merunduk untuk menciup keningku tapi terlalu jauh untuk dijangkaunya, kemudian aku tepuk pantatnya untuk Yonash turun kedalam bak mandi lagi.

Sesampai didalam bak mandi lagi, langsung saja Yonash diselipkan kontol tegangnya itu kememekku dan dengan agak menggendongku dia goyangkan pantatnya maju dan mundur sampai kami mencapai kenikmatan masing-masing. Gerakan Yonash yang semakin kencang itu terasa tak membutuhkan tenaga banyak karena kami berada didalam dalam air, badan kami terasa ringan tidak menjadikan kami lelah, karena gerakan kami yang kuat, bak mandi dibawah permukaan lantai itu memuntahkan air nya ke permukaan lantai dan airpun mengalir keselokan yang telah disediakan.

Kemudian Yonash mengangkatku agak tinggi lagi, dan menyuruhku memompa naik turun, Aku sangat menikmati permainan ini, denyutan memekku menjepit kontol Yonash yang agak pasive saat ini, namun Yonash membantu badanku untuk bergerak naik turun, dua tangannya menopang pantatku untuk membantu gerakanku.

Tiba-tiba Yonash berkata lirih padaku, nafasnya memburu buas, sambil menegadahkan kepalanya serta matanya agak redup.
“Lianaa, aku sudah siap mau keluar, ujung kontolku udah berdenyut denyut, apa kamu juga udah siap kita keluaar sama-sama ya?”
“Tahan sebentar Yonash, aku pun ingin menikmati orgasmeku disini bersama kau sayang tunggu sebentar lagi”
Kemudian dalam detik-detik berikutnya aku lebih focus pada rasa gesekan kontol Yonash yang menerpa dinding rahimku terasa ngilunya tak terperikan.
Kemudian akupun berkata agak lantang, “Yoonash, keluarkanlah aku sudah siap aachh aachh sshhtth”

Segera setelah itu Yonash memuntahkan spermanya ke memekku tanda ejakulasinya tercapai sempurna, diiringi lengkingan ngilu dan kepuasannya. Sekian menit Kamipun tidak bergerak, hanya berpelukan erat sambil berpangutan, sampai betul-betul reda birahi kami.

Selanjutnya kami mandi cepat-cepat karena kami ingin melihat gugusan rumah-rumah kuno di zaman Meiji, yang jumlahnya tidak sedikit, dibutuh waktu hampir seharian, untuk melihat kesemuanya. Esoknya lagi, kami pun mengulangi hal yang sama, sebelum kami pergi ke sebuah ‘castle’ kuno dipinggir kota, juga melihat kuil-kuil jepang disekitar kota itu.

Kenangan indah yang kami lakukan ini kami lanjutkan terus walau kami terpisahkan beribu-ribu mill jauhnya. Kami saling kunjung mengunjung setiap 4 bulan sekali Yonash kekotaku di Australia atau aku kekotanya di Negara Sakura, hal ini sangat memungkinkan bagiku karena diAustralia dalam 1 tahun setiap karyawan berhak mendapatkan liburan sejumlah 1 bulan kerja sebagai ‘annual leave’ nya Yonashpun tak segan-segannya selalu membuatkan aku surat sponsor untuk Departemen Imigrasi Negera Sakura itu, untuk memudahkan aku keluar masuk ke negeri tersebut.

Hubungan cinta yang erat, indah dan panas ini tersendat saat ini, karena keberhasilannya Yonash menyandang Phd, Yonash harus pulang ke Indonesia tentunya istri dan anaknya membutuhkannya, juga pekerjaannya, namun hati kami tetap tertaut, SMS dan ICQ berjalan terus melantun sebagai media cinta kami.

Yonash selalu bilang bahwa dia selalu akan menemuiku bila ada kesempatan baik. Betul juga sewaktu aku harus kembali keIndonesia, Yonash tetap menemuiku, kami bertemu untuk berbagi rasa rindu kita yang sudah mendidih dan meluap.

Sewaktu kami berpelukan, sukmaku bergetar, badanku bergoyang, serta melelehlah airmata kebahagianku tanpa kusadari, kamipun segera melampyaskan kerinduan kami yang telah menyesak didada kami, rasanya kami betul-betul bisa menuai cinta birahi kita masing masing dengan indah diwaktu yang singkat itu.

Aku merasakan hubunganku dengan Yonash adalah merupakan kisah kasih yang sejati, hal ini tentu saja susah sekali aku lupakan, karena memang Yonashlah pembuka pelangi keindahan cinta dalam hidupku dan samudra luas dimana aku bisa menimba segala ilmu yang kubutuhkan, dari mulai pengetahuan umum, tehnik komputer, kesehatan, bahkan bila aku mendapat kesukaran dalam pekerjaan kantor diapun selalu siap memberi saran dan bimbingan bagaimana aku harus bersikap untuk menyelesaikan masalah tersebut. Yonash juga menularkan ilmu yang dia perlajari sedikit-sedikit untuk aku ikut mengerti.

Indah rasanya hidupku setelah mengenal Yonash, aku akan selalu respect terhadapnya sebagaimana dia juga respect kepadaku dan semua yang ada padaku.

Terima kasih kepada teman mayaku yang mau menshare pengalamannya dan membantuku, hingga tulisan ini bisa anda nikmati.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 9:43 am

Hari ini seperti biasa aku perhatikan istriku sedang bersiap untuk berangkat kerja, sementara aku masih berbaring. Istriku memang harus selalu berangkat pagi, tidak seperti pekerjaanku yang tidak mengharuskan berangkat pagi. Tidak lama kemudian aku perhatikan dia berkata sesuatu, pamitan, dan perlahan meninggalkan rumah. Sementara aku bersiap kembali untuk tidur, kembali kudengar suara orang mendekat ke arah pintu kamar. Tetapi langsung aku teringat pasti pembantu rumah tangga kami, Lia, yang memang mendapat perintah dari istriku untuk bersih-bersih rumah sepagi mungkin, sebelum mengerjakan yang lain.

Lia ini baru berumur 17 tahun, dengan tinggi badan yang termasuk pendek, dan bentuk badan yang sekal. Aku hanya perhatikan hal tersebut selama ini, dan tidak pernah berfikir macam-macam sebelumnya. Tidak berapa lama dari suara langkah yang kudengar tadi, Lia pun mulai tampak di pintu masuk, setelah mengetuk dan meminta izin sebentar, ia pun masuk sambil membawa sapu tanpa menunggu izin dariku. Baru pagi ini aku perhatikan pembantuku ini, not bad at all. Karena aku selalu tidur hanya dengan bercelana dalam, maka aku pikir akan ganggu dia.

Dengan masih pura-pura tidur, aku menggeliat ke samping hingga selimutku pun tersingkap. Sehingga bagian bawahku sudah tidak tertutup apapun, sementara karena bangun tidur dan belum sempat ke WC, kemaluanku sudah mengeras sejak tadi. Dengan sedikit mengintip, Lia berkali-kali melirik ke arah celana dalamku, yang di dalamnya terdapat penisku yang sudah membesar dan mengeras. Namun aku perhatikan dia masih terus mengerjakan pekerjaannya sambil tidak menunjukkan perasaannya. Setelah itu dia selesai dengan pekerjaannya dan keluar dari kamar tidur. Akupun bangun ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Seperti biasa aku lepas celana dalamku dan kupakai handuk lalu keluar mencari sesuatu untuk minum. Kulihat Lia masih meneruskan pekerjaannya di ruang lain, aku rebahkan diriku di sofa depan TV ruang keluarga kami. Sejenak terlintas untuk membuat Lia lebih dalam menguasai ‘pelajarannya’. Lalu aku berfikir, kira-kira topik apa yang akan aku pakai, karena selama ini aku jarang sekali bicara dengan dia. Sambil aku perhatikan Lia yang sedang sibuk, aku mengingat-ingat yang pernah istriku katakan soal dia.

Akhirnya aku ingat bahwa dia memiliki masalah bau badan. Dengan tersenyum gembira aku panggil dia dan kuminta untuk berhenti melakukan aktivitasnya sebentar. Liapun mendekat dan mengambil posisi duduk di bawah. Duduknya sangat sopan, jadi tidak satupun celah untuk melihat ‘perangkatnya’. Aku mulai saja pembicaraanku dengannya, dengan menanyakan apakah benar dia mempunyai masalah BB. Dengan alasan tamu dan relasiku akan banyak yang datang aku memintanya untuk lebih perhatian dengan masalahnya. Dia hanya mengiyakan permintaanku, dan mulai berani mengatakan satu dua hal. Semakin baik pikirku.

Masih dengan topik yang sama, akupun mengajaknya ngobrol sejenak, dan mendapat respon yang baik. Sementara dudukku dengan sengaja aku buat seolah tanpa sengaja, sehingga penisku yang hanya tertutup handuk akan terlihat sepenuhnya oleh Lia. Aku perhatikan matanya berkali-kali melirik ke arah penisku, yang secara tidak sengaja mulai bangun. Lalu aku tanyakan apa boleh mencium BB-nya, sebuah pertanyaan yang cukup mengagetkannya, selain karena pertanyaan itu cukup berani, juga karena matanya yang sedang melirik ke ‘anu’ ku.

Untuk menutupi rasa malunya, diapun hanya mengangguk membolehkan. Aku minta dia untuk mendekat, dan dari jarak sekian centimeter, aku mencoba mencium BB-nya. Akalku mulai berjalan, aku katakan tidak begitu jelas, maka dengan alasan pasti sumbernya dari ketiaknya, maka aku minta dia untuk menunjukkan ketiaknya. Sejenak dia terdiam, mungkin dipikirnya, apakah ini harus atau tidak. Aku kembali menyadarkannya dengan memintanya kembali memperlihatkan ketiaknya.

Melihat tatapannya aku mengerti bahwa dia tidak tahu apa yang harus dikerjakannya untuk memenuhi permintaanku. Maka aku dengan cepat menuntunnya agar dia tidak bingung akan apa yang harus dilakukan. Dan aku katakan, naikkan saja baju kaosnya sehingga aku dapat memeriksa ketiaknya, dan aku katakan jangan malu, toh tidak ada siapapun di rumah. Perlahan diangkatnya baju kaosnya dan akupun bersorak gembira. Perlahan kulit putih mulusnya mulai terlihat, dan lalu dadanya yang cukup besar tertutup BH sempit pun mulai terlihat.

Penisku langsung membesar dan mengeras penuh. Setelah ketiaknya terlihat, akupun memberi perhatian, kudekatkan hidungku terlihat bulu ketiaknya cukup lebat. Setelah dekat aku hirup udara sekitar ketiak, baunya sangat merangsang, dan akupun semakin mendekatkan hidungku sehingga menyentuh bulu ketiaknya. Sedikit kaget, dia menjauh dan menurunkan bajunya. Lalu aku katakan bahwa dia harus memotong bulu ketiaknya jika ingin BBnya hilang. Dia mengangguk dan berjanji akan mencukurnya. Sejenak aku perhatikan wajahnya yang tampak beda, merah padam. Aku heran kenapa, setelah aku perhatikan seksama, matanya sesekali melirik ke arah penisku.

Ya ampun, handukku tersingkap dan penisku yang membesar dan memanjang, terpampang jelas di depan matanya. Pasti tersingkap sewaktu dia kaget tadi. Lalu kuminta Lia kembali mendekat, dan aku katakan bahwa ini wajar terjadi, karena aku sedang berdekatan dengan perempuan, apalagi sedang melihat yang berada di dalam bajunya. Dengan malu dia tertunduk. Lalu aku lanjutkan, entah pikiran dari mana, tiba-tiba aku memuji badannya, aku katakan bahwa badannya bagus dan putih. Aku juga mengatakan bahwa bibirnya bagus. Entah keberanian dari mana, aku bangun sambil memegang tangannya, dan memintanya berdiri berhadapan.

Sejenak kami berpandangan, dan aku mulai mendekatkan bibirku pada bibirnya. Kami berciuman cukup lama dan sangat merangsang. Aku perhatikan dia begitu bernafsu, mungkin sudah sejak tadi pagi dia terangsang. Tanganku yang sudah sejak tadi berada di dadanya, kuarahkan menuju tangannya, dan menariknya menuju sofa. Kutidurkan Lia dan menindihnya dari pinggul ke bawah, sementara tanganku berusaha membuka bajunya. Beberapa saat nampaknya kesadaran Lia bangkit dan melakukan perlawanan, sehingga kuhentikan sampai membuka bajunya, dan aku kembali mencium bibirnya hingga lama sekali.

Begitu Lia sudah kembali meracau, perlahan tangan yang sejak tadi kugunakan untuk meremas dadanya, kuarahkan ke belakang untuk membuka kaitan BH-nya. Hingga terpampanglah buah dadanya yang berukuran cukup besar dengan puting besar coklat muda. Lumatan mulutku pada buah dadanya membuatnya sudah benar-benar terangsang, sehingga dengan mudah tanganku menuju ke arah memeknya yang masih bercelana dalam, sedang tanganku yang satunya membawa tangannya untuk memegang penisku. Secara otomatis tangannya meremas dan mulai naik turun pada penisku. Sementara aku sibuk menaikkan roknya hingga celana dalamnya terlihat seluruhnya. Dan dengan menyibakkan celana dalamnya, memeknya yang basah dan sempit itupun sudah menjadi mainan bagi jari-jariku.

Namun tidak berapa lama, kurasakan pahanya menjepit tanganku, dan tangannya memegang tanganku agar tidak bergerak dan tidak meninggalkan memeknya. Kusadari Lia mengalami orgasme yang pertama. Setelah mereda, kupeluk erat badannya dan berusaha tetap merangsangnya, dan benar saja, beberapa saat kemudian, nampak dirinya sudah kembali bergairah, hanya saja kali ini lebih berani. Lia membuka celana dalamnya sendiri, lalu berusaha mencari dan memegang penisku. Sementara secara bergantian bibir dan buah dadanya aku kulum. Dan dengan tanganku, memeknya kuelus-elus lagi dari bulu-bulu halusnya, bibir memeknya, hingga ke dalam, dan daerah sekitar lubang pantatnya. Sensasinya pasti sungguh besar, sehingga tanpa sadar Lia menggelinjang-gelinjang keras.

Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, bibirku pindah menuju bibirnya, sementara penisku kudekatkan ke bibir memeknya, ku elus-elus sebentar, lalu aku mulai selipkan pada bibir memek pembantuku ini. Sudah seperti layaknya suami dan istri, kami seakan lupa dengan segalanya, Lia bahkan mengerang minta penisku segera masuk. Karena basahnya memek Lia, dengan mudah penisku masuk sedikit demi sedikit. Sebagai wanita yang baru pertama kali berhubungan badan, terasa sekali otot memek Lia menegang dan mempersulit penisku untuk masuk. Dengan membuka pahanya lebih lebar dan mendiamkan sejenak penisku, terasa Lia agak rileks.

Ketika itu, aku mulai memaju-mundurkan penisku walau hanya bagian kepalanya saja. Namun sedikit demi sedikit penisku masuk dan akhirnya seluruh batangku masuk ke dalam memeknya. Setelah aku diamkan sejenak, aku mulai bergerak keluar dan masuk, dan sempat kulihat cairan berwarna merah muda, tanda keperawanannya telah kudapatkan. Erangan nikmat kami berdua, terdengar sangat romantis saat itu. Lia belajar sangat cepat, dan memeknya terasa meremas-remas penisku dengan sangat lembut. Hingga belasan menit kami bersetubuh dengan gaya yang sama, karena ku pikir nanti saja mengajarkannya gaya lain.

Penisku sudan berdenyut-denyut tanda bahwa tak lama lagi aku akan ejakulasi. Aku tanyakan pada Lia, apakah dia juga sudah hampir orgasme. Lia mengangguk pelan sambil tersenyum. Dengan aba-aba dariku, aku mengajaknya untuk orgasme bersama. Lia semakin keras mengelinjang, hingga akhinya aku katakan kita keluar sama-sama. Beberapa saat kemudian aku rasakan air maniku muncrat dengan derasnya di dalam memeknya yang juga menegang karena orgasme.

Lia memeluk badanku dengan erat, lupa bahwa aku adalah majikannya, dan akupun melupakan bahwa Lia adalah pembantuku, aku memeluk dan menciumnya dengan erat. Dengan muka sedikit malu, Lia tetap tertidur di sampingku di sofa tersebut. Kuperhatikan dengan lega tidak ada penyesalan di wajahnya, tetapi kulihat kepuasan. Aku katakan padanya bahwa permainannya sungguh hebat, dan mengajaknya untuk mengulang jika dia mau, dan dijawab dengan anggukkan kecil dan senyum.

Sejak saat itu, kami sering melakukan jika istriku sedang tidak ada. Di kamar tidurku, kamar tidurnya, kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, dapur, garasi, bahkan dalam mobil. Lia ikut bersama kami hingga tahunan, hingga dia dipanggil oleh orang tuanya untuk dikimpoikan. Ia dan aku saling melepas dengan berat hati. Namun sekali waktu Lia datang ke rumahku untuk khusus bertemu denganku, setelah sebelumnya menelponku untuk janjian. Anak satu-satunyapun menurutnya adalah anakku, karena suaminya mandul. Tapi tidak ada yang pernah tahu.

TAMAT

Peace, Love, Unity & Respect 9:41 am

Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.

Suatu hari di sore hari Rida terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangannnn! Lepaskannn!”, Rida berusaha meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Rida mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.

Tubuh Rida memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak rambut Rida sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.
“Sret!”, Rida tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.
Menyusul branya ditarik dengan kasar. Rida benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh..!”, Rida merintih.
Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Rida dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Rida hanya mampu menangis tak berdaya.

Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Rida membuka mulutnya. Rida memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Rida.
“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Rida menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Rida dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Rida yang sudah basah.
Rida menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Rida sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu. Rida masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Rida berusaha meronta, tapi tak berdaya.

Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Rida lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Rida ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Rida gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Rida merasa akan muntah. Tapi Warto terus menekan hidung Rida hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Rida hingga bersih. Rida tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Rida. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Rida terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Rida menangis sesengggukan. Diman memakai celana dalam Rida untuk membersihkan sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Rida terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.

Rida ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Rida dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.
“Ayo Rida, kulum punyaku!”, Rida yang hanya mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh…, mmmhhh.., mhhh…”, Rida menangis tak berdaya.
Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
“Akkkghhh! Isep teruss…!, Ayooo”.
Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Rida. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Rida dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Rida bergiliran.

Tubuh Rida yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Rida ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Rida dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Rida.

Ketika telah selesai Rida telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Rida pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.
“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas…”.
Akhirnya muncul ide mereka yang lain.

Tubuh telanjang Rida diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Rida yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam. Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Rida disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Rida tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.

Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.
“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.
Rida berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Rida mulai dijadikan bulan-bulanan. Rida hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.

Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Rida bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.
“Ini kan teller di bank depan?”

Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Rida dengan berbagai posisi. Rida yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Rida tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Rida sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 9:39 am

sinopsis: Dengan dukungan Ferry, preman kompleks, Kim menghajar habis-habisan Donny yang telah menyetubuhi Maya pada saat Maya setengah sadar akibat Ineks. Penganiayaan ini menyulut bara dendam, dan ketika Kim tanpa perlindungan Ferry, Donny beserta orang-orang bayaran berencana memberikan pelajaran mengerikan kepada gadis manis ini.
Prolog :
Surabaya, 2000

Kim membuka matanya lebar-lebar, berusaha menahan kantuk yang mulai menyerangnya. Kepengapan ruang kerja ini sedikit merisaukannya. Aku harus segera pulang, pikirnya. Dibereskannya kertas-kertas kerja di mejanya, mengangkat cangkir kopi yang sudah kosong itu dan menaruhnya di samping pintu. Mematikan lampu dan bergegas menuju lift.

Lampu-lampu malam kota masih terlihat indah menjelang dini hari. Sopir taksi yang ditumpanginya menatap penuh rasa ingin tahu dari balik kaca spion penumpang. Kim tidak mengacuhkan pandangan itu, dan menikmati angin pagi segar yang masuk melewati celah jendela membelai ubun-ubunnya. Kim berusaha melupakan tumpukan pekerjaannya yang belum selesai.

Kim menghisap rokok di ujung bibirnya dalam-dalam, meresapi kelelahan yang mulai menusuk otot dan tulang di tubuhnya. Dalam kenikmatan asap rokok yang dirasakannya, benaknya melayang akan persimpangan alur kehidupannya yang terjadi empat tahun yang lalu, yang terasa begitu cepat dilaluinya. Saat-saat ia masih duduk di bangku kuliah, saat-saat bahagia bersama sahabat-sahabatnya, di sebuah rumah kontrakan kecil yang hanya ditempatinya seorang diri.

BAB I

Malang, 1996

“Ahk,” Kim mendesah lirih saat Han meremas payudaranya, bibirnya terbuka, mencuri sedikit udara saat lumatan pria itu mencapai bibir bawahnya.
“Aku menyukaimu, Kim.” Han berbisik di telinga gadis itu.
Kim memegang pundak Han dan mendorongnya menjauh. “Sayang,” cetusnya, “Tapi bukan seperti ini yang kuinginkan.”
Han tertawa. Lelaki itu mendekatkan lagi dadanya yang telanjang, tangannya terjulur dan menggapai payudara Kim yang masih meruncingkan bibirnya. “Masa..?”
“Hentikan, Han..!” Kim mendorong tubuh lelaki itu menjauh, bangkit berdiri dari sofa, memunguti pakaiannya dan mengenakannya.
“Kamu sebaiknya pulang sekarang.”
Han mendengus dan bangkit berdiri. “Kamu sulit juga, ya..?”
Kim tersenyum miring, “Kamu kurang pandai. Sayang sekali.”

Han mengenakan kausnya, menatap tubuh molek itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu sesuai dengan reputasimu.”
“Thanks.”
“Tantangannya juga.”
Kim tertawa, membalikkan tubuhnya, mendekati Han yang masih menatapnya. Kim mengangkat lengan lelaki itu, meletakkan tangannya di payudara kirinya dan berbisik, “Pulang, gih. Lain kali coba lebih perlahan, jangan terlalu agresif.”
Han mencoba mengecup bibir gadis itu, tapi Kim sudah beranjak ke arah pintu dan membukanya.
“Kim.”
“Apa lagi..?”
“Kalau kamu suatu hari nanti merindukan hubungan serius..”
“Iya, iya,” Kim mendorong tubuh lelaki itu keluar, “Aku tahu.”

Kim menutup pintu di depannya, kemudian menghampiri telepon yang mendadak berdering.
“Halo..?”
“Kim..?”
“Ah, Roy. Wazzup..?”
Suara di seberang memperdengarkan tawa renyah, “Sibuk..?”
“Ah, ngga juga. Kenapa..?”
“Jalan yuk..?”
Kim mendesah, merasakan pening di kepalanya.

“Lagi M, nih. Malas maksudnya.”
“Yah. Okelah, lain kali..?”
“Sure.”
Kim meletakkan gagang telepon itu, mengutuk kepada pening yang masih mengguncang kepalanya. Diayunkannya langkah kakinya menuju lemari ruang tamu. Alisnya berkerut ketika Neuralgin itu memasuki tenggorokannya. Kim menarik kerah bajunya, berdecak sebal saat melihat bekas gigitan itu di atas payudaranya.
“Lelaki sial.” geramnya.

BAB II

Maya memandang Kim yang masih sibuk menghabiskan jus jeruknya.
“Kim.”
Kim menolehkan kepalanya menatap sahabatnya. “Apa..?”
“Aku tadi malam melakukannya dengan Donny.”
Kim membelalakkan matanya, mengambil tissue dan mengusap sedikit air jeruk yang sempat menetes di sudut bibirnya, “Donny..?”
“Iya. Donny.”
Bibir bawah Maya mulai bergetar, bulir air mata mulai mencoba menembus kantung mata gadis itu. Kim menyodorkan kotak tissue di depannya.

“Bagaimana bisa..?” tanyanya dengan nada marah.
Maya mengusap air matanya yang mulai mengalir, “Ineks.”
Kim menggeleng-gelengkan kepalanya, menyalakan sebatang mild hijau yang terselip di bibirnya.
“Cih, sejak kapan kamu selemah ini..?” desisnya.
“Aku bukan kamu, Kim.” desah gadis di sebelahnya.
Kim terhenyak sesaat. Arogansi keberadaannya telah membuatnya begitu unggul di hadapan teman-temannya. Dan itu sangat disadarinya. Kim menghembuskan asap rokok dari sudut mulutnya, menatap ke arah kolam ikan di depannya.

“Lalu dia bagaimana..?”
Maya menghela nafasnya dalam-dalam, “Entahlah.”
“Kok ‘entahlah’..?”
“Katanya karena dasar suka sama suka…”
“Hei,” Kim memotong ucapan Maya, “Suka sama suka..?”
Maya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Kim menghisap rokoknya dalam-dalam, tubuhnya bergoyang-goyang menahan emosi yang meluap di dadanya.
“Ferry bisa menghabisinya sekarang.” geramnya.
“Jangan, Kim.” Maya memegangi lengan sahabatnya erat-erat.
Kim mengerang dan mengangkat kedua lengannya ke atas.
“Ya sudah, kalau itu maumu.”

Maya menjatuhkan kepalanya di bahu Kim dan membiarkan lengan Kim merangkulnya dan mengusap ubun-ubun kepalanya.
“Aku sayang Donny, Kim.”
“Aku tahu.” bisik Kim lirih.

Kim mengayunkan potongan kaki kursi itu dan menikmati darah yang mengucur dari sudut bibir lelaki di hadapannya.
“Bangsat..!” geramnya.
Lelaki lain yang memegangi lengan lelaki sebelumnya hanya tertawa menyaksikan keberingasan gadis di depannya, “Hajar saja, Kim.”
Kim mengerang penuh kemarahan dan menusukkan ujung kaki kursi itu ke lambung lelaki di hadapannya, membuat lelaki itu menjerit tertahan dan membungkukkan tubuhnya.
“Lepaskan dia, Fer.”
Ferry melepaskan tubuh yang segera tersungkur di tanah itu sambil tertawa sinis. Kim membungkuk, menjambak rambut lelaki itu dan berbisik di telinganya.
“Aku tak suka ineks, tapi aku sayang dengan sahabat-sahabatku.”

Lelaki itu hanya mengerang tak jelas. “Dan,” Kim meneruskan bisikannya, “Jika aku mendengar kau meninggalkan Maya, atau memberitahukan kejadian ini kepadanya…” Kim melemparkan kepala lelaki itu ke tanah, mengangkat tubuhnya dan melayangkan kakinya ke wajah lelaki itu.
Ferry menyaksikan semua itu sambil tertawa-tawa kecil. “Sudahlah, Kim. Dia pasti sudah sangat mengerti maksudmu.” ucapnya beberapa saat kemudian.
Ferry mengambil potongan kaki kursi itu dari genggaman Kim, merangkul pundak gadis itu yang masih berguncang dan menuntun gadis itu pergi. Kim meronta, melangkah dan menatap teman-teman lelaki yang terhajar itu dengan garang, “Kalian..!” umpatnya.

“Pengecut-pengecut..! Dengar..! Kalau kalian tidak terima, sekarang boleh maju..!”
Ferry tersenyum, “Kalian akan melangkahi aku dulu, tentunya.”
Kerumunan lelaki itu hanya terdiam dan menatap ke ujung kaki mereka masing-masing, gentar akan gertakan terakhir yang keluar dari preman kompleks bertubuh kekar di belakang si gadis. Kim meludah dan membiarkan lengan Ferry membawanya pergi.

“Bangsat-bangsat itu..!” Kim mendesis penuh kegeraman.
“Sudahlah, Kim.” Ferry berusaha menenangkan sahabatnya, “Mereka toh hanya melihat, lagipula si Donny sudah menerima pesanmu, kan..?”
Kim menghisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asapnya perlahan, menikmati kepulan yang membuyar di atasnya.
“Kim..”
“Yap..?”
“Bercinta, yuk.”
Kim menoleh, menatap senyuman yang tersungging di atas janggut lebat lelaki yang duduk di sebelahnya, “Jadi karena itu kamu mau membantuku..?”
Ferry menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Eh.. ehm…”

Kim tertawa melihat kegugupan lelaki itu, yang menjadi sangat berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Kim mengangkat lengannya dan menyisir rambut panjang Ferry dengan jemarinya, mengecup pipi lelaki itu, “Thanks.”
Ferry menatap tubuh gadis itu yang sudah beranjak dan mengenakan helmnya.
“Yah. Gagal lagi, deh.” gumamnya.

BAB III

“Kuadran hasil persamaan linier ini akan dapat diketahui…”
Kim berusaha keras mendengarkan ocehan bapak dosen yang terasa membosankan, lengan yang menyangga kepalanya mulai terasa pegal.
“Kim.” Maya berbisik memanggil-manggil sahabatnya dari belakang.
Kim menolehkan kepalanya dan terpejam saat gumpalan kertas itu mengenai keningnya. Matanya menatap ke arah lemparan itu, dan melihat Maya yang menutupi mulutnya dengan alis terangkat. Kim meraih gumpalan kertas itu, mengomel kecil dan membukanya.
“Thanks berat, Kim. Maya.” bacanya dalam hati.

Kim tersenyum dan menoleh ke arah Maya, mengacungkan jempolnya dan merasakan kelegaan yang merasuki hatinya saat Maya mengedipkan matanya.
“Mbak, tolong dijelaskan kepada teman-temannya.”
“Ups.” Kim menatap dosen yang mendadak sudah berada di sebelahnya.
Kim memasang senyum ‘tak berdosa’-nya yang mau tak mau membuat pak dosen sedikit merona dan akhirnya menolehkan wajahnya sambil mengomel panjang lebar, “Cantik-cantik bodoh, percuma saja.”
Dosen itu melangkah kembali ke depan ruangan, tidak sempat menyaksikan beberapa lengan yang memegangi gadis di belakangnya, yang sudah memasang kuda-kuda dengan sepatu sandal di tangannya.

“Aku yang akan membuatmu panas.”
Kim tertawa saat lelaki itu merangkulnya dan mengecupi lehernya, tangannya terangkat dan melingkari tengkuk si lelaki yang semakin liar menggerakkan kepalanya.
“Belum panas, tuh.” ucapnya sambil tertawa kecil.
Lelaki itu mengangkat baju Kim melewati kepalanya, meremas payudaranya yang membusung, menciumi kulit dadanya dengan bernafsu.
“Ayo, panas.” desah lelaki itu sambil sedikit terengah oleh nafsunya sendiri.
Kim meraih tali branya dan menariknya menuruni lengannya, membiarkan lelaki itu menikmati payudaranya yang telanjang, “Belum, juga.”

Lelaki itu mendengus, menciumi payudara gadis di dekapannya, melumat puting payudara dalam genggamannya, membuat Kim sedikit terengah dan menggelinjang. Kim membiarkan jemari lelaki itu membuka kancing dan retsleting celananya, menikmati jemari si lelaki yang menyusup dan mengusap-usap permukaan kemaluannya.
“Touch me.” desah si lelaki.
Kim mengulurkan lengannya, menarik celana si lelaki yang hanya terikat tali, dan merogohkan tangannya ke balik celana dalam si lelaki. Lelaki itu mendesah merasakan pijatan dan remasan tangan Kim pada batang penisnya. Lelaki itu mengangkat tubuhnya, menarik celana jeans berikut celana dalam si gadis dan membentangkan kedua kaki Kim di sisi tubuhnya.

Kim meronta dan menarik lengan si lelaki, menjatuhkannya ke atas tempat tidur, dan menindih penisnya dengan pinggulnya. Lelaki itu mendesah merasakan bibir kemaluan Kim yang menindih batang penisnya. Kim menggerakkan pinggulnya, menggesek batang penis lelaki di bawahnya, membiarkan cairan vaginanya membasuh penis lelaki itu dan membuat si lelaki mengeluh penuh kenikmatan.
“Kim..” Lelaki itu mulai menuntut yang lebih saat gerakan Kim semakin liar di atasnya.
Kim tertawa kecil, membungkukkan tubuhnya dan membiarkan lelaki itu mengecup ujung payudaranya, “Apa..?”
“Aku mau.”
“Aku tidak.”

Lelaki itu membuka matanya dan menunjukkan wajah protes, namun Kim segera mengangkat tubuhnya, meraih batang penis si lelaki dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Lelaki itu tak kuasa lagi menahan ejakulasinya saat Kim menghisap ujung penisnya. Kim tersenyum dan meludah ketika menyaksikan sperma lelaki itu menyembur dan membasahi kulit dadanya.
“Teganya kamu.” desis lelaki itu sambil menyeka peluhnya.
“Baru tahu..?” Kim tertawa kecil, tangannya masih menggenggam batang penis lelaki di sebelahnya yang mulai melemas.

BAB IV

Kerumunan orang itu menjadi ramai ketika Ferry dan Kim tiba.
“Woy, Boss datang.” Ferry melangkah turun dari macannya dan menebarkan senyumnya ke arah kerumunan orang itu.
Seorang lelaki kurus mendekatinya sambil berseru, “Gila nih, habis bercinta di mana..?”
Lelaki itu merasakan kepalanya terdorong maju dan tubuhnya limbung.
“Bercinta kepalamu.” Kim tertawa menyaksikan lelaki itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
Naryo tertawa juga melihat bibir Kim yang meruncing, “Kirain.”
Kim mendekatinya, dan Naryo kali ini berhasil menghindari ayunan lengan itu.

“Sudah, sudah.” Ferry tergelak melihat kekonyolan teman-temannya.
Kim mendekati Anya yang langsung memeluknya.
“Kim, si Donny kemarin garapanmu ya..?”
Kim hanya tersenyum, “Oh, bukan. Garapan si Ferry.”
Ferry menggerakkan lengannya menyapu udara.
“Kalau kalian saksikan cara Kim mengayunkan potongan kursi itu. Wah.”
Lima belas orang anak muda itu langsung tertawa berbarengan. Kemeriahan itu hanya ada bila Kim ada di antara mereka. Kalau hanya ada Ferry, mereka justru merasa sedikit seram dan kaku. Dan mereka tahu, hanya Kim yang mampu menjinakkan Boss mereka.

“Siapa tuh..?”
Ina menoleh ke arah lirikan Kim. “Oh, itu anak pindahan.”
Kim memandangi tubuh kurus lelaki berambut panjang itu dengan seksama.
“Katanya sih, dari Surabaya.” Anya membisiki kupingnya.
“Keren juga.” bisik Kim menunjukkan raut wajah tertarik.
“Kim, si Boss ngeliatin, tuh. Awas cemburu melambai.”
Kim menatap Ferry di kejauhan den menjulurkan lidahnya.
“Biar saja, emang gua pikirin.”
Ina tertawa. Anya menyikut rusuk Ina, ketika Kim bangkit berdiri dan mendekati lelaki itu.

“Bisa pinjam korek..?”
Lelaki itu menoleh, menatap gadis di belakangnya. Sejenak lelaki itu merasa rokoknya hampir terlepas dari bibirnya.
“A.. ada.” ucapnya tergagap-gagap.
Kim tersenyum saat lelaki itu menyalakan zippo-nya.
“Thanks.” ucapnya dan berlalu, meninggalkan si lelaki gondrong yang masih terpana seakan baru saja didatangi bidadari surga.
“Pin..? Hoi.”
Lelaki itu menoleh, melihat temannya yang nampak sedikit gugup.”Huh..?” ucapnya singkat, sebelum matanya menatap kembali ke arah bidadari barusan yang kini juga menatapnya bersama teman-temannya.

Sebuah lengan menepuk bahunya. Papin melihat sosok tinggi besar yang berdiri tersenyum di sebelahnya yang menunjuk ke arah zippo-nya yang masih menyala.
“Eh..?”
“Minta apinya.” orang itu berkata pelan.
Papin menyodorkan zippo-nya yang masih menyala.
“Jangan lupa ditutup. Nanti cafe-nya terbakar.” seloroh orang tinggi besar itu. Papin memandangi orang itu yang melangkah menuju ke arah bidadari tadi.
“Aku berusaha mengatakannya kepadamu.”
“Ah..? Apa..?” Papin menoleh ke arah temannya yang kini sudah mengeluarkan keringat dingin.
“Kenapa..?” tanyanya.

“Anak pindahan.”
Kim menatap berang ke arah Ferry yang sudah mengambil posisi bersila di sebelahnya, “Lalu, kok ada bau intimidasi..?”
Ferry memandangnya dan hanya tertawa. Ina dan Anya ikut tertawa geli menyaksikan Ferry dan kecemburuannya. Kim mengomel dan menusuki roti bakar di depannya dengan gerakan berulang-ulang. “Hanya informasi situasi.” Ferry berkata pendek di dekat telinga Kim dan beranjak kembali menuju teman-temannya di seberang.
Kim sempat melihat lelaki gondrong itu melirik dan tersenyum kepadanya, sebelum memalingkan wajahnya ketika Ferry melintas dengan sedikit menggeram. Ketiga cewek itu tertawa bersamaan melihat reaksi si lelaki gondrong yang terlihat gugup.

BAB V

Kim sedang menikmati lantunan musik melalui walkmannya ketika telpon di ruang tamu berdering.
“Hallo..?”
“Kintan..?”
“Yow. Siapa ini..?”
“Donny.”
Ah, si Donny. Ada apa lagi dengan anak ini, tanya Kim dalam hatinya.
“Aku ada di depan, bukain pintu. Aku ingin cerita sesuatu. Masalah Maya.”
“Oh. Baiklah.” Kim menutup gagang telepon, melangkah menuju pintu.

Tangan itu menutup mulutnya dan membantingnya ke sofa.
“Aduh,” Kim mengerang saat kepalanya menyerempat tembok, “Apa-apaan ini?”
Donny melihat ke arah gadis itu, matanya menyala-nyala penuh kebencian. Kim melihat beberapa orang lelaki lain berdiri di belakang Donny. Wajah-wajah itu tak pernah dilihatnya sebelumnya. Itu…

Salah serang lelaki melangkah mendekat, Kim mencoba berdiri dan menghindar, namun gerakan lelaki itu begitu cepat. Lelaki itu merangkul tubuhnya dan menindihnya di atas sofa, menduduki kaki Kim dengan berat tubuhnya. Donny berjongkok, mendekatkan bibirnya di wajah si gadis.
“Kamu tahu berapa cewek yang lenyap di Malang setiap minggu..?” desisnya.
Lelaki-lelaki di belakangnya dan tertawa ketika melihat raut wajah ketakutan yang memancar dari gadis itu.
“Kamu. Kamu mau apa..?” ucap Kim berusaha menenangkan hatinya.
Lelaki yang menduduki kakinya tertawa, “Memperkosamu, membunuhmu dan membuangmu ke balik semak-semak.”
Kim menjerit tertahan. Donny dan lelaki-lelaki lain di belakangnya tertawa-tawa saat menyaksikan tangan kekar lelaki yang menindih tubuh gadis itu bergerak dan memutus kancing baju si gadis, memperlihatkan tonjolan buah dada yang putih mulus tanpa cacat. Kim mengerang dan berusaha meronta ketika lengan lelaki di atasnya menarik branya dan membuat payudaranya menyembul keluar.

“Jangan..!”
Kim merasa sekujur tubuhnya melemas ketika tamparan lengan kekar itu mengenai pipinya. Kim merasa pandangannya menjadi nanar, ia hanya bisa mengeluh pelan ketika tangan si lelaki di atasnya menarik celana pendek yang dikenakannya dan meremas-remas kemaluannya. Donny dan empat orang lelaki lainnya menyaksikan dengan penuh gairah.
“Ji, jangan lama-lama.” salah seorang di antara mereka berseru.
Wiji tersenyum dan menggeram, mengeraskan pijatannya pada kemaluan gadis di bawahnya. Kim menjerit tertahan. Wiji menampar pipi si gadis sekali lagi, membuat kepala Kim terlempar ke samping.

Lelaki itu menarik celana dalam Kim melewati pahanya, kawan-kawannya berseru tertahan menyaksikan keindahan di depan mata mereka. Wiji mendecak kagum, menundukkan kepalanya dan menghisap puting payudara Kim dengan bernafsu, sementara tangannya merogoh dan menggesek liang vagina si gadis dengan jari tengahnya. Kim mengerang, kepalanya terasa pening. Seorang di antara gerombolan itu memegangi tangannya yang terangkat, menahannya dalam posisinya. Kim merasa sangat ketakutan di sela nanar matanya dan kepeningannya. Ketakutan yang wajar bagi seorang gadis yang akan mengalami kejadian yang lebih mengerikan daripada kematian sendiri. Kim mengeluh pasrah, rontaannya tidak membawa hasil. Donny menjulurkan lengannya dan meremas-remas payudara Kim dalam genggamannya. Wiji dan teman-temannya tertawa melihat geliat Kim saat Donny menundukkan kepalanya dan menjilat pusar si gadis. Kim merasa segalanya menjadi gelap.

“Ah, anak-anak Bungurasih ada di sini, rupanya. Kupikir tadinya hendak menyapa kalian begitu melihat sepeda motor plat L yang sangat kukenal di depan.”
Donny dan gerombolannya menoleh ke arah pintu, melihat seorang lelaki kurus yang bersandar di daun pintu dan menyalakan rokok di ujung bibirnya.
“Batak..?” Wiji terdengar berseru tertahan.
Donny menatap keempat temannya yang lain yang juga terbelalak menyaksikan sosok kurus itu.

Lelaki kurus itu membuka topi SOX-nya dan membiarkan rambutnya terjurai di sisi bahunya. Matanya menatap tajam ke arah keenam lelaki di depannya, dan mendengus saat melihat gadis yang terpejam di atas sofa.
“Batak, kan..?” Wiji mengangkat tubuhnya dan mendekati si lelaki kurus, mengulurkan tangannya.
Lelaki kurus itu hanya menghembuskan asap rokok dari ujung bibirnya, tidak menunjukkan reaksi atas jabatan tangan yang terjulur di depannya, “Wiji, Johan, Rawit, Kemang, Putut, dan…”
Lelaki kurus itu menujuk tiap orang yang ada di situ dengan lirikan matanya. Donny merasakan keheningan teman-temannya, “Aku Donny.”
“Ah, Donny. Dan kamu pasti anak Malang.”
“Benar.”

Lelaki kurus itu melangkah mendekati gadis yang masih tergolek tak berdaya di sofa. Tangannya terjulur, membetulkan letak baju si gadis. Donny memandang kebingungan ke arah teman-temannya yang hanya terdiam menyaksikan kejadian itu.
“Kamu siapa ?” tanyanya sedikit keras.
Wiji memegang pundaknya. Donny menoleh dan melihat Wiji menggelengkan kepalanya.
“Mereka memanggilku Batak.” lelaki itu mendesis tanpa menoleh.
Lelaki kurus itu bangkit berdiri, menatap Donny dengan matanya yang tajam.
“Berapa kamu membayar mereka..?”
Donny terhenyak merasakan tajamnya mata lelaki itu.
“Aku.. aku..”

Kepalanya terangkat dan tubuhnya terlempar menubruk dinding ketika telapak sepatu lelaki kurus itu menghantam rahangnya dengan gerakan di luar dugaan siapapun di ruangan itu.
“Aku tak suka ini.” lelaki kurus itu menghela nafas.
Wiji dan teman-temannya hanya menatap diam ketika pandangan lelaki kurus itu menyapu perasaan kagum mereka akan gerakan si lelaki kurus saat mengangkat kakinya lurus di atas kepalanya.

“Tak… ini.. kami..” Rawit bergumam lewat giginya yang tonggos.
“Bawa anak ingusan itu pergi dari sini.”
Kelima orang itu hanya terdiam mendengar perintah itu. Mereka ragu-ragu.
“Ji, kamu masih ingat rasanya patah kaki..?” lelaki itu mendesis.
Wiji, yang agaknya kepala rombongan itu mengeluarkan keringat dingin dari pelipisnya. Kepalanya bergerak ke samping. Keempat lelaki lainnya tergopoh-gopoh mengangkat tubuh Donny yang mengucurkan darah dari mulutnya.
“Aku tak ingin berita ini keluar dari ruangan ini.” seru si lelaki kurus.

Lelaki kurus itu menunggu sampai gerombolan orang itu pergi, menutup pintu dan menghela nafasnya dalam-dalam.
“Bahkan di sini kegelapan belum melepaskanku.” desisnya lirih.
Lelaki itu membalikkan tubuhnya, menatap si gadis yang masih tergolek lemah, lelaki itu merasakan ketakutan dari bahu si gadis yang sedikit bergetar dan alis matanya yang berkerut. Lelaki itu menarik taplak meja, menutupi bagian tubuh si gadis yang terbuka, melangkah ke pintu, mengunci pintu itu dari luar dan melemparkan kuncinya ke dalam lewat celah jendela, berikut selembar kertas yang terlipat.

“Bidadari yang bodoh,” senyumnya sebelum memasang lagi topi SOX-nya dan meninggalkan tempat itu.

BAB VI

Ina memeluk tubuh Kim dan berusaha menenangkan sahabatnya. Anya membaca lipatan surat itu, menghela nafasnya dalam-dalam.
“Kim,” ucapnya, “Bagaimanapun kalau Ferry tahu…”
Kim mengangkat kepalanya, membiarkan lengan Ina menghapus air mata yang mengalir di pipinya, “Jangan. Kasihan Maya.”
“Maya lagi. Maya lagi.” Ina mengomel di sebelahnya, “Kamu lihat kan apa yang dilakukan Donny kepadamu..? Masih juga memikirkan Maya..?”
Kim terdiam, pikirannya terasa kacau.
“Ya sudahlah,” Anya berkata, “Kalau memang maumu seperti itu.”

Ina menatap lembaran kertas di tangan Anya yang bertuliskan ‘JANGAN’ itu dengan seksama.
“Siapa ya orang yang menolongmu..?”
Kim mencoba mengingat apa yang terjadi, namun semuanya terasa samar.
“Batak,” desisnya lirih, “Namanya Batak.”
“Batak,,?” Anya bertanya bingung.

Ina bangkit berdiri, membukakan pintu. Anya menahan tubuh Kim yang berusaha bangkit dari atas sofa.
“Ada apa lagi, Bangsat..?” Ina mendesis sambil menatap wajah lelaki di depannya.
Donny hanya menunduk, tidak berani melangkahkan kakinya masuk. Kim melihat Anya menganggukkan kepalanya.
“Masuklah, Don.” ucapnya lirih tanpa menoleh.
Ina membiarkan Donny melangkah masuk. Donny langsung menjatuhkan dirinya dan berlutut di atas kedua lutunya.
“Aku mohon maaf.”
Ketiga gadis itu menatap bingung.

“Kami juga.”
Kim menoleh ke arah pintu. Anya dapat merasakan getaran di bahu sahabatnya. Lima orang yang barusan datang langsung masuk tanpa basa-basi, berlutut dan mengucapkan ‘maaf’ berbarengan. Ketiga gadis itu semakin heran. Kim lebih dahulu menyadari apa yang terjadi. Gadis itu tersenyum, membingungkan kedua sahabatnya.

“Baik. Aku maafkan kalian. Lain kali, aku akan membunuh kalian atas perbuatan kalian.” ucap Kim tegas.
Keenam lelaki itu menganggukkan kepala mereka dan keluar dengan masih merangkak di atas lutut-lutut mereka. Anya dan Ina menatap dengan penuh keheranan, sementara Kim hanya tersenyum penuh arti. Begitu orang terakhir keluar, Kim mendadak bangkit dan mengeluarkan kepalanya dari jendela. Kim sempat melihat bayangan sosok lelaki kurus berambut panjang itu mengangkat topinya di kejauhan dan membungkukkan tubuhnya seperti bangsawan abad pertengahan. Kim tersenyum, melambai dan berseru, “Terima kasih, Batak..!”

Sosok lelaki kurus di kejauhan itu menyalakan mesin sepeda motor di sebelahnya dan berlalu, diikuti keenam lelaki sebelumnya.
“Siapa sih dia..?” Ina bertanya di samping sahabatnya.
“Iya, siapa sih..?” Anya menimpali.
Kim tersenyum dan mendesah.
“Pahlawanku.”
Ina dan Anya saling menatap dengan bingung.

Surabaya, 2000

“Berhenti sebentar, Pak.”
Sopir taksi itu memandang dari spion penumpang dengan penuh rasa ingin tahu. Kim tidak mengacuhkan pandangan sopir itu, membuka pintu mobil dan melangkah turun. Nasi pecel, itu yang terbersit di benaknya saat itu. Bapak-bapak berpakaian lusuh itu menghentikan perbincangan mereka saat Kim membungkukkan tubuhnya memasuki tenda warung yang terlihat rapuh itu. Ibu penjual nasi pecel yang masih sibuk memasang sanggul rambutnya ikut-ikutan menghentikan kegiatannya dan memandang penuh perhatian.

“Bu, nasi pecel, dibungkus, dua..”
“Eh…” ibu itu terlihat sedikit gugup.
“Bu, nasi pecel..” Kim menahan tawanya.
Seorang bapak dengan tersenyum berkata, “Jeng, `dang digawekno, mosok wong tuku dikon ngenteni.” (Jeng=sapaan; cepat dibuatkan, masa orang beli disuruh menunggu)
Ibu penjual nasi itu tergopoh-gopoh bangkit berdiri melupakan sanggulnya yang belum terpasang, dan langsung menyiapkan pesanan Kim. Melihat tingkah si ibu penjual yang kocak, Kim tak sanggup menahan tawanya, dan mendengar tawa Kim yang lepas, bapak-bapak yang sedang menikmati kopi panas mereka itu tak tertahan ikut pula tertawa.
“Boleh saya duduk di sini..?”

Bapak-bapak itu bergeser dan mempersilahkan Kim duduk, sebagian dari mereka memandang dengan penuh rasa kagum ke arah Kim. Wajar saja, di saat-saat jurang kesenjangan sosial sudah sedemikian dalamnya ditambah dengan kerusuhan di mana-mana, jarang ada orang dengan penampilan exclusive yang masih memberanikan diri untuk membeli makanan di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Dan sekarang, Kim, seorang perempuan, melakukannya.
“Dari mana, Dik.” Seorang bapak memberanikan diri bertanya.
“Ah, sekedar menghabiskan waktu, Pak.” Kim menjawab sopan.
“Cewek warungan nih, hahaha…” salah seorang bapak yang lain berseloroh.

Kim melirikkan matanya tajam, membuat si bapak yang berseloroh barusan terkesiap, dan buru-buru memalingkan wajah, menyeduh kopinya untuk meredam perasaan terkesiapnya. Kim tersenyum, mendinginkan suasana yang mendadak `garing’.
“Bukan warungan, Pak. Jalanan.” canda Kim.
Bapak-bapak itu tertawa bersamaan merasakan keakraban yang mendadak timbul antara mereka dan wanita itu. Ibu penjual nasi tersenyum melihat suasana yang mendadak hangat, menyelesaikan melipat bungkusan di tangannya, dan menyerahkan pesanan Kim.

“Monggo, Bapak-bapak,” Kim berkata tersenyum sebelum melangkah keluar, dibalas dengan anggukan dan senyuman dari bapak-bapak di warung itu.
“Arang ono bocah wedok koyo ngono iku.” (Jarang ada anak perempuan seperti itu.) Kim masih mendengar desahan ibu penjual warung sebelum melangkah masuk ke dalam Taksi.

BAB VII

Malang, 1996

“Pin..!”
Papin menoleh dan melihat Iwan berlari kecil menghampirinya.
“Apa..?”
“Jalan yow,” Iwan memegang pundak Papin dan menatap dengan pandangan memohon.
Papin tertawa, “Jalan kemana, Man..?”
“Ke sini aja, sambil nyari kopi.” Iwan menunjuk ke arah plaza di sebelah kampus mereka yang terlihat di kejauhan.
“Nyari kopi saja kesana..? Ke warung saja, deh.” Papin memiringkan bibirnya tanda tidak setuju.
“Ayolah, kan ujian sudah kelar. Paling tidak `happy-happy’ sedikit.”
“Okay, deh.” Papin menyalakan mesin sepeda motornya.

“Bagaimana ujian kamu..?”
“Kacau.” Papin menyalakan rokok di ujung mulutnya..
“Hahaha, seperti di Surabaya..?”
“Sangat mirip.”
Iwan tertawa. Matanya memandang ke arah orang-orang yang lalu-lalang.
“Pin.”
“Yo.”
“Kamu nggak nyari pacar di sini..?”
Papin tersenyum pahit, “Boro-boro pacar, cewek yang mau pendekatan sama aku saja belum tentu ada.”
“Coba kamu potong rambut, lalu berpakaian sedikit necis…”
“Percuma…” Papin melambaikan tangannya menyapu angin.
“Aku ingin pacarku menyukai aku apa adanya…”

BAB VIII

Sehari sebelumnya.

“Kintan, nanti siang papa dan mama ke sana.”
“Duh, jangan sekarang, Ma.”
“Kenapa..?”
Kim memandangi tubuh-tubuh yang bergeletakan di ruang tamu.
“Eh, teman Kintan ada yang ulang tahun nanti siang.”
“Oh, begitu.”
Sebuah tangan memeluknya dari belakang, meraba perutnya dan merambat ke payudaranya. “Bentar, Ma.”
Kim menutup gagang telpon dan menggerakkan kakinya ke belakang, menendang dengkul Ferry yang segera menjauh sambil terpincang-pincang.
“Ma..?”
“Ya..? Ada siapa di sana..?”
“TV, Ma,” Kim beralasan sambil lalu, “Kintan mau mandi, mau ke kampus.”
“Baiklah, nanti kalau tidak jadi ke pesta, telpon ke rumah.”
“Siap, Ma.”

“Yow, bangun kalian..!”
Kim menggerakkan kakinya menendangi tubuh-tubuh yang bergeletakan di atas lantai ruang tamu. Beberapa dari mereka terbangun, mengomel dan mengusap pantat mereka yang tertendang. Kim tertawa melihat tingkah mereka, dan menuju ke kamarnya.

“Aduh, yang dua ini,” Kim menghela nafas, “Hey, bangun..!”
Ina mengeluh dan membuka matanya, “Jam berapa sekarang..?”
“Jam setengah dua belas,” Kim membuka lemari dan mengambil sepotong baju.
Ina mendudukkan tubuhnya, menyingkirkan lengan Andi beberapa saat yang lalu masih menempel di dadanya. Andi merasakan pergerakan gadis itu dan ikut membuka matanya.
“Loh, aku di mana..?” gumam Andi tak jelas.
Ina membungkukkan tubuhnya, mengecup bibir Andi dan bangkit dari atas tempat tidur. Kim melemparkan sepotong pakaian lain ke arah Ina, yang langsung mengenakannya.

“Bangun, Di. Sudah siang. Katanya kamu ujian jam satu..?” Kim berkata sambil memalingkan wajahnya, ketika Andi membalikkan tubuhnya yang tertelungkup di atas tempat tidur.
“Masa..?” Andi terkejut dan segera bangkit, memunguti pakaiannya di lantai. Ina membantu kekasihnya berpakaian.
Kim mengeleng-gelengkan kepalanya melihat mereka berdua, dan melangkah keluar kamar menuju ke kamar mandi.
“Ikut, Say.” Ferry mendadak muncul di belakangnya.
“Nanti sabunkan punggungku, okay..?”
“Hore,” Ferry bersorak, membukakan pintu kamar mandi dan mendorong Naryo yang masih sibuk menutup retsleting celananya keluar.

“Kim, aku senang kamu kembali seperti biasa.”
“Memangnya aku kenapa..?”
Ferry mengusapkan sabun di tangannya ke punggung putih gadis di depannya.
“Beberapa hari terakhir kamu terlihat sedikit murung.”
“Masa..?”
“Iya.” Ferry mengangkat gayung dan membasuh punggung Kim dengan air.
“Ah, aku tidak merasa demikian.”
Ferry tersenyum mendengar kebohongan Kim, “Sudah.”
Kim berdiri dan membuang rambutnya ke belakang, “Thanks.”

“Lalu..?”
“Lalu apa..?” Kim mengambil air dengan gayung dan menyiramkannya ke tubuhnya.
“Hanya menyabuni saja..?” protes Ferry dari belakang.
“Dasar,” gerutu Kim, “Sini..!” Kim meletakkan gayung di tangannya ke pinggir bak mandi dan membalikkan tubuhnya.
Gadis itu melingkarkan lengannya di leher Ferry dan menempelkan dadanya yang basah ke dada telanjang lelaki itu. Ferry mendesah dan mengecup bibir gadis di hadapannya. Kim mengangkat paha kanannya dan menurunkan pinggulnya menduduki kemaluan lelaki itu, menjepitnya di lipatan pahanya. Ferry mendesah dan menekan pinggulnya ke atas.

Kim mengecup bibir Ferry dan melumatnya dengan penuh nafsu, membuat Ferry terengah dan menggerakkan pinggulnya, menggesekkan kemaluannya ke bibir kemaluan Kim. Ferry menekan tubuh Kim, mendorongnya hingga bersandar ke dinding, Kim mendesah dan mengetatkan rangkulannya pada tengkuk Ferry, mengangkat kedua kakinya dan melingkarkannya di pinggang lelaki itu. Ferry menahan bobot tubuh Kim dengan pahanya, menggerakkan pinggulnya menggesek dan menekan kemaluan gadis itu berulang-ulang.

“Fer…” Kim terengah.
Ferry memandang wajah gadis di dekapannya yang masih basah oleh air, “Ya..?”

Kim mendadak tersenyum dan menurunkan kaki kanannya, “Sakit, bego.”
Ferry tertawa kecil, “Lalu..?” Pinggulnya menekan sedikit lebih keras. Kim mengaduh dan menundukkan kepalanya, mengigit hidung lelaki itu.
“Aduh,” Ferry mengerang dan melepaskan pelukannya.
Kim tertawa, membiarkan Ferry yang sibuk memegangi hidungnya. Gadis itu mengambil gayung di pinggir bak, memasukkannya ke dalam air dan menyiramkannya ke tubuh Ferry yang masih memegangi hidungnya.
“Mandi, Say. Biar segar.” Ferry mengumpat kalang kabut.
“Tegaaa..”

Kim mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Ferry memeluknya dari belakang dan mencium tengkuk gadis itu. “Kim.”
“Ya..?”
“Apa sih sebenarnya aku bagimu..?”
Kim tersenyum, membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir lelaki itu.
“Sahabat yang aku sayangi.”
Ferry mendesah nafasnya dalam-dalam, “Terserah kamu, deh.”
Kim menangkap nada kekecewaan itu dalam nada suara Ferry.
“Tunggu.”

Ferry melihat Kim mengambil gayung sekali lagi, dan menyiramkan sisa air dalam gayung itu ke lubang kunci di pintu kamar mandi. Terdengar suara seseorang memaki-maki dan beberapa langkah kaki yang tergesa-gesa menjauh. Ferry mengenakan handuknya dan membuka pintu, melihat Andi yang masih menatap rokok basah di tangannya.
“Padahal tinggal sebatang,” ratapnya.
Kim tertawa-tawa kecil dan melangkah keluar.

BAB IX

Jojo terlempar, tendangan yang mengenai rusuk kirinya begitu keras. Lelaki itu hampir bisa merasakan setiap tulang rusuknya yang berderak patah. Matanya menatap nanar ke arah orang yang menendangnya.
“Bangsat.”
Lelaki berambut panjang itu mendekati Jojo dan mengayunkan kakinya sekali lagi ke tubuh yang mesih tertelungkup itu. Jojo merasakan nyeri di tulang pipinya, pandangannya sedikit gelap sekarang. Ia dapat mendengar lelaki itu tertawa sinis saat menjambak rambutnya.

“Dengar, Tikus,” lelaki itu mendesis di telinganya, “Dewi fortuna takkan menghampirimu saat ini. Bersyukurlah aku masih mengasihani nyawa tikusmu.”
Lelaki itu menghantamkan kepala korbannya ke aspal.
Dari sudut matanya Jojo masih sempat menyaksikan beberapa pasang kaki itu melangkah menjauh sebelum gelap menyelimuti otaknya.

Ardi memainkan senar gitarnya dengan lincah mengikuti suara radio.
“Di, katanya minta kopi.”
Ardi menatap Inge yang berdiri di depan pagar sambil membawa secangkir kopi.
“Wah, aku sampai lupa.” Lelaki itu berdiri dan menghampiri gadis yang masih meruncingkan bibirnya. “Ayo, masuk dulu.”
“Katanya minta kopi, akhirnya aku juga yang mesti repot membawanya ke sini,” gadis itu mengomel panjang lebar.
“Kan sekalian saja.”

Ardi memeluk tubuh Inge dari belakang, meletakkan telapak tangannya di buah dada si gadis. Inge menggeliat dan kopi itu nyaris tumpah dari tangannya.
“Hei..! Nanti dilihat orang,” Inge berseru.
Ardi tertawa. mengambil kopi itu dari tangan Inge dan meletakkannya di atas meja kecil di teras.
“Lagi main lagu apa, Di..?”
“Biasa, Sweet Child o’ Mine, buat inagurasi adik kelas besok.”
“Keren,” Inge berkata sambil mengambil gitar yang tergeletak di teras, mencoba bergaya seperti gitaris kenamaan dan memetik beberapa senar dengan jemarinya yang lentik.

Ardi tersenyum mendengar suara sumbang itu, menghampiri Inge dan berbisik di telinga gadis itu, “Sana, pulang. Masih banyak pelanggan yang menunggu cewek manis.”
Inge meruncingkan bibirnya, “Jadi kamu tidak..?”
Lelaki itu tertawa dan tangannya bergerak cepat mencubit payudara si gadis.
“Nanti malam saja.”
“Dasar.”

“Di….”
Ardi menolehkan kepalanya, beberapa orang pemuda memasuki pekarangan dengan terburu-buru.
“Ada apa..?”
“Gawat, Di,” salah seorang dari mereka berkata. Ardi menoleh sejenak ke arah Inge yang memandang bertanya-tanya.
“Inge, kamu pergi, sana.” Inge mengangguk dan melangkah ke luar.
“Jadi..?”
“Jojo dibantai orang.”
Ardi terkesiap, “Di mana dia sekarang..?”
“Di Syaiful Anwar.”

Tanpa banyak omong Ardi bergegas mengambil jaketnya di ruang tamu, menyusupkan samurai pendek itu ke lipatan celananya dan mengajak teman-temannya segera berangkat. Selama perjalanan ia menjadi sedikit bingung menghadapi inagurasi besok, karena Jojo adalah vokalis grup band-nya. Jika Jojo cidera, siapa yang akan menggantikannya..?

Ardi menatap Jojo yang telentang di atas tempat tidur UGD dan menggelengkan kepalanya. Wajah lelaki itu terlihat penuh lebam, beberapa lilitan perban melingkari dada dan perutnya.
“Siapa, Jo.”
Jojo menatap dengan sayu, kesadarannya belum pulih benar.
“Sepertinya anak Dinoyo, berambut panjang, kurus,” desahnya lirih.
“Kamu pasti..?”
“Entahlah,” Jojo mengerenyitkan alisnya, “Yang penting dia tahu kalau aku anak band, dan orang Surabaya. Argghh..”
Ardi memanggil perawat yang segera datang dan menyibukkan dirinya menenangkan Jojo yang mulai mengerang kesakitan. Ardi memandang dengan iba ke arah temannya, nyaris bisa merasakan kenyerian tulang rusuk Jojo yang patah.

Ardi melangkah keluar menghampiri teman-temannya, “Ayo berangkat.”
“Kemana, Di.”
“Ferry, dia pasti tahu.”
Teman-temannya saling berpandangan dengan hati berdebar-debar mendengar nama itu. Mereka tahu sifat emosional Ardi yang terkadang membuatnya begitu impulsif, tapi Ferry..? Setelah sekian lamanya mereka bergencatan senjata..? Ini gila.

BAB X

“Ferry..! Balikin..!” Anya berteriak-teriak, menimbulkan sedikit kegaduhan di warung nasi pecel itu.
Ferry tertawa lebar dan mengangkat foto itu tinggi-tinggi, “Hahaha, ternyata kamu ada `mata’ dengan anak dosen itu, ya..?”
Teman-temannya yang lain tertawa melihat gerakan Anya yang menggapai-gapai foto di genggaman lelaki tinggi besar itu.
“Fer.”
Ferry membalikkan tubuhnya, melihat Naryo dan beberapa temannya sudah berdiri dan melangkah keluar dari warung. Ferry mengembalikan foto itu kepada Anya, dan menyusul keluar.

“Ada apa..?”
“Siapa yang keluar ke kota sekitar pukul tujuh tadi..?”
Ferry melangkah mendekati lawan bicaranya.
“Yang sopan, Mas. Jangan langsung main serobot.”
Lelaki itu bergerak turun dari sepeda motornya, mendekai Ferry dan menatap wajahnya lekat-lekat.
“Aku bertanya, Fer.”
Ferry menatap tajam ke mata Ardi dan menggeram.
“Aku bilang, yang sopan kalau bertanya,” desisnya.

Ardi menggerakkan lengannya mencengkeram kerah baju lelaki itu, Ferry menepis dengan sikutnya. Beberapa orang yang mengelilingi mereka terlihat bersiap-siap memasang kuda-kuda. Para pemilik warung bergegas menyembunyikan piring, gelas, serta barang pecah belah lainnya.
“Tenang saja, Bu,” gadis yang masih asik menghabiskan nasi pecelnya itu berkata, “Tidak mungkin di sini, kok.”
Ibu penjaga warung itu menggaruk-garuk kepalanya sambil mendesah lega. Bagaimanapun, perkataan gadis ini selalu bisa dipercaya, pikirnya. Ferry menatap dengan garang ke arah lelaki di hadapannya.
“Kalau ada kenapa..? Ada masalah..?”
Yang diajak bicara menggeram dan mendesis, “Selesaikan seperti dulu.”
“Man on man..?”
“Sure.”

“Kamu tidak ikut kan, Kim..?” Anya mendesah ragu.
“Kenapa tidak,” sahut Kim, menyerahkan lembar dua puluh ribuan kepada ibu penjaga warung, “Kembalinya besok saja, Bu.”

“Jangan dekat-dekat, Kim. Aku takut.”
Kim membatalkan niatnya untuk mendekat, mengambil tempat di samping Anya yang segera memegang lengannya kuat-kuat.
“Tunggu. Sebenarnya ini masalah apa..?”
Ardi menatap lelaki itu dan tersenyum penuh arti.
“Ini dulu. Yang lain belakangan.”
Ferry tertawa dan melepaskan jaketnya, “Tentu saja.”

Suasana konstruksi bangunan itu semakin mencekam. Kegelapan malam menimbulkan kesan tersendiri yang menemani hati orang-orang yang berdegup kencang melihat kedua ketua gerombolan itu bersiap mengambil kuda-kuda.

“Aku rindu kamu, Fer.” Ardi berseru sambil mengayunkan lengannya.
Ferry membungkuk dan menggerakkan lengan kirinya, menusuk perut Ardi dengan buku-buku jemarinya. Ardi menggeram dan menarik kembali sikutnya, membuat kepala Ferry terlempar.
“Bagus,” Ferry berseru menjatuhkan dirinya sambil menendang dengan kaki kanannya, Ardi terhuyung ke belakang.
Ferry melompat mendekat dan melemparkan tinju kanannya yang segera ditangkis oleh ayunan lengan musuhnya. Ardi mengayunkan lengan kanannya dan menghantam rahang musuhnya yang segera terdorong beberapa langkah ke samping.
“Kurang cepat..!” teriaknya.

Ferry tersenyum pahit dan menggulingkan tubuhnya, menghindari tendangan ke arah perutnya.
“Masa..?” tawanya.
Tangannya memegang kaki musuhnya yang baru menjejak tanah dan mengangkatnya ke atas. Ardi merasa kepalanya sedikit pening ketika mencium tanah di bawahnya.
“Hahaha..” Ferry tertawa melihat gelagat musuhnya yang bergulingan memegangi kepalanya, kakinya terangkat siap menjejak.
Ardi mendadak berguling dan mengayunkan kakinya ke arah kemaluan Ferry.
“Aduh, curang.” Ferry terjatuh memegangi kemaluannya yang tertendang.
Seketika, kerumunan orang itu bergerak berbarengan.

“Sudah..!”
Anya terhenyak mendengar teriakan sahabatnya.
Kim berlari ke tengah kerumunan sambil membentangkan tangannya lebar-lebar.
“Lagi-lagi Kim.” Ardi memegangi kepalanya yang masih sedikit pening. Ferry tertawa dalam kenyeriannya.
Kerumunan orang itu sejenak merasa lucu melihat kedua orang yang terduduk di atas tanah sambil tertawa-tawa. Kim meletakkan kedua tangannya di pinggang dan memandangi kedua lelaki itu bergantian.
“Hihi.. kalian terlihat konyol. Apa tidak malu..?”
Beberapa saat kemudian gadis itu tertawa. Semua orang ikut tertawa mendengar selorohan Kim.Suasana tegang mendadak berubah renyah.

“Jadi ada apa sebenarnya..?”
Ardi menempelkan tissue itu ke kepalanya, berusaha menghentikan aliran darah yang masih tersisa. “Ada yang memukuli Jojo, tadi, sekitar pukul tujuh.”"Ah..?” Ferry cukup mengenal Jojo, angkatan adik kelasnya dari Surabaya. Seingatnya, anak itu tak pernah mencari masalah, “Lalu..?”
“Entahlah.”
“Maksud kamu..?”
“Jojo merasa pernah melihat anak itu berkeliaran di seputar Dinoyo.”
“Oh..?” Ferry terkesiap, “Bagaimana ciri-cirinya..?”
“Rambut panjang, kurus, dan menurut Jojo, kemungkinan juga seorang dari Surabaya.”
“Surabaya..?” Kim mendesah lirih.

Ferry dan Ardi memandang heran atas reaksi Kim yang sedang memegangi botol Betadine di sebelah mereka. Namun mereka tidak terlalu mengacuhkannya.
“Dari mana ia tahu kalau orang itu anak Surabaya..?”
“Katanya, si gondrong itu sempat berkata `sejak dulu aku selalu ingin memukuli kamu’, dan semacam itulah.”
Ferry menganggukkan kepalanya, “Berarti cerita lama, dong..?”
“Mungkin. Dan Jojo baru masuk ke sini setahun. Berarti orang itu memang memburunya.”

“Tunggu,” seseorang berkata, “Kalau gondrong, kurus, anak pindahan…”
Ferry dan Ardi menoleh ke arah Anya. Kim memandang dengan penuh perhatian, hatinya berdebar. Mungkinkah….

BAB XI

“Papin..!”
Papin menoleh dan melihat seseorang menghampirinya dengan tertawa. Iwan merasa gerah memandangi orang yang barusan datang bersama teman-temannya. Papin mengerenyitkan alisnya. Orang yang baru datang itu mengatakan sesuatu kepada teman-temannya, sebelum meninggalkan mereka dan mengambil tempat duduk di samping Papin.
“Papin. Ternyata,” orang itu tertawa menampakkan giginya yang kehitaman, “Aku ngga mengira ketemu kamu disini.”
“Hehehe,” Papin tertawa masam, “Oh, kenalkan, ini Iwan.”
Iwan mendengar suara gemerincing dari gelang besi di pergelangan tangan lelaki itu saat menjabat tangannya, “Dodon, kenalkan.”

“Sudah berapa lama, Pin..?”
Papin tersenyum, “Hehehe, sekitar enam bulan.”
Dodon ikut tertawa, “Aku sudah mengira kamu bakalan nyusul aku ke Malang.”
Iwan yang tidak mengerti bahan pembicaraan memilih diam dan menghabiskan kopinya sambil memandangi orang yang berlalu lalang di depannya.
“Pin, sejak keja…”
“Don, kamu ngapain aja selama ini..?” Papin memotong pembicaraan.
Dodon tertawa dan melirik ke arah Iwan yang menatap ke seberang. “Biasa, pengangguran.”
Papin tersenyum dan mematikan rokoknya di dalam asbak. “Sama sekali tidak berubah.”
Dodon tergelak. “Dan kamu..?”
“Yah, beginilah. Masih berusaha melupakan.”
Dodon tersenyum, menyalakan rokoknya, “Si Kembar.”
“Yang terpisah.” Papin melanjutkan, dan mereka berdua tertawa.

“Pin, cabut yuk.” Iwan memecah pembicaraan.
Papin merasa lega dalam hatinya, “Ayo. Don, kami balik dulu.”
“Oke, aku juga mau persiapan perayaan.”
“Oh, perayaan apa..?”
“Biasa, tadi malam baru `pesta’.”
Papin tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Kamu tetap berangasan seperti dulu.”

“Oh, jadi orang itu yang lebih dulu menyenggol sepeda motormu..?”
Jojo mengangguk lemah mengiyakan. “Berarti ia memang sengaja.”
Ferry meraba janggutnya, mecoba memikirkan apa yang harus dilakukannya.
“Kamu yakin pernah melihat dia di daerahku..?”
Ardi memegangi pundak Ferry, “Jojo bukan seorang pembohong.”
Ferry mendesah, “Baiklah. Aku akan coba mencarinya.”

Sebelum melangkah pergi, Ferry mendadak teringat sesuatu.
“Jo, kata orang itu dia sudah lama ingin memukuli kamu, berarti dia juga dari Surabaya. Apa kamu pernah punya masalah waktu di sana..?”
Ardi menatap ke arah Jojo, menyadari kebenaran asumsi Ferry. Jojo membuka matanya sedikit.
“Aku jadi ragu-ragu.” Ferry mendesah saat melangkah keluar.
“Kenapa, Fer..?” tanya Ardi ingin tahu.
“Entahlah. Aku tahu ada seorang anak pindahan di daerahku yang mungkin sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan si Jojo. Hanya saja…”
“Kenapa..?”
“Sepertinya anak itu bukan seorang preman. Malah cenderung seperti cacing kurus berambut panjang.”
“Apa salahnya dicoba dulu..?”
Ferry mengiyakan.
“Ayo kita cari dia.”

BAB XII

“Menurut kamu kelanjutannya bagaimana..?”
Kim mengangkat bahunya, “Entahlah, itu urusan mereka.”
Anya membantu Kim memisahkan kaset-kaset di depan mereka.
“Eh, Kim. Bagaimana kabar pahlawanmu..?”
Kim menjambak rambut Anya yang tersenyum menggoda.
“Idih, iseng. Mana aku tahu..?”
Anya menggeliat dan menyenggol rak kaset. Beberapa kaset terjatuh dan mengeluarkan suara nyaring.
“Ups.” Kim bergegas membereskan kaset yang berserakan sebelum pemilik toko menghampiri.
“Gara-gara kamu, Kim,” omel Anya sambil membantu.

“Mas, awas kakinya.”
Orang itu menoleh dan dengan gerakan kocak melompat ke samping. Kim tertawa melihat gerakan kaki itu dan mengangkat kepalanya.
“Kamu..?”
Papin membungkukkan tubuhnya, memungut kaset di depan kakinya.
“Maaf, aku tidak sengaja berdiri di sini,” katanya kemudian sambil menggaruk ubun-ubunnya.
Gerakannya terlihat begitu konyol. Kim tersenyum.
“Oh, tidak apa-apa,” Kim berusaha menyingkirkan bayangan seseorang yang samar-samar di ingatannya. Tidak mungkin.
“Makanya, kalau jalan lihat-lihat.” Anya yang mendadak muncul berkata sinis.
“Iya, deh. Sori.” Papin tergagap-gagap.
“Pin, sudah ketemu kasetnya ?” Iwan melangkah dari rak kaset.
“Sudah.”
“Pin..?” Kim bertanya menggumam.
“Aku Papin.” Papin menjulurkan tangannya.
“Kim. Ini Anya.” Anya meruncingkan bibirnya.
Papin tersenyum, “Ini…”
“Iwan, anak manajemen ‘94,” Kim menyahut.
Iwan mengeluarkan keringat dingin di pelipisnya, “Oh..i..iya.” Mau tak mau kedua gadis itu tertawa melihat tingkah gugup Iwan.

Papin memandang dengan heran, “Kenapa, Wan..?”
“Tidak apa-apa,” Iwan berkata cepat, “Ayo, Pin.”
Papin bangkit berdiri dan membersihkan tangannya di celananya.
“Buru-buru, nih.” tanya Kim setelah bangkit berdiri.
“Iya. Kami cuma mencari kaset.” Papin berkata sambil menunjukkan sebuah kaset.
“Oh, okelah. Eh, Papin, kamu anak pindahan dari Surabaya, kan..?”
Papin memiringkan kepalanya, “Kamu kok tahu..? Kenapa..?”
“Ada kenalan yang bernama `Batak’ tidak..?”

Papin memandang langit-langit toko, berfikir sejenak.
“Hmm.. perasaan Surabaya itu luas, dan banyak orang bataknya.”
Kim tertawa melihat gaya sok serius itu, “Iya deh. Pulang sana, nanti temanmu pulang disuruh mandi, ya.”
Iwan menunduk dan mengusap-usap punggung lehernya. Papin tertawa, “Hahaha, baiklah. Sampai jumpa.”
Kim mengangguk dan tersenyum, melihat Papin yang sejenak terpana, sebelum lelaki itu melangkah pergi bersama temannya.
“Kamu kok jadi sok akrab begitu, Kim..?”
Kim mendesah dalam. “Pandangan matanya…”
“Kenapa dengan matanya..?”
“Entahlah.”
Kim tak mungkin menceritakan pada temannya tentang perasaan hatinya yang bergetar saat menyadari sorotan tajam yang begitu dalam dan teduh dari mata lelaki itu. Sebuah pancaran kekelaman penderitaan yang nyaris tak pernah ditemuinya selain pada saat-saat dimana ia bercermin di depan kaca.

“Hey tunggu, apa-apaan ini.”
Lelaki kurus itu memegangi pantatnya yang sakit setelah mencium aspal. Matanya memandang ke sekelilingnya. Gelap, nyaris tak ada cahaya di tempat itu. Sosok-sosok tubuh mendekatinya, si lelaki kurus terkesiap dan bangkit berdiri. sempat melirik sepeda motornya yang terguling setelah ditendang tadi.
“Tunggu.” Sebuah seruan terdengar dari balik kerumunan orang itu.
Kerumunan itu membuka jalan. Dua orang mendekatinya, lelaki kurus itu menyipitkan matanya berusaha memastikan sosok-sosok yang menghampirinya.
“Kamu..? Kamu yang waktu itu..?”
“Benar,” Ferry mengiyakan, “Temanku di sini ingin menanyakan sesuatu.”
“Oh,” Lelaki itu menatap sosok di sebelah Ferry, “Silahkan saja.”
Ardi menatap wajah kurus itu dalam-dalam, berusaha mengira dan mengukur.
“Aku mau bertanya,” desisnya lirih, “Mampukah kau menerima ini..?”
Tangannya terayun.

Lelaki kurus itu menerima pukulan di rahangnya dengan telak, “Arrghh…” Buku-buku jemarinya terkepal. Matanya terasa berkunang-kunang.
Ferry tersenyum, menggelengkan kepalanya dan menghisap rokoknya.
“Bukan dia, Di.”
Ardi mengusap buku jarinya yang sedikit kesemutan, “Kurasa juga demikian.”
“Ayo, kita pergi. Kita ke tempat Jojo, mungkin ada yang terlewat.”
Ardi mengiyakan dan naik ke atas sepeda motor.
Si lelaki kurus memandang dengan bingung. namun ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Kerumunan lelaki itu menyalakan sepeda motor mereka masing-masing.

“Oh, ya.” Ferry membalikkan tubuhnya.
Tubuhnya membungkuk dan mengambil sebutir kerikil.
“Hey, kurus. Nih.” tangannya melemparkan batu kerikil itu ke arah kepala si lelaki kurus.
Lelaki itu memiringkan kepalanya sedikit dan batu kerikil itu menyibakkan rambut panjang yang tergerai di pundaknya. Ferry tersenyum, menarik gas sepeda motornya dan berlalu.
“Sialan,” Ardi mengeluarkan keringat dingin sebelum memutar sepeda motornya dan menyusul Ferry.

“Siapa dia sebenarnya..?”
Ferry merasakan angin malam menenangkan bulu tengkuknya.
“Aku merasa pernah mengenalnya dulu. Dulu sekali…”
“Dulu..?” Ardi terhenyak, teringat akan masa-masa SMA mereka.
“Apa mungkin..?”
“Mungkin saja. Tapi bukan dia yang memukul Jojo.”
“Kalau benar itu dia, memang tidak mungkin.”

BAB XIII

Lelaki itu menyibakkan rambut panjangnya, membiarkan bibir gadis di atasnya menelusuri lehernya. Mulutnya menyunggingkan senyuman, tangannya bergerak meremas pinggul si gadis. Pinggulnya terangkat, menekan kemaluannya semakin dalam. Gadis itu menggeliat dan mengeluh, menikmati batang kemaluan si lelaki memenuhi liang vaginanya. lelaki itu bergerak semakin liar, membanting si gadis hingga terlentang, menciumi payudara si gadis yang semakin terengah. Jemari gadis itu menjambak rambut panjang si lelaki dengan kasar, menekan kepala si lelaki kedadanya. Lelaki itu mengangkat tubuhnya dan menampar pipi si gadis yang hanya tersenyum. Dalam tawanya lelaki itu menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Gadis itu mengerang penuh kenikmatan.

Dodon mengerang, mengejang dan menyemburkan spermanya ke liang kemaluan gadis di bawahnya. Gadis itu mengangkat kakinya tinggi-tinggi, melingkarkannya ke pinggang lelaki di atasnya dan menekan pinggulnya kuat-kuat.
“Sial.” Dodon mengumpat dan melompat dari tubuh si gadis saat mendadak pintu terbuka dengan suara keras.
Si gadis menjerit dan menutupi tubuhnya dengan seprei.

“Oh, kamu. Ada apa..?” ucap Dodon menenangkan dirinya.
Lelaki yang mendobrak pintu kamar itu menarik turun topi SOX-nya dan mendesis, “Kamu sebaiknya segera pulang ke Surabaya.”
Dodon menyempatkan diri untuk duduk di pinggir tempat tidur dan menyalakan rokok yang sudah terselip di bibirnya, “Kenapa aku harus pulang..?”
Gadis telanjang itu berlari kecil menuju kamar mandi.
“Mereka mencarimu karena ulahmu.”
Dodon bangkit berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki bertopi itu.
“Hey,” desisnya, “Lagipula ini semua gara-gara kamu.”

Lelaki bertopi itu menatap mata Dodon dalam-dalam.
“Gara-gara aku..?”
Dodon membalikkan tubuhnya, melemparkan rokok di mulutnya ke lantai dengan penuh amarah, “Seandainya waktu itu kamu mengijinkanku menghabisinya di Surabaya, dendam ini takkan merembet sampai ke wilayah orang. Kamu sendiri seharusnya sadar itu..!”
Kata-kata itu menusuk, membuat si lelaki bertopi mengangkat kepalanya.
“Pulang, Don. Entah apapun alasannya. Kamu berbahaya kalau terus di sini, aku mengingatkanmu sebagai seorang teman lama.”
“Seandainya aku tidak pulang..?”
Lelaki itu melangkah mendekat, geraman kecil terdengar dari bibirnya.
“Aku akan memulangkanmu.”
Matanya tajam dan menusuk.

Suasana sejenak hening. Dodon merasakan bulu kuduknya meremang.
“Kamu serius, Tak..?” desisnya lirih.
“Menurut kamu..?”

BAB XIV

“Lalu..?” Kim mendengar dengan penuh perhatian.
“Entahlah,” Ina menghabiskan jus apelnya, “Kudengar seseorang meninggalkan seamplop uang di meja rumah sakit, beserta surat pernyataan maaf untuk Jojo.”
“Masa tidak ada yang melihatnya..?”
“Itu masalahnya, katanya sih ada anak gondrong bertopi yang berkeliaran sebelum amplop itu ada di atas meja.”
Kim menenangkan debaran jantungnya.
“Jadi mungkin benar itu dia.”

Ferry mendesah nafasnya dalam-dalam. Ardi menggelengkan kepalanya, bersyukur bahwa kemarin orang itu tidak membalas pukulannya.
“Kamu sangat beruntung, kalau itu memang dia.”
“Ya, benar. Aku masih beruntung.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan..?”
“Kembali seperti biasa..? Lagipula si pemukul sudah pergi dari sini.”
“Lalu..? Apakah kita tidak memburu si pemukul lewat dia..?”
“Lupakan saja. Jojo kan sudah menerima uang rumah sakit.”
“Tapi… masa segitu saja..?”
“Kamu mau cari masalah lagi..? Aku tidak, itu yang jelas. Kamu tahu kan akibatnya kalau mencari masalah dengan orang itu..? Seandainya itu benar dia.”

Ardi mengeluh. Mimpi buruk itu kembali menghantui dirinya, menindas perasaan sebal tentang inagurasi yang toh akhirnya terpaksa berlangsung tanpa keikutsertaannya.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 9:37 am

Namaku Aldino, warga keturunan WNI Cina, aku mempunyai orang tua yang kaya raya, sehingga selepas kuliah aku langsung mendapat warisan salah satu perusahaan ayahku, apalagi aku anak tunggal. Pada umur 25 tahun, aku menikah dengan Nunik, adik kelasku di SMA yang sangat cantik. Waktu itu umur Nunik baru 22 tahun. Sebenarnya orang tuaku menentang pernikahan kami, karena dia anak orang miskin. Tetapi karena aku mencintainya, akhirnya mereka terpaksa menerima. Selama 5 tahun, keluargaku hidup bahagia tetapi kami belum juga dikaruniai anak. Hingga suatu saat, ayahku sakit dan aku dipanggilnya.
“Aldi, ayah sudah tua tapi ada satu hal yang membuat ayah merasa kalau hidup ini belum lengkap. Ayah mengharapkan punya cucu dari kamu, kapan kamu punya anak? Cobalah periksa ke dokter, kalau memang isteri kamu mandul, ceraikan saja, kamu menikah lagi, toh kamu masih muda.” kata ayahku.

Setelah hari itu, aku bersama isteriku ke dokter. Hasilnya bukan isteriku yang mandul, tetapi mungkin justru aku yang mandul. Hari-hari kulalui dengan merenung, tekanan dari orang tua terus kuterima. Mereka masih beranggapan isteriku pembawa sial dan mandul, padahal aku sangat mencintai isteriku.

Pada suatu hari, aku bertemu Joni Hasan, teman akrabku sewaktu di SMA yang keturunan Arab. Penampilannya masih belum berubah, rambut keriting, kulit hitam dan selalu memakai kaca mata. Pertemuan itu sedikit menghiburku, karena aku bisa curhat dan konsultasi kepadanya.
“Wah, nasibmu memang Kurang beruntung, walau kamu kaya tapi kurang bahagia, aku saja sudah punya 3 anak, dan yang besar sudah kelas 2 SD.” katanya.

Setelah pertemuan dengan temanku itu, aku kembali bertemu ayah.
“Al, aku sudah punya pilihan buat calon isterimu. Watik, anaknya mang Husni, akan kukimpoikan dengan kamu kalau sampai 6 bulan ini kamu ngga ada tanda-tanda punya anak.” ancam ayahku.
Malamnya pikiranku sangat kacau, isteriku hanya pasrah kalau memang dia harus dicerai, saat lagi stres aku dan isteriku nonton VCD porno. Siapa tahu ada teknik yang baru, pikirku. Ceritanya tentang orang yang punya hutang dibayar dengan tubuh isterinya. Tiba-tiba aku punya ide, aku ingin bantuan orang lain menghamili isteriku. Yang ada dalam benakku saat itu adalah Joni. Lalu kuutarakan pada isteriku.
“Gila, kamu mas, mending ceraikan aku saja.” kata isteriku.

Aku tetap berusaha, hingga akhirnya aku mendapatkan akal dan kurundingkan dengan Joni. Kesannya memang setengah perkosaan. Hari itu aku menelpon Joni agar datang jam 8 malam ke rumahku saat aku tidak ada. Joni kuminta menggantikan peranku sebagai suami dari isteriku. Jam 7 malam, setelah makan, aku memberi minum kepada isteriku yang sudah kuberi obat perangsang. Setelah itu, biasanya aku mencumbunya dan kami siap untuk bermain cinta. Akhirnya, setelah setengah jam pemanasan, isteriku nampak terangsang berat dan tidak dapat mengendalikan birahinya. Dari bawah dasternya, kumasukkan tanganku ke dalam celana dalamnya yang sudah sangat basah.

“Ouuhhh, teruuus mas.” isteriku terus mengerang.
Buah dadanya yang tanpa BH terasa semakin membulat di dadaku. Tanganku yang satu meremas buah dadanya.
“Aaah… enghhh… yaaahh… masukkan saja kontolmu mas, aku ngga tahan..”
Lalu kubuka dasternya. Tubuh isteriku memang indah sekali, tinggi 165 cm, kulit putih mulus dan wajahnya mirip Dina Lorenza. Penampilannya sangat menggairahkan, siapa pun pasti tidak menolak saat disuguhi tubuh yang montok ini.

Saat kupelorotkan celana dalamnya, tiba-tiba ada telpon yang memang sudah masuk dalam skenarioku, karena Joni kusuruh menelpon kalau sudah sampai di depan rumahku. Kepada isteriku aku membuat alasan seolah-olah ayahku menelpon dan aku disuruh ke rumahnya malam ini. Tampak sekali wajah yang kecewa pada wajah manis isteriku. Sebelum kutinggalkan isteriku, aku sempat melihat isteriku bermain sendiri dengan tangannya, lalu aku keluar dan bertemu Joni di luar.
“Kamu masuk saja, nanti alasan nyari aku, udah ya, aku nunggu di luar dulu.” pesanku pada Joni.
Lalu Joni mengetuk pintu. Setelah itu tampak isteriku membukakan pintu. Isteriku keluar dengan memakai daster tipis yang dari luar terlihat belum sempat memakai pakain dalamnya.

“Aku mau ada janjian dengan suamimu malam ini.” kata Joni.
“Dia pergi ke rumah bapak. Ngga tahu pulang jam berapa, biasanya cuman satu jam, rumahnya dekat kok.” kata isteriku.
“Kalau gitu, aku nunggu di sini saja, ya?”
“Yahh… silakan duduk! Mau minum?”
“Boleh,” kata Joni dengan matanya terus mengawasi buah dada isteriku yang naik turun dan memperlihatkan dua titik hitam menerawang di balik daster putih tipisnya.
Setelah membuat minum, isteriku keluar lagi dan menemani Joni mengobrol.

“Wajah Kamu kelihatan memerah dan berkeringat, kamu sakit ya?” tanya Joni basa-basi, padahal isteriku baru saja horny.
“Ahh, ngga, tadi baru saja olah raga.” kata isteriku berbohong.
“Nunik, kamu kelihatan cantik lho, kalau penampilan kamu gini.”
“Kamu, bisa aja, isteri teman di rayu.”
“Benar lho, bahkan ngga cuman cantik, tapi juga seksi dan jujur saja saat ini aku terangsang sama kamu.” kata Joni to the point (langsung pada inti permasalahan).
“Kamu jangan macem-macem yah, nanti suamiku datang bisa berabe!”
Lalu Joni duduk di sebelah Nunik. Nunik agak menggeser duduknya. Dari balik jendela luar, aku terus mengintip dan mengawasi gerak-gerik mereka.

“Nik kita ada waktu satu jam, ngga ada siapa-siapa di rumah ini selain kita berdua, boleh dong aku menikmati tubuhmu?” Joni terus merayu.
“Ingat Jon, aku isteri sahabatmu, kalau kamu lancang, aku teriak lho!” tapi Nunik kelihatan berdebar saat Joni meremas tangannya.
“Santai saja sayang, kamu kan belum pernah merasakan kontol Arab. Kau lihat punyaku ini!”
Memang Joni sudah membuka restlutingnya dan kepala kejantanannya berusaha keluar. Isteriku sempat tertegun. Dalam hati pasti dia mengukur. Wah, paling tidak panjangnya 18 cm. Dengan tidak sabar, Joni memagut bibir isteriku dan tangannya terus meremas buah dada isteriku. Isteriku berusaha meronta tetapi tenaga Joni lebih kuat.

“Jangan Jon, aku isteri yang setia.” kata isteriku.
Lalu saat tangannya berhasil lepas, dia menampar muka Joni. Joni semakin beringas, dia lalu menarik tubuh isteriku dan dimasukkannya ke dalam kamar. Kemudian pintu kamar ditutup dan dikunci. Aku pun kemudian pindah mengintip dari lubang ventiasi jendela kamar. Dari luar kulihat Joni menanggalkan semua pakainnya dan batang kemaluan hitam yang panjang dan besar itu mulai berdiri dan memang lebih panjang dari punyaku.
“Sekarang kamu boleh teriak karena ngga ada yang dengar.”
“Kumohon, jangan Jon, pergilah!”
Lalu dengan kasar, Joni merobek kancing daster istriku dan terbukalah buah dadanya yang kuning ranum dengan rakus diremas dan putingnya dipilin. Tampak istriku memejamkan mata, dia berusaha menolak tetapi rangsangan obat yang kuberikan masih mempengaruhinya, karena dosisnya memang kuberikan dobel.

“Ouuuhhh, jangan Jon, lepaskan aku…” erangan isteriku kelihatan berubah, “Aaah, tidak…”
Lalu Joni menarik daster istriku ke bawah, maka kelihatan isteriku dan Joni sama-sama bugil.Tangan Joni segera merayap ke selangkangan Nunik. Ditusuknya kemaluan isteriku dengan jarinya yang sekali-kali diremas dan ditusuk-tusukkan.
“Aaahhh, ouuu, Jon,” tampak mulut isteriku terus mendesah dan merintih menikmati rangsangan yang diberikan Joni.
Sekarang tidak ada perlawanan lagi, bahkan justru tangan isteriku segera menangkap batang kemaluan Joni dan diremasnya.
Tanpa sadar isteriku membisik, “Ouuuh, Jon, puaskan aku…”
Lalu Joni menghentikan aksi tangannya. Isteriku dibaringkannya di kasur, kakinya yang berjuntai di lantai dibuka lebar, nampak liang kemaluan isteriku yang merah kecoklatan berkilat karena banyaknya cairan yang keluar.

Dengan tanggap, Joni menjilati kemaluan isteriku di daerah clirotisnya. Dijilatinya terus dengan penuh nafsu.
“Enghhh, yaakkk terus sayaaang, ouh, ahhh, puaskan aku,” isteriku terus merintih semakin lama rintihannya semakin keras, aku sampai jelas mendengarnya dari luar.
“Aaahhh, Jooooon, cukup, tusuk aku dengan punyamu sayang, pinta Nunik.”
Aku sendiri sudah mengocok kemaluanku. Lalu Joni segera berdiri dan meletakkan rudalnya yang hitam dan panjang itu di depan liang kemaluan isteriku, lalu ditusukkan ke bawah.

“Ouugh… pelan aja sayang, punya kamu besar sekali!”
Lalu dimasukkannya lagi lebih dalam, isteriku seperti kesakitan, Joni tidak menyerah lalu ditusuknya lebih dalam dan akhirnya masuk semua.
Isteriku terus merintih, “Aaauuuh… aaahhh, ouuhhh.”
Pantat isteriku ditariknya ke atas dengan tanganya di bawah pinggul isteriku. Lalu dipompanya liang surga istriku dengan batang kejantanannya. Gerakan naik turun itu berlangsung lama sekali. Aku melihat isteriku mengelinjang hebat, sebelumnya belum pernah seperti itu denganku.
“Aaah… enghhh… aaah… aku mau keluar, uuuh sayang,” didekapnya pinggul Joni ke bawah.
Kakinya mengejang, ternyata isteriku mengalami orgasme terlebih dulu, padahal Joni belum apa-apa.
“Gimana, kamu puas, Nik?” tanya Joni, dan isteriku hanya tersenyum.
“Mau kan kamu ganti memuaskan aku? Aku pingin kamu nungging.”
Joni segera mencabut burungnya yang panjang. Lalu dengan gaya nungging mereka melakukannya lagi.

“Clop… clop…” bunyi dari liang nikmat Nunik yang digenjot rudal Joni.
Terlihat benda panjang hitam itu keluar masuk di tengah bongkahan pantat isteriku yang putih, aku semakin terangsang melihat pemandangan itu. Saat rudal Joni ditarik keluar, bibir liang vagina isteriku ikut merekah keluar. Dan kebalikannya, saat ditusuk ke dalam, bibir liang nikmat Nunik ikut merejut ke dalam. Irama kenikmatan tersebut diiringi oleh tangan Joni dengan terus meremas buah dada isteriku yang bergoyang-goyang. Sungguh pemandangan yang merangsang sekali.

“Ahhh, ahhh, ahhh, ouuuhh, oughh, ahhh…” isteriku terus merintih penuh rangsangan, hingga akhirnya terdengar jeritan kecilnya sambil menahan pantat Joni ke depan dengan tangannya, “Auuuhh…”
Bersamaan dengan itu, Joni juga mendesakkan kemaluannya ke depan dan ditahan, keduanya mengejang.
“Seeerrr…” cairan mani Nunik mengalir dengan derasnya, terasa oleh Joni bersamaan itu, “Crott, crottt, crott…” mani Joni juga muncrat ke dalam vagina isteriku.
Nampak keduanya orgasme bersamaan. Lalu Joni melepas kejantanannya dan istirahat di samping isteriku.
“Jon, makasih yaaa, aku puas sekali, tapi tolong rahasiakan ini yahhh!” pinta isteriku.
“Boleh aja, asal aku boleh minta lagi nanti.”
“Terserah kamu, asal kamu bisa mengatur waktu dan merahasiakan pada suamiku dan keluarganya,” kata isteriku.
Aku yang mendengar hanya tersenyum karena sandiwara yang kubuat ternyata berhasil.

Sejak kejadian malam itu, hubunganku dengan isteriku semakin bergairah, aku malah terobsebsi saat isteriku disetubuhi laki-laki lain. Dan memang akhirnya, Nunik mengaku malam itu Joni datang memperkosa dirinya.
Lalu kutanya, “Apa kamu sampai orgasme?”
Dengan malu-malu dia mengangguk.
“Ya udah, dulu kan aku udah minta, tapi kamu menolak, kalau memang dengan Joni kamu bisa memuaskan hasratmu, sekarang juga kamu boleh telpon Joni agar malam ini bisa ngentot sama kamu.” kataku.
“Tapi mas, kamu ngga cemburu nanti?” tanya Nunik.
“Nunik sayang, aku cinta kamu, kalau memang itu membuat kamu bahagia, aku akan ikut bahagia.” aku terus meyakinkan isteriku.
Lalu dia menelpon Joni.

“Boleh, aja Nik, tapi boleh ngga aku bawa teman? Karena setelah mendengar ceritaku, dia penasaran, mau ikut menikmati tubuhmu yang montok.” tanya Joni.
“Mas, kata Joni dia akan bawa teman satu, mau ngentot bertiga, boleh ngga?” tanya Nunik.
“Terserah kamu Nik, yang penting kamu puas.” kataku.
“Halo Jon, suamiku setuju kamu bawa teman, ya udah sampai nanti malaam ya..!”
Lalu telpon ditutup isteriku. Dan Malam itu jam 19:15, Joni datang membawa teman yang kurus dan tinggi seperti orang Ambon.
“Kenalkan, ini temanku Alex dari Ambon. Dia baru saja diceraikan sama isterinya gara-gara maen sama mertuanya sendiri.” kata Joni.
“Wah, kamu jangan buka rahasia teman dong,” sergah Alex.

Lalu kami berempat tertawa. Setelah berbasa-basi, lalu aku mempersilakan kedua tamuku langsung masuk ke kamar, dan diikuti isteriku yang dari tadi sudah salah tingkah. Dengan sengaja pintu tidak ditutup, jadi aku leluasa melihat dari ruang tamu. Tampak Joni dan Alex berebutan menelanjangi isteriku. Nunik hanya diam saja, pasrah dengan apa yang diperbuat mereka, tampak tubuhnya berkeringat karena gugup. Kemudian, Joni dan Alex juga menanggalkan pakaian mereka sendiri. Setelah isteriku telanjang bulat, Joni meremasi kedua buah dada Nunik, terkadang dikenyot puting susunya. Sedangkan Alex berjongkok, tangannya beraksi di lubang surga isteriku, dirojohnya lubang itu dengan jari-jarinya, dan berlanjut terus hingga clitnya digosok-gosok sampai memerah, lalu bergantian dijilati dengan lidahnya.

“Ougghhh, ahhh…” isteriku terus merintih menahan nafsunya yang dari tadi ditahannya.
Sungguh pemandangan yang mempesona, saat melihat isteriku disetubuhi dua pejantan yang ukuran batang kemaluannya lebih panjang dari aku. Memang Alex mempunyai ukuran panjang batang kemaluannya 16 cm tetapi diameternya lebih besar dari pada batang kemaluannya Joni yang panjangnya 18 cm, sedang punyaku hanya 13 cm.

Tampak kemaluan isteriku semakin basah akibat rangsangan yang diterimanya. Akhirnya pertahanannya bobol juga, isteriku mengejang tidak kuat berdiri. Dia mencengkeram punggung Joni, setelah itu ambruk di kasur. Banyak sekali cairan mani yang keluar dari liang kenikmatannya. Aksi berikutnya, isteriku yang sudah telentang di kasur, tampak pasrah menerima rangsangan dari kedua laki-laki itu. Pelan-pelan Alex membentangkan kedua kaki isteriku, lalu rudalnya ditempelkan di permukaan lubang nikmat isteriku. Setelah tepat, lalu diterobosnya halangan menuju kenikmatan tersebut. Dan memang agak sulit sedikit. Sedikit demi sedikit, benda panjang hitam itu mulai membenam dan masuk ke dalam kemaluan isteriku.

“Ouughhh…” isteriku melenguh panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, mulutnya terus mendesis, “Ssshhh… uhhh… oouuuhhh…”
Lalu Alex bergerak maju mundur memompakan rudal besarnya ke dalam liang senggama Nunik yang sudah pasrah. Sementara itu, Joni menyodorkan kemaluannya di depan muka Nunik. Dengan gemas tangan Nunik menyambutnya dan pelan-pelan dijilatinya seperti permen Loli.
“Ouuugghhh…” Joni melenguh.
Tanpa disuruh, Nunik memasukkan batang kejantanan Joni ke dalam mulutnya dan Joni menggerakkannya maju mundur, terlihat kontras sekali mulut atas dan mulut bawah isteriku dimasuki batang kemaluan Joni dan Alex. Suara Ranjangku berdecit-decit saat ketiga makhluk yang sudah dipenuhi nafsu tersebut memperagakan aksinya.
“Ciiittt, kreeekkk…”

Alex semakin lama semakin mempercepat gerakannya.
“Aahhh, Uhhhgg…” lalu dia mengejang, akhirnya dia orgasme duluan.
“Creeettt… creettt… crettt…” air maninya segera memenuhi rahim isteriku.
Setelah itu batang kejantanannya dicabut, dia ambruk di samping istriku.
“Jon… aku belum… puaaaas…” rintih isteriku.
Lalu Joni mengambil bantal dan diganjalkan di bawah pantat isteriku, maka clirotis isteriku nampak merekah keluar. Sementara banyak sekali cairan yang sudah menetes dari kemaluannya. Tidak lama benda ajaib Arab itu segera menusuk liangnya Nunik. Kemaluan yang sudah basah dan lembab itu segera dipenuhi rudal Joni. Lalu gerakan naik turun Joni membuat isteriku menggelinjang-gelinjang. Dia mengimbanginya dengan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, kadang diputarnya. Sungguh mereka mengejar kenikmatan masing-masing.

“Ouhhh, ssshhh, aaagghhh, kau hebaaaat… Joon..” desah isteriku, “terus… ooohh… emhhh…” isteriku terus merancu.
Kakinya digapitkan di pinggang Joni, dan akhirnya isteriku mengejang.
“Joooon, aku mauuu, ouuuhhh…” tembus juga akhirnya pertahanannya dan, “seeerrr… seeerrr…” maninya banyak yang keluar, dia mendekap erat tubuh Joni.
Kemudian disusul Joni yang mendekap erat tubuh isteriku, dia mencapai klimaksnya.
“Aaaahhh…” maninya muncrat ke dalam rahim isteriku.

Malam itu mereka bermain lama sekali secara bergantian keduanya menyetubuhi isteriku hingga jam 08.00 pagi, dan lalu mereka pulang. Semenjak itu, kalau isteriku lagi mood, kubiarkan dia menelpon Joni atau alex. Pembaca, 4 bulan kemudian, oleh dokter, isteriku dinyatakan positif hamil dan orang tuaku mendengarnya dengan gembira. Kabar baik tersebut mengubah rencana, tidak jadi menikahkan aku dengan Watik.
Di dalam hati, saya hanya berpikir, “Mungkin inilah yang disebut dengan original sin.”

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 9:35 am

Hari itu, sekitar jam tiga sore aku bersama sepupuku, Ellen baru saja sampai di rumahnya setelah jalan-jalan di mall. Setengah jam kami disana nonton VCD sampai pacarnya yang bernama Winston datang. Memang sih hari itu aku bermain ke sini agar bisa sekalian sorenya mengambil mobilku yang sedang di service rutin di sebuah bengkel di daerah Jakarta Timur yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah Ellen. Pas sekali saat itu Winston datang untuk nge-date jadi aku bisa ikut menumpang diantar ke bengkel itu.

Kamipun berangkat dari rumahnya dengan mobil BMW-nya Winston. Walaupun tidak terlalu jauh namun kami sedikit terjebak macet karena saat itu jam bubaran. Yang kukhawatirkan adalah takutnya bengkelnya keburu tutup, kalau begitu kan aku mau tidak mau harus tetap menumpang pada Winston padahal mereka mau pergi nonton dan aku tidak mau mengganggu kebersamaan mereka. Akhirnya tiba juga kami di bengkel itu tepat ketika akan tutup.

“Wah… sudah mau tutup tuh Ci, mendingan cepetan lari turun, siapa tahu masih keburu,” kata Ellen.
“Tanyain dulu Ci, kita tunggu kamu di sini, kalau ternyata belum bisa ambil, kamu ikut kita jalan aja,” Winston memberi saran.

Akupun segera turun dan setengah berlari ke arah pegawai yang sedang mendorong pintu.

“Mas… Mas tunggu, jangan ditutup dulu, saya mau ngambil mobil saya yang Hyundai warna merah yang dititip kemarin Selasa itu loh!” kataku dengan terburu-buru.
“Tapi kita sudah mau tutup non, kalau mau besok balik aja lagi,” katanya.
“Ayo dong, Mas katanya di telepon tadi sudah bisa diambil, tolong dong bentar aja yah, saya sudah ke sini jauh-jauh nih!” desakku.
“Ada apa nih, Kos, kok malah ngobrol,” kata seorang pria yang muncul dari samping belakangnya.

Kebetulan sekali pria itu adalah montir yang menangani mobilku ketika aku membawa mobil itu ke sini, orangnya tinggi dan agak gemuk dengan rambut gaya tentara, usianya sekitar awal empat puluh, belakangan kuketahui bernama Fauzan, agaknya dia tergolong montir yang cukup senior di sini.

Akupun lalu mengutarakan maksud kedatanganku ke sini untuk mengambil mobilku itu padanya. Awalnya sih dia juga menyuruhku kembali lagi besok karena bengkel sudah tutup, tapi karena terus kubujuk dan kujanjikan bonus uang rokok akhirnya dia menyerah juga dan mempersilakanku masuk menunggu di dalam. Sebenarnya sih kalau bengkelnya dekat dengan rumahku aku juga bisa saja kembali besok, tapi masalahnya letak tempat ini cukup jauh dari rumahku dan macet pula, kan BT banget kalau harus dua kali jalan.

Aku melambaikan tangan ke arah Ellen dan Winston yang menunggu di mobil pertanda masalah sudah beres dan mereka boleh pergi, merekapun membalas lambaianku dan mobil itu berjalan meninggalkanku. Pak Fauzan menjelaskan padaku tentang kondisi mobilku, dia bilang bahwa semuanya ok-ok saja, kecuali ada sebuah onderdil di bagian bawah mobil yang sebentar lagi tidak layak pakai karena sudah banyak berkarat (sory… Aku tidak mengerti otomotif selain menggunakannya, sampai lupa nama onderdil itu). Karena memikirkan kenyamanan jangka panjang, aku menanyakan kalau bagian itu diganti sekarang memakan waktu lama tidak, ongkos sih tidak masalah. Setelah berpikir sesaat dia pun mengiyakannya dan menyuruhku duduk menunggu.

Sejumlah pegawai dan kasir wanita sudah berjalan ke pintu keluar meninggalkan tempat ini. Di ruangan yang cukup luas ini tinggallah aku dengan Pak Fauzan serta beberapa montir yang sedang menyelesaikan pekerjaan yang tanggung. Seluruhnya ada empat orang di ruangan ini termasuk aku yang satu-satunya wanita.

“Masih banyak kerjaannya ya Mas?” tanyaku iseng-iseng pada montir brewok di dekatku yang sedang mengotak-atik mesin depan sebuah Kijang.
“Dikit lagi kok Non, makanya mending diselesaikan sekarang biar besoknya lebih santai,” jawabnya sambil terus bekerja.

Tidak jauh dari tempat dudukku Pak Fauzan sedang berjongkok di sebelah mobilku dan di sebelahnya seorang rekannya yang cuma kelihatan kakinya sedang berbaring mengerjakan perkerjaannya di kolong mobil. Ternyata pekerjaan itu lama juga selesainya, seperempat jam sudah aku menunggu. Melihat situasi seperti ini, timbullah pikiran isengku untuk menggoda mereka. Hari itu aku memakai kaos ketat oranye berlengan panjang yang dadanya agak rendah, lekuk tubuhku tercetak oleh pakaian seperti itu, bawahnya aku memakai rok hitam yang menggantung beberapa senti di atas lutut. Maka bukanlah hal yang aneh kalau para pria itu di tengah kesibukannya sering mencuri-curi pandang ke arahku, apalagi sesekali aku sengaja menyilangkan kakiku.

Aku berjalan ke arah mobilku dan bertanya pada Pak Fauzan,

“Masih lama ya Pak?”
“Hampir Non, ini yang susah tuh melepas yang lamanya, habis sudah berkarat, sebenarnya sih pasangnya gampang saja, bentar lagi juga beres kok”
“Perlu saya bantuin enggak? Bosen dari tadi nunggu terus,” tanyaku sambil dengan sengaja berjongkok di hadapannya dengan lutut kiri bertumpu di lantai sehingga otomatis paha putih mulusku tersingkap kemana-mana dan celana dalam merahku juga terlihat jelas olehnya.

Dia terlihat gugup dan matanya tertumbuk ke bawah rokku yang kelihatan karena posisi jongkokku. Aku yakin burungnya pasti sudah terbangun dan memberontak ingin lepas dari sangkarnya. Namun aku bersikap biasa saja seolah tidak mengetahui sedang diintip.

“Oohh… nggak… nggak kok Non,” jawabnya terbata-bata.
“Hhoii… Obeng kembang dong,” sahut montir yang dari dalam sambil mendorong kursi berbaringnya keluar dari kolong.

Begitu keluar diapun ikut terperangah dengan pemandangan indah di atas wajahnya itu. Keduanya bengong menatapku tanpa berkedip.

“Kenapa? Kok bengong? Liatin apa hayo…?” godaku dengan tersenyum nakal.

Kemudian kuraih tangan si montir yang sedang berbaring itu dan kuletakkan di paha mulusku, memang sih tangannya kotor karena sedang bekerja tapi saat itu sudah tidak terpikir hal itu lagi. Tanpa harus disuruh lagi tangan kasar itu sudah bergerak dengan sendirinya mengelus pahaku hingga sampai di pangkalnya, disana dia tekankan dua jarinya di bagian tengah kemaluanku yang masih tertutup CD.

“Ooohhh…” desahku merasakan remasan pada kemaluanku.

Pak Fauzan menyuruhku berdiri dan didekapnya tubuhku serta langsung menempelkan bibirnya yang tebal dan kasar pada bibir mungilku. Tangannya mengangkat rokku dan menyusup ke dalam celana dalamku. Temannya tidak mau ketinggalan, setelah dia mengelap tangannya dia dekap aku dari belakang dan mulai menciumi leher jenjangku, hembusan nafas dan lidahnya yang menggelikitik membuat birahiku semakin naik. Payudaraku yang masih tertutup baju diremasi dari belakang, tak lama kemudian kaos Mango-ku beserta bra-ku sudah disingkap ke atas. Kedua belah payudaraku digerayangi dengan gemas, putingnya terasa makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipilin-pilin.

“Hei, ngapain tuh, kok nggak ngajak-ngajak!” seru si montir brewok yang memergoki kami sedang berasyik-masyuk.

Montir di belakangku melambai dan memanggil si brewok untuk ikut menikmati tubuhku. Si brewok pun dengan girang menghampiri kami sambil mempreteli kancing baju montirnya, kurang dari selangkah di dekatku dia membuka seluruh pakaiannya.

Wow… Bodynya padat berisi dengan dada bidang berbulu dan bulunya turun saling menyambung dengan bulu kemaluannya. Dan yang lebih membuatku terpesona adalah bagian yang mengacung tegak di bawah perutnya, pasti tak terlukiskan rasanya ditusuk benda sebesar pisang raja itu, warnanya hitam dengan kepala penis kemerahan. Dia berjongkok di depanku dan memelorotkan rok dan celana dalamku.

“Wah, asyik jembutnya item lebat banget, gua paling suka vagina kaya gini,” si brewok mengomentari vaginaku.

Pak Fauzan dan temannya pun mulai melepasi pakaiannya masing-masing hingga bugil. Terlihatlah batang-batang mereka yang sudah menegang, namun aku tetap lebih suka milik si brewok karena nampak lebih menggairahkan, milik Pak Fauzan juga besar dan berisi, namun tidak terlalu berurat dan sekeras si brewok, sedangkan punya temannya lumayan panjang, tapi biasa saja, standarnya pribumi Indonesialah. Aku sendiri tinggal memakai kaos ketat dan bra-ku yang sudah tersingkap.

Kaki kiriku diangkat ke bahu si brewok yang berjongkok sambil melumat vaginaku. Teman Pak Fauzan yang dipanggil ‘Zul’ itu menopang tubuhku dengan mendekap dari belakang, tangannya terus beraktivitas meremas payudara dan pantatku sambil memainkan lidahnya di lubang telingaku. Pak Fauzan sendiri kini sedang menetek dari payudara kananku. Aku menggelinjang dahsyat dan mendesah tak karuan diserbu dari berbagai arah seperti itu. Tanganku menggenggam penis Pak Fauzan dan mengocoknya perlahan.

“Oookkhh… Jangan terlalu keras,” rintihku sambil meringis ketika Pak Fauzan dengan gemas menggigiti putingku dan menariknya dengan mulut, secara refleks tanganku menjambak pelan rambutnya.

Sementara si brewok di bawah sana menyedoti dalam-dalam vaginaku seolah mau ditelan. Dia memasukkan lidahnya ke dalam vaginaku sehingga memberi sensasi geli yang luar biasa padaku, klitorisku juga dia gigit pelan dan digelikitik dengan lidahnya. Pokoknya sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu, jauh lebih nikmat dari mabuk anggur manis. Aku menengokkan wajah ke samping untuk menyambut Zul yang mau melumat mulutku. Lihai juga dia berciuman, lidahnya menjilati lidahku dan menelusuri rongga mulutku, nafasku seperti mau habis rasanya.

Kemudian mereka membaringkanku di kursi untuk berbaring di kolong mobil itu (whateverlah namanya aku tidak tahu nama barang itu ^_^. Zul langsung mengambil posisi di selangkanganku, tapi segera dicegah oleh Pak Fauzan yang menginginkan jatah lubang lebih dulu. Setelah dibujuk-bujuk Zul pun akhirnya mengalah dari Pak Fauzan yang lebih senior itu. Sebagai gantinya dia mengambil posisi di dekat kepalaku dan menyodorkan penisnya padaku. Kumulai dengan menjilati batang itu hingga basah, lalu buah zakarnya kuemut-emut sambil mengocok batangnya.

Walaupun agak bau tapi aku sangat menikmati oral seks itu, aku senang membuatnya mengerang nikmat ketika kujilati lubang kencing dan kepala penisnya. Pak Fauzan yang sudah selesai dengan pemanasan dengan menggesekkan penisnya pada bibir vaginaku kini sudah mengarahkan penisnya ke liang senggamaku. Aku menjerit kecit ketika benda itu menyeruak masuk dengan sedikit kasar, selanjutnya dia menggenjotku dengan gerakan buas. Aku meresapi setiap detil kenikmatan yang sedang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat pula aku mengemut penis si Zul, kumainkan lidahku di sekujur penis itu untuk menambah kenikmatan pemiliknya. Dia mengerang keenakan atas perlakuanku yang memanjakan ‘adik kecil’nya. Rambutku diremas-remas sambil berkata:

“Oooh… Terus Non, enak banget… Yahhh!”

Tanganku yang lain tidak tinggal diam ikut mengocok punya si brewok yang pada saat yang sama sedang melumat payudaraku. Dia sangat menikmati setiap jengkal payudaraku, dia menghisapnya kuat-kuat diselingi gigitan-gigitan yang meninggalkan jejak merah di kulitnya yang putih. Sungguh kagum aku dengan penisnya dalam genggamanku, yang benar-benar keras dan perkasa membuatku tidak sabar ingin segera mencicipinya. Maka aku melepaskan emutanku pada penis Zul dan berkata pada si brewok,

“Sini dong Mas, gua mau nyepong kontolnya!”

Si brewok langsung menggantikan Zul dan menyodorkan penisnya padaku. Hmm… Inilah yang kutunggu-tunggu, aku langsung membuka lebar-lebar mulutku untuk memasukkan benda itu. Tentu saja tidak muat seluruhnya di mulut mungilku malah terasa sesak. Si Zul menggosok-gosokkan penisnya yang basah ke wajahku. Sambil dioral, tangan si brewok yang kasar dan berbulu itu meremasi payudaraku dengan brutal. Di sisi lain, Pak Fauzan melepaskan sepatu bersol tinggi yang kupakai, lalu menaikkan kedua tungkaiku ke bahu kirinya, sambil menggenjot dia juga menjilati betisku yang mulus. Aku benar-benar terbuai oleh kenikmatan main keroyok seperti ini.

Tiba-tiba kami terhenti sejenak karena terdengar suara pintu di buka dari dalam dan keluarlah seorang yang hanya memakai singlet dan celana pendek, tubuhnya agak kurus dan berusia sepantaran dengan Pak Fauzan dengan jenggot seperti kambing. Aku mencoba mengingat-ingat orang ini, sepertinya pernah lihat sebelumnya, ooohh… Iya itu kan montir yang mendengar dan mencatat masalah yang kuceritakan tentang mobilku ketika aku membawanya ke sini. Sepertinya dia baru mandi karena rambutnya masih basah dan acak-acakan. Sebelumnya dia agak terperanjat dengan apa yang dia lihat tapi kemudian dia mendekati kami.

“Weleh-weleh… Gua sibuk cuci baju di belakang, kamu-kamu malah pada enak-enakan ngentot,” katanya “Lho, ini kan si Non cantik yang mobilnya diservis itu!”
“Sudah jangan banyak omong, mau ikutan nggak!” kata si brewok padanya.

Buru-buru si montir yang bernama Joni itu melepaskan celananya dan kulihat penisnya bagus juga bentuknya, besar dengan otot yang melingkar-lingkar. Tiga saja belum selesai sudah datang satu lagi, tambah berat deh PR gua, demikian kataku dalam hati. Pak Joni mengambil posisi di sebelah kananku, tangannya menjelajah kemana-mana seakan takut tidak kebagian tempat. Payudara kananku dibetot dan dilumat olehnya sampai terasa nyeri. Aku mengerang sejadi-jadinya antara kesakitan dan kenikmatan, semakin lama semakin liar dan tak terkendali.

Pak Fauzan dibawah sana makin mempercepat frekuensi genjotannya pada vaginaku. Lama-lama aku tidak sanggup lagi menahan cairan cintaku yang semakin membanjir. Di ambang puncak aku semakin berkelejotan dan tanganku semakin kencang mengocok dua batang penis di genggamanku yaitu milik Pak Joni dan Bang Zul. Zul juga menggeram makin keras dan Crot… Crot… Cairan putih kentalnya menyemprot dan berceceran di wajah dan rambutku. Sementara otot-otot kemaluanku berkontraksi makin cepat dan cairan cintaku pun tak terbendung lagi. Aku telah mencapai puncak, tubuhku mengejang hebat diiringi erangan panjang dari mulutku, tapi dia masih terus menggenjotku hingga tubuhku melemas kembali. Setelah dia cabut penisnya, diturunkannya juga kakiku.

“Gantian tuh, siapa mau vagina?” katanya.

Si brewok langsung menggantikan posisinya, sebelumnya dia menjilati dan menyedot cairan vaginaku dengan rakus bagaikan menyantap semangka. Pak Fauzan menaiki dadaku dan menjepitkan penisnya yang sudah licin diantara payudaraku. Dia memaju-mundurkannya seperti yang dia lakukan terhadap vaginaku, tidak sampai lima menit, spermanya muncrat ke muka dan dadaku, kaosku yang tergulung juga ikut kecipratan cairan itu. Pak Fauzan mengelap spermanya yang berceceran di dadaku sampai merata sehingga payudaraku nampak mengkilap oleh cairan itu. Kujilati sperma di sekitar bibirku dengan memutar lidah.

Si brewok minta ganti gaya, kali ini dia berbaring di kursi montir. Tanpa diperintah aku menurunkan tubuhnya sambil membuka lebar liang senggamaku dengan jari. Tanganku yang lain membimbing batang itu memasuki liang itu. Aku menggigit bibir dan mendesis saat penis itu mulai tertancap di vaginaku. Hingga akhirnya seluruh batang itu tertelan oleh liang surgaku, rasanya sangat sesak dan sedikit nyeri dijejali benda sekeras dan sebesar itu, aku dapat merasakan urat-uratnya yang menonjol itu bergesekan dengan dinding vaginaku.

Aku belum sempat beradaptasi, dia sudah menyentakkan pinggulnya ke atas, secara refleks aku menjerit kecil. Sekali lagi dia sentakkan pinggulnya ke atas sampai akupun ikut menggoyangkan tubuhku naik-turun. Mataku merem-melek dan kadang-kadang tubuhku meliuk-liuk saking nikmatnya. Kuraih penis Pak Joni di sebelah kiriku dan kukulum dengan bernafsu, begitu juga dengan penis Pak Fauzan, batang yang sedang kelelahan itu kukocok-kocok agar bertenaga lagi, sisa-sisa spermanya kujilati hingga bersih. Kurasakan ada dua jari memasuki anusku, mengoreki lalu bergerak keluar-masuk di sana, aku menengok ke belakang ternyata pelakunya Bang Zul yang entah kapan sudah di belakangku.

Mungkin karena ketagihan dikaraoke olehku, Pak Joni memegangi kepalaku dan menekannya pada selangkangannya, lalu dia maju-mundurkan pinggulnya seperti sedang bersenggama. Aku sempat gelagapan dibuatnya, kepala penis itu pernah menyentuh tekakku sampai hampir tersedak. Namun hal itu tidak mengurangi keaktifanku menggoyang tubuhku dan mengocok penis Pak Fauzan dengan tangan kiriku. Payudaraku yang ikut bergoyang naik-turun tidak pernah sepi dari jamahan tangan-tangan kasar mereka.

Sepertinya Bang Zul mau main belakang karena dia melebarkan duburku dengan jarinya dan sejenak kemudian aku merasakan benda tumpul yang tak lain kepala penisnya melesak masuk ke dalamnya. Ketiga lubang senggamaku penuh sudah terisi oleh tiga penis. Penis Pak Joni dalam mulutku makin bergetar dan pemiliknya pun makin gencar menyodok-nyodokkannya pada mulutku hingga akhirnya menyemprotkan spermanya di mulutku. Belum habis semprotannya dia menarik keluar benda itu (thank god, akhirnya bisa menghirup udara segar lagi) sehingga sisanya menyemprot ke wajahku, wajahku yang sudah basah oleh sperma Bang Zul dan Pak Fauzan jadi tambah belepotan oleh spermanya yang lebih kental dari milik dua orang sebelumnya.

“Aahh… Aahh… Dikit lagi Bang!” desahku karena sudah akan klimaks lagi.

Cairan cinta terasa terus mengucur membasahi rongga-rongga kemaluanku bersamaan dengan penis si brewok yang terasa makin membengkak dan sodokannya yang makin gencar. Otot-ototku menegang dan desahan panjang keluar dari mulutku akibat orgasme panjang bersama si brewok. Cairan hangat dan kental menyemprot hampir semenit lamanya di dalam lubang vaginaku. Akhirnya tubuhku kembali melemas dan jatuh telungkup di atas dada yang bidang berbulu itu dengan penis masih menancap, sementara dari belakang Bang Zul masih getol menyodomiku tanpa mempedulikan kondisiku sampai dia menumpahkan spermanya di anusku lima menit kemudian. Setelah beristirahat lima menit, Pak Fauzan mengangkat tubuhku diatas kedua tangannya dan membawaku ke ruangan lain yang adalah tempat pencucian mobil bersama teman-temannya.

“Eh, mau ngapain lagi kita nih Pak?” tanyaku heran.
“Kita mau mencuci Non dulu soalnya sudah lengket dan bau peju sih,” jawabnya sambil nyengir, kemudian memerintah si brewok untuk menyiapkan selang air.

Pelan-pelan dia turunkan aku, tapi aku masih belum sanggup berdiri karena masih lemas sekali, jadi aku hanya duduk bersimpuh saja di lantai marmer itu.

“Bajunya dilepas aja Non biar nggak basah,” katanya sambil membantuku melepaskan kaosku yang tergulung.

Aku kini telah telanjang bulat, hanya jam tangan, anting, dan seuntai kalung perak dengan leontin huruf C yang masih tersisa di tubuhku. Si brewok menyalakan krannya dan mengarahkan selang itu padaku.

“Awww… Dingin!” desahku manja merasakan dinginnya air yang menyemprot padaku.

Pak Joni melepaskan singletnya dan bersama dua orang lainnya mendekati tubuhku yang masih disemprot si brewok, ketiganya mengerubungi tubuhku sambil tertawa-tawa. Aku lalu diberdirikan dan didekap mereka, tangan-tangan mereka menggosoki tubuhku untuk membasuh ceceran sperma yang lengket di sekujur tubuhku seperti sedang memolesi mobil dengan cairan pembersih.

Beberapa menit lamanya si brewok menyirami kami dengan air dingin sehingga tubuh kami basah kuyup. Sesudah itu dia juga ikut bergabung menggerayangiku. Pak Joni mendekapku dari depan, setelah puas menciumi dan meremas payudaraku dia menaikkan kaki kananku ke pingggangnya dan memasukkan penisnya ke vaginaku, mereka mengerjaiku dalam posisi berdiri. Pak Fauzan merangkulku dari belakang dan tak henti-hentinya mencupangi pundak, leher dan tengukku. Bang Zul berjongkok meremasi dan menjilati pantat montokku yang terangkat dengan gemasnya. Si brewok menggerayangi payudaraku yang lain sambil menggelikitik telingaku dengan lidahnya. Desahan nikmatku terdengar memenuhi ruangan itu. Beberapa menit kemudian Pak Joni klimaks dan menumpahkan spermanya di dalam vaginaku. Ini masih belum berakhir, karena setelahnya tubuhku mereka telentangkan di atas kap depan sebuah sedan berwarna silver metalik dan kembali aku disemprot dengan selang air hingga semakin basah.

Bang Zul membentangkan pahaku dan menancapkan penisnya ke vaginaku. Mungkin karena sudah terisi penuh, maka ketika penis itu melesak ke dalamku, nampak sperma kental itu meluap keluar dari sela-sela bibir vaginaku. Aku kembali orgasme yang kesekian kalinya, tubuhku menggelinjang di atas kap mobil itu. Kemudian tak lama kemudian dia pun mencabut penisnya dan menumpahkan isinya di atas perut rataku. Akhirnya selesai juga mereka mengerjaiku, aku terbaring lemas diatas kap, rasanya pegal sekali dan sedikit kedinginan karena basah.

Mereka juga sudah kecapean semua, ada yang duduk mengatur nafas, ada juga yang mengelap badannya yang basah. Pak Fauzan memberiku sebuah Aqua gelas dan handuk kering. Aku menggerakkan tangan menghanduki tubuhku yang basah. Setelah Pak Fauzan dan Bang Zul selesai memasang onderdil yang tertunda, selesai pula perbaikan mobilku. Aku membayarkan biayanya pada Pak Fauzan yang ternyata masih saudara dengan pemilik bengkel ini, pantas dari tadi montir lain tunduk padanya. Aku juga memberi tambahan sepuluh ribu rupiah sebagai uang rokok untuk dibagi antara mereka berempat. Sampai di rumah aku langsung tidur dengan tubuh pegal-pegal, janji ke kafe dengan teman-teman pun terpaksa kubatalkan dengan alasan tidak enak badan.

Akibat Pergaulan Bebas 9:32 am

Aku seorang IT manager di sebuah perusahan swasta di Bali, umurku 32 thn dan istriku 29 thn, kami sudah lima tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anak. Enam bulan lalu aku memutuskan pisah ranjang dengan istriku karena sudah tidak ada kecocokan lagi.Rencananya dalam waktu dekat aku akan mengurus perceraian kami. Tapi karena terbentur waktu jadi urusannya terkatung-katung.

Istriku memilih tinggal sendirian kost di dekat Hotel tempat dia bekerja sebagai Public Relation Manager. Minggu pagi aku berniat mengunjungi dia, kangen juga sih, sudah 3 bulan aku tidak pernah ketemu dia.

Di depan pintu aku kaget melihat seorang bule keluar dari kamarnya, aku menunggu sebentar sampai si bule pergi dan nyelonong masuk kamar istriku, aku pura-pura tidak tahu tentang si bule yang barusan keluar. Kulihat istriku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Tubuhnya masih tetap seperti dulu padat dan sintal, mungil tapi proporsional, Dia keget melihatku sudah duduk di atas tempat tidurnya.

Kutanya kabarnya namun tidak dijawab, dengan santai dia melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya, buah dadanya dipamerkan begitu saja, membuat aku jadi bernafsu. Ukuran buah dada istriku memang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, yah.., sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mungil, bentuknya sangat menggiurkan mata laki-laki yang memandangnya, bulat, padat dan tidak melar. Melihat itu penisku langsung berdiri, apa lagi melihat bekas gigitan si bule di pundak dan buah dadanya.

Kupeluk dia dari belakang, kucium lehernya dan kubisikkan ajakan untuk bersetubuh, namun dia menolak dengan alasan ada janji dengan teman pagi ini. Selesai berpakaian dia langsung ngeloyor pergi meninggalkan aku sendirian. Lama aku berpikir, dan terlintas dibenakku untuk mengintai hubungan intim mereka. Aku tanyakan ke ibu kost untuk menyewa kamar sebelah, kutahu kamar sebelah tidak ditempati. Setelah dealt dengan ibu kos aku langsung balik ke rumah mengambil peralatan spy-ku yang dulu kubeli dari internet. Aku mempunyai dua buah pinhole video camera yang bisa ngintip lewat lubang kecil. Dulu alat ini aku gunakan untuk mengintip anak-anak kost di rumahku. Balik lagi ke tempat kost istriku dan langsung memasang peralatan spy-ku.

Aku buat lubang kecil tepat di atas temat tidur dan satu lagi di kamar mandi. Selesai pasang kamera lewat plafon, aku coba connect ke TV-monitor yang kupersiapkan di kamar sebelah, hampir 70% dari ruangan tidur bisa kumonitor dan selanjutnya beralih ke channel di kamar mandi, di sini aku harus naik lagi ke plafon karena lokasi cameranya kurang tepat, kugeser sedikit agar tepat di atas bath tub.

Jam 12.00 aku selesai setup video spy-ku, lalu mandi sebentar membersihkan debu yang melekat di tubuhku setelah naik ke langit langit kamar kost. Sambil tiduran menunggu istriku kembali ke kostnya. Kira-kira jam 20.00 kudengar langkah kaki di kamar sebelah, kuintip lewat jendela, ternyata istriku dan si bule yang datang. Kunyalakan TV-monitor, kulihat si bule menunggu istriku yang sedang menutup pintu kamar, istriku tampak tidak sabaran, langsung menubruk si bule dan mereka berpagutan sambil saling melepaskan pakaian. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah telanjang bulat, istriku jongkok di hadapan si bule yang penisnya setengah ereksi dan melahap penis besar di hadapannya. Mulut istriku tidak bisa menampung seluruh penisnya.

Perlahan tapi mantap penis si bule ereksi penuh karena permainan lidah istriku. Kutahu ini adalah keahlian istriku, dulu aku sampai merem melek dibuatnya. Si bule yang tinggi besar mengangkat tubuh mungil istriku ke tempat tidur dan langsung menindihnya. Dengan sangat bernafsu si bule melahap buah dada kenyal milik istriku. Dari TV-monitor aku dengan jelas sekali melihat wajah istriku yang lagi merem melek menikmati permainan lidah si bule.

Puas menikmati kedua gunung kembar istriku, si bule beralih turun ke perut lalu ke bukit yang ditumbuhi bulu jarang-jarang. Desahan istriku sangat jelas kudengar lewat earphone karena sebelumnya sudah kupasangi wireless microphone di belakang head board-nya. Tangan istriku menarik kuat-kuat sprei sewaktu lidah si bule mulai menyusuri lubang vaginanya.

Selang berapa menit si bule merubah posisinya untuk ber’69′. Desahan istriku langsung hilang bersamaan dengan disumbatnya mulut istriku dengan penis besar si bule. Dengan sangat bernafsu istriku memainkan penis di mulutnya, sedangkan si bule sendiri sibuk memainkan lidahnya di clitoris istriku, kulihat kaki istriku mulai menegang dan paha istriku menjepit kepala si bule.

Setelah puas ber-’69′, si bule duduk bersandar di head board dan istriku duduk di pangkuannya dengan saling berhadapan. Dengan bertumpu pada lututnya, perlahan istriku memasukan penis besar si bule ke lubang vaginanya. Istriku menjerit kecil ketika penis si bule mulai menerobos masuk. Dia mendongak ke atas sambil meringis menahan sakit saat menurunkan pantat bahenolnya agar penis si bule masuk lebih dalam.

Setelah diam beberapa saat untuk melumasi penis si bule, istriku mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sedangkan si bule melahap dan mejilati buah dada istriku. Ini adalah gaya yang paling disukai istriku. Gerakan istriku maju mundur makin lama makin cepat dan tidak beraturan, selang 5 menit tubuh istriku bergetar hebat menikmati orgasme sambil melumat mulut si bule.

Mereka istirahat sebentar sambil mencumbui istriku agar bangkit lagi. Dengan memainkan buah dada istriku yang kenyal, dia bangkit lagi gairahnya, Istriku lalu mengangkangkan pahanya lebar-lebar, dari TV-monitor aku bisa lihat vagina istriku yang kemerah-merahan akibat gesekan penis besar si bule. Dia menusukkan senjatanya ke vagina istriku dan mulai menggerakkan pantatnya maju mundur dengan keras, saking kerasnya sampai terdengar suara, “Plak! plok…, plak! plok!”, dari benturan paha mereka.

Istriku mendesah hebat setiap kali si bule menghunjamkan penisnya dalam-dalam. Rasa cemburuku timbul saat melihat perlakuan kasar si bule terhadap istriku, tetapi aku menikmatinya, penisku rasanya sudah tidak kuat menahan sakit karena tegang sejak tadi. Posisi ini tidak bertahan terlalu lama, si bule minta istriku nungging dan dia menusukkan senjatanya dari belakang, aku bisa dengan jelas melihat penis si bule keluar masuk menusuk vagina istriku.

Lima menit berlalu si bule menunggangi istriku, perlahan-lahan dia mulai kesetanan, gerakanya mulai tak beraturan apalagi istriku juga ikut menggoyangkan pantatnya dengan kesetanan. Akhirnya si bule memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina istriku. Dia berteriak histeris menikmati puncak orgasmenya. Kulihat istriku mencium mulut si bule mesra sekali, dari slang English-nya kutahu dia adalah orang Italy.

Berdua mereka ke kamar mandi, aku cepat-cepat mencolokkan cable RCA dari camera yang di kamar mandi ke TV-monitor. Di kamar mandi kulihat istriku jongkok memutar kran shower sementara si bule memegang shower head-nya. Lalu mereka saling menggosok dengan sabun. Si bule lama sekali membersihkan vagina istriku sampai dia merem melek. Bath tub mereka isi setengahnya lalu tiduran berdua di dalamnya dengan si bule di bawah dan istriku di atas pelukan si bule. Mereka saling berpagutan mesra. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, aku buru-buru pulang karena besok senin pagi aku harus kerja. Terpaksa aku kehilangan adegan hot selanjutnya. Dulu aku berniat membeli alat perekam VCR 24 jam, namun tidak jadi karena harganya mahal. Sesampainya dirumah mataku tidak bisa terpejam, dalam pikiranku masih terbayang adengan hot istriku dengan si bule. Coba aku punya perekam, aku bisa melihat adegan mereka selanjutnya. Membayangkan mereka, aku jadi tidak bisa tidur sampai pagi.

Senin malam jam 20.00, sepulang dari tempat kerja aku langsung meluncur ke tempat kost istriku, suara desahan terdengar dari kamar istriku, “wah telat aku”. Cepat-cepat kubuka pintu kamarku yang ada di sebelah kamar istriku, TV-monitor kunyalakan, namun mereka tidak kelihatan di kamar tidur, terlihat tempat tidur yang acak-acakan dan pakaian berserakan di mana-mana. Kucoba colokkan monitor yang di kamar mandi, dan “astaga!” Mereka bertiga, istriku, si bule dan temanya bule satunya lagi, yang ini bentuk penisnya lucu, bagian bawah kecil namun kepalanya sebesar bule satunya lagi. Sekarang kutahu nama bule yang menyetubuhi istriku kemarin namanya Jullio, itu aku dapat dari teman istriku di tempatnya bekerja.

Jullio adalah tamu yang sering menginap di hotel tempat istriku bekerja dan dia mempunyai business di Indonesia. Di kamar mandi, istriku kulihat sedang nungging sedangkan Jullio memompa vagina istriku dari belakang, tangan istriku berpegangan ke pinggir bath tub sambil melumat penis anehnya milik si bule satunya yang duduk di ujung bath tub. Aku baru tahu kalau istriku bisa sebuas ini sama cowok bule. Wah ini adegan yang sungguh sangat menyesakkan dadaku, rasa iri, cemburu, marah, menyesal, birahi, sedih bercampur aduk, pokoknya tidak bisa dijelaskan. Keadaan tempat tidur yang acak-acakan menandakan merekan sebelumnya bergumul di sana dan pergumulan mereka di kamar mandi saat ini mungkin babak kedua atau mungkin ketiga. Aku telah kehilangan adegan tersebut. Kalau kubayangkan mungkin lebih seru dari yang di kamar mandi.

Jullio mencabut penisnya dari vagina istriku dan menancapkanya lagi ke lubang pantat istriku, seumur-hidup aku belum pernah menikmati lubang istriku yang satu ini, setiap aku minta dia selalu menolak dengan alasan sakit lah, tidak enak lah, Namun dengan si bule ini kenapa dia berikan. Ini tidak adil!, Jullio nampak mulai kesetanan, semetara istriku berteriak kecil setiap penis besar ini masuk lebih dalam.

Dalam 5 menit Jullio mencabut penisnya dan menumpahkan seluruh air maninya di punggung istriku. Sementara bule satunya lagi asyik menikmati permainan mulut istriku, karena sudah bernafsu si bule satunya lagi langsung menggendong istriku ke tempat tidur. Istriku di tempatkan di pinggiran bed dengan posisi nungging sementara si bule berdiri di lantai, di pingiran bed dan bersiap-siap menusukkan senjatanya ke lubang pantat istriku. Goyangan pantat si bule menimbulkan suara, “Ceplak.., ceplok..!”,.

penis si bule yang bentuknya aneh itu makin keras menghunjam pantat istriku sambil tangannya meremas keras pantat bahenol istriku. Datang dari kamar mandi si Jullio langsung ikutan nimbrung, dia menyusup ke bawah tubuh istriku dengan kaki menjuntai ke bawah dia memasukkan penisnya ke vagina istriku lalu menurunkan badan istriku, si bule satunya lagi tetap berdiri dengan penis menancap ke pantat istriku, dia agak membungkuk karena badan istriku merendah dan nempel ke tubuh Jullio. Mereka mulai bergoyang, mulut istriku dengan lahap menjilat dada bidang si Jullio yang di penuhi dengan bulu.

Si bule satunya sudah mulai kesetanan, pantatnya kian keras bergoyang dan akhirnya, “Cret.., cret.., cret”, spermanya tumpah di punggung istriku, sementara si Jullio masih asyik menikmati goyangan istriku dari atas, karena si bule satunya lagi tidak lagi menusukan senjatanya, istriku lalu duduk bersimpuh di penis si Jullio dan bergoyang maju mundur. Tangan si Jullio meremas buah dada kenyal milik istriku, desahan istriku makin hebat sampai akhirnya lemas terkulai di atas tubuh Jullio.

Jullio bangkit dan mulai menyodok lubang pantat istriku yang lagi tengkurep lemas. Plok.., plok.., plok..!, bunyi pantat dan paha mereka beradu, selang beberapa menit si Jullio menumpahkan spermanya di atas punggung istriku dan terkulai lemas di sebelah istriku. Si bule satunya datang dari kamar mandi, langsung berpakaian lalu pamitan pada mereka. Sempat-sempatnya dia melumat mulut istriku sebelum pergi. Jullio menggendong istriku ke kamar mandi. Setelah saling membersihkan di kamar mandi, mereka tidur bugil dengan saling berpelukan.

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 24.00, aku putuskan untuk tidur di sini dan besok aku akan bolos kerja. Sampai jam 02.00 di kamar istriku tidak ada aktivitas, mereka masih tertidur pulas dengan tetap saling berpelukan. Akhirnya aku tertidur karena bosan menunggu.

Jam 04.00 aku terbangun dan melihat ke monitorku. Kulihat tangan istriku mengocok penis si Jullio yang sedang berdiri setengah tiang. Kepala istriku dituntun paksa oleh si bule untuk melakukan blow job. Mulut istriku yang mungil tampak mengembung akibat sumbatan penis si Jullio. Setelah berapa lama akhirya tumpah juga isinya di mulut istriku, si Jullio akhirnya tertidur pulas lagi, sementara istriku ke kamar mandi membersihkan mulutnya.

Jam 07.00 si bule bangun, berpakaian dan pamitan ke istriku yang bermalas-malasan di tempat tidur dalam keadaan bugil. Setelah si Jullio pergi, aku menyerbu masuk ke kamar istriku, dia kaget sekali melihat aku datang, aku langsung membuka pakaianku dan menindihnya. Berberapa kali dia berontak, namun akhirnya penisku bisa kutancapkan ke vaginanya. Puas mengocok vaginanya, aku minta dia nungging untuk menyodok lubang satunya. Dia menolak, “Lis… kamu jangan munafik, si bule dua orang itu kenapa kamu kasih…ah?”, aku keceplosan ngomong. Dia terheran-heran dan menanyakan dari mana aku tahu hal itu. Akhirnya aku menjelaskan aktivitas spy-ku di kamar sebelah. Wajah istriku tampak merah padam antara malu dan marah, apalagi kujelaskan secara detil pergumulannya yang hot dan binal dengan si bule. Dia memintaku agar cepat-cepat mengurus perceraian kami, karena dia akan segera menikah dengan si Jullio dan pergi ke Italy. Aku menyanyakan apakah dia benar-benar mencintai si bule namun tidak dijawabnya. Aku memberi tahu bahwa hidup di luar negeri itu susah dan budaya mereka beda. “Aku takut nanti di sana kamu dijadikan budak nafsu mereka”, saranku.

Setelah kejadian itu, mereka selalu berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya untuk bercinta. Aku jadi kehilangan objek spy-ku karena ketololanku sendiri. Aku tidak bisa menaklukkan rasa cemburuku. Setelah kami resmi bercerai, istriku diboyong si bule ke Italy. Sampai sekarang aku tidak pernah terima kabar darinya.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 9:30 am

Cerita ini berawal ketika aku pacaran dengan Dian. Dian adalah seorang gadis mungil dengan tubuh yang seksi dan dibalut oleh kulit yang putih mulus. Walaupun payudaranya tidak terlalu besar, ya… kira-kira berukuran 34 lah. Selama pacaran, kami belum pernah berhubungan badan. Hanya saja kalau nafsu sudah tidak bisa ditahan, biasanya kami melakukan oral seks.

Dian memiliki dua orang adik perempuan yang cantik. Adiknya yang pertama, namanya Elsa, juga mempunyai kulit yang putih mulus. Namun payudaranya jauh lebih besar daripada kakaknya. Menurut kakaknya, ukurannya 36B. Inilah yang selalu menjadi perhatianku kalau aku sedang ngapel ke rumah Dian. Payudaranya yang berayun-ayun kalau sedang berjalan, membuat penisku berdiri tegak karena membayangkan betapa enaknya memegang payudaranya. Sedangkan adiknya yang kedua masih kelas 2 SMP. Namanya Agnes. Tidak seperti kedua kakaknya, kulitnya berwarna sawo matang. Tubuhnya semampai seperti seorang model cat walk. Payudaranya baru tumbuh. Sehingga kalau memakai baju yang ketat, hanya terlihat tonjolan kecil dengan puting yang mencuat. Walaupun begitu, gerak-geriknya sangat sensual.

Pada suatu hari, saat di rumah Dian sedang tidak ada orang, aku datang ke rumahnya. Wah, pikiranku langsung terbang ke mana-mana. Apalagi Dian mengenakan daster dengan potongan dada yang rendah berwarna hijau muda sehingga terlihat kontras dengan kulitnya. Kebetulan saat itu aku membawa VCD yang baru saja kubeli. Maksudku ingin kutonton berdua dengan Dian. Baru saja hendak kupencet tombol play, tiba-tiba Dian menyodorkan sebuah VCD porno.
“Hei, dapat darimana sayang?” tanyaku sedikit terkejut.
“Dari teman. Tadi dia titip ke Dian karena takut ketahuan ibunya”, katanya sambil duduk di pangkuanku.
“Nonton ini aja ya sayang. Dian kan belum pernah nonton yang kayak gini, ya?” pintanya sedikit memaksa.
“Oke, terserah kamu”, jawabku sambil menyalakan TV.

Beberapa menit kemudian, kami terpaku pada adegan panas demi adegan panas yang ditampilkan. Tanpa terasa penisku mengeras. Menusuk-nusuk pantat Dian yang duduk di pangkuanku. Dian pun memandang ke arahku sambil tersenyum. Rupanya dia juga merasakan.
“Ehm, kamu udah terangsang ya sayang?” tanyanya sambil mendesah dan kemudian mengulum telingaku. Aku hanya bisa tersenyum kegelian. Lalu tanpa basa-basi kuraih bibirnya yang merah dan langsung kucium, kujilat dengan penuh nafsu. Jari-jemari Dian yang mungil mengelus-elus penisku yang semakin mengeras.

Lalu beberapa saat kemudian, tanpa kami sadari ternyata kami sudah telanjang bulat. Segera saja Dian kugendong menuju kamarnya. Di kamarnya yang nyaman kami mulai melakukan foreplay. Kuremas payudaranya yang kiri. Sedangkan yang kanan kukulum putingnya yang mengeras. Kurasakan payudaranya semakin mengeras dan kenyal. Kuganti posisi. Sekarang lidahku liar menjilati vaginanya yang basah. Kuraih klitorisnya, dan kugigit dengan lembut.

“Aahh… ahh… sa.. sayang, Dian udah nggak kuat… emh… ahh… Dian udah mau keluar… aackh… ahh… ahh!” Kurasakan ada cairan hangat yang membasahi mukaku. Setelah itu, kudekatkan penisku ke arah mulutnya. Tangan Dian meremas batangku sambil mengocoknya dengan perlahan, sedangkan lidahnya memainkan buah pelirku sambil sesekali mengulumnya. Setelah puas bermain dengan buah pelirku, Dian mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Mulutnya yang mungil tidak muat saat penisku masuk seluruhnya. Tapi kuakui sedotannya memang nikmat sekali. Sambil terus mengulum dan mengocok batang penisku, Dian memainkan puting susuku. Sehingga membuatku hampir ejakulasi di mulutnya. Untung masih dapat kutahan. Aku tidak mau keluar dulu sebelum merasakan penisku masuk ke dalam vaginanya yang masih perawan itu.

Saat sedang hot-hotnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku dan Dian terkejut bukan main. Ternyata yang datang adalah kedua adiknya. Keduanya spontan berteriak kaget.
“Kak Dian, apa-apan sih? Gimana kalau ketahuan Mama?” teriak Agnes. Sedangkan Elsa hanya menunduk malu. Aku dan Dian saling berpandangan. Kemudian aku bergerak mendekati Agnes. Melihatku yang telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak, membuat Agnes berteriak tertahan sambil menutup matanya.
“Iih… Kakak!” jeritnya. “Itunya berdiri!” katanya lagi sambil menunjuk penisku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.
Setelah dekat, kurangkul dia sambil berkata, “Agnes, Kakak sama Kak Dian kan nggak ngapa-ngapain. Kita kan lagi pacaran. Yang namanya orang pacaran ya… kayak begini ini. Nanti kalo Agnes dapet pacar, pasti ngelakuin yang kayak begini juga. Agnes udah bisa apa belum?” tanyaku sambil mengelus pipinya yang halus. Agnes menggeleng perlahan.
“Mau nggak Kakak ajarin?” tanyaku lagi. Kali ini sambil meremas pantatnya yang padat.
“Mmh, Agnes malu ah Kak”, desahnya.
“Kenapa musti malu? Agnes suka nggak sama Kakak?” kataku sambil menciumi belakang lehernya yang ditumbuhi rambut halus.
“Ahh, i.. iya. Agnes udah lama suka ama Kakak. Tapinya nggak enak sama Kak Dian”, jawabnya sambil memejamkan mata.

Tampaknya Agnes menikmati ciumanku di lehernya. Setelah puas menciumi leher Agnes, aku beralih ke Elsa.
“Kalo Elsa gimana? Suka nggak ama Kakak?” Elsa mengangguk sambil kepalanya masih tertunduk.
“Ya udah. Kalo gitu tunggu apa lagi”, kataku sambil menggandeng keduanya ke arah tempat tidur.
Elsa duduk di pinggiran tempat tidur sambil kusuruh untuk mengulum penisku. Pertamanya sih dia nggak mau, tapi setelah kurayu sambil kuraba payudaranya yang besar itu, Elsa mau juga. Bahkan setelah beberapa kali memasukkan penisku ke dalam mulutnya, Elsa tampaknya sangat menikmati tugasnya itu. Sementara Elsa sedang memainkan penisku, aku mulai merayu Agnes. “Agnes, bajunya Kakak buka ya?” pintaku sedikit memaksa sambil mulai membuka kancing baju sekolahnya. Lalu kulanjutkan dengan membuka roknya. Ketika roknya jatuh ke lantai, terlihat CD-nya sudah mulai basah.

Segera saja kulumat bibirnya dengan bibirku. Lidahku bergerak-gerak menjilati lidahnya. Agnes pun kemudian melakukan hal yang sama. Sambil tetap menciumi bibirnya, tanganku bermaksud membuka BH-nya. Tapi segera ditepiskannya tanganku.
“Jangan Kak, malu. Dada Agnes kan kecil”, katanya sambil menutupi dadanya dengan tangannya. Dengan tersenyum kuajak dia menuju ke kaca yang ada di meja rias. Kusuruh dia berkaca. Sementara aku ada di belakangnya. “Dibuka dulu ya!” kataku membuka kancing BH-nya sambil menciumi lehernya.

Setelah BH-nya kujatuhkan ke lantai, payudaranya kuremas perlahan sambil memainkan putingnya yang berwarna coklat muda dan sudah mengeras itu. “Nah, kamu lihat sendiri kan. Biar dada kamu kecil, tapi kan bentuknya bagus. Lagian kamu kan emang masih kecil, wajar aja kalo dada kamu kecil. Nanti kalo udah gede, dada kamu pasti ikutan gede juga”, kataku sambil mengusapkan penisku ke belahan pantatnya. Agnes mendesah keenakan. Kepalanya bersandar ke dadaku. Tangannya terkulai lemas. Hanya nafasnya saja yang kudengar makin memburu. Segera kugendong dia menuju ke tempat tidur. Kutidurkan dan kupelorotkan CD-nya. Bulu kemaluannya masih sangat jarang. Menyerupai bulu halus yang tumbuh di tangannya. Kulebarkan kakinya agar mudah menuju ke vaginanya. Kucium dengan lembut sambil sesekali kujilat klitorisnya. Sementara Elsa kusuruh untuk meremas-remas payudaranya adiknya itu. “Aahh… ach… ge… geli Kak. Tapi nikmat sekali, aahh terus Kak. Jangan berhenti. Mmh… aahh… ahh.”

Setelah puas dengan vagina Agnes. Aku menarik Elsa menjauh sedikit dari tempat tidur. Dian kusuruh meneruskan. Lalu dengan gaya 69, Dian menyuruh Agnes menjilati vaginanya. Sementara itu, aku mulai mencumbu Elsa. Kubuka kaos ketatnya dengan terburu-buru. Lalu segera kubuka BH-nya. Sehingga payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan mukaku. “Wow, tete kamu bagus banget. Apalagi putingnya, merah banget kayak permen”, godaku sambil meremas-remas payudaranya dan mengulum putingnya yang besar. Sedangkan Elsa hanya tersenyum malu. “Ahh, ah Kakak, bisa aja”, katanya sambil tangan kirinya mengelus kepalaku dan tangan kanannya berusaha manjangkau penisku.

Melihat dia kesulitan, segera kudekatkan penisku dan kutekan-tekankan ke vaginanya. Sambil mendesah keenakan, tangannya mengocok penisku. Karena kurasakan air maniku hampir saja muncrat, segera kuhentikan kocokannya yang benar-benar nikmat itu. Harus kuakui, kocokannya lebih nikmat daripada Dian. Setelah menenangkan diri agar air maniku tidak keluar dulu, aku mulai melorotkan CD-nya yang sudah basah kuyup. Begitu terbuka, terlihat bulu kemaluannya lebat sekali, walaupun tidak selebat Dian, sehingga membuatku sedikit kesulitan melihat vaginanya. Setelah kusibakkan, baru terlihat vaginanya yang berair. Kusuruh Elsa mengangkang lebih lebar lagi agar memudahkanku menjilat vaginanya. Kujilat dan kuciumi vaginanya. Kepalaku dijepit oleh kedua pahanya yang putih mulus dan padat. Nyaman sekali pikirku.

“aahh, Kak… Elsa mau pipiss…” erangnya sambil meremas pundakku.
“Keluarin aja. Jangan ditahan”, kataku.
Baru selesai ngomong, dari vaginanya terpancar air yang lumayan banyak. Bahkan penisku sempat terguyur oleh pipisnya. Wah nikmat sekali jeritku dalam hati. Hangat.

Setelah selesai, kuajak Elsa kembali ke tempat tidur. Kulihat Dian dan Agnes sedang asyik berciuman sambil tangan keduanya memainkan vaginanya masing-masing. Sementara di sprei terlihat ada banyak cairan. Rupanya keduanya sudah sempat ejakulasi. Karena Dian adalah pacarku, maka ia yang dapat kesempatan pertama untuk merasakan penisku. Kusuruh Dian nungging. “Sayang, Dian udah lama nunggu saat-saat ini”, katanya sambil mengambil posisi nungging. Setelah sebelumnya sempat mencium bibirku dan kemudian mengecup penisku dengan mesra.

Tanpa berlama-lama lagi, kuarahkan penisku ke vaginanya yang sedikit membuka. Lalu mulai kumasukkan sedikit demi sedikit. Vaginanya masih sangat sempit. Tapi tetap kupaksakan. Dengan hentakan, kutekan penisku agar lebih masuk ke dalam. “Aachk! Sayang, sa… sakit! aahhck… ahhck…” Dian mengerang tetapi aku tak peduli. Penisku terus kuhunjamkan. Sehingga akhirnya penisku seluruhnya masuk ke dalam vaginanya. Kuistirahatkan penisku sebentar. Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut. Membuatku ingin beraksi lagi. Kumulai lagi kocokan penisku di dalam vaginanya yang basah sehingga memudahkan penisku untuk bergerak. Kutarik penisku dengan perlahan-lahan membuatnya menggeliat dalam kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Makin kupercepat kocokanku. Tiba-tiba tubuh Dian menggeliat dengan liar dan mengerang dengan keras. Kemudian tubuhnya kembali melemas dengan nafas yang memburu. Kurasakan penisku bagai disemprot oleh air hangat. Rupanya Dian sudah ejakulasi. Kucabut penisku dari vaginanya. Terlihat ada cairan yang menetes dari vaginanya.
“Kok ada darahnya sayang?” tanya Dian terkejut ketika melihat ke vaginanya.
“Kan baru pertama kali”, balas Dian mesra.
“Udah, nggak apa-apa. Yang penting nikmat kan sayang?” kataku menenangkannya sambil mengeluskan penisku ke mulut Elsa. Dian cuma tersenyum dan setelah kucium bibirnya, aku pindah ke Elsa.

Sambil mengambil posisi mengangkang di atasnya, kudekatkan penisku ke mulutnya. Kusuruh mengulum sebentar. Lalu kuletakkan penisku di antara belahan payudaranya. Kemudian kudekatkan kedua payudaranya sehingga menjepit penisku. Begitu penisku terjepit oleh payudaranya, kurasakan kehangatan. “Ooh… Elsa, hangat sekali. Seperti vagina”, kataku sambil memaju-mundurkan pinggulku. Elsa tertawa kegelian. Tapi sebentar kemudian yang terdengar dari mulutnya hanyalah desahan kenikmatan.

Setelah beberapa saat mengocok penisku dengan payudaranya, kutarik penisku dan kuarahkan ke mulut bawahnya. “Dimasukin sekarang ya?” kataku sambil mengusapkan penisku ke bibir kewanitaannya. Kusuruh Elsa lebih mengangkang. Kupegang penisku dan kemudian kumasukkan ke dalam kewanitaannya. Dibanding Dian, vagina Elsa lebih mudah dimasuki karena lebih lebar. Kedua jarinya membuka kewanitaannya agar lebih gampang dimasuki. Sama seperti kakaknya, Elsa sempat mengerang kesakitan. Tapi tampaknya tidak begitu dipedulikannnya. Kenikmatan hubungan seks yang belum pernah dia rasakan mengalahkan perasaan apapun yang dia rasakan saat itu. Kupercepat kocokanku. “Aahh… aahh… aacchk… Kak terus Kak… ahh… ahh… mmh… aahh… Elsa udah mau ke… keluar.” Mendengar itu, semakin dalam kutanamkan penisku dan semakin kupercepat kocokanku. “Aahh… Kak… Elsa keluar! mmh… aahh… ahh…” Segera kucabut penisku. Dan kemudian dari bibir kemaluannya mengalir cairan yang sangat banyak. “Elsa, nikmat khan?” tanyaku sambil menyuruh Agnes mendekat. “Enak sekali Kak. Elsa belum pernah ngerasain yang kayak gitu. Boleh kan Elsa ngerasain lagi?” tanyanya dengan mata yang sayu dan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku mengangguk. Dengan gerakan lamban, Elsa pindah mendekati Dian. Yang kemudian disambut dengan ciuman mesra oleh Dian.

“Nah, sekarang giliran kamu”, kataku sambil merangkul pundak Agnes. Kemudian, untuk merangsangnya kembali, kurendahkan tubuhku dan kumainkan payudaranya. Bisa kudengar jantungnya berdegup dengan keras. “Agnes jangan tegang ya. Rileks aja”, bujukku sambil membelai-belai vaginanya yang mulai basah. Agnes cuma mengangguk lemah. Kubaringkan tubuhku. Kubimbing Agnes agar duduk di atasku. Setelah itu kuminta mendekatkan vaginanya ke mulutku. Setelah dekat, segera kucium dan kujilati dengan penuh nafsu. Kusuruh tangannya mengocok penisku. Beberapa saat kemudian, “Kak… aahh… ada yang… mau… keluar dari memek Agnes… aahh… ahh”, erangnya sambil menggeliat-geliat. “Jangan ditahan Agnes. Keluarin aja”, kataku sambil meringis kesakitan. Soalnya tangannya meremas penisku keras sekali. Baru saja aku selesai ngomong, vaginanya mengalir cairan hangat. “Aahh… aachk… nikmat sekali Kak… nikmat…” jerit Agnes dengan tangan meremas-remas payudaranya sendiri.

Setelah kujilati vaginanya, kusuruh dia jongkok di atas penisku. Begitu jongkok, kuangkat pinggulku sehingga kepala penisku menempel dengan bibir vaginanya. Kubuka vaginanya dengan jari-jariku, dan kusuruh dia turun sedikit-sedikit. Vaginanya sempit sekali. Maklum, masih anak-anak. Penisku mulai masuk sedikit-sedikit. Agnes mengerang menahan sakit. Kulihat darah mengalir sedikit dari vaginanya. Rupanya selaput daranya sudah berhasil kutembus. Setelah setengah dari penisku masuk, kutekan pinggulnya dengan keras sehingga akhirnya penisku masuk semua ke vaginanya. Hentakan yang cukup keras tadi membuat Agnes menjerit kesakitan.

Untuk mengurangi rasa sakitnya, kuraba payudaranya dan kuremas-remas dengan lembut. Setelah Agnes merasa nikmat, baru kuteruskan mengocok vaginanya. Lama-kelamaan Agnes mulai menikmati kocokanku. Kunaik-turunkan tubuhnya sehingga penisku makin dalam menghunjam ke dalam vaginanya yang semakin basah. Kubimbing tubuhnya agar naik turun. “Aahh… aahh… aachk… Kak… Agnes… mau keluar… lagi”, katanya sambil terengah-engah. Selesai berbicara, penisku kembali disiram dengan cairan hangat. Bahkan lebih hangat dari kedua kakaknya. Begitu selesai ejakulasi, Agnes terkulai lemas dan memelukku. Kuangkat wajahnya, kubelai rambutnya dan kulumat bibirnya dengan mesra.

Setelah kududukkan Agnes di sebelahku, kupanggil kedua kakaknya agar mendekat. Kemudian aku berdiri dan mendekatkan penisku ke muka mereka bertiga. Kukocok penisku dengan tanganku. Aku sudah tidak tahan lagi. Mereka secara bergantian mengulum penisku. Membantuku mengeluarkan air mani yang sejak tadi kutahan. Makin lama semakin cepat. Dan akhirnya, crooottt… croott… creet… creet! Air maniku memancar banyak sekali. Membasahi wajah kakak beradik itu. Kukocok penisku lebih cepat lagi agar keluar lebih banyak. Setelah air maniku tidak keluar lagi, ketiganya tanpa disuruh menjilati air mani yang masih menetes. Lalu kemudian menjilati wajah mereka sendiri bergantian. Setelah selesai, kubaringkan diriku, dan ketiganya kemudian merangkulku. Agnes di kananku, Elsa di samping kiriku, sedangkan Dian tiduran di tubuhku sambil mencium bibirku. Kami berempat akhirnya tertidur kecapaian. Apalagi aku, sepanjang pengalamanku berhubungan seks, belum pernah aku merasakan yang senikmat ini. Dengan tiga orang gadis, adik kakak, masih perawan pula semuanya. That was the best day of my live.

TAMAT