Akibat Pergaulan BebasSeptember 23, 2006 7:52 pm

Ini adalah pengalamanku yang kesekian kalinya bersetubuh dengan wanita setengah baya. Kejadiannya pada saat kenaikkan kelas, aku mendapat liburan satu bulan dari sekolah. Untuk mengisi waktu liburanku, aku mengiyakan ajakan Mas Iwan sopir Pak RT tetanggaku untuk berlibur dikampungnya. Disebuah desa di Jawa Barat. Katanya, sekalian mau nengok istrinya. Aku tertarik omongan Mas Iwan bahwa gadis-gadis di kampungnya cantik-cantik dan mulus-mulus. Aku ingin buktikan omongannya.

Dengan mobil pinjaman dari ayahku, kami berangkat ke sana. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sekitar jam 17.00 WIB kami tiba di kampungnya. Rumah Mas Iwan berada cukup jauh dari rumah tetangganya. Rumahnya cukup bagus, untuk ukuran di kampung, bentuknya memanjang.
di rumah Mas Iwan kami disambut oleh Mbak Irma, istrinya dan Tante Sari mertuanya. Ternyata Mbak Irma, istri Mas Iwan, seorang perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih dan bodynya sangat sexy. Sedangkan Tante Sari tak kalah cantiknya dengan Mbak Irma. Meskipun sudah berumur empat puluhan, kecantikannya belum pudar. Bodynya tak kalah dengan gadis remaja. Oh ya, Tante Sari bukanlah ibu kandung Mbak Irma. Tante Sari kimpoi dengan Bapak Mbak Irma, setelah ibu kandung Mbak Irma meninggal. Tapi setelah lima tahun menikah, bapak Mbak Irma yang meninggal, karena sakit. Jadi sudah sepuluh tahun Tante Sari menjanda.

Sekitar jam 20.00 WIB, Mas Iwan mengajakku makan malam ditemani Mbak Irma dan Tante Sari. Sambil makan kami ngobrol diselingi gelak tawa. Walaupun kami baru kenal, tapi karena keramahan mereka kami serasa sudah lama kenal. Selesai makan malam Mas Iwan dan Mbak Irma permisi mau tidur. Mungkin mereka sudah tak sabar melepaskan hasrat yang sudah lama tak tersalurkan. Tinggal aku dan Tante Sari yang melanjutkan obrolan. Tante Sari mengajakku pindah ke ruang tamu. Pas di depan kamar Mas Iwan.

Saat itu Tante Sari hanya mengenakan baju tidur transparan tanpa lengan. Hingga samar-samar aku dapat melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang sexy. Tante Sari duduk seenaknya hingga gaunnya sedikit tersingkap. Aku yang duduk dihadapannya dapat melihat paha mulusnya, membangkitkan nafsu birahiku. Penisku menegang dari balik celanaku. Tante Sari membiarkan saja aku memelototi paha mulusnya. Bahkan dia semakin lebar saja membuka pahanya.

Semakin malam obrolan kami semakin hangat. Tante Sari menceritakan, semenjak suaminya meninggal, dia merasa sangat kesepian. Dan aku semakin bernafsu mendengar ceritanya, bahwa untuk menyalurkan hasrat birahinya, dia melakukan onani. Kata-katanya semakin memancing nafsu birahiku. Aku tak tahan, nafsu birahiku minta dituntaskan. Akupun pergi kekamar mandi. Sampai di kamar mandi, kukeluarkan penisku dari balik celanaku. Kukocok-kocok sekitar lima belas menit. Dan crot! crot! crot! Spermaku muncrat kelantai kamar mandi. Lega sekali rasanya.

Setelah menuntaskan hasratku, aku balik lagi ke ruang tamu. Alangkah terkejutnya aku. Disana di depan jendela kamar Mas Iwan yang kordennya sedikit terbuka kulihat Tante Sari sedang mengintip ke dalam kamar, Mas Iwan yang sedang bersetubuh dengan istrinya.

Nafas Tante Sari naik turun, tangannya sedang meraba-raba buah dadanya. Nafsu birahiku yang tadi telah kutuntaskan kini bangkit lagi melihat pemandangan di depanku. Tanpa berpikir panjang, kudekap tubuh Tante Sari dari belakang, hingga penisku yang sudah menegang menempel hangat pada pantatnya, hanya dibatasi celanaku dan gaun tidurnya. Tanganku mendekap erat pinggang rampingnya. Dia hanya menoleh sekilas, kemudian tersenyum padaku. Merasa mendapat persetujuan, aku semakin berani. Kupindahkan tanganku dan kususupkan kebalik celana dalamnya. Kuraba-raba bibir vaginanya.

“Ohh… Don… Enakk,” desahnya, ketika kumasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya yang telah basah. Setelah puas memainkan jari-jariku dilubang vaginanya, kulepaskan dekapan dari tubuhnya. Kemudian aku berjongkok di belakangnya. Kusingkapkan gaun tidurnya dan kutarik celana dalamnya hingga terlepas. Kudekatkan wajahku ke lubang vaginanya. Kusibakkan bibir vaginanya lalu kujulurkan lidahku dan mulai menjilati lubang vaginanya dari belakang, sambil kuremas-remas pantatnya. Tante Sari membuka kedua pahanya menerima jilatan lidahku. Inilah vagina terindah yang pernah kurasakan.

“Oohh… Don… Nik… mat,” suara Tante Sari tertahan merasakan nikmat ketika lidahku mencucuk-cucuk kelentitnya. Dan kusedot-sedot bibir vaginanya yang merah.
“Ohh… Don… Luarr… Biasaa… Enakk… Sedott… terus,” pekiknya semakin keras.

Cairan kelamin mulai mengalir dari vagina Tante Sari. Hampir setiap jengkal vaginanya kujilati tanpa tersisa. Tante Sari menarik vaginanya dari bibirku, kemudian membalikkan tubuhnya sambil memintaku berdiri. Dia mendorong tubuhku ke dinding. Dengan cekatan ditariknya celanaku hingga terlepas, maka penisku yang sudah tegang, mengacung tegak dengan bebasnya.

“Ohh… Luar biaassaa… Don… Besar sekali,” serunya kagum.
“Isepp… Tante, jangan dipandang aja,” pintaku.

Tante Sari mengabulkan permintaanku. Sambil melepaskan gaun tidurnya, dia lalu berjongkok dihadapanku. Wajahnya pas di depan selangkanganku. Tangan kirinya mulai mengusap-usap dan meremas-remas buah pelirku. Sedangkan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku dengan irama pelan tapi pasti. Mulutnya didekatkan kepenisku dan dia mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku. Aku meringis merasakan geli yang membuat batang penisku semakin tegang.

“Ohh… Akhh… Tan… Te… Nikk.. matt,” seruku tertahan, ketika Tante Sari mulai memasukkan penisku kemulutnya. Mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang besar dan panjang. penisku keluar masuk di mulutnya. Tante Sari sungguh lihai memainkan lidahnya. Aku dibuatnya seolah-olah terbang keawang-awang.

Tante Sari melepaskan penisku dari kulumannya setelah sekitar lima belas menit. Kemudian dia memintaku duduk dilantai. Dia lalu naik kepangkuanku dengan posisi berhadapan. Diraihnya batang penisku, dituntunnya ke lubang vaginanya. Perlahan-lahan dia mulai menurunkan pantatnya. Kurasakan kepala penisku mulai memasuki lubang yang sempit. Penisku serasa dijepit dan dipijit-pijit. Mungkin karena sudah sepuluh tahun tidak pernah terjamah laki-laki. Meski agak susah, akhirnya amblas juga seluruh batang penisku ke dalam lubang vaginanya.

Tante Sari mulai menaik-turunkan pantatnya, dengan irama pelan. Diiringi desahan-desahan lembut penuh birahi. Sesekali dia memutar-mutar pantatnya, penisku serasa diaduk-aduk dilubang vaginanya. Aku tak mau kalah, kuimbangi gerakkannya dengan menyodok-nyodokkan pantatku ke atas. Seirama gerakkan pantatnya.

Oh, senangnya melihat penisku sedang keluar masuk vaginanya. Bibirku menjilati buah dadanya secara bergantian, sedangkan tanganku mendekap erat pinggangnya. Semakin lama semakin cepat Tante Sari menaik turunkan pantatnya. Nafasnya tersengal-sengal. Dan kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin keras.

“Ohh… Don… Aku… Mau… Keluarr,” pekiknya.
“Tahan… Tan… Te… Akuu… Belumm… Mauu,”sahutku.
“Akuu… Tak… Tahann… Sayang,” teriaknya keras.
Tangannya mencengkeram keras punggungku.
“Akuu… Ke… Ke… Luarr… Sayangg,” jeritnya panjang.

Tante Sari tak dapat menahan orgasmenya, dari vaginanya mengalir cairan yang membasahi seluruh dinding vaginanya. Tante sari turun dari pangkuanku lalu merebahkan tubuhnya dipangkuan. Kepalanya berada pas diselangkanganku. Tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Dan mulutnya mengulum kepala penisku dengan lahapnya.

Perlakuannya pada penisku membuat penisku berkedut-kedut. Seakan-akan ada yang mendesak dari dalam mau keluar. Dan kurasakan orgasmeku sudah dekat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkanganku. Hingga penisku semakin dalam masuk kemulutnya.

“Akhh… Tante… Akuu… Mau keluarr,” teriakku.
“Keluarin… Dimulutku sayang,” sahutnya.
Tante sari semakin cepat mengocok dan mengulum batang penisku. Diiringi jeritan panjang, spermaku muncrat ke dalam mulutnya.
“Ohh… Kamu… Hebatt… Don, aku puas,” pujinya, tersenyum ke arahku. Tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati dan menelan sisa-sisa spermaku.

Suara ranjang berderit di dalam kamar, membuat kami bergegas memakai pakaian dan pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Kemudian masuk ke kamar Masing-masing. Beberapa menit kemudian kudengar langkah kaki Mbak Irma ke kamar mandi. Dari balik jendela kamarku dapat kulihat Mbak Irma hanya mengenakan handuk yang yang dililitkan ditubuhnya. Memperlihatkan paha mulus dan tubuh sexynya. Membuatku mengkhayal, alangkah senangnya bisa bersetubuh dengan Mbak Irma.

Sekitar jam 02.00 dinihari, aku terbangun ketika kurasakan ada yang bergerak-gerak di selangkanganku. Rupanya Tante Sari sedang asyik mengelus-elus buah pelirku dan menjilati batang penisku.

“Akhh… terus… Tante… terus,” gumanku tanpa sadar, ketika dia mulai mengulum batang penisku. Dengan rakus dia melahap penisku. Sekitar sepuluh menit berlalu kutarik penisku dari mulutnya. Kusuruh dia menungging, dari belakang kujilati lubang vaginanya, bergantian dengan lubang anusnya. Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya yang basah dan memerah. Sedikit demi sedikit penisku memasuki lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam, hingga seluruh batang penisku amblas tertelan lubang vaginanya.

Aku mulai memaju mundurkan pantatku, hingga penisku keluar masuk lubang vaginanya. Sambil kuremas-remas pantatnya.

“Ooh… Don… Nikk… Matt… Bangett,” rintihnya.

Aku semakin bernafsu memaju mundurkan pantatku. Tante sari mengimbangi gerakkanku dengan memaju mundurkan juga pantatnya, seirama gerakkan pantatku. Membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Semakin lama semakin cepat gerakkan pantatnya.

“Don… Donnii… Akuu… Tak… Tahann,” jeritnya.
“Akuu… Mauu… Ke… Keluarr,” imbuhnya.

Kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan menjepit penisku. Tangannya mencengkeram dengan keras diranjang.

“Ooh… Oo… Aku… Keluarr,” lolongnya panjang.

Dan kurasakan ada cairan yang merembes membasahi dinding-dinding vaginanya. Tante Sari terlalu cepat orgasme, sedangkan aku belum apa-apa. Aku tak mau rugi, aku harus puas, pikirku. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kuarahkan ke lubang anusnya.

“Akhh… Donn… Jangann… Sakitt,” teriaknya, ketika kepala penisku mulai memasuki lubang anusnya. Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku lebih keras hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Dan kurasakan nikmatnya jepitan lubang anusnya yang sempit. Perlahan-lahan aku mulai menarik dan mendorong pantatku, sambil memasukkan jari-jariku ke lubang vaginanya. Tante sari menjerit-jerit merasakan nikmat dikedua lubang bawahnya.

“Enak khan Tante?” tanyaku.
“Hemm… Enakk… Banget… Sayang,” sahutnya sedikit tersipu malu.

Semakin lama semakin cepat kusodok lubang anusnya. Sambil kutepuk-tepuk pantatnya. Kurasakan penisku berkedut-kedut ketika orgasmeku akan tiba dan crott! crott! crott! Kutumpahkan spermaku dilubang anusnya.

“Penismu yang pertama sayang, memasuki lubang anusku,” katanya sambil membalikkan tubuhnya dan tersenyum padaku.
“Kamu luar biasa Don, belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini,” imbuhnya.
“Tante mau khan, setiap malam kusetubuhi?” tanyaku.
“Siapa yang menolak diajak enak,” sahutnya seenaknya.

Sejak saat itu, hampir setiap malam kusetubuhi Tante sari. Ibu tiri Mbak Irma yang haus sex, yang hampir sepuluh tahun tidak dinikmatinya, sejak kematian suaminya.

Tak terasa sudah lima hari aku berada di rumah Mas Iwan. Selama lima hari pula aku menikmati tubuh Tante Sari, mertuanya yang haus sex. Tante Sari yang sepuluh tahun menjanda, betul-betul puas dan ketagihan bersetubuh denganku. Meski telah berusia setengah baya, tapi nafsu birahinya masih meletup-letup, tak kalah dengan gadis remaja.

Sore itu, sehabis mandi dan berpakaian, Mas Iwan mengajakku jalan-jalan. Katanya mau ketemu seorang teman yang sudah lama dirindukannya. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, sampailah kami di rumah teman Mas Iwan. Sebuah rumah yang berada dikawasan yang cukup elite. Kedatangan kami disambut dua orang wanita kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira. Keduanya sama-sama cantik dan sexy. Mas Iwan memperkenalkanku pada kedua teman wanitanya.

“Mas Iwan, aku kangen banget,” katanya sambil memeluk Mas Iwan.
“Aku juga Rin,” sahut Mas Iwan.

Sambil meminum kopi susu yang disuguhkan Mbak Rina, kami bercakap-cakap. Mbak Rina duduk dipangkuan Mas Iwan. Dan Mas Iwan merangkulnya dengan mesra. Mbak Rina tanpa malu-malu menceritakan, kalau Mas Iwan adalah pacar pertamanya dan Mas Iwanlah yang membobol perawannya.

Mbak Vira hanya tersenyum mendengar cerita kakaknya yang blak-blakan. Makin lama kelakuan Mbak Rina makin mesra saja. Tanpa malu-malu, dia mengecup dan melumat bibir Mas Iwan dan Mas Iwan menyambutnya dengan sangat bernafsu. Aku jadi risih menyaksikan kelakuan mereka. Sekitar sepuluh menit mereka bercumbu di depan kami.

“Kita lanjutin di kamar aja say,” kata Mbak Rina pada Mas Iwan. Mas Iwan mengangguk tanda setuju, sambil membopong tubuh Mbak Rina ke dalam kamar.
“Kalian jangan ngintip ya,” kata Mas Iwan pada kami sambil tersenyum.

Aku dan Mbak Vira hanya bengong melihat kemesraan mereka. Tanpa menghiraukan larangan Mas Iwan, Mbak Vira beranjak dari tempat duduknya sambil meraih tanganku menuju kamar Mbak Rina. Kami kemudian berdiri di depan pintu kamar Mbak Rina yang terbuka lebar. Dari situ aku dan Mbak Vira melihat Mas Iwan merebahkan tubuh Mbak Rina diatas ranjang dan mulai melepaskan gaun Mbak Rina. Aku terkesima melihat mulusnya dan sexynya tubuh Mbak Rina, ketika seluruh pakaiannya dibuka Mas Iwan.

Nafsu birahiku tak tertahankan lagi, penisku menegang dibalik celanaku. Tanpa sadar kupeluk tubuh Mbak Vira yang berdiri di depanku. Mbak Vira diam saja dan membiarkanku memeluknya. Malah tangan dibawa ke belakang dan disusupkan ke balik celanaku. Mendapat perlakuan seperti itu, nafsuku semakin memuncak dan penisku semakin menegang. Apalagi saat Mbak Vira menggerak-gerakkan tangannya mengocok-ngocok batang penisku.

Sementara di dalam kamar, Mas Iwan menarik tubuh Mbak Rina ketepi Ranjang. Kedua paha Mbak Rina dibukanya lebar-lebar. Maka terpampanglah vagina Mbak Rina yang indah, dihiasi bulu-bulu yang dicukur rapi. Mas Iwan kemudian berjongkok dan mendekatkan mulutnya kebibir vagina Mbak Rina.

“Ohh… Say… Yang… Nikk… Mat,” desah Mbak Rina tertahan, ketika Mas Iwan mulai menjilati vaginanya. Lidah Mas Iwan menari-nari dan mencucuk-cucuk vagina Mbak Rina. Pantat Mbak Rina terangkat-angkat menyambut jilatan Mas Iwan. Kedua pahanya terangkat dan menjepit kepala Mas Iwan.

“Sudah… Say… Aku… nggak tahan… Masukin punyamu say,” pinta Mbak Rina penuh nafsu. Mas Iwan kemudian berdiri dan melepaskan semua pakaiannya.

Dengan sedikit membungkukkan badannya, Mas Iwan memegang penisnya dan mengarahkannya ke lubang vagina Mbak Rina yang telah basah dan merah merekah. Slepp! Kepala penis Mas Iwan mulai memasuki vagina Mbak Rina.

“Aow… terus… Say… terus… Genjot,” seru Mbak Rina, ketika Mas Iwan mulai mendorong pantatnya naik turun. Penisnya keluar masuk dari vagina Mbak Rina.

Melihat Mas Iwan dan Mbak Vira sedang bersetubuh di depanku, membuat nafsu birahiku semakin tinggi. Kususupkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dapat kurasakan vaginanya yang telah basah, pertanda Mbak Vira juga bangkit nafsu birahinya. Kucucuk-cucuk vaginanya dengan jari-jariku. Dia mendesah penuh nafsu. Mbak Vira mengimbangi dengan semakin cepat mengocok-ngocok penisku. Sekitar sepuluh menit Mbak Vira mengocok penisku. Mbak Vira kemudian menyudahi kocokkannya dan membalikkan badannya, menghadap ke arahku. Ditariknya celanaku hingga terlepas.

Setelah celanaku terlepas, keluarlah penisku yang tegang penuh dan mengacung-acung dengan bebasnya. Mbak Vira terpukau melihat penisku yang besar dan panjang. Mbak Vira kemudian berjongkok dikakiku, wajahnya berada pas di depan selangkanganku. Mbak Vira mendekatkan mulutnya kebatang penisku. Mula-mula dia menjilati penisku dari kepala hingga pangkalnya. Terus dia mulai mengulum dan menghisap kepala penisku.

Kemudian sedikit demi sedikit batang penisku dimasukkannya ke dalam mulutnya sampai kepala penisku menyodok ujung mulutnya. Dan mulutnya penuh sesak oleh batang penisku. Dengan lihainya, Mbak vira mulai memaju-mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar-masuk dari dalam mulutnya. Mataku merem-melek merasakan nikmat dan badanku serasa panas dingin merasakan kulumannya.

Mbak Vira sangat lihai mengulum penisku. Kudorong maju pantatku dan kujambak rambutnya, membenamkan kepalanya ke selangkanganku. Sekitar lima belas menit berlalu Mbak Vira menyudahi kulumannya, dan melepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian dia berdiri menghadap ke dinding.

“Oohh… Akhh… Akuu… nggak tahann… Don,” serunya tertahan.
“Entot aku… Entott… Don,” imbuhnya.

Kutarik sedikit tubuhnya dari belakang, hingga dia menungging. Kuraih batang penisku dan kuarahkan pas ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku, hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.

“Aow… Pelan-pelan Don,” pekiknya, ketika seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya yang masih sempit. Pekikkan yang keluar dari mulutnya membuatku semakin bernafsu dan pelan-pelan kumaju-mundurkan pantatku.

“Akhh… Enakk… Don… Enakk… Banget,” desahnya sambil menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku.
“Akhh… Akuu… Ke… luarr, Rin,” teriakkan Mas Iwan dari dalam kamar mengejutkanku, namun tak menghentikan sodokkanku pada Mbak Vira.
“Aku… jugaa… Sayang,” sahut Mbak Rina pada Mas Iwan.

Sedetik kemudian Mas Iwan dan Mbak Rina mencapai orgasme bersamaan. Mas Iwan menumpahkan spermanya di dalam vagina Mbak Rina. Kemudian Mas Iwan merebahkan tubuhnya disamping tubuh Mbak Rina, dan tertidur pulas.

Sementara itu, aku semakin cepat memaju-mundurkan pantatku, membuat Mbak Vira berteriak-teriak saking nikmatnya. Kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin lama semakin cepat dan menjepit penisku.

“Donn… Donii… Akuu… Mauu… Keluarr,” teriaknya panjang.
“Tahann… Mbak… Aku… Belum… Apa-apa,” sahutku.
“Akhh… Akuu… Tak… Tahan… Don… Akuu,” jawabnya terputus dan vaginanya semakin keras menjepit penisku.

Tak lama kemudian Mbak Vira mencapai orgasme. Kurasakan ada cairan-cairan yang merembes didinding vaginanya. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kusuruh dia berjongkok dihadapanku. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkangku. Mbak Vira mengerti maksudku. Dia mulai menjilati dan menghisap-isap penisku lalu mengulumnya. Sambil tangan kirinya mengusap-usap buah pelirku.

Sedetik kemudian Mbak Rina datang membantu, dan langsung berjongkok dihadapanku. Lidahnya dijulurkan untuk menjilati buah pelirku. Tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Secara bergantian, kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira, mengocok-ngocok, menjilati dan mengulum penisku. Penisku keluar dari mulut Mbak Vira kemudiam masuk ke mulut Mbak Rina, kemudian keluar dari mulut Mbak Rina lalu masuk kemulut Mbak Vira, begitulah seterusnya. Hingga kurasakan penisku berkedut-kedut.

“Mbakk… Akuu… Mauu… Ke… Keluarr,” jeritku.
“Keluarin di mulutku Don,” sahut mereka hampir bersamaan.

Dan crott! crott! crott! Spermaku muntah dimulut Mbak Vira yang sedang kebagian mengulum. Mbak Vira menelan spermaku tanpa rasa jijik sedikitpun. Kemudian Mbak Rina merebut penisku dari Mbak Vira dan memasukkan ke mulutnya. Dan tak mau kalah dengan adiknya, sisa-sisa spermaku dihisap dan dijilatinya sampai bersih.

“Kamu puas Don,” kata Mbak Vira.
“Puas sekali Mbak, Mbak berdua luar biasa,” sahutku.
“Kamu mau yang lebih seru nggak,”kata Mbak Rina.
“Mau, mau Mbak,”sahutku.

Mereka kemudian mengajakku ke kamarnya, dimana Mas Iwan sedang tertidur pulas sehabis bersetubuh dengan Mbak Rina. Mbak Rina menyuruhku tidur terlentang diranjang. Mbak Rina kemudian menarik kakiku, hingga pantatku berada ditepi ranjang dan kakiku menjuntai kelantai. Lalu Mbak Rina berjongkok dilantai dengan wajah berada pas di depan selangkanganku. Mbak Rina mulai mengusap-usap dan mengocok-ngocok batang penisku yang masih layu, sehabis orgasme. Kurasakan sedikit ngilu tetapi kutahan.

Mbak Rina menyudahi usapan dan kocokannya. Dan mulai menjilati dan menghisap-isap penisku dimulai dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Lidahnya berputar-putar dan menari-nari diatas batang penisku. Puas menjilati penisku, Mbak Rina kemudian memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk kemulutnya. Dan kurasakan sedikit demi sedikit penisku mulai menegang didalam mulutnya, hingga mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang sudah tegang penuh. Mbak Rina sangat pintar membangkitkan birahiku. Mulutnya maju mundur mengulum penisku. Pipinya sampai kempot, saking semangatnya mengulum penisku.

Melihat kakaknya yang sedang menjilati dan mengulum batang penisku, Mbak Vira nafsunya bangkit lagi. Dia meraba-raba dan memasukkan jari-jari tangan kirinya ke dalam vaginanya sendiri, sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah dadanya hingga mengeras dan padat. Diiringi desahan-desahan penuh birahi.

Puas bermain-main dengan vagina dan buah dadanya sendiri, Mbak Vira kemudian naik ke atas tubuhku. Dan mengangkangi wajahku. Lubang vaginanya berada pas diatas wajahku. Dia menurunkan pantatnya, hingga bibir vaginanya menyentuh mulutku. Kujulurkan lidahku untuk menjilati vaginanya yang telah basah. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya, dia mengerang-erang merasakan nikmat. Mbak Vira menarik rambutku, membenamkan wajahku diselangkangannya. Kepalaku dijepit dengan kedua paha mulusnya.

Kini kami bertiga, aku dan kakak beradik sedang berlomba mencari kepuasan. Mbak Vira sedang kujilati vaginanya, sedangkan pada bagian bawah tubuhku Mbak Rina dengan asiknya mengulum batang penisku. Beberapa waktu berlalu Mbak Rina melepaskan kulumannya, dan berjongkok diatas selangkanganku. Dengan tangannya, diraihnya batang penisku dan diarahkannya ke lubang vaginanya. Bless! Dengan sekali dorongan pantatnya, masuklah seluruh batang penisku ke dalam vaginanya yang basah tapi hangat.

Lalu Mbak Rina menaik turunkan pantatnya, sambil mengeluarkan desahan-desahan nikmat dari mulutnya. Sesekali pantatnya diputar-putar hingga penisku serasa dipelintir. Saat menikmati goyangan Mbak Rina, aku terus menjilati vagina Mbak vira sambil memasukkan jari-jariku ke lubang anusnya. Sedang asiknya aku menjilati vagina Mbak Vira, kurasakan vaginanya berkedut-kedut.

Beberapa detik kemudian ada cairan yang keluar dari dalam vaginanya. Mbak Vira mencapai orgasme. Pahanya makin keras menjepit kepalaku. Tanpa rasa jijik kusedot dan kutelan cairan vaginanya.
Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, Vagina Mbak Rina juga berkedut-kedut, otot-otot vaginanya menegang.

“Ohh… Don… Aku… Keluar,” teriak Mbak Rina.

Air maninya mengaliri deras dan membasahi batang penisku. Kemudian dia terkulai lemas sampingku. Membuat penisku yang masih tegang terlepas dan mengacung-acung. Mbak vira yang kondisi sudah pulih sehabis orgasme, kemudian berjongkok diatas selangkanganku, menggantikan kakaknya. diraihnya penisku dan diarahkannya ke lubang anusnya. Mbak Vira menurunkan pantatnya sedikit demi sedikit hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kurasakan penisku seperti dijepit dan dipijit-pijit oleh sempitnya lubang snusnya.

“Oohh… Mbak… Nikk… Matt… Enakk,”teriakku, ketika Mbak Vira mulai menaik turunkan pantatnya, membuat penisku keluar masuk dari lubang anusnya. Sesekali dia menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, membuatku merasakan nikmat yang luar biasa. Sekitar tiga puluh menit Mbak Vira menggenjot tubuhku.

“Mbakk… Akuu… Ke… Keluarr,” jeritku.

Kurasakan penisku berkedut-kedut dan crott! crott! crott! kutumpahkan seluruh spermaku di dalam lubang anusnya. Mbak Vira kemudian merebahkan tubuhnya diatas tubuhku.Sambil menindihku dia tersenyum puas. Malam itu, aku dan Mas Iwan menginap disana. Dan berpesta sampai pagi, sampai kami sama-sama puas dan kelelahan.

Panasnya sinar matahari yang menerobos jendela kamarku, membangunkanku dari tidurku yang lelap. Setelah hampir semalam penuh aku merasakan nikmatnya bersetubuh dengan Mbak Rina dan Mbak Vera. Dan aku baru pulang dari rumahnya kerumah Mas iwan jam 05.00 dinihari.

Dengan sedikit bermalas-malasan, aku pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Selesai mandi badan rasanya segar sekali. Siang itu kurasakan lain dari biasanya, rumah Mas Iwan tampak sepi sekali. Oh ya, aku baru ingat kalau hari ini, Mas Iwan mengantar Tante Sari kondangan ke kampung sebelah. Jadi yang ada di rumah hanya Mbak Erna dan Aku.

Dengan hanya mengenakan handuk yang kulilitkan dipinggangku, aku pergi ke dapur. Membuat secangkir kopi. Sampai didapur kudapati Mbak Erna sedang mencuci piring.

“Pagi Mbak,” sapaku.

Mbak Erna tak menjawab sapaanku. Mukanya cemberut. Aku heran, tumben Mbak Erna begitu, biasanya dia sangat ramah padaku.

“Ada apa sih Mbak, kok cemberut begitu,” tanyaku lagi.
“Mbak marah sama aku? atau Mbak nggak senang ya, aku disini,” imbuhku.

Mbak erna masih diam saja, membuatku tak enak hati dan bertanya-tanya dalam hati.

“Ok, Mbak. Kalau Mbak nggak senang, aku pulang aja deh,”
“Jangan-jangan pulang Don, aku nggak marah sama kamu,” sahutnya sambil menarik tanganku.
“Habis Mbak marah sama siapa? Boleh tahu kan Mbak ?” tanyaku lagi.
“Ok, Mbak akan kasih tahu, tapi jangan bilang sama siapa-siapa ya!,” jawabnya.
“Aku janji Mbak,” kataku meyakinkannya.
“Don, aku lagi kesal sama Mas Iwan,” kata Mbak sari.
“Kesal kenapa Mbak,” selaku.
“Belakangan ini, Mas Iwan dingin sekali padaku Don,” katanya sambil merebahkan kepalanya didadaku.
“Setiap aku pingin begituan, dia selalu menolak,” imbuhnya sambil tersipu malu.
“Mungkin Mas Iwan lagi lelah Mbak,” hiburku sambil kuusap-usap rambutnya.
“Ah, masak setiap malam lelah,” sahutnya.
“Mungkin ada yang bisa aku bantu, untuk menghilangkan kekesalan Mbak,” pancingku.

Mbak Erna tak menjawab pertanyaanku. Sebagai orang yang cukup berpengalaman soal sex, aku tahu Mbak Erna sangat kesepian dan menginginkan hubungan sexsual. Maka dengan memberanikan diri, kukecup lembut keningnya. Dan kurasakan remasan halus tangannya yang masih memegang tanganku.
Merasa mendapat respon positif, kugerakkan bibirku menciumi kedua pipinya dan berhenti dibelahan bibir mungilnya.

Mbak Ernapun membalas kecupanku pada bibirnya dengan kuluman yang hangat, penuh gairah. kukeluarkan lidahku, mencari lidahnya. Kuhisap-hisap dan kusedot-sedot. Kulepaskan tanganku dari genggamannya dan kugerakkan menggerayangi tubuh Mbak Erna. Dan perlahan-lahan kususupkan tangan kananku kebalik gaun tidurnya. Dan kurasakan halusnya punggung Mbak Erna. Sementara tangan kiriku meremas-remas pantatnya yang padat. Mbak Erna melepaskan seluruh pakaiannya. Agar aku lebih leluasa menggerayangi tubuhnya.

Setelah semua terlepas maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Dengan jelas aku bisa melihat buah dadanya yang montok, perutnya yang ramping dan vaginanya yang dicukur bersih. Membuat nafsu birahiku semakin menjadi-jadi dan kurasakan penisku menegang. Akupun melepaskan kulumanku pada bibirnya dan dengan sedikit membungkukkan badanku. Aku mulai menjilati buah dadanya yang mulai mengeras, secara bergantian.

Puas menjilati buah dadanya, jilatanku kupindahkan ke perutnya. Dan kurasakan halusnya kulit perut Mbak Erna. Mbak Erna tak mau ketinggalan, ditariknya handuk yang melilit dipinggangku. Dengan sekali sentakan saja, handukku terlepas.

“Aow, besar sekali don penismu,” decaknya kagum, sambil memandangi penisku yang telah menegang dan mengacung-ngacung setelah handukku terlepas. Mbak Erna menggerakkan tangannya, meraih batang penisku. Diusap-usapnya dengan lembut kemudian dikocok-kocoknya, membuat batang penisku semakin mengeras.

Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu, Kusudahi jilatanku pada perutnya. Kuangkat tubuhnya dan kududukkan diatas meja dapur. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Dan terpampanglah di depanku bukit kecil yang dicukur bersih. Bibir vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil yang tersembul diatasnya. Kubungkukkan tubuhku dan kudekatkan wajahku ke selangkangannya. Dan aku mulai menjilati pahanya yang putih mulus, dihiasi bulu-bulu halus. Sambil tanganku meraba-raba vaginanya.

Beberapa menit berlalu, kupindahkan jilatanku dari pahanya ke vaginanya. Mula-mula kujilati bibir vaginanya, terus kebagian dalam vaginanya. Lidahku menari-nari didalam lubang vaginanya yang basah.

“Ohh… terus… Don… terus… Nik… Matt,” serunya tertahan. Membuatku semakin bersemangat menjilati lubang vaginanya. Kusedot-sedot klitorisnya. Pantat Mbak Erna terangkat-angkat menerima jilatanku. Ditariknya kepalaku, dibenamkannya pada selangkangannya.

“Ohh… Don… Aku… Tak… Tahan… Masukin Don… Masukin penismu,” pintanya menghiba.

Kuturuti kemauannya. Aku kemudian berdiri. Kuangkat kedua kakinya tinggi-tinggi, hingga ujung jari kakinya berada diatas bahuku. Kudekatkan penisku keselangkangannya. Mbak Erna meraih penisku dan menuntunnya ke lubang vaginanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.

Aku diam sejenak mengatur posisi supaya lebih nyaman, lalu kudorong pantatku lebih keras, membuat seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Kurasakan penisku dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit. Vaginanya penuh sesak karena besarnya batang penisku.

“Aow… Pelan-pelan… Don… penismu gede sekali,” pekiknya, ketika aku mulai memaju mundurkan pantatku, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.

Tak terasa sudah tiga puluh menit aku memaju mundurkan pantatku. Dan kurasakan vagina Mbak Erna berkedut-kedut. Dan otot-otot vaginanya menegang.

“Ohh… Don… Aku… Keluarr… Sayang,” teriaknya lantang. Sedetik kemudian kurasakan cairan hangat keluar dari vaginanya. Dan Mbak Erna mencapai orgasmenya. Mbak Erna tahu kalau aku belum mencapai puncak kenikmatan. Dia turun dari atas meja dapur. Kemudian berjongkok dihadapanku. Diraihnya penisku dan dikocok-kocok dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya meremas-remas buah pelirku.

“Akhh… Mbak… Enak… Nikk… Mat… terus,” seruku, ketika Mbak Erna mulai menjilati batang penisku. Dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Mataku merem melek merasakan nikmatnya jilatan Mbak Erna. Aku semakin merasa nikmat ketika Mbak Erna memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Dan mulai mengulum batang penisku. Mbak Erna memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar masuk dari mulutnya. Sementara tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku.

“Oohh… Mbak… Akuu… Tak… Tahan,” teriakku.

Dan kurasakan penisku berkedut-kedut semakin lama semakin cepat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya diselangkanganku.

“Mbak… Akuu… Ke… Luarr,” teriakku lagi lebih keras. Mbak Erna semakin cepat memaju mundurkan mulutnya. Dan crott! crott! crott! penisku memuntahkan sperma yang sangat banyak di mulutnya. Mbak Ernapun menelannya tanpa ragu-ragu. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati sisa-sisa spermaku sampai bersih.

“Terimakasih Don, kamu telah memberiku kepuasan,” pujinya sambil tersenyum.
“Sama-sama Mbak, aku juga sangat puas,” sahutku.
“Mbak masih mau lagi kan,” tanyaku.
“Mau dong, tapi kita mandi dulu yuk,” ajaknya.

Kemudian kami meraih pakaian masing-masing untuk selanjutnya bersama-sama pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Sehabis mandi, masih sama-sama telanjang, kubopong tubuhnya menuju taman disamping rumah. Aku ingin melaksanakan impianku selama ini, yaitu bersetubuh ditempat terbuka.

“Don… Jangan disini sayang, nanti dilihat orang,” protesnya.
“Kan nggak ada siapa-siapa di rumah Mbak,” sahutku.

Mbak Ernapun tidak protes lagi, mendengar jawabanku. Sambil berdiri kupeluk erat tubuhnya. Kulumat bibirnya. Mbak Erna membalas lumatan bibirku dengan pagutan-pagutan hangat. Cukup lama kami bercumbu, kemudian aku duduk dikursi taman. Dan kusuruh Mbak Erna berjongkok dihadapanku. Mbak Erna tahu maksudku. Diraihnya batang penisku yang masih layu. Dielus-elusnya lembut kemudian dikocok-kocok dengan tangannya.

Setelah penisku mengeras Mbak Erna menyudahi kocokkannya, dia mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Lidahnya dijulurkan dan mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku, kemudian turun kepangkalnya.

“Oohh… terus… Mbak… Nikmat banget,” desahku.
“Isepp… Mbak… Isep,” pintaku. Mbak Erna menuruti kemauanku.

Dimasukkannya penisku kemulutnya. Hampir sepertiga batang penisku masuk ke mulutnya. Sambil tersenyum padaku, dia mulai memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku maju keluar masuk dimulutnya.

“Mbak… Aku… Tak… Tahan,” seruku. Mbak Erna kemudian naik ke pangkuanku. Vaginanya pas berada diatas selangkanganku. Diraihnya penisku dan dibimbingnya ke lubang vaginanya. Mbak Erna mulai menurunkan pantatnya, sedikit demi sedikit batang penisku masuk ke lubang vaginanya semakin lama semakin dalam. Hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Sesaat kemudian Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Sesekali digoyang-goyangkan pantatnya kekiri-kekanan. Aku tak mau kalah, kusodok-sodokkan pantatku ke atas seirama dengan goyangan pantatnya.

“Ohh… Don… Aku… Mauu… Ke… luarr,” teriaknya setelah hampir tiga puluh menit menggoyang tubuhku. Dan kurasakan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram dadaku dengan keras. Sesaat kemudian kurasakan cairan hangat merembes dilubang vaginanya.

“Aku tak ingin mengecewakanmu Don,” katanya sambil tersenyum. Dia menarik penisku keluar dari lubang vaginanya, kemudian memasukkannya ke lubang anusnya. Mbak Erna rupanya tahu kesenanganku. Meski agak susah, akhirnya bisa juga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Perlahan tapi pasti Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Membuatku merasakan nikmat yang tiada taranya.

Cukup lama Mbak Erna menggoyang-goyangkan pantatnya, kemudian kami berganti posisi. Kusuruh dia menungging, membelakangiku dengan tangan bertumpu pada kursi taman. Kugenggam penisku dan kuarahkan tepat ke lubang anusnya. Kudorong sedikit demi sedikit, sampai seluruhnya amblas tertelan lubang anusnya. Lalu kudorong pantatku maju mundur. Kurasakan nikmatnya lubang anus Mbak Erna. Sambil kucucuk-cucuk lubang vaginanya dengan jari-jariku. Membuat nafsu birahi Mbak Erna bangkit lagi. Mbak Erna mengimbangi gerakkanku dengan mendorong-dorong pantatnya seirama gerakkan pantatku.

Aku semakin mempercepat gerakkan pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Demikian juga jari-jariku semakin cepat mencucuk vaginanya.

“Mbak… Mbak… Akuu… Mau… Keluar,” seruku.
“Akuu… Juga… Don,” sahutnya.

Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kami mencapai orgasme. Kutarik penisku dari lubang anusnya, dan kutumpahkan spermaku dipunggungnya. Mbak Erna kemudian membalikkan badannya dan berdiri, sambil memintaku duduk kursi taman. Didekatkannya selangkangannya kewajahku. Ditariknya rambutku dan dibenamkannya kepalaku keselangkangannya. Dan akupun mulai menjilati vaginanya sambil duduk. Kuhisap dan kusedot-sedot cairan hangat yang keluar dari lubang vaginanya. Mbak Erna sangat puas dengan perlakuanku.

Hari itu kami melakukan persetubuhan sampai puas, dengan berbagai macam gaya. Sungguh luar biasa Mbak Erna, meskipun tinggal dikampung. Tapi dalam soal bersetubuh dia tak kalah dengan orang kota. Memang sungguh nikmat istri Mas Iwan. Vagina dan lubang anusnya sama nikmatnya. Membuatku ketagihan menyetubuhinya.

Tak terasa sudah satu bulan aku berlibur dikampung Mas Iwan. Malam-malam yang kulewati bersama Mbak Erna dan Tante Sari membuat waktu satu bulan terasa cepat sekali. Sudah saatnya aku kembali kekotaku, karena tiga hari lagi aku harus ke sekolah.

Saat berangkat dari kampung Mas Iwan, aku tidak sendirian. Ada Vivi, anak kandung Tante Sari menemaniku. Gadis cantik berkulit putih dan bertubuh langsing ini, baru tamat SMP dan akan melanjutkan SMU di kota. Tante sari meminta tolong padaku agar mengantarkan Vivi, mencari rumah kost di dekat sekolah.

Dengan menempuh dua jam perjalanan, sampailah kami di kota. Dan setelah berpuar-putar cukup lama, akhirnya kudapatkan rumah kost untuk Vivi. Pemilik rumah adalah seorang janda cantik berusia sekitar 32 tahun, namanya Yeni. Setelah memberikan kunci kamar pada Vivi, Tante Yeni meninggalkan kami berdua.

Sehabis membantu Vivi mengangkat barang-barangnya ke dalam kamar, aku merasa haus. Kusuruh Vivi ke warung untuk membeli minuman. Sambil duduk menunggu kedatangan Vivi, iseng-iseng kunyalakan VCD. Ngawur aja kusetel salah satu film. Aku terkejut, ternyata isinya film porno.

Adegan-adegan difilm itu, membangkitkan nafsu birahiku. Kurasakan batang penisku mengeras dan berdiri tegak di balik celanaku. Kuturunkan celanaku, dan kukeluarkan batang penisku. Kuelus-elus dan kukocok-kocok batang penisku. Saking asiknya aku mengocok-ngocok batang penisku, sampai kedatangan Vivi tak kurasakan.

“Mas, Doni lagi ngapain,” suara Vivi mengejutkanku.
“Akh, nggak ngapa-ngapain,” sahutku.
“Itu apa?” tanyanya lagi sambil memandangi celanaku.

Astaga! Aku lupa menaikkan celanaku. Sehingga Vivi dengan jelas melihat penisku yang sedang berdiri tegak. Merasa sudah kepalang basah, kulanjutkan saja mengocok penisku.

“Kamu bisa membantuku Vi?,” tanyaku.
“Bantu apa Mas?,” katanya balik bertanya.
“Kocokkin penisku Vi,” pintaku.

Vivi menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kutarik tangannya dan kuletakkan diatas penisku. Vivi yang juga sudah terangsang akibat ikut nonton film porno, menggenggam batang penisku. Dengan lembut dia mengelus-elus dari kepala sampai kepangkal penisku. Aku merasa seperti melayang.

Aku melepaskan seluruh pakaianku sambil memeluk tubuh Vivi yang sedang mengocok penisku. Kutarik kaosnya dan kususupkan tanganku kebalik BHnya. Kuraba-raba buah dadanya. Perlahan-lahan buah dadanya mengeras. Cukup lama aku meraba-raba buah dadanya, kemudian kutarik Bhnya hingga terlepas. Setelah terlepas, terlihatlah buah dadanya yang padat dan mengeras. Aku melanjutkan lagi meremas-remas buah dadanya. Vivi mendesah-desah merasakan nikmat, tangannya semakin cepat mengocok penisku.

Sekitar lima belas menit berlalu kami berganti posisi. Sambil menarik rok mininya, kodorong tubuhnya hingga terlentang diranjang. Hanya celana dalamnya saja yang melekat menutupi selangkangannya. Kutindih tubuhnya dari atas lalu kukecup bibirnya, kujulurkan lidahku mengisi rongga mulutnya yang terbuka. Vivi menyambutnya dengan hisapan yang tak kalah hebatnya.

Setelah cukup lama berpagutan, kuputar tubuhku. Membentuk posisi 69. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan selangkangannya berada dibawah wajahku. Kujulurkan lidahku menjilati bagian bawah perutnya, sambil tanganku melepas celana dalam Vivi. Vivi mengangkat pantatnya memudahkan aku melepaskan celana dalamnya dan meleparkannya ke lantai kamar. Lidahku bergerak turun menyapu bibir vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.

“Ohh… Mas don… Enakk,” desahnya ketika aku mulai menjilati vaginanya yang basah, membuatku semakin bersemangat menjilati vaginanya. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya yang sebesar biji kacang.

Saat aku menjilati lubang vaginanya, Vivi juga sedang asyik menjilati penisku. Sambil tangan kirinya mengocok-ngocok pangkal penisku sedangkan tangan kanannya mengelus-elus buah pelirku dengan lembut. Sesaat kemudian Vivi memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk ke mulutnya. Kudorong pantatku ke atas dan ke bawah, sehingga penisku keluar masuk dimulutnya.

Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu. Aku bangkit dan berdiri dilantai kamar. Kutarik tubuhnya, hingga pantatnya berada ditepi ranjang. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Kuarahkan penisku tepat ke lubang vaginanya.

“Ja… Jangan… Mas, aku masih perawan,” katanya.

Aku tak memperdulikan kata-katanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku menyeruak masuk. Vivi berteriak lebih keras ketika aku mendorong lebih keras dan penisku menembus selaput daranya. Akupun lebih bersemangat mendorong pantatku dan amblaslah seluruh batang penisku ke lubang vaginanya yang sangat sempit. Penisku serasa dijepit sempitnya lubang vaginanya. Beberapa detik kubiarkan penisku di dalam vaginanya.

Kupandangi wajahnya yang meringis menahan sakit. Dengan perlahan-lahan kuangkat pantatku lalu kuturunkan lagi. Membuat penisku keluar masuk dilubang vaginanya. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Beginikah rasanya menyetubuhi seorang perawan.

“Ohh… Mas… Enakk,” desahnya yang mulai merasakan

Nikmatnya disetubuhi. Pantatnya digerakkan naik turun seirama gerakkan pantatku. Rasa sakitnya telah hilang berganti dengan rasa nikmat. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram seprei dengan keras.

“Ohh… Mas… Akuu… Mauu,” desahnya terputus.
“Mau keluar sayang,” sahutku.
Vivi mengangguk sambil tersenyum.
“Aku juga Vi,” imbuhku. Semakin cepat kudorong-dorong pantatku.
“A… Akuu… Ke… Luarr,” teriaknya lantang.

Kurasakan cairan hangat merembes didinding vaginanya. Sedetik kemudian kurasakan penisku berkedut-kedut. Dan Crott! crott! crott! Kutumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang vaginanya. Dan tubuhku ambruk menindih tubuhnya.

“Kamu menyesal Vi,” tanyaku sambil tersenyum puas, karena baru kali ini aku menyetubhi seorang perawan.
“Nggak Mas, semua sudah terjadi,” sahutnya.
“Kamu mau lagi khan,” godaku. Vivi tersenyum padaku, senyum penuh arti.

Kira-kira satu jam kami tertidur. Akupun terbangun dan bergegas ke kamar mandi membersihkan badan. Mengingat kejadian tadi, bersetubuh dengan Vivi, membuat nafsu birahiku bangkit lagi. penisku yang tadi telah layu, kini tegang dan mengeras. Setelah mengelap tubuhku dengan handuk akupun bergegas ke kamar, dimana Vivi sedang tertidur pulas. Dan ia terbangun ketika aku lagi asyik menjilati lubang vaginanya.

“Oh… Mas… Apa yang kamu lakukan,” tanyanya.
“Aku pingin setubuhi kamu lagi sayang,” sahutku sambil tersenyum.

Vivi membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga aku lebih leluasa menjilati vaginanya. Beberapa menit berlalu kusuruh dia menungging. Aku mengambil posisi dibelakangnya. Dari belakang, aku menjilati lubang anusnya, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya.

Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku. Sedikit demi sedikit penisku masuk ke lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam penisku memasukinya, sampai seluruhnya amblas, tertelan lubang vaginanya. Akupun mendorong pantatku maju mundur, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.

“Ohh… Nikk… Matt… Mas… Enakk,” jeritnya tertahan. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kutarik penisku dari lubang vaginanya hingga terlepas. Kemudian kugenggam penisku dan kuarahkan ke lubang anusnya.

“Jangan, Mass sakitt, ja… “jeritnya sambil meringis. Belum habis dia bicara, kudorong pantatku dengan keras. Dan Bless! Seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kukocok lubang anusnya dengan irama pelan semakin lama semakin cepat, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Dan Vivipun merasakan sensasi yang luar biasa dikedua lubangnya. Jeritan-jeritannya berganti dengan desahan-desahan nikmat penuh nafsu.

Aku semakin bersemangat mendorong-dorong pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Sepuluh menit kemudian penisku menyemburkan sperma didalam anusnya. Dan tak lama berselang Vivi menyusul, tubuhnya mengejang hebat. Kemudian Vivi terkulai lemas dan tertidur.

Aku kemudian berdiri dan mengenakan celanaku. Saat aku akan mengambil handuk ke dalam almari, tanpa sengaja aku menoleh keluar jendela. Samar-samar aku melihat sesosok bayangan wanita yang sedang berdiri dibalik jendela kamar. Rupanya orang itu sedang mengitip aku dan Vivi yang sedang bersetubuh dari balik korden yang lupa aku tutup.

Saat aku keluar mencarinya, wanita itu bergegas pergi. Aku membuntuti wanita itu. Melihat potongan tubuhnya dari belakang aku yakin kalau wanita itu adalah Tante Yeni, ibu kostnya Vivi. Dan aku keyakinanku semakin kuat, saat wanita itu masuk kekamar tidur Tante Yeni dan langsung menutup pintu. Aku berjalan mendekat dan berdiri di depan pintu kamarnya.

Aku mengintip dari lubang kunci. Dan memang benar, wanita yang tadi mengintipku adalah Tante Yeni. Sampai didalam kamar Tante Yeni melepaskan seluruh pakaiannya. Aku terkesima melihat tubuh Tante Yeni yang putih mulus dan sexy, meski sudah berumur sebaya ibuku. Membuat jantungku berdetak kencang. Nafsu birahiku yang baru saja tersalurkan bersama Vivi, perlahan-lahan bangkit lagi.

Pemandangan selanjutnya lebih seru lagi. Tante Yeni merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua kaki terbuka lebar-lebar, memperlihatkan indahnya bentuk vaginanya. Tante Yeni meremas-remas buah dadanya sendiri dengan tangan kirinya. Perlahan buah dadanya mulai mengeras. Sedangkan tangan kanannya meraba-raba selangkangannya. Desahan-desahan nikmat keluar dari bibirnya, membuatku semakin tak tahan. Batang kemaluanku sudah berdiri tegak.

Dengan sangat hati-hati, aku membuka pintu kamarnya. Dan ternyata tidak terkunci. Sambil melepaskan celanaku, aku berjalan mengendap-endap mendekatinya. Tante Yeni yang sedang asyik meraba-raba tubuhnya sendiri, tidak tahu kalau aku masuk ke kamarnya.

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menindihnya. Tante Yeni sangat terkejut melihat kehadiranku. Aku segera menyumpal mulutnya yang sedang Terbuka saat dia hendak berteriak dengan mulutku. Dan aku langsung melumatnya. Tante Yeni yang sedang dirasuki nafsu birahi, membalas lumatanku dengan pagutan-pagutan yang tak kalah hebatnya.

Cukup lama aku melumat bibirnya, kemudian aku menjilati lehernya, terus turun ke buah dadanya yang sudah mengeras. Kedua buah dadanya aku jilati secara bergantian, membuat desahannya semakin keras. Aku menyudahi jilatanku pada kedua buah dadanya, kemudia aku berlutut ditepi ranjang, diantara kedua kakinya. Tanganku yang nakal mulai meraba-raba bibir vaginanya yang dicukur bersih.

Tanpa berfikir lama, aku menjulurkan lidahku, menjilati, menghisap dan sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vagina Tante Yeni dan lidahku menari-nari di dalam lubang vaginanya. Tante Yeni mengangkat-angkat pantatnya, menyambut jilatanku. Rintihan-rintihan kecil keluar dari mulutnya setiap kali lidahku menghujam lubang vaginanya. Disaat dia sedang menikmati jilatanku, aku memasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya. Sambil sesekali aku menjilati lubang anusnya. Tante Yeni sangat menikmati perlakuanku, dia menekan kepalaku dan membenamkannya diselangkangannya.

Sepuluh menit berlalu, aku menyudahi jilatanku. Aku kemudian berdiri, sambil menarik pinggulnya ketepi ranjang, kedua kakinya kubuka lebar-lebar. Tanpa membuang waktu lagi, batang kemaluanku yang sudah tegang dari tadi langsung kuhujamkan ke lubang vaginanya. Tante Yeni menjerit saat batang kemaluanku yang besar dan panjang menerobos masuk ke lubang vaginanya. Aku merasakan jepitan bibir vaginanya yang begitu seret. Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Tante Yeni sangat menikmati setiap gerakkan pantatku, dia menggeliat dan mendesah disetiap gerakan kemaluanku keluar masuk dari lubang vaginanya.

Aku semakin mempercepat memaju mundurkan pantatku saat Tante Yeni memperlihatkan tanda-tanda orang yang mau orgasme.

“Ohh.., Don.., akuu.., mau.., keluarr,” jeritnya cukup keras. Tante Yeni menggelinjang hebat, kedua pahanya menjepit pinggangku. Rintihan panjang keluar dari mulutnya saat klitorisnya memuntahkan cairan kenikmatan. Aku merasakan cairan hangat yang meleleh disepanjang batang kemaluanku. Aku membiarkan Tante Yeni beristirahat sambil menikmati orgasmenya. Setelah Tante Yeni berhasil menguasai dirinya, tanpa membuang waktu lagi aku membalikkan tubuhnya dalam posisi menungging.

Lalu aku menciumi pantatnya. Tante Yeni mengeliat menahan geli saat lidahku menelusuri vagina dan anusnya. Kemudian aku meludahi lubang anusnya beberapa kali. Setelah kurasakan daerah itu benar-benar licin, aku membimbing batang kemaluanku dengan tangan kiriku sementara tangan kananku membuka lubang anusnya. Tante tak bereaksi apa-apa dan membiarkan saja apa yang kulakukan. Perlahan kudorong pantatku. Tante Yeni merintih sambil menggigit bibirnya menahan rasa perih akibat tusukan kemaluanku pada lubang anusnya yang sempit. Setelah beberapa kali mendorong dan menarik akhirnya seluruh batang kemaluanku masuk ke lubang anusnya.

Sambil menikmati jepitan lubang anusnya, aku mendiamkan sebentar batang kemaluanku disana untuk beradaptasi. Tante Yeni menjerit saat aku mulai menghujamkan kemaluanku. Tubuhnya terhentak-hentak ketika sodokkanku bertambah kencang dan kasar. Sambil terus meningkatkan irama sodokkan, tanganku dengan kasar mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Akibat menahan sensasi nikmat ditengah-tengah rasa ngilu dan perih pada kedua lubang bawah tubuhnya, Tante Yeni sampai menangis. Setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke lubang anusnya, dia mengaduh namun dia tak mau aku menyudahinya. Sampai akhirnya kurasakan suatu perasaan yang sangat nikmat mengaliri sekujur tubuhku.

Aku mengerang panjang, saat mengalami orgasme yang pertama. Tanganku mencengkeram keras pantatnya. Aku menumpahkan seluruh spermaku didalam lubang anusnya. Tubuhku menegang beberapa saat, kemudian terkulai lemas. Tak lama kemudian Tante Yeni menyusul, dia mengeram sambil tangannya mencengkeram bantal kuat-kuat. Cairan hangat dan kental meleleh dari lubang vaginanya.

Dengan nafas yang masih memburu dan tubuh yang masih lemas, Tante Yeni bangkit kemudian duduk ditepi ranjang. Dia meraih batang kemaluanku lalu memasukkan ke mulutnya. Tante Yeni menjilati sisa-sisa sperma yang masih blepotan dibatang kemaluanku sampai bersih tanpa tersisa setetespun. Tante Yeni tersenyum puas merasakan nikmat yang sudah cukup lama tidak dirasakannya, sejak dia bercerai dengan suaminya.

Tanpa malu-malu dia meminta aku agar menyutubuhinya lagi. Aku menuruti permintaannya, kami bersetubuh sampai pagi. Sampai kami benar-benar kelelahan. Pagi-pagi sekali aku meninggalkan Tante Yeni yang masih tidur tanpa busana dan masuk kekamar Vivi. Dimana Vivi juga sedang tidur pulas. Aku mengenakan seluruh pakaianku, kemudian pergi tanpa pamit. Meninggalkan kenangan-kenangan nikmat untuk mereka berdua. Sekali waktu aku mengunjungi Tante Yeni dan Vivi untuk menikmati lagi tubuh mereka.

Akibat Pergaulan Bebas 7:50 pm

Beberapa nama sengaja aku ganti demi menjaga kehormatan serta nama baik orang-orang yang kusebut dalam kisah nyata ini sedangkan nama-nama tempat serta adik sang sutradara adalah benar nama panggilan sehari-harinya.

Para pembaca yang budiman, ini adalah lanjutan kisah pengalamanku yang lalu dari villa Cibodas bersama Mbak Evie.

Yogyakarta, 1978 - Festival Film Asia

Kegiatan shooting film sementara ‘break’ istilahnya atau istirahat karena hampir seluruh insan perfilman Indonesia dan negara-negara anggota FFA tumpah ruah di Yogya, berarti aku menganggur, tidak ada ’site-income’ dari shooting film. Aku terpaksa mencari pekerjaan yang sifatnya Part Time yang berhubungan dengan FFA itu dan kiranya Sang Nasib masih memberiku kesempatan dimana aku mendapat pekerjaan dari satu organisasi pengatur konferensi dan aku ditempatkan di Yogya dimana FFA tersebut dibuka dan bersambung juga di Bali untuk acara penutupannya, aku juga terus mengikutinya.

Selama di Yogya aku bertemu dengan Mas Echa dan Mbak Ranti, mereka tinggal di hotel Ambarukmo dan hatiku berbunga-bunga sewaktu mendengar dari Mbak Ranti bahwa Mbak Evie juga akan datang ke Yogya menyusul mereka 1 hari sebelum upacara pembukaan.

“Dhit, selama Evie ada di Yogya, aku mau kamu yang menemani dia dan bantu dia untuk segala sesuatunya ya, ngerti!, kamu harus atur bagaimana caranya terserah kamu, luangkan waktumu untuknya.” demikian perintah tegas Mas Echa kepadaku di depan isterinya, Mbak Ranti.
“Baik Mas, saya akan usahakan supaya saya dapat menemani Mbak Evie.” jawabku pasrah dan senang, kalau boss sudah berbicara demikian, yah harus dituruti daripada kehilangan kesempatan kerja lagi dengan Mas Echa serta lebih-lebih lagi kehilangan kesempatan menikmati tubuh montok Mbak Evie yang kebetulan jauh dari Mas Irawan. Kepalaku sempat pusing sejenak, berpikir bagaimana caranya membagi waktu antara pekerjaan untuk dapat uang tambahan dan tempat tidur plus kenikmatan tubuh wanita setengah baya berumur 38 tahun yang bernama Mbak Evie yang cantik dan mempunyai buah dada yang besar, montok dan nikmat itu dan 38A ukuran BH-nya. Sejenak aku terbayang, aku menghisap susunya seperti bayi menikmati ASI.

Siang hari kira-kira jam 11:00, pada hari akan dibuka secara resmi FFA di Yogya, aku sedang berada di lobby hotel Ambarukmo mengurus keperluan beberapa peserta FFA dari Filipina di depan front office desk dengan petugas front office, terdengar di belakangku suara seorang wanita menegurku dengan merdu, “Hai tukang urut yang keren, mana kamar yang khusus pesananku?”Perlahan-lahan aku berbalik, dan di hadapanku berdiri makhluk wanita impianku yang bernama Mbak Evie dengan anggunnya, wajahnya yang manis serta tubuh montok dibalut celana jeans biru tua agak ketat, sepatu model Moccasin merah Maroon serta kombinasi kemeja casual dengan kancing depan terbuka rendah sampai ke dadanya dari bahan blacu putih dan tidak dapat menghindari bentuk buah dadanya yang besar dan montok itu. Di belakangnya tampak Mas Echa dan Mbak Ranti memandang kami berdua dengan tersenyum.

“Mbaaak..” kataku bersemangat sambil mengulurkan tanganku untuk bersalaman dan yang terjadi adalah Mbak Evie mengulurkan kedua tangannya ke arahku sambil memeluk leherku serta mencium kening dan kedua belah pipiku. Aku kaget mengalami hal tersebut dan jadi salah tingkah, soalnya ini dia lakukan di depan umum juga Mas Echa dan Mbak Ranti. Aku jadi kikuk dan mungkin ada perubahan di wajahku yang tidak kusadari, tapi Mbak Evie sepertinya tidak peduli dengan tenangnya dia menggandeng tanganku dan menarikku ke arah Mas Teguh dan Mbak Ratih.

“Excuse me gentlemen, I will be back in couple of minutes,” kataku dengan hormat kepada delegasi Filipina, mereka mengangguk sambil tersenyum.
Sesampai kami di depan Mas Echa dan Mbak Ranti, wanita cantik ini berkata, “Mas, sudah ketangkap body guard khusus yang Mas janjikan padaku, thank’s yaa.” celoteh seenaknya Mbak Evie kepada Mas Echa.
“Nah tukang urut keren, tugasmu sudah menanti seperti yang aku bilang kemarin, Oke!” Mas Echa berkata dan sambil memeluk pinggang isterinya mereka meninggalkan kami berdua.
Aku kembali ke front office desk sambil membawa sebuah koper besar milik Mbak Evie, aku mohon maaf serta membereskan masalah peserta FFA dari Filipina yang sempat tertunda gara-gara kedatangan Mbak Evie tadi.

Setelah mendaftarkan serta membereskan hal-hal yang berhubungan dengan administrasi kamar untuk Mbak Evie, kami berdua menuju kamarnya. Sesampai kami di dalam kamar dan room boy telah keluar setelah meletakkan koper, baik Mbak Evie maupun aku sendiri tidak tahan untuk berpelukan melepaskan rasa rindu, maklum sejak kegiatan FFA ini kami berdua tidak bertemu hampir 2 minggu.

“Dhitya sayang.. aku kangen kamu deh,” kata Mbak Evie memeluk leherku sambil tidak henti-hentinya menciumi bibir, hidung serta keningku bergantian.
“Aduh Mbaaak.. aku juga kangen Mbak..” jawabku tidak mau kalah sambil memeluk pinggangnya yang ramping tapi aku tidak diberi kesempatan olehnya membalas apa yang sedang dilakukannya.
“Maafkan aku Mbak, nggak sempat ngasih kabar sama Mbak soalnya waktuku di sini tersita dengan pekerjaan yang banyak dan hampir tidak mengenal waktu untuk istirahat ditambah lagi aku lebih banyak kerja di luar, maksudku jemput para peserta dari airport Adisucipto, mengantar mereka ke hotel balik lagi terus begitu tiap hari selama 4 hari terakhir ini. Sekarang agak relaks soalnya hampir semua anggota delegasi sudah tiba semua.” kataku menerangkan setelah mendapat kesempatan duduk di tempat tidur dan dia duduk di atas pahaku dengan tenangnya, kedua kakinya melingkari pinggangku dan kedua tangannya melingkari leherku dan matanya yang hitam indah itu tanpa berkedip mengikuti dan memandangiku selama aku berbicara dan kedua tanganku menopang ke atas tempat tidur menahan beban indah di depanku.

“Oke sayang, cerita kamu sudah selesai?, sekarang aku mau bertanya, selama di sini kamu tinggal dan tidur di mana?” tanyanya lembut sambil mengusap-usap keningku penuh kasih sayang.
“Oh, di belakang hotel ini, ada satu penginapan sebangsa motel, lumayan murah dan sudah dibayar selama aku tidur di sana oleh perusahaan yang mengontrakku, kenapa Mbak?” jawabku enteng sekenanya sambil mencoba memeluk pinggangnya.
Dia mendorong badanku sehingga aku jatuh tertidur di atas kasur dan tubuh indah itu menindih tubuhku. Dikecup lembut bibirku, dadanya yang montok menekan dadaku dengan lembut.

“Dhitya sayang, mulai malam ini kamu tidur di sini menemani Mbak dan jangan membantah!” katanya memotong cepat pada saat aku baru membuka mulutku untuk menjawab.
Aku jadi bingung bagaimana menjawabnya karena disatu segi aku sedang bekerja dan dilain segi aku sudah dipesan sama Mas Echa untuk menemani adiknya yang manis ini, akhirnya aku menyerah.
“Iya deh.. terserah Mbak bagaimana baiknya, tapi gimana dengan Mas Echa dan Mbak Ranti dan aku harus check out dari penginapan tersebut.” jawabku masih bingung.
“Pokoknya aku nggak mau tahu bagaimana caranya kamu check out dari penginapan kecil itu, dan urusan Mas Echa and Mbak Ranti itu urusanku, now you have to take all your belonging from that motel and move here.. Pleaaase..” katanya lagi dengan manja sambil mencubit kedua belah pipiku dan mengecup bibirku dengan lembut.

Kami bangkit dari tempat tidur dan setelah pamit aku kembali ke lobby hotel dan aku menemui boss-ku tempat part time aku bekerja. Aku ceritakan bahwa aku diminta oleh Panitia FFA setempat untuk membantu mereka di hotel tersebut dan aku diizinkan untuk tidur di salah satu kamar yang dipakai sebagai ruang sekretatriat panitia, boss-ku setuju saja, beres kan!. Aku segera check out dari penginapan yang telah kusebutkan tadi dan memindahkan semua barangku ke kamar Mbak Evie, tidur di hotel Ambarukmo tidak terbayang sebelumnya olehku dengan wanita cantik serta sexy lagi, kapan lagi!

Malam pembukaan FFA berlangsung di Istana Kepresidenan Yogya, dibuka oleh Sri Sultan(alm), dan aku sudah dipesan oleh Mbak Evie sebelum berangkat ke acara pembukaan bahwa selesai atau belum paling lambat jam 22:30 aku sudah harus kembali ke hotel.. mau “diurut nih”?

Sepuluh menit sebelum jam 22:30 aku bisa kembali ke hotel bersama-sama rombongan beberapa delegasi negara peserta, kutelepon Mbak Evie dari front office, “Hallo..” terdengar suaranya yang terdengar malas-malasan itu.
“Selamat malam Ibu Evie..” jawabku pelan menggoda.
“Mmmm.. siapa..” jawabnya agak malas.
“Saya Bu.. tukang urut dari villa Cibodas yang dipesan Ibu tadi sore.” candaku sambil tersenyum membayangkan ekspresi wajahnya.
“Sontoloyo.. cepetan naik, aku sudah kesel nungguin kamu, Sayang..” katanya mulai bersemangat lagi terdengar suaranya olehku.

Aku naik ke kamarnya, kuketuk pintunya dan pintu pun terbuka dan Mbak Evie-ku yang cantik berdiri di hadapanku sambil menarik tanganku masuk, kututup pintu dengan kaki. Aduh Mak.. dia hanya memakai kemeja tipis biru tua lengan panjang seperti kemeja pria sebatas paha dengan kancing terbuka sebatas dada tanpa celana, kontras dengan kulitnya yang putih dan mulus, dan bukan main! dadanya yang membusung jelas terlihat dengan putingnya membentuk di baju tipis itu. Edan! aku menelan ludah tertegun dan benar-benar pusing kepalaku tujuh keliling menikmati pemandangan yang menakjubkan, menggairahkan serta membuat penisku tegang lebih dari “XXX” volt barangkali.

Dia mendekatiku, kami berhadapan face to face, dia melingkarkan tangannya di leherku kemudian bibir yang sensual itu mengecup lembut bibirku sambil menggeser-geserkan susunya yang besar serta montok itu dengan lembut ke dadaku.
“Dhitya sayang, aku kangen kamu..” dia berkata sambil matanya yang hitam menatapku dengan sayu.
“Mbak, aku juga Mbak.. ingin..” jari telunjuknya menutup bibirku sambil dieluskan perlahan.
“Aku tahu Sayang, sekarang kamu mandi dulu supaya segar yaa.. nanti Mbak pesankan teh hangat dan kamu sudah makan belum?” tanyanya lagi.
“Sudah Mbak, nasi gudeg bungkus, pembagian panitia.” jawabku dengan datar, habis mau bilang apa lagi, memang itu jatah makan panitia.

Aku mandi dengan air panas, sungguh nikmat mandi air panas di hotel Ambarukmo (aku tidak habis berpikir bisa tidur di hotel mahal), sementara kudengar room service sudah datang mengantarkan pesanan Mbak Evie. Aku keluar dari kamar mandi dengan hanya sepotong handuk membungkus tubuhku sebatas perut sampai di bawah lutut sedikit dan.. “Aduuuh sexy benar tukang urutku..” celotehnya dari arah tempat tidur di mana dia membaringkan diri dengan posisi yang membuat penisku tegak seperti meriam si Jagur pada saat aku menoleh ke arahnya. Dia bebaring bertelekan tangan kirinya menahan kepala dengan posisi kaki kanan menumpang ke kiri sehingga baju tipis biru tua itu tersingkap memperlihatkan paha putih mulus dan amat indah bentuknya.

Kemudian dia bangkit dan mendekatiku sambil membawa secangkir teh hangat manis sambil berkata, “Minum dulu Sayang, kamu masih capek belum sempat minum teh manis seperti kebiasaanmu kalau lagi ada shooting, iya kan?” aku menerima cangkir itu dan sambil mencicipi teh tersebut aku tidak sadar bahwa pada saat yang sama Mbak Evie memelukku dan melepaskan simpul handuk yang meliliti tubuhku dan… “Byaaarr..” lepas handuk yang menutupi tubuhku. I am completely naked dan tangan yang mungil Mbak Evie langsung memegang serta meremas lembut penisku yang memang sejak keluar dari kamar mandi sudah tegang gara-gara posisi erotis Mbak Evie di tempat tidur.

“Aduuuh Mbak, gimana nih.. nanti tehnya tumpah..” kataku kebingungan, lagi pegang cangkir teh panas, keadaan telanjang bulat, penisku tegang, diremas lagi oleh tangan mungil halus, di depanku ada seraut wajah wanita cantik berbibir merah sensual umur 38 tahun dengan susunya yang membuatku jadi.. “Aduhh, gilaa.. nikmaaatt dan gilaaa!”
“Minum tehnya pelan-pelan Sayang, nikmati dengan perasaan halusmu, juga tanganku ini kangen dengan burungmu yang 16 cm.” jawabnya dengan wajah yang menengadah ke wajahku yang terlihat kebingungan. Kuhirup tehnya dan aku merasakan ada yang aneh di lidah seperti rasa obat, jangan-jangan dicampur sesuatu yang.. aku melihat ke arahnya.
“Kenapa Sayang.. Hhm, aneh rasanya yaa.. jangan kawatir itu hanya Ginseng, obat supaya kamu tidak mudah lelah setelah bekerja seharian. Aku dapat dari Mas Echa yang juga dapat dari temannya produser film Korea, masih ragu?” katanya lagi tanpa melepaskan tangannya yang tetap mengusap serta meremas penisku yang makin tegang dengan suaranya yang manja.
“Aduh maaf Mbak, soalnya aku kan nggak pernah merasakan yang seperti itu sebelumnya, jadi agak aneh saja. Aku kira dicampur obat perangsang.. kalau iya bisa mati aku.. besok soalnya masih banyak kerjaan.” jawabku sekenanya sambil tersenyum.
Remasan tangannya yang mungil terhenti sejenak dan terlihat sorotan matanya yang hitam dan tajam.

“Aku nggak suka kamu ngomong begitu.. aku nggak suka pakai obat-obatan itu.. aku suka yang normal-normal saja.. aku suka kamu Dhiet, just the way you are..” jawabnya agak marah.
“Maaf Mbak.. aku minta maaf, aku nggak bermaksud Mbak mau pakai obat-obatan seperti itu, maaf Mbak aku hanya ngomong kok, nggak pa-pa kan?” kujawab agak menyesal sambil terus menghabiskan teh hangat tersebut, kuletakkan cangkir dan sekarang tangan kiriku memeluk pinggangnya yang ramping dan tangan kananku mulai mengusap buah dada besar dan montok di depanku. Kudekatkan wajahku ke wajahnya, kukecup bibirnya yang sensual itu dengan lembut.

“Ooohh.. Dhitya sayang, aku kangen kamu.. sekarang Dhiet, sekarang..” desah Mbak Evie disertai nafasnya mulai tidak teratur.
Perlahan-lahan kutarik tubuhnya mendekati sisi tempat tidur, kuangkat dan kulepaskan baju tipis biru tua yang dikenakannya dan Mbak Evie, oh Mbak Evie.. tubuh telanjangnya begitu mendekati sempurna bagiku, buah dadanya yang besar dan montok serta masih kenyal itu dihiasi puting coklat muda mencuat bergantung lembut, perutnya yang masih agak rata meskipun telah pernah mengandung 2 anak, pinggulnya yang bulat dan padat, pantatnya yang gempal dan agak tinggi, pahanya masih padat dengan bentuk proporsional dengan betis indahnya bagaikan padi bunting dan akhirnya rambut hitam lebat diantara kedua celah pahanya yang indah menutupi vaginanya yang pernah pertama kali membuatku lupa diri di villa Cibodas dahulu. Dan tubuh indah ini ada di hadapanku disertai desahan yang menggairahkan pemiliknya yang jauh lebih tua dari segi umur dariku, menyerah total kepadaku sekaligus memberi banyak pengalaman bagaimana seharusnya dan menikmati serta memberi nikmat, “BERCINTA-SANGGAMA-MAKE LOVE” entah apa lagi namanya itu.

Kupeluk Mbak Evie dengan segala daya dan rasa disertai kecupan-kecupan lembut di bibirnya yang sensual itu. Kurebahkan tubuh indah dan montok itu ke atas tempat tidur dengan hati-hati, matanya yang hitam indah itu terus menerus menatapku dan, “Dhitya sayang.. sekarang.. sekarang Dhit.. aku mau sekaraaang..” erangannya halus keluar dari bibir mungil itu sambil kedua tangannya memeluk leher dan kepalaku serta mengusap-usap rambutku yang sesekali terasa direnggutnya dengan mesra.

Kembali kukecup bibirnya, turun ke leher yang jenjang terus turun menjilati dan menghisap bergantian kedua susunya yang menjadi kecintaan serta favoritku yang besar lembut serta kugigit-gigit kecil kedua puting coklat muda itu bagaikan bayi, yaa aku bagaikan bayi yang merindukan ASI, dengan kenikmatan penuh aku menghisap-hisap buah dada yang menggemaskan milik Mbak Evie-ku yang cantik, sementara desahan serta teriakan-teriakan kecilnya terdengar merdu.

“Dhitya.. oohhh Dhitya.. isep teruuuss susuku itu.. ooohh.. enaaakkk Sayang!” kedua pahanya terasa olehku terbuka dan penisku menyentuh bulu-bulu hitam lebat vaginanya yang terasa mulai basah, kecupanku bertambah buas dan menggila turun ke arah perut, pusar dan berhenti dipucuk rambut penutup vaginanya yang hangat itu. Aku merasakan nikmat tersendiri, penisku tegang berdenyut, perlahan-lahan aku merayap sehingga membuat posisi kami sebagaimana yang disebut “69 Position” samping menyamping. Terasa tangan Mbak Evie menyambut dan kembali meremas serta mengurut turun naik penisku yang makin menegang dan hangat itu. Gila benar lidah tipis nan halus terasa menjilati kepala penisku dan bibirnya yang hangat mulai mengulum senjata kenikmatanku dengan menggairahkan serta bertubi-tubi itu. Aku sendiri rasanya sudah menuju puncak kegilaan menikmati tubuh Mbak Evie dengan permainan mulut dan lidahku, vaginanya kujilat mulai pucuknya, klitorisnya yang membuatnya kesetanan.

“Oohhh.. Dhityaaa.. mmmff.. aaahhnnggg..” erangannya makin menggila sambil menekan kepalaku diantara kedua pahanya disertai jepitan yang mulai terasa mengeras. Aku tidak peduli lagi, tidak ada siapa-siapa kecuali aku dan Mbak Evie. Mbak Evie menginginkanku dan aku juga secara jujur tergila-gila dengan keindahan serta kehangatan tubuhnya dan kami berdua memang gila untuk bermain cinta.

Cairan hangat mulai keluar dari lubang kenikmatannya yang hangat dan dengan aroma yang khas vagina perempuan, tapi ini lain entah aku tidak tahu lagi mau ngomong apa. Kuhisap, kutelan dengan segala perasaan nikmat yang tinggi dan dia menggelinjang hebat tatkala mulutku, bibirku menyedot habis ke arah lubang kenikmatan vaginanya dengan cengkeraman yang kuat kedua belah pahanya di kepalaku. Gerakannya berputar membuat posisi kami berdua benar-benar dalam keadaan “69 position” dengan dia di atas mengulum penisku dan aku di bawah menghirup, menjilat serta menghisap klitorisnya dengan kenikmatan yang edan.

“Aaahh.. mmmff.. Dhityaaa sayang..” teriak kecil suaranya bagaikan hendak menangis karena aku tahu pencapaian kenikmatan orgasmenya telah mendekati titik puncak dan “Maaasss.. akuu.. ooohhh..” inilah puncak orgasmenya, bibirku, mulutku, lidahku terasa kelu akibat cairan kental hangat memenuhi rongga vagina indah itu disertai jepitan hebat kedua pahanya yang putih, mulus dan montok itu, pinggulnya bergerak ke atas ke bawah dan diam sejenak. Sementara aku bergetar rasanya di ujung penisku yang berdenyut dan aku merasa ngilu yang hebat pada pangkal pahaku sehingga aku tidak tahan lagi.

“Mbaaakk.. mmmff..” aku tidak kuat menahan lagi. Kedua tanganku melingkar menahan pantatnya yang gempal dan kukecup labia mayora-nya sambil menyedot klitoris mungil itu dan pantatku terangkat ke atas menekankan penisku ke dalam mulut Mbak Evie dan, “Creeett..” rasa nikmat dunia yang lain tidak dapat menyaingi apa yang sedang kualami, spermaku muncrat keluar beberapa kali (sampai terasa agak perih pada ujung lubang penisku) Masuk ke mulut sensual Mbak Evie-ku yang cantik, kami sama-sama diam mengejang kaku akibat orgasme bersama dalam permainan oral seks. Aku menjatuhkan pantatku disertai keluhan panjang, dan Mbak Evie berguling tertelentang setelah melepaskan penisku dari mulutnya yang sensual itu. Aku bangun perahan sambil bergeser mendekati wajahnya yang manis terlihat puas dengan mata agak tertutup, aku terus bergeser sampai kami berbaring bersebelahan. Completely naked a pair of man and woman.

“Mbaaak..” aku menyapanya dengan lembut sambil mengusap pipinya. Dia membuka matanya dan menengok ke arahku sambil tersenyum manis.
“Oohhh Dhitya sayang.. aku sayang kamu.. aku mau kamu peluk aku Dhiiitt.” jawabnya dengan lirih, langsung kupeluk dia dengan mesra dan dia pun membalas pelukanku dengan kecupan-kecupan lembut di bibirku dan terasa masih ada sisa spermaku sendiri di bibirnya. I don’t care. Sejenak kami berpelukan dan akhirnya dia bangun terus menindih tubuhku sambil meletakkan kepalanya di dadaku.

“Dhitya sayang, mengapa kita baru bertemu sekarang yaa, aku seperti nggak merasa lebih tua dari kamu dan aku juga nggak merasa sudah punya anak dua ataupun sudah punya suami sejak apa yang terjadi di villa Cibodas dulu.” kata-katanya meluncur dari mulutnya yang mungil itu sambil mengelus dadaku, kemudian diangkatnya kepalanya dan memandangku dengan manisnya serta tangannya sekarang memegang kedua belah pipiku, aku sendiri dari sejak orgasme sudah tidak bisa berkata banyak saking nikmatnya rasa tersebut.

“Aku mau kamu.. aku mau bercinta terus sama kamu.. aku mau sama kamu terus Dhitya sayang.. sikap kamu tidak seperti anak muda lainnya,” desahnya dengan lembut.
Aku mencoba memperbaiki posisi tidurku dengan menambah bantal di bawah kepalaku dan sekarang aku dapat memandangnya, kupeluk dia sambil menariknya perlahan hingga wajah kami sekarang berhadapan berjarak kira-kira kurang dari 5 cm. Hidung kami bersentuhan lembut, aroma nafasnya yang harum tercium dengan nikmat di hidungku.

“Mbak Evie yang manis, aku juga sayang sama Mbak.. aku pernah punya pacar 5 tahun yang lalu Mbak dan aku juga sudah bercinta sama dia, tapi mungkin karena dia masih perawan pada waktu itu dan yah namanya juga masih SMP tapi kami akhirnya yaa.. bercinta..”
Sekonyong-konyong Mbak Evie sambil merenggut kepalaku hingga tertegak dalam cengkeramannya,”Kamu perwani dia Dhit.. iya kamu lakukan! Gila kamu!” sergahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sejenak aku jadi kikuk menghadapi tatapan matanya yang tajam tiba-tiba itu.
“I.iya Mbak.. habis kita berdua sudah kepingin banget waktu itu dan sudah kayak begini ini keadaannya.. kayak seperti kita ini lho Mbak.” jawabku bingung kehabisan kata-kata.
Dia memandangku agak lama, sepertinya ada sesuatu yang hendak dikatakannya dan dia tersenyum perlahan dan akhirnya tertawa renyah tertahan.
“Oh Dhitya-ku yang manis, kamu memang benar-benar playboy cap rantang, dasar tukang urut keren, akhirnya bagaimana ceritamu itu.. berapa kali kamu bercinta dengan pacarmu itu.” katanya disertai tepukan-tepukan halus di pipiku sambil menggigit-gigit kecil ujung hidungku.

Kuceritakan pengalamanku secara singkat sewaktu aku masih kuliah aktif di tingkat II sambil mengusap punggungnya yang halus serta sekali-sekali meremas pantatnya yang masih gempal itu dan Mbak Evie mendengarkan dengan penuh perhatian diselingi dengan tersenyum manis, menggelengkan kepala, mencubit hidungku juga sesekali menggoyangkan pinggulnya sehinggga rambut vaginanya menggesek-gesek penisku hingga mulai tegang perlahan, sepertinya dia terangsang lagi mendengar kisahku bercinta dengan pacarku tadi. Kuakhiri cerita pengalamanku padanya sambil mengecup bibirnya yang indah, dibalasnya dengan ganas dan pinggulnya sekarang benar digoyangkan sedemikian rupa yang membuat penisku benar-benar naik darah lagi dan terasa mulai dijepit diantara bibir vaginanya yang hangat. Tanganku bergerilya ke susunya yang besar dan menggemaskan.

“Oooh Dhitya sayang, aku mau lagi, mau lagi bercinta sama kamu lagi.. aku mau burungmu berada di dalam vaginaku dengan hangat, sayang.. ayo kamu mau kan, nggak capek kan?” katanya manja dan disertai pagutan-pagutan yang mulai garang dan liar itu.
Tanpa banyak bicara kulayani kemauannya dengan membalas kecupannya, lidahku bermain dengan agak kasar di dalam mulutnya sementara dia tetap berada di atas tubuhku, vaginanya digosokkan ke penisku dengan agak kasar juga dengan harapanku terangsang. Memang aku sudah sangat terangsang.

“Dhitya.. oh Dhitya.. aku nggak tahan Sayang.. masukin burungmu sekarang.. sekarang!” jeritnya sendu sambil mengangkat pantatnya serta merta diarahkan ke penisku yang tegak 16 cm itu, dan aku pun memegang dan menempelkan pada lubang kenikmatannya dengan tangan kananku sementara tangan kiriku meremas susu dan putingnya yang mengeras dan nikmat terasa kami berdua waktu penisku amblas ke dalam vagina Mbak Evie yang terasa hangat dan basah serta licin itu.

“Ooohh Dhitya sayaaangg, kamuuu.. akuuu.. puasi aku sayang!” kembali jeritnya tertahan sambil menggoyangkan pantatnya yang bulat dan gempal itu naik turun.. naik.. turun makin cepat.. makin cepat.. makin cepat dan terasa makin licin serta hangat, basah di penisku, denyut-denyut ngilu menggigit di kepala penisku menandakan tanda-tanda orgasme akan mencapai pada puncaknya. Aku mencoba bertahan sambil meremas lembut kedua susunya yang bergoyang dengan hebatnya seiring gerakan tubuh Mbak Evie yang makin liar dan garang itu di atas tubuhku. Tiba-tiba dia menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuhku sambil menjepitkan kedua pahanya ke pinggangku dan otot-otot vagina perempuan cantik yang sedang memperkosaku ini menjepit serta mengurut penisku dengan kenikmatan luar biasa rasanya. Dia mencapai orgasme yang kesekian kalinya.

“Aaaww..” teriakku tanpa sadar karena terasa sakit dan pedih di dadaku sebelah kanan yang ternyata digigit oleh Mbak Evie yang mencapai puncak orgasme beberapa detik yang lalu.”Ooohh.. nnnggmmff, Dhitya sayang.. Dhiiitt..” kembali suaranya seperti melolong, jepitan pahanya tidak mengendur dan terasa denyutan ototnya pun tidak berhenti beberapa saat, aku mulai tidak tahan dengan denyutan-denyutan di kepala penisku ini dengan rasa ngilu dan setengah memaksa kupeluk Mbak Evie dan kubalikkan badanku sehingga aku berada di atasnya dengan kedua belah kaki serta pahanya yang menggemaskan itu masih mengelilingi dan menjepit pinggangku. Aku menggenjot dan memompakan tubuhku, pantatku, dadaku dengan segala daya yang masih ada pada diriku saat itu, kuhujamkan habis-habisan penisku ke dalam vaginanya yang hangat dan nikmat sampai akhirnya, “Mbaaakk.. aaahh.. mmmff..” aku mengerang dan spermaku lepas, mucrat, keluar dengan dahsyatnya di dalam lubang kenikmatan perempuan cantik, putih yang amat menggemaskan itu hingga perih terasa di ujung lubang penisku itu dan untuk kesekian kalinya aku sudah melupakan siapa aku, siapa wanita yang sedang kutiduri ini, di mana kami sedang berada, dalam rangka apa kami di sini, yang ada dalam benakku saat ini adalah nikmat bercinta, nikmat sanggama, enjoying Make Love tidak peduli dengan siapa.

Kami berpelukan dengan eratnya seolah-olah tidak akan dapat terpisahkan oleh apapun, tanpa sadar aku menyusupkan kepalaku sambil menciumi leher jenjang dan putih Mbak Evie, dia pun memeluk erat dan menciumi kepalaku dengan lembut.

Jepitan pahanya mengendur disertai keluhan panjang, kedua betis indah bagai padi bunting itupun terasa lepas dari pinggangku, elusan tangannya tetap membelai punggungku, sementara aku masih tertelungkup diatas tubuhnya seperti anak kecil takut ditinggal ibunya. Hancur rasanya semua sendi-sendi tulangku, habis rasanya semua cairan tubuhku dihisap oleh kekuatan magis tubuh Mbak Evie-ku yang cantik.

Aku bergerak mundur seolah-olah akan melepaskan pelukannya tapi Mbak Evie menahanku sambil berkata, “Jangan dilepas Sayang, aku ingin merasakan burungmu tetap ada disarangnya sampai aku merasa puas, Sayang.. kamu mau kan?” Mbak Evie berbisik di telingaku dengan mesra.
“Dhitya sayang, hey.. kenapa kamu Sayang..” lagi sapanya lembut sambil mengelus pipiku, aku tersadar dan mencoba bangun sambil memutar badanku ke kanan sehingga aku berada di sebelah kanan Mbak Evie dan dia mengikuti gerakanku sambil tetap memelukku seperti memeluk guling, guling hidup yang berpredikat tukang urut.
“Oooh Sayang, dadamu luka Sayang, kenapa? Oh gara-gara kugigit tadi yaa.. maaf.. maaf ya Sayang.. aduh kasihan, sakit yaa.. aduuuh maafkan Mbak ya Sayang.. mmmuah..” katanya penuh penyesalan sambil mengecup dadaku yang terluka itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Aku meringis menahan pedih sedikit waktu lidahnya yang tipis menyentuh luka di dadaku itu.

Kemudian sambil menyusupkan wajah serta kepalaku di dada yang membusung dan nikmat itu sambil menciumi puting coklat muda yang menjadi kegemaranku itu dan berkata, “Mbaaak, aku juga sayang sama Mbak, tapi gimana dengan Mas Iwan dan adik-adik, Mbak?” jawabku dengan manja diselingi mengecup susunya yang montok persis seperti bayi minum ASI.
“Ah kamu nggak perlu mikirin soal itu, Mas Iwan cukup memberikan apa-apa yang kuminta untukku dan anak-anak. Aku juga akan tetap memperhatikan mereka.. sudah ah, nggak usah ngomongin yang begituan, sekarang aku hanya mau sama kamu, mau dekat kamu dan mau bercinta sama kamu, Sayang.” katanya sambil menciumi kepalaku dengan lembut.
Malam itu kami bercinta dua kali lagi sampai seluruh persendianku mau lepas rasanya.

Kegiatan FFA berlangsung terus sampai ke Denpasar, Bali dan aku beserta rombongan termasuk Mas Echa, Mbak Ranti, Mbak Evie terbang ke sana. Acara penutupan seperti biasa dihadiri oleh seluruh negara peserta termasuk para aktor, aktris, sutradara, produser berlangsung meriah dihadiri oleh menteri penerangan saat itu Bpk A.M.(alm). Tugasku dapat kuselesaikan dengan baik dan menerima honor yang cukup lumayan untuk tambah-tambah uang ujian dan uang saku.

Hari-hari terakhir FFA di Bali kulalui bersama Mbak Evie dengan mesra, kami menginap di Sanur Beach Hotel sampai dengan malam penutupan FFA. Kami jalan-jalan mengendarai mobil sewaan yang banyak di sana, kemudian kami mencari penginapan sejenis home stay yang menurutku lebih santai dan tidak banyak aturan ataupun formalitas seperti di hotel-hotel berbintang, Mbak Evie menuruti apa permintaanku yang tentu saja aku juga sudah memperhitungkan bahwa hal-hal tersebut tidak akan menyusahkan dia.

Kami mendapatkan satu home stay berbentuk rumah panggung kira-kira 1 meter tingginya dari permukaan tanah yang agak terpisah dengan villa/bungalow /hotel lainnya tetapi cukup bersih, rapi dan jaraknya kira-kira 100 m dari pantai Sanur.

“Oh Dhitya sayang, kamu kok pinter cari tempat seperti ini.. sepi, tenang dan exotis.” Dia berkata saat kami berdiri berhadapan bagaikan sepasang kekasih (memang kami sepasang kekasih kok) sambil memandangku di depan halaman tempat kami akan menginap untuk dua hari lagi, tangannya yang putih halus dengan nakalnya mengelus dadaku yang bidang dengan kancing baju terlepas sampai ke perutku, terus turun di balik celana pendek pantai yang baru saja kubeli dari hasil kerja part time, mengelus halus benda di pangkal pahaku yang mulai menegang akibat tangannya yang nakal itu. Aku melihat ke sekitar tempat tersebut, sepi dari lalu lalang orang desa maupun para turis lokal dan mancanegara.

Aku kembali menatapnya dengan tersenyum lembut, kukecup bibir sensualnya sambil tanganku juga bermain menyusup dan meremas susunya yang montok di balik baju casual-nya dengan kancing terbuka sampai ke bagian dada yang seperti kuceritakan sewaktu kami bertemu di Yogya. Dia mendesah merasakan remasan lembut tanganku di buah dadanya yang selalu menggairahkanku, kutuntun Mbak Evie dengan mesra tanpa melepaskan pelukan kami berdua serta tangan kami yang nakal tetap pada tempat kenikmatan masing-masing. Kami masuk ke dalam rumah, terus ke dalam kamar menuju kasur tertutup sprei berwarna biru muda lembut ukuran king size yang terhampar di lantai (kamar exotis tanpa tempat tidur konvensional).

Kembali kami berdiri berhadapan, saling memandang dengan mesra, kemudian dengan hati-hati dan perlahan kubuka kancing baju Mbak Evie yang tersisa 4 buah itu dan dia pun membuka kancing bajuku yang tersisa 2 buah itu, baju kami jatuh ke lantai, tubuhku telanjang sebatas perut diusapnya dengan lembut sambil menatapku dengan matanya yang hitam indah itu. Aku tidak tinggal diam, tanganku dengan hati-hati mencoba membuka BH putih tipis dengan renda halus yang berusaha menyangga buah dada yang besar, indah, putih serta montok seolah-olah akan keluar dari BH tersebut. Akhirnya terlepas sudah penyangga susu yang montok itu terlihat dengan indahnya bergantung lembut mencuat di dada Mbak Evie-ku yang manis. Tanganku menyentuh puting susunya yang berwarna coklat muda dan memilinnya dengan lembut.

“Oooh Dhitya.. Dhitya sayangku.. terusss, Sayang.. terusss..” desahnya berbisik sambil berusaha memelukku dan menempelkan kedua buah dadanya yang besar dan montok itu ke dadaku. Akhirnya kuhentikan permainan tanganku dan menyambut dekapan dadanya yang lembut dan amat menggemaskanku itu. Kepalanya menempel di dadaku sejenak, kemudian dia menengadah menatap ke arah wajahku sambil menyentuhkan dagunya yang lucu di dadaku dan tangannya melingkar di pinggangku, aku pun memeluknya dengan melingkarkan kedua tanganku ke lehernya yang jenjang dan putih itu.

“Mbak Evie sayang.. aku juga mau memperkosamu, now!” kataku sambil agak kasar membuka celana kulotnya serta menjatuhkannya ke lantai, sementara dia tetap memandangku dengan sikap acuh tak acuh dan tetap menempelkan dagunya di dadaku.
“Coba kalau kamu berani.. aku mau lihat keberanian serta kejantanan si tukang urut memperkosaku.” jawabnya enteng sambil tersenyum, aku tersenyum juga dan mengangkat tanganku seperti orang menyerah.
“Iya deh, aku menyerah karena aku nggak bisa melakukan itu sama Mbak..” dan tangannya dengan cepat membuka celana pantaiku sekaligus CD-ku dan, “Tuing!” Penisku dipegang, diremas dengan lembut, kulepaskan CD-nya juga dan kami berdua sudah telanjang bulat. Tanganku meremas kembali mainan bayinya yang besar, montok, dihiasi puting coklat muda yang amat menggemaskan serta membuat Birahi Tinggi bagiku.

Keluhannya terdengar panjang dan mendayu-dayu, kedua paha putihnya nan mulus merenggang mencoba agar vaginanya yang hangat itu menyentuh penisku yang sedang dipegangnya. “Dhitya sayang, aku mau make love yang lama ya hari ini sama kamu, yaaa..” katanya dan dia menarikku dengan pelan, kami duduk di pinggir kasur sambil berpandangan mesra. Dengan lembut kurebahkan Mbak Evie dan kukecup keningnya, matanya yang hitam indah itu, pipi lembutnya, terus turun ke sudut bibirnya yang sensual, kugigit pelan bibir bawahnya disertai desahan serta tarikan nafasnya terdengar, “Mmmfff..” pelukan tangannya di leherku, di kepalaku sambil mengusap punggungku. Dia membalas kecupanku dengan membalas menggigit kedua bibirku sehingga aku terdiam sejenak tidak bisa menggerakan kepalaku.

Dilepaskan bibirku dari gigitannya sambil memandangku tersenyum manis, kusentuh lagi bibirnya yang sensual itu, dia mencoba membalasnya, kuhindari dengan menciumi dagunya yang indah terus turun ke lehernya yang putih jenjang, turun lagi sampai di kedua susunya yang besar, montok dihiasi puting coklat muda yang amat menggemaskan itu. Kukecup puting itu dengan lembut dan mesra.

“Aduuuh Dhitya.. teruuusss Sayang.. aduuuh kamu gila! kamu gilaaa!” erangnya nikmat.
Akupun menjadi bertambah nafsu menggumuli buah dadanya yang montok itu secara bergantian kukecup, kuciumi, kujilati, kuhisap dengan keras dan kugigit agak keras saking gemasnya.
“Aaaww.. pelan-pelan Sayang, tapi terus.. oohhh..” sahutnya penuh gairah.
Mulutku bergerilya di susunya sampai basah keduanya oleh air liurku. Sementara tanganku menyusup diantara kedua pangkal pahanya yang telah direnggangkan sehingga tanganku, jariku bebas menyentuh, mengusap serta memasuki lubang vaginanya yang mulai basah oleh cairan putih kental dan harum khas itu. Jariku masih bermain di klitorisnya yang lembut dan tangan Mbak Evie mendorong kepalaku ke arah vaginanya, kuikuti kemauannya dan akhirnya kukecup, kujilat kugigit kecil klitoris mungil itu dan tersa cairan hangat meleleh pelan menyentuh bibirku, kujilat dan kuhisap tanpa berpikir panjang.

“Aaahh.. nngggmmmff.. aduuhhh Sayang aku mau mmm..” jeritnya kecil sambil menjepit kepalaku dengan pahanya yang indah dan montok itu disertai renggutan tangannya di rambutku yang agak gondrong. Jepitan pahanya mengendur dan rambutku, dijambaknya pelan sambil menarikku ke arah dadanya yang menantang itu. Tiba-tiba dia bangun sambil memeluk leherku dan berbalik sehingga dia berada di atas tubuhku dan memandangku mesra.

“Kamu memang gila dan pintar membuat aku kewalahan, Sayang.. sekarang aku akan perkosa kamu sampai lemas, loyo..” katanya dengan garang. Mbak Evie memeluk leherku dan mulai menciumi bibirku yang masih basah dari sisa-sisa cairan hangat vaginanya, mulutnya yang mungil menjalar ke dadaku dan kecupan lembut halus menyentuh luka yang sudah mengering bekas gigitannya di Yogya dulu, secara refleks aku bergerak.
“Kenapa Sayang.. masih sakit yaa.. maafkan Mbak yaa..” Dia memandangku dengan menyesal penuh kekhawatiran, aku menggelengkan sambil tersenyum ringan.

Bibirnya kembali menyentuh puting susuku dan lidahnya yang tipis menjilati dan aku menggigil dan serasa lemas tidak berdaya karena ini termasuk bagian yang sensitif dari tubuhku bahkan aku pernah orgasme gara-gara putingku dikecup oleh salah seorang gadis yang pernah menjadi kekasihku semasa SMA dan kejadian ini terulang lagi dan kali ini oleh Mbak Evi-ku dengan segudang pengalaman bercinta, aduh mati aku!

Mulut, bibir serta lidah mungil itu terus menelusuri tubuhku sampai ke penisku yang sudah tegak 16 cm, tangannya dengan lembut mengusap dan meremas penisku itu, aku terpejam menikmati remasan tangan Mbak Evie serta tanganku secara tidak sadar ikut meremas pinggiran kasur dan ada perasaan ngilu pada lubang penisku dan makin hangat, makin hangat. Aku merasa penisku makin hangat dan kepalaku terasa berdenyut, kubuka mataku sambil memandang ke arah Mbak Evie. Dengan garangnya penisku sedang dijiilati dan dikulumnya dengan sikap birahi yang tinggi, sebentar-sebentar terdengar desahan nikmat keluar dari mulut dan hidungnya yang bangir itu. Sang ‘16 cm’-ku sudah keras rasanya seperti kayu.

Dia bangkit dan merayap di atas tubuhku dan aku pun mengulurkan kedua tanganku menyambutnya dalam pelukan mesra.
“Ooohh Dhitya sayang, sekarang.. sekarang Dhiitt.. now pleaaase..” dia berkata dengan suara bergetar dan diangkat pantatnya sehingga rambut hitam lebat yang menutupi vagina terlihat dan aku mengarahkan penisku sambil menyibakkan rambut-rambut itu dan amblas penisku ke dalam lubang kenikmatan Mbak Evie yang langsung terasa hangat dan berdenyut-denyut akibat dari gerakan otot vaginanya disertai teriakan kecilnya, “Aduuuhh.. Maaass!”

Mbak Evie menjatuhkan tubuhnya yang montok ke atas tubuhku dan susunya yang besar menekan dadaku dengan lembut membuatku bertambah ngilu dan merinding nikmat. Pinggul, pantat yang bulat gempal itu digerakkannya dengan garang serta buas seakan-akan mau menghancurlumatkan penisku yang dijepit diantara celah bibir dan lubang vaginanya sambil mengerang, “Aahhh…” mendesah, “Mmmmff…” menjerit kecil, “Nnnggg..”

Sekali-sekali kecupan bibirnya dengan liar mengunci bibirku dengan lidah tipisnya yang menelusuri lidahku serta kedua tangannya memeluk kepalaku dan sekaligus mencengkeram rambutku. Aku sendiri rasanya tidak bisa kontrol dengan tanganku yang sebentar-sebentar meremas pantatnya yang bulat gempal dan juga kadang-kadang naik untuk meremas rambut panjangnya yang tak pernah lepas dari model kepang satu itu.

Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya sambil memandangku sejenak dan perubahan air mukanya yang sambil menggigit bibir bawahnya dia menekankan vaginanya sehingga penisku habis tertelan olehnya disertai jepitan paha pada pinggulku dan jeritannya yang beberapa saat keluar dari mulut yang mungil itu dengan cepat kututup dengan tanganku karena kalau tidak akan terdengar keluar dan, “We are dead!”

Mbak Evie menjatuhkan kembali kepalanya di dadaku sementara rasa ngilu di ujung kepala penisku makin bertambah dan dengan kasar kubalikkan badanku sehingga aku berada di atas tubuhnya, segera aku pun menggerakkan pantatku naik turun dengan irama cepat serta putaran pinggulku yang ikut menjadi kasar dan garang.

“Oohh.. oohhh.. aahhh.. Mbaakkk, akuu.. akuuu..” sambil memeluk dadanya.
“Iyaaa.. ooohhh.. iyaaa Sayanggg.. iyaaa aaahh!” sergahnya, desahannya dan akhirnya kami saling merengkuh, saling berpagut bibir dengan buas, jepitan pahanya mengeras, pahaku meregang dan, “Srrooottt…” spermaku, cairan nikmatnya saling keluar membasahi penisku dan lubang vaginanya.Rasanya lama kami berpelukan menikmati luar biasa Together Orgasme. Nafasku dan dan nafas Mbak Evie yang cantik terdengar tersengal-sengal beberapa saat. Luar biasa kali ini kami bermain cinta, hari masih pagi kira-kira jam 09:00, di tempat yang agak sepi lebih kurang 100 m dari pantai Sanur, hampir 1 jam aku bercinta dengan Mbak Evie dan kami bebas serta jauh dari semua orang yang kami kenal selama ini.

Aku bergerak ingin melepaskan tindihan tubuhku dari tubuh Mbak Evie tapi begitu aku memutarkan tubuhku dia memelukku dengan kaki yang dilingkarkan ke pinggangku seraya berkata, “Nggg.. jangan dilepas, jangaaann.. aku nggak mau dilepas Dhit, biarkan kayak begini.. aku masih mau burungmu di dalam sarangku yang lamaaa sekali..”
“Aku lemes banget Mbak.. dan lapar sekali, hanya telor setengah matang kan yang aku makan tadi pagi sebelum mengantar Mas sama Mbak Ranti ke airport.” jawabku sambil mengelus puting coklat muda kegemaranku.
“Salah sendiri.. siapa suruh nggak sarapan.. rasakan akibatnya.” celotehnya manja sambil menyusupkan wajahnya di dadaku.
Aku tersenyum sambil berbisik halus di telinganya, “Mbak Sayang, Dhitya tukang urut, playboy cap rantang.. lapaaarrr Mbak.” Sambil meniup halus kupingnya, Mbak Evie menggelinjang dan mengangkat wajahnya sambil tertawa renyah, dia mengecup bibirku lembut dan mengusap pipiku mesra.
“Iya deh.. kita mandi dan cari makanan yaa, yuuuk!” katanya seraya melepaskan pelukannya dan burungku keluar dari sarangnya.
Kami mandi membersihkan diri, saling menyabuni tubuh kami, saling siram menyiram dengan santai dan mesra. Hari itu kami berdua lewatkan dengan makan dan minum, jalan-jalan di pantai bergandengan tangan dengan sikap mesra dan masa bodoh dengan orangan-omongan di sekitar kami, tidur berpelukan sampai sore hari.

Malam hari kami makan di restaurant yang terdekat kemudian pulang sambil menyusuri pantai sampai dekat home stay, dia menahan langkah.
“Sayang.. kita berenang yuuuk..” katanya sambil memandang ke arah laut kemudian menoleh ke arahku dengan senyumnya yang manis.
Aku termenung sejenak memikirkan sesuatu sambil membalas tatapan mata hitam yang indah itu.
“Oke.. tapi dengan syarat..” jawabku sambil memandang dan memegang kedua lengannya itu.
“Apa syaratnya Dhiet?” katanya lagi dengan wajah bertanya-tanya.
Tanpa menjawab kugandeng tangannya dan kami berjalan menuju villa.
“Apa dong syaratnya, Sayang.. ayo jawab.” katanya lagi sambil menggoyangkan tangannya yang kucekal lembut dengan suara penasaran. Aku tetap tidak memberikan jawaban tapi tersenyum sambil berjalan memandanginya menuntun ke arah villa.

Kami kembali keluar villa dengan masing-masing membawa handuk besar dan lebar, aku mengenakan celana pendek pantai yang lebar dan plong dan Mbak Evie juga mengenakan celana pendek pantai yang lebar dan plong dan kaos tanpa lengan yang plong juga, sambil bergandengan tangan kami berjalan berpelukan pinggang menuju pantai. Handuk kutebarkan berdampingan sebagai alas duduk/tidur, pantai Sanur di bagian kami tinggal telihat dan terasa sepi dari pengunjung, ada satu dua turis bule lalu lalang dan seperti biasa mereka acuh tak acuh dengan keadaan sekitarnya.

Malam yang indah dengan langit terang berbintang, kami berdua berenang dengan baju lengkap seperti yang kuceritakan di atas, berendam, saling menyiramkan air ke tubuh dan wajah masing-masing. Kutangkap tubuhnya yang menggemaskan dan kutarik ke tempat yang agak dangkal sehingga air hanya sebatas pantat kami, di bawah langit yang bersih serta bintang-bintang menyinari keremangan laut dan pantai, kami saling pandang dengan mesra, terlihat dalam keremangan itu Mbak Evie dengan rambut dilepas tergerai basah, wajahnya yang bersih dari segala macam make up, polos tapi tetap cantik, kaos tanpa lengan basah memperlihatkan lengannya padat menempel rapat ke tubuhnya yang indah, montok dan buah dada yang besar serta puting yang tercetak jelas pada bagian depan kaos yang dikenakannya karena dia tidak mengenakan BH serta celana pantai tipis yang menekan rapat pantatnya, pangkal pahanya menonjol jelas karena dia juga tidak mengenakan CD, itulah yang kumaksud dengan plong! dan itu yang menjadikan Syarat yang kuutarakan kepadanya waktu kami berjalan menuju villa.

Aku tertegun sejenak dan penisku mulai tegak dan jelas terlihat, tercetak di balik celana pantaiku yang plong karena aku juga tidak memakai CD, cukup fair dan cukup membangun birahiku dan juga Mbak Evie, aku yakin. Gila benar, aku tidak tahan dan memeluk pinggangnya.

“Mbak.. cantik sekali deh, Mbak.. aku rasanya nggak mau pisah sama Mbak.” kataku lembut sambil mengeratkan pelukanku.
“Iya Sayang.. aku juga nggak mau pisah sama kamu, aku mau kamu menemaniku teruuus.” jawabnya sambil memandangku.
Perlahan wajah kami saling mendekat dan tanpa menunggu reaksinya yang lain kukecup bibir sensual itu, dibalasnya dengan memainkan lidahnya yang pernah membuatku tersengal-sengal di hotel di Yogya sambil tangannya mengusap dan meremas penisku di balik celana pantai yang tipis. Buah dadanya yang besar dan menggemaskan menempel lembut di balik kaos tanpa lengan tipis karena basah, aku tidak tahan, seluruh badanku gemetar saat berpelukan dengan Mbak Evie dalam keadaan basah seperti ini. Gila! aku merasa terangsang hebat dengan kondisi tubuh indah Mbak Evie dalam keadaan ini.

“Mbaaak.. aku mau.. aku nggak tahan Mbaaakkk.. oohhh!” kulepaskan kecupan bibirku dari bibirnya yang sensual dan memeluknya erat sementara tangannya dengan lembut dan mesra terus meremas membelai penisku yang mulai terasa ngilu di bagian kepalanya.
“Iya Sayang.. aku juga mau sekarang Dhiiiett..!” bisiknya di telingaku dengan desahan yang menggemaskan.

Kembali kukecup bibirnya yang sensual sambil menariknya ke arah pantai pasir putih yang hanya berjarak 10 m dari tempat kami berdiri. Kurebahkan tubuhnya di atas handuk yang sudah kami tebarkan di atas pasir, kupandangi matanya lembut dan kukecup bibirnya dengan sedikit kasar. Aku tidak tahan, tanganku meremas buah dadanya yang besar dan kenyal itu tanpa membuka kaos tipis basahnya, dia memegang kedua belah pipiku sambil membalas kecupan garang dariku. Tanganku turun terus mengusap pahanya sambil mencoba menaikkan celana pantainya yang memang seperti rok itu dan tanganku menyentuh rambut lebat vaginanya yang tidak memakai CD seperti yang kuceritakan di atas. Kuusap belahan bibir hangat dan akhirnya klitorisnya yang mungil dengan lembut tapi dengan penuh nafsu.

“Ooohh Dhitya sayang.. teruuuss.. aaahh..” desahnya lembut sambil memeluk dan mengelus rambutku yang basah.
“Mbaaakk, sekarang Mbaakkk, aku nggak tahan lagi Mbaaak!” kataku kehilangan kontrol.
“Iyaaa Sayaaang, aku mauu sekaraannggg.. ayooo..” katanya sambil membuka kedua pahanya.
Kuturunkan celana pantaiku dan penisku tegang 16 cm! Kemudian dengan nafas agak tersengal-sengal kuangkat kaki celananya yang memang longgar seperti rok itu dan kuarahkan penisku ke lubang vaginanya dengan perasaan sebab di pinggir pantai itu agak gelap hanya keremangan cahaya bintang saja yang ada.

“Ooohh Sayang.. ayooo masukkan burungmu itu cepaattt.. aku nggak tahan lagiii..” erangnya sambil mencoba menekan pantatku seraya membuka pahanya lebih lebar dan amblas penisku ke dalam lubang vaginanya yang hangat dan terasa rambutnya yang basah menempel di perutku. Dia mendesah nikmat di balik kecupan buas bibirku yang sudah hilang kontrol. Edan! kami bercinta dengan dahsyat di pantai pasir Sanur, malam hari dibawah cahaya bintang-bintang, dengan badan basah asin air laut, tanpa melepas celana masing-masing. Penisku masuk lewat salah satu kaki celananya tanpa dibuka, turun naik di dalam vaginanya yang hangat tanpa halangan apapun. Goyangan pinggul dan pantatnya yang membuat penisku terasa diurut oleh super otot dengan kuatnya. Aku mencoba meremas buah dadanya yang besar dan montok itu yang masih tertutup kaos tipis dengan putingnya terasa mengeras. Tiba-tiba kegilaanku muncul sesaat, kucengkram kaos tipis tanpa lengan dan dengan sekali sentak (sentakan tukang urut man!) “Breeett..”, robek dan muncullah pemandangan yang menggemaskanku, payudara, buah dada, susu Mbak Evie dengan puting yang menggairahkan langsung kujilati, kuhisap, kugigit-gigit dengan nafsu birahi tinggi dan gemas, sambil tetap menggenjot vaginanya dengan irama yang berubah-ubah diselingi oleh desahan-desahan nikmat Mbak Evie. “Ooohh.. aaahh.. mmmff.. Dhiiieet.. ohhh.. ooohh.. teruuuss sayaaang!”

Entah berapa lama kami bersenggama dengan posisi lotus itu (menurut KAMASUTRA) dengan segala gerakan yang berusaha memuaskan diri masing-masing. Aku merasa badanku ngilu, bergetar hebat, kedua kakinya dilingkarkan ke pinggangku dan mulai terasa menjepit dan penisku terasa dijepit otot-otot vaginanya dengan kuat disertai desahan-desahan keluar dari mulutnya sanbil menciumi ubun-ubunku karena aku sedang menyusu bagaikan bayi minum ASI yang segar dan penuh air susu itu.

“Mmmff.. ooohh, Dhiiieett.. oohhh..” erangnya dan aku merasa akan mencapai klimaks tidak lama lagi, kulepaskan kedua puting susunya dan kembali kukecup bibirnya yang sensual dengan ganas sampai nafasnya tersengal-sengal.
“Mbaaakk.. aku nggak tahaannn, Mbaaakk..” jeritku tertahan sambil menyusupkan kepalaku di lehernya yang putih jenjang. Mbak Evie memelukku dengan hangat dengan kedua tangannya sambil mengecup kepalaku.

Tiba-tiba jepitan kedua belah pahanya menguat menjepit pinggangku disertai cengkraman tangan dan jari-jarinya di leherku, di kepalaku, di rambutku yang agak gondrong dan basah itu dan, “Aaahh.. Dhiiieett.. akuuu..” jeritnya tertahan, penisku terasa ngilu, hangat, basah dan berdenyut. Mbak Evie-ku yang manis mencapai orgasme dan beberapa saat kemudian terasa perih di lubang penisku dan, “Crrooott.. crrooott.. crooott..” entah berapa banyak spermaku juga cairan kenikmatan Mbak Evie saling menyemprot di dalam vaginanya yang gila benar nikmatnya. Kami berpagut dengan ketatnya seolah tidak akan terlepas selamanya.

Gila! Edan! Nikmat! Orgasme bersama di tepi pantai Sanur, dibawah keremangan cahaya beribu bintang. Aku, pemuda lajang berumur 27 tahun bersama Mbak Evie, wanita ibu rumah tangga berumur 38 tahun bercinta dengan kegilaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata yang jauh dari semua orang yang kami kenal dan kami cintai sebelum kami bertemu.

Sejenak kami masih belum saling melepaskan pelukan kami masing-masing, kami masih menikmati kebersamaan kami tanpa memikirkan di mana kami berada, pakaian basah kami yang masih melekat atau entahlah. Aku bergeser melepaskan diri, penisku masih tegang segera kunaikkan kembali celana pantai yang masih basah menutupinya dan berbaring memejamkan mata di sebelah Mbak Evie yang juga berputar menghadap ke arahku sambil berusaha menutupi payudaranya, buah dadanya, susunya yang sudah menjadi milikku setiap kali kami bercinta itu dengan mencoba menarik kaosnya yang robek.

“Dhitya sayang.. aku cinta kamu.. aku..” katanya pelan dengan sebelah tangannya dia mengusap bibirku sementara aku masih memejamkan mata mencoba menikmati apa saja yang baru terjadi dengan diriku. Sambil masih terpejam mataku, kuraih tangannya yang lembut itu, kukecup pelan, aku berputar menghadapnya dan membuka mataku memandangnya sambil tersenyum.

“Mbak Evie yang manis, mari kita jalin hubungan kasih ini tanpa meninggalkan orang-orang yang kita cintai sebelum kita berdua bertemu, Oke Mbak?” sahutku lembut sambil tetap menggenggam tangannya, dia mengangguk lembut juga sambil tersenyum sementara tangan yang satu tetap memegang ujung kaosnya untuk menutupi itu, payudara indahnya. Aku bangkit sambil membereskan alas handuk kami, dia masih terduduk memandangku dengan sayu, kuulurkan tanganku yang segera disambutnya, kutarik perlahan dan dia berdiri. Kututupi tubuh yang basah itu dengan handukku dan sambil berjalan menuju villa kami berpelukan di mana kepalanya disenderkan ke dadaku.

Malam berikutnya kami lewati dengan menikmati jalan-jalan, belanja oleh-oleh untuk Cempaka dan Melati, kedua puteri Mbak Evie, makan, medengarkan musik di beberapa pub/kafe kemudian pulang dan bercinta, bercinta dan bercinta seolah tiada habisnya.

Kesokan hari kami kembali ke Jakarta, dan seperti biasa aku laporan sama Mas Echa dan Mbak Ranti tentang apa yang diminta Mas Echa selama aku menemani Mbak Evie dan tentu saja ‘Petualangan Bercinta’ kami berdua tidak pernah keluar dari mulutku or I’M DEAD MAN.Hubunganku dengan Mbak Evie berlanjut sampai dengan tahun 1980 dalam konteks pembuatan film bersama Mas Echa dan juga hubungan ‘Istimewa’.

Setelah aku lulus berkat bantuan Mas Echa sekeluarga, aku bekerja di bidang perminyakan. Dan perpisahan yang tak terelakkan dengan Mbak Evie karena Mas Irawan mendapat tugas dari perusahaannya ke Jepang selama 3 tahun yang mana mereka bermukim di sana lebih dari 3 tahun. Hubungan kami terputus total, tidak ada surat menyurat, telepon maupun komunikasi lainnya. Salah satu pengalaman yang amat berkesan bagiku, Mbak Evie.. oh Mbak Evie!

Cerita Antara Kita 7:46 pm

Waktu itu aku masih kelas dua, di salah satu SMA Negeri di Bandung. Aku termasuk salah satu siswa dengan segudang kegiatan. Dari mulai aktif di OSIS, musik, olah raga, sampai aktif dalam hal berganti-ganti pacar. Tapi satu hal yang belum pernah kulakukan saat itu hubungan kelamin Sering kali aku berkhayal sedang berhubungan badan dengan salah satu wanita yang pernah menjadi pacarku. Tapi aku tidak punya keberanian untuk meminta, mengajak ataupun melakukan itu. Mungkin karena cerita sahabatku yang terpaksa menikah karena telah menghamili pacarnya dan sekarang hidupnya hancur lebur. Itu mungkin yang bikin kutakut, setengah mati. Tapi aku menyukai rasa takut itu, bukankah rasa takut itu yang bisa menjauhkan aku dari perbuatan dosa.

Suatu saat, datang gerombolan guru praktek dari IKIP Bandung yang akan menggantikan guru kami untuk beberapa minggu. Salah satu dari guru praktek itu bernama Lisa. Dia begitu cantik, ah bukan… bukan cantik… tapi dia sempurna. Peduli setan dengan matematika yang diajarkannya, aku hanya ingin menikmati wajahnya, memeluk tubuhnya yang tinggi semampai, mengecup bibirnya, dan… aku pun berkhayal sangat jauh, tapi semua itu tidak mungkin. Dengan pacarku yang seumur denganku saja, aku tidak berani, apalagi dengan Lisa.

Singkat cerita, aku melaju dengan motorku. Hari sudah sore aku harus cepat sampai di rumah. Dalam perjalanan kulihat Ibu Lisa. Aku memberanikan diri menghampirinya. Setelah sedikit berbasa-basi dia bercerita bahwa dirinya baru saja pindah kost dan tempat kost yang sekarang letaknya tepat di tengah-tengah antara sekolahku dengan rumahnya. Sehingga setiap sore aku mengantarkannya ke tempat kost-nya. Kejadian itu berlangsung setiap hari selama satu minggu lebih. Kami berdua mulai akrab, bahkan nantinya terlalu akrab.

Seperti biasanya, aku mengantarkan Ibu Lisa pulang ke kost-nya. Anehnya saat itu, dia tidak ingin langsung pulang tapi mengajakku jalan-jalan di pertokoan di daerah Alun-Alun Bandung. Setelah puas kami pun pulang menuju ke kost Ibu Lisa. Dan ketika kupamit Ibu Lisa memegang tanganku dan…
“Jangan dulu pulang, dong!” Ibu Lisa menahanku, tapi memang inilah yang selama ini kuharapkan.
“Udah malam Bu, takut entar dimarahi…” Perkataanku terhenti melihat dia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya yang kecil.
“Jangan panggil aku Ibu Lisa, coba tebak berapa umurku?” ternyata umurnya terpaut lima tahun dengan umurku yang saat itu 17 tahun.
“Panggil aku Lisa.” Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Sini yuk, aku punya baju baru yang akan aku pamerkan kepadamu.”
Ditariknya tanganku menuju kamarnya, jantungku mulai berdetak kencang.

Sesampainya di kamar, dia menyuruhku duduk di depan televisi yang memperlihatkan pahlawan kesayanganku, McGyver. Lisa kemudian menghampiri lemari pakaian di samping televisi.
“Aku punya tiga buah baju baru, coba kamu nilai mana yang paling bagus.”
Kujawab dengan singkat, “OK!” lalu kembali aku menonton McGyver kesayanganku. Walaupun mataku tertuju ke pesawat televisi, tapi aku dapat melihat dengan jelas betapa dia dengan santainya membuka baju seragam kuliahnya, jantungku berdebar keras. Lisa hanya menyisakan BH berwarna hitam dan celana dalam hitam. Dia melakukan gerakan seolah sedang mencari pakaian di tumpukan bajunya yang tersusun rapih di dalam lemari.

“Aku tidak bisa menemukan baju baruku, kemana ya?” Aku hanya terdiam pura-pura menonton TV, tapi pikiranku tertuju kepada belahan pantat yang hanya tertutup kain tipis. Sesekali dia membalikkan tubuhnya sehingga aku bisa melihat dua buah benda yang menggunung di balik BH-nya. Akhirnya dia mengenakan gaun tidur berwarna pink yang sangat tipis, Lalu dia menghampiriku, dan kami berdua duduk berhadapan.

“Kamu kenapa, kok pucat”, aku terdiam.
“Kamu takut ya?” Aku tetap terdiam.
“Aku tau kamu suka aku.” Aku terdiam.
“Hey, ngomong dong.” Aku tetap terdiam.
Dalam kediamanku selama itu aku menyimpan sesuatu di dadaku yang berdetak sangat kencang dan keras serasa ingin meledak ketika dia menempelkan bibir mungilnya ke bibirku. Dia melumat bibirku, sedikit buas tapi mesra. Aku mulai memberanikan diri untuk membalasnya. Kugerakkan bibirku dan kulumat kembali bibirnya. Tak lama kemudian, telapak tangan lisa yang hangat meraih pergelangan tanganku. Dibawanya tanganku ke arah buah dadanya. Jantungku saat itu sangat tidak karuan. Kuremas buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil, tapi aku dapat merasakan betapa kencangnya kedua gunung surga itu. Lidah kami pun mulai bermain.

Tiba-tiba dia mendorongku, terus mendorongku sehingga aku telentang di atas karpet kamarnya. Aku hanya menurut dan tak bergerak. Lisa membuka baju tidurnya yang tipis. Kali ini dia tidak berhenti ketika hanya BH dan CD-nya saja yang melekat di tubuhnya, tapi BH-nya kemudian terjatuh ke karpet. Belum sempat aku bergerak, Lisa menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, buah dadanya yang sangat keras menindih dadaku.

“Kamu suka, ya?” aku mengangguk. Aku tak kuasa menahan diri, ketika aku mengangkat kepalaku untuk melumat bibirnya kembali, dia menahan kepalaku, aku heran. “Ke.. ke… kenapa Lis?” kataku terbata-bata. Dia hanya tersenyum, lalu dengan santainya dia memanjat turun tubuhku. Aku hanya terdiam, aku tidak berani bergerak. Aku bagaikan seorang prajurit yang hanya bergerak berdasarkan komando dari Lisa. Dia mulai membelai pahaku dan sedikit mempermainkan selangkanganku. Sesekali dia menciumi celana seragam abu-abuku tepat pada bagian batang kejantananku. Aku memejamkan mata, aku pasrah, “Aku… aku… ah…!”

Aku membiarkannya, ketika Lisa mulai membuka celana seragamku, mulai dari ikat pinggangku dan berlanjut dengan menyingkapkan CD-ku. Dia meraih batang kemaluanku dengan mesranya.
“Ah… crot… crot… crot…!” Aku tak kuasa menahan diriku ketika bibirnya yang mungil menyentuh kepala kemaluanku. Aku malu, malu setengah mati.
“Tenang, itu biasa kok.”
Senyumnya membuat rasa maluku hilang, senyum dari wajah sang bidadari itu membuat keberanianku muncul, “Ya aku berani, aku nekat!”

Aku menarik kepalanya dan membalikkan tubuhku, sehingga aku berada tepat di atasnya. Dia sedikit kaget, tapi hal itu membuat aku suka dan makin berani. Aku beranjak ke bawah, kubuka CD-nya. Saat itu yang ada dipikiranku hanya satu, aku harus mencontoh film-film biru yang pernah kutonton.

“Kamu mulai nakal, ya.”
“Ibu guru tidak suka.”
Aku tak memperdulikan candanya. Kuturunkan CD-nya perlahan, kulihat sekilas rumput kecil yang menutupi celah surganya. Seketika kucumbu dan kumainkan lidahku di celah surga itu. Tangan kananku terus menarik CD-nya sampai ke ujung kakinya dan kulempar entah jatuh di mana. Aku menghentikan sejenak permainan lidahku, kuangkat pinggul yang indah itu dan kugendong dia menuju ke tempat tidur yang terletak tepat di belakang kami berdua. Kuletakkan tubuh semampai dengan tinggi 173cm itu tepat di pinggir tempat tidur. Aku kemudian berjongkok, dan kembali memainkan lidahku di sekitar celah surganya, bahkan aku berhasil menemukan batu kecil di antara celah itu yang setiap kutempelkan lidahku dia selalu mengerang, mendesah, bahkan berteriak kecil.

Tangan kiriku ikut bermain bersama lidahku, dan tangan kananku membersihkan sisa air mani yang baru saja keluar. Wow… batang kejantananku sudah keras lagi. Ketika aku sedang asyik bermain di celah surganya, dia menarik kepalaku. “Buka celana kamu, semuanya…!” Aku menurut dan kembali menindih tubuhnya. Setelah kepala kami berdekatan dia mencium bibirku sekali dan kemudian dia tersenyum, hanya saat itu matanya sudah sayu, tidak lagi bulat penuh dengan cahaya yang sangat menyilaukan.

Dia mengangkat kepalanya disertai tangan kananya meraih batangku dan mengarahkannya ke lubang kemaluannya. Tapi ketika batangku menyentuh bibir lubang kemaluannya, “Crot… cret… creeett…!” Kembali aku meraih puncakku, dia pun tersenyum. Hanya saat itu aku tidak lagi malu, yang ada dipikiranku hanyalah aku ingin bisa memuaskannya sebelum orgasmeku yang ketiga. Aku heran setelah orgasme yang pertama ini batang kejantananku tidak lagi lemas, kubiarkan Lisa mengocok-ngocok batanganku, dengan hanya melihat garis wajah milik sang bidadari di depanku dan juga membelai rambutnya yang hitam legam, aku kembali bernafsu.

“Pelan-pelan aja tidak usah takut.” Dia berbisik dan tersenyum padaku. Tak karuan perasaanku saat itu, apalagi ketika kepala kemaluanku dioles-oleskannya ke bibir kemaluannya. Tangannya yang kecil mungil itu akhirnya menarik batang kemaluanku dan membimbingnya untuk memasuki lubang kewanitaannya.
“Bles… sss… sek!” Batangku sudah seratus persen tertanam di lubang surganya. Rasa percaya diriku semakin meningkat ketika aku menyadari bahwa aku tidak lagi mengalami orgasme. Aku mulai menarik pinggulku sehingga kemaluanku tertarik keluar dan membenamkannya lagi, terus menerus berulang. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk begitu seterusnya.

“Oh Dig…!” Dia mulai memanggil nama akrabku, aku dipanggil Jedig oleh sahabat-sahabatku. Selama ini Lisa hanya memanggil nama asliku seperti yang tertera di dalam absen kelasku. “Dig, terus… kamu mulai pintar…” Aku tak peduli, aku terus bergerak naik turun. Aku merasakan batang kemaluanku yang basah oleh cairan dari lubang surga milik Lisa. Naik dan turun hanya itu yang kulakukan. Sesekali aku mencium bibirnya, sesekali tanganku mempermainkan bibir dan buah dadanya.

“Ah… ah… ah, ah… oh!” Nafasnya memburu.
“Ah Dig… ah… ah… ooowww!” Dia berteriak kecil, matanya sedikit melotot dan kemudian dia kembali tersenyum. Aku terdiam sejenak, aku heran kenapa dia melakukan itu. Yang kuingat, saat itu batang kemaluanku serasa disiram oleh cairan hangat ketika masih ada di dalam lubang kemaluannya. “Ntar dulu ya Jedig Sayang.” Dia mengangkat tubuhnya sehingga kemaluanku terlepas, aku menahan tubuhnya. Aku tak ingin kemaluanku terlepas aku masih ingin terus bermain. “Eit… sabar dong, kita belum selesai kok.” Kulihat dirinya memutar tubuhnya kemudian nungging di depan mataku. Aku sangat mengerti apa yang harus kulakukan, ya… seperti di film-film itu.

Aku mendekatinya dengan batang kemaluanku yang sudah siap menghunus lubang kemaluannya. Aku mencoba memasukannya, tapi aku mengalami kesulitan. Satu, dua, ya dua kali aku gagal memasukan batangku. Akhirnya dia menggunakan tangan mungilnya untuk membimbing batangku. “Blesss…” Batangku masuk dengan perlahan. Berbeda dengan tadi, sekarang aku tidak lagi naik turun tetapi maju mundur. Kami berdua mendesah. Nafas kami saling memburu. Terus dan terus lagi. “Ah… oh… uh… terus Dig…, ah… oooww!” Kembali dia berteriak kecil, saat ini aku mengerti, setiap kali dia berteriak pasti kemudian dia merubah posisinya. Benar saja posisi kami kembali seperti posisi awal. Dia telentang di bawah dan aku menindihnya di atas. Aku tidak lagi memerlukan tangan mungilnya untuk membimbingku. Aku sudah bisa memasukan batang kemaluanku sendiri tepat menuju lubang surga yang sesekali beraroma harum bunga itu.

Kembali aku melakukan naik dan turun. Kali ini aku menjadi siswa yang benar-benar aktif, tidak hanya di sekolah tapi di ranjang. Kuangkat kaki kanannya, kujilati betisnya yang tanpa cacat itu sambil terus menggerakan pinggulku.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan darahku mengalir dengan keras, ada sesuatu di dalam tubuhku yang siap untuk meledak. Gerakanku semakin kencang, cepat, dan tidak teratur.
“Terus Dig, lebih cepat lagi… terus lebih cepat lagi Dig, terus.”
Gerakanku semakin cepat. Kami berdua sudah seperti kuda liar yang saling kejar-mengejar sehingga terdengar suara nafas yang keras dan saling sambut menyambut.
“Terus Dig, terus… ah… uh… oh…!”
“Oban sayang… ah… dig… dig… dig… aaoowww!”

Saat ini teriakannya sangat keras dan kulihat matanya sedikit melotot dan giginya terkatup dengan sangat keras. Kemudian dia terjatuh.
“Dig cepetan ya sayang…!”
“Aku capek.”
Aku tak bisa berhenti menggerakan tubuhku, sepertinya ada suatu kekuatan yang mendorong dan menarik pinggulku.
“Ah… oh… Ufff… aaah…!”
“Crot… cret… cret…!”
Muncratlah air kenikmatan itu dari tubuhku. Aku terjatuh di sampingnya, aku puas! Dia tersenyum padaku dan memelukku, dia menaruh kepalanya di dadaku. Setelah mengecup bibirku kami berdua pun tertidur pulas.

Beberapa bulan setelah percintaanku dengan Ibu Lisa… Perpisahaan pun dimulai, setelah aku memainkan beberapa lagu di panggung perpisahaan untuk menandakan berakhirnya masa kerja praktek mahasiswa-mahasiswa IKIP di sekolahku. Kulihat mereka menaiki bus bertuliskan IKIP di pinggirnya. Aku mencari Lisa, bidadari yang merenggut keperjakaanku.
“Lisa… hey…!” Lisa menengok dan matanya melotot.
“Ups… Ibu Lisa!” Aku lupa, dia kan guruku.
“Sampai ketemu lagi ya, jangan lupa belajar!” sambil menaiki tangga bus dia menyerahkan surat padaku. Aku langsung membaca dan tak mengerti apa maksud dari tulisan itu.

Akhirnya bus itu pergi dan saat itulah saat terakhir aku melihatnya. Aku tak akan pernah lupa walaupun hanya sekali aku melakukannya dengan Lisa. Tapi itu sangat berbekas. Aku selalu merindukannya. Bahkan aku selalu berkhayal aku ada di dekat dia setiap aku dekat dengan perempuan. Sekarang ketika aku sudah duduk di bangku kuliah aku baru mengerti apa arti dari surat Lisa.

TAMAT

Cerita Antara Kita 7:44 pm

Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Dody adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. Tante Rina Seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian payudara yang indah dan besar. Keindahan payudaranya tersebut dikarenakan Tante Rina rajin meminum jamu dan memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada payudaranya Tante Rina. Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Dody pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) Tante Rina memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar Tante Rina, tampak tante cuma mengenakan kaos kutung tanpa menggunakan bra sehingga dadanya yang indah telihat nampak membungsung.

“Van, Mau tolongin Tante”, Katanya.
“Apa yang bisa saya bantu Tante”.
“Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa”.
“Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian”.
“Tante Minta tolong dipijitin”, katanya.
“Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala”.
“Tante minta kamu memijit ini tante”, katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok. Saat itu saya langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.
“Van, kok diem mau nggak?”, tanya Tante Rina lagi. Saat itu terasa penisku tegang sekali.
“Mau nggak?”, katanya sekali lagi.
Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus.

Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, Puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merah.
“Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih”, katanya.
Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan.

Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, “Ahh…, ahh”. Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku, “aahh, Van tolong remas lebih keras”. Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.
“Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante”, katanya sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.
“Van, hisap yang kuat sayang…, aah”, desah Tante Rina.
Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, “Lebih kuat lagi hisapanya”.

Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat.

Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.
“Tadi nikmat sekali”, katanya terus dia memintaku besok kembali memijat payudaranya, dan aku mengiyakan. Kemudian aku bertanya kepada tante kenapa dia begitu senang buah dadanya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia tidak bisa melakukan hubungan seks kalau buah dadanya tidak dirangsang terus-menerus. Saat kutanya mengapa dia memilihku untuk melakukan hubungan Seks, dia menjawab dengan enteng, “Saat kamu mandi, tante ngintip kamu dan tante lihat penis kamu besar…”

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 7:42 pm

Kisah ini terjadi sejak setahun yang lalu dan herannya aku tidak dapat melepaskan dirinya dari sisiku. Panggil saja aku Emma. Sejak usiaku 20 tahun aku menjadi bintang iklan dan foto model, dan saat ini usiaku 27 tahun jadi sudah 7 tahun aku malang melintang di dunia modelling. Sejak aku sibuk menjadi model, ayah memberiku sebuah mobil sedan dan aku sendiri yang menyupirnya.

Karena makin lama aku makin banyak iklan yang kubintangi, otomatis kesibukanku juga makin bertambah. Kalau pulang ke rumah pasti di atas jam 12.00 malam. Karena terlalu sering pulang malam habis syuting dan tidak enak karena mengganggu tetangga tempat tinggal ayah, atas persetujuan ayah dan ibuku, aku menyewa apartemen di daerah Kuningan dari hasilku menjadi model.

Akhirnya sejak 2 tahun lalu aku tinggal di apartemen beserta seorang pembantu (Menik). 6 bulan aku sudah tinggal di apartemen itu. Suatu malam ketika aku pulang secara tidak sadar aku menubrukkan mobilku ke pohon, untungnya aku tidak cedera berat, namun hal itu membuat diriku trauma untuk membawa mobil sendiri dan selama hampir 3 bulan, aku menggunakan Taxi untuk mengantarku syuting iklan.

Pada suatu hari, temanku mengajurkan untuk menggunakan jasa supir. Akhirnya setelah kutimbang-timbang, suatu hari temanku mengantarkan supir ke apartemenku. Pada awalnya aku agak ragu setelah melihat wajah (sebut saja David) untuk menjadi supirku. Terus terang aku agak takut karena dia berasal dari Timur Indonesia, orangnya berkulit hitam legam, usia sekitar 53 tahun, orangnya tinggi besar dan berbulu. Namun kata temanku, dia biasa mengendarai mobil-mobil otomatic dan pernah menjadi supir dari salah satu kedutaan. Akhirnya dengan segala pertimbangan David resmi menjadi supir pribadiku.

Sejak saat itu aku berpikir untuk memilih mobil baru, karena mobil sedan yang ayah belikan untukku tidak pernah kuperbaiki sejak kecelakaan tersebut. Mobil yang kugunakan adalah keluaran Korea. Dan memang rupanya David selain ahli dalam menyupir (menyupirnya tenang dan hati-hati), sopan terhadap diriku (jadi bodyguard-ku), ternyata dalam hal melayani nafsu seksku dia juga ahli.

Kejadiannya kira-kira satu tahun lalu, malam itu jam 02.30 aku pulang dari acara pembubaran panitia iklan salah satu produk makanan. Karena pada acara tersebut ada minuman yang memabukkan, aku agak sempoyongan ketika dipapah temanku masuk mobil dan Pak David terkaget-kaget dari tidurnya. Setelah itu David langsung menggantarku pulang ke apartemen.

Dalam keadaan setengah mabuk, berat rasanya untuk naik lift sendiri, setelah sampai di parkiran apartemen, kuminta David mepapahku ke kamarku di lantai 37. Tubuhku mengelayut di tubuh David. Sampai di pintu kamar, kunci kamar lepas dari tanganku karena aku makin pusing. Dengan cekatan David mengambil kunci yang terjatuh, secara otomatis tubuhku juga lunglai dan dengan cepat juga David membopong tubuhku, lalu membuka pintu dan masuk apartemen. Aku dibopong hingga masuk kamar tidurku, lalu direbahkannya tubuhku di tempat tidur. David lalu keluar kamar tidurku.

Setengah jam kemudian karena aku tidak dapat tertidur akibat kepalaku pusing dan aku merasakan mual ingin muntah, aku berteriak memanggil Menik pembantuku untuk membantuku bangkit. Tapi yang masuk kamar bukan Menik melainkan David.
“Ada apa Non..? Menik khan lagi pulang kampung..”
“Oh.. iya.. aku lupa.. tolong.. Pak.. saya mau muntah.”
“Kemana.. Non..?”
“Tolong.. ke kamar mandi..”
David lalu membopongku ke kamar mandi. Sampai di sana aku pun langsung muntah.

Setelah selesai, David membopongku kembali ke kamar tidur, namun secara tidak sengaja rok yang kukenakan tersingkap hingga terlihat celana dalamku yang berwarna hitam model cawat oleh David disaat dia merebahkan tubuhku di tempat tidur. David pun langsung berubah menjadi buas dan kasar. Dia langsung menggosokan tangannya di pahaku yang putih mulus dan vaginaku yang masih tertutup celana dalam diremas oleh tangannya. Aku hanya dapat mendesah dan tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolaknya, karena badanku yang lemas sehabis muntah.

David pun makin kasar, celana dalamku langsung ditarik ke bawah hingga betis lalu jari-jarinya mulai dimainkan di vaginaku. Aku hanya dapat melengguh dan mendesah ketika jarinya dimainkan di vaginaku.
“Ahhh.. aahh.. sshh.. sshhh.. awghh..”
Jari-jari tangan David ditusukkan makin ke dalam vaginaku. Aku sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa terhadap apa yang David lakukan padaku karena pusing di kepalaku makin berat dan tubuhku sama sekali tidak bertenaga. Karena aku tidak dapat berpikir jernih, David makin menggila menguasai tubuhku.

David mulai menjilati pahaku yang putih nan mulus, makin lama makin ke atas hingga liang vaginaku terjilat oleh lidahnya yang agak kasar permukaannya. Aku makin terbawa arus kenikmatan dan bukannya berontak terlebih-lebih ketika lidahnya menemukan biji klitorisku dan disedot-sedot oleh lidahnya hingga aku pun melintir dan menggelinjang nikmat.
“Arhh.. arghh.. sshh.. sshhh.. oohh.. oohh..! Pak.. David.. terus.. Pak.. trus..!”
Aku malah berceracau tidak karuan. David pun makin menyedot klitorisku lebih gila karena kusuruh.

Setelah hampir 15 menit lamanya vaginaku disedot oleh David (supirku), aku pun berontak, dimana kepala David yang ada di selangkanganku kuremas dan keluarlah dari vaginaku cairan yang langsung dijilat dan ditelan habis oleh David hingga tidak bersisa. Tubuhku makin lemas setelah cairan yang keluar dari vagina dengan banyak. Hal ini berbeda dengan David yang makin ganas, bajuku langsung dirobek, begitu juga BH-ku hingga aku benar-benar bugil dibuatnya. Payudaraku yang 36B terbungkus kulit putih bersih nan mulus terbuka tanpa penutup, dan terus terang baru sekali ini aku bugil dilihat oleh seorang laki-laki seumur hidupku, dan yang beruntung adalah supirku sendiri. Pacar-pacarku terdahulu pun belum seuntung supirku.

David yang belum puas menikmati klitorisku tadi, langsung melepaskan baju dan celananya hingga bugil. Mataku langsung melihat batang kemaluan David yang panjang, gede, besar dan hitam menggelantung dengan tegang dan keras di antara pahanya yang kulitnya hitam legam. Saking hitamnya tubuh David, sampai terlihat mengkilap karena keringatnya mulai menetes dari pori-porinya.

David lalu naik ke atas tubuhku dan jongkok di perutku, batang kejantanannya menggelantung tepat di wajahku. Aku mulai berontak, kugelengkan wajahku, aku tidak mau menggulum kejantanannya, karena selain hitam dan besar, penis David mengeluarkan bau yang agak aneh. Tapi David rupanya lebih pintar, hidungku dibekap oleh tangannya sehingga aku sulit bernapas, mau tidak mau aku harus bernapas dengan mulut.

Begitu mulutku terbuka untuk bernapas, tangannya yang memegangi penisnya langsung menyodokkan kejantanannya masuk mulutku. Aku pun tersedak oleh batangnya yang ada di mulutku. Aku berusaha berontak, namun lagi-lagi hidungku dibekap hingga disaat mulutku terbuka makin lebar batangnya ditekan lagi lebih ke dalam mulutku. Aku makin tersedak karena batang David rasanya menyentuh amandelku. Namun rupanya walau sudah menyentuh amandelku, batang kejantanan David belum sepenuhnya masuk dalam mulutku. David mencoba menyodokkan lebih ke dalam lagi batangnya dalam mulutku hingga terasa sampai kerongkonganku hingga aku terbatuk-batuk.

David lalu melonggarkan dengan menarik kemaluannya sehingga aku dapat bernapas, tapi lalu dia menyodokkan lagi penisnya masuk ke dalam mulutku hingga aku tersengal dan terbatuk-batuk lagi, sedangkan hidungku tetap ditutup oleh tangannya. Otomatis mataku mulai berair menahan rasa sakit di kerongkonganku. David terus melakukannya selama hampir 1 jam sampai cairan putih kental, rasanya aneh dan berbau memenuhi mulutku.

Aku berusaha mengeluarkan cairan itu dari mulutku dengan menahan napas agar cairan itu tidak masuk, tapi David menyodokkan lagi kemaluannya sehingga cairan yang bau dan rasanya aneh tertelan juga yang membuatku terbatuk-batuk.
“Nah.. gitu dong… Bu. Cairan David.. harus Ibu telan. Gimana rasanya, enak.. khan..?”
“Bangsat loh.. Sialan loh Vid..! Keluar kamu dari rumah saya..!”
Kumarahi dan kumaki David yang telah menyiksaku. Memang pada saat David menjilati klitorisku, aku merasakan nikmat, namun hal yang baru saja dia perbuat terhadapku membuat diriku tersiksa.

Namun David rupanya semakin gila dan ganas. Tubuhku lalu ditariknya ke sisi tempat tidur, kakiku direnggangkannya dan diletakkan di pundaknya. Batang kemaluannya ditempelkan pada vaginaku, lalu dengan jarinya dibukanya vaginaku dan dimasukkan kejantanannya ke dalam vaginaku. Vaginaku yang masih rapat karena belum pernah dimasuki kemaluan siapa pun merasa seperti dirobek.
Aku meringis kesakitan, “Akh.. akhh.. sakit Vid.. sakit..!”

Kejantanan David mulai membongkar vaginaku yang masih rapat dan sempit. Disodokkannya batangnya yang hitam, panjang dan besar itu ke vaginaku.
Aku dibuatnya menjerit-jerit menerima sodokan itu di vaginaku, “Akh.. sakit Vid.. kontolmu besar sekali..”
“Gimana Bu rasanya..? Nanti juga enak kok.. Bu..”

Payudaraku yang ranum, terbungkus kulit yang putih bersih pun dan ukurannya 36B sudah dilahap oleh mulutnya, dicucup, disedot dan digigit putingnya. Aku makin lama makin menggelinjang mengikuti irama permainannya. Walaupun tubuh David hitam legam sedang berada di atas tubuhku yang putih mulus, makin lama permainan kami membuat tubuhnya mengkilat karena keringat yang menimbulkan aroma bau yang tidak enak, yang membuatku ingin muntah lagi, namun vaginaku rasanya makin enak setelah semua batangnya masuk ke vaginaku.

“Argh.. argh..! Vid, kontolmu enak sekali.. walau tubuhmu bau.. keringat.. argh.. arghh.. Trus.. Vid.. trus..! Kontolmu nikmat sekali..”
David terus menghujamkan kemaluannya ke dalam vaginaku. Perasaan ini sama sekali belum pernah kurasakan dalam hidupku. Tapi karena nikmatnya, aku merasa tidak memperdulikan apakah laki-laki yang menikmati vaginaku itu supirku sendiri.

David pun juga terus melumatkan payudaraku dengan putingnya digigit-gigit, yang membuatku makin menggelinjang.
“Vid.., gila..! Enak buanget kontol lu, argh.. argh..!” kataku menanggapi kelakuannya.
“Bu.. memek Ibu juga.. nikmat banget..! Kontol saya kayak diperas-peras..! Enak buanget.. Bu.” jawabnya sambil terus melakukan gerakan yang membuatku terasa nikmat.

Hampir satu jam kemudian, vaginaku terhujam batang kejantanannya David. Aku pun memberontak dan mengelepar ke kiri dan kanan, sambil kujambak rambutnya yang hitam ikal. Vaginaku terasa sakit luar biasa dengan mengeluarkan cairan putih kental dan berdarah, namun nikmat bukan kepalang. Cairan itu membasahi kemaluan David yang masih tertanam di vaginaku. Saking banyaknya cairan itu sampai keluar hingga meluber ke pahaku.

“Argh.. arghh.. Vid. Aku keluar nich..! Argh.. argh.. sakit Vid, namun.. enak buanget deh..! Aku sampe.. lemas nih..! Argh.. argh..!”
Tubuhku pun lemas tidak berdaya dengan tetesan cairan putih kemerah-merahan di vaginaku yang tumpah ke seprei, membuatku agak panik begitu melihatnya.
“Vid..! Aku kenapa..? Kok ada.. darahnya.. juga..?”
“Ya.., memang Bu. Vagina Ibu sudah sobek. Jadi berdarah.., Ibu bukan perawan lagi.”
“Hah..? Aku tidak perawan lagi..? Kamu apain sih..!”
“Tenang Bu..! Kalau ada apa-apa, David tanggung jawab.”
“Ya sudah.”

Aku pun langsung lemas lagi karena tetesan itu masih mengalir. Namun aku tidak berbuat apa-apa ketika badanku diputar posisinya hingga aku menungging. Dan selama itu pun batang David masih tertanam pada vaginaku sehingga terasa agak perih. David lalu memompanya lagi kemaluannya keluar masuk vaginaku, makin lama rasa perih vaginaku hilang karena rasa nikmat luar biasa yang kurasakan pada vaginaku. Aku merasa kalau batang kejantanan David rasanya lebih tertusuk ke dalam lagi hingga terasa ke perutku.

Hampir 1 jam kemudian, aku pun mengeluarkan cairan lagi yang membuat diriku makin lemas tidak berdaya, yang mana banyak sekali cairan putih kental seakan tidak habis-habisnya dari vaginaku, tubuhku menjadi lunglai.
“Akh… akh.. Vid… aku keluar lagi nich..!”

Lima menit kemudian, akhirnya David pun sampai juga pada puncaknya. Namun karena posisi tubuhku yang sudah loyo, sehingga David tidak dapat melepaskan batang kemaluannya dari vaginaku dan secara otomatis cairan hangat pun mengalir dengan derasnya dari penisnya membasahi rahimku.
“Bu.., aku keluar nich..! Aku.. keluar.. argh.. argh.. tapi.. nggak bisa dicabut dari memek Ibu..”
Aku tidak berbuat apa-apa atas tindakan david membuang sperma di rahimku, karena rasa hangat dan nikmat yang kurasakan, aku hanya tersenyum.
“Vid. Hangat sekali sperma kamu. Argh..!”

Setelah cairan sperma David membasahi vaginaku, dan setelah dia mengubah posisi tubuhku, akhirnya batang kejantanannya terlepas juga dari vaginaku. Lalu ambruklah tubuh David di atas tubuhku yang sangat lemas. Kami pun tertidur lemas tidak berdaya.

Aku terbangun sekitar jam 06.00 pagi. Disaat terbangun, aku terkaget-kaget melihat David, supirku sedang tertidur telanjang di sampingku. Aku pun langsung loncat dari tempat tidurku, saat itu aku ingin sekali membangunkan dan memarahinya, namun setelah kuingat lagi peristiwa yang David lakukan padaku malamnya, aku malah tersenyum senang. Lalu kudekatkan tubuhku yang juga bugil, kusandarkan kepalaku dekat kemaluan David, lalu mulai kujilati dan kukulum batang kejantanannya. Ada sisa-sisa sperma yang rasanya agak asin terjilat olehku. 5 menit kemudian ketika batang David yang hitam legam sedang kusedot-sedot, David pun terbangun, aku pun menyudahi tindakanku.

“Akh.. Vid.. batangmu..enak..sekali, tadi malam memekku kamu.. apain..? Enak sekali deh..! Saya mau kalau kamu lakukan lagi kapan-kapan.”
“Akh.. Ibu. Kalau begitu saya siap main lagi. Semua terserah Ibu.., tapi.. Ibu nggak marah sama David khan kalau vagina Ibu saya rusak..?”
“Nggak Vid. Ibu malah menikmatinya. Kamu.. mau nggak nemenin Ibu mandi..?”
“Kalau Ibu mau.., saya mah ayoo aja..”
“Yoo.. Vid..!”
Aku dan David bermain lagi di kamar mandi sekalian membersihkan tubuh kami.

Sejak saat itu, aku dan David hampir tiap malam melakukan hubungan suami istri. David, selain menjadi supirku kini menjadi budak nafsu seksku, dan sudah hampir 9 bulan hubunganku dengan David. Aku pun berharap dapat hamil dari benihnya David, supirku.

TAMAT

Cerita Antara Kita 7:40 pm

Aku, sebut saja Anto, sulung dari tiga bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga dimana ayahku begitu disiplin mendidik kami dalam masalah tatakrama ketimuran, jadi jangankan berkata jorok, berbicara yang kurang sopan saja sudah didampratnya. Karena itu ketika aku menjelang remaja, tepatnya ketika aku berusia 15 tahun, dorongan masa puberku sering kulampiaskan dengan membaca cerita porno, tentu saja dengan main ‘kucing-kucingan’ agar tidak ketahuan oleh ayahku. Kemudian menjelang tidur aku sering membayangkan kembali cerita-cerita tersebut sambil mengelus-elus penisku sampai terkadang mencapai orgasme. Dalam membayangkan, disana belum terlintas tipe wanita seperti apa, pokoknya aku hanya membayangkan sedang bercinta dengan lawan jenis dan kulakukannya seperti dalam cerita yang kubaca.

Suatu saat di rumah kami kedatangan tamu, teman ibuku semasa dia kecil dulu. Namanya Rohana dan ibu memperkenalkan kepada kami anak-anaknya sebagai Bulik Anna. Usianya tidak terpaut jauh dengan usia Ibuku yang ketika itu berusia 36 tahun. Dalam berpakaian, Bulik Anna selalu nampak rapi dengan khas Jawanya. Rambutnya yang panjang lebat senantiasa digelung, body-nya padat dengan kulitnya yang mulus. Menurut cerita ibu, ia dulu bekas penari dan rencananya akan tinggal di rumah kami cukup lama sambil mengurus usahanya di kota Jakarta.

Awal-awal Bulik Anna berada di rumah kami, nampak biasa-biasa saja, hanya aku, disela-sela kesempatan sering mencuri pandang, apalagi jika dia sedang memakai daster dan buah dadanya yang besar tampak menyembul. Wah, betapa nikmatnya kalau dapat kuremas-remas. Otakku terkadang menjadi ngeres dan sering tubuh Bulik Anna yang padat berisi kumasukkan dalam lamunan seksku. Namun tentunya aku tidak berani berbuat jauh dari itu, apalagi perangai Bulik Anna sangat sopan terhadap kami-kami ini, sehingga betapapun perasaan ini bergemuruh, senantiasa kusimpan dalam-dalam ketika berbicara dengannya.

Hingga pada suatu hari, kelasku diliburkan karena gurunya akan mengadakan rapat persiapan ujian. Karena libur, hari itu aku bangun agak siang. Ketika aku akan ke kamar mandi di ruang tengah, tampak Bulik Anna sedang asyik membaca majalah.

“Selamat pagi Bulik..!” sapaku.
“O.., Selamat pagi To, koq ngga sekolah..?” jawab Bulik Anna dengan suara merdunya.
Sambil kuhentikan langkahku sejenak, aku bertanya lagi, “Koq sepi ya, yang lain pada kemana?”
“Ibumu tadi pamit untuk mengikuti kegiatan PKK, katanya akan ada basar sampai sore, makanya Bi Sumi (pembantu) juga diajak tuh..!”
“O.. begitu, Bulik sendiri tidak pergi?” tanyaku lagi.
“Nanti.. kira-kira jam sembilan memang saya ada janji, sekarang kan baru jam delapan, sekarang kamu mandi dulu deh, nanti kita sarapan sama-sama.”

Setelah mandi aku tetap berpakaian rumah, karena memang aku tidak ada rencana kemana-kemana, sementara tampaknya Bulik Anna kembali ke kamarnya untuk berdandan sebelum kami sarapan.Tapi tiba-tiba Bulik Anna memanggilku, “To, Anto… coba kesini sebentar..!”
“Ya Bulik..,” aku langsung menuju ke kamarnya, “Ada apa Bulik..?” tanyaku.
“Ini lho rambut Bulik, sulit dibuka sanggulnya, mungkin harnetnya (jaring pembungkul sanggul)tersangkut sama jepitannya, tolong dong bantu lepaskan..!”
Aku dengan sigap segera membantu Bulik membongkar sanggulnya.

Setelah agak lama kuusut jepitan dan harnet yang tersangkut, akhirnya sanggul Bulik Anna dapat terbuka dan seketika rambut Bulik Anna yang lebat dan wanggi tergerai, membuat perasaan berdesir terkena serbakan rambutnya. Aku tidak segera melepaskan tanganku di rambut tersebut, malah jari-jariku kugunakan sebagai pengganti sisir untuk meluruskan rambutnya yang kusut. Bulik Anna tidak berkata apa-apa, hanya terkadang kepalanya digerak-gerakkan, sehingga aku makin leluasa mempermainkan rambutnya.

Sambil memainkan rambutnya, khayalan seksku makin menjadi-jadi, apalagi setelah menyibak rambut Bulik Anna, terlihat tengkuknya yang putih mulus.
Sampai tiba-tiba lamunanku terhentak oleh suara Bulik Anna, “Kenapa To, kamu senang ya dengan rambut Bulik..?”
Aku sempat gugup, “Oo.. eh.. iya, rambut Bulik bagus sekali.” jawabku sekenanya.
“Ah kamu bisa aja, dulu rambut Bulik lebih panjang lagi dan sering dibuat ekor kuda.”
“Saya mau koq diajarin bikin rambut ekor kuda.” jawabku karena dalam hati agar aku dapat lebih lama lagi bermain dengan rambut Bulik Anna.

Tanpa menjawab, Bulik Anna langung mempraktekkan. Dia membagi dua rambutnya, tangganku mengikuti gerakannnya. Belahan rambut yang satu tetap di belakang, sementara belahan yang satunya dipindahkan ke depan. Tanganku tetap dibimbingnya, sehingga ketika meletakkan belahan rambut yang depan, tubuhku tambah merapat ke tubuh Bulik Anna. Sementara tanganku sempat menyentuh payudara Bulik Anna yang hanya terlapisi dasternya. Tegangan semakin tinggi, dan senggaja tubuhku semakin kurapatkan ke tubuhnya, sehingga penisku yang sejak tadi sudah bangun di balik celana kugesek-gesekkan ke pantatnya. Bulik Anna tampaknya juga menangkap usahaku, tapi dia pura-pura tidak memperdulikan, malah kini tanganku yang masih memegang belahkan rambutnya di belakang dipindah ke depan dua-duanya, sehingga posisinya seperti dia akan menggendongku.

Melihat gelagat seperti itu, kedua tanganku yang tadinya menggengam rambut kulepaskan, namun kuremas-remas rambut tersebut di atas kedua payudaranya, sementara wajahku kutempelkan ke tengkuknya yang putih mulus. Nafasku semakin tidak beraturan, sementara Bulik Anna membalas. Tangan sudah bereaksi melorotkan celana pendek dan CD-ku sambil menyambar penisku yang sudah tegang. Kedua belahan rambutnya kini kususupkan ke dalam dasternya yang ternyata dia tidak memakai BH, sehingga langsung bersentuhan dengan kedua payudara Bulik, dan tanganku semakin leluasa meremas-meremas rambut dan payudara sekaligus sambil tengkuknya kuciumi.

Bulik Anna yang sudah mulai terangsang, tanpa berkata-kata langsung membalikkan badan. Penisku yang dari tadi dipegangnya langsung dikocok-kocok dengan lembut, kemudian dia berjongkok menjilatinya. Sementara itu tangganku tetap mempermainkan rambutnya yang lebat tergerai.
“Auh.. uh..!” rintihku menahan kenikmatan, sementara Bulik sibut dengan aktivitasnya.
Pennisku dikulum-kulum bak “lolypop”, “Ah.. auh.. Bulik.., Aku sudah ngga tahan nih..!”
Dia tidak menjawab, malah semakin keras menyedot penisku. Tubuhku semakin mengejang dan tanpa dapat kubendung lagi, muncratlah cairan putih kental ke mulutnya sambil tanganku tetap menjambak rambutnya yang sudah tergerai tidak beraturan.

Betapa rasanya di awang-awang, karena baru pertama kali kualami. Ia telan habis air maniku, sementara aku tetap berdiri kaku, ya nikmat, ya malu, ya bingung, ya takut.
Bulik Anna berdiri, dia tersenyum melihat tingkahku yang salah tingkah.
“Tidak usah takut To.. Khan cuma Bulik yang tahu.., gimana rasanya?”
“Wah, luar biasa Bulik, tapi saya takut nih..!” jawabku dengan perasaan yang belum tenang.
“Sudahlah.., Bulik maklum koq, kamu tenangkan dulu pikiranmu, nanti Bulik ajarkan pelajaran kedua yang jauh lebih enak.”
Kemudian ia menciumku dengan lembut, lalu membimbingku duduk di tepi ranjangnya. Kami berpelukan. Bulik kembali menciumku, kemudian melumat bibirku, sementara tangannya kembali mengelus-elus penisku yang masih ‘mengkeret’ ketakutan.

Tapi kali ini aku sudah mulai berani. Kini sambil berciuman, tanganku sudah merambah ke tali daster batiknya, kulepas ikatan daster Bulik sehingga melorot ke bawah, kupermainkan lagi rambut dan payudaranya. Bulik Anna melepas ciuman di bibirku, namun ia menekan kepalaku ke bawah dan mengarahkan ke payudaranya. Aku mulai menjilati putingnya yang menyembul di sela-sela rambutnya. Puas berputar di sekitar payudara dengan tetap membekap kepalaku, Bulik mencoba berdiri, sehingga posisi wajahku persis berhadapan dengan vaginanya yang tersamar rambut tipis. Semerbak wangi vagina Bulik kembali membuatku terangsang, kujilati semua permukaan vagina yang sudah mulai basah.

Kemudian dia merebahkan diri di ranjang, tangannya mendekap kepalaku. Pahanya dibuka, sehingga memudahkan aku menjilat dan memasukkan lidahku ke dalam vaginanya. Tubuh Bulik Anna bergerak-berak sambil sesekali merintih. Aku yang belum mengerti tehnik bercinta, terus saja melumat vaginanya sekenaku, sehingga tubuh Bulik semakin mengejang.
“Ayo.. To..! Teruskan.., teruskan..!” pintanya diikuti desah nafasnya.

Setelah hampir lima menit kusapu vaginanya dengan lidahku, aku berusaha melepaskan dekapan di kepalaku. Bulik tampak kaget, tapi segera kulepaskan daster Bulik yang belum sepenuhnya tanggal dari tubuhnya, dan ia pun segera melepas kaos yang kukenakan, sehingga kami berdua benar-benar dalam keadaan telanjang. Kuelus lagi vagina Bulik yang tampak basah dan memerah, penisku juga diraihnya, lalu dibimbing masuk ke lubang tersebut.
“Sleb… sleb…!” kuputar-putar di dalam, mengikuti goyangan pantat Bulik.
Sambil kupompa, bibir kami terus bertautan dan tanganku meremas-meremas payudaranya yang masih tertutup rambutnya.

Aduh ..to, terus.. pompa terus to, sambil tangan Bulik meremas pantatku. Penisku rasanya semakin mengeras, sementara vaginanya terasa berdenyut…mungkin lebih dari sepuluh menit kami berpautan.. oh..to…oh…enak..to…, aduh aku ngga tahan nih..biarkan disitu, rintih Bulik anna…, Akupun semakin menekan penisku…sampai tubuh kami mengejang dan.. menyemburlah airmaniku untuk kedua kalinya dilobang milik Bulik anna yang satu ini.Kami menikmati puncak orgasme sampai benar-benar habis, dan baru kucabut penisku setelah kami berdua kelelahan. Aku turun ke sebelah tubuh Bulik Anna dan berbaring di sebelahnya.
Kemudian Bulik Anna memelukku sambil berkata, “Terima kasih ya.. To, ternyata kamu ‘murid’ yang pandai yach..!”
“Tapi kalau ketahuan Ibu gimana nih..?”
“Ala.., ngga usah kuatir, Bulik akan jaga penampilan di depan Bapak Ibumu seperti biasanya.”
“Lalu Bulik ngga jadi pergi..? Sudah jam setengah sepuluh lho..!” kataku mengingatkan.
“Ah… biar saja, lebih baik aku menemani kamu belajar hari ini..!” katanya sambil mencubit pipiku.

Setelah beristirahat kira-kira sepuluh menit, lalu ‘pelajaran’ pun dilanjutkan, sampai-sampai kami lupa bahwa gara-gara harnet jadi tidak ingat sarapan. Dan pada hari-hari selanjutnya, setiap ada kesempatan, kami mengulangi pelajaran tersebut, sampai akhirnya Bulik Anna pamit kembali ke desanya.

Itulah pengalamanku ngeseks pertama kali. Dan sampai kini, meskipun usiaku sudah lebih dari 40, namun jika melihat wanita berambut panjang dan lebat, gairah seksku langsung meningkat, teringat pengalaman dengan Bulik Anna.

Akibat Pergaulan Bebas 7:36 pm

Aku (sebut saja Aswin), umur hanpir 40 tahun, postur tubuh biasa saja, seperti rata-rata orang Indonesia, tinggi 168 cm, berat 58 kg, wajah lumayan (kata ibuku), kulit agak kuning, seorang suami dan bapak satu anak kelas satu Sekolah Dasar. Selamat mengikuti pengalamanku.

Cerita yang aku paparkan berikut ini terjadi hari Senin. Hari itu aku berangkat kerja naik bis kota (kadang-kadang aku bawa mobil sendiri). Seperti hari Senin pada umumnya bis kota terasa sulit. Entah karena armada bis yang berkurang, atau karena setiap Senin orang jarang membolos dan berangkat serentak pagi-pagi. Setelah hampir satu jam berlari ke sana ke mari, akhirnya aku mendapatkan bis.

Dengan nafas ngos-ngosan dan mata kesana kemari, akhirnya aku mendapat tempat duduk di bangku dua yang sudah terisi seorang wanita. Kuhempaskan pantat dan kubuang nafas pertanda kelegaanku mendapatkan tempat duduk, setelah sebelumnya aku menganggukkan kepala pada teman dudukku. Karena lalu lintas macet dan aku lupa tidak membawa bacaan, untuk mengisi waktu dari pada bengong, aku ingin menegur wanita di sebelahku, tapi keberanianku tidak cukup dan kesempatan belum ada, karena dia lebih banyak melihat ke luar jendela atau sesekali menunduk.

Tiba-tiba ia menoleh ke arahku sambil melirik jam tangannya.
“Mmacet sekali ya?” katanya yang tentu ditujukan kepadaku.
“Biasa Mbak, setiap Senin begini. Mau kemana?” sambutku sekaligus membuka percakapan.
“Oh ya. Saya dari Cikampek, habis bermalam di rumah orang tua dan mau pulang ke Pondok Indah,” jawabnya.
Belum sempat aku buka mulut, ia sudah melanjutkan pembicaraan,
“Kerja dimana Mas?”
“Daerah Sudirman,” jawabku.

Obrolan terus berlanjut sambil sesekali aku perhatikan wajahnya. Bibirnya tipis, pipinya halus, dan rambutnya berombak. Sedikit ke bawah, dadanya tampak menonjol, kenyal menantang. Aku menelan ludah. Kuperhatikan jarinya yang sedang memegang tempat duduk di depan kami, lentik, bersih terawat dan tidak ada yang dibiarkan tumbuh panjang. Dari obrolannya keketahui ia (sebut saja Mamah) seorang wanita yang kimpoi muda dengan seorang duda beranak tiga dimana anak pertamanya umurnya hanya dua tahun lebih muda darinya. Masa remajanya tidak sempat pacaran. Karena waktu masih sekolah tidak boleh pacaran, dan setelah lulus dipaksa kimpoi dengan seorang duda oleh orang tuanya. Sambil bercerita, kadang berbisik ke telingaku yang otomatis dadanya yang keras meneyentuh lengan kiriku dan di dadaku terasa seeer! Sesekali ia memegangi lenganku sambil terus cerita tentang dirinya dan keluarganya. “Pacaran asyik ya Mas?” tanyanya sambil memandangiku dan mempererat genggaman ke lenganku. Lalu, karena genggaman dan gesekan gunung kembar di lengan kiriku, otakku mulai berpikiran jorok. “Kepingin ya?” jawabku berbisik sambil mendekatkan mulutku ke telinganya. Ia tidak menjawab, tapi mencubit pahaku.

Tanpa terasa bis sudah memasuki terminal Blok M, berarti kantorku sudah terlewatkan. Kami turun. Aku bawakan tasnya yang berisi pakaian menuju kafetaria untuk minum dan meneruskan obrolan yang terputus. Kami memesan teh botol dan nasi goreng. Kebetulan aku belum sarapan dan lapar. Sambil menikmati nasi goreng hangat dan telor matasapi, akhirnya kami sepakat mencari hotel. Setelah menelepon kantor untuk minta cuti sehari, kami berangkat.

Sesampai di kamar hotel, aku langsung mengunci pintu dan menutup rapat kain horden jendela. Kupastikan tak terlihat siapapun. Lalu kulepas sepatu dan menghempaskan badan di kasur yang empuk. Kulihat si Mamah tak tampak, ia di kamar mandi. Kupandangi langit-langit kamar, dadaku berdetak lebih kencang, pikiranku melayang jauh tak karuan. Senang, takut (kalau-kalau ada yang lihat) terus berganti. Tiba-tiba terdengar suara tanda kamar mandi dibuka. Mamah keluar, sudah tanpa blaser dan sepatunya. Kini tampak di hadapanku pemandangan yang menggetarkan jiwaku. Hanya memakai baju putih tipis tanpa lengan. Tampak jelas di dalamnya BH hitam yang tak mampu menampung isinya, sehingga dua gundukan besar dan kenyal itu membentuk lipatan di tengahnya. Aku hanya bisa memandangi, menarik nafas serta menelan ludah.

Mungkin ia tahu kalau aku terpesona dengan gunung gemburnya. Ia lalu mendekat ke ranjang, melatakkan kedua tangannya ke kasur, mendekatkan mukanya ke mukaku, “Mas…” katanya tanpa melanjutkan kata-katanya, ia merebahkan badan di bantal yang sudah kusiapkan. Aku yang sudah menahan nafsu sejak tadi, langsung mendekatkan bibirku ke bibirnya. Kami larut dalam lumat-lumatan bibir dan lidah tanpa henti. Kadang berguling, sehingga posisi kami bergantian atas-bawah. Kudekap erat dan kuelus punggungnya terasa halus dan harum. Posisi ini kami hentikan atas inisiatifku, karena aku tidak terbiasa ciuman lama seperti ini tanpa dilepas sekalipun. Tampak ia nafsu sekali. Aku melepas bajuku, takut kusut atau terkena lipstik. Kini aku hanya memakai CD. Ia tampak bengong memandangi CD-ku yang menonjol. “Lepas aja bajumu, nanti kusut,” kataku. “Malu ah…” katanya. “Kan nggak ada yang lihat. Cuma kita berdua,” kataku sambil meraih kancing paling atas di punggungnya. Dia menutup dada dengan kedua tangannya tapi membiarkan aku membuka semua kancing. Kulempar bajunya ke atas meja di dekat ranjang. Kini tinggal BH dan celana panjang yang dia kenakan. Karena malu, akhirnya dia mendekapku erat-erat. Dadaku terasa penuh dan empuk oleh susunya, nafsuku naik lagi satu tingkat, “burung”-ku tambah mengencang.

Dalam posisi begini, aku cium dan jilati leher dan bagian kuping yang tepat di depan bibirku. “Ach… uh…” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Mulai terangsang, pikirku. Setelah puas dengan leher dan kuping kanannya, kepalanya kuangkat dan kupindahkan ke dada kiriku. Kuulangi gerakan jilat leher dan pangkal kuping kirinya, persis yang kulakukan tadi. Kini erangannya semakin sering dan keras. “Mas.. Mas.. geli Mas, enak Mas…” Sambil membelai rambutnya yang sebahu dan harum, kuteruskan elusanku ke bawah, ke tali BH hingga ke pantatnya yang bahenol, naik-turun.

Selanjutnya gerilyaku pindah ke leher depan. Kupandangi lipatan dua gunung yang menggumpal di dadanya. Sengaja aku belum melepas BH, karena aku sangat menikmati wanita yang ber-BH hitam, apalagi susunya besar dan keras seperti ini. Jilatanku kini sampai di lipatan susu itu dan lidahku menguas-nguas di situ sambil sesekali aku gigit lembut. Kudengar ia terus melenguh keenakan. Kini tanganku meraih tali BH, saatnya kulepas, ia mengeluh, “Mas… jangan, aku malu, soalnya susuku kegedean,” sambil kedua tangannya menahan BH yang talinya sudah kelepas. “Coba aku lihat sayang…” Kataku memindahkan kedua tangannya sehingga BH jatuh, dan mataku terpana melihat susu yang kencang dan besar. “Mah… susumu bagus sekali, aku sukaaaa banget,” pujiku sambil mengelus susu besar menantang itu. Putingnya hitam-kemerahan, sudah keras.

Kini aku bisa memainkan gunung kembar sesukaku. Kujilat, kupilin putingnya, kugigit, lalu kugesek-gesek dengan kumisku, Mamah kelojotan, merem melek, “Uh… uh… ahhh…” Setelah puas di daerah dada, kini tanganku kuturunkan di daerah selangkangan, sementara mulut masih agresif di sana. Kuusap perlahan dari dengkul lalu naik. Kuulangani beberapa kali, Mamah terus mengaduh sambil membuka tutup pahanya. Kadang menjepit tangan nakalku. Semua ini kulakukan tahap demi tahap dengan perlahan. Pertimbanganku, aku akan kasih servis yang tidak terburu-buru, benar-benar kunikmati dengan tujuan agar Mamah punya kesan berbeda dengan yang pernah dialaminya. Kuplorotkan celananya. Mamah sudah telanjang bulat, kedua pahanya dirapatkan. Ekspresi spontan karena malu.

Kupikir dia sama saja denganku, pengalaman pertama dengan orang lain. Aku semakin bernafsu. Berarti di hadapanku bukan perempuan nakal apalagi profesional. Kini jari tengahku mulai mengelus perlahan, turun-naik di bibir vaginanya. Perlahan dan mengambang. Kurasakan di sana sudah mulai basah meski belum becek sekali. Ketika jari tengahku mulai masuk, Mamah mengaduh, “Mas… Mas… geli… enak… terus…!” Kuraih tangan Mamah ke arah selangkanganku (ini kulakukan karena dia agak pasif. Mungkin terbiasa dengan suami hanya melakukan apa yang diperintahkan saja). “Mas… keras amat… Gede amat?” katanya dengan nada manja setelah meraba burungku. “Mas… Mamah udah nggak tahan nikh, masukin ya..?” pintanya setengah memaksa, karena kini batangku sudah dalam genggamannya dan dia menariknya ke arah vagina. Aku bangkit berdiri dengan dengkul di kasur, sementara Mamah sudah dalam posisi siap tembak, terlentang dan mengangkang. Kupandangi susunya keras tegak menantang.

Ketika kurapatkan “senjataku” ke vaginanya, reflek tangan kirinya menangkap dan kedua kakinya diangkat. “Mas… pelan-pelan ya…” Sambil memejamkan mata, dibimbingnya burungku masuk ke sarang kenikmatan yang baru saja dikenal. Meski sudah basah, tidak juga langsung bisa amblas masuk. Terasa sempit. Perlahan kumasukkan ujungnya, lalu kutarik lagi. Ini kuulangi hingga empat kali baru bisa masuk ujungnya. “Sret.. sret…” Mamah mengaduh, “Uh… pelan Mas… sakit…” Kutarik mundur sedikit lagi, kumasukkan lebih dalam, akhirnya… “Bles.. bles..” barangku masuk semua. Mamah langsung mendekapku erat-erat sambil berbisik, “Mas.. enak, Mas enak… enak sekali… kamu sekarang suamiku…” Begitu berulang-ulang sambil menggoyangkan pinggul, tanpa kumengerti apa maksud kata “suami”.

Mamah tiba-tiba badannya mengejang, kulihat matanya putih, “Aduuuh… Mas… aku… enak… keluaaaar…” tangannya mencengkeram rambutku. Aku hentikan sementara tarik-tusukku dan kurasakan pijatan otot vaginanya mengurut ujung burungku, sementara kuperhatikan Mamah merasakan hal yang sama, bahkan tampak seperti orang menggigil. Setelah nafasnya tampak tenang, kucabut burungku dari vaginanya, kuambil celana dalamnya yang ada di sisi ranjang, kulap burungku, juga bibir vaginanya. Lantas kutancapkan lagi. Kembali kuulangi kenikmatan tusuk-tarik, kadang aku agak meninggikan posisiku sehingga burungku menggesek-gesek dinding atas vaginanya. Gesekan seperti ini membuat sensasi tersendiri buat Mamah, mungkin senggamanya selama ini tak menyentuh bagian ini. Setiap kali gerakan ini kulakukan, dia langsung teriak, “Enak.. terus, enak terus… terus…” begitu sambil tangannya mencengkeram bantal dan memejamkan mata. “Aduuuhm Mas… Mamah keluar lagi niiikh…” teriaknya yang kusambut dengan mempercepat kocokanku.

Tampak dia sangat puas dan aku merasa perkasa. Memang begitu adanya. Karena kalau di rumah, dengan istri aku tidak seperkasa ini, padahal aku tidak pakai obat atau jamu kuat. Kurasakan ada sesuatu yang luar biasa. Kulirik jam tanganku, hampir satu jam aku lakukan adegan ranjang ini. Akhirnya aku putuskan untuk terus mempercepat kocokanku agar ronde satu ini segera berakhir. Tekan, tarik, posisi pantatku kadang naik kadang turun dengan tujuan agar semua dinding vaginanya tersentung barangku yang masih keras. Kepala penisku terasa senut-senut,
“Mah… aku mau keluar nikh…” kataku.
“He… eeh… terus… Mas, aduuuh… gila… Mamah juga… Mas… terus… terus…”
“Crot… crot…” maniku menyemprot beberapa kali, terasa penuh vaginanya dengan maniku dan cairannya. Kami akhiri ronde pertama ini dengan klimaks bareng dan kenikmatan yang belum pernah kurasakan. Satu untukku dan tiga untuk Mamah.

Setelah bersih-bersih badan, istirahat sebentar, minum kopi, dan makan makanan ringan sambil ngobrol tentang keluarganya lebih jauh. Mamah semakin manja dan tampak lebih rileks. Merebahkan kepalanya di pundakku, dan tentu saja gunung kembarnya menyentuh badanku dan tangannya mengusap-usap pahaku akhirnya burungku bangun lagi. Kesempatan ini dipergunakan dengan Mamah. Dia menurunkan kepalanya, dari dadaku, perut, dan akhirnya burungku yang sudah tegang dijilatinya dengan rakus. “Enak Mas… asin gimana gitu. Aku baru sekali ini ngrasain begini,” katanya terus terang. Tampak jelas ia sangat bernafsu, karena nafasnya sudah tidak beraturan. “Ah…” lenguhnya sambil melepas isapannya. Lalu menegakkan badan, berdiri dengan dengkul sebagai tumpuan. Tiba-tiba kepalaku yang sedang menyandar di sisi ranjang direbahkan hingga melitang, lalu Mamah mengangkangiku.

Posisi menjadi dia persis di atas badanku. Aku terlentang dan dia jongkok di atas perutku. Burungku tegak berdiri tepat di bawah selangkangannya. Dengan memejamkan mata, “Mas… Mamah gak tahaaan…” Digenggamnya burungku dengan tangan kirinya, lalu dia menurunkan pantatnya. Kini ujung kemaluanku sudah menyentuh bibir vaginanya. Perlahan dan akhirnya masuk. Dengan posisi ini kurasakan, benar-benar kurasakan kalau barang Mamah masih sempit. Vagina terasa penuh dan terasa gesekan dindingnya. Mungkin karena lendir vaginanya tidak terlalu banyak, aku makin menikmati ronde kedua ini. “Aduuh… Mas, enak sekali Mas. Aku nggak pernah sepuas ini. Aduuuh… kita suami istri kan?” lalu… “Aduuuh… Mamah enak Mas… mau keluar nikh… aduuuh…” katanya sambil meraih tanganku diarahkan ke susunya. Kuelus, lalu kuremas dan kuremas lagi semakin cepat mengikuti, gerakan naik turun pantatnya yang semakin cepat pula menuju orgasme.

Akhirnya Mamah menjerit lagi pertanda klimaks telah dicapai. Dengan posisi aku di bawah, aku lebih santai, jadi tidak terpancing untuk cepat klimaks. Sedangkan Mamah sebaliknya, dia leluasa menggerakkan pantat sesuai keinginannya. Adegan aku di bawah ini berlangsung kurang lebih 30 menit. Dan dalam waktu itu Mamah sempat klimaks dua kali. Sebagai penutup, setelah klimaks dua kali dan tampak kelelahan dengan keringat sekujur tubuhnya, lalu aku rebahkan dia dengan mencopot burungku. Setelah kami masing-masing melap “barang”, kumasukkan senjataku ke liang kenikmatannya. Posisinya aku berdiri di samping ranjang. Pantatnya persis di bibir ranjang dan kedua kakinya di pundakku. Aku sudah siap memulai acara penutupan ronde kedua. Kumulai dengan memasukkan burungku secara perlahan. “Uuh…” hanya itu suara yang kudengar. Kumaju-mundurkan, cabut-tekan, burungku. Makin lama makin cepat, lalu perlahan lagi sambil aku ambil nafas, lalu cepat lagi. Begitu naik-turun, diikuti suara Mamah, “Hgh.. hgh.. ” seirama dengan pompaanku.

Setiap kali aku tekan mulutnya berbunyi, “Uhgh…” Lama-lama kepala batanganku terasa berdenyut.
“Mah… aku mau keluar nikh…”
“Yah… pompa lagi… cepat lagi… Mamah juga Mas… Kita bareng ya… ya… terus…” Dan akhirnya jeritan…
“Aaaauh…” menandai klimaksnya, dan kubalas dengan genjotan penutup yang lebih kuat merapat di bibir vagina, “Crot… crott…” Aku rebah di atas badannya. Adegan ronde ketiga ini kuulangi sekali lagi. Persis seperti ronde kedua tadi.

Pembaca, ini adalah pengalaman yang luar biasa buat saya. Luar biasa karena sebelumnya aku tak pernah merasakan sensasi se-luar biasa dan senikmat ini. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi, meski aku tahu alamatnya. Kejadian ini membuktikan, seperti yang pernah kubaca, bahwa selingkuh yang paling nikmat dan akan membawa kesan mendalam adalah yang dilakukan sekali saja dengan orang yang sama. Jangan ulangi lagi (dengan orang yang sama), sensasinya atau getarannya akan berkurang. Aku kadang merindukan saat-saat seperti ini. Selingkuh yang aman seperti ini.

Akibat Pergaulan Bebas 7:32 pm

Pada kesempatan ini aku ingin menceritakan pengalaman bercintaku yang tidak terlupakan. Aku adalah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Namaku Valentino dan saat ini usiaku 22 tahun. Menurut temanku meski wajah Chinese-ku ini biasa-biasa saja tapi aku punya daya tarik seks yang cukup tinggi. Tinggi badanku hanya 173 cm dengan berat 71 kg. Aku juga suka olahraga dan wajar saja jika fisikku cukup prima.

Kejadian ini terjadi pada waktu liburan natal 2000 yang lalu. Waktu itu untuk melepaskan kesuntukan karena tidak ada aktivitas, aku memutuskan untuk chatting di warnet di dekat kost. Aku masuk ke channel favoritku yaitu Bawel. Selang beberapa lama ada nick yang invite aku masuk ke channel dia. Dan aku pun masuk aja, cuek.. siapa takut. Ternyata setelah kami ngobrol beberapa lama, dia adalah seorang cewek kampus yang gaul banget. Dari pembicaraannya sepertinya dia bukan orang yang kuper. Namanya Michelle, dan kuliah di PTS juga dan usianya pun sama denganku. Dia mengaku sedang ditinggal pacarnya dan dia masih merasa sedih. Aku berusaha menghiburnya, dan aku pun minta no teleponnya. Dan akhirnya kami saling tukar no telepon.

Esok harinya, aku bangun siang sekali karena kemarin aku chatting sampai jam 1 pagi. Tiba-tiba di kost-ku ada yang manggil, katanya ada telepon untukku. Aku juga bingung siapa yang menelepon, dan setelah kuangkat. Oh, rupanya Michelle yang meneleponku. Hari itu sih hari minggu, dan kebetulan aku lagi tidak ada acara. Michelle mengajakku untuk janjian bertemu dan aku pun menyanggupinya. Kami bertemu di Mall Ciputra, tepatnya di Pizza Hut. Rupanya di sana dia tidak sendirian, dia ditemani tantenya yang cantiknya aduhai dan teman satu kampusnya yang juga tidak kalah cakepnya. Ternyata Michelle ini cantik sekali, tingginya kira-kira 170 cm dan kutebak ukuran branya pasti 36B, sama seperti tantenya.

Kami pun berkenalan. Michelle menyapaku, “Kenalin ini Tante gue.. Ratna dan ini temen gue Shinta..” Kami pun saling berjabat tangan dan terasa tangan mereka sungguh lembut. Setelah itu kami memesan pizza ukuran besar dan sambil menunggu aku terus menatap Michelle, dan dia agak membungkuk sehingga aku bisa melihat belahan dadanya yang membuat kemaluanku mulai menegang ditambah lagi melihat pahanya yang mulus tanpa cacat juga bibirnya yang ranum dan merekah.

“Kamu lagi liburan kan Val?” tanya Tante Ratna.
“Iya nih.. lagi suntuk, abis gak ada yang bisa dikerjain waktu liburan.” jawabku sekenanya.
“Mmmm, gimana kalau kita bertiga ngerjain kamu, kan katanya kamu gak ada kerjaan?” kata Shinta sambil tertawa menggoda.
“Iya nih, mau gak.. kita bermain-main sedikit?” sambung Michelle.
“Ah kalian bisa aja, bukannya aku yang ngerjain kalian ntar?” godaku.
“Ihhh… kamu bisa aja deh..” bisik Tante Ratna.
“Ya udah, daripada banyak omong, gimana kalau malam ini kita nginap di hotel aja, tuch di seberang resepsionis hotel sudah nunggu kita tuch..” ajak Shinta.

Akhirnya kami sepakat untuk membooking kamar di Hotel Ciputra dan Tante Ratna yang bayar. Kami masuk ke kamar dan aku pun merebahkan badanku ke ranjang, untuk melepas lelah. Aku sempat memejamkan mata sesaat, dan tiba-tiba kurasakan ada yang mengelus-elus sekitar selangkanganku dan ternyata itu si Michelle yang sudah tidak sabar lagi. Dipelorotkannya reitsleting-ku dan dia pun mulai membedah CD-ku yang isinya sudah membengkak karena adikku yang sudah tidak tahan lagi untuk menerobos. “Val, aku mau dong nyobain ngulumin pisang kamu yang cakep ini, boleh kan?” pinta Michelle manja. Tanpa komando langsung dijilatnya ujung kepala kemaluanku. “Ahh.. nikmat sekali..” Belum sepuluh menit, tiba-tiba Tante Ratna sudah telanjang bulat dan mengarahkan kemaluannya ke wajahku. Dan tanpa ragu-ragu kujilat vaginanya yang masih cakep itu. Sementara itu Shanti yang dengan luwesnya setelah selesai mandi mulai naik ke ranjang juga dan meraih kedua bukit Tante Ratna yang sudah menegang putingnya itu karena terangsang oleh jilatanku pada area kewanitaannya.

“Ahhh.. enak sekali rasanya bisa dikerjain mereka bertiga. Michelle dan Tante Ratna dengan buah dada 36B, serta Shanti dengan buah dada 34D, sungguh membuatku tidak bisa berkata-kata selain, “Uh.. oh.. uh.. oh..” Aduh sungguh nikmat. Penisku yang panjangnya 16 cm ini rasanya sudah nikmat sekali dan panas sekali dihisap secara bergantian oleh mereka bertiga. Dan aku pun keluar setelah 20 menit, dikocok dan dijilat secara bergantian. Aku mengeluarkannya di mulut Michelle yang mungil sedangkan Tante Ratna dan Shanti juga tidak ketinggalan membersihkan cairan spermaku yang cukup banyak ini. Setelah itu Tante Ratna datang dan memijat penisku yang sudah mulai loyo hingga berdiri lagi. Ah, belum 2 menit adikku sudah naik lagi akibat pijatan lembut Tante Ratna, sementara itu Shanti dan Michelle bermain berdua, karena mereka ternyata lesbian dan juga biseks.

Tante Ratna kemudian memasukan penisku ke dalam lubang kemaluannya yang sudah penuh cairan cinta itu. Memang sih awalnya agak susah, dan rupanya meski sudah punya suami, Tante Ratna ini kemaluannya tetap sempit dan membuat adikku seolah dipijat dan diremas-remas oleh dinding kemaluannya yang kuat sekali. Sementara itu selang waktu 15 menit, Michelle menghampiriku lagi dan menempatkan vaginanya di atas wajahku untuk dijilat. Dengan posisi berhadapan dengan Tante Ratna, Michelle membantu menjilat puting susu Tante Ratna yang berwarna pink itu. Sementara itu Shanti juga tidak tinggal diam, diarahkannya jariku ke dalam lubang kemaluannya kemudian aku pun mulai tahu maksudnya. Kuobrak-abrik kemaluannya dengan kedua jariku, hingga Shanti menjerit-jerit keenakan.

Akhirnya 10 menit kemudian Tante Ratna berteriak, “Val.. oh.. enak Val.. Tante mau keluar nih..”
“Tunggu Tante aku juga mau keluar, aku keluarin di dalem aja yah? Abis masih ada Mich!Michelle sama Shanti sih, gak bisa bergerak nih..” erangku.
“Ya udah, keluarin di dalem aja.. ohhh… Tante keluar..” desah Tante Ratna.
Akhirnya kami pun keluar bersama-sama. Dan kemudian kami terus mencoba gaya lainnya lagi sampai kurang lebih sudah setengah dua pagi.

Keesokan harinya jam tujuh pagi aku terbangun dan ternyata mereka sudah membuatkan sarapan untukku. Wah tanpa pakaian mereka menyuapiku untuk sarapan dan minum susu. Tapi aku lebih tertarik pada susu mereka. Dengan nafsu mereka menyuapiku dalam keadaan telanjang. Serasa dunia ini seperti di sorga. Michelle mulai menatapku penuh nafsu. “Val, aku pengen lagi nih, habis kemarin belum puas sih.. boleh gak?” tanya Michelle. “Oh.. why not, my soul is your mine.. just do it..” balasku mesra. Akhirnya Michelle mulai menjilati putingku sembari menciumku dan membelaiku. Aku sungguh merasakan kenikmatan dan kelembutan tangannya. Dan di adik kecilku sudah ada Tante Ratna dan Shanti yang tangannya bergerilya dengan penuh nafsu dan membuatku merem melek. Oh.. betapa indahnya dunia.

Kemudian Tante Ratna memijat adik kecilku dengan kedua bukit susunya yang sungguh menakjubkan. Aduh enak sekali dipijat dengan tetek ini rasanya. Aku tidak sanggup lagi untuk menahan semua gairahku. Sementara itu Michelle juga tidak mau tinggal diam lagi. Segera diarahkannya vaginanya ke wajahku dan aku pun menjilat vaginanya yang sudah memerah itu. Dan mulailah suara desahan terdengar dan berpadu membentuk suatu paduan suara yang menggairahkan,, birahiku semakin tinggi.

Setelah selang 15 menit aku mulai mencoba merubah posisiku dan Michelle kubaringkan sementara Tante Ratna dan Shanti asyik bermain berduaan. Kutumpahkan susu sarapanku ke mulut vagina Michelle dan kujilat-jilat vaginanya yang kini sudah menjadi rasa susu itu. Dan Michelle pun mengerang keenakan, “Val, masukin dong… aku udah basah nih.” Dan tanpa ragu-ragu lagi kuhujamkan dengan keras penisku yang 16 cm ini sedalam-dalamnya ke lubang keperawanan Michelle yang merah merekah itu. Aku terus-menerus memompa tanpa henti meski tubuhku dan tubuh Michelle sudah berkeringat semua. Suara desahan demi desahan terus saja keluar dan semakin menggelora semangat dan nafsuku di pagi itu. “Uh.. uh.. uh..” suara-suara itu terus mendesah dan keringat kami terus menetes membuat tubuh kami seperti berkilat keemasan ditimpa seberkas sinar matahari. Tante Ratna pun yang meski sudah cukup berumur tapi tetap saja bugar dan segar. Mungkin semakin tua semakin berpengalaman kali yah? Sedangkan Michelle yang masih muda terus saja menampakkan semangat mudanya dengan jeritan-jeritan orgasme yang sungguh semakin membuatku merasa beruntung, sepertinya sekali mendayung 3 gunung kembar terlampaui. Aku benar-benar dibuat kecapekan. Sungguh liburan yang semula membuat bete menjadi liburan yang penuh kenangan.

Bagi para cewek, atau tante yang mau melampiaskan nafsunya hubungi saja aku via e-mail. Aku sangat senang bisa membantu kalian agar terpuaskan, mau mengalami seperti cerita tadi lewat permainan group juga kuterima. Mau 2 cowok dan 4 cewek juga tidak masalah. Aku sangat terobsesi sekali akan seks sejak pengalamanku. So, sekarang siapa yang selanjutnya mau mendapatkan pengalaman seks yang indah dan tak terlupakan bersamaku, jangan ragu-ragu hubungi e-mailku. Aku senang bisa memuaskan teman-teman cewek sekalian. Bagi yang belum berpengalaman, setelah kita bersama pasti akan menjadi suatu pengalaman yang mengesankan selama hidup. So tunggu apa lagi, kalau ada yang tertarik silakan hubungi aku via e-mail dan segera dapatkan pengalaman menarik bersamaku.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 7:30 pm

Sebelumnya, kuperkenalkan diriku dulu. Namaku Yeni. Aku lahir dan dibesarkan di kota Bandung. Usiaku 33 tahun, aku bekerja di sebuah bank swasta di Jalan Asia Afrika, Bandung. Saat ini aku hidup sendiri. Aku pernah menikah, kurang lebih selama empat tahun. Pernikahanku tidak dikaruniai anak. Aku bercerai, karena suamiku berselingkuh dengan rekan bisnisnya.

Untuk mengusir kejenuhan dalam kesendirianku selama kurang lebih satu tahun setengah, aku selalu menghibur diriku dengan membaca. Kadang aku chatting, akan tetapi aku tidak berharaf untuk bertemu dengan teman chatting-ku. Aku masih trauma akibat perlakuan suamiku terhadapku.

Aku kenal beberapa orang teman chatting yang asyik untuk diajak bercanda ataupun berdiskusi, salah satunya adalah Ferdy. Dia anak kuliahan, semester akhir di perguruan tinggi swasta di Bandung. Ferdy merupakan teman chatting-ku yang pertama kali yang pernah bertemu denganku.

Pada awal perkenalannya aku kurang respek terhadapnya, karena email-nya saja menyeramkan, dapat pembaca bayangkan, cari_ce_maniax@***.** (edited). Tapi entah angin apa yang membuatku penasaran untuk bertemu dengannya, padahal aku baru sekali chatting dengannya. Cerita selanjutnya adalah pertemuan pertamaku dengan Ferdy yang berakhir ke sebuah hotel di sekitar jalan Setiabudi.

Hari itu, Sabtu tanggal 16 Juni 2001, aku berjanji untuk bertemu dengan Ferdy di sebuah cafe di belakang BIP pukul 16.00. Aku sengaja datang lebih awal sekitar pukul 15.45, dan memilih tempat yang agak ke pojok agar aku dapat melihat dia terlebih dahulu. Aku memesan minuman, dan mataku tertuju terus ke arah pintu masuk cafe.

Sambil menunggu Ferdy datang, aku memperhatikan orang di sekelilingku. Aku merasa risih sekali, karena ada anak muda (usianya sekita 25 tahunan) yang duduk sendirian di meja sebelahku memperhatikan terus sejak pertama aku masuk cafe. Tapi aku cuek saja. Tepat pukul 16.00, anak muda itu menghampiri diriku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Ferdy.

Aku kaget sekali, karena tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa Ferdy itu masih muda. Dia masih sangat muda, padahal ketika chatting, dia mengaku berusia 35 tahun. Dan tentunya juga, selama aku berkomunikasi melalui telepon, suara Ferdy kelihatan seperti seorang bapak-bapak dan sangat dewasa sekali. Aku sangat grogi. Untuk menghilangkan rasa grogi, kupersilakan Ferdy duduk dan memesankan minuman.

“Maaf Bu Yeni, saya berbohong kepada Ibu. Saya mengaku berusia 35 tahun, padahal usia saya tidak setua itu. Tentunya juga, saya mohon maaf tidak memakai pakaian yang saya janjikan. Saya harus panggil siapa nih? Ibu atau Mbak atau Tante atau siapa ya?”
“Yeni saja deh, biar lebih akrab,” jawabku.
Selanjutnya Ferdy bercerita, kenapa dia berbohong usia, juga aktifitasnya sehari-hari, begitu juga aku menceritakan aktifitasku dan kehidupan sehari-hariku. Aku tidak menyangka dari cara dia berkomunikasi sangat dewasa dan banyak dibumbui dengan kata-kata humor, sehingga aku dibuat terpingkal-pingkal olehnya.

Tidak terasa, waktu bergulir dengan cepat. Sekitar pukul 5 sore, Ferdy mengajak nonton bioskop di BIP. Aku tidak sungkan-sungkan, langsung mengiyakan saja. Sepulang nonton sekitar jam 7 malam, aku mengantarkan Ferdy pulang dengan Baleno-ku ke daerah Cihampelas. Ditengah perjalanan Ferdy mengajakku main ke Ciater. Aku sih tidak masalah, karena di rumah pun aku hanya tinggal sendirian.

Di daerah Lembang kami beristirahat dulu dan bercengkrama sambil menghabiskan minuman dan jagung bakar. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Akhirnya niat ke Ciater kubatalkan saja. Aku mengajak Ferdy pulang saja. Dia pun mengiyakannya.

Sepanjang perjalanan pulang ke Bandung, Ferdy mulai agak-agak nakal. Sambil bercerita, dia sudah berani mengelus-elus tanganku ketika aku sedang memindahkan perseneling. Pada awalnya kutepis, tapi bandel juga ini anak. Dia tidak pernah kapok, walau kutepis berkali-kali. Karena bosan dan tidak ada hasilnya kalau kularang, maka kubiarkan dia mengelus-elus tanganku.

Aku akui, elusannya itu membuat hatiku berdebar lebih cepat dari biasanya. Bahkan semakin lama elusannya semakin ganas, dan sudah mulai berani mengelus pahaku. Kubiarkan saja, dan aku tetap konsentrasi menyetir mobil. Entah karena suasana yang mendukung, karena kami hanya berdua-duaan, ataukah karena kesepianku selama ini, karena sudah lama tidak dielus laki-laki. Aku membiarkan tangannya beraksi lebih jauh. Aku mulai merinding, dan darahku serasa panas menjalar seluruh tubuhku. Semakin lama, Aku semakin menikmati elusan tangannya.

Sekarang Ferdy sudah sangat berani! Dia sudah berani memegang payudaraku. Aku mulai terangsang. Aku sudah tidak kuat lagi merasakan elusan tangannya. Akhirnya mobil kupinggirkan. Aku tanyakan Ferdy, kenapa dia berani memperlakukanku seperti itu, padahal dalam hati aku pun menginginkannya. Dia minta maaf, tapi tangannya tetap tidak mau lepas dari payudaraku. Aku tak kuasa menahan rangsangannya. Akhirnya kubalas elusan tangannya dengan sebuah ciuman di keningnya. Aku tidak menyangka dia menarik tubuhku, dan menciumi bibirku. Dia melumat bibirku, sampai-sampai aku sulit untuk bernafas.

Dia mulai berani menyelusupkan tangannya di kaos ketat unguku. Aku biarkan saja. Sungguh permainan yang indah, mulutku sudah tersumpal oleh lidah Ferdy, dan tangannya pun begitu terampil mengelus-elus payudaraku. Bahkan putingku pun sudah dia elus.
Aku melenguh, “Sh.. ah.. sh.. ah… sh.. ah…”

Tangan kirinya mulai turun ke arah pangkal pahaku. Aku geli sehingga menggerinjal. Tangannya mulai membuka reseletingku perlahan-lahan. Detik demi detik kurasakan tangannya mulai mengelus kemaluanku. Aku semakin keras mengeluarkan suara. Dan akhirnya aku kaget, ketika ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan, menyorotkan sinar lampunya. Konsentrasiku buyar. Aku lalu membereskan reseletingku dan kaos ketat unguku. Begitu juga Ferdy. Akhirnya permainan yang berlangsung sekitar setengah jam itu harus berakhir karena sorotan lampu mobil yang lewat tadi. Di sekitar selangkanganku terasa basah.

“Yeni, maafin Ferdy ya. Telah berlaku kurang ajar sama Yeni.”
“Nggak apa-apa koq Fer. Tapi saya bingung, kenapa koq kamu berani berbuat seperti itu kepada saya. Padahal kamu kan 8 tahun lebih muda dari saya.”
“Nggak tahu deh, Yen. Mungkin saya mulai menyukaimu sejak pertemuan kita di Cafe.”
“Gombal ah…” kataku agak manja.
“Aku geli banget lho, waktu kamu elus tadi. Mungkin karena aku baru merasakan lagi sentuhan pria, ya Fer. Kalau boleh aku jujur, baru kali ini, ada cowok yang menyentuh aku lho Fer. Sejak perceraian aku dengan suami satu setengah tahun yang lalu.”
“Sudahlah Yen, jangan ngomongin perceraian, nanti kamu sedih. Mendingan kita melanjutkan perjalanan deh…”

Aku melanjutkan perjalanan dengan berbagai gejolak perasaan dan kenikmatan yang baru aku raih bersama Ferdy. Sambil aku menyetir mobil, Ferdy tidak lupa mengelus pahaku juga payudaraku.
“Yen, bagaimana kalau kita berhenti dulu di hotel. Biar kita bisa lebih tenang melakukannya.”
Aku bingung, antara mengiyakan dan tidak. Jujur saja, aku ingin merasakan lebih jauh lagi dari elusan lembutnya itu. Tapi aku ragu dan malu. Akhirnya kuputuskan, mengiyakan ajakkannya.

Sesampainya di kamar Hotel “S” di sekitar Setiabudi, Ferdy tidak memberikan kesempatan untukku beristirahat. Dia langsung memelukku dan melumat bibirku. Aku gelapan dan tidak kuasa menolaknya ketika Ferdy mulai mebuka kaos ketat unguku dan membuka celana panjangku. Aku disuruhnya duduk di atas meja. Dengan elusan tangannya, Ferdy telah membuka bra-ku yang berukuran 36B dan celana dalamku. Dia semakin beringas, bagaikan macan kelaparan. Ferdy mulai menciumi lubang kewanitaanku.
“Ah.. uh.. ah.. uh.. ah.. teru..s Fer.. Ah.. Enaa..k ah.. uh shhh.. shhh.. uh..”
Rasanya tidak terlukiskan, badanku menggeliat-geliat bagai ulat kepanasan. Lidah Ferdy merojok-rojok vaginaku dan menjilat klitorisku yang sebesar kacang kedelai.

Lalu kubuka kemeja dan celana jeansnya Ferdy. Kaget! Ternyata “barang”-nya Ferdy sudah keluar melewati celana dalamnya. Kelihatan ujungnya memerah. Aku takut, apakah lubang kewanitaanku muat untuk “barang”-nya Ferdy.

Sudah terasa satu jari dimasukkan ke dalam lubang kewanitaanku. Dikeluar-masukkannya jari itu dan diputar-putar. Digoyang ke kanan dan kiri. Satu jari dimasukkannya lagi. Terasa sakit, tapi nikmat. Mungkin masih penasaran, Ferdy memasukkan jarinya yang ketiga. Dikeluar-masukkan, digoyang kiri kanan. Nikmat sekali. Sedangkan tangan kirinya membantu membuka lubang kewanitaanku untuk mempermudah memasukkan jari-jari kanannya.
“Ah.. uh.. ah.. sh.. uhhh.. shhh.. terus Fer… aduh.. nggak kuat Fer… Aku mau keluar nih..”
Akhirnya aku basah. Aku tersenyum puas.

“Sekarang gantian ya, jilatin punyaku dong Yen…” Ferdy memohon kepadaku.
“Iya Fer, tapi punyamu panjang, muat nggak ya..?” jawabku.
“Coba saja dulu, Yen. Nanti juga terbiasa.”
“Auh… aw… jangan didorong dong Fer, malah masuk ke tenggorokkanku, pelan-pelan saja ya. Punyamu kan panjang.”

Sekitar lima belas menit kemudian erangan Ferdy semakin menjadi-jadi.
“Ah.. uh.. oh.. ah.. sh.. uh.. oh.. uh.. ah.. uh..”
Kuhisap semakin kuat dan kuat, Ferdy pun semakin keras erangannya. Ferdy mulai ingat, tangannya bekerja lagi mengelus vaginaku yang mulai mengering, basah kembali. Mulutku masih penuh kemaluan Ferdy dengan gerakan keluar masuk seperti penyanyi karaoke.

“Sudah dulu Yen, aku nggak tahan.., masukkin saja ke punyamu ya..?” pinta Ferdy.
Aku hanya menganggukkan kepala saja, sambil berharaf-harap cemas apakah punyaku muat atau tidak dimasuki kepunyaannya Ferdi. Kedua kakiku diangkat ke pundak kiri dan kanannya, sehingga posisiku mengangkang. Dia dapat melihat dengan jelas kemaluanku yang kecil namun kelihatan gemuk seperti bakpau.

Kulihat dia mengelus kemaluannya, dan menyenggol-nyenggolkan pada kemaluanku, aku kegelian. Dibukanya kemaluanku dengan tangan kirinya, dan tangan kanan menuntun kemaluannya yang besar dan panjang menuju lubang kewanitaanku. Didorongnya perlahan, “Sreett..,” dia melihatku sambil tersenyum dan dicobanya sekali lagi. Mulai kurasakan ujung kemaluan Ferdy masuk perlahan. Aku mulai geli, tetapi agak sakit sedikit. Mungkin karena lubang kewanitaanku tidak pernah lagi dimasuki kemaluan laki-laki. Ferdy melihat aku meringis menahan sakit, dia berhenti dan bertanya.
“Sakit ya..?”
Aku tidak menjawab, hanya kupejamkan mataku ingin cepat merasakan kemaluan besarnya itu.

Digoyangnya perlahan dan, “Bleess..” digenjotnya kuat pantatnya ke depan hingga aku menjerit, “Aaauuu…”
Kutahan pantat Ferdy untuk tidak bergerak. Rupanya dia mengerti kemaluanku agak sakit, dan dia juga ikut diam sesaat. Kurasakan kemaluan Ferdy berdenyut dan aku tidak mau ketinggalan. Aku berusaha mengejang, sehingga kemaluan Ferdy merasa kupijit-pijit. Selang beberapa saat, kemaluanku rupanya sudah dapat menerima semua kemaluan Ferdy dengan baik dan mulai berair, sehingga ini memudahkan Ferdy untuk bergerak. Aku mulai basah dan terasa ada kenikmatan mengalir di sela pahaku. Perlahan Ferdy menggerakkan pantatnya ke belakang dan ke depan. Aku mulai kegelian dan nikmat. Kubantu Ferdy dengan ikut menggerakkan pantatku berputar.

“Aduuhhh.., Yeni..,” erang Ferdy menahan laju perputaran pantatku.
Rupanya dia juga kegelian kalau aku menggerakkan pantatku. Ditahannya pantatku kuat-kuat agar tidak berputar lagi, justru dengan menahan pantatku kuat-kuat itulah aku menjadi geli dan berusaha untuk melepaskannya dengan cara bergerak berputar lagi, tapi dia semakin kuat memegangnya. Kulakukan lagi gerakan berulang dan kurasakan telur kemaluan Ferdy menatap pantatku licin dan geli. Rupanya Ferdy termasuk kuat juga, berkali-kali kemaluannya mengocek kemaluanku masih tetap saja tidak menunjukkan adanya kelelahan bahkan semakin meradang.

Kucoba mempercepat gerakan pantatku berputar semakin tinggi dan cepat, kulihat hasilnya Ferdy mulai kewalahan, dia terpengaruh iramaku yang semakin lancar. Kuturunkan kakiku menggamit pinggangnya, dia semakin tidak bergerak berputar lagi, tapi dia semakin kuat memegangnya. Kuturunkan kakiku menggamit pinggangnya, dia semakin tidak leluasa untuk bergerak, sehingga aku dapat mengaturnya. Aku merasakan sudah 4 (empat) kali kemaluanku mengeluarkan cairan untuk membasahi kemaluan Ferdy, tetapi Ferdy belum keluar juga.

Kupegang batang kemaluan Ferdy yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku.
Aku pun terus mengerang keasyikan, “Auh.. auh.. terus Fer.. auh… Ena..k Fer… Ugh… ah… lebih cepat lagi Fer… ugh.. ah… ssshhh… uh.. oh.. uh.. ash… ssshhh..”
“Kecepek.., kecepek.., kecepek..,” bunyi kemaluanku saat kemaluan Ferdy mengucek habis di dalamnya.
Aku kegelian hebat, “Yeni.. aku mau keluar, Tahan ya..,” pintanya menyerah.

Tanpa membuang waktu, kutarik kemaluanku dari kemaluannya, kugenggam dan dengan lincah kumasukkan bonggol kemaluan tersebut ke dalam mulutku, kukocok sambil kuhisap kuat-kuat, kuhisap lagi dan dengan cepat mulutku maju mundur untuk mencoba merangsang agar air maninya cepat keluar. Mulutku mulai payah tapi air mani yang kuharapkan tidak juga keluar. Kutarik kemaluan dari mulutku, Ferdy tersenyum dan sekarang telentang. Tanpa menunggu komando, kupegang kemaluannya, kutuntun ke lubangku dengan aku mendudukinya. Aku bergerak naik turun, dan dia memegang susuku dengan erat. Tidak lama kemudian ditariknya tubuhku melekat di dadanya, dan aku juga terasa panas.

“Sreeet.., sreett.., sreett..,” kurasakan ada semburan hangat bersamaan dengan keluarnya pelicin di kemaluanku, dia memelukku erat demikian pula aku.
Kakinya dijepitkan pada pinggangku kuat-kuat seolah tidak dapat lepas. Dia tersenyum puas.
“Yeni.., aku baru merasakan kemaluan seorang wanita. Kamu adalah wanita pertama yang merenggut bujanganku. Aku selama ini paling banter hanya melakukan peting saja. Sungguh luar biasa, enak gila, kepunyaanmu memijit punyaku sampai nggak karuan rasanya, aku puas Yen..”
“Aahhh kamu bohong, masa seusiamu baru pertama kali melakukan kayak beginian,” manjaku.
Dia hanya tersenyum dan kembali mengulum bibirku kuat-kuat.

“Sumpah, Yen..! Apakah kamu masih akan memberikannya lagi untukku..?” tanyanya.
“Pasti..! Tapi ada syaratnya..,” jawabku.
“Apa dong syaratnya, Yen..?” tanyanya penasaran.
“Gampang saja, asal kamu bisa kuat seperti tadi. Atau nanti saya kasih pil untuk kamu ya, biar lebih kuat lagi..!”
“Oke deh.. Mandi bareng yuk, Yen..” ajaknya.
Dan kami pun mandi bersama, dan sekali lagi Ferdy memberikan kepuasan yang selama ini tidak kudapatkan selama kurang lebih satu setengah tahun.

Aku bersiap-siap pulang. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Aku langsung check out menuju Cihampelas mengantarkan Ferdy pulang. Mobil keluar hotel dengan berjalan perlahan.
Sepanjang perjalanan aku berfikir, “Kok bisa-bisanya aku mmberikan sesuatu hal yang aku jaga selama ini, padahal Ferdy baru pertama kali bertemu denganku. Sekaligus juga aku membayangkan kapan lagi aku dapat memperoleh kepuasan dari Ferdy.”

Kini tangan Ferdy menempel pada pahaku, dan tanganku menempel di celananya. Sesekali Ferdy menyandarkan wajahnya ke dadaku dan jari nakal Ferdy mulai beraksi dengan manja. Kurasakan gumpalan daging kemaluan Ferdy mulai mengeras lagi, dia tersenyum melihatku. Akhirnya tidak terasa aku sudah sampai di Cihampelas, dan menurunkan Ferdy. Selanjutnya aku pulang ke rumahku di sekitar Sukarno-Hatta.

Terakhir, khusus bagi Anda WANITA (—-KHUSUS WANITA—-) yang sebaya ataupun senasib dengan saya (saya janda, berusia 33 tahun), sudi kiranya Anda membagikan tips-nya untuk saya, agar saya dapat membahagiakan dan memuaskan Ferdy lebih lama.., dan la..ma lagi. Karena saya sepertinya mulai menyukai dia, dan tidak mau melepaskan dia. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya. Silakan Anda (—-KHUSUS WANITA—-) kontak saya. Terima kasih.

TAMAT