Cerita BersambungSeptember 27, 2006 3:29 pm

Sampai saat-saat terakhir menjelang kepindahan pekerjaan Eksanti, sejak ia mengajukan surat pengunduran dirinya dari kantorku (baca: Eksanti, Hadirnya Orang Ketiga 1,2), aku sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Yoga, pacar Eksanti. Hingga disuatu sore, dari kaca jendela ruang kerjaku di lantai 3, aku memergoki seseorang yang menjemput Eksanti selepas jam kantor. Semula aku tidak pernah berfikir bahwa laki-laki itu adalah pacar Eksanti, namun karena dalam seminggu ini Eksanti dijemput oleh laki-laki yang sama, barulah aku sadar bahwa laki-laki itulah yang bernama Yoga. Aku mendengar dari teman-teman sekantorku yang lain, bahwa Yoga sedang mendapat training di Jakarta, sehingga ia bisa menjemput Eksanti setiap saat.

Memang sejak kedatangan Yoga di Jakarta, hari-hari terakhir itu Eksanti terlihat semakin cantik karena dandanannya yang semakin modis. Yang selalu tampak menarik bagiku adalah kulit mukanya yang semakin putih bersih, sehingga sangat kontras dengan warna bibirnya yang tipis dan selalu terlihat basah. Model rambutnya yang hitam sebahu, sedikit terurai di dekat telinga, dan diberi sedikit olesan jelly, sehingga senantiasa kelihatan basah. Juga yang kelihatan sensual adalah cara berpakaiannya. Eksanti selalu memakai blouse atau kaos yang agak ketat, sehingga perutnya kelihatan ramping dan payudaranya terlihat agak menonjol. Memang payudaranya sendiri tidak terlalu besar, tetapi terlihat sangat seksi bila ia memakai baju kaos yang ketat, walaupun sudah tertutup dengan stelan blazernya. Satu lagi, yaa… satu lagi yang sangat menarik, bentuk kakinya yang kecil memanjang seperti kaki belalang. Kulitnya putih mulus, tanpa cela ditumbuhi bulu-bulu halus di sepanjang betis dan pahanya. Ia sangat sadar dengan potensi yang dimilikinya itu, sehingga ia sangat senang mengenakan rok span setinggi kira-kira 5 cm di atas lututnya.

******

Sudah lebih dari dua minggu ini Eksanti selalu pulang tepat pukul 17.00, karena Yoga selalu menjemputnya tepat waktu. Namun dalam dua hari terakhir aku perhatikan sudah lebih dari pukul 17.30, Eksanti masih belum beranjak untuk pulang. Karena penasaran aku menanyakan kepadanya, “Santi, kenapa sih aku perhatiin sekarang kamu pulang lebih malam, emang nggak dijemput lagi?”
“Yaachh…, abis yang njemput sudah nggak ada sih Mas…”, sahutnya.
“Masak iya, kemana Mas Yogamu itu?” tanyaku.
“Aaach…, Mas jangan nanya-nanyain dia deh. Janjinya Mas Yoga mau ditraining 2 bulan, lalu langsung ditempatkan di Jakarta. Tapi nyatanya baru sebulan ditraining udah disuruh balik lagi ke Malang, karena di sana ternyata kekurangan orang.” jawabnya dengan nada kesal.
“Sebenarnya sih Mas Yoga berhak untuk menolak permintaan bosnya yang genit itu, tapi katanya ia cinta banget sama pekerjaannya…, jadi yaa… diikutin aja perintah bosnya itu”, ujar Eksanti melanjutkan.
“Wah… hebat dong, orang kayak Yoga. Ia pasti loyal banget sama kantornya dan itu mencerminkan tipe orang yang setia”, jawabku sekenanya.
“Loyal apaan…, Santi nggak ngerti ama dia. Sebenarnya dia lebih cinta sama Santi apa sama pekerjaannya sich…?”, Santi berujar sedikit ketus mendengar komentarku.
Aku tahu dari jawabannya, hubungan mereka pasti sedang bermasalah lagi gara-gara persoalan ini. Sebuah hal yang wajar untuk dua orang yang baru mulai berpacaran, hingga akupun enggan untuk menanggapinya lebih lanjut. Aku tidak mau mencampuri privacy mereka berdua.

******

Beberapa hari kemudian, saat makan siang, aku baru saja datang setelah selesai melakukan meeting di luar kantor. Kantorku sepi sekali, hanya seorang office boy yang sedang duduk di area receptionist di lantai bawah. Ketika aku naik ke ruanganku di lantai tiga, aku melewati area ruang makan kantorku, yang biasanya ramai pada saat jam makan siang seperti ini. Secara kebetulan aku melihat di ruang itu cuma Eksanti yang sedang makan seorang diri. Rupanya teman-temannya yang lain sedang makan diluar kantor. Segera aku menemaninya duduk di depan meja makan itu.
“Makan sendirian saja, San ?”, sapaku kepadanya.
“Iyaa.. Mas. Mas sudah makan?”, sahutnya.
“Sudah. Tadi sekalian meeting sama klien”, jawabku singkat, sambil menarik kursi untuk duduk di depan kursinya.
Sambil makan, Eksanti melihat-lihat iklan bioskop di koran. Tiba-tiba Eksanti berkata, “Waah… film ini bagus, Mas. Santi kepingin nonton, tapi sayang nggak ada yang nemenin”.
“Kalau memang nggak ada teman, emangnya Santi masih mau Mas temenin ?”, tanyaku menyelidik.
“Kalau Mas emang bersungguh-sungguh mau nemenin, kapan Mas bisanya ?, Asal jangan yang malam-malam. Paling lambat yang mulainya jam 8, jadi sekitar jam 10-an kita sudah bisa pulang. Soalnya, ntar nggak enak kalau ada yang ngelihat kita jalan sampai malam, apalagi kalau ketemu temannya Mas Yoga…”, jelas Eksanti panjang lebar. Aku tahu, ia sebenarnya masih dalam posisi yang bimbang antara menjaga kesetiaannya dengan Yoga, atau tetap bersamaku.
“Besok malam…?. Kayaknya jadwal Mas besok nggak begitu padet, jadi bisa ninggalin kantor cepet. Kalau hari-hari berikutnya jadwal Mas sudah sangat padat dengan janji sama klien, jadi nggak akan bisa pulang cepet.” kataku.
“Kalau gitu besok malam yaa.. Mas?”, ia memohon sambil matanya menatapku penuh harap.
“Boleh, Mas jemput jam berapa?”, aku menyetujui permintaannya.
“Santi besok mau pulang cepet aja deh, jadi kira-kira bisa sampai di kost jam 6-an. Lalu mandi dulu. Jadi kira-kira pukul 7 sore kita berangkat yaa…”, kata Eksanti menjelaskan rencananya dengan rinci,
“Oke”, sahutku.

******

Besok sorenya setelah acara di kantor selesai, sengaja aku mandi di kantor lalu siap berangkat ke rumah kost Eksanti di daerah Selatan Jakarta. Untung jalanan belum terlalu macet, sehingga pukul 7 kurang 5 menit, aku sudah sampai di depan pintu kamar kostnya. Sampai di sana ternyata Eksanti belum selesai berdandan, sehingga aku harus menunggu selama beberapa menit. Kemudian ketika ia selesai, kami langsung berangkat karena takut terlambat. Jakarta memang sedang macet-macetnya pada jam-jam itu. Akhirnya setelah dengan sedikit ngebut, kami sampai juga di Grand Wijaya Theater jam 8 malam tepat. Untung ticket box-nya masih buka, dan setelah membeli tiket, kami langsung masuk tanpa sempat lagi membeli snack dan minuman. Aku memang sengaja meminta tempat duduk yang di pinggir. Entah kenapa, sampai saat film dimulai penontonnya hanya sedikit sekali, sehingga ruangan teater tersebut menjadi bertambah dingin.

Artis-artis pemain film-nya memang sexy-sexy, apalagi film yang kami tonton ini terhitung banyak juga adegan panasnya yang sangat berani. Ketika adegan yang panas muncul di layar, Eksanti tiba-tiba memegang tanganku. Suatu saat, ketika adegan filmnya mulai memanas lagi, sebelum tangan Eksanti beraksi meremas tanganku, aku mendahuluinya dengan memegang telapak tangannya erat-erat. Sejenak kemudian, walaupun adegan panas sudah berlalu dari layar film itu, jemari tangannya yang lentik masih tetap berada erat dalam genggamanku. Perlahan-lahan dengan sangat berhati-hati, bersamaan dengan gerakan tanganku, tangan Eksanti aku tumpangkan di atas pahanya. Saat itu Eksanti masih diam saja atas aksi yang aku lakukan ini. Aku menahan nafas menunggu reaksinya. Lalu dengan sedikit perasaan was-was, ujung-ujung jemariku mulai mengelus lembut pahanya yang sedikit terbuka, karena bagian bawah roknya yang pendek itu agak tersingkap pada saat ia duduk tadi.

Beberapa menit hal itu aku lakukan dan Eksanti pun masih tetap diam tanpa melakukan reaksi. Kenekatanku semakin bertambah, dengan menarik tangan Eksanti lebih arah ke atas, sekaligus untuk menyingkap ujung bawah roknya supaya semakin naik ke pangkal paha. Aku melirik ke arah roknya yang kini telah tersingkap sampai hampir ke pangkal pahanya, sehingga pahanya yang putih mulus itu terlihat remang-remang dengan penerangan cahaya dari pantulan layar film saja. Aku pura-pura diam sebentar. Kebetulan muncul adegan panas lagi di layar film dan seluruh telapak tanganku segera meraba lembut pahanya. Eksanti mulai bereaksi dengan memegang bagian atas tanganku. Aku mengira, Eksanti akan melarang kegiatan tanganku ini, tetapi ternyata perkiraanku salah. Tangannya hanya ditumpangkan saja di atas tanganku.

Melihat reaksinya yang seolah memberikan sinyal positif, aku memberanikan lagi operasi ini. Tanganku aku mulai mengusap-usapkan lembut ke kulit pahanya dari atas lutut sampai ke bagian atas dekat pangkal pahanya. Sudah lebih dari 5 menit aku melakukan belaian ini, bergantian paha kanan dan kirinya, tapi Eksanti tetap diam, hingga nafasku sendiri yang mulai memburu. Akhirnya aku memberanikan telapak tanganku untuk mengusap pahanya sampai ke arah selangkangannya, sehingga ujung jariku berhasil menyentuh pinggir renda celana dalamnya. Bibir kewanitaannya mulai aku gelitik dengan 2 jemariku. Saat itu Eksanti kelihatan mendesah sambil membetulkan posisi duduknya. Aku menggelitik terus celah lembut kewanitaannya dengan jari dan kadang-kadang jemariku aku lesakkan ke dalam lubang kewanitaannya yang ternyata sudah basah juga. Belum beberapa lama, Eksanti menggeliat di atas tempat duduknya dan berbisik seolah merintih, “…Mas, jangan digitukan nanti basah semua celana dalam Santi”.

Mendengar desahannya itu, tanganku aku tarik dan aku pindahkan ke pahanya saja. Aku berbisik di telinganya,”Aku suka melakukan yang tadi. Kalau Santi juga suka, nanti lain kali Mas terusin lagi yaa… ?”.
Eksanti mengangguk dan berkata pelan, “Minggu depan saja kita jalan lagi, soalnya kalau keseringan pergi malam-malam, ntar nggak enak sama teman-teman di kost. Apalagi yang kenal dengan Mas Yoga”. Ia terlihat masih saja dalam posisi kebimbangannya, antara harus bersikap setia dengan Yoga, atau menikmati kebersamaan percumbuannya denganku.

Setelah film selesai diputar, sambil berjalan keluar gedung teater, aku merangkul pundaknya dan Eksantipun memegang pinggangku sambil kepalanya disandarkan ke bahuku. Aku mengajak Eksanti makan malam, sekalian sambil mengobrol macam-macam. Sudah cukup lama kami tidak pernah melakukan hal itu. Selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku harus segera mengantarkan Eksanti pulang. Sebelum turun dari mobil, di depan pagar rumah kostnya, aku memeluknya dan diapun membalasnya dengan merangkul leherku kuat-kuat untuk menerima ciuman dan kecupan-kecupan pada bibirnya. Selesai melakukan kecupan mesra itu, dengan sedikit teknik yang sangat halus, tanganku menyambar dan memijit lembut payudaranya.
“Acch.. Mas nakal!!, katanya manja.
“Abis Mas kangen sama yang itu… Bye… bye…“, ujarku dengan senyum simpul

Keesokan harinya, aku bertemu Eksanti lagi di kantor dan kami bersikap biasa-biasa saja sehingga tidak ada teman yang curiga kalau kami telah melakukan sedikit kemesraan semalam.

******

Suatu siang di hari Rabu, kira-kira seminggu setelah acara kami menonton bersama, Eksanti datang ke kamarku dengan membawa laporan-laporan yang harus aku tanda tangani.
“Mas, nanti malam Mas ada acara?”, Eksanti bertanya.
“Kenapa?”, aku bertanya dengan sikap yang berpura-pura acuh. Sejujurnya, dalam hati aku berkata, saat-saat seperti inilah yang paling aku nantikan.
“Kalau Mas ada waktu, Eksanti kepingin makan di luar, tapi sayangnya lagi nggak ada teman,” sahutnya bersungguh-sungguh. Aku memang tidak salah sangka, pucuk di cinta ulam tiba.
“Oke. kalau Santi mau, Mas bersedia nemenin Santi jalan. Jam 5 sore Mas mau meeting dulu dengan klien di Shangrila, jadi kira-kira jam 7 seperti minggu lalu, Mas jemput di tempat kost kamu yaa.. ?”, kataku memberikan tawaran .
“Terima kasih yaa.. Mas”, ia langsung menyetujui tawaranku, matanya nampak berbinar-binar senang.

Sore itu aku sungguh tidak sabar untuk segera menyelesaikan acara meeting dengan klienku. Jam 18.15 sore aku sudah siap berangkat dari Hotel Shangrila, langsung menuju ke rumah kost Eksanti. Eksanti memang sengaja pulang dari kantor lebih awal dari biasanya, sehingga ia telah sampai di rumah kostnya lebih dulu dari kedatanganku. Sesampainya di sana aku menunggu di ruang tamu, dan baru kira-kira 10 menit kemudian Eksanti keluar dari kamarnya.

Aku sempat terpesona beberapa saat. Penampilan Eksanti sore ini benar-benar lain dari kesehariannya. Biasanya ia memakai rok mini, yang dipadukan dengan blouse atau kaos pendek terbuat dari bahan yang agak ketat, dan tertutup rapi dengan setelan blazernya. Kali ini ia tampil dengan memakai gaun panjang warna ungu dengan belahan yang agak tinggi di bagian paha sebelah kirinya. Saat ia berjalan, pahanya kirinya nan putih bersih itu kelihatan dengan jelas. Bahkan dalam posisi tertentu, bagian dalam paha kanannya juga nampak samar-samar mengintip dari belahan gaunnya. Sungguh, makhluk cantik ini kelihatan sexy sekali sore itu.

“Ckkk… ckkk… ckkk…,” komentarku.
Eksanti tersenyum mendengar pujianku, sambil memutarkan tubuhnya. Sungguh lebih mempesona lagi pemandangan yang aku saksikan, karena ternyata punggungnya terbuka lebar sampai ke bawah dengan model huruf V sampai ke atas pinggulnya. Aku yakin sekali kalau Eksanti pasti tidak mengenakan bra saat itu.

Tanpa sempat duduk lagi, Eksanti langsung mengajak aku berangkat. Aku merangkul pinggangnya, Eksanti menjadi agak kikuk. Ia takut kalau teman-teman kostnya menyaksikan kemesraanku kepadanya. Begitu masuk ke dalam mobil, karena sudah tidak tertahankan lagi, aku memohon agar diijinkan untuk mengecup bibirnya yang merah merekah dan selalu tampak basah itu. Kulit mulus punggungnya yang terbuka itu aku belai lembut dengan jemari tanganku, dan aku memeluknya erat. Ternyata dugaanku benar, saat dadanya aku tekan erat-erat ke arah dadaku, terasa gumpalan daging yang kenyal tanpa terlindungi bra menempel erat di dadaku. Denyut jantungku langsung berdetak cepat.

Kemudian mobil mulai aku jalankan dan tangan Eksanti diletakkannya di atas paha kiriku sambil kadang-kadang memijit pahaku.
“Mau makan di mana, Santi ?”, aku bertanya untuk meminta usulannya.
“Terserah Mas, deh” jawabnya pendek.
“Kalau makan steak, Santi suka nggak?” tanyaku lagi.
“Mau Mas, malah sebenarnya Santi sudah agak lama nggak pernah makan steak “, katanya.
“Ke Tonny Roma’s, setuju…?”, aku bertanya lagi untuk menegaskan keinginannya.
“Okay, Mas..”,Ia mengangguk, sambil tersenyum

Akhirnya kami menuju ke sebuah restoran di sekitar bundaran Ratu Plaza. Saat turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran itu, entah mengapa, kali ini malah Eksanti yang tanpa canggung selalu merangkul pinggangku. Eksanti duduk di sebelah kananku. Memang aku sudah mengatur posisi duduk kami sedemikan rupa, supaya tangan kananku bisa selalu berdekatan dengan paha kirinya yang terbuka sampai ke atas. Aku berencana untuk memulai ‘kenakalanku’, dari sejak saat makan malam ini.

Malam itu sikap Eksanti sungguh sangat berbeda dengan sikapnya sewaktu kami menonton film beberapa hari yang lalu. Kali ini Eksanti tampak begitu ceria dan manja. Saat makan, sengaja dalam posisi duduknya Eksanti merapatkan tubuhnya ke tubuhku serta tangannya selalu memegang pahaku. Sebelum memulai aksiku di atas kulit mulus pahanya, tanganku aku pergunakan untuk mengusap-usap kulit lembut punggungnya yang terbuka. Untung saat itu rumah makan masih sepi pengunjung, sehingga tanganku agak bebas ‘berkarya’.

Setelah puas meraba-raba punggungnya, sambil seolah-olah merangkul pinggangnya, dengan lincah aku susupkan tanganku ke dalam roknya. Tanganku merayap ke daerah pinggang, meremas-remas lembut di sana sebentar. Kemudian sedikit turun merayap ke depan, kini tanganku bisa merasakan karet atas celana dalam yang menjepit di atas perutnya. Kemudian tanganku aku tarik untuk bergerak ke atas, menyusup ke bawah ketiaknya dan akhirnya menuju ke samping depan. Aku rasakan ujung jari-jemariku dapat menyentuh bagian samping payudaranya yang benar-benar masih kenyal. Pekerjaaan tanganku berhenti saat waitress membawa makanan ke arah meja kami.

Pada saat makan, tanganku mulai lagi meraba pahanya kiri yang terbuka itu. Eksanti betul-betul penuh pengertian. Saat-saat tangan kananku sibuk meremas gemas pahanya, ia membantuku memotong-motong kecil daging di atas piringku dan menyuapkannya ke dalam mulutku. Tanganku benar-benar ia beri keleluasaan untuk bermain di sepanjang paha mulusnya, bahkan sampai ke bibir kewanitaannya pun sempat aku remas gemas dengan penuh kemesraan. Supaya tidak tampak terlalu mencurigakan, kadang-kadang tangan kananku aku pakai pula untuk menyendok makananku lagi, tetapi memang lebih sering aku gunakan untuk berkarya di sekujur paha dan pangkal kewanitaannya.

Eksanti masih terus menyuapiku dengan makanan, hingga suatu saat Eksanti mendesah dan tangannya memegang tanganku erat-erat seraya berkata, “Ssshhh… Masss.., jari tangan Mas benar-benar hebat, bisa membuat Eksanti basah”.
Aku tidak percaya, maka aku meraba kembali kewanitaannya. Ternyata benar, celana dalam Eksanti terasa sangat lembab, apalagi di sekitar lubang kewanitaannya. Tiba-tiba aku mendapat ide gila yang mungkin agak jorok. Ujung jari telunjukku aku masukkan ke lubang surgawinya agar bisa mengait lendir yang menempel di bibir kewanitaannya. Ternyata usahaku berhasil. Aku melihat ada lendir kental mirip santan menempel di ujung telunjukku. Aku segara menjilat lendir itu dan aku telan bersama makanan yang disuapkan oleh Eksanti. Aku betul-betul merasa “hot” makan daging steak dicampur lendir kenikmatan Eksanti. Aku mendekatkan mulutku ke telinga Eksanti sambil berbisik, “Santi, Mas sayang kamu…”.
Eksanti tampak tertegun sejenak melihat ulah nekatku. Namun ia tersenyum manis dan menjawab lembut sambil mencium pipiku, “Mas, sabar yaa… Sebentar lagi, malam ini Santi akan menjadi milik Mas sepenuhnya. Santi akan memberikan segalanya yang terbaik untuk Mas nanti. Percayalah”.

********

Selesai acara makan malam, karena aku merasa sudah mendapat lampu hijau dari Eksanti, maka tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, aku langsung mengarahkan stir mobilku menuju motel favorit kami di daerah Selatan Jakarta. Motel itu berjarak tidak terlampau jauh dari tempat kami makan sebelumnya. Begitu sampai di gerbang kompleks motel itu, aku segera membelokkan mobilku dan langsung memasuki sebuah garasi yang memang sudah disiapkan oleh petugas di sana untuk mobilku. Sepertinya mereka sudah cukup hapal dengan plat mobilku, sehingga merekapun tahu letak kamar favorit kami berdua. Begitu pintu garasi tertutup, aku melirik Eksanti untuk melihat ekspresi wajahnya, ia sedikit tersenyum. Dengan tidak sabar, kami langsung keluar dari mobil menuju kamar. Eksanti dengan manjanya berjalan merangkul pinggangku, badannya digayutkan ke tubuhku sepenuhnya. Aku segera membereskan administrasi motel, memberi sedikit tips kepada petugas yang telah selesai menyiapkan air minum, sabun dan handuk untuk kami dan langsung mengunci pintu.

Ketika kami tinggal berdua di dalam kamar motel, Eksanti tiba-tiba bertanya, “Mas, ‘pengin banget’ ya..?”
“Kepingin apa..?”, aku balik bertanya dengan nada bercanda.
“Nggak tahu ach..!”, Eksanti tersipu malu.
Aku mencubit hidungnya, kami bercanda dengan penuh kemesraan. Walaupun gelora birahiku sebenarnya sudah sangat ingin aku ledakkan, tetapi aku masih bertahan untuk tidak segera mengumbar nafsuku. Kali ini aku ingin lebih berlama-lama bercanda, bercerita, bermesraan, menikmati saat-saat terakhirku dengan Eksanti. Aku benar-benar tidak ingin terlalu terburu-buru.

Tidak terasa 1 jam sudah kami berada di kamar motel hanya mengobrol, benar-benar hanya mengobrol, tanpa melakukan aktifitas fisik apa-apa. Entah mengapa, dari obrolan-obrolan yang kami lakukan, aku merasakan bahwa Eksanti yang saat ini berada di depan mataku adalah milik Yoga, milik orang lain. Aku ingin, kalaupun malam ini akan terjadi percintaan di antara kami berdua, aku ingin penegasan itu muncul dari mulut Eksanti, bahwa iapun sungguh-sungguh menginginkannya. Aku tidak mau dikasihani. Dan aku juga tidak mau memaksa, walaupun sebenarnya aku sangat ingin melakukannya.

Sampai akhirnya.. tiba-tiba, “Mas, tidak ingin bermesraan dengan Santi malam ini..?” katanya sambil memelukku.
Aku melihat, kali ini mimik wajahnya serius.
“Aku ingin sekali, Santi, sungguh aku ingin sekali. Tetapi aku takut, kalai kamu masih bimbang untuk menerima keberadaanku bersamamu malam ini.”
“Lakukanlah Mas, Santi rela, dan benar-benar mengharapkan belaian Mas.”

Aku terharu mendengarnya, dan tanpa membuang waktu lagi, aku memeluk erat tubuhnya. Dua buah gunung kembarnya terasa mengganjal di dadaku, menghantarkan aliran gairah yang bergejolak. Kejantananku langsung mengeras dan membesar. Eksanti merangkul leherku erat-erat hingga permainan ciuman mulut, bibir dan lidah kami berlangsung dengan hangat dan penuh kemesraan. Saat aku menciumnya, aku mengecup dalam-dalam bibirnya dengan penuh perasaan, sehingga Eksanti bukan hanya merasakan kenikmatan saja tetapi juga merasakan kasih sayangku. Dengan penuh perasaan, aku menciumi seluruh wajahnya yang cantik. Eksanti membalasnya dengan penuh gairah. Bibir kami saling melumat dan menghisap. Tanganku mulai beraksi meremas buah dadanya, mengusapnya lembut. Eksanti pun balas meremas batang kejantananku.

Beberapa saat setelah berciuman dengan mesranya, tanganku mulai meraba lembut kulit punggungnya yang terbuka. Aku merasakan tubuh Eksanti yang hangat di belakang sana. Lalu tanganku beralih memegang tali gaun di kedua bagian pundaknya dan aku menariknya ke samping. Eksanti pun membantu dengan meluruskan tangannya ke atas sehingga gaun bagian atasnya langsung terlepas. Payudaranya yang masih kenyal dan hangat terlihat dengan jelas di depan mataku. Putingnya kelihatan mulai membesar dan menegang dengan warna merah padma membuat aku semakin terpesona. Sambil terus berciuman, satu persatu pakaian Eksanti terlepas dan terhempas ke lantai.

Kini Eksanti hanya menyisakan celana dalam yang membalut tubuhnya saja. Tubuh Eksanti aku angkat dan aku baringkan di atas ranjang dengan masih memakai celana dalam saja. Tapi hal itu tak berlangsung lama, aku segera melepaskan penutup terakhir tubuh Santi itu. Tampak kewanitaannya yang seperti bukit kecil itu tertutup oleh rambut yang cukup lebat. Aku kemudian melepas T-shirt dan celana panjangku, sambil memandangi tubuh indah Eksanti yang terbaring di atas ranjang dengan pose yang sangat menggiurkan. Eksanti pun tidak mau kalah melepas penutup terakhir tubuhku.

“Occh.., gemes sekali deh Mas, kalau Santi ngelihat yang ini..!”, matanya berbinar-binar tajam menatap tajam ke arah kejantananku.
“Memangnya punya Mas Yogamu…?”, aku belum sampai pada ujung kalimat pertanyaanku, dan langsung dipotong oleh Eksanti, “…paling separohnya..!, Achh, Mas jangan ngomongin dia lagi sekarang ach..!!”
Meskipun kekesalan Eksanti itu diucapkannya dengan nafas yang memburu dan wajah yang sedikit memerah menahan gairah, namun aku bisa merasakan bahwa kejantanan Yoga mungkin relatif lebih kecil dibandingkan milikku. Tetapi dalam kondisi seperti saat ini, untuk apa aku harus membanding-bandingkannya, masa bodoh saja.

Dalam keadaan tanpa sehelai benangpun, kami terus saling memberikan rangsangan ke titik-titik gairah yang semakin membakar birahi kami. Aku merebahkan tubuh ramping Eksanti ke atas ranjang, aku memandangi tubuhnya yang indah. Payudaranya yang mencuat menantang, kulit putih mulusnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, rambut kewanitaannya nampak hitam berjejer rapi layaknya barisan semut sampai ke pusarnya, membuat nafsuku semakin memuncak.

Aku mendekati kepala Eksanti, kemudian mulai mencium wajah cantiknya. Sementara tanganku menjelajahi seluruh lembah dan bukit puncak payudaranya. Jari-jemariku merayap ke bawah membelai lembut sampai ke pusar dan perut rampingnya. Ciumanku beranjak turun, segera lidahku mulai menelusuri lehernya yang jenjangnya. Terus turun.. menuju ke bukit-bukit payudaranya yang sangat menantang, aku mencium dengan lembut bergantian yang kiri lalu yang kanan. Putingnya yang tampak telah menegang dan memerah warnanya itu, aku hisap, aku jilat, dan kadang aku gigit-gigit pelan dengan jepitan bibirku. Sementara tanganku semakin liar beraksi di sekitar celah kewanitaan dan pahanya. Sekali-kali rambut kewanitaannya aku usap-usap lembut perlahan, sambil jari tengahku menggelitik daging kecil di antara celahnya. Kacang kecil itu mulai nampak memerah, berdenyut cepat, mengembang mengempis seperti jantung manusia. Eksanti makin mendesah hebat, “Aaach…!!”.

Kepalaku semakin turun ke arah bawah tubuh indah Eksanti. Lidahku mulai menyapu-nyapu perutnya, pelan… makin ke bawah sampai pubis di daerah sekitar kewanitaannya. Kepalaku bergoyang ke kanan dan kiri, hingga bibirku ikut membasahi kulit mulus kedua pahanya. Tanganku terus mengusap-usap dan memijit betis serta telapak kakinya. Ciuman dan jilatan lidahku semakin beranjak turun menuju ke lututnya, kemudian turun lagi ke betis, tumit kaki, lalu berakhir di telapak kakinya. Jari-jemari kakinya pun aku hisap satu persatu, hingga semuanya basah oleh air liurku. Eksanti kegelian. Kepalaku beranjak naik. Bibirku mulai menghisap daerah selangkangan Eksanti dengan membuka lebar-lebar kedua pahanya. Lalu dengan sedikit kasar, daerah di antara anus dan kewanitaan itu, aku cium.., aku kecup.., aku jilat.. aku gigit.. semuanya. Eksanti mendesah-desah nikmat dan terasa mulai ada cairan lendir bening yang menetes keluar dari celah surgawinya.
“Masss..! Terus… mass..!”, Eksanti mulai meracau, pertanda bahwa birahinya sudah makin memuncak.
Aku semakin bersemangat, seluruh lekuk tubuh Eksanti tidak ada yang lolos dari jilatan lidahku.

Kepalaku masih berada di bagian bawah, terjepit diantara kedua paha mulusnya. Jemari tanganku menyibakkan bulu kewanitaannya yang hitam. Lidahku mulai asyik menjilati kacang kecilnya dan kadang menerobos, mengoyak, mencabik celah kewanitaannya. Eksanti semakin mengerang nikmat, rambutku diremas-remas kuat saat klitorisnya aku hisap-hisap lembut dengan jepitan bibirku.
“Sudah Mass.., Santi nggak tahan..!”
Tetapi aku masih belum merasa puas menikmati keindahan gelinjang tubuh dan ekspresi nikmat di wajah Eksanti. Lidahku semakin asyik bermain di liang senggamanya, dan aku ingin lebih dari itu . Aku mulai memasukkan satu jariku ke dalam rongga kewanitaannya, sementara lidahku terus menjilati klitorisnya. Jari-jemariku berputar mencari titik g-spotnya. Tanganku yang lain asyik meremas payudaranya dan memilin-milin putingnya sampai mencuat mengeras. Seluruh tubuh Santi meliuk-liuk menahan kenikmatan yang aku berikan.

Hampir setengah jam aku tiada henti memainkan emosi jiwa dan birahi Eksanti. Hingga akhirnya tubuh Eksanti mengejang kaku dan berteriak panjang melepas orgasmenya yang pertama. Terlihat dari lubang kewanitaannya mengalir deras cairan cintanya. Mulutku langsung mencucup ke arah lubang itu dan aku sedot kuat-kuat…, hingga sruuuttt… lendir birahinya masuk ke dalam mulutku. Aku menggelitik terus selangkangannya supaya cairan cintanya keluar lebih banyak lagi. Ternyata benar, Eksanti masih mengeluarkan lebih banyak lagi cairan cintanya yang langsung masuk semuanya ke dalam mulutku. Rasanya asin-asin, asam dengan bau yang sangat khas. Birahiku menjadi lebih panas, berkobar-kobar lebih hebat setelah meminum lendir cintanya.

Eksanti diam sejenak, mungkin menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dialaminya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Eksanti tiba-tiba berdiri dan mendorong tubuhku hingga terlentang di atas kasur. Langsung saja Eksanti aku ajak bermain dengan pose 69. Aku segera naik ke atas tubuhnya dan kejantananku aku posisikan di persis hadapan mulut Eksanti. Ia dengan sigap mulai mempermainkan batang keperkasaanku dengan lidah dan mulutnya. Aku sendiri kembali menyingkap bulu-bulu pubisnya yang rimbun itu. Aku menjilat-jilat liar klitorisnya, menggigit-gigit lembut dan kadang-kadang aku kembali menarik-nariknya dengan jepitan bibirku. Eksanti tampak terangsang sekali dengan permainan mulutku di daerah kewanitaannya itu. Apalagi pahanya sekarang aku buka lebar-lebar dan daerah selangkangan antara anus dan kewanitaannya aku gosok terus dengan jari-jemariku, kadang-kadang aku jilati lagi.

Begitu klitorisnya aku getar-getarkan dengan ujung lidahku yang bergerak begitu cepat, hanya semenit saja Eksanti sudah berontak dengan kaki dan pantatnya digerakkan kesana kemari.
Ia kemudian mengaduh keras, “Occhhh mass…, Santi nggak tahan… Santi keluarrr…, lemas masss… ouchhh…”.
Saat itu terasa lendirnya meleleh deras dan kembali membasahi ujung hidungku. Segera mulutku kembali mencucup lubang kewanitaannya, aku menyedot semua lendir cinta yang keluar dari lubang surgawinya. Sungguh, akupun juga merasakan nikmat dari lelehan lendirnya itu. Kewanitaan Eksanti menjadi basah semua, campuran antara air liurku dengan lendir cintanya.

Setelah gelombang birahinya mereda, aku sekarang membelai rambutnya dan mengusap keringat yang banyak muncul membasahi keningnya seraya bertanya, “Eksanti, kamu sudah capai?”.
“Belum Mas, Eksanti cuma lemas saja karena nggak kuat menahan kenikmatan yang luar biasa dari permainan lidah Mas tadi. Rasanya sampai ujung rambut dan ujung kaki Mas,” sahutnya.
“Kalau begitu kita bercinta lagi yaa…?” pintaku.
Eksanti mengganggukan kepala sambil tersenyum, “..mas tadi curang, ntar Santi mau balas..!”, ia menambahkan.

Lalu dengan lincahnya lidah Eksanti yang hangat mulai menelusuri tubuhku. Sekarang aku yang mendesah tak karuan, apalagi dengan ganasnya Eksanti menjilat-jilat puting dadaku. Dihisapnya pelan dan kadang digigit, sementara tangannya dengan lembut mengocok kejantananku yang kian membengkak dan mengeras.
“Santiii.., Mas sudah nggak tahan..!”
Tetapi sepertinya Eksanti tidak peduli, kini kejantananku sudah berada di dalam mulutnya yang mungil, sementara jari-jarinya tetap mengelus-ngelus dadaku dan menjentik-jentik puting dadaku, membuat seluruh aliran darahku bergejolak menahan kenikmatan yang luar biasa. Tanganku dengan gemas meremas pinggul dan buah pantat Santi yang kenyal. Payudaranya juga terus aku elus dan putingnya aku pilin lembut.

Nafsu Eksanti kembali bangkit dan ia langsung menduduki kejantananku yang sudah basah oleh lumasan air liurnya. Jari-jemarinya membimbing kejantananku memasuki celah kewanitaannya. Berapa kali sudah kepala kejantananku meleset dan mengenai buah pantat Eksanti. Dalam posisi seperti ini memang agak sulit, karena bibir kewanitaan Eksanti agak mengering. Cairan cintanya telah habis terkuras tadi, apalagi lobang kewanitaan Eksanti memang masih tampak sangat rapat. Jari-jemariku saja tadi masih terasa terjepit keras oleh denyutan dinding-dinding kewanitaannya, apalagi kejantananku nanti…

“Mas di atas deh..!” akhirnya Eksanti menyerah.
Aku membuka paha Eksanti lebar-lebar, bulu kewanitaannya yang hitam aku sibakkan ke samping. Dengan perlahan-lahan kejantananku aku gosok-gosokkan di sekitar daging kecil merahnya. Eksanti dengan rasa tidak sabar langsung saja memegang batang kejantananku dan mengarahkan ujung kepalanya ke sasaran.
“Tekan Masss..!, yang kerass…”
Aku segera memajukan pinggulku sedikit, “Blessshh..!”
“Achhh..”, Eksanti menjerit saat kepala kejantananku terbenam.
“Kenapa Santiii..? Sakit..?” aku kuatir Eksanti merasa kesakitan.
Eksanti hanya menggeleng dan semakin erat memelukku. Jepitan bibir kewanitaan Eksanti di batang kejantananku sungguh luar biasa nikmatnya. Benar-benar sesak, membuat kejantananku semakin membengkak dan mengeras.

Perlahan aku mulai memompa, setengah kejantananku terdorong masuk, lalu aku tarik kembali, masuk lagi, tarik lagi, begitu seterusnya. Sementara erangan dari mulut Eksanti semakin tidak jelas, dengus nafas kami berdua sudah seperti lokomotif tua menahan kenikmatan yang kian menyerang tubuh kami. Gerakanku semakin cepat dan tidak beraturan.
“Oh.., masss… nik… mat..! Santi mau keluar..!”
“Tahan Santii..! Mas juga mau keluar…”
Akhirnya saat kejantananku aku sentakkan kuat, hingga amblas sedalam-dalamnya, sekujur tubuh Eksanti bergetar hebat. Kedua tangannya menahan pantatku agar menusuk semakin dalam, kedua kakinya yang mulus menjepit kuat pundakku.

“Aacchhh… Masss…” Santi sudah orgasme lagi.
Kejantananku terasa hangat akibat semburan air cinta dari dalam kewanitaan Eksanti, sementara aku sendiri mencoba bertahan sekuat mungkin agar spermaku jangan sampai keluar terlebih dahulu. Terjanganku semakin melambat untuk memberikan keleluasaan bagi Eksanti menikmati sisa-sisa orgasmenya. Aku diamkan sejenak kejantananku di dalam kewanitaan Eksanti, menikmati denyutan-denyutan lembut di seluruh batang kejantananku.

“Mas.., Santi puas sekali, multi orgasme Santi datang betubi-tubi,” Santi mengerang lirih.
“Memangnya, sebelumnya Santi nggak pernah ngalamin yang seperti ini..?”, aku sedikit heran mendengar ungkapannya.
“Entahlah.., sepertinya yang ini lain. Mas, belum keluar ya..?”, Eksanti balik bertanya kepadaku.
“He.. eh..,” aku mengangguk.
“Kenapa..? Nggak enak, ya..?”, Eksanti merasa bersalah.
“Enggak, bukan itu. Malam ini aku hanya ingin memberikan kepuasan yang maksimal untuk Santi..!”, aku berkata sambil mengecup lembut keningnya.
“Jangan begitu dong.., Mas kan belum..? Ayo dong..! Keluarin..!” Eksanti merengek manja.
“Kamu masih kuat..?” tanyaku.
“He-em..,” Eksanti mengangguk mantap.

Kejantananku yang masih menegang di dalam kewanitaan Eksanti mulai aku naik-turunkan kembali, Aku mendorong batang kejantananku pelan-pelan ke lubang kewanitaannya. Kemudian aku tarik keluar lagi pelan-pelan. Setelah masuk… keluar… masuk… keluar… dengan lancar berulang-ulang, lalu kejantananku langsung aku benamkan seluruhnya ke dalam kewanitaannya. Eksanti menghela napas panjang menahan sakit dan nikmatnya akibat masuknya terlalu cepat ke dalam. Karena itu aku gerakkan pantatku memutar searah jarum jam. Pelan tapi pasti, Eksanti mulai terbawa nafsu kembali. Luar biasa, padahal Eksanti sudah 3-4 kali menikmati orgasmenya, tapi ternyata dia masih menginginkannya lagi. Aku semakin bersemangat. Eksanti menjerit-jerit nikmat karena klitorisnya tergesek oleh bulu-bulu pubisku dan dinding dalam kewanitaannya tergesek-gesek oleh otot-otot kekar batang kejantananku yang mengeras. Dan akhirnya Eksanti pun kembali mampu dengan lincah menggoyang-goyangkan pinggulnya mengimbangi tusukan-tusukan kejantananku.

Ia berbisik lirih, “Ouucchh… Masss…, nikmattt…, rasanya luar biasa. Aku mau sampaiii… lagi mass…”. Mendengar bisikannya itu, aku langsung mencium payudaranya yang sebelah kiri, karena Eksanti sering mengatakan payudara kirinya lebih sensitive daripada yang kanan. Putingnya langsung aku getarkan lagi dengan ujung lidahku. Tidak beberapa lama kemudian, hanya beberapa detik, terasa kewanitaannya mencengkeram kejantananku dan berdenyut-denyut cepat. Kembali ada lendir hangat yang menyiram kejantananku. Eksanti sudah mencapai klimaksnya yang kesekian kali, ia tampak terkulai lemas.

“Capek, Santi…?” tanyaku.
“Iya.., Mas,” sahutnya lirih manja.
“Tolong Mas, please…, Eksanti mau merasakan air maninya Mas di kewanitaanku,” pintanya.
“Sekarang ?” tanyaku.
“Iya.., mas”, ia menjawab mantap.
“Tahan sebentar lagi yaa.., nanti aku semprotkan”, aku semakin bersemangat

Lima belas menit kembali berlalu, peluh sudah membasahi seluruh tubuh kami, berbagai gaya sudah aku jalani, dan Eksanti sungguh pandai mengimbanginya. Apa lagi waktu doggy style, goyangan pantatnya sungguh nikmat sekali. Aku hampir tidak tahan. Aku segera membalikkan Eksanti ke posisi konvensional, saling berhadapan, sambil terus menusuk. Aku menghisap ganas kedua bukit payudara Eksanti yang sexy. Putingnya yang tegang mencuat, aku hisap kuat-kuat. Eksanti mengerang hebat, dan dia membalas dengan mengusap-usap pula puting dadaku. Ternyata disinilah kelemahanku. Rasa nikmat yang aku terima dari dua arah, dada dan kejantananku, membuat seluruh sumsumku bergetar hebat.

“Sannti.., Mas mau keluar.. Santiiiii..!”
“Bareng, Mas..! Ayoo lebih cepat..!”
Dengan menguras seluruh kemampuanku, aku terus mempercepat tusukanku. Kapala kejantananku rasanya sudah menggembung menahan sperma yang akan muncrat. Gerakan pantatku sudah tidak beraturan lagi, hingga akhirnya, saat tusukanku semakin keras, dan puting dadaku dipilin keduanya oleh jemari lentik Eksanti, aku merasa akan segera melepaskan puncak ejakulasiku. Aku mengkonsentrasikan segenap pikiranku pada segala keindahan tubuh Eksanti yang ada di depan mataku. Ekspresi wajahnya sangat sensual, bibirnya yang merah basah tampak semakin merangsang. Aku genjot terus menggerakan kejantananku naik turun dan semakin lama semakin cepat. Sampai suatu saat Eksanti menggeliat, menggelinjang tak keruan sambil menarik lepas sprei dan meremas-remasnya. Dan akhirnya… plass… plass… plass.. (8x). Air maniku tumpah ruah, sambil aku tekankan kejantananku dalam-dalam di kewanitaannya. Eksanti merasakan semburan kehangatan yang sangat ia inginkan di dalam rongga rahimnya.
“Achhh..! Aku keluar Santiii..!”
“Ssshhh… aaccchhh, Eksanti merasakan kehangatan yang luar biasa dari air manimu, mas”
Dan Eksanti pun orgasme lagi untuk yang ke sekian kalinya. Kejantananku kembali merasakan bibir kewanitaannya berdenyut-denyut. Kuku-kuku jemari tangannya menancap keras di pundakku dan tubuhnya mengejang kaku.
“Achhh..!” Eksanti menjerit keras seiring dengan gerakan pinggulku yang terakhir.
Yah.., kami orgasme bersamaan.

*********

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Eksanti merebahkan kepalanya di dadaku. Aku hanya mampu membelai-belai lembut rambutnya. Aku mencium mesra keningnya, dan kami berdua tekulai lemas berpelukan. Setelah beberapa saat, tidak terasa kami tertidur lelap bertindihan sambil berpelukan. Tiba-tiba Eksanti terbangun. Jam telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Eksanti cepat-cepat beranjak dari pembaringan, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari segenap cairan cinta kami yang membasahi kewanitaannya. Setelah selesai, ia mengambil handuk yang dibasahi dengan air hangat lalu membersihkan kejantananku. Aku masih tetap terlelap di atas tempat tidurku. Begitu aku merasakan kehangatan di bawah sana, akupun terbangun. Eksanti menatapku dengan tersenyum manis. Setelah kejantananku bersih, sesaat ia mengecup ujung kepalanya lalu Eksanti bergegas memakai gaunnya kembali. Celana dalamnya tidak ia kenakan, hanya dilipat dan dimasukkan ke dalam tas kecilnya. Celana dalam itu masih basah terkena lendir saat aku permainkan kewanitaannya di restoran tadi malam. Demikian pula denganku, aku segera mengenakan pakaian dan bersiap untuk keluar dari motel ini

********

“Santi, kapan kamu benar-benar effektif off dari kantor kita?”, aku bertanya kepada Eksanti dalam perjalanan kami pulang.
“Mungkin minggu depan, saat akhir bulan. Surat persetujuan pengunduran diri dari personalia sudah Santi terima. Perusahaan yang baru juga sudah menyiapkan segala kebutuhanku di tempat baru”, ia menjawab pertanyaanku dengan mata menerawang.
“Terus… Santi, jadi menikah dengan Yoga ?”, aku kembali bertanya mengagetkannya.
Ada sedikit nada cemburu dalam pertanyaanku itu.
“Entahlah, mungkin masih 2-3 bulan baru sempat mikir persiapannya”, tatapan mata Eksanti semakin menerawang.
“Kenapa?” tanyaku dengan berhati-hati.
“Santi menunggu persetujuan penempatan Yoga di Jakarta dulu”, sahutnya tegas.

Tiba-tiba Eksanti merebahkan kepalanya ke bahuku sambil berkata, “Eksanti sengaja nggak akan kimpoi cepat-cepat dulu kok Mas, nunggu kalau mungkin ada suatu mukjizat”.
“Maksud Santi?” tanyaku keheranan .
“Siapa tahu suatu saat aku mendapat kabar gembira dari Mas. Dan akhirnya kita, aku dan Mas malah bisa menikah, bukan aku dengan Yoga… Malam ini aku benar-benar merasakan kenikmatan yang sangat dari Mas. Lebih dari itu, Eksanti merasakan Mas menyayangi Santi dengan penuh kasih… Kemesraan yang Mas ungkapkan kepada Santi, seperti layaknya kemesraan sepasang suami istri yang dipenuhi rasa cinta, Bukan hanya sekedar nafsu semata…”, ia menjelaskan dengan sesekali menghela nafas panjang.
“Benar…?”, aku menukas ucapannya dengan tersenyum.
“Semoga benar begitu, yaa… Mas. Echh.., kapan-kapan kalau Eksanti kepingin, masih boleh ‘kan merasakan kasih sayang Mas lagi…?”, ia memohon sambil mencium mesra pipiku.
“Kapan saja Eksanti merasa kangen, Mas selalu akan bersedia nemenin. Tetapi Eksanti harus benar-benar mengatur waktunya, jangan sampai hubunganmu dengan Yoga terganggu yaa…!” pesanku. Ia mengangguk, sambil sekali lagi menghela nafas panjang. Aku merasakan, ada suatu kebimbangan yang melanda fikirannya dengan hebat.

Saat mobilku sampai d depan pagar rumah kostnya, Eksanti tidak segera turun. Ia malah merangkul leherku dan menarik keras kepalaku. Ia mencium seluruh wajahku dengan penuh perasaan. Terlihat matanya memerah dan berkaca-kaca. Aku menjadi trenyuh dibuatnya. Aku membelai rambutnya dan aku mengusap matanya yang mulai berair, sambil berbisik lirih,”Eksanti jangan sedih. ‘Kan kalau kamu mau, setiap saat kita masih bisa bertemu. Santi malam ini sudah capek ‘kan, nanti langsung istirahat yaa.., jangan melamun macam-macam yaa.. sayang?”, aku berpesan sambil membelai lembut rambutnya. Eksanti pun kemudian turun dari mobilku dengan tersenyum kecil. Rasa gundahnya sedikir mencair, setelah ia mendengarkan kata-kataku yang terakhir.

*****

Seminggu sejak kejadian malam itu, Eksanti akhirnya benar-benar mengundurkan diri dari kantorku. Ia pindah ke perusahaan lain, walaupun masih tetap berada di Jakarta. Ia masih menjadi kekasih Yoga, dan bahkan akan segera merencanakan pernikahannya. Walaupun demikian, aku juga masih menjadi kekasih gelapnya. Ia sering mengaku, tidak pernah mencapai kepuasan dan kebahagiaan dari Yoga seperti yang ia peroleh dariku. Tetapi bagaimanapun, menurutku Eksanti memerlukan status yang jelas dan masa depan yang lebih pasti. Sejujurnya, aku tidak mau mengganggunya lagi. Tetapi, sanggupkah aku menahan rasa itu..?

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 3:24 pm

Surabaya, 1998

Waktu itu aku sedang sendiri. Aku baru saja (sekitar sebulan) berpisah dengan salah seorang gadis yang sangat kusayangi. Ah, aku sendiri heran, mengapa perpisahan yang kali ini membuatku sedikit sakit hati. Hari-hari terasa sangat berat tanpa kehadirannya, bahkan aku pun punya rasa sedih akan kehilangan seseorang (setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu). Aku jadi semakin sering menelepon Enni (kekasih pertamaku) walau hanya sekedar menceritakan betapa aku merasa sangat sendirian. Mungkin kalian pernah merasakan (paling tidak sekali) serius menjalin hubungan dengan seseorang, dan begitu pula aku. Pathetic, untuk cowok sepertiku. Tapi, yah terkadang perasaan tak dapat selalu ditipu, bukan?

Suatu hari aku (karena menganggur sekali) menghabiskan waktu luangku di toko buku Gramedia, di jalan Kertajaya, sekedar membaca-baca buku. Soalnya di sana satu-satunya toko buku bermutu dimana kita bisa membaca gratis. Waktu itu aku sedang menikmati membaca buku komik Jepang Elex Media terjemahan bahasa Indonesia (entah apa judulnya, soalnya aku tak ingin repot mengingatnya). Menyandarkan tubuhku di tembok di sebelah rak buku, dan membiarkan orang-orang memandangku dengan heran saat aku tertawa. Saat itulah tiba-tiba aku melihat sebuah kepala muncul dari balik buku yang kupegang.

“Nia?” seruku tak percaya.
“Ray? Bener kan? Raaayyy!” seru gadis itu tak kalah sengit.
Kami berdua tanpa terasa saling berpelukan, tertawa-tawa, membiarkan adegan tak senonoh itu dilihat orang di sekitar kami.
“Ssshhh… banyak orang,” Nia berkata kepadaku.
“Hahaha… nyari tempat yuk,” kataku.
Kugandeng tangannya keluar dari Gramedia. Kami akhirnya mengambil tempat di salah satu warung di sebelah toko buku itu.

“Ray, gimana aja kabarnya.. umm.. setahun yah?”
Ah ya setahun, lama memang.
“Yah, baik-baik saja. Kamu?”
Lalu Nia bercerita tentang bagaimana ia setelah lulus SMU, berangkat ke Jakarta untuk meneruskan kuliah D1 di sebuah universitas negeri di sana. Setelah tamat, ia kembali ke Surabaya dan bekerja di sebuah bank swasta yang namanya cukup kondang di Indonesia.

Ceritanya sangat panjang (dan siapapun takkan mau mendengarnya, membosankan), namun yang kutahu saat itu aku butuh teman untuk bicara, untuk… “Ray, jadi inget waktu dulu.” Aku pun teringat. Waktu…

Kota Xxxxx, Jawa Timur, 1995

Kami bertengkar hebat hari itu. Enni tidak mau lagi mendengar alasanku. Dia benar-benar marah ketika mengetahui bahwa aku melupakan janjiku untuk mengantarnya les hanya demi bandku. “Pulang, pikir dulu perbuatan kamu, baru temui aku lagi!” Huh, ya sudah, pikirku sambil beranjak keluar mengambil sepeda Federal-ku dan ngeloyor pulang. Di tengah jalan hampir saja aku terjatuh, reaksi Nipam di tubuhku masih belum hilang benar. Aku pulang ke rumah, membanting sepedaku di halaman, dan langsung menuju ke kamar. Kubuka lemariku dan mengambil sebotol Bacardi yang isinya tingal setengah. Kuambil ‘tik’ obat di saku belakangku. Memencet keluar dua butir terakhir, mengunyahnya sambil menenggak seteguk cairan dari botol di hadapanku. Nikmat! Anganku melayang, kujatuhkan tubuhku di tempat tidur, menunggu reaksi obat bekerja. Cih, pikirku, siapa yang butuh wanita. Kubuka retsleting celanaku, mengeluarkan batang kemaluanku, menggoyang-goyangnya sejenak dalam genggamanku sampai menegang. Kusentil ujungnya dengan telunjukku sambil tertawa kecil. Gila, aku tahu kamu protes atas ucapanku, hahahaha. Setan pun tertawa dalam jiwaku.

Kubayangkan tubuh Enni di atasku, tanpa pakaian, tubuhnya bersimbah peluh. “Ahh… uhhh… ahh… Ray… ahhh… ahggh.. agg.. ahhh…” kutariik-tarik kulit kemaluanku, merasakan nikmat pada ujung-ujung sarafnya. Sekarang Enni menciumi dadaku dengan ganas, menggerak-gerakkan pinggulnya, “Ahh.. mmm… mm.. hhh… ahhh.. ngnggnn… hhh…” kuraasakan keringat di permukaan perutku. Nikmat, anganku semakin melayang. Bangsat hina! Kulepaskan genggamanku pada batang kemaluanku, mengeleng-gelengkan kepalaku untuk memperoleh sedikit kesadaran. Monyet!

Kuulurkan tanganku mengangkat gagang telepon yang barusan berbunyi keras sekali di pinggir kepalaku.
“Halo..?” nada suaraku terdengar penuh emosi.
“Ray? Kamu tidur..? Sori deh…” nada suara ketakutan terdengar dari seberang.
“Ah.. nggak apa-apa. It’s okay,” emosiku sedikit mereda.
“Kamu ada masalah apalagi dengan Enni?”
“Biasa, sifat kekanak-kanakannya belum mau hilang.”
“Ya sudahlah, tadi dia nangis telpon aku…”
“Lalu? Kamu mau menyuruhku minta maaf ya?”
“Bukan gitu, Ray…”
“Ya sudah deh, aku ngantuk.”

Kuletakkan gagang telepon tanpa menunggu sahutan suara di seberang. Kembali menelentangkan tubuhku, menggenggam batang kemaluanku. Hup. Ah, ya. Kuangkat lagi gagang telpon, menekan beberapa nomor.
“Nia? sori aku sedikit emosi.”
“Hmmm… iya deh, tapi jangan berantem terus.”
Pikiranku sedikit melayang. Obat sialan.
“Nia, jalan yuk.”
“Ha? Mau kemana?”
“Curhat saja, aku pingin refreshing,” sahutku sok sedih.
“Iya deh, jangan pulang malam-malam okay.”
“Yop.”

Kuletakkan gagang telpon ketempatnya semula, mengambil celanaku dan berpakaian.
“Ma… aku pakai mobil,” teriakku.
“Mau kemana Ray? Nanti Papa pulang loh…” mama berteriak dari dalam kamar.
“Bentar saja..” sahutku, dan langsung mengambil kunci mobil dan tanpa menunggu seruan mamaku, aku membawa mobil papa keluar rumah.

Di jalan kutenggak teh pahit yang selalu kubawa di saku jaketku. Ah, lumayan segar. Kutaruh kembali botol Vicks 44 itu ke dalam saku jaketku, dan memacu gas mobil menuju ke rumah Nia.

—————————————————

Kugerayangi buah dadanya, menciumi puting susu-nya, melumat bibirnya, meraba selangkangannya, “Ahh… uh… oh…. hkkk… jangan gitu dong, Ray. Kamu harus lebih pengertian.” Kubanting stir ke kiri, memasuki jalan menuju ke luar kota yang ditumbuhi pepohonan, jalan itu terlihat sepi dan gelap.
“Bagaimana bisa pengertian kalau sifatnya seperti itu terus?”
“Yaahh… bagaimana yah?” Nia terlihat bingung, matanya menatap jendela, melihat pepohonan yang seakan berlari.
“Memang anaknya seperti itu, Ray?” lanjutnya.
Saatnya, pikirku. Kubanting stir melewati kali kecil di bahu jalan, itu bukan masalah untuk Taft GT milik papaku.

—————————————————

Kurasakan Rena mengelus rambutku. Aku menangis semakin keras, mengerang dan terisak, sesekali menguap dengan gerakan sesamar mungkin, sekedar memastikan air mataku tetap keluar.
“Aku sedih…” isakku.
Yah, sedih sekali, sampai menempelkan kepalaku di pahanya.
“Ya, begitulah namanya orang pacaran, kan nggak harus senang terus…” kudengar bisikannya.

“Kamu baik…” kataku lirih nyaris tak terdengar.
Nia mencondongkan kepalanya.
“Apa..?”
Susu-nya itu loh, menempel di ubun-ubunku, seandainya aku bisa berkata begitu saat itu. Namun, aku lebih memilih untuk memutar tubuhku, mengangkat punggungku sekuat tenaga sehingga dapat menyentuh bibirnya dengan bibirku. “Hhhh… Ray…” Peduli amat, lagi enak, nih.
“Aku butuhhh.. mmm…” kukulum bibirnya.
“Sayanghhh…” Nia membalas ciumanku.
Matanya terpejam. Kuangkat sisi tubuhku, memeluk belakang lehernya dengan telapak tanganku. Plakk! Tamparan itu telak mengenai pipiku, membuat pengaruh obat di kepalaku sejenak berkurang. “Nia… maaf…” Aku beringsut ke bangkuku sendiri, menutup mukaku dan menangis seperti seorang anak kecil. Cukup lama dan melelahkan untuk berpura-pura seperti itu. “Ray… aku juga minta maaf…” Akhirnya siasat ini memang tak pernah gagal.

Nia diam saja saat aku membalikkan tubuhku dan mengecup bibirnya. “Ah.. mmm…” kudengar Nia mengeluh dan kulihat matanya terpejam, meninggalkan garis kepasrahan saat kugenggam susu-nya dengan telapak tanganku. Sip, pikiranku mulai bergerak cepat dalam kondisi setengah sadar. Kutempelkan telapak tangaku ke belakang lehernya, menekan kepalanya supaya aku bisa melumat bibirnya lebih dalam. “Hhhh… Nia…” kuremas dadanya di genggamanku, menikmati kekenyalannya. Nia diam saja saat kumasukkan tangaku ke dalam bajunya. “Ray…” Entah setan mana yang menyetir otakku saat itu, kuremas buah dadanya yang empuk, mengulum bibirnya dengan penuh nafsu, membuatnya terengah-engah menahan tekanan kepalaku.

Nia menurut saat. Kugandeng lengannya menuju jok belakang. Kukulum lagi bibirnya, sekarang tanganku mengangkat bagian bawah bajunya. “Ray.. hh…” Kuangkat bajunya melewati kepalanya, menciumi dadanya, menjilati BH yang menutupi payudaranya, memegang ketiaknya, mendorong punggungnya terangkat, sehingga bisa kutekan kepalaku di dadanya. “Ahh… mmhh… ah… nikmatnya…” Nia mengeluh kecil saat kulepas kaitan BH-nya. Kulihat payudaranya yang membusung dan putingnya yang terlihat menggoda. Kuhisap putingnya, menyaksikan pori-porinya yang membuka saat kujilati kulit dadanya. “Ray.. hhh…” kubekap mulutnya dengan bibirku, nafasku mulai terengah-engah oleh nafsuku sendiri. Kubuka baju atasku, menempelkan dadaku ke payudaranya, menekan dan menggesek, menikmati semua keluhan dan rintihannya yang tertahan ketika bibirku mengulum bibirnya.

Ah… kenikmatan ini, kenikmatan yang selalu kuinginkan saat hatiku gundah. Kepalaku terasa sangat ringan. Kubaringkan dia di jok belakang, sambil terus menekan dadaku, memastikan dia tidak banyak bergerak. “Ray… jangan, Ray…” Ahh, betapa aku merindukan setiap gadis yang merintih seperti itu di dekapanku. Kuteruskan membuka celana pendeknya, membiarkan pahanya terlihat jelas. Ahhh, kuelus dan kuraba pahanya tanpa memperdulikan tatapan matanya yang setengah terbuka, menatap protes atas perlakuanku kepadanya. Jadi, sebelum tangannya menyingkirkan tubuhku, kuciumi lagi wajahnya, meremas payudaranya, membuatnya mengerang dan melenguh. “Ahhh… mmmhh… nnggggh…” kunikmati gerakan tulang punggungnya yang terangkat. Ahh, nikmatnya. Kuraba betisnya, menelusuri kulit pahanya yang mulus, dan meletakkan telapak tanganku di permukaan belahan pahanya, beristirahat sejenak, menikmati genggamannya di pergelangan tangaku yang menguat. “Ya Tuhan… ahh…..” Sayang, jangan mendesahkan nama Tuhan sekarang, paling tidak jangan saat ini. Kuraba celah kemaluannya yang mulai basah dari balik celana dalamnya.

Menggerak-gerakkan jariku, membuatnya semakin meronta dalam tindihan dadaku. “Ray… oohhh… hhh…” Dengan gerakan halus kutarik celana dalamnya menelusuri pahanya, betisnya, menikmati geliatnya di tindihanku. Ahh… betapa indahnya kenyataan yang akan kuberikan padamu, gadisku. Kukecup bibirnya dengan lembut, sebelum membuka ikat pinggangku dan menurunkan celanaku berikut celana dalam yang menutupi auratku.

Nia memandang mataku dengan wajah memelas memohon pengertian, namun pengertian apakah yang bisa kuberikan kepadanya saat itu? Nyaris tidak ada. Kugenggam pergelangan tangannya, menuntunnya ke batang kemaluanku yang mulai tegang tak karuan. “Aaahhh…” kurasakan nikmatnya saat tangannya menempel dan menggenggam batang kemaluanku.
“Ray, aku tidak mau begini.”
“Nia, please…” kukecup bibirnya, sama sekali tidak merasakan penolakannya.
“Ray…” mendadak (seperti wanita pada umumnya) Nia menekan bahuku menjauh.
“Oke,” katanya.
“Aku sebenarnya juga mau.”
Wah, ini luar biasa, pikirku.
“Tapi ada syaratnya…”
Sial!
“Kamu harus mau menjadi pacarku.”
Aih, jadi ini masalahnya. Dapat kubayangkan hubungan persahabatan kompetitif antara Enni dan Nia, ahh… begitu bodohkah aku?
“Okay… as you wish… my lady.”

Ternyata begitu, hmm… mungkinkah Nia merasa iri atas keberhasilan Enni mendapatkanku? Sempat terpikir olehku tentang apa saja yang telah diceritakan Enni kepadanya mengenai hubungan kami. Tapi… mendadak Nia menekan leherku dengan tangannya, mengecup bibirku dengan penuh nafsu. “Ah? Mmm…” Dalam keterkejutanku, aku nyaris tidak percaya semua ini. Nia mendadak menggerak-gerakkan genggamannya pada batang kemaluanku. “Ahh… ah… ah… kk…” tak dapat kutahan nikmat yang menjalar di seluruh pembuluh darahku. Kuciumi seluruh wajahnya, menjilat bibirnya yang terbuka dan terengah, menggigit lehernya, menghisap puting susu-nya dan tanpa basa-basi kuangkat tubuhku, menaikkan pahanya ke samping, dan menempelkan ujung kemaluanku di permukan liang kemaluannya. Kulihat pandangan matanya yang sayu, melihat anggukan kecilnya. Apakah ini saatnya perjalananku berhenti? Membayangkan memiliki seorang kekasih yang tak dapat kulepas lagi? Masa bodoh.

“Ahh…” kudengar ia menjerit kecil saat kutekan-tekan ujung kemaluanku ke liang kemaluannya. Namun aku masih sangat muda dan miskin pengalaman saat itu, bahkan dengan keseringanku menonton film blue aku masih tidak dapat melakukannya. Aku menjadi bingung, keringatku keluar dari dahi dan sekujur tubuhku. “Ahh… ah… ah… Ray… ah…” kudengar erangannya saat pinggulku bergerak-gerak di atasnya. Shit! bagaimana melakukannya dengan benar? Saat itu aku menjadi panik.
“Nggak mau masuk, nih…” kataku dengan alis berkerut.
“Ahhh… hidupin… lampunya…” Nia berkata setengah tertahan.
Hah? Lampu, sempat aku celingukan seperti orang bingung menatap sekelilingku. Gila apa ya? Dalam kebingunganku, pinggul Nia terangkat menekan batang kemaluanku, membuatku sedikit mengerang.
“Ngga ah… kamu aja yang naruh,” ujarku.
“Hhhh…” Nia memegang batang kemaluanku dan menaruhnya di… entah bagian mana dari kemaluannya. Aku berusaha menekan lagi,
“Ahhkkk…”
Kami mengerang bersamaan, kutekan-tekan batang kemaluanku, tanganku menggapai susunya dan meremas-remas, membuat kepalanya terangkat ke belakang.

Keringat di tubuhku semakin deras karena kurangnya ventilasi di dalam mobil, dan karena segala gerakan yang kulakukan. “Ahh.. ahh… ah…” Nia masih mengerang-erang di bawahku. Kutekan terus batang kemaluanku berusaha menembus “apapun” juga yang menghalangi pergerakannya saat itu. Aku mulai jenuh menekan-nekan tanpa hasil. Nia mengangkat kepalanya dan memandang ke bawah. “Duh.. gimana sih… sakit nih..” Ya gimana dong? pikirku saat itu. Kuakui aku masih buta melakukan hubungan seksual, kalau peting sih sering. “Terus..” tanyaku. Nia bangkit, mendudukkan dirinya, dan menarik pundakku.
“Coba kalau begini.”
“Ahhhkk…”
Kurasakan bibirnya yang menempel di dadaku.
“Ahh.. ah…”
Nia mengeluh saat tangannya menggenggam batang kemaluanku dan menaruhnya di entah bagian mana dari kemaluannya dan mendudukinya.

“Aacchhh…” batang kemaluanku terasa sakit. Nia menarik punggungnya ke belakang, meletakkan tangan kanannya di atas sandaran kepala bangku depan, dan menggoyang-goyang pinggulnya yang menduduki batang kemaluanku. “Ahh.. ah… ah…” aku mulai merasakan kenikmatan yang ditimbulkan oleh goyangannya di sekujur tubuhku.
“Ahkkk…”
Tanganku mencengkeram pahanya, berusaha menahan spermaku yang hampir keluar.
“Arrggghhh…”
Kusentakkan pinggulku ke atas, membuat tubuh Nia terangkat sejenak, spermaku menyembur entah kemana. Membuat mataku rabun dan pikiranku yang sudah terkontaminasi obat melayang.

Nia menggerak-gerakkan pinggulnya lagi.
“Ahhh.. ahh…” kudengar nafasnya mendengus.
“Nia… udah dong…” kataku.
Selalu begini, begitu sudah keluar, langsung saja keinginan itu hilang lenyap.
“Ha? Kan belum masuk?” kudengar Nia berbisik protes.
Kuangkat tubuhku, menatap kemaluanku yang mulai agak lemas.
“Masa?” tanyaku.
“Iya, kayaknya belum deh…” Nia menimpali.
Akh, hahahahahahaha…
“Untunglah…” kataku tanpa memperdulikan bibirnya yang terlipat.
“Ray… duh…”
Kukenakan baju dan celanaku, melihatnya masih duduk di pojok kursi belakang tanpa pakaian dan menyilangkan tangannya di dada.
“Nih….” ujarku saat mengecup bibirnya dan dadanya.
Kuremas lubang kemaluanya sambil tertawa. Akhirnya Nia tertawa mengiringiku, dan mengenakan baju dan celananya kembali. Anehnya, pengaruh obat itu mulai terasa agak ringan sekarang.

Kuantar ia pulang ke rumahnya. Sampainya di depan pagar, kesadaranku mendadak sedikit pulih.
“Nia… umm… kita…”
Nia membalikkan tubuhnya,
“Aku tahu kok… nggak pernah ada apa-apa kan?” Aku tersenyum kepadanya.

“Thanks…”
“Your welcome, Ray,” jawab gadis manis itu sebelum menghilang di balik pintu rumahnya.
Ah… what a night.

Kukendarai mobilku menembus gelap malam. Mendadak saat itu aku ingin menelepon Enni dan meminta maaf.

—————————————

“Ray..?” “Ah, sorrie…” sahutku cepat.
“Eh… Nia.. mm… gini…” Nia tertawa melihat kegugupanku.
“Jalan yuk.”
“Hah… sure…” aku tergagap-gagap.
Selalu saja anak ini tahu maksudku. Hehehehehe!

Dalam perjalanan, Nia lalu bercerita bagaimana semenjak lulus SMU ia selalu berusaha melupakanku dan menolak setiap lelaki yang berusaha mendekatinya. Dan mengomeliku karena tidak pernah menghubungiku lagi sejak perpisahanku dengan Enni. Aku sangat terharu, karena aku juga tahu betapa ia menyayangiku, namun karena persahabatan adalah yang terpenting baginya, ia rela menyerahkan kemenangan itu kepada Enni. Ah, Nia… seandainya saja… Nia lalu bercerita bagaimana Mas Dita (begitu dia menyebutnya) berhasil meluluhkan gunung es dalam hatinya, dan mengajaknya bertunangan kira-kira dua bulan yang lalu. Sampai di sini aku terdiam, memandangnya tanpa berkedip, lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak, antara sedih, kerinduan, dan kasih sayang tulus seorang teman sejati.

Masih kuingat, sebelum kuturunkan kembali ia di Gramedia (karena Dita akan menjemputnya seperempat jam lagi), Nia sempat mencium pipiku dan meremas kemaluanku dari balik celanaku, tersenyum memandangku dan berkata, “Ray, kita akan bersahabat selamanya…” aku hanya bisa tersenyum saat itu, semua gejolak nafsuku hilang berganti perasaan menyesal, sayang, dan haru yang berkecamuk di hatiku. “Tentu… Nia…” jawabku.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 3:21 pm

Saya sedang asyik memilih-milih dasi yang terpajang di display sebuah department store, ketika saya dikejutkan dengan tepukan tangan di pundak. Dengan refleks saya menoleh ke arah orang yang menepuk pundak saya itu. Betapa terkejutnya saya, sesosok laki-laki bertubuh besar dan tambun berdiri di hadapan saya. Orang ini pasti orang India atau sebangsanya. Kulitnya hitam gelap, berkumis tebal dan berpenampilan dekil. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Boy.

“Apakah itu istrimu?” orang itu bertanya sambil tangannya menunjuk ke arah Wiwied yang sedang asyik berbicara dengan telepon selulernya.
Orang yang ditunjuk oleh laki-laki ini memang Wiwied istri saya, dan saya hanya bisa mengiyakan saja. Entah mengapa saya seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Sepertinya pikiran saya tertutup sesuatu. Terbukti dengan begitu mudahnya saya menuruti saja kemauan orang itu untuk diperkenalkan dengan istri saya. Dan sama seperti saya, wiwied pun seperti terpengaruh dan menuruti apa saja yang diminta oleh laki-laki itu.

Orang ini ternyata memiliki beberapa orang teman, saya masih sempat menghitung, ada lima orang lagi temannya, masing-masing Josh, Bram, Fai, Yan dan Ali. Setelah mengobrol beberapa lama, dua orang diantaranya minta tolong kepada Wiwied untuk mengantarkan mereka mengambil barang. Sekali lagi, kami hanya bisa menurut. Aneh memang, untuk orang yang baru beberapa menit berkenalan, bahkan dengan penampilan lusuh seperti itu kami mau saja menuruti permintaan mereka. Mereka bilang tidak perlu mengantar berduaan, sebab mereka juga membawa mobil hingga akhirnya kami pun berpisah. Wiwied pergi dengan Josh dan Bram, sementara saya bersama keempat orang lainnya. Saya tidak ingat lagi persisnya saya dibawa ke mana, yang bisa saya ingat hanyalah saya diminta mengemudikan mobil berputar-putar kota sambil terus-menerus diajak ngobrol oleh mereka.

Sementara itu ternyata Josh dan Bram membawa Wiwied ke sebuah motel di pinggiran kota. Josh yang mengemudikan mobil langsung memasukkan mobil ke dalam garasi dan begitu mobil berada di dalam pintu garasi langsung ditutup oleh penjaga motel itu, sementara Bram tampak seperti membereskan urusan administrasi dengan petugas motel sebelum ia pergi meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.

Begitu petugas motel itu pergi, Bram langsung memeluk Wiwied dari belakang. Ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk Wiwied yang jenjang, tengkuk indah itu memang hari itu terpampang tanpa penghalang karena rambut Wiwied memang disanggul ke atas. Entah karena apa, Wiwied hanya manut saja membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu. Bahkan lebih dari itu! Bahkan kini kedua laki-laki itu mulai melucuti pakaian Wiwied satu demi satu. Mulai dari blazer, blouse kemudian rok span mini yang dipakai Wiwied kini berceceran di lantai. Kini tinggal bra dan G-string transparan saja yang melekat di tubuhnya.

Kedua orang itu tertegun memandangi tubuh wiwied yang setengah telanjang itu, beberapa saat mereka membiarkan istri saya dalam keadaan seperti itu sebelum kemudian Bram memerintahkan Wiwied untuk membuka semua sisa penutup tubuhnya hingga tak lama kemudian istri saya telah benar-benar telanjang bulat. Wiwied juga membuka ikatan sanggulnya hingga kini rambutnya tergerai bebas sampai sedikit di bawah bahunya. Ia hanya berdiri pasrah di hadapan kedua laki-laki itu. Sungguh sangat cantik dia dalam keadaan polos seperti itu. Istri saya yang memiliki wajah baby face dengan kulit yang benar-benar putih bersih, dengan payudara yang boleh dibilang besar (Bra size 34C, cukup besar dengan tinggi badan yang hanya sekitar 162 cm), belahan bukit kembar dengan puting susu coklat kemerahan itu menggelantung bebas dan berguncang lembut mengikuti irama nafasnya. Turun ke bawah terdapat perut yang rata dengan rambut tipis di pangkal pahanya yang tidak begitu lebat hingga samar-samar terlihat belahan bibir bawahnya yang berwarna merah muda.

Kedua orang itu kini tidak sabar lagi, buru-buru mereka melucuti pakaiannya sendiri hingga kini ketiga orang itu sama-sama telanjang bulat. Bram segera membimbing Wiwied ke arah ranjang dan merebahkan tubuh istri saya itu terlentang di kasur. Laki-laki itu segera berbaring di sebelah tubuh istri saya dan membenamkan wajahnya ke dalam belahan payudara Wiwied. Mulutnya dengan gemas menciumi kedua pucuk puting susu Wiwied bergantian. Lidahnya ikut mempermainkan kedua putingnya sambil kedua tangan Bram meremas-remas kedua bukit itu terus-menerus.

Sementara itu Josh dengan tak sabaran membuka kedua selangkangan Wiwied lebar-lebar, dan menemukan belahan bibir mungil yang ada diantaranya. Dengan jari-jari tangannya ia membuka belahan bibir itu hingga menganga dan segera menjulurkan lidahnya ke dalam untuk menjilati bagian dalam dinding vaginanya. Tubuh Wiwied menggelinjang dan dari mulutnya keluar suara dan desahan nafas tertahan setiap kali lidah Josh menyapu setiap permukaan dinding yang sekarang mulai basah. Dan ketika lidah Josh menemukan sebongkah daging kecil di bagian atas liang itu dan menggelitiknya, tak tertahankan lagi tubuh Wiwied menggelinjang lebih hebat dan ia mengerang tertahan.

Hanya beberapa saat saja Josh membenamkan wajahnya di selangkangan Wiwied dan ia sudah merasakan bahwa istri saya ini sudah sangat basah. Maka ia tak membuang kesempatan, ketika Bram sedang sibuk menciumi bibir Wiwied dan meremasi kedua payudaranya, Josh dengan tergesa-gesa merenggangkan kaki Wiwied lebar-lebar, dan menekankan kejantanannya ke dalam liang senggama yang sudah sangat siap menerima penetrasi itu. Maka dengan mudah Josh mendorongkan miliknya sampai masuk semua ke dalam vagina Wiwied disertai dengan pekik tertahan yang keluar dari mulut Wiwied, tidak begitu jelas memang karena mulutnya tersumbat mulut Bram.

Dengan posisi berlutut kini Josh mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya maju mundur menekan bagian bawah perut Wiwied. Ia dengan leluasa memompa tubuh Wiwied yang terlentang di hadapannya. Sementara kedua kaki Wiwied diangkat dan diletakkan di atas pundak Josh, hingga ia bisa menekan lebih dalam lagi dengan posisi seperti ini.

Sementara Bram yang mulai merasa tidak leluasa mencumbui Wiwied karena badan Wiwied yang selalu berguncang-guncang mengikuti gerakan pinggul Josh, mengalah dan duduk di sofa sambil menonton adegan itu, sambil sekali-sekali tangannya mempermainkan batang penisnya sendiri yang sudah sejak tadi berdiri tegang.

Hampir sepuluh menit berlalu dari saat Josh melakukan penetrasi pertamanya ketika ia makin mempercepat dan memperkeras goyangan pantatnya hingga makin membuat Wiwied mengerang tak berkesudahan, dan tiba-tiba tubuh lelaki itu mengejang di atas tubuh Wiwied. Ia menyemburkan air maninya ke dalam liang senggama Wiwied dengan derasnya. Beberapa saat kemudian setelah nafasnya mulai teratur kembali, Josh memisahkan diri dari tubuh Wiwied dan berjalan ke arah sofa dan duduk di sisi Bram.

“Wah, luar biasa tuh cewek. Cantik lagi..!” katanya sambil menyalakan sebatang rokok.
“Giliranmu Bram..” katanya sambil menoleh ke arah rekannya.
Bram yang sejak tadi sudah tidak sabar, segera berdiri dan berjalan ke arah Wiwied yang terlentang di atas kasur. Bahkan posisinya sampai sekarang belum berubah, kedua belah kakinya masih mengangkang lebar, hingga tampak terlihat jelas sebagian air mani meleleh keluar dari dalam bibir bawahnya yang masih membengkak dan menganga.

Bram menarik tubuh Wiwied hingga kini istri saya terduduk di pinggir tempat tidur, wajahnya persis menghadap ke selangkangan Bram yang berdiri di depannya. Dengan sekali rengkuh ia menarik kepala Wiwied dan mejejalkan batang penisnya ke dalam mulut Wiwied. Istri saya sekarang melakukan oral pada Bram. Wiwied yang memang jago dalam hal satu ini langsung membuat Bram merem melek keenakan. Ia sesekali mengerang, “Aahh… Jago sekali nih cewek nyepongnya, loe musti nyobain Josh!” Bram berkata sambil menoleh ke arah Josh yang sedang duduk terlentang mengumpulkan tenaga.

Wiwied yang berada di bawahnya terus memainkan bibir, mulut dan lidahnya untuk mempermainkan batang penis Bram. Caranya ia menghisap kepala penis yang makin lama makin licin dan berubah warna menjadi merah tua keunguan itu pasti tidak pernah dilupakan oleh Bram. Belum lagi kepalanya yang ikut bergerak-gerak maju mundur mensimulasikan gerakan senggama kepada batang penis yang berada di dalam mulutnya itu.

Entah sudah berapa lama Wiwied mengulum penis Bram, ketika akhirnya Bram melepaskan diri dan menarik tubuh Wiwied berdiri dan menariknya ke arah meja rias yang berada di ujung ranjang, menghadap cermin. Lalu dari belakang Bram memasukkan batang miliknya ke dalam vagina Wiwied dengan sekali sentakan halus hingga amblas seluruhnya ke dalam. Terasa benar liang itu sangat licin dan hangat. Dan kemudian Bram mulai mengerakkan pinggulnya maju mundur sementara kedua tangannya memegang pinggul Wiwied untuk membantu menggoyangkannya berlawanan dengan arah gerakan pinggul Bram yang maju mundur.

Stamina Bram sungguh bagus, hampir sepuluh menit ia menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan disertai hentakan-hentakan kasar. Wiwied benar-benar mengerang-erang tak berkesudahan digagahi dengan cara seperti itu. Nikmat, geli dan kadang-kadang ngilu bercampur jadi satu. Apalagi batang kejantanan Bram termasuk besar hingga terasa sekali benda itu begitu penuh dan menguak lebar vaginanya.

Tiba-tiba Bram memisahkan diri dan menarik tubuh Wiwied dan memaksanya berjongkok di hadapannya, ia kemudian menjejalkan kembali batang penisnya ke dalam mulut Wiwied, hampir bersamaan dengan itu Bram memuntahkan air maninya ke dalam mulut Wiwied. Air maninya menyembur dengan deras sekali dan tidak tertampung oleh mulut Wiwied yang mungil hingga meluap keluar, meleleh ke dagu dan menetes ke bawah membasahi belahan payudaranya. Bisa dipastikan sebagian air mani itu pasti telah tertelan oleh Wiwied, dan ketika akhirnya Bram mengeluarkan penisnya dari dalam mulut Wiwied, muntahan air mani itu segera berhamburan keluar dari dalam mulut Wiwied karena memang sangat banyak dan Wiwied tidak sanggup menelan semuanya. Kini wajah bagian bawah Wiwied berlepotan lendir lengket berwarna putih susu.

Sehabis itu, masih dalam keadaan telanjang Josh dan Bram kemudian membimbing Wiwied ke dalam kamar mandi untuk memandikannya. Kedua laki-laki itu membersihkan semua lendir yang berada di selangkangan dan wajah Wiwied sambil memandikannya. Namun kemudian, kedua laki-laki itu sekali lagi menggagahi Wiwied di dalam kamar mandi bergantian. Sekali lagi Wiwied digilir di dalam bath tub dalam keadaan berdiri menghadap tembok kamar mandi pertama oleh Josh, dan ketika Josh selesai mencabut batang penisnya ia langsung digantikan oleh Bram yang juga langsung memasukkan batang kejantanannya dari belakang tanpa pemanasan lagi. Baru sesudah Bram selesai, mereka benar-benar memandikan Wiwied sampai bersih sebelum kemudian mereka kembali berpakaian dan keluar meninggalkan motel itu kembali menemui rekan-rekan mereka yang sedang bersama saya.

Kami bertemu kembali di tempat di mana saya dan Wiwied pertama kali bertemu dengan mereka. Dan ketika bertemu Wiwied saya sedikit heran, kok sekarang sanggul istri saya telah terlepas, jepitan rambut besar yang tadinya digunakan untuk menjepit sanggul istri saya itu sekarang hanya digunakan untuk menguncir rambut istri saya ke belakang. Dandanannya juga agak acak-acakan, tidak serapi waktu pergi. Namun ketika mata saya bertemu dengan mata Boy, entah mengapa kecurigaan saya itu langsung sirna.

Singkat kata, akhirnya entah mengapa kami sepakat membawa mereka pulang ke rumah. Sekali lagi aneh, di rumah itu tidak ada siapa-siapa, bahkan pembantu pun tidak tampak batang hidungnya. Saya diajak duduk di ruang tengah oleh Josh dan Bram sementara yang lainnya masuk ke kamar tidur bersama Wiwied, sementara pintu kamar seperti sengaja dibiarkan terbuka lebar. Saya masih sempat mendengar suara Boy yang tanpa sungkan-sungkan meminta Wiwied menanggalkan pakaiannya, serta membuka kunciran rambutnya hingga kini rambutnya tergerai bebas ke bawah. Mereka cukup terkejut ketika melihat Wiwied hanya mengenakan celana dalam G-string transparan warna putih plus bra berenda yang juga transparan dan sama warnanya, jelas kedua potong pakaian dalam itu menunjukkan kemontokan pantat serta payudaranya. Boy dan yang lainnya seperti terperangah dengan kemolekan tubuh Wiwied.

Sesaat kemudian Boy mulai memeluk dan menciumi Wiwied dari belakang. Fai yang berjongkok memulai mencium dari paha kemudian ke pantat, sedangkan Bram meremas-remas payudara Wiwied serta menciuminya, sementara Yan memilih duduk di kursi rias sambil menonton ketiga rekannya mengeroyok Wiwied. Tidak tahan hanya melihat Wiwied memakai baju dalam, Fai mulai menarik G-string Wiwied dari belakang dan perlahan-lahan menurunkannya, sehingga sekarang pantat istri saya yang montok jelas terlihat. Pada saat yang sama, Boy melepas bra Wiwied hingga kedua buah payudara istri saya itu menggelantung bebas tanpa penghalang lagi dan segera disambut oleh Bram dengan menjilat-jilat puting susunya.

Sesaat kemudian Boy melepas semua bajunya dan kemudian mengangkat tubuh molek Wiwied ke atas tempat tidur. Sementara yang Fai menyambut tubuh istri saya di atas ranjang. Wiwied terlentang di tempat tidur dengan kaki terbuka lebar, kepalanya sekarang berada di pangkuan Fai. Ia merintih-rintih karena kemudian Boy menjilati dan menghisap klitorisnya. Tampaknya tubuh Wiwied tidak bisa menolak kenikmatan yang diberikan Boy, meskipun saya yakin dia sedang di bawah pengaruh Hipnotis, tak berapa lama kemudian vagina Wiwied yang sekarang sudah cukup basah dengan mudah menerima penis Boy. Kaki Wiwied diangkat, dilingkarkan ke tubuh Boy pada saat dia menggoyang naik turun.

Kira-kira lima menit, Boy mempercepat goyangannya dan tiba-tiba mencabut penisnya dari dalam vagina Wiwied. “Tunggu dulu, gue belum mau keluar. Loe terlalu cantik untuk dilewatkan sesaat, jadi harus dinikmati dengan waktu yang cukup lama..”

Boy kemudian mengangkat tubuh istri saya dan memposisikannya doggy style dengan perut diganjal bantal dan pantat menghadap ke atas. Sekarang keindahan pantat Wiwied benar-benar terlihat, tidak satu orang pun yang tidak terangsang melihat Wiwied pada posisi tsb. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Boy membimbing penisnya masuk ke dalam vagina Wiwied yang masih basah dan tampak berwarna pink muda. Kedua tangan Boy memegang pantat Wiwied, sedangkan pinggulnya bergoyang-goyang berirama. Sesekali tangan Boy mengelus-elus pantat Wiwied dan sesekali meremas payudara Wiwied dari belakang.

Beberapa menit kemudian, Boy kembali mempercepat goyangan pinggulnya, kemudian dia menarik kedua tangan Wiwied. Jadi sekarang persis seperti naik kuda lumping, kedua tangan Wiwied dipegang dari belakang sedangkan pantatnya digoyang seirama. Akhirnya Boy tidak lagi bisa mempertahankan, dia lepaskan spermanya ke dalam vagina Wiwied disertai erangan kenikmatan. Tampak cairan putih kental keluar dari dalam vagina Wiwied seiring dengan dicabutnya penis Boy dari dalam vagina Wiwied, cairan putih tsb mengalir ke pahanya dan menetes di tempat tidur. Beberapa detik kemudian tiba-tiba badan Boy didorong oleh Fai, “Gantian dong, sekarang giliran gue..”

Wiwied dibimbing masuk ke dalam kamar mandi yang sekarang sudah penuh dengan air hangat. Fai dengan bersemangat membersihkan tubuh Wiwied, terutama di bagian kemaluannya. Fai yang sudah telanjang bulat dengan penis tegang, meminta Wiwied untuk melakukan oral sex. Wiwied menuruti saja kemauan Fai, bahkan dia memperlakukan Fai seperti suaminya sendiri yaitu dengan menjilati bagian kepala penis dan dilanjutkan dengan ‘deep troath’. Saya sudah menceritakan bagaimana lihainya Wiwied dalam permainan ini, hingga tidak usah dijelaskan lagi bagaimana nikmat yang dirasakan oleh Fai dengan pelayanan Wiwied seperti itu. Masih di dalam kamar mandi, Wiwied kemudian disetubuhi Fai dengan berdiri dari belakang. Kedua tangan Fai meremas-remas payudara Wiwied, sedangkan pinggulnya bergoyang dengan cepat. Goyangan ini bertahan selama hampir sepuluh menit, sebelum akhirnya dicabut. Pada saat bersamaan Wiwied diposisikan berlutut menghadap Fai. Sekali lagi Wiwied melakukan oral sex, tapi kali ini tidak lama. Hanya dengan beberapa hisapan, penis Fai menyemburkan isinya ke dalam mulut Wiwied serta wajahnya. Wiwied kembali menelan air mani, kali ini dari penis Fai. Sama seperti tadi, sebagian air mani ini juga meluap keluar dari dalam mulut dan berlepotan di wajahnya.

Fai kemudian meneruskan membersihkan badan Wiwied dan akhirnya membimbingnya keluar dari bath tub kembali ke ranjang. Boy yang rupanya telah membongkar lemari pakaian kami menemukan koleksi lingerine Wiwied yang memang sering dia pakai terutama pada saat menjelang kami berhubungan intim sebagai ’starter’. Boy sudah mempersiapkan stoking, gather, G-tring dan bra yang serasi ditambah baju tidur. “Ayo sekarang kamu pakai baju ini dan menunggu kedatangan teman-teman kita yang lain.” perintah Boy pada Wiwied.

Boy, Bram dan Josh sekarang duduk berhadapan dengan saya di meja kerja. Mereka mengajak saya ngobrol mengenai perusahaan dotcom disertai business case-nya. Saya sangat terkejut ketika melihat Wiwied dari celah-celah pintu kamar yang terbuka sedikit, dia memakai baju tidur transparan lengkap dengan stoking dan ghater-nya. Dia tampak begitu seksi dan merangsang dengan rambut tergerai acak-acakan. Bram dan Yan berada di samping kiri dan kanan Wiwied sambil menciumi lengan dan meremas-remas payudaranya. Masih dari celah-celah pintu, saya bisa melihat sekarang ketiganya merebahkan diri di tempat tidur. Bram menciumi bibir istri saya sambil meremas payudara sedangkan kepala Yan menghilang di bawah selangkangan Wiwied sambil kedua tangannya dari bawah meremas-remas pantat.

Saya terkejut ketika Boy mengajak saya masuk ke dalam kamar Wiwied untuk mengambil buku daftar PIN untuk diberikan kepada Boy. Saat masuk ke dalam kamar, saya dapat melihat dengan jelas Bram sedang melepas bra Wiwied dan Yan sedang menarik ke bawah G-string istri saya dengan giginya. Setelah selesai menelanjangi Wiwied, Bram langsung menghisap puting susu Wiwied yang sebelah kiri. Bahkan saya masih inggat, puting susu Wiwied sudah ereksi menjadi bengkak dan meruncing. Tanpa rasa apa-apa saya terus saja berjalan melewati tempat tidur dan langsung membuka laci lemari di samping kiri di mana Wiwied sedang terlentang dan dikerubuti dua orang laki-laki yang juga sudah sama-sama bugil. Dari dalam laci saya mengambil sebuah buku catatan yang berisi PIN kartu kredit saya dan Wiwied. PIN dan kartunya kemudian saya serahkan pada Josh yang menunggu di belakang saya.

Ketika saya beranjak melewati tempat tidur lagi untuk keluar dari kamar, Bram menghisap-hisap serta meremas payudara Wiwied, Yan masih dengan beringas menciumi serta menyedot vagina istri saya. Anehnya Wiwied tampak biasa saja, bahkan seperti menikmati kejadian tersebut. Matanya tampak setengah terpejam sementara tangan kirinya meremas-remas kepala Bram yang sedang terbenam di dadanya. Sementara tangan satunya lagi berada di atas kepala Yan. Sesekali dia merintih keenakan karena rangsangan pada klitoris dan payudaranya. Boy dengan sigap menarik saya keluar dari kamar Wiwied, mungkin dia tahu saya mulai curiga dengan perlakuan temannya pada istri saya. Sayup-sayup terdengar mobil meninggalkan rumah, ternyata Josh sedang menuju mesin ATM untuk menarik uang dari kredit card saya dan Wiwied.

Saya dan Boy kembali duduk berhadapan di samping kamar di mana Wiwied sedang disetubuhi. Masih dengan pintu kamar yang terbuka lebar, sehingga tampak dengan jelas bagaimana Wiwied dalam posisi doggy stye sedang menghisap penis Bram sedangkan dari belakang Yan menggoyang-goyangkan pinggulnya sambil kedua tangannya menepuk-nepuk pantat Wiwied. Suara mereka pun terdengar dengan jelas.
“Ooh gila.. vagina si Wiwied ini benar-benar basah dan menggigit. Belum pernah sebelumnya saya merasakan yang seenak ini. Mujur benar si Doni mempunyai istri seperti dia, tapi sayangnya saat ini kita yang menikmatinya.. he.. he.. he..” desah Yan.
“Hisapannya pun cukup kuat, pandai sekali dia nyepongnya,” balas Bram.

Selama lebih setengah jam mereka berdua secara bersama-sama menyetubuhi istri saya, berbagai macam posisi mereka coba. Mulai dari doggy style, women on top, berdiri dan ketika Bram tak bisa bertahan lagi dan menyemburkan maninya ke dalam vagina Wiwied, kemudian mereka bertukar posisi. Kembali dengan doggy style, Kini Yan yang menggasak Wiwied dari belakang, sementara Bram menjejalkan penisnya ke mulut Wiwied untuk dibersihkan, sampai akhirnya diakhiri dengan gaya Wiwied duduk membelakangi Bram yang sesaat kemudian kembali menyemprotkan air mani ke wajah Wiwied. Yan pun juga mengalami klimaks dengan mengeluarkan isinya ke dalam vagina Wiwied. Namun rupanya Yan belum puas, ia menarik kepala Wiwied untuk menghisap penisnya yang mulai loyo. Wiwied menuruti saja permintaan Yan tsb. Dengan wajah yang masih penuh dengan sperma, Wiwied melakukan oral sex lagi beberapa saat sebelum Kedua pria tersebut kemudian membimbing Wiwied masuk ke dalam kamar mandi, Wiwied untuk yang kedua kalinya dibersihkan tubuhnya dari ceceran sperma di vagina maupun di wajahnya.

Tampaknya Boy dan Ali yang juga menyaksikan aksi tsb dari luar mulai terangsang kembali. Buktinya setelah saling memberi isyarat dengan mata mereka sekarang menuju kamar mandi dan mengeringkan tubuh Wiwied yang sudah bersih dan segar dengan handuk. Bram dan Yan memakai baju kembali dan keluar menemui saya. Sayangnya sekarang pintu kamar tidur ditutup, sehingga saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Yang jelas, Boy dan Ali pasti kembali menggauli istri saya untuk yang kedua kalinya. Dari pengakuan Wiwied kemudian, saya tahu bahwa pada saat itu Boy langsung mengangkat tubuhnya dan meletakkan di atas sofa yang terdapat di dalam kamar. Boy memposisikan Wiwied menungging dengan tangan berpegangan pada pundak Ali yang duduk di sofa, kemudian Boy memasukkan penisnya dari belakang. Sementara Ali yang duduk menghadap Wiwied menciumi wajah dan payudara Wiwied bergantian.

Tak berapa lama kemudian, tubuh Wiwied merosot ke bawah, kepalanya menangkup di selangkangan Ali dengan melakukan oral pada penisnya, sementara Boy tetap menggoyangkan pinggulnya maju mundur dari belakang. Dan ketika telah selesai menyemburkan air maninya kembali ke dalam vagina Wiwied, Ali langsung membopong tubuh istri saya dan memangkunya. Wiwied sekarang duduk di atas pangkuang Ali, dengan mudah batang penis Ali menyelusup ke dalam vagina Wiwied. Namun aneh, Wiwied malah dengan sukarela menggoyangkan pinggulnya naik turun di atas pangkuan Ali dengan kedua belah tangan berpegangan pada pundak Ali. Beberapa lama kemudian Ali membopong tubuh Wiwied yang sudah keletihan itu dan meletakkannya di atas tempat tidur sebelum kemudian menindihnya dan mulai menggerakkan kembali tubuhnya naik turun.

Saat itu Josh melangkah masuk ke dalam kamar, rupanya ia telah pulang dari menguras ATM saya sampai batas limit, dan ketika melihat Ali sedang menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh istri saya yang sekarang telungkup di atas tempat tidur ia jadi kembali terbangkit nafsunya, maka ia pun kembali membuka seluruh pakaiannya dan mengocok penisnya hingga menegang, dan ketika Ali selesai, tanpa basa basi Josh pun segera naik di atas tubuh istri saya yang kini telah lemah lunglai. Wiwied hanya pasrah saja tubuhnya dibolak-balik sesuka hati oleh Josh sambil terus disetubuhi sampai pada akhirnya Josh mencabut penisnya dari vagina Wiwied dan menjejalkan ke mulut istri saya, bertepatan dengan memuntahkan air maninya ke dalam mulut Wiwied. Air mani itu muncrat dan berlepotan ke seluruh wajah istri saya setelah sebagian tertelan. Baru sesudah Josh menyelesaikan hajatnya, kelihatannya mereka sudah cukup puas melampiaskan semua nafsu birahinya terhadap istri saya.

Setelah mengucapkan terima kasih, keempat sekawan tsb meninggalkan rumah kami sambil membawa G-string dan bra Wiwied yang berwarna putih, perhiasan, dan uang tunai baik yang ada di rumah maupun dari ATM. Boy berkata bahwa dalam waktu satu jam semuanya akan kembali seperti biasa. Sekarang dia meminta saya meneruskan menulis proposal, serta meminta Wiwied untuk tidur agar tidak kecapaian setelah melayani tamu.

Kira-kira satu jam kemudian, saya terbangun dari tidur saya di atas meja kerja. Saya merasa semua kejadian tadi seperti mimpi, untuk membuktikan saya masuk ke dalam kamar, ternyata di situ saya menyaksikan Wiwied sedang terlelap tanpa baju dengan hanya ditutupi selimut. Tampak juga gaun tidur, G-tring hitam, stoking serta gather tercecer di bawah tempat tidur. Makin penasaran, saya periksa tempat tidur Wiwied. Masih ada sisa-sisa sperma di mana-mana. Bahkan banyak juga yang masih melekat di wajah, mulut, rambut dan di selangkangannya. Saat Wiwied terbangun dari tidurnya, dia juga merasakan hal yang sama. Dapat mengingat semua kejadian dengan jelas, tetapi tidak bisa menolak untuk tidak melakukannya. Begitulah, kami kehilangan harta dan harga diri setelah dihipnotis.

TAMAT

Cerita Antara Kita 3:19 pm

Seks pertamaku yang indah ternyata terus-menerus melekat dalam memori otakku, sehingga setiap habis menerima amplop hasil memberikan les privat, aku langsung menuju lokalisasi Kali Jodoh yang tidak jauh dari rumahku. Sampai-sampai aku merasa telah mahir sekali dalam urusan ranjang. Habis bagaimana nggak? Yang mengajariku adalah wanita-wanita senior yang handal dalam menservis lelaki. Segala macam gaya sudah kulakoni, meskipun kadang aku harus hutang untuk mendapatkannya (yang ini kalau nggak kenal banget, nggak akan bisa). Tapi meskipun demikian kebiasaanku melantunkan, “Hallo-hallo bandung” versiku, tak kunjung padam. Kadang di kamar mandi, kadang di tempat tidur, malah kadang di WC sekolah pun kulakoni, terutama sehabis melihat pemandangan indah teman sekelasku yang wanita.

Lulus SMP, aku melanjutkan ke sekolah P di bilangan Jelambar, Jakarta Barat. Mula pertama masuk adalah saat yang paling menyenangkan. Aku mendapat teman baru yang cantik-cantik (yang cowoknya sih nggak usah diceritain), ditambah lagi dengan seragam celana panjang. Sepertinya aku semakin percaya diri untuk mendekati wanita. Tak lama waktu yang dibutuhkan untuk menunjukkan kepiawaianku dalam pelajaran. Aku menjadi bintang kelas yang banyak didekati teman-temanku, terutama yang hobinya nyontek. Untunglah di kelasku (Atau mungkin seluruh sekolah) 80% muridnya hobi nyontek, jadi stock teman tidak akan kehabisan dalam kamus kehidupanku. Salah satu, eh salah dua dari sekian banyak temanku ada yang dandanannya bisa bikin senjata lelaki push up. Namanya Jenny dan Lisa. Keduanya sahabat kental. Kemana pergi selalu berdua. Bahkan ke WC pun juga berdua, sampai seisi kelas memvonisnya sebagai pasangan Lesbian. Nah keduanya termasuk dalam siswi yang 80% tadi, sehingga tiap kali ada ulangan mereka selalu berada di dekatku.

“Witing tresno jalaran soko kulino.” Keakraban akan dapat menimbulkan kasih sayang, ternyata benar dan terjadi padaku. Aku benar-benar Fall in Love kepada Lisa, tapi sayangnya kalau aku perhatikan justru Jenny yang ada perhatian denganku. Aku terjerat dalam cinta segitiga yangbikin pusing. Lisa memang lebih cantik dari Jenny. Itu menurutku, tapi body Jenny jauh lebih mantap dari Lisa. Kalau Lisa ibarat Paramitha Rusady, cantik, anggun tapi body agak payah, sedangkan Jenny ibarat Diah Permata Sari, wajah tidak terlalu cantik tapi dada dan pinggulnyaitu loh yang mantap.

Oh ya ada yang lupa, keduanya kalau sekolah mengendarai sedan keluaran terbaru, cuma waktu itu aku tidak tahu siapa yang punya diantara mereka berdua, sedangkan aku sekolah mengendarai kedua kakiku. Sempat juga aku minder, tapi aku dapat menepiskan perasaan itu, apalagi saat Jenny mengundangku untuk mengajari Matematika yang katanya suka bikin dia demam, aku jadi tambah semangat.

Hari sabtu usai bubaran sekolah, aku ikut mobil mereka menuju rumahnya. Tiba di rumah Jenny, Lisa langsung pamit dengan alasan papinya menunggu di rumah. Satu point masuk memoriku. Berarti mobilnya milik Lisa, tapi melihat keadaan rumah Jenny yang cukup megah rasanya tidakmustahil kalau Jenny juga mempunyai mobil. Aku menunggu di ruang tamu dan tak lama Jenny sudah keluar membawakan juice jeruk. Tapi bukan juice-nya yang jadi perhatianku, pakaiannya minim sekali. Jenny hanya mengenakan celana pendek berbahan kaos, dan kaos oblong, sehingga waktu Jenny meletakkan gelas di meja, aku dapat melihat bulu ketiaknya yang sangat lebat, ditambah tonjolan dadanya yang sangat besar sepertinya sih dia tidak memakai bra. Karuan saja senjataku langsung bergerak mekar, menerobos hutan di sekitarnya. Efeknya langsung aku merasakan sakitseirama dengan tertariknya bulu kemaluanku tersebut. Aku beringsut membetulkan letak senjataku.

“Gimana, La? Bisa langsung mulai nggak?” Jenny langsung pada tujuannya.
“Boleh, boleh,” aku langsung mengiyakan menutupi sikap grogiku.
“Sini dong! Gimana bisa ngajarin gua kalau berhadapan gini?” kata Jenny dengan nada manja.
Aku langsung beranjak, dan duduk di sebelah Jenny di sofa yang untuk 3 orang. Jenny mulai bertanya tentang pelajaran yang menurutnya agak sulit. Aku menjelaskannya dengan dada bergemuruh, apalagi saat paha Jenny saling bertumpangan, celana pendeknya makin tertarik ke atas, sehingga pahanya yang putih dan mulus makin terlihat jelas. Konsentrasiku semakin buyar.

Dua jam berlalu, Jenny mulai bosan, akhirnya kami hanya mengobrol. Ternyata Orang tua Jenny jarang ada di rumah. Pantas saja aku tidak melihat seorang pun di rumah sebesar ini, tanpa kuminta Jenny mulai menceritakan hal-hal pribadi tentangnya. Kecanduannya akan ganja, pergaulannya dengan berbagai macam lelaki, jarangnya ada di rumah, dan masih banyak lagi yang intinya menjelaskan bahwa dia adalah salah satu sample produk broken home yang perfect. Tapi yang menarik buatku adalah pergaulan bebasnya. Itu berarti aku juga bisa ikut termasukdalam salah satunya dan 100% Jenny sudah tidak virgin lagi. Sementara Jenny nyerocos terus dengan ceritanya, otakku berfikir keras bagaimana cara menikmati keseksian tubuhnya. Sampai cerita Jenny habis dan aku pamit pulang, aku belum dapat menemukan caranya.

Tapi Iblis memang selalu memberikan jalan buat pengikutnya. Berawal dari acara sekolah, Jenny dan Lisa yang hobi nyanyi ternyata kesengsem dengan permainan jariku memetik senar-senar gitar. Kunjunganku ke rumah Jenny pun berubah menjadi acara karaoke bersama dengan Lisa.Setelah lelah bernyanyi, Jenny beranjak ke kamar pribadinya dan membawa laser disc (dulu belum ada VCD) porno dan memutarnya.

Kami bertiga menonton bersama. Tak lama dari layar TV 29″ milik Jenny keluar gambar-gambar erotis yang membuat siapa pun akan naik tensi darahnya. Aku melihat Jenny dan Lisa memerah wajahnya, mungkin menahan nafsu, sedangkan aku sendiri sudah merasakan celana dalamku agak basah oleh pelumas yang keluar dari senjataku. Namun aku hanya diam dan berpura-pura bodoh.

“Lis, sini gua bilangin,” Jenny menarik tangan Lisa ke kamarnya. Aku hanya bengong, entah apa yang dibicarakan mereka. Keluar dari kamar Lisa berpamitan pulang, aku bersorak dalam hati. Ini yang kutunggu.

Deru suara mobil di halaman luar menandakan Lisa telah pulang. Jenny menutup seluruh pintu dan jendela dan kembali duduk di sampingku. Pikiranku sudah membayangkan hal-hal yang indah. Pasti Jenny sudah tidak tahan. Namun aku masih bertahan dengan sikap bodohku dan tetap memandang gambar demi gambar yang keluar dari layar TV. Meskipun seluruh aliran darahku telah bergerak ke arah penisku, dan senjataku sudah mengeras bagaikan batu, aku tetap bertahan karena aku mengenalkan diri kepada mereka sebagai lelaki yang tidak tahu apa-apa mengenai seks.

“Ehmm, serius banget sih La, emangnya belum pernah nonton film begini ya?” suara Jenny membuyarkan angan-anganku.
“Iya,” padahal dalam hati aku bilang, “Jangan kata nonton, ngelakonin aja sudah sering.”
“Loe, mau nggak gua ajarin!” goda Jenny.
“Apa?” aku pura-pura kaget.
“Iya, seperti di film itu.” balas Jenny.
“Tapi…” aku pura-pura semakin bodoh.
“Tenang aja lah,” Jenny kembali memberi semangat.
Melihat dari rayuannya yang berani, aku sudah bisa menebak pasti hal begini buat Jenny sudah biasa. Entah bagaimana mulainya, yang aku tahu kini aku sedang melaksanakan anganku, dan di hadapanku di permadani ruang tamu yang tebal telah tergolek tubuh indah putih yang selalu hadir dalam anganku saat onani.

Aku bertahan dengan sikap bodohku, meskipun Jenny sudah merangsangku dengan kebugilannya, aku hanya diam. Perlahan Jenny mencium bibirku. Tangannya melepas bajuku, belaian jarinya yang lentik di dadaku membuatku tak tahan.

“Ayo dong La,” tangannya menuntun tanganku ke dadanya yang membusung besar. Aku dapat merasakan kelembutan dan kekenyalan dadanya di tanganku. Perlahan aku meremas buah dadanya. Jemariku menelusuri permukaannya mencari putingnya, tapi sulit sekali karena putingnya melesak ke dalam. Gundukan buah dadanya belum mencuat seperti guru-guruku. Aku mencongkelnya sedikit dengan kuku. Begitu kudapatkan kupilin pelan ke kiri ke kanan. Jenny menjerit lirih. Dia bergerak melepas celana panjangku, dan dengan tak sabar celana dalamku dilorotkan. Senjataku langsung mencuat ke atas bagai seorang prajurit tempur menunggu instruksi komandan.

“Ohhh… gila! La, punya loe gede banget,” Jenny langsung menggenggamnya dan mengocoknya halus. Aku semakin tak tahan dengan kepura-puraanku. Aku mulai membalas serangannya. Lidahku mulai bergerak menelusuri lehernya yang putih dan jenjang, turun terus memutari dua buah gundukan besar dan kenyal. Aku permainkan nafsu Jenny dengan tidak menyentuh puting dadanya. Lidahku hanya berputar di buah dadanya. Ternyata Jenny tak tahan.

“Putingnya, La!” tangan Jenny meremas kepalaku dan membimbing mulutku mengisap putingnya. Kini aku bagaikan bayi mengisap puting buah dadanya, kiri dan kanan. Sesekali kutekan dengan lidah bahkan kugigit pelan. Jenny semakin merintih. Tangan Jenny bergerak menelusuri seluruh tubuhku sesuka hati. Perjalanan lidahku sampai juga pada kemaluan Jenny yang ditumbuhi bulu lebat. Kusibak bulu-bulunya yang menghitam dengan lidahku. Klitorisnya yang sudah mengkilap kujilati,dan kuhisap sedangkan kedua jariku asyik memilin kedua puting payudaranya. Jenny semakin merintih tidak karuan menahan gairahnya, sedangkan aku yang sudah terbakar masih sabar memberikannya kenikmatan sedikit demi sedikit, padahal kepala senjataku sudah penuh denganpelumas yang keluar. Nafsuku memang sangat tinggi terhadap Jenny, lain sekali dengan WTS yang kukencani.

Lidahku semakin dalam menelusup ke lubang kewanitaannya. Remasan Jenny semakin kuat di rambutku. “La, gua udah nggak tahan,” suara Jenny terdengar terputus-putus, tapi aku masih terus berkutat dengan daging kecil di selangkangan Jenny. Kadang kuhisap dengan kuat. Tapi tiba-tiba saja Jenny bangkit berdiri dan mendorong tubuhku, lalu dengan rakus dijilatinya seluruh tubuhku. Puting dadaku digigit-gigit sementara tangannya terus memainkan senjataku. Dan yang paling berkesan, dengan lahapnya Jenny melumat senjataku. Dikocoknya di sela-sela giginya yang putih. Aku mencoba bertahan dari rasa nikmat yang terus mengalir ke seluruh tubuhku. Aku tak mau dicap sebagai ayam sayur.

Akhirnya Jenny sendiri yang sudah tak tahan langsung menaiki tubuhku, dan dengan sekali sentakan pinggulnya ke bawah, amblaslah seluruh senjataku ke dalam lubang kewanitaannya yang sudah basah. Aku menikmati remasan lembut di batang senjataku. Saat pinggul Jenny bergeraknaik turun, aku meremas dadanya, kadang meremas pinggulnya yang bahenol. Memang lain sekali, jepitan kemaluan Jenny terasa erat mencengkram senjataku. Aku yang selama ini hanya main dengan WTS merasakan sekali perbedaannya. semakin lama gerakan pinggul Jenny semakin kuat. Aku sudah tak tahan lagi, cepat-cepat kupegang pinggulnya, gerakannya terhenti. Lalu dengan cepat kuambil alih posisi. Kini dengan posisi di atas, aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur, sambil terus bergerak mulutku menghisap buah dadanya sedangkan tanganku yang satu memilin-milin putingnya yang satu. Ternyata jurusku cukup ampuh. Jenny menjerit lirih dan dengan hentakan keras pinggulku dan hisapan kuat di puting buah dadanya, Jenny mencapai orgasmenya. Seluruh tubuhnya bergetar halus dan mengejang kaku. Bola matanya mendelik. Aku merasakan hangat di senjataku. Aku segera memacu pantatku lebih kuat. Jenny berteriak lirih agar segera menyudahi permainan. “Achh, gua ngilu la, cepet.. keluarin… jangan di dalam yah..” Aku mengerti perkataannya. Saat aku merasakan spermaku sudah di ujung, kucabut senjataku dan dengan bantuan tanganku, muncratlah isi senjataku ke atas perutnya yang mulus.

Sejak saat itu tiap kesempatan, Jenny selalu mengundangku ke rumahnya untuk diajari matematika dan mati-matian dalam kenikmatan. Namun aku belum puas jika belum menaklukan Lisa. Aku akan terus berusaha untuk menaklukan sekaligus menyetubuhi Lisa, wanita impianku.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 3:17 pm

Sebelumnya perkenalkan namaku Rio. Sampai saat ini aku masih bekerja di salah satu perusahaan IT di Jakarta. Aku juga punya minat yang cukup tinggi dalam urusan seks. Pengalaman seks aku yang pertama kualami dengan salah satu teman chat-ku. Sejak saat itu, aku mulai ketagihan.

Biasanya aku berhubungan seks dengan wanita-wanita yang kurang lebih sebaya denganku. Kali ini aku akan cerita pengalaman seks pertamaku dengan wanita yang beda umurnya cukup jauh denganku.

Awalnya dari chatting. Suatu kali entah kenapa aku bosan dengan nick yang biasa aku pakai. Aku pun mencoba sebuah nick menarik perhatian. Nick yang menyiratkan fisik tubuhku, tapi tidak vulgar. Dari sekian banyak nick yang query aku, aku tertarik pada sebuah nick yang cukup menggoda. Jnd_37_Jkt. Aku pikir pemilik nick ini pasti seorang janda berumur 37 tahun yang tinggal di Jakarta. Aku membalas querynya.

‘hi juga, asl pls..’ balasku.
‘kan di nick udah’
‘oh iya, tapi Jnd apa tuh?’ tanyaku pura-pura bego.
‘Jendral ha3x. gak ding, janda kok’ aku tersenyum melihat kelakarnya.
‘ooo.. ic’ jawabku.
‘asl u dong’ tanya nick itu.
‘aku lebih muda gpp nih?’ aku bertanya balik.
‘gpp, justru yg muda lebih asik ’ aku tertawa dalam hati.
‘ok, 24 m jkt’ jawabku.
‘hihihi.. 24 sih lagi seger2nya tuh ’ hmm.. mulai menggoda nih. Kami pun terlibat obrolan yang mengasyikkan. Sekitar setengah jam aku chat dengannya hingga akhirnya kami bertukar nomer telepon.

Aku baru saja tiba di rumah ketika tiba-tiba ponselku berbunyi. Hmm.. nomer siapa ini. Aku langsung mengangkat.
“Halo..” sapaku.
“Rio ya? Udah pulang?” tanya suara di ujung sana yang ternyata suara seorang wanita.
“Iya, siapa ya?” tanyaku penasaran.
“Hai…” wanita itu menyebut nick yang kugunakan tadi siang.
“Tante Rissa ya?” aku mencoba menebak.

Terdengar tawa di ujung sana. Betul, Tante Rissa yang tadi siang menggunakan nick Jnd_37_Jkt. Kami pun langsung menyambung obrolan tadi siang. Dari obrolan kami yang akrab aku tahu bahwa Tante Rissa sebetulnya masih menikah. Suaminya seorang pengusaha di bidang makanan ringan yang cukup sukses. Sementara Tante Rissa sendiri aktif sebagai salah seorang manager di salah satu bank asing di Jakarta. Dan seperti cerita-cerita kehidupan kota metropolitan pada umumnya, Tante Rissa jarang sekali bisa merasakan kehangatan suaminya karena kesibukan keduanya yang bertolak belakang. Akibatnya wanita itu sering melepas kesepian dengan gigolo-gigolo simpanannya.

Malam itu kami saling bertukar cerita, dan ujung-ujungnya kami pun janjian ketemu. Tante Rissa mengajakku ketemu di Blok M Plaza. Semula aku menolak karena di Blok M cukup ramai, apalagi hari Sabtu. Tapi Tante Rissa beralasan bahwa di situ tempat yang paling aman karena kerabat-kerabatnya jarang sekali ke daerah tersebut. Akhirnya aku ok saja. Kami pun janjian bertemu Sabtu depan.

Hampir setengah jam aku menunggu di Pizza Hut sambil mataku mencari-cari wanita berkulit putih dan berambut coklat sepunggung dengan tinggi sekitar 170 cm dan berat 58 kg yang mengenakan kemeja putih tanpa lengan dan celana jeans ketat sebetis. Spaghettiku sudah tinggal separuhnya dan mulai dingin. Aku baru saja akan menyuapnya lagi ketika tiba-tiba salah seorang pelayan Pizza Hut menghampiriku dan memberikan secarik kertas. Dia menggeleng ketika aku tanya dari siapa kertas tersebut. Penuh penasaran aku membukanya.

‘CARI SIAPHAAA…? I’M BEHIND YOU MY BOY’ aku terkejut dan langsung menoleh ke belakangku. Kira-kira 2 meja di belakangku, aku melihat satu meja yang ditempati 2 orang wanita. Salah satu dari wanita itu melambai ke arahku sambil tersenyum. Aku memperhatikannya dengan cermat. Wanita itu persis sekali dengan ciri yang disebutkan Tante Rissa saat di telepon beberapa hari lalu. Itu pasti dia!! Tapi yang satu lagi siapa ya? Tanpa pikir panjang aku menghampiri meja tersebut, dan wanita yang melambaikan tangan padaku langsung berdiri menyambutku.

“Halo sayang..” sambut wanita yang ternyata memang Tante Rissa itu seraya mencium kedua pipiku. Aku membalasnya dengan mesra.
“Tante iseng banget sih.. udah nunggu dari tadi juga, untung nggak pulang.” aku pura-pura merajuk. Tante Rissa tersenyum sambil mengacak-acak rambutku.
“Eeh.. nggak takut rugi kalo pulang nih? Ada yang mau kenalan sama kamu tuh..” cetusnya sambil melirik ke wanita yang ada di sebelahnya. Kami pun berkenalan. Tante Emma, wanita yang dimaksud ternyata adalah tetangga Tante Rissa. Dari obrolan kami, aku tahu kalau mereka bernasib sama dalam urusan rumah tangga, dan seringkali hunting bareng mencari gigolo-gigolo yang siap memuaskan nafsu mereka.
“Gila, Tante pikir nick kamu itu cuma boongan doang..” cetus Tante Rissa sedikit kagum pada tubuhku. Sebetulnya tubuhku tidak atletis seperti tubuh-tubuh idaman wanita. Mungkin dengan tinggi badanku yang 182 cm dan berat sekitar 78 kg aku jadi terlihat tinggi besar.
“Iya nih Yo, gara-gara cerita kamu waktu di telepon, Emma jadi kepengen ketemu juga sama kamu.” kata Tante Rissa. Aku mengernyitkan kening.
“Cerita? Wah, Tante pake cerita-cerita segala sih sama Tante Emma. Kan jadi…”
“Siapa yang cerita, lha wong kamu sendiri yang cerita sama kita..hihihi.” aku semakin tidak mengerti dan menatap Tante Rissa penuh tanya. Wanita itu tersenyum.
“Gini lho sayang, waktu kamu telepon kemaren itu Emma juga ada di rumah Tante, jadi kita berdua asyik deh denger cerita kamu yang hot itu hahaha..” aku langsung mencubit pinggang Tante Rissa gemas.

Ternyata sejak awal mereka sudah berniat ngerjain aku. Akhirnya kami bertiga langsung cabut ke rumah Tante Rissa yang sedang sepi. Sampai di rumah Tante Rissa kami bertiga langsung menuju ke kamar tidur. Aku baru saja ingin menghempaskan tubuhku di ranjang ketika Tante Emma memeluk tubuhku dari belakang dan menciumi leherku.

“Enak aja kamu dateng-dateng mau istirahat.. pemanasan dulu ah hihihi..” celetuk Tante Emma. Dari belakang tubuhku, jemari lentik wanita itu masuk dari sisi kiri-kananku dan langsung melepas kancing kemejaku satu demi satu. Sementara Tante Rissa dari depan merangkul leherku dan mengecup bibirku.
“Mmhhh.. ayo Yo, kita pengen coba permainan kamu… hhmmmmmhhh…” Tante Rissa melumat bibirku dengan bibir tipisnya yang tersapu lipstik warne merah muda. Ahh.. lembut sekali bibirnya. Aku mencoba mengimbanginya, lidahku menjelajahi mulut Tante Rissa.

Sementara Tante Emma baru saja berhasil melepaskan kemeja yang membalut tubuhku. Tante Rissa langsung menghentikan ciumannya dan lidahnya mulai menjelajah leher, dada dan perutku. Di belakang Tante Emma memandikan punggungku dengan lidah dan air liurnya. Gairahku mulai naik. Tante Rissa semakin turun ke bawah dan bibirnya sampai ke batas celanaku. Dengan cekatan jemarinya yang lentik mencopot kancing celana jeansku dan melorotkannya ke bawah. Kemudian dengan liar lidahnya membasahi celana dalam yang membungkus batang penisku.

Aku tidak menyadari sejak kapan Tante Emma melepas kaus ketatnya, tiba-tiba saja aku merasakan ada dua gumpalan lembut yang hangat menempel di punggungku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Tante Emma sedang menggesek-gesekkan payudaranya yang bulat dan montok di punggungku. Kedua bibir sexynya yang berlapis lipstik merah bata terbuka seakang mengundang bibirku untuk melumatnya.

“Mmhh… sslllppp… mmmm….” tanpa pikir panjang aku langsung melumat bibir sexy itu. Kedua tangan Tante Emma yang lembut menjelajahi dadaku yang telah basah oleh air liur Tante Rissa.
Di bawah sana Tante Rissa telah berhasil melucuti celana dalamku, hingga batang penisku yang berukuran biasa saja itu terlihat jelas menantang. Tante Rissa menggenggam batangnya dengan tangan kirinya, sementara kepala penisku diusap-usap dengan jemari tangan kanannya yang lembut sambil sesekali dijilati. Ssshh.. nikmat sekali.

Tante Emma mengajakku berbaring di ranjang agar kami bisa leluasa bercumbu. Aku dan Tante Emma pun berbaring di ranjang dengan setengah kakiku masih menjulur ke lantai. Sambil berciuman, kedua tanganku aktif meremas-remas payudara Tante Emma yang montok. Tante Emma memelukku erat-erat. Bibir kami tak henti-hentinya saling melumat.
Tante Rissa semakin asyik dengan batang penisku yang mulai mengeras. Dijelajahinya setiap centi penisku dengan lidah dan bibirnya. Ughh.. sampai akhirnya penisku amblas di mulutnya yang hangat dan basah. Kepala Tante Rissa naik-turun seiring kenikmatan yang diberikannya lewat mulut. Sementara kedua tangannya menjelajahi pinggangku.

Bosan dengan bibir Tante Emma, lidahku mulai menjalar ke leher dan telinga. Aku mengulum telinga wanita itu yang putih bersih. Tante Emma sampai meremas rambutku karena keasyikkan. Aku terus menjelajahi tubuhnya dengan lidahku, sampai akhirnya aku mulai melumat kedua payudara dan putingnya.

“Ssshh..oohhh…Riooo..terussss Yoo…” tubuh Tante Emma mulai menggelinjang menahan kenikmatan yang kuberikan. Aku tidak peduli. Lidahku semakin liar menjilati dan mengulum putting susunya yang runcing. Kadang aku menggigitnya dengan gemas. Tante Emma memeluk kepalaku rapat ke payudaranya. Huuff.. hampir sesak nafas aku dibuatnya.
Tanpa aku sadari, Tante Rissa sudah melucuti pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat.

Wanita itu kelihatan gemas sekali dengan penisku. Padahal ukurannya biasa saja. Dibanding gigolo-gigolo simpanannya pasti penisku tidak ada apa-apanya. Tapi Tante Rissa bernafsu sekali menjilat, mengulum dan mengisap penisku. Hingga akhirnya wanita itu mulai tidak tahan dan tiba-tiba sudah berdiri mengangkangi tubuhku. Tante Rissa berdiri dengan lututnya dan mulai merendahkan badannya. Sebelah tangannya menggenggam batang penisku yang memang sudah keras dan basah oleh air liurnya. Tante Emma yang mengetahui hal itu langsung mengambil alih, tangannya menggenggam batang penisku yang semula digenggam Tante Rissa. Sementara kini kedua tangan Tante Rissa yang lembut bertopang di atas dadaku.

Perlahan-lahan tubuh Tante Rissa semakin turun, dan aku mulai merasakan bibir kemaluannya menyentuh ujung penisku. Hhh… kepala penisku mulai masuk sebagian ke dalam vagina Tante Rissa yang sedikit basah, dan… bleeesssss!!! Amblas sudah penisku di dalam liang kenikmatan itu. Tubuh Tante Rissa naik-turun seiring kenikmatan yang kami nikmati bersama.

Sementara Tante Emma langsung menyodorkan selangkangannya di wajahku. Lidahku langsung sigap melumat klitoris Tante Emma yang mulai basah. Posisi Tante Emma berhadapan dengan Tante Rissa, sehingga mereka berdua menindihku sambil berciuman. Aku tak bisa melihat karena wajahku tertutup kemaluan Tante Emma, tapi dari suara mereka aku tahu betul bahwa mereka tengah berciuman dengan penuh gairah.

Tak lama kemudian aku mulai merasa dinding vagina Tante Rissa mulai berdenyut-denyut. Tubuh wanita itu mulai menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat. Tante Emma kini tidak mencumbu bibir Tante Rissa lagi, tapi menunduk ke arah penisku dan vagina Tante Rissa yang sedang asyik menyatu. Tante Emma menjilati kemaluan kami bergantian. Akkhh.. semakin nikmat saja rasanya.

“Ssshhh… Riiiooo…. aaahhhhh…” Tante Rissa mencapai klimaksnya. Penisku banjir oleh lendir kenikmatan yang mengalir dari dalam vaginanya. Ayunan tubuhnya semakin pelan. Kemudian wanita itu mencabut penisku dari vaginanya dan memberi tempat untukku dan Tante Emma melanjutkan permainan.

Tante Emma rupanya menginginkan posisi lain. Wanita itu mengambil posisi nungging di atas ranjang. Dengan gairah yang masih penuh, aku menghampiri liang kemaluan yang menantang itu. Perlahan aku arahkan penisku yang semakin keras ke dalam vagina Tante Emma. Slllpp… bbleeesss… Vagina Tante Emma yang basah betul-betul menelan penisku. Pantatku maju-mundur memberikan kenikmatan untuk Tante Emma. Sementara kedua tanganku asyik meremas kedua payudaranya yang bulat dan montok itu.

“Aakhh.. Yoo.. sshhh.. sshhh…. ooohhhh….” Tante Emma merintih menahan rasa nikmat yang kuberikan. Hmmm… liang kemaluan Tante Emma betul-betul mencengkeram penisku. Nikmat sekali rasanya. Tadinya kupikir ibu-ibu seperti mereka liang vaginanya sudah lebar, tapi Tante Emma dan Tante Rissa kok masih sempit ya.

Tubuh Tante Emma mulai menggeliat-geliat. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya hingga kami berdua melakukannya dengan posisi menyamping. Kemudian tubuh kami berguling hingga tubuh Tante Emma kini berada di atas tubuhku. Kemudian wanita itu bangkit tanpa melepas vaginanya dari penisku. Lantas Tante Emma berputar, aahhhh….aku merasa penisku dipelintir di dalam vagina Tante Emma, nikmat sekali. Akhirnya aku ‘terjebak’ dengan posisi woman on top. Tante Emma tidak menaik-turunkan tubuhnya tapi memutar pinggulnya. Uugghhh.. gila, enak sekali. Aku sampai mengejang menahan rasa nikmat.

Tubuhku pun ikut bangkit untuk memeluk tubuh montok Tante Emma. Bibirku melumat kedua putting payudaranya untuk menambah birahinya.
“Sshh… Riiooo… aakkhh..” Tante Emma mengerang menahan nikmatnya. Tante Emma mendorong tubuhku hingga terebah, dan wanita itu kembali memutar tubuhnya membelakangi aku. Kemudian Tante Emma itu kembali merundukkan tubuhnya tanpa melepas penisku dari dalam vaginanya. Otomatis tubuhku mesti bangkit lagi, dan kami kembali dalam posisi doggie style. Ugghhh… pantatku kembali mengayunkan rasa nikmat di vagina Tante Emma.

Tiba-tiba dari arah belakang aku merasakan sesosok tubuh yang mulus merapati punggungku. Akkhh.. Tante Rissa yang sudah kembali bergairah memelukku dari belakang. Hhhgghhh.. birahiku semakin naik ke ubun-ubun. Tubuhku menggelinjang di pelukan Tante Rissa. Tanpa sadar ayunan pantatku semakin cepat. Aku merasa tubuh Tante Emma juga bergoyang menahan rasa nikmat.

“Sshhh…. aaaaaahhhh… Riiiooo….. bentar lagi nih…” Tante Emma mendesah. Aku berusaha bertahan untuk menunjukkan keperkasaanku. Tapi gangguan Tante Rissa yang menjilati telinga dan tengkukku membuatku tak kuasa menahan birahi.
“Aaaahh… Yooo..” Tante Emma mencapai klimaks. Aku mencoba bertahan, namun rembesan lendir dari dalam vagina Tante Emma yang membasahi penisku membuat tubuhku tak kuasa menahan nikmat. Crrooottt.. ccrrott… crooot.. ccroottt.. ccrroott… sekitar lima kali penisku menyemburkan sperma kuat-kuat ke dalam vagina Tante Emma. Kedua tanganku meremas pinggang Tante Emma. Sementara dari belakang Tante Rissa mendekap tubuhku erat-erat.

Itu untuk pertama kalinya aku berbagi kenikmatan birahi dengan wanita yang jauh lebih tua dariku. Hari itu kami bersenang-senang dua kali lagi. Sorenya aku terpaksa harus meninggalkan rumah Tante Rissa, karena anaknya sudah pulang. Tapi Tante Emma mengajakku untuk bermalam di rumahnya. Dan malam itu aku dan Tante Emma bersenang-senang sampai pagi. Ternyata Tante Emma memiliki banyak sekali sex toy di rumahnya. Aku betul-betul enjoy malam itu karena Tante Emma memperkenalkanku dengan banyak variasi permainan seks.

Sejak saat itu aku sering melayani nafsu birahi mereka mereka. Kadang berdua, kadang bertiga. Namun sepeser pun aku menolak dibayar, karena aku melakukannya atas dasar suka dan fun saja. Dari Tante Rissa aku mendapat beberapa kenalan wanita teman-teman kantornya yang juga kesepian, dan kadang aku juga diminta melayani nafsu mereka. Kalau dari Tante Emma, aku dikenalkan pada adik iparnya yang baru berumur 32 tahun, namanya Leni.

Tante Leni belum menikah dan masih virgin. Namun wanita ini cukup nakal dalam urusan seks. Lucunya aku sering diminta Tante Leni untuk memuaskan hasratnya tapi hanya sebatas petting dan oral seks. Ternyata Tante Leni punya gank dari teman-teman kerjanya yang sama-sama masih perawan, tapi punya minat yang tinggi dalam urusan seks. Kadang aku diajak berpesta dengan mereka, tapi hanya sebatas petting dan oral. Lucu juga, tapi kadang bete. Habis kadang kalau birahiku sudah ke ubun-ubun aku sudah nggak tahan lagi. Kalau sudah begitu, selesai berpesta dengan mereka aku suka menghubungi Tante Emma untuk melanjutkan kenikmatanku yang tertahan.

Mungkin lain kali aku akan cerita tentang pengalamanku dengan Tante Leni. Buat teman-teman yang mau berbagi pengalaman denganku silakan saja kontak via email.

Akibat Pergaulan Bebas 3:16 pm

Aku masih duduk di bangku SLTP saat itu. Di saat aku dengan teman-teman yang lain biasa pulang sekolah bersama-sama. Usiaku masih terbilang hijau, sekitar tiga belas tahun. Aku tidak terlalu tahu banyak tentang wanita saat itu. Di kelas aku tergolong anak yang pendiam walaupun sering juga mataku ini melirik pada keindahan wajah teman-teman wanita dikelasku waktu itu.
Aku memang tidak seperti David, salah satu temanku yang biasa pulang bersama-sama selepas sekolah usai. Walaupun kulitnya terbilang gelap, hidung besar dan pesek tapi pengetahuannya tentang wanita terbilang banyak. Terlebih mengingat usianya yang hanya terpaut tiga bulan lebih muda dariku.

Temanku yang satu ini tergolong pria playboy. Pacarnya banyak, sering gonta-ganti. Hampir tiap minggu selalu tampil cewek dengan wajah baru disampingnya. Gila memang, walaupun secara jujur buatku seleranya sangat berbeda. Aku senang dengan cewek yang kalem, seperti putrid solo layaknya dengan wajah manis bersahaja. Biasa-biasa saja. Sementara David senang dengan cewek yang agresif dan periang, wajah rupawan bak-Tamara Blezinsky layaknya.

Hal ini jugalah yang membawa aku dan teman-teman yang lain kedalam sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi kami saat duduk dibangku SLTP dulu.
Semuanya bermula dari selera siplayboy David terhadap perempuan. Kebiasaannya untuk tak melewatkan barang sedetikpun perhatiannya terhadap keindahan wanita membawa aku, Syarif dan Bagong kesebuah rumah di komplek pemukiman Griya Permai. Komplek perumahan yang biasa kami lewati saat pulang menuju kerumah masing-masing.
Mulanya aku dan Bagong sedang asyik bercanda, tertawa cekikikan seperti biasa sementara Syarif mendengarkan dengan wajah dingin membeku. Secara tiba-tiba David menepuk pundakku dengan keras. Matanya tertuju kesatu rumah dengan tajamnya. Ternyata disana kulihat ada seorang wanita dengan mengenakan rok mini baru saja keluar meninggalkan mobilnya untuk membuka pintu pagar rumah.

“Heh, vid. Kenapa sih elu tiap lihat perempuan mata elu langsung melotot kayak begitu ?” tegurku.
“Elu itu buta ya, mam. Elu kagak lihat bagaimana bongsornya bodi tuh wanita ??” balasnya cepat.
“David, david.. bisa-bisanya elu nilai perempuan dari jarak jauh begini-ini” sambung Bagong “Itu mata.. apa teropong”
“Wah, kalau untuk urusan wanita kita nggak pake mata lagi, men. Nih, pake yang disini nih.. dibawah sini” jawab David sambil menunjuk-nunjuk kearah kemaluannya.
“Kalau gua udah ngaceng, perempuan diseberang planet juga bisa gua lihat” kata David dengan senyum penuh nafsu.
“Jadi sekarang elu lagi ngaceng, nih ?!” tanya Syarif yang sedari tadi hanya bisa tenggelam dengan pikiran-pikirannya.
“So pasti, men. Nih kontol udah kayak radar buat gua. Makanya gua tahu disana ada mangsa” jawab David dengan lagi-lagi menunjuk ke arah kemaluannya.
“Gila lu, vid” kataku.
“Ha-alah, enggak usak munafik deh mam, elu juga ngaceng kan, waktu melihat roknya siDina kebuka di kelas. Gua kan tau… elu juga kan gong ?” balas David cepat.
“yah, itu kan kebetulan. Bukannya dicari, ya kan mam ?” tanya Bagong kepadaku.

Aku sendiri hanya bisa tersipu malu mendengarnya. Didalam hati aku memang mengaukui kalau saat itu paha Dina yang panjang dan mulus telah membuat tongkat kemaluanku berdiri tegak tanpa bosan. Aku memang sering mengamati paha siDina teman kelasku dulu secara sembunyi-sembunyi.
“Sekarang begini aja” ujar David kemudian “Elu pada berani taruhan berapa, kalau gua bisa masuk kerumah tuh wanita ?”
“Elu itu udah gila kali ya, vid. Elu mau masuk kerumah itu perempuan ??” jawabku cepat.
“Udah deh.. berapa ? Goceng ??”tantangnya kepada kami. Sejenak aku, Bagong dan Syarif hanyut dalam kebingungan. Teman kami yang satu ini memang sedikit nekat untuk urursan wanita.
“Boleh” jawabku pendek.
“Goceng ??”potong Bagong cepat “Wah gua udah bisa beli mensen tuh”
“Ha-alah, bilang aja kalau elu takut jatuh miskin. Iya kan, gong ?” balas David dengan sedikit menekan.
“Siapa bilang, kalau perlu, ceban juga hayo” jawab Bagong tak mau kalah.
“Oke, oke.. heh, heh, heh. Sekarang tinggal elu nih, rif. Kalau melihat tampang elu sih, kayaknya gua ragu”
“Heit tunggu dulu” ujar Syarif. Dia langsung cepat-cepat merogoh kantong celananya. Selembar uang kertas lima ribuan langsung dikibas-kibaskan didepan kedua mata David.
“Gua langsung buktikan aja sama elu.. nih”
“Oke. Sekarang elu pada buka tuh mata lebar-lebar” kata David kemudian.

David langsung berjalan menuju kerumah yang dimaksud. Tampak disana sang pemilik rumah telah memasukkan mobilnya. Saat ia hendak menutup pagar, aku lihat David berlari kecil menghampirinya. Disana kulihat mereka sepertinya sedang berbicara dengan penuh keakraban. Aneh memang temanku ini. Baru saja bertemu muka dia sudah bisa membuat wanita itu berbicara ramah dengannya, penuh senyum dan tawa.

Dan yang lebih aneh lagi kemudian, beberapa saat setelah itu David melambaikan tangannya kearah kami bertiga. Dia mengajak kami untuk segera datang mendekatinya. Setelah beberapa langkah aku berjalan, kulihat David bahkan telah masuk ke pekarangan rumah menuju ke pintu depan rumah dimana wanita itu berjalan didepannya. David memang memenangkan taruhannya hari itu. Di dalam rumah kami duduk dengan gelisah, khususnya aku. Bagaimana mungkin teman kami yang gila perempuan ini bisa dengan mudah menaklukkan wanita yang setidaknya dua puluh tahun lebih tua usianya dari usia kami. Sesaat setelah David selesai dengan uang-uang kami ditangannya, akupun menanyakan hal tersebut.

“Gila lu, vid. Elu kasih sihir apa tuh wanita, sampai bisa jinak kayak merpati gitu ??” tanyaku penasaran.
“Heh, heh, heh.. kayaknya gua harus buka rahasianya nih sama elu-elu pada” jawabnya.
“Jelas dong, vid. Goceng itu sudah cukup buat gua ngebo’at. Elu kan tahu itu” tambah Bagong lagi.
“Begini. Kuncinya itu karena elu-elu semua pada blo’on” jelas David serius.
“Apa maksudnya tuh !” tanya Syarif cepat.
“Iya, elu-elu pada blo’on semua karena elu-elu kagak tahu kalau perempuan itu sebenarnya tante teman gua.. Ferdi” tambahnya lagi.
“Ferdi, anak kelas satu A” tanyaku pensaran.
“Ketua OSIS kita, vid ??” tambah Bagong lagi.
“Betul. Nah dia itu punya ibu, ibunya punya abang.. nah perempuan ini adalah istrinya”
“Wah, sialan kita sudah dikadalin nih sama… playboy cap kampak” kata Bagong.
“Itu kagak sah, vid. Itu berarti penipuan”sambung Syarif.
“Itu bukan penipuan. Kalau elu tanya apa gua kenal kagak sama tuh perempuan, lalu gua jawab enggak.. itu baru penipuan” jelas David.

Aku mencium bau pertengkaran diantara teman-temanku saat itu sehingga akupun tidak ingin menambahinya lagi. Terlebih, tidak lama kemudian wanita yang kemudian kami tahu bernama Susan itu, datang dengan membawa minuman segar buat kami.
“Ada apa kok ribut-ribut. Kelamaan ya minumannya ?” tanya tante Susan. Suaranya terdengar renyah ditelinga kami dan senyumannya yang lepas membuat kami berempat langsung terhenyak dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
“Ah, nggak apa-apa tante” jawab Bagong.
David yang duduk disebelahnya terlihat serius dengan pikirannya sendiri. Baju t-shirt yang dikenakan tante Susan memiliki belahan dada yang rendah sehingga disaat beliau membungkuk menyajikan gelas kepada kami satu-persatu, David terlihat melongok-longokkan kepalanya untuk dapat melihat isi yang tersembunyi dibalik pakaian beliau saat itu. Aku sendiri bisa menyaksikannya, kedua payudara beliau yang besar, penuh berisi. Menggelantung dan bergoncangan berulangkali disetiap ia menggerakkan badannya.

“Ini tante buatkan sirup jeruk dingin untuk kalian, supaya segaran” jelas tante Susan ”Hari ini panasnya, sih”
Saat tante Susan selesai dengan gelas-gelasnya, iapun kembali berdiri tegak. Keringat yang mengucur deras dari kedua dahinya memanggil untuk diseka, maka beliaupun menyekanya. Tangan beliau terangkat tinggi, tanpa sengaja, ketiak yang putih, padat berisi terlihat oleh kami. Beberapa helai bulunya yang halus begitu menarik terlihat. Jantungku terasa mulai cepat berdetak. Karena saat itu juga aku tersadarkan kalau dibalik pakaian yang dikenakan tante Susan telah basah oleh keringat. Lebih memikat perhatian kami lagi, disaat kami tahu bahwa tante Susan tidak mengenakan BH saat itu.

Kedua buah putting susunya terlihat besar menggoda. Mungkin karena basah keringatnya atau tiupan angin disiang hari yang panas, membuat keduanya terlihat begitu jelas dimataku. Aku sendiri tidak ambil pusing dengan lingkungan disekitarku karena tongkat kemaluanku telah berdiri keras tanpa bosan. Rasanya aku ingin sekali melakukan onani bahkan, kalau mungkin, mengulum kedua puting susu beliau yang menantang dengan berani.
“Tante habis mengantar om kalian ke bandara hari ini. Jadi tante belum sempat beres-beres ngurus rumah” katanya lagi.
Ditengah pesona buah dada yang menggoda nafsu birahiku, perhatianku terpecah oleh tangisan suara bayi. Aku baru tahu kemudian, bahwa itu adalah anak tante Susan yang pertama. Beliaupun terpanggil untuk menemuinya dengan segera.

“Kalian minum dulu, ya. Tante kebelakang dulu.. oh, iya David. Mungkin Ferdi datang agak terlambat karena dia sedang ada rapat OSIS”
“Iya tante. Nggak apa-apa. Kami tunggu aja deh” kata David.
Hanya selang beberapa menit kemudian, tante Susan sudah menemui kami kembali di ruang tamu. Namun satu hal yang membuat kami terkejut kegirangan menyambut kedatangannya dikarenakan beliau terlihat asyik menyusui bayinya saat itu. Bayi yang lucu tetapi buah dada yang menjulur keluar lebih menyilaukan pandangan jiwa muda kami berempat.

Tante Susan terlihat tidak acuh dengan mata-mata liar yang menatapi buah dada segar dimulut bayinya yang mungil. Ia bahkan terlihat sibuk mengatur posisi agar terasa nyaman duduk diantara David dan Bagong saat itu.
“Bagaiman sirup jeruknya, sudah diminum ?” tanya tante Susan cepat.
“Sudah , tante” jawab David pendek. Matanya menatap tajam kearah samping dimana payudara tante Susan yang besar dan montok terlihat tegas dimatanya.
“Ini namanya Bobby” jelas tante Susan lagi sambil menatap anak bayinya yang imut itu “Usianya baru sembilan bulan”
“Wah, masih kecil banget dong tante” balas David.
“Iya, makanya baru boleh dikasih susu aja”
“ASI ya, tante ?” tanya David polos.
“Oh, iya. Harus ASI, nggak boleh yang lain” jelas beliau dengan serius.
“Kalau orang bilang susu yang terbaik itu ASI, tante ?”
“Betul, David. Dibandingkan dengan susu sapi misalnya. Ya, susu ibu itu jauh lebih bergizi.. heh, heh, heh” tambah tante Susan penuh yakin.
“Ibu saya juga suka bikinkan saya susu setiap pagi, tante” kata David menjelaskan.
“Oh, iya… bagus itu”

Tante Susan diam sejenak. Beliau memperhatikan bayinya yang sudah mulai terlihat tidur. Namun David terlihat mulai berharap sesuatu yang lain dari payudara beliau yang besar menggoda.
“Tapi susu yang saya minum setiap hari.. ya, susu sapi tante” sambung David lagi penasaran. Sementara tante Susan masih terlihat sibuk dengan bayinya . Namun beberapa saat setelah itu beliau mengatakan sesuatu yang mengejutkan kami.
“Susu ibu tetap lebih bagus. Bahkan di India ada yang bisa menyusui anaknya hingga berusia sepuluh tahun”
“Wah, asyik juga tuh” sela Bagong cepat.
Tante Susan, dengan sekonyong-konyong, menarik bagian sisi bajunya dimana buah dadanya yang masih tertutup, tersingkap lebar. Buah dada beliaupun melejit keluar dengan cepat. Kami berempat dibuat terkesima olehnya. Ini adalah pengalaman yang paling heboh dalam sepanjang sejarah hidup kami saat itu.

“Tuh, kamu bisa mencobanya” kata tante Susan kepada Bagong yang duduk disamping beliau. Puting susu berwarna merah delima terlihat menonjol kearahnya. Bagongpun tanpa berfikir panjang menyentuh payudara beliau dengan perlahan.
“Ayo ! jangan lama-lama, tante nggak punya banyak waktu” tegur beliau mengingatkan.
Bagongpun meremas buah dada beliau serta mulai berani memainkan putting susunya dengan beberapa gerakan memelintir.
“Pentilnya nggak usah dipencet-pencet lagi. Udah keluar kok. Kamu coba langsung menghisapnya kayak anak tante ini” jelas beliau lagi.
“”Iya, gong. Elu ‘ngerti kagak caranya netek ?! Kayak gini nih..” sela David cepat dan langsung mengatupkan mulutnya ke puting susu beliau yang merah merona itu.
“Akh, David.. aduh, pelan-pelan yah” kata tante Susan kaget.

Saat itu, hari yang sesungguhnya telah dimulai. Tante Susan menggilir kami satu persatu untuk disusui olehnya. Anaknya yang masih orok bahkan dibaringkan diatas sofa yang kosong untuk lebih mempermudah beliau menyusui anak angkatnya saat itu. Aku si-pengintip, David si-gila dan Syarif yang berdarah dingin serta tentu saja Bagong si-pemabuk, memulai hari pertama pendidikan ekstra kurikuler kami saat itu. Karena semenjak hari baik itu, pada setiap hari-hari tertentu dalam seminggu kami pasti berkunjung kerumah tante Susan.

Dirumah tante Susan, beliau senantiasa menyambut kami dengan ramah dan penuh perhatian. Beliau tidak pernah mengecewakan kami. Menyusui kami dengan sabar satu persatu. Himgga kami tamat menyelesaikan pendidikan kami ditingkat SLTP, tante Susan meyakinkan kami bahwa kami sudah saatnya untuk mandiri. Dan memang kamipun merasa demikian. Setamat SLTP kami berempat berpisah dibanyak SLTA. Namun persahabatan kami tetap ada walau dibatasi oleh banyak kesibukan masing-masing. Sekarang, David telah menjadi seorang pengacara dari salah satu koruptor kelas wahid di negeri kita ini. Syarif menjadi salah seorang penceramah kondang yang keluar masuk televisi tetapi yang paling mengesankan menurutku adalah Bagong. Sekarang Bagong telah menjadi ketua partai terkenal yang sangat anti-KKN. Aku sendiri sekarang bekerja sebagai salah satu reporter berita dari sebuah stasiun televisi swasta terkemuka di Indonesia.

Itu semua, kami yakini berkat “susu” tante Susan yang telah kami terima disaat duduk dibangku SLTP dulu.
Terima kasi tante Susan.

Akibat Pergaulan Bebas 3:14 pm

Namaku sebut saja Handy (nama samaran) atau lebih sering disebut sebagai Andy. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, orangtuaku berasal dari daerah timur (Flores) sehingga maklum kalau penampilanku berkesan hitam namun macho seksi dan gagah perkasa (setidaknya itu kalimat pujian yang sering di ucapkan oleh para wanita yang pernah tidur denganku). Tinggi tubuhku sekitar 185-an dengan berat sekitar 80 Kg lengkap dengan gumpalan otot yang keras di sekujur lengan, dada dan bagian tubuhku yang lainnya, termasuk alat kelaminku yang berdiameter besar dan sangat keras, kokoh dan berurat. Potongan rambutku tipis klimis sehingga berkesan seperti Anggota ABRI saja, namun demikian aku memotong rambutku tipis supaya tidak terlalu kentara potongan rambut asliku yang agak keriting.

Aku adalah alumni salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di kota kembang, dan aktif dalam perkumpulan pencinta alam tatkala tengah menuntut ilmu pada masa perkuliahan dulu. Di ruang senat fakultasku, aku sering menghabiskan waktuku dengan kegiatan keorganisasian mahasiswa sekaligus untuk menjalin keakraban dengan para mahasiswi yang memang cantik-cantik itu. Ya bisa dikata sambil menyelam minum greenspot deh ha.. ha.. ha..

Di antara para mahasiswi itu aku mengenal beberapa yang tergolong cantik dan sexy salah satunya bernama Hera dari FISIP dan satunya lagi bernama Lie Chun anak Fakultas Ekonomi jurusan akuntansi. Keduanya tergolong makhluk langka di kampusku karena selain keturunan tionghoa mereka juga sangat cantik, bertubuh sexy putih dan mulus, terlebih bentuk tubuh mereka yang sangat kencang dan proporsional sehingga tidak salah jika banyak jejaka yang berlomba untuk menaklukan hati mereka. Di banding dengan fisikku, tubuh mereka berdua tergolong mungil meskipun mereka sendiri memiliki tinggi tubuh sekitar 170-an. Hera memiliki face dan fisik mirip seperti Kaori Shimamura sedangkan Lie Chun mirip seperti Vivian Chow namun lebih lembut dan manis.

Pada suatu pagi cerah di bulan Juli sehari sesudah ujian semesteran, kelompok pencinta alam di kampus kami mengadakan acara pendakian dan kemping bersama untuk semua mahasiswa dan mahasiswi baik yang ikut dalam kegiatan pencinta alam maupun bukan. Hera sebagai salah satu aktivis organisasi pencinta alam di kampusku getol mengajak teman-teman kostnya yang kebetulan satu kampus agar ikut dalam kegiatan tersebut, Lie Chun sebagai salah satu mahasiswi perantauan asal Jakarta (seperti Hera) nampaknya tertarik mengikuti acara tersebut. Hal ini agak mengherankan karena berbeda dengan Hera, Lie Chun kurang akrab dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, banyak yang mengatakan bahwa ia tergolong anak Mami yang sehabis kuliah langsung pulang.

Namun demikian aku selaku panitia koordinator acara tidak mempersoalkan masalah tersebut, bahkan kuanggap hal itu membantu mensukseskan acara tersebut karena otomatis peserta terutama kaum pria menjadi lebih banyak yang mendaftar untuk ikut. Dan tepat seperti dugaanku, pagi itu peserta yang datang membludak bahkan nyaris melampaui dari jumlah yang telah kami perkirakan (karena ada beberapa yang terlambat mendaftar sehingga kami salah menghitung kapasitas angkutan yang telah di siapkan). Namun demikian berkat kesigapan panitia bagian transportasi, segala urusan dapat di selesaikan dengan baik.

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih selama satu jam rombongan pun dapat segera berangkat menggunakan beberapa truk carteran milik salah satu kesatuan militer yang berada di daerah Bandung. Selama perjalanan tak henti-hentinya candaan dan senda gurau riuh rendah memenuhi truk-truk tersebut apalagi dalam perjalanan tersebut rombongan antara mahasiswi dan mahasiswa bercampur baur dengan alasan agar ada yang dapat menjaga keselamatan para mahasiswi tersebut dan juga agar perjalanan tidak terasa jenuh.

Sesampainya di kaki gunung, rombongan mendapat petunjuk singkat dari diriku selaku panitia dan sesudahnya kami pun segera berangkat menuju salah satu bumi perkemahan yang terletak tak jauh dari lokasi tempat kendaraan kami berhenti. Sesudah selesai mendirikan tenda, kami pun beristirahat dan berbenah serta bersenda gurau guna menghilangkan kepenatan selama dalam perjalanan. Kesempatan ituku pergunakan guna berbincang-bincang dengan para panitia lainnya termasuk Hera guna mengkoordinir langkah selanjutnya yang akan ditempuh. Setelah segala urusan kepanitiaan tersebut usai, kami para panitia pun membubarkan diri dan turut beristirahat. Aku sengaja beristirahat agak jauh dari yang lainnya karena selain tidak ingin terganggu, juga karena agak lelah akibat perjalanan dan persiapan acara tersebut.

Sedang asyik-asyiknya aku duduk santai di depan tenda besar milikku, tiba-tiba Hera datang menghampiri diriku. Dan menyodorkan makanan kecil ke hadapanku.

“And, ini gue ada cemilan kamu mau nggak?”

Aku yang sudah agak sedikit lapar langsung saja memasukkan tanganku dan meraup agak banyak potatoes chips tersebut. Hera pun lantas ikut duduk di sisiku di atas tikar yang kugelar di depan tenda. Sambil asyik makan, sesekali Hera menoleh mengamati diriku, meskipun aku agak cuek terhadap dirinya, namun lantaran terus di amati demikian aku pun merasa risih, lantas aku pun bertanya.

“Ada apa sich Ra? Koq kamu ngeliatinnya seolah-olah aku ini makhluk planet gitu? Dari tadi kamu terus ngamatin aku, emang gue manimal yach yang lagi ganti-ganti wujud?” ujarku sambil tersenyum.
Hera pun turut tersenyum, lantas berkata, “Ah.. Enggak koq And. Nggak ada apa-apa koq, gue cuman takjub aja kalau kamu bisa cool gitu, biasanya cowok tuh kalau ada banyak cewek ngumpul suka gimana gitu, rada-rada over acting lah, ini kamu malah asyik sendiri di kejauhan”.
“Ohh.. Itu sich emang aku yang kurang suka begitu koq, lagian aku juga rada capek” ujarku.

Lalu kami terdiam agak lama. Lantas tiba-tiba Hera memecah kesunyian sambil berkata, “And, kamu.. Sebenarnya sudah punya cewek belum sich? Koq anak-anak banyak yang naksir kamu, tapi kamunya cuek bebek githu?” ujarnya sambil menatap dalam wajahku.
Aku menoleh padanya lantas berkata, “Ahh.. Enggak ah.. Emang aku lagi malas koq mikirin urusan gituan, lagian mana ada waktu lagi buat urusan kampus kalau sudah punya cewek, berapa banyak sich cewek yang bisa ngerti kesibukanku Ra? Paling-paling pertamanya aja bilang ngerti, nanti kalau dach lamaan dikit juga nuntut ini-itu dan mulai larang-larang.” sahutku asal-asalan.

Mendadak obrolan kami terpecahkan oleh kehadiran Lie Chun dari belakang tendaku yang terletak agak naik sedikit ke arah bukit, rupanya anak itu habis jalan-jalan ke atas sebentar.

“Nah yach berduaan aja, rupanya berduaan emang sudah janjian nich.” ujarnya sambil tersenyum-senyum lucu.
Aku lantas tersenyum dan berkata, “Lie Chun, ayo duduk yok, nggak usah malu-malu koq, aku kan sama Hera dach temenan lama, lagian kita emang lagi ngobrol aja koq”.

Lie Chun pun ikut duduk sementara Hera diam saja.

Lantas Hera berkata, “And, aku balik dulu yach, mau tidur dulu ngantuk nich”.
Aku menjawab, “Lho koq buru-buru Ra, tidur aja di dalam tendaku, lagian nanti juga kita mesti kumpul lagi khan buat bikin permainan dan makan malam? Toh kamu udah mandi sore khan?”.

Hera diam saja lantas sesaat kemudian bangkit dan masuk ke dalam tendaku. Akhirnya setelah agak lama ngobrol sama Lie Chun, akupun bangkit berdiri dan membangunkan Hera karena hari sudah mulai gelap dan acara sebentar lagi akan di mulai.

Usai acara dan makan malam, aku lantas kembali ke arah tendaku dan hendak santai tidur-tiduran pada acara santai yang tengah berlangsung usai makan malam. Ketika tengah berbaring mendadak tendaku di buka dan wajah Hera menyembul dari balik pintu masuk tendaku.

“Ndy sorry, aku numpang nongkrong yach di tempat kamu, soalnya tenda panitianya agak rame sama anak-anak yang lain”, sahut Hera.

Aku agak bingung karena biasanya Hera sangat ceria dan antusias dengan acara kumpul-kumpul berbeda dengan diriku yang walaupun aktif dalam berbagai kegiatan organisasi namun untuk acara kumpul-kumpul dan bersantainya aku lebih suka memilih duduk sendiri sambil menikmati ketenangan ataupun keindahan alam.

Aku bertanya, “Tumben Ra, koq kamu nggak ikut ngumpul ikut acara biasanya kamu hobby ngumpul?”.
“Nggak Ndy, aku lagi agak malas, nggak mood, lagian juga udah keramaian sich”, ujarnya asal-asalan.
“Hayoo.. Rame apa rame nich.. Kepengen dekat-dekat dengan Bang Andy yach?” sahutku sambil menggodanya.

Mendengar itu Hera mencibir dan berkata “Huu.. Geer tuh” namun kalimat itu di ucapkannya sambil sedikit menahan senyum. Terus terang sebenarnya aku agak curiga apakah Hera memang memendam hati kepadaku atau tidak, karena untuk tiap kegiatan organisasi yang aku ikuti dia pasti ada namun untuk kegiatan yang tidak ada keberadaan diriku walaupun dirinya diminta menjadi pengurus pun tetap ogah, lagipula dalam tiap acara ia selalu memilih berada dekat dengan diriku. Namun aku tidak mau di cap sebagai cowok geeran meskipunku akui bahwa akupun sangat tertarik dengan dirinya, namun aku tidak mau jika ternyata salah sangka sebab berbekal pengalaman terdahulu aku pernah salah sangka dengan seorang wanita yang dekat kepadaku yang ternyata hanya menganggapku sebagai kakaknya belaka.

Agak lama kami berdua sama-sama terdiam sambil memandang api unggun, lantas mendadak Hera bertanya “Ndy, menurut kamu, kalau ada cewek yang naksir sama kamu, kamunya gimana?”.

Terus terang aku sama sekali tidak menyangka bakal mendapat pertanyaan semacam itu karena walaupun sebelumnya Hera pernah bertanya hal-hal yang menyerempet ke arah sana terutama dengan pertanyaannya sore tadi, namun untuk hal yang ini agak mengejutkan diriku karena aku sama sekali tidak siap dengan jawabannya.

Namun secara diplomatis aku menjawab, “Ya kalau dianya baik, dan orangnya kebetulan termasuk tipeku, kenapa tidak di coba jalanin bersama-sama?”.

Hal itu aku ucapkan sambil menatap lembut ke arahnya. Agaknya Hera sedikit takjub dengan jawabanku dan dia menatap heran ke arahku, lantas ia kembali bertanya, “And, memangnya tipe kamu tuh seperti apa sih?”.

Aku terdiam sejenak.. Lantas menarik nafas agak panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan..

“Ngghh.. Gimana ya Ra, tipeku tuh ya yang penting pengertian lah sama diriku termasuk kesibukanku ini, mungkin kalau di tanya gimana nyari cewek yang seperti itu ya aku palingan bisanya jawab ya sebisa mungkin dapatnya dari anak yang juga aktif di dalam organisasi biar setidaknya dia bisa lebih maklum barangkali anak yang aktif dalam organisasi semacam kamu yang lebih mendekati kriteriaku” ujarku sedikit rada lega karena akupun harus bisa berpura-pura tidak terpengaruh dengan jawabannya.

Anyway sesudah mendapat jawaban seperti Hera tampaknya agak sedikit lega dan matanya terlihat bersinar-sinar..

Lama kami saling terdiam lantas aku berkata, “Memangnya kenapa kamu nanya seperti itu Ra? Emang ada yang mau?” Terus terang ini jenis stupid question karena yang ada cewek kalau di giniin bisa malah batal jadiannya. Di tanya begitu Hera cuman menjawab “Ya enggak sih, cuman mau nanya aja”.
“Kalau aku sih Ra terus terang carinya yang seperti kamu, ya baik, supel, aktif dalam organisasi dan pengertian” ujarku buru-buru untuk menutup kekeliruanku.

Hera tampaknya agak sedikit kaget dan menoleh ke arahku dan menatap agak tajam ke mataku tampaknya seperti ingin menyelidiki kebenaran jawabanku. Lantas aku sadar bahwa dalam acara begini sebagai cowok aku mesti ambil inisiatif duluan kupikir daripada keburu lepas mendingan buruan di jadiin apalagi momentnya udah tepat cuman berduaan di depan api unggun di perkemahan yang jauh dari keramaian dan udaranya agak dingin lagi.

Akupun berkata “Ngghh.. Sebenarnya aku udah lama suka sama kamu Ra, tapi terus terang aku nggak tau isi hati kamu, terus terang aku mencintai kamu”

Wah kacau deh gara-gara keburu nafsu jadi salah strategi deh semua di umbar gitu aja. Eh tapinya Hera cuman diam aja dan menatap ke wajahku agak lama, lantas buru-buru aku menambahkan.

“Terus terang aku kepingin kita lebih dari sekedar teman, tapi kalau kamu keberatan, aku bersedia tetap menjadi teman kamu dan melupakan apa yang barusan aku ucapkan”
Belum selesai aku berbicara Hera menempelkan telunjuknya yang lentik itu ke bibirku dan berkata, “Sstt, nggak usah kamu ucapkan Ndy.. Hera juga sayang sama kamu..”

Lantas tanpaku duga sama sekali ia mencium lembut pipiku terlebih dahulu.. Diriku serasa melayang karena baru pertama kali ada gadis menciumku selembut itu.

Malam itu mungkin menjadi malam terindah bagiku dan mungkin juga bagi Hera, di bawah terangnya sinar bulan purnama lama kami saling memandang dan bertatapan tanpa ada kata-kata yang keluar sama sekali, pokoknya kalau ada yang bilang bahasa cinta mungkin itulah bahasa yang sedang kami lakukan, bahasa tanpa kata-kata he.. he.. he.. Malam itu Hera menumpang tidur di tendaku untungnya aku punya persediaan sleeping bag cadangan kalau tidak bisa mati beku doi he.. he.. he.. Terlihat manis dirinya tertidur dengan nyaman dalam sleeping bag-ku yang besar dan juga mengenakan jaket gunungku yang besar itu.

Pagi harinya kami bangun dan kudapati Hera sudah bangun terlebih dahulu, ia pamit ke tendanya sebentar untuk mengambil barang-barang keperluan mandi untuk mandi di pancuran air terjun yang berada tidak jauh dari tendaku. Sebenarnya sih bukan air terjun hanya pancuran air biasa namun air yang turun terlihat seperti air terjun karena ketinggian mata airnya cukup jauh dan di bawahnya terdapat seperti telaga kecil dengan ke dalaman sekitar 1,5 m tidak dalam sih namun buat orang yang pendek (sorry) lumayan terasa seram juga.

Kebanyakan anak-anak wanita mandi di kali kecil yang mengalir di bawah perkemahan kami, hanya sedikit yang mengetahui pancuran air ini selain aku dan Hera serta beberapa anak pencinta alam. Tapi kebanyakan tidak mau mandi di sana karena letaknya agak tinggi dan mungkin agak berkesan seram padahal menurutku sangat indah dan eksotis terutama karena penduduk pun tidak ada yang pergi ke sana sebab letaknya cukup tinggi dan di atasnya masih hutan belukar.

Aku sendiri sih sebenarnya kepingin mandi bareng juga tapi nggak mungkin lah yauw he.. he.. he.. Lagian bisa-bisa baru jadian nantinya malah jadi putus karena dianggap kurang ajar, jadi yach aku mandi di aliran sungai kecil yang letaknya sedikit di bawah telaga tempat Hera mandi tidak jauh dari tendaku. Untung letak sungainya agak tertutup rerimbunan pohon dan kedalamnya sekitar 1 meter kalau tidak kan tengsin juga kelihatan si Junior yang berukuran super jumbo lagi ngaceng kedinginan he.. he.. he.. Jadi lah aku mandi sendirian di situ.

Ketika sedang asyik-asyiknya mandi tiba-tiba aku mendengar pekikan kecil dari arah atas, kudengar seperti suara Hera, tanpa pikir panjang aku langsung lompat keluar dari air dan berlari memanjat ke atas kulihat Hera sedang mengigit jari-jari kukunya dan memandang ke arah air terjun, langsung aku loncat ke dalam telaga dan berjalan menghampirinya.

Aku bertanya, “Ada apa Ra?”
“Itu.. Kodok” ujarnya dengan nada tertahan.

Aku hampir saja tertawa kalau tidak melihat ekspresi mukanya yang pucat, untung saja aku bisa menahan diri. Tapi beberapa saat kemudian Hera sepertinya sadar bahwa kami berdua sedang dalam keadaan bugil berduaan di dalam telaga dan ia berbalik memandangku dan berkata, “Kamu ngapain And?”
“Loh kan kamu tadi teriak Ra.. Aku kirain kamu kenapa-kenapa jadi ya aku langsung ke sini nggak sempat pakai pakaian lagi” ujarku agak panik juga takut doi nantinya malah teriak nanti bisa-bisa di sangka aku mau coba perkosa anak orang lagi he.. he.. he..

Akhirnya kami sama-sama terdiam. Hera memandangku agak lama sambil menatap tajam sepertinya ingin menyelidiki kebenaran alasanku tapi lama-kelamaan tatapan matanya berubah menjadi lembut dan kami kembali bertatapan mesra seperti malam barusan, lalu entah siapa yang terlebih dahulu memulai kami tahu-tahu sudah saling berdekatan dan detik berikutnya tahu-tahu bibirku dan bibir Hera saling bersentuhan lembut, lidah saling bertautan, mulut saling melumat dan selanjutnya bisa ditebak deh kelanjutannya.

Yang jelas acara mandi itu berubah menjadi acara percintaan kami dan tanpa banyak cincong dari apa yang kami lakukan tampaknya baik aku maupun Hera sudah sama-sama mafhum bahwa kami sudah sama-sama tidak suci lagi jadi yach lancar-lancar aja tuh malah kami sampai melakukannya sebanyak tiga kali hingga tak terasa mentari telah berada di puncaknya dan perut kami berdua terasa lapar dan tubuh pun terasa sangat lelah.

Akhirnya aku dan Hera sama-sama keluar dari telaga “asmara” itu dan kami sama-sama mengepak pakaian kami yang tergeletak di pinggiran tentu saja aku sambil hanya berbalut handuk Hera harus jalan ke bawah sedikit untuk mengambil pakaianku yang tertinggal. Untungnya tidak ada satupun yang naik-naik hingga ke atas sini dan bagusnya juga tidak semua orang tahu tentang lokasi strategis ini.

Kami sesudahnya saling merapikan diri di tendaku lalu kami berdua jalan turun ke bawah untuk mengikuti acara selanjutnya dan tentu saja hal yang paling di tunggu oleh orang yang habis bercinta adalah makan he.. he.. he.. Buat yang udah sering gituan pasti pada tau deh abis bercinta pasti pada laper banget khan? Begitupula kami berdua, aku dan Hera makannya bisa di bilang paling lahap deh sampai-sampai ada yang ngeledekin “kalian berdua emang habis ngapain koq makannya kayak tukang becak gitu” tapi terus terang baik aku dan Hera tidak peduli dan lagipula tidak ada yang curiga karena sesuai komitment malam sebelumnya bahwa aku dan Hera sepakat untuk merahasiakan jadiannya kami berdua selama perkemahan dan baru akan mengumumkannya sekembalinya kuliah nanti. Jadi saat menuruni bukit dari lokasi tendaku pun kami tidak saling bergandengan tangan meskipun baru saja mengalami saat-saat paling intim.

Sepulang dari acara kemping tersebut kurang lebih seminggu kemudian kami kembali disibukkan oleh kegiatan rutin di kampus dari mulai perkuliahan yang menjemukan hingga kegiatan senat, namun yang menggembirakan hatiku adalah kenyataan bahwa aku berhasil mendapatkan Hera, bidadari kampusku yang terkenal dengan pesona orientalnya yang khas. Terus terang sesudah kami resmi sebagai sepasang kekasih hari-hariku terasa sangat berbeda, terutama kegairahanku untuk berangkat ke kampus dan mengikuti acara perkuliahan jauh lebih termotivasi utamanya karena dorongan untuk segera bertemu dengan Hera dan berduaan dengannya. Terus terang kesannya mungkin jadi agak norak karena jadi kayak ABG yang baru pacaran saja, tapi memang begitulah yang kualami dan kurasakan sendiri.

Namun rupanya kemesraan kami berdua bukan saja menimbulkan kesirikan di sebagian besar cowok-cowok di kampus kami namun juga para wanitanya. Bahkan Lie Chun pun terang-terangan secara demonstratif menunjukkan sikap cemburunya terhadap Hera dengan tidak mau lagi pergi bersama dengannya. Untungnya Hera adalah tipe wanita yang tidak terlalu ambil peduli dengan itu semua jadi sikapnya biasa saja menghadapi perubahan sifat Lie Chun. Hal ini semakin menambah rasa geer dalam hatiku. Namun aku sedikit khawatir, takut-takut Lie Chun malah menjadi membenci diriku dan akan berdampak buruk bagi semangat belajarnya. Maklumlah namanya juga cewek perantauan, kalau sampai kenapa-kenapa bisa-bisa aku dituduh membuat prestasinya jeblok.

Untuk itu aku segera mengambil inisiatif untuk menyapa Lie Chun terlebih dahulu. Kupikir tidak ada salahnya bersikap ramah. Bukankah wanita umumnya lebih bisa menerima penolakan yang bersifat halus. Jadi kalau ada di antara kalian yang kebetulan ditaksir cewek and kebetulan nggak mood ya harap hati-hati aja nolaknya jangan sampai si cewek sakit hati.

Untuk itu seusai jam kuliah MKDU Kewiraan, aku sengaja menunggu Lie Chun bergegas pulang melewati deretan bangkuku. Hal ini tentu saja karena aku kebetulan memang satu kelas dengan Lie Chun untuk mata kuliah MKDU. Ketika ia melewati diriku aku yang memang sengaja belum beranjak berdiri segera memasang tampang seramah mungkin dan menyapanya. Namun Lie Chun bersikap seolah tidak melihat kehadiranku dan bergegas berlalu dengan sikap secuek mungkin.

Terus terang aku agak kesal juga. Kupikir ini anak belagu amat sih, apa lantaran anak orang kaya jadi sifatnya manja dan sombong begini? Tapi tentu saja aku tidak menyerah begitu saja. Bukan karena ada maksud tapi memang semata ingin berusaha mencairkan suasana perang dingin yang mengkristal di antara kami bertiga. Lagipula apa enaknya bermusuhan. Bukankah siapa tahu suatu saat bisa saja aku membutuhkan bantuannya?

Untuk itulah aku segera bergegas bangkit berdiri dan berjalan agak cepat untuk memburu Lie Chun agar jangan sampai ia keluar dari gerbang kampus. Lagipula kebetulan hari itu Hera tidak masuk kampus karena memang sedang tidak ada kuliah. Jadi kupikir aku tidak perlu terlalu khawatir akan ada kecurigaan macam-macam darinya. Tahu merasa dirinya di buntuti Lie Chun malah semakin mempercepat langkahnya dan setengah berlari langsung naik ke angkot yang kebetulan melintas di depan gerbang kampus kami.

Terus terang aku agak gondok, tapi biarlah buat apa siapa tahu ia memang butuh waktu untuk cooling down. Jadi aku membiarkan angkot itu berangkat disertai debu yang terbawa oleh angin. Aku kembali masuk ke dalam kampus. Kebetulan memang sedang ada rapat senat yang akan di gelar sejam lagi. Jadi aku mengambil kesempatan jeda waktu satu jam itu untuk beristirahat sambil makan di kantin.

Seusai rapat senat kurang lebih menjelang jam lima sore, aku bergegas ikut naik motor Bram sahabatku (nanti akan ada kisah mengenai dirinya). Kebetulan pacar Bram sudah pulang duluan karena ada acara bersama teman-temannya jadi aku bisa ikutan nebeng. Sembari duduk di atas motor Bram yang melaju perlahan, ia sedikit menginterogasiku dengan berbagai pertanyaan yang intinya mempertanyakan sifat Lie Chun yang terlihat aneh saat berhadapan denganku di kelas saat kuliah pagi tadi. Terus terang aku mengatakan tidak tahu karena memang aku tidak merasa punya masalah dengannya. Untungnya Bram bukan tipe biang gosip jadi pembicaraan pun beralih ke topik lainnya antara lain ke masalah hubungan antara aku dengan Hera dan seputar dunia senat.

Sesampai di rumah aku segera masuk ke kamar mandi dan membasuh muka yang terasa sangat kotor dan lengket terutama karena tadi bersama dengan Bram aku kebagian helm yang tidak ada kaca penutupnya (helm chips) seperti yang dipakai polantas. Jadi maklum aja kalau keringat bercampur debu di jalan harus segera dibasuh bersih kalau tidak bisa tambah hancur aja penampilanku terkena jerawat akibat debu dan kotoran yang menyumbat pori-pori muka. Selagi asyik membasuh wajah mendadak telfon dari ruang tengah berdering. Sambil agak sedikit mengomel aku berjalan menghampiri masih dengan waslap (lap pembersih untuk mandi) di tangan aku mengangkat gagang telfon.

“Ya hallo, selamat sore,” ujarku.
“Sore, maaf bisa bicara dengan Handy, Mas?” ujar suara lembut dan empuk yang tidak asing lagi di telingaku.
“Ya saya sendiri,” ujarku dengan nada riang karena mengetahui Hera menelefonku.
“Ohh.. Ini kamu ya And? Tumben koq suaranya agak lain?”
“Iya nih Ra.. Abis sambil bersihin muka sih,” ujarku.
“Ohh sorry baru pulang ya. Gini And, tadi siang si Lie Chun nelfon. Dia bilang kamu ngikutin dia pulang ya, katanya dia takut sekali. Sepertinya kamu hendak berbuat sesuatu kepadanya. Katanya dia sampai berlari melompat ke dalam angkot yang sedang melaju?”.

Nah loh apa-apaan lagi nih.. Skenario macam apa yang tengah digarap oleh Lie Chun pikirku. Wah jangan-jangan dia bermaksud membuat hubunganku dengan Hera bubar pikirku.

“Hah? Memangnya dia ngomong begitu ya Ra?” ujarku dengan agak jengkel.

Namun tak urung aku agak khawatir juga takut-takut Hera sampai percaya dengan omongan Lie Chun. Maklumlah hubunganku dengan Hera belum lama masih terhitung baru sedangkan Hera dan Lie Chun telah kenal lumayan lama semenjak di bangku SMP sih kalau tidak salah.

“Iya sih, maka dari itu aku nelfon ke kamu, soalnya aku tidak percaya. Lagipula buat apa kamu ngejar-ngejar dia iya nggak? Lagian dia khan tidak ikut aktif di senat jadi ada keperluan apa kamu ngejar dia. Begitu pikiranku Ndy. Jadi aku konfirm ke kamu takutnya kamu tidak tahu omongan apa yang terjadi di belakang,” ujar Hera.
“Syukurlah Tuhan, Hera tidak terpengaruh,” ucapku dalam hati.

Puji syukur juga punya pacar yang baik dan pengertian seperti Hera ini yach; mana cantik and sexy lagi. Wah kupikir tak akan kulepas deh, semoga jadi istri nantinya harapku dalam hati.

“Ra, aku juga terus terang tidak mengerti kenapa dia ngomong begitu sama kamu. Terus terang tadi di kelas aku cuman menyapanya dan kulihat ia malah menghindar dan bergegas pergi. Kupikir ada masalah apa. Tapi waktu kudekati ia malah semakin cepat melangkah dan malah sampai separuh berlari. Terus terang aku nggak enak ia bersikap demikian. Kamu kan sendiri tahu sikap dia belakangan terhadap kita bagaimana. Jadi aku menegur dia ya untuk mengetahui duduk permasalahannya,” ujarku berusaha meyakinkan Hera.
“Iya sih. Maka dari itu aku nelfon kamu salah satunya juga untuk minta tolong agar kamu berusaha meluruskan masalah ini. Soalnya aku jadi nggak enak masa hanya karena kita jadian sampai harus kehilangan teman lama. Tolong deh kamu ke kostnya kalau sempat. Oke deh aku mau mandi dulu ya, bye Andy”, ujar Hera mengakhiri topik pembicaraan, lalu setelah saling mengecup mesra lewat telfon kami pun segera mengakhiri pembicaraan.

Akhirnya sore itu setelah beristirahat sejenak dan seusai mandi sore akupun berangkat ke tempat kost Lie Chun selepas magrib.

Setibanya aku di tempat Lie Chun hari telah mulai gelap (benarnya sih dah gelap banget), tapi berhubung sudah di niatin ya tetap saja aku nekat bertandang. Aku turun dari MB Brabus S73 (CL600 Body) milik pamanku (karena aku kost di rumahnya). Padahal amit-amit seumur hidup aku belum pernah naik mobil setan itu (karena larinya seperti setan dan harganya mungkin cuman untuk orang yang sekaya setan). Lagipula aku terbiasa berangkat kuliah naik angkot jadi rada kagok juga. Tapi berhubung udah malam dan mulai jarang ada angkot yang lewat serta kebetulan mobil yang ada cuman itu jadi kupinjam saja dengan alasan isi bensin.

Perlahan kubuka pagar pekarangan tempat kostnya yang terletak di kawasan elit kota Bandung.

“Hmm nampaknya tidak di kunci nih” pikirku, lalu perlahan aku berjalan masuk.

Sebenarnya sih rada ragu-ragu juga apalagi di pintu pagar depan di tempel tulisan “Awas Anjing Galak” lengkap dengan gambar herder yang lidahnya menjulur seperti kena rabies. Tapi kupikir masuk sajalah tokh pengalamanku bertandang ke rumah Hera yang pagar depannya ada gambar serupa juga ternyata cuman bohong-bohongan belaka. Akan tetapi kalau Hera sih memang si Blecky udah mati di culik sama orang Lapo Tuak dekat rumahnya.. Kemana lagi kalau nggak udah jadi ampasnya orang Batak, he.. he.. he.. (sorry buat yang Batak aku masih ada keturunan Batak juga koq).

“Hmm.. Terus terang perkarangan rumahnya terlihat sepi, waduhh kacau juga nih.. Nggak ada orang entar dikirain rampok lagi,” runtuk diriku.

Tapi karena ada cahaya yang lumayan benderang dari dalam rumah berarsitektur Belanda tersebut jadi ya aku terus saja berjalan masuk. Pintu masuk yang terbuat dari kayu kuno yang sangat besar tersebut tampak kokoh dan terkunci rapat. Perlahan kuketok..

“Waduh keras juga nih, dari kayu jati rupanya”, pikirku.

Lama tak ada tanggapan. Lalu perlahanku dengar langkah kaki setengah agak di seret seperti orang malas berjalan ke arah pintu.. Lalu dengan suara agak berderit pintu di tarik terbuka.. Dan alangkah terkejutnya orang tersebut karena melihat yang datang adalah aku. Akupun tidak kalah terkejut karena yang membuka ternyata adalah Lie Chun sendiri.

Sejenak kami saling terlongo dan terdiam tidak tahu harus berkata apa. Mungkin lebih kayak dua orang yang sama-sama naksir dan nggak nyangka ketemuan. Tapi terus terang ini keadaannya beda karena aku dan Lie Chun bukan sepasang kekasih ataupun orang yang diam-diam sedang kasmaran tapi malu-malu meskipun di salah satu pihak ada rasa cinta.

Lantas aku berinisiatif terlebih dahulu membuka suara. Kupikir tokh mendingan ngomong duluan daripada dianya keburu banting pintu. Apalagi dalam pikiranku Lie Chun belum cukup dewasa terutama dalam menerima kenyataan hidup.

“Lie.. Aku datang ke sini untuk..”

Lalu “Plakk..” belum sempat kata-kataku selesai kurasakan pipiku panas dan pedas di iringi kata-kata “Bangsat..” Dari bibir mungil milik Lie Chun yang langsung berlari masuk ke dalam tanpa sempat menutup pintu lagi.

Terus terang aku sempat terlongo-longo mendapat perlakuan seperti itu. Belum pernah ada yang memaki aku seperti itu apalagi sampai menampar segala, perempuan lagi. Namun kesadaranku segera pulih terutama karena mengingat misiku ke tempat ini adalah untuk meluruskan persoalan sekaligus memenuhi mandat dari Hera kekasihku yang menginginkan agar hubungan kami bertiga pulih kembali seperti dulu saat aku belum jadian dengan Hera. Aku segera mengejar masuk ke dalam sembari menutup pintu agar tidak terlalu mencolok terlihat ke luar kalau-kalau kebetulan ada yang melihat. Namun Lie Chun terus berlari ke tangga utama dan naik ke atas.

“Rupa-rupanya kamarnya di atas nih,” pikirku sambil berjalan cepat mengikutinya.

Namun ketika Lie Chun masuk ke dalam kamarnya ia segera membanting pintu kamar tersebut sehingga langsung tertutup. Dalam hati aku menjadi ragu.

“Di terusin nggak ya? Kalau di terusin terus entar teman-teman kostnya teriak rampok bisa celaka aku, tapi kalau entar masalahnya tambah kacau gimana?” pikirku dalam hati.

Sedang ragu berfikir demikian tiba-tiba aku mendengar isak tangis dari dalam kamar Lie Chun.

“Waduh celaka deh nih anak sudah pakai acara nangis segala,” umpatku kesal dalam hati.

Lalu aku segera membuka pintu kamarnya secara perlahan-lahan agar tidak terdengar dan kututup secara perlahan juga. Kulihat Lie Chun sedang berlutut di tepi ranjang dengan kepala yang di benamkan ke dalam bantal. Perlahan dengan tangan agak bergetar dan juga rasa ragu-ragu kusentuh pundak Lie Chun. Namun ia malah semakin membenamkan wajahnya dalam bantal dan menangis sekeras-kerasnya.

“Wah kalau sudah begini mampus deh”, pikirku dalam hati.

Terus terang aku tidak punya pengalaman meredakan tangis wanita terutama karena ibuku sendiri jarang menangis ataupun terlihat menangis. Juga karena aku sebagai seorang anak lelaki pertama yang memiliki jarak kelahiran yang cukup jauh dari adik-adikku. Jadi sebelum mereka menjadi remaja aku sudah keburu merantau ikut paman sejak SMA.

Jujur saja aku sebenarnya sudah bingung sekali menghadapi ulah Lie Chun apalagi di tambah pakai acara nangis bombay kayak gini. Mending nonton film “Salam Bombay” daripada liat orang nangis bombay begini. Di antara kebingunganku akhirnya kunekatkan untuk membelai rambut Lie Chun yang kala itu sedang tidak di ikat atau di gulung ke atas seperti biasanya. Rambut yang halus panjang terurai sebahu ituku belai-belai dengan lembut. Tercium olehku semerbak harum rambutnya.

“Wahh koq malah jadi kayak begini sih” pikirku menyadari apa yang sedang kuperbuat.

Namun kurasa apa yang kuperbuat belum bisa di kategorikan sebagai bentuk penyelewangan ataupun ngelaba, karena niatku benar-benar tulus untuk meredakan tangisnya. Karena meskipun gahar dan macho begini aku terus terang paling tidak kuat mendengar tangis perempuan. Rasanya seperti mendengar ibu sendiri yang sedang menangis. Oke lanjut ke cerita semula.

Namun tangis Lie Chun tetap keras terdengar sehingga semakin menambah kepanikan dan kebingunganku saja. Akhirnya sembari membelai lembut rambut Lie Chun akupun mati-matian menenangkannya.

“Lie Chun.. Diam dong.. Kamu koq nangis sih.. Memang ada masalah apa.. Aku terus terang minta maaf kalau seandainya menyakitimu,” ujarku sembari berusaha menenangkannya.

Kata-kata itu dan beberapa kata-kata lainnyaku ucapkan berulang kali agar ia tenang dan mau meredakan tangisnya. Syukurlah perlahan-lahan tangis Lie Chun pun mereda. Akhirnya ia hanya terisak-isak perlahan saja dengan wajah yang masih dibenamkan di dalam bantal. Aku hanya diam sambil terus membelai rambutnya agar ia semakin tenang.

Setelah beberapa menit kemudian, nampaknya Lie Chun sudah bisa tenang. Hanya sesekali ia sesungukan. Akan tetapi wajahnya masih belum di angkat. Kupikir ia pasti merasa malu. Namun agar tidak menjatuhkan mentalnya aku tetap diam duduk di sisi ranjang sembari terus mengelus rambutnya yang wangi itu.

Cukup lama juga kami dalam posisi seperti itu di mana kami berdua saling diam-diaman sembari aku tetap mengelus rambutnya dan ia tetap membenamkan wajahnya di bantal yang sudah basah oleh air matanya. Sampai akhirnya tangisnya berhenti dan ia perlahan mulai mengangkat wajahnya.

Saat Lie Chun sudah mulai tenang dan menatap wajahku, kulihat mukanya yang agak kemerahan karena habis menangis dengan mata masih berkaca-kaca. Ia menatapku lama sekali dan agak dalam. Terus terang aku lama-kelamaan menjadi jengah ditatap seperti itu. Agar suasana cair akupun berusaha mengajaknya berbicara.

“Lie Chun, aku terus terang tidak mengerti atas apa yang baru saja terjadi, dan aku meminta maaf kalau telah menyebabkan kamu menangis”, ujarku sambil menatapnya lembut.
“Sstt.. Kamu tidak salah Ndy, aku yang salah telah berharap banyak dari kamu. Semestinya dari pertama aku menyadari tidak akan mungkin bisa bersaing dengan Hera, karena kulihat tatapan matamu kepadanya lebih dari sekedar teman biasa”, ujar Lie Chun sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirku.

Lalu tanpaku sadari perlahan Lie Chun mengecup lembut bibirku. Mendapat perlakuan seperti itu aku awalnya hanya mendiamkan saja karena kupikir kalau aku langsung melakukan penolakan suasana pasti akan menjadi lebih buruk lagi. Namun kenyataannya Lie Chun justru seperti mendapat angin segar, dan ia semakin menjadi-jadi dengan mulai melakukan “French Kiss” dan mencium wajah serta leherku.

“Ohh Handy, kalau aku tidak bisa memilikimu tolong berikan kepadaku kesempatan malam ini saja. Tolong jangan kecewakan aku, aku sungguh sangat mencintaimu”, ujar Lie Chun dengan semakin gencar menciumi diriku dan mulai membuka paksa pakaianku.

Aku terus terang mulai terdesak apalagi aku datang ke sana justru dengan misi damai bukannya dengan maksud untuk melakukan perbuatan laknat. Aku berusaha mendorong dirinya agar menjauhiku.

“Stop Lie Chun, tolong jangan paksa aku. Aku masih mencintai Hera. Tolong jangan kau rusak hubungan kami berdua” ujarku sambil bangkit dari ranjang dan menjauhinya.
“Handy, please.. Jangan begitu. Aku tidak bermaksud merusak hubungan kalian berdua, tapi please berikan kepadaku kesempatan sekali saja untuk bisa mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu dan sulit bagiku untuk melupakanmu. Tolonglah Han, sekali saja malam ini. Aku janji tidak akan menceritakan apa yang terjadi malam ini kepada siapapun”, ujar Lie Chun sambil menatap dengan tatapan memelas ke arahku.

Sebetulnya Lie Chun tidaklah jelek, bahkan untuk ukuran cewek dari Jakarta dia masih sangat cantik. Menurutku wajahnya lebih mirip perpaduan bintang film Hongkong dengan bintang film Jepang sehingga sangatlah menarik jika menatapku dengan wajah memelas begitu. Mungkin seperti perpaduan Vivian Chow dengan Madoka Ozawa barangkali. Namun tatapan memelas yang jelas-jelas dengan tujuan sex seperti ini menurutku harus dihindari karena selain aku tidak yakin mampu bertahan terhadap godaan yang ada, juga karena tidak sesuai dengan tujuanku kemari. Oleh karena itu aku merapatkan tubuh ke arah pintu masuk dengan tujuan untuk menghindari hal-hal tidak terduga.

Namun Lie Chun bukanlah tipe wanita yang mudah menyerah. Ia justru menyeringai tajam dan menatapku dalam-dalam sambil berkata, “Handy, kalau kamu tidak bersedia menemaniku malam ini aku akan berteriak bahwa kamu mencoba memperkosaku, apalagi kamu ada di dalam kamarku bukan?”

Terus terang aku agak panik dalam menghadapi serangan seperti ini. Namun aku berusaha tetap tenang.

“Lie Chun, apakah kamu tega berbuat seperti itu? Kalau kamu memang sungguh mencintaiku, kamu akan membiarkanku pulang dan merestui hubungan kami berdua. Bukankah cinta sejati adalah cinta yang mampu memberikan kebahagiaan kepada orang yang dicintainya?” ujarku setengah berfilsafat setengah memberikan nasehat.
“Persetan kamu Ndy!!”, ujar Lie Chun setengah berteriak, “Kamu jangan munafik. Aku tahu kamu bukan lelaki alim. Kamu kira aku tidak tahu lelaki macam apa kamu, berani-beraninya menasehatiku seperti itu!!”

Sambil berkata begitu Lie Chun nekat membuka bajunya, dan ternyata di balik kimono yang di kenakannya ia tidak mengenakan apa-apa lagi. Terlihat jelas bentuk tubuhnya yang indah dengan kulitnya yang putih susu khas wanita tionghoa.

Sejenak aku terlongo mendapat pemandangan indah dan gratis seperti itu. Well harusku akui naluriku sebagai lelaki tidak dapat dikelabui bahwa aku sebenarnya agak terangsang juga, namun aku tetap bersikukuh untuk tidak melakukan affair dengannya. Lie Chun lalu dengan cepat mendekatiku dan menempelkan tubuhnya yang wangi dan tanpa busana itu ke arahku.

“Handy sayang, tolonglah Han, aku ingin malam ini menjadi malam yang terindah bagiku. Biarlah selanjutnya aku menderita dan merana karena tidak bisa memilikimu, namun bahagiakanlah aku malam ini Han”, ujar Lie Chun sembari tubuhnya menempel di busanaku dan tangannya sibuk bergerak mengelus-elus selangkanganku, tepatnya di atas permukaan celana tempat batanganku tersimpan.

Terus terang logikaku mulai agak kacau. Nafasku pun mulai memburu. Tapi aku berusaha tetap tenang walaupun mendapat serangan-serangan semacam itu, walaupun harus diakui wangi rambut dan tubuh Lie Chun mulai membutakan mata hatiku. Sembari tanganku kiriku mencari-cari pegangan pintu agar dapat segera kabur tangan kananku sibuk menahan tubuh Lie Chun yang semakin mendesakku ke pintu kamar.

“Lie Chun, tolong.. Jangan Lie, aku khan pacar sahabatmu”, ujarku menenangkannya.
“Tidak Ndy, aku tidak peduli. Aku ingin malam ini bersama denganmu, dan kamu jangan coba-coba kabur!” ancam Lie Chun sambil merangkul leherku dan memepetkan tubuh kami berdua ke dinding pintu kamar.

Hal ini tentu saja menyulitkan diriku untuk segera kabur. Namun puji syukur aku segera menemukan gagang pintu yang aku cari. Segera aku putar dan aku langsung memutar badan sekaligus melepaskan diri dari rangkulan Lie Chun. Namun ia masih sempat memegang bajuku. Untung bagiku dan sial baginya karena pintu kamar yang di buka ke arah dalam membentur jidatnya sampai ia mengaduh keras sehingga langkahnya tertahan dan aku dapat segera kabur. Untuk menghindari hal-hal lebih parah lagi, aku langsung loncat dari tengah tangga ke bawah setelah sebelumnya melompati setiap dua anak tangga sekaligus. Untunglah ilmu bela diri yang kupelajari dari salah seorang pimpinan agama di desa kelahiranku banyak membantu dalam situasi seperti ini sehingga aku dapat mendarat di lantai bawah tanpa cidera.

Begitupula di depan pintu depan langsung aku buka dan segera kabur semberi menutupnya dengan agak membanting, lalu sembari merapal ajian ringan tubuh aku melompat salto melewati pagar depan dan mendarat tepat di samping kanan Mercy Sport Brabus S73 CL600 milik pamanku. Seandainya ada yang melihat pasti aku langsung diteriaki maling tanpa tanya terlebih dahulu, apalagi gayaku melompat tadi mirip seperti ninja di film-film laga. Syukurlah malam itu angin sangat kencang dan gerimis rintik-rintik di sertai halilintar menyebabkan daerah sekitar lokasi tersebut sangat sepi. Tanpa banyak cincong aku langsung memutar badan dan membuka alarm pintu dan masuk ke dalam. Segera kunyalakan mesin dan langsung terdengar deruman penuh tenaga akibat aku menggasnya agak dalam dan sembari diiringi suara decitan panjang aku langsung ngebut melaju membelah malam.

Terus terang hatiku masih agak berdebar. Selain karena memang jantung dan nafasku yang memang ngos-ngosan karena habis melakukan aktifitas gila-gilaan seperti itu, juga karena aku sama sekali tidak menyangka bahwa Lie Chun bisa segila itu. Aku lalu mencoba menyusun kronologi jalan cerita yang tidak terlalu heboh agar sekiranya esok Hera meminta kabar dariku ia tidak begitu syok mendengarnya. Lalu sambil memperlambat laju kendaraan aku masuk ke arah tempat tinggal pamanku yang terletak di pinggiran kota Bandung.

Setiba di rumah pamanku aku segera masuk kamar dan tidur sembari berharap semoga dapat melupakan peristiwa heboh yang baru saja terjadi. Untung saja beliau sudah tidur kalau tidak aku harus menjelaskan kepergianku “mengisi bensin” yang lumayan lama itu.

Keesokan paginya aku bangun agak telat, mungkin karena masih syok. Lalu aku segera mandi tanpa sarapan terlebih dahulu karena memang hari sudah agak siang. Kupikir lebih baik makan di kampus saja tokh kalau tidak ada dosen aku bisa makan pagi di kantin. Sampai di kampus, aku segera masuk mengikuti kuliah Matematika IV yang merupakan salah satu mata kuliah utama di Fakultas Arsitektur. Sambil mencatat segala jenis teori matematika tersebut pikiranku melayang sejenak pada kejadian semalam.

Hmm.. Apakah kejadian tersebut pantasku ceritakan selengkapnya pada Hera atau tidak, karena menurutku meskipun aku tidak melakukan perbuatan apapun pada Lie Chun namun sedikit banyak itu bisa membuat gadis seperti Hera mengalami syok. Akhirnya kuputuskan siang nanti untuk menemui Hera sambil menceritakan garis besarnya saja kupikir tokh sepanjang Hera tidak menanyakan detilnya ia pasti masih bisa terima sikap Lie Chun.

Tak terasa dua setengah jam kuliah matematika yang menjemukan itu berakhir juga. Akhirnya aku keluar sembari melihat keadaan sekitar mencari keberadaan Hera yang kemarin sore telah berjanji untuk menemuiku. Karena sampai sekitar setengah jam belum ada juga akhirnya kuputuskan untuk mencarinya di kantin utama kampusku. Namun anehnya di sana sosok Hera tidak juga bisa kujumpai. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk mencarinya karena Hera biasanya sering pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan kuliah ataupun sekedar meminjam novel-novel favoritnya.

Nyaris lima belas menit aku mencari keberadaan dirinya di dalam perpustakaan tersebut namun anehnya aku tetap tidak berjumpa juga. Akhirnya aku keluar dari perpustakaan dengan langkah gontai. Pikirku ada apa pula begitu sulit bagiku untuk bertemu dengannya. Apakah karena tadi malam aku tidak segera melaporkan misiku. Namun saat hendak keluar dari gerbang kampus aku bertemu dengan Meme (Mei-Mei) salah seorang mahasiswi FISIP teman kuliah Hera. Ketika kutanyakan pada Meme ia hanya menyatakan bahwa tadi seusai kuliah Antropologi, Hera langsung pulang bersama dengan Lie Chun, setelah saat keluar dari ruang kuliah ia ditemui oleh Lie Chun. Tentu saja mendengar hal itu aku sangatlah keheranan.

“Koq bisa-bisanya hal itu terjadi dan mengapa pula ia mau pulang bersama dengan perempuan binal itu?” pikirku.

Akhirnya kuputuskan untuk pergi menyusul ke kediaman Hera. Selain untuk mengetahui apa sebenarnya yang tengah terjadi juga untuk menjelaskan pada Hera mengenai peristiwa semalam. Setiba di tempat Hera kulihat keadaan di luar sepi. Saat kupencet bel akhirnya keluar Surti yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu di rumah tantenya Hera.

“Ehh.. Mas Handy, ayo masuk. Nak Hera ada di dalam tuh sama temannya. Masuk aja Mas”, ujarnya mempersilakan diriku untuk masuk. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam saja, karena tokh pembantu tantenya Hera mempersilakan diriku untuk langsung saja ke dalam.

Setiba di dalam, aku tertegun saat menyaksikan Hera dan Lie Chun sedang berbicara serius sambil.. Astaga memegang sapu tanganku. Ya Tuhan ternyata semalam sapu tanganku tertinggal saat menghapus air mata Lie Chun. Betapa bodohnya aku. Bisa saja dengan benda itu ia bercerita macam-macam. Dan apa yang kutakutkan ternyata benar-benar terjadi, saat menyadari kedatanganku mereka berdua menatapku. Lie Chun terlihat agak sedikit kaget namun yang membuat tubuhku sejenak terasa dingin adalah tatapan Hera. Ya ia menatapku sangat tajam dan dingin seolah menyimpan dendam padaku.

“Hera.. Aku..” belum selesai aku berkata-kata, Hera sudah menyela perkataanku sambil menatap tajam dan bersuara dingin.
“Handy, tidak kusangka engkau benar-benar lelaki bajingan, tega-teganya kau berniat memperkosa sahabatku sendiri. Kau benar-benar lelaki brengsek, mencoba membius temanku dengan sapu tanganmu ini. Kau kira aku tidak tahu ini milik siapa?!!”

Terus terang aku terkejut. Namun aku mencoba membela diri.

“Dengar Hera, beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Aku tidak membius..”

Belum pula aku selesai berbicara kembali Hera memutus perkataanku.

“Jangan berdusta Handy.. Cukup sudah aku kau bohongi, kau kira ini bau apaan hah!!” sambil berkata demikian Hera melempar sapu tanganku ke wajahku.

Sesaat tercium bau Khlorofom yang sangat keras pada sapu tanganku. Astaga.. Darimana bau ini berasal? Seingatku semalam aku tidak menaruh apa-apa pada sapu tangan itu lantas bagaimana bisa begini, hmm.. Pastilah ini perbuatan keji Lie Chun pikirku.

“Demi Tuhan, Hera, aku tidak menaruh apa-apa pada sapu tangan ini lagipula aku..”
“Sudah, aku tidak mau lagi mendengar apapun alasanmu, sebaiknya kau segera pergi sebelum aku berteriak,” nada suara Hera terdengar sangat emosional saat mengusir diriku.

Akhirnya aku melangkah pergi dengan lemas namun sebelum aku memutar badan sempat kulihat tatapan dan senyuman sinis dari Lie Chun dan terus terang aku agak ngeri melihat sinar matanya yang terlihat sangat jahat itu. Namun aku berfikir untuk mengalah karena tokh tidak ada gunanya berdebat dengan wanita, lebih baik menunggu suasana cooling down dulu. (sorry loh ya buat yang wanita).

Waktu: Pukul 14.30 Siang, sepeninggal diriku

Lokasi: Kediaman tantenya Hera

“Sudahlah Hera, tidak perlu menangis. Aku mengerti ini pertama kalinya engkau pacaran lagi. Kadang kita bisa saja salah menilai orang apalagi setelah lama tidak berpacaran,” ujar Lie Chun sambil mengelus rambut Hera yang menangis di pangkuannya.
“Tapi aku terus terang tidak menyangka ia bisa begitu. Sungguh aku tidak mengira ia jahanam yang tega berbuat itu terhadap temanku sendiri, padahal dulu aku begitu kagum atas sikap coolnya dan okhh.. Aku benci sekali Lie.. Benci..,” tangis Hera semakin hebat.
“Udah dong Hera.. Masa nangis terus sih.. Makanya dari dulu khan aku bilang jangan pacaran sama cowok Tiko, kamu sih.. Khan masih banyak cowok tajir dan keren di Jakarta, masa sama cowok gembel kayak githu kamu mau aja sichh..” ujar Lie Chun sambil tangannya mengusap-usap punggung dan rambut Hera.

Akhirnya tangis Hera mulai mereda.

“Iya ya Lie, barangkali aku sebaiknya nurut saja sama papaku, aku menyesal Lie tertipu olehnya”
“Nahh githu dong, udah deh nanti aku carikan cowok yang lain ya?” ujar Lie Chun sambil memeluk Hera.

Sepulang dari tempat Hera hati dan pikiranku terasa sangat suntuk. Mau belajar susah, mau makan susah, bahkan mau bermasturbasi pun tidak bisa. Begitulah nasib orang yang sedang patah hati. Serba salah. Namun aku bertekad untuk memperjuangkan cinta Hera. Bukan kenapa, tapi bagiku Hera adalah wanita yang mampu mengisi hari-hariku dengan penuh gelora dan semangat. Mungkin hanya Hera lah wanita yang mampu mengisi segala anganku tentang wanita ideal, terlebih ia adalah tipe wanita dengan pribadi yang ideal.

Namun rupanya Dewi Fortuna (bukan Fortuna Anwar loh) sedang berpihak kepadaku. Kebetulan sebulan semenjak kejadian itu kampusku mengadakan graduation night yang merupakan malam perpisahan dengan para wisudawan yang biasa acaranya di isi oleh para adik-adik kelas untuk menghibur para lulusan yang baru saja meraih gelar kesarjanaannya. Memang bisa dikatakan inilah kesempatanku untuk meraih kembali cinta Hera yang hilang karena sudah sebulan lamanya Hera selalu saja menolak telefon dariku, bahkan cenderung menghindar berpapasan denganku. Bahkan jika berpapasan saja ia selalu bersikap seolah-olah tidak melihat kehadiranku. Hal ini tentu saja membuatku dongkol. Tapi apa mau dikata, memang begitulah yang aku alami.

Namun bukan cowok Flores namanya jika belum apa-apa kita sudah menyerah, apalagi dari pihak ayahku aku masih memiliki sedikit campuran darah batak (nenekku batak sedangkan ayah Flores campur Irian dan ibu berdarah Timor campur Portugal). Jadi aku berusaha memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, apalagi aku tahu bahwa Hera tergolong senang dengan berbagai acara kegiatan kampus. Mungkin karena anak perantauan dan jauh dari keluarga sehingga daripada tidak ada kesibukan lebih baik ikut kegiatan kampus yang positif.

Kenyataan memang sesuai dengan harapanku. Malam itu sehabis aku membacakan kata sambutan pihak senat aku melihat Hera sedang berada di pojokan belakang kampus, duduk bersama dengan Lie Chun. Saat turun dari podium aku berjalan memutar bagian dalam lorong koridior auditorium dan menuju ke arah belakang tempat Hera sedang duduk mengamati acara bersama dengan Lie Chun. Namun untungnya tiba-tiba kulihat diam-diam dari balik celah-celah koridor ternyata Lie Chun pergi meninggalkan Hera, mungkin ke toilet, entahlah aku tidak tahu. Yang aku tahu bahwa aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Perlahan aku pergi menghampiri dirinya.

“Hera, apa khabar?” sahutku agak sedikit dekat di belakangnya.

Kulihat ekspresi Hera tetap tenang melihat acara pagelaran paduan suara kampus kami yang terkenal karena selalu menang di berbagai kejuaraan di luar negeri. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Hera agak sedikit tegang, terlihat dari leher dan bahunya sedikit mengejang walaupun ia tetap cuek melihat acara yang tengah berlangsung. Terus terang lidahku terasa agak kelu untuk menyapanya karena kami sudah lama tidak berkomunikasi. Bukan karena tidak sempat namun karena Hera selalu menolak untuk berkomunikasi denganku.

Namun aku tetap nekad. Biar bagaimanapun aku harus bisa meraih kembali cinta kami yang terputus oleh ulah Lie Chun.

“Ra, maafkan aku kalau aku telah menyakiti hatimu, tapi aku sungguh tidak pernah ada maksud apalagi sampai berbuat yang menyakiti hatimu. Terus terang ini hanya salah paham belaka. Tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya. Biar bagaimanapun aku ingin masalah ini jelas, Hera. Terserah bagaimana keputusanmu nanti, tapi berikanlah aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepada dirimu,” sahutku panjang lebar sambil agak panas dingin menunggu reaksinya.

Lama diam tidak ada suara di antara kami berdua, akhirnya setelah sekian lama menunggu akhirnya Hera terdengar bergumam tanpa menoleh ke belakang, “Tunggu aku di Taman “S” Minggu Pagi besok,” lalu ia bergegas bangkit dan pergi meninggalkan diriku yang masih terbengong-bengong. Namun sejenak aku sadar bahwa aku masih memiliki kesempatan. Lantas, tanpa menunggu acara selesai aku pun bergegas pulang. Yang ada di benakku adalah secercah harap dan rencana untuk menyusun rencana sebaik mungkin agar dapat menjumpai Hera dan bertemu dengannya.

Pagi itu suasana Taman S yang sejuk dan asri karena dikelilingi pemukiman mewah agak sedikit ramai. Mungkin berhubung hari minggu pagi jadi dimanfaatkan oleh warga sekitar maupun penduduk dari daerah lain untuk berolah raga sekaligus berekreasi. Aku sengaja menunggu dengan pakaian yang biasa kukenakan yakni celana Jeans dan kaos Polo berkerah. Itu memang pakaian favorit yang selalu kukenakan dipadu dengan sepatu kets berkulit hitam (Adidas Stansmith), jadi tetap resmi untuk dipakai ke gereja namun nyaman untuk berjalan-jalan sepulang dari sana.

Biasanya Hera mengimbangi dengan juga berpakaian celana Jeans namun dipadu dengan kemeja bermotif lengan pendek. Namun entahlah apakah Hera kali ini akan mengenakan pakaian yang sama dengan yang kukenakan atau tidak, aku tidak tahu. Namun yang jelas jika ia datang dengan mengenakan pakaian kebangsaan kami berdua berarti aku punya harapan positif. Namun bukan berarti jika ia berpakaian beda berarti aku tidak punya peluang.

Lama aku menunggu di bangku taman yang berada di pinggir kolam besar di tengah taman. Terus terang agak gelisah juga, apalagi hari minggu itu banyak pasangan muda-mudi yang saling bermesraan membuat orang yang lagi patah hati jadi merasa sirik. Sedang asik-asiknya menunggu dan melihat bebek-bebek yang berenang di tengah kolam, akhirnya aku mendengar suara lembut yang telah lama kunantikan.

“Handy..”

Lantas aku menoleh ke belakang. Ternyata aku lihat Hera sedang berdiri di belakangku dengan gaun putih yang indah seperti yang dikenakan pada malam Valentine beberapa waktu yang lalu.

“Ahh, betapa cantiknya dia,” gumamku dalam hati.

Di sinilah baru terlihat bahwa Hera benar-benar cantik seperti bidadari, apalagi dia juga mengenakan sepatu putih seperti sepatunya cinderella. Benar-benar wanita impian. Namun yang membuatku benar-benar kagum adalah Hera tidak seperti biasanya. Jika tidak berdandan kali ini ia memakai lipstik merah dengan sapuan tipis ditambah sapuan bedak yang sangat tipis dan halus, sehingga memancarkan aura kecantikannya yang tiada tara. Rasanya semua model-model bugil Jepang maupun Korea dan Chinese dari halaman website yang sering kukunjungi tidak ada satupun yang secantik dia.

Lama aku terbengong-bengong menatap kecantikan Hera sampai akhirnya aku dikejutkan oleh dehemannya. Wajahku langsung terasa panas, mungkin sudah terlihat memerah kali ya? Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya.

“Duduklah dulu di sini Hera, ada yang inginku bicarakan dengan mu,” ujarku sambil memutar posisi duduk sehingga jadi berhadapan dengannya.

Akhirnya Hera melangkah dengan anggun dan duduk di sisiku. Lama kami terdiam sejenak lalu aku membuka pembicaraan.

“Hera, sebenarnya aku ingin menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada malam itu. Tapi apakah kamu mau mendengarkan alasanku atau tidak, itu tergantung dari dirimu. Jika tidak, aku tidak akan menjelaskannya karena pasti apapun alasanku kau tidak akan menerima. Sekarang maukah kamu mendengarkan alasanku?”

Lama suasana hening, hanya terdengar sayup-sayup suara canda tawa muda-mudi yang sedang asyik memadu kasih, sampai akhirnya terdengar suara dari Hera, “Handy, bukankah aku sudah ada di sini? Tunggu apalagi? Jika aku tidak ingin mendengarkan alasanmu, untuk apa aku datang ke sini.”

Sejenak aku tergagap, namun aku mampu menguasai diri, dan mulailah mengalir kisah kejadian yang sebenarnya dari mulai malam itu hingga keesokan harinya, di mana pada akhirnya Lie Chun berhasil menghasut Hera. Sepanjang cerita Hera hanya terdiam saja, namun dengan serius memperhatikan penjelasan dari diriku. Akhirnya cerita itupun berakhir, dan Hera hanya menatapku lama sekali. Lantas..

“Handy, maafkan aku. Terus terang akupun sudah sempat salah menilai dirimu. Biar bagaimanapun aku juga ikut khilaf. Aku ikut terbawa emosi dan aku terlalu percaya kepada Lie Chun. Memang ia sahabat baikku ketika kami sekolah dulu, tapi terus terang aku tidak menyangka kalau ia akan tega berbuat hal itu terhadap dirimu maupun diriku untuk memisahkan cinta kita berdua.”

Lantas suasana kembali hening namun dari sudut-sudut mata Hera tampak mengalir air mata. Akupun tanpa disuruh dua kali lantas segera merangkul dirinya dan membelai rambutnya. Lama kami saling berangkulan tanpa kata-kata hingga akhirnya..

“Handy, kupikir lebih baik kita melupakan apa yang telah terjadi. Aku menyesal telah khilaf menuduhmu yang tidak-tidak. Maafkan aku jika telah menyakiti hatimu. Terus terang aku tidak menyangka bahwa Lie Chun yang telah lama menjadi sahabatku sejak di bangku sekolah dulu telah tega merusak hubungan kita,” ujar Hera dengan mata masih basah.
Aku pun berkata, “Sudahlah Hera. Yang sudah terjadi biarkanlah terjadi. Yang penting ini menjadi pelajaran bagi kita berdua agar tidak mudah mempercayai suatu berita tanpa disertai fakta yang kuat. Lagipula aku sendiri kan masih terhitung orang baru dalam hidupmu. Jadi sudah sewajarnya jika engkau lebih mempercayai Lie Chun.”

Aku mengatakan itu dengan nada sedikit di wibawa-wibawakan karena kupikir kapan lagi menumbuhkan rasa cintanya agar semakin dalam menyayangiku. Bukankah begitu pembaca?

Akhirnya kami berjalan pulang dari taman itu, dengan tangan saling berpegangan layaknya orang yang baru jadian. Tapi begitulah memang cinta, penuh dengan suka duka dan jatuh bangun. Namun belum lama kami berjalan mendadak terdengar suara ban berdecit dan raungan keras suara mesin mobil. Dan tiba-tiba di hadapan kami tepat di pinggir taman tersebut berhenti sebuah mobil sedan Great Corolla merah berplat nomor daerah kami.

Lantas mendadak dari dalamnya turun Lie Chun. Astaga, terus terang aku tidak pernah menyangka akan bertemu Lie Chun dalam keadaan seperti itu. Raut mukanya terlihat aneh dan matanya menatap nanar ke arah kami. Lantas mendadak terdengar suaranya sangat keras.

“Handy! Hera! Ternyata kalian semua pengkhianat. Kalian cuman bisa menyakiti hatiku saja! Rasakan pembalasanku!” sambil berkata demikian Lie Chun mengambil sesuatu dari tas kecilnya yang sedari tadi ditentengnya. Lantas jelaslah semuanya bagiku. Ternyata Lie Chun membawa sebuah pistol genggam semiotomatik. Mungkin dari tipe FN45 dan segera membidikannya ke arah kami berdua.

“Lie Chun, tunggu dulu..!” seru Hera.

Namun terlambat, kekasihku itu tidak memperhitungkan kenekatan temannya tersebut. Aku pun tidak sempat merapal ajian Tudung Dewa yang bisa dipergunakan untuk melindungi diriku maupun Hera. Yang terjadi hanyalah suara letupan halus dari pistol Lie Chun yang dilengkapi dengan perendam suara dan erangan suara Hera yang tertahan. Selanjutnya segalanya berlalu begitu cepat, aku secara refleks segera berkelit dan melancarkan jurus aikidoku untuk memiting dan mengunci Lie Chun, sehingga ia tidak sempat lagi untuk mengarahkan senjatanya kepadaku. Dan untunglah orang-orang di sekitar taman bergerak menghampiriku dan membantuku membekuk Lie Chun. Namun kulihat Hera nampak mengerang tak berdaya.

“Handy.. Ohh, tolong aku,” ujar Hera dengan suara yang sangat lemah.
“Hera, tenanglah sayang. Sebentar lagi ambulans akan datang.”
“Sshh, sudahlah Han. Aku merasa waktuku sudah dekat. Berjanjilah padaku sayang. Berjanjilah, bahwa engkau mau mengampuni Lie Chun dan menikahinya. Aku merelakan ia untukmu,” ujar Hera dengan nafas tersengal-sengal.
“Tapi.. Hera, aku tidak mencintainya,” sahutku ragu.
“Tidak. Berjanjilah padaku Handy. Berjanjilah, agar aku bisa meninggal dengan tenang,”

Suara Hera semakin lama semakin lemah dan parau, sementara darah semakin mengental di perutnya dan di pangkuanku.

“Baiklah Hera..” sahutku lemah.
“Terima kasih Han. Kamu memang kekasihku yang paling baik dalam hidupku. Ya Bapa Ke Dalam Tangan Muku serahkan Jiwaku,” ujar Hera terbata-bata dan terdengar sangat lamat-lamat.

Akhirnya Hera menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku, dalam dekapanku, dengan penuh berlumuran darah. Aku yang biasanya begitu tegar saat itu terasa sangat rapuh dan air mataku jatuh satu persatu di atas wajah Hera yang tersenyum manis.

Penutup:

Tanah kuburan itu masih basah sehabis hujan di Minggu Pagi Paskah. Cindy anakku meletakkan karangan bunganya di atas tanah kuburan Hera. Sementara Lie Chun melihat dari kejauhan sambil bersender di sisi mobil kami.

“Pa, tante Hera dulu pasti teman baik Papa dan mama. Kelihatannya Papa dan mama tiap paskah selalu rajin mengunjungi kuburannya,” ujar anakku dengan lancar. Maklum ia sudah kelas 6 SD.
“Tentu ia orangnya sangat baik ya Pa?” ujarnya lagi menambahkan.

Sementara aku hanya bisa membelai rambutnya dan menghela nafas perlahan, “Ya sayang, ia memang sangat baik.”

Lantas kami berjalan menuju Lie Chun dan masuk ke dalam mobil.

TAMAT

Cerita Antara Kita 2:59 pm

Ayahku sudah sekitar 3 tahun meninggal dunia, meninggalkan ibu dan anak-anak, aku dan adikku Charles yang masih kecil. Kini Charles sudah duduk di kelas 8 SD sedang aku sudah tamat SMU, mulai kuliah di Akademi Pariwisata dan Perhotelan. Meski mendapat dana pensiun tetapi amat kecil jumlahnya. Maklum, ayahku hanya pegawai kecil di Pemda KMS. Untuk menyambung hidup dan membiayai sekolahku dan Charles, ibuku terpaksa membuka toko jamu di samping rumah. Lumayan, sebab selain jualan jamu ibu juga menjual rokok, permen, alat-alat tulis, pakaian anak-anak dan sebagainya. Tentu saja, aku membantu ibu dengan sekuat tenaga. Siapa lagi yang bisa membantu beliau selain aku?

Charles masih terlalu kecil untuk bisa membantu dan mengerti tentang kesulitan hidup. Meski usia ibu sudah berkepala empat tetapi masih cantik dan bentuk tubuhnya masih bahenol dan menarik. Maklum ibu memang suka memelihara tubuhnya dengan jamu Jawa. Selain itu, sejak muda ibu memang cantik. Ibuku blasteran, ayahnya belanda dan Ibu Sunda. Ayahku sendiri dari suku Ambon tetapi kelahiran Banyumas. Ia lebih Jawa ketimbang Ambon, meski namanya Ambon. Selama hidup sampai meninggal ayah bahkan belum pernah melihat Ambon.

Ayah meninggal karena kecelakaan bus ketika bertugas di Jakarta. Bus yang ditumpanginya ngebut dan nabrak truk tangki yang memuat bahan bakar bensin. Truk dan bus sama-sama terbakar dan tak ada seorang penumpangpun yang selamat termasuk ayahku.

Sejak itu, ibuku menjanda sampai tiga tahun lamanya. Baru setahun yang lalu diam-diam ibu pacaran dengan duda tanpa anak, teman sekantor ayahku dulu. Namanya Sutoyo, usianya sama dengan ibuku, 42 tahun. Sebenarnya aku sudah curiga, sebab Pak Toyo (aku memanggil-nya “Pak” karena teman ayahku) yang rumahnya jauh sering datang minum jamu dan ngobrol dengan ibuku. Lama-lama mereka jadi akrab dan lebih banyak ngobrolnya daripada minum jamu. Kecurigaanku terbukti ketika pada suatu hari. ibu memanggilku dan diajaknya bicara secara khusus.
“Begini Cyn”, kata ibu waktu itu.
“Ayahmu kan sudah tiga tahun meninggalkan kita, sehingga ibu sudah cukup lama menjanda.”

Aku langsung bisa menebak apa yang akan dikatakan ibu selanjutnya. Aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui betapa sepinya ibu ditinggal ayah. Ibu masih muda dan cantik, tentunya ia butuh seseorang untuk mendampinginya, melanjutkan kehidupan. Aku sadar sebab aku juga wanita meski belum pernah menikah.

“Ibu tak bisa terus menerus hidup sendiri. Ibu butuh seseorang untuk mendampingi ibu dan merawat kalian berdua, kamu dan adikmu masih butuh perlindungan, masih butuh kasih sayang dan tentu saja butuh biaya untuk melanjutkan studi, kalian demi ibu sudi menikah kembali dengan Pak Toyo dengan harapan masa depan kalian lebih terjamin.
Kamu mengerti?” begitu kata ibu.
“Ibu mau menikah dengan Pak Toyo?” aku langsung saja memotongnya.
“Tidak apa-apa kok Bu, Pak Toyo kan orang baik, duda lagi. Apalagi dia kan bekas teman ayah dulu!”.
“Rupanya kamu sudah cukup dewasa untuk bisa membaca segala sesuatu yang terjadi sekelilingmu, Cyn”, ibu tersenyum. “Kamu benar-benar mirip ayahmu.”

Tak berapa lama kemudian ibu menikah dengan Pak Toyo dengan sangat sederhana dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat. Sesudah itu ibu diboyong ke rumah Pak Toyo, dan rumah kami, kios dan segala isinya menjadi tanggung jawabku. Ibu datang pagi hari setelah kios aku buka dan pulang sore hari dijemput Pak Toyo sepulangnya dari kantor.

Kehidupan kami bahagia dan biasa-biasa saja sampai pada suatu hari, sekitar empat bulan setelah ibu menikah, suatu tragedi di rumah tangga terjadi tanpa setahu ibuku. Aku memang sengaja diam dan tidak membicarakan peristiwa itu kepada ibuku, aku tidak ingin melukai perasaannya. Aku terlalu sayang pada ibu dan biarlah kutanggung sendiri.

Kejadian itu bermula ketika aku sedang berada di rumah ibuku (rumah Pak Toyo) mengambil beberapa barang dagangan atas suruhan ibu. Hal tersebut biasa kulakukan apabila aku sedang tidak kuliah. Bahkan aku juga sering tidur di rumah ibuku bersama adik. Tak jarang sehari penuh aku berada di rumah ibu saat ibu berada di rumah kami menjaga kios jamu.

Kadangkala aku memang butuh ketenangan belajar ketika sedang menghadapi ujian semester. Rumah ibu Sepi di siang hari sebab Pak Toyo bekerja dan ibu menjaga kios, sementara di rumah itu tidak ada pembantu. Siang itu ibu menyuruhku mengambil beberapa barang di rumah Pak Toyo karena persediaan di kios habis. Ibu memberiku kunci agar aku bisa masuk rumah dengan leluasa. Tetapi ketika aku datang ternyata rumah tidak dikunci sebab Pak Toyo ada di rumah. Aku sedikit heran, kenapa Pak Toyo pulang kantor begitu awal, apakah sakit?
“Lho, Bapak kok sudah pulang?” tanyaku dengan sedikit heran. “Sakit ya Pak?”.
“Ah tidak”, jawab Pak Toyo.” Ada beberapa surat ketinggalan. kamu sendiri kenapa kemari? Disuruh ibumu ya?”.
“Iya Pak, ambil beberapa barang dagangan”, jawabku biasa-biasa saja. Seperti biasa aku terus saja nyelonong masuk ke ruang dalam untuk mengambil barang yang kuperlukan.

Tak kusangka, Pak Toyo mengikutiku dari belakang. Ketika aku sudah mengambil barang dan hendak berbalik, Pak Toyo berdiri begitu dekat dengan diriku sehingga hampir saja kami bertubrukan. Aku kaget dan lebih kaget lagi ketika tiba-tiba Pak Toyo memeluk pinggangku. Belum sempat aku protes, Pak Toyo sudah mencium bibirku, dengan lekatnya.

Barang dagangan terjatuh dari tanganku ketika aku berusaha mendorong tubuh Pak Toyo agar melepaskan tubuhku yang dipeluknya erat sekali. Tetapi ternyata Pak Toyo sudah kerasukan setan jahanam. Ia sama sekali tak menghiraukan doronganku dan bahkan semakin mempererat pelukannya. Aku tak berhasil melepaskan diri. Pak Toyo menekan tubuhku dengan tubuhnya yang besar dan berat. Aku mau berteriak tetapi tiba-tiba tangan kanan Pak Toyo menutup mulutku.
“Kalau kamu berteriak, semua tetangga akan berdatangan dan ibumu akan sangat malu”, katanya dengan suara serak.
Nafasnya terengah-engah menahan nafsu. “Berteriaklah agar kita semua malu!”

Aku jadi ketakutan dan tak berani berteriak. Rasa takut dan kasihan kepada ibu membuat aku luluh. Pikirku, bagaimana kalau sampai orang lain tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang diperbuat suami ibuku terhadapku.

Belum lagi aku jernih berpikir Pak Toyo menyeretku masuk ke kamar tidur dan mendorongku sampai jatuh telentang di tempat tidur. Dengan garangnya Pak Toyo menindih tubuhku dan menciumi wajahku. Sementara tangannya yang kanan tetap mendekap mulutku, tangan kirinya mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Benda kecil licin segera dipaksakan masuk ke dalam mulutku. Benda kecil yang ternyata kapsul lunak itu pecah di dalam mulut dan terpaksa tertelan. Setelah menelan kapsul itu mataku jadi berkunang-kunang, kepalaku jadi berat sekali dan anehnya, gairah seksku timbul secara tiba-tiba. Jantungku berdebar keras sekali dan aliran darahku terasa amat cepat. Entah bagaimana, aku pasrah saja dan bahkan begitu mendambakan sentuhan seorang lelaki. Gairah itu begitu memuncak dan menggebu-gebu itu datang secara tiba-tiba menyerang seluruh tubuhku.

Samar-samar kulihat wajah Pak Toyo menyeringai di atasku. Perlahan-lahan ia bangkit dan melepaskan seluruh pakaianku. Kemudian ia membuka pakaiannya sendiri. Aku tak bisa menolak. Diriku seperti terbang di awang-awang dan meski tahu apa yang sedang terjadi, tetapi sama sekali tak ada niat untuk melawan.

Begitu juga ketika Pak Toyo yang sudah tak berpakaian menindih tubuhku dan menggerayangi seluruh badanku, aku pasrah saja. Bahkan ketika aku merasakan suatu benda asing memasuki tubuhku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak kuasa untuk menolak, karena aku merasakan kenikmatan luar biasa dari benda asing yang mulai menembus dan bergerak-gerak di dalam liang kewanitaanku. Kesadaranku entah berada di mana. Hanya saja aku tahu, apa yang sedang terjadi pada diriku, Aku telah diperkosa Pak Toyo!

Ketika siuman, kudapati diriku telentang di ranjang Pak Toyo (yang juga ranjang ibuku) tanpa busana. Pakaianku berserakan di bawah ranjang. Sprei morat-marit dan kulihat bercak darah di sprel itu. Aku menangis…, aku sudah tidak perawan lagi! Aku sudah kehi1angan apa yang paling bernilai dalam hidup seorang wanita. Aku merasa jijik dan kotor. Aku bangkit dan bagian bawah tubuhku terasa sakit sekali…, nyeri! Tetapi aku tetap berusaha bangkit dan dengan tertatih-tatih berjalan ke kamar mandi. Kulihat jam dinding, Wah…, Sudah tiga jam aku berada di rumah itu. Aku harus segera pulang agar ibu tidak menunggu-nunggu. Aku segera mandi dan membersihkan diri serta berdandan dengan cepat.

Kuambil barang dagangan yang tercecer di lantai dan segera pulang. Pak Toyo sudah tidak kelihatan lagi, mungkin sudah kembali ke kantor. Kubiarkan ranjang morat-marit dan sprei berdarah itu tetap berada di sana. Aku tak peduli. Hatiku sungguh hancur lebur. Kebencianku kepada Pak Toyo begitu dalam. Pada suatu saat, aku akan membalasnya.
“Kok lama sekali?” tanya ibu ketika aku datang.
“Bannya kempes Bu, nambal dulu!” jawabku sambil mencoba menutupi perubahan wajahku yang tentu saja pucat dan malu. Kuletakkan barang dagangan di meja dan rasanya ingin sekali aku memeluk ibu dan memohon maaf serta menceritakan apa yang telah dilakukan suaminya kepadaku.

Tetapi hati kecilku melarang. Aku tak ingin membuat ibu sedih dan kecewa. Aku tak ingin ibuku kehilangan kebahagiaan yang baru saja didapatnya. Aku tak kuasa membayangkan bagaimana hancurnya hati Ibu bila mengetahui apa yang telah dilakukan suaminya kepadaku. Biarlah Untuk sementara kusimpan sendiri kepedihan hati ini.

Dengan alasan hendak ke rumah teman, aku mandi dan membersihkan diriku (lagi). Di kamar mandi aku menangis sendiri, menggosok seluruh tubuhku dengan sabun berkali-kali. Jijik rasanya aku terhadap tubuhku sendiri. Begitu keluar dan kamar mandi aku langsung dandan dan pamit untuk ke rumah teman. Padahal aku tidak ke rumah siapa-siapa. Aku larikan motorku keluar kota dan memarkirnya di tambak yang sepi. Aku duduk menyepi sendiri di sana sambil menguras air mataku.
“Ya Tuhan, ampunilah segala dosa-dosaku” ratapku seorang diri.

Baru sore menjelang magrib aku pulang. Ibu sudah dijemput Pak Toyo pulang ke rumahnya sehingga aku tak perlu bertemu dengan lelaki bejat itu. Kios masih buka dan adik yang menjaganya. Ketika aku pulang, aku yang menggantikan menjaga kios dan adik masuk untuk belajar.

Untuk beberapa hari lamanya aku sengaja tidak ingin bertemu Pak Toyo. Malu, benci dan takut bercampur aduk dalam hatiku. Aku sengaja menyibukkan diri di belakang apabila pagi-pagi Pak Toyo datang mengantar ibu ke kios. Sorenya aku sengaja pergi dengan berbagai alasan saat Pak Toyo menjemput ibu pulang.

Namun meski aku sudah berusaha untuk terus menghindar, peristiwa itu toh terulang lagi. Peristiwa kedua itu sengaja diciptakan Pak Toyo dengan akal liciknya. Ketika sore hari menjemput ibu, Pak Toyo mengatakan bahwa ia baru saja membeli sebuah sepeda kecil untuk adikku, Charles. Sepeda itu ada di rumah Pak Toyo dan adik harus diambil nya sendiri.

Tentu saja adikku amat gembira dan ketika Pak Toyo menyarankan agar adik tidur di rumahnya, adik setuju dan bahkan ibu dengan senang hati mendorongnya. Bertiga mereka naik mobil dinas Pak Toyo pulang ke rumah mereka. Karena tidak ada orang lain di rumah, sebelum Pukul sembilan kios sudah kututup.

Rupanya, setelah sampai di rumah dan menyerahkan sepeda kecil kepada adik, Pak Toyo beralasan harus kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya malam itu juga. Ibu tidak curiga dan sama sekali tidak mengira kelau kepergian suaminya sebenarnya tidak ke kantor, melainkan kembali ke kios untuk nemperkosaku.

Waktu itu sudah pukul sepuluh malam dan kios sudah lama aku tutup. Tiba-tiba saja Pak Toyo sudah ada di dalam rumah. Rupanya Ia punya kunci milik ibu sehinga ia bisa bebas keluar masuk rumah kami. Aku amat kaget dan ingin mendampratnya, tetapi kembali dengan tenang dan wajah menyeringai, Pak Toyo mengancamku “Ayo, berteriaklah agar semua tetangga datang dan tahu apa yang sudah aku lakukan terhadapmu!” ancamnya serius. “Ayo berteriaklah agar ibumu malu dan seluruh keluargamu tercoreng!” tambahnya dengan suara serak.

Sekali lagi aku terperangah. Mulutku sudah mau berteriak tetapi kata-kata Pak Toyo sekali mengusik hatiku. Perasaan takut akan terdengar tetangga, ketakutan nama ibuku akan menjadi tercoreng, kecemasan bahwa tetangga akan mengetahui peristiwa perkosaanku, aku hanya berdiri terpaku memandang wajah penuh nafsu yang siap menerkamku. Aku tak bisa berpikir jernih tagi. Hanya perasaan takut dan takut yang terus mendesak naluriku.

Sebelum aku mampu mengambil keputusan apa yang akan kulakukan, Pak Toyo sudah maju dan mendekap tubuhku. Sekali lagi aku ingin berteriak tetapi suaraku tersendat di tenggorokan. Entah bagaimana awalnya namun yang aku tahu lelaki itu sudah menindih tubuhku dengan tanpa busana. Yang jelas, malam itu aku terpaksa melayani nafsu suami ibuku yang menggebu-gebu.

Dengan ganas ayah tiriku itu memperlakukan aku seperti pelacur. Ia memperkosaku berkali-kali tanpa belas kasihan. Dengus nafasnya yang berat dan tubuhnya yang menindih tubuhku apalagi ketika ada sesuatu benda keras mulai masuk menyeruak membelah bagian sensitif dan paling terhormat bagi kewanitaanku membuat aku merintih kesakitan. Aku benar-benar dijadikannya pemuas nafsu yang benar-benar tak berdaya.

Pak-Toyo kuat sekali. Ia memaksaku berbalik kesana kemari berganti posisi berkali-kali dan aku terpaksa menurut saja. Hampir dua jam Pak Toyo menjadikan tubuhku sebagai bulan-bulanan nafsu seksnya. Bukan main! Begitu ia akan selesai kulihat Pak Toyo mencabut batangannya dari kemaluanku dengan gerakan cepat ia mengocok-ngocokkan batangannya yang keras itu dengan sebelah tangannya dan dalam hitungan beberapa detik kulihat cairan putih kental menyemprot dengan banyak dan derasnya keluar dari batang kejantanannya, cairan putih kental itu dengan hangatnya menyemprot membasahi wajah dan tubuhku, ada rasa jijik di hatiku selain kurasakan amis dan asin yang kurasakan saat cairan itu meleleh menuju bibirku, setelah itu ia lunglai dan terkapar di samping tubuhku, tubuhku sendiri bagai hancur dan tak bertenaga.

Seluruh tubuhku terasa amat sakit, dan air mata bercucunan di pipiku. Namun terus terang saja, aku juga mencapai orgasme. Sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya. Entah apa yang membuat ada sedikit perasaan senang di dalam hatiku. Rasa puas dan kenikmatan yang sama sekali tak bisa aku pahami. Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tetapi kadangkala aku justru rindu dengan perlakuan Pak Toyo terhadapku itu. Aku sudah berusaha berkali-kali menepis perasaan itu, tetapi selalu saja muncul di benakku. Bahkan kadangkala aku menginginkan lagi dan lagi! Gila bukan?

Dan memang, ketika pada suatu sore ibu sedang pergi ke luar kota dan Pak Toyo mandatangiku lagi, aku tak menolaknya. Ketika ia sudah berada di atas tubuhku yang telanjang, aku justru menikmati dan mengimbanginya dengan penuh semangat. Rupanya apa yang dilakukan Pak Toyo terhadapku telah menjadi semacam candu yang membuatku menjadi kecanduan dan ketagihan. Aku kini mulai menikmati seluruh permainan dan gairah yang luar biasa yang tak bisa kuceritakan saat ini dengan kata-kata.

Pak Toyo begitu bergairah dan menikmati seluruh lekuk-lekuk tubuhku dengan liarnya, akupun mulai berani mencoba untuk merasakan bagian-bagian tubuh seorang lelaki, akupun kini mulai berani untuk balas mencumbui, membelai seluruh bagian tubuhnya dan mulai berani untuk menjamah batang kejantanan ayah tiriku ini, begitu keras, panjang dan hangat. Aku menikmati dengan sungguh-sungguh, Luar Biasa!

Pada akhir permainan Pak Toyo terlihat amat puas dan begitu juga aku. Namun karena malu, aku tak berkata apa-apa ketika Pak Toyo meninggalkan kamarku. Aku sengaja diam saja, agar tak menunjukkan bahwa aku juga puas dengan permainan itu. Bagaimanapun juga aku adalah seorang wanita yeng masih punya rasa malu. Akan tetapi, ketika Pak Toyo sudah pergi ada rasa sesal di dalam hati. Ada perasaan malu dan takut. Bagaimanapun Pak Toyo adalah suami ibuku. Pak Toyo telah menikahi ibuku secara sah sehingga ia menjadi ayah tiriku, pengganti ayah kandungku.

Adalah dosa besar melakukan hubungan tak senonoh antara anak dan ayah tiri. Haruskah kulanjutkan pertemuan dan hubungan penuh nafsu dan maksiat ini?

Di saat-saat sepi sediri aku termenung dan memutuskan untuk menjauh dan Pak Toyo, serta tidak melakukan hubungan gelap itu lagi. Namun di saat-saat ada kesempatan dan Pak Toyo mendatangiku serta mengajak “bermain” aku tak pernah kuasa menolaknya. Bahkan kadangkala bila dua atau tiga hari saja Pak Toyo tidak datang menjengukku, aku merasa kangen dan ingin sekali merasakan jamahan-jamahan hangat darinya.

Perasaan itulah yang kemudian membuat aku semakin tersesat dan semakin tergila-gila oleh “permainan” Pak Toyo yang luar biasa hebat. Dengan penuh kesadaran akhirnya aku menjadi wanita simpanan Pak Toyo di luar pengetahuan ibuku.

Sampai sekarang rahasia kami masih tertutup rapat dan pertemuan kami sudah tidak terjadi di rumah lagi, tetapi lebih banyak di losmen, hotel-hotel kecil dan di tempat-tempat peristirahatan. Yah, disana aku dan Pak Toyo bisa bermain cinta dengan penuh rasa sensasi yang tinggi dan tidak kuatir akan kepergok oleh ibuku, kini aku dan ayah tiriku sudah seperti menjadi suami istri.

Untuk mencegah hal-hal yang sangat mungkin terjadi, dalam melakukan hubungan seks Pak Toyo selalu memakai kondom dan aku pun rajin minum jamu terlambat bulan. Semua itu tentu saja di luar sepengetahuan ibu. Aku memang puas dan bahagia dalam soal pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi sebenarnya jauh di dalam lubuk hati-aku sungguh terguncang. Bagaimana tidak? Aku telah merebut suami ibuku sendiri dan ‘memakannya’ secara bergantian.

Kadangkala aku juga merasa kasihan kepada ibu yang sangat mencintaiku. Kalau saja sampai ibu tahu hubungan gelapku dengan Pak Toyo, Ibu pasti akan sedih sekali. Hatinya bakal hancur dan jiwanya tercabik-cabik. Bagaimana mungkin anak yang amat disayanginya bisa tidur dengan suaminya? Sampai kapan aku akan menjalani hidup yang tak senonoh dan penuh dengan maksiat ini?

Entahlah, sekarang ini aku masih kuliah. Mungkin bila nanti sudah lulus dan jadi sarjana aku bisa keluar dan lingkugan rumah dan bekerja di kota lain. Saat ini mungkin aku belum punya kekuatan untuk pergi, tetapi suatu saat nanti aku pasti akan pergi jauh dan mencari lelaki yang benar-benar sesuai dan dapat kuandalkan sebagai suami yang baik, dan tentunya kuharapkan lebih perkasa dari yang kudapatkan dan kurasakan sekarang.
Mungkin dengan cara itu aku bisa melupakan Pak Toyo dan melupakan peristiwa-peristiwa yang sangat memalukan itu.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 2:54 pm

Aku baru tahu bahwa sudah rahasia umum semua wanita yang bekerja di salon itu bisa diajak kencan. Pada hari Sabtu yang telah kami sepakati dengan teman dia, dan kami janjian ketemu di salon itu jam 13:00. Aku pun meluncur ke salon itu untuk potong rambut, sejenak aku melirik jam tangan, terlihat jam satu kurang beberapa menit saja dan kuputuskan untuk masuk. Seperti halnya salon-salon biasa, suasana salon ini normal tidak ada yang luar biasa dari tata ruangnya serta kegiatannya. Pada pertama kali aku masuk, aku langsung menuju ke tempat meja reception dan di sana aku mengatakan niat untuk potong rambut. Dikatakan oleh wanita cantik yang duduk di balik meja reception agar aku menunggu sebentar sebab sedang sibuk semua. Sambil menunggu, aku mencoba untuk melihat-lihat sekitar siapa tahu ada temanku, tapi tidak terlihat ada temanku di antara semua orang tersebut. Mungkin dia belum datang, pikirku. Kuakui bahwa hampir semua wanita yang bekerja di salon ini cantik-cantik dan putih dengan postur tubuh yang proporsional dan aduhai. Kalau boleh memperkirakan umur mereka, mereka berumur sekitar 20-30 tahun. Aku jadi teringat dengan omongan temanku, Hanni, bahwa mereka bisa diajak kencan. Namun aku sendiri masih ragu sebab salon ini benar-benar seperti salon pada umumnya.

Setelah beberapa menit menunggu, aku ditegur oleh reception bahwa aku sudah dapat potong rambut sambil menunjuk ke salah satu tempat yang kosong. Aku pun menuju ke arah yang ditentukan. Beberapa detik kemudian seorang wanita muda nan cantik menugur sambil memegang rambutku.
“Mas, rambutnya mau dimodel apa?” katanya sambil melihatku lewat cermin dan tetap memegang rambutku yang sudah agak panjang.
“Mmm… dirapi’in aja Mbak!” kataku pendek.
Lalu seperti halnya di tempat cukur rambut pada umumnya, aku pun diberi penutup pada seluruh tubuhku untuk menghindari potongan-potongan rambut. Beberapa menit pertama begitu kaku dan dingin. Aku yang diam saja dan dia sibuk mulai motong rambutku. Sangat tidak enak rasanya dan aku mencoba untuk mencairkan suasana.
“Mbak… udah lama kerja di sini?” tanyaku.
“Kira-kira sudah enam bulan, Mas… ngomong-ngomong situ baru sekali ya potong di sini?” sambungnya sambil tetap memotong rambut.
“Iya… kemarenan saya lewat jalan ini, terus kok ada salon, ya udah dech, saya potong di sini. Ini juga janjian sama temen, tapi mana ya kok belum datang?” jawabku sedikit berbohong.
“Ooo..” jawabnya singkat dan berkesan cuek.
“Hei…” terdengar suara temanku sambil menepuk pundak.
“Eh… elo baru dateng?” tanyaku.
“Iya nih… tadi di bawah jembatan macet, mmm… gue potong dulu yach..” jawabnya sambil berlalu.

Ngobrol punya ngobrol, akhirnya kami dekat, dan belakangan aku tahu Stella namanya, 22 tahun, dia kost di daerah situ juga, dia orang Manado, dia enam bersaudara dan dia anak ketiga. Kami pun sepakat untuk janjian ketemu di luar pada hari Senin. Untuk pembaca ketahui setiap hari Senin, salon ini tutup. Setelah aku selesai, sambil memberikan tips sekedarnya, aku menanyakan apakah ia mau aku ajak makan. Dia menyanggupi dan ia menulis pada selembar secarik kertas kecil nomor teleponnya. Sambil menunggu Hanni, aku ngobrol dengan Stella, aku sempat diperkenalkan oleh beberapa temannya yang bernama Susi, Icha dan Yana. Ketiganya cantik-cantik tapi Stella tidak kalah cantik dengan mereka baik itu parasnya juga tubuhnya. Susi, ia berambut agak panjang dan pada beberapa bagian rambutnya dicat kuning. Icha, ia agak pendek, tatapannya agak misterius, dadanya sebesar Stella namun karena postur tubuhnya yang agak pendek sehingga payudaranya membuat ngiler semua mata laki-laki untuk menikmatinya. Sedangkan Yana, ia tampak sangat merawat tubuhnya, ia begitu mempesona, lingkar pinggangnya yang sangat ideal dengan tinggi badannya, pantatnya dan dadanya-pun sangat proporsional.

Akhirnya kami ketemu pada hari Senin dan di tempat yang sudah disepakati. Setelah makan siang, kami nonton bioskop, filmnya Jennifer Lopez, The Cell. Wah, cakep sekali ini orang, batinku mengagumi kecantikan Stella yang waktu itu mengenakan kaos ketat berwarna biru muda ditambah dengan rompi yang dikancingkan dan dipadu dengan celana jeans ketat serta sandal yang tebal. Kami serius mengikuti alur cerita film itu, hingga akhirnya semua penonton dikagetkan oleh suatu adegan. Stella tampak kaget, terlihat dari bergetarnya tubuh dia. Entah ada setan apa, secara reflek aku memegang tangan kanannya. Lama sekali aku memegang tangannya dengan sesekali meremasnya dan ia diam saja.

Singkat cerita, aku mengantarkan dia pulang ke kostnya, di tengah jalan Stella memohon kepadaku untuk tidak langsung pulang tapi putar-putar dulu. Kukabulkan permintaannya karena aku sendiri sedang bebas, dan kuputuskan untuk naik tol dan putar-putar kota Jakarta. Sambil menikmati musik, kami saling berdiam diri, hingga akhirnya Stella mengatakan,
“Mmm… Will, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, memang semua ini terlalu cepat, Will… aku suka sama kamu…” katanya pelan tapi pasti.
Seperti disambar petir mendengar kata-katanya, dan secara reflek aku menengok ke kiri melihat dia, tampaknya dia serius dengan apa yang barusan ia katakan. Dia menatap tajam.
“Apa kamu sudah yakin dengan omonganmu yang barusan, Tel?” tanyaku sambil kembali konsentrasi ke jalan.
“Aku nggak tau kenapa bahwa aku merasa kamu nggak kayak laki-laki yang pernah aku kenal, kamu baik, dan kayaknya perhatian and care. Aku nggak mau kalo setelah aku pulang ini, kita nggak bisa ketemu lagi, Will. Aku nggak mau kehilangan kamu,” jawabnya panjang lebar.
“Mmm… kalo aku boleh jujur sich, aku juga suka sama kamu, Tel… tapi kamu mau khan kalo kita nggak pacaran dulu?” tegasku.
“Ok, kalo itu mau kamu, mmm… boleh nggak aku ’sun’ kamu, bukti bahwa aku nggak main-main sama omonganku yang barusan?” tanyanya.

Wah rasanya seperti mau mati, jantungku mau copot, nafas jadi sesak. Edan ini anak, seperti benar-benar! Sekali lagi, aku menengok ke kiri melihat wajahnya yang bulat dengan bola mata yang berwarna coklat, dia menatapku tajam dan serius sekali.
“Sekarang?” tanyaku sambil menatap matanya, dan dia menganguk pelan.
“OK, kamu boleh ’sun’ aku,” jawabku sambil kembali ke jalanan.
Beberapa detik kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil posisi untuk memberi sebuah “sun” di pipi kiriku. Diberilah sebuah ciuman di pipi kiriku sambil memeluk. Lama sekali ia mencium dan ditempelkannya payudaranya di lengan kiriku. Ooh, empuk sekali, mantap!Payudaranya yang cukup menantang itu sedang menekan lengan kiriku. Edan, enak sekali, aku jadi terangsang nih. Secara otomatis batang kemaluanku pun mengeras. Dengan pelan sekali, Stella berbisik, “Will, aku suka sama kamu,” dan ia kembali mencium pipiku dan tetap menekan payudaranya pada lengan kiriku. Konsentrasiku buyar, sepertinya aku benar-benar sudah terangsang dengan perlakuan Stella, dan beberapa kendaraan yang melaluiku melihat ke arahku menembus kaca filmku yang hanya 50%. “Kamu terangsang ya, Will?” tanyanya pelan dan agak lirih. Aku tidak menjawab. Tangan kirinya mulai mengelus-elus badanku dan mengarah ke bawah. Aku sudah benar-benar terangsang. Sekali lagi Stella berbisik, “Will, aku tau kamu terangsang, boleh nggak aku lihat punyamu? punya kamu besar yach!” aku mengangguk. Dibukalah celana panjangku dengan tangan kirinya, seperti ia agak kesulitan pada saat ingin membuka ikat pinggangku sebab dia hanya menggunakan satu tangan. Aku bantu dia membuka ikat pinggang setelah itu aku kembali memegang setir mobil.

Dielus-elus batang kemaluanku yang sudah keras dari luar. Tidak lama kemudian ditelusupkan telapak kirinya ke dalam dan digenggamlah kemaluanku. “Ooh…” desahku pelan. Sedikit demi sedikit wajahnya bergerak. Pertama, ia cium bibirku dari sebelah kiri lalu turun ke bawah. Ia cium leherku, dan ia sempat berhenti di bagian dadaku, mungkin ia menikmati aroma parfum BULGARI-ku. Ia makin turun dan turun ke bawah. Beberapa kali Stella melakukan gerakan mengocok kemaluanku. Pertama-tama dijilatinya pangkal batang kemaluanku lalu merambat naik ke atas. Ujung lidahnya kini berada pada bagian biji kejantananku. Salah satu tangannya menyelinap di antara belahan pantatku, menyentuh anusku, dan merabanya. Stella melanjutkan perjalanan lidahnya, naik semakin ke atas, perlahan-lahan. Setiap gerakan nyaris dalam beberapa detik, teramat perlahan. Melewati bagian tengah, naik lagi. Ke bagian leher batangku. Kedua tanganku tak kusadari sudah mencengkeram setir mobil. Ujung lidahnya naik lebih ke atas lagi. Pelan-pelan setiap jilatannya kurasakan bagaikan kenikmatan yang tak pernah usai, begitu nikmat, begitu perlahan. Setiap kali kutundukkan wajahku melihat apa yang dilakukannya setiap kali itu pula kulihat Stella masih tetap menjilati kemaluanku dengan penuh nafsu.

Sesaat Stella kulihat melepaskan tangannya dari kemaluanku, ia menyibakkan rambutnya ke samping tiga jarinya kembali menarik bagian bawah batang kemaluanku dengan sedikit memiringkan kepalanya. Stella kemudian mulai menurunkan wajahnya mendekati kepala kejantananku. Ia mulai merekahkan kedua bibirnya, dengan berhati-hati ia memasukkan kepala kemaluanku ke dalam mulutnya tanpa tersentuh sedikitpun oleh giginya. Kemudian bergerak perlahan-lahan semakin jauh hingga di bagian tengah batang kemaluanku. Saat itulah kurasakan kepala kejantananku menyentuh bagian lidahnya. Tubuhku bergetar sesaat dan terdengar suara khas dari mulut Stella. Kedua bibirnya sesaat kemudian merapat. Kurasakan kehangatan yang luar biasa nikmatnya mengguyur sekujur tubuhku. Perlahan-lahan kemudian kepala Stella mulai naik. Bersamaan dengan itu pula kurasakan tangannya menarik turun bagian bawah batang tubuh kejantananku hingga ketika bibir dan lidahnya mencapai di bagian kepala, kurasakan bagian kepala itu semakin sensitif. Begitu sensitifnya hingga bisa kurasakan kenikmatan hisapan dan jilatan Stella begitu merasuk dan menggelitik seluruh urat-urat syaraf yang ada di sana. Kuraba punggungnya dengan tangan kiriku, kuelus dengan lembut lalu mengarah ke bawah. Kudapatkan payudara sebelah kanan. Kubuka telapak tanganku mengikuti bentuk payudaranya yang bulat. Kuremas dengan lembut. Kubuka satu persatu kancing rompinya, dan kembali aku membuka tepak tangan mengikuti bentuk payudaranya. Sambil tetap mengulum, tangan kanannya bergerak menyentuh tanganku, ia tarik baju ketatnya dari selipan celana panjangnya. Dipegangnya tanganku dan diarahkannya ke dalam. Di balik baju ketatnya, aku meremas-remas payudaranya yang masih terbungkus BH. Kuremas satu persatu payudaranya sambil mendesah menikmati kuluman pada kemaluanku.

Kuremas agak kuat dan Stella pun berhenti mengulum sekian detik lamanya. Kuelus-elus kulit dadanya yang agak menyembul dari BH-nya dengan sesekali menyelipkan salah satu jariku di antara payudaranya yang kenyal. “Agh…” desahku menikmati kuluman Stella yang makin cepat. Aku turunkan BH-nya yang menutupi payudara sebelah kanan, aku dapat meraih putingnya yang sudah mengeras. Kupilin dengan lembut. “Ooh… esst…” desahnya melepas kuluman dan terdengar suara akibat melepaskan bibirnya dari kemaluanku. Menjilat, menghisap, naik turun. Ia begitu menikmatinya. Begitu seterusnya berulang-ulang. Aku tak mampu lagi melihat ke bawah. Tubuhku semakin lama semakin melengkung ke belakang kepalaku sudah terdongak ke atas. Kupejamkan mataku. Stella begitu luar biasa melakukannya. Tak sekalipun kurasakan giginya menyentuh kulit kejantananku. Gila, belum pernah aku dihisap seperti ini, pikirku. Pikiranku sudah melayang-layang jauh entah ke mana. Tak kusadari lagi sekelilingku oleh gelombang kenikmatan yang mendera seluruh urat syaraf di tubuhku yang semakin tinggi. Aku berhenti sejenak meraba payudaranya. Kutengok ke bawah, tangan kanannya menggenggam dengan erat persis di bagian leher batang kemaluanku, dan ia terlihat tersenyum kepadaku. “Kamu luar biasa, Tel,” bisikku sambil menggeleng-gelengkan kepala terkagum-kagum oleh kehebatannya. Stella tersenyum manis dan berkesan manja. “Eh, bisa keluar aku kalo kamu kayak gini terus,” bisikku lagi merasakan genggaman tangannya yang tak kunjung mengendur pada kemaluanku. Stella tersenyum. “Kalo kamu udah nggak pengen keluar, keluarin aja, nggak usah ditahan-tahan,” jawabnya dan setelah itu menjulurkan lidahnya keluar dan mengenai ujung batang kemaluanku. Rupanya ia mengerti aku sedang berjuang untuk menahan ejakulasiku.

“Aaghhh…” desahku agak keras menahan rasa ngilu. Bukan kepalang nikmat yang kurasakan, tubuhnya bergerak tidak karuan, seiring dengan gerakan kepalanya yang naik turun, kedua tangannya tak henti-henti meraba dadaku, terkadang ia memilin kedua puting susuku dengan jarinya, terkadang ia melepaskan kuluman untuk mengambil nafas sejenak lalu melanjutkannya lagi. Semakin lama gerakannya makin cepat. Aku sudah berusaha semaksimal untuk menahan ejakulasi. Kualihkan perhatianku dari payudaranya. Aku meraba ke arah bawah. Kubuka kancing celananya. Agak lama kucoba membuka dan akhirnya terlepas juga. Pelan-pelan kuselipkan tangan kiriku di balik celana dalamnya. Aku dapat rasakan rambut kemaluannya tipis. Mungkin dipelihara, pikirku dalam hati. Kuteruskan agak ke bawah. Stella mengubah posisinya. Tadinya ia yang hanya bersangga pada satu sisi pantatnya saja, sekarang ia renggangkan kedua kakinya. Dengan mudah aku dapat menyentuh kemaluannya. Beberapa saat telunjukku bermain-main di bagian atas kemaluannya. Aku naik-turunkan jari telunjukku. Ugh, nikmat sekali nih rasanya, pikirku. Sesekali kumasukkan telunjukku ke dalam lubang kemaluannya. Aku jelajahi setiap milimeter ruangan di dalam kemaluan Stella. Aku temukan sebuah kelentit di dalamnya. Kumainkan klitoris itu dengan telunjukku. Ugh, pegal juga rasanya tangan kiriku. Sejenak kukeluarkan jariku dari dalam. Lalu aku menikmati setiap kuluman Stella. Rasanya sudah beberapa tetes spermaku keluar. Aku benar-benar dibuat mabuk kepayang olehnya.

Kembali kumasukkan jariku, kali ini dua jari, jari telunjuk dan jari tengahku. Pada saat aku memasukkan kedua jariku, Stella tampak melengkuh dan mendesah pelan. Semakin lama semakin cepat aku mengeluar-masukkan kedua jariku di lubang kemaluannya dan Stella beberapa menghentikan kuluman pada batang kemaluanku sambil tetap memegang batang kemaluanku. Entah sudah berapa orang yang melihat kegiatan kami terutama para supir atau kenek truk yang kami lewati, namun aku tidak peduli. Kenikmatan yang kurasakan saat itu benar-benar membiusku sehingga aku sudah melupakan segala sesuatu. Kembali Stella menjilat, menghisap dan mengulum batang kemaluanku dan entah sudah berapa lama kami melakukan ini. Kutundukkan kepalaku untuk melihat yang sedang dikerjakan Stella pada kemaluanku. Kali ini Stella melakukan dengan penuh kelembutan, ia julurkan lidahnya hingga mengenai ujung kepala kemaluanku lagi. Ia memutar-mutarkan lidahnya tepat di ujung lubang kemaluanku. Sungguh dashyat kenikmatan yang kurasakan. Beberapa kali tubuhku bergetar namun ia tetap pada sikapnya. Sesekali ia masukkan semua batang kemaluanku di dalam mulutnya dan ia mainkan lidahnya di dalam. “Ooh.. Tel… enakk…” desahku sambil melepaskan tangan kiriku dari lubang kemaluannya. Kupegang kepalanya mengikuti gerakan naik turun.

“Stella, aku sudah nggak tahannn…” kataku agak lirih menahan ejakulasi. Namun gerakan Stella makin cepat dan beberapa kali ia buka matanya namun tetap mengulum dan terdengar suara-suara dari dalam mulutnya. “Aaaagghhh…” desahku keras diiringi dengan keluarnya sperma dari dalam batang kemaluanku di dalam mulutnya. Keadaan mobil kami saat itu sedikit tersentak oleh pijakan kaki kananku. Aku menikmati setiap sperma yang keluar dari dalam kemaluanku hingga akhirnya habis. Stella tetap menjilati kemaluanku dengan lidahnya. Dapat kurasakan lidahnya menyapu seluruh bagian kepala kemaluanku. Ugh, nikmat sekali rasanya. Setelah membersihkan seluruh spermaku dengan lidahnya, Stella bergerak ke atas. Kulihat dia, tampak ada beberapa spermaku menempel di sebelah kanan bibirnya dan pipi kirinya. Aku mulai bergerak memperbaiki posisi dudukku, perlahan-lahan. Sambil tetap digenggamnya batang kemaluanku yang sudah lemas, Stella beranjak ke atas melumat bibirku, masih terasa spermaku. Sekian detik kami bercumbu dan aku memejamkan mata. Akhirnya ia merapikan posisinya, ia duduk dan merapikan pakaiannya. Aku pun merapikan pakaianku sekedarnya. Aku kenakan celana panjangku namun tidak kumasukkan kemejaku.

Beberapa hari setelah itu, aku main ke kost Stella dan pada saat itu pula kami mengikat tali kasih. Awal bulan Maret lalu Stella kembali dari Manado setelah 2 minggu ia berada di sana dan ia tidak kembali lagi bekerja di salon itu. Sekarang kami hidup bersama di sebuah tempat di daerah Grogol, sekarang ia diterima sebagai operator di salah satu perusahaan penyedia jasa komunikasi handphone. Sedangkan aku tetap sebagai animator yang bekerja di sebuah perusahaan di daerah Kedoya tapi aku harus meninggalkan kostku. Setelah kami hidup seatap, Stella mengakui padaku bahwa selama enam bulan ia bekerja di salon itu, ia pernah melayani pelanggannya dan ia mengatakan bahwa semua pekerja yang bekerja di salon itu juga pekerja seks. Stella tidak mengetahui bagaimana asal mulanya. Stella sendiri tidak tahu apakah salon merupakan sebuah kedok atau seks adalah sebuah tambahan. Dia mengatakan bahwa untuk mengajak keluar salah satu karyawati di situ, seseorang harus membayar di muka sebesar Rp 500.000. Rasanya Jakarta hanya milik kami berdua, tiap malam setelah mandi sepulang dari kerja atau setelah makan malam, kami melakukan hubungan seks. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir dan entah kapan kami akan resmi menikah.

Kami sungguh menikmati setiap hari yang akan kami lalui dan telah kami lalui bersama. Aku sungguh tidak peduli dengan asal-usulnya pekerjaan Stella sebab makin hari aku makin terbius oleh kenikmatan seks dan mataku seolah-seolah tertutup oleh rasa sayangku pada dia.