Namaku sebut saja Handy (nama samaran) atau lebih sering disebut sebagai Andy. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, orangtuaku berasal dari daerah timur (Flores) sehingga maklum kalau penampilanku berkesan hitam namun macho seksi dan gagah perkasa (setidaknya itu kalimat pujian yang sering di ucapkan oleh para wanita yang pernah tidur denganku). Tinggi tubuhku sekitar 185-an dengan berat sekitar 80 Kg lengkap dengan gumpalan otot yang keras di sekujur lengan, dada dan bagian tubuhku yang lainnya, termasuk alat kelaminku yang berdiameter besar dan sangat keras, kokoh dan berurat. Potongan rambutku tipis klimis sehingga berkesan seperti Anggota ABRI saja, namun demikian aku memotong rambutku tipis supaya tidak terlalu kentara potongan rambut asliku yang agak keriting.

Aku adalah alumni salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di kota kembang, dan aktif dalam perkumpulan pencinta alam tatkala tengah menuntut ilmu pada masa perkuliahan dulu. Di ruang senat fakultasku, aku sering menghabiskan waktuku dengan kegiatan keorganisasian mahasiswa sekaligus untuk menjalin keakraban dengan para mahasiswi yang memang cantik-cantik itu. Ya bisa dikata sambil menyelam minum greenspot deh ha.. ha.. ha..

Di antara para mahasiswi itu aku mengenal beberapa yang tergolong cantik dan sexy salah satunya bernama Hera dari FISIP dan satunya lagi bernama Lie Chun anak Fakultas Ekonomi jurusan akuntansi. Keduanya tergolong makhluk langka di kampusku karena selain keturunan tionghoa mereka juga sangat cantik, bertubuh sexy putih dan mulus, terlebih bentuk tubuh mereka yang sangat kencang dan proporsional sehingga tidak salah jika banyak jejaka yang berlomba untuk menaklukan hati mereka. Di banding dengan fisikku, tubuh mereka berdua tergolong mungil meskipun mereka sendiri memiliki tinggi tubuh sekitar 170-an. Hera memiliki face dan fisik mirip seperti Kaori Shimamura sedangkan Lie Chun mirip seperti Vivian Chow namun lebih lembut dan manis.

Pada suatu pagi cerah di bulan Juli sehari sesudah ujian semesteran, kelompok pencinta alam di kampus kami mengadakan acara pendakian dan kemping bersama untuk semua mahasiswa dan mahasiswi baik yang ikut dalam kegiatan pencinta alam maupun bukan. Hera sebagai salah satu aktivis organisasi pencinta alam di kampusku getol mengajak teman-teman kostnya yang kebetulan satu kampus agar ikut dalam kegiatan tersebut, Lie Chun sebagai salah satu mahasiswi perantauan asal Jakarta (seperti Hera) nampaknya tertarik mengikuti acara tersebut. Hal ini agak mengherankan karena berbeda dengan Hera, Lie Chun kurang akrab dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, banyak yang mengatakan bahwa ia tergolong anak Mami yang sehabis kuliah langsung pulang.

Namun demikian aku selaku panitia koordinator acara tidak mempersoalkan masalah tersebut, bahkan kuanggap hal itu membantu mensukseskan acara tersebut karena otomatis peserta terutama kaum pria menjadi lebih banyak yang mendaftar untuk ikut. Dan tepat seperti dugaanku, pagi itu peserta yang datang membludak bahkan nyaris melampaui dari jumlah yang telah kami perkirakan (karena ada beberapa yang terlambat mendaftar sehingga kami salah menghitung kapasitas angkutan yang telah di siapkan). Namun demikian berkat kesigapan panitia bagian transportasi, segala urusan dapat di selesaikan dengan baik.

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih selama satu jam rombongan pun dapat segera berangkat menggunakan beberapa truk carteran milik salah satu kesatuan militer yang berada di daerah Bandung. Selama perjalanan tak henti-hentinya candaan dan senda gurau riuh rendah memenuhi truk-truk tersebut apalagi dalam perjalanan tersebut rombongan antara mahasiswi dan mahasiswa bercampur baur dengan alasan agar ada yang dapat menjaga keselamatan para mahasiswi tersebut dan juga agar perjalanan tidak terasa jenuh.

Sesampainya di kaki gunung, rombongan mendapat petunjuk singkat dari diriku selaku panitia dan sesudahnya kami pun segera berangkat menuju salah satu bumi perkemahan yang terletak tak jauh dari lokasi tempat kendaraan kami berhenti. Sesudah selesai mendirikan tenda, kami pun beristirahat dan berbenah serta bersenda gurau guna menghilangkan kepenatan selama dalam perjalanan. Kesempatan ituku pergunakan guna berbincang-bincang dengan para panitia lainnya termasuk Hera guna mengkoordinir langkah selanjutnya yang akan ditempuh. Setelah segala urusan kepanitiaan tersebut usai, kami para panitia pun membubarkan diri dan turut beristirahat. Aku sengaja beristirahat agak jauh dari yang lainnya karena selain tidak ingin terganggu, juga karena agak lelah akibat perjalanan dan persiapan acara tersebut.

Sedang asyik-asyiknya aku duduk santai di depan tenda besar milikku, tiba-tiba Hera datang menghampiri diriku. Dan menyodorkan makanan kecil ke hadapanku.

“And, ini gue ada cemilan kamu mau nggak?”

Aku yang sudah agak sedikit lapar langsung saja memasukkan tanganku dan meraup agak banyak potatoes chips tersebut. Hera pun lantas ikut duduk di sisiku di atas tikar yang kugelar di depan tenda. Sambil asyik makan, sesekali Hera menoleh mengamati diriku, meskipun aku agak cuek terhadap dirinya, namun lantaran terus di amati demikian aku pun merasa risih, lantas aku pun bertanya.

“Ada apa sich Ra? Koq kamu ngeliatinnya seolah-olah aku ini makhluk planet gitu? Dari tadi kamu terus ngamatin aku, emang gue manimal yach yang lagi ganti-ganti wujud?” ujarku sambil tersenyum.
Hera pun turut tersenyum, lantas berkata, “Ah.. Enggak koq And. Nggak ada apa-apa koq, gue cuman takjub aja kalau kamu bisa cool gitu, biasanya cowok tuh kalau ada banyak cewek ngumpul suka gimana gitu, rada-rada over acting lah, ini kamu malah asyik sendiri di kejauhan”.
“Ohh.. Itu sich emang aku yang kurang suka begitu koq, lagian aku juga rada capek” ujarku.

Lalu kami terdiam agak lama. Lantas tiba-tiba Hera memecah kesunyian sambil berkata, “And, kamu.. Sebenarnya sudah punya cewek belum sich? Koq anak-anak banyak yang naksir kamu, tapi kamunya cuek bebek githu?” ujarnya sambil menatap dalam wajahku.
Aku menoleh padanya lantas berkata, “Ahh.. Enggak ah.. Emang aku lagi malas koq mikirin urusan gituan, lagian mana ada waktu lagi buat urusan kampus kalau sudah punya cewek, berapa banyak sich cewek yang bisa ngerti kesibukanku Ra? Paling-paling pertamanya aja bilang ngerti, nanti kalau dach lamaan dikit juga nuntut ini-itu dan mulai larang-larang.” sahutku asal-asalan.

Mendadak obrolan kami terpecahkan oleh kehadiran Lie Chun dari belakang tendaku yang terletak agak naik sedikit ke arah bukit, rupanya anak itu habis jalan-jalan ke atas sebentar.

“Nah yach berduaan aja, rupanya berduaan emang sudah janjian nich.” ujarnya sambil tersenyum-senyum lucu.
Aku lantas tersenyum dan berkata, “Lie Chun, ayo duduk yok, nggak usah malu-malu koq, aku kan sama Hera dach temenan lama, lagian kita emang lagi ngobrol aja koq”.

Lie Chun pun ikut duduk sementara Hera diam saja.

Lantas Hera berkata, “And, aku balik dulu yach, mau tidur dulu ngantuk nich”.
Aku menjawab, “Lho koq buru-buru Ra, tidur aja di dalam tendaku, lagian nanti juga kita mesti kumpul lagi khan buat bikin permainan dan makan malam? Toh kamu udah mandi sore khan?”.

Hera diam saja lantas sesaat kemudian bangkit dan masuk ke dalam tendaku. Akhirnya setelah agak lama ngobrol sama Lie Chun, akupun bangkit berdiri dan membangunkan Hera karena hari sudah mulai gelap dan acara sebentar lagi akan di mulai.

Usai acara dan makan malam, aku lantas kembali ke arah tendaku dan hendak santai tidur-tiduran pada acara santai yang tengah berlangsung usai makan malam. Ketika tengah berbaring mendadak tendaku di buka dan wajah Hera menyembul dari balik pintu masuk tendaku.

“Ndy sorry, aku numpang nongkrong yach di tempat kamu, soalnya tenda panitianya agak rame sama anak-anak yang lain”, sahut Hera.

Aku agak bingung karena biasanya Hera sangat ceria dan antusias dengan acara kumpul-kumpul berbeda dengan diriku yang walaupun aktif dalam berbagai kegiatan organisasi namun untuk acara kumpul-kumpul dan bersantainya aku lebih suka memilih duduk sendiri sambil menikmati ketenangan ataupun keindahan alam.

Aku bertanya, “Tumben Ra, koq kamu nggak ikut ngumpul ikut acara biasanya kamu hobby ngumpul?”.
“Nggak Ndy, aku lagi agak malas, nggak mood, lagian juga udah keramaian sich”, ujarnya asal-asalan.
“Hayoo.. Rame apa rame nich.. Kepengen dekat-dekat dengan Bang Andy yach?” sahutku sambil menggodanya.

Mendengar itu Hera mencibir dan berkata “Huu.. Geer tuh” namun kalimat itu di ucapkannya sambil sedikit menahan senyum. Terus terang sebenarnya aku agak curiga apakah Hera memang memendam hati kepadaku atau tidak, karena untuk tiap kegiatan organisasi yang aku ikuti dia pasti ada namun untuk kegiatan yang tidak ada keberadaan diriku walaupun dirinya diminta menjadi pengurus pun tetap ogah, lagipula dalam tiap acara ia selalu memilih berada dekat dengan diriku. Namun aku tidak mau di cap sebagai cowok geeran meskipunku akui bahwa akupun sangat tertarik dengan dirinya, namun aku tidak mau jika ternyata salah sangka sebab berbekal pengalaman terdahulu aku pernah salah sangka dengan seorang wanita yang dekat kepadaku yang ternyata hanya menganggapku sebagai kakaknya belaka.

Agak lama kami berdua sama-sama terdiam sambil memandang api unggun, lantas mendadak Hera bertanya “Ndy, menurut kamu, kalau ada cewek yang naksir sama kamu, kamunya gimana?”.

Terus terang aku sama sekali tidak menyangka bakal mendapat pertanyaan semacam itu karena walaupun sebelumnya Hera pernah bertanya hal-hal yang menyerempet ke arah sana terutama dengan pertanyaannya sore tadi, namun untuk hal yang ini agak mengejutkan diriku karena aku sama sekali tidak siap dengan jawabannya.

Namun secara diplomatis aku menjawab, “Ya kalau dianya baik, dan orangnya kebetulan termasuk tipeku, kenapa tidak di coba jalanin bersama-sama?”.

Hal itu aku ucapkan sambil menatap lembut ke arahnya. Agaknya Hera sedikit takjub dengan jawabanku dan dia menatap heran ke arahku, lantas ia kembali bertanya, “And, memangnya tipe kamu tuh seperti apa sih?”.

Aku terdiam sejenak.. Lantas menarik nafas agak panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan..

“Ngghh.. Gimana ya Ra, tipeku tuh ya yang penting pengertian lah sama diriku termasuk kesibukanku ini, mungkin kalau di tanya gimana nyari cewek yang seperti itu ya aku palingan bisanya jawab ya sebisa mungkin dapatnya dari anak yang juga aktif di dalam organisasi biar setidaknya dia bisa lebih maklum barangkali anak yang aktif dalam organisasi semacam kamu yang lebih mendekati kriteriaku” ujarku sedikit rada lega karena akupun harus bisa berpura-pura tidak terpengaruh dengan jawabannya.

Anyway sesudah mendapat jawaban seperti Hera tampaknya agak sedikit lega dan matanya terlihat bersinar-sinar..

Lama kami saling terdiam lantas aku berkata, “Memangnya kenapa kamu nanya seperti itu Ra? Emang ada yang mau?” Terus terang ini jenis stupid question karena yang ada cewek kalau di giniin bisa malah batal jadiannya. Di tanya begitu Hera cuman menjawab “Ya enggak sih, cuman mau nanya aja”.
“Kalau aku sih Ra terus terang carinya yang seperti kamu, ya baik, supel, aktif dalam organisasi dan pengertian” ujarku buru-buru untuk menutup kekeliruanku.

Hera tampaknya agak sedikit kaget dan menoleh ke arahku dan menatap agak tajam ke mataku tampaknya seperti ingin menyelidiki kebenaran jawabanku. Lantas aku sadar bahwa dalam acara begini sebagai cowok aku mesti ambil inisiatif duluan kupikir daripada keburu lepas mendingan buruan di jadiin apalagi momentnya udah tepat cuman berduaan di depan api unggun di perkemahan yang jauh dari keramaian dan udaranya agak dingin lagi.

Akupun berkata “Ngghh.. Sebenarnya aku udah lama suka sama kamu Ra, tapi terus terang aku nggak tau isi hati kamu, terus terang aku mencintai kamu”

Wah kacau deh gara-gara keburu nafsu jadi salah strategi deh semua di umbar gitu aja. Eh tapinya Hera cuman diam aja dan menatap ke wajahku agak lama, lantas buru-buru aku menambahkan.

“Terus terang aku kepingin kita lebih dari sekedar teman, tapi kalau kamu keberatan, aku bersedia tetap menjadi teman kamu dan melupakan apa yang barusan aku ucapkan”
Belum selesai aku berbicara Hera menempelkan telunjuknya yang lentik itu ke bibirku dan berkata, “Sstt, nggak usah kamu ucapkan Ndy.. Hera juga sayang sama kamu..”

Lantas tanpaku duga sama sekali ia mencium lembut pipiku terlebih dahulu.. Diriku serasa melayang karena baru pertama kali ada gadis menciumku selembut itu.

Malam itu mungkin menjadi malam terindah bagiku dan mungkin juga bagi Hera, di bawah terangnya sinar bulan purnama lama kami saling memandang dan bertatapan tanpa ada kata-kata yang keluar sama sekali, pokoknya kalau ada yang bilang bahasa cinta mungkin itulah bahasa yang sedang kami lakukan, bahasa tanpa kata-kata he.. he.. he.. Malam itu Hera menumpang tidur di tendaku untungnya aku punya persediaan sleeping bag cadangan kalau tidak bisa mati beku doi he.. he.. he.. Terlihat manis dirinya tertidur dengan nyaman dalam sleeping bag-ku yang besar dan juga mengenakan jaket gunungku yang besar itu.

Pagi harinya kami bangun dan kudapati Hera sudah bangun terlebih dahulu, ia pamit ke tendanya sebentar untuk mengambil barang-barang keperluan mandi untuk mandi di pancuran air terjun yang berada tidak jauh dari tendaku. Sebenarnya sih bukan air terjun hanya pancuran air biasa namun air yang turun terlihat seperti air terjun karena ketinggian mata airnya cukup jauh dan di bawahnya terdapat seperti telaga kecil dengan ke dalaman sekitar 1,5 m tidak dalam sih namun buat orang yang pendek (sorry) lumayan terasa seram juga.

Kebanyakan anak-anak wanita mandi di kali kecil yang mengalir di bawah perkemahan kami, hanya sedikit yang mengetahui pancuran air ini selain aku dan Hera serta beberapa anak pencinta alam. Tapi kebanyakan tidak mau mandi di sana karena letaknya agak tinggi dan mungkin agak berkesan seram padahal menurutku sangat indah dan eksotis terutama karena penduduk pun tidak ada yang pergi ke sana sebab letaknya cukup tinggi dan di atasnya masih hutan belukar.

Aku sendiri sih sebenarnya kepingin mandi bareng juga tapi nggak mungkin lah yauw he.. he.. he.. Lagian bisa-bisa baru jadian nantinya malah jadi putus karena dianggap kurang ajar, jadi yach aku mandi di aliran sungai kecil yang letaknya sedikit di bawah telaga tempat Hera mandi tidak jauh dari tendaku. Untung letak sungainya agak tertutup rerimbunan pohon dan kedalamnya sekitar 1 meter kalau tidak kan tengsin juga kelihatan si Junior yang berukuran super jumbo lagi ngaceng kedinginan he.. he.. he.. Jadi lah aku mandi sendirian di situ.

Ketika sedang asyik-asyiknya mandi tiba-tiba aku mendengar pekikan kecil dari arah atas, kudengar seperti suara Hera, tanpa pikir panjang aku langsung lompat keluar dari air dan berlari memanjat ke atas kulihat Hera sedang mengigit jari-jari kukunya dan memandang ke arah air terjun, langsung aku loncat ke dalam telaga dan berjalan menghampirinya.

Aku bertanya, “Ada apa Ra?”
“Itu.. Kodok” ujarnya dengan nada tertahan.

Aku hampir saja tertawa kalau tidak melihat ekspresi mukanya yang pucat, untung saja aku bisa menahan diri. Tapi beberapa saat kemudian Hera sepertinya sadar bahwa kami berdua sedang dalam keadaan bugil berduaan di dalam telaga dan ia berbalik memandangku dan berkata, “Kamu ngapain And?”
“Loh kan kamu tadi teriak Ra.. Aku kirain kamu kenapa-kenapa jadi ya aku langsung ke sini nggak sempat pakai pakaian lagi” ujarku agak panik juga takut doi nantinya malah teriak nanti bisa-bisa di sangka aku mau coba perkosa anak orang lagi he.. he.. he..

Akhirnya kami sama-sama terdiam. Hera memandangku agak lama sambil menatap tajam sepertinya ingin menyelidiki kebenaran alasanku tapi lama-kelamaan tatapan matanya berubah menjadi lembut dan kami kembali bertatapan mesra seperti malam barusan, lalu entah siapa yang terlebih dahulu memulai kami tahu-tahu sudah saling berdekatan dan detik berikutnya tahu-tahu bibirku dan bibir Hera saling bersentuhan lembut, lidah saling bertautan, mulut saling melumat dan selanjutnya bisa ditebak deh kelanjutannya.

Yang jelas acara mandi itu berubah menjadi acara percintaan kami dan tanpa banyak cincong dari apa yang kami lakukan tampaknya baik aku maupun Hera sudah sama-sama mafhum bahwa kami sudah sama-sama tidak suci lagi jadi yach lancar-lancar aja tuh malah kami sampai melakukannya sebanyak tiga kali hingga tak terasa mentari telah berada di puncaknya dan perut kami berdua terasa lapar dan tubuh pun terasa sangat lelah.

Akhirnya aku dan Hera sama-sama keluar dari telaga “asmara” itu dan kami sama-sama mengepak pakaian kami yang tergeletak di pinggiran tentu saja aku sambil hanya berbalut handuk Hera harus jalan ke bawah sedikit untuk mengambil pakaianku yang tertinggal. Untungnya tidak ada satupun yang naik-naik hingga ke atas sini dan bagusnya juga tidak semua orang tahu tentang lokasi strategis ini.

Kami sesudahnya saling merapikan diri di tendaku lalu kami berdua jalan turun ke bawah untuk mengikuti acara selanjutnya dan tentu saja hal yang paling di tunggu oleh orang yang habis bercinta adalah makan he.. he.. he.. Buat yang udah sering gituan pasti pada tau deh abis bercinta pasti pada laper banget khan? Begitupula kami berdua, aku dan Hera makannya bisa di bilang paling lahap deh sampai-sampai ada yang ngeledekin “kalian berdua emang habis ngapain koq makannya kayak tukang becak gitu” tapi terus terang baik aku dan Hera tidak peduli dan lagipula tidak ada yang curiga karena sesuai komitment malam sebelumnya bahwa aku dan Hera sepakat untuk merahasiakan jadiannya kami berdua selama perkemahan dan baru akan mengumumkannya sekembalinya kuliah nanti. Jadi saat menuruni bukit dari lokasi tendaku pun kami tidak saling bergandengan tangan meskipun baru saja mengalami saat-saat paling intim.

Sepulang dari acara kemping tersebut kurang lebih seminggu kemudian kami kembali disibukkan oleh kegiatan rutin di kampus dari mulai perkuliahan yang menjemukan hingga kegiatan senat, namun yang menggembirakan hatiku adalah kenyataan bahwa aku berhasil mendapatkan Hera, bidadari kampusku yang terkenal dengan pesona orientalnya yang khas. Terus terang sesudah kami resmi sebagai sepasang kekasih hari-hariku terasa sangat berbeda, terutama kegairahanku untuk berangkat ke kampus dan mengikuti acara perkuliahan jauh lebih termotivasi utamanya karena dorongan untuk segera bertemu dengan Hera dan berduaan dengannya. Terus terang kesannya mungkin jadi agak norak karena jadi kayak ABG yang baru pacaran saja, tapi memang begitulah yang kualami dan kurasakan sendiri.

Namun rupanya kemesraan kami berdua bukan saja menimbulkan kesirikan di sebagian besar cowok-cowok di kampus kami namun juga para wanitanya. Bahkan Lie Chun pun terang-terangan secara demonstratif menunjukkan sikap cemburunya terhadap Hera dengan tidak mau lagi pergi bersama dengannya. Untungnya Hera adalah tipe wanita yang tidak terlalu ambil peduli dengan itu semua jadi sikapnya biasa saja menghadapi perubahan sifat Lie Chun. Hal ini semakin menambah rasa geer dalam hatiku. Namun aku sedikit khawatir, takut-takut Lie Chun malah menjadi membenci diriku dan akan berdampak buruk bagi semangat belajarnya. Maklumlah namanya juga cewek perantauan, kalau sampai kenapa-kenapa bisa-bisa aku dituduh membuat prestasinya jeblok.

Untuk itu aku segera mengambil inisiatif untuk menyapa Lie Chun terlebih dahulu. Kupikir tidak ada salahnya bersikap ramah. Bukankah wanita umumnya lebih bisa menerima penolakan yang bersifat halus. Jadi kalau ada di antara kalian yang kebetulan ditaksir cewek and kebetulan nggak mood ya harap hati-hati aja nolaknya jangan sampai si cewek sakit hati.

Untuk itu seusai jam kuliah MKDU Kewiraan, aku sengaja menunggu Lie Chun bergegas pulang melewati deretan bangkuku. Hal ini tentu saja karena aku kebetulan memang satu kelas dengan Lie Chun untuk mata kuliah MKDU. Ketika ia melewati diriku aku yang memang sengaja belum beranjak berdiri segera memasang tampang seramah mungkin dan menyapanya. Namun Lie Chun bersikap seolah tidak melihat kehadiranku dan bergegas berlalu dengan sikap secuek mungkin.

Terus terang aku agak kesal juga. Kupikir ini anak belagu amat sih, apa lantaran anak orang kaya jadi sifatnya manja dan sombong begini? Tapi tentu saja aku tidak menyerah begitu saja. Bukan karena ada maksud tapi memang semata ingin berusaha mencairkan suasana perang dingin yang mengkristal di antara kami bertiga. Lagipula apa enaknya bermusuhan. Bukankah siapa tahu suatu saat bisa saja aku membutuhkan bantuannya?

Untuk itulah aku segera bergegas bangkit berdiri dan berjalan agak cepat untuk memburu Lie Chun agar jangan sampai ia keluar dari gerbang kampus. Lagipula kebetulan hari itu Hera tidak masuk kampus karena memang sedang tidak ada kuliah. Jadi kupikir aku tidak perlu terlalu khawatir akan ada kecurigaan macam-macam darinya. Tahu merasa dirinya di buntuti Lie Chun malah semakin mempercepat langkahnya dan setengah berlari langsung naik ke angkot yang kebetulan melintas di depan gerbang kampus kami.

Terus terang aku agak gondok, tapi biarlah buat apa siapa tahu ia memang butuh waktu untuk cooling down. Jadi aku membiarkan angkot itu berangkat disertai debu yang terbawa oleh angin. Aku kembali masuk ke dalam kampus. Kebetulan memang sedang ada rapat senat yang akan di gelar sejam lagi. Jadi aku mengambil kesempatan jeda waktu satu jam itu untuk beristirahat sambil makan di kantin.

Seusai rapat senat kurang lebih menjelang jam lima sore, aku bergegas ikut naik motor Bram sahabatku (nanti akan ada kisah mengenai dirinya). Kebetulan pacar Bram sudah pulang duluan karena ada acara bersama teman-temannya jadi aku bisa ikutan nebeng. Sembari duduk di atas motor Bram yang melaju perlahan, ia sedikit menginterogasiku dengan berbagai pertanyaan yang intinya mempertanyakan sifat Lie Chun yang terlihat aneh saat berhadapan denganku di kelas saat kuliah pagi tadi. Terus terang aku mengatakan tidak tahu karena memang aku tidak merasa punya masalah dengannya. Untungnya Bram bukan tipe biang gosip jadi pembicaraan pun beralih ke topik lainnya antara lain ke masalah hubungan antara aku dengan Hera dan seputar dunia senat.

Sesampai di rumah aku segera masuk ke kamar mandi dan membasuh muka yang terasa sangat kotor dan lengket terutama karena tadi bersama dengan Bram aku kebagian helm yang tidak ada kaca penutupnya (helm chips) seperti yang dipakai polantas. Jadi maklum aja kalau keringat bercampur debu di jalan harus segera dibasuh bersih kalau tidak bisa tambah hancur aja penampilanku terkena jerawat akibat debu dan kotoran yang menyumbat pori-pori muka. Selagi asyik membasuh wajah mendadak telfon dari ruang tengah berdering. Sambil agak sedikit mengomel aku berjalan menghampiri masih dengan waslap (lap pembersih untuk mandi) di tangan aku mengangkat gagang telfon.

“Ya hallo, selamat sore,” ujarku.
“Sore, maaf bisa bicara dengan Handy, Mas?” ujar suara lembut dan empuk yang tidak asing lagi di telingaku.
“Ya saya sendiri,” ujarku dengan nada riang karena mengetahui Hera menelefonku.
“Ohh.. Ini kamu ya And? Tumben koq suaranya agak lain?”
“Iya nih Ra.. Abis sambil bersihin muka sih,” ujarku.
“Ohh sorry baru pulang ya. Gini And, tadi siang si Lie Chun nelfon. Dia bilang kamu ngikutin dia pulang ya, katanya dia takut sekali. Sepertinya kamu hendak berbuat sesuatu kepadanya. Katanya dia sampai berlari melompat ke dalam angkot yang sedang melaju?”.

Nah loh apa-apaan lagi nih.. Skenario macam apa yang tengah digarap oleh Lie Chun pikirku. Wah jangan-jangan dia bermaksud membuat hubunganku dengan Hera bubar pikirku.

“Hah? Memangnya dia ngomong begitu ya Ra?” ujarku dengan agak jengkel.

Namun tak urung aku agak khawatir juga takut-takut Hera sampai percaya dengan omongan Lie Chun. Maklumlah hubunganku dengan Hera belum lama masih terhitung baru sedangkan Hera dan Lie Chun telah kenal lumayan lama semenjak di bangku SMP sih kalau tidak salah.

“Iya sih, maka dari itu aku nelfon ke kamu, soalnya aku tidak percaya. Lagipula buat apa kamu ngejar-ngejar dia iya nggak? Lagian dia khan tidak ikut aktif di senat jadi ada keperluan apa kamu ngejar dia. Begitu pikiranku Ndy. Jadi aku konfirm ke kamu takutnya kamu tidak tahu omongan apa yang terjadi di belakang,” ujar Hera.
“Syukurlah Tuhan, Hera tidak terpengaruh,” ucapku dalam hati.

Puji syukur juga punya pacar yang baik dan pengertian seperti Hera ini yach; mana cantik and sexy lagi. Wah kupikir tak akan kulepas deh, semoga jadi istri nantinya harapku dalam hati.

“Ra, aku juga terus terang tidak mengerti kenapa dia ngomong begitu sama kamu. Terus terang tadi di kelas aku cuman menyapanya dan kulihat ia malah menghindar dan bergegas pergi. Kupikir ada masalah apa. Tapi waktu kudekati ia malah semakin cepat melangkah dan malah sampai separuh berlari. Terus terang aku nggak enak ia bersikap demikian. Kamu kan sendiri tahu sikap dia belakangan terhadap kita bagaimana. Jadi aku menegur dia ya untuk mengetahui duduk permasalahannya,” ujarku berusaha meyakinkan Hera.
“Iya sih. Maka dari itu aku nelfon kamu salah satunya juga untuk minta tolong agar kamu berusaha meluruskan masalah ini. Soalnya aku jadi nggak enak masa hanya karena kita jadian sampai harus kehilangan teman lama. Tolong deh kamu ke kostnya kalau sempat. Oke deh aku mau mandi dulu ya, bye Andy”, ujar Hera mengakhiri topik pembicaraan, lalu setelah saling mengecup mesra lewat telfon kami pun segera mengakhiri pembicaraan.

Akhirnya sore itu setelah beristirahat sejenak dan seusai mandi sore akupun berangkat ke tempat kost Lie Chun selepas magrib.

Setibanya aku di tempat Lie Chun hari telah mulai gelap (benarnya sih dah gelap banget), tapi berhubung sudah di niatin ya tetap saja aku nekat bertandang. Aku turun dari MB Brabus S73 (CL600 Body) milik pamanku (karena aku kost di rumahnya). Padahal amit-amit seumur hidup aku belum pernah naik mobil setan itu (karena larinya seperti setan dan harganya mungkin cuman untuk orang yang sekaya setan). Lagipula aku terbiasa berangkat kuliah naik angkot jadi rada kagok juga. Tapi berhubung udah malam dan mulai jarang ada angkot yang lewat serta kebetulan mobil yang ada cuman itu jadi kupinjam saja dengan alasan isi bensin.

Perlahan kubuka pagar pekarangan tempat kostnya yang terletak di kawasan elit kota Bandung.

“Hmm nampaknya tidak di kunci nih” pikirku, lalu perlahan aku berjalan masuk.

Sebenarnya sih rada ragu-ragu juga apalagi di pintu pagar depan di tempel tulisan “Awas Anjing Galak” lengkap dengan gambar herder yang lidahnya menjulur seperti kena rabies. Tapi kupikir masuk sajalah tokh pengalamanku bertandang ke rumah Hera yang pagar depannya ada gambar serupa juga ternyata cuman bohong-bohongan belaka. Akan tetapi kalau Hera sih memang si Blecky udah mati di culik sama orang Lapo Tuak dekat rumahnya.. Kemana lagi kalau nggak udah jadi ampasnya orang Batak, he.. he.. he.. (sorry buat yang Batak aku masih ada keturunan Batak juga koq).

“Hmm.. Terus terang perkarangan rumahnya terlihat sepi, waduhh kacau juga nih.. Nggak ada orang entar dikirain rampok lagi,” runtuk diriku.

Tapi karena ada cahaya yang lumayan benderang dari dalam rumah berarsitektur Belanda tersebut jadi ya aku terus saja berjalan masuk. Pintu masuk yang terbuat dari kayu kuno yang sangat besar tersebut tampak kokoh dan terkunci rapat. Perlahan kuketok..

“Waduh keras juga nih, dari kayu jati rupanya”, pikirku.

Lama tak ada tanggapan. Lalu perlahanku dengar langkah kaki setengah agak di seret seperti orang malas berjalan ke arah pintu.. Lalu dengan suara agak berderit pintu di tarik terbuka.. Dan alangkah terkejutnya orang tersebut karena melihat yang datang adalah aku. Akupun tidak kalah terkejut karena yang membuka ternyata adalah Lie Chun sendiri.

Sejenak kami saling terlongo dan terdiam tidak tahu harus berkata apa. Mungkin lebih kayak dua orang yang sama-sama naksir dan nggak nyangka ketemuan. Tapi terus terang ini keadaannya beda karena aku dan Lie Chun bukan sepasang kekasih ataupun orang yang diam-diam sedang kasmaran tapi malu-malu meskipun di salah satu pihak ada rasa cinta.

Lantas aku berinisiatif terlebih dahulu membuka suara. Kupikir tokh mendingan ngomong duluan daripada dianya keburu banting pintu. Apalagi dalam pikiranku Lie Chun belum cukup dewasa terutama dalam menerima kenyataan hidup.

“Lie.. Aku datang ke sini untuk..”

Lalu “Plakk..” belum sempat kata-kataku selesai kurasakan pipiku panas dan pedas di iringi kata-kata “Bangsat..” Dari bibir mungil milik Lie Chun yang langsung berlari masuk ke dalam tanpa sempat menutup pintu lagi.

Terus terang aku sempat terlongo-longo mendapat perlakuan seperti itu. Belum pernah ada yang memaki aku seperti itu apalagi sampai menampar segala, perempuan lagi. Namun kesadaranku segera pulih terutama karena mengingat misiku ke tempat ini adalah untuk meluruskan persoalan sekaligus memenuhi mandat dari Hera kekasihku yang menginginkan agar hubungan kami bertiga pulih kembali seperti dulu saat aku belum jadian dengan Hera. Aku segera mengejar masuk ke dalam sembari menutup pintu agar tidak terlalu mencolok terlihat ke luar kalau-kalau kebetulan ada yang melihat. Namun Lie Chun terus berlari ke tangga utama dan naik ke atas.

“Rupa-rupanya kamarnya di atas nih,” pikirku sambil berjalan cepat mengikutinya.

Namun ketika Lie Chun masuk ke dalam kamarnya ia segera membanting pintu kamar tersebut sehingga langsung tertutup. Dalam hati aku menjadi ragu.

“Di terusin nggak ya? Kalau di terusin terus entar teman-teman kostnya teriak rampok bisa celaka aku, tapi kalau entar masalahnya tambah kacau gimana?” pikirku dalam hati.

Sedang ragu berfikir demikian tiba-tiba aku mendengar isak tangis dari dalam kamar Lie Chun.

“Waduh celaka deh nih anak sudah pakai acara nangis segala,” umpatku kesal dalam hati.

Lalu aku segera membuka pintu kamarnya secara perlahan-lahan agar tidak terdengar dan kututup secara perlahan juga. Kulihat Lie Chun sedang berlutut di tepi ranjang dengan kepala yang di benamkan ke dalam bantal. Perlahan dengan tangan agak bergetar dan juga rasa ragu-ragu kusentuh pundak Lie Chun. Namun ia malah semakin membenamkan wajahnya dalam bantal dan menangis sekeras-kerasnya.

“Wah kalau sudah begini mampus deh”, pikirku dalam hati.

Terus terang aku tidak punya pengalaman meredakan tangis wanita terutama karena ibuku sendiri jarang menangis ataupun terlihat menangis. Juga karena aku sebagai seorang anak lelaki pertama yang memiliki jarak kelahiran yang cukup jauh dari adik-adikku. Jadi sebelum mereka menjadi remaja aku sudah keburu merantau ikut paman sejak SMA.

Jujur saja aku sebenarnya sudah bingung sekali menghadapi ulah Lie Chun apalagi di tambah pakai acara nangis bombay kayak gini. Mending nonton film “Salam Bombay” daripada liat orang nangis bombay begini. Di antara kebingunganku akhirnya kunekatkan untuk membelai rambut Lie Chun yang kala itu sedang tidak di ikat atau di gulung ke atas seperti biasanya. Rambut yang halus panjang terurai sebahu ituku belai-belai dengan lembut. Tercium olehku semerbak harum rambutnya.

“Wahh koq malah jadi kayak begini sih” pikirku menyadari apa yang sedang kuperbuat.

Namun kurasa apa yang kuperbuat belum bisa di kategorikan sebagai bentuk penyelewangan ataupun ngelaba, karena niatku benar-benar tulus untuk meredakan tangisnya. Karena meskipun gahar dan macho begini aku terus terang paling tidak kuat mendengar tangis perempuan. Rasanya seperti mendengar ibu sendiri yang sedang menangis. Oke lanjut ke cerita semula.

Namun tangis Lie Chun tetap keras terdengar sehingga semakin menambah kepanikan dan kebingunganku saja. Akhirnya sembari membelai lembut rambut Lie Chun akupun mati-matian menenangkannya.

“Lie Chun.. Diam dong.. Kamu koq nangis sih.. Memang ada masalah apa.. Aku terus terang minta maaf kalau seandainya menyakitimu,” ujarku sembari berusaha menenangkannya.

Kata-kata itu dan beberapa kata-kata lainnyaku ucapkan berulang kali agar ia tenang dan mau meredakan tangisnya. Syukurlah perlahan-lahan tangis Lie Chun pun mereda. Akhirnya ia hanya terisak-isak perlahan saja dengan wajah yang masih dibenamkan di dalam bantal. Aku hanya diam sambil terus membelai rambutnya agar ia semakin tenang.

Setelah beberapa menit kemudian, nampaknya Lie Chun sudah bisa tenang. Hanya sesekali ia sesungukan. Akan tetapi wajahnya masih belum di angkat. Kupikir ia pasti merasa malu. Namun agar tidak menjatuhkan mentalnya aku tetap diam duduk di sisi ranjang sembari terus mengelus rambutnya yang wangi itu.

Cukup lama juga kami dalam posisi seperti itu di mana kami berdua saling diam-diaman sembari aku tetap mengelus rambutnya dan ia tetap membenamkan wajahnya di bantal yang sudah basah oleh air matanya. Sampai akhirnya tangisnya berhenti dan ia perlahan mulai mengangkat wajahnya.

Saat Lie Chun sudah mulai tenang dan menatap wajahku, kulihat mukanya yang agak kemerahan karena habis menangis dengan mata masih berkaca-kaca. Ia menatapku lama sekali dan agak dalam. Terus terang aku lama-kelamaan menjadi jengah ditatap seperti itu. Agar suasana cair akupun berusaha mengajaknya berbicara.

“Lie Chun, aku terus terang tidak mengerti atas apa yang baru saja terjadi, dan aku meminta maaf kalau telah menyebabkan kamu menangis”, ujarku sambil menatapnya lembut.
“Sstt.. Kamu tidak salah Ndy, aku yang salah telah berharap banyak dari kamu. Semestinya dari pertama aku menyadari tidak akan mungkin bisa bersaing dengan Hera, karena kulihat tatapan matamu kepadanya lebih dari sekedar teman biasa”, ujar Lie Chun sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirku.

Lalu tanpaku sadari perlahan Lie Chun mengecup lembut bibirku. Mendapat perlakuan seperti itu aku awalnya hanya mendiamkan saja karena kupikir kalau aku langsung melakukan penolakan suasana pasti akan menjadi lebih buruk lagi. Namun kenyataannya Lie Chun justru seperti mendapat angin segar, dan ia semakin menjadi-jadi dengan mulai melakukan “French Kiss” dan mencium wajah serta leherku.

“Ohh Handy, kalau aku tidak bisa memilikimu tolong berikan kepadaku kesempatan malam ini saja. Tolong jangan kecewakan aku, aku sungguh sangat mencintaimu”, ujar Lie Chun dengan semakin gencar menciumi diriku dan mulai membuka paksa pakaianku.

Aku terus terang mulai terdesak apalagi aku datang ke sana justru dengan misi damai bukannya dengan maksud untuk melakukan perbuatan laknat. Aku berusaha mendorong dirinya agar menjauhiku.

“Stop Lie Chun, tolong jangan paksa aku. Aku masih mencintai Hera. Tolong jangan kau rusak hubungan kami berdua” ujarku sambil bangkit dari ranjang dan menjauhinya.
“Handy, please.. Jangan begitu. Aku tidak bermaksud merusak hubungan kalian berdua, tapi please berikan kepadaku kesempatan sekali saja untuk bisa mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu dan sulit bagiku untuk melupakanmu. Tolonglah Han, sekali saja malam ini. Aku janji tidak akan menceritakan apa yang terjadi malam ini kepada siapapun”, ujar Lie Chun sambil menatap dengan tatapan memelas ke arahku.

Sebetulnya Lie Chun tidaklah jelek, bahkan untuk ukuran cewek dari Jakarta dia masih sangat cantik. Menurutku wajahnya lebih mirip perpaduan bintang film Hongkong dengan bintang film Jepang sehingga sangatlah menarik jika menatapku dengan wajah memelas begitu. Mungkin seperti perpaduan Vivian Chow dengan Madoka Ozawa barangkali. Namun tatapan memelas yang jelas-jelas dengan tujuan sex seperti ini menurutku harus dihindari karena selain aku tidak yakin mampu bertahan terhadap godaan yang ada, juga karena tidak sesuai dengan tujuanku kemari. Oleh karena itu aku merapatkan tubuh ke arah pintu masuk dengan tujuan untuk menghindari hal-hal tidak terduga.

Namun Lie Chun bukanlah tipe wanita yang mudah menyerah. Ia justru menyeringai tajam dan menatapku dalam-dalam sambil berkata, “Handy, kalau kamu tidak bersedia menemaniku malam ini aku akan berteriak bahwa kamu mencoba memperkosaku, apalagi kamu ada di dalam kamarku bukan?”

Terus terang aku agak panik dalam menghadapi serangan seperti ini. Namun aku berusaha tetap tenang.

“Lie Chun, apakah kamu tega berbuat seperti itu? Kalau kamu memang sungguh mencintaiku, kamu akan membiarkanku pulang dan merestui hubungan kami berdua. Bukankah cinta sejati adalah cinta yang mampu memberikan kebahagiaan kepada orang yang dicintainya?” ujarku setengah berfilsafat setengah memberikan nasehat.
“Persetan kamu Ndy!!”, ujar Lie Chun setengah berteriak, “Kamu jangan munafik. Aku tahu kamu bukan lelaki alim. Kamu kira aku tidak tahu lelaki macam apa kamu, berani-beraninya menasehatiku seperti itu!!”

Sambil berkata begitu Lie Chun nekat membuka bajunya, dan ternyata di balik kimono yang di kenakannya ia tidak mengenakan apa-apa lagi. Terlihat jelas bentuk tubuhnya yang indah dengan kulitnya yang putih susu khas wanita tionghoa.

Sejenak aku terlongo mendapat pemandangan indah dan gratis seperti itu. Well harusku akui naluriku sebagai lelaki tidak dapat dikelabui bahwa aku sebenarnya agak terangsang juga, namun aku tetap bersikukuh untuk tidak melakukan affair dengannya. Lie Chun lalu dengan cepat mendekatiku dan menempelkan tubuhnya yang wangi dan tanpa busana itu ke arahku.

“Handy sayang, tolonglah Han, aku ingin malam ini menjadi malam yang terindah bagiku. Biarlah selanjutnya aku menderita dan merana karena tidak bisa memilikimu, namun bahagiakanlah aku malam ini Han”, ujar Lie Chun sembari tubuhnya menempel di busanaku dan tangannya sibuk bergerak mengelus-elus selangkanganku, tepatnya di atas permukaan celana tempat batanganku tersimpan.

Terus terang logikaku mulai agak kacau. Nafasku pun mulai memburu. Tapi aku berusaha tetap tenang walaupun mendapat serangan-serangan semacam itu, walaupun harus diakui wangi rambut dan tubuh Lie Chun mulai membutakan mata hatiku. Sembari tanganku kiriku mencari-cari pegangan pintu agar dapat segera kabur tangan kananku sibuk menahan tubuh Lie Chun yang semakin mendesakku ke pintu kamar.

“Lie Chun, tolong.. Jangan Lie, aku khan pacar sahabatmu”, ujarku menenangkannya.
“Tidak Ndy, aku tidak peduli. Aku ingin malam ini bersama denganmu, dan kamu jangan coba-coba kabur!” ancam Lie Chun sambil merangkul leherku dan memepetkan tubuh kami berdua ke dinding pintu kamar.

Hal ini tentu saja menyulitkan diriku untuk segera kabur. Namun puji syukur aku segera menemukan gagang pintu yang aku cari. Segera aku putar dan aku langsung memutar badan sekaligus melepaskan diri dari rangkulan Lie Chun. Namun ia masih sempat memegang bajuku. Untung bagiku dan sial baginya karena pintu kamar yang di buka ke arah dalam membentur jidatnya sampai ia mengaduh keras sehingga langkahnya tertahan dan aku dapat segera kabur. Untuk menghindari hal-hal lebih parah lagi, aku langsung loncat dari tengah tangga ke bawah setelah sebelumnya melompati setiap dua anak tangga sekaligus. Untunglah ilmu bela diri yang kupelajari dari salah seorang pimpinan agama di desa kelahiranku banyak membantu dalam situasi seperti ini sehingga aku dapat mendarat di lantai bawah tanpa cidera.

Begitupula di depan pintu depan langsung aku buka dan segera kabur semberi menutupnya dengan agak membanting, lalu sembari merapal ajian ringan tubuh aku melompat salto melewati pagar depan dan mendarat tepat di samping kanan Mercy Sport Brabus S73 CL600 milik pamanku. Seandainya ada yang melihat pasti aku langsung diteriaki maling tanpa tanya terlebih dahulu, apalagi gayaku melompat tadi mirip seperti ninja di film-film laga. Syukurlah malam itu angin sangat kencang dan gerimis rintik-rintik di sertai halilintar menyebabkan daerah sekitar lokasi tersebut sangat sepi. Tanpa banyak cincong aku langsung memutar badan dan membuka alarm pintu dan masuk ke dalam. Segera kunyalakan mesin dan langsung terdengar deruman penuh tenaga akibat aku menggasnya agak dalam dan sembari diiringi suara decitan panjang aku langsung ngebut melaju membelah malam.

Terus terang hatiku masih agak berdebar. Selain karena memang jantung dan nafasku yang memang ngos-ngosan karena habis melakukan aktifitas gila-gilaan seperti itu, juga karena aku sama sekali tidak menyangka bahwa Lie Chun bisa segila itu. Aku lalu mencoba menyusun kronologi jalan cerita yang tidak terlalu heboh agar sekiranya esok Hera meminta kabar dariku ia tidak begitu syok mendengarnya. Lalu sambil memperlambat laju kendaraan aku masuk ke arah tempat tinggal pamanku yang terletak di pinggiran kota Bandung.

Setiba di rumah pamanku aku segera masuk kamar dan tidur sembari berharap semoga dapat melupakan peristiwa heboh yang baru saja terjadi. Untung saja beliau sudah tidur kalau tidak aku harus menjelaskan kepergianku “mengisi bensin” yang lumayan lama itu.

Keesokan paginya aku bangun agak telat, mungkin karena masih syok. Lalu aku segera mandi tanpa sarapan terlebih dahulu karena memang hari sudah agak siang. Kupikir lebih baik makan di kampus saja tokh kalau tidak ada dosen aku bisa makan pagi di kantin. Sampai di kampus, aku segera masuk mengikuti kuliah Matematika IV yang merupakan salah satu mata kuliah utama di Fakultas Arsitektur. Sambil mencatat segala jenis teori matematika tersebut pikiranku melayang sejenak pada kejadian semalam.

Hmm.. Apakah kejadian tersebut pantasku ceritakan selengkapnya pada Hera atau tidak, karena menurutku meskipun aku tidak melakukan perbuatan apapun pada Lie Chun namun sedikit banyak itu bisa membuat gadis seperti Hera mengalami syok. Akhirnya kuputuskan siang nanti untuk menemui Hera sambil menceritakan garis besarnya saja kupikir tokh sepanjang Hera tidak menanyakan detilnya ia pasti masih bisa terima sikap Lie Chun.

Tak terasa dua setengah jam kuliah matematika yang menjemukan itu berakhir juga. Akhirnya aku keluar sembari melihat keadaan sekitar mencari keberadaan Hera yang kemarin sore telah berjanji untuk menemuiku. Karena sampai sekitar setengah jam belum ada juga akhirnya kuputuskan untuk mencarinya di kantin utama kampusku. Namun anehnya di sana sosok Hera tidak juga bisa kujumpai. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk mencarinya karena Hera biasanya sering pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan kuliah ataupun sekedar meminjam novel-novel favoritnya.

Nyaris lima belas menit aku mencari keberadaan dirinya di dalam perpustakaan tersebut namun anehnya aku tetap tidak berjumpa juga. Akhirnya aku keluar dari perpustakaan dengan langkah gontai. Pikirku ada apa pula begitu sulit bagiku untuk bertemu dengannya. Apakah karena tadi malam aku tidak segera melaporkan misiku. Namun saat hendak keluar dari gerbang kampus aku bertemu dengan Meme (Mei-Mei) salah seorang mahasiswi FISIP teman kuliah Hera. Ketika kutanyakan pada Meme ia hanya menyatakan bahwa tadi seusai kuliah Antropologi, Hera langsung pulang bersama dengan Lie Chun, setelah saat keluar dari ruang kuliah ia ditemui oleh Lie Chun. Tentu saja mendengar hal itu aku sangatlah keheranan.

“Koq bisa-bisanya hal itu terjadi dan mengapa pula ia mau pulang bersama dengan perempuan binal itu?” pikirku.

Akhirnya kuputuskan untuk pergi menyusul ke kediaman Hera. Selain untuk mengetahui apa sebenarnya yang tengah terjadi juga untuk menjelaskan pada Hera mengenai peristiwa semalam. Setiba di tempat Hera kulihat keadaan di luar sepi. Saat kupencet bel akhirnya keluar Surti yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu di rumah tantenya Hera.

“Ehh.. Mas Handy, ayo masuk. Nak Hera ada di dalam tuh sama temannya. Masuk aja Mas”, ujarnya mempersilakan diriku untuk masuk. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam saja, karena tokh pembantu tantenya Hera mempersilakan diriku untuk langsung saja ke dalam.

Setiba di dalam, aku tertegun saat menyaksikan Hera dan Lie Chun sedang berbicara serius sambil.. Astaga memegang sapu tanganku. Ya Tuhan ternyata semalam sapu tanganku tertinggal saat menghapus air mata Lie Chun. Betapa bodohnya aku. Bisa saja dengan benda itu ia bercerita macam-macam. Dan apa yang kutakutkan ternyata benar-benar terjadi, saat menyadari kedatanganku mereka berdua menatapku. Lie Chun terlihat agak sedikit kaget namun yang membuat tubuhku sejenak terasa dingin adalah tatapan Hera. Ya ia menatapku sangat tajam dan dingin seolah menyimpan dendam padaku.

“Hera.. Aku..” belum selesai aku berkata-kata, Hera sudah menyela perkataanku sambil menatap tajam dan bersuara dingin.
“Handy, tidak kusangka engkau benar-benar lelaki bajingan, tega-teganya kau berniat memperkosa sahabatku sendiri. Kau benar-benar lelaki brengsek, mencoba membius temanku dengan sapu tanganmu ini. Kau kira aku tidak tahu ini milik siapa?!!”

Terus terang aku terkejut. Namun aku mencoba membela diri.

“Dengar Hera, beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Aku tidak membius..”

Belum pula aku selesai berbicara kembali Hera memutus perkataanku.

“Jangan berdusta Handy.. Cukup sudah aku kau bohongi, kau kira ini bau apaan hah!!” sambil berkata demikian Hera melempar sapu tanganku ke wajahku.

Sesaat tercium bau Khlorofom yang sangat keras pada sapu tanganku. Astaga.. Darimana bau ini berasal? Seingatku semalam aku tidak menaruh apa-apa pada sapu tangan itu lantas bagaimana bisa begini, hmm.. Pastilah ini perbuatan keji Lie Chun pikirku.

“Demi Tuhan, Hera, aku tidak menaruh apa-apa pada sapu tangan ini lagipula aku..”
“Sudah, aku tidak mau lagi mendengar apapun alasanmu, sebaiknya kau segera pergi sebelum aku berteriak,” nada suara Hera terdengar sangat emosional saat mengusir diriku.

Akhirnya aku melangkah pergi dengan lemas namun sebelum aku memutar badan sempat kulihat tatapan dan senyuman sinis dari Lie Chun dan terus terang aku agak ngeri melihat sinar matanya yang terlihat sangat jahat itu. Namun aku berfikir untuk mengalah karena tokh tidak ada gunanya berdebat dengan wanita, lebih baik menunggu suasana cooling down dulu. (sorry loh ya buat yang wanita).

Waktu: Pukul 14.30 Siang, sepeninggal diriku

Lokasi: Kediaman tantenya Hera

“Sudahlah Hera, tidak perlu menangis. Aku mengerti ini pertama kalinya engkau pacaran lagi. Kadang kita bisa saja salah menilai orang apalagi setelah lama tidak berpacaran,” ujar Lie Chun sambil mengelus rambut Hera yang menangis di pangkuannya.
“Tapi aku terus terang tidak menyangka ia bisa begitu. Sungguh aku tidak mengira ia jahanam yang tega berbuat itu terhadap temanku sendiri, padahal dulu aku begitu kagum atas sikap coolnya dan okhh.. Aku benci sekali Lie.. Benci..,” tangis Hera semakin hebat.
“Udah dong Hera.. Masa nangis terus sih.. Makanya dari dulu khan aku bilang jangan pacaran sama cowok Tiko, kamu sih.. Khan masih banyak cowok tajir dan keren di Jakarta, masa sama cowok gembel kayak githu kamu mau aja sichh..” ujar Lie Chun sambil tangannya mengusap-usap punggung dan rambut Hera.

Akhirnya tangis Hera mulai mereda.

“Iya ya Lie, barangkali aku sebaiknya nurut saja sama papaku, aku menyesal Lie tertipu olehnya”
“Nahh githu dong, udah deh nanti aku carikan cowok yang lain ya?” ujar Lie Chun sambil memeluk Hera.

Sepulang dari tempat Hera hati dan pikiranku terasa sangat suntuk. Mau belajar susah, mau makan susah, bahkan mau bermasturbasi pun tidak bisa. Begitulah nasib orang yang sedang patah hati. Serba salah. Namun aku bertekad untuk memperjuangkan cinta Hera. Bukan kenapa, tapi bagiku Hera adalah wanita yang mampu mengisi hari-hariku dengan penuh gelora dan semangat. Mungkin hanya Hera lah wanita yang mampu mengisi segala anganku tentang wanita ideal, terlebih ia adalah tipe wanita dengan pribadi yang ideal.

Namun rupanya Dewi Fortuna (bukan Fortuna Anwar loh) sedang berpihak kepadaku. Kebetulan sebulan semenjak kejadian itu kampusku mengadakan graduation night yang merupakan malam perpisahan dengan para wisudawan yang biasa acaranya di isi oleh para adik-adik kelas untuk menghibur para lulusan yang baru saja meraih gelar kesarjanaannya. Memang bisa dikatakan inilah kesempatanku untuk meraih kembali cinta Hera yang hilang karena sudah sebulan lamanya Hera selalu saja menolak telefon dariku, bahkan cenderung menghindar berpapasan denganku. Bahkan jika berpapasan saja ia selalu bersikap seolah-olah tidak melihat kehadiranku. Hal ini tentu saja membuatku dongkol. Tapi apa mau dikata, memang begitulah yang aku alami.

Namun bukan cowok Flores namanya jika belum apa-apa kita sudah menyerah, apalagi dari pihak ayahku aku masih memiliki sedikit campuran darah batak (nenekku batak sedangkan ayah Flores campur Irian dan ibu berdarah Timor campur Portugal). Jadi aku berusaha memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, apalagi aku tahu bahwa Hera tergolong senang dengan berbagai acara kegiatan kampus. Mungkin karena anak perantauan dan jauh dari keluarga sehingga daripada tidak ada kesibukan lebih baik ikut kegiatan kampus yang positif.

Kenyataan memang sesuai dengan harapanku. Malam itu sehabis aku membacakan kata sambutan pihak senat aku melihat Hera sedang berada di pojokan belakang kampus, duduk bersama dengan Lie Chun. Saat turun dari podium aku berjalan memutar bagian dalam lorong koridior auditorium dan menuju ke arah belakang tempat Hera sedang duduk mengamati acara bersama dengan Lie Chun. Namun untungnya tiba-tiba kulihat diam-diam dari balik celah-celah koridor ternyata Lie Chun pergi meninggalkan Hera, mungkin ke toilet, entahlah aku tidak tahu. Yang aku tahu bahwa aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Perlahan aku pergi menghampiri dirinya.

“Hera, apa khabar?” sahutku agak sedikit dekat di belakangnya.

Kulihat ekspresi Hera tetap tenang melihat acara pagelaran paduan suara kampus kami yang terkenal karena selalu menang di berbagai kejuaraan di luar negeri. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Hera agak sedikit tegang, terlihat dari leher dan bahunya sedikit mengejang walaupun ia tetap cuek melihat acara yang tengah berlangsung. Terus terang lidahku terasa agak kelu untuk menyapanya karena kami sudah lama tidak berkomunikasi. Bukan karena tidak sempat namun karena Hera selalu menolak untuk berkomunikasi denganku.

Namun aku tetap nekad. Biar bagaimanapun aku harus bisa meraih kembali cinta kami yang terputus oleh ulah Lie Chun.

“Ra, maafkan aku kalau aku telah menyakiti hatimu, tapi aku sungguh tidak pernah ada maksud apalagi sampai berbuat yang menyakiti hatimu. Terus terang ini hanya salah paham belaka. Tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya. Biar bagaimanapun aku ingin masalah ini jelas, Hera. Terserah bagaimana keputusanmu nanti, tapi berikanlah aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepada dirimu,” sahutku panjang lebar sambil agak panas dingin menunggu reaksinya.

Lama diam tidak ada suara di antara kami berdua, akhirnya setelah sekian lama menunggu akhirnya Hera terdengar bergumam tanpa menoleh ke belakang, “Tunggu aku di Taman “S” Minggu Pagi besok,” lalu ia bergegas bangkit dan pergi meninggalkan diriku yang masih terbengong-bengong. Namun sejenak aku sadar bahwa aku masih memiliki kesempatan. Lantas, tanpa menunggu acara selesai aku pun bergegas pulang. Yang ada di benakku adalah secercah harap dan rencana untuk menyusun rencana sebaik mungkin agar dapat menjumpai Hera dan bertemu dengannya.

Pagi itu suasana Taman S yang sejuk dan asri karena dikelilingi pemukiman mewah agak sedikit ramai. Mungkin berhubung hari minggu pagi jadi dimanfaatkan oleh warga sekitar maupun penduduk dari daerah lain untuk berolah raga sekaligus berekreasi. Aku sengaja menunggu dengan pakaian yang biasa kukenakan yakni celana Jeans dan kaos Polo berkerah. Itu memang pakaian favorit yang selalu kukenakan dipadu dengan sepatu kets berkulit hitam (Adidas Stansmith), jadi tetap resmi untuk dipakai ke gereja namun nyaman untuk berjalan-jalan sepulang dari sana.

Biasanya Hera mengimbangi dengan juga berpakaian celana Jeans namun dipadu dengan kemeja bermotif lengan pendek. Namun entahlah apakah Hera kali ini akan mengenakan pakaian yang sama dengan yang kukenakan atau tidak, aku tidak tahu. Namun yang jelas jika ia datang dengan mengenakan pakaian kebangsaan kami berdua berarti aku punya harapan positif. Namun bukan berarti jika ia berpakaian beda berarti aku tidak punya peluang.

Lama aku menunggu di bangku taman yang berada di pinggir kolam besar di tengah taman. Terus terang agak gelisah juga, apalagi hari minggu itu banyak pasangan muda-mudi yang saling bermesraan membuat orang yang lagi patah hati jadi merasa sirik. Sedang asik-asiknya menunggu dan melihat bebek-bebek yang berenang di tengah kolam, akhirnya aku mendengar suara lembut yang telah lama kunantikan.

“Handy..”

Lantas aku menoleh ke belakang. Ternyata aku lihat Hera sedang berdiri di belakangku dengan gaun putih yang indah seperti yang dikenakan pada malam Valentine beberapa waktu yang lalu.

“Ahh, betapa cantiknya dia,” gumamku dalam hati.

Di sinilah baru terlihat bahwa Hera benar-benar cantik seperti bidadari, apalagi dia juga mengenakan sepatu putih seperti sepatunya cinderella. Benar-benar wanita impian. Namun yang membuatku benar-benar kagum adalah Hera tidak seperti biasanya. Jika tidak berdandan kali ini ia memakai lipstik merah dengan sapuan tipis ditambah sapuan bedak yang sangat tipis dan halus, sehingga memancarkan aura kecantikannya yang tiada tara. Rasanya semua model-model bugil Jepang maupun Korea dan Chinese dari halaman website yang sering kukunjungi tidak ada satupun yang secantik dia.

Lama aku terbengong-bengong menatap kecantikan Hera sampai akhirnya aku dikejutkan oleh dehemannya. Wajahku langsung terasa panas, mungkin sudah terlihat memerah kali ya? Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya.

“Duduklah dulu di sini Hera, ada yang inginku bicarakan dengan mu,” ujarku sambil memutar posisi duduk sehingga jadi berhadapan dengannya.

Akhirnya Hera melangkah dengan anggun dan duduk di sisiku. Lama kami terdiam sejenak lalu aku membuka pembicaraan.

“Hera, sebenarnya aku ingin menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada malam itu. Tapi apakah kamu mau mendengarkan alasanku atau tidak, itu tergantung dari dirimu. Jika tidak, aku tidak akan menjelaskannya karena pasti apapun alasanku kau tidak akan menerima. Sekarang maukah kamu mendengarkan alasanku?”

Lama suasana hening, hanya terdengar sayup-sayup suara canda tawa muda-mudi yang sedang asyik memadu kasih, sampai akhirnya terdengar suara dari Hera, “Handy, bukankah aku sudah ada di sini? Tunggu apalagi? Jika aku tidak ingin mendengarkan alasanmu, untuk apa aku datang ke sini.”

Sejenak aku tergagap, namun aku mampu menguasai diri, dan mulailah mengalir kisah kejadian yang sebenarnya dari mulai malam itu hingga keesokan harinya, di mana pada akhirnya Lie Chun berhasil menghasut Hera. Sepanjang cerita Hera hanya terdiam saja, namun dengan serius memperhatikan penjelasan dari diriku. Akhirnya cerita itupun berakhir, dan Hera hanya menatapku lama sekali. Lantas..

“Handy, maafkan aku. Terus terang akupun sudah sempat salah menilai dirimu. Biar bagaimanapun aku juga ikut khilaf. Aku ikut terbawa emosi dan aku terlalu percaya kepada Lie Chun. Memang ia sahabat baikku ketika kami sekolah dulu, tapi terus terang aku tidak menyangka kalau ia akan tega berbuat hal itu terhadap dirimu maupun diriku untuk memisahkan cinta kita berdua.”

Lantas suasana kembali hening namun dari sudut-sudut mata Hera tampak mengalir air mata. Akupun tanpa disuruh dua kali lantas segera merangkul dirinya dan membelai rambutnya. Lama kami saling berangkulan tanpa kata-kata hingga akhirnya..

“Handy, kupikir lebih baik kita melupakan apa yang telah terjadi. Aku menyesal telah khilaf menuduhmu yang tidak-tidak. Maafkan aku jika telah menyakiti hatimu. Terus terang aku tidak menyangka bahwa Lie Chun yang telah lama menjadi sahabatku sejak di bangku sekolah dulu telah tega merusak hubungan kita,” ujar Hera dengan mata masih basah.
Aku pun berkata, “Sudahlah Hera. Yang sudah terjadi biarkanlah terjadi. Yang penting ini menjadi pelajaran bagi kita berdua agar tidak mudah mempercayai suatu berita tanpa disertai fakta yang kuat. Lagipula aku sendiri kan masih terhitung orang baru dalam hidupmu. Jadi sudah sewajarnya jika engkau lebih mempercayai Lie Chun.”

Aku mengatakan itu dengan nada sedikit di wibawa-wibawakan karena kupikir kapan lagi menumbuhkan rasa cintanya agar semakin dalam menyayangiku. Bukankah begitu pembaca?

Akhirnya kami berjalan pulang dari taman itu, dengan tangan saling berpegangan layaknya orang yang baru jadian. Tapi begitulah memang cinta, penuh dengan suka duka dan jatuh bangun. Namun belum lama kami berjalan mendadak terdengar suara ban berdecit dan raungan keras suara mesin mobil. Dan tiba-tiba di hadapan kami tepat di pinggir taman tersebut berhenti sebuah mobil sedan Great Corolla merah berplat nomor daerah kami.

Lantas mendadak dari dalamnya turun Lie Chun. Astaga, terus terang aku tidak pernah menyangka akan bertemu Lie Chun dalam keadaan seperti itu. Raut mukanya terlihat aneh dan matanya menatap nanar ke arah kami. Lantas mendadak terdengar suaranya sangat keras.

“Handy! Hera! Ternyata kalian semua pengkhianat. Kalian cuman bisa menyakiti hatiku saja! Rasakan pembalasanku!” sambil berkata demikian Lie Chun mengambil sesuatu dari tas kecilnya yang sedari tadi ditentengnya. Lantas jelaslah semuanya bagiku. Ternyata Lie Chun membawa sebuah pistol genggam semiotomatik. Mungkin dari tipe FN45 dan segera membidikannya ke arah kami berdua.

“Lie Chun, tunggu dulu..!” seru Hera.

Namun terlambat, kekasihku itu tidak memperhitungkan kenekatan temannya tersebut. Aku pun tidak sempat merapal ajian Tudung Dewa yang bisa dipergunakan untuk melindungi diriku maupun Hera. Yang terjadi hanyalah suara letupan halus dari pistol Lie Chun yang dilengkapi dengan perendam suara dan erangan suara Hera yang tertahan. Selanjutnya segalanya berlalu begitu cepat, aku secara refleks segera berkelit dan melancarkan jurus aikidoku untuk memiting dan mengunci Lie Chun, sehingga ia tidak sempat lagi untuk mengarahkan senjatanya kepadaku. Dan untunglah orang-orang di sekitar taman bergerak menghampiriku dan membantuku membekuk Lie Chun. Namun kulihat Hera nampak mengerang tak berdaya.

“Handy.. Ohh, tolong aku,” ujar Hera dengan suara yang sangat lemah.
“Hera, tenanglah sayang. Sebentar lagi ambulans akan datang.”
“Sshh, sudahlah Han. Aku merasa waktuku sudah dekat. Berjanjilah padaku sayang. Berjanjilah, bahwa engkau mau mengampuni Lie Chun dan menikahinya. Aku merelakan ia untukmu,” ujar Hera dengan nafas tersengal-sengal.
“Tapi.. Hera, aku tidak mencintainya,” sahutku ragu.
“Tidak. Berjanjilah padaku Handy. Berjanjilah, agar aku bisa meninggal dengan tenang,”

Suara Hera semakin lama semakin lemah dan parau, sementara darah semakin mengental di perutnya dan di pangkuanku.

“Baiklah Hera..” sahutku lemah.
“Terima kasih Han. Kamu memang kekasihku yang paling baik dalam hidupku. Ya Bapa Ke Dalam Tangan Muku serahkan Jiwaku,” ujar Hera terbata-bata dan terdengar sangat lamat-lamat.

Akhirnya Hera menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku, dalam dekapanku, dengan penuh berlumuran darah. Aku yang biasanya begitu tegar saat itu terasa sangat rapuh dan air mataku jatuh satu persatu di atas wajah Hera yang tersenyum manis.

Penutup:

Tanah kuburan itu masih basah sehabis hujan di Minggu Pagi Paskah. Cindy anakku meletakkan karangan bunganya di atas tanah kuburan Hera. Sementara Lie Chun melihat dari kejauhan sambil bersender di sisi mobil kami.

“Pa, tante Hera dulu pasti teman baik Papa dan mama. Kelihatannya Papa dan mama tiap paskah selalu rajin mengunjungi kuburannya,” ujar anakku dengan lancar. Maklum ia sudah kelas 6 SD.
“Tentu ia orangnya sangat baik ya Pa?” ujarnya lagi menambahkan.

Sementara aku hanya bisa membelai rambutnya dan menghela nafas perlahan, “Ya sayang, ia memang sangat baik.”

Lantas kami berjalan menuju Lie Chun dan masuk ke dalam mobil.

TAMAT