Cerita Antara KitaSeptember 28, 2006 10:18 pm

a1
Teman-teman di cerita seru, salam kenal dulu, gue pembaca setia cerita
seru, dan gue mau membagi-bagikan pengalaman yang tak terlupakan sampai
sekarang, mungkin tidak bakal dilupakan untuk selama-lamanya. Cerita ini
bukan fiktiv semata, tapi cerita ini bener-bener asli, mungkin beberapa
temen gue, bisa ketawa ngikik kalau sampe ada di homepage cerita seru,
karena bagi mereka sudah tidak asing lagi, memang gue sering dikatai RaKep
(Raja Bokep) di skul! Nama gue Williamto Halim, gue sekarang ini sekolah
di SMUK 1 kelas 1 Gue mengenal coli dari kelas 6 SD, waktu itu gue dikasih
tahu sama temen gue, kalau ada alat yang bisa memuaskan seperti gue ngewe
sama cewe, dengan tanpa berdosanya gue langsung bilang: “berapa harga
alatnya?”, dan temen gue ketawa ngikik, “elu memang bener-bener bego”,
katanya. Setelah itu gue coba dirumah dan ternyata gue ngerasain
kenikmatan yang luas biasa, yang asyiknya lagi gratis lagi! Biasanya kalau
mau nyoli gue pake kartu porno, film porno, dan kadang-kadang gue suka
buka www.porno.site sambil nyoli disana. Berhenti rokok? putaw? boat? gue
bisa tapi nyoli? nggak lha yau!!! Gue sangat aktiv banget di sekolah dari
osis sampe hal-hal sepeleh, seperti organisasi PMDK juga gue ikutin, jadi
maklum kalau gue sering keluar kelas, mau rapat inilah itulah? banyak
macem! Gue masih ingat hari itu, hari kamis gue ketemu sama anak kelas
I-6, ya lumayan cakep juga tapi sayangnya ini anak alim bener, dibandingin
temen-temen gue yang lain. Gue mulai deketin dan cari info, rupanya i get
it! … dia anak batam sebut saja nama (Milla). Gue mulai kenalan dan
ngocol bareng sama dia, dan gue rasa dia anaknya asyik juga, jadi terus
gue sosor terus. Gue masih ingat waktu itu tanggal 06 Febuari 1998, Gue
pernah dateng kerumah dia (rupanya dia anak rantau yang sekarang di kost
di Duta Merlin, kota), dengan alasan mau pinjam kaset tipe yang udah
dijanjiin waktu di phone, dan gue dateng! Bertepatan dengan itu mulai
menetes di tangan gue hujan rintik-rintik, tadinya gue udah mau pulang,
tapi hujan terus makin gede, akhirnya si Milla mempersilahkan gue masuk,
gue taro motor dulu lalu gue masuk ke kamar dia, wah kecil sekali gue liat
kamar dia ya 3 * 4 (maklum daerah duta merlin), gue juga lihat BH dia yang
ada ditempat tidurnya, respondnya kontol gue mulai ngaceng, trus dengan
ketakutan dia langsung menyimpan BH dia dalam box putih, abis itu dia
mulai menyetel lagu Titanic (selendion), wah gue makin nafsu sama itu
cewek. Dia sambil mengambil minum buat gue, gue langsung rangkul dia dari
belakang (saat itu nafsu gue memuncak dan gue ada perasaan ragu untuk
melakukannya?), gue pegang tanggannya dan dia seakan-akan berontak, tapi
gue terus memaksa sambil gue dengerin itu lagu Titanic, gue ciumin itu
lehernya dan gue merasakan dia mulai respond ke gue, gue pencet tuh
toketnya yang cukup gede, dan dia bilang “jangan kasar donk, sakiittt”,
lalu gue bilang “iya, sayangku…” Dia berbalik badan dan waktu itu gue
ciuman mulut tapi sayangnya ini anak kurang ahli jadi ya cuma sebentar
katanya kagak enak, nafasnya sesak, ya udah gue udahin ajah meskipun gue
nafsu. Lalu gue buka tuh baju dan celana si Milla, dan dia juga setuju
(mungkin gara-gara udah nafsu berat), lalu gue juga buka baju dan celana,
tinggal celana dalem dan dia tinggal celana dalam dan BH, BHnya berwarna
putih krem, dia juga liat itu gue udah tegang banget, lalu gue mulai
melepaskan bhnya sambil mencium-cium seluruh tubuhnya dan dia juga
merasakan kenikmatan, rasanya baru sekali ini dia merasakan hal itu,
terlihat dari rasa sakit ketika gue remes dan cipok toketnya, lalu gue
mulai buka perlahan lahan itu celana dalemnya sambil mencium pusernya yang
bulat bagaikan anggur merah, gue juga melepaskan cd gue, tanpa basa basi
gue langsung menelentangkan dan gue sodok pake kontol gue ke memek dia,
wah rupanya ini lobang sempit sekali sampe cuma masuk palanya ajah, dan
dia udah merintih: “ah..h..h.. pelan-pelan …”, gue kagak peduliin yang
penting masuk dulu dan setelah gue paksa, rupanya masuk juga dengan
sedikit jeritan kecil “akkkhhhhddduuhhhh”, gue terus goyangin ke atas dan
kebawah dia terus merintih keenakan atau keasyikan gue kagak bisa mastiin
yang pasti dia bilang “trus…trus…aduh…ah…ah…ahk….”. Saat itu
memang gue udah gila banget langsung gue percepatan dan dia rasanya udah
keluar 2 x dan gue sendiri blom, sampe tampangnya pucat pasi, gue kasihan
juga, dan udah mau keluar peju gue, terpaksa gue keluarin didalam soalnya
gue udah nafsu banget, dan setelah selesai gue lihat bercak darah yang ada
diserpeinya, dan gue bilang “nyesel ya? sorry gue udah ambil keperawanan
elu?”, lalu dia bilang “nggak gue suka kok, asal elu jangan lupain ini?”,
sambil dia tiduran didada kiri gue, lalu gue kasih dia pil (dari temen gue
katanya supaya kagak hamil), lalu dia minum dan gue dan Milla sering
ketemu dan ketempat kostnya melulu, tapi dia suka melarang karena dia
takut kalau hamil?, tapi tetap ajah gue lakukan trus, soalnya nafsu gue
makin hari makin membludak, sampe gue disekolah udah kayak Romeo dan
Juliet, gue sering berduaan dan ciuman sambil kepergok dari temen gue, gue
juga pernah melalukan di kamar mandir cewek sama dia, di bioskop (kagak
ngewe cuma ciuman, isep toket, sama cupang leher), dll. Baru gue sadar
bahwa hidup itu indah, dan gue udah merasakan sampai kadang-kadang gue
ketagihan. Begitu cerita dari kehidupan sex pertama gue, memang cukup
mengasyikan dan gue nggak bisa lupakan hal itu, mungkin tidak untuk
selama-lamanya. Salam dari gue untuk semua pencinta cerita seru, dan
bagi-bagi pengalamannya jangan dipendem sendiri donk! Kontak-kontak gue
kalau ada info baru, di: *******@****member.org , Ciao.o..o…

Akibat Pergaulan Bebas 10:17 pm

Namaku adalah Jenny , aku adalah gadis lugu yang dikawinkan oleh orang tua
pada usia 20 tahun. Aku memiliki seorang kekasih yang cukup mapan ,
namanya William , dia seorang perwira ABRI di kotaku yang berpangkat
kapten. Hubungan kami sangat dekat dan kami hampir menikah. Namun orang
tuaku tidak menyetujuinya , tetapi saya malah dikawinkan dengan kakak
William yang bernama Ricky. Alasan mereka cukup rumit , katanya Ricky
sangat mencintaiku dan mereka kurang menyukai William yang anggota ABRI.
Mereka lebih suka bila aku menikahi Ricky yang cuma seorang pegawai
negeri. Andai dulu aku menikahi William , mungkin semua ini tidak perlu
terjadi. Akhirnya kami menikah ,tanpa dikaruniai seorang anak pun karena
Ricky terlalu sibuk bekerja dari pagi sampai kadang kadang melembur.
William tidak marah karena aku dinikahi Ricky , mereka adalah kakak
beradik yang saling menyayangi sejak dari masa kecilnya. Pada suatu hari
William ditugaskan ke Jakarta oleh atasannya , menurutnya dia akan kembali
setelah 6 bulan. Tugas ini sebenarnya adalah jebakan yang dipasang oleh
suamiku sekarang Pak Simon. Aku bekerja pada sebuah taylor di kotaku ,
pemiliknya adalah Ny. Win , pada suatu hari aku dipanggil oleh Ny. Win ke
rumahnya. Menurutnya ada langganan penting yang meminta desain jas yang
hanya aku yang dapat melakukannya. Waktu aku datang ke rumahnya dia
bersama Pak Simon. Ny. Win memperkenalkan aku kepadanya dan kami
bercakap-cakap. Tak beberapa lama kemudian Ny. Win tanpa alasan yang jelas
meninggalkan kami berdua. Tak lama Pak Simon mulai bertanya “Dik Jenny ,
katanya dik Jenny ini istrinya si Ricky yang buruk itu , kok bisa sih
padahal dik Jenny begitu cantik ?” . Aku sudah merasakan gelagat yang
tidak enak dari semula aku datang ke rumah Ny. Win , tapi aku cepat
menguasai diri dan menjawab “Iya pak memang sudah takdir.” Kemudian Pak
Simon dengan cepat menjawab “Ah…masa dik Jenny mau menghancurkan hidup
hanya untuk laki2 yang seperti itu. Saya sudah banyak dengar tentang kamu
, kalau kamu … bisa memenuhi keinginan saya , hidup dik Jenny akan saya
buat lain….” . Selasai berkata seperti itu Pak Simon tiba2 memeluk saya
dan mencoba menciumi saya. Tentu saja saya meronta2 sampai tak beberapa
lama dia berhasil memagut bibir saya dan menciuminya dengan ganas. Wibawa
Pak Simon dan ciuman ciumannya yang ganas membuat saya terangsang dan
mulai mengikuti permainannya. Dia mulai meraba buah dada saya yang membuat
hati saya berdesir… , kemudian dia berhenti dengan bibir saya dan mulai
membuka baju yang saya kenakan , diciuminya bagian tengah dada saya ,
serambi melepas tali beha yang saya kenakan. Kemudian dia mulai menggigit
gigit buah dada saya yang cukup montok , walaupun saya berada dalam
keadaan tidur. Setelah itu dia menyibakkan semua barang yang ada di meja
kerja Ny. Win dan merebahkan saya di situ. Dia melanjutkan aksinya dengan
terus menerus menciumi , meraba dan menggigit kedua buah dada saya.
Sebagai istri yang jarang menerima nafkah batin saya dengan cepat
menikmati permainan ini , apalagi Pak Simon juga bukan laki2 yang terlalu
tua . Dia masih cukup muda sekitar 35an dan memiliki badan yang kekar
karena dia juga seorang ketua klub karate di kotaku. Serambi meremasi buah
dadaku dia melepaskan rok yang kukenakan dan meraba rabai pahaku ,
jantungku makin berdesir dan saya makin terangsang. Kemudian dia membuka
celana dalamku dan mulai menciumi dan menjilati cairan yang keluar dari
sana. Aku semakin mendesah dan dengan reflek kuraba-raba sendiri buah
dadaku . Sensasi yang timbul saat itu benar2 sangat luar biasa. Tidak
pernah kurasakan hal seperti ini dengan suamiku sendiri. Setelah itu Simon
membuka celananya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah berdiri tegak dan
dia mencoba memasukkannya ke dalam liang vagina saya. Setengah sadar saya
berteriak memohon padanya untuk jangan melakukan itu karena saya akan
merasa bedosa , karena saya berprinsip untuk mempersembahkan sex saya
hanya pada suami saya. Tapi Pak Simon tidak menghiraukannya dan memasukkan
kontolnya dengan kasar. Aku berteriak kesakitan , sementara dia hanya
mengeluh keenakan dan memuji muji liang vagina saya dengan berkata
“Ohh..enak Jen…sempit sekali…ohh…sempitttt sekali…!” Akhirnya saya kembali
tenggelam dalam kenikmatan , tiap encotan kontolnya itu kunikmati dengan
erangan erangan nikmat yang keluar dari mulutku. Sesekali dia memberikan
ciuman yang dalam kepadaku , yang benar2 kunikmati. Akhir dari semua itu
adalah ketika aku mencapai kepuasanku.

Dunia serasa terbalik , aku menangisi nasibku ini , tapi Pak Simon hanya
bisa menghibur hiburku dan berjanji akan membereskan semuanya. Kemudian
saya secara resmi menjadi istri simpanan Pak Simon. Tiap kali Pak Simon
menginginkan saya , dia akan menelpon saya dan mengajak saya kencan di
hotel di luar kota. Tiap kali saya diberinya imbalah dua juta rupiah.
Suatu hal yang saya syukuri dan sekaligus aku merasa jijik , karena aku
merasa seperti seorang pelacur. Perlu diketahui bahwa Pak Simon ini adalah
seorang yang amat berpengaruh , dia berteman dekat dengan ——– dan
——- (kedua jabatan ini disamarkan oleh Wiro) di kotaku. Dia bisa
melakukan apa saja yang dia inginkan , bagaikan seluruh kota itu miliknya.
Pada suatu hari ketika aku sedang bekerja di tempat Ny. Win , suamiku
Ricky tiba2 menerjang masuk dan memaki maki diriku dan Ny. Win , aku hanya
bisa menangis dan menangis mendengar makiannya. Tapi pada akhirnya dia
hanya diam dan berkata bahwa dia akan membunuh Pak Simon. Sungguh suatu
hal yang tragis ketika keesokan harinya aku mendapat kabar bahwa suamiku
sudah mati, mayatnya diketemukan di tepi sungai . Polisi mengatakan bahwa
dia mati karena mabuk dan jatuh ke sungai. Tapi aku tahu pasti apa yang
menyebabkan dia mati , Pak Simon.

Pak Simon tidak cukup puas dengan membunuh suamiku. Untuk menjaga adik
ipar saya William dari berbuat sesuatu yang mengancam dirinya , dia sudah
mengatur untuk memenjarakan William. Sungguh suatu hal yang tragis bagi
diriku dan dia , karena dalam hatiku aku masih mencintai William. Hal yang
membuat diriku semakin sakit adalah Pak Simon tidak pernah membiarkan aku
menemui William. Kata kata terakhir yang kudengar dari William adalah
bahwa dia menyesal kakaknya menikahi pelacur seperti aku.

Setelah masa 100 hari kematian suamiku , Pak Simon mengawiniku sebagai
istrinya yang ketiga , hal yang menurutnya adalah penebusan dari dosa2
yang dia lakukan terhadapku. Sebenarnya aku sudah ingin bunuh diri saja ,
tetapi Pak Simon mengancam jika aku mati , maka William juga mati. Hari
demi hari berlalu dan kulewatkan sebagai istri Pak Simon. Aku adalah istri
favoritnya , sehingga tidak jarang aku mendapat perlakuan buruk dari istri
istrinya yang lain. Yang paling parah adalah ketika kami bertemu di sebuah
pasar swalayan , dan istri pertamanya Ny. Elis menjadi kalap dan
menjambaki rambutku , serambi mengatai aku sebagai pelacur. Aku tidak
melawan , karena aku sudah kehilangan harga diri serta kehormatanku.

Pak Simon tidak mempunyai seorang anakpun , tetapi dia mempunyai seorang
pegawai yang cekatan yang amat dipercaya olehnya , bahkan kemudian
diangkatnya sebagai anak angkat bernama Zachary. Pada suatu hari aku
menerima sebuah surat dari William , dari suratnya dia mengatakan bahwa
dia menyesal mengatai aku sebagai seorang pelacur. Dia berkata bahwa aku
tidak mungkin melakukan hal senista itu karena dia memahami sekali sikap
dan kepribadianku karena dia pernah menjadi kekasihku. Tetapi yang
membuatku khawatir adalah karena dia berencana akan membalas perbuatan Pak
Simon yang telah memenjarakan dia dan menyengsarakan aku karena Pak Simon
adalah orang yang sangat berpengaruh. Surat itu kemudian kusimpan baik2 di
sebuah kotak perhiasan , karena aku menganggapnya sebagai surat yang
mengembalikan harga diriku. Suatu hari surat itu hilang dari kotak
perhiasan , aku sangat panik dan mencarinya di semua tempat tapi hasilnya
nihil. Pada suatu hari aku berpapasan dengan Zachary yang baru saja
memeriksa meteran air dan listrik di rumahku. Pak Simon membuatkan aku
rumah sendiri sejak peristiwa yang memalukan dirinya terjadi , ketika Ny.
Elis memukuli diriku di depan umum. Zachary menyapaku dan menanyakan
tentang kabarku , seperti biasa aku hanya meladeni basa basinya. Tapi
kemudian dia bertanya kenapa aku terlihat gelisah akhir2 ini. Kembali
kujawab saja sekenanya , namun kemudian dia kembali menanyakan bila aku
kehilangan sesuatu yang penting misalnya surat. Aku segera menangkap
maksudnya dan memintanya untuk mengembalikannya padaku. Dia berkata bahwa
dia tidak membawanya dan akan mengembalikannya nanti malam karena dia
harus mengerjakan sesuatu terlebih dahulu.

Malamnya dia datang lagi ke rumah , dan dia membawa surat itu. Dengan
segera aku memintanya untuk mengembalikan surat itu. Tetapi dia menolak
dan menanyakan bagaimana aku harus berterima kasih kepadanya. Akupun
menangkap maksudnya dan menanyakan berapa imbalan yang harus saya berikan
kepadanya. Tapi dia berkata dia menginginkan saya. Kemudian dia memelukku
dan menciumiku , dan mengatakan betapa dia mengagumi saya yang berbeda
dari semua gadis yang pernah dikencani oleh ayah angkatnya Pak Simon. Aku
kemudian melepaskan diri darinya dan menempeleng dia , segera kuusir dia
sambil memaki siapa dia kira dirinya itu. Kemudian dia menceritakan
dendamnya pada Pak Simon , betapa ayahnya yang dulu sahabat dekat Pak
Simon dan juga seorang pengusaha sukses terkena kasus dan harus lari ke
luar negeri. Namun setelah itu Pak Simon mengambil alih harta keluarganya
, dan ayah Zachary merasa tertekan dan bunuh diri. Dia kemudian memaki Pak
Simon yang katanya mengangkat dirinya sebagai anak , namun dia merasa
lebih diperlakukan sebagai anjing oleh Pak Simon. Aku hanya terdiam
mendengar perkataannya. Namun tak lama kemudian nafsu gelapnya pun timbul
dan dia kembali memeluk diriku , dan aku meronta ronta teringat dulu
betapa aku diperkosa oleh Pak Simon. Kumaki Zachary bahwa semua dia
binatang, tapi dia hanya tertawa dan berkata “Memang semua laki laki
binatang , tapi Simon adalah binatang terbuas di dunia , kalau surat ini
saya berikan padanya , menurutmu apa tidak mungkin nasib adik iparmu akan
sama seperti suamimu….” . Perkataan Zachary membuat saya terdiam kaku dan
pasrah. Kemudian dia berkata bahwa aku adalah tipe wanita yang membuat
pria selalu ingin memperkosaku , tipe wanita yang selalu disukai pria.
Setelah itu dia menceritakan betapa dia telah memasang kamera tersembunyi
di kamar mandi dan kamar tidurku , betapa dia selalu mengintipku melalui
kamera tersebut dan merekam semua yang kulakukan selama ini. Aku hanya
diam berdiri dan pasrah sampai akhirnya dia mulai melucuti baju yang aku
kenakan , dan melepas tali behaku. Matanya mempelototiku buah dadaku yang
menyembul dan seperti Pak Simon dia segera menciumi, menjilati dan
menggigitinya , sambil mengatakan betapa beruntungnya Pak Simon memiliki
diriku. Kemudian dia membopongku ke atas ranjang dan merebahkan aku di
situ. Aku hanya bisa diam dan pasrah , membiarkan dia menikmati semua
bagian dari tubuhku , sama sekali tidak kurasakan kenikmatan dari
perbuatannya ini. Yang kurasakan hanya sakit hati dan perasaan jijik. Aku
terpaksa membiarkan dia melumati setiap centi dari tubuhku dan hanya bisa
menangisi nasibku yang malang ini. Kemudian dia memasukkan kontolnya
dengan ganas dan mengencoti tubuhku berkali kali dalam berbagai posisi.
Sebenarnya aku sangat capai , atas apa yang dia lakukan itu , aku
memintanya untuk menghentikan perbuatannya itu . Tapi dia tidak puas dia
menindihku dalam berbagai posisi dari dog style , dan yang membuatku
sangat menderita adalah posisi ketika dia berdiri dan berjalan jalan
sambil mengencoti diriku , di mana aku harus merangkul dirinya yang
binatang itu. Aku merasa lega ketika dia mulai kecapaian dan kemudian
meninggalkan aku , setelah itu aku hanya bisa diam sambil merenungi
nasibku yang malang ini.Aku tidak bisa berbuat apa apa , namun waktu telah
menyelesaikan segalanya. Di mana semakin lama aku semakin haus akan seks
dan kekayaan , aku mulai sadar bahwa aku bisa menggunakan tubuhku untuk
mencapai apa yang kuiinginkan. Sekarang ini aku bukan lagi gadis lugu yang
hanya bisa diam diperkosa. Aku mulai sadar bahwa aku harus membalas pada
Pak Simon dengan memperkosanya kembali. Seiiring dengan makin tuanya
usianya yang menginjak 40 tahun , dia semakin lemah secara fisik , apalagi
dalam hubungan sex , keperkasaannya sudah mulai luntur , dan hal ini
membuatku merasa menang. Sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi apa yang
harus kulakukan , biarlah nasib menentukan semuanya.

Pembaca atau Wiro , kalau misalnya ngga dimuat , maaf , karena cerita ini
saya tulis sebagi pengungkapan perasaan saja, jadi tidak perlulah untuk
memberi komentar atau balasan pada saya. Syukur saja kalo dimuat dan ada
yang mendengarkan cerita saya. Sorry deh kalau ada yang ngga bener
nulisnya , sebab saya ngga pintar menulis.

TAMAT.

Akibat Pergaulan Bebas 10:15 pm

5
Untuk pembaca yang belum membaca ceritaku terdahulu, perkenalkan namaku
Wawan. Umurku 23 tahun, dan aku adalah mahasiswa tingkat akhir sebuah PTS
di Jakarta. Saat ini aku tinggal menyelesaikan skripsi, tetapi sampai
sekarang masih belum selesai-selesai juga. Mungkin karena aku saat ini
terlalu fokus pada bisnis wiraswastaku. Hasilnya sangat lumayan sih, jadi
membuatku agak mengabaikan skripsiku itu. Tetapi aku berniat untuk mulai
mengerjakannya lagi ditengah-tengah kesibukanku mengerjakan proyek-proyek
bisnisku. Bangga juga bila mempunyai gelar nanti, dan terlebih hal itu
bisa membuat orang tuaku senang.

Semenjak aku kenal dengan tante Sonya, seperti kuceritakan dulu di “Beli
Mobil Berbonus Seks”, aku jadi ketagihan bermain seks. Aku selalu
memikirkan hal itu, terutama bila setelah beberapa hari tidak ada
penyaluran. Memang aku mempunyai pacar, tetapi dengan Monika pacarku itu,
aku hanya bercumbu saja dan tidak sampai berhubungan lebih jauh. Dia
memang ingin mempertahankan mahkotanya sampai menikah nanti.

Berhubung sekarang aku sudah mempunyai penghasilan, aku bisa
menggunakannya sebagian sebagai “biaya kenakalan”. Kadang aku dan temanku
pergi hunting ABG-ABG yang sering nongkrong di mal atau tempat nongkrong
lainnya.
Aku juga masih sering berhubungan dengan tante Sonya, dan juga
teman-temannya. Memang tante Sonya ini memperkenalkanku dengan beberapa
temannya yang kesepian. Mungkin lain kali aku akan menceritakan
pengalamanku dengan mereka, tetapi saat ini aku ingin menceritakan
kejadian lain beberapa hari yang lalu.

Malam itu aku sedang suntuk di tempat kosku. Aku perlu refreshing setelah
mengerjakan salah satu proyek pesanan klienku. Kutelpon Monika untuk
kuajak nonton, tetapi ternyata dia bilang sedang sibuk mengerjakan tugas
kuliahnya yang sudah akan deadline.

Akhirnya kuputuskan saja untuk beli DVD sekalian makanan untuk makan malam
nanti. Di dekat tempat kosku, memang terdapat penjual DVD bajakan. Sudah
sering aku beli DVD di tempat itu, malahan aku sudah kenal cukup dekat
dengan penjualnya. Kadang saat aku beli DVD, uang kembaliannya aku kasih
ke dia. Umurnya sekitar 25 tahunan dan berbodi seksi. Namanya Sinta, dan
orangnya memang agak genit. Kalau dilihat sekilas, ada miripnya dengan
Della Puspita. Nggak mirip banget sih, tapi lumayan cantik. Hanya bodinya
jauh lebih seksi jika dibandingkan aktris sinetron itu.

“Hai..mbak. Ada film baru nggak ?” tanyaku setelah sampai di tempatnya
berjualan.
“Ada Wan..Nih pilih aja sendiri” katanya sambil menyodorkan setumpuk DVD.
Kulihat DVD tersebut satu persatu. Ada beberapa yang menarik, seperti ”
The Terminal “nya Tom Hanks dan “Collateral” nya Tom Cruise.
“Mbak dicoba dulu dong” kataku sambil menyerahkan kedua DVD itu padanya.

Mbak Sintapun kemudian mencoba DVD itu di playernya. Kuperhatikan malam
itu dia tampak seksi sekali, dengan T-shirt ketat yang menonjolkan
keindahan payudaranya. Tubuhnya tampak padat berisi, dengan rok mini dari
bahan jeans yang semakin menambah keseksiannya.

“Ya udah deh..saya ambil mbak”
“Sedang sendirian nih Wan? Nggak pergi sama pacar ?” tanyanya.
“Iya mbak. Sedang suntuk nih, mangkanya saya beli DVD” sahutku.
“Mau yang lebih seru nggak ?” tanyanya lagi sambil tersenyum genit.
“Boleh.” jawabku. Diapun lalu mengambil bungkusan plastik hitam dari balik
lacinya, dan menyerahkannya padaku.
Kulihat isinya, ternyata DVD porno.
“Wah..kalau beli ini nontonnya nggak bisa sendirian nih” pancingku.
“Emang perlu mbak temenin ?” godanya.
“Siapa takut..bener nih ?” tanyaku. Aku senang sekali mendengarnya. Aku
merasakan penisku sudah mulai tegang membayangkan nikmatnya tubuh mbak
Sinta.
“Tapi nanti ya Wan..Satu jam lagi aku off. Jemput aja aku nanti”

Akhirnya setelah janjian dan membayar DVD yang kuambil, 2 DVD biasa dan
satu DVD porno, akupun pergi dahulu untuk makan malam sambil menunggu mbak
Sinta pulang. Aku pergi ke restoran fast food yang berada tak jauh dari
tempat penjualan DVD itu. Tak sabar aku menunggu satu jam lagi..

=====

Singkat cerita, mbak Sinta telah berada dalam mobilku. Akupun memacu mobil
kembali ke tempat kosku.
“Ih..kok ngebut sih Wan ? Udah pengen ya ?” godanya genit.
“Iya nih mbak..Wawan udah pengen diajarin mbak” sahutku asal.
“Ah..pasti kau udah pinter kan..” jawabnya sambil menyilangkan kakinya.
Paha mulusnya makin menambah gairahku.
“Kamu kalau main kuat berapa lama Wan ? Jangan cepet lho..puasin mbak dulu
ya ?” tanyanya lagi genit.
“Iya pasti mbak puas deh..”
“Habis tunangan mbak kalau main cepet banget. ” katanya lagi.
“Pantas jadi genit begini” pikirku.

Sesampainya di tempat kosku, aku langsung masuk ke kamarku bersama mbak
Sinta. Memang di tempat kosku ini, kamarku agak terpencil. Terlebih memang
bebas saja membawa siapapun masuk ke tempat kosku ini.

Kunyalakan AC dan TVku. Segera kupilih DVD porno yang berjudul “Sporty
Babes 2″ dan kunyalakan DVD playerku. Akupun kemudian beranjak menuju
ranjang dimana mbak Sinta telah menunggu.

Kami kemudian menikmati tontonan seru itu. Di layar TV tampak seorang
gadis bule cantik sedang disetubuhi di tempat permainan bowling. Desahan
suara gadis itu begitu menggairahkan. Tampak lawan mainnya sangat
menikmati keindahan tubuh gadis itu saat menyetubuhi sambil menghisapi
payudaranya.

Nafas mbak Sinta sudah memberat di sebelahku. Tangannya mulai meremasi
tanganku. Kupalingkan wajahku menatapnya, dan mbak Sinta langsung melumat
bibirku. Diciuminya aku dengan penuh gairah. Lidahnya mulai menerobos
masuk ke dalam rongga mulutku, yang kemudian kuhisap gemas.

Tangankupun mulai meremasi payudaranya yang kenyal dari balik T-shirtnya
yang ketat.
“Sebentar..Mbak buka dulu ya ” katanya sambil melepaskan T-shirt putih
yang dipakainya.
Tampaklah sudah payudaranya yang besar dibungkus BH berwarna krem. Puting
payudaranya tampak menonjol di balik kain BH nya itu.
“Ayo kamu yang buka BHnya Wan” ujarnya menggoda.

Tanganku langsung membuka kaitan BH di punggungnya. Lalu kuturunkan tali
penyangga dari pundaknya, dan terpampanglah payudara mbak Sinta di
depanku. Payudara yang ranum dan besar, dengan putingnya yang menonjol
menantang. Kuusap-usap dan kupilin perlahan puting payudara mbak Sinta
yang manis ini, sambil kemudian kuciumi lagi bibirnya.

“Ayo Wan, tunggu apa lagi. Isap susu mbak dong” pintanya . Sambil berkata
demikian, tangan mbak Sinta agak menekan kepalaku ke bawah menuju dadanya.
Tanpa menunda waktu lagi kujilati seluruh permukaan payudaranya.

“Ohh..” lenguh mbak Sinta ketika lidahku mengenai putingnya yang telah
menonjol keras. Erangannya semakin menjadi ketika kuhisap putingnya sambil
sesekali kugigit perlahan. Sementara aku menghisapi payudaranya yang
sebelah kiri, tanganku mempermainkan payudara yang sebelahnya. Tangan mbak
Sinta mengusap-usap rambutku sambil terus mengerang nikmat.

“Iya Wan..bener gitu..aduh..enak…oh…” erang mbak Sinta sambil
meliuk-liukan badannya. Akupun semakin bernafsu menghisapi dan menjilati
payudaranya yang kenyal itu.

Kulirik layar TV, dan di layar terpampang adegan dimana seorang gadis bule
berambut pirang sedang dijilati vaginanya di atas sebuah meja billiard.
Erangan gadis tersebut dari suara TV bercampur dengan suara lenguhan mbak
Sinta yang sedang kulahap payudaranya.

“Ayo Wan..mbak ajari seperti itu” ujarnya sambil menarik rambutku dan
menunjuk ke layar TV. Kemudian didorongnya pundakku menuju ke arah bawah.
“Cepet buka celana mbak” katanya lagi.
Akupun kemudian mengangkat rok jeans mininya dan tampaklah celana dalam
warna krem berenda yang dipakainya. Kubuka celana dalam itu, dan tampaklah
liang kewanitaannya dengan rambut yang tercukur rapi.
Tangan mbak Sinta mengelus-elus kemaluannya sendiri, sambil matanya
menatapku genit.
“Ayo Wan. Mbak pengen ngerasain jilatanmu disini” katanya lagi sambil
tangannya masih sibuk mengusap-usap vaginanya.

Kudekatkan kepalaku ke liang kewanitaannya, dan kujulurkan lidahku.
Perlahan kujilati vaginanya. Tubuh mbak Sinta menggelinjang hebat kala
itu, sambil mulutnya mengerang dan meracau nikmat.

“Ohh..Wan..ya..jilati terus Wan..enak…ohh..”. Sambil melenguh, tangannya
menekan kepalaku ke selangkangannya, dan akupun dengan penuh gairah
menikmati liang vagina mbak cantik ini. Erangannya semakin keras dan
tubuhnya meliuk-liuk liar ketika aku menghisapi klitorisnya.

“Terus Wan..oh…oh….” sambil mengerang mbak Sinta meremas-remasi
payudaranya sendiri.
“Ayo Wan, kamu tidur di sini” katanya sambil bangkit dari ranjang.
“Mbak ajari posisi yang lebih enak”

Akupun patuh dan tidur terlentang di ranjang. Sementara kulihat sekilas di
TV, si gadis bule cantik sedang disetubuhi secara doggy style di atas meja
billiard. Erangan suara dari TV menambah erotis suasana di dalam kamarku.

Mbak Sinta kemudian naik ke atas wajahku. Diturunkannya tubuhnya, sehingga
liang kewanitaannya tepat berada di atas mulutku. Kujulurkan lidah, dan
mbak Sinta kemudian menggoyang-goyangkan pantatnya di atas wajahku.
Erangan mbak Sinta kembali bersaing dengan erangan dari DVD porno di TV.

“Oh..oh…” erang mbak Sinta sambil pantatnya terus bergoyang-goyang
mencari kepuasan. Kujilat dan kuciumi dengan penuh gairah vagina mbak
manis ini. Tangan mbak Sinta memegang pinggiran ranjang di atas kepalaku,
sementara tubuhnya terus bergoyang mencari kepuasan birahi.

Beberapa lama kemudian, goyangan pantat mbak Sinta semakin menjadi.
“Oh..Wan..Mbak hampir sampai…ohhhhhh..” lenguhnya panjang. Tubuhnya
menegang, dan saat itu banyak cairan nikmat keluar dari vaginanya. Kuhisap
habis cairan kewanitaan itu, dan tak lama mbak Sintapun menjatuhkan
tubuhnya di sebelahku.

“Kamu hebat Wan..dengan mas Joko belum pernah aku orgasme seperti tadi”
katanya sambil tangannya mengusap-usap dadaku.
“Mbak istirahat sebentar ya” katanya lagi. Sebenarnya nafsuku sudah
memuncak, tetapi aku tak mau memaksa mbak seksi ini untuk melayaniku saat
itu juga. Kamipun lalu kembali menonton DVD porno yang masih terpampang di
layar TV.

Di layar tampak sekarang seorang gadis bule berambut pirang sedang bermain
tenis dengan seorang pria. Setelah bermain, mereka beristirahat dan mulai
bercumbu. Si gadis bule tersebut lalu membuka celana si pria dan tampak
terkejut melihat ukuran penisnya yang besar.
“Oh. my god..I love it..so big” desah si gadis sebelum memasukkan penis
itu ke dalam mulutnya.

Tampak gairah mbak Sinta kembali bangkit melihat adegan itu.
“Punyamu besar begitu nggak Wan?” tanyanya sambil tangannya mulai merabai
kemaluanku.
“Lumayan deh mbak. Memang mbak suka yang besar ya ?”
“Iya. Semakin besar mbak semakin suka” jawabnya genit.
“Ya udah mbak lihat aja sendiri” kataku.
Mbak Sinta tersenyum dan mulai membuka celana panjangku.
“Ih..besar juga punyamu Wan. Sampai celananya nggak cukup tuh”
Memang karena nafsuku sudah memuncak, kepala penisku tampak mencuat keluar
tak tertampung celana dalamku.

Mbak Sinta tak sabar membuka celana dalamku. Tangannya kemudian mengocok
perlahan senjata kelelakianku itu.
“Ih..keras banget..mbak suka kontol yang kayak gini. Besar dan keras.
Pasti cewek kamu puas ya .” katanya lirih. Wajah mbak Sinta kemudian
mendekati selangkanganku. Hembusan nafasnya terasa hangat di kulit
kemaluanku ketika dia mengamati penisku dengan pandangan gemas.

Rasa nikmat yang luar biasa menjalar tubuhku ketika lidah mbak Sinta yang
cantik ini mulai menari di kepala penisku. Dijilatinya kepala penisku
berikut batangnya. Setelah itu dengan rakus dikulumnya batang kemaluanku.

Srrpp..srppp..bunyi itu yang terdengar ketika mbak Sinta memaju-mundurkan
kepalanya menghisapi penisku.
“Ahhh..kontolmu enak Wan..mbak suka…hmmmmmmmmm” desah mbak Sinta ketika
dia menghentikan kulumannya untuk menjilati batang kemaluanku. Sesaat
kemudian, penisku kembali menyesaki mulutnya yang haus kejantanan lelaki
itu.

Sementara mulutnya menikmati kejantananku, tangan mbak Sinta mengelus-elus
buah zakarku. Aku tak kuasa lagi untuk menahan erangan nikmatku.
Tangankupun meremas-remas rambut mbak Sinta gemas.

Mbak Sinta semakin cepat menghisapi penisku. Kadang mulutnya dimiringkan,
sehingga penisku membuat pipinya tampak menggelembung. Tangannyapun
semakin cepat mengocok batang kemaluanku.
Kemudian dikeluarkannya penisku dari mulutnya, dan kembali dijilatinya
seluruh permukaan penisku sambil tangannya mengurut-urut buah zakarku.
“Keluarin dimulut mbak Wan..mbak pengen minum spermamu..” katanya dengan
nada memerintah.

Aku tentu tak menolak perintahnya. Memang aku sudah tidak tahan lagi.
Sambil mengerang nikmat, akupun mengalami ejakulasi. Saat itu, mbak Sinta
malah kembali mengulumi kemaluanku, sehingga spermakupun masuk ke dalam
mulutnya. Mbak Sinta kemudian menjilati kemaluanku sampai bersih.

“Enak Wan..” tanyanya sambil menjilati spermaku di sudut bibirnya.
“Enak mbak..” jawabku lemas.

Kamipun lalu kembali beristirahat sambil menonton tayangan DVD. Kali ini
dilayar tampak seorang gadis ABG bule berambut coklat sedang belajar
memancing. Tak lama gadis itu sudah bercumbu dengan pelatihnya. Si gadis
ABG menaiki tubuh lawan mainnya, dan mulai memompa tubuhnya naik turun.
Sementara si aktor, seorang lelaki setengah baya, meremasi payudara gadis
tersebut yang bergelantungan indah. Adegan persetubuhan lalu dilanjutkan
dengan gaya doggy style.

Tak lama kamipun kembali terangsang.
“Wan..mbak pengen seperti itu. Mbak pengen ngerasain ngentotin kontolmu.
Pasti lebih enak daripada punyanya mas Joko” katanya sambil merabai
kemaluanku dan mulai menciumi bibirku.

Mbak Sinta melepaskan rok mininya yang masih tersisa, lalu menaiki tubuhku
dan mengarahkan kemaluanku pada lubang kewanitaannya.
“Ohhh….” desahnya saat penisku mulai menerobos liang vaginanya. Diapun
mulai memompa kemaluanku naik turun. Terkadang diapun mengoyang-goyangkan
pantatnya ke kiri dan ke kanan.

Suara deritan ranjang, erangan mbak Sinta, serta erangan suara dari DVD
memenuhi kamar kosku. Walaupun AC kamar telah dinyalakan, tetap saja tubuh
kamipun berkeringat. Tetesan peluh itu mengalir dari wajah mbak Sinta
membasahi payudaranya. Aku segera membuka T-shirt yang masih aku pakai.

Sementara itu, mbak Sinta terus bergoyang menikmati kejantananku. Tanganku
tak ketinggalan meremasi payudaranya yang kenyal. Beberapa menit kami
bersetubuh dengan gaya ini.

“Ayo Wan..sekarang mbak pengen dientotin dari belakang” katanya sambil
bangkit dari tubuhku. Dia kemudian menungging sambil tangannya memegang
ujung ranjang. Akupun segera memasukkan penisku kembali ke dalam
vaginanya.

“Ohh..enak Wan…terus Wan..ohhh..yang cepat…ohhh” desah mbak Sinta saat
kupompa tubuhnya. Tanganku meremasi payudaranya yang bergoyang
menggemaskan. Terkadang kuremas pula pantatnya yang bulat padat menantang.

“Ayo Wan…mbak hampir sampai..terus wan…oh…ohh…ohhhhh”. Tubuh mbak
Sinta kembali mengejang, lalu rebah lemas di atas ranjang.

Kali ini aku tak mau lagi “menggantung”. Kubalikkan badan mbak Sinta dan
kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya yang telah licin oleh cairan
orgasmenya. Kugenjot tubuh mbak yang seksi ini dengan gaya missionary.

“Eh..eh..” demikian erangan yang keluar dari mulutnya seirama dengan
genjotan tubuhku.
“Hisapi putingku mbak” kataku. Mulut mbak Sintapun kemudian menghisapi
puting dadaku sementara aku menggenjot tubuhnya.
Tak lama akupun tak tahan lagi menahan ejakulasiku yang kedua. Wajah
cantik mbak Sinta ditambah dengan erangannya, serta jepitan vaginanya di
kelaminku membuatku mencapai puncak.
“Aku sampai mbak..ahhhhhh” jeritku tertahan ketika aku menyemburkan
spermaku dalam rahimnya.

=====

Kamipun berbaring lemas di atas ranjang. Puas sekali rasanya menyetubuhi
mbak Sinta nan ayu ini. Kunyalakan sebatang rokok untuknya dan satu
untukku. Kami kemudian mengobrol dan bercanda sambil tiduran di atas
ranjang.

“Wan..anterin aku pulang ya” katanya setelah dia menghabiskan rokoknya.
“Lho..udah malam mbak nanggung. Nginep di sini aja”
“Wah jangan Wan..besok pagi mas Joko mau jemput aku berangkat kerja. Aku
juga nggak bawa pakaian ganti” jawabnya.

Akhirnya, aku mengantar dia ke rumahnya. Cuma aku menurunkannya agak
sedikit jauh dari rumahnya agar tetangganya tidak curiga. Enak juga nonton
DVD bareng mbak Sinta. Mungkin aku akan semakin sering beli DVD nantinya.

Cerita Antara Kita 10:11 pm

Kepada seluruh pembaca cybernetty.blogsome.com, saya mengucapkan terima kasih atas
saran dan kritik tentang WP yang masuk, dan saya juga mohon maaf apabila
saya tidak dapat membalas beberapa pertanyaan dari para cybernetty.blogsome.com mania.

Sebelumnya saya akan memberitahu bahwa cerita ini terjadi sebelum saya
mengenal lebih dalam soal internet. Hanya luarnya saja. Ketika itu saya
masih kursus di sebuah lembaga sebut saja ITK (bukan universitas). Saat
itu saya masih belum begitu kenal dengan internet, dan saya masih dalam
taraf pemula dan baru sampai dalam soal hardware. Sejak berkenalan dengan
seorang teman di ITK saya mulai mengenal apa itu internet. Dan saya suka
sekali pergi ke warnet dan hampir tiap hari saya berada di sana. Semakin
lama saya suka sekali ber-chatting ria sampai suka lupa waktu dan pulang
malam hari.

Pada hari sabtu, saya seperti biasa suka nongkrong di warnet mulai jam
18:00, dan saya langsung mengecek e-mail. Setelah selesai saya suka
browsing sambil chat. Pada saat itu hujan deras mengguyur seisi kota
disertai angin. Pada saat saya membeli minuman (di dalam warnet), saya
melihat dua orang gadis yang memasuki warnet. Mereka terlihat basah kuyup
karena kehujanan, dan ketika itu mereka mengenakan kaos warna putih dan
biru (cewek yang satunya), dan celana pendek. Dari balik kaos putih basah
itu saya bisa melihat sebuah BH warna merah muda, juga sepasang payudara
montok agak besar. Saya kembali ke meja dan melihat mereka berdua
menempati meja di depan saya. Sambil menunggu jawaban dari chat, saya
mencuri pandang pada dua gadis itu. Semakin lama saya lihat saya tidak
bisa konsentrasi, mungkin karena cara duduk mereka yang hanya mengenakan
celana pendek itu, sehingga terlihat paha putih mulus dan juga sepasang
buah dada dalam BH yang tercetak jelas akibat baju yang basah.

Pada jam 20:00, listrik di warnet itu padam. Para penjaga warnet terlihat
sibuk memberitahu bahwa listrik akan segera menyala dan meminta agar
netter sabar. Tetapi 30 menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa
listrik akan menyala sehingga sebagian netter merasa tidak sabar dan
pulang. Sedangkan saya masih di dalam warnet dan ingin ikut pulang, tapi
saya tidak bisa karena di luar hujan masih deras dan saya hanya membawa
motor. Begitu juga dengan 2 gadis di depan saya, mereka sudah membayar
uang sewa dan tidak bisa pulang karena hujan masih deras. Mereka hanya
bisa duduk di sofa yang disediakan pihak warnet (sofa yang digunakan untuk
netter apabila warnet sudah penuh dan netter bersedia menunggu), wajah
mereka tampak gelisah terlihat samar-samar akibat emergency light yang
terlampau kecil, mungkin karena sudah malam dan takut tidak bisa pulang.

Melihat kejadian itu saya tidak tega juga, apalagi hawa menjadi dingin
akibat angin yang masuk dari lubang angin di atas pintu. Saya pun
mendekati mereka dan duduk di sofa. Ternyata mereka enak juga diajak
ngobrol, dari situ saya mengetahui nama mereka adalah, Tuti (baju putih)
dan Erni (baju biru). Lagi enak-enaknya ngobrol kami dikejutkan oleh
seorang cewek yang masuk ke dalam sambil tergesa-gesa. Dari para penjaga
yang saya kenal, cewek tadi adalah pemilik warnet. Saya agak terkejut
karena pemilik warnet ini ternyata masih muda sekitar 25 tahun, cantik dan
sexy. Cewek tadi menyuruh para penjaga pulang karena listrik tidak akan
nyala sampai besok pagi.

Setelah semua penjaga pulang, cewek tadi menghampiri kami.
“Dik, Adik bertiga di sini dulu aja, kan di luar masih hujan, sekalian
nemenin Mbak ya..” kata cewek yang punya nama Riyas ini. Kemudian berjalan
ke depan dan menurunkan rolling door.
“Saya bantu Mbak,” kataku.
“Oh, nggak usah repot-repot..” jawabnya. Tapi aku tetap membantunya, kan
sudah di beri tempat berteduh. Setelah selesai aku menyisakan satu pintu
kecil agar kalau hujan reda aku bisa lihat.
“Ditutup saja Dik, dingin di sini..” kata Riyas, dan aku menutup pintu
itu. Entah setan mana yang lewat di depanku, otak ini langsung berpikir
apa yang akan terjadi jika ada tiga cewek dan satu pria dalam sebuah
ruangan yang tertutup tanpa orang lain yang dapat melihat apa yang sedang
terjadi di dalam. Aku kembali duduk di sofa sambil berbincang dengan
mereka bertiga jadi sekarang ada empat orang yang tidak tahu akan berbuat
apa dalam keremangan selain berbicara.
“Sebentar ya Dik, saya ke atas dulu, ganti baju..” kata Riyas.
Aku bertanya dengan nada menyelidik, “Mbak tinggal di sini ya?”
“Iya, eh kalian di atas aja yuk supaya lebih santai, lagian baterai lampu
sudah mau habis, ya..” katanya.

Kami bertiga mengikuti Mbak Riyas ke atas. Warnet itu terdapat di sebuah
ruko berlantai tiga, lantai satu dipakai untuk warnet, lantai dua dipakai
untuk gudang dan tempat istirahat penjaga, lantai tiga inilah rumah Riyas.
Menaiki tangga ke lantai tiga, terdapat sebuah pintu yang akan
menghentikan kita apabila pintu tidak dibuka, setelah masuk kami tidak
merasa berada di sebuah ruko tapi di rumah mewah yang besar, kami disuruh
duduk di ruang tamu. Riyas bilang dia akan mandi dan menyalakan sebuah
notebook agar kami bertiga tidak bosan menunggu dia mandi.

Ternyata notebook itu tidak memiliki game yang bisa membuat kami senang.
Tapi aku sempat melihat shortcut bertuliskan 17Thn (ketika itu masih
17tahun.zip), aku menduga ini adalah permainan, ketika kubuka ternyata
isinya adalah cerita yang membuat adikku berdiri. Tuti dan Erni pun agak
malu melihat cerita-cerita itu. Tapi yang membuat aku tidak tahan adalah
mereka tidak memperbolehkan aku menutup program itu dan mereka tetap
membaca cerita itu sampai habis. Aku pun hanya bisa terbengong melihat
mereka berada di kiri dan kananku. Setelah selesai membaca, Tuti
merapatkan duduknya dan aku bisa merasakan benda kenyal menempel di lengan
kananku. Erni pun mulai menggosokkan telapak tangannya ke paha kiriku.
Sambil mereka melihat cerita yang lain, aku merasakan sakit di dalam
celanaku. Aku sudah tidak bisa konsentrasi pada cerita itu, mereka semakin
menjadi-jadi, bahkan Tuti membuka kaosnya dengan alasan merasa panas,
sedangkan Erni membuka kaosnya dengan alasan kaosnya basah dan takut masuk
angin. Aku merasa panas juga melihat tubuh mereka, sambil membetulkan
posisi adik, aku mengatakan kalau hawanya memang panas dan aku membuka
baju juga.

Kini tangan mereka berdua dirangkulkan di tengkukku, aku semakin panas
karena lenganku merasa ada dua benda kenyal yang menghimpit tubuhku dari
kiri dan kanan. Akhirnya jebol juga iman ini, aku menaruh notebook itu di
meja di depanku dan aku menciumi Tuti dengan nafsu yang sudah memuncak,
Tuti pun tak mau kalah sama seranganku, dia membalas dengan liar.
Sedangkan Erni sibuk menciumi dan menjilati dadaku. Tangan kiriku
kulingkarkan pada Erni dan mulai meremas buah dada yang masih tertutup BH
itu, sedangkan tangan kananku kulingkarkan di tubuh Tuti dan memasukkan ke
dalam BH dan meremas buah dadanya. Erni mulai membuka celanaku dan
menghisap penis yang sudah tegang itu.

“Ouhh.. mmmhh.. yahhh..” aku mulai menikmati jilatan Erni pada kepala
penisku. Tuti pun jongkok di depanku dan menjilat telurku. Aku hanya bisa
pasrah melihat dan menikmati permainan mereka berdua. Kemudian Riyas
keluar dari kamar dengan selembar handuk menutupi tubuh, dia menarik meja
di depanku supaya ada cukup tempat untuk bermain. Riyas berlutut sambil
membuka celana Tuti. Setelah celana Tuti lepas, dia mulai menghisap vagina
Tuti. “Ooohh.. Ssshh.. ahh..” Tuti mendesah. Tak lama kemudian Tuti
membalikkan tubuhnya dan sekarang posisi Riyas dan Tuti menjadi “69″. Aku
pun sudah tak tahan lagi, segera kuangkat Erni dan membaringkannya di
lantai dan membuka celananya. Setelah terbuka aku langsung menghisap
vagina yang sedang merah itu. “Auuhh.. Ooohh.. Sayang..” desahan Erni
semakin membuatku bernafsu.

Dengan segera aku mengarahkan penisku ke vagina Erni, dan mulai menusukkan
secara perlahan. Erni merasa kesakitan dan mendorong dadaku, aku
menghentikan penisku yang baru masuk kepalanya itu. Selang agak lama Erni
mulai menarik pinggangku agar memasukkan penis ke vaginanya, setelah masuk
semua aku menarik perlahan-lahan dan memasukkannya kembali secara
perlahan-lahan. “Ahhh.. ayo Sayang.. ohhh.. cepat..” Aku pun mulai
mempercepat gerakanku. Dari tempatku terlihat Tuti dan Riyas saling
menggesek-gesekkan vagina mereka. “Auuhhh.. ooouuhh.. iyahhh.. yahh..
ssshh.. hhh..” desahan Erni berubah menjadi teriakan histeris penuh nafsu.

Tak lama kemudian Erni mencapai orgasme, tapi aku terus menusukkan penis
ke arah vagina Erni. “Gantian donk, aku juga pingin nih..” kata Tuti
sambil menciumi bibir Erni. Aku pun menarik penisku dan mengarahkan ke
vagina Tuti setelah dia telentang. Ketika penisku masuk, vaginanya terasa
licin sekali dan mudah sekali untuk masuk, rupanya dia telah mengalami
orgasme bersama Riyas. Tampaklah Erni dan Riyas tertidur di lantai sambil
berpelukan. Sedangkan aku terus menggenjot tubuh Tuti sampai akhirnya Tuti
sudah mencapai puncak dan aku merasakan akan ada sesuatu yang akan keluar.
“Aahhh..” suara yang keluar dari mulutku dan Tuti. Akhirnya kami berempat
tertidur dan pulang pada esok paginya. Setelah kejadian itu aku tidak
pernah bertemu dengan Tuti dan Erni. Riyas sekarang sudah menikah dan
tetap tinggal di ruko itu. Sedangkan aku masih sibuk dengan urusan kerja
dan tidak pernah ke warnet itu lagi karena sudah ada sambungan internet di
rumahku.

Terima kasih anda telah membaca cerita ini tapi cerita ini masih banyak
kekurangannya. Bagi anda yang ingin mengkritik dan memberikan saran untuk
cerita selanjutnya atau ingin berkenalan silahkan kirimkan e-mail. Dan
juga berikan vote anda mengenai cerita ini.
generasibiroe@walla.com

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 10:05 pm

2
Namaku Evita dan Suamiku Edo. Kami baru satu tahun melangsungkan
perkawinan, tapi belum ada pertanda aku hamil. Sudah kucoba berdua periksa
siapa yang mandul, tapi kata dokter semuanya subur dan baik-baik saja.
Mungkin karena selama pacaran dulu kami sering ke Discotik, merokok dan
sedikit mabuk. Itu kita lakukan setiap malam minggu selama tiga tahun,
selama masa pacaran berlangsung.

Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota,
bahkan kadang satu minggu di luar kota, karena rasa kasihannya terhadapku,
maka dia berniat untuk menyekat rumahku untuk membuka tempat kost agar aku
tidak merasa sendirian di rumah.

Mula-mula empat kamar tersebut kami kost-kan untuk cewek-cewek, ada yang
mahasiswa ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada teman untuk
ngobrol-ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan
oleh-oleh agar mereka tetap senang tinggal di rumah kami. Tetapi
lama-kelamaan aku merasa makin tambah bising, setiap hari ada yang apel
sampai larut malam, apalagi malam minggu, aduh bising sekali bahkan aku
semakin iri pada mereka untuk kumpul bersama-sama satu keluarga. Begitu
suamiku datang dari luar kota, aku menceritakan hal-hal yang tiap hari
kualami, akhirnya kita putuskan untuk membubarkan tempat kost tersebut
dengan alasan rumah mau kita jual. Akhirnya mereka pun pada pamitan pindah
kost.

Bulan berikutnya kita sepakat untuk ganti warna dengan cara kontrak satu
kamar langsung satu tahun khusus karyawan-karyawan dengan syarat satu
kamar untuk satu orang jadi tidak terlalu pusing untuk memikirkan ramai
atau pun pulang malam. Apalagi lokasi rumah kami di pinggir jalan jadi
tetangga-tetangga pada cuek. Satu kamar diisi seorang bule berbadan gede,
putih dan cakep. Untuk ukuran harga kamar kami langsung dikontan dua tahun
dan ditambah biaya perawatan karena dia juga sering pulang malam.

Suatu hari suamiku datang dari luar kota, dia pulang membawa sebotol
minuman impor dan obat penambah rangsangan untuk suami istri.
Suamiku bertanya, “Lho kok sepi-sepi aja, pada ke mana.”
“Semua pada pulang karena liburan nasional, tapi yang bule nggak, karena
perusahaannya ada sedikit lembur untuk mengejar target”, balasku mesra.

Kemudian suamiku mengambil minumannya dan cerita-cerita santai di ruang
tamu, “Nich sekali-kali kita reuni seperti di diskotik”, kata suamiku,
“Aku juga membawa obat kuat dan perangsang untuk pasangan suami istri,
ntar kita coba ya..”
Sambil sedikit senyum, kujawab, “Kangen ya.. emang cuman kamu yang
kangen..”
Lalu kamipun bercanda sambil nonton film porno.
“Nich minum dulu obatnya biar nanti seru..” kata suamiku.
Lalu kuminum dua butir, suamiku minum empat butir.
“Lho kok empat sih.. nanti over lho”, kataku manja.
“Ach.. biar cepat reaksinya”, balas suamiku sambil tertawa kecil.

Satu jam berlangsung ngobrol-ngobrol santai di ruang tamu sambil nonton
film porno, kurasakan obat tadi langsung bereaksi. Aku cuma mengenakan
baju putih tanpa BH dan CD. Kita berdua duduk di sofa sambil kaki kita
diletakkan di atas meja. Kulihat suamiku mulai terangsang, dia mulai
memegang lututku lalu meraba naik ke pahaku yang mulus, putih dan seksi.
Buah dadaku yang masih montok dengan putingnya yang masih kecil dan merah
diraihnya dan diremasnya dengan mesra, sambil menciumiku dengan lembut,
perlahan-lahan suamiku membuka kancing bajuku satu persatu dan beberapa
detik kemudian terbukalah semua pelapis tubuhku.

“Auh..” erangku, kuraba batang kemaluan suamiku lalu kumainkan dengan
lidah, kukulum semuanya, semakin tegang dan besar. Dia pun lalu menjilat
klitorisku dengan gemas, menggigit-gigit kecil hingga aku tambah
terangsang dan penuh gairah, mungkin reaksi obat yang kuminum tadi. Liang
kewanitaanku mulai basah, dan sudah tidak kuat aku menahannya. “Ach.. Mas
masukin yuk.. cepat Mas.. udah pingin nich..” sambil mencari posisi yang
tepat aku memasukkan batang kemaluannya pelan-pelan dan, “Blesss..”,
batang kemaluan suamiku masuk seakan membongkar liang surgaku. “Ach..
terus Mas.. aku kangen sekali..”, dengan penuh gairah entah kenapa
tiba-tiba aku seperti orang kesurupan, seperti kuda liar, mutar sana mutar
sini. Begitu pula suamiku semakin cepat gesekannya. Kakiku diangkatnya ke
atas dan dikangkangkan lebar-lebar.

Perasaanku aneh sekali, aku seakan-akan ingin sekali diperkosa beberapa
orang, seakan-akan semua lubang yang aku punya ingin sekali dimasuki
batang kemaluan orang lain. Seperti orang gila, goyang sana, goyang sini
sambil membayangkan macam-macam. Ini berlangsung lama sekali dan kita
bertahan seakan-akan tidak bisa keluar air mani. Sampai perih tapi asik
sekali. Sampai akhirnya aku keluar terlebih dahulu, “Ach.. Mas aku keluar
ya… udah nggak tahan nich.. aduh.. aduh.. adu..h.. keluar tiga kali
Mas”,, desahku mesra. “Aku juga ya.. ntar kamu agak pelan goyangnya..
ach.. aduh.. keluar nich..” Mani kental yang hangat banyak sekali masuk ke
dalam liang kenikmatanku. Dan kini kita berada dalam posisi terbalik, aku
yang di atas tapi masih bersatu dalam dekapan.

Kucabut liang kewanitaanku dari batang kemaluan suamiku terus
kuoles-oleskan di mulut suamiku, dan suamiku menyedot semua mani yang ada
di liang kewanitaanku sampai tetes terakhir. Kemudian kita saling
berpelukan dan lemas, tanpa disadari suamiku tidur tengkurap di karpet
ruang tamu tanpa busana apapun, aku pun juga terlelap di atas sofa panjang
dengan kaki telentang, bahkan film porno pun lupa dimatikan tapi semuanya
terkunci sepertinya aman.

Ketika subuh aku terbangun dan kaget, posisiku bugil tanpa sehelai benang
pun tetapi aku telah pindah di kamar dalam, tetapi suamiku masih di ruang
tamu. Akhirnya perlahan-lahan kupakai celana pendek dan kubangunkan
suamiku. Akhirnya kami mandi berdua di kamar mandi dalam. Jam delapan pagi
saya buatkan sarapan dan makan pagi bersama, ngobrol sebentar tentang
permainan seks yang telah kami lakukan tadi malam. Tapi aku tidak bertanya
tentang kepindahan posisi tidurku di dalam kamar, tapi aku masih
bertanya-tanya kenapa kok aku bisa pindah ke dalam sendirian.

Sesudah itu suamiku mengajakku mengulangi permaina seks seperti semalam,
mungkin pengaruh obatnya belum juga hilang. Aku pun disuruhnya minum lagi
tapi aku cuma mau minum satu kapsul saja. Belum juga terasa obat yang
kuminum, tiba-tiba teman suamiku datang menghampiri karena ada tugas
mendadak ke luar kota yang tidak bisa ditunda. Yah.. dengan terpaksa
suamiku pergi lagi dengan sebuah pesan kalau obatnya sudah bereaksi kamu
harus tidur, dan aku pun menjawabnya dengan ramah dan dengan perasaan
sayang. Maka pergilah suamiku dengan perasaan puas setelah bercinta
semalaman.

Dengan daster putih aku kembali membenahi ruang makan, dapur dan
kamar-kamar kost aku bersihkan. Tapi kaget sekali waktu membersihkan kamar
terakhir kost-ku yang bersebelahan dengan kamar tidurku, ternyata si bule
itu tidur pulas tanpa busana sedikit pun sehingga kelihatan sekali batang
kemaluan si bule yang sebesar tanganku. Tapi aku harus mengambil sprei dan
sarung bantal yang tergeletak kotor yang akan kucuci.

Dengan sangat perlahan aku mengambil cucian di dekat si bule sambil
melihat batang kemaluan yang belum pernah kulihat secara dekat. Ternyata
benar seperti di film-film porno bahwa batang kemaluan bule memang besar
dan panjang. Sambil menelan ludah karena sangatlah keheranan, aku
mengambil cucian itu.

Tiba-tiba si bule itu bangun dan terkejut seketika ketika melihat aku ada
di kamarnya. Langsung aku seakan-akan tidak tahu harus berkata apa.
“Maaf tuan saya mau mengambil cucian yang kotor”, kataku dengan sedikit
gugup.
“Suamimu sudah berangkat lagi?” jawabnya dengan pelan dan pasti. Dengan
pertanyaan seperti itu aku sangat kaget. Dan kujawab, “Kenapa?”.
Sambil mengambil bantal yang ditutupkan di bagian vitalnya, si bule itu
berkata, “Sebelumnya aku minta maaf karena tadi malam aku sangat lancang.
Aku datang jam dua malam, aku lihat suamimu tidur telanjang di karpet
ruang tamu, dan kamu pun tidur telanjang di sofa ruang tamu, dengan sangat
penuh nafsu aku telah melihat liang kewanitaanmu yang kecil dan merah
muda, maka aku langsung memindahkan kamu ke kamar, tapi tiba-tiba timbul
gairahku untuk mencoba kamu. Mula-mula aku hanya menjilati liang
kewanitaanmu yang penuh sperma kering dengan bau khas sperma lelaki.
Akhirnya batang kemaluanku terasa tegang sekali dan nafsuku memuncak, maka
dengan beraninya aku meniduri kamu.”

Dengan rasa kaget aku mau marah tapi memang posisi yang salah memang
diriku sendiri, dan kini terjawablah sudah pertanyaan dalam benakku kenapa
aku bisa pindah ke ruang kamar tidurku dan kenapa liang kewanitaanku
terasa agak sakit
“Trus saya.. kamu apain”, tanyaku dengan sedikit penasaran
“Kutidurin kamu dengan penuh nafsu, sampai mani yang keluar pertama
kutumpahkan di perut kamu, dan kutancapkan lagi batanganku ke liang
kewanitaanmu sampai kira-kira setengah jam keluar lagi dan kukeluarkan di
dalam liang kewanitaanmu”, jawab si bule.
“Oic.. bahaya nich, ntar kalo hamil gimana nich”, tanyaku cemas.
“Ya.. nggak pa-pa dong”, jawab si bule sambil menggandengku, mendekapku
dan menciumku.

Kemudian dipeluknya tubuhku dalam pangkuannya sehingga sangat terasa
batang kemaluannya yang besar menempel di liang kewanitaanku. “Ach..
jangan dong.. aku masih capek semalaman”, kataku tapi tetap saja dia
meneruskan niatnya, aku ditidurkan di pinggir kasurnya dan diangkat kakiku
hingga terlihat liang kewanitaanku yang mungil, dan dia pun mulai
manjilati liang kewanitaanku dengan penuh gairah. Aku pun sudah mulai
bernafsu karena pengaruh obat yang telah aku minum sewaktu ada suamiku.

“Auh.. Jhon.. good.. teruskan Jhon.. auh”. Satu buah jari terasa
dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri,
terus jadi dua jari yang masuk, ditarik, didorong di liang kewanitaanku.
Akhirnya basah juga aku, karena masih penasaran Jhon memasukkan tiga jari
ke liang kewanitaanku sedangkan jari-jari tangan kirinya membantu membuka
bibir surgaku. Dengan nafsunya jari ke empatnya dimasukkan pula, aku
mengeliat enak. Diputar-putar hingga bibir kewanitaanku menjadi lebar dan
licin. Nafsuku memuncak sewaktu jari terakhir dimasukkan pula.

“Aduh.. sakit Jhon.. jangan Jhon.. ntar sobek.. Jhon.. jangan Jhon”,
desahku sambil mengeliat dan menolak perbuatannya, aku berusaha berdiri
tapi tidak bisa karena tangan kirinya memegangi kaki kiriku. Dan akhirnya,
“Blesss..” masuk semua satu telapak tangan kanan Jhon ke dalam liang
kewanitaanku, aku menjerit keras tapi Jhon tidak memperdulikan jeritanku,
tangan kirinya meremas payudaraku yang montok hingga rasa sakitnya hilang.
Akhirnya si bule itu tambah menggila, didorong, tarik, digoyang kanan kiri
dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya, dia memutar
posisi jadi enam sembilan, dia menyumbat mulutku dengan batang kemaluannya
hingga aku mendapatkan kenikmatan yang selama ini sangat kuharapkan.

“Auch.. Jhon punyamu terlalu panjang hingga masuk di tenggorokanku..
pelan-pelan aja”, ucapku tapi dia masih bernafsu. Tangannya masih
memainkan liang kewanitaanku, jari-jarinya mengelitik di dalamnya hingga
rasanya geli, enak dan agak sakit karena bulu-bulu tangannya
menggesek-gesek bibir kewanitaanku yang lembut. Ini berlangsung lama
sampai akhirnya aku keluar.
“Jhon.. aku nggak tahan.. auch.. aouh.. aku keluar Jhon auch, aug.. keluar
lagi Jhon..” desahku nikmat menahan orgasme yang kurasakan.
“Aku juga mau keluar.. auh..” balasnya sambil mendesah.

Kemudian tangannya ditarik dari dalam liang kewanitaanku dan dia memutar
berdiri di tepi kasur dan menarik kepalaku untuk mengulum kemaluannya yang
besar. Dengan sangat kaget dan merasa takut, kulihat di depan pintu kamar
ternyata suamiku datang lagi, sepertinya suamiku tidak jadi pergi dan
melihat peristiwa itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kupikir sudah
ketahuan, telanjur basah, aku takut kalau aku berhenti lalu si bule tahu
dan akhirnya bertengkar, tapi aku pura-pura tidak ada sesuatu hal pun, si
bule tetap kukulum sambil melirik suamiku, takut kalau dia marah.

Tapi ternyata malah suamiku melepas celana dan mendekati kami berdua yang
sudah tengang sekali, mungkin sudah menyaksikan kejadian ini sejak tadi.
Dan akhirnya si bule kaget sekali, wajahnya pucat dan kelihatan grogi,
lalu melepas alat vitalnya dari mulutku dan agak mudur sedikit. Tapi
suamiku berkata, “Terusin aja nggak pa-pa kok, aku sayang sama istriku..
kalau istriku suka begini.. ya terpaksa aku juga suka.. ayo kita main
bareng”. Akhirnya semua pada tersenyum merdeka, dan tanpa rasa takut
sedikit pun akhirnya si bule disuruh tidur telentang, aku tidur di atas
tubuh si bule, dan suamiku memasukkan alat vitalnya di anusku, yang sama
sekali belum pernah kulakukan. Dengan penuh nafsu suamiku langsung
memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. Karena kesulitan akhirnya
dia menarik sedikit tubuhku hingga batang kemaluan si bule yang sudah
masuk ke liang kewanitaanku terlepas, suamiku buru-buru memasukkan batang
kemaluannya ke liang kewanitaanku yang sudah basah, di goyang beberapa
kali akhirnya ikut basah, dan dicopot lagi dan dimasukkan ke anusku dan..
“Blesss..”, batang kemaluan suamiku menembus mulus anusku. “Aduh..
pelan-palan Mas..”, seruku.

Kira-kira hampir setengah jam posisi seperti ini berlangsung dan akhirnya
suamiku keluar duluan, duburku terasa hangat kena cairan mani suamiku, dia
menggerang keenakan sambil tergeletak melihatku masih menempel ketat di
atas tubuh si bule. Akhirnya si bule pun pindah atas dan memompaku lebih
cepat dan aku pun mengerang keenakan dan sedikit sakit karena mentok,
kupegang batang kemaluan si bule yang keluar masuk liang kewanitaanku,
ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang
senggamaku. Suamiku pun ikut tercengang melihat batang kemaluan si bule
yang besar, merah dan panjang. Aku pun terus mengerang keasyikan, “Auh..
auh.. terus Jhon.. auh, keluarin ya Jhon..”

Akhirnya si bule pun keluar, “Auch.. keluar nich..” ucapnya sambil menarik
batang kemaluannya dari liang kewanitaanku dan dimasukkan ke mulutku dan
menyembur juga lahar kental yang panas, kutelan sedikit demi sedikit mani
asin orang bule. Suamiku pun ikut menciumku dengan sedikit menjilat mani
orang asing itu. Kedua lelaki itu akhirnya tersenyum kecil lalu pergi
mandi dan tidur siang dengan puas. Sesudah itu aku menceritakan peristiwa
awalnya dan minta maaf, sekaligus minta ijin bila suatu saat aku ingin
sekali bersetubuh dengan si bule boleh atau tidak. “Kalau kamu mau dan
senang, ya nggak apa-apa asal kamu jangan sampai disakiti olehnya”. Sejak
saat itupun bila aku ditinggal suamiku, aku tidak pernah merasa kesepian.
Dan selalu dikerjain oleh si bule.

Cerita Antara Kita 10:01 pm

pas gua umur 16 dirumah gua ada pembantu baru namanya sri, orang jawa
asli, orangnya pendek sih kira2x 165 cm, toketnya juga nggak gede2x amat
tapi bodynya ..dong, montok, pantatnya kenceng…, tampangnya juga
menggairah
kan.
wah pas pertama kali dia datang, langsung gua liatin terus
wah boleh juga nih pembantu, hampir tiap kali pas gua lagi coli
pasti gua banyagin gua ngentot ama dia. soalnya kan di rumah
ada nyokap gua yang ngawasin gua, jadi gua nggak berani ngapa2x
in. kajadian ini terus berlangsung selama 2 tahun.
terus pas sore2x nih pas nyokap gua lagi tidur, kebetulan di
atas kamar mandi pembantu ada celah buat ngintip, terus gua ngintip aja
wah ternyata bodynya putih banget, memeknya…terlihat diantara
bulu jembutnya, toketnya juga asyik apalagi pentilnya terlhat
tegang, wah hatiku udah dag..dig..dug, pokoknya dalam hati gua
gua harus bisa masukin kontol gua ke memeknya malam ini. pikiran
gua udah nggak karuan, eh bener juga bokap ama nyokap gua pergi
tinggal gua ama pembantu gua.
pas gua lagi nonton tv, eh dia ikutan nonton tv langsung gua
ngomong, ” eh sri tolong buatin teh dong…..”, kata gua, ”
iya mas, mas mau yang manis apa nggak”, ” yang manis dong!”
,kata gua.
terus abis dia bikin teh, pas dai ngasihin gelas ke gua gua dengan
sengaja nyenggol teteknya, “ah mas…jangan gitu dong”. “kenapa sih?”
tanya gua!.”enn nggak pa2x sih!”, “mau lagi?”, tanya gua.
terus dia mengangguk pelan!, langsung aja gua rangkul dia,
gua remes2x teteknya, dia mendesah “eh…eh….”, gua buka
bh nya, terus gua sedot pentilnya”, terus gua merasa ada yang
megang kontol gua, eh nggak taunya dia lgi ngelus2x kepala
kontol gua. waktu pertama gua mau buka cd nya dia bilang” jangan
mas, nanti hamil” ahhh bodo amat pikir gua!, terus gua
masukin aja jari gua ke lobang memeknya, dia terus mengerang
” ah..ah…., aduh jangan mas, ahhh, enak…., ah sakit..
..ah.uhhh”, terus gua jilatin memeknya,” aduh mas geliii,
….ahhh enak terusss, ahhhhhhhhhhhhh,” abis puas gua jilatin
memeknya, gua paksa dia untuk nyepong kontol gua, ” ah mas
, gimana caranya, sri takut…, ” lansung aja gua dorong kepalanya”
emmmhh,…emmhhh,”, wah gua ngerasa melayang, enak banget sepongnganya
abis lima menit, dia puas. langsung dia ku gending untuk duduk
diatas gua. ” ah mas udahnya, nanti hamil sri takut, nanti sri
nggak ada kerja lagi”, langsubg gua ngomong” ah udah tanggung nih!
nggak pa2x kok, nanti kalo hamil gua tanggung jawab”, tersu dia
mau aja, pertama gua bingung yang mana lobangnya? terus ama
dia dibimbing kontol gua dipegang dimasukin di memeknya”
“ohhhh shit,,, ah gila enak banget, hangat & basah, terus
juga kecil banget soalnya masih perawan, busyet deh nih
pembanu memeknya boleh juga!”. “ahhhhhhhhhhhhhh……
dia merintih, ahh..uhhhhhh. ahh. uhhh… dia naik turun diatas
kontol gua, ” “aduh masss, gede ame sih kontolnya, ” terus
dia entot kontol gua”, dia kluar duluan ” ahhhh lemes nih, mas
belon keluar ya?” ” belon!” jawab gua singkat.
terus langsung dia gua suruh nungging dia atas karpet, gua
masukin kontol gua dari belakang” ahhhhhhhhhh,,,” jerit sri
“oh terus masss, yang kenceng, enak banget…’ terus ampir
setengah jam gua ngerasa udah mau keluar, gua tarik kontol gua
terus gua suruh dia isap kontol gua, gua keluar di dalam
mulutnya. ” ahhhh, heek ” dia keselek peju gua, ah gial
mimpi gua selama ini tercapai juga.
abis itu hampir tiap malam gua ngentot ama dia, di kamar mandi
, di kamar dia, di kamar gua, pernah juga di dapur..
terus pas tau dia ada tanda2x hamil, gua langsung minta
ke orang tua gua, gua mau sekolah di melbourne, langsung
dh gua sekarang di melbourne, gua sekolah di monash sekarang.
kabar terakhir sri udah nggak kerja di tempat gua lagi dia
pulang kampung.

Akibat Pergaulan Bebas 9:57 pm

Kisah ini terjadi ketika aku masih SMU, ketika umurku masih 18 tahun, waktu itu rambutku masih sepanjang sedada dan hitam (sekarang sebahu lebih dan sedikit merah). Di SMU aku termasuk sebagai anak yang menjadi incaran para cowok. Tubuhku cukup proporsional untuk seusiaku dengan buah dada yang sedang tapi kencang serta pinggul yang membentuk, pinggang dan perutku pun ukurannya pas karena rajin olahraga, ditambah lagi kulitku yang putih mulus ini. Aku pertama mengenal seks dari pacarku yang tak lama kemudian putus, pengalaman pertama itu membuatku haus seks dan selalu ingin mencoba pengalaman yang lebih heboh. Beberapa kali aku berpacaran singkat yang selalu berujung di ranjang. Aku sangat jenuh dengan kehidupan seksku, aku menginginkan seseorang yang bisa membuatku menjerit-jerit dan tak berkutik kehabisan tenaga.

Ketika itu aku belum diijinkan untuk membawa mobil sendiri, jadi untuk keperluan itu orang tuaku mempekerjakaan Bang Tohir sebagai sopir pribadi keluarga kami merangkap pembantu. Dia berusia sekitar 30-an dan mempunyai badan yang tinggi besar serta berisi, kulitnya kehitam-hitaman karena sering bekerja di bawah terik matahari (dia dulu bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan). Aku sering memergokinya sedang mengamati bentuk tubuhku, memang sih aku sering memakai baju yang minim di rumah karena panasnya iklim di kotaku. Waktu mengantar jemputku juga dia sering mencuri-curi pandang melihat ke pahaku dengan rok seragam abu-abu yang mini. Begitu juga aku, aku sering membayangkan bagaimana bila aku disenggamai olehnya, seperti apa rasanya bila batangnya yang pasti kekar seperti tubuhnya itu mengaduk-aduk kewanitaanku. Tapi waktu itu aku belum seberani sekarang, aku masih ragu-ragu memikirkan perbedaan status diantara kita.

Obsesiku yang menggebu-gebu untuk merasakan ML dengannya akhirnya benar-benar terwujud dengan rencana yang kusiapkan dengan matang. Hari itu aku baru bubaran pukul 3 karena ada ekstra kurikuler, aku menuju ke tempat parkir dimana Bang Tohir sudah menunggu. Aku berpura-pura tidak enak badan dan menyuruhnya cepat-cepat pulang. Di mobil, sandaran kursi kuturunkan agar bisa berbaring, tubuhku kubaringkan sambil memejamkan mata. Begitu juga kusuruh dia agar tidak menyalakan AC dengan alasan badanku tambah tidak enak, sebagai gantinya aku membuka dua kancing atasku sehingga bra kuningku sedikit tersembul dan itu cukup menarik perhatiannya.
“Non ga apa-apa kan? Sabar ya bentar lagi sampai kok” hiburnya

Waktu itu dirumah sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku seperti biasa pulang malam, jadi hanya ada kami berdua. Setelah memasukkan mobil dan mengunci pagar aku memintanya untuk memapahku ke kamarku di lantai dua. Di kamar, dibaringkannya tubuhku di ranjang. Waktu dia mau keluar aku mencegahnya dan menyuruhnya memijat kepalaku. Dia tampak tegang dan berkali-kali menelan ludah melihat posisi tidurku itu dan dadaku yang putih agak menyembul karena kancing atasnya sudah terbuka, apalagi waktu kutekuk kaki kananku sehingga kontan paha mulus dan CD-ku tersingkap. Walaupun memijat kepalaku, namun matanya terus terarah pada pahaku yang tersingkap. Karena terus-terusan disuguhi pemandangan seperti itu ditambah lagi dengan geliat tubuhku, akhirnya dia tidak tahan lagi memegang pahaku. Tangannya yang kasar itu mengelusi pahaku dan merayap makin dalam hingga menggosok kemaluanku dari luar celana dalamku.

“Ssshhh…Bang” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam.
“Tenang non…saya sudah daridulu kesengsem sama non, apalagi kalau ngeliat non pake baju olahraga, duh tambah gak kuat abang ngeliatnya juga” katanya merayu sambil terus mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya.
Tohir mulai menjilati pahaku yang putih mulus, kepalanya masuk ke dalam rok abu-abuku, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat mencengkram sprei dan kepala Tohir yang terselubung rokku saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir celana dalamku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya wuiihh…gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku, apalagi sejak sejak beberapa hari terakhir ini aku belum melakukannya lagi.

Sesaat kemudian, Tohir menarik kepalanya keluar dari rokku, bersamaan dengan itu pula celana dalamku ikut ditarik lepas olehnya. Matanya seperti mau copot melihat kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rokku yang tersingkap. Dia dekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian meremas daging kenyal di baliknya.
“Non, teteknya bagus amat….sama bagusnya kaya memeknya, non marah ga saya giniin ?” tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik.
Aku hanya menggelengkan kepalaku dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Tohir yang merasa mendapat restu dariku menjadi semakin buas, jari-jarinya kini bukan hanya mengelus kemaluanku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas payudaraku dengan putingnya yang mungil.

Aku merasakan benda keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Tohir kelihatan sangat bernafsu melihat payudaraku yang montok itu, tangannya meremas-remas dan terkadang memilin-milin putingnya. Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leher jenjangku terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai cupangan. Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada dadaku mengencang atau jarinya mengebor kemaluanku lebih dalam. Cupanganya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku dengan gemas.

Pada awalnya aku menghindari dicium olehnya karena Tohir perokok jadi bau nafasnya tidak sedap, namun dia bergerak lebih cepat dan berhasil melumat bibirku. Lama-lama mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi sehingga bau mulutnya itu seolah-olah hilang, malahan kini aku lebih berani memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berrciuman, Tohir melepaskan dekapannya dan melepas ikat pinggang usangnya, lalu membuka celana berikut kolornya. Maka menyembullah kemaluannya yang sudah menegang daritadi. Aku melihat takjub pada benda itu yang begitu besar dan berurat, warnanya hitam pula. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku.

Dengan tetap memakai kaos berkerahnya, dia berlutut di samping kepalaku dan memintaku mengelusi senjatanya itu. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya.
“Ayo non, emutin kontol saya ini dong, pasti yahud rasanya kalo diemut sama non” katanya.
Kubimbing penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhhh…susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.
“Uaahh…uueennakk banget, non udah pengalaman yah” ceracaunya menikmati seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet putingku.

Setelah lewat 15 menitan dia melepas penisnya dari mulutku, sepertinya dia tidak mau cepat-cepat orgasme sebelum permainan yang lebih dalam. Akupun merasa lebih lega karena mulutku sudah pegal dan dapat kembali menghirup udara segar. Dia berpindah posisi di antara kedua belah pahaku dengan penis terarah ke vaginaku. Bibir vaginaku disibakkannya sehingga mengganga lebar siap dimasuki dan tangan yang satunya membimbing penisnya menuju sasaran.
“Tahan yah non, mungkin bakal sakit sedikit, tapi kesananya pasti ueenak tenan” katanya
Penisnya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vaginaku. Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair. Penisnya susah sekali menerobos vaginaku yang baru pertama kalinya dimasuki yang sebesar itu (milik teman-temanku tidak seperkasa yang satu ini) walaupun sudah dilumasi oleh lendirku.

Tohir memaksanya perlahan-lahan untuk memasukinya. Baru kepalanya saja yang masuk aku sudah kesakitan setengah mati dan merintih seperti mau disembelih. Ternyata si Tohir lihai juga, dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihanku mulai berubah jadi desahan nikmat. Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Tohir yang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.
“Ooohh…Non Citra, sayang…sempit banget…memekmu…enaknya !” ceracaunya di tengah aktivitasnya.

Dengan tetap menggenjot, dia melepaskan kaosnya dan melemparnya. Sungguh tubuhnya seperti yang kubayangkan, begitu berisi dan jantan, otot-ototnya membentuk dengan indah, juga otot perutnya yang seperti kotak-kotak. Dari posisi berlutut, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menindihku, aku merasa hangat dan nyaman di pelukannya, bau badannya yang khas laki-laki meningkatkan birahiku. Kembali dia melancarkan pompaannya terhadapku, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher dan pundakku sambil meremas payudaraku. Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat vaginaku terasa diobok-obok.
“Ahh…aahh…yeahh, terus entot gua bang” desahku dengan mempererat pelukanku.

Aku mencapai orgasme dalam 20 menit dengan posisi seperti ini, aku melepaskan perasaan itu dengan melolong panjang, tubuhku mengejang dengan dahsyat , kukuku sampai menggores punggungnya, cairan kenikmatanku mengalir deras seperti mata air. Setelah gelombang birahi mulai mereda dia mengelus rambut panjangku seraya berkata
“Non cantik banget waktu keluar tadi, tapi non pasti lebih cantik lagi kalau telanjang, saya bukain bajunya yah non, udah basah gini”
Aku cuma bisa mengangguk dengan nafas tersenggal-senggal tanda setuju. Memang badanku sudah basah berkeringat sampai baju seragamku seperti kehujanan, apalagi AC-nya tidak kunyalakan. Tohir meloloskan pakaianku satu persatu, yang terakhir adalah rok abu-abuku yang dia turunkan lewat kakiku, hingga kini yang tersisa hanya sepasang anting di telingaku dan sebuah cincin yang melingkar di jariku.

Dia menelan ludah menatapi tubuhku yang sudah polos, butir-butir keringat nampak di tubuhku, rambutku yang terurai sudah kusut. Tak henti-hentinya di memuji keindahan tubuhku yang bersih terawat ini sambil menggerayanginya. Kemudian dia balikkan tubuhku dan menyuruhku menunggingkan pantat. Akupun mengangkat pantatku memamerkan vaginaku yang merah merekah di hadapan wajahnya. Tohir mendekatkan wajahnya ke sana dan menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilat dan mengisap kulit pantatku, sementara tangannya membelai-belai punggung dan pahaku. Mulutnya terus merambat ke arah selangkangan. Aku mendesis merasakan sensasi seperti kesetrum waktu lidahnya menyapu naik dari vagina sampai anusku. Kedua jarinya kurasakan membuka kedua bibir vaginaku, dengusan nafasnya mulai terasa di sana lantas dia julurkan lidahnya dan memasukkannya disana. Aku mendesah makin tak karuan, tubuhku menggelinjang, wajahku kubenamkan ke bantal dan menggigitnya, pinggulku kugerak-gerakkan sebagai ekspresi rasa nikmat.

Di tengah-tengah desahan nikmat mendadak kurasakan kok lidahnya berubah jadi keras dan besar pula. Aku menoleh ke belakang, ternyata yang tergesek-gesek di sana bukan lidahnya lagi tapi kepala penisnya. Aku menahan nafas sambil menggigit bibir merasakan kejantanannya menyeruak masuk. Aku merasakan rongga kemaluanku hangat dan penuh oleh penisnya. Urat-urat batangnya sangat terasa pada dinding kemaluanku.
“Oouuhh…Bang !” itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat penisnya amblas ke dalamku.
Dia mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Dia mencengkamkan kedua tangannya pada payudaraku, terasa sedikit kukunya di sana, tapi itu hanya perasaan kecil saja dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman yang diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.

Aku menjerit kecil ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya yang bercokol di payudaraku juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang enak, kamipun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya. Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku. Aku semakin intens menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar. Tangannya dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam.

Mengetahui aku sudah diambang klimaks, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan dengannya. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsuku, aku sudah dibuatnya beberapa kali orgasme, tapi dia sendiri masih perkasa. Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya woman on top. Kelihatannya dia sangat senang menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun. Beberapa menit dalam posisi demikian dia menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga aku kembali berada di bawah. Genjotan dan dengusannya semakin keras, menandakan dia akan segera mencapai klimaks, hal yang sama juga kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat meremas-remas penisnya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.

Tohir sendiri sudah mulai orgasme, dia mendesah-desah menyebut namaku, penisnya terasa semakun berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak, dan akhirnya….dengan geraman panjang dia cabut penisnya dari vaginaku. Isi penisnya yang seperti susu kental manis itu dia tumpahkan di atas dada dan perutku. Setelah menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai lemas di sebelah tubuhku yang berlumuran sperma dan keringat. Aku yang juga sudah KO hanya bisa berbaring di atas ranjang yang seprei nya sudah berantakan, mataku terpejam, buah dadaku naik turun seiring nafasku yang ngos-ngosan, pahaku masih mekangkang, celah vaginaku serasa terbuka lebih lebar dari biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka ceceran sperma di dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.

Sejak dari itu, Tohir sering memintaku melayaninya kapanpun dan dimanapun ada kesempatan. Waktu mengantar-jemputku tidak jarang dia menyuruhku mengoralnya. Tampaknya dia sudah ketagihan dan lupa bahwa aku ini nona majikannya, bayangkan saja terkadang saat aku sedang tidak ‘mood’ pun dia memaksaku. Bahkan pernah suatu ketika aku sedang mencicil belajar menjelang Ebtanas yang sudah 2 minggu lagi, tiba-tiba dia mendatangiku di kamarku (saat itu sudah hampir jam 12 malam dan ortuku sudah tidur), karena lagi belajar aku menolaknya, tapi saking nafsunya dia nekad memperkosaku sampai dasterku sedikit robek, untung kamar ortuku letaknya agak berjauhan dariku. Meskipun begitu aku selalu mengingatkannya agar menjaga sikap di depan orang lain, terutama ortuku dan lebih berhati-hati kalau aku sedang subur dengan memakai kondom atau buang di luar. 3 bulan kemudian Tohir berhenti kerja karena ingin mendampingi istrinya yang TKW di Timur Tengah, lagipula waktu itu aku sudah lulus SMU dan sudah direstui untuk membawa mobil sendiri.

Akibat Pergaulan Bebas 9:56 pm

Hai, aku kembali menceritakan pengalaman seksku. Sebelumnya saya pernah menceritakan pengalamanku dalam kisah ‘Tukang Air, Listrik, dan Bangunan’ dan ‘Gairah Pengemis Buta’. Aku adalah seorang mahasiswi yang memiliki nafsu seks yang cukup tinggi. Sejak keperawananku hilang di SMA aku selalu ingin melakukannya lagi dan lagi. Kalau dipikir-pikir entah sudah berapa orang yang menikmati tubuhku ini, sudah berapa penis yang pernah masuk ke vaginaku ini, aku juga menikmati sekali nge-seks dengan orang yang belum pernah aku kenal dan namanya pun belum aku tahu seperti para tukang yang pernah aku ceritakan pada kisah terdahulu.

Nah ceritanya begini, aku baru saja pulang dari rumah temanku seusai mengerjakan tugas kelompok salah satu mata kuliah. Tugas yang benar-benar melelahkan itu akhirnya selesai juga hari itu. Ketika aku meninggalkan rumah temanku langit sudah gelap, arlojiku menunjukkan pukul 8 lebih. Yang kutakutkan adalah bensinku tinggal sedikit sekali, padahal rumahku cukup jauh dari daerah ini lagipula aku agak asing dengan daerah ini karena aku jarang berkunjung ke temanku yang satu ini. Di perjalanan aku melihat sebuah pom bensin, tapi harapanku langsung sirna karena begitu mau membelokkan mobilku ternyata pom bensin itu sudah tutup, aku jadi kesal sampai menggebrak setirku, terpaksa kuteruskan perjalanan sambil berharap menemukan pom bensin yang masih buka atau segera sampai ke rumah.

Ketika sedang di sebuah kompleks perumahan yang cukup sepi dan gelap, tiba-tiba mobilku mulai kehilangan tenaga, aku agak panik kutepikan mobilku dan kucoba menstarternya, namun kucoba berulang-ulang tetap saja tidak berhasil, menyesal sekali aku gara-gara tadi siang terlambat kuliah jadi aku tidak sempat mengisi bensin terjebak tidak tahu harus bagaimana, kedua orang tuaku sedang di luar kota, di rumah cuma ada pembantu yang tidak bisa diharapkan bantuannya. Tidak jauh dari mobilku nampak sebuah pos ronda yang lampunya menyala remang-remang. Aku segera turun dan menuju ke sana untuk meminta bantuan, setibanya di sana aku melihat 5 orang di sana sedang ngobrol-ngobrol, juga ada 2 motor diparkir di sana, mereka adalah yang mendapat giliran ronda malam itu dan juga 2 tukang ojek.

“Ada apa non, malam-malam begini ? nyasar ya?” tanya salah seorang yang berpakaian hansip.
“Eeerr..itu pak, bapak tau nggak pom bensin yang paling dekat dari sini tapi masih buka, soalnya mobil saya kehabisan bensin” kujawab sambil menunjuk ke arah mobilku.
“Wah, kalo pom bensin jam segini sudah tutup semua non, ada yang buka terus tapi agak jauh dari sini” timpal seorang bapak berkumis tebal yang ternyata tukang ojek di daerah itu.
“Aduuhhh…gimana ya ! Atau gini aja deh pak, bapak kan punya motor, mau nggak bapak beliin bensin buat saya, ntar saya bayar kok” tawarku.
Untung mereka berbaik hati menyetujuinya, si bapak yang berkumis tebal itu mengambil jaketnya dan segera berangkat dengan motornya. Tinggallah aku bersama 4 orang lainnya.

“Mari non duduk dulu di sini sambil nunggu” seorang pemuda berumur kira-kira 18-an menggeser duduknya untuk memberiku tempat di kursi panjang itu. Seorang bapak setengah baya yang memakai sarung menawariku segelas air hangat, mereka tampak ramah sekali sampai-sampai aku harus terus tersenyum berterima-kasih karena merasa merepotkan. Kami akhirnya ngobrol-ngobrol dengan akrab, aku juga merasakan kalau mereka sedang memandangi tubuhku, hari itu aku memakai celana jeans ketat dan setelan luar berlengan panjang dari bahan jeans, di dalamnya aku memakai tanktop merah yang potongan dadanya rendah sehingga belahan dadaku agak terlihat. Jadi tidak heran si pemuda di sampingku selalu berusaha mencuri pandang ingin melihat daerah itu.

Kompleks itu sudah sepi sekali saat itu, sehingga mulai timbul niat isengku dan membayangkan bagaimana seandainya kuberikan tubuhku untuk dinikmati mereka sekalian juga sebagai balas budi. Sehubungan dengan cuaca di Jakarta yang cukup panas akhir-akhir ini, aku iseng-iseng berkata
“Wah…panas banget yah belakangan ini pak, sampai malam gini aja masih panas” sambil mengibas-ngibaskan leher bajuku kemudian dengan santainya kulepaskan setelan luarku, sehingga nampaklah lenganku yang putih mulus. Mereka menatapiku dengan tidak berkedip, agaknya umpanku sudah mengena, aku yakin mereka pasti terangsang dan tidak sabar ingin menikmati tubuhku. Si pemuda di sampingku sepertinya sudah tak tahan lagi, dia mulai memberanikan diri membelai lenganku, aku diam saja diperlakukan begitu. Salah satu dari mereka, seorang tukang ojek berusia 30-an mengambil tempat di sebelahku, tangannya diletakkan diatas pahaku, melihat tidak ada penolakan dariku, perlahan-lahan tangan itu merambat ke atas hingga sampai ke payudaraku. Aku mengeluarkan desahan lembut menggoda ketika si tukang ojek itu meremas payudaraku, tanganku meraba kemaluan pemuda di sampingku yang sudah terasa mengeras.

Melihat hal ini kedua bapak yang daritadi hanya tertegun serentak maju ikut menggerayangi tubuhku. Mereka berebutan menyusupkan tangannya ke leher tank-topku yang rendah untuk mengerjai dadaku, sebentar saja aku sudah merasakan kedua buah dadaku sudah digerayangi tangan-tangan hitam kasar. Aku mengerang-ngerang keenakan menikmati keempat orang itu menikmatiku.
“Eh…kita bawa ke dalam pos aja biar aman !” usul si hansip, merekapun setuju dan aku dibawa masuk ke pos yang berukuran 3x3 m itu, penerangannya hanya sebuah bohlam 40 watt. Mereka dengan tidak sabaran langsung melepas tank topku dan bra-ku yang sudah tersingkap. Aku sendiri membuka kancing celana jeansku dan menariknya ke bawah. Keempat orang ini terpesona melihat tubuhku yang tinggal terbalut celana dalam pink yang minim, payudaraku yang montok dengan putting kemerahan itu membusung tegak. Ini merupakan hal yang menyenangkan dengan membuat pria tergiur dengan kemolekan tubuhku, untuk lebih merangsang mereka, kubuka ikat rambutku sehingga rambutku terurai sampai menyentuh bahu.

Si hansip menyuruh seseorang untuk berjaga dulu di luar khawatir kalau ada yang memergoki, akhirnya yang paling muda diantara mereka yaitu si pemuda itu yang mereka panggil Mat itulah yang diberi giliran jaga, Mat dengan bersungut-sungut meninggalkan ruangan itu. Si hansip mendekapku dari belakang dan tangannya merogoh-rogoh celana dalamku, terasa benar jari-jarinya merayap masuk dan menyentuh dinding kewanitaanku, sementara di tukang ojek membungkuk untuk bisa mengenyot payudaraku, putingku yang sudah menegang itu disedot dan digigit kecil. Kemudian aku dibaringkan pada tikar yang mereka gelar disitu. Mereka bertiga sudah membuka celananya sehingga terlihatlah tiga batang yang sudah mengeras, aku sampai terpana melihat batang mereka yang besar-besar itu, terutama punya si hansip, penisnya paling besar diantara ketiganya, hitam dan dipenuhi urat-urat menonjol.

Celana dalamku mereka lucuti jadi sekarang aku sudah telanjang bulat. Aku langsung meraih penisnya, kukocok lalu kumasukkan ke mulutku untuk dijilat dan dikulum, selain itu tangan lembutku meremas-remas buah zakarnya, sungguh besar penisnya ini sampai tidak muat seluruhnya di mulutku yang mungil, paling cuma masuk tiga perempatnya. Si tukang ojek mengangkat sedikit pinggulku dan menyelipkan kepalanya diantara kedua belah paha mulusku, dengan kedua jarinya dia sibakkan kemaluanku sehingga terlihatlah vagina pink ku diantara bulu-bulu hitam. Lidahnya mulai menyentuh bagian dalam vaginaku, dia juga melakukan jilatan-jilatan dan menyedotnya, tubuhku menggelinjang merasakan birahi yang memuncak, kedua pahaku mengapit kencang kepalanya karena merasa geli dan nikmat di bawah sana. Bapak bersarung menikmati payudaraku sambil penisnya kukocok dengan tanganku dan payudaraku yang satunya diremasi si hansip yang sedang ku-karaoke.

Aku sering melihat sebentar-sebentar Mat nongol di jendela mengintipku diperkosa teman-temannya, nampaknya dia sudah gelisah karena tidak sabaran lagi untuk bisa menikmati tubuhku. Tak lama kemudian aku mencapai orgasme pertamaku melalui permainan mulut si tukang ojek pada kemaluanku, tubuhku mengejang sesaat, dari mulutku terdengar erangan tertahan karena mulutku penuh oleh penis si hansip. Cairanku yang mengalir dengan deras itu dilahap olehnya dengan rakus sampai terdengar bunyi “Slurrpp…sluuppp….”. Puas menjilati vaginaku, si tukang ojek meneruskannya dengan memasukkan penisnya ke vaginaku, eranganku mengiringi masuknya penis itu, cairan cintaku menyebabkan penis itu lebih leluasa menancap ke dalam. Aku merasakan nikmatnya setiap gesekannya dengan melipat kakiku menjepit pantatnya agar tusukannya semakin dalam. Bapak bersarung menggeram-geram keenakan saat penisnya kujilati dan kuemut, sedangkan si hansip sekarang sedang meremas-remas payudaraku sambil menjilati leher jenjangku. Aku dibuatnya kegelian nikmat oleh jilatan-jilatannya, selain leher dia jilati juga telingaku lalu turun lagi ke payudaraku yang langsung dia caplok dengan mulutnya

Beberapa saat lamanya si tukang ojek menggenjotku, tiba-tiba genjotannya makin cepat dan pinggulku dipegang makin erat, akhirnya tumpahlah maninya di dalam kemaluanku diiringi dengan erangannya, lalu dia lepaskan penisnya dari vaginaku. Posisinya segera digantikan oleh si hansip yang mengatur tubuhku dengan posisi bertumpu pada kedua tangan dan lututku. Kembali vaginaku dimasuki penis, penis yang besar sampai aku meringis dan mengerang menahan sakit ketika penis itu.
“Wuah…memek non ini sempit banget, untung banget gua hari ini bisa ngentot sama anak kuliahan..emmhh..ohh..” komentar si hansip.
Sodokan-sodokannya benar-benar mantap sehingga aku merintih keras setiap penis itu menghujam ke dalam, kegaduhanku diredam oleh bapak bersarung yang duduk mekangkang di depanku dan menjejali mulutku dengan penisnya, penis itu ditekan-tekankan ke dalam mulutku hingga wajahku hampir terbenam pada bulu-bulu kemaluannya. Aku sangat menikmati menyepong penisnya, kedua buah zakarnya kupijati dengan tanganku, sementara di belakang si hansip mengakangkan pahaku lebih lebar lagi sambil terus menyodokku, si tukang ojek beristirahat sambil memain-mainkan payudaraku yang menggantung. Si bapak bersarung akhirnya ejakulasi lebih dulu di mulutku, dia melenguh panjang dan meremas-remas rambutku saat aku mengeluarkan teknik mengisapku, kuminum semua air maninya, tapi karena banyaknya ada sedikit yang menetes di bibirku.
“Wah, si non ini…cantik-cantik demen negak peju !” komentar si tukang ojek melihatku dengan rakus membersihkan penis si bapak bersarung dengan jilatanku.

Tiba-tiba pintu terbuka, aku sedikit terkejut, di depan pintu muncul si Mat dan si tukang ojek berkumis tebal yang sudah kembali dari membeli bensin.
“Wah…ngapain nih, ngentot kok ga ngajak-ngajak” katanya.
“Iya nih, cepetan dong, masa gua daritadi cuma disuruh jaga, udah kebelet nih !” sambung si Mat.
“Ya udah, lu dua-an ngentot dulu sana, gua yang jaga sekarang” kata si tukang ojek yang satu sambil merapikan lagi celananya. Segera setelah si tukang ojek keluar dan menutup pintu, mereka berdua langsung melucuti pakaiannya, si Mat juga membuka kaosnya samapai telanjang bulat, tubuhnya agak kurus tapi penisnya lumayan juga, pas si tukang ojek berkumis melepas celananya barulah aku menatapnya takjub karena penisnya lebih besar dari punya si hansip, diameternya lebih tebal pula.
“Gile, bisa mati kepuasan gua, keluar satu datang dua, mana kontolnya gede lagi !” kataku dalam hati.

Si hansip yang masih belum keluar masih menggenjotku dari belakang, kali ini dia memegangi kedua lenganku sehingga posisiku setengah berlutut. Si Mat langsung melumat bibirku sambil meremas-remas dadaku, dan payudaraku yang lain dilumat si tukang ojek itu. Nampak Mat begitu buasnya mencium dan memain-mainkan lidahnya dalam mulutku, pelampiasan dari hajat yang dari tadi ditahan-tahan, aku pun membalas perlakuannya dengan mengadukan lidahku dengannya. Kumis si tukang ojek yang lebat itu terasa sekali menyapu-nyapu payudaraku memberikan sensasi geli dan nikmat yang luar biasa. Si bapak bersarung sekarang mengistirahatkan penisnya sambil mencupangi leher jenjangku membuat darahku makin bergolak saja memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku. Ketika aku merasa sudah mau keluar lagi, sodokan si hansip pun terasa makin keras dan pegangannya pada lenganku juga makin erat. “Aaahhhh….!!” Aku mendesah panjang saat tidak kuasa menahan orgasmeku yang hampir bersamaan dengan si hansip, vaginaku terasa hangat oleh semburan maninya, selangkanganku yang sudah becek semakin banjir saja sampai cairan itu meleleh di salah satu pahaku. Tubuhku sudah basah berkeringat, ditambah lagi cuaca yang cukup gerah.

Setelah mencapai klimaks panjang mereka melepaskanku, lalu si bapak bersarung berbaring di tikar dan menyuruhku menaiki penisnya. Baru saja aku menduduki dan menancapkan penis itu, si tukang ojek menindihku dari belakang dan kurasakan ada sesuatu yang menyeruak ke dalam anusku. Edan memang si tukang ojek ini, sudah batangnya paling besar minta main sodomi lagi. Untung daerah selanganku sudah penuh lendir sehingga melicinkan jalan bagi benda hitam besar itu untuk menerobosnya, tapi tetap saja sakitnya terasa sekali sampai aku menjerit-jerit kesakitan, kalau saja ada orang lewat dan mendengarku pasti disangkanya sedang terjadi pemerkosaan. Dua penis besar mengaduk-aduk kedua liang senggamaku, si bapak bersarung asyik menikmati payudaraku yang menggantung tepat di depan wajahnya. Si Mat berlutut di depan wajahku, tanpa disuruh lagi kuraih penisnya dan kukocok dalam mulutku, tidak terlalu besar memang, tapi cukup keras. Kulihat wajahnya merah padam sambil mendesah-desah, sepertinya dia grogi

“Enak ga Mat ? Kamu udah pernah ngentot belum ?” tanyaku di tengah desahan.
“Aduh…enak banget non, baru pernah saya ngerasain ngentot” katanya dengan bergetar
Aku terus mengemut penis si Mat sambil tanganku yang satu lagi mengocok penis supernya si hansip. Si Mat memaju-mundurkan pantatnya di mulutku sampai akhirnya menyemprotkan maninya dengan deras yang langsung kuhisap dan kutelan dengan rakus. Tidak sampai dua menit si tukang ojek menyusul orgasme, dia melepas penisnya dari duburku lalu menyemprotkan spermanya ke punggungku. Si bapak bersarung juga sepertinya sudah mau orgasme, tampak dari erangannya dan cengkeramannya yang makin erat pada payudaraku. Maka kugoyang pinggulku lebih cepat sampai kurasakan cairan hangat memenuhi vaginaku. Karena aku masih belum klimaks, aku tetap menaik-turunkan tubuhku sampai 3 menit kemudian aku pun mencapainya.

Setelah itu si bapak bersarung itu keluar dan si tukang ojek yang tadi berjaga itu kembali masuk.
“Aduh belum puas juga nih orang…bisa pingsan gua lama-lama nih !” pikirku
Tubuhku kembali ditelentangkan diatas tikar. Kali ini giliran si Mat, dasar perjaka…dia terlihat agak canggung saat ke mau mulai sehingga harus kubimbing penisnya untuk menusuk vaginaku dan kurangsang dengan kata-kata
“Ayo Mat, kapan lagi lu bisa ngerasain ngentot sama cewek kampus…puasin mbak dong kalo lu laki-laki!”
Setelah masuk setengah kusuruh dia gerakkan pinggulnya maju-mundur. Tidak sampai lima menit dia nampak sudah terbiasa dan menikmatinya. Si hansip sekarang naik ke dadaku dan menjepitkan penisnya di antara kedua payudaraku, lalu dia kocok penisnya disitu. Aku melihat jelas sekali kepala penis itu maju mundur di bawah wajahku. Si tukang ojek berkumis menarik wajahku ke samping dan menyodorkan penisnya. Kugenggam dan kujilati kepalanya sehingga pemiliknya mendesah nikmat, mulutku tidak muat menampung penisnya yang paling besar di antara mereka berlima. Aku sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi, tubuhku dikuasai sepenuhnya oleh mereka, aku hanya bisa menggerakkan tangan kiriku, itupun untuk mengocok penis si tukang ojek yang satu lagi. Tubuhku basah kuyup oleh keringat dan juga sperma yang disemburkan oleh mereka yang menggauliku.

Setelah mereka semua kebagian jatah, aku membersihkan tubuhku dengan handuk basah yang diberikan si hansip lalu memakai kembali pakaianku. Mereka berpamitan padaku dengan meneput pantatku atau meremas dadaku. Si tukang ojek berkumis mengantarku ke mobil sambil membawa sejirigen bensin yang tadi dibelinya. Setelah membantuku menuangkan bensin ternyata dia masih belum puas, dengan paksa dipelorotkannya celanaku dan menyodokkan penisnya ke vaginaku. Kami melakukannya dalam posisi berdiri berpegangan pada mobilku selama 10 menit. Untung saja tidak ada orang atau mobil yang lewat disini. Setibanya di rumah aku langsung mengguyur tubuhku yang bau sperma itu di bawah shower lalu tidur dengan perasaan puas. Sungguh pengalaman yang memuaskan, dan aku suka dengan seks liar seperti ini. Pada kesempatan lain akan kuceritakan pengalamanku ngeseks dengan pelatih menyetirku, 2 orang pengamen, dosenku, satpam kampusku, tukang becak yang mangkal di kompleksku, pak RT, karyawan kampusku, dll

Akibat Pergaulan Bebas 9:55 pm

Hari itu adalah hari Minggu sebulan setelah peristiwaku di vila bersama Pak Imam dan Muklas (baca Akibat Berenang Bugil), selama ini aku belum ke sana lagi akibat kesibukan kuliahku. Hari Minggu itu aku pergi ke sana untuk refreshing seperti biasa karena Seninnya tanggal merah atau libur. Kali ini aku tidak sendiri tapi bersama 2 orang teman cewekku yaitu Verna dan Indah, kami semua adalah teman akrab di kampus, sebenarnya geng kami ini ada 4 orang, satu lagi si Ratna yang hari ini tidak bisa ikut karena ada acara dengan keluarganya.

Kami sama-sama terbuka tentang seks dan sama-sama penggemar seks, Verna dikaruniai tubuh tinggi semampai dengan buah dada yang bulat montok yang membuat pikiran kotor para cowok melayang-layang, beruntunglah mereka karena Verna tidak sulit diajak ‘naik ranjang’ karena dia sudah ketagihan seks sejak SMP. Sedangkan Indah mempunyai wajah yang imut dengan rambut panjang yang indah, bodynya pun tidak kalah dari Verna walaupun payudaranya lebih kecil, namun dibalik wajah imutnya ternyata Indah termasuk cewek yang lihai memanfaatkan cowok, sudah berkali-kali dia ganti pacar gara-gara sifat materenya. Sedangkan aku sendiri sepertinya kalian sudah tahulah cewek seperti apa aku ini dari cerita-ceritaku dulu.

Baiklah, sekarang kita kembali ke kejadian hari itu yang rencananya mau mengadakan orgy party setelah sekian lama otak kami dijejali bahan-bahan kuliah dan urusan sehari-hari. Waktu itu Verna protes karena aku tidak memperbolehkannya mengajak teman-teman cowok yang biasa diajak, begitu juga Indah yang ikut mendukung Verna karena pacarnya juga tidak boleh diajak.
“Emangnya lu ngundang siapa lagi sih Ci, masa si Chevy aja ga boleh ikutan ?” kata Indah
“Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih” timpal Verna
“Udahlah, lu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh ! dijamin kalian puas sampe ga bisa bangun lagi deh”
Aku ingin sedikit membuat kejutan agar acara kali ini lain dari yang lain, karena itulah aku merahasiakan siapa pejantannya yang tidak lain adalah penjaga vilaku dan vila tetanggaku, Pak Imam dan Muklas.

Kemarinnya aku memang sudah mengabari Pak Imam lewat telepon bahwa aku besok akan ke sana dengan teman-temanku yang pernah kujanjikan pada mereka dulu. Pak Imam tentu antusias sekali dengan acara kali ini, kami telah mengatur skenario acaranya agar seru. Beberapa jam kemudian kami sampai di villaku, Pak Imam seperti biasa membukakan pintu garasi, bola matanya melihat jelalatan pada kami terutama Verna yang hari itu pakaiannya seksi berupa sebuah tank top merah berdada rendah dengan rok mini. Dia kusuruh keluar dulu sampai aku memberi syarat padanya, dia menunggunya di villa tetangga yang tidak lain vila yang dijaga si Muklas. Setelah membereskan barang bawaan, kami menyantap makan siang, lalu ngobrol-ngobrol dan istirahat. Indah yang daritadi kelihatan letih terlelap lebih dulu. Kami bangun sore hari sekitar jam 4 sore.

“Eh…sambil nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk” ajakku pada mereka
Aku melepaskan semua bajuku tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya
“Wei…gila lo Ci, masa mau berenang ga pake apa-apa gitu, kalo keliatan orang gimana ?” tegur Indah
“Iya Ci, lagian kan kalo si tua Imam itu dateng gimana tuh” sambung Verna
“Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja ga berani, tenang aja Pak Imam udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti” bujukku sambil menarik tangan Verna
Di tepi kolam mereka masih agak ragu melepas pakaiannya, alasannya takut kepergok tetangga, setelah kutantang Verna baru mulai berani melepas satu demi satu yang melekat di tubuhnya, aku membantu Indah yang masih agak malu mempreteli pakaiannya. Akhirnya kami bertiga nyebur ke kolam tanpa memakai apapun.

Perlahan-lahan rasa risih mereka pun mulai berkurang, kami tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya. Mungkin seperti inilah kira-kira gambaran tempat pemandian di istana haremnya para raja. Sesudah agak lama bermain di air aku naik ke atas dan mengelap tubuhku yang basah, lalu membalut tubuhku dengan kimono.
“Ci, sekalian ambilin kita minum yah” pinta Verna
Akupun berjalan ke dalam dan meminum segelas air.
“Ok, it’s the showtime” gumamku dalam hati, inilah saat yang tepat untuk menjalankan skenario ini. Aku segera menelepon vila sebelah menyuruh Pak Imam dan Muklas segera kesini karena pesta akan segera dimulai.

“Iya neng, kita segera ke sana” sahut Muklas sambil menutup gagang telepon
Hanya dalam hitungan menit mereka sudah nampak di pekarangan depan vilaku. Aku yang sudah menunggu membukakan pintu untuk mereka.
“Wah udah ga sabaran nih, daritadi cuma ngintipin neng sama temen-temen neng dari loteng” kata Pak Imam
“Pokoknya yang rambutnya dikuncir itu buat saya dulu yah neng” ujar Muklas merujuk pada Indah.
“Iya tenang, sabar, Pokoknya semua kebagian, ok” kataku “yang penting sekarang surprise buat mereka dulu”
Setelah beberapa saat berbicara kasak-kusuk, akhirnya operasipun siap dilaksanakan. Pertama-tama dimulai dari Verna. Aku berjalan ke arah kolam membawakan mereka dua gelas air, disana Indah sedang tiduran di kursi santai tanpa busana, sementara Verna masih berendam di air.

“Ver, lu bisa ke kamar gua sebentar ga, gua mo minta tolong dikit nih” pintaku padanya “lu lap badan dulu gih, gua tunggu di sana”
Aku masuk ke dalam terlebih dahulu dan duduk di pingir ranjang menunggunya. Di balik pintu itu Pak Imam dan Muklas yang sudah kusuruh bugil telah siap memangsa temanku itu, kemaluan mereka sudah mengeras dan berdiri tegak seperti pedang yang terhunus. Tak lama kemudian Verna memasuki kamarku sambil mengelap rambutnya yang masih basah.
“Kenapa Ci, ada perlu apa emang ?” tanyanya.
“Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok” jawabku dengan menyeringai dan memberi aba-aba pada mereka. Sebelum Verna sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memeluknya dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutnya agar tidak berteriak. Verna yang terkejut tentu saja meronta-ronta , namun pemberontakkan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu.

Pak Imam dengan gemas meremas payudara kirinya dan memilin-milin putingnya. Si Muklas berhasil menangkap kedua pergelangan kakinya yang menendang-nendang. Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluan Verna.
“Wah jembutnya lebat juga yah, kaya si neng” komentar Muklas sambil menyentuhkan lidahnya ke liang vagina Verna, diperlakukan seperti itu Verna cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Imam begitu kokoh.
“Hei, jangan rakus dong Klas, dia kan buat Pak Imam, tuh jatahlu masih nunggu di luar sana” kataku padanya
Mengingat kembali sasarannya semula, Muklas menurunkan kembali kaki Verna dan bergegas menuju ke kolam.
“Jangan terlalu kasar yah ke dia, bisa-bisa pingsan gara-gara lu” godaku

Setelah Muklas keluar tinggallah kami bertiga di kamarku. Pak Imam langsung menghempaskan dirinya bersama Verna ke ranjang spring bed-ku. Tak berapa lama terdengarlah jeritan Indah dari kolam, aku melihat dari jendela kamarku apa yang terjadi antara mereka. Indah terpelanting dari kursi santai dan berusaha melepaskan diri dari Muklas. Dia berhasil berdiri dan mendapat kesempatan menghindar, tapi kalah cepat dari Muklas, tukang kebun itu berhasil mendekapnya dari belakang lalu mengangkat badannya.
“Jangan…tolong !!” jeritnya sambil meronta-ronta dalam gendongan Muklas
Muklas dengan santai membawa Indah ke tepi kolam, lalu dilemparnya ke air, setelah itu dia ikutan nyebur. Dia air Indah terus berontak saat Muklas menggerayangi tubuhnya dalam himpitannya. Sekuat apapun Indah tentu saja bukan tandingan Muklas yang sudah kesurupan itu. Perlawanan Indah mengendur setelah Muklas mendesaknya di sudut kolam, riak di kolam juga mulai berkurang. Tidak terlalu jelas detilnya Muklas menggerayangi tubuh Indah, tapi aku dapat melihat Muklas memeluk erat Indah sambil melumat bibirnya.

Kutinggalkan mereka menikmati saat-saat nikmatnya untuk kembali lagi pada situasi di kamarku. Aku lalu menghampiri Pak Imam dan Verna untuk bergabung dalam kenikmatan ini. Sama seperti Indah, Verna juga menjerit-jerit, namun jeritannya juga pelan-pelan berubah menjadi erangan nikmat akibat rangsangan-rangsangan yang dilakukan Pak Imam. Waktu aku menghampiri mereka Pak Imam sedang menjilati paha mulus Verna sambil kedua tangannya masing-masing bergerilya pada payudara dan kemaluan Verna.
“Aduh Ci…tega-teganya lu nyerahin kita ke orang-orang kaya gini…ahhh !!” kata Verna ditengah desahannya
“Tenang Ver, ini baru namanya surprise, sekali kali coba produk kampung dong” kataku seraya melumat bibirnya

Aku berpagutan dengan Verna beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Imam mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas payudara Verna secara bergantian, sementara tangannya masih saja mengobok-obok vaginanya. Desahan Verna tertahan karena sedang berciuman denganku, tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara.
“Hhhmmhh…tetek Neng Verna ini gede juga ya, lebih gede dari punya Neng” kata Pak Imam disela aktivitasnya.
Memang sih diantara kami bereempat, payudara Verna termasuk yang paling montok. Menurut pengakuannya, cowok-cowok yang pernah ML dengannya paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok penis mereka diantara himpitannya. Pak Imam pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut susunya, seluruh susu kanan Verna ditelan olehnya.

Puas menetek pada Verna, Pak Imam bersiap memasuki vagina Verna dengan penisnya. Kulihat dalam posisinya diantara kedua belah paha Verna dia memegang penisnya untuk diarahkan ke liang itu.
“Ouch…sakit Ver, duh kasar banget sih babu lu” Verna meringis dan mencengkram lenganku waktu penis super Pak Imam mendorong-dorongkan penisnya dengan bernafsu
“Tahan Ver, ntar juga lu keenakan kok, pokoknya enjoy aja” kataku sambil meremasi kedua payudaranya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Imam.
Pak Imam menyodokkan penisnya dengan keras sehingga Verna pun tidak bisa menahan jeritannya, Verna kelihatan mau menangis nampak dari matanya yang sedikit berair.Pak Imam mulai menggarap Verna dengan genjotannya. Aku merasakan tangan Verna menyelinap ke bawah kimonoku menuju selangkangan, eennghh…aku mendesah merasakan jari-jari Verna menggerayangi kemaluanku.

Aku lalu naik ke wajah Verna berhadapan dengan Pak Imam yang sedang menggenjotnya. Verna langsung menjilati kemaluanku dan Pak Imam menarik tali pinggang kimonoku sehingga tubuhku tersingkap. Dengan terus menyodoki Verna, dia meraih payudaraku yang kiri, mula-mula dibelainya dengan lembut tapi lama-lama tangannya semakin keras mencengkramnya sampai aku meringis menahan sakit. Dia juga menyorongkan kepalanya berusaha mencaplok payudara yang satunya. Aku yang mengerti apa maunya segera mencondongkan badanku ke depan sehingga dadaku pun makin membusung indah. Ternyata dia tidak langsung mencaplok payudaraku, tetapi hanya menjulurkan lidahnya untuk menjilati putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, geli bercampur nikmat. Sapuan-sapuan lidah Verna pada vaginaku membuat daerah itu semakin becek, bukan cuma itu saja Verna juga mengorek-ngoreknya dengan jarinya.

Aku mendesah tak karuan marasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku. Ciuman Pak Imam merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kami berciuman dengan penuh nafsu. Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kami beradu dengan liar sampai ludah kami bercampur baur.
“Aahh…oohh…gua dah mau…Pak !!” erang Verna bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dan membusur ke atas.
Melihat reaksi Verna, Pak Imam semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadanya. Aku sendiri tidak merasa akan segera menyusul Verna, dibawah sana seperti mau meledak rasanya. Dalam waktu yang hampir bersamaan aku dan Verna mencapai klimaks, tubuh kami mengejang hebat dan cairan kewanitaanku tumpah ke wajah Verna. Erangan kami memenuhi kamar ini membuat Pak Imam semakin liar.

Setelah aku ambruk ke samping, Pak Imam menindih Verna dan mulai menciuminya, dijilatinya cairan cintaku yang blepotan di sekitar mulut Verna, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi payudara montok itu, seolah-oleh tak ingin lepas darinya.
“Hhmmpphh…sluurrpp…cup…cup…” demikian bunyinya saat mereka bercipokan, lidah mereka saling membelit dan bermain di rongga mulut masing-masing. Pak Imam cukup pengertian akan kondisi Verna yang mulai kepayahan, jadi setelah puas berciuman dia membiarkannya memulihkan tenaga dulu. Dan kini disambarnya tubuhku, padahal gairahku baru naik setengahnya setelah orgasme barusan. Tubuhku yang dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga menungging. Dia membuka lebar bibir vaginaku dan menyentuhkan kepala penisnya disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke vaginaku. Aku mendesah sambil meremas-remas sprei menghayati proses pencoblosan itu.

Permainan Pak Imam sungguh membuatku terhanyut, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Aku meraih tangannya untuk meremasi payudaraku yang berayun-ayun. Tiba-tiba suara desahan Verna terdengar lagi menjari sahut menyahut dengan desahanku. Gila, penjaga vilaku ini mengerjai kami berdua dalam waktu bersamaan, bedanya aku dikocok dengan penis sedangkan Verna dikocok dengan jari-jarinya. Verna membuka pahanya lebih lebar lagi agar jari-jari Pak Imam bermain lebih leluasa.
“Aduhh…aahh…gila Ver…enak banget !!” ceracauku sambil merem-melek
“Oohh…terus Pak…kocok terus” Verna terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya.

“Yak…dikit lagi…aahh…Pak…udah mau” aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks
“Neng Citra…Neng Verna…bapak juga…mau keluar…eerrhh” geramnya dengan mempercepat gerakkannya.
Penis itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku, tubuhku berkelejotan seperti kesetrum. Kemudian dia lepaskan penisnya dari vaginaku dan berdiri di ranjang. Disuruhnya Verna berlutut dan mengoral penisnya yang berlumuran cairan cintaku. Verna berlutut mengemut penis basah itu sambil tangan kanannya mengocok vaginanya sendiri yang tanggung belum tuntas. Aku bangkit perlahan dan ikut bergabung dengan Verna menikmati penis Pak Imam. Verna mengemut batangnya, aku mengemut buah zakarnya, kami saling berbagi menikmati ‘sosis’ itu.

Di tengah kulumannya mendadak Verna merintih tertahan, tubuhnya seperti menggigil, dan kulihat ke bawah ternyata dari vaginanya mengucur cairan bening hasil masturbasinya sendiri. Disusul beberapa detik kemudian, Pak Imam mencabut penisnya dari mulutku lalu mengerang panjang. Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami. Kami berebutan menelan cairan itu, penis itu kupompa dalam genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan kelabakan
“Sabar, sabar dong neng, bisa putus kontol bapak kalo rebutan gini” katanya terbata-bata
Setelah tidak ada yang keluar lagi Verna menjilati sisanya di wajahku, demikian pula sebaliknya. Mereka berdua akhirnya ambruk kecapaian, wajah Pak Imam jatuh tepat di dada Verna.

Saat mereka ambruk, sebaliknya gairahku mulai timbul lagi. Maka kutinggalkan mereka untuk melihat keadaan Indah dan Muklas. Aku tiba di kolam melihat Muklas sedang menggarap tubuh mungil Indah. Di daerah dangkal Indah dalam posisi berpegangan pada tangga kolam, Muklas dari bawahnya juga dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot penisnya pada vagina Indah. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Pasti adegan ini membuat para cowok di kampusku sirik pada Muklas yang buruk rupa tapi bisa ngentot dengan gadis seimut itu.
“Belum selesai juga lu orang, udah berapa ronde nih ?” sapaku
“Edan Ci…gua sampe klimaks tiga kali…aahh !!” desah Indah tak karuan
“Neng….temennya enak banget, udah cantik, memeknya seret lagi” komentar Muklas sambil terus menggenjot.

Indah tak kuasa menahan rintihannya setiap Muklas menusukkan penisnya, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan penis penjaga vila itu pada kemaluannya. Kepala Muklas menyelinap lewat ketiak sebelah kirinya lalu mulutnya mencaplok buah dadanya. Pinggul Indah naik turun berkali kali mengikuti gerakan Muklas. Jeritannya makin menjadi-jadi hingga akhirnya satu lenguhan panjang membuatnya terlarut dalam orgasme, beberapa saat tubuhnya menegang sebelum akhirnya terkulai lemas di tangga kolam. Setelah menaklukkan Indah, Muklas memanggilku yang mengelus-ngelus kemaluanku sendiri menonton adegan mereka.
“Sini neng, mendingan dipuasin pake kontol saya aja daripada ngocok sendiri”

Akupun turun ke air yang merendam sebatas lutut kami, disambutnya aku dengan pelukannya, tangannya mengelusi punggungku terus turun hingga meremas bongkahan pantatku. Sementara tanganku juga turun meraih kemaluannya.
“Gila nih kontol, masih keras juga…udah keluar berapa kali tadi ?” tanyaku waktu menggenggam batangnya yang masih ‘lapar’ itu.
“Baru sekali tadi…abis saya masih nungguin neng sih” godanya saambil nyengir.
Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh. Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Indah yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung.

Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang telingaku juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahnya membuatku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpindah melumat bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon dengan mengulum lidahnya. Tanganku meraba-raba kebawah mencari kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi untuk dientot. Ketika kuraih benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Muklas ikut menuntun senjatanya menembaki sasaran. Saat kepala penisnya menyentuh bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan karena sedang berciuman dengannya. Ciuman kami baru terlepas disertai jeritan kecil ketika Muklas mengehentakkan pinggulnya hingga penisnya tertanam semua dalam vaginaku. Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala menatap langit dan mendesah sejadi-jadinya.

Kalau dibandingkan dengan Pak Imam, memang sodokan Muklas lebih mantap selain karena usianya masih 30-an, badannya juga lebih berisi daripada Pak Imam yang tinggi kurus seperti Datuk Maringgih itu. Di tengah badai kenikmatan itu sekonyong-konyong aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak di jendela kamarku. Kufokuskan pandanganku dan astaga…ternyata si Verna, dia sedang disetubuhi dari belakang dengan posisi menghadap jendela, tubuhnya terlonjak-lonjak dan terdorong ke depan sampai payudaranya menempel pada kaca jendela, mulutnya tampak mengap-mengap atau terkadang meringis, sungguh suatu pemandangan yang erotis. Adegan itu ditambah serangan Muklas yang makin gencar membuatku makin tak terkontrol, pelukanku semakin erat sehingga dadaku tertekan di dadanya, kedua kakiku menggelepar-gelepar menepuk permukaan air. Aku merasa detik-detik orgasme sudah dekat, maka kuberitahu dia tentang hal ini. Muklas memintaku bertahan sebentar lagi karena dia juga sudah mau keluar.

Susah payah aku bertahan agar bisa klimaks bersama, setelah kurasakan ada cairan hangat menyemprot di rahimku, akupun melepas sesuatu yang daritadi ditahan-tahan. Perasaan itu mengalir dengan deras di sekujur tubuhku, otot-ototku mengejang, tak terasa kukuku menggores punggungnya. Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas seolah mati rasa, begitu juga Muklas yang jatuh bersandar di pinggir kolam. Aku berbaring di pinggir kolam di atas lantai marmer, kedua payudaraku nampak bergerak naik turun seiring desah nafasku. Kugerakkan mataku, di jendela Verna dan Pak Imam sudah tak nampak lagi, di sisi lain Indah yang sudah pulih merendam dirinya di air dangkal untuk membasuh tubuhnya.

Kami beristirahat sebentar, bahkan beberapa diantara kami tertidur. Pesta dimulai lagi sekitar pukul 8 malam setelah makan. Kami mengadakan permainan gila, ceritanya kami bertiga bermain poker dengan taruhan yang kalah paling awal harus rela dikeroyok kedua penjaga villa itu dan diabadikan dalam video klip dengan HP Nokia model terbaru milik Verna, filenya akan disimpan dalam komputer Verna untuk koleksi dan tidak akan boleh dicopy atau dilihat orang lain selain geng kami, mengingat kasus bokep Itenas. Kami duduk melingkar di ranjang, Pak Imam dan Muklas kusuruh menjauh dan kularang menyentuh siapapun sebelum ada yang kalah, mereka menunggu hanya dengan memakai kolor, sambil sebentar-sebentar mengocok anunya sendiri Aku mulai membagikan kartu dan permainan dimulai. Suasana tegang menyelimuti kami bertiga, setelah akhirnya Indah melempar kartunya yang buruk sambil menepuk jidatnya, dia kalah. Kedua orang yang sudah tak sabar menunggu itu segera maju mengeksekusi Indah.

Indah sempat berontak, tapi berhasil dilumpuhkan mereka dengan dipegangi erat-erat dan digerayangi bagian-bagian sensitifnya. Muklas menyusupkan tangannya ke kimono Indah meraih payudaranya yang tak memakai apa-apa di baliknya. Pak Imam menyerang dari bawah dengan merentangkan lebar-lebar kedua paha Indah dan langsung membenamkan kepalanya pada kemaluannya yang terawat dan berbulu lebat itu. Perlakuan ini membuat rontaan Indah terhenti, kini dia malah mengelus-elus penis Muklas yang menegang sambil memejamkan mata menikmati vaginanya dijilati Pak Imam dan dadanya diremas Mulkas. Aku melihat lidah Pak Imam menjalar jari belahan bawah hingga puncak kemaluan Indah, lalu disentil-sentilkan pada klistorisnya. Indah tidak tahan lagi, dia merundukkan badan untuk memasukkan penis Muklas ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus seperti sedang makan es krim. Event menarik itu tidak dilewatkan Verna dengan kamera-HP nya.

Indah terengah-engah melayani penis super Muklas, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitarnya, rasa malunya hilang digantikan dengan hasrat yang besar untuk menyelesaikan gairahnya. Dia mempertunjukkan suatu live show yang panas seperti aktris bokep dan Verna sebagai juru kameranya. Pak Imam yang baru saja melepaskan kolornya menggesek-gesekkan benda itu pada bibir kemaluan Indah, sebagai pemanasan sebelum memasukinya. Kemulusan tubuh Indah terpampang begitu Muklas menarik lepas tali pinggang pada kimononya, sesosok tubuh yang putih mulus serta terawat baik diantara dua tubuh hitam dan kasar, sungguh perpaduan yang kontras tapi menggairahkan. Pak Imam mempergencar rangsangannya dengan menciumi batang kakinya mulai dari betis, tumit, hingga jari-jari kakinya. Indah yang sudah kesurupan ‘setan seks’ itu jadi makin gila dengan perlakuan seperti itu

“Ahhh…awww…Pak enak banget….masukin aja sekarang !!” rintihnya manja sambil meraih penis Pak Imam yang masih bergesekan dengan bibir vaginanya.
Pak Imam pun mendorong penis itu membelah kedua belahan kemaluan Indah diiringi desahan nikmat yang memenuhi kamar ini sampai aku dibuat merinding mendengarnya. Aku mengeluarkan payudara kiriku dari balik kimono dan meremasnya dengan tanganku, tangan yang satu lagi turun menggesek-gesekkan jariku ke kemaluanku, Verna yang juga sudah horny sesekali mengelus kemaluannya sendiri. Indah nampak sangat liar, kemaluannya digenjot dari depan, dan Muklas yang menopang tubuhnya dari belakang meremasi kedua payudaranya serta memencet-mencet putingnya. Rambutnya yang sudah terurai itu disibakkan Muklas, lalu melumat leher dan pundaknya dengan jilatan dan gigitan ringan. Hal ini menyebabkan Indah tambah menggelinjang dan mempercepat kocokannya pada penis Muklas.

Serangan Pak Imam pada vagina Indah semakin cepat sehingga tubuhnya menggelinjang hebat
“Aaakhhh…aahhh !!” jerit Indah dengan melengkungkan tubuhnya ke atas
Indah telah mencapai orgasme hampir bersamaan dengan Pak Imam yang menyemprotkan spermanya di dalam rahimnya. Adegan ini juga direkam oleh Verna, difokuskan terutama pada wajah Indah yang sedang orgasme. Tanpa memberi istirahat, Muklas menaikkan Indah ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Kembali vagina Indah dikocok oleh penis Muklas. Walaupun masih lemas dia mulai menggoyangkan pantatnya mengikuti kocokan Muklas. Muklas yang merasa keenakan hanya bisa mengerang sambil meremas pantat Indah menikmati pijatan kemaluannya. Pak Imam mengistirahatkan penisnya sambil menyusu dari kedua payudara Indah secara bergantian. Aku semakin dalam mencucukkan jariku ke dalam vaginaku saking terangsangnya, sampai-sampai cairanku mulai meleleh membasahi selangkangan dan jari-jariku.

Bosan dengan gaya berpangkuan, Muklas berbaring telentang dan membiarkan Indah bergoyang di atas penisnya. Kemudian dia menyuruh Verna naik ke atas wajahnya agar bisa menikmati kemaluannya. Verna yang daritadi sudah terangsang itu segera melakukan apa yang disuruh tanpa ragu-ragu. Seluruh wajah Muklas tertutup oleh daster transparan Verna, namun aku masih dapat melihat dia dengan rakusnya melahap kemaluannya sambil menyusupkan tangannya dari bawah daster menuju payudaranya. Pak Imam yang anunya sudah mulai bangkit lagi menerkamku, kami berguling-guling sambil berciuman penuh nafsu. Dengan tetap berciuman Pak Imam memasukkan penisnya ke vaginaku, cairan yang melumuri selangkanganku melancarkan penetrasinya. Dengan kecepatan tinggi penisnya keluar masuk dalam vaginaku hingga aku histeris setiap benda itu menghujam keras ke dalam. Aku cuma bisa pasrah di bawah tindihannya membiarkan tangannya menggerayangi payudaraku, mulutnya pun terus menjilati leherku. Aku masih memakai kimonoku, hanya saja sudah tersingkap kesana kemari.

Aku melihat Muklas masih berasyik-masyuk dengan kedua temanku, hanya kali ini Verna sudah bertukar posisi dengan Indah. Sekarang mereka saling berhadapan, Verna bergoyang naik turun diatas penis Muklas sambil berciuman dengan Indah yang mekangkangi wajah Muklas. Indah membuka kakinya lebar-lebar sehingga cairannya semakin mengalir, cairan itu diseruput dengan rakus oleh si Muklas sampai terdengar suara sluurrpp…. sshhrrpp…Ketika aku sedang menikmati orgasmeku yang hebat, dia tekan sepenuhnya penis itu ke dalam dan ini membawa efek yang luar biasa padaku dalam menghayati setiap detik klimaks tersebut, tubuhku menggelinjang dan berteriak tak tentu arah sampai akhirnya melemas kembali. Pesta gila-gilaan ini berakhir sekitar jam 11 malam. Aku sudah setengah sadar ketika Pak Imam menumpahkan maninya di wajahku, tulang-tulangku serasa berantakan. Indah sudah terkapar lebih dulu dengan tubuh bersimbah peluh dan ceceran sperma di dadanya, dari pangkal pahanya yang terbuka nampak cairan kewanitaan bercampur sperma yang mengalir bak mata air.

Sebelum tak sadarkan diri aku masih sempat melihat Muklas menyodomi Verna yang masih dalam gaun transparan yang sudah berantakan, tubuh keduanya sudah mandi keringat. Karena letih dan ngantuk aku pun segera tertidur tanpa kupedulikan jeritan histeris Verna maupun tubuhku yang sudah lengket oleh sperma. Besok paginya aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan aku hanya mendapati Indah yang masih terlelap di sebelah kiriku. Kuguncang tubuh Indah untuk membangunkannya.
“Gimana Dah…puas semalem ?” tanyaku
“Gila gua dientotin sampe kelenger , barbar banget tuh dua orang, eh…omong-omong pada kemana yang lain si Verna juga ga ada ?”
“Ga tau juga tuh gua juga baru bangun kok, duh lengket banget mandi dulu yuk…udah lengket gini” ajakku karena merasa tidak nyaman dengan sperma kering terutama di wajahku, rasanya seperti ada sarang laba-laba menempel di sana.

Baru saja keluar dari kamar, sayup-sayup sudah terdengar suara desahan, kuikuti asal suara itu yang ternyata dari kamar mandi. Kami berdua segera menuju ke kamar mandi yang pintunya setengah terbuka itu, kami tengok ke dalam dan melihat Verna dan kedua penjaga villa itu. Darahku berdesir melihat pemandangan erotis di depan kami, dimana Verna sedang dikerjai oleh mereka di lantai kamar mandi. Muklas sedang enak-enaknya mengocok senjatanya diantara kedua gunung bulat itu, sedangkan Pak Imam berlutut diantara paha jenjang itu sedang menyetubuhinya, air dan sabun membuat tubuh mereka basah berkilauan. Kedatangan kami sepertinya tidak terlalu membuat mereka terkejut, mereka malah menyapa kami sambil terus ‘bekerja’. Aku dengan tidak terlepas dari live show itu berjalan ke arah shower dan membuka kimonoku diikuti Indah dari belakang. Air hangat mengucur membasuh dan menyegarkan tubuh kami, kuambil sabun cair dan menggosokkannya ke sekujur tubuh Indah. Demikian juga Indah dia melakukan hal yang sama padaku, kami saling menyabuni satu sama lain.

Kami saling mengelus bagian tubuh masing-masing, suatu ketika ketika tanganku sampai ke bawah, iseng-iseng kubelai bibir kemaluannya sekaligus mempermainkan klistorisnya.
“Uuhh…Ci !!” dia menjerit kecil dan mempererat pelukannya padaku sehingga buah dada kami saling berhimpit.
Tangan Indah yang lembut juga mengelusi punggungku lalu mulai turun ke bawah meremas bongkahan pantatku. Darahku pun mengalir makin cepat ditambah lagi adegan panas Verna dengan kedua pria itu membuatku makin naik. Indah mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku yang terbuka karena sedang mendesah, selama beberapa menit bibir kami berpagutan. Kemudian aku memutar badanku membelakangi Indah supaya bisa lebih nyaman menonton Verna.

Aku melihat wajah horny Verna yang cantik, dia meringis dan mengerang menikmati tusukan Pak Imam pada vaginanya, sementara Muklas hampir mencapai orgasmenya, dia semakin cepat menggesek-gesekkan penisnya diantara gunung kembar itu, tangannya pun semakin keras mencengkram daging kenyal itu sehingga pemiliknya merintih kesakitan. Akhirnya menyemprotlah spermanya membasahi dada, leher dan mulut Verna. Mataku tidak berkedip menyaksikan semua itu sambil menikmati belaian Indah pada daerah sensitifku. Dengan tangan kanannya dia memainkan payudaraku, putingnya dipencet dan dipilin hingga makin menegang, tangan kirinya meraba-raba selangkanganku. Perbuatan Indah yang mengobok-obok vaginaku dengan jarinya itu hampir membuatku orgasme, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu.

Aku masih menikmati jari-jari Indah bermain di vaginaku ketika Muklas yang baru menyelesaikan hajatnya dengan Verna berjalan ke arahku, penisnya agak menyusut karena baru orgasme. Jantungku berdetak lebih kencang menunggu apa yang akan terjadi. Tangannya mendarat di payudara kiriku dan meremasnya dengan lembut sambil sesekali memelintirnya. Lalu dia membungkuk dan mengarahkan kepalanya ke payudara kananku yang langsung dikenyotnya. Aku memejamkan mata menghayati suasana itu dan mengeluarkan desahan menggoda. Lalu aku merasakan kaki kananku diangkat dan sesuatu mendesak masuk ke vaginaku. Sejenak kubuka mataku untuk melihat, dan ternyata yang bertengger di vaginaku bukan lagi tangan Indah tapi penis Muklas yang sudah bangkit lagi. Kembali aku disetubuhi dalam posisi berdiri sambil digerayangi Indah dari belakang. Tubuhku seolah terbang tinggi, wajahku menengadah dengan mata merem-melek merasakan nikmat yang tak terkira.

Hampir satu jam lamanya kami melakukan orgy di kamar mandi. Akhirnya setelah mandi bersih-bersih kami bertiga mencari udara segar dengan berjalan-jalan di kompleks sekalian makan siang di sebuah restoran di daerah itu. Setelah makan kami kembali ke vila dan mengepak barang untuk kembali ke Jakarta. Indah dan Verna keluar dari kamar terlebih dulu meninggalkanku yang masih membereskan bawaanku yang lebih banyak. Cukup lama juga aku dikamar gara-gara sibuk mencari alat charge HP-ku yang ternyata kutaruh di lemari meja rias. Waktu aku menuju ke garasi terdengar suara desahan dan ya ampun…ternyata mereka sedang bermain ‘short time’ sambil menungguku.

Indah yang celana panjang dan dalamnya sudah dipeloroti sedang menungging dengan bersandar pada moncong mobil, Pak Imam menyodokinya dari belakang sambil memegangi payudaranya yang tidak terbuka. Sementara di pintu mobil, Verna berdiri bersandar dengan baju dan rok tersingkap, paha kirinya bertumpu pada bahu Muklas yang berjongkok di bawahnya. Celana dalamnya tidak dibuka, Muklas menjilati kemaluannya hanya dengan menggeser pinggiran celana dalamnya, tangannya turut bekerja meremasi payudara dan pantatnya.
“Weleh…weleh…masih sempat-sempatnya lu orang, asal jangan kelamaan aja, ntar kejebak macet kita” kataku sambil geleng-geleng kepala.
“Tengan neng ga usah buru-buru, masih pagi kok, ini cuma sebentar aja kok” tanggap Pak Imam dengan terengah-engah

Akhirnya setelah 15 menitan Pak Imam melepas penisnya dan memanggilku untuk bergabung dengan Indah menjilatinya. Aku tadinya menolak karena tak ingin make upku luntur, tapi karena didesak terus akhirnya aku berjongkok di sebelah Indah.
“Tapi kalo keluar lu yang isep ya Dah, ntar muka gua luntur” kataku padanya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala sambil mengulum benda itu
Sesuai perjanjian tidak lama kemudian Pak Imam menggeram dan cepat-cepat kuberikan penis itu pada Indah yang segera memasukkan ke mulutnya. Pria itu mendesah panjang sambil menekan penisnya ke mulut Indah, Indah sendiri sedang menyedot sperma dari batang itu, sepertinya yang keluar tidak banyak lagi soalnya Indah tidak terlalu lama mengisapnya.
“Yuk cabut, udah ga haus lagi kan Dah ?” ujar Verna yang sudah merapikan kembali pakaiannya.
Kami naik ke mobil dan kembali ke kota kami dengan kenangan tak terlupakan. Dalam perjalanan kami saling berbagi cerita dan kesan-kesan dari pengalaman kemarin dan membicarakan rencana untuk mengerjai si Ratna yang hari ini absen.

Akibat Pergaulan Bebas 9:54 pm

Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Imam, penjaga vilaku membukakan pintu garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew…akhirnya aku bisa melepaskan kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka kusuruh Pak Imam pulang ke rumahnya yang memang di desa sekitar sini. Pak Imam sudah bekerja di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.

“Punten neng, kalau misalnya ada perlu, bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja” pamitnya
Setelah Pak Imam meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Imam memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam.

Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh…enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe…)

20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan.

Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Muklas, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku
“Sstt…mendingan neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam !” ancamnya
Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku
“Hehehe…udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama neng !” katanya sambil matanya menatapi dadaku
“Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, ga usah kaya maling gitu !” kataku sewot

Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di sini. Mengetahui Pak Imam sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi).
“Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, daritadi pegang-pegang doang beraninya !” tantangku
“Hehe, iya neng abis tetek neng ini loh, montok banget sampe lupa deh” jawabnya seraya melepas baju lusuhnya
Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air, Listrik, dan Bangunan).

Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya.
“Eenghh…terus Klas…ooohh !” desahku sambil meremasi rambut Muklas yang sedang mengisap payudaraku.
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Muklas yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Muklas melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.

Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya.
“Gua ga tahan lagi Klas, sini gua emut yang punya lu” kataku
Si Muklas langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.

Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
“Eemmpp…emmphh…nngg…!!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah kecipratan maninya.

Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Imam muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku.
“Eehh…maaf neng, bapak cuma mau ngambil uang bapak di kamar, ga tau kalo neng lagi gituan” katanya terbata-bata
Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya
“Ah…ga apa-apa Pak, mending bapak ikutan aja yuk !” godaku
Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.

Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya
“Neng, tetek neng gede juga yah…enak yah diginiin sama bapak ?”sambil tangannya terus meremasi payudaraku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya mengerang keenakan
“Wah, Pak Imam sama majikan sendiri aja malu-malu !” seru si Muklas yang memperhatikan Pak Imam agak grogi menikmati oral seks-ku.

Muklas lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Muklas pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak Imam makin bersemangat.

Rupanya aku telah membuat Pak Imam ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Muklas menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Imam menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Imam. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Muklas terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.

Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
“Neng, boleh ga bapak masukin anu bapak ke itunya neng ?” tanya Pak Imam lembut
Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi “tapi neng istirahat aja dulu, kayanya neng masih cape sih”
Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Muklas duduk di sebelah kiriku dan Pak Imam di kananku. Kami ngobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok.

“Neng, bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya neng” kata Pak Imam mengambil posisi berlutut di depanku.
Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Muklas yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.
“Aahh…Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih !” desahku tak tertahan
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh.

“Wah…seret banget memeknya neng, kalo tau gini udah daridulu bapak entotin” ceracaunya
“Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim” kataku dalam hati
Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Imam memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya.

Goyangan kami terhenti sejenak ketika Muklas tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Imam. Muklas membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana
“Aduuh…pelan-pelan Klas, sakit tau…aww !” rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya.
Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Muklas menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Muklas malah makin buas menggenjotku. Pak Imam melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.

Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Imam erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Imam. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Imam, dan Muklas menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.

Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh…ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
“Wah…kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami.
Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.

Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama teman-teman cowok di kampus. Lain hari aku akan menceritakan bagaimana jahilnya aku mengerjai teman-teman kuliahku sehingga mereka jatuh ke tangan Pak Imam dan Muklas dan juga pengalaman-pengalamanku lainnya, harap sabar yah, soalnya kan aku juga sibuk tidak bisa menulis terus.