Ganasnya Tanteku, Binalnya Sepupuku 01
Sesaat lamanya aku hanya berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah
tetapi berarsitektur gaya Jawa kuno. Hampir separuh bagian rumah di
depanku itu adalah terbuat dari kayu jati tua yang super awet. Di depan
terdapat sebuah pendopo kecil dengan lampu gantung kristalnya yang antik.
Lantai keramik dan halaman yang luas dengan pohon-pohon perindangnya yang
tumbuh subur memayungi seantero lingkungannya. Aku masih ingat, di samping
rumah berlantai dua itu terdapat kolam ikan Nila yang dicampur dengan ikan
Tombro, Greskap, dan Mujair. Sementara ikan Geramah dipisah, begitu juga
ikan Lelenya. Dibelakang sana masih dapat kucium adanya peternakan ayam
kampung dan itik. Tante Yustina memang seorang arsitek kondang dan
kenamaan.
Enam tahun aku tinggal di sini selama sekolah SMU sampai D3-ku, sebelum
akhirnya aku lulus wisuda pada sebuah sekolah pelayaran yang mengantarku
keliling dunia. Kini hampir tujuh tahun aku tidak menginjakkan kakiku di
sini. Sama sekali tidak banyak perubahan pada rumah Tante Yus. Aku
bayangkan pula si Vivi yang dulu masih umur lima tahun saat kutinggalkan,
pasti kini sudah besar, kelas enam SD.
Kulirik jarum jam tanganku, menunjukkan pukul 23:35 tepat. Masih sesaat
tadi kudengar deru lembut taksi yang mengantarku ke desa Kebun Agung,
sleman yang masih asri suasana pedesaannya ini. Suara jangkrik mengiringi
langkah kakiku menuju ke pintu samping. Sejenak aku mencari-cari dimana
dulu Tante Yus meletakkan anak kuncinya. Tanganku segera meraba-raba
ventilasi udara di atas pintu samping tersebut. Dapat. Aku segera membuka
pintu dan menyelinap masuk ke dalam.
Sejenak aku melepas sepatu ket dan kaos kakinya. Hmm, baunya harum juga.
Hanya remang-remang ruangan samping yang ada. Sepi. Aku terus saja
melangkah ke lantai dua, yang merupakan letak kamar-kamar tidur keluarga.
Aku dalam hati terus-menerus mengagumi figur Tante Yus. Walau hidup
menjada, sebagai single parents, toh dia mampu mengurusi rumah besar
karyanya sendiri ini. Lama sekali kupandangi foto Tante Yus dan Vivi yang
di belakangnya aku berdiri dengan lugunya. Aku hanya tersenyum.
Kuperhatikan celah di bawah pintu kamar Vivi sudah gelap. Aku terus
melangkah ke kamar sebelahnya. Kamar tidur Tante Yus yang jelas sekali
lampunya masih menyala terang. Rupanya pintunya tidak terkunci. Kubuka
perlahan dan hati-hati. Aku hanya melongo heran. Kamar ini kosong
melompong. Aku hanya mendesah panjang. Mungkin Tante Yus ada di ruang
kerjanya yang ada di sebelah kamarnya ini. Sebentar aku menaruh tas ransel
parasit dan melepas jaket kulitku. Berikutnya kaos oblong Jogja serta
celana jeans biruku. Kuperhatikan tubuhku yang hitam ini kian berkulit
gelap dan hitam saja. Tetapi untungnya, di tempat kerjaku pada sebuah
kapal pesiar itu terdapat sarana olah raga yang komplit, sehingga aku kian
tumbuh kekar dan sehat.
Tidak perduli dengan kulitku yang legam hitam dengan rambut-rambut bulu
yang tumbuh lebat di sekujur kedua lengan tangan dan kakiku serta dadaku
yang membidang sampai ke bawahnya, mengelilingi pusar dan terus ke bawah
tentunya. Air. Ya aku hanya ingin merasakan siraman air shower dari kamar
mandi Tante Yus yang bisa hangat dan dingin itu.
Aku hendak melepas cawat hitamku saat kudengar sapaan yang sangat kukenal
itu dari belakangku, “Andrew..? Kaukah itu..?”
Aku segera memutar tubuhku. Aku sedikit terkejut melihat penampilan Tante
Yus yang agak berbeda. Dia berdiri termangu hanya mengenakan kemeja lengan
panjang dan longgar warna putih tipis tersebut dengan dua kancing baju
bagian atasnya yang terlepas. Sehingga aku dapat melihat belahan buah
dadanya yang kuakui memang memiliki ukuran sangat besar sekali dan sangat
kencang, serta kenyal. Aku yakin, Tante Yus tidak memakai BH, jelas dari
bayangan dua bulatan hitam yang samar-samar terlihat di ujung kedua buah
dadanya itu. Rambutnya masih lebat dipotong sebatang bahunya. Kulit kuning
langsat dan bersih sekali dengan warna cat kukunya yang merah muda.
“Ngg.., selamat malam Tante Yus… maaf, keponakanmu ini datang dan untuk
berlibur di sini tanpa ngebel dulu. Maaf pula, kalau tujuh tahun lamanya
ini tidak pernah datang kemari. Hanya lewat surat, telpon, kartu pos,
e-mail.., sekali lagi, saya minta maaf Tante. Saya sangat merindukan
Tante..!” ucapku sambil kubiarkan Tante Yus mendekatiku dengan wajah haru
dan senangnya.
“Ouh Andrew… ouh..!” bisik Tante Yus sambil menubrukku dan memelukku
erat-erat sambil membenamkan wajahnya pada dadaku yang membidang kasar
oleh rambut.
Aku sejenak hanya membalas pelukannya dengan kencang pula, sehingga dapat
kurasakan desakan puting-puting dua buah dadanya Tante Yus.
“Kau pikir hanya kamu ya, yang kangen berat sama Tante, hmm..? Tantemu ini
melebihi kangennya kamu padaku. Ngerti nggak..? Gila kamu Andrew..!”
imbuhnya sambil memandangi wajahku sangat dekat sekali dengan kedua
tangannya yang tetap melingkarkan pada leherku, sambil kemudian
memperhatikan kondisi tubuhku yang hanya bercawat ini.
Tante Yustina tersenyum mesra sekali. Aku hanya menghapus air matanya. Ah
Tante Yus…
“Ya, untuk itulah aku minta maaf pada Tante…”
“Tentu saja, kumaafkan..” sahutnya sambil menghela nafasnya tanpa berkedip
tetap memandangiku, “Kamu tambah gagah dan ganteng Andrew. Pasti di kapal,
banyak crew wanita yang bule itu jatuh cinta padamu. Siapa pacarmu,
hmm..?”
“Belum punya Tan. Aku masih nabung untuk membina rumah tangga dengan
seorang, entah siapa nanti. Untuk itu, aku mau minta Tante bikinkan aku
desain rumah…”
“Bayarannya..?” tanya Tante Yus cepat sambil menyambar mulutku dengan
bibir tipis Tante Yus yang merah.
Aku terkejut, tetapi dalam hati senang juga. Bahkan tidak kutolak Tante
Yus untuk memelukku terus menerus seperti ini. Tapi sialnya, batang
kemaluanku mulai merinding geli untuk bangkit berdiri. Padahal di tempat
itu, perut Tante Yus menekanku. Tentu dia dapat merasakan perubahan
kejadiannya.
“Aku… ngg…”
“Ahh, kamu Andrew. Tante sangat kangen padamu, hmm… ouh Andrew…
hmm..!” sahut Tante Yus sambil menerkam mulutku dengan bibirnya.
Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Yus yang kian binal
melumat-lumat mulutku, mendasak-desaknya ke dalam dengan buas. Sementara
jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku,
terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku. Tidak karuan
lagi, aku jadi terangsang. Kini aku berani membalas ciuman buas Tante Yus.
Nampaknya Tante Yus tidak mau mengalah, dia bahkan tambah liar lagi. Kini
mulut Tante Yus merayap turun ke bawah, menyusuri leherku dan dadaku.
Beberapa cupangan yang meninggalkan warna merah menghiasi pada leher dan
dadaku. Kini dengan liar Tante Yus menarik cawatku ke bawah setelah
jongkok persis di depan selangkanganku yang sedikit terbuka itu. Tentu
saja, batang kemaluanku yang sebenarnya telah meregang berdiri tegak itu
langsung memukul wajahnya yang cantik jelita.
“Ouh, gila benar. Tititmu sangat besar dan kekar, An. Ouh… hmmm..!” seru
bergairah Tante Yus sambil memasukkan batang kejantananku ke dalam
mulutnya, dan mulailah dia mengulum-ngulum, yang seringkali dibarengi
dengan mennyedot kuat dan ganas.
Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang
jemari tangan kirinya meremas-remas buah kemaluanku. Aku hanya
mengerang-ngerang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya. Bagaimana
tidak, batang kemaluanku secara diam-diam di tempat kerjaku sana, kulatih
sedemikian rupa, sehingga menjadi tumbuh besar dan panjang. Terakhir
kuukur, batang kejantanan ini memiliki panjang 25 sentimeter dengan garis
lingkarnya yang hampir 20 senti. Rambut kemaluan sengaja kurapikan.
Tante Yus terus menerus masih aktif mengocok-ngocok batang kemaluanku.
Remasan pada buah kemaluanku membuatku merintih-rintih kesakitan, tetapi
nikmat sekali. Bahkan dengan gilanya Tante Yus kadangkala memukul-mukulkan
batang kemaluanku ini ke seluruh permukaan wajahnya. Aku sendiri langsung
tidak mampu menahan lebih lama puncak gairahku. Dengan memegangi kepala
Tante Yus, aku menikam-nikamkan batang kejantananku pada mulut Tante Yus.
Tidak karuan lagi, Tante Yus jadi tersendak-sendak ingin muntah atau
batuk. Air matanya malah telah menetes, karena batang kejantananku mampu
mengocok sampai ke tenggorokannya.
Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot kemejanya. Aku sangat terkejut
saat melihat ukuran buah dadanya. Luar biasa besarnya. Keringat
benar-benar telah membasahi kedua tubuh kami yang sudah tidak berpakaian
lagi ini. Dengan ganas, kedua tangan Tante Yus kini mengocok-ngocok batang
kemaluanku dengan genggamannya yang sangat erat sekali. Tetapi karena
sudah ada lumuran air ludah Tante Yus, kini jadi licin dan mempercepat
proses ejakulasiku.
“Crooot… cret.. croot… creeet..!” menyemprot air maniku pada mulut
Tante Yus.
Saat spremaku muncrat, Tante Yus dengan lahap memasukkan batang kemaluanku
kembali ke dalam mulutnya sambil mengurut-ngurutnya, sehingga sisa-sisa
air maniku keluar semua dan ditelan habis oleh Tante Yus.
“Ouhh… ouh.. auh Tante… ouh..!” gumamku merasakan gairahku yang indah
ini dikerjai oleh Tante Yus.
“Hmmm… Andrew… ouh, banyak sekali air maninya. Hmmm.., lezaat sekali.
Lezat. Ouh… hmmm..!” bisik Tante Yus menjilati seluruh bagian batang
kemaluanku dan sisa-sisa air maninya.
Sejenak aku hanya mengolah nafasku, sementara Tante Yus masih
mengocok-ngocok dan menjilatinya.
“Ayo, Andrew… kemarilah Sayang.., kemarilah Baby..!” pintanya sambil
berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.
Aku tanpa membuang waktu lagi, terus menyerudukkan mulutku pada celah
vagina Tante Yus yang merekah ingin kuterkam itu. Benar-benat lezat.
Vagina Tante Yus mulai kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan lidahku
menjilat-jilat deras seluruh bagiang liang vaginanya yang dalam. Berulang
kali aku temukan kelentitnya lewat lidahku yang kasar. Rambut kemaluan
Tante Yus memang lebat dan rindang. Cupangan merah pun kucap pada seluruh
bagian daging vagina Tante Yus yang menggairahkan ini. Tante Yus hanya
menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik
tadi, Tante Yus terus-menerus melakukan remasan pada buah dadanya sendiri
sambil sesekali memelintir puting-putingnya. Berulang kali mulutnya
mendesah-desah dan menjerit kecil saat mulutku menciumi mulut vaginanya
dan menerik-narik daging kelentitnya.
“Ouh Andrew… lakukan sesukamu.. ouh.., lakukan, please..!” pintanya
mengerang-erang deras.
Selang sepuluh menit kemuadian, aku kini merayap lembut menuju perutnya,
dan terus merapat di seluruh bagian buah dadanya. Dengan ganas aku
menyedot-nyedot puting payudaranya. Tetapi air susunya sama sekali tidak
keluar, hanya puting-puting itu yang kini mengeras dan memanjang
membengkak total. Di buah dadanya ini pula aku melukiskan cupanganku
banyak sekali. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting
susu Tante Yus secara bergantian, kiri kanan. Aku kini tidak tahan lagi
untuk menyetubuhi Tanteku. Dengan bergegas, aku membimbing masuk batang
kemaluanku pada liang vaginanya.
“Ooouhkk.. yeaaah… ayoo.. ayooo… genjot Andrew..!” teriak Tante Yus
saat merasakan batang kejantananku mulai menikam-nikam liar mulut
vaginanya.
Sambil menopang tubuhku yang berpegangan pada buah dadanya, aku semakin
meningkatkan irama keluar masuk batang kemaluanku pada vagina Tante Yus.
Wanita itu hanya berpegangan pada kedua tanganku yang sambil meremas-remas
kedua buah dadanya.
“Blesep… sleeep… blesep..!” suara senggama yang sangat indah
mengiringi dengan alunan lembut.
Selang dua puluh menit puncak klimaks itu kucapai dengan sempurna,
“Creeet… croot… creeet..!”
“Ouuuhhhkk.. aooouhkk… aaahhk..,” seru Tante Yus menggelepar-gelepar
lunglai.
“Tante… ouhhh..!” gumamku merasakan keletihanku yang sangat terasa di
seluruh bagian tubuhku.
Dengan batang kemaluan yang masih tetap menancap erat pada vagiana Tante
Yus, kami jatuh tertidur. Tante Yus berada di atasku.
