Ganasnya Tanteku, Binalnya Sepupuku 02
Karena kelelahanku yang sangat menguasai seluruh jaringan tubuhku, aku
benar-benar mampu tertidur dengan pulas dan tenang. Entah sudah berapa
lama aku tertidur pulas, yang jelas saat kubangun udara dingin segera
menyergapku. Sial. Aku sadar, ini di desa dekat Merapi, tentu saja dingin.
Tidak berapa lama jam dinding berdentang lima sampai enam kali. Jam enam
pagi..! Dengan agak malas aku beranjak berdiri, tetapi tidak kulihat Tante
Yus ada di kamar ini. Sepi dan kosong. Dimana dia..? Aku terus mencoba
ingin tahu. Dalam keadaan bugil ini, aku melangkah mendekati meja lampu.
Secarik kertas kutemukan dengan tulisan dari tangan Tante Yustina.
Andrew sayang, Tante kudu buru-buru ke Jakarta pagi ini. Udah dijemput.
Ada pameran di sana. Tolong jaga rumah dan Vivi. Ttd, Yustina.
Aku menghela nafas dalam-dalam. Gila, setelah menikmati diriku, dia
minggat. Tetapi tidak apa-apa, aku dapat beristirahat total di sini,
ditemani Vivi. Eh, tapi dimana dia..? Aku segera mengambil selembar handuk
putih kecil yang segera kulilitkan pada tubuh bawahku. Tanpa membuang
waktu lagi aku segera menyusuri rumah, dari ruang ke ruang dari kamar ke
kamar. Tetapi sosok bocah SD itu tidak kelihatan sama sekali. Aku hampir
putus asa, tetapi mendadak aku mendengar suara gemericik air pancuran dari
kamar mandi ruang tamu di depan sana. Vivi. Ya itu pasti dia. Aku segera
memburu.
Kubuka pintu kamar tamu yang luas dan asri ini. Benar. Kulihat pintu kamar
mandinya tidak ditutup, ada bayangan orang di situ yang sedang mandi
sambil bernyanyi melagukan Westlife. Edan, anak SD nyanyinya begitu. Aku
hanya tersenyum saja. Perlahan aku mendekati gawang pintu. Aku seketika
hanya menelan ludahku sendiri. Vivi berdiri membelakangiku masih asyik
bergoyang-goyang sambil menggosok seluruh tubuhnya yang telanjang bulat
itu dengan sabun. Rambut panjangnya tumbuh lurus dan hitam sebatas
pinggang. Berkulit kuning langsat dan nampaknya halus sekali. Kusadari dia
telah tumbuh lebih dewasa.
Air shower masih menyiraminya dengan hangat. Pantatnya sungguh indah
bergerak-gerak penuh gairah. Hanya aku belum lihat buah dadanya. Tanpa
kuduga, Vivi membalikkan badannya. Aku yang melamun, seketika terkejut
bukan main, takut dan khawatir membuatnya kaget lalu marah besar. Ternyata
tidak.
“Mas..? Mas Andrew..?” bertanya Vivi tidak percaya dengan wajah senang
bercampur kaget.
Aku hanya menghela nafas lega. Dapat kuperhatikan kini, buah dadanya Vivi
telah tumbuh cukup besar. Puting-putingnya hitam memerah kelam dan tampak
menonjol indah. Kira-kira buah dadanya ya, sekitar seperti tutup gelas
itu. Seperti belum tumbuh, tetapi kok terlihat sudah memiliki daging
menonjolnya. Sedangkan rambut kemaluannya sama sekali belum tumbuh. Masih
bersih licin.
“Hai vivi, apa kabarnya..?” tanyaku mendekat.
Vivi hanya tersenyum, “Masih ingat ketika kita renang bersama di rumahku
dulu..? Kita berdua kan..? Hmm..?” sambungku meraih bahunya.
Air terus menyirami tubuhnya, dan kini juga tubuhku. Vivi mengangguk
ingat.
“Ya. Ngg.., bagaimana kalau kita mandi bareng lagi Mas. Vivi kangen… mas
andrew.. ouh..!” ujarnya memeluk pinggangku.
Aku mengangkut tubuhnya yang setinggi dadaku ini dengan erat.
“Tentu saja, yuk..!”
Aku menurunkan Vivi.
“Kapan Mas datangnya..?”
“Tadi malam. Vivi lagi tidur ya..?”
“Hm.. Mh..!”
Aku melepas handukku yang kini basah. Saat kulepas handukku, Vivi tampak
kaget melihat rambut kemaluanku yang tumbuh rapih. Segera saja tangannya
menjamah buah kemaluan dan bantang kejantananku.
“Ouh.., Mas sudah punya rambut lebat ya. Vivi belum Mas..,” ujarnya sambil
memperhatikan vaginanya yang kecil.
Tentu saja aku jadi geli, batang kemaluanku diraba-raba dan
ditimang-timang jemari tangan mungil Vivi yang nakal ini.
“Itu karena Vivi masih kecil. Nanti pasti juga memiliki rambut kemaluan.
Hmm..?” ucapku sambil membelai wajahnya yang manis sekali.
Vivi hanya tersipu. Sialnya, aku kini jadi kian geli saat Vivi
menarik-narik batang kejantananku dengan candanya.
“Ihhh.., kenyal sekali… ouh.., seperti belalai ya Mas..!”
Aku jadi terangsang. Gila.
“Belalai ini bisa akan jadi tumbuh besar dan panjang lho. Vivi mau
lihat..?”
“Iya Mas.., gimana tuh..?”
“Vivi mesti mengulum, menghisap-hisap dan menyedotnya dengan kuat sekali
batang zakar ini. Gimana..? Enak kok..!” kataku merayu dengan hati yang
berdebar-debar kencang.
Vivi sejenak berpikir, lalu tanpa menoleh ke arahku lagi, dia memasukkan
ujung batang kejantananku ke dalam mulutnya. Wow..! Gadis kecil ini
langsung melakukan perintahku, lebih-lebih aku mengarahkan juga untuk
mengocok-ngocok batang kemaluanku ini, Vivi menurut saja, dia malah
kegirangan senang sekali. Dianggapnya batang ku adalah barang mainan
baginya.
“Iya Mas. Tambah besar sekali dan panjang..!” serunya kembali
melumat-lumatkan batang kejantananku dan mengocok keras batangnya.
Sekarang Vivi kuajari lagi untuk meremas buah kemaluanku. Aku membayangkan
semua itu bahwa Tante Yus yang melakukan. Indah sekali sensasinya. Tetapi
nyatanya aku tengah dipompa nafsu seksku dari bocah cilik ini. Edan,
sepupuku lagi. Tetapi apa boleh buat. Aku lagi kebelet sekali kini. Yang
ada hanyalah Vivi yang lugu dan bodoh tetapi mengasyikan sekali. Batang
kejantananku kini benar-benar telah tumbuh sempurna keras dan panjangnya.
Vivi kian senang. Aku kian tidak tahan.
“Teruskan Vi, teruskan… ya.., ya… lebih keras dan kenceng…
lakukanlah Sayang..!” perintahku sambil mengerang-erang.
Setelah hampir lima belas menit kemudian, air maniku muncrat tepat di
dalam mulut Vivi yang tengah menghisap batang kemaluanku.
“Creeet… crooot.. creet.. cret..!”
“Hup.. mhhhp..!” teriak kaget Vivi mau melepaskan batang kemaluanku.
Tetapi secepat itu pula dia kutahan untuk tetap memasukkan batang
kemaluanku di dalam mulutnya.
“Telan semua spermanya Vi. Itu namanya sperma. Enak sekali kok, bergizi
tinggi. Telan semuanya, ya.. yaaa… begitu… terus bersihkan
sisa-sisanya dari batangnya Mas..!” perintahku yang dituruti dengan
sedikit enggan.
Tetapi lama kelamaan Vivi tampak keasyikan mencari-cari sisa air maniku.
“Enak sekali Mas. Tapi kental dan baunya, hmm.., seperti air tajin saat
Mama nanak nasi..! Enak pokoknya..! Lagi dong Mas, keluarkan spermanya..!”
Gila. Gila betul. Aku masih mencoba mengatur jalannya nafasku, Vivi minta
spermaku lagi..? Edan anak ini.
“Baik, tapi kini Vivi ikuti perintahku ya..! Nanti tambah asyik, tapi
sakit. Gimana..?”
“Kalau enak dan asyik, mauh. Nggak papa sakit dikit. Tapi spermanya ada
lagi khan..?”
Aku mengangguk. Vivi mulai kubaringkan sambil kubuka kedua belahan pahanya
yang mulus itu untuk melingkari di pinggangku. Vivi memperhatikan saja.
Air dari shower masih mengucuri kami dengan dingin setelah tadi sempat
kuganti ke arah cool.
“Auuuh, aduh.. Mas..!” teriak vivi kaget saat aku memasukkan batang
kejantananku ke dalam liang vaginanya yang jelas-jelas sangat sempit itu.
Tetapi aku tidak perduli lagi. Kukocok vagina Vivi dengan deras dan
kencang sambil kuremas-remas buah dadanya yang kecil, serta menarik-narik
puting-puting buah dadanya dengan gemas sekali. Vivi semakin
menjerit-jerit kesakitan dan tubuhnya semakin menggerinjal-gerinjal hebat.
“Sakiiit.. auuuh Mas.., Mas hentikan saja… sakiiit, perih sekali Mas,
periiihhh… ouuuh akkkh… aouuuhkkk..!” menjerit-jerit mulut manisnya
itu yang segera saja kuredam dengan melumat-lumat mulutnya.
“Blesep.. blesep… slebb..!” suara persetubuhkan kami kian indah dengan
siraman shower di atas kami.
Aku semakin edan dan garang. Gerakan tubuhku semakin kencang dan cepat.
Dapat kurasakan gesekan batang kemaluanku yang berukuran raksasa ini
mengocok liang vaginan Vivi yang super rapat sempitnya. Dari posisi ini,
aku ganti dengan posisi Vivi yang menungging, aku menyodok vaginanya dari
belakang. Lalu ke posisi dia kupangku, sedangkan aku yang bergerak
mengguncangkan tubuhnya naik, lalu kuterima dengan menikam ke atas
menyambut vaginanya yang melelehkan darah.
“Tidak Masss… ouh sakit.. uhhk… huuuk… ouhhh… sakiiit..!”
tangisnya sejadi-jadinya.
Tetapi aku tidak perduli, sepuluh posisi kucobakan pada tubuh bugil mungil
Vivi. Bahkan Vivi nyaris pingsan. Tetapi disaat gadis itu hendak pingsan,
puncak ejakulasiku datang.
“Creeet… crooot.. sreeet… crreeet..!” muncratnya air mani yang
memenuhi liang vaginanya Vivi bercampur dengan darahnya.
Vivi jatuh pingsan. Aku hanya mengatur nafasku saja yang tidak karuan.
Lemas. Vivi pingsan saat aku memasangkan kembali batang kemaluanku ke
posisi dia, kugendong di depan dengan dadanya merapat pada dadaku.
Pelan-pelan kujatuh menggelosor ke bawah dengan batang kemaluanku yang
masih menancap erat di vaginanya.
Itulah pengalamanku dengan Tante Yus dan putrinya Vivi yang keduanya
memang binal itu. Teriring salam untuk Vivi.
