wow
CIANJUR – JAWA BARAT

Salah-salah, Bisa Terperangkap yang Palsu

BILA Anda ke Cianjur dan bertemu seorang gadis dengan tahi lalat di dagu
sebelah kiri, kulit putih, hidung mancung, dan tingginya 165 cm. Dia
adalah Dian, putri salah seorang pegawai bank milik pemerintah di daerah
berhawa dingin itu.

Dian yang baru saja tamat SLTA, terjun ke ‘dunia hitam’ sejak di kelas 1
SLTA. “Pacar saya tidak bertanggung jawab,” katanya. Ia bercerita,
kegadisannya direnggut oleh sang pacar, lalu ditinggal pergi. Ia
kebingungan dan putas asa.

Dalam kondisi yang tidak menentu itu, ia bertemu dengan seorang teman yang
menjanjikan bisa memberikan ketenangan. “Saya diberi pil dengan bayaran Rp
30.000. Saya jadi lupa segalanya,” katanya. Ia kemudian ketagihan.

Dian biasa nongkrong di salah satu diskotek. Ia sering kali mengenakan
T-shirt kuning dan celana hitam. Lalu bagaimana menggaet Dian. Tidak
terlalu susah, “Beliin saja dia 10 butir, pasti dia mau,” kata seorang
germo bernama Helmy. Ketika ditelusuri, ternyata Dian ini memang anak
seorang pejabat bank pemerintah di Cianjur dan tinggal di kawasan elite.
Dian tidak terlalu memilih pasangan, yang penting disediakan pil ‘gila’
itu.

Untuk mendapatkan 10 butir ekstasi. Helmy bisa mengusahakan dalam waktu
sekejap dengan harga Rp 30.000 per butir.

Menurut pengakuan Dian, selain karena perlakuan pacarnya, ia juga merasa
tidak betah di rumah. “Ibu dan bapak sering bertengkar, tanpa saya tahu
penyebabnya,” kata Dian.

Dian belum berniat untuk kuliah. “Orang tua juga tidak memaksa saya, yang
penting saya happy dulu deh,” katanya.

Bila diajak, Dian tidak pernah menuntut bayaran. Ia lebih mengutamakan
bersenang-senang, “Untuk kebutuhan sehari-hari, saya cukup,” ujarnya.

Lain lagi cerita Novi. Gadis berusia 16 tahun ini, memang mencari uang.
Saat ini sekolah di sebuah SLTA swasta di Cianjur. Gadis berkulit putih
dengan tinggi 162 cm, datang ke Cianjur awal 1997 untuk melanjutkan studi.
Dia sendiri berasal dan lahir di sebuah desa, di Kecamatan Sindangbarang,
sekitar 120 kilometer dari Kota Cianjur.

Uang bulanan yang dikirim ayahnya yang menjadi petani, ternyata tidak
mencukupi untuk kebutuhan hidup di Cianjur. “Hanya diberi uang Rp 100 ribu
tiap bulan, sangat tidak cukup untuk seorang gadis seperti saya,” ujarnya.

Setelah satu tahun di Cianjur, dia mulai mengenal yang namanya diskotek
dan kehidupan malam lainnya. Sampai suatu ketika, dia diajak teman sekolah
pria, Michael, ke sebuah hotel di kawasan Puncak dan dikenalkan kepada
pria setengah baya yang menghuni sebuah kamar di hotel berbintang. ‘’Saya
diminta melayani laki-laki itu selama dua jam,'’ kata Novi.

Sejak saat itulah dia menjadi ketagihan, karena mendapat uang secara
mudah. Diakui pula, pertama menerima uang sebesar Rp 200 ribu, itu pun
melalui teman prianya tadi.

‘’Saya sendiri tidak tahu berapa yang diberikan kepada teman pria saya
itu,'’ katanya polos. Selanjutnya, teman prianya itulah yang menjadi
‘manajer’ sampai saat ini.

“Kebetulan Michael di rumahnya punya telepon, jadi segalanya lancar,'’
ungkap Novi, yang mengaku hingga kini masih kos di sebuah kamar ukuran 2 x
3 meter dengan biaya sewa Rp 50 ribu/bulan.

Gadis berwajah oval ini, memasang tarif untuk short time antara Rp 200
ribu hingga Rp 300 ribu. ‘’Tapi kadang-kadang bisa Rp 150 ribu atau Rp 100
ribu bila saya suka kepada yang mem-booking saya,” katanya.

Penghasilannya dibagi 60:40 dengan Michael. Tapi dia tidak mau diajak
menginap. ‘’Takut ketahuan ibu kos,'’ tambahnya.

Umumnya, tarif ABG di Cianjur antara Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.
Selain di diskotek di kawasan Puncak, mereka bisa dijumpai di beberapa
salon kecantikan.

Di daerah itu, ada dua ‘jenis’ ABG, yaitu anak sekolahan dan ABG ‘liar’.
Yang masih sekolah biasanya tinggal di rumah kos atau rumah orang tuanya.
Sedangkan yang ‘liar’ kebanyakan tinggal di rumah kontrakan.

Kendati ciri-cirinya sudah diketahui, untuk bisa bertemu ABG ‘murni’ di
Cianjur memang gampang-gampang susah. Salah-salah, malah bisa bertemu
dengan wanita yang menyamar sebagai ABG.

Besarnya minat para hidung belang kepada ABG ini justru dimanfaatkan
germo-germo di lokalisasi WTS. Mereka mendandani WTS muda usia, dan
meng-up grade-nya seolah-olah WTS itu pelajar yang sering pula
menyebut-nyebut nama sekolah tertentu. Harga WTS itu kemudian menjadi
mahal dan menjadi saingan para ABG. Tidak jarang para WTS itu mangkal di
kafe-kafe dan diskotek dengan lagak seorang pelajar.

ABG tidak ‘bertindak’ sendiri-sendiri, selalu menggunakan perantara.

Para germo, juga dari kalangan pelajar atau karyawan. Ruddy, 28 tahun,
misalnya karyawan sebuah BUMN di Cianjur, menjadi perantara ABG berawal
dari rapat kerja badan usahanya tempat dia bekerja yang dihadiri pejabat
di tingkat pusat.

‘’Saat itu saya disuruh pimpinan saya di Cianjur untuk mencari sedikitnya
delapan ABG yang bisa dikencani bos-bos dari Jakarta,” katanya.

Memang, awalnya cukup rikuh, tapi lama-lama jadi terbiasa ‘’Setiap ada
meeting/rapat kerja yang memerlukan partai besar, saya selalu dihubungi,
baik itu dari perusahaan saya sendiri maupun instansi lain yang
membutuhkan. Tapi saya lihat-lihat dulu orang yang menghubungi saya, bisa
dipercaya atau tidak,'’ kata Rudy.

Seorang karyawan hotel di kawasan puncak, Andri, juga sering menjadi
pemasok ABG bagi tamu-tamu hotelnya baik rombongan maupun perseorangan.
“Biasanya jika hendak memesan, harus satu hari sebelumnya,'’ kata Andri.

Alasannya, dia harus mengontak dulu para ABG itu masing-masing di
sekolahnya. Ia tidak segan-segan menyebut nama-nama sekolah para ABG yang
bisa dihubungi.

“Biasanya kami ketemu di warung-warung sekitar sekolah, dan saya mengaku
sebagai keluarga mereka dari daerah. Setelah itu kami janjian ketemu di
suatu tempat,'’ kata Andri.

Biasanya tempat rendezvous berikutnya di sebuah restoran di bilangan Jl
Mangunsarkoro atau di salon-salon kecantikan.

Selain menggunakan jasa germo terselubung, kalangan ABG bisa dijumpai di
diskotek-diskotek di kawasan Cipanas, Puncak, setiap malam Sabtu dan
Minggu. Mereka biasanya bergerombol dan membawa teman pria yang berfungsi
sebagai perantara. (Bersambung9)

BATAM- SUMUT.

“SAYA hanya mencari uang,” kata Tati. Gadis berusia 15 tahun itu, bisa
ditemukan di salah satu karaoke di Nagoya, Pulau Batam. Ia dipajang dalam
etalase dengan nomor dada 16.

Di dalam etalase, Tati selalu tersenyum. Ia sengaja duduk dengan
menopangkan kaki kakan di atas kaki kirinya, sehingga rok mini yang
dikenakan sedikit tersingkap.

Bagaimana cara berkenalan dengan Tati? Seorang petugas di tempat itu akan
dengan gampang memanggil Tati ke luar etalase, jika menyebut angka yang
terpampang di dadanya. Bukan hanya Tati, puluhan gadis lain yang dipajang
di tempat itu, bisa keluar dengan sekali menyebut angka.

Belakangan ini, Batam sudah menjadi ‘gudang’ pelacur ABG. Jumlahnya bisa
mencapai ribuan orang. Para gadis berusia antara 14 sampai 19 tahun ittu
ditampung di ratusan rumah toko (ruko) di kawasan Nagoya dan Sei Jodoh.
Pada malam hari, mereka menjadi ‘pemikat’ di sekitar 30 tempat hiburan
yang tersebar di Batam.

Umumnya tempat hiburan seperti diskotek, karaoke, panti pijat, menyimpan
sekitar 50 sampai 100 orang wanita muda yang masih tergolong ‘anak baru
gede’ (ABG) sebagai karyawan untuk menjaring tamu-tamu yang haus hiburan.

Kecuali pub, hampir semua tempat hiburan menyimpan wanita. Meski tidak
langsung terlihat di etalase tempat hiburan, karena ada larangan dari
pemerintah dan Otorita Batam, namun hampir tidak ada tempat hiburan yang
tidak menyediakan wanita.

Di setiap tempat hiburan itu, para ABG dikordinasi oleh seorang germo,
yang biasa dipanggil dengan sebutan mami. Jika ada yang memesan, si mami
dengan gampang menuntun para ABG seperti Tati untuk duduk di samping pria.

Tati mengaku, berasal dari sebuah desa di Jawa Barat. Ia datang ke tempat
itu bertujuan mencari uang sebanyak mungkin. Untuk itu ia belajar berbagai
hal, termasuk memilih parfum yang bisa memancing gairah pria. Ia juga
sudah pandai menyanyi.

Tati juga sudah terbiasa menyapa orang dengan bahasa yang sangat santun.
Bila bicara dengan pria, dia selalu merapatkan mulutnya ke telinga lawan
bicaranya, dengan napas agak diembuskan. “Itu cara mengundang pria,”
katanya.

Dengan berbagai cara, Tati selalu berupaya agar pria yang ditemani bisa
langsung mengajaknya ke ‘lantai atas’. Sebutan untuk tempat tersedianya
kamar tidur.

“Semakin banyak pria yang saya temani, semakin besar penghasilan saya,”
katanya. Itu makanya, Tati selalu mencari akal agar pria yang didampingi
bisa segera di ajak ke ‘lantai atas’.

Sebagai wanita pencari uang, Tati tidak pernah memilih teman kencannya.
Dia bersedia menerima siapa saja, “Saya sering melayani pria tua dari
Singapura,” katanya.

Tati merasa betah di tempat itu. Sejak datang dari Jawa Barat, Tati telah
dua kali memperpanjang kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja. Satu
ikatan kontrak lamanya empat bulan. Sepanjang waktu itu, dia tidak boleh
keluar kecuali seizin mami atau diboking pria.

“Kontrol terhadap kami sangat ketat, sehingga tidak bisa sesuka hati pergi
ke suatu tempat,” katanya. Germonya, harus tetap mengetahui di mana posisi
mereka setiap saat, karena kadang-kadang ada ‘pesanan’ mendadak.

Di perusahaan itu, ada sekitar 80-an wanita seperti Tati. Untuk membawa
mereka selama 1 malam, harus membayar Rp 300.000. Mereka boleh dibawa sore
hari atau malam hari, sampai besok harinya paling lambat pukul 09.00 WIB.

Mereka hanya memperoleh sebagian kecil dari tarif yang dikenakan oleh
pengelola hiburan. Itu sebabnya, para ABG banyak yang memilih untuk
tinggal di luar agar gampang menjaring pelanggan tanpa ikatan.

“Kami hanya mendapat Rp 40.000 untuk short time, sementara untuk satu
malam, kami hanya mendapat Rp 100.000,” ujar Iis, 16 tahun. Pengaturan
tarif sebesar itu dilakukan karena untuk short time, perusahaan memberikan
Rp 40.000 untuk sewa kamar, Rp 20.000 bagi sopir taksi atau pengantar, dan
Rp 60.000 ke perusahaan.

Setelah uangnya terkumpul, mereka biasanya pulang kampung. “Tapi tidak
selalu banyak dibawa ke kampung, karena banyak potongan tinggal di sini,”
ujar Titi, 18 tahun. Pada masa kontrak empat bulan lalu, Titi mengaku
hanya membawa uang sebesar Rp 2 juta ke kampung.

Wanita berkulit kuning langsat itu mengakui dirinya memang boros.
Majikannya sering membawa pakaian-pakaian yang menarik dan dibagikan
kepada mereka, yang mengambil harganya dihitungkan pada akhir masa
kontrak. Umumnya harga pakaian itu jauh di atas harga normal.

Akibat pemerasan oleh majikan itu, banyak ABG yang melarikan diri, “Karena
tidak ada uang masuk, sementara biaya hidup di sini semakin tinggi,” ujar
Yayang, 17 tahun. Semula, wanita penghuni karaoke tempat Yayang bekerja
berjumlah 120 orang, sekarang tinggal 60 orang.

Di luar tempat hiburan, terdapat ABG yang memang berasal dari Batam atau
daerah sekitarnya dan masih sekolah di SLTA. Tapi jumlahnya hanya sedikit.
Mereka bisa ditemukan di pusat keramaian Nagoya, Pelita, dan Jodoh, Batam
Timur.

ABG-ABG itu juga biasa mangkal di sejumlah diskotek, Lucky Plaza dan
hotel-hotel. Cirinya, mereka menggunakan pakaian dengan dada terbuka,
sepatu hak tinggi, serta menyandang tas kecil di punggung. Mereka keluar
dari rumah sekitar pukul 21.00 WIB hingga tengah malam.

Konsumen wanita ABG ini cukup beragam. Mulai dari pemuda yang bekerja di
sejumlah industri atau sektor informal, hingga pria tua bangka dari
Singapura atau Malaysia.

Bahkan sejumlah pria berumur dari Singapura menjadikan para ABG itu
sebagai istri simpanan.

Mereka diberi biaya hidup yang memadai, yakni mulai dari Sin$500 per bulan
hingga Sin$1.500 per bulan. Atau jika dirupiahkan, para istri simpanan itu
akan menerima tunjangan biaya hidup sebesar Rp 1 juta hingga Rp 4 juta per
bulan.

Mereka akan berada kembali di ‘remang’ malam begitu ’suaminya’ pulang ke
Singapura. Para istri simpanan itu, tidak terlalu susah digaet. Mereka
bisa diajak ke diskotek hanya dengan modal ekstasi.

Manado - Sulawesi Utara

SYENY marah-marah ketika seorang pria memberinya uang setelah selesai
berkencan, “Memangnya saya pelacur. Saya tidak sudi dibayar,” katanya
dengan nada tinggi, sambil bergegas meninggalkan kamar sebuah hotel di
Manado, Sulawesi Utara.

Gadis berusia 16 tahun, siswa sebuah SMU di Manado itu, menceritakan
pengalamannya berkencan dengan seorang eksekutif muda, hanya untuk mencari
pengalaman.

“Biasanya orang yang lebih dewasa, lebih berpengalaman,” ujarnya.
Pengalaman yang hendak ditimba dari pria dewasa, akan ‘ditularkan’ lagi
kepada pacarnya.

Syeny biasa berkeluyuran dari satu diskotek ke diskotek lainnya. Bila akan
menggaet ‘mangsa’ di dalam diskotek, Syeny selalu mencari pria yang duduk
sendirian. “Saya ajak dia berbincang-bincang. Biasanya berakhir di kamar
hotel,” ujarnya.

Ia tidak mau mendekati sembarangan pria. Pilihannya, yang kelihatan
berwibawa, dewasa, necis, dan ganteng. Pria dengan ciri-ciri seperti itu,
menurut Syeny, tidak perlu diragukan lagi, pasti kantongnya tebal, “Tapi
saya tidak pernah mengincar kantong pria. Tapi saya percaya, pria
berkantong tebal pasti memiliki banyak pengalaman dengan wanita. Itu yang
ingin saya dapatkan,” tuturnya.

Gadis berkulit bersih itu berterus terang bahwa dirinya agak ‘gila’ seks.
Pertama kali, ia melakukan hubungan seks dengan pacarnya setelah menonton
VCD porno di rumahnya. Hubungan kedua, ketiga, sampai kelima kali tetap
dilakukan dengan sang pacar. Tetapi Syeny merasakan tidak ada variasi,
tidak seperti yang ditonton di VCD.

Didorong oleh keinginan mendapatkan ‘perubahan’ ia mencoba-coba mendekati
pria yang sedang menyendiri di sebuah diskotek, “Rasanya memang berbeda,”
ujarnya. Setelah itu, Syeny pun terperangkap dalam pelukan sejumlah lelaki
hidung belang.

Bicara soal diskotek, Syeny memang anak diskotek. Ia sudah menjelajah
semua diskotek yang ada di Manado. Ia acap kali masuk ke tempat hiburan
itu bersama pacarnya. “Tapi sekarang saya ke diskotek bersama teman-teman
wanita. Kadang-kadang juga sendiri,” tuturnya.

Ketika ia mengincar seorang pria di dalam diskotek, teman-temannya pun
melakukan hal serupa. Tetapi teman-temannya kebanyakan bertujuan mencari
uang, “Sekadar tambahan uang jajan,” kata Sisca.

Tarif yang dipasang para ABG itu bervariasi antara Rp 100.000 sampai Rp
300.000. Soal tarif, tergantung tampang dan sikap pria. Bila ganteng dan
menyenangkan, bisa dapat harga murah.

Tidak setiap malam mereka bisa mendapatkan pria, karena harus bersaing
dengan wanita lain yang memang sudah terkoordinasi dengan rapi, “Kami
harus bergerilya, dan berpura-pura sudah mengenal pria yang kami dekati,”
kata Sisca.

Selain di diskotek, mereka juga sering bergentayangan di mal. Salah satu
mal yang dijadikan tempat mangkal para gadis ABG di Manado, adalah mal di
Jl Sam Ratulangi, yang berhadapan persis dengan markas Korem 131/Santiago.

Di mal tersebut, mulai tengah hari sampai menjelang tutup, banyak gadis
ABG yang berkeliaran. Cara mereka memancing pria nakal, berpura-pura
menunggu seseorang sampil berusaha tersenyum bila bertatapan dengan
seorang pria.

Di tempat-tempat terbuka seperti di mal-mal, para ABG Manado biasanya
mondar-mandir. Cara jalan mereka persis sedang beraksi di atas cat-walk.
Dan untuk mendapatkan mereka, tak perlu main kucing-kucingan. Biasanya
diawali dengan makan bersama atau belanja. Seterusnya, terserah Anda, bisa
di motel di luar kota, atau di hotel.

Para pria yang sering berkencan dengan ABG pun sudah hafal betul gaya
mereka. Bila menjumpai ABG yang tersenyum, langsung didekati dan ngobrol
‘ngalor-ngidul’ sebentar, kemudian mencari tempat.

Menurut Meity, gadis ABG yang mangkal di mal tersebut, paling enak
menggaet pria yang dari luar kota, “Biasanya saya berpura-pura menyapanya.
Bila ada tanda-tanda dia suka, ya kami berangkat. Biasanya saya yang
menentukan tempatnya, kalau dia tidak tinggal di hotel,” katanya.

Uang yang diperoleh Meity setiap bulannya bisa mencapai Rp 1 juta. Ia
tidak bisa menghitung penghasilan harian, “Kan tidak setap hari. Lagi pula
saya tidak serius mencari uang dengan cara ini, hanya iseng,” kata gadis
berambut pendek, berusia 18 tahun itu.

Bicara mengenai uang, memang agak peka di kalangan ABG Manado, “Jangan
pernah bicara uang saat sebelum, sedang, maupun sesudah main. Itu tabu.
Kalau memang mau kasih, silakan,” ujar Joice, 17 tahun, rekan Meity.

Salah seorang pria yang sering berkencan dengan ABG mengatakan, ia hampir
tidak pernah mengeluarkan uang dalam berkencan dengan ABG. Ia mengeluarkan
uang paling untuk membeli makanan dan sewa kamar hotel.

“Di sini yang diperlukan adalah semangat hunting. Daya juang seorang
pemburu memang diuji di Manado. Seorang pemburu terkadang tak perlu modal
uang, tetapi kewibawaan dan kecerdikan. Sebab, ABG di Manado sangat sok
gengsi. Mereka berani melempar bundelan uang jutaan ke luar mobil, bila
tersinggung. Mereka tidak gila duit. Jangan bergaya sok kaya di hadapan
mereka. Wajar-wajar saja, necis, dan sopan,” kata Ruddy, 45, seorang
eksekutif muda yang cukup berpengalaman bergaul dengan para ABG itu.

Wilayah operasi para ABG Manado memang tak sulit dijumpai. Selain lokasi
di seputaran mal di Jalan Sam Ratulangi, baik di luar maupun di dalam
gedung, para ABG Manado dapat pula ditemui di sejumlah kafe di Manado
Boulevard, atau di beberapa tempat hiburan malam.

Sangat sulit menjumpai mereka di hotel-hotel berbintang. “Itu sudah
pasarannya wanita bayaran,” ujar Joice.

Joice menuturkan, ia tidak mau dibawa terlalu lama, apalagi diajak ke luar
kota, “Saya mesti ada di rumah paling lambat pukul 19.00,” kata Joice. Ia
tidak mau orang tuanya mencurigainya.

ABG Manado senang ‘bermain’ dengan para eksekutif muda dan tanpa harus
dibayar, selain untuk kepuasan, juga ada sesuatu yang cukup besar yang
mereka incar, yaitu pekerjaan.

“Banyak juga kawan kami yang bisa memperoleh pekerjaan di beberapa
perusahaan bonafid, apakah itu di Manado, Bitung, bahkan di Jakarta dan
kota-kota lainnya, hanya karena makin akrab berhubungan dengan para
eksekutif muda,” ungkap Meity.