wow
KALIMANTAN TIMUR

“DI SEMAK-semak saja,” kata Elin, ketika diajak melanjutkan ‘acara’ ke
sebuah hotel di Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan, Kalimantan
Timur. Ia merasa tidak aman masuk ke hotel dengan pakaian sekolah.

Gadis dari pedalaman Kalimantan yang berusia 17 tahun itu bercerita, ia
biasa berkencan di balik pohon. “Saya tidak biasa di hotel. Di tempat lain
juga boleh, pokoknya jangan di hotel. Di semak-semak juga tidak apa-apa,
tidak ada yang lihat. Kan cuma sebentar,” katanya.

Umumnya kencan dilakukan di semak-semak, atau di balik pohon, di tempat
kost bila siang hari, atau di atas kapal yang banyak bertambat di daerah
ini, atau bahkan di dalam mobil.

Para ABG paling takut bila diajak kencan di hotel maupun penginapan
setempat. Kalaupun bersedia, maunya hotel atau penginapan di Kota Madia
Turakan, sekitar satu jam setengah dari Tanjung Selor, bila menggunakan
long boat.

ABG yang bisa diajak kencan di Tanjung Selor, banyak berkeliaran menjelang
masa ulangan umum. Menurut Elin, banyaknya ABG yang ‘turun ke jalan’ pada
saat-saat seperti itu karena mereka membutuhkan uang untuk keperluan
sekolah.

Elin mengakui bahwa mereka yang dari pedalaman sangat kekurangan uang.
Untuk membiayai kehidupan sehari-hari memang mencukupi, tapi bila
kebutuhan uang mulai agak besar seperti menjelang ulangan umum atau ujian,
mereka hampir tidak berdaya. Orang tuanya yang berada jauh di pedalaman
hanya petani atau peladang berpindah.

Ketika berangkat dari kampung halamannya untuk melanjutkan sekolah ke
kota, mereka memang sudah dipersiapkan sedemikian rupa oleh orang tuanya
agar terhindar dari ‘malapetaka’ kehamilan. Seperti Elin misalnya, untuk
‘menjaga diri’ agar tidak hamil, oleh ibunya ia diberikan jarum yang sudah
dimantera-mantera.

Setiap hari menjelang keluar rumah atau mau berkencan, ia merendam jarum
bermantera itu ke dalam segelas air, lalu airnya diminum. Sampai sekarang,
Elin aman-aman saja kendati sudah berkali-kali melakukan hubungan seks.

“Berbahaya bila tidak minum air jarum,” katanya. Ia menceritakan
pengalaman temannya yang kehilangan jarum bermantera, setelah berkencan
temannya itu hamil dan melahirkan anak tanpa ayah. Kemudian menjadi
pelajar di Tarakan.

Banyak sudah gadis remaja di kota itu karena terlalu sering melakukan seks
bebas, kemudian terjerumus menjadi pelacur. Menurut Elin, selain karena
persoalan tersebut, banyaknya ABG menjadi pelacur karena ulah sejumlah
oknum aparat.

Para ABG itu, tadinya merasa aman bila berhubungan dengan mereka, yang di
sana dikenal dengan istilah kombet. Para kombet, awalnya melindungi mereka
dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tapi ujung-ujungnya para
gadis itu dijual.

Seperti pengalaman Inge, juga berhenti dari SLTA saat mengetahui ada janin
bayi dalam perutnya, ‘hadiah’ dari seorang oknum aparat kepolisian dari
satuan provost. Pacaran tetap berlanjut, hingga menyeberang ke Tawan,
Malaysia.

Di Tawan, janinnya digugurkan. Sementara sang pacar bolak-balik
Tawan-Tanjung Selor karena masih berdinas di Polres Bulungan. Singkat
cerita, menurut Inge yang masih takut menyebutkan nama pacarnya tersebut,
Inge dijual kepada para hidung belang di Tawan, berkisar seharga 200
hingga 250 ringgit Malaysia atau berkisar Rp 360 ribu hingga Rp 450 ribu
untuk setiap kali kencan.

Menurut Inge, jaringan penjualan gadis ABG ke Tawan cukup rapi. Pada
pedagang gadis lengkap dengan mata-mata dan tukang pukulnya. Mereka
umumnya orang Indonesia yang memiliki kebebasan keluar masuk ke negara
tetangga itu. Harga seorang wanita, dihargai cukong 4.000 ringgit atau Rp
7,2 juta (satu ringgit Rp 1.800).

Tapi saat ini Inge sudah lepas dari cengkeraman kombet. Inge melarikan
diri dan lolos kembali ke kampung halamannya, ketika para tukang pukul
berpesta, menikmati hasil penjualan wanita.

Selain ditempatkan di hotel-hotel di Tawan, juga ada yang dijual lagi ke
cukong di Singapura, Sandakan, dan Kinabalu.

Menurut pengakuan Inge, memikirkan melarikan diri dari sarang maksiat,
muncul saat Inge sedang haid namun dipaksa melayani tamu. Karena Inge
menolak, ia lalu dipukuli dan dicaci maki, perlakuan yang sama juga
dialami wanita-wanita lainnya.

Inge belum berani mengungkapkan siapa-siapa oknum yang terlibat dalam
penjualan wanita-wanita, dia hanya menjelaskan di antara rekan-rekan
wanitanya waktu masih di Tarakan, Tanjung Selor, maupun asal Pulau Jawa,
rata-rata terbujuk dengan janji dapat kerja dengan gaji besar. Hal itu
dibuktikan si pembawa dengan membelikan pakaian mewah dan pehiasan emas.

Namun setelah berada di sana, pakaian dan perhiasan dipreteli untuk
diambil lagi. Hasil kencan dengan tamu juga diambil. Mereka dilarang kirim
surat ke keluarga.

Lain lagi cerita ABG di Samarinda, mereka rata-rata anak putus sekolah
dengan usia 14 sampai 17 tahun. Setiap hari mereka bisa ditemukan di
sepanjang tepian Mahakam, terutama di Jl Slamet Riady atau lebih dikenal
dengan sebutan Karang Asam.

Pria yang singgah di sana, ditawari oleh sejumlah wanita untuk minum
sambil makan jagung manis. Kepada tamu, mereka hampir selalu mengatakan,
“Mampir Mas, sambil minum dan bercinta.” Kata ‘bercinta’ itulah yang
menjadi daya tarik.

Pada pukul 19.00 hingga 21.30 di tempat itu biasa nongkrong anak sekolah.
Di antaranya Yeyen berusia 17 tahun. Kepada tamu, ia sering kali minta
diantar pulang.

Dalam perjalanan, Yeyen berkata, ‘’Eh… baru jam delapan malam, bagusnya
kita ke mana ya?'’ Penghuni rumah kost di Jalan Rahui Rahayu itu pulang
sekitar pukul 22.00.

Di tepian Mahakam, menurut Yeyen ada empat ABG berstatus pelajar. Mereka
adalah teman-teman sekolahnya. Semua temannya terjun ke dunia pelacuran,
bukan karena kekurangan uang, tapi didorong oleh kebiasaan menelan
ekstasi.

Selain mendapat ekstasi, mereka juga bisa mengantongi uang. Bila malam
Minggu, penghasilannya berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu.
“Saya biasanya hanya sanggup melayani dua orang,” kata Yeyen.

MAKASAR - SULAWESI

Berbeda lagi dengan Ogi, menggeluti dunia pelacuran memang semata-mata
karena butuh uang untuk hidup. Anak bungsu dari dua bersaudara ini, orang
tuanya hanya daeng becak (tukang becak).

Gadis berparas cantik ini, dalam usia yang sudah 16 tahun, hidupnya lebih
mapan. Ia memiliki handphone dan pakaian serta alat kecantikan yang
diapakai dari merek-merek terkenal.

Ia adalah salah satu penghuni Losari, yang oleh teman-temannya dianggap
sudah ’sukses’, karena sudah pernah kawin kontrak dengan seorang pria
warga negara Jepang.

Ia meninggalkan Pantai Losari, karena mendapat lokasi lain yang lebih
menjanjikan, “Ada yang mengajak saya kerja sebagai pelayan di salah satu
karaoke,” katanya.

Berangkat dari situ, ia ingin meraih ‘prestasi’. Ia ingin memerankan peran
ganda baik sebagai pelayan bir maupun sebagai budak nafsu. “Mulanya saya
ragu menawarkan diri,” katanya. Namun alangkah girangnya bukan main ketika
seorang warga negara keturunan Tionghoa memberinya uang Rp 200.000 setelah
diajak kencan.

Selain di tempat itu, mereka juga bisa ditemui di bioskop Studio 21 atau
di pinggir Jalan Dr Sam Ratulangi. Salah satu ABG yang mangkal di Jl Sam
Ratulangi, Ogi, 18 tahun. Ia hanya mau diajak kencan oleh orang-orang
gedongan dengan imbalan Rp 250.000 hingga Rp 400.000.

“Gengsi dong kencan dengan sembarang orang,” katanya. Dengan demikian,
wajar jika bisa memakai handphone serta pakaian bermerek lainnya. “Kalau
bukan di hotel saya tidak mau kencan,” katanya. Paling tidak, hotel kelas
melati.

Sebenarnya, Ogi bukanlah berasal dari kalangan keluarga miskin. Tetapi
mengapa sampai terjerumus ke lembah nista? Menurut dia, akibat kegagalan
membina hubungan dengan kekasihnya, telah membuatnya kehilangan harapan.
Yang membuatnya lebih sakit, karena yang merebut kekasihnya itu adalah
keluarganya sendiri. Akhirnya lari dari rumah untuk hidup di ‘alam bebas’,
“Saya sekarang ngontrak rumah,” katanya.

Ia kini telah hidup sebagai istri peliharaan dari seorang pengusaha
berkewarganegaran Tionghoa, selain juga berkencan dengan banyak pria.

Cici, 16 tahun juga memasang tarif cukup mahal, Rp 250 ribu sekali kencan.
Penampilan sama sekali tidak mengesankan sebagai etek. Bahkan bisa
dibilang sangat sopan. Ia juga tidak ingin menjajakan diri secara terbuka.
“Saya tidak biasa mangkal di tempat terbuka,” katanya. Selama ini ladang
operasinya, lebih banyak menjaring mangsa di night club seperti Ziqzaq di
Makassar Golden Hotel (MGH) atau di M Club Kawasan perumahan elite
Panakukang Mas.

Etek ‘elite’ ini, dalam beroperasi memiliki kata sandi. Biasanya mereka
mengatakan mau ke ATM jika ditanya oleh rekan-rekannya saat ke luar dari
rumah, “ATM, kan identik dengan uang,” tutur Cici.

Menurut dia, sudah banyak pria yang mengajaknya kencan di berbagai hotel,
kelas melati maupun berbintang. Ia menyebut beberapa hotel seperti yang
terletak di Jl Emy Saelan, Jl Cenderawasih, Jl Bhayangkara, Jl Penghibur,
dan Jl Dr Samratulangi. Soal tarif, bagi pria yang tidak begitu dikenalnya
tidak ada kompromi. “Nginap bisa Rp 400.000. Kalau hanya dua sampai tiga
jam saja, Rp 250.000 sampai Rp 300.000,” ujarnya.

Bagi Cici, tidak semua uang diperolehnya berasal dari ‘hasil keringat’
begituan, “Ada juga ngasih uang karena pertemanan,” ujar. Pengalamannya,
tidak semau laki-laki hidung belang yang mengajak kencan langsung masuk
kamar. “Keliling kota dulu atau menikmati hidangan di warung atau
restauran,” ujarnya lagi.

Cara mencari mangsa, tidak terang-terangan. Mereka tetap berusaha menahan
diri. Biasanya diawali obrolan basa-basi di dalam night club, “Lelaki yang
punya pengalaman, tentu langsung bisa menangkap apa arti obrolan itu,”
ujar Cici.

Mereka juga bisa mencari mangsa melalui germo atau cukung. Salah seorang
cukong, Sun, 26, tahun mengaku mendapat penghasilan Rp 50.000 tiap malam,
“Satu wanita komisinya Rp 10.000,” ujarnya.

Sun yang kawasan operasinya di Makassar Golden Hotel (MGH) tidak sungkan
mempromosikan ‘produknya’, “Ada namanya Yana, Evi. Semuanya anak belasan
tahun yang penampilannya oke,” katanya.

Menurut Cici, yang paling tidak menyenangkan kencan dengan pria, kalau
menuntutnya macam-macam, seperti oral seks atau melalui bagian ‘belakang’.
Karena segan lantaran sudah dibayar, biasanya dipenuhi juga, “Sebenarnya
jijik. Tapi cara mengatasinya, merem aja,” ujarnya.

PALEMBANG

‘Membaca’ Sinyal di Jl Merdeka

TENGAH hari, sekitar pukul 12.30, saat bubaran sekolah, sejumlah siswi
bergerombol di Jl Merdeka. Di antara mereka ada yang memberi sinyal kepada
kendaraan pribadi yang melintas.

Apa isyaratnya? Siswi yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu
melemparkan senyuman ke arah kendaraan. Begitu disambut dengan klakson dan
berhenti agak jauh, dia akan menghampiri dengan sedikit malu-malu.

Salah satu di antaranya, adalah Fitri. ABG berusia 16 tahun, yang tinggal
di kawasan Talang Semut, Palembang itu, bercerita hampir setiap hari
menjaring mangsa di tempat tersebut.

“Siapa yang tidak tahu Jl Merdeka, sudah terkenal sekali. Dapat dipastikan
hampir semua pria yang melintas di jalan itu pada tengah hari, sedang
mencari sesuatu yang bisa diajak,” kata siswi kelas II sebuah SMU swasta
di Palembang itu.

Menurut pengakuan Fitri, dipilihnya teman kencan yang bermobil hanya untuk
lebih memudahkan bernegosiasi karena lebih aman dan terlindung
kerahasiaan. “Biar begini, kami ini masih punya rasa malu. Harus bedakan
dengan WTS,” kata Fitri sembari mengepulkan asal rokok mentolnya.

Memang, ciri-ciri gadis ABG yang menjual diri di kawasan Merdeka tidak
begitu kentara, apalagi ketika di tengah-tengah gerombolan teman-temannya.
Tapi, bila suasana agak sepi, maka tampak kelompok-kelompok remaja putri
masih bercengkrama di pinggir jalan. Biasanya mereka ngobrol di bawah
pohon sambil melihat orang berlalu lintas. Nah, bila ada mobil jalan
perlahan-lahan dan berhenti agak jauh dari tempat mereka, selanjutnya para
ABG pelan-pelan sembari malu-malu mendekati mobil tersebut.

Tanpa basa-basi, ABG mereka langsung membuka pintu mobil, seolah-olah
mobil jemputannya. “Kami langsung kenalan dan nego tentang tarif,” cerita
Juli, 15, siswa SMA swasta di Jl Merdeka dengan polos.

Gadis mungil ini mengaku, dirinya biasa dibawa ke sebuah hotel di JL Kol
Barlian arah Bandara Sultan Machmud Badarudin II. “Tapi tidak boleh
terlalu lama, biar tidak dicurigai orang tua,” katanya. Paling lama dia
hanya bersedia dibawa selama dua jam.

Hari Sabtu dan Minggu siang mereka agak leluasa. “Habis belajar, aku dan
kawan-kawan pasti pergi ke disko pada hari Sabtu. Makanya, dalam tas sudah
disiapkan pakaian ganti seperti celana jins dan kaus oblong,” kata Fitri
yang ditemui di diskotek Hotel Princess, Palembang.

Senada dengan Fitri, rekannya bernama Uci, 15, mengungkapkan, keluyuran di
diskotek setiap Sabtu merupakan hiburan semata-mata. “Tapi kalau ada yang
mengajak kencan, boleh-boleh saja, asalkan sama-sama memberi keuntungan,”
ujar Uci.

Ia berterus terang mengenai latar belakang terceburnya dia dan kawannya ke
bisnis kenikmatan sesaat ini, karena tergoda ekstasi. Fitri dan Uci
bersama tiga kawannya yang ABG di diskotek itu, terus mengoyang-golyangkan
kepala dan badannya di tengah ingar bingar musik ‘gedek-gedek’ (house
music), yang sambung-menyambung. Itu tanda mereka sedang triping.

Diskotek tersebut memang ‘gudang’ gadis ABG. Pekan lalu, saking
membludaknya, tak ada ruang lagi, ratusan ABG yang memenuhi diskotek di
lantai V, hotel di kompleks pertokoan Ilir Barat Permai itu, tidak leluasa
lagi berimprovisasi dalam menggoyangkan badannya.

Entah kapan mulainya para ABG di Palembang melakukan bisnis esek-esek.
Tapi, yang jelas fenomena ini mulai marak sejak krisis moneter melanda.
Jumlah ABG yang berpraktek sampingan, semakin hari semakin bertambah. Di
pusat-pusat keramaian ABG ini terlihat jelas seperti di Jl Merdeka mulai
dari kediaman Wali Kota Palembang hingga ke kantor Pemda Tk II Palembang,
diskotek Hotel Princess, Hotel Lembang, Dharma Agung, Dian Cottages, dan
di kawasan Jalan Pagaralam.

Fitri maupun Uci, keluarganya yang tergolong orang terpandang di
Palembang, tidak sembarangan memilih teman kencan. “Duit bukan tujuan
utama, yang penting kita bisa sama-sama happy. Ya, apalagi kalau bukan
dengan triping,” tambah Fitri, yang selalu memberi tahu orang tua bahwa
setiap Sabtu dirinya ikut les pelajaran bahasa Inggris.

Ada juga ABG yang memang tujuan utamanya mengejar uang, “Saya mau kalau
dikasih uang Rp 100 ribu sekali kencan,” ujar Juli terus terang. Cewek
bertempat tinggal di Plaju ini bercerita, uang itu diperuntukkan untuk
memenuhi kebutuhan dirinya seperti transpor, biaya sekolah, dan kebutuhan
adik-adiknya. Menurutnya, sampai saat orang tuanya yang pensiunan PNS ini
tak tahu-menahu ‘profesi’ barunya.

Biasanya, kata Juli, dia di-booking om-om yang berduit. Alasannya, kata
gadis berparas lumayan ini, selain tidak pelit, om-om senang itu sangat
menjamin kerahasiaannya. Termasuk kerahasiaan pribadi om-om tersebut.

“Yang penting, orang tua saya tidak berat lagi menanggung beban sekolah
saya dan adik-adiknya yang empat orang,” ujar Juli. Ia bercita-cita
menjadi seorang perawat.

Bisnis esek-esek para ABG ini sangat kentara di diskotek Hotel Princess.
Hotel yang terletak di kawasan pertokoan Ilir Barat Permai ini sengaja
membuka acaranya hari Sabtu siang dari pukul 13.00 WIB sampai pukul 17.00
WIB.

Acara ekstrashow itu juga dilanjutkan dengan Minggu pagi keesokan harinya.
Makanya, pada Sabtu siang, hotel bintang tiga ini banyak dikunjungi para
ABG. Lobi di lantai bawah terlihat penuh sesak karena daya tampung tidak
memadai.

Untuk menjaring ABG yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, maka si
lelaki iseng cukup menunggu di lobi hotel. Sebab, rombongan ABG ini
biasanya menawarkan diri untuk naik ke atas (diskotek) karena tidak mampu
membayar cover charge seharga Rp 15 ribu per orang.

“Kita tunggu saja dan pilih mana yang suka,” kata seorang pengusaha pupuk
yang mengincar ABG yang hendak triping tersebut. Dan memang banyak ABG
yang dengan manjanya mengajak kencan sambil triping.

Para gadis ABG sudah senang bila ditraktir minuman, rokok, dan cover
charge. “Kalau mereka mau triping, harus disediakan pil ekstasi,” kata
seorang penjaga pintu diskotek terkenal di Palembang itu.

Mereka juga bisa langsung dibawa ke kamar hotel itu. “Makanya, setiap
Sabtu dan Minggu, kamar Hotel Princess selalu penuh,” kata seorang
pengunjung.

Manajer Hotel Princess, Tommy mengatakan, dirinya hanya penyedia tempat
hiburan saja. Soal ada transaksi antara ABG dan pengunjung, dirinya tidak
tahu, katanya.