Menelusuri Pelacuran Abg Di Sejumlah Kota (bag 4)

LAMPUNG SUMATERA
“Oo, saya sering diajak pejabat,” kata Susan. Gadis berusia 16 tahun asal
Kotabumi Sari, Lampung itu bercerita, sejumlah pejabat dari Jakarta atau
pejabat setempat mengajaknya masuk kamar hotel.
Siswa salah satu SLTA di Lampung itu, tidak terlalu susah dicari. Ia bisa
dihubungi melalui perantara. Gadis manis berkulit putih itu, mengaku
selalu mencatat siapa saja yang berhubungan dengannya.
“Nama dan nomor teleponnya saya catat. Semuanya saya simpan baik-baik.
Mungkin suatu waktu saya butuh dia. Mungkin bisa membantu saya mendapatkan
pekerjaan, ” katanya. Menurutnya dengan membuka catatan itu, Susan bisa
mengingat kembali wajah-wajah para pria hidung belang yang pernah
bersamanya.
Seperti juga ABG lainnya di Lampung, Susan memasang tarif Rp 100.000
sampai Rp 200.000. “Itu tarif biasa di sini. Untuk pejabat apalah arti
uang sebanyak itu,” katanya. Para pejabat menurut Susan, tidak sayang uang
bisa sudah merasa senang.
“Kalau dia senang, mereka bisa memberikan lebih banyak. Saya pernah sekali
main diberi Rp 500 ribu. Biasanya setelah berpisah, saya beri dia nomor
handphone saya,” ujarnya.
Dengan memberikan nomor itu, Susan kemudian sering dihubungi oleh mereka
yang pernah bersamanya, “Jadi saya tidak harus memberikan sebagian
penghasilan saya kepada perantara,” katanya.
Susan tahu betul cara ‘memancing’ agar pejabat yang pernah berhubungan
dengannya, bisa mengulangnya kembali, “Saya selalu mengatakan jarang
berhubungan badan. Juga dengan memujinya bahwa dia pria yang luar biasa,”
tuturnya.
Karena sudah terbiasa ‘menjalin cinta’ dengan pejabat, Susan jarang
berhubungan dengan orang biasa, “Kalaupun ada, saya pilih mereka yang
masih muda. Tapi jarang sekali,” katanya. Mereka yang masih muda, biasanya
sangat pelit. Tarif yang sudah diberikan sering kali ditawar rendah.
Bahkan kadang-kadang merayu mengajak pacaran.
“Bila sudah dilayani, dia minta gratis,” ujarnya. Para anak muda menurut
Susan, juga sering kali menawarkan obat-obatan untuk mabuk.
Di Bandarlampung terdapat beberapa tempat mangkal para gadis ABG seperti
pusat perbelanjaan Tanjungkarang Plaza-Artomoro Jl Kartini, Kafetaria King
Super Market Tanjungkarang lantai dasar, Kafe King Supermarket Jl Raden
Inten, beberapa diskotek seperti Tower, Swisspub, Santana.
Ayu, 18 tahun, seorang gadis ABG di Casablanca bercerita, ia bisa dibawa
tanpa bayar, “Itu kalau saya suka, diajak nonton atau makan juga jadi,”
katanya.
Tapi kalau yang mengajaknya om-om senang, bandot tua, atau tampang pejabat
dia pasang tarif agak tinggi, apalagi sampai nginap beberapa hari. Menurut
pengakuan Ayu, asal Palembang ini, dia pernah di-booking pejabat yang
menjadi pimpro selama beberapa hari.
“Saya dibayar cukup besar,” ujarnya. Karena itu, setiap bertemu ‘tamu’ Ayu
selalu menawarkan diri agar diajak beberapa hari.
“Kalau mereka nginap beberapa hari di Lampung, ya saya juga diajak,”
ujarnya. Sistem booking beberapa hari, sangat menguntungkan karena tidak
perlu lagi mencari mangsa lain. “Juga tidak terlalu capek. Kan tidak
setiap malam harus main. Biasanya cuma cium-ciuman atau berangkulan dan
menemaninya tidur,” ujarnya.
ABG ini juga mengaku punya langganan mulai pejabat PNS, aparat keamanan,
mahasiswa, hingga wartawan.
“Mereka semua baik-baik. Uangnya juga lancar. Beberapa dari mereka menjadi
pacar saya,” katanya. Dengan mempunyai pelanggan seperti itu, Ayu tidak
terlalu takut terkena penyakit. “Saya tahu mereka bukan orang sembarangan,
pasti jauh dari penyakit,” ujarnya.
Menurut Ayu, jika ada bos-bos atau pejabat yang cinta berat sama anak-anak
ABG yang cantik, kadang-kadang dipelihara sebagai istri simpanan atau
istri gelap.
Mereka dicarikan kontrakan kamar atau disewakan rumah tinggal. Ada di
antara mereka yang melahirkan dan punya anak. Namun, umumnya cewek-cewek
ABG yang telanjur hamil di luar nikah, biasanya bayinya diserahkan ke
pihak rumah sakit atau dijual pada orang yang mau mengurusnya.
Seperti Linda, 17 tahun, misalnya terpaksa drop out dari sekolahnya sebuah
SMU swasta, gara-gara dia pacaran kelewat batas lalu hamil dengan
pacarnya, memilih pintas terjun ke dunia pelacuran.
Sekarang dia menjadi istri gelap seorang pejabat dari Jakarta, “Bila dia
tidak ada, saya main di diskotek, mencari teman kencan. Saya tidak tahu
persis dia tahu atau tidak,” ujar Linda. Sebagai istri gelap yang tidak
pernah dinikahi, dia tidak takut seandainya sang suami meninggalkannya.
Mereka rata-rata anak-anak sekolah dari desa yang merantau ke ibu kota
Provinsi Lampung. Sampai saat ini, orang tua Linda belum mengetahui
pekerjaan anaknya, “Mereka menyangka saya masih bersekolah,” katanya.
Ada juga gadis ABG yang sekolahnya berantakan terpaksa jadi penjaja seks
karena kesulitan ekonomi, misalnya orang tuanya terkena PHK. Anak-anak ini
juga sengaja disuruh orang tuanya dengan alasan membantu biaya adik-adik
yang masih sekolah.
Pelacur ABG di Lampung umumnya tinggal indekos dalam satu rumah yang
disewa beberapa orang secara patungan. Umumnya mereka tinggal dekat dengan
tempatnya mangkal.
Misalnya kalau sering mangkal di diskotek kawasan Jl Yos Sudarso mereka
tinggal di daerah Panjang atau Telukbetung. Kalau mereka mangkal di
Tanjungkarang seperti Artomoro dan King Super Market, mereka tinggal
sekitar Jl Raden Intan atau Jl RA Kartini atau di kawasan Enggal dan
Kelurahan Pelita.
Kalau ABG yang masih sekolah atau kuliah, biasanya mencari mancari mangsa
di diskotek cari. Para gadis remaja itu, hampir setiap malam terutama
malam minggu memenuhi ruang diskotek di Lampung. Mereka yang nongkrong di
diskotek biasanya selalu minta dibelikan ekstasi.
Bahkan ABG-ABG ini juga ada yang menjadi korban obat-obatan terlarang
seperti ekstasi, sabu-sabu, atau putaw. Sudah ada beberapa korban yang
tewas karena menenggak obat-obatan terlarang melebihi dosis. Misalnya
pesta obat terlarang di sebah motel melati Jl Soekarno-Hatta tahun lalu,
dua cowok dan satu cewek terkapar dan sekarat, namun jiwanya tertolong
setelah berhasil dibawa ke rumah sakit dan dirawat beberapa hari. Kemudian
ada seorang anak gadis pelajar tewas di sebuah hotel berbintang setelah
menenggak obat terlarang dengan pasangannya.
CIREBON JAWA BARAT
PEONG. Itu sebutan untuk pelacur ABG di Cirebon. Seperti juga di sejumlah
kota lainnya, mereka biasanya keluyuran malam di diskotek. Di Kota Udang
itu, mereka lebih suka di diskotek di New Land Grand Hotel Cirebon.
Di antara irama musik yang berdentum keras, seorang gadis mengenakan
celana biru ketat, dengan T-shirt warna putih yang juga ketat, sendirian,
bergerak lincah mengundang perhatian. ‘’Kalau Mas berminat, nanti akan
saya hubungkan,'’ bisik seorang pramuria yang berdiri sebelah meja
menawarkan jasa (bukan hanya sekali) sambil juga menawari tambahan
minuman. Mungkin lantaran dijawab beberapa kali nanti saja, akhirnya sang
pramuria ‘nekat’ memanggil sang cewek tadi. ‘’Kristin,'’ ujarnya singkat
sembari mengulurkan tangan.
Kristin, cewek ABG berusia 17 tahun, kulit kuning langsat bermata agak
sipit mirip amoy, mengaku asal Cirebon. Aroma alkohol menyeruak lewat
mulutnya. Sekali-sekali, ia terbatuk, katanya sedang pilek. “Tidak sering,
sih, yang pasti kalau malam Minggu saya ke sini,” tuturnya.
Ia anak ketiga dari empat bersaudara. Merasa frustrasi dengan mantan
pacarnya yang setelah ‘menghisap madunya’, pergi entah ke mana. “Aku tak
tahu ia kini ada di mana. Buat apa mikiran yang sudah lewat. Bikin
pusing.'’ Sementar anak hasil kumpul kebonya diadopsikan kepada keluarga
tak berketurunan yang tinggal di Kuningan. Kadang-kasdang saja Kristin
menengok Doni–nama anak berumur 1,5 tahun.
Orang tuanya pensiunan militer yang bekerja di perusahaan ekspor-import
yang saat ini sudah bangkrut. ‘’Usaha apa sih yang tidak terpengaruh,'’
ujar Kristin sambil membandingkan diskotek itu yang sesudah krisis jumlah
pengunjungnya turun hingga 50%.
“Lihat tuh, banyak kursi yang kosong,'’ tuturnya menunjuk meja sekeliling.
Kristin tak berterus terang asal sekolahnya, ‘’Kok tanya detail banget,
sih,'’ katanya.
Sebagai peong ABG, ia biasa di-booking dengan tarif antara Rp 250.000
hingga Rp 350.000. Itu kalau short time. Bila menginap, bayarannya Rp
500.000 yang kemudian dipotong buat tip ‘broker’ berkisar Rp 50.000 sampai
Rp 75.000.
Kristin, yang kandas di kelas dua SMU, sebenarnya lebih memilih ’solo
karier’ ketimbang terikat seorang germo. ‘’Repot amat, lagian mereka suka
memeras.'’ Tiba-tiba Kristin menyelinap pamitan, lantaran HP-nya ada yang
menghubungi. Ketika ditanyakan apa ada yang booking, ia cuma nyengir.
Tepat pukul 02.30 lampu di ruangan diskotek dengan uang masuk Rp 12.500
itu tiba-tiba menyala terang, berbarengan dengan berhentinya dentuman
musik yang berkesinambungan itu. ‘’Bagaimana Mas, jadi booking nggak
nih?'’ rajuk Kristin berbisik. ‘’Gampang aja Kris, toh nomor HP-mu sudah
tercatat. Kapan-kapan saja.'’
Di halaman diskotek, terlihat dari lobi Kristin yang kali ini ditemani
rekan seprofesinya tengah negosiasi dengan dua orang lelaki. Sejurus
kemudian keempatnya beringsut dengan mobil sedan entah ke mana.
Seperti juga di berbagai kota lain, pelacur ABG di Kota Cirebon belakangan
marak. Mereka bisa ditemui selain di New Land Grand, juga di alun-alun
yang masih sejalur di Jl Siliwangi.
Mereka juga biasa mangkal di Grage Mall di Jl Dr Sucipto. Di diskotek lain
semisal di Mitas Grand Hotel di Jl Tuvarep. ‘’Dulunya yang rame di Mitas,
tetapi sekarang kalah pamor dengan New Land Grand,'’ tutur seorang
pengunjung.
Dua ABG pria yang menjadi germo sejumlah ABG di Cirebon menceritakan bahwa
jaringan pelacur ABG di daerah itu cukup rapi.
“Jangan takut, pasti aman berhubungan dengan mereka. Kalau yang di Bandung
ceweknya cakep-cakep, di sini juga tidak kalah cakep-nya'’ tutur Andre New
Land Grand Hotel. Ia didampingi germo lainnya, Danu seorang mahasiswa
sebuah perguruan tinggi di Bandung.
Dalam catatan Andre, jumlah pelacur ABG di Cirebon mencapai 50 orang.
Mereka berasal dari beberapa SMU setempat. Antara lain SMU yang terletak
di Jl Panjaitan, di Jl Pangeran Drajat. Ada juga beberapa mahasiswi.
‘’Tapi yang paling banyak anak dari SMU di Jl Panjaitan,'’ tutur Andre.
Menurut Danu, para pelacur ABG tidak semata-mata mencari uang. Ada kalanya
sekadar mencari kepuasan dan yang jenis ini kalau di-booking asal diberi
pil ekstasi atau pil setan dan sejenisnya sudah bisa diajak ‘masuk kamar’.
Menurut pengamatan mahasiswa bertubuh sedang ini, latar belakang mengapa
mereka terjerumus ke lembah nista itu berbagai macam. Tapi yang umum
sekaligus klasik lantaran broken home dan kurang perhatian orang tua.
Orang tua bercerai, suka cekcok, jarang di rumah. Kira-kira seringnya
begitulah.
Untuk menghindari kehamilan, masih menurut Danu, biasanya para peong
demikian mereka disebut di Cirebon, menggunakan genaelosit atau cumbrit.
Keduanya bisa diperoleh di toko-toko obat.
Menurutnya, yang disebut pertama, bila ingin yang ampuh, mintalah yang
kemasannya boks kertas, jangan plastik. Isinya dua butir, harga per butir
Rp 15.000. Genaelosit bisa mencegah kehamilan sampai dua bulan. ‘’Habis
dua bulan, ya harus minum lagi,'’ ujar Danu seperti sedang memberi
nasihat.
Menurutnya, para ABG yang mangkal di alun-alun umumnya yang kelas ‘krotak’
atau bawah. Hal itu dibenarkan Andre, ‘’Aku nggak kenal dengan cewek-cewek
yang di sana.'’ Andre menyebut beberapa nama pelacur ABG papan atas yakni
Emi, Devi, Susan, serta Puput yang menjadi primadona di antara mereka.
Tapi Puput adalah yang paling cantik. Ia mengaku sering dibawa keluar kota
oleh pelanggannya. “Saya baru saja dari Bandung,” katanya. Di luar kota,
bila berpisah dengan pembawanya, ia sering kali menggaet pelanggan lain.
Ada beberapa daerah di Jawa Barat yang diketahui persis liku-likunya oleh
Puput, “Tapi Bandung yang paling saya kuasai. Di sana juga banyak teman
saya,” katanya.
Ia juga tidak keberatan bila dibawa ke Jakarta, atau ke tempat lainnya
seperti ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. “Pokoknya bayarannya sesuai, saya
akan ikut,” ujarnya
