wow
PADANG SUMATRA

“SIAPA bilang di Padang tidak ada pelacur ABG. Gampang kok mendapatkannya
di Minang Plaza,” kata seorang ABG ketika diajak kencan seorang pengusaha
muda. Ia Menceritakan, setiap kali ingin berkencan dengan gadis ABG, dia
selalu mencarinya ke tempat itu. Karena di situlah tempat mereka pasang
aksi.

Ketika menceritakan pengalaman kencannya dengan anak muda berkantong tebal
yang digaetnya di sebuah wartel kompleks pusat perbelanjaan di kawasan Air
Tawar, Fivi, 16 tahun, mengaku ditraktir makan lalu diajak puter-puter
memilih celana jins. “Karena dia baik saya nggak nolak waktu diajak bobok
bareng di penginapan dekat Pantai Bungus,” katanya sambil cekikikan.

Kalau tahu caranya, tidak terlalu sulit memang. Karena pusat perbelanjaan
megah di jantung Kota Padang itu terletak dekat dengan rumah indekos para
pelajar SMU maupun mahasiswi sejumlah kampus perguruan tinggi negeri dan
swasta.

Sehingga sangat strategis dijadikan tempat berkumpulnya para ABG yang
ingin cuci mata sekaligus bursa bagi yang mau cara mangsa. Apalagi di
lantai atas gedung tersebut ada Music Room MP yang selalu ramai dikunjungi
para ABG maupun para lelaki hidung belang.

Di lantai bawah ada sebuah wartel dan kafe yang selalu dipenuhi ABG.
Dengan sedikit kerdipan mata para ABG yang rata-rata berwajah lumayan
(maklum mereka mengaku pelajar dan mahasiswa) itu akan tersenyum. Lalu
boleh pilih.

Selain Fivi, banyak ABG lain yang mengaku menjalani profesi penjaja seks
karena terpaksa untuk menutupi biaya sekolah atau biaya kuliah. Namun tak
sedikit pula yang menggeluti dunia esek-esek itu akibat terjerat
obat-obatan terlarang.

Shanti, 16 tahun, mengaku terjerat narkotik ketika masih bersekolah di SMU
di Pekanbaru. Ketika dipindahkan ke sebuah sekolah swasta di Padang, orang
tuanya yang bekerja di perusahan minyak berharap Shanti bisa menjadi anak
baik dan menjauhi narkotik serta obat terlarang.

Namun celakanya, di sekolah swasta dekat kawasan Air Tawar itu dia malah
berteman dengan anak-anak pecandu sabu-sabu. Di rumah indekosnya seputaran
Ulak Karang, mereka sering pesta narkoba.

Bila malam Minggu, waktunya lebih banyak dihabiskan di music room terkenal
dekat daerah Pelabuhan Teluk Bayur. Di tempat ini pengunjungnya ramai, dan
tak pernah dijamah razia, kata Shanti. Kalau mau triping atau teler tak
ada yang peduli.

“Biasanya pria yang saya suka, tidak menolak kalau diajak on. Bila sudah
triping badan ini enteng. Sehingga kalau dia yang ngajak tidur sesudah
itu, saya tidak menolak, asal dia mau memberi sedikit uang jajan,” tutur
Shanti.

Dia mengaku pernah diberi amplop berisi sepuluh lembar Rp 50 ribuan oleh
seorang pengusaha mobil.

Kisah Rina, 17 tahun, lain lagi. Gadis baru gede berwajah imut-imut ini
mengaku terperangkap perbuatan maksiat karena diajari pacarnya, Dody,
mahasiswa sebuah PTS di kawasan Khatib Sulaiman, Padang. Bencana itu
berawal ketika dia dipacari Dody yang ternyata pecandu sabu-sabu.

“Mulanya Dody menyuruh saya mencoba sedikit. Semula saya tolak. Tapi
karena terus dirayunya. Saya coba juga, ee, lama-lama saya jadi ketagihan.
Akhirnya tiada hari kami lalui tanpa barang itu yang kemudian selalu
berlanjut dengan hubungan badan,” tutur Rina.

Sewaktu hubungan Rina retak dengan Dody, akibat sang kekasih mendapatkan
‘mainan’ baru, Rina sangat terpukul. Bukan karena ditinggal Dody, tapi
karena kesulitan mendapatkan ‘barang’ yang selama ini disediakan sang
pacar.

Karena ketagihan sabu-sabu semakin menjadi-jadi, sementara uang tidak
punya, tak ada jalan lain saya terpaksa menjual diri. “Keputusan pahit ini
terpaksa saya ambil. Karena kalau sedang sakaw obatnya cuma itu. Bila
tidak dapat saya bisa gila,” ujar Rina.

Dengan wajah cantik, kulit kuning langsat dan rambut sebahu, tak terlalu
sulit bagi Rina mencari mangsa yang berduit. Dalam melakukan negosiasi
biasanya Rina hanya mau diajak kencan ke hotel-hotel berbintang. Sebab
kencan di hotel melati mengandung risiko bisa ditangkap tim razia Satpol
Pamong Praja Padang.

“Dalam seminggu saya bisa mendapat uang antara Rp 300 ribu sampai Rp 600
ribu. Jadi cukuplah untuk kebutuhan membeli shabu atau putaw seharga Rp
200.000 per minggu,” ujarnya.

Karena mengaku kepalang basah, Rina kemudian melengkapi diri dengan
handphone. Padahal sebelumnya dia cuma beroperasi menggaet mangsa dengan
nampang pada sebuah wartel di Jl Pondok.

Kalau lagi apes, tak jarang dia juga aktif mengontak relasinya lewat
wartel. Jika harga cocok Rina tinggal menunggu untuk disamperin di pintu
wartel.

Miranda, 17 tahun, lain lagi kisahnya. Pelajar sekolah menengah di
bilangan Jl Sudirman itu, tidak terlalu sulit dijumpai sepulang jam
sekolah.

Ketika diajak ke sebuah kafe dekat Pantai Padang, gadis manis yang suka
dipanggil Mira ini mau berkisah dengan syarat identitas aslinya
dirahasiakan.

Dengan lepas Mira mengaku ternyata mencari uang itu tidak susah. Sebagai
pelajar merangkap penjaja seks untuk kelas terhormat (maksudnya kelas
menangah) dia bisa memenuhi segala kebutuhannya tanpa harus menunggu
kiriman dari orang tuanya yang menjadi toke getah di Jambi.

Dengan penampilan biasa-biasa saja, sepintas Mira tak berbeda dengan
temannya yang lain. Kalau kencan sehabis jam sekolah, dia selalu minta
diantarkan ke sebuah tempat sebelum pukul 18.00 agar tidak dicurigai ibu
kosnya.

Bila malam Minggu, dia agak bebas keluar. Kesempatan ini selalu
dimanfaatkannya untuk kencan menjelang tengah malam. Dia mengaku tidak
menentukan tarif, karena tujuannya untuk bersenang-senang. “Kalau habis
tidur dikasih Rp 100 ribu atau Rp 250 ribu saya terima saja. Asal yang
mengajak pria berpenampilan perlente,” katanya.

Sumatra Barat yang dikenal sebagai daerah yang memiliki adat dan agama
kuat, suasana kehidupan kaum remaja di Kota Padang ternyata tak lepas dari
pengaruh kehidupan kota besar, seperti Medan dan Jakarta. Meski kalangan
orang tua dan pendidik cenderung menutup-nutupinya, bisa dipastikan
puluhan remaja ABG di Padang sudah jadi penganut seks bebas.

PEKANBARU SUMATRA

Mendongkrak Tarif dengan ‘Handphone’

GELAK tawa Sari berderai sembari menempelkan telepon genggamnya di kuping
sebelah kanan. Gadis ABG berusia 17 tahun dan memiliki body tinggi
langsing itu terus berkomunikasi dengan sekali-sekali matanya menggoda
pria yang melewatinya di lantai V Senapelan Plaza, Pekanbaru.

Sari yang tidak tamat SMU itu mengaku ketagihan dengan pil gila ‘inex’.
Karena itu tidak jarang dia mau saja diajak ke mana saja jika ada yang mau
memberikan sebutir. ‘’Harganya mahal, saya nggak tahan jika sehari saja
nggak nekan (triping-red),'’ kata remaja berlesung pipit itu sambil terus
memencet sejumlah angka di handphone-nya.

Menurut Sari, dirinya terjerembab di dunia sesat itu baru satu tahun.
Akibat pergaulan bebas, sekolahnya pun menjadi korban. Semula dia termasuk
anak yang pendiam, baik itu di rumah maupun di sekolah. Tapi setelah mulai
mengenal cinta dengan seorang mahasiswa, dia sering diajak ke diskotek.
Mulailah dirinya mengenal apa itu house music serta pil setan.

Malang baginya, karena ketagihan pil inex, tubuhnya mau saja diobok-obok
oleh sang pacar. ‘’Saat itu semuanya telah saya serahkan kepada dia. Tapi
setelah dia puas malah dia menggandeng cewek lain di depan mata saya
sendiri,'’ sungut ABG yang mengaku pernah berjilbab saat masih sekolah.

Entah pelarian atau ketagihan namanya, Sari bertambah larut dengan
berbagai jenis obat yang diakuinya bisa menghilangkan semua masalahnya.
Sementara untuk terus melanjutkan sekolah dirinya merasa tidak mood lagi.
‘’Tapi di sini yang mangkal di plaza banyak juga anak sekolah, malah ada
yang masih SMP,'’ ujar Sari.

Dengan wajah tertunduk Sari mengakui jika ditanya soal tarif bisa mencapai
Rp 250 ribu hingga 300 ribu. ‘’Lumayanlah bisa untuk bayar rekening
handphone dan beli inex,'’ ujar cewek hitam manis yang mengaku tinggal di
kawasan Pintu Angin, Jalan Sultan Syarif Qasyim.

Malah gadis yang pernah bercita-cita menjadi peragawati ini mengakui
dengan menggenggam handphone bisa menaikkan tarif karena terasa lebih
percaya diri dan terkesan kelas tinggi dalam menggaet pria berduit.

Diakuinya, tarif itu tidak mutlak. Ada juga pria yang disukainya, tanpa
tarif dia langsung ke hotel. ‘’Saya punya pacar lagi Mas, dia sering
membagi pil. Untuk satu pil saja saya mau diajak ke mana saja,'’ katanya.
Hebatnya, pacar Sari tidak pernah cemburu, di saat Sari di-booking salah
seorang pria. Bahkan Andi, pacar Sari, siap mencarikan mangsa untuk Sari.

‘’Saya kurang suka dengan anak sekolah, karena banyak yang kere. Saya suka
laki-laki yang agak mapan. Itu bisa terlihat dari penampilannya. Apalagi
di kota ini banyak pengusaha yang berhasil,'’ ujar Sari yang baru setahun
mengenali dunia semipelacuran ini.

Tarif ABG yang lebih dikenal dengan istilah ‘lontong’ di Pekanbaru memang
tergolong mahal. Untuk mendapatkan ‘daun muda’ itu bisa merogoh kocek
minimal Rp 500 ribu. Tapi jika sudah berlangganan, terkadang bisa saja
dengan sebutir inex dapat pelayanan gratis di penginapan.

Bisnis esek-esek para ABG ini sangat kentara di pusat pertokoan, seperti
Matahari Plaza dan Senapelan Plaza. Apalagi Diskotek Orion, Senapelan
Plaza di Jalan Teuku Umar buka siang pada Sabtu, dan Minggu.

Fenomena keberadaan ABG di pusat pertokoan sudah menjadi rahasia umum.
Seperti di pusat pertokoan Matahari Plaza, Jl Pepaya, dengan berpakaian
sedikit mencolok dan bergerombol mereka ‘mejeng’ seperti sedang menunggu
seseorang.

Pada umumnya alasan mereka lebih menyukai plaza sebagai tempat mangkal
antara lain dengan gampang ngajak shopping bila ada bos-bos yang ingin
mem-booking.

Pada Sabtu dan Minggu mereka bergerombol mejeng di setiap lantai di
Matahari Plaza. Dari cara berpakaian jelas kentara, antara lain T-shirt
serta celana jins ketat hingga menampakkan perut dan sepatu berhak tinggi
sambil menggenggam handphone.

Hari Sabtu, pemandangan di lantai V di Senapelan lebih hidup, karena ABG
berkeliaran menunggu tawaran untuk naik ke atas (diskotek).

‘’Pada umumnya para ABG yang berkeliaran menunggu tawaran masuk ke
diskotek adalah ABG kurang mampu. Mereka mau saja diraba-raba, asal ada
yang mengajak naik ke atas,'’ ujar Yudhi, salah seorang makelar ABG di
lokasi tersebut. Tapi ABG yang nongkrong di plaza-plaza biasanya sudah
memiliki langganan tetap.

ABG itu, lanjut Yudhi, sesampai di dalam diskotek akan melepaskan diri
dari pembawanya. “Biasanya, para ABG seperti itu, lebih suka nongkrong di
diskotek daripada diajak keluar. Jika ingin mengajak keluar, tunggu hingga
dia ‘on’,'’ bisik pria yang mengaku hidup dari kelincahan menawarkan ABG.

Yudhi juga mengatakan bahwa tidak semua ABG yang mangkal mengintai mangsa
dengan lagak sedikit mencuri perhatian. Ada juga sambil bermain video
game.

Mereka dengan tertawa lepas bermain seperti anak-anak lainnya. ‘’Tapi itu
sudah pasti ABG yang memiliki langganan, jadi nggak perlu lagi mencari,'’
kata Yudhi.

Irna, salah seorang ABG yang masih duduk di bangku kelas II salah satu SMU
swasta di Pekanbaru. Dia paling suka berjingkrak-jingkrak di tengah
ingar-bingar musik diskotek. Karena itu setiap Sabtu, sepulang sekolah,
Irna dan teman-temannya yang membawa pakaian ganti di tasnya langsung
menuju Orion House Music di Senapelan Plaza.

Mereka tak mau disamakan dengan para ‘lontong’ yang siap melayani di
penginapan ataupun hotel. Tetapi jika mereka mendapatkan pasangan yang
membuat ’syur’ di lantai diskotek, mereka rela diraba-raba, tapi dengan
imbalan cukup setengah butir inex.

‘’Jangan samakan kami dengan lontong-lontong itu, kami tetap menjaga yang
satu itu. Kalau hamil, bisa berabe hidup saya,'’ cetus Irna, sambil
menggoyang-goyang kepalanya.

Berbeda dengan Irna, rekannya Yuyun, 17, malah dengan menantang dirinya
pernah di-booking laki-laki. Dengan alasan belajar bersama di rumah teman,
Yuyun ternyata belajar di arena diskotek sambil ‘triping’. ‘’Tapi yang
mem-booking harus melalui seleksi, saya nggak mau yang gaek (tua).
Pokoknya senang sama senang, saya nggak mikiran soal tarif, yang penting
ada inex, gampanglah itu,'’ ujar Yuyun.

Yuyun berterus terang bahwa dirinya kecandungan obat terlarang melalui
salah seorang temannya. Sedangkan keperawanannya memang sudah amblas saat
duduk di bangku kelas III SMP. Karena itu dia tidak lagi berpikir panjang
untuk terjun ke bisnis esek-esek. ‘’Tapi saya bukan mencari uang, yang
penting happy,'’ tutur ABG yang mengaku asli Riau.

BANDUNG JAWA BARAT

‘Kang, Bagaimana kalau Kita ke Atas’

MASIH mengenakan pakaian seragam sekolah putih abu-abu, Lusi berdiri di
dekat lampu pengatur lalu lintas di Jl Asia Afrika, Bandung. Ia akan
segera mendekat bila ada di antara antrean mobil yang membunyikan klakson
atau memberi isyarat dengan lampu.

Seperti sudah biasa, ia menarik pembuka pintu dan duduk di samping
pengemudi, “Mau diajak ke mana, Kang,” katanya. Itu adalah kalimat pembuka
setiap dia masuk ke dalam mobil. Tanpa menunggu jawaban, ia akan
menyambung, “Ke plaza dulu ya.”

Di salah satu pusat pertokoan yang berada di alun-alun, Lusi langsung
menyelinap ke counter pakaian wanita. Ia mengambil sebuah T-shirt. Setelah
itu, dia mengatakan, “Bagaimana kalau kita ke atas.” Maksudnya ia mengajak
ke daerah Lembang.

Lusi menceritakan, ia sudah biasa berkencan di Lembang, “Di sana banyak
hotel. Lagi pula lebih aman, nggak ada yang lihat,” katanya. Ia menyebut
sejumlah hotel di Lembang. Antara lain Gumilang Sari, Panorama, Putri
Gunung, Telaga Sari, Pondok Kahuripan, Lebak Gunung, dan Juvante.

Lusi seperti sudah terbiasa ke sejumlah hotel itu. Dia bercerita, kalau
tamu dari luar kota, biasanya membawanya ke sebuah hotel yang lokasinya
agak tersembunyi di kaki gunung, “Tapi pukul 10 malam, saya sudah minta
diantar pulang,” katanya.

Di hotel mana pun dia berkencan, tidak pernah menginap karena takut
dicurigai orang tuanya. Bila terlambat pulang, ia selalu beralasan pergi
main ke rumah temannya. Dan orang tuanya percaya.

Lusi, siswa sebuah SLTA cukup ternama di Kota Bandung itu, mengaku tidak
setiap hari mencari ‘mangsa’. “Kalau lagi iseng saja,” katanya. Dia
memasang tarif Rp 200 ribu untuk sekali kencan.

Lain lagi cerita Yanti. Mahasiswa semester pertama sebuah perguruan tinggi
swasta di Bandung. Ia biasa berkeliaran di Cihampelas, “Sambil jalan-jalan
lihat pakaian, biasanya ada yang ngajak,” kata gadis hitam manis itu.

Ia sebetulnya ada dalam ‘jaringan’ wanita terorganisasi di Bandung. Bila
ada yang membutuhkan, dia biasa dihubungi oleh teman prianya yang
mempunyai hubungan dengan karyawan sebuah hotel, “Saya biasa menemani tamu
hotel yang rapat,” katanya.

Gadis asal Tasikmalaya itu, biasanya di-booking ke hotel terkenal di
Lembang, “Melayani para bos,” katanya. Yanti memasang tarif juga Rp 200
ribu. Tapi bila melayani orang rapat, sering kali mendapat tips yang cukup
besar.

Yanti terjun ke dunia prostitusi ketika masih kelas dua SLTA di Bandung.
Ia tergoda oleh ajakan teman-temannya, “Mereka sering memperlihatkan uang
bergupel-gumpel. Pakaiannya juga bagus-bagus,” katanya.

Pertama kali Yanti ikut ‘mejeng’ bersama temannya di sekitar alun-alun.
Ketika itu dia memperhatikan betul gaya temannya memancing perhatian pria.
Dia pun mencoba-coba dan tergaet seorang pria dari Jakarta yang usianya
sekitar 35 tahun.

“Itu pertama kali saya dibawa ke hotel. Rasanya takut juga sih. Tapi
karena pria itu ganteng, saya jadi suka,” katanya. Saat itu ia memang
sudah tidak perawan lagi, karena sudah berkali-kali berhubungan dengan
pacarnya.

Dengan pria yang pertama kali membawanya ke hotel itu, ia sempat menjalin
asmara selama beberapa bulan. Setiap pria tersebut datang ke Bandung,
selalu mengontak Yanti untuk menemaninya. Tapi lama-lama ia jarang muncul
bahkan tidak pernah muncul sama sekali, “Sudah tidak pernah lagi jumpa
dia,” ujarnya.

Yanti tidak sendiri mencari ‘mangsa’ di Cihampelas. Di pasar jins terkenal
di Bandung itu, menurut Yanti terdapat sejumlah ABG yang pura-pura
belanja. Ciri-cirinya tidak terlalu sulit dikenali, biasanya mereka keluar
masuk toko tanpa membeli apa pun, dan suka berlama-lama melihat pakaian
bila ada pria yang diincar.

Para ABG di Cihampelas itu, oleh tamu biasanya dibawa ke hotel yang
membuka short time, seperti Pondok Kahuripan, Lebak Gunung, dan Juvante.
Juga sejumlah penginapan yang berada sepanjang Jl Pasir Kaliki sampai
Lembang.

Di Bandung ada juga gadis ABG yang berkeliaran di diskotek. Mereka bisa
dijumpai pasang aksi di Jl Braga. Kepada pria yang mendekatinya, langsung
diajak ke diskotek.

“Sebutir dua butir juga jadi,” kata Rina. Maksudnya ia bersedia diajak
melakukan apa pun bila diberikan ekstasi.

Bila diberikan pil yang satu itu, pelajar kelas tiga SLTA itu, tidak
pernah memilih-milih pria yang mengajaknya berkencan, “Tempat chek in
banyak di sini,” katanya.

Di tempat-tempat terbuka alias umum, tanpa rasa canggung dan malu, biasa
dijumpai wanita yang ‘menjajakan’ diri.

“Hai, mau ke mana? Mau ngamar nggak?” begitu pertanyaan yang meluncur dari
mulut-mulut bergincu merah bak tanpa perasaan berdosa. Pelacur yang
bergaya vulgar macam begitu bisa ditemui di Alun-alun Bandung dan
sekitarnya, meliputi Jalan Asia Afrika, Dewi Sartika, Dalem Kaum,
Sudirman, Otto Iskandinata, Banceuy, dan ABC.

Tak sedikit di antara mereka yang tergolong ABG alias anak baru gede.
Hanya saja kawasan pusat kota ini lebih banyak ‘dikuasai’ perempuan dewasa
yang juga mengaku ABG. “Cari ABG? ABG yang mana? Atas Bawah Gondrong?”
kata wanita yang mengaku bernama Ani diiringi cekikikan.

Di Bandung, trennya memang para ABG ‘asli’ lebih banyak mejeng di
pusat-pusat perbelanjaan seperti Bandung Indah Plaza (BIP) di Jalan
Merdeka, dekat Balai Kota. Atau di Jalan Juanda atau Dago, terutama di
sekitar pasar swalayan Superindo dan Plaza Dago.

Sedangkan yang tergolong masih dekat dengan Alun-alun Bandung, para ABG
banyak bergerombol di King Shopping Center Jalan Kepatihan dan Diskotek LA
di Jalan Asia Afrika.

Sudah menjadi rahasia umum kalau para ABG itu ‘bisa dipakai’ siapa saja.
Berbeda dengan para senior mereka, para ABG ini kebanyakan tidak
menawarkan diri dan menolak cara-cara vulgar. Bahkan umumnya langsung
menolak kalau diajak secara langsung untuk transaksi seks.

“Sorry, kita bukan perempuan begituan,” begitulah jawabannya kalau ada
pria yang, menurut ukuran mereka, nggak tahu ’sopan santun’.

‘Jalan-jalan, ‘Beliin’ Baju, Oke’

MEREKA sangat membenci pria yang tidak mengenal sopan santun. Seperti yang
dituturkan Yuni, yang mengaku masih sekolah di SLTP, “Sebel deh sama cowok
kayak gitu. Padahal kalau dia bisa baik-baikin kita, kalau udah waktunya,
ntar juga dikasih.”

Memang para ABG Bandung umumnya tidak mau disebut pelacur. “Kan kita nggak
dibayar dan kalaupun saya mau ngelakuin begituan, kan bukan karena
bayarannya tetapi memang karena saya suka,” jelas Yuni yang mengungkapkan
dirinya dan umumnya teman-teman nongkrongnya, berasal dari keluarga yang
kurang harmonis.

“Kalau dia ngajak kita jalan-jalan, lalu jajan, lalu beliin baju, atau
ngasih hadiah apa gitu, ya oke. Itu kan karena dia mampu,” tegas Yuni.
“Nggak pake begituan juga, kalau saya suka, dia nunjukin perhatian,
orangnya enakan, saya kasih juga.”

Para ABG yang biasa hidup dalam pergaulan bebas tanpa batas ini umumnya
merasa kesepian karena kurang perhatian keluarga. Umumnya juga bukan dari
keluarga dengan latar belakang ekonomi pas-pasan. “Mami sama Papi pada
sibuk semua,” kata remaja sebuah SMU yang mengaku bernama Lia. “Kita sih
nggak mau banyak mikir. Pokoknya kalau masih bisa hidup senang-senang
begini, ya kita lakuin,” katanya soal ‘pelariannya’ ini.

Meskipun umumnya tidak mau disebut pelacur karena mengaku tidak pernah
pasang tarif, tetapi pada prakteknya banyak lelaki hidung belang yang kena
batunya. Paling tidak itulah pengakuan Iis, mengaku siswi SMU BPI, ketika
menceritakan pernah ngerjain om-om yang mendekati dirinya.

“Sesudah dapat traktiran makan dan minum, Iis mengajak dia masuk ke Yogya
(Departement store BIP). Dia mau saja dan membayar setelan baju yang
lumayan mahal. Kira-kira bajunya ama bawahan (rok) aja, Rp 300 ribu,”
jelas Iis. Dan Iis tentu saja pada malam Minggu itu harus mau melayani
hasrat om itu di hotel sampai pagi. “Mama Papa nggak tahu kalau Iis udah
biasa hubungan suami istri. Dan kalau kita pulang pagi, Mama Papa pikir
kita cuma ke disko aja,” kata Iis.

Bayaran Rp 300 ribu itu buat Iis memang bukan harga mati. Karena menurut
dia pernah juga ada yang ‘kebagian jatah’ meskipun cuma mentraktir makan
dan minum saja. “Pernah habis tripping, terus pas mau pulang pukul dua
pagi, pas nunggu taksi disamperin cowok. Katanya, mau bareng nggak? Ya mau
aja,” kisah Iis.

“Lantas dia mengajak makan. Habis itu dia bilang cari hotel yuk. Berhubung
saya juga lagi kepengen, ya udah jadi saja,” kata Iis yang mengaku tidak
pernah minta bayaran. “Cowok itu nggak bayar saya, cuma nganterin pulang
pakai taksi,” lanjutnya.

Buat Iis dan beberapa temannya, ‘aturan main’ yang seperti itu menunjukkan
komitmen mereka untuk benar-benar tidak mau disebut pelacur. Meskipun
sudah berusaha menunjukkan perbedaan dan posisi sekuat itu tetap saja
masyarakat dan termasuk juga para ‘pemakai jasa’ mereka menganggap para
ABG itu sebagai perempuan sewaan alias pelacur. Bahkan boleh dibilang
pelacur gres dengan tarif murah.

Di kalangan lelaki hidung belang umumnya tersebar cerita bahwa dengan cuma
punya uang Rp 30 ribu rupiah di kantong, para pria iseng bisa menikmati
layanan seks kelas satu yang ‘dingin-dingin empuk’. Dan mengenai murahnya
tarif pelacur ABG itu diakui juga oleh Dian yang ditemui saat mejeng di
Jalan Juanda.

“Gampang, kok Mas, asal bisa ngajak ngobrol mereka, ya sambil nraktir
dong, kalau Mas mau mereka juga mau kok,” kata Dian menunjuk ke arah
teman-teman seusianya yang tengah bercengkerama di depan Swalayan
Superindo. “Yang penting, sama-sama suka,” tegasnya.

Berdasarkan cerita Dian, para lelaki hidung belang paling-paling harus
menambah biaya sewa kamar hotel kelas melati. Hotel-hotel di kawasan Jalan
Setiabudi dan Jalan Raya Lembang umumnya diketahui memberikan layanan atau
tarif khusus kepada pasangan bukan suami istri ini. Misalnya, Hotel Giri
Elok dan Gumilang Sari.

“Kalau di Jalan Dago, kita bisa pakai Hotel Buah Dua,” jelas Dian yang
tahun ini baru lulus SMU. Menurut Dian, tarif short time hotel-hotel itu
umumnya sekitar Rp 35.000.

Dian juga mengatakan umumnya para ABG ini senang dengan pria yang bergaya
dan mudah bergaul. “Makanya kalau mau ketaksir sama mereka, pakaian, gaya
rambut, parfum, ya harus trendi, kayak mereka gitu,” jelas Dian yang
mengaku mulai kenal gaya hidup seks bebas itu sejak masuk di kelas I SMU,
dua tahun silam.

Cerita Dian soal ‘tradisi’ ABG ‘bebas’ ini tak sepenuhnya benar. Paling
tidak ada kontroversi dengan pengakuan Nola, murid sebuah SMU di Dago.
“Saya cuma mau kencan sama pria yang keren dan berselera tinggi,” katanya.

Serupa dengan Dian, Nola memang tak mempermasalahkan tarif kencan, bahkan
bisa gratis. “Yang penting mau nraktir di restoran yang kelasnya oke,
terus mau beliin baju dan yang pasti punya mobil yang asyik buat
jalan-jalan,” kata Nola yang ceplas-ceplos ini.

Lantas Nola mengakui bahwa untuk menyenangkan dirinya itu tidak jarang
seorang lelaki harus mengeluarkan dari koceknya Rp 300 ribu - Rp 500 ribu.
“Heran juga, kok mereka nggak keberatan, padahal kalau mau murah juga
banyak,” kata Nola yang semampai dengan kulit putih mulus ini.

Para ABG yang dapat ‘dipakai’ ini umumnya mudah dikenali dengan dandanan
mereka yang ngetrend dengan baju pendek sehingga kelihatan pinggang dan
pusarnya, atau menggunakan rok mini yang modis. Meskipun sama-sama seksi,
biasanya sangat berbeda dengan pelacur senior dari cara merias wajah.

Para ABG biasanya tidak tampil terlalu menor atau make up kelewatan tebal.
Mereka masih dengan gaya muda ceria. Selain itu para ABG lebih pintar
memantas-mantas diri sesuai dengan mode yang lagi in.

Perbedaan lainnya, mereka pun tidak pernah menawar-nawarkan diri, entah
karena memiliki kepercayaan diri yang tinggi alias pe-de, karena umumnya
memang cantik alamiah, atau karena memang itu ‘kiat’ pemasarannya. Yang
pasti, para ABG ini biasa bergerombol dan asyik dengan dunia mereka
sendiri, sampai ada yang mengajak berkenalan dan berkencan. Saat itulah
mereka menjadi sama dengan umumnya wanita bayaran.

Meskipun tarif mereka sering lebih murah, para ABG ‘pemuas nafsu’ ini
lebih nyaman berpraktek ketimbang para senior yang lebih ‘profesional’.
Para ABG hampir tidak pernah dirazia polisi. Mungkin karena mereka tampak
seperti anak-anak kemarin sore yang terkesan masih ceria bermain di pusat
keramaian Kota Kembang.