wow234
Aku mempunyai tetangga baru, sepasang suami isteri dengan satu anak yang
masih bayi. Suaminya bekerja dikapalmilik Pertamina…… dan isterinya
ibu rumah tangga tulen yaitu setia tinggal dirumah saja…. Pada awalnya
aku tidak terlalu peduli dengan kehadiran tetangga baru itu, walaupun
ketika mereka datang memperkenalkan diri ke rumah aku sedikit terpukau
dengan sang isteri yang punya body seksi dan montok. Pada saat itu aku
merasa keterpukauanku hanyalah hal biasa saja.

Namun waktu berkata lain. Ternyata setelah berinteraksi dengan Vera,
begitu nama tetanggaku yang montok itu, aku mulai merasa ada daya tarik
yang muncul dari wanita itu.

Pertama tentu saja body-nya yang montok, dengan dada yang menjulang dan
pantat yang besar namun padat. pantatnya yang bahenol itu tak kalah
merangsang dibanding pantat “INUL”, membuat pria penasaran untuk
meremasnya.

Kedua, wajah Vera yang sensual. ketika aku melihat wajah Vera, maka aku
membayangkan bintang film BF. Mungkin pengaruh dari bibirnya yang agak
tebal dan matanya yang nakal. Setiap kulihat bibir itu berbicara, ingin
rasanya aku merasakan ciuman dan kulumannya yang membara.

Ketiga adalah selera berbusananya, terutama selera pakaian dalamnya.
Pertama kali aku melihat jemuran pakaian di belakang rumah mereka, aku
langsung tertarik pada pakaian dalam Vera yang dijemur. Model dan warnanya
beraneka macam, mulai dari celana dalam warna hitam, biru, merah, hijau
sampai yang transparan. Modelnya mulai dari yang biasa-biasa saja sampai
model G-string. Motifnya dari yang polos sampai yang bermotif bunga,
polkadot, gambar lucu sampai ada yang bergambar bibir. Wah.. Banyak orang
yang gak suka penmpiln seperti itu, menurutnya kampungan dan seperti
pelacur jalanan. Padahal sebagai lelaki kadang kita ingin sekali bermain
seks dengan perempuan jalanan.

Tiga hal itulah yang membuat aku selalu menyempatkan untuk curi-curi
pandang pada Vera dan tak lupa melihat jemuran pakaiannya untuk melihat
koleksi pakaian dalamnya yang”jalang” itu.

Suatu hari, sepulang dari kantor, aku mampir ke Supermarket dekat kompleks
sekedar membeli makanan instan …
Tak disangka di supermarket itu aku bertemu Vera dengan menggendong
bayinya. Entah kenapa jantungku jadi berdegup keras, apalagi ketika
kulihat pakaian Vera yang body-fit, baik kaos maupun roknya. Seluruh lekuk
kemontokan tubuhnya seakan memanggil birahiku untuk naik.

“Hai.. Mbak, belanja juga?” sapaku.
“Eh.. Mas Aldi, biasa belanja susu”, jawabnya dengan senyum menghiasi
wajah sensualnya.
“Memang sudah enggak ASI ya?” tanyaku.
“Wah.. Susunya cuma keluar empat bulan saja, sekarang sudah tidak lagi”.
“Hmm.. Mungkin habis sama Bapaknya kali ya.. Ha-ha-ha..” candaku.
Vera juga tertawa kecil, “Tapi enggak juga, sudah dua bulan bapaknya
enggak pulang”.
“Berat enggak sih Mbak, punya suami pelaut,…..?”….
“Wah.. …pertamanya sich…agak berat juga…..tapi karena udah
biasa….yah…dijalanin aja..”.

Aku merasa gembira dengan topik pembicaraan ini, namun sayang pembicaraan
terhenti karena bayi Vera menangis. Ia kemudian sibuk menenangkan bayinya.

“Apalagi setelah punya bayi, tambah repot Mas”, katanya.
“Kalau begitu biar saya bantu bawa belanjaannya”, aku mengambil keranjang
belanja Vera.
“Terima kasih, sudah selesai kok, saya mau bayar terus pulang”.
“Ohh.. Ayo kita sama-sama”, kataku.

Aku segera mengambil inisiatif berjalan lebih dulu ke kasir dan dengan
sangat antusias membayar semua belanjaan Vera.

“Ha.. Sudah bayar? Berapa? Nanti saya ganti”, kata Vera kaget.
“Ah.. Sedikit kok, enggak apa sekali-kali saya bayarin susu bayinya, siapa
tahu dapat susu ibunya, ha-ha-ha..”, aku mulai bercanda yang sedikit
menjurus.
“Ihh.. Mas Aldi!” jerit Vera malu-malu. Namun aku melihat tatapan mata
liarnya yang seakan menyambut canda nakalku.

Kami berjalan menuju mobilku, setelah menaruh belanjaan ke dalam bagasi
aku mengajaknya makan dulu. Dengan malu-malu Vera mengiyakan ajakanku.

Kami kemudian makan di sebuah restauran makanan laut di dekat kompleks.
Aku sangat gembira karena semakin lama kami semakin akrab dan Vera juga
mulai berbaik hati memberikan kesempatan padaku untuk “ngelaba”. Mulai
dari posisi duduknya yang sedikit mengangkang sehingga aku dengan mudah
melihat kemulusan paha montoknya dan tatkala usahaku untuk melihat lebih
jauh ke dalam ia seakan memberiku kesempatan. Ketika aku menunduk untuk
mengambil garpu yang dengan sengaja aku jatuhkan, Vera semakin membuka
lebar kedua pahanya. Jantungku berdegup sangat kencang melihat pemandangan
indah di dalam rok Vera. Di antara dua paha montok yang putih dan mulus
itu aku melihat celana dalam Vera yang berwarna orange dan.. Brengsek,
transparan!

Dengan cahaya di bawah meja tentu saja aku tak dapat dengan jelas melihat
isi celana dalam orange itu, tapi itu cukup membuatku gemetar dibakar
birahi. Saking gemetarnya aku sampai terbentur meja ketika hendak bangkit.

“Hi-hi-hi.. Hati-hati Mas..”, celoteh Vera dengan nada menggoda.

Aku memandang wajah Vera yang tersenyum nakal padaku, kuberanikan diri
memegang tangannya dan ternyata Vera menyambutnya.

“Hmm.. Maaf, saya cuma mau bilang kalau Mbak Vera.. Seksi sekali”, dengan
malu-malu akhirnya perkataan itu keluar juga dari mulutku.
“Terima kasih, Mas Aldi juga.. Hmm.. Gagah, lucu dan terutama, Mas Aldi
pria yang paling baik yang pernah saya kenal”.
“O ya?”, aku tersanjung juga dengan rayuannya, “Gara-gara saya traktir
Mbak?”
“Bukan cuma itu, saya sering memperhatikan Mas di rumah, kok……..
Jarang lho Mas, ada pria dengan status sosial seperti Mas yang sudah mapan
dan berpendidikan namun masih mau mengepel rumah”.
“Ha-ha-ha..” aku tertawa gembira, “Rupanya bukan cuma saya yang
memperhatikan kamu, tapi juga sebaliknya”.
“Jadi Mas Aldi juga sering memperhatikan saya?”
“Betul, saya paling senang melihat kamu membersihkan halaman rumah di pagi
hari dan saat menjemur pakaian”.
“Eh.. Kenapa kok senang?”.
“Sebab saya mengagumi keindahan Mbak Vera, juga selera pakaian dalam
Mbak”, aku berterus terang.

Pembicaraan ini semakin mempererat kami berdua, seakan tak ada jarak lagi
di antara kami. Akhirnya kami pulang sekitar jam 8 malam. Dalam perjalanan
pulang, bayi Mbak Vera tertidur sehingga ketika sampai di rumah aku
membantunya membawa barang belanjaan ke dalam rumahnya.

Mbak Vera masuk ke kamar untuk membaringkan bayinya, sementara aku menaruh
barang belanjaan di dapur. Setelah itu aku duduk di ruang tamu menunggu
Vera muncul. Sekitar lima menit, Vera muncul dari dalam kamar, ia ternyata
sudah berganti pakaian. Kini wanita itu mengenakan gaun tidur yang sangat
seksi, warnanya putih transparan. Seluruh lekuk tubuhnya yang montok
hingga pakaian dalamnya terlihat jelas olehku.

Sinar lampu ruangan cukup menerangi pandanganku untuk menjelajahi
keindahan tubuh Vera di balik gaun malamnya yang transparan itu. Buah
dadanya terlihat bagaikan buah melon yang memenuhi bra seksi yang berwarna
orange transparan. Di balik bra itu kulihat samar-samar puting susunya
yang juga besar dan coklat kemerahan. Perutnya memang agak sedikit
berlemak dan turun, namun sama sekali tak mengurangi nilai keindahan
tubuhnya. Apalagi jika memandang bagian bawahnya yang montok.

Tak seperti di bawah meja sewaktu di restoran tadi, kini aku dapat melihat
dengan jelas celana dalam orange transparan milik Vera. Sungguh indah dan
merangsang, terutama warna hitam di bagian tengahnya, membayangkannya saja
aku sudah berkali-kali meneguk ludah.

“Hmm.. Tidak keberatan kan kalu saya memakai baju tidur?”, tanya Vera
memancing.

Sudah sangat jelas kalau wanita ini ingin mengajakku selingkuh dan
melewati malam bersamanya. Kini keputusan seluruhnya berada di tanganku,
apakah aku akan berani mengkhianati Lia dan menikmati malam bersama
tetanggaku yang bahenol ini.

Vera duduk di sampingku, tercium semerbak aroma parfum dari tubuhnya
membuat hatiku semakin bergetar. Keadaan kini ternyata jauh di luar
dugaanku. Kemarin-kemarin aku masih merasa bermimpi jika bisa membelai dan
meremas-remas tubuh Vera, namun kini wanita itu justru yang menantangku.

“Mas Aldi mau mandi dulu? Nanti saya siapkan air hangat”, tanya Vera
sambil menggenggam tanganku erat.

Dari sorotan matanya sangat terlihat bahwa wanita ini benar-benar
membutuhkan seorang laki-laki untuk memuaskan kebutuhan biologisnya.

“Hmm.. Sebelum terlalu jauh, kita harus membuat komitmen dulu Mbak”,
kataku agak serius.
“Apa itu Mas?”
“Pertama, terus terang aku mengagumi Mbak Vera, baik fisik maupun pribadi,
jadi sebagai laki-laki aku sangat tertarik pada Mbak”, kataku.
“Terima kasih, saya juga begitu pada Mas Aldi”, Vera merebahkan kepalanya
di pundakku.
“Kedua, ……mbak sudah punya suami …..saya tidak punya niat untuk
merusak hubungan kalian…”
“ketiga apa yang mungkin kita lakukan bersama-sama janganlah menjadi
pemecah rumah tangga mbak”.
“Setuju, saya sangat setuju Mas, saya hanya ingin punya teman saat saya
kesepian, kalau Mas Aldi mau kapanpun Mas bisa datang ke sini, selagi
tidak ada suami saya. Tapi saya sekalipun tidak akan meminta apapun dari
Mas Aldi, dan sebaliknya saya juga ingin Mas Aldi demikian pula, sehingga
hubungan kita akan aman dan saling menguntungkan”.
“Hmm.. Kalau begitu tak ada masalah berarti saya termasuk pria yang sangat
beruntung…heheheheh”aku tertawa dan sangat menyenangi pembicaraan ini.

“Kalau begitu, Mas Aldi pulang saja dulu, taruh mobil di garasi, kan lucu
kalau Mas Aldi bilang ada acara sehingga tidak bisa pulang, sementara
mobilnya ada di depan rumah saya”.
“Oh.. Iya, hampir saya lupa”.

Aku segera keluar dan pulang dulu ke rumah, menaruh mobil di garasi dan
mandi. Setelah itu ………………..
Aku segera datang kembali ke rumah Vera. Wanita itu sudah menungguku di
ruang tamu dengan secangkir teh hangat di atas meja. Pahanya yang montok
terpampang indah di atas sofa.

“Wah.. Ternyata mandi di rumah ya? Padahal saya sudah siapkan air hangat”.

“Terima kasih, Mbak Vera baik sekali”.

Wanita itu berjalan menutup pintu rumah, dari belakang aku memandang
kemontokan pantatnya yang besar dan padat. Kebesaran pantat itu tak mampu
dibendung oleh celana dalam orange itu, sehingga memperlihatkan belahannya
yang merangsang. Seperti tak sadar aku menghampiri Vera, lalu dengan nakal
kedua tanganku mencengkeram pantatnya, dan meremasnya.

“Uhh..”, Vera agak kaget dan menggelinjang.
“Maaf”, kataku.
“Tidak apa-apa Mas, justru.. Enak”, kata Vera seraya tersenyum nakal
memandangku. Senyum itu membuat bibir sensualnya seakan mengundangku untuk
melumatnya.
“Crup..!”, aku segera menciumnya, Vera membalasnya dengan liar.

Aku tak tahu sudah berapa lama bibir itu tak merasakan ciuman laki-laki,
yang jelas ciuman Vera sangat panas dan liar. Berkali-kali wanita itu
nyaris menggigit bibirku, lidahnya yang basah meliuk-liuk dalam rongga
mulutku. Aku semakin bernafsu, tanganku menjalar di sekujur tubuhnya,
berhenti di kemontokan pantatnya dan kemudian meremas-remas penuh birahi.

“Ohh.. Ergh..”, lenguh Vera di sela-sela ciuman panasnya.

Dengan beberapa gerakan, Vera meloloskan gaun tidurnya hingga terjatuh di
lantai. Kini wanita itu hanya mengenakan Bra dan CD yang berwarna orange
dan transparan itu. Aku terpaku sejenak mengagumi keindahan pemandangan
tubuh Vera.

“Wowww.. Kamu.. Benar-benar seksi Mbak”, pujiku ,”Buah dada Mbak besar
sekali”
“Hi-hi-hi.. coba tebak ukuran saya?”, tanyanya seraya memegang kedua buah
melon di dadanya itu.
“36 B”, jawabku.
“Salah”
“36 C”.
“Masih salah, sudah lihat aja nih”, Vera membuka pengait Bra-nya, sehingga
kedua buah montok itu serasa hampir mau jatuh. Ia membuka dan melempar bra
orange itu kepadaku.
“Gila.. 36 D!”, kataku membaca ukuran yang tertera di bra itu.
“Boleh saya pegang Mbak?”, tanyaku basa-basi.
“Jangan cuma dipegang dong Mas, remas.. Dan kulum nih.. Putingnya”, kata
Vera dengan gaya nakal bagaikan pereks jalanan.

Wanita itu menjatuhkan tubuh indahnya di atas sofa, aku memburunya dan
segera menikmati kemontokan buah melonnya. Kuremas-remas dua buah dada
montok itu, kemudian kuciumi dan terakhir kukulum puting susunya yang
sebesar ibu jari dengan sekali-kali memainkannya di antara gigi-gigiku.
Vera menggelinjang-gelinjang keenakan, napasnya semakin terdengar resah,
berkali-kali ia mengeluarkan kata-kata jorok yang justru membuatku semakin
bernafsu.

“Ngentot, enak banget Mas..” jeritnya, “Ayo Mas.. Saya sudah kepingin
penetrasi nih!”.

Aku yang juga sudah sangat bernafsu segera menjawab keinginan Vera. Dengan
bantuan Vera aku menelanjangi diriku sehingga tak tersisa satupun busana
di tubuhku. Vera sangat gembira melihat ukuran penisku yang lumayan
panjang dan besar itu.

“Ohh.. Besar juga ya..” jeritnya.

Ia benar-benar bertingkah bagaikan perek murahan, namun justru itu yang
kusuka. Wanita itu segera membuka CD orange sebagai kain terakhir di
tubuhnya. Kulihat daerah bukit kemaluannya yang ditumbuhi rambut-rambut
liar, dengan segaris bibir membelah ditengah-tengahnya. Bibir yang merah
dan basah, sangat basah. Ingin rasanya aku menikmati keindahan bibir
kenikmatan Vera, namun ketika aku ingin melaksanakannya ia menampikku.

“Sudah, nanti saja, masih ada babak selanjutnya, sekarang ayo kita
selesaikan babak pertama”.

Vera duduk mengangkang di atas sofa. Kedua kakinya dibuka lebar-lebar
mempersilakan kepadaku untuk melakukan penetrasi kenikmatan sesungguhnya.
Aku pun segera menyiapkan senjataku, mengarahkan ujung penisku tepat di
depan liang vagina Vera dan perlahan tapi pasti menekannya masuk.

Sedikit-demi sedikit penisku tenggelam dalam kehangatan liang Vera yang
basah dan nikmat. Ketika hampir seluruh batang penisku yang berukuran 20
cm itu memasuki vagina, aku mencabutnya kembali. Kemudian kembali
memasukkannya perlahan.

“Enghh.. Gila kamu Mas, kalau begini sebentar saja saya puas”, jerit Vera
keenakan.
“Tak apa Mbak, silahkan orgasme, kan masih ada babak selanjutnya”,
tantangku. Kini kutambah rangsangan dengan meremas dan memilin puting
susunya yang besar.
“Ohh.. Ohh.. Benar-benar enak Mas”, Vera memejamkan matanya.
Pada penetrasi kelima, Vera menjerit, “Sudah Mas, jangan tarik lagi, saya
mau.. Mau.. Oh..!”

Dinding vagina Vera melejat-lejat seakan memijit batang penisku dalam
kenikmatan birahi yang sedang direguknya.

“Oh.. Saya sudah sekali Mas”, katanya sambil menarik nafas.
“Mas mau puas dulu atau mau lanjut babak kedua?”, tanya Vera.
“Terserah Mbak”, kataku. Aku sih pasrah saja.
“Sini, saya emut saja dulu”.
“Hmm.. Boleh juga, pengen ngerasain dioral…”, aku mencabut penisku dari
dalam vagina Vera yang basah dan menyodorkannya ke Vera.

Wanita itu menjilati ujung penisku dengan lidahnya seakan membersihkannya
dari cairan vaginanya sendiri, kemudian dengan sangat bernafsu ia
memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Bibir seksi Vera terlihat
menyedot-nyedot penisku seakan menyedot spermaku untuk keluar. Ia kemudian
mengocok penisku dalam mulutnya hingga birahiku mencapai puncaknya.

“Oh.. Saya mau keluar nih, gimana?”, aku bingung apakah aku harus
mengeluarkan spermaku ke dalam mulutnya atau mencabutnya.

Namun Vera hanya mengangguk dan terus mengocoknya pertanda ia tak
keberatan jika aku memuntahkan spermaku ke dalam mulutnya.
Akhirnya aku mencapai orgasme dan memuntahkan semua spermaku ke dalam
mulut Vera. Wanita itu tanpa segan-segan menelan seluruh spermaku. Sungguh
lihai wanita ini memuaskan birahi laki-laki!

Kami duduk sebentar dan minum air dingin, kemudian Vera mengangkangkan
kakinya kembali.

“Nah.. Sekarang babak kedua Mas, kalau mau jilat dulu silahkan, tapi
utamakan yang ini ya”, Vera menunjuk ke arah klitorisnya yang agak besar.
“Oke Mbak, saya juga sudah biasa kok”, seruku.

Sejurus kemudian aku sudah berada di hadapan bibir kemaluan Vera yang baru
saja aku nikmati. Sebelum kujilat terlebih dahulu kubelai bibir itu dari
ujung bawah hingga klitoris. Kusingkap rambut-rambut kemaluannya yang
menjalari bibir itu.

“Sudah gondrong nih Mbak”, seruku.
“Oh iya, habis mau dicukur percuma juga, enggak ada yang lihat dan jilat”,
jawabnya nakal, “Besok pagi saya cukur deh, tapi janji malamnya Mas Aldi
datang lagi ya..”.
“Oke.. Pokoknya setiap ada kesempatan saya siap menemani Mbak Vera”.

Aku kemudian asyik menjilati dan menciumi vaginanya…. Cairan vagina Vera
sudah mulai mengalir kembali pertanda ia sudah terangsang kembali. Desahan
Vera juga memperkuat tanda bahwa Vera menikmati permainan oralku. Dengan
nakal aku memasukkan jari telunjuk dan tengahku ke dalam vaginanya dan
kemudian mengobok-obok liang becek itu.
ia mendesah desah……
oooouughhh……ssshhhhhhhh…………
kemaluanku yang sudah tegang keras itupun kumasukkan kedalam vagina mbak
Vera………
oooohhh…..ia menggeliat kenikmatan………
kocokan kontolku awalnya pelan….tapi semakin lama semakin
kencang……..
mbak Vera semakin bernafsu….badannya bergerak kesana kemari seperti
cacing kepanasan……
bibir nya digigit seakan menahan sesuatu…..
badannya terangkat keatas…seakan ingin memasukkan semua batang kontolku
kedalam vaginanya….
dan
aaachhhhh……tangannya memeluk erat punggungku…
ssshh..oohh..mas…….massss……..massssssshhhhh
saya kkluaaaaaarrrrrrrrr….
ia histerisss menyambut klimaksnya………..menyambut orgasmenya…..

ia tergeletak lemas…..kubiarkan ia istirahat sejenak…sementara aku
belum juga sampai……

“Yes.. Asyik banget.. Say sudah siap babak kedua Mas”, seru Vera.

Aku sendiri sudah terangsang kembali……..sejak tangan Vera asik
memegangi sambil mengelus ngelus kemaluanku………, jadi penisku sudah
siap menunaikan tugas keduanya. Vera menungging di atas sofa.

“Sekarang doggy-style ya Mas..”

Aku sih iya saja, maklum.. Sama enaknya..

Sejurus kemudian kami sudah terlibat permainan babak kedua yang tak kalah
seru dan panas dengan babak pertama,
…………………………………………………………..
pantatnya yang indah bulat telah terpampang didepanku….
Vera menoleh kearahku…..seakan memberi isyarat untuk mulai menunaikan
tugas…….
kuarahkan penisku……keselah bongkahan pantatnya…..
dan slepppppp………..
vera menggoyang pantatnya sejenak kemudian memaju mundurkannya…….
tangannya mencengkeram erat seprei kasur…nya.
ooohhhh………trus……mas….trussss………

percaturan birahi ini berlangsung 45 menit sudah…
dan aku pun mendapatkan orgasmeku…….orgasme yang nyampe ke ubun
ubun……….
hanya kali ini aku memuntahkan sperma di dalam
vaginanya……………………
rupanya Vera pun tidak mempersoalkan ….mau keluar didalam atau
diluar…….

Malam masih begitu panjang. Kami masih menikmati dua permainan lagi
sebelum kelelahan dan mengantuk. Vera begitu bahagia, dan aku sendiri
merasa puas dan lega. …………………………………
Mimpiku untuk menikmati tubuh montok tetanggaku terlaksana sudah. Bahkan
kini setiap waktu jika suaminya dinas berlayar maka aku secara resmi
menggantikan posisi suaminya di ranjang………… Asyik juga.
…………..walaupun banyak kebutuhan hidup sehari hari dari mbak Vera
aku yang nanggung…….itu bukan masalah………..
karena kenikmatan yang kuperoleh….masih lebih besar nilainya……..
Betapa bahagianya Vera dengan bantuanku itu, ia semakin sayang padaku dan
berjanji akan melayaniku jauh lebih memuaskan dibanding pelayanan kepada
suaminya.

berselingkuh dengan isteri orang memang punya resiko berat………tapi
kenikmatannya……..wow…..takkan bisa dilukiskan dengan kata kata……

kenikmatan yang tidak bisa kita peroleh dari vagina pacar
kita………atau vagina isteri kita………..