
Cerita ini adalah memory ku yang tak dapat ku lupakan. Cerita ini
sunguh-sunguh terjadi dan nama-nama dalam ceritaku ini adalah nama-nama
yang sesungguhnya, tapi yang aku gunakan adalah insialnya saja. Namaku
adalah Eml Amn, seperti judulku di atas, cerita ini mengisahkan tentang
kenangan yang tidak pernah kulupakan bersama mantanku. Baiklah ceritanya
begini….
Malam itu aku ingat bulan Agustus tahun 1994. Namun aku lupa tanggalnya,
hanya aku ingat harinya adalah hari Senin malam sekitar pukul 21.30.Malam
itu bulan purnama, sehingga kami dapat melihat dengan jelas wajah
masing-masing. Aku parkirkan mobil Kijang Rover abu-abu ku di pinggir
pantai Ancol.
“Kemana aja sih lo Rg? Gue bener-bener kangen deh ama lo” aku mulai
membuka pembicaraan. “Ah yang bener….?” jawab Rgn. “Elo sekarang lagi
deket sama siapa?” tanya ku. Rgn menjawab “Ada lah…, namanya Ptt”. Aku
bertanya lagi “Elo udah ngapain aja sama dia?” “Kok elo nanyanya gitu
sih?” ujar Rgn. Aku menjawab “Abis waktu gue pacaran sama elo dulu kan
nggak lebih dari pas foto doang (cuma cipokan sama megang-megang toket),
tiap tangan gue mau kebawah, elo tarik lagi ke atas”. Rgn. terdiam. lalu
mulailah ia menceritakan bahwa karena pergaulan ia sempat ikut-ikutan
dengan teman-temannya sewaktu di SMA swasta Prg Ckn. Lalu salah seorang
temannya menggunakan kesempatan pada saat Rgn sedang setengah fly,
temannya itu memerawaninya. Aku terdiam mendengar ceritanya. Lalu dengan
sangat hati-hati aku berkata kepada Rgn. “Dari dulu gue udah bilang sama
elo, waktu elo mutusin gue, hati-hati jaga diri elo, jangan ikut-ikutan
temen-temen elo yang nggak bener, nanti elo dikerjain sama temen elo
sendiri, dan ternyata bener kan?” Lalu Rgn menjawab “Iya lo Eml., coba gue
dengerin kata-kata elo waktu itu ya”. Lalu aku berkata “Ya udah, yang udah
ya udah, sekarang elo nyesel nggak?” Rgn menjawab “Gue nyesel bukan karena
gue udah nggak perawan lagi, tapi gue nyesel karena perawan gue ilang
dengan cara yang gue nggak rela, dan perawan gue ilang bukan dengan orang
yang bener-bener gue sayangin, kenapa perawan gue ilang bukan sama elo,
kenapa elo gue putusin waktu itu”. Aku terdiam. Dia pun terdiam. Kemudian
aku berkata untuk memecahkan suasana yang agak mendung “Ya udah deh, nggak
usah di seselin Rgn, sekarang gue menuntut keadilan nih, gue pengen
ngerasain juga nih making love sama elo…” Rgn menatap ku dalam. Dengan
cepat aku langsung berkata “Nggak kok Rg…, becanda”. Tanpa kuduga Rgn
tersenyum, dan ia berkata “Boleh….” Aku tersentak, kaget, senang, tidak
percaya. Aku bertanya “Bener nih Rg?” Dan ia hanya tertawa kecil. Kemudian
aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan ku dekatkan wajahku ke
wajahnya, lalu aku cium bibirnya sejenak, lalu aku tarik lagi wajahku agak
menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirkupun kurasakan tergetar,
begitu juga dengan bibirnya.Lalu aku tersenyum, dan ia pun tersenyum.
Kemudian mulailah kami cerita ngalor ngidul, tentang hubungan nya dengan
Ptt pacarnya, tentang betapa ia dan pacarnya itu sudah sangat jauh
hubungannya. Dan aku pun menceritakan tentang diriku. Sampai pada suatu
saat, entah bagaimana mula ceritanya, tiba-tiba aku bertanya kepada Rgn.
“Rgn, tapi jangan marah ya…! Gua mao tanya, barangnya Ptt gede nggak?”
Rgn agak terperengah lalu Rgn tersenyum, dan berkata “Apa-apaan sih elo,
kok nanya begituan segala?. Aku berkata “Serius nih, gue pengen tau?” Rgn
bilang sambil malu-malu kucing “Tauk ah!” Lalu aku berkata padanya “Oke,
elo bilang kan elo udah jauh berhubungan sama Ptt, nah pasti elo kan udah
pernah dong liat punya nya Ptt”. Lalu Rgn sambil tertawa kecil menjawab
“Iya udah…”. Lalu ia berkata “Tapi kan gue belom pernah liat punya lo
Ml”. Lalu aku berkata “Nah, sekarang gue kasih liat nih ya”. Belum sempat
Rgn bereaksi apa-apa tanpa ragu-ragu aku buka zipper (retsletting)
celanaku, lalu aku pelorotkan celanaku dan celana dalamku sampai sebatas
lutut. Aku mendengar Rgn terkejut “Eml… Gilaaa!!!… Itu… apaan
tuh?… Astaga Eml… Guede buanget barang lo?!… Keker, melengkung ke
atas lagi…, itu urat-uratnya aja ampe nonjol-nonjol kayak gitu… iihh
ngeri ah….” Aku hanya tertawa, dan berkata “Ah masak sih Rg segini
gede?” Lalu Rgn berkata “Ya ampun…Eml, mati deh gue kalo begituan ama
elo dengan barang lo yang segede gini, udah pernah elo ukur belom barang
lo Eml? Wah!… pasti cewek lo ngejerit kalo digituin sama elo dong?…”
Aku menjawab “Udah sih, panjangnya sih gue ukur 22 cm kurang 3 mili, terus
garis tengahnya sekitar ampir 7 cm”. Terdengar lagi Rgn berkata “Gila…
gila…”. Lalu aku berkata “Udah deh, sekarang gedean mana sama Ptt?” Lalu
Rgn menjawab “Ya ampun Eml, kalo kayak gini mah Ptt nggak ada apa-apanya”.
Lalu aku bertanya lagi kepada Rgn “Nah sekarang boleh nggak gue minta
jatah gue nih?” Rgn terdiam. Akhirnya dengan setengah berbisik namun yakin
dan mantap Rgn berkata “Boleh deh” Lalu ia tersenyum dan berkata lagi
“Tapi nanti masukkinnya pelan-pelan ya Ml, gue takut, sakit”. Dan aku pun
mengangguk dengan segera.
Singkat cerita, kami berdua pindah ke bangku belakang (tengah) Kijang
Roverku, dengan pakaian yang sudah terlucuti masing-masing. Aku cium
kening Rgn terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua
pipinya, lalu bibirnya. Rgn terpejam dan ku dengar nafasnya mulai agak
terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara. Aku
arahkan multku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah dadanya yang
dari sejak pacaran dulu bagiku buah dada Rgn adalah buah dada yang
terindah, besar, montok, kencang, ukuran 36B, dengan puting yang agak
memerah. Aku mainkan lidahku di puting kedua buah dadanya yang mulai
mengeras. Yang kiri… lalu yang kanan…. Terdengar ucapan Rgn “Eml, elo
tau aja kelemahan gue, gue paling nggak tahan kalo dijilat toketnya…,
aaahhhh….” Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati puting
buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, dan tiba-tiba aku berhenti, lalu
aku bertanya kepada Rgn “Rg elo udah pernah belom dijilatin itu lo? Rgn
menjawab “Belom…, kenapa?…” Aku menjawab “Mau nyoba nggak?”. Rgn
mengangguk perlahan. Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama
lagi langsung aku arahkan mulutku ke kemaluan Rgn yang bulunya lebat, dan
kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas… Aku keluarkan ujung
lidahku yang lancip lalu kujilat dengan lembut kelentit Rgn. Beberapa
detik kemudian ku dengar desahan panjang dari Rgn
“Ssssstttttt………..aaahhhhhhh!!!” Lalu ia berkata “Aaaahhhh….Eml….
gila enak bener……, Gila…. gue baru ngerasain nih enak yang kayak
gini…. aaahhhhhh….., gue nggak tahan nih…., udah deh…..” Lalu
dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku lalu dengan tersenyum ia memandangku.
Tanpa ku duga ia menyuruhku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya
tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi.
Lalu ia memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam
mulutnya. Aaahhh… kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Lalu aku
berkata “Aduh Rg, jangan kena gigi dong… sakit, nanti lecet…” Lalu
sambil kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku
yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri…, ke kanan…, lalu dengan
perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan kemaluanku
semaksimal mungkin kedalam mulutnya. Namun hanya seperempat dari panjang
kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya. Sampai
terdengar suara “Ohk!… aduh Eml, cuma bisa masuk seperempat…” Lalu aku
menjawab “Ya udah Rg, udah deh jangan dipaksaain, nanti elo muntah….” Ku
tarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di bangku belakang (tengah) Kijang
Roverku. Lalu ia membuka paha nya agak lebar, terlihat samar-samar olehku
kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah.Lalu ku pegang batang
kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku rasakan kepala
kemaluanku mulai masuk perlahan, ku tekan lagi agak perlahan, kurasakan
sulit kemaluanku menembus lubang kemaluannya. Ku dorong lagi perlahan, ku
perhatikan wajah Rgn dengan matanya yang tertutup rapat, ia menggigit
bibirnya sendiri, kemudian berdesah berkata “Ssssssstttttttt….
aaaahhhhhhhhhh…, Eml, pelan-pelan ya masukkinnya, udah kerasa agak perih
nih….” Dan aku pun dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang
kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Rgn, aku berupaya untuk dengan sangat
hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke lubang vagina Rgn. Aku
sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong batang
kemaluanku agak keras, dan terdengar dari kemaluanku Rgn suara “Srrph!”
Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Rgn, tampak olehku batang
kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya. Rgn tersentak
kaget, dan aku pun demikian. Lalu Rgn betanya “Aduh Eml, suara apaan tuh?”
Aku menjawab dan menenangkan Rgn “Nggak apa-apa, sakit nggak?” Lalu Rgn
menjawab “Sedikit…” Lalu aku berkata “Tahan ya.., sebentar lagi masuk
kok…” Dan kurasakan lubang kemaluan Rgn sudah mulai basah dan agak
hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam kemaluan Rgn sudah mulai keluar,
dan siap untuk berpenetrasi. Akhirnya aku desakkan batang kemaluanku
dengan cepat dan tiba-tiba agar Rgn tidak sempat merasakan sakit, dan
ternyata usahaku berhasil, ku lihat wajah Rgn seperti orang yang sedang
merasakan kenikmatan yang luar biasa, matanya setengah terpejam, dan
sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara
“Sssshhhhh….. sssshhhh…..” Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi
bibirnya yang sensual…. Aku pun mersakan nikmat yang luar biasa… Ku
tekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada yang
mengganjal, ku perhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga
perempat kedalam lubang kemaluan Rgn, ko coba untuk menekan lebih jauh
lagi, ternyata sudah mentok…, kesimpulannya, batang kemaluanku hanya
dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Rgn. Dan
Rgn pun merasakannya. Ini aku ketahuai karena Rgn pun berkata kepadaku
“Aduh Eml, udah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut gue udah kerasa
agak eneg nih, eneg-eneg enak…, gila…, aduh…, barang lo gede banget
sih Ml….”
Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku kekiri,
lalu kekanan, memutar, lalu kembali kedepan kebelakang, keatas lalu
kebawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Rgn, dalam benak
pikiranku ternyata lubang kemaluan Rgn masih sempit, ini mungkin karena
ukuran batang kemaluanku yang menurut Rgn besar, panjang dan kekar. Lama
kelamaan goyanganku sudah mulai tratur, perlahan tapi pasti, dan Rgn pun
sudah dapat mengimbangi goyanganku, kami bergoyang seirama, berlawanan
arah, bila kugoyang kekiri, Rgn goyang kekanan, bila kutekan pantatku Rgn
pun menekan pantatnya. Namun itu semua aku lakukan dengan perlahan namun
teratur dan pasti, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk
Rgn, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini
berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Rgn merenggut
rambutku, sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat. Tubuh kami
berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas,
namun kami tidak perduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara
pada saat itu. Aku terus menggoyang pantatku kedepan kebelakang, keatas
kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat dimenit ke dua puluh kalau
aku tidak salah, Rgn berkata “Aahh Eml…, agak cepet lagi sedikit
goyangnya…, gue kayaknya udah mao keluar nih….” Rgn mengangkat kakinya
tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa
menit kemudian semakin erat…, semakin erat…, tangannya sebelah
menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit
kecil telingku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang
dari mulutnya memanggil namaku “Eml….. aahhhh………..
Mmmmhhhaaahhhhh………. Aahhhhhhhh……..”. Kurasakan lubang
kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang
kemaluanku, Aaahhhhh…. gila…. ini nikmat sekali… baru kurasakan
sekali ini lubang kemaluan bisa seperti ini. Tak lama kemudian aku tak
tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah
dan………, tubuhku mengejang……. lalu Rgn berseru “Eml…, cabut…,
keluarin di luar…..” Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik
kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan
“Aaaahhhhh….ahhhhh….” Aku mengerang tertahan “Ngggggghhhhhhh……
ngggghhhhhhhh……” Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan
kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali
keluar dari batang kemaluanku, stchrootttth…
stchroottthhhh….scrothhhhh……craattttttthhhhh….., sebagian
menyemprot wajah Rgn, sebagian lagi ke toketnya, kedadanya, terakhir
keperut dan pusarnya…. Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan,
lalu kudengar Rgn berkata “Eml…, enak banget making love sama elo,
rasanya beda sama kalo gue gitu sama Ptt. Enakan sama elo, kalo sama Ptt,
gue jarang keluar, tapi baru sekali gitu sama elo gue bisa keluar, barang
kali karena barang lo yang gede bangeth ya?… Gue nggak bakal lupa deh
sama malam ini, gue akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis gue”
Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Rg, gue juga, gue nggak
bakal lupa”.
Aku antar Rgn pulang ke rumahnya dibilangan Tn Abg. Kami pulang dengan
kenangan manis yang tak dapat kami lupakan selama-lamanya.
