Dari selembar koran, kurengkuh kenikmatan
Perjalanan pulang ke Solo kali ini awalnya biasa saja. Memang sudah menjadi kebiasaan ku untuk pulang ke Solo kota kelahiran , sekedar untuk buang pusing aja, tercatat minimal sebulan sekali selalu aku melakukan ritual ini.
Senja Utama Solo menjadi pilihan, selain untuk ngirit uang dibandingkan dengan pesawat, kereta ini juga membawa kenangan, masih kutemukan teman teman seperjuangan di antara gerbong gerbong lusuh penuh pengabdian.
Dari dulu sejak jadi gelandang gak punya uang, sampai sekarang sudah lumayan punya kendaraan, pilihan hati tetap tak berubah.
Ada suasana berbeda di emplasement setasiun jatinegara malam itu, yah , agak padat dibanding dengan kepulanganku sebelumnya, ada apa kah gerangan.
22 September 2006 jumat sore, aaaahhhh mungkin orang orang ini juga kepengen memulai Ramadhan di kampung benakku.
Benar dugaan, Senja Utama Solo terlihat penuh, ada beberapa yang tidak mendapat kursi, dan selonjoran di gang antara bangku, termasuk sesosok wanita yang ibunya duduk tepat di sebelahku ..
” Lho mbak, kok ndak pake tempat duduk” tanyaku
” Iya mas , soalnya tadi dadakan , kalau ibu sudah pesen duluan ” jawabnya
” oooo , ya sudah nanti diatur kalau sudah jalan ” ajakanku menuruti hati ku yang memang baik hati ini
Jalanlah kereta kesayangan dengan mulai malam telah tiba, dan para penumpang yang berbenah menggelar gelaran bagi yang akan selonjoran di bawah. Dan disinilah mulai.
” wah mas, aku ndak bawa koran e ” kata Leni, demikian dia mengenalkan diri.
” ya ndak apa apa, pake punya saya aja, bawa banyak kok ” ulur tanganku mengenai kebiasaanku
Singkat kata, sang ibu duduk selonjor di atas, dan Leni duduk selonjoran di bawah, disampingku.
Saling bercerita tentang kegiatan dia yang baru dua bulan kerja di Jakarta, dan apa yang menjadi kegiatannya, akhirnya, rasa kantuk mulai menuai, sementara sang ibu sudah terlelap,
Lampu kereta yang temaram sangat syahdu kala itu, melenakan kami berdua
” mas Leni ngantuk nih, gimana dong caranya bobok, sempit gini ” rajuknya
” hahaha wah aku sih sudah sering spt ini, sekarang caranya kita harus miring , biar cukup tempatnya ” hiburku
Dengan alasan masih ngobrol maka kita miring berhadapan, kebayang kan betapa dekatnya, dan entah magnet apa yang membuat segala nya terjadi, kita berbicara lebih dekat saling mendekat sampai bibir kami bersentuhan dan dilanjutkan dengan ciuman ciuman ringan , aaaaah segarnya lidahnya.
kondisi lampu yang benar benar padam, ditambah tertutupnya aktifitas kami dengan selimut yang aku sewa membuat kami berciuman semangkin dalam, tangaku sudah menanggalkan kancing baju depannya dan memuntir punting susu kecilnya aaahhh tangannya sudah menggapai penisku dengan gelora dan kedutan hasrat….
Gapai tangan kami melorotkan sedikit celana kami, termasuk celana dalam
dan trimakasih pada lampu yang barbaik hati mati di saat itu, dan terjadilah sebuah hubungan intim biarpun dengan posisi miring dan minim goyangan untuk menhindarkan kecurigaan sekeliling kami,
hanya kedutan lubang dan batang penis yang menjadi permainan ini
” aaaahhh maaasss ” rintih Leni sambil mengecup ringan bibirku,
” Len, sudah ya , disambung lain waktu mau gak ” tanyaku
” janji ya mas, kalau dah sampai di jakarta lagi, mas telpon aku yah ”
” iya … ”
tobe continued, baru mau full eksekusi nih
overal
breat 34B atau mungkin A, i dont mind tocil hehehe
height 160/50 mmm ya gitu deh
pantat bunder hehehe
vagina tanpa cukur, alami
GFE bgt …
