Cerita Antara KitaOctober 20, 2006 5:01 am

Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Akupun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku nggak bisa konsentrasi sedikitpun, yang aku pikirkan cuma Rani. Aku pulang kerumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Rani keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk.
“Dodi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong..”
“Eh.. apa? Iya, iya aku nggak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu” jawabku, dan aku buru-buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, akupun segera mengajaknya berangkat. Rani menyarankan agar kami pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rani duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia memakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku nggak bisa lepas melirik kepahanya.

Sesampainya dibioskop, aku beranikan memeluk pinggangnya, dan Rani tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket aku peluk dia dari belakang. Aku tahu Rani merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Rani meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang nonton nggak begitu banyak, dan disekeliling kita tidak ditempati. Kita segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian aku dekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang-kadang lidahku digigitnya lembut. Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja aku selinapkan ke balik BH-nya, dan payudaranya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung diisap dengan kuat oleh Rani. Tangankupun semakin gemas meremas payudaranyanya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Rani mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu.

Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap-usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya aku singkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Rani berpindah menciumi telingaku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah. Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Aku elus-elus, pelan-pelan, aku usap dengan penuh perasaan, kemudian aku putar-putar, makin lama makin cepat, dan makin lama makin cepat. Tiba-tiba tangannya mencengkeram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badanya tersentak-sentak beberapa saat.
“Dodi.. aduuhh.., aku nggak tahan sekali.., berhenti dulu yaahh.., nanti dirumah ajaa..”, rintihnya. Akupun segera mencabut tanganku dari selangkangannya.
“Dodi.., sekarang aku mainin punya kamu yaahh..”, katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol. Aku bantu dia dengan aku buka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak. “Dodi.., ini sudah basah.., cairannya licin..”, rintihnya dikupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan. Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya. “Rani.., teruskan sayang..”, kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa penisku sudah keras sekali. Rani meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekali karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana.
“Rani.., aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..”, kataku dengan suara yang nggak yakin, karena masih keenakan.
“Waahh.., Rani belum mau berhenti.., punya kamu ini bikin aku gemes..”, rengeknya
“Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..?!” ajakku, dan ketika Rani mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Rani, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai. Di mobil tangan Rani kembali mengusap-usap celanaku. Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, “Nanti aku boleh nyium itunya yah..”. Aku pengin segera sampai ke rumah.

Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Rani membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan aku ciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Rani aku bimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri aku ciumi bibirnya, aku lumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya. Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi payudaranya yang masih dibalut BH. Dengan tak sabar BH-nya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga aku turunkan dan semuanya teronggok di karpet.

Badannya yang telanjang aku peluk erat-erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Rani yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Rani juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Rani melakukannya sambil memeluk badanku. penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya. uuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kami yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kami saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi payudaranya dengan bergantian. Tangan Rani juga sudah menggenggam dan mengelus penisku. Badan Rani bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas.

Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Rani mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat didepan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan kekepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan-pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku. Aku semakin mengerang, dan karena nggak tahan, aku dorong penisku sampai terbenam ke mulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ke tenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju-mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan-tekan agar penisku semakin terasa nikmat. Isapan mulut dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuatku merasa sudah nggak tahan. Apalagi sewaktu Rani melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat.

Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Rani menahannya dan tetap mengisap penisku. Maka akupun nggak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan rasa nikmat yang luar biasa. Spermaku langsung ditelannya dan dia terus mengisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, mulut Rani masih terus menjilat. Akupun akhirnya nggak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal-sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam.
“Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali”, kataku berbisik
“Ah.., aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu..”.
Kemudian ujung hidungnya aku kecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan aku ciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kita mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi payudaranya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri. Rani mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian kebawah lagi sampai merasakan bulu jembutnya, aku elus dan aku garuk sampai mulutnya menciumi telingaku. Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi payudaranya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan kenikmatannya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan kemaluannya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris serta liang kewanitaannya, membuat Rani semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya aku putar-putar terus, juga mulut kemaluannya bergantian.

“Ahh.., Dodii.., aahh.., teruss…, aahh.., sayaangg..”, mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang-goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Akupun segera menurunkan kepalaku kearah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya aku lipat ke atas, aku pegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga liang kewanitaan dan clitorisnya terbuka di depan mukaku. Aku tidak tahan memandangi keindahan liang kewanitaannya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan liang kewanitaannya. Cairan surganya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi bibir kemaluannya dengan ganas, dan lidahku aku selip-selipkan ke lubangnya, aku kait-kaitkan, aku gelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya aku putar dengan lidah, aku isap, aku sedot, sampai Rani meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut.

“Dodii.., aku nggak tahan.., aduuhh.., aahh.., enaakk sekalii..”, rintihnya berulang-ulang. Mulutku sudah berlumuran cairan kewanitaannya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian aku lepaskan mulutku dari liang kewanitaannya. Sekarang giliran penisku aku usap-usapkan ke clitoris dan bibir kemaluannya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan diliang senggamanya. Rani juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut ngebantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya.
“Ranii.., aahh.., enakk.., aahh..”
“aahh.., iya.., eennaakk sekalii..”.
Kita saling merintih. Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke bibir kemaluannya. Rani semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke liang senggamanya.
“Aduuhh.. Dodii.., saakiitt.., aadduuhh.., jaangaann..”,rintihnya
“Tahan dulu sebentar…, Nanti juga ilang sakitnya..”, kataku membujuk

Kemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian aku tekan lagi, aku keluarkan lagi, aku tekan lagi, kemudian akhirnya aku tekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Rani sampai terbuka tapi sudah nggak bisa bersuara. Punggungnya terangkat dari karpet menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan aku keluarkan lagi, aku dorong lagi, aku keluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini aku dorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama-sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka aku ciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding kemaluannya. Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kita saling mengisap dengan kuat. Kami sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka akupun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, makin cepat, makin cepat, dan goyangan pantat Rani juga semakin cepat.
“Dodii.., aduuhh.., aahh.., teruskan sayang.., aku hampir niihh..”, rintihnya.
“Iya.., nihh.., tahan dulu.., aku juga hampir.., kita bareng ajaa..”, kataku sambil terus menggerakkan penis makin cepat. Tanganku juga ikut meremasi susunya. Penisku makin keras kuhujam-hujamkan ke dalam liang surganya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa liang senggamanya juga menguruti penisku di dalam. penis kutarik dan tekan semakin cepat, semakin cepat.., dan semakin cepat..”.
“Raanii.., aku mau keluar niihh..”.
“Iyaa.., keluarin saja.., Rani juga keluar sekarang niihh”.
Akupun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Rani yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding kemaluannya dengan keras. Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Liang kewanitaannya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami liang senggamanya.
“aahh…, aahh.., aahh..”, kita sama-sama mengerang, dan liang kewanitaannya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan-nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya nggak akan berakhir. Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan liang senggamanya masih berdenyut meremas-remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa bersisa sedikitpun.
“aahh.., aahh.., aduuhh…”, kita sudah nggak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan.

Ketika sudah mulai kendur, aku ciumi Rani dengan penis masih di dalam liang senggamanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Aku ciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Rani sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur. Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek oleh penisku. Dan ketika penisku aku cabut dari sela-sela liang kewanitaannya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kami terus saling membelai, dan Rani masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:00 am

Aku pria berumur 22 tahun, kuliah disalah satu universitas di Jakarta. Sebut saja namaku Aldi. Dalam berpacaran aku sudah cukup berpengalaman. Tapi dalam soal seks aku masih pemula. Aku hanya melakukan sebatas pinggang ke atas. Setidaknya aku pernah melihat payudara cewek secara langsung. Aku melakukan terhadap cewekku yang terakhir. Pada cewek-cewekku sebelumnya aku tidak berani melakukannya, bahkan ciuman sekalipun. Mungkin suasana yang kurang mendukung. Cewekku yang terakhir inilah, aku melakukan ciuman bibir bahkan hampir melakukan hubungan seks. Itulah yang terjadi sebelum aku mengenal Fenny dan melakukan hubungan seks.

Begini ceritanya, dua bulan setelah jadian aku bertanya padanya sebut saja namanya Sisi. “Bolehkah aku mencium kamu..” Sisi diam sesaat kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju, tapi sebelum itu Sisi berkata, “Lain kali jangan tanya karena aku malu untuk menjawabnya..” Aku pun mengiyakan. Dengan posisi berdiri kurangkul dia dan mencium bibirnya, karena baru pertama kali, aku gemetaran dan hanya menempelkan bibirku ke bibirnya selama 1 detik.

Tiga bulan setelah jadian aku pun melakukan french kiss yang dahsyat sekali. Selama 2 bulan aku hanya melakukan ciuman tersebut. Memasuki bulan ke-5 setelah jadian, aku kembali melakukan french kiss tapi kali ini tanganku mulai jahil berusaha menyusup di balik kaos Sisi, Sisi berusaha untuk menghindar dan aku pun tidak berusaha untuk melanjutkannya. Ciuman kami makin dahsyat, aku tidak lagi menciumi bibirnya melainkan ke lehernya terus menciumi dan sesekali menjilatinya. Sisi mendesah panjang. Keringat mulai mengucur di wajah kami. Kembali aku meyusupkan tanganku ke balik kaosnya, kali ini Sisi diam saja. Jemari tanganku mulai menyentuh perutnya yang ramping terus menjalar ke atas, akhirnya aku menyentuh payudaranya yang padat berisi dan masih terbalut BH. Aku pun belum merasa puas, jemari tanganku berusaha membuka kaitan BH-nya. “Berhasil,” batinku. Kaitan BH terlepas. Aku menghentikan aktifitasku dan melepaskan pakaianku sehingga aku telanjang dada di hadapan Sisi.

Kemudian aku melepas juga pakaian Sisi. Sisi agak menolak, entah kenapa Sisi akhirnya membiarkan saja aku melepaskan pakaiannya. Mulailah kelihatan payudara Sisi yang putih bersih dengan BH-nya yang agak melorot ke bawah karena kaitannya sudah lepas dan aku pun melepaskannya dari tubuh Sisi. Karena malu, Sisi menutupi payudaranya dengan telapak tangannya. Dibalik celanaku, batang kejantananku ingin keluar dari sarangnya karena sudah tegak berdiri dari tadi.

Aku merentangkan kedua tangan Sisi, maka terlihat jelaslah 2 bukit yang indah yang dihiasi 2 putingnya yang berwarna coklat. Aku pun melumat salah satu puting tersebut ke dalam mulutku, tidak lupa salah satu tanganku menyentuh payudaranya yang menganggur. Sisi tidak tinggal diam, dia mengapit salah satu kakiku. Rupanya dia ingin memberikan kenikmatan pada liang senggamanya dengan cara tersebut, batang kejantananku tidak luput dari gesekan tersebut. Sekali-sekali aku pun mendesah ketika batang kejantananku menerima gesekan dari kakinya. Aku terus mempermainkan payudaranya secara bergantian. Kami berdua telah bermandikan keringat. Karena terus mengalami gesekan dari kaki Sisi, batang kejantananku tidak kuat lagi menahannya. Akhirnya aku memuncratkan maniku di dalam celanaku. Rupanya Sisi mengalami hal yang sama, karena saat itu Sisi berkata, “Aldi, ada sesuatu yang keluar dari kemaluanku..” Aku pun menerangkan kepada Sisi bahwa kita telah mencapai klimaksnya. Kami berdua pun saling rangkul. Kejadian tersebut terus berlangsung sampai beberapakali tapi aku belum juga berhasil melihat liang senggamanya karena Sisi selalu menolak. Akhirnya kami putus setelah jadian selama 10 bulan karena Sisi tidak bisa lagi menemuiku yang telah pindah keluar kota.

Setelah setahun berpisah dengan Sisi, keinginan untuk berpacaran lagi kembali timbul, apalagi setelah melihat teman kampusku yang bernama Fenny. Orangnya cantik, berkulit putih bersih, selain itu dia pun mudah bergaul dengan siapa saja. Kadang-kadang dia selalu curhat padaku dan dia pun bilang bahwa dia baru putus dengan cowoknya sekitar 2 bulan yang lalu, dan kadang-kadang juga selalu minta diantar karena aku memang punya motor. Walaupun aku sangat menginginkannya menjadi pacarku. Tapi aku belum berani mengucapkan kata cinta. Karena aku takut persahabatan kami putus gara-gara kejadian tersebut.

Pada suatu hari, tepatnya hari Sabtu. Salah seorang teman kampusku cewek mengadakan pesta yang diadakan di rumahnya. Dia mengundang seluruh teman kampusku termasuk aku dan Fenny. Fenny dan aku berangkat dari tempat yang terpisah, dia dijemput temannya pakai mobil dan aku naik motor punyaku. Singkat cerita pesta berakhir jam 8:00 malam, teman-teman telah bersiap untuk pulang. Tiba-tiba Fenny menghampiriku dan bertanya, “Kamu mau nggak nganterin aku pulang.” Aku mengiyakan. Kami pun berangkat, ditengah perjalanan Fenny berkata, “Aldii.. ke kost aku dulu ya.. ada bukuku yang tertinggal,” kata Fenny. “Baiklah,” kataku. Ditengah perjalankan kulihat cuaca menunjukkan tanda akan hujan.

Akhirnya kami sampai di kost Fenny. Tempat kost Fenny lumayan besar dan mempunyai kamar mandi. Disaat Fenny mengemasi buku-bukunya, hujan turun cukup lebat. Fenny telah selesai berkemas tapi hujan belum juga berhenti. Kami terus menunggu hujan berhenti sambil cerita-cerita. Jam 9:30 malam hujan belum juga reda, Fenny pun menelpon ke rumah melalui HP-nya.
“Ma.. aku nginap di kost-an aja, masih hujan di sini,” katanya.
Mamanya menyetujui, “Kalau begitu, aku akan pulang sendiri dong.” kataku, Fenny hanya tersenyum.

Jam 10:00 malam hujan belum juga reda. Fenny telah mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa, kaos oblong dengan celana pendek. Sambil menunggu hujan reda, kami pun kembali bercerita. Tetapi perhatianku tidak lagi terfokus pada ceritanya melainkan pada Fenny yang duduk di tepi ranjang. Paha putih mulusnya yang tersingkap karena memakai celana pendek. Walaupun hanya sedikit cukup membuat batang kejantananku tegak. Aku tidak tahan lagi, ketika Fenny menggoyang-goyangkan kakinya. Sebenarnya pemandangan tersebut biasa-biasa saja tapi aku telah dirasuki hawa nafsu.

Tiba-tiba saja aku langsung memeluknya, dan mencium bibirnya. Tidak sampai disitu, aku mendorong tubuhnya ke atas ranjang, kemudian menghimpitnya dengan tubuhku. Aku melanjutkan aktifitasku, mencium dan melumat bibirnya. Fenny kaget. Tapi Fenny tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terus menciuminya, tanganku yang nakal mulai menyusup di balik kaos Fenny. Fenny menangkisnya. Dengan sedikit gerakan, aku berhasil menepisnya dan terus menyusup sampai menyentuh payudara Fenny yang masih terbungkus BH. Aku meremas lembut payudara Fenny. Fenny mendesah. Aku terus meremas tidak lupa ciumanku terus melumat bibirnya. Aku mengalihkan ciumanku ke lehernya. Fenny kembali mendesah. Jemari tanganku mulai merayap ke punggungnya, dan berusaha melepas tali BH Fenny.

“Berhasil,” batinku. Fenny tersentak kemudian mendorong tubuhku ke samping. “Kita tidak boleh melakukan ini, Aldi.” kata Fenny. Aku terdiam tapi nafsuku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi dan berkata, “Memang tidak boleh sih, tapi..” Aku kembali merangkul Fenny, kali ini ciumanku lebih ganas dari yang pertama. Mulai dari bibir terus ke telinga menjalar ke lehernya. Jemari tanganku melanjutkan aksinya lagi menarik ke atas BH terus meremasnya, memuntir-muntir putingnya. Fenny pasrah dan kelihatan mulai panas dengan permainan yang kuterapkan. Aku mengangkat tubuh Fenny dan membuka baju serta BH-nya, aku pun demikian. Aku memulai lagi aksiku, kali ini ciuman kuarahkan ke payudaranya. Fenny menggeliat, apalagi tanganku menyentuh payudaranya yang satu lagi. Kami berdua telah bermandikan keringat. Tangan Fenny menjambak rambutku.

Permainan jemari tanganku mulai merangkak ke bawah dan berusaha menyusup ke balik celana pendek serta CD-nya. Fenny tidak lagi berusaha menangkisnya. Jemari tanganku sudah menyentuh rambut kelaminnya. Inilah pertama kali aku menyentuh rambut kelamin cewek. Aku merasa ketagihan. Kemudian jari-jari tanganku menggesek-gesek sekitar liang senggama Fenny. Fenny mendesah panjang dan membenamkan kepalaku ke payudaranya, untuk mendapatkan kenikmatan lebih.

Setelah beberapa lama, ciumanku mulai merangkak ke bawah sampai batas rambut kelaminnya yang sedikit terbuka. Aku kemudian meloroti celana pendek dan CD-nya. Aku pun demikian. Sekarang di atas ranjang, aku dan Fenny sudah telanjang bulat. Aku terkagum melihat pemandangan tubuh Fenny. Akhirnya aku berhasil melihat tubuh bugil cewek, apalagi yang seperti Fenny. Payudaranya putih padat berisi dihiasi putingnya yang berwarna coklat. Liang senggamanya dikelilingi rambut kelamin yang lebat. Tubuh Fenny hampir mirip tubuh Sisi tapi kelebihan tubuh Fenny aku melihat seluruhnya tanpa pakaian sedangkan Sisi hanya sebatas pinggang ke atas. Fenny yang selalu memejamkan mata, mulai membuka matanya, sedikit kaget saat melihat dirinya sudah tidak memakai apa-apa lagi dan melihat diriku dengan batang kejantanan tegak berdiri. Fenny menutupi payudaranya dengan meyilangkan kedua tangannya.

Aku kembali beraksi, kali ini daerah sasaranku liang senggamanya. Aku menciumi dan menjilati yang agak menonjol di sekitar liang senggamanya mungkin itu yang dinamakan klirotis. Setelah beberapa lama ciumanku kembali ke atas, merentangkan tangannya yang menutupi payudaranya. Terus menjilati tubuhnya dan akhirnya mendarat kembali di bibirnya. Alat kelaminku dan Fenny saling beradu. Ini membuat batang kejantananku ingin dimasukkan ke tempatnya. Aku mengatur posisi dan melebarkan kaki Fenny. Fenny tersadar dan berkata, “Kita sudah terlalu jauh, perlu kamu tahu inilah penyebab aku putus dengan cowokku karena aku tidak mau melakukan ini.” Aku tidak lagi mempedulikan kata-kata Fenny karena hawa nafsuku sedang menuju kepuncak. Aku kembali merangkul Fenny dan menciumi bibirnya, kali ini lebih dahsyat lidahku bergoyang-goyang di mulutnya.

Fenny tidak bisa berbuat apa-apa dan kelihatannya kembali larut dalam kenikmatan. batang kejantananku yang sudah gatal ingin segera memasuki liang kenikmatan Fenny. Aku mengambil posisi yang pas, batang kejantananku mulai memasuki pintu kewanitaannya. Karena baru pertama kali, batang kejantananku sering melenceng memasuki liang senggama Fenny, aku terus berusaha dan akhirnya masuk juga batang kejantananku ke dalam liang senggamanya. Fenny kembali mendesah panjang, “Aldi.. ntar aku hamil,” kata Fenny sambil memelas. “Aku akan bertanggung jawab,” kataku. Fenny sedikit tenang, batang kejantananku telah masuk sedikit demi sedikit. Akhirnya semua batang kejantananku tenggelam di liang senggama Fenny. Aku menggoyangkan pinggulku sehingga batang kejantananku keluar masuk di liang senggama Fenny. Makin lama makin cepat. Fenny mendesah sambil menyebut namaku. Kami berdua kembali bermandikan keringat walaupun cuaca sebenarnya lumayan dingin. Sesuatu cairan yang hangat menerpa batang kejantananku yang masih berada di liang senggama Fenny. Rupanya Fenny telah mencapai orgasme. Aku pun tidak tinggal diam dengan mempercepat gerakan batang kejantananku keluar masuk di liang senggama Fenny.

“Inilah saatnya,” batinku. Akhirnya puncak kenikmatanku datang, spermaku muncrat di dalam liang senggama Fenny. “Nikmat sekali,” batinku. batang kejantananku terkulai di dalam liang senggama Fenny dan aku pun mengeluarkannya. Sperma, cairan kewanitaan dan darah perawanan Fenny lengket di batang kejantananku yang sudah kembali seperti semula. Aku melihat Fenny menangis, aku berusaha menenangkannya dan mengatakan, “Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah aku lakukan kepadamu karena selama ini aku cinta kamu..” Tangisan Fenny sedikit mereda, aku merangkulnya dan mencium keningnya. Kami kemudian membersihkan diri di kamar mandinya. Karena kecapaian kami berdua langsung tertidur tanpa mengenakan pakaian dan tidur kami pun saling berangkulan. Aku lupa bahwa sebenarnya setelah mereda aku pulang.

Pagi harinya, Fenny bangun lebih dahulu dan langsung ke kamar mandi. Sesaat kemudian aku pun terbangun dan mendengar suara guyuran air di kamar mandi. Aku berjalan menuju ke kamar mandi dan mengetoknya. Fenny pun membuka pintu kamar mandi. Kembali aku terkesima melihat Fenny yang telanjang bulat dengan rambut yang basah. Gairahku kembali memuncak. Aku masuk dan langsung merangkul tubuh Fenny. “Mandi dulu dong,” pinta Fenny. Aku menuruti ajakannya kemudian mengguyuri tubuhku dengan air. Beberapa saat setelah itu aku menyabuni tubuhku dengan sabun cair. Fenny turut membantu, malah dia menyabuni batang kejantananku yang kembali tegak. Rasa malu Fenny telah hilang, Fenny mengocok-ngocok batang kejantananku dengan lembut. Nikmat sekali rasanya. Saat hampir mencapai klimaksnya aku melepaskan tangan Fenny karena belum saatnya. Gantian aku yang menyabuni Fenny, mula-mula kedua tangannya terus kedua kakinya. Sampailah ke daerah yang vital, aku berdiri di belakang Fenny terus merangkulnya dan menyabuni payudaranya dengan kedua telapak tanganku. Terdengar Fenny mendesah panjang. Usapanku merangkak ke bawah melewati perutnya hingga akhirnya sampai ke liang senggamanya. Kembali aku mengusapnya dengan lembut. Busa sabun hampir menutupi permukaan liang senggama Fenny. Kali ini Fenny merintih nikmat. Setelah puas aku mengguyur kedua tubuh kami yang masih berangkulan.

Fenny kemudian membalikkan tubuhnya dan kami pun saling berhadapan. Fenny kemudian mencium bibirku, aku membalasnya dan terjadi lagi french kiss yang dahsyat. Tangan kami pun tidak tinggal diam, aku menyentuh payudara Fenny dan Fenny pun menyentuh batang kejantananku yang masih perkasa berdiri. Setelah beberapa lama, Fenny membimbing batang kejantananku memasuki liang senggamanya. Dengan melebarkan kakinya batang kejantananku kembali memasuki liang senggama Fenny. Fenny melilitkan tangannya ke leherku. Kemudian aku menggendong Fenny dan menyandarkan ke dinding kamar mandi. Setelah itu aku kembali menggoyangkan pinggulku yang membuat batang kejantananku keluar masuk di liang senggama Fenny. Akhirnya spermaku keluar dan membasahi seluruh dinding liang senggama Fenny. Fenny ternyata belum mencapai klimaksnya, untuk membantunya aku menjilati liang senggama Fenny. Kemudian aku menyedotnya, ingin mengeluarkan isi dari liang senggama Fenny. Fenny sedikit menjerit dengan apa yang kulakukan. Akhirnya Fenny megeluarkan juga cairan dari liang senggamanya dan pas mengenai wajahku. Fenny terkulai nikmat, aku mengguyuri kembali tubuh kami berdua.

Aku dan Fenny telah selesai mandi, dan telah memakai pakaian masing-masing.
“Maukah kamu menjadi pacarku Fenny,” tanyaku. Fenny mengangguk pelan. Aku pamitan untuk pulang ke kost-ku, dan Fenny tetap tidak jadi pulang ke rumahnya. Begitulah caraku mengungkapkan cinta terhadap Fenny. Oh.. sungguh ungkapan cinta yang sangat nikmat.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 4:56 am

Akhir 1977 merupakan batas bagiku untuk harus menyelesaikan kuliah pada Fak.Teknik Mesin di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Aku butuh biaya yang tidak sedikit dan umurku telah mencapai hampir 27 tahun. Sehingga hampir segala macam jenis pekerjaan untuk mendapatkan minimal 60% tambahan untuk biaya kuliah, ujian lokal maupun ujian negara kuusahakan semaksimal mungkin karena aku sudah menghentikan pemberian dari orang tuaku, kupikir mereka sudah cukup membiayaiku selama hampir 7 tahun selama aku kuliah. Bekerja part time antara lain aku ikut dalam pembuatan beberapa film Nasional baik di dalam negeri maupun sampai keluar negeri, mengikuti salah satu sutradara yang cukup terkenal, aku sekaligus merangkap sebagai figuran dan kru film itu sendiri.

Selama mengikuti pembuatan beberapa film di Jakarta, aku sempat berkenalan dengan salah satu pemain wanita yang pada saat itu cukup terkenal dan cukup aduhai baik wajah dan bentuk tubuhnya. Umurnya 38 tahun dengan tinggi kira-kira 164 cm serta berat badan ideal bagi wanita seumurnya, rambutnya panjang dikepang satu, pokoknya amat ideal menurut ukuran favoritku. Dia isteri seorang pengusaha dan merupakan adik dari salah satu sutradara terkenal di Jakarta untuk film-film action di saat itu dimana aku ikut bekerja. Oleh karenanya itu Mbak Evie (demikian kami menyapanya) sering menjadi pemeran pembantu dihampir semua produksi film yang kuikuti tersebut. Raut serta kelengkapan wajahnya, kehalusan dan warna kulitnya kalau boleh aku bandingkan dengan bintang sinetron masa kini mirip sekali dengan Vonny Cornelya.

Aku sendiri pada saat itu masih muda, wajahku lumayan dengan kumis hitam yang lebat, didukung dengan tinggi badan 173 cm, berat 68 kg, postur tubuhku cukup bagus yang kujaga berkat hasil olahraga keras seperti pencak silat tradisionil selama masa kuliah serta aku mempunyai sikap kebiasaan yang cukup sabar, penuh perhatian terhadap segala sesuatu yang menarik perhatianku juga kepada hal-hal yang baru khususnya dibidang fotografi dan perfilman disertai bicara apa adanya kadang seenaknya tapi tetap menjaga sopan santun khususnya kepada yang lebih tua. Ini menjadi modal utama bagiku yang pada saat itu sehingga aku amat dekat dengan Mas Mahesa Jenar (Sang Sutradara). Kedekatannya denganku membuat para figuran ingin bersahabat denganku terutama wanita-wanita muda yang cantik dan berharap untuk bisa tampil pada setiap adegan dalam setiap film yang dibuat oleh Mas Echa (kru film menyapanya dengan panggilan ini).

Perkenalanku dengan Mbak Evie berlanjut secara tidak sengaja terjadi pada saat aku bersama kru film yang lain sedang mengambil shooting bertempat di lokasi Cibodas dimana aku sudah beranjak naik dari figuran kemudian dipercaya oleh Mas Echa untuk menjadi juru foto atau ‘Still Photo’ menurut istilah perfilman (aku mempunyai hobby fotografi sampai dengan saat ini) dan akhirnya aku dipercaya sebagai asisten Mas Echa. Bekerja dengan Mas Echa, seorang sutradara yang amat baik tetapi tegas dalam memberikan kesempatan kepada setiap anggota kru film dibawah pimpinannya untuk berkembang sehingga hampir semua pekerjaan yang menyangkut pembuatan film kukuasai (kita bekerja dengan system kekeluargaan yang erat). Secara kebetulan aku juga memiliki sedikit keahlian untuk mengurut/memijat badan/anggota tubuh yang kupelajari seiring dengan kegiatan bela diri tradisionil yang telah kusebut di atas dan akhirnya para kru tahu bahwa mereka punya ‘tukang urut’ untuk relaks setelah menjalankan kegiatan sehari-hari. Inilah awal aku jadi lebih akrab dengan Mbak Evie yang manis dan menggairahkan dengan umurnya 38 tahun dan sudah mempunyai anak 2 puteri yang cantik-cantik, Cempaka yang sulung kelas 1 SMA dan Melati yang bungsu kelas 2 SMP.

Beberapa kali seperti biasanya apabila setelah kegiatan shooting selesai pada malam hari kami berkumpul bersama sutradara dan beberapa kru film yang telah menjadi akrab seperti saudara sendiri serta juga Mbak Evie berada diantara kami. Dan pada suatu saat kami sedang melakukan shooting film di sebuah villa di Cibodas.

“Dhitya, katanya jari-jari kamu pandai melemaskan otot yang kaku, coba sekarang buktikan sama Mbak kalau kamu memang benar-benar ahli.” kata Mbak Evie pada suatu malam disaat ‘break’ sehabis shooting kami berkumpul di villa Cibodas di ruang tengah yang mana hadir juga beberapa kru dan Mbak Ranti yang merupakan isteri Mas Echa, orangnya lembut dan amat baik hati, seperti biasanya sebagian kru termasuk aku duduk di lantai yang dilapisi karpet tebal.
“Iya Dhit, aku juga mau diurut badanku terutama bagian belakang dan pinggangku rasanya pegal sekali, aku sudah hampir 2 malam berturut-turut tidurku nggak nyenyak,” sambung Mas Echa yang langsung rebah telungkup di bawah dekat aku duduk bersimpuh.
“Mas, kasihan Dhitya dong, jangan lama-lama yaa. Dia kan perlu istirahat juga.” Mbak Ranti langsung memotong kata-kata suaminya, aku tersenyum dan maklum bahwa Mbak Ranti sangat sayang kepadaku dan dia menganggapku sebagai adiknya sendiri karena aku sudah agak lama mengikuti kru film Mas Echa dan selalu membantu apa yang diperintah mereka berdua diluar kerja film, bahkan beberapa kali Mbak Ranti memberiku uang untuk tambahan biaya kuliah dan ujian, pernah juga dia menemuiku tertidur di atas meja di kamar editing film Mas Echa, di rumahnya karena saking lelahnya bekerja, dia mengambil selimut dan menutupi tubuhku agar tidak kedinginan karena editing room harus selalu dalam keadaan sejuk dengan suhu maksimal 15 derajat Celsius.

Kembali pada keadaan di villa Cibodas malam itu, Mas Echa seperti tidak peduli dengan ucapan isterinya tadi seperti yang kuceritakan di atas, dia dengan wajah yang gagah, kelaki-lakian atau HE-MAN menurut istilah perfilman serta tubuhnya tinggi besar sudah tegeletak telungkup di hadapanku dengan dada telanjang. Aku pun langsung action mengurut Mas Echa sambil melirik dan berkata kepada Mbak Evie, “Sebentar yaa Mbak, aku selesaikan Mas Echa setelah itu aku akan mengurut Mbak.”
“Benar lho, kamu mau mengurutku, awas kalau kamu bohong,” jawabnya dengan senyum yang manis dan rasanya ada sesuatu luar biasa.

Seperti biasanya Mas Echa kalau sudah kena tanganku mengurutnya dalam tempo 15 menit langsung terdengar dengkurnya yang khas, kulihat Mbak Ranti yang masih asyik mengobrol dengan Mbak Evie menggeleng-gelengkan kepalanya dan bangkit dari kursi lalu meninggalkan kami menuju kamar tidur sambil berkata, “Vie, aku tidur duluan ya, Mas-mu itu kalau sudah diurut lupa sama semuanya, dan ini selimutnya ya Dhit, untuk kamu sama Mas Echa.”
Memang salah satu kebiasaanku dan Mas Echa kalau shooting di luar kota terutama di daerah pegunungan kami selalu tidur di ruang tengah villa, jadi selimut selalu disiapkan oleh Mbak Ranti.

Sementara teman-teman yang lain satu persatu meninggalkan ruang tengah untuk langsung istirahat tidur karena biasanya pagi-pagi sebelum matahari terbit kegiatan shooting sudah mulai kembali.Tinggal kami bertiga, Mas Echa yang sudah tertidur dengan dengkurnya yang khas, Mbak Evie yang dengan penuh perhatian memandang ke arah tanganku yang bergerak dengan pasti dan lentur mengurut punggung serta pinggang Mas Echa dan aku sendiri ’si tukang urut’.

Kutengok ke arah Mbak Evie yang sedang melamun. Aduh mak! manisnya ini wanita dengan dadanya yang montok, padahal anaknya sudah 2 dan tubuhnya masih padat dan montok itu.

Sudah 20 menit aku mengurut Mas Echa dan kelihatannya dia sudah terbang ke alam mimpi.
“Bagaimana Mbak Evie, jadi nggak dikerjain badannya?” sapaku enteng acuh tak acuh sambil tersenyum.
“Jadi dong, memangnya aku mau nungguin kamu dengan percuma tanpa hasil?” jawabnya tertawa halus dan renyah terdengar olehku.
“Tapi aku nggak mau di sini, ayo kita ke kamarku,” katanya lagi setengah berbisik, aku terkejut dan jadi bertanya-tanya dalam hati, dia ini serius ya?.
“Mbak, nggak enak dong sama Mas Echa dan Mbak Ranti nantinya kalau mereka tahu kita berdua di dalam kamar aku mengurut Mbak,” jawabku pelan dan agak ragu.
“Alaahh, nggak pa-pa kok, mereka kan sudah pada tidur, ayo cepetan aku juga sudah mulai ngantuk nih.” tukasnya dengan kerlingan mata yang penuh arti.

Nah lho, aku berpikir sejenak, ini adalah kesempatanku berdua dengan Mbak Evie yang dari sejak pertemuan pertama aku sudah membayangkan bagaimana bentuk tubuhnya yang indah kalau tanpa sehelai benang melekat di tubuhnya, tapi aku masih ragu-ragu soalnya dia kan adiknya Mas Echa dan sementara itu banyak orang di sekitar kami meskipun semua sudah pada tidur di kamarnya masing-masing. Kuselimuti Mas Echa yang sudah mendengkur seperti suara gergaji pemotong balok kayu itu. Kulihat Mbak Evie sudah naik dan masuk ke kamarnya yang terletak di bagian atas villa yang disewa itu dan perlahan-lahan aku mengikuti dari belakang.

“Sebentar ya Dhit aku ganti baju,” katanya, dia masuk ke kamar mandi, beberapa saat kemudian dia keluar mengenakan celana olahraga yang amat pendek sehingga pahanya yang putih mulus terlihat dengan indah dan dia mengenakan kaos T-Shirt yang membuatku tertegun sejenak menelan ludah karena buah dadanya yang ternyata besar dan masih mencuat padat, terlihat membekas putingnya pada T-Shirt tersebut karena dia tidak memakai BH. Aku pura-pura tidak memperhatikannya.
“Terus posisi tidurku harus bagaimana Dhit?” tanyanya terlihat seolah-olah masa bodoh dengan penampilannya yang menggairahkan itu.
“Ya terserah Mbak, mungkin sebaiknya tengkurap dahulu supaya saya bisa mulai mengurut dari kaki Mbak.” jawabku agak bingung menghadapi tubuh indah dan menggemaskan itu.
Tanpa banyak bicara Mbak Evie langsung tidur tertelungkup di atas tempat tidur jenis single bed di depanku. Aduh Mak! mimpi apa aku ini ada tubuh montok di hadapanku.

Aku masih tertegun melihat sepasang betis dan paha yang putih mulus di depanku.
“Ayo dong mulai, kok jadi ngelamun.. hayo mikir apa, mikir yang bukan-bukan yaa..” tegurnya halus sambil menoleh ke arahku sambil tersenyum penuh arti, aku tersadar sejenak.
“Oh.. eh maaf Mbak, aku juga heran kok aku jadi bengong melihat betis dan paha Mbak yang mulus ini. Mbak pasti rajin ikut body language ya, pasti nih rajin senam ya Mbak,” jawabku seenaknya tanpa sadar, mungkin aku juga mulai ngawur.
“Ah kamu, dasar laki-laki.. semua sama saja nggak bisa lihat barang mulus, pasti nafsu deh.” juga jawabnya sekenanya.
“Maaf ya Mbak, aku mulai yaa..” kataku sambil mulai memijat telapak kakinya, kemudian naik ke arah betis yang bagaikan padi bunting terus ke bagian paha dengan keahlian gerakan jari-jariku dengan lentur.

Beberapa saat kemudian terdengar keluhannya halus, “Oh.. Dhit, kamu kok pintar sih mijat, Mbak belum pernah merasakan pijatan seperti ini,” katanya lembut, aku juga merasakan gerakan tubuhnya yang mulai seperti terangsang oleh gerakan jari-jariku pada bagian belakang betis, paha serta pantatnya, pinggulnya yang terasa olehku masih padat dan gempal.

Aku memiliki sedikit pengetahuan dalam hal urut-mengurut bagian tubuh wanita maupun pria sejak masa SMA dari seorang ahli massage olahraga dan menurutnya ada daerah yang amat sensitif di atas pantat sedikit dan di bagian bawah pinggang apabila terkena pijatan atau tekanan jari yang tepat dapat menimbulkan nafsu birahi yang tinggi, dan aku mencoba melakukan hal tersebut pada tubuh Mbak Evie, ternyata aku melihat satu hasil nyata, gerakan nikmat darinya disertai nafasnya yang mulai tidak teratur akibat pijatanku tersebut.

“Aaaahhh.. kamu kok mijetnya tambah enak siiihh Dhit?” keluhnya lagi.
“Mbak.. nikmati saja dulu, komentar belakangan deh.” jawabku acuh tak acuh, padahal aku sendiri mulai payah rasanya dan horny dengan desahan-desahannya serta erangannya yang menggemaskan.
Tidak berapa lama kemudian, dia menggeliat dan sekonyong-konyong Mbak Evie membalikkan badannya sehingga tanganku secara tidak sengaja menyentuh perutnya yang putih akibat tersingkapnya T-shirt yang agak kebesaran dengan gerakan badan yang tiba-tiba itu, tangannya serta merta memegang serta menarik tanganku dan ditempelkan ke dadanya yang besar dan membusung itu. Aku sempat tercengang sebentar, lalu dengan refleks aku menggenggam kedua bukit indah itu, lembut.”Ohhhh.. Dhitya, pijet susu Mbak yang enak yaa..” keluhnya penuh nikmat.

Tanpa diminta dua kali aku langsung meremas lembut kedua susunya yang besar dan masih agak kenyal itu dengan kenikmatan luar biasa, terus kuremas sambil mengangkat kaos T-Shirtnya sehingga akhirnya aku dapat melihat bukit indah itu dengan jelas, bukan main putih, besar dengan puting berwarna coklat muda dan menggemaskan. Secara perlahan-lahan kuciumi, dan aku sudah tidak peduli lagi dengan desahan-desahan dan erangan-erangan Mbak Evie yang menikmati permainan jariku serta lidahku yang menjilat serta menghisap kedua susunya dengan puting berwarna coklat muda. Aku rasanya persis seperti bayi minum ASI. Penisku mulai berontak di balik celanaku, tapi aku masih asyik dengan permainan susu Mbak Evie yang memang benar-benar impianku untuk memeluk serta menghisapnya sepuas-puasnya.

“Ooohh.. Dhiitt.. kamu pinter sekali Dhiiit, terus isep susuku Dhiiit..” keluh kesahnya tertahan kenikmatan.
Aku pun mulai dengan kegilaanku, kukecup, kuhisap bergantian kedua puting berwarna coklat muda yang mengeras sebesar biji buah kelengkeng itu dengan kenikmatan yang luar biasa sambil meremas-remas lembut. Gerilya mulutku terus turun ke arah perutnya yang agak berkerut, maklum sudah melahirkan 2 anak tapi masih cukup mulus bagiku, terus turun dan tanganku membuka celana pendeknya sekaligus CD-nya yang berwarna hitam tipis berenda itu. Mbak Evie juga mengangkat pantatnya guna memudahkan aku melepas celananya. Tanganku kembali meremas susunya yang besar, kenyal dan masih padat itu dengan gemasnya, sementara lidahku bergerilya pada ujung vagina Mbak Evie yang ditumbuhi bulu-bulu lebat hitam keriting itu, kujilat lembut sambil mengecup perlahan. Tangan kanannya meremas kepalaku sambil menekan ke arah vaginanya yang basah berlendir bening terasa agak asin di lidahku, sementara tangan kirinya terasa membantuku meremas susunya sambil mendengus tertahan menahan rasa nikmat permainan bibir dan lidahku di vaginanya.

Kuangkat serta kubuka pahanya yang putih mulus itu, terlihatlah dengan jelas dan menggairahkan lubang kenikmatan bagi pria itu berwarna merah muda dan basah oleh cairan yang telah kujilat dan kutelan dengan penuh kenikmatan. Sekali lagi kukecup dan kujilat kedua bibir indah itu dan kugigit kecil klitorisnya yang mungil tapi bukan main menggemaskan. “Dhityaaa.. ooohhh.. mmmfff!” dia mengerang halus mungkin karena sadar bahwa di ruang tengah ada Mas Echa dan di kamar bawah ada Mbak Ranti, tiba-tiba dia menekankan kepalaku ke vaginanya sehingga aku agak gelagapan untuk bernafas disertai jepitan kedua pahanya di kiri kanan kepalaku, terasa cairan hangat kental melumuri lidahku, bibirku, hidungku. Wooow, dia mencapai orgasme. Terdengar sayup-sayup jeritan tertahan keluar dari mulut Mbak Evie, “Aduuuh.. Dhiiit, kamuuuu.. ngggmmm.. gilaaa.. ooohhh..”

Beberapa saat terasa jepitan kedua pahanya masih terasa kuat dan perlahan-lahan mengendur dan akhirnya aku dapat bernafas dengan lega setelah Mbak Evie melepaskan jepitan pahanya di kepalaku serta melepaskan tekanan tangannya di kepalaku dari vaginanya yang nikmat. Mulutku penuh dengan cairan hangat kental dan agak asin itu, tanpa berpikir panjang langsung kutelan karena aku tahu bahwa cairan itu intisari dari makanan yang penuh gizi, sementara tanganku membenarkan penisku yang terjepit CD-ku sendiri supaya agak bebas dari ketegangan yang baru saja terjadi.

“Ooohhh.. Dhitya, kamu nakal deh, tapi pinter..” bisiknya sambil tersenyum, kulihat dia dari arah pangkal paha yang putih mulus itu.
“Mbak.. Mbak sendiri yang buat gara-gara, jadi aku nggak tahan untuk itu,” jawabku perlahan sambil menghela nafas dan antara sadar dan tidak menikmati apa yang baru saja terjadi, tapi agak takut kedengaran orang lain.
“Dhiiit.. sini dong sayaaang..” kata Mbak Evie sambil mengulurkan kedua tangannya, kusambut tangannya dan dia menarikku dan mengecup bibirku serta menciumi seluruh wajahku yang masih basah dengan sisa-sisa air kenikmatan yang keluar dari vaginanya itu seolah tidak dirasakannya sama sekali.
“Kamu telah memberikan kepuasan pada Mbak malam ini, Mbak nggak sangka kamu hebat dengan permainan oral seks kamu.” sambil membelai wajahku dengan lembut. Edan! aku sendiri jadi sadar sekarang bahwa aku baru saja mengalami permainan oral seks dengan wanita yang selama ini menjadi impianku untuk bermain cinta.

“Mas Iwan nggak pernah berbuat seperti apa yang kamu lakukan tadi, aahhh..” keluhnya lagi, Mas Irawan/Iwan adalah suaminya. Sementara aku berkeringat dingin menahan nafsu seksku yang kian memuncak melihat pemandangan di depanku ini, tubuh indah setengah telanjang dari dada ke bawah terbuka tanpa sehelai benang menempel tapi aku sendiri tidak berani untuk mencoba-coba yang aneh-aneh sampai tangan Mbak Evie menyusup ke dalam celanaku dan menyentuh serta meremas penisku yang sudah tegang sejak aku melakukan oral seks terhadapnya.

“Aduuuh.. panjang amat burungmu ini Dhit, berapah sih ukurannya?” tanyanya berbisik manja.
“16 cm Mbak.. tapi jangan sekarang, Mbak.. aku takut nanti Mas Echa atau Mbak Ranti bangun gara-gara ini.. mati aku nanti, Mbak..” kataku berbisik dan was-was penuh kekawatiran tapi juga kepingin karena memang benar aku sudah seperti keluarga sendiri bagi Mas Echa dan Mbak Ranti, kalau aku tertangkap basah bercinta dengan adiknya, habis, tamat, the end riwayatku.
“Ah.. nggak pa-pa Dhit, kamar ini kan di atas dan terpisah agak jauh dari kamar Mas Echa dan mereka sudah pada mimpi.. siniii jangan jauh-jauh tidurannya.” jawabnya lagi merayuku sambil tetap meremas lembut penisku dan menarik tubuhku supaya tetap menempel dengan tubuhnya. Aduh Mak, meskipun aku amat bernafsu, aku masih ragu-ragu. “Teruskan Dhit, kau memang bodoh kalau membuang kesempatan emas yang sudah kamu tunggu-tunggu,” kata hatiku.

Tertegun sejenak, aku kembali sadar dengan remasan tangan di penisku dan kecupan bibir sensual Mbak Evie di pipiku, terus bergeser ke mataku, akhirnya bibir kami berpagut penuh nafsu birahi yang tinggi, tanganku kembali mengusap serta meremas lembut susunya serta puting Mbak Evie yang menggemaskan itu, sementara Mbak Evie juga tidak ingin kalah agresif menggerakkan tangannya naik turun pada penisku yang masih di dalam celana jeans-ku.

“Dhitya, buka celanamu sayang, aku jadi gemas banget dan biar tanganku bebas mengelus burungmu ini,” katanya lagi.
Sejenak permainan tanganku terhenti sejenak, aku bangun dan melepaskan celanaku juga baju serta sweater yang kupakai untuk menahan dinginnya malam di Cibodas. Kulihat Mbak Evie juga serta merta melepas T-Shirt yang dipakainya dan tampaklah tubuh perempuan 38 tahun, masih mulus dengan kedua susunya yang besar (akhirnya kuketahui ukurannya 38A, wooow!), putih mulus dihiasi dengan puting coklat muda. Aku berbalik dan menghadapnya dengan tubuh yang sudah tanpa sehelai benang dan penisku tegak bak meriam si Jagur yang terpampang di Stadhuis stasiun Kota meskipun udara Cibodas cukup dingin menggigit kulit. Mbak Evie tertegun kaget sambil menutup mulutnya yang sensual pada saat dia melihat ke arah penisku yang tegak di hadapannya, kuraih tangannya menyentuh penisku sambil kugenggamkan, dia menurut sambil memandangku kagum.
“Oooh Dhitya, panjang amat.. bohong kalau kamu bilang 16 cm,” katanya sambil meremas lembut serta mulai menggerakkan maju mundur.

Aku sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi tetapi masih bisa berpikir sambil mendekati serta naik ke tempat tidur. Kami sudah duduk berhadapan saling berpandangan, sejenak aku berpikir, “Inilah kesempatanku untuk menikmati tubuh montok Mbak Evie yang sudah sejak perkenalan pertama yang kuimpi-impikan, meskipun sudah dalam keadaan telanjang bulat itu aku masih takut kalau-kalau Mas Echa atau Mbak Ranti terbangun dan mencariku atau Mbak Evie dan kami tidak berada di ruang tengah dan mendapati kami sedang berbugil ria di kamar Mbak Evie maka seperti yang aku katakan di atas, “I AM DEAD!”

Akan tetapi di depanku sudah tersedia yang kuinginkan selama ini, tunggu apa lagi. Kusentuh dan kuremas susu yang besar putih dan montok itu dengan sebelah tangan, sambil merebahkan diri Mbak Evie masih tetap memegang penisku dan aku menarik selimut dan menutupi badan kami berdua agar tetap hangat. Tanganku bergerilya di balik selimut tebal, memilin puting susunya yang coklat muda terus turun ke arah vaginanya yang mulai membasah lagi sementara bibir kami saling berpagutan dan permainan lidah Mbak Evie yang jelas lebih berpengalaman dariku, membuatku tersengal-sengal.

“Dhiiittt.. masukin ya sayang, aku nggak tahan lagi..” desahnya dan terasa dia membuka pahanya serta merta mengarahkan penisku yang tegang dengan tangannya menyentuh klitorisnya dan agak memaksa ditekan memasuki lubang vaginanya yang terasa pas-pasan bagiku, mungkin juga Mbak Evie rajin senam body language, maklum sudah 2 kepala bayi keluar lewat lubang tersebut tetapi itu vagina masih lumayan sempit.

Bukan main, aku merasakan nikmat luar biasa kehangatan dinding vagina Mbak Evie serta kejutan-kejutan kecil mulai dari kepala hingga pangkal penisku yang masuk tertelan habis ke dalam lubang kenikmatan itu.

“Ooohhh.. Dhitya, kamu lain rasanya sama Mas Iwan..” desahnya penuh nikmat, sedangkan aku sudah tidak bisa berbicara apa-apa karena merasakan kenikmatan seperti yang kukatakan di atas sambil memejamkan mataku.
“Mbaaak.. mmmff, enak Mbaakkk..” desahku berbisik di kuping kirinya, kemudian dengan lembut karena aku tidak ingin cepat-cepat kehilangan nikmat dunia ini berlalu dengan segera kukecup keningnya, matanya yang terpejam manis, hidungnya yang mirip hidung Vonny Cornellya itu (agak mancung dan bangir) berakhir di bibirnya yang sensual, kukecup sambil mempermainkan lidah, kupagut habis-habisan sementara dia pun memeluk leher serta kepalaku sambil mendesah-desah kecil.

Aku mulai gerakan turun naik pinggul serta pantatku, reaksi Mbak Evie juga demikian, dia menggerakkan pinggulnya dengan perlahan, makin cepat.. makin cepat, aku merasakan denyut-denyut kecil di kepala penisku. Woooww.. aku hampir orgasme, aku mencoba menahan klimaks yang akan terjadi dengan segera kulepaskan bibir sensual itu dan kukecup, kuhisap serta kujilati bergantian kedua susunya yang besar dan montok itu, rupanya itu merupakan bagian sensitif kedua setelah vaginanya, dia menjerit kecil dan segera kututup dengan tanganku agar tidak keterusan yang dapat berakibatkan, “I AM DEAD.”

“Dhiiit.. ooohh, teruuuss Dhiiitt..” suaranya berbisik terdengar setelah aku melepaskan dekapan tanganku dari mulutnya yang mungil itu sementara aku masih dengan kegilaan yang menjadi-jadi mengisap, menjilati serta menggigit-gigit kecil kedua susu beserta putingnya yang indah itu.Gerakan pinggulku serta pantatku makin cepat.. makin cepat.. makin cepat naik.. turun.. naik.. turun.. naik.. turun yang diikuti oleh gerakan pinggul Mbak Evie yang juga makin hot dan menggila itu.

“Mbaaakk.. akuuu.. nggaaak tahaaannn..” aku mengerang tertahan agar tidak berteriak keras.Badanku mengejang dan beberapa saat paha mulus Mbak Evie menjepit pinggangku dengan kuat serta pagutannya pada bibirku diikuti dengan permainan lidahnya yang hebat dan dia melepaskan pagutannya disertai, “Aduuuhh.. teruuus Dhiiit, akuu mauu.. mmmff..” dia memelukku dengan keras dan, “Crettt!” meledaklah segala yang ada di dalam diri kami dengan menyemburnya spermaku ke dalam vagina Mbak Evie yang disertai orgasmenya sendiri, terasa dengan makin basah dan hangatnya penisku sambil berdenyut ‘terurut’ oleh otot-otot vagina Mbak Evie. Kami berpelukan dengan erat di balik selimut tebal yang menutupi hangat tubuh kami, beberapa saat kami lupa diri.. di mana.. sedang apa.. siapa yang ada di sekitar kami, LUPA, LUPA, LUPA!

Kulepaskan pelukanku atas tubuh Mbak Evie yang montok itu sambil memandangnya, terlihat matanya yang indah itu tertutup sedikit dan perlahan dia membuka kembali matanya sambil menatapku sayu.
“Oohhh.. Dhitya, hari ini kamu memang hebat! selama hampir 17 tahun aku kimpoi baru hari ini aku merasakan kenikmatan orgasme yang enaaak..” katanya sambil tersenyum puas sambil mengusap kedua belah pipiku.
“Mbak.. aku juga mau jujur sama Mbak, sebenarnya aku juga ingin begini sama Mbak sejak pertemuan pertama di rumah Mas Echa beberapa bulan yang lalu, tapi.. yah aku ini apalah.. hanya pembantu kru filmnya Mas Echa dan..” belum sempat aku meneruskan kata-kataku tangan wanita berumur 38 tahun itu yang halus menutup mulutku dengan lembut.
“Mbak sudah tahu dan merasakannya Dhit, aku juga sebenarnya senang sama kamu sejak awal kita bertemu dan Mbak Ranti sudah banyak menceritakan tentang kamu, jadi aku kasihan, yaa senang, yah.. akhirnya ya begini jadinya, tapi aku puas lho.” katanya lagi sambil mengecup bibirku.
“Mbak.. sudah jam berapa ini, besok masih ada shooting, jadi kita stop dulu yaa..” aku mengingatkan dia. Mbak Evie mengangguk dan kami saling melepaskan diri, bangun menuju kamar mandi sambil berjingkat-jingkat agar tidak menimbulkan suara-suara yang mencurigakan para kru yang lain yang kebetulan beberapa diantara mereka tidur di villa yang sama dengan kami. Dengan gaya seperti maling aku melangkah kembali ke ruang tengah, kulihat Mas Echa masih tergeletak mendengkur dengan keras di atas lantai yang dilapisi karpet yang cukup tebal dan aku naik ke atas sofa, menarik selimut dan memejamkan mata sambil kembali melamunkan tentang apa yang baru saja terjadi antara aku dengan Mbak Evie yang cantik dan montok itu.

Sejak kejadian di villa Cibodas itu, Mbak Evie dan aku sering bertemu di rumah Mas Echa atau aku suka diajak ke rumahnya, bertemu dan berkenalan dengan Mas Irawan suaminya yang hobinya bermain golf (olahraga kaum executive yang sukses), cukup gagah Mas Irawan menurutku, pada awalnya aku tidak mengerti mengapa Mbak Evie agak acuh terhadap suaminya kalau kebetulan aku berkunjung ke rumahnya dan ada Mas Irawan. Hubunganku dengan anak-anak mereka cukup baik, bahkan mereka merasa senang dengan kehadiran “Mas Dhitya” yang sering membantu membuat PR juga dalam menjaga hubungan baik itu aku sering diminta tolong oleh Mas Iwan untuk mengantar putri sulungnya Cempaka juga adiknya Melati untuk pergi ke supermarket atau ke restaurant atau ke toko buku baik bersama Mbak Evie ataupun tidak.

Lama kelamaan aku tahu juga dari para kru filmnya Mas Echa bahwa ternyata Mas Irawan punya simpanan kekasih gelap atau WIL (wanita idaman lain), akibatnya Mbak Evie pernah memergoki suaminya berkencan dengan WIL-nya itu melakukan balas dendam yaitu ikut main film bersama kakaknya dan bercinta denganku yang jelas tanpa diketahui oleh keluarganya meskipun beberapa teman kru film sepertinya mencium hubunganku dengan Mbak Evie ada ’sesuatu yang istimewa’.

Beberapa kali kami bercinta di rumah Mbak Evie pada saat anak-anak sedang sekolah ataupun di hotel dan aku baru mengetahui bahwa sejak 1 tahun terakhir Mbak Evie sangat jarang bercinta dengan Mas Iwan sehingga aku bisa mengerti kalau kami bercinta di rumahnya ataupun di hotel serta di lokasi shooting film di luar kota di mana kami menginap 3-4 hari dia berlaku seperti kekasihku dengan manja dan kadang-kadang bersikap garang ingin dipuaskan keinginan seksualnya yang menggebu-gebu dan meletup-letup karena dendam juga haus sentuhan laki-laki, aku pun senang melayaninya, yah.. laki-laki mana tidak akan gandrung melihat perawakan Mbak Evie yang menggemaskan itu tapi akan berpikir 2 kali untuk mencoba untuk menggodanya begitu tahu siapa kakaknya, sedangkan aku hanya sekedar ‘tukang urut’ yang kebetulan bernasib baik dipercaya oleh Mas Echa untuk ikut kerja bersamanya dan bisa “nempel” dengan Mbak Evi yang cantik itu. Sementara aku tetap bersikap biasa dan patuh seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu yang istimewa diantara kami sebagaimana biasanya aturan kru film kepada Mas Echa, Mbak Ranti dan juga Mbak Evie bila bertemu dalam kegiatan shooting film.

Hubungan kami berlangsung terus dengan baik sampai pada suatu saat yang juga amat berkesan yang menjadi salah satu pengalamanku dimasa itu yang akan kusampaikan pada kesempatan lain di situs ini.

Beberapa nama sengaja aku ganti demi menjaga kehormatan serta nama baik orang-orang yang kusebut di atas sedangkan nama-nama tempat serta adik sang sutradara adalah benar nama panggilan sehari-harinya.

Cerita Antara Kita 4:51 am

Kejadian ini terjadi di akhir tahun yang lalu, saat aku dinas audit di kantor bank cabang utama Malang selama 2 minggu. Saat di Malang aku tak bermalam di hotel, tetapi aku tingal di rumah adik laki-lakiku yang juga buka kost sebab bisa dapat penggantian 50 persen dari tarip hotel yang ditentukan. Jadi aku sewa kost 1 bulan di sana. Aku tiba di Malang hari Minggu siang karena melalui Surabaya. Di tempat adikku kamar kostnya ada 8 kamar di bawah dan 4 kamar di atas.

Saat itu kamar bawah terisi penuh mahasisiwi, sedang kamar atas hanya 2 orang lalu saya jadi masih satu kamar kosong. Yang di atas seorang karyawan bank dan seorang bekerja di karaoke, jadi berangkatnya sore hari dan pulang tengah malam bahkan fajar. Kamar mereka berjejeran dan sebelahnya kamar mandi, aku sendiri mengambil yang depan jadi ada kamar kosong di tengah-tengah. Adikku pertama menawarkan tidur saja di kamar dalam, tapi aku menolak sebab ini dinas jadi dapat biaya aku lebih baik kost saja, apalagi adikku kerjanya sebagai sales tiap Senin sudah keluar kota dan pulangnya hari Jumat malam, jadi aku agak rikuh dengan adik iparku perempuan.

Malam itu yang ada hanya seorang yaitu karyawan bank di bagian atas sedang yang bawah agak ramai sebab hari Minggu. Saat aku membenahi kamar atas, aku sering melihat anak bank itu lewat kamarku untuk turun ke bawah. Anaknya tinggi dan berkulit kuning serta rambut sebahu, payudaranya cuku besar sebab saat di rumah pakai celana pendek dan kaos untuk tidur saja, hingga kalau jalan terlihat payudaranya agak menantang malam itu setelah aku bercakap-cakap dengan adik dan adik iparku lalu aku masuk tidur. Sebelum tidur aku berpikir adik iparku itu orangnya baik sebab walapun dia sarjana, ia pilih kerja buka toko eceran di rumah walaupun wajah dan bodinya pun hebat tidak beda jauh dengan istriku. Alasannya sambil mengawasi anaknya yang masih kecil umur 2 tahun dan rumah kost.

Pagi hari setelah mandi dan siap-siap mengatur yang penting ke kantor, aku dikagetkan dengan kata-kata salam,
“Selamat pagi Oom!”
“Iya”, sahutku.
“Mari duluan”, katanya lagi dan
“silakan”, jawabku lagi.
Ternyata yang memberi salam itu adalah anak bank itu, tetapi kok tak pakai pakaian seragam. Lalu aku turun pula pinjam telepon adikku supaya aku dijemput di rumah adikku. Memang kalau pagi aku dijemput sebab antar jemput sedang kalau sore harus pulang sendiri sebab sering pulang lambat. Sementara adikku sudah harus berangkat keluar kota, aku ditemani oleh adik ipar. Ia bilang padaku,
“Mestinya Enci ikut ke sini sebab Koko kan dinasnya lama di sini, bisa-bisa nanti kesepian”, sambil tertawa manis.
“aach Eva kok macam-macam, Enci kan kerja kantor, susah dong untuk ikut”, sahutku.
“Paling-paling kalau kesepian ya ngomong sama Eva saja kan boleh”, tanyaku.
“Pasti boleh dong, jadi nanti malam kalau Koko mau nonton TV masuk ke sini saja sambil ngobrol-ngobrol”, ajaknya Eva.
“Baik, Eva nanti kalau Koko kesepian, Koko cari hiburan nonton TV sama Eva.” jawabku.
Sebentar mobil jemputanku datang dan pamit ke kantor dulu. Memang antara Eva (istri adik) dengan istriku sendiri boleh dikatakan sama sifatnya yaitu suka bergaul dan banyak ngomong serta agak manja kalau ngomong sehingga banyak orang gampang tertarik.

Hari pertama kerja, aku pulang hingga pukul 7 malam. Setelah beritirahat sebentar aku lalu mandi, begitu selesai dan keluar kamar mandi anak bank itu keluar kamar dan menyapa,
“Selamat malam Oom, baru palang ya?”
“Betul sekali”, jawabku.
Anak bank itu ganti mau masuk kamar mandi dan aku langsung masuk kamar untuk istirahat terus tidur. Besok harinya, sapaan manis itu kuterima lagi dan kali ini kulihat wajahnya, ternyata wajahnya manis dengan senyumnya tapi tatapan matanya tajam penuh arti. Hatiku jadi agak bergetar, padahal dengan Eva walaupun ngobrol-ngobrol tapi biasa saja sebab walaupun matanya kocak tapi pandangannya biasa saja. Begitu malam kupulang saat aku sedang rebahan di ranjang, anak bank itu juga lewat kamarku dan menyapa,
“Selamat malam Oom, sudah makan ya?”
“Sudah”, sahutku.
“Mari saya turun dulu mau makan”, katanya.
“silakan”, sahutku.
Kucoba lihat dari atas ternyata ia masak Indomie untuk makan malam. Kucoba rebahan lagi sambil baca koran, selang beberapa saat kudengar ia menyapa lagi,
“Masih belum tidur Oom?”
“Belum”, sahutku dan sambil bangun, ia sendiri sempat berhenti depan pintu kamarku sambil matanya menatap penuh arti dan ketika kucoba keluar kamar ternyata anak-anak kost yang di bawah masih ramai mengobrol di teras kamar, jadi ia pamit,
“Mari saya istrirahat dulu Oom.”
“silakan”, sahutku.

Memang pagar teras kamar atas itu dari besi hingga anak-anak di bawah bisa lihat ke atas. Esok paginya seperti biasa ia menyapa saat mau berangkat ke kantor, malam harinya ketika aku mau tidur terasa agak lapar padahal baru jam 9 malam, lalu aku keluar kamar dan ke depan rumah untuk lihat apakah yang jual pisang goreng depan rumah masih ada karena akan beli untuk pengisi perut. Aku beli 5 biji, sebelum aku masuk halaman lagi kucoba lihat-lihat lalu lintas sebentar, tiba-tiba anak bank itu juga keluar hanya pakai celana pendek dan kaos tidur saja. Aku sapa,
“Mau kemana dik malam-malam?”
“Mau beli pisang untuk sarapan besok pagi, sebab tadi lupa beli roti”, sahutnya.
“Ini Oom sudah beli, kita bagi saja”, kataku.
“Jangan Oom, nanti Oom kurang”, katanya.
“Nggak apa-apa, Oom kan sendiri ini kan lebih dari cukup sebab ada 5 biji besar-besar lagi”, kataku.
“Bolehlah, saya cukup 1-2 saja”, katanya lagi.
“Ngomong-ngomong kita belum pernah kenalan ya”, kataku sambil aku menjabat tangannya.
“Winarti nama saya dan Oom siapa?” katanya.
“Saya Ima…”sahutku.
“Winarti buru-buru mau tidur?” tanyaku.
“Nggak Oom, belum ngantuk.”
“Kalau gitu kita ngobrol sebentar sambil duduk di teras depan ini, mau?” tanyaku.
Ia menganggukkan kepala, lalu kita duduk di kursi teras depan yang memang disediakan untuk tamu-tamu anak kost.
“Apa betul Oom masih kakaknya tante kost?” tanyanya lagi.
“Betul, kok Win tahu?”
“Iya dari, ibu pembantu yang bilang tadi pagi”, sahutnya.
“Wah Win tanya apa lagi dari ibu pembantu?” kataku.
“Nggak, cuma ibu pembantu bilang Oom di sini sekitar 2-3 minggu untuk tugas di Bank BCA.” sahutnya.

Lalu kita saling bercerita dan ternyata Win itu adalah anak bungsu dari tiga saudara anak dari almarhum pensiunan militer (Sersan Mayor) asli Blitar, sedang ibunya pensiuan guru SD sekarang memberi les privat pada anak-anak SD. Sedang kakaknya nomor 1 sudah menikah dengan guru SMA di Banyuwangi dan kakaknya nomor 2 masih kuliah di Surabaya. Karena biaya tak mencukupi dalam masa krisis moneter ini maka ia pilih bekerja setelah lulus SMA tahun ini. Jadi Win baru bekerja di bank baru empat bulan maka dari itu belum dapat pakaian seragam.

Baru ngobrol kira-kira 1/2 jam, tiba-tiba 3 orang anak kost datang bersama pacar-pacarnya mungkin hingga suasana jadi ramai di teras itu. Lalu kita masuk dan naik ke kamar sampai depan kamarku, aku pamit masuk dulu dan Win menggangguk dengan pandangan mata yang penuh arti dan bernada sayu. Pagi harinya aku bangun agak terlambat hingga aku mandi juga terlambat. Saat aku keluar dari kamar mandi, Win sudah menunggu dekat pintu kamarnya dan berkata,
“Oom, Win berangkat dulu ya, nanti malam usahakan bisa ngobrol-ngobrol lagi ya?”
“Oke” sahutku.

Sore harinya aku pulang sekitar pukul 6 dengan naik taxi, kucoba perhatikan bank tempat Winarti bekerja sebab banknya itu ternyata tiap hari kulewati dan memang tak jauh dari bank tempatku. Saat dekat dengan banknya, kucoba perhatikan, eeehh ternyata Winarti masih ada di jalan depan bank untuk cari angkutan umum. Langsung kuperintahkan sopir untuk berhenti dekat Winarti. Melihat ada taxi mendekat, Win malah jalan menjauh sebab mungkin pikirnya ia tak menyetop taxi. Baru setelah kuturun dan memanggilnya ia lari-lari mendekat dan segera kupersilakan Win untuk masuk taxi. Ternyata ia pulang terlambat karena ada jumlah yang belum cocok, hingga sebagai teller harus dicari dulu kesalahannya. Karena hari sudah agak gelap, Win saya ajak makan malam sekalian sebelum pulang kost ternyata ia mau.

“Enaknya makan dimana ya?” tanyaku.
“Dekat rumah kost saja ada warung bakso yang nikmat”, sahutnya.
Ternyata betul kurang lebih 10 rumah sebelum kost ada jual bakso mie. Setelah turun dari taxi, lalu kita masuk dan duduk di meja yang kecil untuk berdua saja.
“Mau makan apa Oom?” tanya Win.
“Oom sih terserah sama Win saja, pokoknya hanya ikut makan.” jawabku.
“Oke, dan minumnya Oom mau apa?”
“Terserah sama Win juga”, sahutku.
Win kemudian memanggil pelayan dan pesan Mie Bakso 2 mangkok, lalu Coca Cola 2 botol. Kita ngobrol-ngobrol sampai akhirnya menyerempet itu-itu juga.

“Oom ke sini sendirian selama 2 minggu apa tidak stress?” tanya Win.
“Habis mau kemana sebab nggak ada teman di sini”, sahutku.
“Kenapa sih Oom cari teman, apakah Win bukan teman Oom?” kata Win.
“Betul Win, maksud Oom teman untuk santai.”
“Oom jangan pikir yang jauh-jauh, Win siap menemani Oom kapan saja Oom membutukan”, katanya.
“Huuussss, jangan ngomong begitu Oom kan sudah berkeluarga sedang Win kan masih gadis”, kataku.
Win terdiam sejenak dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca sambil menggelengkan kepala. Aku jadi terenyuh seketika segera kugenggam telapak tangannya erat-erat sambil berkata,
“Maksud Win bagaimana?”
Lalu berceritalah Win, kalau ia sudah diperawani oleh pacarnya saat awal di kelas 3 SMU dan dilanjutkan berhubungan intim terus sampai beberapa kali, hingga akhirnya Win terlambat bulan alias hamil. Begitu diberitahu kalau ia hamil, pacarnya mulai menjauhi bahkan tak mau bertanggung jawab. Karenanya sampai bulan ke-3 maka dengan terpaksa digugurkan dengan pertolongan bidan. Ini dilakukan karena pihak keluarga belum tahu semua persoalannya. Untung saat itu ia punya tabungan sebesar 300.000 Rupiah untuk biaya. Walaupun makan sudah di antar kami berdua belum makan, karena suasana masih syahdu.

Lalu kedua tangannya kugenggam erat-erat dengan penuh perasaan sambil menatap wajahnya. Win pun menatap mataku, pandangannya memelas sekali. Dan dari sejak itu, ia tak menyukai lagi berpacaran dengan laki-laki yang sebaya, ia lebih merasa aman berpacaran dengan laki-laki setengah umur kira-kira 35-40 th karena dianggap lebih bertanggung jawab dan mapan tidak hanya suka hura-hura saja. Setelah beberapa saat Win kuusap air matanya dengan sapu tanganku dan tangan kemudian dipegang erat-erat.
“Win, ayo makan nanti dingin nggak enak lho, sambil kita ngomong” kataku.
Ia menggangguk dan mulai makan sambil berkata,
“Oom, wajah Oom sangat berkesan di hatiku sebab wajah Oom dan penampilannya adalah seperti laki-laki yang kuidam-idamkan, itulah sebabnya pertama kali aku ketemu pandang dengan Oom langsung terkesima hatiku.”
“aacch jangan muluk-muluk kalau memuji, wajah tua seperti Oom ini sudah nggak laku sekarang.”
“Benar Oom, Win bukan memuji tapi dengan tulus hati, maka dari itu Wim ingin sekali berada dalam pelukan Oom.”
“Jangan kamu mengharapkan Oom, sebab sudah tak mungkin lagi Win”, sahutku.
“Win sadar akan hal itu, tapi hanya untuk selama Oom tinggal di sini saja, Win benar-benar butuh kasih sayang dari laki-laki yang sebaya dan seperti Oom.”
“Win benar-benar butuh sesuatu dari Oom.”
“Jangan Win kalau nanti hamil lagi bagaimana?” tanyaku.
“Oom, Win baru saja bersih dari mens hari Minggu kemarin saat Oom datang, ini benar-benar Oom, Win sumpah, Win tak akan menjebak Oom sebab tahu Oom itu orang baik”, katanya.

Ujung cerita, kita berjanji nanti malam ketemu di kamarnya, kalau semua anak kost bawah sudah masuk kamar. Dan supaya tak ketahuan, setelah makan ini Win dulu yang jalan pulang baru aku menyusul kemudian.
“Hati-hati di jalan ya!” seruku.
“Iya Oom, sampai nanti malam”, sahutnya.
Kemudian aku menyusul jalan di belakangnya, sampai kost aku berhenti sebentar beli pisang goreng dan kemudian aku naik ke kamar. Aku lihat Win sedang masuk ke kamar mandi.

Setelah ia selesai mandi, aku segera ke kamar mandi juga. Ketika aku selesai mandi dan ke kamar, kulihat suasana kost di bawah sepi. Cepat-cepat kuletakkan handukku dan pakaian kotorku di tempatnya kemudian dandan sedikit dan dengan hanya mengenakan kaos tidur dan celana pendekku ke kamar Win yang pintunya memang tak dikunci. Saat aku masuk ia sedang tiduran, ketika melihatku masuk ia tersenyum dan duduk di pinggir ranjang serta menyapa,
“Mari duduk sini Oom.”
Setelah pintunya kututup dan kukunci aku duduk sebelah Win. Kuelus-elus pahanya yang putih bersih itu. Ia kemudian memegang tanganku erat-erat dan menyandarkan kepalanya ke bahuku. Kupegang kepalanya dan kubisiki, “Win sayang, Oom bahagia juga di sebelahmu”, sambil kupeluk dia dan Win juga segera merangkul leherku. Aku mulai menciumi keningnya, hidungnya kugesek-gesek dengan hidungku lalu pipinya kuciumi juga lehernya dan ia kupeluk semakin kuat hingga terasa payudaranya hangat di dadaku.

Kukecup bibirnya dan kupermainkan bibirnya dengan lidahku. Rupanya ia masih hijau, jadi lidahnya tak dijulurkan untuk kukecup juga. Rambutnya yang masih agak basah kubelai-belai juga. Win semakin terangsang dan merasakan sesuatu yang baru kelihatannya. Kulanjutkan dengan membuka kaosnya yang dibantu tangan Win sekalian ia melepas BH-nya. Kupeluk lagi dia, payudaranya kuraba dan kuusap pelan-pelan sambil putingnya kupijit sedikit. Win mulai merintih pelan dan terus kulepas juga celana pendeknya dan CD-nya. Rambut kemaluannya yang hitam kilap dan lebat menutupi vaginanya. “Oooohh…. Oom, pakaian Oom buka juga ya?” pintanya.

Aku segera membuka pakaianku sampai telanjang seperti Win. Kemudian Win kurebahkan di kasur dan aku mulai beroperasi lagi dari atas kening dengan kecupan-kecupan mesra. Kucium dan kukecupi terus sampai ke leher dan tanganku juga beroperasi dengan meraba-raba dan mengusap-usap dengan penuh kemesraan bagian payudaranya. Setelah 2 bukit payudaranya kuciumi dan kukecupi termasuk putingnya kugigit dengan bibirku dan tanganku meraba mesra ke bagian perut dan atas rambut kemaluannya. Ciumanku terus menjelajahi seluruh bagian dada kemudian perut dan bawah perut. Rambut kemaluannya yang lebat kutarik-tarik pelan dengan gigitan bibirku juga clitorisnya yang sudah terlihat menonjol kujilati dan pahanya di dalam kubelai terus sampai ke lututnya. Bibir vaginanya kulumat semua dengan jilatan kecupan bibirku, hingga Winarti menggeliat-geliat terus tanpa henti.

Ciuman terus turun ke pahanya kiri dan kanan dan ke lutut, betis dan tangkai tumitnya kugigit pelan-pelan dengan dibarengi dengan usapan pada telapak kakinya. Win jadi geli dan nafsu. Paling akhir adalah telapak kakinya kuciumi dan 10 jari-jari kakinya kuhisap semua dengan rabaan pada pahanya. Win tampak mulai nggak tahan. Ia sendiri langsung meremas-remas payudaranya sendiri. Aku kembali ke atas dengan menindihnya dan mendekatkan penisku ke tangannya, rupanya Win tahu maksudku lalu segera dipegang dan dikocoknya senjataku.

Win kubisiki, “Win sayang, penis Oom sudah tegang di tanganmu, kakimu buka lebar-lebar ya sayang supaya penis Oom bisa masuk.” Win membuka kakinya lebar-lebar dan kemudian kuraba lubang vaginanya kemudian penisku kepalanya kupegang dan kumulai tekan pelan-pelan tapi pasti sedekit demi sedikit agar masuk. Terus kutekan pelan-pelan penisku ke dalam vaginanya dan akhirnya bleeessss…. masuk juga kepalanya.
“Oomm.. aduuuhh, waah besar sekali lho penismu.”
“Sakit Win?” tanyaku.
“Nggaak kok… aduh enaak Oom”, sahutnya.
Terus kutekan penisku pelan-pelan sehingga seluruh batangnya ambles ke dalam vaginanya.

Begitu ambles semua kubiarkan beberapa penisku di dalamnya, sambil terus kubelai rambutnya dan payudaranya kuusap-usap dengan remasan-remasan mesra. Win coba menggoyangkan pantatnya, lalu kutarik keluar penisku pelan-pelan terus gerakan ini kulakukan berulang-ulang hanya kecepatannya yang berubah-ubah dari pelan-pelan kemudian bertambah sedikit-sedikit jadi cepat begitu nafasnya Win mulai memburu kuperlahankan lagi hingga Win agak tenang lagi kemudian kupercepat lagi hingga nafsunya memuncak lagi. Akhirnya Win meminta,
“Om, Win sudah nggak tahan lagi kepingin orgasme.”
“Iya sayang, Oom akan temani Win sampai puncak sama-sama”, sahutku.

Lalu kucepatkan gerakan naik turunnya dan aku sendiri segera konsentrasikan pikiranku ke tubuhnya yang indah dan masih kencang itu supaya cepat naik nafsunya.

Aku juga lihat Win sudah ada tanda-tanda akan sampai puncak, karena ia terus menggenggam kain sprei lalu mencengkram punggungku kuat-kuat lalu pundakku digigitnya sambil mengaduh, “Seessstt, aduuuhh… aauuuhh… aku klimaks Oom.” Saat itu juga terasa ada semprotan mani pada penisku, otomatis aku tak tahan juga dan kutekan dalam-dalam penisku dan creeetttt… creeettt, maniku nyemprot ke vaginanya. “aaccchh… uuuhh, Oom klimaks juga”, katanya dan langsung aku dipeluk semakin erat dan kakinya pun didekapkan ke kakiku, hingga aku tak bisa turun dari tubuhnya. Kubelai-belai sayang lagi kening dan rambutnya dan kuciumi terus pipinya, “Oom jangan dicabut dulu yaa… biar badan Win tetap hangat”, pintanya.

Setelah beberapa menit nafas kita berdua mulai tenang, aku berkata,
“Win apakah nggak mau cuci dulu?”
“Win nggak cuci, punya Oom saja Win bersihkan ya?”
Lalu aku rebah di sebelahnya dan Win bangun mengambil kertas tissu dan dibasahi dengan aqua kemudian penisku dilapnya dengan hati-hati sekali. Setelah itu bibir vaginanya yang basah dilap juga lalu ia ke lemari untuk mengambil selimut dan kemudian tidur lagi di sebelahku dan tubuh kita berdua diselimutinya. Kupeluk Win, sambil kubisiki,
“Win apa nanti maninya nggak tumpah keluar?”
“Biar saja Oom, nantikan keluar sendiri tapi agak lama biasanya sampai 4-5 jam lagi.”
“Win capai ya..?”
“Nggak terlalu juga, Oom puas dengan pelayan Win? maaf ya Oom Win masih hijau dalam bermain seks.”
“Oooh Oom puas sekali semuanya jadi lega.”
“Sungguh Oom?”
“Betul Win!” sahutku lagi sambil kupeluk dia erat-erat dengan penuh perasaan kasih sayang.
“Oom, Win sangat bahagia malam ini, Win bukan saja dapat kenikmatan seks dari Oom, tapi lebih dari itu Win sangat merasakan kasih sayang dari Oom.”
“Dalam bermain seks Oom beda jauh dengan pacarku dulu, Oom sangat matang tekniknya juga hebat bisa terus membimbing Win sampai ke puncaknya, jadi bukan sekedar beda besar penisnya saja.”

Sebab punya pacar saya dulu kecil lagi hitam, sedang Oom punya besar dan bersih dan kuning langsat.”
“Malam ini Oom tak boleh meninggalkan Win, Win ingin tidur dalam pelukan Oom, Win ingin bahagia malam ini.” Aku bilang,
“Kalau Oom tidur di sini bisa ketahuan orang nanti Win.” Ia menjawab,
“Anak-anak kost di sini bangunnya paling pagi jam 6, hanya ibu pembantu yang jam 5, jadi besok sebelum pukul 5 nanti Win bangunkan Oom. Pokoknya malam ini Oom harus dengan Win.”
Ia kemudian mengusap dahiku yang berkeringat, saat mengusap tangannya kupegang dan kucium telapaknya dengan penuh arti dan Win pun merasakan hal ini dia memejamkan matanya dan air matanya menetes keluar.
“Win, jangan sedih Oom kan menunggumu malam ini.”
“Iya Oom” jawabnya. Setelah beberapa saat ia berkata,
“Oom, Win yakin dan tahu pasti kalau sebetulnya dalam hati Oom sayang sama Win. Benar ya?”
“Kok Win bisa bilang begitu?” kataku.
“Oom tak bisa dusta pada Win, dari pancaran mata Oom terlihat jelas sekali dan Win benar-benar merasakan kasih sayang Oom itu.” Lalu tambahnya,
“Saat Oom meniduri Win, Win tahu dari mata maupun tingkah Oom, Oom bukan semata-mata melampiaskan nafsu seks saja, tetapi Oom meniduri Win dengan penuh kasih sayang dan penuh kemesraan, hingga benar-benar Win merasa bahagia. Tidak meleset pandangan pertama Win terhadap Oom, memang Oom benar-benar adalah type laki-laki yang jadi dambaan Win. Sayang ketemunya sudah terlambat.”
“Win, kira-kira begitulah yang ada dalam hatiku” sahutku mesra sambil kubelai-belai punggungnya. Win berpesan kepadaku,
“Kalau Oom mau lagi setiap saat Win akan melayani jadi Oom jangan takut untuk membangunkan Win.”
Sambil ngobrol-ngobrol kita akhirnya tertidur. Pagi hari seperti biasa jam 4 aku sudah bangun, ternyata pagi itu penisku ikut bangun juga apalagi dekat cewek. Kucoba raba-raba dan remas pelan-pelan buah dadanya sambil keningnya kuciumi agar Win bangun.

Ternyata benar Win terbangun, jadi aku langsung singkirkan selimutnya dan mulai kupermainkan dengan mesra payudaranya sebentar saja nafsu seks-nya sudah bergairah tangannya lalu memijit penisku. Saat kulihat vaginanya ternyata maniku sudah tumpah keluar selain meleleh di pahanya juga jatuh di sprei jadi flek karena sudah agak mengering. Kubisiki Win, “Win, kamu mau main di atas?” Ia mengangguk dan segera bangun sedang aku tidur lalu ia jongkok hingga lubang kewanitaannya tepat berada diatas penisku. Kubantu memasukkan kepala penisku ke lubangnya dan Win menekan ke bawah pantatnya dan bleeess langsung masuk penisku. Win terus menggoyangkan naik turun pantatnya tapi belum bisa gerakan memutar karena memang belum banyak pengalaman. Sampai lebih dari 15 menit kita berdua belum klimaks, karena kulihat Win berkeringat, aku minta ganti dia yang tidur dan aku yang di atas. Operasi seperti pada malam hari kuulangi lagi yaitu dengan ciuman dan kecupan yang mesra, lalu raba-rabaan dan remasan dengan penuh kasih sayang serta gerakan-gerakan penis yang berirama cepat lambat bergantian kulakukan dengan santunnya. Begitu tangannya sudah mulai mencengkeram punggungku lagi dan mulutnya kembali menggigit leherku kudapat pastikan Win akan klimaks, segera aku konsentrasi juga pada Win yang manis agar maniku juga segera keluar. Rintihannya terulang lagi saat penisku menyemprotkan mani ke vaginanya dan sesaat lagi aku juga merasakan siraman maninya di penisku.

Karena jam sudah pukul 4.30 maka kuminta keluar kamar. “Sebentar Oom!” katanya. Ia lalu bangun mengambil tissu untuk membersihkan penisku yang berlumuran dengan maninya dia.
“Waah spreimu flek Win”, kataku.
“Ngak apa-apa Oom, aku malah senang”, katanya sambil mencium sprei yang flek.
Aku segera masuk ke kamar dan tidur lagi, hingga bangun agak kesiangan. Saat kubangun malah Win sudah berangkat ke bank. Siang hari itu aku mendapat telepon dari seorang teman, kata operator, setelah telepon kuterima ternyata dari seberang ada suara yang menyapa dari seorang wanita yang ternyata baru kutiduri semalam yaitu Win.
“Hallo Win”, jawabku.
“Darimana kamu tahu teleponku.”
“Win tanya pada operator di bank sini”, sahutnya.
“Om, nanti siang mau menemani Win makan siang?”
“Boleh saja, Win, mau makan dimana?” jawabku.
“Ach, makan yang dekat-dekat sini saja ya, nanti Oom tak usah naik taxi bisa naik becak saja sebab ke tempat hanya dekat”, jelasnya.
“Oke Win nanti jam 12 Oom jemput Win.”
“Trims ya, jam 12 Win akan tunggu Oom di luar” jawabnya dengan suara manja.
Ketika jam menunjukkan pukul 11.50 aku cepat-cepat pamit untuk keluar makan, aku segera cari becak untuk menuju ke banknya Winarti. Kira-kira pas 10 menit perjalanan becak sampailah aku di banknya Winarti. Baru saja aku bayar becak, kulihat Winarti sudah berlari-lari kecil menghampiriku. Saat sampai Win langsung merangkul pinggangku sambil badannya bersandar ke badanku dan mengajak berjalan menuju ke rumah makan.
“Makan di rumah makan ujung jalan itu saja ya Oom”, katanya.
“Oke.”
Win berjalan sambil merangkul pinggangku terus dengan senyum-senyum kecil. Dia tampak ceria sekali dan gayanya yang manja padaku.
“Kenapa Win kamu kok tampil beda sekali?” tanyaku.
“Kan Win lagi bahagia, sekarang jadi istrinya Oom? walaupun istri sementara saja” sahutnya.
Sampai di rumah makan Win memilih meja yang kecil letaknya di ujung, lalu mulai melihat menu masakan.
“Oom mau apa?” tanyanya.
“Oom terserah sama Win saja, kan suami tergantung dengan istrinya?” jawabku.
Dia mencubit tanganku dan bilang,
“Oom, jangan gitu ach, Win jadi pingin jadi istri Oom beneran lho.”
“Oom mau nggak makannya bagi-bagi dengan Win?”

Aku manggut-manggut saja. Win kemudian pilih nasi gudeg dan nasi pecel telur serta Coca Cola dan es campur.
“Oom nanti malam harus menemani Win lagi ya?” pintanya.
“Win kau capai nanti tiap malam main terus”, sahutku.
“Apakah Win minta main, Win minta Oom menemani Win tidur, soal Oom nanti mau main berapa kali Win selalu siap melayani, tapi bila Oom capai nanti Win yang mijit”, sahutnya.

Aku jadi kalah ngomong dan aku setuju saja akhirnya. Setelah makanan keluar, kita mulai makan aku diberi nasi gudeg dengan es campur dulu dan Win nasi pecel dan Coca Cola.
“Nanti bila sudah habis setengah kita ganti piring dan minumnya”, kata Win. Sambil makan dia berkata,
“Hari Sabtu dan Minggu, Oom kan libur nanti pergi dengan santai di Batu ya Oom? Sebab di kost kalau Sabtu dan Minggu anak-anak kost banyak di rumah jadi kita sulit untuk bermesraan.”
“Nanti aku pamit pulang ke Blitar sama tante kost dan Oom bilang diajak temannya ke Batu” katanya Win padaku.
Padahal sebenarnya aku hari Minggu akan diajak ke Surabaya, karena ada famili dari Eva yang menikah, jadi sekeluarga akan ke Surabaya. Kupikir dari ke Surabaya lebih baik rekreasi dan santai dengan Win di hawa dingin. Maka kusetujui ajakan dan usulannya. Selama makan tangan kiriku selalu digenggam erat-erat dengan tangan kirinya Win, hingga makannya kami hanya pakai sendok saja. Setelah aku makan separuh, kutunggu Win makan separuh nasinya, lalu piring kita tukar juga minumnya. “Oom, hari-hari ini Win merasa bahagia sekali, Oom juga?” tanyanya.

Kutatap matanya dalam-dalam dan aku bilang, “Perasaan Oom sama dengan perasaanmu.” Walaupun makan telah selesai, kita tetap ngobrol dulu tunggu sampai jam 1 siang kita berpegangan tangan dua-duanya.
“Oom nanti pulang pukul berapa? tanya Win.
“Kalau biasa sih pukul 6 sore”, sahutku.
“Kenapa Win?”
“Ya kalau bisa aku cuma ingin pulang bareng Oom seperti kemarin”, katanya.
“Win apa nggak tunggu lama nanti?” kataku.
Dia menggelengkan kepala. Keluar rumah makan Win tetap berjalan sambil merangkul pinggangku, sampai akhirnya sampai ke banknya dan kuantarkan sampai pintu depan, kemudian kita berpisah.

Aku balik ke kantor dengan becak lagi. Sore hari jam 6 aku pulang, aku naik taxi seperti biasa hanya saat mendekati banknya Win aku minta sopir jalan pelan-pelan, benar juga Win masih menunggu depan bank, begitu melihat ada taxi berhenti langsung dia berlari-lari kecil menghampirinya. Lalu kubuka pintu taxi dan Win ikut naik. Seperti kemarin kita berhenti di warung bakso untuk makan malam bersama-sama sekalian. Setelah makan Win berpesan,
“Begitu Oom habis mandi kalau ada kesempatan Oom supaya langsung masuk kamarnya Win ya.”
Lalu Winarti berjalan di muka lebih dulu dan aku menyusul pelan-pelan di belakangnya, sampai di kost aku ketemu Eva yang kebetulan belum tutup, lalu aku ceritakan kalau hari Sabtu akan ke Batu dengan teman-teman kantor, jadi Minggu tak bisa ikut ke Surabaya. Setelah basa-basi sebentar aku pamit untuk naik ke kamar. Sampai depan kamar, pas Win mau mandi dia berjalan menghampiriku dan bilang,
“Nanti malam kalau ke kamar Win supaya Oom membawa baju yang untuk ke Batu, nanti Win bawa dalam satu tas saja”, lalu ia pergi mandi dan aku menyiapkan 1 stel pakaian dalam dan 2 T-Shirt saja.

Selesai mandi Win turun dan saat lewat kamarku ia menyapa, “Oom, Win ke bawah sebentar untuk memasak Indomie buat kita kalau lapar lagi nanti malam, sekalian mau pamit kalau besok pulang sama tante kost.” Aku manggut-manggut saja dan kemudian pergi mandi, selesai mandi kulihat kamar Win masih terbuka kosong dan di bawah masih ada anak kost yang di luar kamar, sehingga aku masuk kamar untuk istirahat dan baca koran dulu. Beberapa saat kudengar Win naik tangga, lalu ia berhenti di muka kamarku sambil berkata pelan-pelan, “Oom sudah sepi, ayo cepat.” Aku segera membawa baju yang akan kubawa besok dan mengikuti Win masuk ke kamarnya. Ia meletakkan mangkok Indomienya di meja dan segera pintu kamarnya dikunci. “Om besok Win mau pakai kaos ini saja ya”, sambil menunjukkan 3 kaos, warna putih dengan motif kembang-kembang kecil, putih polos dengan gambar gesper di dada dan kuning polos. Yang putih dadanya agak terbuka lebar sedang yang kuning di bagian atas dada ada retsluitng kecil. Ia bilang,
“Kalau Win jalan sendiri agak malu pakai kaos ini, Oom.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Sebab kaos itu ketat sekali, jadi payudara Win kelihatan menonjol sekali, cowok-cowok kalau memandang kurang ajar kok”, jelasnya.
“Coba dipakai yang kuning ini Win”, pintaku.
Lalu Win melepas kaos tidurnya dan ganti pakai kaos kuning itu.
“Waahh betul-betul kamu kelihatan seksi pakai ini, apalagi retsluiting terbuka lekuk payudaramu jelas terlihat dari luar”, kataku.
“Tapi nggak apa, nanti kalau naik angkutan umum Win pakai jaket lagi jadi agak tak mencolok sexynya”, jelasku.
Win setuju kemudian dilepas lagi kaos kuningnya. Saat itu langsung kupeluk dan kubisiki,
“Win mau main lagi?”
“Iya Oom, Win sudah kepingin lagi kok.”
Lalu kulepas celana pendeknya dan ternyata Win tak pakai CD sebab ia langsung telanjang bulat.
“Win, sambil Oom ajari sedikit ya, supaya besok bisa dipraktekkan di Batu.” Win manggut-manggut.

Lalu ia kutarik berdiri menghadap kaca riasnya dan aku berdiri di belakangnya sambil memeluk Win dari belakang dan kuraba-raba dan meremas dengan penuh kemesraan.
“Win kalau kamu kukerjakan begini langsung kamu memegang penisnya Oom untuk Win permainkan sambil kaki Win yang sebelah diangkat lalu berpijak di meja rias, agar kewanitaan Win semakin terbuka dan mudah untuk diusap-usap.”
“Iya, Oom”, dan langsung kakinya naik kemeja serta tangannya mengocok penisku.
Setelah adegan ini berlangsung hampir 10 menit, Win kuajak tidur dan aku yang di bawah Win di atas. Setelah Win naik dan memasukkan penisku ke vaginanya, kuberi tahu,
“Win, pertama jangan kamu ambleskan semua penis Oom, yang masuk biar 1/3 bagian dulu lalu pantatmu gerakan memutar”, sambil aku memegang pinggangnya untuk membantu memutarkan pantatnya. Memang rasanya masih kaku belum luwes cara memutarnya, tapi tak apalah besok mungkin lebih bagus.
“nggak enak ya Oom?” tanya Win.
“Cukup bagus untuk permulaan”, kataku.

Kemudian Win mulai ganti goyang naik turun, hingga payudaranya bergoyang agak keras dan segera kutahan dengan kedua tanganku untuk kuusap-usap seraya meremasnya pelan-pelan dan sebentar-sebentar agak keras untuk merangsang nafsunya. Begitu ia mulai gairah kutidurkan dia dan teknik menyetubuhi seperti semalam kuulangi lagi yang membuat maninya Win serta air maniku keluar hampir bersamaan beda hanya sekitar 3 detik saja. Selesai main Win dan aku langsung tiduran sambil ngobrol dan merencanakan kepergiannya besok.
“Jadi besok pagi ketemu di rumah makan siang tadi, nanti Win yang berangkat dulu baru Oom nanti yang nyusul”,
“Oke.”
“Oya besok kita renang ya nanti Win bawa swim suit”, lalu ia membuka lemarinya mencari swim suit.
Dalam lemari itu kulihat roknya tak terlalu banyak seperti cewek-cewek bank lainnya, aku jadi iba dibuatnya dan aku ingin menghadiahkannya rok padanya. Setelah ketemu swim suit ditumpuk jadi satu dengan kaosnya, lalu ia naik keranjang tidur di sampingku lagi.

“Win, besok di Batu Oom ajari lagi yaa!”
“Boleh, tehnik apa Oom?”
“Menghisap”, kataku.
“Menghisap apa?” tanya Win.
Lalu Win kupeluk erat-erat sambil kucubit perutnya dan kataku,
“Win, kamu jangan pura-pura bloon ya.”
“Win betul-betul belum tahu kok.”
“Win, sayang, kalau punya Oom belum tegang seperti tadi, kan tangan Win yang Oom minta untuk mempermainkannya. Betul ya?” Ia manggut.
“Jalan lain yang lebih indah adalah dihisap pakai mulut, Win mau dan jijik nggak?”
“Untuk membuat kepuasan Oom, apa saja Win lakukan dan buat Oom tak terasa jijik. Win, ajari gimana caranya Oom!”
“Nanti fajar saja kalau punya Oom bangun, Oom akan ajari sekaligus praktek ya, sayang?” kataku. “Sekarang kita istirahat dulu sambil ngobrol.”

Win minta agar aku memeluknya lebih erat lagi dan ngomong, “Dari pembicaran Oom sebenarnya banyak kesamaannya dengan Win, baik mengenai makan, kebiasaan, pandangan hidup, cara berdandan yang sederhana, maka dari itu Oom makin lama semakin sayang pada Win, dan Win sendiri merasakan kasih sayang dari Oom itu.”
“Jangan banyak ngelamun Win, ayo tidur dulu.”
Lalu tubuhnya kuselimuti dan kudekap erat-erat kepalanya di dadaku. Seperti biasa jam 4 pagi terbangun dan barangku juga sudah bangun, tapi karena Win masih tidur terpaksa kubisiki kata rayuan mesra agar bangun. Memang hanya beberapa saat Win bangun dan kuajak main, karena punyaku sudah tegang sekali aku langsung naik ketubuhnya dan coba kumasukkan ke dalam vaginanya. Win berbisik,
“Katanya Oom mau ngajari hisap?”
“Iya sayang, tapi karena punya Oom sudah tegang banget, Oom masukkan dulu sebab Win kan harus mencapai klimaks juga. Nanti kalau Oom semprotkan dalam mulut langsung, kan Win nggak bisa klimaks”, kataku.
Ia menurut dan mulai merintih karena penisku sudah masuk dan sudah bergerak memutar divaginanya sambil kubelai sayang tubuhnya.

Napasnya mulai memburu kuimbangi juga dengan nafasku supaya Win benar-benar terangsang dan gerakannya kupercepat dan benar juga Win mulai mengcengkeram punggungku lagi. “Acch… Win mencapai puncak Oom, nikmat dan bahagia sekali Oom”, katanya lirih. Aku tekan terus penisku kevaginanya, begitu Win mulai terasa fit lagi aku turun dari atas tubuhnya dan kuambil tissue untuk membersihkan penisku. “Win, sekarang Oom ajari cara menghisap, tapi posisi di bawah dulu ya!” kataku. Aku duduk di tepi ranjang dan Win kuminta jongkok di hadapan penisku lalu kumulai kursus kilat ini.

“Win, peganglah penis Oom agak bagian bawahnya dan agak ditekan ke bawah supaya kepalanya tampak besar habis itu jilatilah kepalanya memutar terutama bagian tepi kepalanya.” Win mulai melakukannya, kira-kira sudah 5 menit kuganti instruksi lagi, “Win sekarang coba lubangnya dibuka-buka dengan ujung lidah kalau bisa gerakan lidahnya yang cepat.” Win mempraktekkan juga, tapi masih jauh dari nikmat mungkin benar-benar belum biasa. 5 menit kemudian ganti petunjuk lagi, “Masukkan mulut kepalanya lalu lidahmu gesek-gesekkan dan kemudian sambil dikenyut-kenyut supaya maninya cepat keluar.”

“Dan yang paling akhir bila penisnya Oom sudah tegang banget seperti ini, majukan dalam-dalam ke mulutmu lalu kamu keluar masukkan punya Oom ke mulut Win, seperti kalau masuk ke vagina dan sambil dibantu dengan kocok pelan-pelan supaya cepat nyemprot.” Memang Win benar-benar belum biasa menghisap, sebab saat menghisap air liur sering menetes keluar. Karena aku hampir klimaks maka kubantu mengocok penisku dan aku bisiki Win, “Win, Oom mau sampai puncak”, Dan creeettt… creettt…. creeeettt maniku menyemprot ke dalam mulutnya, Win terdiam sejenak. Lalu kuminta agar lubangku disedot. Ketika Win menyedot terasa seeeerrrr, sisa mani disaluran penisku keluar ke mulutnya. “Win, maninya Oom banyak ya?” tanyaku. Win hanya membuka mulutnya yang penuh dengan maniku yang kental dan putih. Aku bisiki lagi, “Win, kalau nggak jijik ditelan semua maninya Oom.” Win telan juga semua mani yang di mulutnya dan bilang, “Aku suka maninya Oom dan tidak jijik, kalau lain orang No! Rasanya sih asem-asem dan asin Oom.” Lalu segera kupeluk erat-erat dia dan kutatap matanya yang selalu memandang wajahku,
“Win, Oom sangat sayang padamu.”
“Win juga benar merasakannya Oom”, sahutnya.
Karena sudah hampir pukul 5, aku cepat-cepat kembali ke kamarku dan tidur lagi.

Saat aku terbangun kulihat cuaca sudah terang dan samar-samar dengar Win mandi, aku segera bangun dan bersiap-siap mandi. Begitu Win keluar dari kamar mandi aku segera yang masuk. Ketika selesai mandi kulihat Win telah selesai dandan, aku cepat ke kamar untuk ganti pakaian juga. Belum selesai menyisir rambut kudengar Win sudah berjalan keluar kamar, saat depan kamarku dia berhenti sebentar kupandangi dia dengan terpesona. Memang betul-betul seksi dengan celana ketat hitam dan kaosnya terbuka agak lebar dadanya. Apalagi perutnya yang ramping hingga payudaranya kelihatan sangat menonjol sekali, tapi dia pakai rompi untuk sedikit mengurangi penonjolan payudaranya.

Kemudian Win berkata,
“Win berangkat dulu yaa, nanti kira-kira 10-15 menit Oom nyusul ya?”
“Jangan-jangan nanti Win sudah kecantol cowok lain sebelum Oom datang”, gurauku.
Win dengan mimik gemes mencubit lenganku sambil ngomong,
“Oom kalau ngomong jangan yang aneh-aneh ya? Awas nanti di sana”, kemudian dia langsung turun tangga sambil membawa tas kecil dan dompet yang menggantung di pundaknya.

Kira 10 menit kemudian aku turun dan naik becak ke restauran terssbut, saat aku turun dari becak Win sudah tahu dan menghampiriku serta menggandeng tanganku erat-erat jalan masuk ke RM. Win ternyata sudah pesan kopi susu serta nasi plus telor mata sapi kesukaanku dan sandwich 1 potong. Aku bilang,
“Waah kamu belum dicantol orang ya?”
“Oom jangan gitu, yang bisa nyantol Win ya cuma Oom sendiri”, sahutnya sambil mencubit lenganku lagi dengan gemas.
“Win, Oom jangan dicubiti toch, lihat nanti punggung dan dada Oom yang penuh cacat kena cengkraman tangan dan gigitanmu saat Win mau klimaks” kataku.
“Oya, tapi Win betul-betul tanpa sadar melakukannya. Pantas di punggung Oom ada goresan-goresan, Win kira kenapa apa”, sahutnya.
Sambil ngomong dan makan, Win bilang nanti ke toko dulu untuk beli celana renang buatku dulu. Aku setuju, malah aku bilang untuk ke supermarket dulu untuk beli makanan kecil serta rok dan parfum. Win menolak dengan bilang,
“Oom jangan beli rok dan parfum untuk Win, Win lebih suka parfum asli tubuh Win juga rok nanti kalau sudah tak mode juga kepakai, jadi sayang kenangan akan hilang. Oom kan suka parfum aslinya Win, kan?” tanyanya.
“Pasti sayang, kan tiap malam Oom sudah bercampur dengan parfumnya Win toch..”
“Kalau Oom berkenan supaya kenangan itu tetap abadi dan akan Win pakai terus lebih baik cincin saja.”
“Kalau Win maunya gitu, Oom ikut saja.”
“Nanti Win pilih 2 biji, yang satu seperti wedding ring yang satu pakai permata, tapi nggak usah yang mahal-mahal”, jelasnya.

“Terserah sama Win sudah”, kataku sambil kugenggam tangannya erat-erat. Saat jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat, kita berangkat menuju kompleks pertokoan di Jl. Kayutangan. Di sana Win membeli macam-macam makanan kecil tapi anehnya tiap macam hanya 1 biji, lalu Win mengajak ke toko yang jual swim suit. Lalu dia pilih celana renang dan pilih yang warna biru,
“Yang ini saja ya Oom?”
“Terserah Win.”
Selama berjalan Win selalu menggandeng tanganku lalu memepetkan payudaranya kelenganku dan kepalanya kadang disandarkan ke bahuku. Win jalan dengan manjanya dan sedikit genit, hingga orang yang melihat kelihatan kagum akan kemesraan kita.

Win mengajak ke toko perhiasan di situ Win pilih-pilih cincin setelah ada yang cocok ditunjukkan padaku dan aku sih oke saja hanya kuanjurkan jangan yang telalu kecil beratnya, tapi Win bilang,
“Yang kecil saja cukup yang penting kesan dan kenangannya.”
Setelah tawar menawar, kubayar cincin itu lalu kita jalan terus dengan mesranya menyusuri sepanjang pertokoan.
“Gimana beli parfum dan rok ya?” tanyaku saja.
“Nggak Oom, Win cuma kenal bedak dan lipsticks saja, kan Oom lihat yang ada di meja rias Win.”
“Oke kalau gitu beli bedak dan lipstick serta BH dan CD ya?” tanyaku.
“Eeeeh.. kalau ngomong jangan macam-macam!” sahutnya sambil mencubit pahaku.
Akhirnya Win mau ke department store dan Win kuminta beli bedak dan lipstick kebiasaannya juga sekalian BH dan CD-nya, setelah itu kita jalan menuju tempat tunggu angkutan yang menuju Batu. Sampai di Batu kuminta turun depan Hotel Kartika Wijaya, kita langsung check-in sebab sudah jam 11.40. Kamarnya punya view kepegunungan dan di belakang hotel ada kolam renang. Win tampak ceria dan bahagia sekali ia selalu menempel terus ke tubuhku kemana saja aku pergi seperti ada magnetnya saja.

Siang itu kita makan di restoran hotel saja karena malas keluar lagi, saat makan itu aku diminta untuk memasangkan 2 cincin di jari manis tangan kiri serta kanannya. Habis kupasang, Win langsung merangkul leherku dan menciumku, kubalas juga ciumannya, hingga sempat jadi tontonan sesaat buat tamu restoran. Siang itu kita istirahat sambil berpelukan, tidur tindih menindih gantian sambil kuajari cara berciuman dengan mengeluarkan lidahnya untuk bisa dikulum. Win merasa senang sekali dengan ajaran itu hingga sering dipraktekan sekarang saat kucium.

Aku jadi terbangun saat merasa ada orang yang menciumku, saat membuka mata ternyata Win yang mencium sambil duduk di sampingku sudah dalam pakaian swim suit. Waah indah sekali seksi tubuhnya dalam pakaian swim suit, payudaranya menonjol dengan kelihatan bagian atasnya yang putih agak sedikit mencuat. “Ayo Oom kita renang!” sambil membawa celana renangku. Aku bangun dan pakai celana renang, lalu kita pergi ke kolam renang. Disana Wim langsung masuk kolam, karena banyak tamu pria lain yang renang matanya memandang terus bagian dadanya. Aku ikut masuk tapi tak renang hanya menemani Win dalam kolam. Win bilang, “Oom, Win kalau renang sendiri sulit sebab banyak cowok-cowok terutama yang sebaya langsung datang mengajak ngobrol tapi matanya ya cuma memandang payudaranya Win, jadi lama Win tak pernah renang.”

Setelah renang 1 1/2 jam, Win selesai renang dan sekaligus mandi di pancuran bersamaku, dia menyabuni tubuhku dan aku menyabuni tubuh Win, hingga banyak mata tamu yang melotot melihatnya. Selesai mandi kita langsung balik kamar dan tiduran sebentar berdua sambil Win terus minta dipeluk. Kira-kira pukul 6 sore, Win mengajak jalan-jalan keluar sekalian makan malam. Dia mengenakan celana ketat hitamnya dengan kaos yang kuning ketat dan retsluiting terbuka di dadanya. Betul-betul pemandangan yang menggiurkan bagi laki-laki. Win tetap berjalan dengan menggandeng tanganku atau merangkul pinggangku, hingga kita tampak mesra sekali. Karena penampilan Win dalam pakaiannya itu kita di jalan menjadi perhatian banyak turis domestik yang ketemu. Jam 9 malam lebih kita kembali ke hotel dan aku duduk nonton TV sedang Win langsung duduk di pangkuanku dengan tangannya merangkul leherku. Kupeluk dia sambil berciuman mesra dan tanganku mulai nakal main dan menyusup kebukaan retsluiting itu untuk meraih payudaranya yang sintal itu dan meremas-remasnya dengan penuh kemesraan. Win mulai mengaduh perlahan-lahan dan kancing serta retsluiting celananya mulai kubuka tapi karena ketat Win harus berdiri dulu untuk melepasnya sekaligus CD-nya dan kemudian kaos ketatnya pun kubantu membukanya serta BH-nya. Win juga membantuku melepas pakaian, hingga sekejap kita sudah bugil berdua. Aku tidur di ranjang dan Win telungkup di atas hingga payudaranya menempel ketat di dadaku. Win mulai mempraktekkan ciuman dan menghisap penisku dengan teknik yang kuajari, selanjutnya aku yang membimbingnya agar Win dapat mencapai klimaks bersamaku dan setelah itu Win minta agar punyaku jangan dicabut keluar supaya tetap tinggal di dalam vaginanya, katanya supaya badannya tetap hangat. Jadi malam itu kita tidur dengan penisku di dalam vaginanya.

Paginya saat aku bangun jam 4 aku terasa penisku sudah tegang lagi tetapi rasanya masih tetap dalam vaginanya. Karena penisku bergerak-gerak membesar, Win jadi terbangun dan langsung kita bermain cinta lagi sampai Win dan aku mencapai puncak bersama-sama. Sejak itulah tiap malam aku selalu tidur bersama Win, sekarang Win yang lebih sering ke kamarku dan tiap malam Win selalu mempraktekkan teknik yang kuajarkan sekali atau dua kali, sampai hari kepulanganku. Memang Win seorang yang pantas jadi istriku sebab kecocokan dalam kehidupan sehari-hari denganku, apalagi Win bukan type pemeras dan mata duitan walaupun hidupnya sederhana, sayang ketemunya terlambat.

Sampai hari ini Win kadang-kadang masih menginterlokal aku, dan aku juga minimum 1 bulan sekali kontak dia.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 4:48 am

Pembaca yang budiman, mungkin ini merupakan salah satu cara untuk bagi cerita kepada pembaca yang lain. Memang terkadang kita agak risih untuk menceritakan pengalaman pribadi masing masing. Cerita ini merupakan cerita yang nyata dan tidak dibuat buat atau ditambahkan dengan cerita lain.

Namaku INdra, kala peristiwa ini terjadi aku masih berkantor di wilayah Jl. Kramat Raya, biasanya aku pulang dengan membawa motor tapi kali ini aku agak malas pulang dengan membawa motor sehingga menitipkannya di halaman parkir kantor. Malam itu aku pulang pukul 7.30 malam, iseng aku mampir ke sebuah restoran fast food di Atrium Senen yang kala itu sudah agak sepi, maklum mungkin sudah agak malam. Aku mengambil tempat duduk yang kebetulan agak jauh di depan duduk seorang gadis yang kelihatannya sedang menunggu seseorang. Aku perhatikan terus, tiba–tiba dia memberi lambaian tangan agar aku mendekati tempat duduknya. Aku bergegas mendekati tempat duduknya.

“Hai“, sapaku.
Dia hanya tersenyum ketika aku menyapanya.
”Kenapa kamu perhatikan aku terus?”, tanyanya.
“Eh nggak, iseng aja, habis kamu kayanya lagi nunggu orang, ya?”, tanyaku.
”Iya nih aku lagi nunggu temenku, tapi kok nggak datang-datang ya?”.
“Oh ya aku INdra, kamu?”, tanyaku.
”Rani”, jawabnya.

Tidak lama kami mengobrol, kemudian datang teman Rani yang telah ditunggu–tunggunya. Kupikir teman Rani itu pria, tapi ternyata wanita juga. Setelah agak lama kemudian Rani kembali lagi ke meja dimana kami mengobrol.
“Oke Ndra, kita jalan yuk”, ajak Rani.
”Kemana Ran?”, tanyaku.
“Lho katanya kamu ingin dengar ceritaku”, jawab Rani.

Kemudian Rani mengajakku check in di salah satu hotel di bilangan Kramat. Pertama aku pikir Rani mengajakku mengantarnya pulang, ternyata dia malas pulang ke rumahnya karena pikirannya sedang suntuk. Setelah masuk kamar hotel, aku langsung ke kamar mandi.
”Ndra kamu sedang mandi ya?’, tanya Rani.
Aku tidak langsung menjawabnya dan sepuluh menit kemudian baru aku keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos dalam dan celana pendek.
“Aku mandi dulu ya Ndra, nggak enak rasanya badanku sudah seharian“, kata Rani sambil menuju ke kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian Rani keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai CD dan BH. Terlihatlah payudaranya yang berukuran 34B menonjol menantang.
”Sorry ya, habis gerah kalau pakai baju lagi”, kata Rani sambil merebahkan tubuhnya yang sintal ke ranjang di sebelahku.

Tiba tiba Rani langsung memeluk dan mencium pipi kananku. Aku hanya terdiam dan pura pura acuh. Dan kemudian ia melumat bibirku dengan liar dan aku akhirnya membalas lumatannya dengan liar juga. Lama juga kami saling melumat bibir satu sama lain. Kemudian Rani membuka kaos dalam yang masih kukenakan dan melepas celana pendekku. Dan langsung memegang kontolku yang masih setengah tegak. Aku tidak menyia–nyiakan kesempatan ini. Langsung saja kubuka tali BH-nya dan membuangnya ke lantai. Kuhisap puting susunya serta kuremas–remas payudara yang satunya.

“Ooohhh, Ndra terusss Ndra aaahhh”, rintih Rani yang merasa kenikmatan karena kuhisap dan kuremas payudaranya.
Secara bergantian kuhisap dan kuremas sepasang payudara kenyal itu sampai puas. Setelah puas, aku langsung memasukkan jariku di lubang kenikmatannya. Kuelus–elus klitorisnya yang sudah basah oleh cairan vaginanya.
Tiba-tiba Rani menarik kepalaku ke depan.
“Ndra Rani sudah nggak tahan lagi. Entot Rani ya, Ndra please… memek Rani sudah nggak tahan pengen di entot… please..“, rintih Rani mengiba kepadaku.

Segera kubuka CD-nya dan Rani kuminta menghisap penisku yang sudah tegang berdiri bagaikan tugu monas.
“Ran, hisap kontolku Ran”, pintaku.
Rani kemudian dengan liar menghisap dan memainkan kontolku di dalam mulutnya.
“Terus Ran, enak Ran… yaa… terusss… aaahhh”.

Rani kemudian memintaku untuk berposisi 69. Aku turuti kemauan Rani. Dengan posisiku berada di bawah dan Rani di atas, memek Rani berada tepat di depan mulutku. Bau harum khas vagina sudah tercium, tanpa permisi lagi aku langsung melumat bibir vagina Rani yang sudah basah oleh cairan vaginanya. Rani pun tak mau kalah, ia asyik dengan kontolku, menghisap dan mengocok di mulutnya, dijilat dan terkadang dikocok oleh mulutnya sehingga membuat kontolku langsung berdiri dengan tegak dan keras.

Puas dengan gaya 69, Rani langsung berdiri di atasku dan mengarahkan memeknya ke arah kontolku.
”Ndra, Rani udah nggak tahan lagi, biar Rani yang entot kontol kamu dulu, ya“, pinta Rani.
Tidak lama kemudian kontolku sudah masuk ke liang kenikmatan yang sudah licin oleh cairan memeknya. Dengan posisi Rani yang berjongkok memegang bahuku, gerakan turun naik pantatnya menambah kenikmatan kocokan memeknya.
“Aahhh… Ndra kontol kamu enak Ndra, ssshhh… aduh Ndra enak sekali…”, rintih Rani yang menikmati permainannya sendiri.

Aku pun mengimbanginya dengan sesekali menekan ke atas dan Rani menghentakkan pantatnya dengan lebih cepat. Selang lima menit kemudian Rani memegang bahuku kuat sekali dan langsung melumat bibirku. Ternyata Rani sudah mencapai klimaks dan cairan vaginanya terasa hangat membasahi kontolku yang masih menancap di dalam memeknya. Kugulingkan tubuh Rani ke samping, sekarang giliranku. Kutarik kontolku dari memeknya dan langsung menyerbu kearah lubang kenikmatan itu. Kumainkan klitoris Rani yang berwarna merah muda kecoklat coklatan dengan ujung lidahku, kulumat bibir vaginanya yang masih basah dengan cairan yang baru saja keluar dari vaginanya. Tidak ada pikiran jijik lagi dalam otakku, yang penting adalah merasakan kenikmatan.

”Terusss… Ndra… aaahhh enak Ndra ayo terusss…“, erang Rani yang ternyata dia sudah siap untuk dientot lagi.
“Ayo Ndra, sekarang kamu yang entot aku, Rani udah nggak tahan pengen dientot lagi”, pinta Rani.
Sekarang kuarahkan mulutku ke arah puting susunya yang sudah mengeras. Kuhisap dan kugigit sesekali.
“Aahhh Ndra ayo entot Rani… Aku sudah nggak tahan… ayo dong pleasee… aaahhh.”

Kuturuti kemauan Rani untuk mengentot memeknya. Segera saja kuarahkan kontolku tepat di vaginanya dan ‘blesss…’, masuk sudah semua kontolku ke dalam memeknya.
”Aahhh Ndra enak sekalii… ayo Ndra terusss… aaahhh”, erangan Rani menikmati kontolku yang masuk ke liang memeknya.

Aku gerakkan pantatku turun naik secara berkala. Kadang cepat kadang lambat. Kulihat Rani menikmati permainanku sampai ia memelukku erat sekali.
“Ndra terusss… sebentar lagi aku keluar ayo terus entot… aaahhh enak Ndra…”
Rani lemas dan terasa kontolku tersiram cairan hangat memeknya. Gerakan pantatku masih turun naik, kupacu terus, kulihat Rani sudah telentang lemas.
Kuminta Rina untuk ber-”dodgy style”. Rani segera mengubah posisinya hingga dapat kulihat gelambir bibir vaginanya yang basah oleh cairan memeknya. Segera kuarahkan kontolku ke arah memeknya dan blesss…
”Oohhh Ndra masukin semuanya, terusss… aaahhh”.
”Gimana Ran, masih kuat?”, tanyaku.
”Terserah kamu Ndra, mau diapain aja memek Rani, yang penting memek Rani puas kamu entot”, jawab Rani sambil tersenyum puas.

Segera kumainkan perananku lagi. Kugerakkan maju mundur pantatku.
”Aahhh Ndra terusss…”, Rani mengerang halus.
”Gimana Ran, enak nggak kontolku?” tanyaku.
”Aduhhh Ndra enak sekali kontol kamu, memek Rani puas sekali”, jawabnya.
Kuminta Rani mengangkat kakinya sebelah, seperti anjing sedang kencing. Kutahan kakinya dengan lenganku dan sambil meremas payudaranya yang basah oleh keringatnya.
“Ayo Ran sekarang nikmati permainanku“.
Kupacu gerakan pantatku maju mundur.
”Ayo Ndra terus… terus… terus… enak sekali Ndra, terus…”.

Dan Rina mengimbangi dengan menggoyang pantatnya.
”Ayo Ran sedikit lagi aku keluar”, sambil kupercepat gerakan pantatku.
”Ran, mau dikeluarin di dalam apa di luar?”, tanyaku.
“Terserah kamu Ndra… aaahhh… ayo Ndra kita keluar bareng… aaahhh”, erangan Rani mengejang kenikmatan.
”Ran aaahhh… enak Ran, aaahhh”, kupercepat gerakan pantatku.
“Ndra terusss… kontol kamu enak sekaliii… aaahhh enak Ndra… entot terus memek Rani sampai jebol… aaahkk…“, itulah teriakan Rani seiring spermaku yang akhirnya keluar membanjiri memeknya.

Dengan kontol yang masih menancap di memeknya, kupeluk Rani dengan erat.
”Terima kasih ya Ndra, kamu sudah memberi kepuasan ke memek Rani”, kata Rani sambil tersenyum kepadaku.
Setelah itu kami bergegas ke kamar mandi. Di kamar mandi Rani mencuci kontolku. Pertama ia hisap kontolku dan dijilatinya sisa sperma yang kemudian ia siramkan dengan air hangat yang ada di ‘bath tub’. Tiba tiba kontolku berdiri kembali. Kubalikkan tubuh Rani dan kuminta ia menungging dengan tangan memegang dinding kamar mandi.
”Ayo Ran, aku entot lagi kamu”, kataku.
Rani pun menuruti kemauanku. Segera kuarahkan kontolku ke memek Rani. Dan blesss… masuk sudah semua kontolku ke memek Rani.
”Aahhh… enak sekali Ndra… ayo dong Ndra dikocok lagi yang keras”, pinta Rani.
Kukocok kontolku di memek Rani.
“Aduh Ran… kok enak sekali memek kamu… diapain Ran“, gumamku.
”Di entot kontol kamu sayang… Please fuck me longer honey…”, jawab rani sambil menggoyang pinggulnya.
Aku pun tambah keenakan digoyang seperti itu. Kupercepat ayunan pinggulku menghantam pantat Rani yang sintal.
”Aahhh… ooohhh yes honey fuck me fuck me harder ooohhh… yes enak sekali Ndra…”, rintih Rani.
Aku pun tak tahan lagi.
”Ran aku mau keluar.. aaahhh Ran… yes… yes.. memek kamu enak sekali… Ran… ooohhh yess…”, eranganku bersamaan dengan spermaku muncrat di dalam memek Rani.

Rani pun segera berbalik menghadapku dan langsung menghisap sisa sperma yang masih ada di kepala kontolku dan menelannya.
”Sperma kamu enak Ndra.. enak sekali”, kata Rani sambil terus menguras sisa spermaku yang masih ada di kepala kontolku.
Kulihat senyuman puas di bibir Rani. Kami pun mandi berdua di bath tub dan melanjutkan permainan itu sampai pukul 3 pagi, sampai–sampai kami tidak sempat untuk ke tempat tidur lagi, saking asyiknya menikmati surga dunia. Esoknya kami langsung check out dari hotel dan aku mengantar Rani sampai ke depan rumahnya tanpa aku turun dari taksi yang mengantar kami.

Itulah ceritaku tentang “kencan kilat” kami yang membekas, tanpa paksaan apapun. Untuk Rina, terima kasih atas kepuasan yang kamu berikan sepanjang malam itu, semoga kita bisa berbagi lagi…

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 4:43 am

Lima bulan sudah aku bekerja sebagai seorang pembantu rumahtangga di keluarga Pak Rahadi. Aku memang bukan seorang yang makan ilmu bertumpuk, hanya lulusan SD. Tetapi karena niatku untuk bekerja memang sudah tidak bisa ditahan lagi, akhirnya aku pergi ke kota Surabaya, dan beruntung bisa memperoleh majikan yang baik dan bisa memperhatikan kesejahteraanku. Sering terkadang aku mendengar kisah tentang nasib beberapa orang pembantu rumah tangga di kompleks perumahan. Ada yang pernah ditampar majikannya, atau malah bekerja seperti seekor sapi perahan saja.

Ibu Rahadi pernah bilang bahwa beliau menerimaku menjadi pembantu rumahtangganya lantaran usiaku yang relatif masih muda. Beliau tak tega melihatku luntang-lantung di kota metropolis ini. “Jangan-jangan kamu nanti malah dijadikan wanita panggilan oleh para calo WTS yang tak bertanggungjawab.” Itulah yang diucapkan beliau kepadaku.

Usiaku memang masih 18 tahun dan terkadang aku sadar bahwa aku memang cantik, berbeda dengan para gadis desa asalku. Pantas saja jika Ibu Rahadi berkata begitu terhadapku.

Namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, yakni tentang perlakuan Mas Rizal terhadapku. Mas Rizal adalah anak bungsu keluarga Bapak Rahadi. Dia masih kuliah di semester 6, sedangkan kedua kakaknya telah berkeluarga. Mas Rizal baik dan sopan terhadapku, hingga aku jadi rikuh bila berada di dekatnya. Sepertinya ada sesuatu yang bergetar di tubuhku. Jika aku ke pasar, Mas Rizal tak segan untuk mengantarkanku. Bahkan ketika naik mobil aku tidak diperbolehkan duduk di jok belakang, harus di sampingnya. Ahh… Aku selalu jadi merasa tak nikmat. Pernah suatu malam sekitar pukul 20.00, Mas Rizal hendak membikin mie instan di dapur, aku bergegas mengambil alih dengan alasan bahwa yang dilakukannya pada dasarnya adalah tugas dan kewajibanku untuk bisa melayani majikanku. Tetapi yang terjadi Mas Rizal justru berkata kepadaku, “Nggak usah, Santi. Biar aku saja, anggak apa-apa kok…”

“Nggak… nggak apa-apa kok, Mas”, jawabku tersipu sembari menyalakan kompor gas.

Tiba-tiba Mas Rizal menyentuh pundakku. Dengan lirih dia berucap, “Kamu sudah capek seharian bekerja, Santi. Tidurlah, besok kamu harus bangun khan..”

Aku hanya tertunduk tanpa bisa berbuat apa-apa. Mas Rizal kemudian melanjutkan memasak. Namun aku tetap termangu di sudut dapur. Hingga kembali Mas Rizal menegurku.

“Santi, kenapa belum masuk ke kamarmu. Nanti kalau kamu kecapekan dan terus sakit, yang repot kan kita juga. Sudahlah, aku bisa masak sendiri kalau hanya sekedar bikin mie seperti ini.”

Belum juga habis ingatanku saat kami berdua sedang nonton televisi di ruang tengah, sedangkan Bapak dan Ibu Rahadi sedang tidak berada di rumah. Entah kenapa tiba-tiba Mas Rizal memandangiku dengan lembut. Pandangannya membuatku jadi salah tingkah.

“Kamu cantik, Santi.”
Aku cuma tersipu dan berucap,
“Teman-teman Mas Rizal di kampus kan lebih cantik-cantik, apalagi mereka kan orang-orang kaya dan pandai.”
“Tapi kamu lain, Santi. Pernah tidak kamu membayangkan jika suatu saat ada anak majikan mencintai pembantu rumahtangganya sendiri?”
“Ah… Mas Rizal ini ada-ada saja. Mana ada cerita seperti itu”, jawabku.
“Kalau kenyataannya ada, bagaimana?”
“Iya… nggak tahu deh, Mas.”

Kata-katanya itu yang hingga saat ini membuatku selalu gelisah. Apa benar yang dikatakan oleh Mas Rizal bahwa ia mencintaiku? Bukankah dia anak majikanku yang tentunya orang kaya dan terhormat, sedangkan aku cuma seorang pembantu rumahtangga? Ah, pertanyaan itu selalu terngiang di benakku.

Tibalah aku memasuki bulan ke tujuh masa kerjaku. Sore ini cuaca memang sedang hujan meski tak seberapa lebat. Mobil Mas Rizal memasuki garasi. Kulihat pemuda ini berlari menuju teras rumah. Aku bergegas menghampirinya dengan membawa handuk untuk menyeka tubuhnya.

“Bapak belum pulang?” tanyanya padaku.
“Belum, Mas.”
“Ibu… pergi..?”
“Ke rumah Bude Mami, begitu ibu bilang.”

Mas Rizal yang sedang duduk di sofa ruang tengah kulihat masih tak berhenti menyeka kepalanya sembari membuka bajunya yang rada basah. Aku yang telah menyiapkan segelas kopi susu panas menghampirinya. Saat aku hampir meninggalkan ruang tengah, kudengar Mas Rizal memanggilku. Kembali aku menghampirinya.

“Kamu tiba-tiba membikinkan aku minuman hangat, padahal aku tidak menyuruhmu kan”, ucap Mas Rizal sembari bangkit dari tempat duduknya.
“Santi, aku mau bilang bahwa aku menyukaimu.”
“Maksud Mas Rizal bagaimana?”
“Apa aku perlu jelaskan?” sahut Mas rizal padaku.

Tanpa sadar aku kini berhadap-hadapan dengan Mas Rizal dengan jarak yang sangat dekat, bahkan bisa dikatakan terlampau dekat. Mas Rizal meraih kedua tanganku untuk digenggamnya, dengan sedikit tarikan yang dilakukannya maka tubuhku telah dalam posisi sedikit terangkat merapat di tubuhnya. Sudah pasti dan otomatis pula aku semakin dapat menikmati wajah ganteng yang rada basah akibat guyuran hujan tadi. Demikian pula Mas Rizal yang semakin dapat pula menikmati wajah bulatku yang dihiasi bundarnya bola mataku dan mungilnya hidungku.

Kami berdua tak bisa berkata-kata lagi, hanya saling melempar pandang dengan dalam tanpa tahu rasa masing-masing dalam hati. Tiba-tiba entah karena dorongan rasa yang seperti apa dan bagaimana bibir Mas Rizal menciumi setiap lekuk mukaku yang segera setelah sampai pada bagian bibirku, aku membalas pagutan ciumannya. Kurasakan tangan Mas Rizal merambah naik ke arah dadaku, pada bagian gumpalan dadaku tangannya meremas lembut yang membuatku tanpa sadar mendesah dan bahkan menjerit lembut. Sampai disini begitu campur aduk perasaanku, aku merasakan nikmat yang berlebih tapi pada bagian lain aku merasakan nikmat yang berlebih tapi pada bagian lain aku merasakan takut yang entah bagaimana aku harus melawannya. Namun campuran rasa yang demikian ini segera terhapus oleh rasa nikmat yang mulai bisa menikmatinya, aku terus melayani dan membalas setiap ciuman bibirnya yang di arahkan pada bibirku berikut setiap lekuk yang ada di dadaku dijilatinya. Aku semakin tak kuat menahan rasa, aku menggelinjang kecil menahan desakan dan gelora yang semakin memanas.

Ia mulai melepas satu demi satu kancing baju yang kukenakan, sampailah aku telanjang dada hingga buah dada yang begitu ranum menonjol dan memperlihatkan diri pada Mas Rizal. Semakin saja Mas Rizal memainkan bibirnya pada ujung buah dadaku, dikulumnya, diciuminya, bahkan ia menggigitnya. Golak dan getaran yang tak pernah kurasa sebelumnya, aku kini melayang, terbang, aku ingin menikmati langkah berikutnya, aku merasakan sebuah kenikmatan tanpa batas untuk saat ini.

Aku telah mencoba untuk memerangi gejolak yang meletup bak gunung yang akan memuntahkan isi kawahnya. Namun suara hujan yang kian menderas, serta situasi rumah yang hanya tinggal kami berdua, serta bisik goda yang aku tak tahu darimana datangnya, kesemua itu membuat kami berdua semakin larut dalam permainan cinta ini. Pagutan dan rabaan Mas Rizal ke seluruh tubuhku, membuatku pasrah dalam rintihan kenikmatan yang kurasakan. Tangan Mas Rizal mulai mereteli pakaian yang dikenakan, ia telanjang bulat kini. Aku tak tahan lagi, segera ia menarik dengan keras celana dalam yang kukenakan. Tangannya terus saja menggerayangi sekujur tubuhku. Kemudian pada saat tertentu tangannya membimbing tanganku untuk menuju tempat yang diharapkan, dibagian bawah tubuhnya. Mas Rizal terdengar merintih.Buah dadaku yang mungil dan padat tak pernah lepas dari remasan tangan Mas Rizal. Sementara tubuhku yang telah telentang di bawah tubuh Mas Rizal menggeliat-liat seperti cacing kepanasan. Hingga lenguhan di antara kami mulai terdengar sebagai tanda permainan ini telah usai. Keringat ada di sana-sini sementara pakaian kami terlihat berserakan dimana-mana. Ruang tengah ini menjadi begitu berantakan terlebih sofa tempat kami bermain cinta denga penuh gejolak.

Ketika senja mulai datang, usailah pertempuran nafsuku dengan nafsu Mas Rizal. Kami duduk di sofa, tempat kami tadi melakukan sebuah permainan cinta, dengan rasa sesal yang masing-masing berkecamuk dalam hati. “Aku tidak akan mempermainkan kamu, Santi. Aku lakukan ini karena aku mencintai kamu. Aku sungguh-sungguh, Santi. Kamu mau mencintaiku kan..?” Aku terdiam tak mampu menjawab sepatah katapun.

Mas Rizal menyeka butiran air bening di sudut mataku, lalu mencium pipiku. Seolah dia menyatakan bahwa hasrat hatinya padaku adalah kejujuran cintanya, dan akan mampu membuatku yakin akan ketulusannya. Meski aku tetap bertanya dalam sesalku, “Mungkinkah Mas Rizal akan sanggup menikahiku yang hanya seorang pembantu rumahtangga?”

Sekitar pukul 19.30 malam, barulah rumah ini tak berbeda dengan waktu-waktu kemarin. Bapak dan Ibu Rahadi seperti biasanya tengah menikmati tayangan acara televisi, dan Mas Rizal mendekam di kamarnya. Yah, seolah tak ada peristiwa apa-apa yang pernah terjadi di ruang tengah itu.

Sejak permainan cinta yang penuh nafsu itu kulakukan dengan Mas Rizal, waktu yang berjalanpun tak terasa telah memaksa kami untuk terus bisa mengulangi lagi nikmat dan indahnya permainan cinta tersebut. Dan yang pasti aku menjadi seorang yang harus bisa menuruti kemauan nafsu yang ada dalam diri. Tak peduli lagi siang atau malam, di sofa ataupun di dapur, asalkan keadaan rumah lagi sepi, kami selalu tenggelam hanyut dalam permainan cinta denga gejolak nafsu birahi. Selalu saja setiap kali aku membayangkan sebuah gaya dalam permainan cinta, tiba-tiba nafsuku bergejolak ingin segera saja rasanya melakukan gaya yang sedang melintas dalam benakku tersebut. Kadang aku pun melakukannya sendiri di kamar dengan membayangkan wajah Mas Rizal. Bahkan ketika di rumah sedang ada Ibu Rahadi namun tiba-tiba nafsuku bergejolak, aku masuk kamar mandi dan memberi isyarat pada Mas Rizal untuk menyusulnya. Untung kamar mandi bagi pembantu di keluarga ini letaknya ada di belakang jauh dari jangkauan tuan rumah. Aku melakukannya di sana dengan penuh gejolak di bawah guyuran air mandi, dengan lumuran busa sabun di sana-sini yang rasanya membuatku semakin saja menikmati sebuah rasa tanpa batas tentang kenikmatan.

Walau setiap kali usai melakukan hal itu dengan Mas Rizal, aku selalu dihantui oleh sebuah pertanyaan yang itu-itu lagi dan dengan mudah mengusik benakku: “Bagaimana jika aku hamil nanti? Bagaimana jika Mas Rizal malu mengakuinya, apakah keluarga Bapak Rahadi mau merestui kami berdua untuk menikah sekaligus sudi menerimaku sebagai menantu? Ataukah aku bakal di usir dari rumah ini? Atau juga pasti aku disuruh untuk menggugurkan kandungan ini?” Ah.. pertanyaan ini benar-benar membuatku seolah gila dan ingin menjerit sekeras mungkin. Apalagi Mas Rizal selama ini hanya berucap: “Aku mencintaimu, Santi.” Seribu juta kalipun kata itu terlontar dari mulut Mas Rizal, tidak akan berarti apa-apa jika Mas Rizal tetap diam tak berterus terang dengan keluarganya atas apa yang telah terjadi dengan kami berdua.

Akhirnya terjadilah apa yang selama ini kutakutkan, bahwa aku mulai sering mual dan muntah, yah.. aku hamil! Mas Rizal mulai gugup dan panik atas kejadian ini.

“Kenapa kamu bisa hamil sih?” Aku hanya diam tak menjawab.
“Bukankah aku sudah memberimu pil supaya kamu nggak hamil. Kalau begini kita yang repot juga…”
“Kenapa mesti repot Mas? Bukankah Mas Rizal sudah berjanji akan menikahi Santi?”
“Iya.. iya.. tapi tidak secepat ini Santi. Aku masih mencintaimu, dan aku pasti akan menikahimu, dan aku pasti akan menikahimu. Tetapi bukan sekarang. Aku butuh waktu yang tepat untuk bicara dengan Bapak dan Ibu bahwa aku mencintaimu…”

Yah… setiap kali aku mengeluh soal perutku yang kian bertambah usianya dari hari ke hari dan berganti dengan minggu, Mas Rizal selalu kebingungan sendiri dan tak pernah mendapatkan jalan keluar. Aku jadi semakin terpojok oleh kondisi dalam rahim yang tentunya kian membesar.

Genap pada usia tiga bulan kehamilanku, keteguhkan hatiku untuk melangkahkan kaki pergi dari rumah keluarga Bapak Rahadi. Kutinggalkan semua kenangan duka maupun suka yang selama ini kuperoleh di rumah ini. Aku tidak akan menyalahkan Mas Rizal. Ini semua salahku yang tak mampu menjaga kekuatan dinding imanku.

Subuh pagi ini aku meninggalkan rumah ini tanpa pamit, setelah kusiapkan sarapan dan sepucuk surat di meja makan yang isinya bahwa aku pergi karena merasa bersalah terhadap keluarga Bapak Rahadi.

Hampir setahun setelah kepergianku dari keluarga Bapak Rahadi, Aku kini telah menikmati kehidupanku sendiri yang tak selayaknya aku jalani, namun aku bahagia. Hingga pada suatu pagi aku membaca surat pembaca di tabloid terkenal. Surat itu isinya bahwa seorang pemuda Rizal mencari dan mengharapkan isterinya yang bernama Santi untuk segera pulang. Pemuda itu tampak sekali berharap bisa bertemu lagi dengan si calon isterinya karena dia begitu mencintainya.

Aku tahu dan mengerti benar siapa calon isterinya. Namun aku sudah tidak ingin lagi dan pula aku tidak pantas untuk berada di rumah itu lagi, rumah tempat tinggal pemuda bernama Rizal itu. Aku sudah tenggelam dalam kubangan ini. Andai saja Mas Rizal suka pergi ke lokalisasi, tentu dia tidak perlu harus menulis surat pembaca itu. Mas Rizal pasti akan menemukan calon istrinya yang sangat dicintainya. Agar Mas Rizal pun mengerti bahwa hingga kini aku masih merindukan kehangatan cintanya. Cinta yang pertama dan terakhir bagiku.

TAMAT

Akibat Pergaulan Bebas 4:39 am

Namaku Erick (bukan nama asli), sebelumnya aku terima kasih atas dimuatnya ceritaku beberapa waktu yang lalu, kali ini aku akan menuliskan pengalamanku lagi, yang mana itu terjadi baru kemarin malam. Oh ya satu hal lagi, saya minta maaf kalo seandainya kalimat-kalimat yang saya sajikan kurang beraturan. Maklumlah, bukan pujangga.

Rabu, 25 April 2001, kira-kira pukul 07:00 malam, saat itu aku lagi lembur di kantor. Jenuh dengan keadaan, akhirnya aku keluar kantor dulu sebentar, ya sekedar cari angin atau kasarnya cuci mata kali ya. Akhirnya mobil kuparkirkan di pelantara pusat pertokoan yang ada di tengah-tengah kota kembang. Wahh, seger juga nih, jadi tidak BT lagi. Sambil berjalan menelusuri trotoar, aku melihat beberapa produk yang dipajang di etalase, secara kebetulan, mataku tertuju ke stan penjualan produk alat-alat kosmetik. Mataku tidak lepas memandang sosok tubuh yang rasanya seperti kukenal. Dengan ragu-ragu aku hampiri juga stan kosmetik itu. Tidak jauh dari stan itu, aku diam dulu beberapa saat sambil memeperhatikan sosok tubuh yang rasanya kukenal.

Setelah yakin kalau sosok tubuh itu adalah orang yang kukenal, dengan hati berdebar kupanggil namanya.
“Wi..! Kamu Dewi khan..?” kataku sambil menunjuk ke arahnya.
Sosok tubuh yang kupanggil namanya merasa kaget juga mendengar panggilanku. Untuk beberapa saat dia memandang ke wajahku sambil mengernyitkan keningnya. Dalam hati mungkin dia sedang mengingat-ngingat, yang pada akhirnya.
“Erick..? Kamu Erick..?” katanya dengan wajah yang agak keheranan.
“Yup..! kirain udah lupa, Wi..,” kataku sambil menyodorkan tanganku.
“Ya nggak akan lupa dong Rick, gimana kabarnya..?” katanya sambil menyambut uluran tanganku.
“Baek-baek Wi. Kau sendiri gimana..?” kataku.
“Baek juga Rick..,” ucap Dewi sambil menyibakkan rambutnya yang panjang sebahu.

Perlu diketahui, Dewi (bukan nama sebenarnya) ini adalah teman SMA saya dulu, orang tuanya tingal di Jakarta. Di kota kembang ini dia tinggal dengan kakaknya yang kebetulan mereka ini bisa disebut anak kost. Dewi punya perawakan lumayan tinggi, dengan tubuh yang cukup ideal (di mataku), hidung yang mancung, dan buah dadanya yang lumayan juga ukurannya. Kami mengobrol bermacam-macam, tentang seputar masa SMA dulu. Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 09:00malam, dan pada jam itu dia akan pulang. Dengan penuh keyakinan, kutawarkan dia untuk pulang sama-sama, karena kebetulan dia pulangnya sendiri.

Sebelum aku mengantar dia ke tempat kostnya, aku ajak dia untuk makan dulu. Dia menerima tawaranku, setelah itu baru kuantar dia ke tempat kostnya.
“Ke dalem dulu Rick..!” katanya.
“Makasih Wi.., lain kali aja deh.., lagian khan ada Kakakmu..!” kataku sambil memperhatikan jamku, yang mana pada waktu itu menunjukkan pukul 22:30.
“Kakakku lagi ke Jakarta Rick.., Aku cuma sendirian disini. Ayo dong Rick..! Masuk dulu..,” pintanya merajuk.
Akhirnya aku masuk juga ke dalam, “Bentar aja ya Wi.., Aku ada kerjaan nih di kantor, mana mata udah ngantuk, cape lagi..,” kataku sambil tanganku memijit pundakku sendiri karena pegal.
Dewi menganngguk sambil tersenyum, kemudian dia menuju ke belakang untuk mengambil minuman.

“Santai aja dulu Rick.., Aku mo mandi dulu ya, gerah nih..!” katanya sambil menyodorkan minuman untukku.
Lalu aku duduk di kursi dekat tempat tidurnya.
“Lama juga nih mandinya. Dasar perempuan..!” aku menggerutu dalam hati.
Kemudian aku berdiri sebentar, karena pegel juga kalau duduk terus. Akhirnya aku rebahan juga di tempat tidurnya, cape sekali badanku rasanya. Kemudian kulihat Dewi keluar dari kamar mandi. Dia hanya memakai celana pendek dengan t-shirt warna putih. Rambutnya basah, mungkin habis keramas. Kemudian dia duduk di depan meja riasnya sambil mengeringkan rambutnya.

“Muka Kamu kok keliatan cape Rick..?” kata Dewi membuyarkan lamunanku.
“Iya nih Wi.., Aku cape banget hari ini, mana kerjaan masih banyak.” ketusku.
“Ya udah, istirahat aja dulu. Santai aja.., Aku pijitin, mau nggak..?” kata Dewi sambil melangkah ke arahku.
“Bener nih, mau mijitin..?” kataku setengah tidak percaya.
“Masa Aku boong Rick. Ya udah.., Kamu tengkurap aja.. Terus buka dulu kemeja Kamu dengan kaosdalamnya.” katanya.
Bagai kerbau dicocok hidung, aku menurut saja, terus kutelungkup, lalu Dewi mulai memijitiku, mulai dari pundak terus ke punggung. Pijatannya lembut sekali, rasa lelah dan kantukku mulai hilang, malah yang ada sekarang darahku justru mengalir begitu cepat. Batang kemaluankuperlahan-lahan mulai tegang, aku jadi salah tingkah. Sepertinya Dewi melihat perubahan sikapku.

“Rick..! Balikin badan Kamu.., biar Aku pijit juga bagian depannya.” katanya lembut.
Aku agak ragu juga, pasalnya aku takut kemaluanku yang sudah tegang takut kelihatan, ditambah nafasku yang sudah tidak beraturan. Tetapi akhirnya kubalikkan juga badanku. Kemudian Dewi menduduki badanku. Kaget juga aku melihat dia, karena posisi dia sekarang menduduki badanku, pantatnya tepat di atas kemaluanku. Aku pura-pura meram saja, sambil kadang-kadang memicingkan mataku, jadi salah tingkah aku pada waktu itu.

Seksi juga ni orang, atau karena pikiranku yang sudah dirasuki nafsu birahi, batinku berkecamuk. Aku mulai berpikir, apa yang harus kulakukan. Tangan Dewi dengan begiru halusnya mengusap-ngusap dadaku yang kadang-kadang dia cubit puting susuku, aku malah menggelinjang kegelian, pikiranku sudah gelap oleh nafsu. Dengan agak ragu kupegang kedua telapak tangannya yang sedang memijat dadaku.
“Kenapa Rick..?” tanya Dewi sambil tersenyum.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, kemudian kucium telapak tangannya, lalu kutarik tangannya yang mana otomatis badannya mengikuti, sehingga badannya jadi agak terdorong ke depan.

Wajahku dengan wajahnya dekat sekali, sampai nafasnya menerpa wajahku. Lalu kupegang kedua pipinya, dengan perlahan kudekatkan wajahnya ke wajahku, lalu kucium bibirnya dengan lembut. Kemudian kujulurkan lidahku menelusuri rongga mulutnya. Dewi agak melenguh, lalu Dewi mulai membalas ciumanku, lama-lama ciuman kami makin lama makin buas saja, nafas kami sudah tidakberaturan. Sambil tetapi berciuman, tanganku turun ke bawah, lalu kumasukkan ke bagian belakangkaosnya, lalu kutarik kaosnya ke atas. Dewi mengerti akan hal ini, kemudian dia tegakkan badannya, lalu dia buka sendiri t-shirtnya, lalu dengan sambil tersenyum dia buka sendiri BH-nya.

Setelah terbuka, yang kusaksikan adalah sepasang dua bukit yang kembar, walaupun tidak terlalu besar tetapi kencang sekali, dengan putting yang sangat menantang. Dengan posisi Dewi masih di atas perutku, aku segera bangkit. Kulumat putingnya silih berganti, Dewi melenguh tanda menikmatinya.
“Ooohhh Erick.., sshhh..,” desahnya sambil mendongakkan kepalanya ke belakang, dengan tangan melingkar di leherku.
Aku semakin bernafsu, lalu kurebahkan badannya, kemudian kulumat bibirnya, lalu kulumat telingakirinyan. Kemudian aku turun menelusuri lehernya, kulumat putting susunya yang tampak menawan, kadang aku meremas kedua bukit yang indah itu. Puas dengan itu lumatanku mulai turun ke bawah, aku jilat pusarnya, kedua tanganku mulai turun ke pangkal pahanya.

Dengan posisi masih menjilati pusarnya, tanganku membuka celana pendeknya, lalu kuturunkan ke bawah. Secara naluriah dia ikut membantu menurunkan pula, maka tingal celana dalamnya yang berwarna putih bersih yang masih menghinggapi tubuhnya. Lalu kucium kemaluannya yang masih ditutupi CD-nya, dia melenguh hebat, kemudian kubuka CD-nya. Aku beralih menjilati bibir kemaluannya. Dengan bantuan kedua jariku, kusibakkan bibir kemaluannya itu, maka tampakbagian dalam yang berwarna merah muda, dengan dihiasi klit-nya yang sudah membengkak.

Mungkin ini untuk yang kedua kalinya aku menjilati kemaluan perempuan. Ini yang kusuka dari kemaluan Dewi, tidak berbau, mungkin tadi dia waktu mandi membersihkannnya dengan sabun khusus.Lalu kujulurkan lidahku ke bagian klit-nya, kugoyang-goyangkan lidahku.
“Aaahhh.., Rickkk.., enak sekali Saayaang..!” jeritnya sambil kedua tangannya menjambak rambutku.
Pedas juga rambutku. Aku masih saja asyik memainkan lidahku. Kadang sekali-sekali kugigit bibir kemaluannya. Tidak berapa lama, tubuh Dewi mengejang, kepalaku makin ditekan oleh tangannya ke dalam kemaluannya.
“Eeerriiccckkk.., aakkhhh.., nikmat sekali Sayang..!” katanya sambil memejamkan matanya, tandamerasakan kenikmatan yang tiada taranya.

Aku masih saja asyik melumat habis kemaluannya yang merah merekah.
“Udahhh Rick.., udah dulu Sayang..!” katanya sambil menarik kepalaku ke atas, kemudian dia cium bibirku dengan ganas sekali.
Lalu tubuhku dia balikkan, dia berada di atasku sekarang. Dia condongkan badannya, kemudiandia mencium kembali bibirku, lalu mencium leherku. Dia tegakkan badannya, dan dia geser sedikitke bawah. Sambil tersenyum dia lalu membuka celana panjangku, kemudian dia buka celana dalamku, maka mencuatlah adikku yang dari tadi sudah tegak bagai tugu monas. Dengan lembut dia mengusap batang kemaluanku, jempolnya mengusap kepala kemaluanku.

“Aaakkhhh..,” aku hanya bisa mendesah kenikmatan.
Perlahan dia tundukkan kepalanya, lalu mulai menjilati kepala kemaluanku, kemudian dia masukkan batang kejantananku ke mulutnya. Dia hisap dengan lembut. Aku hanya bisa merasakan kenikmatan yang diberikan oleh permainan mulut Dewi.
“Aakkhhh Wi.., terus Wi..! Enak sekali Sayang..!” erangku.
Mungkin karena dari tadi aku sudah menahan nafsuku, akhirnya aku tidak kuat juga menahannya.
“Wi.., Aku mo keluar Wie..,” erangku.
Dewi cuek saja, dia malah mempercepat frekwensi hisapannya ke batang kemaluanku, yangpada akhirnya, “Aaakkhhh..,” bersamaan dengan itu menyeburlah cairan spermaku ke mulutnya.

Keliatannya Dewi agak kaget juga, tetapi dia lalu menelan semua spermaku sampai habis. Aku hanya mengerang kenikmatan. Setelah cairanku habis ditelannya, kemudian Dewi lepaskan batang kejantananku dari mulutnya, dia tersenyum melihat senjataku masih berdiri, walaupun sudah mengeluarkan laharnya. Dengan tersenyum menahan birahi, dia mendekati wajahku. lalu mencium bibirku. Dengan posisi masih di atas, tangannya kemudian memegang batang kemaluanku, lalu dibimbingnya ke lubang senggamanya. Dengan sekali sentakan, batangku sudah masuk seluruhnya.
“Uuuhhh.., sshhhh..!” Dewi melenguh kenikmatan sambil memejamkan matanya, rambutnya tergerai, kepalanya diangkat mendongkak ke belakang.
Diangkatnya pantatnya perlahan, lalu diturunkannya perlahan. Aku membantunya dengan batang kemaluanku.

Makin lama gerakan Dewi semakin cepat, aku juga semakin keras menekan batang kemaluanku, tangaku menelusuri tubuhnya yang sudah penuh dengan keringat. Kadang kuremas kedua bukit kembarnya, sekali-kali aku pelintir kedua puttingnya. Dewi terus saja menggelinjangkantubuhnya, kulihat Dewi meram melek juga dalam malakukan gerakannya itu.
“Ooohhh.., Eerricckk..! Enak sekali Rick.., ssshhh..,” Dewi mendesis seperti ular.
“Kamu cantik sekali Wi.., Aku sayang Kamu..!” kataku sambil menarik kepalanya untuk mendekati wajahku.
Lalu kucium bibirnya. Akibat gerakan-gerakan yang dilakukan Dewi, akhirnya aku tidak kuat juga.
“Aaahhh.., Wi, Aku hampir keluar Sayangg..!” kataku.
“Ssshhh.., aahh.., Aaaakuu juga Rick.., bentar lagi.., aakhh.. terus Sayanng.., terusss..!” ucap Dewi sambil terbata bata menahan nafsu.

Makin kupercepat tempo gerakanku, yang pada akhirnya aku sudah tidak kuat lagi. Kurangkul tubuhnya erat-erat, tampaknya Dewi juga sudah pada klimaksnya, yang akhirnya.
“Aaahhh.., aakkhhh..,” kami keluar bersamaan disertai desahan yang panjang.
Kupeluk tubuh Dewi dengan erat, begitu juga dengan Dewi sambil menikmati sensasi-sensai yang tidak bisa dibayangkan. Kemudian dengan posisi aku masih duduk di kasur dan Dewi di atasnya, kami berciuman kembali. Lama sekali sambil mengatakan kata-kata indah.
“Terima kasih Wi.., Aku sayang Kamu..!” kataku sambil mencium keningnya.
“Aku sayang Kamu juga Rick..!” kata Dewi, yang kemudian kami berciuman kembali.
Lalu kurebahkan badanku dengan batang kemaluanku masih menancap di liang senggamanya, akhirnya kami berdua tertidur lelap sekali.

Esok harinya baru kupulang, tapi sebelumnya aku antarkan dulu Dewi ke tempat kerjanya sambilmemeberikan nomor teleponku. Kalau-kalau dia butuh aku, tinggal menghubungi saja. Sesudah mengantar Dewi, aku langsung pulang, lalu pergi ke kantor yang mana sudah tentu aku pastikesiangan, dan kerjaanku yang belum beres.

Saran dan kritiknya kutunggu lewat e-mail, apalagi kalau yang mau kenalan.

TAMAT