Cerita BersambungSeptember 28, 2006 8:59 pm

Karena kelelahanku yang sangat menguasai seluruh jaringan tubuhku, aku
benar-benar mampu tertidur dengan pulas dan tenang. Entah sudah berapa
lama aku tertidur pulas, yang jelas saat kubangun udara dingin segera
menyergapku. Sial. Aku sadar, ini di desa dekat Merapi, tentu saja dingin.
Tidak berapa lama jam dinding berdentang lima sampai enam kali. Jam enam
pagi..! Dengan agak malas aku beranjak berdiri, tetapi tidak kulihat Tante
Yus ada di kamar ini. Sepi dan kosong. Dimana dia..? Aku terus mencoba
ingin tahu. Dalam keadaan bugil ini, aku melangkah mendekati meja lampu.
Secarik kertas kutemukan dengan tulisan dari tangan Tante Yustina.

Andrew sayang, Tante kudu buru-buru ke Jakarta pagi ini. Udah dijemput.
Ada pameran di sana. Tolong jaga rumah dan Vivi. Ttd, Yustina.

Aku menghela nafas dalam-dalam. Gila, setelah menikmati diriku, dia
minggat. Tetapi tidak apa-apa, aku dapat beristirahat total di sini,
ditemani Vivi. Eh, tapi dimana dia..? Aku segera mengambil selembar handuk
putih kecil yang segera kulilitkan pada tubuh bawahku. Tanpa membuang
waktu lagi aku segera menyusuri rumah, dari ruang ke ruang dari kamar ke
kamar. Tetapi sosok bocah SD itu tidak kelihatan sama sekali. Aku hampir
putus asa, tetapi mendadak aku mendengar suara gemericik air pancuran dari
kamar mandi ruang tamu di depan sana. Vivi. Ya itu pasti dia. Aku segera
memburu.

Kubuka pintu kamar tamu yang luas dan asri ini. Benar. Kulihat pintu kamar
mandinya tidak ditutup, ada bayangan orang di situ yang sedang mandi
sambil bernyanyi melagukan Westlife. Edan, anak SD nyanyinya begitu. Aku
hanya tersenyum saja. Perlahan aku mendekati gawang pintu. Aku seketika
hanya menelan ludahku sendiri. Vivi berdiri membelakangiku masih asyik
bergoyang-goyang sambil menggosok seluruh tubuhnya yang telanjang bulat
itu dengan sabun. Rambut panjangnya tumbuh lurus dan hitam sebatas
pinggang. Berkulit kuning langsat dan nampaknya halus sekali. Kusadari dia
telah tumbuh lebih dewasa.

Air shower masih menyiraminya dengan hangat. Pantatnya sungguh indah
bergerak-gerak penuh gairah. Hanya aku belum lihat buah dadanya. Tanpa
kuduga, Vivi membalikkan badannya. Aku yang melamun, seketika terkejut
bukan main, takut dan khawatir membuatnya kaget lalu marah besar. Ternyata
tidak.
“Mas..? Mas Andrew..?” bertanya Vivi tidak percaya dengan wajah senang
bercampur kaget.
Aku hanya menghela nafas lega. Dapat kuperhatikan kini, buah dadanya Vivi
telah tumbuh cukup besar. Puting-putingnya hitam memerah kelam dan tampak
menonjol indah. Kira-kira buah dadanya ya, sekitar seperti tutup gelas
itu. Seperti belum tumbuh, tetapi kok terlihat sudah memiliki daging
menonjolnya. Sedangkan rambut kemaluannya sama sekali belum tumbuh. Masih
bersih licin.

“Hai vivi, apa kabarnya..?” tanyaku mendekat.
Vivi hanya tersenyum, “Masih ingat ketika kita renang bersama di rumahku
dulu..? Kita berdua kan..? Hmm..?” sambungku meraih bahunya.
Air terus menyirami tubuhnya, dan kini juga tubuhku. Vivi mengangguk
ingat.
“Ya. Ngg.., bagaimana kalau kita mandi bareng lagi Mas. Vivi kangen… mas
andrew.. ouh..!” ujarnya memeluk pinggangku.
Aku mengangkut tubuhnya yang setinggi dadaku ini dengan erat.
“Tentu saja, yuk..!”

Aku menurunkan Vivi.
“Kapan Mas datangnya..?”
“Tadi malam. Vivi lagi tidur ya..?”
“Hm.. Mh..!”
Aku melepas handukku yang kini basah. Saat kulepas handukku, Vivi tampak
kaget melihat rambut kemaluanku yang tumbuh rapih. Segera saja tangannya
menjamah buah kemaluan dan bantang kejantananku.
“Ouh.., Mas sudah punya rambut lebat ya. Vivi belum Mas..,” ujarnya sambil
memperhatikan vaginanya yang kecil.
Tentu saja aku jadi geli, batang kemaluanku diraba-raba dan
ditimang-timang jemari tangan mungil Vivi yang nakal ini.

“Itu karena Vivi masih kecil. Nanti pasti juga memiliki rambut kemaluan.
Hmm..?” ucapku sambil membelai wajahnya yang manis sekali.
Vivi hanya tersipu. Sialnya, aku kini jadi kian geli saat Vivi
menarik-narik batang kejantananku dengan candanya.
“Ihhh.., kenyal sekali… ouh.., seperti belalai ya Mas..!”
Aku jadi terangsang. Gila.
“Belalai ini bisa akan jadi tumbuh besar dan panjang lho. Vivi mau
lihat..?”
“Iya Mas.., gimana tuh..?”
“Vivi mesti mengulum, menghisap-hisap dan menyedotnya dengan kuat sekali
batang zakar ini. Gimana..? Enak kok..!” kataku merayu dengan hati yang
berdebar-debar kencang.
Vivi sejenak berpikir, lalu tanpa menoleh ke arahku lagi, dia memasukkan
ujung batang kejantananku ke dalam mulutnya. Wow..! Gadis kecil ini
langsung melakukan perintahku, lebih-lebih aku mengarahkan juga untuk
mengocok-ngocok batang kemaluanku ini, Vivi menurut saja, dia malah
kegirangan senang sekali. Dianggapnya batang ku adalah barang mainan
baginya.

“Iya Mas. Tambah besar sekali dan panjang..!” serunya kembali
melumat-lumatkan batang kejantananku dan mengocok keras batangnya.
Sekarang Vivi kuajari lagi untuk meremas buah kemaluanku. Aku membayangkan
semua itu bahwa Tante Yus yang melakukan. Indah sekali sensasinya. Tetapi
nyatanya aku tengah dipompa nafsu seksku dari bocah cilik ini. Edan,
sepupuku lagi. Tetapi apa boleh buat. Aku lagi kebelet sekali kini. Yang
ada hanyalah Vivi yang lugu dan bodoh tetapi mengasyikan sekali. Batang
kejantananku kini benar-benar telah tumbuh sempurna keras dan panjangnya.
Vivi kian senang. Aku kian tidak tahan.

“Teruskan Vi, teruskan… ya.., ya… lebih keras dan kenceng…
lakukanlah Sayang..!” perintahku sambil mengerang-erang.
Setelah hampir lima belas menit kemudian, air maniku muncrat tepat di
dalam mulut Vivi yang tengah menghisap batang kemaluanku.
“Creeet… crooot.. creet.. cret..!”
“Hup.. mhhhp..!” teriak kaget Vivi mau melepaskan batang kemaluanku.
Tetapi secepat itu pula dia kutahan untuk tetap memasukkan batang
kemaluanku di dalam mulutnya.
“Telan semua spermanya Vi. Itu namanya sperma. Enak sekali kok, bergizi
tinggi. Telan semuanya, ya.. yaaa… begitu… terus bersihkan
sisa-sisanya dari batangnya Mas..!” perintahku yang dituruti dengan
sedikit enggan.
Tetapi lama kelamaan Vivi tampak keasyikan mencari-cari sisa air maniku.
“Enak sekali Mas. Tapi kental dan baunya, hmm.., seperti air tajin saat
Mama nanak nasi..! Enak pokoknya..! Lagi dong Mas, keluarkan spermanya..!”

Gila. Gila betul. Aku masih mencoba mengatur jalannya nafasku, Vivi minta
spermaku lagi..? Edan anak ini.

“Baik, tapi kini Vivi ikuti perintahku ya..! Nanti tambah asyik, tapi
sakit. Gimana..?”
“Kalau enak dan asyik, mauh. Nggak papa sakit dikit. Tapi spermanya ada
lagi khan..?”
Aku mengangguk. Vivi mulai kubaringkan sambil kubuka kedua belahan pahanya
yang mulus itu untuk melingkari di pinggangku. Vivi memperhatikan saja.
Air dari shower masih mengucuri kami dengan dingin setelah tadi sempat
kuganti ke arah cool.
“Auuuh, aduh.. Mas..!” teriak vivi kaget saat aku memasukkan batang
kejantananku ke dalam liang vaginanya yang jelas-jelas sangat sempit itu.
Tetapi aku tidak perduli lagi. Kukocok vagina Vivi dengan deras dan
kencang sambil kuremas-remas buah dadanya yang kecil, serta menarik-narik
puting-puting buah dadanya dengan gemas sekali. Vivi semakin
menjerit-jerit kesakitan dan tubuhnya semakin menggerinjal-gerinjal hebat.

“Sakiiit.. auuuh Mas.., Mas hentikan saja… sakiiit, perih sekali Mas,
periiihhh… ouuuh akkkh… aouuuhkkk..!” menjerit-jerit mulut manisnya
itu yang segera saja kuredam dengan melumat-lumat mulutnya.

“Blesep.. blesep… slebb..!” suara persetubuhkan kami kian indah dengan
siraman shower di atas kami.
Aku semakin edan dan garang. Gerakan tubuhku semakin kencang dan cepat.
Dapat kurasakan gesekan batang kemaluanku yang berukuran raksasa ini
mengocok liang vaginan Vivi yang super rapat sempitnya. Dari posisi ini,
aku ganti dengan posisi Vivi yang menungging, aku menyodok vaginanya dari
belakang. Lalu ke posisi dia kupangku, sedangkan aku yang bergerak
mengguncangkan tubuhnya naik, lalu kuterima dengan menikam ke atas
menyambut vaginanya yang melelehkan darah.

“Tidak Masss… ouh sakit.. uhhk… huuuk… ouhhh… sakiiit..!”
tangisnya sejadi-jadinya.
Tetapi aku tidak perduli, sepuluh posisi kucobakan pada tubuh bugil mungil
Vivi. Bahkan Vivi nyaris pingsan. Tetapi disaat gadis itu hendak pingsan,
puncak ejakulasiku datang.
“Creeet… crooot.. sreeet… crreeet..!” muncratnya air mani yang
memenuhi liang vaginanya Vivi bercampur dengan darahnya.
Vivi jatuh pingsan. Aku hanya mengatur nafasku saja yang tidak karuan.
Lemas. Vivi pingsan saat aku memasangkan kembali batang kemaluanku ke
posisi dia, kugendong di depan dengan dadanya merapat pada dadaku.
Pelan-pelan kujatuh menggelosor ke bawah dengan batang kemaluanku yang
masih menancap erat di vaginanya.

Itulah pengalamanku dengan Tante Yus dan putrinya Vivi yang keduanya
memang binal itu. Teriring salam untuk Vivi.

Cerita Bersambung 8:58 pm

Sesaat lamanya aku hanya berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah
tetapi berarsitektur gaya Jawa kuno. Hampir separuh bagian rumah di
depanku itu adalah terbuat dari kayu jati tua yang super awet. Di depan
terdapat sebuah pendopo kecil dengan lampu gantung kristalnya yang antik.
Lantai keramik dan halaman yang luas dengan pohon-pohon perindangnya yang
tumbuh subur memayungi seantero lingkungannya. Aku masih ingat, di samping
rumah berlantai dua itu terdapat kolam ikan Nila yang dicampur dengan ikan
Tombro, Greskap, dan Mujair. Sementara ikan Geramah dipisah, begitu juga
ikan Lelenya. Dibelakang sana masih dapat kucium adanya peternakan ayam
kampung dan itik. Tante Yustina memang seorang arsitek kondang dan
kenamaan.

Enam tahun aku tinggal di sini selama sekolah SMU sampai D3-ku, sebelum
akhirnya aku lulus wisuda pada sebuah sekolah pelayaran yang mengantarku
keliling dunia. Kini hampir tujuh tahun aku tidak menginjakkan kakiku di
sini. Sama sekali tidak banyak perubahan pada rumah Tante Yus. Aku
bayangkan pula si Vivi yang dulu masih umur lima tahun saat kutinggalkan,
pasti kini sudah besar, kelas enam SD.

Kulirik jarum jam tanganku, menunjukkan pukul 23:35 tepat. Masih sesaat
tadi kudengar deru lembut taksi yang mengantarku ke desa Kebun Agung,
sleman yang masih asri suasana pedesaannya ini. Suara jangkrik mengiringi
langkah kakiku menuju ke pintu samping. Sejenak aku mencari-cari dimana
dulu Tante Yus meletakkan anak kuncinya. Tanganku segera meraba-raba
ventilasi udara di atas pintu samping tersebut. Dapat. Aku segera membuka
pintu dan menyelinap masuk ke dalam.

Sejenak aku melepas sepatu ket dan kaos kakinya. Hmm, baunya harum juga.
Hanya remang-remang ruangan samping yang ada. Sepi. Aku terus saja
melangkah ke lantai dua, yang merupakan letak kamar-kamar tidur keluarga.
Aku dalam hati terus-menerus mengagumi figur Tante Yus. Walau hidup
menjada, sebagai single parents, toh dia mampu mengurusi rumah besar
karyanya sendiri ini. Lama sekali kupandangi foto Tante Yus dan Vivi yang
di belakangnya aku berdiri dengan lugunya. Aku hanya tersenyum.

Kuperhatikan celah di bawah pintu kamar Vivi sudah gelap. Aku terus
melangkah ke kamar sebelahnya. Kamar tidur Tante Yus yang jelas sekali
lampunya masih menyala terang. Rupanya pintunya tidak terkunci. Kubuka
perlahan dan hati-hati. Aku hanya melongo heran. Kamar ini kosong
melompong. Aku hanya mendesah panjang. Mungkin Tante Yus ada di ruang
kerjanya yang ada di sebelah kamarnya ini. Sebentar aku menaruh tas ransel
parasit dan melepas jaket kulitku. Berikutnya kaos oblong Jogja serta
celana jeans biruku. Kuperhatikan tubuhku yang hitam ini kian berkulit
gelap dan hitam saja. Tetapi untungnya, di tempat kerjaku pada sebuah
kapal pesiar itu terdapat sarana olah raga yang komplit, sehingga aku kian
tumbuh kekar dan sehat.

Tidak perduli dengan kulitku yang legam hitam dengan rambut-rambut bulu
yang tumbuh lebat di sekujur kedua lengan tangan dan kakiku serta dadaku
yang membidang sampai ke bawahnya, mengelilingi pusar dan terus ke bawah
tentunya. Air. Ya aku hanya ingin merasakan siraman air shower dari kamar
mandi Tante Yus yang bisa hangat dan dingin itu.
Aku hendak melepas cawat hitamku saat kudengar sapaan yang sangat kukenal
itu dari belakangku, “Andrew..? Kaukah itu..?”

Aku segera memutar tubuhku. Aku sedikit terkejut melihat penampilan Tante
Yus yang agak berbeda. Dia berdiri termangu hanya mengenakan kemeja lengan
panjang dan longgar warna putih tipis tersebut dengan dua kancing baju
bagian atasnya yang terlepas. Sehingga aku dapat melihat belahan buah
dadanya yang kuakui memang memiliki ukuran sangat besar sekali dan sangat
kencang, serta kenyal. Aku yakin, Tante Yus tidak memakai BH, jelas dari
bayangan dua bulatan hitam yang samar-samar terlihat di ujung kedua buah
dadanya itu. Rambutnya masih lebat dipotong sebatang bahunya. Kulit kuning
langsat dan bersih sekali dengan warna cat kukunya yang merah muda.

“Ngg.., selamat malam Tante Yus… maaf, keponakanmu ini datang dan untuk
berlibur di sini tanpa ngebel dulu. Maaf pula, kalau tujuh tahun lamanya
ini tidak pernah datang kemari. Hanya lewat surat, telpon, kartu pos,
e-mail.., sekali lagi, saya minta maaf Tante. Saya sangat merindukan
Tante..!” ucapku sambil kubiarkan Tante Yus mendekatiku dengan wajah haru
dan senangnya.
“Ouh Andrew… ouh..!” bisik Tante Yus sambil menubrukku dan memelukku
erat-erat sambil membenamkan wajahnya pada dadaku yang membidang kasar
oleh rambut.
Aku sejenak hanya membalas pelukannya dengan kencang pula, sehingga dapat
kurasakan desakan puting-puting dua buah dadanya Tante Yus.

“Kau pikir hanya kamu ya, yang kangen berat sama Tante, hmm..? Tantemu ini
melebihi kangennya kamu padaku. Ngerti nggak..? Gila kamu Andrew..!”
imbuhnya sambil memandangi wajahku sangat dekat sekali dengan kedua
tangannya yang tetap melingkarkan pada leherku, sambil kemudian
memperhatikan kondisi tubuhku yang hanya bercawat ini.
Tante Yustina tersenyum mesra sekali. Aku hanya menghapus air matanya. Ah
Tante Yus…
“Ya, untuk itulah aku minta maaf pada Tante…”
“Tentu saja, kumaafkan..” sahutnya sambil menghela nafasnya tanpa berkedip
tetap memandangiku, “Kamu tambah gagah dan ganteng Andrew. Pasti di kapal,
banyak crew wanita yang bule itu jatuh cinta padamu. Siapa pacarmu,
hmm..?”
“Belum punya Tan. Aku masih nabung untuk membina rumah tangga dengan
seorang, entah siapa nanti. Untuk itu, aku mau minta Tante bikinkan aku
desain rumah…”
“Bayarannya..?” tanya Tante Yus cepat sambil menyambar mulutku dengan
bibir tipis Tante Yus yang merah.

Aku terkejut, tetapi dalam hati senang juga. Bahkan tidak kutolak Tante
Yus untuk memelukku terus menerus seperti ini. Tapi sialnya, batang
kemaluanku mulai merinding geli untuk bangkit berdiri. Padahal di tempat
itu, perut Tante Yus menekanku. Tentu dia dapat merasakan perubahan
kejadiannya.
“Aku… ngg…”
“Ahh, kamu Andrew. Tante sangat kangen padamu, hmm… ouh Andrew…
hmm..!” sahut Tante Yus sambil menerkam mulutku dengan bibirnya.
Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Yus yang kian binal
melumat-lumat mulutku, mendasak-desaknya ke dalam dengan buas. Sementara
jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku,
terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku. Tidak karuan
lagi, aku jadi terangsang. Kini aku berani membalas ciuman buas Tante Yus.
Nampaknya Tante Yus tidak mau mengalah, dia bahkan tambah liar lagi. Kini
mulut Tante Yus merayap turun ke bawah, menyusuri leherku dan dadaku.
Beberapa cupangan yang meninggalkan warna merah menghiasi pada leher dan
dadaku. Kini dengan liar Tante Yus menarik cawatku ke bawah setelah
jongkok persis di depan selangkanganku yang sedikit terbuka itu. Tentu
saja, batang kemaluanku yang sebenarnya telah meregang berdiri tegak itu
langsung memukul wajahnya yang cantik jelita.

“Ouh, gila benar. Tititmu sangat besar dan kekar, An. Ouh… hmmm..!” seru
bergairah Tante Yus sambil memasukkan batang kejantananku ke dalam
mulutnya, dan mulailah dia mengulum-ngulum, yang seringkali dibarengi
dengan mennyedot kuat dan ganas.
Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang
jemari tangan kirinya meremas-remas buah kemaluanku. Aku hanya
mengerang-ngerang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya. Bagaimana
tidak, batang kemaluanku secara diam-diam di tempat kerjaku sana, kulatih
sedemikian rupa, sehingga menjadi tumbuh besar dan panjang. Terakhir
kuukur, batang kejantanan ini memiliki panjang 25 sentimeter dengan garis
lingkarnya yang hampir 20 senti. Rambut kemaluan sengaja kurapikan.

Tante Yus terus menerus masih aktif mengocok-ngocok batang kemaluanku.
Remasan pada buah kemaluanku membuatku merintih-rintih kesakitan, tetapi
nikmat sekali. Bahkan dengan gilanya Tante Yus kadangkala memukul-mukulkan
batang kemaluanku ini ke seluruh permukaan wajahnya. Aku sendiri langsung
tidak mampu menahan lebih lama puncak gairahku. Dengan memegangi kepala
Tante Yus, aku menikam-nikamkan batang kejantananku pada mulut Tante Yus.
Tidak karuan lagi, Tante Yus jadi tersendak-sendak ingin muntah atau
batuk. Air matanya malah telah menetes, karena batang kejantananku mampu
mengocok sampai ke tenggorokannya.

Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot kemejanya. Aku sangat terkejut
saat melihat ukuran buah dadanya. Luar biasa besarnya. Keringat
benar-benar telah membasahi kedua tubuh kami yang sudah tidak berpakaian
lagi ini. Dengan ganas, kedua tangan Tante Yus kini mengocok-ngocok batang
kemaluanku dengan genggamannya yang sangat erat sekali. Tetapi karena
sudah ada lumuran air ludah Tante Yus, kini jadi licin dan mempercepat
proses ejakulasiku.
“Crooot… cret.. croot… creeet..!” menyemprot air maniku pada mulut
Tante Yus.
Saat spremaku muncrat, Tante Yus dengan lahap memasukkan batang kemaluanku
kembali ke dalam mulutnya sambil mengurut-ngurutnya, sehingga sisa-sisa
air maniku keluar semua dan ditelan habis oleh Tante Yus.

“Ouhh… ouh.. auh Tante… ouh..!” gumamku merasakan gairahku yang indah
ini dikerjai oleh Tante Yus.
“Hmmm… Andrew… ouh, banyak sekali air maninya. Hmmm.., lezaat sekali.
Lezat. Ouh… hmmm..!” bisik Tante Yus menjilati seluruh bagian batang
kemaluanku dan sisa-sisa air maninya.
Sejenak aku hanya mengolah nafasku, sementara Tante Yus masih
mengocok-ngocok dan menjilatinya.
“Ayo, Andrew… kemarilah Sayang.., kemarilah Baby..!” pintanya sambil
berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.

Aku tanpa membuang waktu lagi, terus menyerudukkan mulutku pada celah
vagina Tante Yus yang merekah ingin kuterkam itu. Benar-benat lezat.
Vagina Tante Yus mulai kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan lidahku
menjilat-jilat deras seluruh bagiang liang vaginanya yang dalam. Berulang
kali aku temukan kelentitnya lewat lidahku yang kasar. Rambut kemaluan
Tante Yus memang lebat dan rindang. Cupangan merah pun kucap pada seluruh
bagian daging vagina Tante Yus yang menggairahkan ini. Tante Yus hanya
menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik
tadi, Tante Yus terus-menerus melakukan remasan pada buah dadanya sendiri
sambil sesekali memelintir puting-putingnya. Berulang kali mulutnya
mendesah-desah dan menjerit kecil saat mulutku menciumi mulut vaginanya
dan menerik-narik daging kelentitnya.

“Ouh Andrew… lakukan sesukamu.. ouh.., lakukan, please..!” pintanya
mengerang-erang deras.
Selang sepuluh menit kemuadian, aku kini merayap lembut menuju perutnya,
dan terus merapat di seluruh bagian buah dadanya. Dengan ganas aku
menyedot-nyedot puting payudaranya. Tetapi air susunya sama sekali tidak
keluar, hanya puting-puting itu yang kini mengeras dan memanjang
membengkak total. Di buah dadanya ini pula aku melukiskan cupanganku
banyak sekali. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting
susu Tante Yus secara bergantian, kiri kanan. Aku kini tidak tahan lagi
untuk menyetubuhi Tanteku. Dengan bergegas, aku membimbing masuk batang
kemaluanku pada liang vaginanya.

“Ooouhkk.. yeaaah… ayoo.. ayooo… genjot Andrew..!” teriak Tante Yus
saat merasakan batang kejantananku mulai menikam-nikam liar mulut
vaginanya.
Sambil menopang tubuhku yang berpegangan pada buah dadanya, aku semakin
meningkatkan irama keluar masuk batang kemaluanku pada vagina Tante Yus.
Wanita itu hanya berpegangan pada kedua tanganku yang sambil meremas-remas
kedua buah dadanya.
“Blesep… sleeep… blesep..!” suara senggama yang sangat indah
mengiringi dengan alunan lembut.
Selang dua puluh menit puncak klimaks itu kucapai dengan sempurna,
“Creeet… croot… creeet..!”
“Ouuuhhhkk.. aooouhkk… aaahhk..,” seru Tante Yus menggelepar-gelepar
lunglai.
“Tante… ouhhh..!” gumamku merasakan keletihanku yang sangat terasa di
seluruh bagian tubuhku.
Dengan batang kemaluan yang masih tetap menancap erat pada vagiana Tante
Yus, kami jatuh tertidur. Tante Yus berada di atasku.

Cerita Bersambung 8:49 pm

wow
MEDAN - SUMUT

Di Medan, ‘Onces’ Mengincar ‘Tubang’

BRONCES atau onces itu panggilan khusus untuk pelacur ABG di Medan. Di
kalangan onces pun memberikan istilah tersendiri pula untuk mangsanya.
Tubang (tua bangka) tapi tebal kocek.

Tubang yang istilah umumnya adalah “om senang” incaran para onces, di
plaza atau lantai disko. Biasanya tempat yang disenangi remaja Medan
adalah Ari King-King di Hotel Dano Toba, atau House Musik di Jl Perdana
Medan, dan masih ada beberapa tempat lainnya.

Dentuman musik yang menggema di Ari King-King Discotiq, membawa suasana
malam yang semakin dingin itu menjadi hangat. Tiga ABG di salah satu sudut
lantai disko asyik terus bergoyang, matanya terus melahap semua pengunjung
yang datang. Mereka bergaya meliuk-lukkan tubuhnya agar menjadi perhatian
tamu yang baru datang.

Masuk Ari King-King memang harus waspada bagi yang belum biasa, sebab
bisa-bisa terjebak dalam kelompok khusus pengguna ekstasi atau shabu. Yang
pasti penggemar dua jenis narkoba itu setiap masuk tempat hiburan pasti
membawa serta barang tersebut.

Pengunjung yang ingin onces biasanya menghidupkan korek api, pelayan pun
datang. Pesan minuman, sekaligus onces. Para onces yang sejak tadi terus
mengamati arah hidupnya api geretan, memberi kode pada sang pelayan. Lewat
gerak bahasa kepala, meski dalam situasi remang-remang itu si onces
mengerti yang mana yang dikehendaki. Malam itu, tiga onces sepertinya
sudah terlalu lama bergoyang namun belum ada tawaran. Mata mereka semakin
liar. Sebab malam sudah semakin larut.

Begitu menerima kode dari sang pelayan, mereka serentak memandang.
Ternyata yang tinggi semampai berjins ketat warna cokelat tua, dengan blus
ngepas putih, rambutnya tergerai sebatas pinggang, ada giwang kecil di
telinganya, yang dapat tawaran.

Ita, 17, nama onces yang cakep itu. Diajak ngobrol dia langsung akrab, dan
bercerita apa adanya. Ita tak segan mengemukakan asal mulanya dia terjun
ke dunia yang digelutinya.

Tujuan pertama karena Ita ingin senang dan ingin menikmati semuanya. Kalau
tidak, cuma bisa lihat di televisi. ‘’Ita kan kepingin mewah, beli pakaian
mahal. Ngarepin dari bokap, wah nggak bakalan, ah…. Tapi sampai sekarang
juga mereka nggak tahu kok,'’ katanya.

Ita yang mengaku masih duduk di kelas III salah satu SMU Swasta di Medan
mengaku, pertama kali di-booking seorang tubang. Selama tiga hari, Ita
dibayar Rp 1 juta. Seperti disambar geledek rasanya Ita menerima uang
sebanyak itu. Sementara selama ini untuk sekolah saja pun terus sulit
biaya.

Ayahnya juga pegawai di sebuah bar kecil kawasan Nibung Raya, Medan,
seperti kurang perhatian pada keluarga. Ita saat itu kelas II SMU, tiga
lagi adiknya menunggu. Ibunya sering sakit-sakitan. Dia pernah bertanya
kepada temannya yang hidupnya kelihatan mewah. Ternyata melakukan cara
itu.

‘’Kegadisanku dibayar Rp 1 juta. Tapi aku rela. Semuanya demi hidup.
Diam-diam aku bayar semua keperluan sekolah adik-adikku. Untuk menutupi
pekerjaan di mata orang tua, aku mencoba mengambil pakaian jadi, dan
menjualnya secara cicil, kepada tetangga dan teman-teman. Aku libatkan dua
adikku untuk mengutip cicilannya. Tak ada orang yang mencurigaiku. Sambil
menjajakan pakain, aku juga bersedia jika diajak ‘ngamar’. Sering itu
terjadi,” katanya.

Ada om membeli satu kemeja, dan sepasang kaus kaki seharga Rp 500.000,-
berikut dirinya. Atau terkadang Rp 200.000,- pun jadi. Bahkan di bawah
tarif itu juga pernah. Yang penting saku dapat uang dan senang. Jalan ke
mana saja, makan enak, tidur di temat yang luks dia jalani. “Kalau tidak
pulang alasanku, keluar kota.”

Tapi belakangan ini Ita mulai bosan dengan cara itu. Ia ingin naik kelas,
dan mulai masuk diksotek satu berganti ke diskotek lainnya di kawasan Kota
Medan. Dagangannya pun mulai dipegang adiknya.

Kalau di diskotek sebenarnya uang tidak terlalu banyak, kalau sabar memang
ada. “Tapi aku senang bisa dapat ekstasi gratis, yang penting kita mau
gabung, untuk on. Kalau sudah on kita bisa lupa yang lain, jadi duitnya
apes. Aku sih… selalu ingat, bahwa aku berbuat semua ini untuk uang.
Jadi untuk on, aku ikut kalau kepingin,” katanya.

Ita malam itu kebetulan masih menunggu temannya yang biasa memberinya
ekstasi. Sambil mengisap rokok putihnya dalam-dalam, lalu mengepulkan
asapnya ke udara. Dia bercerita tentang awal perjalanannya sampai ke dunia
bonces, yang tidak diketahui sampai kapan bisa ditinggalkannya. Ketika itu
Ita masih di kelas II dan sangat perlu uang. Tidak tahu ke mana lagi mau
diminta. Seorang teman menyuruh Ita menemui Tante May di kawasan Jl
Mandala By Pass, Medan.

Ita datang dan langsung minta kerja, May paham akan perminaan Ita. May
minta Ita berjanji tidak bakal ada tuntutan di belakang hari. May membawa
Ita ke Deli Plaza, kenalan dengan seorang tubang. Awalnya Ita ngeri
melihat orangnya, ternyata dia baik hati.

Ita selalu memberi advis baik kepada calon pembeli, seperti lebih dulu
menghidupkan korek api bila calonnya ingin merokok. Merapatkan duduk
dengan menempelkan payudara di lengan si pria. Sesekali Ita mencium leher
tepat di bawah telinga teman duduknya, atau meletakkan lengannya di paha.
Tapi ada juga pria yang cukup dengan kerdipan mata, dan tatapan manja. Ita
juga mengaku, tak semua pira gampang digoda. Satu kali Ita pernah kena
batunya, letih menggoda, pria itu tetap tegar.

“Orangnya ganteng, perlente, dan tebal kocek. Tak satu pun onces yang
berusaha merayunya berhasil, semua gagal. Akhirnya kalau pria itu ke Ari
King-King kita hanya memandang dari jauh. Tapi pria itu juga mau
memberikan kita uang, karena sudah menemaninya. Lumayan juga, untuk ongkos
taksi,” katanya

Ita mengaku, tujuannya memang uang dan kemewahan, tapi tetap ingin
sekolah. Minimal tamat SMU, buat bekal, suatu ketika sudah tak berada di
dunia onces lagi.

Ita sudah pernah aborsi. Tapi hamilnya baru satu bulan, biayanya waktu itu
Rp 1,5 juta. Istirahat dua minggu, lalu bekerja lagi. Tapi Ita tetap
sekolah, hanya tiga hari permisi, alasan sakit. Kepada orang tuanya, Ita
beralasan mens datangnya tersendat, jadi terlalu sakit. Ibunya malah
membuatkan jamu agar haidnya lancar.

“Itu adalah pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Untuk menjaga agar
tidak hamil saya lakukan dengan suntikan. Sampai sekarang masih aman,”
katanya.

Perasaan Takut Memang Selalu Ada

CICI, 15 tahun, seorang pelajar SLTP swasta kelas III yang kost di kawasan
Jl Gatot Subroto, Medan, awalnya terjun ke dunia pelacuran karena
kehabisan uang, sementara kiriman dari orang tuanya di Tanah Karo sudah
habis untuk berfoya-foya.

Untuk menghilangkan suntuk, suatu hari Cici nongkrong di Olympia Plaza,
Medan. Tak sadar ada seseorang berdiri di sisi Cici ketika ia sedang asyik
melihat-lihat satu blus bagus dan mahal. ‘’Cantik ya… mau?'’ kata orang
itu, Cici senyum. Pria itu menyuruh Cici mengambilnya, sambil membujuk.
Cici pun mengambil pakaian itu. Lalu berkenalan dan mereka makan.

Setelah itu Cici di bawa ke kota dingin, Brastagi. Satu malam Cici bersama
pria perlente dan ganteng itu. Setelah malam pertama Cici menangis karena
takut hamil dan rasa sakit ketika pipis. Dia membujuk sambil memberi Cici
uang, untuk membeli obat antihamil dan krem olesan supaya tidak perih.
Jumlahnya, lumayan Rp 300.000. Kesulitan Cici pun teratasi.

Perasaan takut memang selalu ada, tapi karena ‘lukanya’ sudah sembuh, Cici
jadi ketagihan. Terus sering mangkal di plaza itu, berganti-ganti pasangan
siapa saja yang mengajak. Sejak itu Cici tidak peduli lagi, kapan pun
kiriman orang tuanya datang.

Kalau tidak di plaza, Cici mangkal di Copa Cobana. Di tempat itu Cici
tidak perlu jauh-jauh kalau ada yang minta, sebab sudah tersedia kamar
berikut segala makanan yang ingin dipesan. Dengan musiknya juga enak di
tempat itu.

Di Copa, memang onces-nya hampir seluruhnya sebaya Cici. Di tempat ini tak
semua bisa diajak ngamar. Ada yang hanya untuk peci-peci saja. Artinya
sebatas peluk cium. Umumnya tamu yang datang ke Copa Tubang yang sudah
pantas dipanggil eyang oleh onces. Banyak yang berbadan gemuk, minta
diladeni semuanya. Kata Tia, teman Cici yang spesialis peci.

Tia memang perlu penampilan dan gaya, meskipun orang tuanya tergolong
menengah. Tapi karena Tia ingin yang lebih, lalu mencari jalan sendiri.
Tia mengaku sudah tiga bulan di Copa, dan bisa mejeng, dan bisa beli apa
saja. Kalau omnya baik, uang tipnya lumayan, Rp 50.000 sampai Rp 100.000.
Kalau ada yang mengajak, Tia selalu berterus terang, masih ingin sekolah,
dan selalu mengingatkan si om akan anaknya yang sebaya dengannya. Karena
Tia ingin cari biaya seolah. Biasanya om itu kasihan melihat Tia.

Tia penampilannya selalu dengan rok mini, dengan pakaian dalam di lapisan
celana short ketat yang sulit dibuka. Dan tidak bisa di-obok-obok. Tapi
untuk pinggang ke atas, memang Tia mempersilakannya. Tia merasa senang,
pulang sekolah ke Copa, banyak teman. Orang tua mengiranya tetap les
bahasa Inggris. “Memang saya tetap hapal, bila ditanya ayah, tetap bisa
menjawab,” katanya.

Jadwal les yang lima kali seminggu, paling satu atau dua kali diikuti.
Kadang dalam seminggu sama sekali tidak masuk, tergantung selera. Tapi ke
Copa, Tia jarang berseragam sekolah karena pernah dilarang, dulu temannya
pernah kena razia dengan seragam itu.

Cici dan Tia memang berteman setelah kenal di Copa. Cici kost bersama 12
orang di satu rumah. Ibu kostnya tidak pernah curiga karena sebelumnya
Cici memang sering ke luar rumah untuk les, atau kerja kelompok. Karena
teman kelompoknya juga sering ke tempat Cici dan ada yang bermalam. Tapi
teman-temannya ada yang mulai usil melihat penampilan Cici yang
terus-menerus ganti baju mahal. Untuk menyumbat mulut rekannya, Cici tak
segan meminjamkan baju, sepatu, tas atau sandal, bagi teman kostnya yang
ingin gaya. Ada juga yang tahu kalau Cici anak orang kaya di kampungnya.

Pengalaman Yuni, 16 kelas II SMU swasta dan kelompoknya yang berlima lain
lagi. Mereka mangkal di kafe tenda depan Stadion Teladan Medan. dari
tempat itu mereka biasa dijemput mobil. Dan kalau Yuni dan rekan belum
tiba, pemilik kafe yang masih bujangan itu selalu memberi penjelasan
kepada si penjemput. Ataupun meneelpon Yuni lewat telepon umum. Yuni dan
rekan tampil masih dalam seragam sekolah.

Mereka biasa ganti pakaian di toko atau plaza, setlah dibelikan si om,
atau ada juga pria-pria muda. Tapi mereka lebih senang dengan om karena
duitnya diobral, “kita bebas mau makan apa saja,” katanya.

Yuni selalu mengenakan tas besar, baju dan sepatu masuk di dalamnya.
Sebelum pukul 19.00, Yuni sudah harus pulang. Karena jam itu adalah
waktunya pulang les. Yuni selalu berganti baju di mobil. Dan menyimpan
pakaian barunya ke dalam tasnya. Bila orang tua bertanya, asal baju
tersebut Yuni menjawab ringan, ‘’Beli di Monza, hanya Rp 5.000 pakai uang
jajan.”

Di Medan memang dikenal, Monza (Mongonsidi Plaza), tempat berdagang
pakaian bekas impor. Di sini banyak pakaian berkualitas tinggi kalau rajin
memilih harganya murah, karena bekas. Yuni selalu membuat pakaian baru itu
lecek, (kumal) dan menyimpan mereknya. Bila sudah dicuci dua atau tiga
kali, dipasang kembali. Tak da yang tahu, kalau yang tahu kalau Yuni sudah
punya gaun mahal.

Uang bagi Yuni nomor dua, yang penting punya barang-barang mahal, minimal
buat koleksi.

Sementara Rose, 19, mahasiswi salah satu PTS di Medan lain lagi ceritanya,
keluarganya cukup terpandang dalam bidang ekonomi, tapi Rose suka pesta
seks dengan sabu-sabunya. Sekarang Rose lagi istirahat karena sakit. Ia
mengaku kena sakit kelamin dan kecanduan narkoba. Rose dengan kelompoknya
sering ke Fire Diskotek Thamrin Plaza, kalau mau, mereka cari hotel mewah.
Sampai delapan orang satu kamar. Setelah masing-masing puas, mereka pulang
esok paginya.

Uang, mobil, pakaian, bagi Rose tidak masalah, tapi Rose ingin bebas,
mencari kenikmatan tanpa ikatan. Hampir semua hotel berbintang, sudah
dijelajahi Rose dan kelompoknya delapan orang. Mobil mereka dari mulai
Daihatsu Rocky, sampai Suzuki Vitara, dan Mercy.

Tapi mereka gandrung ekstasi. Yang dicari Rose gadis berkulit kuning
langsat dengan rambut dicat pirang sebatas pinggang itu, semata hanya
kepuasan dan kebebasan.

Tempat mangkalnya di mana saja yang mereka senangi, sering juga di kafe
tenda, sebab semua mereka menggunakan HP dan pager, mudah dihubungi.
Mereka kelompok kelas tinggi.

Kalau Rose naksir cowok teman sekampusnya, kelompok ini berupaya
menjebaknya agar ikut bersama mereka. Biasanya Rose dibantu rekan-rekannya
dan sering kali berhasil. Biasanya kalau ingin tukar pasangan selalu
sama-sama. Bagi pasangan baru, tidak akan bisa lepas sebelum mereka
betul-betul puas.

TAMAT

Cerita Bersambung 8:48 pm

wow
PADANG SUMATRA

“SIAPA bilang di Padang tidak ada pelacur ABG. Gampang kok mendapatkannya
di Minang Plaza,” kata seorang ABG ketika diajak kencan seorang pengusaha
muda. Ia Menceritakan, setiap kali ingin berkencan dengan gadis ABG, dia
selalu mencarinya ke tempat itu. Karena di situlah tempat mereka pasang
aksi.

Ketika menceritakan pengalaman kencannya dengan anak muda berkantong tebal
yang digaetnya di sebuah wartel kompleks pusat perbelanjaan di kawasan Air
Tawar, Fivi, 16 tahun, mengaku ditraktir makan lalu diajak puter-puter
memilih celana jins. “Karena dia baik saya nggak nolak waktu diajak bobok
bareng di penginapan dekat Pantai Bungus,” katanya sambil cekikikan.

Kalau tahu caranya, tidak terlalu sulit memang. Karena pusat perbelanjaan
megah di jantung Kota Padang itu terletak dekat dengan rumah indekos para
pelajar SMU maupun mahasiswi sejumlah kampus perguruan tinggi negeri dan
swasta.

Sehingga sangat strategis dijadikan tempat berkumpulnya para ABG yang
ingin cuci mata sekaligus bursa bagi yang mau cara mangsa. Apalagi di
lantai atas gedung tersebut ada Music Room MP yang selalu ramai dikunjungi
para ABG maupun para lelaki hidung belang.

Di lantai bawah ada sebuah wartel dan kafe yang selalu dipenuhi ABG.
Dengan sedikit kerdipan mata para ABG yang rata-rata berwajah lumayan
(maklum mereka mengaku pelajar dan mahasiswa) itu akan tersenyum. Lalu
boleh pilih.

Selain Fivi, banyak ABG lain yang mengaku menjalani profesi penjaja seks
karena terpaksa untuk menutupi biaya sekolah atau biaya kuliah. Namun tak
sedikit pula yang menggeluti dunia esek-esek itu akibat terjerat
obat-obatan terlarang.

Shanti, 16 tahun, mengaku terjerat narkotik ketika masih bersekolah di SMU
di Pekanbaru. Ketika dipindahkan ke sebuah sekolah swasta di Padang, orang
tuanya yang bekerja di perusahan minyak berharap Shanti bisa menjadi anak
baik dan menjauhi narkotik serta obat terlarang.

Namun celakanya, di sekolah swasta dekat kawasan Air Tawar itu dia malah
berteman dengan anak-anak pecandu sabu-sabu. Di rumah indekosnya seputaran
Ulak Karang, mereka sering pesta narkoba.

Bila malam Minggu, waktunya lebih banyak dihabiskan di music room terkenal
dekat daerah Pelabuhan Teluk Bayur. Di tempat ini pengunjungnya ramai, dan
tak pernah dijamah razia, kata Shanti. Kalau mau triping atau teler tak
ada yang peduli.

“Biasanya pria yang saya suka, tidak menolak kalau diajak on. Bila sudah
triping badan ini enteng. Sehingga kalau dia yang ngajak tidur sesudah
itu, saya tidak menolak, asal dia mau memberi sedikit uang jajan,” tutur
Shanti.

Dia mengaku pernah diberi amplop berisi sepuluh lembar Rp 50 ribuan oleh
seorang pengusaha mobil.

Kisah Rina, 17 tahun, lain lagi. Gadis baru gede berwajah imut-imut ini
mengaku terperangkap perbuatan maksiat karena diajari pacarnya, Dody,
mahasiswa sebuah PTS di kawasan Khatib Sulaiman, Padang. Bencana itu
berawal ketika dia dipacari Dody yang ternyata pecandu sabu-sabu.

“Mulanya Dody menyuruh saya mencoba sedikit. Semula saya tolak. Tapi
karena terus dirayunya. Saya coba juga, ee, lama-lama saya jadi ketagihan.
Akhirnya tiada hari kami lalui tanpa barang itu yang kemudian selalu
berlanjut dengan hubungan badan,” tutur Rina.

Sewaktu hubungan Rina retak dengan Dody, akibat sang kekasih mendapatkan
‘mainan’ baru, Rina sangat terpukul. Bukan karena ditinggal Dody, tapi
karena kesulitan mendapatkan ‘barang’ yang selama ini disediakan sang
pacar.

Karena ketagihan sabu-sabu semakin menjadi-jadi, sementara uang tidak
punya, tak ada jalan lain saya terpaksa menjual diri. “Keputusan pahit ini
terpaksa saya ambil. Karena kalau sedang sakaw obatnya cuma itu. Bila
tidak dapat saya bisa gila,” ujar Rina.

Dengan wajah cantik, kulit kuning langsat dan rambut sebahu, tak terlalu
sulit bagi Rina mencari mangsa yang berduit. Dalam melakukan negosiasi
biasanya Rina hanya mau diajak kencan ke hotel-hotel berbintang. Sebab
kencan di hotel melati mengandung risiko bisa ditangkap tim razia Satpol
Pamong Praja Padang.

“Dalam seminggu saya bisa mendapat uang antara Rp 300 ribu sampai Rp 600
ribu. Jadi cukuplah untuk kebutuhan membeli shabu atau putaw seharga Rp
200.000 per minggu,” ujarnya.

Karena mengaku kepalang basah, Rina kemudian melengkapi diri dengan
handphone. Padahal sebelumnya dia cuma beroperasi menggaet mangsa dengan
nampang pada sebuah wartel di Jl Pondok.

Kalau lagi apes, tak jarang dia juga aktif mengontak relasinya lewat
wartel. Jika harga cocok Rina tinggal menunggu untuk disamperin di pintu
wartel.

Miranda, 17 tahun, lain lagi kisahnya. Pelajar sekolah menengah di
bilangan Jl Sudirman itu, tidak terlalu sulit dijumpai sepulang jam
sekolah.

Ketika diajak ke sebuah kafe dekat Pantai Padang, gadis manis yang suka
dipanggil Mira ini mau berkisah dengan syarat identitas aslinya
dirahasiakan.

Dengan lepas Mira mengaku ternyata mencari uang itu tidak susah. Sebagai
pelajar merangkap penjaja seks untuk kelas terhormat (maksudnya kelas
menangah) dia bisa memenuhi segala kebutuhannya tanpa harus menunggu
kiriman dari orang tuanya yang menjadi toke getah di Jambi.

Dengan penampilan biasa-biasa saja, sepintas Mira tak berbeda dengan
temannya yang lain. Kalau kencan sehabis jam sekolah, dia selalu minta
diantarkan ke sebuah tempat sebelum pukul 18.00 agar tidak dicurigai ibu
kosnya.

Bila malam Minggu, dia agak bebas keluar. Kesempatan ini selalu
dimanfaatkannya untuk kencan menjelang tengah malam. Dia mengaku tidak
menentukan tarif, karena tujuannya untuk bersenang-senang. “Kalau habis
tidur dikasih Rp 100 ribu atau Rp 250 ribu saya terima saja. Asal yang
mengajak pria berpenampilan perlente,” katanya.

Sumatra Barat yang dikenal sebagai daerah yang memiliki adat dan agama
kuat, suasana kehidupan kaum remaja di Kota Padang ternyata tak lepas dari
pengaruh kehidupan kota besar, seperti Medan dan Jakarta. Meski kalangan
orang tua dan pendidik cenderung menutup-nutupinya, bisa dipastikan
puluhan remaja ABG di Padang sudah jadi penganut seks bebas.

PEKANBARU SUMATRA

Mendongkrak Tarif dengan ‘Handphone’

GELAK tawa Sari berderai sembari menempelkan telepon genggamnya di kuping
sebelah kanan. Gadis ABG berusia 17 tahun dan memiliki body tinggi
langsing itu terus berkomunikasi dengan sekali-sekali matanya menggoda
pria yang melewatinya di lantai V Senapelan Plaza, Pekanbaru.

Sari yang tidak tamat SMU itu mengaku ketagihan dengan pil gila ‘inex’.
Karena itu tidak jarang dia mau saja diajak ke mana saja jika ada yang mau
memberikan sebutir. ‘’Harganya mahal, saya nggak tahan jika sehari saja
nggak nekan (triping-red),'’ kata remaja berlesung pipit itu sambil terus
memencet sejumlah angka di handphone-nya.

Menurut Sari, dirinya terjerembab di dunia sesat itu baru satu tahun.
Akibat pergaulan bebas, sekolahnya pun menjadi korban. Semula dia termasuk
anak yang pendiam, baik itu di rumah maupun di sekolah. Tapi setelah mulai
mengenal cinta dengan seorang mahasiswa, dia sering diajak ke diskotek.
Mulailah dirinya mengenal apa itu house music serta pil setan.

Malang baginya, karena ketagihan pil inex, tubuhnya mau saja diobok-obok
oleh sang pacar. ‘’Saat itu semuanya telah saya serahkan kepada dia. Tapi
setelah dia puas malah dia menggandeng cewek lain di depan mata saya
sendiri,'’ sungut ABG yang mengaku pernah berjilbab saat masih sekolah.

Entah pelarian atau ketagihan namanya, Sari bertambah larut dengan
berbagai jenis obat yang diakuinya bisa menghilangkan semua masalahnya.
Sementara untuk terus melanjutkan sekolah dirinya merasa tidak mood lagi.
‘’Tapi di sini yang mangkal di plaza banyak juga anak sekolah, malah ada
yang masih SMP,'’ ujar Sari.

Dengan wajah tertunduk Sari mengakui jika ditanya soal tarif bisa mencapai
Rp 250 ribu hingga 300 ribu. ‘’Lumayanlah bisa untuk bayar rekening
handphone dan beli inex,'’ ujar cewek hitam manis yang mengaku tinggal di
kawasan Pintu Angin, Jalan Sultan Syarif Qasyim.

Malah gadis yang pernah bercita-cita menjadi peragawati ini mengakui
dengan menggenggam handphone bisa menaikkan tarif karena terasa lebih
percaya diri dan terkesan kelas tinggi dalam menggaet pria berduit.

Diakuinya, tarif itu tidak mutlak. Ada juga pria yang disukainya, tanpa
tarif dia langsung ke hotel. ‘’Saya punya pacar lagi Mas, dia sering
membagi pil. Untuk satu pil saja saya mau diajak ke mana saja,'’ katanya.
Hebatnya, pacar Sari tidak pernah cemburu, di saat Sari di-booking salah
seorang pria. Bahkan Andi, pacar Sari, siap mencarikan mangsa untuk Sari.

‘’Saya kurang suka dengan anak sekolah, karena banyak yang kere. Saya suka
laki-laki yang agak mapan. Itu bisa terlihat dari penampilannya. Apalagi
di kota ini banyak pengusaha yang berhasil,'’ ujar Sari yang baru setahun
mengenali dunia semipelacuran ini.

Tarif ABG yang lebih dikenal dengan istilah ‘lontong’ di Pekanbaru memang
tergolong mahal. Untuk mendapatkan ‘daun muda’ itu bisa merogoh kocek
minimal Rp 500 ribu. Tapi jika sudah berlangganan, terkadang bisa saja
dengan sebutir inex dapat pelayanan gratis di penginapan.

Bisnis esek-esek para ABG ini sangat kentara di pusat pertokoan, seperti
Matahari Plaza dan Senapelan Plaza. Apalagi Diskotek Orion, Senapelan
Plaza di Jalan Teuku Umar buka siang pada Sabtu, dan Minggu.

Fenomena keberadaan ABG di pusat pertokoan sudah menjadi rahasia umum.
Seperti di pusat pertokoan Matahari Plaza, Jl Pepaya, dengan berpakaian
sedikit mencolok dan bergerombol mereka ‘mejeng’ seperti sedang menunggu
seseorang.

Pada umumnya alasan mereka lebih menyukai plaza sebagai tempat mangkal
antara lain dengan gampang ngajak shopping bila ada bos-bos yang ingin
mem-booking.

Pada Sabtu dan Minggu mereka bergerombol mejeng di setiap lantai di
Matahari Plaza. Dari cara berpakaian jelas kentara, antara lain T-shirt
serta celana jins ketat hingga menampakkan perut dan sepatu berhak tinggi
sambil menggenggam handphone.

Hari Sabtu, pemandangan di lantai V di Senapelan lebih hidup, karena ABG
berkeliaran menunggu tawaran untuk naik ke atas (diskotek).

‘’Pada umumnya para ABG yang berkeliaran menunggu tawaran masuk ke
diskotek adalah ABG kurang mampu. Mereka mau saja diraba-raba, asal ada
yang mengajak naik ke atas,'’ ujar Yudhi, salah seorang makelar ABG di
lokasi tersebut. Tapi ABG yang nongkrong di plaza-plaza biasanya sudah
memiliki langganan tetap.

ABG itu, lanjut Yudhi, sesampai di dalam diskotek akan melepaskan diri
dari pembawanya. “Biasanya, para ABG seperti itu, lebih suka nongkrong di
diskotek daripada diajak keluar. Jika ingin mengajak keluar, tunggu hingga
dia ‘on’,'’ bisik pria yang mengaku hidup dari kelincahan menawarkan ABG.

Yudhi juga mengatakan bahwa tidak semua ABG yang mangkal mengintai mangsa
dengan lagak sedikit mencuri perhatian. Ada juga sambil bermain video
game.

Mereka dengan tertawa lepas bermain seperti anak-anak lainnya. ‘’Tapi itu
sudah pasti ABG yang memiliki langganan, jadi nggak perlu lagi mencari,'’
kata Yudhi.

Irna, salah seorang ABG yang masih duduk di bangku kelas II salah satu SMU
swasta di Pekanbaru. Dia paling suka berjingkrak-jingkrak di tengah
ingar-bingar musik diskotek. Karena itu setiap Sabtu, sepulang sekolah,
Irna dan teman-temannya yang membawa pakaian ganti di tasnya langsung
menuju Orion House Music di Senapelan Plaza.

Mereka tak mau disamakan dengan para ‘lontong’ yang siap melayani di
penginapan ataupun hotel. Tetapi jika mereka mendapatkan pasangan yang
membuat ’syur’ di lantai diskotek, mereka rela diraba-raba, tapi dengan
imbalan cukup setengah butir inex.

‘’Jangan samakan kami dengan lontong-lontong itu, kami tetap menjaga yang
satu itu. Kalau hamil, bisa berabe hidup saya,'’ cetus Irna, sambil
menggoyang-goyang kepalanya.

Berbeda dengan Irna, rekannya Yuyun, 17, malah dengan menantang dirinya
pernah di-booking laki-laki. Dengan alasan belajar bersama di rumah teman,
Yuyun ternyata belajar di arena diskotek sambil ‘triping’. ‘’Tapi yang
mem-booking harus melalui seleksi, saya nggak mau yang gaek (tua).
Pokoknya senang sama senang, saya nggak mikiran soal tarif, yang penting
ada inex, gampanglah itu,'’ ujar Yuyun.

Yuyun berterus terang bahwa dirinya kecandungan obat terlarang melalui
salah seorang temannya. Sedangkan keperawanannya memang sudah amblas saat
duduk di bangku kelas III SMP. Karena itu dia tidak lagi berpikir panjang
untuk terjun ke bisnis esek-esek. ‘’Tapi saya bukan mencari uang, yang
penting happy,'’ tutur ABG yang mengaku asli Riau.

BANDUNG JAWA BARAT

‘Kang, Bagaimana kalau Kita ke Atas’

MASIH mengenakan pakaian seragam sekolah putih abu-abu, Lusi berdiri di
dekat lampu pengatur lalu lintas di Jl Asia Afrika, Bandung. Ia akan
segera mendekat bila ada di antara antrean mobil yang membunyikan klakson
atau memberi isyarat dengan lampu.

Seperti sudah biasa, ia menarik pembuka pintu dan duduk di samping
pengemudi, “Mau diajak ke mana, Kang,” katanya. Itu adalah kalimat pembuka
setiap dia masuk ke dalam mobil. Tanpa menunggu jawaban, ia akan
menyambung, “Ke plaza dulu ya.”

Di salah satu pusat pertokoan yang berada di alun-alun, Lusi langsung
menyelinap ke counter pakaian wanita. Ia mengambil sebuah T-shirt. Setelah
itu, dia mengatakan, “Bagaimana kalau kita ke atas.” Maksudnya ia mengajak
ke daerah Lembang.

Lusi menceritakan, ia sudah biasa berkencan di Lembang, “Di sana banyak
hotel. Lagi pula lebih aman, nggak ada yang lihat,” katanya. Ia menyebut
sejumlah hotel di Lembang. Antara lain Gumilang Sari, Panorama, Putri
Gunung, Telaga Sari, Pondok Kahuripan, Lebak Gunung, dan Juvante.

Lusi seperti sudah terbiasa ke sejumlah hotel itu. Dia bercerita, kalau
tamu dari luar kota, biasanya membawanya ke sebuah hotel yang lokasinya
agak tersembunyi di kaki gunung, “Tapi pukul 10 malam, saya sudah minta
diantar pulang,” katanya.

Di hotel mana pun dia berkencan, tidak pernah menginap karena takut
dicurigai orang tuanya. Bila terlambat pulang, ia selalu beralasan pergi
main ke rumah temannya. Dan orang tuanya percaya.

Lusi, siswa sebuah SLTA cukup ternama di Kota Bandung itu, mengaku tidak
setiap hari mencari ‘mangsa’. “Kalau lagi iseng saja,” katanya. Dia
memasang tarif Rp 200 ribu untuk sekali kencan.

Lain lagi cerita Yanti. Mahasiswa semester pertama sebuah perguruan tinggi
swasta di Bandung. Ia biasa berkeliaran di Cihampelas, “Sambil jalan-jalan
lihat pakaian, biasanya ada yang ngajak,” kata gadis hitam manis itu.

Ia sebetulnya ada dalam ‘jaringan’ wanita terorganisasi di Bandung. Bila
ada yang membutuhkan, dia biasa dihubungi oleh teman prianya yang
mempunyai hubungan dengan karyawan sebuah hotel, “Saya biasa menemani tamu
hotel yang rapat,” katanya.

Gadis asal Tasikmalaya itu, biasanya di-booking ke hotel terkenal di
Lembang, “Melayani para bos,” katanya. Yanti memasang tarif juga Rp 200
ribu. Tapi bila melayani orang rapat, sering kali mendapat tips yang cukup
besar.

Yanti terjun ke dunia prostitusi ketika masih kelas dua SLTA di Bandung.
Ia tergoda oleh ajakan teman-temannya, “Mereka sering memperlihatkan uang
bergupel-gumpel. Pakaiannya juga bagus-bagus,” katanya.

Pertama kali Yanti ikut ‘mejeng’ bersama temannya di sekitar alun-alun.
Ketika itu dia memperhatikan betul gaya temannya memancing perhatian pria.
Dia pun mencoba-coba dan tergaet seorang pria dari Jakarta yang usianya
sekitar 35 tahun.

“Itu pertama kali saya dibawa ke hotel. Rasanya takut juga sih. Tapi
karena pria itu ganteng, saya jadi suka,” katanya. Saat itu ia memang
sudah tidak perawan lagi, karena sudah berkali-kali berhubungan dengan
pacarnya.

Dengan pria yang pertama kali membawanya ke hotel itu, ia sempat menjalin
asmara selama beberapa bulan. Setiap pria tersebut datang ke Bandung,
selalu mengontak Yanti untuk menemaninya. Tapi lama-lama ia jarang muncul
bahkan tidak pernah muncul sama sekali, “Sudah tidak pernah lagi jumpa
dia,” ujarnya.

Yanti tidak sendiri mencari ‘mangsa’ di Cihampelas. Di pasar jins terkenal
di Bandung itu, menurut Yanti terdapat sejumlah ABG yang pura-pura
belanja. Ciri-cirinya tidak terlalu sulit dikenali, biasanya mereka keluar
masuk toko tanpa membeli apa pun, dan suka berlama-lama melihat pakaian
bila ada pria yang diincar.

Para ABG di Cihampelas itu, oleh tamu biasanya dibawa ke hotel yang
membuka short time, seperti Pondok Kahuripan, Lebak Gunung, dan Juvante.
Juga sejumlah penginapan yang berada sepanjang Jl Pasir Kaliki sampai
Lembang.

Di Bandung ada juga gadis ABG yang berkeliaran di diskotek. Mereka bisa
dijumpai pasang aksi di Jl Braga. Kepada pria yang mendekatinya, langsung
diajak ke diskotek.

“Sebutir dua butir juga jadi,” kata Rina. Maksudnya ia bersedia diajak
melakukan apa pun bila diberikan ekstasi.

Bila diberikan pil yang satu itu, pelajar kelas tiga SLTA itu, tidak
pernah memilih-milih pria yang mengajaknya berkencan, “Tempat chek in
banyak di sini,” katanya.

Di tempat-tempat terbuka alias umum, tanpa rasa canggung dan malu, biasa
dijumpai wanita yang ‘menjajakan’ diri.

“Hai, mau ke mana? Mau ngamar nggak?” begitu pertanyaan yang meluncur dari
mulut-mulut bergincu merah bak tanpa perasaan berdosa. Pelacur yang
bergaya vulgar macam begitu bisa ditemui di Alun-alun Bandung dan
sekitarnya, meliputi Jalan Asia Afrika, Dewi Sartika, Dalem Kaum,
Sudirman, Otto Iskandinata, Banceuy, dan ABC.

Tak sedikit di antara mereka yang tergolong ABG alias anak baru gede.
Hanya saja kawasan pusat kota ini lebih banyak ‘dikuasai’ perempuan dewasa
yang juga mengaku ABG. “Cari ABG? ABG yang mana? Atas Bawah Gondrong?”
kata wanita yang mengaku bernama Ani diiringi cekikikan.

Di Bandung, trennya memang para ABG ‘asli’ lebih banyak mejeng di
pusat-pusat perbelanjaan seperti Bandung Indah Plaza (BIP) di Jalan
Merdeka, dekat Balai Kota. Atau di Jalan Juanda atau Dago, terutama di
sekitar pasar swalayan Superindo dan Plaza Dago.

Sedangkan yang tergolong masih dekat dengan Alun-alun Bandung, para ABG
banyak bergerombol di King Shopping Center Jalan Kepatihan dan Diskotek LA
di Jalan Asia Afrika.

Sudah menjadi rahasia umum kalau para ABG itu ‘bisa dipakai’ siapa saja.
Berbeda dengan para senior mereka, para ABG ini kebanyakan tidak
menawarkan diri dan menolak cara-cara vulgar. Bahkan umumnya langsung
menolak kalau diajak secara langsung untuk transaksi seks.

“Sorry, kita bukan perempuan begituan,” begitulah jawabannya kalau ada
pria yang, menurut ukuran mereka, nggak tahu ’sopan santun’.

‘Jalan-jalan, ‘Beliin’ Baju, Oke’

MEREKA sangat membenci pria yang tidak mengenal sopan santun. Seperti yang
dituturkan Yuni, yang mengaku masih sekolah di SLTP, “Sebel deh sama cowok
kayak gitu. Padahal kalau dia bisa baik-baikin kita, kalau udah waktunya,
ntar juga dikasih.”

Memang para ABG Bandung umumnya tidak mau disebut pelacur. “Kan kita nggak
dibayar dan kalaupun saya mau ngelakuin begituan, kan bukan karena
bayarannya tetapi memang karena saya suka,” jelas Yuni yang mengungkapkan
dirinya dan umumnya teman-teman nongkrongnya, berasal dari keluarga yang
kurang harmonis.

“Kalau dia ngajak kita jalan-jalan, lalu jajan, lalu beliin baju, atau
ngasih hadiah apa gitu, ya oke. Itu kan karena dia mampu,” tegas Yuni.
“Nggak pake begituan juga, kalau saya suka, dia nunjukin perhatian,
orangnya enakan, saya kasih juga.”

Para ABG yang biasa hidup dalam pergaulan bebas tanpa batas ini umumnya
merasa kesepian karena kurang perhatian keluarga. Umumnya juga bukan dari
keluarga dengan latar belakang ekonomi pas-pasan. “Mami sama Papi pada
sibuk semua,” kata remaja sebuah SMU yang mengaku bernama Lia. “Kita sih
nggak mau banyak mikir. Pokoknya kalau masih bisa hidup senang-senang
begini, ya kita lakuin,” katanya soal ‘pelariannya’ ini.

Meskipun umumnya tidak mau disebut pelacur karena mengaku tidak pernah
pasang tarif, tetapi pada prakteknya banyak lelaki hidung belang yang kena
batunya. Paling tidak itulah pengakuan Iis, mengaku siswi SMU BPI, ketika
menceritakan pernah ngerjain om-om yang mendekati dirinya.

“Sesudah dapat traktiran makan dan minum, Iis mengajak dia masuk ke Yogya
(Departement store BIP). Dia mau saja dan membayar setelan baju yang
lumayan mahal. Kira-kira bajunya ama bawahan (rok) aja, Rp 300 ribu,”
jelas Iis. Dan Iis tentu saja pada malam Minggu itu harus mau melayani
hasrat om itu di hotel sampai pagi. “Mama Papa nggak tahu kalau Iis udah
biasa hubungan suami istri. Dan kalau kita pulang pagi, Mama Papa pikir
kita cuma ke disko aja,” kata Iis.

Bayaran Rp 300 ribu itu buat Iis memang bukan harga mati. Karena menurut
dia pernah juga ada yang ‘kebagian jatah’ meskipun cuma mentraktir makan
dan minum saja. “Pernah habis tripping, terus pas mau pulang pukul dua
pagi, pas nunggu taksi disamperin cowok. Katanya, mau bareng nggak? Ya mau
aja,” kisah Iis.

“Lantas dia mengajak makan. Habis itu dia bilang cari hotel yuk. Berhubung
saya juga lagi kepengen, ya udah jadi saja,” kata Iis yang mengaku tidak
pernah minta bayaran. “Cowok itu nggak bayar saya, cuma nganterin pulang
pakai taksi,” lanjutnya.

Buat Iis dan beberapa temannya, ‘aturan main’ yang seperti itu menunjukkan
komitmen mereka untuk benar-benar tidak mau disebut pelacur. Meskipun
sudah berusaha menunjukkan perbedaan dan posisi sekuat itu tetap saja
masyarakat dan termasuk juga para ‘pemakai jasa’ mereka menganggap para
ABG itu sebagai perempuan sewaan alias pelacur. Bahkan boleh dibilang
pelacur gres dengan tarif murah.

Di kalangan lelaki hidung belang umumnya tersebar cerita bahwa dengan cuma
punya uang Rp 30 ribu rupiah di kantong, para pria iseng bisa menikmati
layanan seks kelas satu yang ‘dingin-dingin empuk’. Dan mengenai murahnya
tarif pelacur ABG itu diakui juga oleh Dian yang ditemui saat mejeng di
Jalan Juanda.

“Gampang, kok Mas, asal bisa ngajak ngobrol mereka, ya sambil nraktir
dong, kalau Mas mau mereka juga mau kok,” kata Dian menunjuk ke arah
teman-teman seusianya yang tengah bercengkerama di depan Swalayan
Superindo. “Yang penting, sama-sama suka,” tegasnya.

Berdasarkan cerita Dian, para lelaki hidung belang paling-paling harus
menambah biaya sewa kamar hotel kelas melati. Hotel-hotel di kawasan Jalan
Setiabudi dan Jalan Raya Lembang umumnya diketahui memberikan layanan atau
tarif khusus kepada pasangan bukan suami istri ini. Misalnya, Hotel Giri
Elok dan Gumilang Sari.

“Kalau di Jalan Dago, kita bisa pakai Hotel Buah Dua,” jelas Dian yang
tahun ini baru lulus SMU. Menurut Dian, tarif short time hotel-hotel itu
umumnya sekitar Rp 35.000.

Dian juga mengatakan umumnya para ABG ini senang dengan pria yang bergaya
dan mudah bergaul. “Makanya kalau mau ketaksir sama mereka, pakaian, gaya
rambut, parfum, ya harus trendi, kayak mereka gitu,” jelas Dian yang
mengaku mulai kenal gaya hidup seks bebas itu sejak masuk di kelas I SMU,
dua tahun silam.

Cerita Dian soal ‘tradisi’ ABG ‘bebas’ ini tak sepenuhnya benar. Paling
tidak ada kontroversi dengan pengakuan Nola, murid sebuah SMU di Dago.
“Saya cuma mau kencan sama pria yang keren dan berselera tinggi,” katanya.

Serupa dengan Dian, Nola memang tak mempermasalahkan tarif kencan, bahkan
bisa gratis. “Yang penting mau nraktir di restoran yang kelasnya oke,
terus mau beliin baju dan yang pasti punya mobil yang asyik buat
jalan-jalan,” kata Nola yang ceplas-ceplos ini.

Lantas Nola mengakui bahwa untuk menyenangkan dirinya itu tidak jarang
seorang lelaki harus mengeluarkan dari koceknya Rp 300 ribu - Rp 500 ribu.
“Heran juga, kok mereka nggak keberatan, padahal kalau mau murah juga
banyak,” kata Nola yang semampai dengan kulit putih mulus ini.

Para ABG yang dapat ‘dipakai’ ini umumnya mudah dikenali dengan dandanan
mereka yang ngetrend dengan baju pendek sehingga kelihatan pinggang dan
pusarnya, atau menggunakan rok mini yang modis. Meskipun sama-sama seksi,
biasanya sangat berbeda dengan pelacur senior dari cara merias wajah.

Para ABG biasanya tidak tampil terlalu menor atau make up kelewatan tebal.
Mereka masih dengan gaya muda ceria. Selain itu para ABG lebih pintar
memantas-mantas diri sesuai dengan mode yang lagi in.

Perbedaan lainnya, mereka pun tidak pernah menawar-nawarkan diri, entah
karena memiliki kepercayaan diri yang tinggi alias pe-de, karena umumnya
memang cantik alamiah, atau karena memang itu ‘kiat’ pemasarannya. Yang
pasti, para ABG ini biasa bergerombol dan asyik dengan dunia mereka
sendiri, sampai ada yang mengajak berkenalan dan berkencan. Saat itulah
mereka menjadi sama dengan umumnya wanita bayaran.

Meskipun tarif mereka sering lebih murah, para ABG ‘pemuas nafsu’ ini
lebih nyaman berpraktek ketimbang para senior yang lebih ‘profesional’.
Para ABG hampir tidak pernah dirazia polisi. Mungkin karena mereka tampak
seperti anak-anak kemarin sore yang terkesan masih ceria bermain di pusat
keramaian Kota Kembang.

Cerita Bersambung 8:46 pm

wow
LAMPUNG SUMATERA

“Oo, saya sering diajak pejabat,” kata Susan. Gadis berusia 16 tahun asal
Kotabumi Sari, Lampung itu bercerita, sejumlah pejabat dari Jakarta atau
pejabat setempat mengajaknya masuk kamar hotel.

Siswa salah satu SLTA di Lampung itu, tidak terlalu susah dicari. Ia bisa
dihubungi melalui perantara. Gadis manis berkulit putih itu, mengaku
selalu mencatat siapa saja yang berhubungan dengannya.

“Nama dan nomor teleponnya saya catat. Semuanya saya simpan baik-baik.
Mungkin suatu waktu saya butuh dia. Mungkin bisa membantu saya mendapatkan
pekerjaan, ” katanya. Menurutnya dengan membuka catatan itu, Susan bisa
mengingat kembali wajah-wajah para pria hidung belang yang pernah
bersamanya.

Seperti juga ABG lainnya di Lampung, Susan memasang tarif Rp 100.000
sampai Rp 200.000. “Itu tarif biasa di sini. Untuk pejabat apalah arti
uang sebanyak itu,” katanya. Para pejabat menurut Susan, tidak sayang uang
bisa sudah merasa senang.

“Kalau dia senang, mereka bisa memberikan lebih banyak. Saya pernah sekali
main diberi Rp 500 ribu. Biasanya setelah berpisah, saya beri dia nomor
handphone saya,” ujarnya.

Dengan memberikan nomor itu, Susan kemudian sering dihubungi oleh mereka
yang pernah bersamanya, “Jadi saya tidak harus memberikan sebagian
penghasilan saya kepada perantara,” katanya.

Susan tahu betul cara ‘memancing’ agar pejabat yang pernah berhubungan
dengannya, bisa mengulangnya kembali, “Saya selalu mengatakan jarang
berhubungan badan. Juga dengan memujinya bahwa dia pria yang luar biasa,”
tuturnya.

Karena sudah terbiasa ‘menjalin cinta’ dengan pejabat, Susan jarang
berhubungan dengan orang biasa, “Kalaupun ada, saya pilih mereka yang
masih muda. Tapi jarang sekali,” katanya. Mereka yang masih muda, biasanya
sangat pelit. Tarif yang sudah diberikan sering kali ditawar rendah.
Bahkan kadang-kadang merayu mengajak pacaran.

“Bila sudah dilayani, dia minta gratis,” ujarnya. Para anak muda menurut
Susan, juga sering kali menawarkan obat-obatan untuk mabuk.

Di Bandarlampung terdapat beberapa tempat mangkal para gadis ABG seperti
pusat perbelanjaan Tanjungkarang Plaza-Artomoro Jl Kartini, Kafetaria King
Super Market Tanjungkarang lantai dasar, Kafe King Supermarket Jl Raden
Inten, beberapa diskotek seperti Tower, Swisspub, Santana.

Ayu, 18 tahun, seorang gadis ABG di Casablanca bercerita, ia bisa dibawa
tanpa bayar, “Itu kalau saya suka, diajak nonton atau makan juga jadi,”
katanya.

Tapi kalau yang mengajaknya om-om senang, bandot tua, atau tampang pejabat
dia pasang tarif agak tinggi, apalagi sampai nginap beberapa hari. Menurut
pengakuan Ayu, asal Palembang ini, dia pernah di-booking pejabat yang
menjadi pimpro selama beberapa hari.

“Saya dibayar cukup besar,” ujarnya. Karena itu, setiap bertemu ‘tamu’ Ayu
selalu menawarkan diri agar diajak beberapa hari.

“Kalau mereka nginap beberapa hari di Lampung, ya saya juga diajak,”
ujarnya. Sistem booking beberapa hari, sangat menguntungkan karena tidak
perlu lagi mencari mangsa lain. “Juga tidak terlalu capek. Kan tidak
setiap malam harus main. Biasanya cuma cium-ciuman atau berangkulan dan
menemaninya tidur,” ujarnya.

ABG ini juga mengaku punya langganan mulai pejabat PNS, aparat keamanan,
mahasiswa, hingga wartawan.

“Mereka semua baik-baik. Uangnya juga lancar. Beberapa dari mereka menjadi
pacar saya,” katanya. Dengan mempunyai pelanggan seperti itu, Ayu tidak
terlalu takut terkena penyakit. “Saya tahu mereka bukan orang sembarangan,
pasti jauh dari penyakit,” ujarnya.

Menurut Ayu, jika ada bos-bos atau pejabat yang cinta berat sama anak-anak
ABG yang cantik, kadang-kadang dipelihara sebagai istri simpanan atau
istri gelap.

Mereka dicarikan kontrakan kamar atau disewakan rumah tinggal. Ada di
antara mereka yang melahirkan dan punya anak. Namun, umumnya cewek-cewek
ABG yang telanjur hamil di luar nikah, biasanya bayinya diserahkan ke
pihak rumah sakit atau dijual pada orang yang mau mengurusnya.

Seperti Linda, 17 tahun, misalnya terpaksa drop out dari sekolahnya sebuah
SMU swasta, gara-gara dia pacaran kelewat batas lalu hamil dengan
pacarnya, memilih pintas terjun ke dunia pelacuran.

Sekarang dia menjadi istri gelap seorang pejabat dari Jakarta, “Bila dia
tidak ada, saya main di diskotek, mencari teman kencan. Saya tidak tahu
persis dia tahu atau tidak,” ujar Linda. Sebagai istri gelap yang tidak
pernah dinikahi, dia tidak takut seandainya sang suami meninggalkannya.

Mereka rata-rata anak-anak sekolah dari desa yang merantau ke ibu kota
Provinsi Lampung. Sampai saat ini, orang tua Linda belum mengetahui
pekerjaan anaknya, “Mereka menyangka saya masih bersekolah,” katanya.

Ada juga gadis ABG yang sekolahnya berantakan terpaksa jadi penjaja seks
karena kesulitan ekonomi, misalnya orang tuanya terkena PHK. Anak-anak ini
juga sengaja disuruh orang tuanya dengan alasan membantu biaya adik-adik
yang masih sekolah.

Pelacur ABG di Lampung umumnya tinggal indekos dalam satu rumah yang
disewa beberapa orang secara patungan. Umumnya mereka tinggal dekat dengan
tempatnya mangkal.

Misalnya kalau sering mangkal di diskotek kawasan Jl Yos Sudarso mereka
tinggal di daerah Panjang atau Telukbetung. Kalau mereka mangkal di
Tanjungkarang seperti Artomoro dan King Super Market, mereka tinggal
sekitar Jl Raden Intan atau Jl RA Kartini atau di kawasan Enggal dan
Kelurahan Pelita.

Kalau ABG yang masih sekolah atau kuliah, biasanya mencari mancari mangsa
di diskotek cari. Para gadis remaja itu, hampir setiap malam terutama
malam minggu memenuhi ruang diskotek di Lampung. Mereka yang nongkrong di
diskotek biasanya selalu minta dibelikan ekstasi.

Bahkan ABG-ABG ini juga ada yang menjadi korban obat-obatan terlarang
seperti ekstasi, sabu-sabu, atau putaw. Sudah ada beberapa korban yang
tewas karena menenggak obat-obatan terlarang melebihi dosis. Misalnya
pesta obat terlarang di sebah motel melati Jl Soekarno-Hatta tahun lalu,
dua cowok dan satu cewek terkapar dan sekarat, namun jiwanya tertolong
setelah berhasil dibawa ke rumah sakit dan dirawat beberapa hari. Kemudian
ada seorang anak gadis pelajar tewas di sebuah hotel berbintang setelah
menenggak obat terlarang dengan pasangannya.

CIREBON JAWA BARAT

PEONG. Itu sebutan untuk pelacur ABG di Cirebon. Seperti juga di sejumlah
kota lainnya, mereka biasanya keluyuran malam di diskotek. Di Kota Udang
itu, mereka lebih suka di diskotek di New Land Grand Hotel Cirebon.

Di antara irama musik yang berdentum keras, seorang gadis mengenakan
celana biru ketat, dengan T-shirt warna putih yang juga ketat, sendirian,
bergerak lincah mengundang perhatian. ‘’Kalau Mas berminat, nanti akan
saya hubungkan,'’ bisik seorang pramuria yang berdiri sebelah meja
menawarkan jasa (bukan hanya sekali) sambil juga menawari tambahan
minuman. Mungkin lantaran dijawab beberapa kali nanti saja, akhirnya sang
pramuria ‘nekat’ memanggil sang cewek tadi. ‘’Kristin,'’ ujarnya singkat
sembari mengulurkan tangan.

Kristin, cewek ABG berusia 17 tahun, kulit kuning langsat bermata agak
sipit mirip amoy, mengaku asal Cirebon. Aroma alkohol menyeruak lewat
mulutnya. Sekali-sekali, ia terbatuk, katanya sedang pilek. “Tidak sering,
sih, yang pasti kalau malam Minggu saya ke sini,” tuturnya.

Ia anak ketiga dari empat bersaudara. Merasa frustrasi dengan mantan
pacarnya yang setelah ‘menghisap madunya’, pergi entah ke mana. “Aku tak
tahu ia kini ada di mana. Buat apa mikiran yang sudah lewat. Bikin
pusing.'’ Sementar anak hasil kumpul kebonya diadopsikan kepada keluarga
tak berketurunan yang tinggal di Kuningan. Kadang-kasdang saja Kristin
menengok Doni–nama anak berumur 1,5 tahun.

Orang tuanya pensiunan militer yang bekerja di perusahaan ekspor-import
yang saat ini sudah bangkrut. ‘’Usaha apa sih yang tidak terpengaruh,'’
ujar Kristin sambil membandingkan diskotek itu yang sesudah krisis jumlah
pengunjungnya turun hingga 50%.

“Lihat tuh, banyak kursi yang kosong,'’ tuturnya menunjuk meja sekeliling.

Kristin tak berterus terang asal sekolahnya, ‘’Kok tanya detail banget,
sih,'’ katanya.

Sebagai peong ABG, ia biasa di-booking dengan tarif antara Rp 250.000
hingga Rp 350.000. Itu kalau short time. Bila menginap, bayarannya Rp
500.000 yang kemudian dipotong buat tip ‘broker’ berkisar Rp 50.000 sampai
Rp 75.000.

Kristin, yang kandas di kelas dua SMU, sebenarnya lebih memilih ’solo
karier’ ketimbang terikat seorang germo. ‘’Repot amat, lagian mereka suka
memeras.'’ Tiba-tiba Kristin menyelinap pamitan, lantaran HP-nya ada yang
menghubungi. Ketika ditanyakan apa ada yang booking, ia cuma nyengir.

Tepat pukul 02.30 lampu di ruangan diskotek dengan uang masuk Rp 12.500
itu tiba-tiba menyala terang, berbarengan dengan berhentinya dentuman
musik yang berkesinambungan itu. ‘’Bagaimana Mas, jadi booking nggak
nih?'’ rajuk Kristin berbisik. ‘’Gampang aja Kris, toh nomor HP-mu sudah
tercatat. Kapan-kapan saja.'’

Di halaman diskotek, terlihat dari lobi Kristin yang kali ini ditemani
rekan seprofesinya tengah negosiasi dengan dua orang lelaki. Sejurus
kemudian keempatnya beringsut dengan mobil sedan entah ke mana.

Seperti juga di berbagai kota lain, pelacur ABG di Kota Cirebon belakangan
marak. Mereka bisa ditemui selain di New Land Grand, juga di alun-alun
yang masih sejalur di Jl Siliwangi.

Mereka juga biasa mangkal di Grage Mall di Jl Dr Sucipto. Di diskotek lain
semisal di Mitas Grand Hotel di Jl Tuvarep. ‘’Dulunya yang rame di Mitas,
tetapi sekarang kalah pamor dengan New Land Grand,'’ tutur seorang
pengunjung.

Dua ABG pria yang menjadi germo sejumlah ABG di Cirebon menceritakan bahwa
jaringan pelacur ABG di daerah itu cukup rapi.

“Jangan takut, pasti aman berhubungan dengan mereka. Kalau yang di Bandung
ceweknya cakep-cakep, di sini juga tidak kalah cakep-nya'’ tutur Andre New
Land Grand Hotel. Ia didampingi germo lainnya, Danu seorang mahasiswa
sebuah perguruan tinggi di Bandung.

Dalam catatan Andre, jumlah pelacur ABG di Cirebon mencapai 50 orang.
Mereka berasal dari beberapa SMU setempat. Antara lain SMU yang terletak
di Jl Panjaitan, di Jl Pangeran Drajat. Ada juga beberapa mahasiswi.
‘’Tapi yang paling banyak anak dari SMU di Jl Panjaitan,'’ tutur Andre.

Menurut Danu, para pelacur ABG tidak semata-mata mencari uang. Ada kalanya
sekadar mencari kepuasan dan yang jenis ini kalau di-booking asal diberi
pil ekstasi atau pil setan dan sejenisnya sudah bisa diajak ‘masuk kamar’.

Menurut pengamatan mahasiswa bertubuh sedang ini, latar belakang mengapa
mereka terjerumus ke lembah nista itu berbagai macam. Tapi yang umum
sekaligus klasik lantaran broken home dan kurang perhatian orang tua.
Orang tua bercerai, suka cekcok, jarang di rumah. Kira-kira seringnya
begitulah.

Untuk menghindari kehamilan, masih menurut Danu, biasanya para peong
demikian mereka disebut di Cirebon, menggunakan genaelosit atau cumbrit.
Keduanya bisa diperoleh di toko-toko obat.

Menurutnya, yang disebut pertama, bila ingin yang ampuh, mintalah yang
kemasannya boks kertas, jangan plastik. Isinya dua butir, harga per butir
Rp 15.000. Genaelosit bisa mencegah kehamilan sampai dua bulan. ‘’Habis
dua bulan, ya harus minum lagi,'’ ujar Danu seperti sedang memberi
nasihat.

Menurutnya, para ABG yang mangkal di alun-alun umumnya yang kelas ‘krotak’
atau bawah. Hal itu dibenarkan Andre, ‘’Aku nggak kenal dengan cewek-cewek
yang di sana.'’ Andre menyebut beberapa nama pelacur ABG papan atas yakni
Emi, Devi, Susan, serta Puput yang menjadi primadona di antara mereka.

Tapi Puput adalah yang paling cantik. Ia mengaku sering dibawa keluar kota
oleh pelanggannya. “Saya baru saja dari Bandung,” katanya. Di luar kota,
bila berpisah dengan pembawanya, ia sering kali menggaet pelanggan lain.

Ada beberapa daerah di Jawa Barat yang diketahui persis liku-likunya oleh
Puput, “Tapi Bandung yang paling saya kuasai. Di sana juga banyak teman
saya,” katanya.

Ia juga tidak keberatan bila dibawa ke Jakarta, atau ke tempat lainnya
seperti ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. “Pokoknya bayarannya sesuai, saya
akan ikut,” ujarnya

Cerita Bersambung 8:42 pm

wow
KALIMANTAN TIMUR

“DI SEMAK-semak saja,” kata Elin, ketika diajak melanjutkan ‘acara’ ke
sebuah hotel di Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan, Kalimantan
Timur. Ia merasa tidak aman masuk ke hotel dengan pakaian sekolah.

Gadis dari pedalaman Kalimantan yang berusia 17 tahun itu bercerita, ia
biasa berkencan di balik pohon. “Saya tidak biasa di hotel. Di tempat lain
juga boleh, pokoknya jangan di hotel. Di semak-semak juga tidak apa-apa,
tidak ada yang lihat. Kan cuma sebentar,” katanya.

Umumnya kencan dilakukan di semak-semak, atau di balik pohon, di tempat
kost bila siang hari, atau di atas kapal yang banyak bertambat di daerah
ini, atau bahkan di dalam mobil.

Para ABG paling takut bila diajak kencan di hotel maupun penginapan
setempat. Kalaupun bersedia, maunya hotel atau penginapan di Kota Madia
Turakan, sekitar satu jam setengah dari Tanjung Selor, bila menggunakan
long boat.

ABG yang bisa diajak kencan di Tanjung Selor, banyak berkeliaran menjelang
masa ulangan umum. Menurut Elin, banyaknya ABG yang ‘turun ke jalan’ pada
saat-saat seperti itu karena mereka membutuhkan uang untuk keperluan
sekolah.

Elin mengakui bahwa mereka yang dari pedalaman sangat kekurangan uang.
Untuk membiayai kehidupan sehari-hari memang mencukupi, tapi bila
kebutuhan uang mulai agak besar seperti menjelang ulangan umum atau ujian,
mereka hampir tidak berdaya. Orang tuanya yang berada jauh di pedalaman
hanya petani atau peladang berpindah.

Ketika berangkat dari kampung halamannya untuk melanjutkan sekolah ke
kota, mereka memang sudah dipersiapkan sedemikian rupa oleh orang tuanya
agar terhindar dari ‘malapetaka’ kehamilan. Seperti Elin misalnya, untuk
‘menjaga diri’ agar tidak hamil, oleh ibunya ia diberikan jarum yang sudah
dimantera-mantera.

Setiap hari menjelang keluar rumah atau mau berkencan, ia merendam jarum
bermantera itu ke dalam segelas air, lalu airnya diminum. Sampai sekarang,
Elin aman-aman saja kendati sudah berkali-kali melakukan hubungan seks.

“Berbahaya bila tidak minum air jarum,” katanya. Ia menceritakan
pengalaman temannya yang kehilangan jarum bermantera, setelah berkencan
temannya itu hamil dan melahirkan anak tanpa ayah. Kemudian menjadi
pelajar di Tarakan.

Banyak sudah gadis remaja di kota itu karena terlalu sering melakukan seks
bebas, kemudian terjerumus menjadi pelacur. Menurut Elin, selain karena
persoalan tersebut, banyaknya ABG menjadi pelacur karena ulah sejumlah
oknum aparat.

Para ABG itu, tadinya merasa aman bila berhubungan dengan mereka, yang di
sana dikenal dengan istilah kombet. Para kombet, awalnya melindungi mereka
dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tapi ujung-ujungnya para
gadis itu dijual.

Seperti pengalaman Inge, juga berhenti dari SLTA saat mengetahui ada janin
bayi dalam perutnya, ‘hadiah’ dari seorang oknum aparat kepolisian dari
satuan provost. Pacaran tetap berlanjut, hingga menyeberang ke Tawan,
Malaysia.

Di Tawan, janinnya digugurkan. Sementara sang pacar bolak-balik
Tawan-Tanjung Selor karena masih berdinas di Polres Bulungan. Singkat
cerita, menurut Inge yang masih takut menyebutkan nama pacarnya tersebut,
Inge dijual kepada para hidung belang di Tawan, berkisar seharga 200
hingga 250 ringgit Malaysia atau berkisar Rp 360 ribu hingga Rp 450 ribu
untuk setiap kali kencan.

Menurut Inge, jaringan penjualan gadis ABG ke Tawan cukup rapi. Pada
pedagang gadis lengkap dengan mata-mata dan tukang pukulnya. Mereka
umumnya orang Indonesia yang memiliki kebebasan keluar masuk ke negara
tetangga itu. Harga seorang wanita, dihargai cukong 4.000 ringgit atau Rp
7,2 juta (satu ringgit Rp 1.800).

Tapi saat ini Inge sudah lepas dari cengkeraman kombet. Inge melarikan
diri dan lolos kembali ke kampung halamannya, ketika para tukang pukul
berpesta, menikmati hasil penjualan wanita.

Selain ditempatkan di hotel-hotel di Tawan, juga ada yang dijual lagi ke
cukong di Singapura, Sandakan, dan Kinabalu.

Menurut pengakuan Inge, memikirkan melarikan diri dari sarang maksiat,
muncul saat Inge sedang haid namun dipaksa melayani tamu. Karena Inge
menolak, ia lalu dipukuli dan dicaci maki, perlakuan yang sama juga
dialami wanita-wanita lainnya.

Inge belum berani mengungkapkan siapa-siapa oknum yang terlibat dalam
penjualan wanita-wanita, dia hanya menjelaskan di antara rekan-rekan
wanitanya waktu masih di Tarakan, Tanjung Selor, maupun asal Pulau Jawa,
rata-rata terbujuk dengan janji dapat kerja dengan gaji besar. Hal itu
dibuktikan si pembawa dengan membelikan pakaian mewah dan pehiasan emas.

Namun setelah berada di sana, pakaian dan perhiasan dipreteli untuk
diambil lagi. Hasil kencan dengan tamu juga diambil. Mereka dilarang kirim
surat ke keluarga.

Lain lagi cerita ABG di Samarinda, mereka rata-rata anak putus sekolah
dengan usia 14 sampai 17 tahun. Setiap hari mereka bisa ditemukan di
sepanjang tepian Mahakam, terutama di Jl Slamet Riady atau lebih dikenal
dengan sebutan Karang Asam.

Pria yang singgah di sana, ditawari oleh sejumlah wanita untuk minum
sambil makan jagung manis. Kepada tamu, mereka hampir selalu mengatakan,
“Mampir Mas, sambil minum dan bercinta.” Kata ‘bercinta’ itulah yang
menjadi daya tarik.

Pada pukul 19.00 hingga 21.30 di tempat itu biasa nongkrong anak sekolah.
Di antaranya Yeyen berusia 17 tahun. Kepada tamu, ia sering kali minta
diantar pulang.

Dalam perjalanan, Yeyen berkata, ‘’Eh… baru jam delapan malam, bagusnya
kita ke mana ya?'’ Penghuni rumah kost di Jalan Rahui Rahayu itu pulang
sekitar pukul 22.00.

Di tepian Mahakam, menurut Yeyen ada empat ABG berstatus pelajar. Mereka
adalah teman-teman sekolahnya. Semua temannya terjun ke dunia pelacuran,
bukan karena kekurangan uang, tapi didorong oleh kebiasaan menelan
ekstasi.

Selain mendapat ekstasi, mereka juga bisa mengantongi uang. Bila malam
Minggu, penghasilannya berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu.
“Saya biasanya hanya sanggup melayani dua orang,” kata Yeyen.

MAKASAR - SULAWESI

Berbeda lagi dengan Ogi, menggeluti dunia pelacuran memang semata-mata
karena butuh uang untuk hidup. Anak bungsu dari dua bersaudara ini, orang
tuanya hanya daeng becak (tukang becak).

Gadis berparas cantik ini, dalam usia yang sudah 16 tahun, hidupnya lebih
mapan. Ia memiliki handphone dan pakaian serta alat kecantikan yang
diapakai dari merek-merek terkenal.

Ia adalah salah satu penghuni Losari, yang oleh teman-temannya dianggap
sudah ’sukses’, karena sudah pernah kawin kontrak dengan seorang pria
warga negara Jepang.

Ia meninggalkan Pantai Losari, karena mendapat lokasi lain yang lebih
menjanjikan, “Ada yang mengajak saya kerja sebagai pelayan di salah satu
karaoke,” katanya.

Berangkat dari situ, ia ingin meraih ‘prestasi’. Ia ingin memerankan peran
ganda baik sebagai pelayan bir maupun sebagai budak nafsu. “Mulanya saya
ragu menawarkan diri,” katanya. Namun alangkah girangnya bukan main ketika
seorang warga negara keturunan Tionghoa memberinya uang Rp 200.000 setelah
diajak kencan.

Selain di tempat itu, mereka juga bisa ditemui di bioskop Studio 21 atau
di pinggir Jalan Dr Sam Ratulangi. Salah satu ABG yang mangkal di Jl Sam
Ratulangi, Ogi, 18 tahun. Ia hanya mau diajak kencan oleh orang-orang
gedongan dengan imbalan Rp 250.000 hingga Rp 400.000.

“Gengsi dong kencan dengan sembarang orang,” katanya. Dengan demikian,
wajar jika bisa memakai handphone serta pakaian bermerek lainnya. “Kalau
bukan di hotel saya tidak mau kencan,” katanya. Paling tidak, hotel kelas
melati.

Sebenarnya, Ogi bukanlah berasal dari kalangan keluarga miskin. Tetapi
mengapa sampai terjerumus ke lembah nista? Menurut dia, akibat kegagalan
membina hubungan dengan kekasihnya, telah membuatnya kehilangan harapan.
Yang membuatnya lebih sakit, karena yang merebut kekasihnya itu adalah
keluarganya sendiri. Akhirnya lari dari rumah untuk hidup di ‘alam bebas’,
“Saya sekarang ngontrak rumah,” katanya.

Ia kini telah hidup sebagai istri peliharaan dari seorang pengusaha
berkewarganegaran Tionghoa, selain juga berkencan dengan banyak pria.

Cici, 16 tahun juga memasang tarif cukup mahal, Rp 250 ribu sekali kencan.
Penampilan sama sekali tidak mengesankan sebagai etek. Bahkan bisa
dibilang sangat sopan. Ia juga tidak ingin menjajakan diri secara terbuka.
“Saya tidak biasa mangkal di tempat terbuka,” katanya. Selama ini ladang
operasinya, lebih banyak menjaring mangsa di night club seperti Ziqzaq di
Makassar Golden Hotel (MGH) atau di M Club Kawasan perumahan elite
Panakukang Mas.

Etek ‘elite’ ini, dalam beroperasi memiliki kata sandi. Biasanya mereka
mengatakan mau ke ATM jika ditanya oleh rekan-rekannya saat ke luar dari
rumah, “ATM, kan identik dengan uang,” tutur Cici.

Menurut dia, sudah banyak pria yang mengajaknya kencan di berbagai hotel,
kelas melati maupun berbintang. Ia menyebut beberapa hotel seperti yang
terletak di Jl Emy Saelan, Jl Cenderawasih, Jl Bhayangkara, Jl Penghibur,
dan Jl Dr Samratulangi. Soal tarif, bagi pria yang tidak begitu dikenalnya
tidak ada kompromi. “Nginap bisa Rp 400.000. Kalau hanya dua sampai tiga
jam saja, Rp 250.000 sampai Rp 300.000,” ujarnya.

Bagi Cici, tidak semua uang diperolehnya berasal dari ‘hasil keringat’
begituan, “Ada juga ngasih uang karena pertemanan,” ujar. Pengalamannya,
tidak semau laki-laki hidung belang yang mengajak kencan langsung masuk
kamar. “Keliling kota dulu atau menikmati hidangan di warung atau
restauran,” ujarnya lagi.

Cara mencari mangsa, tidak terang-terangan. Mereka tetap berusaha menahan
diri. Biasanya diawali obrolan basa-basi di dalam night club, “Lelaki yang
punya pengalaman, tentu langsung bisa menangkap apa arti obrolan itu,”
ujar Cici.

Mereka juga bisa mencari mangsa melalui germo atau cukung. Salah seorang
cukong, Sun, 26, tahun mengaku mendapat penghasilan Rp 50.000 tiap malam,
“Satu wanita komisinya Rp 10.000,” ujarnya.

Sun yang kawasan operasinya di Makassar Golden Hotel (MGH) tidak sungkan
mempromosikan ‘produknya’, “Ada namanya Yana, Evi. Semuanya anak belasan
tahun yang penampilannya oke,” katanya.

Menurut Cici, yang paling tidak menyenangkan kencan dengan pria, kalau
menuntutnya macam-macam, seperti oral seks atau melalui bagian ‘belakang’.
Karena segan lantaran sudah dibayar, biasanya dipenuhi juga, “Sebenarnya
jijik. Tapi cara mengatasinya, merem aja,” ujarnya.

PALEMBANG

‘Membaca’ Sinyal di Jl Merdeka

TENGAH hari, sekitar pukul 12.30, saat bubaran sekolah, sejumlah siswi
bergerombol di Jl Merdeka. Di antara mereka ada yang memberi sinyal kepada
kendaraan pribadi yang melintas.

Apa isyaratnya? Siswi yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu
melemparkan senyuman ke arah kendaraan. Begitu disambut dengan klakson dan
berhenti agak jauh, dia akan menghampiri dengan sedikit malu-malu.

Salah satu di antaranya, adalah Fitri. ABG berusia 16 tahun, yang tinggal
di kawasan Talang Semut, Palembang itu, bercerita hampir setiap hari
menjaring mangsa di tempat tersebut.

“Siapa yang tidak tahu Jl Merdeka, sudah terkenal sekali. Dapat dipastikan
hampir semua pria yang melintas di jalan itu pada tengah hari, sedang
mencari sesuatu yang bisa diajak,” kata siswi kelas II sebuah SMU swasta
di Palembang itu.

Menurut pengakuan Fitri, dipilihnya teman kencan yang bermobil hanya untuk
lebih memudahkan bernegosiasi karena lebih aman dan terlindung
kerahasiaan. “Biar begini, kami ini masih punya rasa malu. Harus bedakan
dengan WTS,” kata Fitri sembari mengepulkan asal rokok mentolnya.

Memang, ciri-ciri gadis ABG yang menjual diri di kawasan Merdeka tidak
begitu kentara, apalagi ketika di tengah-tengah gerombolan teman-temannya.
Tapi, bila suasana agak sepi, maka tampak kelompok-kelompok remaja putri
masih bercengkrama di pinggir jalan. Biasanya mereka ngobrol di bawah
pohon sambil melihat orang berlalu lintas. Nah, bila ada mobil jalan
perlahan-lahan dan berhenti agak jauh dari tempat mereka, selanjutnya para
ABG pelan-pelan sembari malu-malu mendekati mobil tersebut.

Tanpa basa-basi, ABG mereka langsung membuka pintu mobil, seolah-olah
mobil jemputannya. “Kami langsung kenalan dan nego tentang tarif,” cerita
Juli, 15, siswa SMA swasta di Jl Merdeka dengan polos.

Gadis mungil ini mengaku, dirinya biasa dibawa ke sebuah hotel di JL Kol
Barlian arah Bandara Sultan Machmud Badarudin II. “Tapi tidak boleh
terlalu lama, biar tidak dicurigai orang tua,” katanya. Paling lama dia
hanya bersedia dibawa selama dua jam.

Hari Sabtu dan Minggu siang mereka agak leluasa. “Habis belajar, aku dan
kawan-kawan pasti pergi ke disko pada hari Sabtu. Makanya, dalam tas sudah
disiapkan pakaian ganti seperti celana jins dan kaus oblong,” kata Fitri
yang ditemui di diskotek Hotel Princess, Palembang.

Senada dengan Fitri, rekannya bernama Uci, 15, mengungkapkan, keluyuran di
diskotek setiap Sabtu merupakan hiburan semata-mata. “Tapi kalau ada yang
mengajak kencan, boleh-boleh saja, asalkan sama-sama memberi keuntungan,”
ujar Uci.

Ia berterus terang mengenai latar belakang terceburnya dia dan kawannya ke
bisnis kenikmatan sesaat ini, karena tergoda ekstasi. Fitri dan Uci
bersama tiga kawannya yang ABG di diskotek itu, terus mengoyang-golyangkan
kepala dan badannya di tengah ingar bingar musik ‘gedek-gedek’ (house
music), yang sambung-menyambung. Itu tanda mereka sedang triping.

Diskotek tersebut memang ‘gudang’ gadis ABG. Pekan lalu, saking
membludaknya, tak ada ruang lagi, ratusan ABG yang memenuhi diskotek di
lantai V, hotel di kompleks pertokoan Ilir Barat Permai itu, tidak leluasa
lagi berimprovisasi dalam menggoyangkan badannya.

Entah kapan mulainya para ABG di Palembang melakukan bisnis esek-esek.
Tapi, yang jelas fenomena ini mulai marak sejak krisis moneter melanda.
Jumlah ABG yang berpraktek sampingan, semakin hari semakin bertambah. Di
pusat-pusat keramaian ABG ini terlihat jelas seperti di Jl Merdeka mulai
dari kediaman Wali Kota Palembang hingga ke kantor Pemda Tk II Palembang,
diskotek Hotel Princess, Hotel Lembang, Dharma Agung, Dian Cottages, dan
di kawasan Jalan Pagaralam.

Fitri maupun Uci, keluarganya yang tergolong orang terpandang di
Palembang, tidak sembarangan memilih teman kencan. “Duit bukan tujuan
utama, yang penting kita bisa sama-sama happy. Ya, apalagi kalau bukan
dengan triping,” tambah Fitri, yang selalu memberi tahu orang tua bahwa
setiap Sabtu dirinya ikut les pelajaran bahasa Inggris.

Ada juga ABG yang memang tujuan utamanya mengejar uang, “Saya mau kalau
dikasih uang Rp 100 ribu sekali kencan,” ujar Juli terus terang. Cewek
bertempat tinggal di Plaju ini bercerita, uang itu diperuntukkan untuk
memenuhi kebutuhan dirinya seperti transpor, biaya sekolah, dan kebutuhan
adik-adiknya. Menurutnya, sampai saat orang tuanya yang pensiunan PNS ini
tak tahu-menahu ‘profesi’ barunya.

Biasanya, kata Juli, dia di-booking om-om yang berduit. Alasannya, kata
gadis berparas lumayan ini, selain tidak pelit, om-om senang itu sangat
menjamin kerahasiaannya. Termasuk kerahasiaan pribadi om-om tersebut.

“Yang penting, orang tua saya tidak berat lagi menanggung beban sekolah
saya dan adik-adiknya yang empat orang,” ujar Juli. Ia bercita-cita
menjadi seorang perawat.

Bisnis esek-esek para ABG ini sangat kentara di diskotek Hotel Princess.
Hotel yang terletak di kawasan pertokoan Ilir Barat Permai ini sengaja
membuka acaranya hari Sabtu siang dari pukul 13.00 WIB sampai pukul 17.00
WIB.

Acara ekstrashow itu juga dilanjutkan dengan Minggu pagi keesokan harinya.
Makanya, pada Sabtu siang, hotel bintang tiga ini banyak dikunjungi para
ABG. Lobi di lantai bawah terlihat penuh sesak karena daya tampung tidak
memadai.

Untuk menjaring ABG yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, maka si
lelaki iseng cukup menunggu di lobi hotel. Sebab, rombongan ABG ini
biasanya menawarkan diri untuk naik ke atas (diskotek) karena tidak mampu
membayar cover charge seharga Rp 15 ribu per orang.

“Kita tunggu saja dan pilih mana yang suka,” kata seorang pengusaha pupuk
yang mengincar ABG yang hendak triping tersebut. Dan memang banyak ABG
yang dengan manjanya mengajak kencan sambil triping.

Para gadis ABG sudah senang bila ditraktir minuman, rokok, dan cover
charge. “Kalau mereka mau triping, harus disediakan pil ekstasi,” kata
seorang penjaga pintu diskotek terkenal di Palembang itu.

Mereka juga bisa langsung dibawa ke kamar hotel itu. “Makanya, setiap
Sabtu dan Minggu, kamar Hotel Princess selalu penuh,” kata seorang
pengunjung.

Manajer Hotel Princess, Tommy mengatakan, dirinya hanya penyedia tempat
hiburan saja. Soal ada transaksi antara ABG dan pengunjung, dirinya tidak
tahu, katanya.

Cerita Bersambung 8:40 pm

wow
CIANJUR – JAWA BARAT

Salah-salah, Bisa Terperangkap yang Palsu

BILA Anda ke Cianjur dan bertemu seorang gadis dengan tahi lalat di dagu
sebelah kiri, kulit putih, hidung mancung, dan tingginya 165 cm. Dia
adalah Dian, putri salah seorang pegawai bank milik pemerintah di daerah
berhawa dingin itu.

Dian yang baru saja tamat SLTA, terjun ke ‘dunia hitam’ sejak di kelas 1
SLTA. “Pacar saya tidak bertanggung jawab,” katanya. Ia bercerita,
kegadisannya direnggut oleh sang pacar, lalu ditinggal pergi. Ia
kebingungan dan putas asa.

Dalam kondisi yang tidak menentu itu, ia bertemu dengan seorang teman yang
menjanjikan bisa memberikan ketenangan. “Saya diberi pil dengan bayaran Rp
30.000. Saya jadi lupa segalanya,” katanya. Ia kemudian ketagihan.

Dian biasa nongkrong di salah satu diskotek. Ia sering kali mengenakan
T-shirt kuning dan celana hitam. Lalu bagaimana menggaet Dian. Tidak
terlalu susah, “Beliin saja dia 10 butir, pasti dia mau,” kata seorang
germo bernama Helmy. Ketika ditelusuri, ternyata Dian ini memang anak
seorang pejabat bank pemerintah di Cianjur dan tinggal di kawasan elite.
Dian tidak terlalu memilih pasangan, yang penting disediakan pil ‘gila’
itu.

Untuk mendapatkan 10 butir ekstasi. Helmy bisa mengusahakan dalam waktu
sekejap dengan harga Rp 30.000 per butir.

Menurut pengakuan Dian, selain karena perlakuan pacarnya, ia juga merasa
tidak betah di rumah. “Ibu dan bapak sering bertengkar, tanpa saya tahu
penyebabnya,” kata Dian.

Dian belum berniat untuk kuliah. “Orang tua juga tidak memaksa saya, yang
penting saya happy dulu deh,” katanya.

Bila diajak, Dian tidak pernah menuntut bayaran. Ia lebih mengutamakan
bersenang-senang, “Untuk kebutuhan sehari-hari, saya cukup,” ujarnya.

Lain lagi cerita Novi. Gadis berusia 16 tahun ini, memang mencari uang.
Saat ini sekolah di sebuah SLTA swasta di Cianjur. Gadis berkulit putih
dengan tinggi 162 cm, datang ke Cianjur awal 1997 untuk melanjutkan studi.
Dia sendiri berasal dan lahir di sebuah desa, di Kecamatan Sindangbarang,
sekitar 120 kilometer dari Kota Cianjur.

Uang bulanan yang dikirim ayahnya yang menjadi petani, ternyata tidak
mencukupi untuk kebutuhan hidup di Cianjur. “Hanya diberi uang Rp 100 ribu
tiap bulan, sangat tidak cukup untuk seorang gadis seperti saya,” ujarnya.

Setelah satu tahun di Cianjur, dia mulai mengenal yang namanya diskotek
dan kehidupan malam lainnya. Sampai suatu ketika, dia diajak teman sekolah
pria, Michael, ke sebuah hotel di kawasan Puncak dan dikenalkan kepada
pria setengah baya yang menghuni sebuah kamar di hotel berbintang. ‘’Saya
diminta melayani laki-laki itu selama dua jam,'’ kata Novi.

Sejak saat itulah dia menjadi ketagihan, karena mendapat uang secara
mudah. Diakui pula, pertama menerima uang sebesar Rp 200 ribu, itu pun
melalui teman prianya tadi.

‘’Saya sendiri tidak tahu berapa yang diberikan kepada teman pria saya
itu,'’ katanya polos. Selanjutnya, teman prianya itulah yang menjadi
‘manajer’ sampai saat ini.

“Kebetulan Michael di rumahnya punya telepon, jadi segalanya lancar,'’
ungkap Novi, yang mengaku hingga kini masih kos di sebuah kamar ukuran 2 x
3 meter dengan biaya sewa Rp 50 ribu/bulan.

Gadis berwajah oval ini, memasang tarif untuk short time antara Rp 200
ribu hingga Rp 300 ribu. ‘’Tapi kadang-kadang bisa Rp 150 ribu atau Rp 100
ribu bila saya suka kepada yang mem-booking saya,” katanya.

Penghasilannya dibagi 60:40 dengan Michael. Tapi dia tidak mau diajak
menginap. ‘’Takut ketahuan ibu kos,'’ tambahnya.

Umumnya, tarif ABG di Cianjur antara Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.
Selain di diskotek di kawasan Puncak, mereka bisa dijumpai di beberapa
salon kecantikan.

Di daerah itu, ada dua ‘jenis’ ABG, yaitu anak sekolahan dan ABG ‘liar’.
Yang masih sekolah biasanya tinggal di rumah kos atau rumah orang tuanya.
Sedangkan yang ‘liar’ kebanyakan tinggal di rumah kontrakan.

Kendati ciri-cirinya sudah diketahui, untuk bisa bertemu ABG ‘murni’ di
Cianjur memang gampang-gampang susah. Salah-salah, malah bisa bertemu
dengan wanita yang menyamar sebagai ABG.

Besarnya minat para hidung belang kepada ABG ini justru dimanfaatkan
germo-germo di lokalisasi WTS. Mereka mendandani WTS muda usia, dan
meng-up grade-nya seolah-olah WTS itu pelajar yang sering pula
menyebut-nyebut nama sekolah tertentu. Harga WTS itu kemudian menjadi
mahal dan menjadi saingan para ABG. Tidak jarang para WTS itu mangkal di
kafe-kafe dan diskotek dengan lagak seorang pelajar.

ABG tidak ‘bertindak’ sendiri-sendiri, selalu menggunakan perantara.

Para germo, juga dari kalangan pelajar atau karyawan. Ruddy, 28 tahun,
misalnya karyawan sebuah BUMN di Cianjur, menjadi perantara ABG berawal
dari rapat kerja badan usahanya tempat dia bekerja yang dihadiri pejabat
di tingkat pusat.

‘’Saat itu saya disuruh pimpinan saya di Cianjur untuk mencari sedikitnya
delapan ABG yang bisa dikencani bos-bos dari Jakarta,” katanya.

Memang, awalnya cukup rikuh, tapi lama-lama jadi terbiasa ‘’Setiap ada
meeting/rapat kerja yang memerlukan partai besar, saya selalu dihubungi,
baik itu dari perusahaan saya sendiri maupun instansi lain yang
membutuhkan. Tapi saya lihat-lihat dulu orang yang menghubungi saya, bisa
dipercaya atau tidak,'’ kata Rudy.

Seorang karyawan hotel di kawasan puncak, Andri, juga sering menjadi
pemasok ABG bagi tamu-tamu hotelnya baik rombongan maupun perseorangan.
“Biasanya jika hendak memesan, harus satu hari sebelumnya,'’ kata Andri.

Alasannya, dia harus mengontak dulu para ABG itu masing-masing di
sekolahnya. Ia tidak segan-segan menyebut nama-nama sekolah para ABG yang
bisa dihubungi.

“Biasanya kami ketemu di warung-warung sekitar sekolah, dan saya mengaku
sebagai keluarga mereka dari daerah. Setelah itu kami janjian ketemu di
suatu tempat,'’ kata Andri.

Biasanya tempat rendezvous berikutnya di sebuah restoran di bilangan Jl
Mangunsarkoro atau di salon-salon kecantikan.

Selain menggunakan jasa germo terselubung, kalangan ABG bisa dijumpai di
diskotek-diskotek di kawasan Cipanas, Puncak, setiap malam Sabtu dan
Minggu. Mereka biasanya bergerombol dan membawa teman pria yang berfungsi
sebagai perantara. (Bersambung9)

BATAM- SUMUT.

“SAYA hanya mencari uang,” kata Tati. Gadis berusia 15 tahun itu, bisa
ditemukan di salah satu karaoke di Nagoya, Pulau Batam. Ia dipajang dalam
etalase dengan nomor dada 16.

Di dalam etalase, Tati selalu tersenyum. Ia sengaja duduk dengan
menopangkan kaki kakan di atas kaki kirinya, sehingga rok mini yang
dikenakan sedikit tersingkap.

Bagaimana cara berkenalan dengan Tati? Seorang petugas di tempat itu akan
dengan gampang memanggil Tati ke luar etalase, jika menyebut angka yang
terpampang di dadanya. Bukan hanya Tati, puluhan gadis lain yang dipajang
di tempat itu, bisa keluar dengan sekali menyebut angka.

Belakangan ini, Batam sudah menjadi ‘gudang’ pelacur ABG. Jumlahnya bisa
mencapai ribuan orang. Para gadis berusia antara 14 sampai 19 tahun ittu
ditampung di ratusan rumah toko (ruko) di kawasan Nagoya dan Sei Jodoh.
Pada malam hari, mereka menjadi ‘pemikat’ di sekitar 30 tempat hiburan
yang tersebar di Batam.

Umumnya tempat hiburan seperti diskotek, karaoke, panti pijat, menyimpan
sekitar 50 sampai 100 orang wanita muda yang masih tergolong ‘anak baru
gede’ (ABG) sebagai karyawan untuk menjaring tamu-tamu yang haus hiburan.

Kecuali pub, hampir semua tempat hiburan menyimpan wanita. Meski tidak
langsung terlihat di etalase tempat hiburan, karena ada larangan dari
pemerintah dan Otorita Batam, namun hampir tidak ada tempat hiburan yang
tidak menyediakan wanita.

Di setiap tempat hiburan itu, para ABG dikordinasi oleh seorang germo,
yang biasa dipanggil dengan sebutan mami. Jika ada yang memesan, si mami
dengan gampang menuntun para ABG seperti Tati untuk duduk di samping pria.

Tati mengaku, berasal dari sebuah desa di Jawa Barat. Ia datang ke tempat
itu bertujuan mencari uang sebanyak mungkin. Untuk itu ia belajar berbagai
hal, termasuk memilih parfum yang bisa memancing gairah pria. Ia juga
sudah pandai menyanyi.

Tati juga sudah terbiasa menyapa orang dengan bahasa yang sangat santun.
Bila bicara dengan pria, dia selalu merapatkan mulutnya ke telinga lawan
bicaranya, dengan napas agak diembuskan. “Itu cara mengundang pria,”
katanya.

Dengan berbagai cara, Tati selalu berupaya agar pria yang ditemani bisa
langsung mengajaknya ke ‘lantai atas’. Sebutan untuk tempat tersedianya
kamar tidur.

“Semakin banyak pria yang saya temani, semakin besar penghasilan saya,”
katanya. Itu makanya, Tati selalu mencari akal agar pria yang didampingi
bisa segera di ajak ke ‘lantai atas’.

Sebagai wanita pencari uang, Tati tidak pernah memilih teman kencannya.
Dia bersedia menerima siapa saja, “Saya sering melayani pria tua dari
Singapura,” katanya.

Tati merasa betah di tempat itu. Sejak datang dari Jawa Barat, Tati telah
dua kali memperpanjang kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja. Satu
ikatan kontrak lamanya empat bulan. Sepanjang waktu itu, dia tidak boleh
keluar kecuali seizin mami atau diboking pria.

“Kontrol terhadap kami sangat ketat, sehingga tidak bisa sesuka hati pergi
ke suatu tempat,” katanya. Germonya, harus tetap mengetahui di mana posisi
mereka setiap saat, karena kadang-kadang ada ‘pesanan’ mendadak.

Di perusahaan itu, ada sekitar 80-an wanita seperti Tati. Untuk membawa
mereka selama 1 malam, harus membayar Rp 300.000. Mereka boleh dibawa sore
hari atau malam hari, sampai besok harinya paling lambat pukul 09.00 WIB.

Mereka hanya memperoleh sebagian kecil dari tarif yang dikenakan oleh
pengelola hiburan. Itu sebabnya, para ABG banyak yang memilih untuk
tinggal di luar agar gampang menjaring pelanggan tanpa ikatan.

“Kami hanya mendapat Rp 40.000 untuk short time, sementara untuk satu
malam, kami hanya mendapat Rp 100.000,” ujar Iis, 16 tahun. Pengaturan
tarif sebesar itu dilakukan karena untuk short time, perusahaan memberikan
Rp 40.000 untuk sewa kamar, Rp 20.000 bagi sopir taksi atau pengantar, dan
Rp 60.000 ke perusahaan.

Setelah uangnya terkumpul, mereka biasanya pulang kampung. “Tapi tidak
selalu banyak dibawa ke kampung, karena banyak potongan tinggal di sini,”
ujar Titi, 18 tahun. Pada masa kontrak empat bulan lalu, Titi mengaku
hanya membawa uang sebesar Rp 2 juta ke kampung.

Wanita berkulit kuning langsat itu mengakui dirinya memang boros.
Majikannya sering membawa pakaian-pakaian yang menarik dan dibagikan
kepada mereka, yang mengambil harganya dihitungkan pada akhir masa
kontrak. Umumnya harga pakaian itu jauh di atas harga normal.

Akibat pemerasan oleh majikan itu, banyak ABG yang melarikan diri, “Karena
tidak ada uang masuk, sementara biaya hidup di sini semakin tinggi,” ujar
Yayang, 17 tahun. Semula, wanita penghuni karaoke tempat Yayang bekerja
berjumlah 120 orang, sekarang tinggal 60 orang.

Di luar tempat hiburan, terdapat ABG yang memang berasal dari Batam atau
daerah sekitarnya dan masih sekolah di SLTA. Tapi jumlahnya hanya sedikit.
Mereka bisa ditemukan di pusat keramaian Nagoya, Pelita, dan Jodoh, Batam
Timur.

ABG-ABG itu juga biasa mangkal di sejumlah diskotek, Lucky Plaza dan
hotel-hotel. Cirinya, mereka menggunakan pakaian dengan dada terbuka,
sepatu hak tinggi, serta menyandang tas kecil di punggung. Mereka keluar
dari rumah sekitar pukul 21.00 WIB hingga tengah malam.

Konsumen wanita ABG ini cukup beragam. Mulai dari pemuda yang bekerja di
sejumlah industri atau sektor informal, hingga pria tua bangka dari
Singapura atau Malaysia.

Bahkan sejumlah pria berumur dari Singapura menjadikan para ABG itu
sebagai istri simpanan.

Mereka diberi biaya hidup yang memadai, yakni mulai dari Sin$500 per bulan
hingga Sin$1.500 per bulan. Atau jika dirupiahkan, para istri simpanan itu
akan menerima tunjangan biaya hidup sebesar Rp 1 juta hingga Rp 4 juta per
bulan.

Mereka akan berada kembali di ‘remang’ malam begitu ’suaminya’ pulang ke
Singapura. Para istri simpanan itu, tidak terlalu susah digaet. Mereka
bisa diajak ke diskotek hanya dengan modal ekstasi.

Manado - Sulawesi Utara

SYENY marah-marah ketika seorang pria memberinya uang setelah selesai
berkencan, “Memangnya saya pelacur. Saya tidak sudi dibayar,” katanya
dengan nada tinggi, sambil bergegas meninggalkan kamar sebuah hotel di
Manado, Sulawesi Utara.

Gadis berusia 16 tahun, siswa sebuah SMU di Manado itu, menceritakan
pengalamannya berkencan dengan seorang eksekutif muda, hanya untuk mencari
pengalaman.

“Biasanya orang yang lebih dewasa, lebih berpengalaman,” ujarnya.
Pengalaman yang hendak ditimba dari pria dewasa, akan ‘ditularkan’ lagi
kepada pacarnya.

Syeny biasa berkeluyuran dari satu diskotek ke diskotek lainnya. Bila akan
menggaet ‘mangsa’ di dalam diskotek, Syeny selalu mencari pria yang duduk
sendirian. “Saya ajak dia berbincang-bincang. Biasanya berakhir di kamar
hotel,” ujarnya.

Ia tidak mau mendekati sembarangan pria. Pilihannya, yang kelihatan
berwibawa, dewasa, necis, dan ganteng. Pria dengan ciri-ciri seperti itu,
menurut Syeny, tidak perlu diragukan lagi, pasti kantongnya tebal, “Tapi
saya tidak pernah mengincar kantong pria. Tapi saya percaya, pria
berkantong tebal pasti memiliki banyak pengalaman dengan wanita. Itu yang
ingin saya dapatkan,” tuturnya.

Gadis berkulit bersih itu berterus terang bahwa dirinya agak ‘gila’ seks.
Pertama kali, ia melakukan hubungan seks dengan pacarnya setelah menonton
VCD porno di rumahnya. Hubungan kedua, ketiga, sampai kelima kali tetap
dilakukan dengan sang pacar. Tetapi Syeny merasakan tidak ada variasi,
tidak seperti yang ditonton di VCD.

Didorong oleh keinginan mendapatkan ‘perubahan’ ia mencoba-coba mendekati
pria yang sedang menyendiri di sebuah diskotek, “Rasanya memang berbeda,”
ujarnya. Setelah itu, Syeny pun terperangkap dalam pelukan sejumlah lelaki
hidung belang.

Bicara soal diskotek, Syeny memang anak diskotek. Ia sudah menjelajah
semua diskotek yang ada di Manado. Ia acap kali masuk ke tempat hiburan
itu bersama pacarnya. “Tapi sekarang saya ke diskotek bersama teman-teman
wanita. Kadang-kadang juga sendiri,” tuturnya.

Ketika ia mengincar seorang pria di dalam diskotek, teman-temannya pun
melakukan hal serupa. Tetapi teman-temannya kebanyakan bertujuan mencari
uang, “Sekadar tambahan uang jajan,” kata Sisca.

Tarif yang dipasang para ABG itu bervariasi antara Rp 100.000 sampai Rp
300.000. Soal tarif, tergantung tampang dan sikap pria. Bila ganteng dan
menyenangkan, bisa dapat harga murah.

Tidak setiap malam mereka bisa mendapatkan pria, karena harus bersaing
dengan wanita lain yang memang sudah terkoordinasi dengan rapi, “Kami
harus bergerilya, dan berpura-pura sudah mengenal pria yang kami dekati,”
kata Sisca.

Selain di diskotek, mereka juga sering bergentayangan di mal. Salah satu
mal yang dijadikan tempat mangkal para gadis ABG di Manado, adalah mal di
Jl Sam Ratulangi, yang berhadapan persis dengan markas Korem 131/Santiago.

Di mal tersebut, mulai tengah hari sampai menjelang tutup, banyak gadis
ABG yang berkeliaran. Cara mereka memancing pria nakal, berpura-pura
menunggu seseorang sampil berusaha tersenyum bila bertatapan dengan
seorang pria.

Di tempat-tempat terbuka seperti di mal-mal, para ABG Manado biasanya
mondar-mandir. Cara jalan mereka persis sedang beraksi di atas cat-walk.
Dan untuk mendapatkan mereka, tak perlu main kucing-kucingan. Biasanya
diawali dengan makan bersama atau belanja. Seterusnya, terserah Anda, bisa
di motel di luar kota, atau di hotel.

Para pria yang sering berkencan dengan ABG pun sudah hafal betul gaya
mereka. Bila menjumpai ABG yang tersenyum, langsung didekati dan ngobrol
‘ngalor-ngidul’ sebentar, kemudian mencari tempat.

Menurut Meity, gadis ABG yang mangkal di mal tersebut, paling enak
menggaet pria yang dari luar kota, “Biasanya saya berpura-pura menyapanya.
Bila ada tanda-tanda dia suka, ya kami berangkat. Biasanya saya yang
menentukan tempatnya, kalau dia tidak tinggal di hotel,” katanya.

Uang yang diperoleh Meity setiap bulannya bisa mencapai Rp 1 juta. Ia
tidak bisa menghitung penghasilan harian, “Kan tidak setap hari. Lagi pula
saya tidak serius mencari uang dengan cara ini, hanya iseng,” kata gadis
berambut pendek, berusia 18 tahun itu.

Bicara mengenai uang, memang agak peka di kalangan ABG Manado, “Jangan
pernah bicara uang saat sebelum, sedang, maupun sesudah main. Itu tabu.
Kalau memang mau kasih, silakan,” ujar Joice, 17 tahun, rekan Meity.

Salah seorang pria yang sering berkencan dengan ABG mengatakan, ia hampir
tidak pernah mengeluarkan uang dalam berkencan dengan ABG. Ia mengeluarkan
uang paling untuk membeli makanan dan sewa kamar hotel.

“Di sini yang diperlukan adalah semangat hunting. Daya juang seorang
pemburu memang diuji di Manado. Seorang pemburu terkadang tak perlu modal
uang, tetapi kewibawaan dan kecerdikan. Sebab, ABG di Manado sangat sok
gengsi. Mereka berani melempar bundelan uang jutaan ke luar mobil, bila
tersinggung. Mereka tidak gila duit. Jangan bergaya sok kaya di hadapan
mereka. Wajar-wajar saja, necis, dan sopan,” kata Ruddy, 45, seorang
eksekutif muda yang cukup berpengalaman bergaul dengan para ABG itu.

Wilayah operasi para ABG Manado memang tak sulit dijumpai. Selain lokasi
di seputaran mal di Jalan Sam Ratulangi, baik di luar maupun di dalam
gedung, para ABG Manado dapat pula ditemui di sejumlah kafe di Manado
Boulevard, atau di beberapa tempat hiburan malam.

Sangat sulit menjumpai mereka di hotel-hotel berbintang. “Itu sudah
pasarannya wanita bayaran,” ujar Joice.

Joice menuturkan, ia tidak mau dibawa terlalu lama, apalagi diajak ke luar
kota, “Saya mesti ada di rumah paling lambat pukul 19.00,” kata Joice. Ia
tidak mau orang tuanya mencurigainya.

ABG Manado senang ‘bermain’ dengan para eksekutif muda dan tanpa harus
dibayar, selain untuk kepuasan, juga ada sesuatu yang cukup besar yang
mereka incar, yaitu pekerjaan.

“Banyak juga kawan kami yang bisa memperoleh pekerjaan di beberapa
perusahaan bonafid, apakah itu di Manado, Bitung, bahkan di Jakarta dan
kota-kota lainnya, hanya karena makin akrab berhubungan dengan para
eksekutif muda,” ungkap Meity.

Cerita Bersambung 8:39 pm

wow
SURABAYA - JAWATIMUR

Anak ‘Bau Kencur’ di Segi Tiga Emas Surabaya

GINCUNYA tidak terlalu tebal. Ia sepertinya baru belajar memakai pemerah
bibir. Ia berusaha tersenyum sambil memainkan telunjuk kanannya yang
ditempel di pipinya, ketika lampu mobil menyorot ke arahnya. Gadis ‘bau
kencur’ itu mundur beberapa langkah begitu mobil berhenti di dekatnya. Dan
posisinya diganti seorang pria.

Siapa pria itu. Jangan terlalu cemas, itu adalah ‘negosiator’. Di kawasan
yang terkenal dengan sebutan ’segi tiga emas’ Surabaya, yaitu Jl Pemuda,
Jl Tais Nasution, dan Jl Simpang Dukuh setiap malam pemandangan seperti
itu merupakan hal biasa. Di kawasan itu, setiap hari mulai pukul 18.00
para ABG (anak baru gede) mulai pasang aksi.

Untuk bisa ‘menggaet’ ABG di Surabaya memang gampang-gampang susah. Untuk
yang memakai mobil pribadi, tidak sulit. Dengan, sekali tekan klakson,
mereka akan mendekat dan menawarkan diri. Masalah tarif bisa dibicarakan
sambil berjalan, kalau tidak cocok, bisa dikembalikan ke tempat di mana
mereka mangkal. Atau melakukan tawar-menawar melalui ‘negosiator’ alias
germo.

Tapi, bagi mereka yang tidak memiliki mobil pribadi, dengan taksi saja
sudah bisa asalkan jangan berdua. Harus sendiri. Apalagi, memakai sepeda
motor, mereka akan menolak secara tegas. Itu yang dialami Media ketika
mendekati mereka sambil mengendarai sepeda motor.

Seorang penjual minuman yang mangkal di Jl Pemuda, langsung
memperingatkan. “Kalau mau booking ABG, jangan sekali-kali ada dua pria
dalam taksi itu, atau sepeda motor, mereka tidak mau, malah lari,”
katanya.

Pernah ada ABG yang dibawa oleh dua orang, ternyata di tengah jalan
seluruh perhiasannya dipreteli, termasuk uangnya. Sejak, kejadian itu
mereka sangat hati-hati.

Media kemudian, seorang diri mencarter taksi sambil menelusuri kawasan
’segi tiga emas’ itu. Saat di Jl Tais Nasution, taksi melaju pela-pelan.
Para ABG yang berjejer mulai tampak senyum-senyum, sambil memainkan
tulunjuknya yang ditempel di pipi.

Begitu melihat di dalam taksi hanya satu orang dan mobil berhenti, mereka
kemudian melangkah mundur. Dan tampil seorang pria yang berpakaian sangat
rapi.

Pria itu membungkuk ke jendela mobil, “Malam Bos, cari cewek. Tinggal
pilih,” kata germo itu sambil menyebutkan nama-nama ABG yang ada dalam
‘genggamannya’.

Ia menunjuk, “Yang pakai kaus putih, umurnya baru 16 tahun, sedangkan yang
kaus hitam umurnya 19 tahun. Tinggal pilih, mana yang suka,” ujar pemuda
yang mengaku bernama Teddy.

“Berapa tarifnya,”tanya Media. “Di kawasan sini sudah biasa, antara Rp 150
ribu sampai Rp 200 ribu. Untuk short time, selama tiga jam. Selebihnya,
silahkan bos yang transaksi dengan ceweknya. Yang, jelas kita pasang tarif
itu,” katanya.

Apa boleh ditawar. Tentu saja, bisa, tarif yang dipatok tidak mutlak, tapi
bisa ditawar. Asalkan, jangan sampai Rp 100 ribu, pasti tidak akan
digubris.

Transaksi biasanya tidak bisa langsung OK, tapi harus melalui proses. Pada
saat itu, GM (panggilan khusus untuk negosiator) memanggil cewek yang
dimaksud agar masuk lebih dulu ke dalam mobil. Tujuannya, tidak lain agar
konsumen tahu wajah dan panampilannya. “Biasanya di jalan, waktunya sangat
sempit, maka ceweknya diperintahkan masuk dulu. Biar, Bos tahu saja,”kata
Teddy.

Jika tidak berkenan, mereka juga tidak kecewa.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Jl Embong Sawo, tidak jauh dari Jl
Pemuda, hanya sekitar 50 meter. Di tempat ini, tampak dua ABG duduk di
atas sepeda motor, sambil menghisap rokok. Keduanya, tidak langsung
mendatangi mobil. Tapi, germo yang menghampiri begitu jendela mobil
terbuka. Kalimat pertama yang keluar adalah, “Malam. Cari cewek,” katanya.
“Maaf, tinggal dua ABG, lainya sudah di-booking orang. Tapi, saya jamin
tidak rewel. Siap, main dalam bentuk apa pun juga,” ujarnya setengah
memaksa.

Di kawasan Jl Embong Sawu ini tarifnya memang agak sedikit mahal
dibandingkan dengan ABG di Jl Tais Nasution. Yang membedakan karena di
kawasan itu ABG-nya benar-benar masih ‘bau kencur’. Untuk tiga jam, mereka
pasang tarif Rp 200 ribu. Memang, bisa ditawar tapi tetap saja tidak boleh
di bawah Rp 150 ribu.

“Jangan disamakan dengan yang lain. Cewek di sini memiliki ketangguhan
dalam hal servis,” ujar sang germo. Tanpa menyebut, jenis ketangguhan yang
dimaksud.

Di Jl Simpang Dukuh memang lebih ramai dibandingkan tempat mangkal lainnya
karena terdapat diskotek. Selain itu, tidak ada penerangan jalan yang
menyebabkan anak-anak baru gede itu tidak malu-malu menawarkan diri kepada
‘konsumen’ yang kebetulan lewat di tempat tersebut. Di kawasan ini, mereka
agak jual mahal. Tidak sembarangan mau diajak.

“Cewek di sini memang jual mahal, Mas. Kalau, orangnya itu tidak bermata
sipit, jarang yang mau. Tapi, kalau punya mata sipit dan bermobil,
langsung tancap,” kata seorang pedagang yang biasa menjadi tempat mangkal
ABG.

Seperti kawasan lainya, peran germo sangat dominan. Ini tidak lain, karena
sikap malu-malu yang ditunjukkan para ABG tersebut. Ketika, Media melewati
kawasan itu, sejumlah ABG hanya bergerombol, sepertinya mereka tidak
terlalu peduli terhadap ‘tamu’ yang datang.

“Silakan pilih sendiri. Ini namanya Hana dan ini namanya Yeni. Dua-duanya
ABG tulen,” kata germo bernama Sandy. Untuk meyakinkan konsumen, mereka
tidak malu-malu menyebut bahwa keduanya bisa diajak ‘karaoke’ istilah oral
seks di kalangan ABG.

Tarifnya tidak jauh beda dengan ABG yang mangkal di kawasan lainya, yakni
Rp 150 ribu. Bahkan, kalau pandai menawar bisa turun hanya Rp Rp 125 ribu
untuk tiga jam pemakaian. Kalau mau nambah bisa dikalikan sendiri.

Tapi di kawasan ini harus ekstrahati-hati, germo sering main paksa.
Kendati hanya sekadar minta uang rokok, tapi biasanya memanfaatkan ABG
dengan menyebutkan bahwa ‘anak asuhnya’ itu punya utang.

Seperti yang dialami Media, seorang germo mengatakan kepada salah satu
ABG, “Han, kamu kan punya utang sama saya Rp 15 ribu, bagaimana kalau Bos
ini yang bayar, tidak apa-apa kan,” kata Sandy. Ketika disodorkan uang Rp
20 ribu, germo itu mengatakan, “Terima kasih Bos, silakan nikmati malam
minggunya.”.

Germo di Jl Tais Nasution, paling sedikit memiliki lima ‘anak asuh’, dan
paling banyak 20 orang. Mereka selalu membawa foto ‘anak asuh’ dalam
berbagai pose.

Mereka sebagian besar dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Jika ditanya,
mereka tidak sungkan-sungkan menyebut nama SLTA tempat mereka sekolah atau
menyebutkan nama perguruan tingginya bagi yang mahasiswi.

‘Kalau Saya Suka, Gratis pun Jadi’

“KALAU saya suka, gratis pun jadi,” kata Hana. Gadis manis yang tahun lalu
lulus sebuah SLTP di Probolinggo itu akan sangat senang bila bertemu
dengan pria ganteng.

Ukuran ganteng bagi Hana tidak ada standar khusus, misalnya tinggi besar,
atletis, berkumis atau lain sebagainya, “Pokoknya ganteng dan saya suka.
Oke,” ujarnya sambil tersenyum.

“Tapi biarpun uangnya satu karung, kalau saya tidak suka, ya saya enggak
mau,” katanya.

Sudah berkali-kali ia tidak mau menerima bayaran dari pria ganteng yang
disukai. Yang paling melekat di hatinya, adalah seorang pria ganteng dari
Indonesia timur.

Ia terjun ke dunia ‘hitam’ bukan hanya karena persoalan ekonomi. Tapi
lebih pada kebebasan dan kepuasan bergaul dengan banyak orang dari
berbagai kalangan. Dia percaya betul bahwa bergaul dengan banyak orang,
akan memperoleh segala-galanya. “Kesenangan itu adalah segala-galanya,”
katanya.

Dan yang paling penting, “Saya bisa senang-senang,” katanya. Hana mengaku
kenal dengan banyak wartawan. Bahkan yang menjadi germonya di Jl Tais
Nasution itu adalah seorang wartawan. Ia tidak bersedia menyebutkan nama
media tempat germonya bekerja.

Hana tidak bersedia diajak pergi terlalu jauh dari pangkalannya, “Saya
lebih senang diajak ke Pinang Inn,” ujarnya. Ia menyebut nama sebuah hotel
tempat biasa mengajak teman kencannya chek in. Ia tidak mau terlalu jauh,
karena sudah harus di rumahnya kembali paling telat pulul 23.00.

Di Surabaya cukup banyak hotel yang sudah dikenal oleh ABG, antara lain
Hotel Pinang Inn (Jl Dinoyo), Hotel Puspa Asri (Jl Kenjeran), Hotel Malibu
(Jl Ngagel), Hotel Pondok Hijau (di kawasan Bukit Darmo Golf Surabaya).

Para sopir taksi juga sudah hafal betul nama-nama hotel tersebut. Sekali
sebut saja, pasti tidak akan salah alamat. Biasanya, tarif hotel untuk
enam jam pertama yakni Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu, dengan fasilitas
sebuah televisi, kulkas, dan air hangat.

ABG jalanan ternyata bersaing dengan ABG yang sudah tersedia di
hotel-hotel. Seperti di Pinang Inn, misalnya, begitu mobil masuk ke
lapangan parkir, seorang petugas langsung berkata, “Lain kali kalau ke
sini, tidak perlu bawa pasangan, di sini banyak.” Ia menawarkan beberapa
SPG (sales promotion girl) yang biasa bekerja di pertokoan elite.

Ia juga bercerita soal tanda-tanda kamar hotel sedang kosong atau penuh.
Jika, tampak tertutup, berarti kamar sedang terpakai, jika terbuka berarti
kosong.

Lalu siapa saja yang pernah masuk kamar hotel bersama Hana? Ia menyebut
sejumlah nama. Tapi yang paling berkesan adalah ketika berkencan dengan
anak pejabat Pertamina dari Jakarta. ‘’Enak. Dia royal dan ganteng,” kata
Hana.

Hana mengaku terjun ke dunia ‘hitam’, karena dikhianati pacar. Sejak SLTP
dia memang sudah mengenal hubungan seks, yang dilakukan pertama kali
bersama pacarnya. Tapi sang pacar berkhianat, “Sejak itu saya menjadi
petualang cinta. Dari pelukan lelaki satu ke lelaki lain. Saya tidak tahu,
sampai kapan saya bisa selesai,” ujarnya.

Menurut Hana, teman-temannya sesama ABG tidak pernah takut dengan ganasnya
virus AIDS. Mereka tidak teralu suka jika teman kencannya menggunakan
kondom.

Hal itu dibenarkan oleh Rika, ABG yang mengaku masih sekolah di kawasan,
Jl Arjuno, Surabaya. Rika selalu menelan antibiotik jika, akan berkencan
seorang pria, siapa pun dia. Selain itu, dirinya juga selalu rajin suntik
untuk menghindari kehamilan.

“Saya juga punya dokter pribadi, yang setiap saat memeriksa kesehatan
saya. Jadi, jangan khawatir kalau saya terkena penyakit,'’ kata Rika yang
mengaku terjun menjadi pelacur karena diperkosa kakak iparnya.

Rika selalu membatasi jumlah teman kencannya. Setiap, malam dia mengaku
hanya melayani satu orang, “Kalau lebih dari satu orang, capeknya setengah
mati,” kata Rika.

Tentu saja, karena setiap kali kencan dia ‘habis-habisan’, “Tenaga saya
hampir tidak tersisa. Ya, dia puas, saya puas. Selain itu dapat uang.
Untungnya dua kali, puas dan dapat uang,” ujar Rika.

Rika mengaku, di antara para ABG di Surabaya, kalau bicara soal gaya seks,
dialah jagonya. Hampir semua gaya dia kuasai. Itu didapat dari film biru
dan bacaan-bacaan tentang seks.

“Jualan itu yang penting bukan isinya, tapi kemasan dan modelnya. Saya
siap dengan model apa pun. Bahkan sering kali saya mengajarkan tamu
tentang gaya-gaya yang belum dikenal. Biasanya dia puas dan akan mencari
saya lagi,” ujarnya.

Kendati sudah habis-habisan, banyak juga pria hidung belang yang
permintaannya aneh-aneh. “Ya ini ya itu, pokoknya kita ini harus siap,
diapakan saja. Asalkan, satu, jangan sampai lewat ini,” kata Rika sambil
menunjuk pantatnya.

Rika sudah memahami betul bahwa menjadi ABG jalanan harus siap menghadapi
risiko apa pun. Termasuk, jika tamu yang dihadapai adalah hiperseks. Rika
mengaku pernah dibawa seorang pengusaha properti dari Jakarta. Awalnya,
memang biasa-biasa saja. Bahkan sangat romantis.

Tapi, setelah di kamar teryata orang itu hiperseks. Ia diminta melayani
sampai pagi, padahal saat itu waktu yang diberikan hanya tiga jam.
Awalnya, dia tidak mau, tapi setelah dijanjikan bayaran yang
berlipat-lipat, Rika langsung setuju.

“Begitu selesai badan saya rasanya seperti patah-patah. Pokoknya, saya
kapok melayani pria hiperseks,'’ kata Rika. Dari pengusaha properti itu
dia mendapat bayaran Rp 1 juta.

Rika mengaku, dia diperlakukan seperti bukan manusia. Pria tersebut
seperti tidak pernah merasa letih. “Saya kewalahan betul melayaninya.
Awalnya sih enak, karena dia pandai sekali. Tapi lama-lama saya jadi tidak
sanggup melayaninya.”

Oleh Rika, cerita soal pria hiperseks kemudian menyebar ke hampir setiap
ABG di Surabaya. Jadi mereka sangat takut berhubungan dengan pria semacam
itu.

Hal lain lagi yang ditakuti mereka adalah operasi petugas kepolisian.
Untuk mengelabui petugas, meraka selalu berpakaian sangat sopan. Tidak
pernah menggunakan rok mini atau baju yang menonjolkan bagian dada.

Selain itu, untuk menghindari kejaran polisi, para germo dan ABG sudah
membuat jaringan yang cukup rapi. Antara lain dengan cara menjalin
hubungan khusus dengan petugas. Biasanya begitu akan ada razia, si petugas
itu akan memberi tahu mereka.

MALANG - JAWATIMUR.

SISI namanya. Berusia 19 tahun. Anak seorang pengusaha terkenal di Malang
dan pengurus salah satu cabang olahraga. Hampir setiap hari nama ayahnya
muncul di surat kabar.

Gadis cantik, yang namanya minta dituliskan persis seperti yang tertera di
KTP-nya, adalah salah satu ABG ‘papan atas’ di Malang. Bila ‘turun’ ke
jalan, ia biasa disapa dengan nama Sisi.

Apa yang kau cari Sisi? “Biar ayah tahu kalau saya sekarang memilih
profesi ini. Jual diri,” katanya.

Secara sadar Sisi menyatakan harus melacur untuk membalas perlakuan
ayahnya yang amat jarang pulang ke rumah saking sibuknya. Namun dia tidak
akan mengobral pengakuan kepada sembarang orang, alasannya biar ayahnya
tahu secara alamiah dari mulut ke mulut.

Karena itu pula, dia tidak canggung sedikit pun tatkala kepergok wartawan
yang juga amat dikenalnya karena kerap datang ke rumahnya di kawasan elite
di Malang. Setelah ibunya meninggal pada 1995 lalu, praktis di rumah sudah
tidak ada figur panutan lagi. Jawaban Sisi terbilang klasik: korban broken
home atau kekisruhan rumah tangga seperti halnya ratusan pelacur ABG
lainnya. Sisi merasa tidak ada satu pun orang di rumahnya yang bisa
dijadikan tempat berlindung. Ia malah merasa terlindung di dalam dekapan
banyak pria yang menyukainya.

Kendati sebagai gadis muda belia yang cantik, Sisi lebih suka berdandan
ala kadarnya. Akan tetapi wajah cantiknya tak bisa disembunyikan.

Sebagai pelacur ABG, Sisi semula tergolong laris, namun kemudian banyak
ditinggalkan pelanggannya karena dinilai terlalu rewel.

Seorang pria yang cukup terpandang di Malang yang pernah beberapa kali
membawa Sisi, mengatakan, “Dia selalu minta cepat pulang. Setelah
di-booking pukul 12.00 WIB, pukul 17.00 sudah minta selesai dan
cepat-cepat memanggil taksi untuk mengantarkan ke rumahnya.”

Pria berusia 45 tahun itu sengaja memilih Sisi karena gadis tersebut
datang dari keluarga terpandang, dan sudah menjadi pembicaraan kalangan
atas di Malang.

“Saya sengaja memilih Sisi karena alasan prestise. Ternyata setelah saya
rasakan, dia banyak permintaan. Soal duit sih, dia tidak banyak tanya,”
katanya. Disebutkan tarif rata-rata pelacur sekelas Sisi –sebelum
dipotong honorarium GM-nya– Rp 500.000 sekali pakai. Sisi mengaku masih
kuliah, “Silakan cek kalau tak percaya,” ujarnya sembari menunjukkan KTM
(kartu tanda mahasiswa) sebuah perguruan tinggi kesohor di Malang.
Teman-temannya di kampus sudah banyak yang mengetahui Sisi menjadi
pelacur, “Mereka tidak terlalu peduli. Tidak sedikit teman saya yang
seperti saya. Kami saling tahu kelakuan masing-masing,” katanya.

Di Malang belakangan ini, memang banyak pelacur ABG yang datang dari
kalangan ‘atas’. Sedikitnya, saat ini ada 25 ABG dari kalangan etnis Cina.
Seorang gadis bermata sipit menceritakan tentang teman-temannya yang
terjun ke dunia ‘hitam’, yang semuanya berasal dari keluarga mampu.
“Sebelum ini, ayah saya pengusaha cukup sukses. Entah kenapa tiba-tiba
bangkrut,” cerita Lani, ketika ditemui di Dieng Plaza. Ia anak seorang
pengusaha di Kediri.

Lani mengaku, sejak bisnis ayahnya bangkrut itulah kiriman uang kuliah di
PTN terkenal di Malang tersendat-sendat. Terpaksa, Lani harus melayani
pria hidung belang. Rupanya, resesi ekonomi yang mendera Indonesia dua
tahun terakhir ikut menggelontor kelompok etnis yang selama ini dikenal
paling mapan ekonominya. Bagi Lani, profesi inilah yang mampu menyambung
napas hidup kuliahnya. Lani mengaku sekali dipakai dia mendapat bagian Rp
250.000. “Yang Rp 50.000 untuk Mami,” ungkapnya seraya menunjuk perempuan
40-an tahun yang duduk agak berjauhan.

Tapi tidak gampang menemui ABG di Kota Apel itu. Mereka bergerak secara
rapi. Lokasi mangkal ABG –di Malang kerap disebut ayam abu-abu (bagi yang
terlihat berseragam SMU) atau ayam kampus (khusus bagi pelacur ABG dari
kalangan mahasiswi)– bisa ditemui di Plaza Dieng, food court Plaza
Sarinah, di samping diskotek My Place, Laguna, dan Djoko Tarub Discoteque
di kawasan wisata Batu. “Ada pula yang terang-terangan membuka praktek.
Mereka bisa ditemui setiap saat di Hotel Royal Inn,” ujar seorang GM
seraya menyebut beberapa nama hotel. Sisanya, di Hotel Garuda atau
penginapan kelas bawah lain, merupakan pelacur profesional berusia 25
hingga 30 tahun. Berbeda dengan ABG di Surabaya yang berani menjajakan
diri di tempat terbuka seperti di pinggir jalan –para ‘pemakai’
menyebutnya sebagai pelacur embongan (jalanan)– di Malang hanya bisa
dijumpai di tempat-tempat keramaian seperti pertokoan atau kawasan tempat
nongkrong anak muda. Mereka juga bisa ditemui di karaoke, diskotek, atau
kafe.

Mereka memanfaatkan radio panggil (pager) bahkan ponsel (handphone) untuk
mempermudah transaksi. Mereka rata-rata bergabung dalam induk semang/mami
atau germo (GM). Tempat yang paling terkenal adalah kawasan Tlogomas dan
Jl Tirtonadi. Ada satu yang tidak beroperasi lagi yakni yang di Jl Bandung
14.

Di kawasan wisata Batu, mereka bisa ditemui di Jaka Tarub Discoteque di
Hotel Purnama. Masyarakat setempat juga mengenali ABG muka lama atau
pendatang baru.

Masih di Batu, ada satu lagi Diskotek Fantasia yang pada Jumat, Sabtu, dan
Minggu dijejali ABG. Di sekitar dua diskotek tersebut terdapat ratusan
vila yang bisa disewa per jam. Bahkan, harga sewa bisa terbilang sangat
murah, kecuali Sabtu dan Minggu. Pada hari biasa harga sewa dalam kisaran
Rp 25.000 hingga Rp 100.000 per paro hari. Tidak usah ragu-ragu, karena
para penjaga vila senantiasa bersikap proaktif. Mereka juga tak jarang
berperan ganda sebagai broker (pialang) atau perantara atas permintaan
para ABG. “Kalau akhir pekan mahal. Sebab kita sampai menolak permintaan,”
kata seorang penjaja vila di kawasan Songgoriti Batu. Maklum, mereka
kebanjiran ‘wisatawan’ dari Surabaya dan Jakarta. Dari mana mereka
berasal? Pengakuannya bisa macam-macam. Kebanyakan mengaku dari Blitar,
Kediri, Surabaya, atau daerah lain di Jatim. Tidak sedikit pula yang
berasal dari Kalimantan, Sulawesi, dan belahan Indonesia timur lainnya.
Tapi jumlahnya tidak bisa mengalahkan yang berasal dari Malang sendiri.

YOGYAKARTA - JAWATENGAH

Di Yogyakarta Mereka Disebut ‘Ciblek’

CIBLEK. Itu sebutan untuk pelacur ABG di Yogyakarta. Singkatan dari
cilikan betah melek.

Rinda, adalah salah satu ciblek yang hampir setiap hari mangkal di sebuah
mal kawasan Malioboro. Ia putri seorang dosen sebuah perguruan tinggi
terkenal di Yogyakarta.

Gadis manis satu ini minggat dari rumah orang tuanya karena merasa terlalu
dikekang. “Di rumah terlalu banyak larangan. Tidak boleh ini, tidak boleh
begitu. Rasanya seperti di penjara,” katanya.

Karena itu ia memilih untuk tinggal di rumah kos. “Rasanya lebih bebas.
Bisa melakukan apa saja. Pokoknya seenak sayalah,” ujarnya sambil tertawa
lepas.

Ia sangat menikmati kehidupannya sebagai ciblek “Naik mobil, tidur di
hotel, makan di tempat yang mewah, dan sebagainya,” katanya.

Kendati melek sampai larut malam, Rinda terbiasa bangun pagi-pagi untuk
berangkat sekolah. Ia sangat pandai menyembunyikan ‘profesinya’. Kalaupun
kepergok teman sekolah atau tetangganya di mal tersebut, ia tidak terlalu
khawatir. Karena di Yogyakarta terlalu banyak anak-anak remaja yang
nongkrong di pusat-pusat keramaian seperti itu.

Lalu bagaimana cara Linda menggaet pria hidung belang? “Tidak terlalu
susah. Saya tahu dari cara dia melirik. Lalu saya senyum sedikit, dia juga
tersenyum. Biasanya kalau pria sudah tersenyum, langsung mendekatkan diri.
Ya kemudian jalan,” cerita Rinda.

Para ciblek di Yogyakarta memiliki beberapa tempat mangkal. Mereka bisa
ditemukan di sebuah mal di kawasan Malioboro, di Jl Perwakilan atau di
kawasan Senisono.

Para remaja yang biasa nongkrong di tempat tersebut, menurut Rinda,
rata-rata ciblek. Antara pelajar dan mahasiswi, punya kelompok
sendiri-sendiri, sehingga tidak saling mengusik.

Untuk mendekati mereka, sebenarnya tidak terlalu gampang, meski tidak
sulit. Para ciblek ini biasanya lebih suka diajak berkenalan, makan-makan
baru kemudian transaksi.

“Tapi kami bukan pelacur,” katanya. Ia menyebut dirinya sebagai gadis
remaja yang mencari kesenangan. “Kalau pelacur, kan mau dibawa ke mana
saja dan oleh siapa saja yang penting diberi uang,” ujarnya.

Tapi Rinda selalu memilih-milih teman kencannya. Dia lebih suka pria yang
ganteng dan berpenampilan rapi. “Pria terlalu tua juga saya hindari. Kalau
40 tahun ke bawah okelah. Malu rasanya dengan bapak-bapak. Takut terbayang
orang tua sendiri,” katanya.

Khusus di kawasan mal, para ciblek bisa ditemukan di kedai makanan atau di
dekat WC umum. Sedangkan di kedai kopi yang ada di kawasan itu ditemukan
hombreng atau gay yang juga dari kalangan remaja.

Sedangkan di Senisono, kebanyakan adalah ciblek yang berbaur dengan
anak-anak jalanan. Sementara di Alun-alun Utara lebih banyak kaum homo.
Kawasan lainnya yang mulai marak dengan pelacuran anak-anak adalah
Alun-alun Selatan.

Tri, 17 tahun, salah satu ciblek ‘penghuni’ Alun-alun Selatan. Pengalaman
pertamanya melayani pria diperoleh tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Ia tinggal di Yogya Selatan yang pernah menjadi lokalisasi. “Kakek saya
memang punya kopel di SG. Ibu saya juga membantu,” katanya. SG merupakan
sebutan untuk Sanggrahan, kawasan resosialisasi para pelacur di Yogyakarta
yang kini telah tergusur untuk pembangunan terminal bus.

Kendati masih sangat belia, Tri cukup pandai memainkan harga jika ada yang
menawar. “Kalau mereka tanya ya saya jawab Rp 100.000 sekali main,”
katanya. Tapi tarif yang dipasang Tri bukanlah harga mati. Biasanya kalau
sudah diajak makan atau nonton oleh calon teman kencannya, harga akan
turun sampai Rp 25.000.

Soal harga, seorang pria yang sering menjadi perantara ABG di Alun-alun
Selatan, mengatakan, harga bisa ditekan serendah mungkin. Bahkan bisa
gratis.

Caranya? “Diakrabi dulu, ajak puter-puter, mabuk three in one baru jipan,
paling mahal no ban go atau Rp 25.000, sudah bisa di-ebut” kata Zuma, pria
muda yang sering menjembatani transaksi ABG itu.

Three in one adalah istilah untuk menyebut mabuk dengan pil, minuman
keras, dan sekaligus ganja. Istilah ini sering pula diganti dengan tiga
dimensi. Sedangkan ebut istilah untuk hubungan badan.

Setiap malamnya, Tri biasanya mengantongi Rp 15.000. Tapi kalau musim
‘panen’, penghasilannya bisa berlipat-lipat. Yang dimaksud musim ‘panen’,
bila kegiatan besar di Yogyakarta, baik berskala nasional maupun
internasional termasuk kegiatan olahraga, mereka akan mendapat banyak
pesanan. “Kalau ada kegiatan seperti ini, kami bisa mendapat Rp 250.000
selama tiga hari,” katanya.

Yang biasanya menggunakan ‘jasa’ mereka pada hari-hari biasa adalah para
remaja yang rata-rata memiliki uang saku yang cukup.

Lain lagi cerita Tiyas, yang biasa mangkal di sebuah kafe di Jl Perwakilan
jika yang mengajaknya itu orang yang tampak memiliki uang yang cukup
banyak, mengggunakan mobil, dan bahkan melengkapi diri dengan handphone
serta belum kenal, bisa mematok harga Rp 100.000 sekali main.

“Tapi kalau sudah kenal baik, harga bisa dikorting,” katanya. Tapi Tiyas
lebih suka berkencan dengan pria yang sudah dikenal alias telah
berkali-kali berhubungan dengannya.

Menurut Tiyas yang masih sekolah di sebuah SLTA, berhubungan dengan pria
yang belum dikenal terutama anak-anak sekolah atau mahasiswa, lebih banyak
susah daripada enaknya.

Seperti yang pernah dialaminya, sejumlah pria remaja mengajaknya ke rumah
kost, lalu diajak minum sampai mabuk. Setelah itu dikencani ramai-ramai.

“Sudah itu digabur atau dilepas begitu saja di suatu tempat yang cukup
sepi,” katanya.

Lokasi yang paling sering dijadikan tempat untuk nggabur adalah Ring Road
Selatan, yang relatif sepi dan jauh dari pemukiman penduduk.

Setelah kejadian itu, Tiyas menceritakan kepada teman-temannya. Ternyata
pengalaman serupa juga pernah dialami oleh temannya. “Jadi kalau pelajar
atau mahasiswa yang datang, siap-siap saja untuk kecewa,” katanya.

Bagaimana membedakan pelajar dan mahasiswa dengan pria yang sudah bekerja?
“Kalau pelajar atau mahasiswa datangnya rombongan. Kalau yang sudah
bekerja, biasanya sendirian,” ujarnya.

Karena ‘pintu’ sudah tertutup untuk mahasiswa dan pelajar, menurut Tiyas,
biasanya mereka mengencani pelacur liar yang biasa beroperasi di Alun-alun
Utara.

‘Ciblek Lanang’ Melayani Wanita Kesepian

CIBLEK lanang. Sebutan untuk ABG pria yang menjual diri di Yogyakarta.
Seperti juga gadis remaja, mereka juga anak sekolah dan punya tempat
mangkal sendiri-sendiri.

Mereka bersedia melayani siapa saja, pria homo atau wanita kesepian.
Ciblek lanang yang rata-rata pelajar SLTA dan mahasiswa, juga banyak
mangkal di mal dan pusat-pusat keramaian lainnya.

“Banyak pelancong wanita yang kesepian. Ya, mereka mencari kami untuk
menemaninya jalan-jalan dan tidur di hotel,” kata Koko, ciblek yang
sekolah di sebuah SMU di Yogyakarta itu menjelaskan. Pelancong wanita yang
sering menggunakan ‘jasa’ mereka kebanyakan datang dari Jakarta.

Wanita ‘pemburu’ ciblek lanang rata-rata berusia muda. “Ada juga berumur
40 tahun. Dan sepertinya mereka sudah bersuami. Tapi soal itu kami tidak
pernah tanyakan kepada mereka,” kata Koko.

Selain melayani pelancong, Koko juga kerap menemani para mahasiswi di
rumah-rumah kontrakan atau kamar kos. “Bila melayani mahasiswi, saya
sering diminta memakai kondom,” ujarnya.

“Tapi kalau dengan pelancong, jarang pakai kondom. Saya tidak tahu, mereka
suka polos,” ujarnya.

Tarifnya? Untuk mahasiswa rata-rata Rp 25.000. Paling rendah Rp 15.000,
“Tapi Rp 10.000 juga jadi kalau ceweknya cantik,” kata Koko. Sedangkan
untuk pelancong wanita, Koko memasang tarif Rp 50.000 sampai Rp 100.000.

Ciblek lanang tampil sebagai ‘pemain AC DC’. Selain melayani wanita, juga
melayani pria homo.

Bila ‘menjaring’ pria homo, mereka mencari mangsa di Alun-alun Utara dan
di sebuah restoran di Jl Pasar Kembang. Mereka lebih luka dibawa pria
bule.

“Orang bule itu tidak pelit,'’ kata Koko. Ia menjelaskan, para bule
kebanyakan ‘mengencani’ mereka relatif cukup lama. ‘’Kalau mereka di
Indonesia seminggu, kami dipakai seminggu pula. Tidak jarang diajak ke
mana-mana,'’ ujarnya.

Koko, pria kelahiran Semarang itu, menjelaskan untuk aktivitas seksualnya
dengan para homo selain sodomi juga oral seks. Bahkan tidak jarang ‘69′.
Istilah ini untuk menyebut melakukan oral seks secara berbarengan.

Kendati lebih menyukai pria bule, mereka juga sering mendapat ‘order’ dari
pria lokal. Dari para homo, biasanya mendapat uang saku antara Rp 50.000 -
Rp 150.000 serta ditambah ajakan makan di restoran serta menikmati udara
luar kota.

Para ciblek lanang ini pada dasarnya terbagi dua jenis. Koko menjelaskan,
ada satu kelompok homo yang berperan dirinya sebagai wanita, namun ada
yang berperan sebagai pria. Yang sebagai wanita, ujar Koko, tidak harus
berdandan seperti wanita, tetapi kegenitannya memang seperti wanita, dan
mencari pasangan yang gagah. Sedangkan yang berposisi sebagai pria tentu
akan mencari yang genit-genit.

Kenapa Koko bisa menyukai pria sekaligus wanita? Sejak kecil dirinya
memang sudah menyukai sesama jenis. ‘’Saat saya sekolah di Yogyakarta ini,
rekan duduk sebangku saya kebetulan hombreng. Dia yang mengajak saya
mengenal dunia yang lebih luas. Tapi sebagai laki-laki saya juga sangat
tertarik kepada wanita,'’ katanya.

Lain lagi cerita Dedy, pria yang sering mangkal di sebuah kafe di Jl Pasar
Kembang. Putra seorang perwira menengah di Jakarta yang kini sedang
menyelesaikan studinya di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta
mengaku melayani pria homo hanya kesenangan semata.

Dedy ‘menjajakan’ dijalani sejak berada di Yogyakarta. Meski demikian,
Dedy mengaku kenal dengan kehidupan homoseksual sejak masih duduk di SLTP.
Saat itu, katanya, ia sering diberi uang dan diajak ke tempat-tempat
permainan anak-anak oleh tetangganya. ‘’Ini saat papah masih dinas di
Surabaya,'’ katanya. Oleh tetangganya inilah, Dedy mendapat kenikmatan
homoseksual dan itu keterusan.

Lalu kenapa menjual diri? Dedy menjelaskan, semula memang tidak sengaja.
Saat bersama-sama dengan rekan-rekan, ia sempat diajak ‘main’ oleh kenalan
barunya. ‘’Bahkan saya jadi pacarnya selama beberapa bulan,'’ katanya.

Setelah putus dengan ‘pacarnya’ itulah, Dedy merasa kecewa dan bersamaan
pula dengan makin seretnya kiriman dari orangtua, terpaksa mencari
tambahan biaya. “Biaya kuliah serta bahan-bahan praktek sekarang harganya
sangat mahal,” katanya.

Melayani pria homo, jelasnya memang bukan tujuan utama. Karenanya,
katanya, tarif yang dipasang pun tidak selalu disodorkan. “Kalau saya mau
melayani dan dia juga baik, kenapa harus pasang harga. Biasanya mereka
tahu dan memberi tips setelah main,” katanya.

Pendapatannya memang tidak tinggi, rata-rata per bulan sebesar Rp 750.000
sesudah dikurangi biaya obat-obatan yang diperlukan. Ia sendiri mengaku
tidak terlalu suka dengan orang-orang bule. Alasannya? Para bule agak
kasar.

Seperti halnya Koko, ciblek lanang lainnya, Andi yang mengaku berasal dari
Cirebon melayani pria homo sudah sekitar tiga tahun. Katanya, melayani
para bule lebih mengasyikkan. Apalagi, dua tahun lalu sempat diajak
jalan-jalan ke Swiss oleh pasangan bulenya, sekadar untuk menikmati
liburan.

Orang-orang bule, lanjutnya, biasanya mengajak main dengan sepenuh hati.
Artinya, mereka menikmati dan menjalani kehidupan seksualnya ’sangat
manusiawi’. “Pakai foreplay, cium-ciuman, sebelum main. Bahkan setelah
main, mereka masih peduli. Beda dengan orang kita sendiri yang maunya
langsung, habis itu pisah,” katanya.

Bersama-sama orang bule ini, ucapnya, biasanya selama mereka berada di
Yogya akan menjadi pasangan tetapnya. Bahkan tidak jarang harus menemani
ke obyek-obyek wisata yang menarik.

“Memang tidak ada tarif yang ditawarkan, tetapi orang bule ini senang
menghambur-hamburkan uang. Seminggu bersama mereka bisa meraih uang kontan
US$100 atau bahkan lebih, belum termasuk hadiah khusus seperti pakaian,
jam tangan dan sebagainya,” katanya.

Berbeda lagi dengan Daniel. Pria keturunan kelahiran Medan ini dengan
tegas mengungkapkan, jika mau meong harus bayar. Meong merupakan istilah
di kalangan mereka untuk bermain seks. Baik itu anal maupun oral atau
sekadar ‘GGK’ atau gesek-gesek kelamin.

Daniel yang masih duduk di sebuah SMU swasta di Kota Yogyakarta
mengungkapkan, untuk sekali ajak yang biasanya dari malam sampai pagi,
biasanya ia mendapatkan Rp 150.000.

SEMARANG - JAWATENGAH

Yang Kelas Kumuh dan Kelas Mewah

KETIKA berusia 10 tahun, tujuh tahun lalu, Noni sudah mulai mengenal pria.
Saat itu ia disuruh ‘turun ke jalan’ di Semarang oleh ibu kandungnya,
mengikuti jejak kakak perempuannya.

“Kami diharuskan menyetor sejumlah uang setiap hari,” cerita Noni
mengenang masa lalunya. Tidak terlalu membekas dalam ingatannya, bagaimana
pertama kali ia bergaul dengan pria.

“Sungguh, saya tidak ingat. Yang saya tidak bisa lupa adalah ibu
marah-marah ketika saya pulang tidak membawa uang,” ujarnya. Ia sering
kali disiksa, dipukul dengan gagang sapu, dan diseret keluar dari rumah
karena pulang tanpa hasil.

Karena kenyang pengalaman di lapangan, saat ini Noni menjadi ‘bos’
sejumlah ABG di Semarang. Oleh anak buahnya ia dipanggil dengan sebuatn
‘mami’. Sebagai ‘mami’ muda, Noni juga melayani bila ada pria yang
mengajak.

“Biasanya saya tawarkan anak-anak. Tapi sering kali pria memaksa agar saya
yang menemaninya, ya, terpaksa untuk menyenangkan pelanggan,” ujarnya. ABG
yang menjadi anak buah Noni tidak mangkal di mal atau di tempat-tempat
hiburan seperti klub malam, karaoke, atau diskotek, mereka berkeluyuran di
jalan-jalan.

Noni yang berwajah sensual ini gampang dijumpai di seputar Jalan Pahlawan,
atau bisa menghubungi melalui handphone.

Kalau ada konsumen yang memesan, harganya bervariasi antara Rp 100 ribu
sampai Rp 200 ribu. Yang tarif Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu juga
disediakan oleh Noni.

Salah satu anak ‘asuhnya’ yang tergolong paling imut-imut adalah Wati, 12
tahun. Menurut gadis yang masih ‘bau kencur’ ini, dunia pelacuran
dianggapnya lebih dapat memberikan hasil yang lebih besar dan lebih cepat,
dibandingkan jika dirinya harus ngamen atau berjualan koran.

Sudah dua tahun Wati berada di ‘kegelapan malam’.

Awalnya, dalam usia l0 tahun, ia diperkosa tetangganya saat ia sedang
tidur siang. Ketika kasus itu disampaikan kepada ibunya, Wati justru
dimarahi habis-habisan. Belakangan baru diketahui, bahwa ternyata ibunya
menerima imbalan sejumlah uang dari tetangganya itu.

Mulai saat itulah, Wati turun ke jalanan. Oleh teman-temannya yang
dikenali di jalanan, diberi tahu bahwa cara paling gampang untuk mendapat
uang adalah bersedia melayani laki-laki. Dan ternyata betul, baru beberapa
hari ‘berkeliaran’ di jalan, Wati sudah mampu membeli pakaian bagus,
kosmetik, serta seabrek kebutuhannya layaknya gadis-gadis belia. Bahkan ia
sering kali diajak nonton, pergi ke diskotek.

Gaya hidup ternyata menjadi faktor utama yang mendorong menjamurnya
pelacuran ABG di Semarang.

ABG-ABG kelas bawah bisa ditemui di daerah permukiman kaum urban atau
daerah miskin seperti Bandarharjo, Gunung Brintik, Tandang, Mrican, dan
berbagai perkampungan kumuh lainnya.

ABG jalanan di Semarang memang agak berbeda dengan ABG yang berada di
‘kelas atas’. Keinginannya untuk mencicipi gemerlapnya kehidupan malam
adalah penyebab utama mereka menjual diri. Mereka bisa ditemui di sejumlah
diskotek dan tempat hiburan lainnya.

Mereka tidak semata mencari uang, diajak ‘muter-muter’ naik mobil mewah,
sudah bisa dibawa masuk kamar. Penampilan mereka memang cukup mendebarkan,
mengenakan busana trendy beserta segala aksesoris, sepatu bermerek, parfum
impor, dan handphone.

Mereka juga bisa digaet dengan sebutir pil ekstasi, “Asal diberi sebutir
pil, saya bersedia melanjutkan acara ke hotel,'’ tutur Titin. Gadis 17
tahun yang sudah biasa keluar-masuk diskotek itu, mengaku orang tuanya
tidak terlalu peduli dengan kebiasaannya pulang malam.

Gadis berambut pendek dengan alis mata tebal itu mengakui tak sembarangan
memilih pasangan kencannya. Dia juga tidak memasang jerat di plaza, mal,
atau pusat-pusat pertokoan layaknya teman-temannya. Maklum, dia sudah
cukup lama terjun menjajakan dirinya. Sehingga tahu persis lelaki yang
berkantong padat atau sebaliknya.

Hasrat Titin untuk menelan pil, katanya, dilakukan karena ia ingin
melupakan berbagai persoalan yang ada di rumah. Dalam usia 15 tahun Titin
yang hidupnya serbakekurangan itu telah dikawinkan oleh orang tuanya.
Tetapi karena perkawinan itu sendiri memang bukan kehendaknya, maka ketika
melahirkan anak pertamanya Titin langsung minta cerai.

Dalam kondisi mental yang labil, secara kebetulan seorang tetangganya
mengajaknya ‘dolan-dolan’ ke sebuah diskotek di Jl Gajahmada, Semarang.
‘’Di situlah pertama kali saya mengenal inex, dan pertama kali pula saya
menerima tamu lelaki di hotel. Lumayan juga, diberi uang saku Rp
150.000,'’ kenangnya.

Keenakan dengan inex, mulailah Titin menjadi kecanduan obat. Bahkan di
lingkungan dunia malam ia dikenal sebagai pecandu berat.

Secara terbuka Titin mengakui, kini dia bahkan sudah mencapai dosis yang
berlebihan. Sebutir pil tak lagi mempan membuatnya jadi on. Dia kini sudah
mulai bermain-main dengan jenis sabu-sabu yang juga banyak dijual bebas di
Semarang.

Rasanya? ‘’Oh, lebih nikmat dan lebih panjang. Apalagi kalau digunakan
untuk bercinta, luar biasa,'’ ujarnya mengaku terus terang.

Setiap malam dia biasa melayani tamunya dua orang di sebuah kamar hotel di
kawasan Gombel. Tak merasa capai? Dengan mata berbinar Titin justru
memaparkan fantasi seksual yang sangat luar biasa. “Karena itu, pada
tamu-tamu tertentu saya menyimpan nomor handphone-nya,'’ ucapnya genit.

Lain lagi dengan Ina, 16 tahun, yang juga sangat menyukai dunia malam.
Tetapi tidak gampang untuk diajak chek in ke hotel. “Yang saya lakukan
hanya untuk menemani tamu. Kalau menemani tamu biasanya saya mendapatkan
tips, selain minum-minuman yang enak. Tetapi kalau tamunya mau cari
booking-an, saya carikan teman lain yang mau. Biasanya setelah itu saya
diberi uang lagi oleh tamunya,'’ ujar Ina.

Dari pengakuannya Ina memang cukup selektif memilih cowok pasangannya.
Selain masih sebaya dan sama-sama muda, syarat yang lain juga harus naik
mobil sendiri. “Kalau tidak selera lebih baik pulang tidur saja Mas,”
ujarnya.

Ina mengaku kurang menyukai lelaki yang jauh lebih tua dari usianya.
Alasannya, karena dia masih menyukai cara-cara berpacaran dibandingkan
dengan ‘jual-beli’. Karena itulah, ia tidak pasang tarif tertentu. “Asal
saya suka, cukup sekadar ongkos taksi saja,'’ katanya.

Pelacur ABG di Semarang juga disebut ciblek. Selain di diskotek, para
pelacur ABG ini juga banyak ditemui di kafe-kafe atau kedai-kedai lesehan
kawasan Simpang Lima, Jl Pahlawan, Jl Pemuda atau Jl Pandanaran. Mereka
biasanya selalu bergerombol dua-tiga orang, sambil minum minuman hangat.

TASIKMALAYA - JAWABARAT.

Menggaet Mangsa di Depan ATM

SEORANG gadis remaja berdiri di antara antrean orang-orang yang akan
melakukan transaksi di sebuah ATM di salah satu mal di Jl HZ Mustofa,
Tasikmalaya, Jawa Barat.

Keke nama gadis itu, usianya 16 tahun. Antre di depan ATPM adalah cara
gadis ABG satu ini dalam menggaet mangsanya. “Yang mengambil uang di sini
pasti banyak uangnya,” kata Keke yakin. Ia menuturkan, teman-temannya juga
melakukan cara itu.

Di Tasikmalaya, gadis ABG semacam Keke, disebut anyanyah. Melihat gaya
Keke, sepintas sangat polos.

Namun di balik kepolosannya itu, putri ketiga dari empat bersaudara yang
kini yng masih duduk di bangku kelas III salah satu SLTP swasta di
Tasikmalaya (Jabar), ternyata menyimpan banyak pengalaman yang tidak kalah
bersaing dengan wanita tuna susila (WTS) yang sudah kenyang pengalaman,
termasuk pengalamannya berkencan dengan pria dari berbagai kelompok usia.

Kalau melihat latar belakang keluarganya, Keke tidak semestinya terjun ke
dunia prostitusi ABG. Karena sang ayah adalah mantan pejabat teras di
Tasikmalaya yang kini beralih profesi menjadi pengusaha sukses di Ciamis.

Keke mulai terjun ke dunia prostitusi ABG sejak kelas II SLTP, ia memiliki
wajah dan postur tubuh yang tidak kalah menariknya dengan artis-artis ABG
yang sering kita lihat di televisi.

Sepintas Keke mirip artis bom seks Sarah Azhari yang terlibat kasus foto
porno. Wajar apabila banyak orang yang ingin tahu, apa sebenarnya yang
melatarbelakangi gadis cantik sampai terjun ke dunia prostitusi.

Keke menceritakan pengalamannya mulai dari serbaketakutannya menghadapi
dunia di luar rumahnya, hingga timbul keberanian melayani pria hidung
belang. Bahkan, Keke tidak menyadari bahwa dirinya kini sudah menjadi
wanita penghibur papan atas dan menjadi gadis rebutan pria berduit.

Bermula dari kecemburuannya terhadap wanita simpanan bapaknya, umur si
wanita tersebut tidak jauh dari umurnya. Keke sempat tergoncang, apalagi
setelah mengetahui orang tuanya bercerai, terlebih yang melatarbelakangi
perceraian orang tunya itu setelah ibunya mengetahui ayahnya berselingkuh
dengan wanita lain. Setelah orang tuanya bercerai, Keke memilih tinggal
bersama ayahnya, karena Keke masih membutuhkan biaya sekolah.

Kecemburuan Keke semakin menjadi, setelah ia sering melihat ayahnya
berduaan dengan teman kencannya, ditambah pernah memergoki ayahnya sedang
bermesraan dengan pacarnya di ruang tamu.

Lalu lama-kelamaan Keke merasakan ada gejolak seks di tubuhnya, ditambah
dengan keseringan nonton VCD porno bersama teman-teman sekolah.

Semula Keke menolak saat diminta menceritakan pengalamannya terjun ke
dunia prostitusi, “Sudahlah, saya jadi menyesal menuturkan segala
pengalaman saya, tapi tidak apalah itu kan pengalaman yang tidak mungkin
terlupakan,'’ kata Keke dengan nada suara sedikit gugup. Kegugupan Keke
sangat kelihatan sekaligus mencerminkan bahwa dirinya belum lama terjun ke
dunia prostitusi.

Keke meminta agar tidak ditulis nama lengkapnya. ‘’Maklum ayah saya sering
baca koran dan pengalaman saya ini takut dibaca keluarga saya di rumah,'’
kata Keke.

Keke juga berkencan dengan pria asing. Kencan terakhirnya dengan pria
setengah baya warga negara Jepang yang baru dikenalnya dua hari di pusat
perbelanjaan.

Meski usianya masih muda belia, Keke lebih suka berkencan dengan usia jauh
di atasnya. Menurutnya, berkencan dengan pria setengah baya sangat
menyenangkan serta tidak banyak menuntut. Berbeda jika berkencan dengan
usia muda. Menurutnya, selain rewel juga banyak menuntut yang aneh-aneh.

Keke menuturkan, berkencan dengan pria warga negara asing lebih mendalam.
Pria asing jika berkencan seolah dirinya dianggap istrinya sendiri.
‘’Malah ujung-ujungnya, pria asing tersebut ingin menikahi saya,'’ aku
Keke seraya tertawa.

Di seputar Jalan HZ Mustofa, Kotif Tasikmalaya, memang tempat nongkrong
pada ABG. Mereka biasanya menikmati hidangan kafetaria yang terletak di
lantai II gedung pusat perbelanjaan.

Tarif mereka bervariatif mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 500.000 sekali
kencan. Tidak hanya itu, mereka juga memasang tarif khusus bila kencan
tidak sampai berhubungan badan.

Misal bila hanya ingin memegang payudara, si pria iseng akan dikenakan
tarif Rp 15 ribu, paha Rp 10 ribu, berciuman Rp 25 ribu, dan memegang alat
vital Rp 50 ribu.

Para pelacur ABG yang di Tasikmalaya dikenal dengan sebutan anyanyah ini
tidak hanya nongkrong di pusat perbelanjaan (mall-dept store) melainkan di
sejumlah cafe dan hotel.

Misalnya di Hotel Padjadjaran Jalan Ir H Juanda dan Hotel Ramayana Jalan
Raya Indihiang. Para pelacur ABG mulai melakukan aksinya sekitar pukul
21.00 WIB. Cara mereka untuk menarik perhatian pria hidung belang sangat
beragam.

Ada yang memberikan nomor hand phone-nya ke pegawai hotel, juga ada di
antara mereka ada yang langsung menunggu di ruang tamu hotel. Cara
demikian sering dilakukan oleh ABG yang sudah memiliki germo resmi. Tarif
mereka antara Rp 150 ribu sampai dengan Rp 300 ribu.

“Itu bukan harga mati, apabila si pria bisa merayunya harga untuk
berkencan tidak sampai demikian, bisa saja gratis atau hanya membayar
kamar hotel. Jadi gimana kitanya,'’ ujar salah seorang karyawan hotel di
Tasikmalaya.

Cara lain yang lebih unik yang banyak dilakukan oleh para pelacur ABG
yakni dengan berpura-pura belanja atau sekadar mengambil uang di ATM yang
terletak di dalam mal, cara unik ini tidak bisa dilakukan oleh pelacur ABG
sembarangan, karena dengan cara tersebut hanya pelacur ABG berparas cantik
dan berpenampilan glamour yang bisa melakukannya. Dengan cara demikian,
pria yang berhasil mereka pancing kebanyakan orang menengah ke atas.

Sejak merebaknya sejumlah mal dan departement store di Tasikmalaya, para
pelacur ABG semakin merajalela. Kebanyakan para ABG masih berstatus
pelajar (SLTP dan SMU) serta mahasiswi.

Cerita BersambungSeptember 27, 2006 3:29 pm

Sampai saat-saat terakhir menjelang kepindahan pekerjaan Eksanti, sejak ia mengajukan surat pengunduran dirinya dari kantorku (baca: Eksanti, Hadirnya Orang Ketiga 1,2), aku sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Yoga, pacar Eksanti. Hingga disuatu sore, dari kaca jendela ruang kerjaku di lantai 3, aku memergoki seseorang yang menjemput Eksanti selepas jam kantor. Semula aku tidak pernah berfikir bahwa laki-laki itu adalah pacar Eksanti, namun karena dalam seminggu ini Eksanti dijemput oleh laki-laki yang sama, barulah aku sadar bahwa laki-laki itulah yang bernama Yoga. Aku mendengar dari teman-teman sekantorku yang lain, bahwa Yoga sedang mendapat training di Jakarta, sehingga ia bisa menjemput Eksanti setiap saat.

Memang sejak kedatangan Yoga di Jakarta, hari-hari terakhir itu Eksanti terlihat semakin cantik karena dandanannya yang semakin modis. Yang selalu tampak menarik bagiku adalah kulit mukanya yang semakin putih bersih, sehingga sangat kontras dengan warna bibirnya yang tipis dan selalu terlihat basah. Model rambutnya yang hitam sebahu, sedikit terurai di dekat telinga, dan diberi sedikit olesan jelly, sehingga senantiasa kelihatan basah. Juga yang kelihatan sensual adalah cara berpakaiannya. Eksanti selalu memakai blouse atau kaos yang agak ketat, sehingga perutnya kelihatan ramping dan payudaranya terlihat agak menonjol. Memang payudaranya sendiri tidak terlalu besar, tetapi terlihat sangat seksi bila ia memakai baju kaos yang ketat, walaupun sudah tertutup dengan stelan blazernya. Satu lagi, yaa… satu lagi yang sangat menarik, bentuk kakinya yang kecil memanjang seperti kaki belalang. Kulitnya putih mulus, tanpa cela ditumbuhi bulu-bulu halus di sepanjang betis dan pahanya. Ia sangat sadar dengan potensi yang dimilikinya itu, sehingga ia sangat senang mengenakan rok span setinggi kira-kira 5 cm di atas lututnya.

******

Sudah lebih dari dua minggu ini Eksanti selalu pulang tepat pukul 17.00, karena Yoga selalu menjemputnya tepat waktu. Namun dalam dua hari terakhir aku perhatikan sudah lebih dari pukul 17.30, Eksanti masih belum beranjak untuk pulang. Karena penasaran aku menanyakan kepadanya, “Santi, kenapa sih aku perhatiin sekarang kamu pulang lebih malam, emang nggak dijemput lagi?”
“Yaachh…, abis yang njemput sudah nggak ada sih Mas…”, sahutnya.
“Masak iya, kemana Mas Yogamu itu?” tanyaku.
“Aaach…, Mas jangan nanya-nanyain dia deh. Janjinya Mas Yoga mau ditraining 2 bulan, lalu langsung ditempatkan di Jakarta. Tapi nyatanya baru sebulan ditraining udah disuruh balik lagi ke Malang, karena di sana ternyata kekurangan orang.” jawabnya dengan nada kesal.
“Sebenarnya sih Mas Yoga berhak untuk menolak permintaan bosnya yang genit itu, tapi katanya ia cinta banget sama pekerjaannya…, jadi yaa… diikutin aja perintah bosnya itu”, ujar Eksanti melanjutkan.
“Wah… hebat dong, orang kayak Yoga. Ia pasti loyal banget sama kantornya dan itu mencerminkan tipe orang yang setia”, jawabku sekenanya.
“Loyal apaan…, Santi nggak ngerti ama dia. Sebenarnya dia lebih cinta sama Santi apa sama pekerjaannya sich…?”, Santi berujar sedikit ketus mendengar komentarku.
Aku tahu dari jawabannya, hubungan mereka pasti sedang bermasalah lagi gara-gara persoalan ini. Sebuah hal yang wajar untuk dua orang yang baru mulai berpacaran, hingga akupun enggan untuk menanggapinya lebih lanjut. Aku tidak mau mencampuri privacy mereka berdua.

******

Beberapa hari kemudian, saat makan siang, aku baru saja datang setelah selesai melakukan meeting di luar kantor. Kantorku sepi sekali, hanya seorang office boy yang sedang duduk di area receptionist di lantai bawah. Ketika aku naik ke ruanganku di lantai tiga, aku melewati area ruang makan kantorku, yang biasanya ramai pada saat jam makan siang seperti ini. Secara kebetulan aku melihat di ruang itu cuma Eksanti yang sedang makan seorang diri. Rupanya teman-temannya yang lain sedang makan diluar kantor. Segera aku menemaninya duduk di depan meja makan itu.
“Makan sendirian saja, San ?”, sapaku kepadanya.
“Iyaa.. Mas. Mas sudah makan?”, sahutnya.
“Sudah. Tadi sekalian meeting sama klien”, jawabku singkat, sambil menarik kursi untuk duduk di depan kursinya.
Sambil makan, Eksanti melihat-lihat iklan bioskop di koran. Tiba-tiba Eksanti berkata, “Waah… film ini bagus, Mas. Santi kepingin nonton, tapi sayang nggak ada yang nemenin”.
“Kalau memang nggak ada teman, emangnya Santi masih mau Mas temenin ?”, tanyaku menyelidik.
“Kalau Mas emang bersungguh-sungguh mau nemenin, kapan Mas bisanya ?, Asal jangan yang malam-malam. Paling lambat yang mulainya jam 8, jadi sekitar jam 10-an kita sudah bisa pulang. Soalnya, ntar nggak enak kalau ada yang ngelihat kita jalan sampai malam, apalagi kalau ketemu temannya Mas Yoga…”, jelas Eksanti panjang lebar. Aku tahu, ia sebenarnya masih dalam posisi yang bimbang antara menjaga kesetiaannya dengan Yoga, atau tetap bersamaku.
“Besok malam…?. Kayaknya jadwal Mas besok nggak begitu padet, jadi bisa ninggalin kantor cepet. Kalau hari-hari berikutnya jadwal Mas sudah sangat padat dengan janji sama klien, jadi nggak akan bisa pulang cepet.” kataku.
“Kalau gitu besok malam yaa.. Mas?”, ia memohon sambil matanya menatapku penuh harap.
“Boleh, Mas jemput jam berapa?”, aku menyetujui permintaannya.
“Santi besok mau pulang cepet aja deh, jadi kira-kira bisa sampai di kost jam 6-an. Lalu mandi dulu. Jadi kira-kira pukul 7 sore kita berangkat yaa…”, kata Eksanti menjelaskan rencananya dengan rinci,
“Oke”, sahutku.

******

Besok sorenya setelah acara di kantor selesai, sengaja aku mandi di kantor lalu siap berangkat ke rumah kost Eksanti di daerah Selatan Jakarta. Untung jalanan belum terlalu macet, sehingga pukul 7 kurang 5 menit, aku sudah sampai di depan pintu kamar kostnya. Sampai di sana ternyata Eksanti belum selesai berdandan, sehingga aku harus menunggu selama beberapa menit. Kemudian ketika ia selesai, kami langsung berangkat karena takut terlambat. Jakarta memang sedang macet-macetnya pada jam-jam itu. Akhirnya setelah dengan sedikit ngebut, kami sampai juga di Grand Wijaya Theater jam 8 malam tepat. Untung ticket box-nya masih buka, dan setelah membeli tiket, kami langsung masuk tanpa sempat lagi membeli snack dan minuman. Aku memang sengaja meminta tempat duduk yang di pinggir. Entah kenapa, sampai saat film dimulai penontonnya hanya sedikit sekali, sehingga ruangan teater tersebut menjadi bertambah dingin.

Artis-artis pemain film-nya memang sexy-sexy, apalagi film yang kami tonton ini terhitung banyak juga adegan panasnya yang sangat berani. Ketika adegan yang panas muncul di layar, Eksanti tiba-tiba memegang tanganku. Suatu saat, ketika adegan filmnya mulai memanas lagi, sebelum tangan Eksanti beraksi meremas tanganku, aku mendahuluinya dengan memegang telapak tangannya erat-erat. Sejenak kemudian, walaupun adegan panas sudah berlalu dari layar film itu, jemari tangannya yang lentik masih tetap berada erat dalam genggamanku. Perlahan-lahan dengan sangat berhati-hati, bersamaan dengan gerakan tanganku, tangan Eksanti aku tumpangkan di atas pahanya. Saat itu Eksanti masih diam saja atas aksi yang aku lakukan ini. Aku menahan nafas menunggu reaksinya. Lalu dengan sedikit perasaan was-was, ujung-ujung jemariku mulai mengelus lembut pahanya yang sedikit terbuka, karena bagian bawah roknya yang pendek itu agak tersingkap pada saat ia duduk tadi.

Beberapa menit hal itu aku lakukan dan Eksanti pun masih tetap diam tanpa melakukan reaksi. Kenekatanku semakin bertambah, dengan menarik tangan Eksanti lebih arah ke atas, sekaligus untuk menyingkap ujung bawah roknya supaya semakin naik ke pangkal paha. Aku melirik ke arah roknya yang kini telah tersingkap sampai hampir ke pangkal pahanya, sehingga pahanya yang putih mulus itu terlihat remang-remang dengan penerangan cahaya dari pantulan layar film saja. Aku pura-pura diam sebentar. Kebetulan muncul adegan panas lagi di layar film dan seluruh telapak tanganku segera meraba lembut pahanya. Eksanti mulai bereaksi dengan memegang bagian atas tanganku. Aku mengira, Eksanti akan melarang kegiatan tanganku ini, tetapi ternyata perkiraanku salah. Tangannya hanya ditumpangkan saja di atas tanganku.

Melihat reaksinya yang seolah memberikan sinyal positif, aku memberanikan lagi operasi ini. Tanganku aku mulai mengusap-usapkan lembut ke kulit pahanya dari atas lutut sampai ke bagian atas dekat pangkal pahanya. Sudah lebih dari 5 menit aku melakukan belaian ini, bergantian paha kanan dan kirinya, tapi Eksanti tetap diam, hingga nafasku sendiri yang mulai memburu. Akhirnya aku memberanikan telapak tanganku untuk mengusap pahanya sampai ke arah selangkangannya, sehingga ujung jariku berhasil menyentuh pinggir renda celana dalamnya. Bibir kewanitaannya mulai aku gelitik dengan 2 jemariku. Saat itu Eksanti kelihatan mendesah sambil membetulkan posisi duduknya. Aku menggelitik terus celah lembut kewanitaannya dengan jari dan kadang-kadang jemariku aku lesakkan ke dalam lubang kewanitaannya yang ternyata sudah basah juga. Belum beberapa lama, Eksanti menggeliat di atas tempat duduknya dan berbisik seolah merintih, “…Mas, jangan digitukan nanti basah semua celana dalam Santi”.

Mendengar desahannya itu, tanganku aku tarik dan aku pindahkan ke pahanya saja. Aku berbisik di telinganya,”Aku suka melakukan yang tadi. Kalau Santi juga suka, nanti lain kali Mas terusin lagi yaa… ?”.
Eksanti mengangguk dan berkata pelan, “Minggu depan saja kita jalan lagi, soalnya kalau keseringan pergi malam-malam, ntar nggak enak sama teman-teman di kost. Apalagi yang kenal dengan Mas Yoga”. Ia terlihat masih saja dalam posisi kebimbangannya, antara harus bersikap setia dengan Yoga, atau menikmati kebersamaan percumbuannya denganku.

Setelah film selesai diputar, sambil berjalan keluar gedung teater, aku merangkul pundaknya dan Eksantipun memegang pinggangku sambil kepalanya disandarkan ke bahuku. Aku mengajak Eksanti makan malam, sekalian sambil mengobrol macam-macam. Sudah cukup lama kami tidak pernah melakukan hal itu. Selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku harus segera mengantarkan Eksanti pulang. Sebelum turun dari mobil, di depan pagar rumah kostnya, aku memeluknya dan diapun membalasnya dengan merangkul leherku kuat-kuat untuk menerima ciuman dan kecupan-kecupan pada bibirnya. Selesai melakukan kecupan mesra itu, dengan sedikit teknik yang sangat halus, tanganku menyambar dan memijit lembut payudaranya.
“Acch.. Mas nakal!!, katanya manja.
“Abis Mas kangen sama yang itu… Bye… bye…“, ujarku dengan senyum simpul

Keesokan harinya, aku bertemu Eksanti lagi di kantor dan kami bersikap biasa-biasa saja sehingga tidak ada teman yang curiga kalau kami telah melakukan sedikit kemesraan semalam.

******

Suatu siang di hari Rabu, kira-kira seminggu setelah acara kami menonton bersama, Eksanti datang ke kamarku dengan membawa laporan-laporan yang harus aku tanda tangani.
“Mas, nanti malam Mas ada acara?”, Eksanti bertanya.
“Kenapa?”, aku bertanya dengan sikap yang berpura-pura acuh. Sejujurnya, dalam hati aku berkata, saat-saat seperti inilah yang paling aku nantikan.
“Kalau Mas ada waktu, Eksanti kepingin makan di luar, tapi sayangnya lagi nggak ada teman,” sahutnya bersungguh-sungguh. Aku memang tidak salah sangka, pucuk di cinta ulam tiba.
“Oke. kalau Santi mau, Mas bersedia nemenin Santi jalan. Jam 5 sore Mas mau meeting dulu dengan klien di Shangrila, jadi kira-kira jam 7 seperti minggu lalu, Mas jemput di tempat kost kamu yaa.. ?”, kataku memberikan tawaran .
“Terima kasih yaa.. Mas”, ia langsung menyetujui tawaranku, matanya nampak berbinar-binar senang.

Sore itu aku sungguh tidak sabar untuk segera menyelesaikan acara meeting dengan klienku. Jam 18.15 sore aku sudah siap berangkat dari Hotel Shangrila, langsung menuju ke rumah kost Eksanti. Eksanti memang sengaja pulang dari kantor lebih awal dari biasanya, sehingga ia telah sampai di rumah kostnya lebih dulu dari kedatanganku. Sesampainya di sana aku menunggu di ruang tamu, dan baru kira-kira 10 menit kemudian Eksanti keluar dari kamarnya.

Aku sempat terpesona beberapa saat. Penampilan Eksanti sore ini benar-benar lain dari kesehariannya. Biasanya ia memakai rok mini, yang dipadukan dengan blouse atau kaos pendek terbuat dari bahan yang agak ketat, dan tertutup rapi dengan setelan blazernya. Kali ini ia tampil dengan memakai gaun panjang warna ungu dengan belahan yang agak tinggi di bagian paha sebelah kirinya. Saat ia berjalan, pahanya kirinya nan putih bersih itu kelihatan dengan jelas. Bahkan dalam posisi tertentu, bagian dalam paha kanannya juga nampak samar-samar mengintip dari belahan gaunnya. Sungguh, makhluk cantik ini kelihatan sexy sekali sore itu.

“Ckkk… ckkk… ckkk…,” komentarku.
Eksanti tersenyum mendengar pujianku, sambil memutarkan tubuhnya. Sungguh lebih mempesona lagi pemandangan yang aku saksikan, karena ternyata punggungnya terbuka lebar sampai ke bawah dengan model huruf V sampai ke atas pinggulnya. Aku yakin sekali kalau Eksanti pasti tidak mengenakan bra saat itu.

Tanpa sempat duduk lagi, Eksanti langsung mengajak aku berangkat. Aku merangkul pinggangnya, Eksanti menjadi agak kikuk. Ia takut kalau teman-teman kostnya menyaksikan kemesraanku kepadanya. Begitu masuk ke dalam mobil, karena sudah tidak tertahankan lagi, aku memohon agar diijinkan untuk mengecup bibirnya yang merah merekah dan selalu tampak basah itu. Kulit mulus punggungnya yang terbuka itu aku belai lembut dengan jemari tanganku, dan aku memeluknya erat. Ternyata dugaanku benar, saat dadanya aku tekan erat-erat ke arah dadaku, terasa gumpalan daging yang kenyal tanpa terlindungi bra menempel erat di dadaku. Denyut jantungku langsung berdetak cepat.

Kemudian mobil mulai aku jalankan dan tangan Eksanti diletakkannya di atas paha kiriku sambil kadang-kadang memijit pahaku.
“Mau makan di mana, Santi ?”, aku bertanya untuk meminta usulannya.
“Terserah Mas, deh” jawabnya pendek.
“Kalau makan steak, Santi suka nggak?” tanyaku lagi.
“Mau Mas, malah sebenarnya Santi sudah agak lama nggak pernah makan steak “, katanya.
“Ke Tonny Roma’s, setuju…?”, aku bertanya lagi untuk menegaskan keinginannya.
“Okay, Mas..”,Ia mengangguk, sambil tersenyum

Akhirnya kami menuju ke sebuah restoran di sekitar bundaran Ratu Plaza. Saat turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran itu, entah mengapa, kali ini malah Eksanti yang tanpa canggung selalu merangkul pinggangku. Eksanti duduk di sebelah kananku. Memang aku sudah mengatur posisi duduk kami sedemikan rupa, supaya tangan kananku bisa selalu berdekatan dengan paha kirinya yang terbuka sampai ke atas. Aku berencana untuk memulai ‘kenakalanku’, dari sejak saat makan malam ini.

Malam itu sikap Eksanti sungguh sangat berbeda dengan sikapnya sewaktu kami menonton film beberapa hari yang lalu. Kali ini Eksanti tampak begitu ceria dan manja. Saat makan, sengaja dalam posisi duduknya Eksanti merapatkan tubuhnya ke tubuhku serta tangannya selalu memegang pahaku. Sebelum memulai aksiku di atas kulit mulus pahanya, tanganku aku pergunakan untuk mengusap-usap kulit lembut punggungnya yang terbuka. Untung saat itu rumah makan masih sepi pengunjung, sehingga tanganku agak bebas ‘berkarya’.

Setelah puas meraba-raba punggungnya, sambil seolah-olah merangkul pinggangnya, dengan lincah aku susupkan tanganku ke dalam roknya. Tanganku merayap ke daerah pinggang, meremas-remas lembut di sana sebentar. Kemudian sedikit turun merayap ke depan, kini tanganku bisa merasakan karet atas celana dalam yang menjepit di atas perutnya. Kemudian tanganku aku tarik untuk bergerak ke atas, menyusup ke bawah ketiaknya dan akhirnya menuju ke samping depan. Aku rasakan ujung jari-jemariku dapat menyentuh bagian samping payudaranya yang benar-benar masih kenyal. Pekerjaaan tanganku berhenti saat waitress membawa makanan ke arah meja kami.

Pada saat makan, tanganku mulai lagi meraba pahanya kiri yang terbuka itu. Eksanti betul-betul penuh pengertian. Saat-saat tangan kananku sibuk meremas gemas pahanya, ia membantuku memotong-motong kecil daging di atas piringku dan menyuapkannya ke dalam mulutku. Tanganku benar-benar ia beri keleluasaan untuk bermain di sepanjang paha mulusnya, bahkan sampai ke bibir kewanitaannya pun sempat aku remas gemas dengan penuh kemesraan. Supaya tidak tampak terlalu mencurigakan, kadang-kadang tangan kananku aku pakai pula untuk menyendok makananku lagi, tetapi memang lebih sering aku gunakan untuk berkarya di sekujur paha dan pangkal kewanitaannya.

Eksanti masih terus menyuapiku dengan makanan, hingga suatu saat Eksanti mendesah dan tangannya memegang tanganku erat-erat seraya berkata, “Ssshhh… Masss.., jari tangan Mas benar-benar hebat, bisa membuat Eksanti basah”.
Aku tidak percaya, maka aku meraba kembali kewanitaannya. Ternyata benar, celana dalam Eksanti terasa sangat lembab, apalagi di sekitar lubang kewanitaannya. Tiba-tiba aku mendapat ide gila yang mungkin agak jorok. Ujung jari telunjukku aku masukkan ke lubang surgawinya agar bisa mengait lendir yang menempel di bibir kewanitaannya. Ternyata usahaku berhasil. Aku melihat ada lendir kental mirip santan menempel di ujung telunjukku. Aku segara menjilat lendir itu dan aku telan bersama makanan yang disuapkan oleh Eksanti. Aku betul-betul merasa “hot” makan daging steak dicampur lendir kenikmatan Eksanti. Aku mendekatkan mulutku ke telinga Eksanti sambil berbisik, “Santi, Mas sayang kamu…”.
Eksanti tampak tertegun sejenak melihat ulah nekatku. Namun ia tersenyum manis dan menjawab lembut sambil mencium pipiku, “Mas, sabar yaa… Sebentar lagi, malam ini Santi akan menjadi milik Mas sepenuhnya. Santi akan memberikan segalanya yang terbaik untuk Mas nanti. Percayalah”.

********

Selesai acara makan malam, karena aku merasa sudah mendapat lampu hijau dari Eksanti, maka tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, aku langsung mengarahkan stir mobilku menuju motel favorit kami di daerah Selatan Jakarta. Motel itu berjarak tidak terlampau jauh dari tempat kami makan sebelumnya. Begitu sampai di gerbang kompleks motel itu, aku segera membelokkan mobilku dan langsung memasuki sebuah garasi yang memang sudah disiapkan oleh petugas di sana untuk mobilku. Sepertinya mereka sudah cukup hapal dengan plat mobilku, sehingga merekapun tahu letak kamar favorit kami berdua. Begitu pintu garasi tertutup, aku melirik Eksanti untuk melihat ekspresi wajahnya, ia sedikit tersenyum. Dengan tidak sabar, kami langsung keluar dari mobil menuju kamar. Eksanti dengan manjanya berjalan merangkul pinggangku, badannya digayutkan ke tubuhku sepenuhnya. Aku segera membereskan administrasi motel, memberi sedikit tips kepada petugas yang telah selesai menyiapkan air minum, sabun dan handuk untuk kami dan langsung mengunci pintu.

Ketika kami tinggal berdua di dalam kamar motel, Eksanti tiba-tiba bertanya, “Mas, ‘pengin banget’ ya..?”
“Kepingin apa..?”, aku balik bertanya dengan nada bercanda.
“Nggak tahu ach..!”, Eksanti tersipu malu.
Aku mencubit hidungnya, kami bercanda dengan penuh kemesraan. Walaupun gelora birahiku sebenarnya sudah sangat ingin aku ledakkan, tetapi aku masih bertahan untuk tidak segera mengumbar nafsuku. Kali ini aku ingin lebih berlama-lama bercanda, bercerita, bermesraan, menikmati saat-saat terakhirku dengan Eksanti. Aku benar-benar tidak ingin terlalu terburu-buru.

Tidak terasa 1 jam sudah kami berada di kamar motel hanya mengobrol, benar-benar hanya mengobrol, tanpa melakukan aktifitas fisik apa-apa. Entah mengapa, dari obrolan-obrolan yang kami lakukan, aku merasakan bahwa Eksanti yang saat ini berada di depan mataku adalah milik Yoga, milik orang lain. Aku ingin, kalaupun malam ini akan terjadi percintaan di antara kami berdua, aku ingin penegasan itu muncul dari mulut Eksanti, bahwa iapun sungguh-sungguh menginginkannya. Aku tidak mau dikasihani. Dan aku juga tidak mau memaksa, walaupun sebenarnya aku sangat ingin melakukannya.

Sampai akhirnya.. tiba-tiba, “Mas, tidak ingin bermesraan dengan Santi malam ini..?” katanya sambil memelukku.
Aku melihat, kali ini mimik wajahnya serius.
“Aku ingin sekali, Santi, sungguh aku ingin sekali. Tetapi aku takut, kalai kamu masih bimbang untuk menerima keberadaanku bersamamu malam ini.”
“Lakukanlah Mas, Santi rela, dan benar-benar mengharapkan belaian Mas.”

Aku terharu mendengarnya, dan tanpa membuang waktu lagi, aku memeluk erat tubuhnya. Dua buah gunung kembarnya terasa mengganjal di dadaku, menghantarkan aliran gairah yang bergejolak. Kejantananku langsung mengeras dan membesar. Eksanti merangkul leherku erat-erat hingga permainan ciuman mulut, bibir dan lidah kami berlangsung dengan hangat dan penuh kemesraan. Saat aku menciumnya, aku mengecup dalam-dalam bibirnya dengan penuh perasaan, sehingga Eksanti bukan hanya merasakan kenikmatan saja tetapi juga merasakan kasih sayangku. Dengan penuh perasaan, aku menciumi seluruh wajahnya yang cantik. Eksanti membalasnya dengan penuh gairah. Bibir kami saling melumat dan menghisap. Tanganku mulai beraksi meremas buah dadanya, mengusapnya lembut. Eksanti pun balas meremas batang kejantananku.

Beberapa saat setelah berciuman dengan mesranya, tanganku mulai meraba lembut kulit punggungnya yang terbuka. Aku merasakan tubuh Eksanti yang hangat di belakang sana. Lalu tanganku beralih memegang tali gaun di kedua bagian pundaknya dan aku menariknya ke samping. Eksanti pun membantu dengan meluruskan tangannya ke atas sehingga gaun bagian atasnya langsung terlepas. Payudaranya yang masih kenyal dan hangat terlihat dengan jelas di depan mataku. Putingnya kelihatan mulai membesar dan menegang dengan warna merah padma membuat aku semakin terpesona. Sambil terus berciuman, satu persatu pakaian Eksanti terlepas dan terhempas ke lantai.

Kini Eksanti hanya menyisakan celana dalam yang membalut tubuhnya saja. Tubuh Eksanti aku angkat dan aku baringkan di atas ranjang dengan masih memakai celana dalam saja. Tapi hal itu tak berlangsung lama, aku segera melepaskan penutup terakhir tubuh Santi itu. Tampak kewanitaannya yang seperti bukit kecil itu tertutup oleh rambut yang cukup lebat. Aku kemudian melepas T-shirt dan celana panjangku, sambil memandangi tubuh indah Eksanti yang terbaring di atas ranjang dengan pose yang sangat menggiurkan. Eksanti pun tidak mau kalah melepas penutup terakhir tubuhku.

“Occh.., gemes sekali deh Mas, kalau Santi ngelihat yang ini..!”, matanya berbinar-binar tajam menatap tajam ke arah kejantananku.
“Memangnya punya Mas Yogamu…?”, aku belum sampai pada ujung kalimat pertanyaanku, dan langsung dipotong oleh Eksanti, “…paling separohnya..!, Achh, Mas jangan ngomongin dia lagi sekarang ach..!!”
Meskipun kekesalan Eksanti itu diucapkannya dengan nafas yang memburu dan wajah yang sedikit memerah menahan gairah, namun aku bisa merasakan bahwa kejantanan Yoga mungkin relatif lebih kecil dibandingkan milikku. Tetapi dalam kondisi seperti saat ini, untuk apa aku harus membanding-bandingkannya, masa bodoh saja.

Dalam keadaan tanpa sehelai benangpun, kami terus saling memberikan rangsangan ke titik-titik gairah yang semakin membakar birahi kami. Aku merebahkan tubuh ramping Eksanti ke atas ranjang, aku memandangi tubuhnya yang indah. Payudaranya yang mencuat menantang, kulit putih mulusnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, rambut kewanitaannya nampak hitam berjejer rapi layaknya barisan semut sampai ke pusarnya, membuat nafsuku semakin memuncak.

Aku mendekati kepala Eksanti, kemudian mulai mencium wajah cantiknya. Sementara tanganku menjelajahi seluruh lembah dan bukit puncak payudaranya. Jari-jemariku merayap ke bawah membelai lembut sampai ke pusar dan perut rampingnya. Ciumanku beranjak turun, segera lidahku mulai menelusuri lehernya yang jenjangnya. Terus turun.. menuju ke bukit-bukit payudaranya yang sangat menantang, aku mencium dengan lembut bergantian yang kiri lalu yang kanan. Putingnya yang tampak telah menegang dan memerah warnanya itu, aku hisap, aku jilat, dan kadang aku gigit-gigit pelan dengan jepitan bibirku. Sementara tanganku semakin liar beraksi di sekitar celah kewanitaan dan pahanya. Sekali-kali rambut kewanitaannya aku usap-usap lembut perlahan, sambil jari tengahku menggelitik daging kecil di antara celahnya. Kacang kecil itu mulai nampak memerah, berdenyut cepat, mengembang mengempis seperti jantung manusia. Eksanti makin mendesah hebat, “Aaach…!!”.

Kepalaku semakin turun ke arah bawah tubuh indah Eksanti. Lidahku mulai menyapu-nyapu perutnya, pelan… makin ke bawah sampai pubis di daerah sekitar kewanitaannya. Kepalaku bergoyang ke kanan dan kiri, hingga bibirku ikut membasahi kulit mulus kedua pahanya. Tanganku terus mengusap-usap dan memijit betis serta telapak kakinya. Ciuman dan jilatan lidahku semakin beranjak turun menuju ke lututnya, kemudian turun lagi ke betis, tumit kaki, lalu berakhir di telapak kakinya. Jari-jemari kakinya pun aku hisap satu persatu, hingga semuanya basah oleh air liurku. Eksanti kegelian. Kepalaku beranjak naik. Bibirku mulai menghisap daerah selangkangan Eksanti dengan membuka lebar-lebar kedua pahanya. Lalu dengan sedikit kasar, daerah di antara anus dan kewanitaan itu, aku cium.., aku kecup.., aku jilat.. aku gigit.. semuanya. Eksanti mendesah-desah nikmat dan terasa mulai ada cairan lendir bening yang menetes keluar dari celah surgawinya.
“Masss..! Terus… mass..!”, Eksanti mulai meracau, pertanda bahwa birahinya sudah makin memuncak.
Aku semakin bersemangat, seluruh lekuk tubuh Eksanti tidak ada yang lolos dari jilatan lidahku.

Kepalaku masih berada di bagian bawah, terjepit diantara kedua paha mulusnya. Jemari tanganku menyibakkan bulu kewanitaannya yang hitam. Lidahku mulai asyik menjilati kacang kecilnya dan kadang menerobos, mengoyak, mencabik celah kewanitaannya. Eksanti semakin mengerang nikmat, rambutku diremas-remas kuat saat klitorisnya aku hisap-hisap lembut dengan jepitan bibirku.
“Sudah Mass.., Santi nggak tahan..!”
Tetapi aku masih belum merasa puas menikmati keindahan gelinjang tubuh dan ekspresi nikmat di wajah Eksanti. Lidahku semakin asyik bermain di liang senggamanya, dan aku ingin lebih dari itu . Aku mulai memasukkan satu jariku ke dalam rongga kewanitaannya, sementara lidahku terus menjilati klitorisnya. Jari-jemariku berputar mencari titik g-spotnya. Tanganku yang lain asyik meremas payudaranya dan memilin-milin putingnya sampai mencuat mengeras. Seluruh tubuh Santi meliuk-liuk menahan kenikmatan yang aku berikan.

Hampir setengah jam aku tiada henti memainkan emosi jiwa dan birahi Eksanti. Hingga akhirnya tubuh Eksanti mengejang kaku dan berteriak panjang melepas orgasmenya yang pertama. Terlihat dari lubang kewanitaannya mengalir deras cairan cintanya. Mulutku langsung mencucup ke arah lubang itu dan aku sedot kuat-kuat…, hingga sruuuttt… lendir birahinya masuk ke dalam mulutku. Aku menggelitik terus selangkangannya supaya cairan cintanya keluar lebih banyak lagi. Ternyata benar, Eksanti masih mengeluarkan lebih banyak lagi cairan cintanya yang langsung masuk semuanya ke dalam mulutku. Rasanya asin-asin, asam dengan bau yang sangat khas. Birahiku menjadi lebih panas, berkobar-kobar lebih hebat setelah meminum lendir cintanya.

Eksanti diam sejenak, mungkin menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dialaminya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Eksanti tiba-tiba berdiri dan mendorong tubuhku hingga terlentang di atas kasur. Langsung saja Eksanti aku ajak bermain dengan pose 69. Aku segera naik ke atas tubuhnya dan kejantananku aku posisikan di persis hadapan mulut Eksanti. Ia dengan sigap mulai mempermainkan batang keperkasaanku dengan lidah dan mulutnya. Aku sendiri kembali menyingkap bulu-bulu pubisnya yang rimbun itu. Aku menjilat-jilat liar klitorisnya, menggigit-gigit lembut dan kadang-kadang aku kembali menarik-nariknya dengan jepitan bibirku. Eksanti tampak terangsang sekali dengan permainan mulutku di daerah kewanitaannya itu. Apalagi pahanya sekarang aku buka lebar-lebar dan daerah selangkangan antara anus dan kewanitaannya aku gosok terus dengan jari-jemariku, kadang-kadang aku jilati lagi.

Begitu klitorisnya aku getar-getarkan dengan ujung lidahku yang bergerak begitu cepat, hanya semenit saja Eksanti sudah berontak dengan kaki dan pantatnya digerakkan kesana kemari.
Ia kemudian mengaduh keras, “Occhhh mass…, Santi nggak tahan… Santi keluarrr…, lemas masss… ouchhh…”.
Saat itu terasa lendirnya meleleh deras dan kembali membasahi ujung hidungku. Segera mulutku kembali mencucup lubang kewanitaannya, aku menyedot semua lendir cinta yang keluar dari lubang surgawinya. Sungguh, akupun juga merasakan nikmat dari lelehan lendirnya itu. Kewanitaan Eksanti menjadi basah semua, campuran antara air liurku dengan lendir cintanya.

Setelah gelombang birahinya mereda, aku sekarang membelai rambutnya dan mengusap keringat yang banyak muncul membasahi keningnya seraya bertanya, “Eksanti, kamu sudah capai?”.
“Belum Mas, Eksanti cuma lemas saja karena nggak kuat menahan kenikmatan yang luar biasa dari permainan lidah Mas tadi. Rasanya sampai ujung rambut dan ujung kaki Mas,” sahutnya.
“Kalau begitu kita bercinta lagi yaa…?” pintaku.
Eksanti mengganggukan kepala sambil tersenyum, “..mas tadi curang, ntar Santi mau balas..!”, ia menambahkan.

Lalu dengan lincahnya lidah Eksanti yang hangat mulai menelusuri tubuhku. Sekarang aku yang mendesah tak karuan, apalagi dengan ganasnya Eksanti menjilat-jilat puting dadaku. Dihisapnya pelan dan kadang digigit, sementara tangannya dengan lembut mengocok kejantananku yang kian membengkak dan mengeras.
“Santiii.., Mas sudah nggak tahan..!”
Tetapi sepertinya Eksanti tidak peduli, kini kejantananku sudah berada di dalam mulutnya yang mungil, sementara jari-jarinya tetap mengelus-ngelus dadaku dan menjentik-jentik puting dadaku, membuat seluruh aliran darahku bergejolak menahan kenikmatan yang luar biasa. Tanganku dengan gemas meremas pinggul dan buah pantat Santi yang kenyal. Payudaranya juga terus aku elus dan putingnya aku pilin lembut.

Nafsu Eksanti kembali bangkit dan ia langsung menduduki kejantananku yang sudah basah oleh lumasan air liurnya. Jari-jemarinya membimbing kejantananku memasuki celah kewanitaannya. Berapa kali sudah kepala kejantananku meleset dan mengenai buah pantat Eksanti. Dalam posisi seperti ini memang agak sulit, karena bibir kewanitaan Eksanti agak mengering. Cairan cintanya telah habis terkuras tadi, apalagi lobang kewanitaan Eksanti memang masih tampak sangat rapat. Jari-jemariku saja tadi masih terasa terjepit keras oleh denyutan dinding-dinding kewanitaannya, apalagi kejantananku nanti…

“Mas di atas deh..!” akhirnya Eksanti menyerah.
Aku membuka paha Eksanti lebar-lebar, bulu kewanitaannya yang hitam aku sibakkan ke samping. Dengan perlahan-lahan kejantananku aku gosok-gosokkan di sekitar daging kecil merahnya. Eksanti dengan rasa tidak sabar langsung saja memegang batang kejantananku dan mengarahkan ujung kepalanya ke sasaran.
“Tekan Masss..!, yang kerass…”
Aku segera memajukan pinggulku sedikit, “Blessshh..!”
“Achhh..”, Eksanti menjerit saat kepala kejantananku terbenam.
“Kenapa Santiii..? Sakit..?” aku kuatir Eksanti merasa kesakitan.
Eksanti hanya menggeleng dan semakin erat memelukku. Jepitan bibir kewanitaan Eksanti di batang kejantananku sungguh luar biasa nikmatnya. Benar-benar sesak, membuat kejantananku semakin membengkak dan mengeras.

Perlahan aku mulai memompa, setengah kejantananku terdorong masuk, lalu aku tarik kembali, masuk lagi, tarik lagi, begitu seterusnya. Sementara erangan dari mulut Eksanti semakin tidak jelas, dengus nafas kami berdua sudah seperti lokomotif tua menahan kenikmatan yang kian menyerang tubuh kami. Gerakanku semakin cepat dan tidak beraturan.
“Oh.., masss… nik… mat..! Santi mau keluar..!”
“Tahan Santii..! Mas juga mau keluar…”
Akhirnya saat kejantananku aku sentakkan kuat, hingga amblas sedalam-dalamnya, sekujur tubuh Eksanti bergetar hebat. Kedua tangannya menahan pantatku agar menusuk semakin dalam, kedua kakinya yang mulus menjepit kuat pundakku.

“Aacchhh… Masss…” Santi sudah orgasme lagi.
Kejantananku terasa hangat akibat semburan air cinta dari dalam kewanitaan Eksanti, sementara aku sendiri mencoba bertahan sekuat mungkin agar spermaku jangan sampai keluar terlebih dahulu. Terjanganku semakin melambat untuk memberikan keleluasaan bagi Eksanti menikmati sisa-sisa orgasmenya. Aku diamkan sejenak kejantananku di dalam kewanitaan Eksanti, menikmati denyutan-denyutan lembut di seluruh batang kejantananku.

“Mas.., Santi puas sekali, multi orgasme Santi datang betubi-tubi,” Santi mengerang lirih.
“Memangnya, sebelumnya Santi nggak pernah ngalamin yang seperti ini..?”, aku sedikit heran mendengar ungkapannya.
“Entahlah.., sepertinya yang ini lain. Mas, belum keluar ya..?”, Eksanti balik bertanya kepadaku.
“He.. eh..,” aku mengangguk.
“Kenapa..? Nggak enak, ya..?”, Eksanti merasa bersalah.
“Enggak, bukan itu. Malam ini aku hanya ingin memberikan kepuasan yang maksimal untuk Santi..!”, aku berkata sambil mengecup lembut keningnya.
“Jangan begitu dong.., Mas kan belum..? Ayo dong..! Keluarin..!” Eksanti merengek manja.
“Kamu masih kuat..?” tanyaku.
“He-em..,” Eksanti mengangguk mantap.

Kejantananku yang masih menegang di dalam kewanitaan Eksanti mulai aku naik-turunkan kembali, Aku mendorong batang kejantananku pelan-pelan ke lubang kewanitaannya. Kemudian aku tarik keluar lagi pelan-pelan. Setelah masuk… keluar… masuk… keluar… dengan lancar berulang-ulang, lalu kejantananku langsung aku benamkan seluruhnya ke dalam kewanitaannya. Eksanti menghela napas panjang menahan sakit dan nikmatnya akibat masuknya terlalu cepat ke dalam. Karena itu aku gerakkan pantatku memutar searah jarum jam. Pelan tapi pasti, Eksanti mulai terbawa nafsu kembali. Luar biasa, padahal Eksanti sudah 3-4 kali menikmati orgasmenya, tapi ternyata dia masih menginginkannya lagi. Aku semakin bersemangat. Eksanti menjerit-jerit nikmat karena klitorisnya tergesek oleh bulu-bulu pubisku dan dinding dalam kewanitaannya tergesek-gesek oleh otot-otot kekar batang kejantananku yang mengeras. Dan akhirnya Eksanti pun kembali mampu dengan lincah menggoyang-goyangkan pinggulnya mengimbangi tusukan-tusukan kejantananku.

Ia berbisik lirih, “Ouucchh… Masss…, nikmattt…, rasanya luar biasa. Aku mau sampaiii… lagi mass…”. Mendengar bisikannya itu, aku langsung mencium payudaranya yang sebelah kiri, karena Eksanti sering mengatakan payudara kirinya lebih sensitive daripada yang kanan. Putingnya langsung aku getarkan lagi dengan ujung lidahku. Tidak beberapa lama kemudian, hanya beberapa detik, terasa kewanitaannya mencengkeram kejantananku dan berdenyut-denyut cepat. Kembali ada lendir hangat yang menyiram kejantananku. Eksanti sudah mencapai klimaksnya yang kesekian kali, ia tampak terkulai lemas.

“Capek, Santi…?” tanyaku.
“Iya.., Mas,” sahutnya lirih manja.
“Tolong Mas, please…, Eksanti mau merasakan air maninya Mas di kewanitaanku,” pintanya.
“Sekarang ?” tanyaku.
“Iya.., mas”, ia menjawab mantap.
“Tahan sebentar lagi yaa.., nanti aku semprotkan”, aku semakin bersemangat

Lima belas menit kembali berlalu, peluh sudah membasahi seluruh tubuh kami, berbagai gaya sudah aku jalani, dan Eksanti sungguh pandai mengimbanginya. Apa lagi waktu doggy style, goyangan pantatnya sungguh nikmat sekali. Aku hampir tidak tahan. Aku segera membalikkan Eksanti ke posisi konvensional, saling berhadapan, sambil terus menusuk. Aku menghisap ganas kedua bukit payudara Eksanti yang sexy. Putingnya yang tegang mencuat, aku hisap kuat-kuat. Eksanti mengerang hebat, dan dia membalas dengan mengusap-usap pula puting dadaku. Ternyata disinilah kelemahanku. Rasa nikmat yang aku terima dari dua arah, dada dan kejantananku, membuat seluruh sumsumku bergetar hebat.

“Sannti.., Mas mau keluar.. Santiiiii..!”
“Bareng, Mas..! Ayoo lebih cepat..!”
Dengan menguras seluruh kemampuanku, aku terus mempercepat tusukanku. Kapala kejantananku rasanya sudah menggembung menahan sperma yang akan muncrat. Gerakan pantatku sudah tidak beraturan lagi, hingga akhirnya, saat tusukanku semakin keras, dan puting dadaku dipilin keduanya oleh jemari lentik Eksanti, aku merasa akan segera melepaskan puncak ejakulasiku. Aku mengkonsentrasikan segenap pikiranku pada segala keindahan tubuh Eksanti yang ada di depan mataku. Ekspresi wajahnya sangat sensual, bibirnya yang merah basah tampak semakin merangsang. Aku genjot terus menggerakan kejantananku naik turun dan semakin lama semakin cepat. Sampai suatu saat Eksanti menggeliat, menggelinjang tak keruan sambil menarik lepas sprei dan meremas-remasnya. Dan akhirnya… plass… plass… plass.. (8x). Air maniku tumpah ruah, sambil aku tekankan kejantananku dalam-dalam di kewanitaannya. Eksanti merasakan semburan kehangatan yang sangat ia inginkan di dalam rongga rahimnya.
“Achhh..! Aku keluar Santiii..!”
“Ssshhh… aaccchhh, Eksanti merasakan kehangatan yang luar biasa dari air manimu, mas”
Dan Eksanti pun orgasme lagi untuk yang ke sekian kalinya. Kejantananku kembali merasakan bibir kewanitaannya berdenyut-denyut. Kuku-kuku jemari tangannya menancap keras di pundakku dan tubuhnya mengejang kaku.
“Achhh..!” Eksanti menjerit keras seiring dengan gerakan pinggulku yang terakhir.
Yah.., kami orgasme bersamaan.

*********

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Eksanti merebahkan kepalanya di dadaku. Aku hanya mampu membelai-belai lembut rambutnya. Aku mencium mesra keningnya, dan kami berdua tekulai lemas berpelukan. Setelah beberapa saat, tidak terasa kami tertidur lelap bertindihan sambil berpelukan. Tiba-tiba Eksanti terbangun. Jam telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Eksanti cepat-cepat beranjak dari pembaringan, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari segenap cairan cinta kami yang membasahi kewanitaannya. Setelah selesai, ia mengambil handuk yang dibasahi dengan air hangat lalu membersihkan kejantananku. Aku masih tetap terlelap di atas tempat tidurku. Begitu aku merasakan kehangatan di bawah sana, akupun terbangun. Eksanti menatapku dengan tersenyum manis. Setelah kejantananku bersih, sesaat ia mengecup ujung kepalanya lalu Eksanti bergegas memakai gaunnya kembali. Celana dalamnya tidak ia kenakan, hanya dilipat dan dimasukkan ke dalam tas kecilnya. Celana dalam itu masih basah terkena lendir saat aku permainkan kewanitaannya di restoran tadi malam. Demikian pula denganku, aku segera mengenakan pakaian dan bersiap untuk keluar dari motel ini

********

“Santi, kapan kamu benar-benar effektif off dari kantor kita?”, aku bertanya kepada Eksanti dalam perjalanan kami pulang.
“Mungkin minggu depan, saat akhir bulan. Surat persetujuan pengunduran diri dari personalia sudah Santi terima. Perusahaan yang baru juga sudah menyiapkan segala kebutuhanku di tempat baru”, ia menjawab pertanyaanku dengan mata menerawang.
“Terus… Santi, jadi menikah dengan Yoga ?”, aku kembali bertanya mengagetkannya.
Ada sedikit nada cemburu dalam pertanyaanku itu.
“Entahlah, mungkin masih 2-3 bulan baru sempat mikir persiapannya”, tatapan mata Eksanti semakin menerawang.
“Kenapa?” tanyaku dengan berhati-hati.
“Santi menunggu persetujuan penempatan Yoga di Jakarta dulu”, sahutnya tegas.

Tiba-tiba Eksanti merebahkan kepalanya ke bahuku sambil berkata, “Eksanti sengaja nggak akan kimpoi cepat-cepat dulu kok Mas, nunggu kalau mungkin ada suatu mukjizat”.
“Maksud Santi?” tanyaku keheranan .
“Siapa tahu suatu saat aku mendapat kabar gembira dari Mas. Dan akhirnya kita, aku dan Mas malah bisa menikah, bukan aku dengan Yoga… Malam ini aku benar-benar merasakan kenikmatan yang sangat dari Mas. Lebih dari itu, Eksanti merasakan Mas menyayangi Santi dengan penuh kasih… Kemesraan yang Mas ungkapkan kepada Santi, seperti layaknya kemesraan sepasang suami istri yang dipenuhi rasa cinta, Bukan hanya sekedar nafsu semata…”, ia menjelaskan dengan sesekali menghela nafas panjang.
“Benar…?”, aku menukas ucapannya dengan tersenyum.
“Semoga benar begitu, yaa… Mas. Echh.., kapan-kapan kalau Eksanti kepingin, masih boleh ‘kan merasakan kasih sayang Mas lagi…?”, ia memohon sambil mencium mesra pipiku.
“Kapan saja Eksanti merasa kangen, Mas selalu akan bersedia nemenin. Tetapi Eksanti harus benar-benar mengatur waktunya, jangan sampai hubunganmu dengan Yoga terganggu yaa…!” pesanku. Ia mengangguk, sambil sekali lagi menghela nafas panjang. Aku merasakan, ada suatu kebimbangan yang melanda fikirannya dengan hebat.

Saat mobilku sampai d depan pagar rumah kostnya, Eksanti tidak segera turun. Ia malah merangkul leherku dan menarik keras kepalaku. Ia mencium seluruh wajahku dengan penuh perasaan. Terlihat matanya memerah dan berkaca-kaca. Aku menjadi trenyuh dibuatnya. Aku membelai rambutnya dan aku mengusap matanya yang mulai berair, sambil berbisik lirih,”Eksanti jangan sedih. ‘Kan kalau kamu mau, setiap saat kita masih bisa bertemu. Santi malam ini sudah capek ‘kan, nanti langsung istirahat yaa.., jangan melamun macam-macam yaa.. sayang?”, aku berpesan sambil membelai lembut rambutnya. Eksanti pun kemudian turun dari mobilku dengan tersenyum kecil. Rasa gundahnya sedikir mencair, setelah ia mendengarkan kata-kataku yang terakhir.

*****

Seminggu sejak kejadian malam itu, Eksanti akhirnya benar-benar mengundurkan diri dari kantorku. Ia pindah ke perusahaan lain, walaupun masih tetap berada di Jakarta. Ia masih menjadi kekasih Yoga, dan bahkan akan segera merencanakan pernikahannya. Walaupun demikian, aku juga masih menjadi kekasih gelapnya. Ia sering mengaku, tidak pernah mencapai kepuasan dan kebahagiaan dari Yoga seperti yang ia peroleh dariku. Tetapi bagaimanapun, menurutku Eksanti memerlukan status yang jelas dan masa depan yang lebih pasti. Sejujurnya, aku tidak mau mengganggunya lagi. Tetapi, sanggupkah aku menahan rasa itu..?

TAMAT

Cerita BersambungSeptember 18, 2006 9:54 am

ayoe
Hehehe….lanjutannya ternyata lama bener yah?!!

Ny, gwe terusin dew…

Besoknya ny,….waktu itu yaaa…ga masup kerja lagi gwe! Pusink gwe. Iseng gwe sms in lily. ngasi tw klo gwe ga masup kerja hari itu gara dia (becandaan aja maksud gwe). waah…bulu? tangan gwe langsung merinding baca jawaban dia. Dia nggak masup kerja men!! N’ dia bilang kebetulan benget, jadi dia nyuruh gwe kerumah. Waw!! Hahaha…lucunya, gwe pura? males gitu dew. Padahal dalam hati sorak? ampe mual! heeehe…N’ ternyata kepura?an gwe malah bikin dia ga karuan. Kena dew, pikirku!

Ya ude dew, gwe yg gi ngerasa diatas angin lalu minta ini itu dew. Maksudnya bukan ini itu yang ‘itu’! Tpi ya, minta bikinin ini itu dew…ya nasi goreng…hehehe…terang aja dia mau. Horny bgt sy…gila dew gwe…

Ga nyampe 15menit abis mandi gwe ude nyampe rumah lily. Ngebut gwe! Hahaha!! Hari itu dia cuman make daster. Wew! sengaja banget pikirku, biar gampang kali yah nyopotnya. Gwe mah langsung nyalain tipi. Rumah lily mang kosong kalo siang gini. Semuanya ude pada kerja sy…sama dew ma rumah gwe. Sementara gwe nonton tipi, lily keliat sibuk di dapur. Wew, nasi goreng gwe kayaknya gi dalam proses dew. Ga lama gwe samperin lily ke dapur. Pas gi di depan penggorengan gwe peluk n cium lily dari belakang. Lily diem aja malah merem? hehee…Woy! diliat tuh kalo angus! Gwe malah kena kena pukul soket! waw panas meenn! hahahaa…

Pas dia gi sibuk ngaduk? nasi di penggorengan lagi gwe peluk lagi, tapi kali ini tangan gwe mulai gerayangin tubuh lily kemana-mana. Waw, kayak di bokep hehehe.

“Aduh tom! ntar aja dunk! Gwe gi sibuk ny….”
“jah, lily…orang dikit aja jg pegangnya…” tangan gwe mulai nggosok? di pangkal paha lily. Lily menggeliat? kegelian.
“Tom! Gwe pukul lagi nee…!!”
Gwe ngabur!

Singkat kata singkat celana, abis makan nasi goreng ala lily (yang ternyata eunak!) gwe diajakin lily ke kamar…hhhh…gile bener ny anak pikir gwe. Ampe di kamar trus langsung tiduran. Gwe langsung ajakin dia ngobrol sambil ngelus? hehehe…gwe suka pas lily ngomong, makin lama makin gemetar suara lily-nya. Apalagi pas tangan gwe ude mulai masuk ke celana dalam lily. Basah seperti kemaren juga. yah karena gwe mang juga gi pengen ude empet. Gwe langsung dew lepasin semua yg melekat di badan lily, kini dia polos men. sementara itu gwe juga lepasin semua pakaian gwe ndiri. Lily keliat mandangin gwe sambil seskali ngelirik malu? ke arah kemaluan gwe.
Gwe tarik tangan lily n’ gwe minta lily pegang kemaluan gwe. Wajah malunya semakin nampak kayaknya…malu tapi mau hahahha… Pertama lily emang segan saat gwe minta dia masukin kemaluan gwe ke mulutnya. Tpi liat dew….ternyata dia tetep aja ngelakuin. Wew lugu banget! Dia kerjain apa? yang gwe perintahin hingga dia mulai terlihat biasa. Terus gwe minta dia ambil posisi 69. Wadooh! gwe demen banget nikmatin mem*k lily dew! Ya teranglaa, bentuknya masih bagus banget! Pinky abis gitu lohhgjfkghdkggfhhh!! hahahaha.

Yah, lumayan lamalah…si 69 beraksi, gwe balik badan n’ we make kissing. Kemaluan gwe terus aja menggesek daerah paha dan pangkal paha lily. Nafas lily waktu itu ude ga beraturan lagi. Bisikan? lirih lily juga ude terus kedengaran. Sesekali gwe arahin kepala kemaluan gwe kelubang lily trus pelan? gwe tekan. Wew! ga bisa masuk! licin mem*k lily bikin kemaluan gwe meleset kesana kemari…lagian emang agak suse sambil berposisi pelukan kayak gini.
Kali ini gwe bimbing make tangan gwe. Gwe gesek? kemaluan gwe ke mem*k lily trus gwe tekan di lubang mem*k lily pelan?. Kalo liat muka lily kayak kesakit, gwe gesek?in lagi. Hhhh…capek juga. Sementara ‘adek’ gwe ude cenut?. Terakhir akhirnya gwe paksain aja, tpi tetep dengan cara pelan? tpi pasti. Wajah lily keliat seperti menahan sesuatu. Biar dew pikirku…..

Blep! Pala kemaluan gwe masuk jg akhirnya. Yah, diiringin dengan teriakan tertahan lily tentunya. Trus gwe cabut lagi. Gwe gesek? lagi….wew…sabar banget! hehehe…. ya gitu terus dew sampai masuknya makin dalam aja…mulai dew gwe lepas tangan gwe. Kemaluan gwe ude bisa keluar masuk dengan rutin walau cuman setengahnya aja. Wadooohh! punya gwe kayak diurut? rasanya. Lobangnya lily masih sempit banget sy. Saat lily sudah terlihat biasa dengan keluar masuknya kemaluan gwe, Gwe mulai masukin makin lama makin lebih dalam lagi. tangan lily merangkul erat banget di punggung gwe saat kemaluan gwe masuk seluruhnya ampe mentok gwe rasa kedalam lubang kemaluan lily. Dan gwe mulai aktif keluar masukin
punya gwe. Ampe gwe ngerasa kalo cairan mem*k lily seperti membanjiri lubang lily n’ mulai terasa hangat di kemaluan gwe. Hangat?! Gwe tengok kebawah…darah ude melumuri kemaluan gwe ternyata! Lalu gwe bisikin ditelinga lily…

” Lo berdarah ly…”
” Hah?!” dia kaget.
Lom sempet ngeluarin kata? lagi langsung gwe lumat bibir lily n’ langsung gwe aktif in kemaluan gwe di mem*k lily….rasa kaget lily langsung berubah jadi rasa yang entah dia rasain gimana…yg pasti lily ude mulai merintih? lagi. Sementara diantara basah yang gimana juga, kemaluan lily masih aja terasa memegang erat kemaluan gwe saat gwe keluar masukin kemaluan gwe. Enaknya emang ga bisa diucapin dengan kata? dew pokoknya!! Kemudian semakin lama keluar masuknya kemaluan gwe semakin menggila! Badan lily sampe tersentak?…ampe akhirnya, gwe ga tahan lagi dew…..Agghhh…gwe ampe puncak! Cepet? gwe cabut kemaluan gwe n’ ngeluarin sperma gwe di perut lily! Lily sendiri terlihat terengah-engah. Gwe langsung ambruk disamping lily. Aduuhh…puas banget gwe rasanya!!

“Bersihin tuh ‘aer’ gwe diperut” bisik gwe ke lily.
“Capek Tau!”
Hehehe….
“Masih sakit ly?” dia menggeleng. Dalam hati gwe ngomong, ntar rasain aja kalo pas pipis lo…

Setelah lumayan lama gwe ama lily rebahan, kami pun beringsut ke kamar mandi sambil sama? telanjang hehehe…
Nah, pas pipis bener juga, lily keliat mukanya menahan perih. Pas gwe liati mukanya,
” Perih tom…”
Gwe senyum aja sambil terus nyuci punya gwe.” Ntar juga ilang…”, gwe bilang.
Setelah itu gwe ama lily nyantai aja sambil nonton tipi. Paling make kising aja.
Ntahlah…ada suatu saat lily diem. Mikirin semua yg terjadi. Yah, antara nyesal n’ tidak dew pokoknya. Gwe jg gitu…gwe keinget pacar gwe. Cewek yg ude empat taon ini bersama gwe. Cewek paling kokoh yg sanggup ngadepin gwe…bla bla bla!
Maapin gwe yah pacar tercinta gwe…maapin gwe yah lily….

buat gwe….