Peace, Love, Unity & RespectSeptember 30, 2006 8:31 pm

india
aku masih siswi smu kelas 1 berumur 15 tahun. disini aku tidak akan cerita panjang lebar tentang tubuhku, betapa sexynya aku, atau pengalaman sex.
Sama sekali tidak, aku hanya ingin share tentang kebiasaanku.
aku ada satu kebiasaan yg aneh buat sebagian besar orang,aku senang menunjukkan badanku tapi bukan eksibisionis. aku hanya senang merasakan malu, tetapi malu yang aman dan masih normal (menurut pendapatku loh)
daripada bingung aku cerita kejadian yg sering kulakukan ketika pulang sekolah di angkutan umum.
bila aku sedang mood,aku duduk mengangkangkan kakiku di depan cowok yg lebih muda, sehingga mereka bisa melihat paha dan celana dalamku.aku senang merasakan sensasinya, tiap aku melakukan itu aku merasa malu,selalu pada awalnya aku takut untuk melebarkan kakiku. bagaimana kalau kuceritakan kronologisnya.
aku sengaja naik angkutan umum yang sedikit penumpang dan ada cowok yg lebih muda, baik anak SD atau smp, aku pilih-pilih juga, lihat dulu tampang cowoknya, apabila mereka terlihat tidak sopan aku tidak mau, aku suka apabila ada cowok yg terlihat anak baik-baik,sopan,dan tidak banyak gaya. di angkot aku pasti duduk berhadapan dengan mereka,awalnya aku duduk rapat baik lutut,betis dan sepatuku. selanjutnya aku melebarkan sepatuku sekitar 30cm,dan pelan2 melebarkan lututku agar sejajar dengan sepatuku,biasanya di kondisi ini aku sudah merasa excite,sering aku merapatkan lututku lg, tapi selalu kubuka kembali.biasanya cowok di depanku sudah mulai memperhatikan kakiku dan berharap agar terlihat kembali.rok seragamku tidak ada yg diatas lutut,sehingga pada fase ini mereka hanya melihat pahaku, aku tau ini sebab pernah melakukan simulasi di depan cermin.
setelah mereka tertarik baru aku nekat untuk melebarkan sepatuku lebih jauh, kira2 tumitku terpisah 40cm,lututku biasanya kurapatkan ketika melebarkan tumitku,baru ketika mobil mengerem atau berjalan lagi, aku pura2 melebarkan lutuku seolah menjaga keseimbangan.di fase ini mereka akan dapat melihat celana dalamku dengan jelas, apabila cowok di depanku masih kecil (dari fisiknya) aku berani melakukan kontak mata dan tersenyum,bila mereka sudah besar aku pura2 tidur,sibuk membaca, atau apabila cuma kami berdua di mobil aku pura2 melihat kesana kemari sambil menggerakan kakiku, tentu saja paha dan celana dalamku akan terlihat “hide and seek”.
Untuk cowok yg kulakukan kontak mata, apabila sepi aku dapat nekat melabarkan pahaku sampai membentuk sudut 90 derajat,tapi aku selalu memperhatikan supir agar tidak menyadarinya.dengan kaki dilebarkan selebar itu tentu saja celana dalamku akan terlihat sangat jelas,aku benar-benar malu pada kondisi itu,secara naluri tentu saja aku berusaha merapatkan kakiku,tapi aku selalu menahannya sehingga otot pahaku terasa tegang dan lututku terlihat bergetar,tapi kondisi ini tidak pernah lama, sebab biasanya aku sampai pada tahap ini di dekat tujuanku atau ada orang lain yang naik.waktu terlama yg kulakukan adalah sekitar 25 menit, saat itu angkot berjalan lambat dan tidak ada orang yang naik, supirnya juga asik ngobrol dengan temannya di bangku depan,dan di depanku siswa SD yg terlihat pendiam. waktu itu aku bahkan menaikkan kakiku ke atas ban cadangan sehingga lebih tersingkap lagi.
aku selalu merasa malu mengetahui mereka melihat paha dan celana dalamku,tapi rasa malu yg kurasakan benar2 menyenangkan dan membuat kecanduan.

Peace, Love, Unity & RespectSeptember 28, 2006 9:01 pm

Kenalkan namaku Sapto, Ceritanya ini tentang pengalamanku semasa sekolah,
hidup dan menumpang di rumah ayah angkatku Pak Rochim, Pegawai Dinas
Pertanian di ibukota kabupaten tempat aku lahir di pulau Sumatera. Di
rumah itulah aku mulai mengalami fantasi fantasi liar tentang dunia
sexualku.

Pak Rochim dan ibu sangat baik kepadaku. Saat itu aku mulai numpang
tinggal dan hidup di rumah Pak Rochim semenjak kelas satu SMP, dan aku
tidur di sebuah kamar kecil dengan pembantunya, seorang perempuan berusia
sekitar 21 tahun. Namanya Tina, gadis Bali berkulit hitam manis. Dia sudah
lama tinggal dengan Pak Rochim. Orangnya tidaklah cantik, tapi tubuhnya
bagus. Aku memanggilnya Kak Tina. Dia baik dan suka membantuku. Ternyata
dia pernah bersekolah sampai tamat SMP. Kerjanya membersihkan dan
membereskan rumah Pak Rochim yang tidak terlalu besar, mencuci pakaian,
dan memasak. Hanya itu. Sehingga waktunya cukup banyak untuk membaca. Dia
suka membaca. Terkadang novel-novelnya Freddy S, Abdullah Harahap, dan
Motinggo Busye. Juga Nick Carter.

Aku tidak diijinkannya membaca novel-novel stensilan itu. Dia hanya
memberikan Kho Ping Hoo untukku. Aku tak protes. Mulai saat itu aku
menyukai Pendekar Mata Keranjang dan sejenisnya. Setiap siang sepulang
sekolah, sambil mengembalakan tiga ekor sapi milik Pak Rochim, aku membaca
Kho Ping Hoo. Sesekali aku ingin juga membaca novel lainnya, tapi Kak Tina
tak pernah mengijinkan aku menyentuh apa lagi membaca novel-novel itu.
Rasa penasaranku makin bertambah.

Suatu siang sepulang sekolah, rumah tampak sepi. Kak Tina tidak ada di
rumah. Sedang disuruh mengobras kain, kata Bu Rochim. Akupun makan.
Setelah makan, aku beristirahat di dalam kamar. Saat mataku melihat lemari
Kak Tina yang terbuka (biasanya selalu dikunci), aku tergerak untuk
mencari novel yang disembunyikannya. Beberapa buah novel ada di situ.
Kuambil Nick Carter. Kubaca bagian depannya, aku memutuskan untuk tidak
tertarik membacanya. Kubolak-balik halamannya, ada bagian yang ditandai.
Aku tergerak untuk membacanya.

Degh! Jantungku berdebar kencang. Membaca halaman itu. Tertulis di sana
cerita tentang Nick Carter yang sedang menyetubuhi seorang wanita Rusia
(sayangnya aku lupa judulnya). Aku terus membacanya, jakunku yang mulai
tumbuh bergerak-gerak menelan ludah. Aku yang masih bocah terus
membacanya. Muka dan kepalaku memanas. Tanpa sadar tanganku menggosok
bagian kelaminku. Mengelus-elus si kecil yang telah bangun. Aku mulai
merasakan kenikmatan.

Tiba-tiba terdengar suara sepeda yang disandarkan ke dinding.
Kak Tina! Aku segera menyudahi keasyikanku. Kumasukkan kembali novel-novel
itu. Aku tertarik untuk membacanya lagi nanti. Pantas, Kak Tina tak
mengijinkanku membacanya, pikirku. Jahat, masak cuma dia yang boleh tahu
hal-hal semacam itu. Akupun keluar kamar, menyongsong dirinya. Kak Tina
tampak kepanasan. Keringatnya mengucur, bau badannya tercium begitu
menyengat. Bau yang membuat kejantananku langsung bertambah kencang. Bau
tubuh Kak Tina memang aneh, agak-agak sangit. Tapi entah kenapa, sangat
mengundang gairah lelakiku saat itu. Besok-besoknya aku tak pernah
memiliki kesempatan untuk menggerayangi lemarinya. Kak Tina tak pernah
lupa mengunci lemarinya. Aku tak punya keberanian untuk membongkar paksa.

Suatu malam, setelah aku kelas tiga, setelah hampir dua tahun di rumah Pak
Rochim, aku sedang tidur dengan Kak Tina di sebelahku. Aku saat itu
berusia hampir 15 tahun. Saat tidur aku merasa ingin pipis. Aku terbangun,
tak tahunya tanganku ada di atas dada Kak Tina, sedang tangannya menimpa
tanganku itu. Gadis itu sedang tidur dengan nyenyaknya. Pasti dia tak
sadar kalau tanganku tanpa sengaja telah terlempar ke tubuhnya. Dapat
kurasakan kehangatan dada perawannya. Jantungku berdebar-debar.
Kejantananku yang semakin matang terasa mengeras, apalagi karena aku
memang ingin pipis.

Ingat kalau aku ingin pipis, maka aku dengan perlahan mengangkat tangan
Kak Tina dan menarik tanganku. Saat itulah kurasakan puting susu Kak Tina
mengelus punggung tanganku. Ternyata Kak Tina tidak mengenakan bra.
Seeerrr, darahku semakin berdesir. Segera saja aku berlalu ke kamar mandi
untuk pipis.

Waktu kembali ke kamar, posisi tidur Kak Tina telah berubah. Kakinya
terbuka lebar, sedang kain yang dikenakannya tersingkap. Pahanya, yang
walaupun sedikit gelap namun mulus itu terpampang jelas di mataku.
Samar-samar, dari sinar lampu templok dapat kulihat pangkal pahanya yang
tertutup celana dalam putih. Samar-samar kuamati ada sekumpulan rambut di
sana. Aku baru kali ini melihat hal seperti ini. Jantungku berdebar
kencang. Lama kupandangi selangkangan Kak Tina sampai dia mengubah
posisinya. Aku naik kembali ke tempat tidur.

Tapi aku sudah telanjur tidak dapat tidur. Bolak-balik saja aku di samping
Kak Tina. Memandanginya. Dadanya yang membusung turun naik ketika dia
menarik nafas. Sepasang putingnya melesak di balik daster tipisnya. Entah
ide dari mana, pelan-pelan tanganku menyentuh dadanya. Mataku kupejamkan,
berpura-pura seperti orang tidur. Ternyata Kak Tina tidak terpengaruh. Dia
tetap tenang. Perlahan kutekan dadanya, tetap tidak ada reaksi. Aku
semakin berani. Kusentuh lagi dadanya yang satu lagi. Benda lembut sebesar
apel itu terasa lebih hangat.

Kejantananku menegang. Kuingat cerita Nick Carter yang kubaca beberapa
waktu yang lalu. aah, aku semakin deg-degkan. Suatu sensasi yang aneh.
Antara rasa takut akan ketahuan dan kenikmatan meletakkan tanganku di atas
dada seorang dara. Inilah pertama kali aku menyentuh dada seorang gadis,
sepanjang umurku. Aku tetap memegang dadanya, sampai aku tertidur dengan
damai. Dalam tidur aku bermimpi. Aku dan Kak Tina berpelukan telanjang
bulat di atas ranjang kami.

“Bangun! Sapto! Sudah pagi”, Guncangan di bahuku membuat aku
terbangun.Memang aku harus bangun pagi. Mengeluarkan sapi dan
menambatkannya di kebun belakang rumah, lalu kemudian mengisi bak mandi.
Karena selalu mengisi bak mandi, badanku jadi berisi.

Kak Tina selalu membangunkan aku setelah dia memasak air. Aku memicingkan
mata, menguceknya dengan tanganku.
“Huuuaah” Aku menguap panjang, mengeluarkan bau naga.
“Bau, tahu?! Sana urus sapi”, Kak Tina menepuk bahuku sebelum dia bilang,
“Astaga…, kamu ngompol ya, Sapto?”.
Aku kaget! nggak mungkin, nggak mungkin aku ngompol! Aku memegang celana
pendekku di daerah depan. Astaga, memang basah! Aku ngompol? Aku tak
percaya. Tapi memang celanaku basah sekali. Hanya saja, rasanya lengket.
Baunyapun beda, seperti bau akasia.

“Udah besar ngompol. Bikin malu saja”, Kata Kak Tina. Aku bersemu merah.
“Atau…”, Kak Tina memandangku, lalu tersenyum lebar, “Kamu mimpi basah
ya, Sapto?”.
“Mimpi basah?”.
“Iya. Tanda kamu sudah dewasa”. Dengan tangannya Kak Tina merasakan kain
celanaku. Aku agak risih saat tangannya menyentuh kejantananku.
“Benar. Ini memang mani” Kata Kak Tina. Lalu hidungnya mencium tangannya,
aku agak heran.
“Mimpi apa kamu, Sapto?”.
“Mimpi…” Aku ingat mimpiku, tapi lalu ingat bahwa aku mimpi dengannya,
“Gak mimpi apa-apa”.
“Ya sudah. Yang pasti ini menandakan kamu sudah besar. Sudah bisa dapat
anak”.
“Emangnya..?” tanyaku heran.
“Sudahlah, Nanti juga kamu tahu sendiri”.

Aku berlalu menuju kamar mandi, membersihkan diri. Saat aku kembali ke
kamar, Kak Tina menggodaku.
“Mulai sekarang, hati-hati bergaul” Katanya. Aku tersipu malu.
“Dan, kamu tak boleh lagi tidur denganku”, Katanya lagi.
“Iya Kak”, Jawabku pasrah.
“Cuma bercanda. Masih boleh kok. Kak Tina percaya. Kamu masih kecil dan
polos”, Katanya.

Siang itu aku pulang cepat dari sekolah, karena guru sedang rapat. Aku
segera pulang. Sesampainya di rumah keadaan memang sangat sepi. Aku baru
ingat, kalau Bu Rochim ada acara di Dinas Pertanian. Anak-anaknya dibawa
semua. Aku menuju kamar. Saat menyimpan sepatu di samping kamar, aku
mendengar suara perempuan mengerang, mendesah-desah, yang keluar dari
dalam kamarku. Aku mengintip dari kaca nako.

Ya ampun! Yang kulihat di sana sungguh luar biasa, dan tak akan pernah
kulupakan. Di atas tempat tidur, Kak Tina sedang mengenakan baju kaos
warna jingga. Hanya itu saja. Tanpa apa-apa. Baju kaos itupun tersingkap
bagian atasnya, menampakkan dadanya yang kemarin malam aku sentuh.
Langsung saja kemaluanku membesar, meradang di balik celana seragamku. Aku
melihat Kak Tina memegang novel dengan tangan kanannya, sedang tangan
kirinya menggosok-gosok bagian rahasia tubuhnya. Dapat kulihat bulu-bulu
yang tumbuh lebat di sana. Mata Kak Tina mendelik-delik, nafasnya
terengah-engah. Aku melihat judul novel yang dibacanya. Sampai saat ini
masih kuingat. Judulnya Marisa, pengarangnya Freddy S.

Kak Tina masih terus menggosok kemaluannya. Saat tangannya beralih meremas
payudaranya, terbukalah kewanitaannya. Saat itulah aku pertama kali
melihat vagina wanita dewasa. Seeerrr, kejantananku sakit sekali rasanya.
Reflek kuelus sendiri kemaluanku. Rasanya nikmat, nikmat sekali. Suatu
rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.

Aku masih terus mengintip, sampai akhirnya Kak Tina tampak
terlonjak-lonjak dari tempat tidur. Erangannya berubah menjadi jerit
tertahan. Aku semakin takjub. Saat gerakan liarnya selesai, aku merasakan
sesuatu keluar dari kemaluanku. oooh, cairan berwarna putih kental keluar
dari kepala kejantananku. Banyak sekali, mengotori celanaku. Aku
menyumpah-nyumpah. Saat itu sikuku menyenggol rak sepatu. Sepatu-sepatu
terjatuh menimbulkan suara berisik. Tempat tidurku terdengar berderak. Kak
Tina pasti sedang merapikan dirinya. Aku terdiam terpaku.

“Siapa itu?”, Tak lama kemudian terdengar suaranya.
“Aku, Kak.., Aku”, Jawabku.
“Kau sudah pulang, Sapto?”.
“Ya, Kak…, Guru-guru rapat”
Kak Tina keluar dari kamar. Telah memakai kain sarung. Aku menutup bagian
depan celanaku yang basah dengan tas sekolahku.
“Barusan ya?”.
“Iya Kak”.
Tampak raut wajah Kak Tina berubah. Kelihatannya dia lega aku tak
memergokinya.
“Ya sudah, ganti pakaian dan makan…, Aku siapkan dulu”
Aku masuk kamar, lalu mengambil celanaku. Sedang Kak Tina ke dapur.
Kulihat novel itu ada di atas meja. Kak Tina lupa menyembunyikannya.
Setelah aku mengganti celana, aku meraih novel itu. Membolak-baliknya.
Saat kudengar langkah Kak Tina, segera kuletakkan di tempatnya. Celana
seragamku aku rendam di kamar mandi.

Aku menuju dapur, lalu makan bersama Kak Tina. Setelah makan, seperti
biasa aku dan Kak Tina menuju kamar kami. Kak Tina mengambil novelnya,
hendak menyimpannya di dalam lemari.
“Kak, Saya bisa pinjam nggak?”.
“Ini? Ini bacaan orang besar”.
“Tapi kan saya ingin tahu. Kelihatannya bagus. Saya belum pernah Kak Tina
ijinkan membacanya”.
Kak Tina menatapku. Lalu berkata, “Baiklah. Kita baca sama-sama”.
Aku nyaris tak percaya. Kamipun duduk di pinggir tempat tidur. Mulai
membaca.Ceritanya mengenai seorang wanita bernama Marisa, yang liar dan
haus seks. Ceritanya benar-benar vulgar. Kak Tina nafasnya tak teratur
saat membaca bagian yang menceritakan permainan cinta Marisa dengan
beberapa laki-laki. Aku memandangnya. Mukanya yang sedikit hitam bertambah
gelap. Nafsunya kurasa.
“Sapto. Sulit ya membacanya?”
Memang kami duduk berdampingan, dengan buku dipegang Kak Tina.
“Ya”
“Kalau begitu, duduklah di pangkuanku”

Aku kaget, tapi tanpa berkomentar aku lalu duduk di atas pahanya. Badanku
belumlah terlalu besar. Beratkupun saat itu belum sampai 40 kilo. Walau
sedikit kesulitan, Kak Tina terus membaca. Aku? Otakku sudah tak mampu
lagi membaca. Pikiranku mendadak kosong, ketika punggungku menyentuh
dadanya. Dapat kurasakan kehangatan yang dihantarkannya.

Kak Tinapun kurasakan menggosokkan tubuhnya ke tubuhku, saat halamannya
sudah sampai ke bagian seru. Aku menikmati saja. Kejantananku meronta di
balik celanaku, yang saat itu belum terbiasa memakai underwear. Tangan Kak
Tina yang kanan mencengkeram pahaku. Terkadang mengelusnya, terkadang
mengusap sampai ke pangkal pahaku. Aku membiarkan saja. Kurasakan detakan
jantung Kak Tina kencang, seirama dengan detak jantungku.
“Berdiri sebentar, Sapto”. Aku pun berdiri. Kak Tina membuka lebar
pahanya.
“Capek, Kamu makin lama tambah berat. Duduk di sini saja”. Dia menunjuk
tepi tempat tidur, di antara pahanya yang terkangkang.

Kami terus membaca. Kali ini sensasi yang kurasakan tidak hanya dada Kak
Tina yang menekan punggungku, juga sebentuk gundukan hangat di pangkal
pahanya menyentuh pantatku. Otakku terbakar! Tangan Kak Tinapun tetap
meraba pahaku. Dengan ragu-ragu, kuletakkan pula kedua tanganku di
pahanya. Dia tidak melarang. Aku coba mengusapnya, seiring dengan
usapannya di pahaku. Dia tidak melarang. Naluriku menyuruhku untuk menekan
punggungku ke dadanya. Dia tak melarang. Malah tangannya mulai menyentuh
kejantananku, memegang batangnya. Aku menahan nafas.

Tangan kak Tina tetap mengelus dan meremas kejantananku dari balik celana.
Tanganku pun bereaksi lebih berani, meremas pahanya yang kiri dan kanan.
Tekanan dada Kak Tina, beradu dengan tekanan punggungku. Saat ini aku
merasakan puber yang sebenarnya.Saat tangan Kak Tina mencoba meraih
ritsluiting celanaku, terdengar suara motor bebek memasuki halaman rumah.
Bu Rochim pulang.

Serentak kami berdiri. Berpandangan. Aku salah tingkah. Kak Tina merapikan
bajunya.
“Sana, Urus sapi”, Usirnya kepadaku.
Aku pun menurut. Waktu mengambil rumput sapi aku memikirkan semua yang
terjadi, segalanya begitu fantastis. Pengalaman yang tak pernah kudapat
sebelumnya. Aku mengharapkan segalanya akan terulang kembali. Tapi Kak
Tina tak pernah mengajakku membaca bersama lagi. Aku tak berani bertanya
kepadanya. Malu.

Namun pengalamanku hari itu dengan Kak Tina membuat aku tambah penasaran
mengenai seks. Aku ketagihan. Malam-malam, kalau Kak Tina tidur, aku
menjelajahi tubuhnya. Dan untungnya, Kak Tina itu kalau tidur seperti
orang pingsan. Sulit sadarnya. Jadi aku bisa bebas menyentuh dada dan
kewanitaannya. Walaupun masih terhalang oleh pakaiannya. Tapi aku cukup
puas.

Sekali waktu, dengan berpura mengigau, aku merangkak di atas tubuhnya.
Hati-hati sekali aku tiarap di atasnya. Mukaku tepat di antara bukit
kembarnya, sedang kejantananku tepat di kewanitaannya. Aku menikmati saat
itu. Sensasi yang kurasakan bertambah dengan rasa takut ketahuan.
Kejantananku menekan kemaluannya, tergadang kugosok-gosokkan. Kak Tina
tetap tak sadar. Setelah belasan menit melakukan itu, kejantananku
menyemburkan spermaku. Membasahi celanaku, juga sedikit membekas di daster
Kak Tina.

Paginya aku takut-takut, kalau Kak Tina tahu ada sisa sperma di dasternya.
Untung sisanya telah mengering. Sejak malam itu, setiap malam aku
melakukan hal itu. Terkadang kupikir Kak Tina tahu, tapi dia membiarkan
saja. Masalahnya aku pernah merasa bagian bawah tubuhnya berdenyut-denyut
saat kutimpa, dan tangannya merangkulku, dan detak jantungnya keras dan
cepat. Karena dia tidak pernah menyinggung hal itu, aku biarkan saja.

Sampai satu hari kudapati Kak Tina muntah-muntah di kamar mandi. Bu Rochim
mencemaskan keadaannya. Dengan segera Bu Rochim membawanya ke dokter.
Kabar yang dibawanya dari dokter membuat seisi rumah tersentak. Kak Tina
hamil dua bulan. Bukan, bukan aku yang melakukannya. Mana bisa. Kami tak
pernah bersetubuh. Lalu siapa? Pak Rochim? Bukan, beliau orang baik
(sampai sekarang aku selalu mengingatnya, ayah angkatku itu). Jadi siapa?
Ternyata yang melakukannya pacar Kak Tina, seorang tukang becak yang
sering mengantarnya kalau pergi pasar. Rupanya, kalau Pak Rochim bekerja
dan Bu Rochim ada acara Dharma Wanita, si Otong itu selalu datang.

Dan akhirnya Kak Tina pun menikah, lalu berhenti kerja. Tinggallah aku
sendiri. Pak Rochim tak pernah mengambil pembantu lagi. Tiada lagi teman
tidurku. Hanya aku dapat warisan dari Kak Tina. Apalagi kalau novel-novel
erotiknya.

Peace, Love, Unity & RespectSeptember 20, 2006 9:41 am

Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.

Suatu hari di sore hari Rida terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangannnn! Lepaskannn!”, Rida berusaha meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Rida mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.

Tubuh Rida memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak rambut Rida sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.
“Sret!”, Rida tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.
Menyusul branya ditarik dengan kasar. Rida benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh..!”, Rida merintih.
Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Rida dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Rida hanya mampu menangis tak berdaya.

Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Rida membuka mulutnya. Rida memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Rida.
“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Rida menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Rida dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Rida yang sudah basah.
Rida menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Rida sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu. Rida masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Rida berusaha meronta, tapi tak berdaya.

Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Rida lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Rida ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Rida gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Rida merasa akan muntah. Tapi Warto terus menekan hidung Rida hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Rida hingga bersih. Rida tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Rida. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Rida terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Rida menangis sesengggukan. Diman memakai celana dalam Rida untuk membersihkan sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Rida terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.

Rida ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Rida dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.
“Ayo Rida, kulum punyaku!”, Rida yang hanya mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh…, mmmhhh.., mhhh…”, Rida menangis tak berdaya.
Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
“Akkkghhh! Isep teruss…!, Ayooo”.
Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Rida. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Rida dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Rida bergiliran.

Tubuh Rida yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Rida ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Rida dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Rida.

Ketika telah selesai Rida telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Rida pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.
“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas…”.
Akhirnya muncul ide mereka yang lain.

Tubuh telanjang Rida diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Rida yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam. Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Rida disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Rida tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.

Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.
“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.
Rida berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Rida mulai dijadikan bulan-bulanan. Rida hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.

Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Rida bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.
“Ini kan teller di bank depan?”

Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Rida dengan berbagai posisi. Rida yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Rida tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Rida sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.

TAMAT

Peace, Love, Unity & RespectSeptember 18, 2006 9:13 am

dodon tidak sedikitpun berniat untuk belajar atau membaca buku waktu dia ke perpustakaan kampus , kuliah aja dia jarang masuk. dia bermaksud untuk tidur, krn biasanya perpustakaan kampus , jam jam segini sepi , paling satu dua orang yg datang.

dodon kemudian mengambil bebrapa buku yg besar dan tebal dan mengambil tempat di meja paling ujung.
tapi baru saja ia hendak memejamkan mata, pandangannya terganggu oleh sebuah pemandangan. di meja depannya , duduk seorang gadis cantik dengan kaki indah yg terbalut jeans ketat , pantatnya terlihat padat , rambutnya yg panjang terikat ke belakang , kulit putih , bibir sexy, dan sweater pink yg dia pakai membuat dia tampak manis , apalagi buah dadanya terlihat cukup menonjol di balik sweater pink tsb.

kont*l dodon langsung menegang melihat perempuan di depannya, klo tidak salah gadis ini adalah mahsiswi tingkat pertama. gadis ini begitu asyik dengan bacaan dan catatannya, sehingga tak sadar sedari tadi dodon menatapnya penuh nafsu.

kurang lebih setngah jam kemudian gadis itu beranjak menuju kamar mandi , dodon memperhatikan sekitar, lalu kemudian mengikuti gadis itu ke kamr mandi. perlahan dia buka pintu kamar mandi , ia melihat gadis itu sedang di depa cermin , sambil membasuh muka.

tanpa buang waktu lagi , dodon lsg menerkam gadis itu, menutup mulutnya dengan seblah tangan dan menarik gadis itu ke salah satu ruang wc disitu. ia kunci pintunya , mendorong si gadis ke dinding,dan dengan tenaga dan badannya yg besar si gadis tak bisa bergerak tertahan.

si gadis mencoba bicara, namun mulutnya tertutup tangan dodon
“jangan teriak. klo berani kamu bakal menyesal” bisik dodon di telinga si gadis
perlahan dodon melepas bekapannya, si gadis kelihatan takut dan terpaku,
tangan dodon perlahan meremas pantat si gadis yg padat.
si gadis hendak menjerit namun krn takut ancaman dodon ,ia kembali terdiam.

si gadis mulai menangis, tapi tangisan itu membuat kecantikan gadis itu makin terlihat ,ia tidak melawan saat pantatnya diremas remas dodon.
namun saat dodon hendak menarik lepas sweaternya , ia berontak , walaupun akhirnya dodon berhasil melepas sweater pink itu. ternyata si gadis dibalik sweater pink itu hanya memakai kaos putih ketat, buah dadanya terlihat menonjol sempurna, apalagi ternyata ia tidak memakai bra, sehingga putingnya mencuat menggairahkan di balik kaos. pemandangan yg membuat dodon tersenyum, what a sexy body.

si gadis menyilangkan tangannya di dada , sadar jika buah dadanya terlihat.
“tolong..jangan…saya masih perawan…”si gadis memohon
“siapa nama kamu …cantik.?”
“diana…tolong lepasin saya…saya kasih apa aja..asal lepasin saya….”

“nama yang indah” kata dodon sambil meremas buah dada diana, sempat berontak kemudian dodon mengancam diana,
“diam…atau gue harus iket tangan elo, ato gue bakal panggil temen temen gue…
jangan melawan, loe cuman layaninn gue doang.”

perlawanannya perlahan melemah, membuat dodon bebas meremas dan memainkan puting diana yg masih terbalut kaus ketat. sambil tetap meremas buah dada diana , satu tangan dodon membuka kancing jeans diana,menurunkan seletingnya,dan menurunkan perlahan jeans tsb. ia lihat kebawah , ia lihat diana memakai celana dalam putih yg sangat sexy. ia dengan segera melucuti kaos ketat diana, dan menarik lepas celana dalam diana.

ia memandangi tubuh diana yg indah tanpa selembar benangpun, ikat rambutnya dodon buka sehingga rambutnya hitam teruarai menambah kesexyan diana.
dodon lantas menyuruh diana membuka satu persatu pakaian dodon.
begitu celana terakhri dodon terlepas, ia menyuruh diana berlutut dan mengulum kont*lnya yg besar.

diana menolak, meski kont*l dodon terus dipaksakan masuk , diana tetap tak mau mebuka mulut , sehingga dodon harus memijit hidung diana dengan keras ,sehingga mulutnya terbuka, sekejap pula ia memasukan kont*lnya ke dalam mulut diana.

dengan paksa dodon mengerak gerkan kepala diana maju mundur, awalnya diana tidak melakukan apapun, namun akhirnya ia mulai memainkan lidahnya , kont*l dodon ia jilati , dan kadang ia sedot dng kuat, membuat dodon mendesisi keenakan.
sampai akirnya ketika dodon keluar, diana terpaksa menelen sperma dodon.

ketika giliran dodon menyentuh vagina diana ia merasakan vagina tsb sudah basah.
“oohhmm..kamu suka juga kan ternyata…dasar muna loo..”
muka diana terlihat memerah menahan malu.
kini giliran dodon yang berlutut di depan diana dan menjilati vagina diana.
permainan lidah dodon di vaginanya membuat diana merintih, mendesah , dan mengerang, apalagi buah dadanya kembali di remas dodon.

setelah dirasa cukup basah, dodon mebaringkan diana di lantai wc yg dingin, tanpa basa basi langsung menusukkan kont*lnya ke vagina diana, ternyata masih sempit dan memang diana masih virgin.
butuh usaha keras bagi kont*l dodon untuk menembusnya , hingga akhirnya seiring jeritan diana, darah perawan mengalir.
dodon terus mendorong , cepat dan makin cepat , teriakan tangangisan , erangan dan rintihan diana menjadi stimulus untuknya.
hingga akhirnya diana menjerit tanda orgasme, membuat dodon makin semangat, buah dada diana bergoyang seirama dengan gerakan maju mundur dodon.
begitu orgasme , dodon sambil pual meremas keras buah dada ranum diana, sehingga diana menjerit kesakitan.

dodon tertawa puas, siapa bilang ke perpustakaan tak ada gunanya……

Peace, Love, Unity & RespectSeptember 16, 2006 4:59 pm

Pertama kenal di kota gw, pas dia ama sekolahnya ada study tour atau apa gitu di sini. Dia emang bandel gitu. Pas menjelang sore, malah minggat jalan2x ke mall. Nongkrong di KFC.Pas gw juga lagi disitu. Gw kedipin. Dia senyum. Gw anggukin kepala supaya dia dateng.

Eh nyamperin juga.Kenalan. Sebut aja Dhini. Baru 17 taun.Males di ngumpul ama temen2x enakan sendirian katanya.
Kalo ditemenin aku gimana? Kalo ama mas sih mau aja.Kalo aku yang minta ditemenin gimana? Dia cuman senyum. Mau ditemenin kemana mas?
Duh jadi bingung mo ngapain.Diajakin ke hotel, waktunya gak sempet. Bentar lagi musti balik ada pemeriksaan rombongan.Mau pulang bareng gak?Mau aja.

Di mobil, ngobrol2x. Akhirnya nekad dah minta oralin aja.Uh, senyumnya manis banget dan langsung membungkuk.
Damn it! Feels like heaven.
Hotelnya deket. Tapi terpaksa muter-muter dulu. Setengah jam BJ tanpa berhenti.
Mo keluar!
Dia berhenti.
Keluarin aja mas…
Dia terus dan terus ampe akhirnya…
Gak ada satu tetespun yang meleleh keluar dari mulutnya.
Dia ambil tissue dan mengeluarkannya.
Maaf mas, blom bisa nelen. Kapan2x aku janji nelen deh.
Duh!
Akhirnya sampe di hotel. Dia turun. Kasih no HP. besok aku pulang ke surabaya Mas.
Beberapa hari kemudian. SMS dia. Telepon dia. Curhat. Butuh 2 minggu buat dapet kepercayaan dari dia.
Katanya dikerjain ama temennya setaun yang lalu. Kalo butuh duit suka jadi freelance. Suka ama yang jauh lebih tua. Di rumah ribu terus ama bokap nyokapnya.
I like her. Pengen jagain dia.
Mau jadi TTM aku?
Mau asal gak ngerepotin Mas dan keluarga. Wew!
Yang penting gak boong dan gak pernah maen ama orang laen.
Ya janji. Boleh panggil Papa?
Boleh.
Makasih Papa. Aku sayang Papa!
Itu tanggal 1 Juli 2006
Segitu dulu aja ya. Kemaren barusan ke Surabaya. Moga dalam waktu dekat bisa gw tulis deh.
Ada fotonya pas dimobil. Dia anti banget di foto kalo lagi doing it jadi ya gak bakalan ada foto nude atau foto seksi atau foto yang aneh-aneh.
Mukanya terpaksa di blur ya. tapi masih keliatan cantik kan
Awalnya SMS dulu.
Hari Minggu mo ke Surabaya. Ada acara gak?
Gak ada kok. Papa mo dateng jam berapa? Nginep?
Gak bisa nginep. Enaknya ke hotel mana?
Terserah Papa. Gak gitu tau hotel sih.
Ntar mo ngapain aja?Terserah Papa yang penting Papa puas!

Damn!
Beli tiket kereta. Pulang pergi. Dateng Surabaya jam 6 pagi. Hari Minggu. Baru pertama kali nih ke Surabaya. Naek taksi, muter-muter cari hotel yang asik ternyata penuh semua. Akhirnya masuk ke Surabaya Plasa Hotel.
Room-nya Rp. 418.000 sekian. Gak dapet breakfast. Well siapa juga yang mau breakfast wong jam 5 sore gw udah check out. Untung banget tuh hotel dapet tamu kayak gw
Room-nya di lantai 7. Asik juga ya hotel ini. Ada ruang tamu. Kamer mandi. Baru ranjang gede.
Udah di Surabaya Plasa Hotel. Mo kesini sendiri atau papa jemput?
Naek taksi aja. Nanti aku telepon Papa kalo udah masuk lobby. Blom pernah kesana soalnya.
Sikat gigi. Gak mandi, soalnya mo minta dimandiin
Udah di lift. Lantai 7 ya? Tinggi banget.
Keluar lift belok kiri aja, ntar bisa liat nomer kamernya.
Udah di depan pintu. Bukain ya…
Dhini. Tingginya cuman setinggi dada gw. Jeans dan kaos putih hijau. Miss her so much!
Aku kangen Papa!
Gw peluk dia. Nafasnya memburu. Tangannya turun ke bawah.
Dhini mau ikut mandi?
Mau!
Di depan kaca kamar mandi duduk di atas wastafel. French Kiss. Kaos dilepas. Bra dilepas. Padat. Kenyal. Round. Erect Nipples.
Gw remas. Gw pilin. Gw jilat.
Dia mengerang.
Papa buka juga…
Dia lepasin kaos gw. Celana gw. Underwear gw. Nafasnya makin memburu.
Gw lepasin jeans dan CD putihnya.
French Kiss again sambil menuju bath tub. Tangannya meremas penis. Mengocoknya. Mengerang. Mendesah.
Jari gw menelusuri punggungnya turun. She’s wet. Jari tengah masuk. Dia mengerang. Mengejang. Jari telunjuk masuk. SeMpit dan menjepit.
Erangannya makin menjadi. Matanya membelalak.
Papa….
Gw gerakin jari gw. Jepitannya makin terasa. Tubuhnya mengejang.
Akhirnya dia memeluk tubuh gw erat. Mengerang tinggi.
Papa…Papa…
Dan terhuyung lemas.
Papa pinter…
Hmm….
Air bath tub yang hangat jadi terasa dingin.
Segini aja dulu ya. Soalnya pas ngetik jadi sange lagi gw. Soalnya dia jauh gw jadi bingung mo ngapain kalo lg sange

Peace, Love, Unity & Respect 4:50 pm

bro semua.. gw udah punya cew. trus suatu saat gw ada undangan event disuatu hotel. kenalan dengan salah satu SPG-nya.. berteman baek. cakep abis.. virgin, udah punya cowok! mereka bener2 good couple. anak baek2.. jangankan ml, kissing aja baru pipi doang..

umurnya juga masih 18.. baru masuk kuliah. And than i maka a move.. sms, tlp dia.. dan bilang aku care of her. And guess what, dia oke-oke aja.. sms and tlp jalan terus. Nonton, makan, jalan ke mall.. karaoke.. so far baek2 aja, sampai suatu saat gw nekad peluk and kiss dia di ruang karaoke..

dia ngebalas.. masih pemula banget.. blom bisa kissing..

trus berlanjut di pertemuan berikutnya.. kiss and french kiss.. hug and french hug?

lama2 gue berhasil raba dan cium payudara.. lalu beberapa hari kemudian sukses lepasn bajunya..

terus berlanjut dihari2 berikutnya.. skr totally naked udah biasa. oral udah, petting apalagi.

and guess what.. she want me to be the first.. ambil virgin gue katanya..

alasannya? love.. klasik banget. tapi dia mau gue yg pertama.

bingung niy.. ambil gak ya.. gue bukan perjaka lah.. (jelas..)

gue banyak banget TTM. jujur, lebih dari 10 yg aktif mpe sekarang. kebanyakan sih mahasiswi. beberapa anak smu, beberapa kerja dan beberapa bini orang.. bukan mau sombong, gue blm pernah kesulitan dapetin sex.

semuanya free. suka ama suka.. pernah juga dalam sehari ML dengan 4 cewek berbeda.. di hotel yang sama. receptionist sampe akrab ma gue..

Tapi itu semua beda dengan yang ini.. aku dah pernah dapet 3 virgin.

ini bisa jadi yang ke 4. tapi kenapa aku bingung.. biasanya juga aku ambil. setelah aku pikir2… dia bener2 baek.. bener2 tulus sayang gue. sementara gue cuma pura2 sayang dia. yang bener gue nafsu doang..

1. virgin pertama ini gue gak tau kalao dia virgin. Kita TTM lama, 1 tahun.
sampe akhirnya sama2 gak kuat nahan nafsu.. trus dia bilang
‘masukin aja..’ ya gue nurut.. belakangan, kira2 3 hari kemudian, setelah ML ke dua, dia baru ngaku.. dia virgin. busyet… soalnya gak keluar darah.. pantesan susah banget masuknya walaupun udah foreplay lama banget.. dia juga mpe meringis2 nahan sakit… ternyata..

2. Virgin kedua.. gue tahu dia virgin. TTM juga, trus cerita yg sama..
sama2 gak kuat nahan nafsu, dia minta masukin. aku nanya
‘yakin lo mau ML ma gue..? ‘ dia jawab ‘masa bodo ama virgin..’
ya udah gue masukin.. gitu! skr dia udah married.. tinggal di singapura..
kadang2 kalo ke indonesia masih suka ngajakin ketemuan.

3. virgin ke 3, anaknya gampang horny. memang maniak kiss, petting.
masih SMP kelas 3 waktu ketemu gue. kenal di chatting.. telpon2
trus suatu saat gue nanya: ‘penting gak sih virgin buat lo?’
dia jawab ‘gak.. gue masih nyari orang yg tepat.. lo mau?’
karena situasinya becanda.. gue jawab ‘mau lah..’
trus kita janjian nonton.. pulangnya gue bawa ke hotel 6 jam-an. masih
di garasi.. belum masuk kamar.. kita udah kiss, petting dan dia bobol
di dalam mobil!
baru trus masuk kamar.. dan lanjutin ronde ke 2 di kamar setelah mandi
bareng… gak ada penyesalan.. suka ma suka..
dia dah punya cowok lain sekarang.. kadang suka PS- ma gue. dan kalo cowoknya lagi ke luar kota, dia nyamperin gue buat minta jatah…
tapi bener2 gak ada tuh menuntut, dll..

so……….. itu kisah gue. setelah gue baca semua saran temen2 disini..
gue sekarang belum bisa kasih keputusan. Masih lama, september.

buat gue pribadi, dapet virgin bukan kebanggaan. malah repot. susah masuk, ngeliat dia kesakitan.. sampai ngeliat bintik2 darah virginnya..

so.. gampang banget kok buat gue menolak virginnya. Bro semua tentu menduga, bahwa kebingunganku disebabkan dia anak baek2… kalo gue ambil virginnya, masa depannya hancur, dsb. sebenarnya bukan karena itu…

dia sampe mohon2 minta gue ambil virginnya. dia tulus cintai gue dan janji gak akan nuntut apa2. cowoknya dia anak ‘kecil’ yang gak tau apa2 soal beginian. toh.. fact said that gak semua cewek ada darah virginnya. gue ngalamin dengan virgin 1 gue. so.. cowok manapun di jaman ini akan kesulitan untuk mengetahui virgin cewek -jika- cewek itu pintar faking. pintar acting.

yang bikin bingung dia bilang, kalo gue gak ambil virginnya, dia akan menyesal seumur hidup karena gue cinta sejatinya. hohoho…

bener gue ngerasa aneh.. gue ‘dipaksa’ melakukan hal yang mungkin banyak diidam-idamkan cowok. dapet virgin.

gak tau lah.. lihat aja ntar september. kalo bro semua ada saran lagi.. silakan.

yang jelas, gw sama sekali gak masalah menolak virginnya. jauh lebih enak dengan yang udah pengalaman. Lagian.. kalo gue butuh, banyak TTM yang mau kapan aja (bahkan ada yang mau walaupun dia lagi haid..)

so… gue ucapin THANKS BERAT buat semua bro disini….. saran kalian berguna banget dan gue memang lebih condong untuk menolak virginnya, walapun gue belum sampai pada sebuah keputusan.

apapun pikiran gue.. toh 3x kali gue ngalamin. kalo dah nafsu… semua logika hilang dan akhirnya ml juga.. jujur gue gak yakin bisa menahan diri kalo kakinya terbuka lebar dan siap untuk ditembus.

Peace, Love, Unity & Respect 4:48 pm

berawal dari fs, gw kenalan ama anak salah satu sma top di jakarta (daerah citraland, deket hotel mercure) n minta no hpnya.. then kita contact2 selama 3hari, trus gw ngajak ketemuan, dulu dia masi sma 2 n gw sma 3, sekitar july2004. trus dia setuju n suruh gw jemput di tmp les SAT di gedung sebelahnya Planet Hollywood(gw lupa nama gedungnya).. setelah ketmu, wah ternyata wajah aslinya lumayan jg ne.. trus kita jalan ke ps n makan then gw anterin dia pulang..
besokanya dia ngajak jalan lagi, tp kali ini ke mega mal, soalnya dia tinggal di PIK, jd deket dari rmhnya.. setelah makan n nonton, trus gw anterin plg lagi.. pada pertemuan yg ke 3, kita jalan ke TA n dia mulai hold my hand, trus kita ntn lg, n didalem bioskop gw mulai nanggepin, ya tangannya gw elus2 dll.. then plg nonton udah malem, pas lampu merah gw coba kiss dia n ternyata dia menangapi, ya udah langsung gw embat. karena udah sange, gw berenti di pinggir jalan yg sepi n gelap deket rumha sakit PIK, n kita mulai frenckissing n gw mulai lepas bajunya ternyata dia nga comment apa2, ya udah gw lanjut plorotin branya n clana jeansnya ternyata dia lagi dapet, n kita ga bisa apa2 deh, jadinya gw cma bisa gesek2in my lil’ bro ke mekinya .. hehe.. pas lagi seru2nya ternyata ada patroli, gw sampe shock abis2an kaca gw digedor, tau2nya udah disambut 3 polisi.. dikiranya kita lagi ngewe, gw sampe ditarik keluar mobil n tuh polisi kurang ajar malah liatin n senterin tuh cewe.. heheh.. trus mobil gw diperiksa smua n gw minta damai gw kasi 300ribu, ga mao lagi. dia minta 1jt, kalo gw ga kasi, dia mau panggilin buser dll.. karena gw udah shock berat ya akhirnya gw ke atm usahain cari duit.. setelah itu akhirnya ktia dilepas jg.. pas lagi jalan pulang kita ngobrol2 lg, n dasar lg sange, gw cipok lagi n gw bilang clana gw basah ne.. trus dia penasaran n dia bilang lom pernah liat kontol, pucuk di cinta ulam tiba jg, langsug aja gw buka clana gw n gw sodorin my junior.. trus gw suruh cium, ternyata dia nurut aja.. gw sedikit tuntun dengan tangan gw n grepe2 toketnya, akhirnya kita keliling daerah rmh skt PIK sampe 5 kali n akhirnya gw bilang udah mau keluar nih, trus gw keluarin semua peju gw di mulutnya cratt… cruutttt… muantabbbb.. trus gw ga nyangka, ternyata ditelen semua peju gw.. dia bilang “enak jg ya..” trus gw anterin pulang deh..
sejak saat itu gw ketemuan terus sampe ampir 6 bulan, setiap kali anterin dia pasti dapet BJ dulu di mbl.. hubungan kt terputus wkt gw mau kul ke US n dia ke OZ..

Peace, Love, Unity & Respect 4:46 pm

sekitar tahun 1997 gw bekerja di suatu perusahaan swasta yg cukup besar ..jadi dgn sendirinya bangunannya jg besar ….tahun pertama gw bekerja blm ada tanda2 ke hal2 yg aneh…thn ke 2 gw bekerja mulai satu persatu gw kenal lebih dalam dgn ce dikantor tsb…singkat cerita gw kenal dekat dgn salah salah satu ce dari bagian lain sebut aja si ari(165cm, bra34 kali ya….hitam manis)
second
curhat sana sini dgn ce tsb alhasil sampe kearah yg hot2 sampe colek sana colek sini…tapi gw blom berani sampe lebih..maklum waktu itu gw masih hijau…
kantor gw tsb punya sebuah ruang meeting yg posisinya agak terpisah dari ruangan lainnya…dimana kalau kita berada diruang meeting tsb kita bisa lihat keluar dan orang dari luar tdk bisa lihat ke dalam…
suatu hari setelah kita ngomong ngalor ngidul sampe ke hal2 hot..gw pancing dan tantang dia untuk temuan diruang meeting tsb(yg pasti setelah gw check engga ada yg meeting)….
third
akhirnya gw duluan masuk ke r.meeting duluan dgn perasaan berdebar sangat cepat(bro&sis bisa bayangin deh)antara ngeri dan penasaran…akhir nya si ari datang dgn muka yg memerah jg..akhirnya dgn nekat gw langsung peluk dan kiss si ari dgn hot mungkin dia juga terpancing balas dgn hot…mulai deh gw nekat bergerilya ke arah breastnya yg lumayan kencang(maklum perawan katanya)walau awalnya ditepis dan ditolak terus….tapi gw pantang mundur gw kasih ciuman terhot buat di lupa sampe bisa touch and kiss tuh breast….
akhirnya gw penasaran mo terus turun ke bawah tapi selalu ditolak(maklum kopdar pertama masih jaga image)…akhrinya hari itu gw cuma dapat kiss lips and breast…plus peluk dan tempelin si mr.p ke perut dan mrs.v dia …biar buat dia horny dan penasaran…..
the last
akhirnya krn dia takut ada yg masuk dia stop aksi kita sampe disitu….tapi gw berpikir kedepan toh masih ada hari lain …

sama seperti kecanduan hal2 yg lain…seseorang klo puas terhadap sesuatu pasti minta lagi and lagi….tul kan bro & sis..
jadi tdk menunggu waktu berminggu-minggu atau berhari-hari keesokan harinya gw langsung bel lagi si ari(yg pasti setelah lunch ya..krn klo pagi ke siang kan biasa kita orang kantoran sibuk)
ya krn dibarengin rasa penasaran cuma dapat kiss dan touch doang….akhirnya biasa ..gw call dan gw bilang : ari loe masih berani engga seperti kemaren atau loe kapok?biasa ce klo jaim(jaga image)pasti engga mau to the point bilang ya….dia bilang : gw sih engga kapok fine2 ajah..tapi yg buat gw takut kan ini dikantor …gimana coba klo tiba2 orang datang mo pakai ruang meeting hayooo?(memang bener sih klo tiba2 ada yg masuk gimana coba bro…walaupun ruang meeting dari dalam kita bisa lihat orang yg datang..tapi kan engga ada tempat buat kabur…ya paling engga nekat hadapin or ngumpet di kolong meja ..itu jg resiko ketahuan.)
ah tetapi biar gimana namanya udah sange berat yg gituan engga kepikir…..eh gw pura2 aja sok berani dan ajarin dia….bilang aja klo ada yg pergokin kita bilang baru mau keluar habis ambil sesuatu yg ketinggalan beres kan……
akhirnya kita sepakati untuk temuan lagi setelah dicheck tuh ruangan meeting kosong and yg pasti gelap sekali boooo.
biasa gw masuk duluan menunggu….sambil jantung berdebar keras takut ketahuan dan yg utama si mr.p udah tdk usah disentuh udah perkasa dan ngilu2 bayangin apa yg akan terjadi selanjutnya…
akhirnya si ari datang dgn senyum2 dikulum(pernah lihat dong bro klo ce malu2 kucing gimana pasti bikin tambah senewen kan)….
akhirnya langsung gw terkam tuh bibir tanpa lihat sikon lagi….krn time is chance…biasa gw kasih ciuman dasyat gw …gw gigit dan gw sapu semua permukaan ronga mulut dia dgn lidah gw….sengaja bro mau buat dia horny dan nyerah bisa gw touch tuh vaginanya..(krn schedule gw or target gw baru touch dulu belom lebih krn masih ngeri perawan orang)……
setelah touch and kissing terutama gw gerepe habis tuh toket tanpa perlawanan akhirnya gw bisa buka tuh bh dan gw angkat bajunya dan dgn nafas yg membara gw isep tuh pentil dan dia bergelinjang kegelian dan nafsu sambil remas dan usap kepala gw…..
eh….tiba2 ada yg keluar dari lift dan lewat r.meeting ..gw langsung jantungan dan stop aksi sementara….ternyata cuma lewat doang tuh temen ….
akhirnya gw lanjutin tuh isepan dan remasan gw …si ari…kayaknya dah mo terbang tuh gw perhatiin…
akhirnya gw coba untuk mengeraba perut pelan2 biar dia tambah nafsu….terus gw turunin tangan gw ke arah belakang pantat untuk gw remas2 …alhasil tanpa penolakan (informasi hari itu doi pakai rok sedengkul dah siap2 kali yeee)….setelah gw raba dan remas tuh pantat dari luar…gw beraniin untuk masukin tangan ke arah dalam rok tapi tetep masih bagian pantat…gw engga mau keburu-buru ke depan kuatir dia tolak…..setelah gw ras cukup…gw coba elus2 tuh paha mulai kedepan dan kedepan lagi(yg pasti mulut kita tetep bersatu…asli gw maniak ciuman bro)…
setelah coba elus dan remas tuh pahanya dari belakang gw mulai kedepan pelan2 dan gw coba untuk touch tuh meki dari luar celana dalam…ehhhhh..
ditepis bro….katanya malu ……
ye buat gw penasaran….gw jelasin dikit deh…knp malu…toh cuma berdua aja….ya pokoknya malu aja katanya…..(setelah gw tahu setelah kejadian2 selanjutnya ternyata ce tuh suka engga pede katanya dipegang or dicium itunya krn mereka suka bilang bau….jijik….padahal yg bau itu kan yg muantaaap tul kan bro)
gw lanjutin…setelah gw jelasin dan masih juga ditolak akhirnya gw terusin deh dgn kissing maut gw…dan maininin lagi toket …sambil tanggan yg satu mulai lagi elus2 tuh paha…biasa mo mulai lagi ke arah meki…gw coba buat dia nafsu lagi…akhirnya gw peluk erat dia sambil cium…dan sambil tangan gw yg satu gw paksain sentuh meki dia dari luar…walau dia berontak tetap gw kiss dan peluk erat….tangan satu gw….gw elus tuh meki dan tekan2….ternyata celana dalamnya dah basaha bro….licin …hmmmm.
terus gw maininin dari luar(eh btw gw jadi ngaceng neh…ngebayangi sambil nulis cerita ini)….
setelah dia pasrah engga nolak lagi…gw coba untuk selipin jari gw ke pinggiran celana dalam biar bisa sentuh langsung…tetep aja ternyata dia berontak…..gw bujuk dia….ari please boleh dong…bentar aja…penasaran neh…kok licin2 sih?….mungkin doi jg dah engga tahan kali…akhirnya berhasillah jari ku tsb memasukin meki doi yg sudah banjir bin banjir habis….
huaaa lega rasanya walaupun baru jari….gw masih blom ngerti waktu itu….letak daearah g ce krn waktu itu gw baru hijau banget kenal sex….
bagi gw itu jg sdh kepuasan buat gw…walau blom sampe fj…
gw pikir dah cukup perjuangan gw..gw mau dia perlakuin hal yg sama ke gw..(ngerti kan bro)…pengang2 mr.p gw dong tentunya….akhirnya tangan gw yg peluk dia dari belakang gw lepas …gw pengan tangan dia dan gw tuntun untuk pegang or sentuh mr.p gw dari luar dulu(padahal asli bro gw dah mau muncrat krn nafsunya….maklum perjaka bro…)…tapi tetep tangan gw yg satu dimana jari gw tetep nancap dan muter2 di meki doi
biasa lagi bro dia tolak dan seperti ketakutan…gw bilang lagi please gantian dong…
akhirnya dia mau pengang tapi cuma nempel aja…gw bilang lagi elus2 dong dan remas dong…..dgn malu2 dia akhirnya lakuin tuh remas2 dan elus….
mungkin juga krn udah nafsu dan ditambah suansana yg menegangkan gw engga lama muncrat bro…..basah deh celana gw…..wah gw langsung cabut tangan gw dari meki dia……walau gw lihat dia masih blom sampe dan blom puas…tapi gw dah engga betah krn peju gw dah buat basah dan lengket celana….
akhirnya dia senyum2 dan ketawa kecil……ya gw jadi lemes aja ……..akhirnya dia lap tangan gw dari bekas meki dia…dgn roknya……akhirnya gw beri dia ciuman terkahir dan suruh dia keluar duluan dari ruang meeting biar gantian…….
sorry bro ceritanya sampe disini dulu krn dah kepanjangan neh…klo detail dari a sampe z bisa panjang sekali…jadi gw ambil yg pentingnya aja….
ya petualangan r.meeting engga sampe disini bro…kedepan gw cari waktu untuk lanjutin part III dst dan dan mungkin jg klo sempet nulisnya gw akan ceritain kisah unik gw dikantor tsb…dimana gw bisa ajak jg best friend ari yg kerja jg satu kantor dgn kita ke r.meeting tsb…..
hu gw mau ke toilet dulu neh…dah sesek si mr.p gw….

Peace, Love, Unity & Respect 4:41 pm

Dear BMers,

Gw ga tau apa gw akan berhasil apa ga, tapi terus terang apa yang gw coba pupuk sama nih cewek adalah bahwa gw sayang ama dia walau bukan cinta. So walau gw sayang, tapi gw ga pernah berniat menjadikan dia istri, hanya sebagai teman yang mesra saja.

Kejadiannya dimulai waktu gw chatting dengan seorang cewek. Dimulai waktu gw curhat masalah rumah tangga gw yang lagi kacau (hehe taktik kuno gw) sampe akhirnya masalah dia dengan mantan cowoknya. Termasuk udah diapain aja dan gimana perasaannya tentang hal2 seperti itu.

Singkat cerita gw ketemuan sama ni cewek di Arion Plaza. Waktu ngeliat dia wah ga rugi deh, orangnya asyik, manis, walau sedikit jerawatan. Waktu itu gw sempet cari-carian dan akhirnya ketemu. Kita makan2 di KFC atas. Karena gw kalah taruhan ama dia Italy vs Togo (gw pegang Togo) so gw harus ngajak dia nonton. Sebelumnya dia beli CD di Disc Tarra. Waktu dia ngeluarin uang gw dengan lagak Don Juannya langsung mengeluarkan cepek ceng sambil bilang “tenang, gw yang bayarin deh”

Akhirnya kami ke Megaria Cikini dan kebetulan film yang dipilihnya waktu itu Scary Movie 4. Serem tapi lucu. Sengaja pilih bangku di tengah, waktu itu yang nonton hanya 6 orang saja dan semuanya pasangan. Sayang aku ga berani lebih, hanya pegang tangan saja dan menggosok2 punggung tangannya dengan lembut. Tapi aku ga berusaha kurang ajar krn masih dalam taraf penjajakan. Yang hampir bikin gw ga kuat, dia juga suka pijat2 daerah atas lutut gw sampe ke paha. Sayangnya ga sampe selangkangan. Setelah itu aku mengantar dia ke kontrakannya, mampir sebentar, dan cabut. Sambil cium kening. Dia minta gw nunggu agak malem, tapi gw bilang klu nanti ga enak sama tetangga (padahal dede dah senut2 tuh)

Tri … siapa ya lupa
Umur 19 Mahasiswi Sem 4 Univ swasta di Jakarta Timur
Face 6/10 lah abis jerawatnya ada juga sih
Attitude 8/10 bae dan pendengar yang baik dewasa banget ngomongnya walau masih 19
HJ Blum nyoba
BJ Blum nyoba
FJ Ga berani nyoba dah, cukup HJ or BJ abis ga tega ama dianya
DC 40k makan + 40k nonton + CD 59k

Bener juga, hari minggu kemaren gw ajak dia nonton lagi di Megaria. Filmnya pas baru-baru. Gw pilih Slither. Ambil tempat bangku kedua dari belakang paling pinggir kiri. Dari tadi ngobrol2 tentang kuliahnya dan kadang nyinggung masalah seks. Krn gw dah merit gw ceritain aja ama dia. Eh ga nyangka pas gw bilang “konon” trus dia bilang jangan dibalik. Gw tadinya ga ngarti maksudnya apa, ternyata maksudnya dia “konon” jangan dibalik, ntar jorok. Hehe, bisa aja dia. Sebelumnya dia dah gw ajak makan di A&W di PTC Pulogadung. Krn ga ada bioskopnya langsung tembak ke Megaria.

In the theatre,
Krn filmnya horor dan sering bikin kaget, gw jadi bahan ngumpet hehe. Akhirnya sempet jg gw dapet hug. Lalu gantian gw pijetin lututnya dia. Dia megang lengan gw. Duh kok ceritanya acak2an redaksinya (maklum ga bisa lupain semalem jadi otak masih ga sinkron nih).

In the Kos-kosan,
Seperti biasa, malam senin banyak yang masih pulang kampung. Trus kita cerita2 sampe cerita tentang seks. Gw dengan taktik memelas bilang klu gw dah lama ga ml ma bini. Eh ga taunya dia bilang kok ga onani aja? Busyet nih cewek tau juga kayak gituan. Ya gw bilang iya sih, tapi kalo abis nikah ga enak dong dikeluarin sendiri. Enaknya ya ada yang bantuin. Hehehe.
Tapiiiiii ….. ternyata dia ga mau. Ya udah gw pasang muka bete, trus hanya ngomong yang perlu2 aja (taktik biar cewe ngerasa ga enak) dan bener juga, dia jadi ngerasa ga enak. Trus dia bilang klu dia ga pernah begitu sama cowonya yang dulu (waduh virgin nih). Gw tetap dengan tampang bete pura2 ga tertarik ama ceritanya. Akhirnya gw ambil tindakan. Gw bilang ma dia klu gw ga dikeluarin sekarang juga, gw bisa stres berat (hehe apa iya) tanpa ba bi bu lagi gw langsung plorotin rits celana. Dia tampak gugup dan ketakutan. Dia lari ke arah pintu kamar. Gw pikir mo kabur, klu kabur dan teriak2 bisa digebugin ama anak2 cowo yang kos di sebelah tuh. Eh ternyata dia mo nutup pintu.

Peace, Love, Unity & RespectSeptember 15, 2006 5:49 pm

Bar itu terletak di sudut kota, bagian paling gelap dari Jakarta. Bar itu bisa buka mulai dari pagi hingga pagi lagi, tanpa pernah kelihatan tutup. Hampir seluruh pengunjungnya adalah laki-laki pemabuk, preman, pembuat onar. Wanita, sangat jarang, atau bisa dikatakan tidak pernah datang atau mengenali tempat itu. Mulai dari pukul 12 siang, sejumlah preman sudah mulai minum-minum, membuat pengunjung yang peminum biasa cepat-cepat pergi meninggalkan bar itu. Empat dari mereka bermain bola sodok dan yang lima lainnya sedang berbicara dengan Rony. Sekitar pukul tujuh malam seorang sosok wanita masuk. Ia sama sekali tidak cocok dengan tempat itu.

Selly, wanita itu, sudah dijanjikan akan dijemput oleh pacarnya sekitar pukul tujuh, dan pacarnya mengatakan agar ia berpakaian seksi dan sensual. Bagi Selly sendiri, itu bukan masalah. Ia menghabiskan sepanjang sore berbelanja dan berdandan. Ia kemudian mengenakan gaun malam hitam. Bagian dadanya lumayan rendah membuat belahan dadanya terlihat, tapi tidak terlalu banyak. Buah dada Selly tidak besar, tapi padat dan bulat, dan tetap mengacung walaupun ia tidak mengenakan BH sekalipun. Pantatnya juga terlihat bulat di tutupi oleh gaun malam itu. Selly terlihat tinggi karena di kakinya ia memakai sepatu dengan hak setinggi sepuluh senti. Panjang gaun malam itu hanya sampai sepuluh senti di atas lutut Selly, membuat kaki Selly yang panjang terlihat jelas, halus, putih mulus. Karena ketatnya gaun yang ia pakai, Selly harus berjalan perlahan, masuk ke dalam bar itu. Rambut Selly yang berwarna kecoklatan jatuh tergerai di punggungnya. Secara keseluruhan penampilan Selly membuat bar itu semakin terasa panas.

Pacarnya bilang bahwa ia akan menjemput Selly untuk makan malam, tapi sekarang Selly sendiri tidak yakin apakah memang tempat ini yang dimaksudkan, setelah matanya melihat keadaan di sekelilingnya. Ia sendiri harus bertanya beberapa kali untuk bisa sampai ke tempat ini. Selly yang tidak melihat teman kencannya, memutuskan untuk memesan soft drink dan menunggu sebentar. Selly menghampiri tempat duduk kosong di sebelah meja bola sodok, dan duduk di situ berharap teman kencannya akan segera datang dan membawanya pergi dari situ.

Keempat orang yang sedang bermain bola sodok memandanginya sejenak dan mengenali Selly, mereka berkata bahwa mereka adalah fans berat Selly dan mengajaknya untuk ikut dalam permainan bola sodok mereka. Dengan sopan Selly mengucapkan terima kasih dan menolak tawaran itu, dan mengatakan bahwa ia sedang menunggu temannya.

Masing-masing dari keempat orang itu menatap Selly untuk beberapa saat, dan Selly sendiri merasa merinding ketika matanya menatap mata mereka. Mereka menjilati bibir mereka setiap kali mata Selly beradu pandang dengan mereka. Setelah minum-minum beberapa gelas kemudian, suasana semakin menakutkan bagi Selly. Mereka berdiri di sebelah Selly sambil mengusapi selangkangan mereka menunggu giliran untuk menyodok bola. Mereka mulai melontarkan kata-kata jorok seakan-akan Selly tidak ada di situ.
“Hei Non, gimana kalo lo buka kaki lo, jadi kita bener-bener punya lubang beneran buat disodok!” seseorang dari mereka berkata.
“Gimana kalo kita nyanyi sama-sama di ranjang Non?” yang lain menimpali.

Selly berusaha mengacuhkan mereka, tapi mereka terus melontarkan kalimat-kalimat jorok itu. Selly memutuskan untuk menunggu teman kencannya di luar sehingga ia tidak harus melihat orang-orang itu. Tapi seseorang segera mendekatinya dan menempatkan tangannya di bahu Selly serta mendorongnya duduk kembali sementara ia sendiri duduk di sebelah Selly.
“Taruhan yuk?!, Kalo gue bisa masukin bola di sudut itu, lo kulum punya gue di mulut lo!” katanya keras, sambil kemudian menjilat dan mencium telinga Selly.

Selly hanya bisa memandangi dia dengan mulut terbuka tak percaya. Ia sama sekali tidak percaya mendengar perkataan laki-laki itu. Seumur hidupnya belum pernah ada orang yang berbicara sedemikian vulgar kepadanya. Ketika Selly tidak mengatakan apa-apa, orang itu memasukkan tangannya ke dalam gaun Selly, merabai pahanya dan berusaha membuka kaki Selly. Selly meronta dan memandang sekelilingnya dengan tatapan memelas mohon pertolongan. Orang yang lain kemudian berteriak bahwa sekarang giliran laki-laki itu untuk main. Ketika laki-laki itu bangkit, Selly merasa lega, tapi tidak lama. Laki-laki lain menggantikan orang itu dan dua orang lainnya menghadangnya di depan. Laki-laki yang bertaruh tadi menyodok bolanya. Ia kemudian melemparkan tongkatnya ke atas meja, memandang Selly sambil menyeringai, dan perlahan berjalan mendekati Selly.
“Lo utang satu kali sama gue!” katanya singkat.

Rony segera berlari mendekati pintu dan menguncinya. Dua orang menarik Selly yang meronta dan menjerit, dari atas tempat duduknya. Kedua laki-laki itu berkata kalau Selly bisa berteriak sekuat tenaga, tapi tetap akan melayani mereka apapun yang terjadi! Wajah Selly memutih pucat ketakutan, dan memohon pada mereka untuk melepaskan dirinya. Selly berkata, dirinya tidak membawa banyak uang, tapi mereka bisa mengambil kartu kredit dan semua uang yang ada di dompetnya kalau mereka melepaskan dirinya. Laki-laki yang menang taruhan tadi hanya tertawa dan menurunkan ritsluiting celananya.
“Gue nggak butuh duit lo! Lo bisa simpen duit lo! Tapi yang pasti lo nggak bakalan bisa nyimpen badan lo cuma buat lo sendiri!” katanya.

Selly akan segera diperkosa beramai-ramai. Selly hanya mempunyai dua pilihan. Melawan dan berharap bisa melarikan diri, atau berusaha rileks dan berdoa mereka tidak melukai dirinya. Ketika Selly melihat sepuluh orang mengeliling dirinya, Selly menyadari ia harus menyerahkan dirinya.

Tiba-tiba, Selly dipaksa untuk berlutut. Rony tadi memegang rambut dan kepala Selly hingga tidak dapat bergerak. Laki-laki yang bertaruh tadi maju mendekati Selly. Ketika ia mengeluarkan penisnya, ia memerintahkan Selly untuk segera mengulumnya dan jika ia berani mengigit penisnya, ia akan merontokan gigi Selly dan melanjutkan memperkosa mulut Selly. Rony tadi mendorong kepala Selly ke depan. Laki-laki di depan Selly memajukan penisnya mendekati muka Selly. Ketika penisnya sudah tegang dan keras, ia menjepit hidung Selly untuk membuat Selly membuka mulutnya.

Ketika Selly kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, ia mendorong penisnya ke dalam mulut Selly. Laki-laki itu berhenti begitu bibir Selly telah melingkar di penisnya dan membiarkan Rony di belakang Selly membantunya. Rony tadi mulai mendorong dan menarik kepala Selly. Kepala Selly bergerak maju dan mundur tanpa henti, terus menerus. Lipstik Selly yang berwarna merah menempel di batang penis yang ada di mulutnya. Dan ketika kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Selly tersedak, tapi Rony tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Selly. Selly dipegangi hingga tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain.
“Lumayan! Anget dan empuk! Tapi gue pikir dia musti banyak berlatih soal beginian.” Kata laki-laki di depan Selly.
“Mungkin dia belon pernah pake mulutnya? Gimana? Lo udah pernah pake mulut lo Selly sayang?” tanya yang lain.
“Tentu aja dia pernah! Mulutnya nggak dipake buat makan doang tau?! Liat aja tuh bibir, punya lo kayak dijepit sama tuh bibir kan?” kata Rony sambil melihat dari bahu Selly.

Laki-laki pertama tadi lalu mendorong Rony untuk menjauh. Tangannya kemudian menjambak rambut Selly dan mulai menggerakannya dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Selly. Semua orang dapat mendengar suara dahi Selly yang menumbuk perut orang itu, dan erangan Selly yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya.

Ketika laki-laki itu akan mengalami orgasem ia mendorong kepala Selly hingga hidung Selly terbenam di dalam rambut kemaluan orang itu tanpa bisa menarik nafas. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Selly. Dan dari sudut mulut Selly sperma menyemprot keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Selly. Kemudian orang itu mulai bergerak lagi tanpa henti. Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Selly ke atas gaun hitam yang dikenakan Selly. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Selly, Selly megap-megap menarik nafas dan terbatuk-batuk memuntahkan sperma yang masih ada di tenggorokannya.

Dua orang kemudian memegangi Selly sementara yang lain mulai melepaskan pakaian mereka. Selly sendiri tak berdaya untuk melarikan diri, setelah baru saja ia mengalami shock karena sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya, tapi mereka tetap memeganginya.

Ketika semuanya telah telanjang bulat, ia diangkat dan diletakan di atas meja bola sodok dan langsung dipegangi oleh empat orang laki-laki, setiap orang memegangi tangan dan kakinya. Kaki Selly terbuka lebar dan tubuhnya telentang, lampu di atas kepala Selly membuat matanya terpejam karena silau. Rony mendekat dan naik ke atas meja.

Perlahan ia menggosokan penisnya yang besar ke kaki Selly. Yang lain hanya bisa memandang iri pada penis Rony yang panjangnya hingga 25 senti dan selalu ia yang mendapat kesempatan pertama. Rony memerintahkan orang di dekat kepala Selly untuk mengangkat kepala Selly hingga Selly bisa melihat ketika penis Rony mulai masuk ke vagina Selly. Orang yang memegangi kaki Selly berusaha membuka kaki Selly lebih lebar, tapi terhalang oleh gaun yang dikenakan Selly. Rony langsung menarik gaun tersebut robek hingga pinggang Selly.

Orang-orang berseru kagum ketika melihat apa yang dikenakan Selly di bawah gaunnya. Ia mengenakan stocking warna hitam dengan celana dalam sutra berenda yang mirip dengan bikini. Orang yang memegang tangan Selly lalu menarik gaun bagian atas, terlihatlah BH warna hitam yang menutupi separuh dari buah dada Selly. Puting susu Selly tampak mencuat dari balik BH yang tipis dan berenda itu.

“Gila! Lo pake pakaian kayak gini dan lo musti dipaksa buat ngulum punya dia! Kata Rony.
“Mungkin lo nggak suka sama kita semua ya? Lo anggep kita nggak pantes lo layanin, gitu? Jadi lo pikir cuma Roy yang berhak nidurin lo? Lo dandan kayak gini biar Roy napsu sama lo kan? Asal lo tau aja Selly, buat sementara waktu Roy atau siapapun juga nggak bisa nidurin lo! Karena mereka semua musti nunggu lo selesai ngelayanin kita semua di sini! Sekarang kita liat seberapa hotnya lo!”.

Selly terpana, menyadari nama teman kencannya adalah Roy! Roy yang mengajak dirinya makan malam! Roy yang meminta agar Selly berpakaian seksi! Roy yang memintanya agar menunggu di bar ini Roy telah menjual tubuh Selly untuk para preman ini!
Setelah menarik lepas celana dalam dan BH Selly, Rony menyuruh orang-orang yang memegangi Selly melepaskannya. Selly berusaha meronta dan menendang Rony, tapi ia kalah cepat. Rony langsung memegang kedua pergelangan tangan Selly yang ramping dengan satu tangan dan menekannya di atas meja dekat kepala Selly, sementara ia menempatkan pinggulnya diantara kedua kaki Selly. Rony kemudian berusaha membuka kaki Selly dengan kedua lututnya dan mengarahkan penisnya yang sudah keras ke vagina Selly dengan bantuan tangannya yang masih bebas. Dengan satu kali dorongan, Rony dengan keras memasuki vagina Selly. Selly menjerit sekeras-kerasnya, dan makin meronta-ronta, tanpa daya menghentikan Rony memperkosa dirinya. Rony sendiri menikmati sekali segala jeritan dan rontaan Selly. Ia menyeringai setiap kali Selly menjerit kesakitan.

Ketika Rony sedang memperkosanya, laki-laki lainnya ikut menyakiti Selly dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuh Selly. Mereka mulai dengan memainkan buah dada Selly dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik dan menjepit puting susunya. Seseorang menutup mulut Selly dengan tangannya sehingga seluruh jeritan Selly hanya berupa erangan tak jelas. Kaki Selly diangakat tinggi-tinggi dari atas meja sementara tangan-tangan merabainya, menikmati halusnya kaki Selly. Seseorang berusaha membuka belahan pantat Selly dan sesuatu yang basah dimasukkan ke liang duburnya. Dua buah penis menampari wajah Selly, mengenai pipi dan matanya.

Beberapa menit kemudian jeritan Selly hanya tinggal erangan dan rintihan tapi Rony memperkosa Selly tanpa henti, terus bergerak makin cepat. Setelah lama kemudian, Rony menarik penisnya hingga hampir terlepas dari jepitan vagina Selly, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga. Kepala Selly terdongak dan jeritan melengking terdengar, melolong panjang keluar dari mulut Selly yang masih tertutup oleh tangan. Rony mengejang beberapa saat dan bergerak beberapa kali, dan penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina Selly. Sperma, bercampur dengan darah, mulai mengalir keluar dari vagina Selly. Sperma Rony menyembur tanpa henti, hingga mengalir dan tergenang di atas meja bola sodok. Laki-laki yang lain kemudian melepaskan pegangan mereka pada diri Selly dan bertengkar mengenai giliran siapa selanjutnya.

Selly hanya bisa berbaring tak bergerak ditindih oleh Rony, kaki dan tangannya masih terbuka lebar, ia menangis histeris. Satu-satunya yang telah Selly jaga, mulai dari SMA, universitas, hingga kini, adalah keperawanannya. Selly ingin menyimpan keperawanannya itu untuk malam pertama di hari pernikahannya. Ia telah diperkosa dan keperawanannya telah hilang.
“Gila! Dia masih perawan! Gue taruhan si Roy pasti nggak tau soal ini! Artis kayak lo masih ada yang perawan juga ya Selly, gue pikir lo udah kasihin ke produser lo!” kata Rony.

Ia menatap Selly yang masih terus menangis.
“Udah dong Selly, jangan nangis terus! Perawan lo udah ilang sekarang, nasi udah jadi bubur! Lo mustinya bangga ama diri lo, soalnya punya lo masih sempit banget! Pokoknya paling sempit dari semua yang udah pernah gue pake! Lagipula kita baru aja mulai!” katanya pada Selly.

Rony kemudian menarik penisnya keluar. Semua orang melihat bagaimana vagina Selly menjepit penis itu ketika penis itu perlahan keluar dari vagina Selly. Seorang laki-laki segera naik ke atas meja setelah Rony turun. Ia tidak terlalu terburu-buru. Sekarang, Selly dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka dan penis itu sedikit demi sedikit masuk ke dalamnya. Kesakitan kembali tercermin di wajah Selly, ketika ia merasa tubunnya seperti dirobek oleh penis yang masuk.
“Lo jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, masih ada yang laen! Cepet atau lambat lo pasti temuin yang lo suka!” bentak orang itu.

Perkataan orang itu membuat apa yang telah ia takutkan selama ini menjadi nyata. Selly akan diperkosa bergantian oleh seluruh orang yang ada di bar itu. Dan ia tidak punya pilihan sama sekali. Selly hanya bisa menyerahkan dirinya dan melayani mereka hingga selesai. Sekarang Selly hanya berharap ia bisa keluar dari situ hidup-hidup, dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami.

Selly kemudian berusaha berpikir bagaimana membuat semua siksaan ini semakin cepat berakhir. Ia berusaha mengingat adegan-adegan film-film erotis yang pernah dilihatnya. Ia berusaha mengingat apa yang harus dilakukan untuk mendorong seorang pria cepat mencapai orgasme.

Selly kemudian melingkarkan tangannya ke leher laki-laki yang ada di atas tubuhnya dan menariknya mendekat, lalu menciumi bibir laki-laki itu. Selly lalu melingkarkan kakinya ke tubuh laki-laki itu dan menggosokan kakinya yang terbungkus stocking ke pinggul dan pantatnya. Walaupun rasa sakit masih terus menyerang kewanitaan Selly, Selly terus saja melingkarkan dan mengunci kakinya ke pantat dan menariknya hingga penis laki-laki itu masuk lebih dalam ke dalam vagina Selly, dibarengi oleh Selly dengan mengangkat pinggulnya. Sebelah tangan Selly mengusapi rambut laki-laki itu sementara yang lainnya merabai pundak dan punggungnya. Ia menciumi dan mengulum lidah laki-laki itu sembari mengeluarkan erangan seakan-akan ia menikmati semuanya. Selly berusaha mengingat semua adegan erotis yang pernah dilihatnya, berusaha membuat laki-laki yang sedang memperkosanya segera mengalami orgasme.

Berhasil! Ia menyemburkan spermanya ke dalam vagina Selly yang sudah terisi oleh sperma Rony. Lalu dengan segera orang lain menggantikan laki-laki itu, kemudian laki-laki lain menyusul, setelah itu temannya juga mulai memperkosa Selly. Selly berusaha membuat mereka orgasme secepat mungkin, tapi akhirnya Selly tidak bisa lagi menahan semua itu. Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan ia sudah kehabisan tenaga melayani laki-laki itu. Selly lalu menangis dan memohon pada semuanya agar melepaskan dirinya. Laki-laki yang sedang menindihnya meremas buah dada Selly keras-keras hingga Selly menjerit kesakitan.
“Jangan berisik! Lo belon ngelayanin temen-temen gue! Masih ada lima orang lagi!” bentaknya pada Selly.

Tiba-tiba orang itu menarik penisnya keluar dan merangkak ke dada Selly. Selly sudah sangat ketakutan sekarang hingga ia hanya bisa berbaring dengan mata terpejam erat, menunggu orang selanjutnya yang akan mengambil giliran memperkosanya. Ia sama sekali tidak menyadari orang yang baru saja memperkosanya mengarahkan penisnya ke muka Selly. Dan tepat sebelum orang itu orgasme Selly membuka matanya. Sperma segera menyembur ke seluruh wajah Selly. Seseorang memegangi kepala Selly, hingga seluruh sperma itu keluar menyembur dari penis itu. Ketika orang itu puas ia menarik rambut Selly dan menamparkan penisnya ke wajah Selly.
“satu-satunya yang boleh lo mohon cuma ini tau? Lo sendiri yang masuk ke sini pake pakaian kayak gini dan lo mohon kita berhenti? Lo bercanda apa? Lo musti ngelayanin kita sampe kita nggak bisa bangun lagi! Ngerti” Orang itu membentak Selly.

Lima orang terakhir kemudian mengambil giliran masing-masing dan memperlakukan Selly sama dengan orang sebelumnya. Ketika hampir orgasme, mereka menarik penisnya keluar, merangkak di atas dada Selly, dan memyemprotkan sperma mereka ke seluruh wajah dan buah dada Selly kemudian menarik rambut Selly untuk membersihkan penis mereka. Dan ketika orang yang terakhir selesai Selly berbaring hampir tak sadarkan diri.

Wajah, buah dada, dan puting susu Selly seluruhnya dilumuri sperma. Sperma itu mengalir turun dari sisi wajahnya, masuk ke telinga dan leher Selly. Selly tidak bisa membuka matanya karena semuanya tertutup oleh sperma. Selly harus bernafas melalui mulutnya karena sperma sudah masuk ke hidungnya. Rambut Selly yang kecoklatan terlihat kusut karena terkena sperma yang mengering di rambutnya. Ketika orang-orang itu beristirahat sejenak, Selly hanya berbaring di atas meja bola sodok, kakinya terbuka lebar dan sperma mengalir keluar dari vaginanya, menunggu orang selanjutnya memperkosa dirinya. Vagina Selly tampak memar, memerah, dan terasa sakit karena baru saja dimasuki sepuluh orang bergantian tanpa henti.

Dua orang menarik tubuh Selly turun dari meja bola sodok itu dan menyeretnya ke kamar mandi. Mereka kemudian membersihkan tubuh Selly dengan kertas tisu yang kasar dari sperma yang menempel. Dan ketika tubuhnya diseret keluar lagi, Selly melihat meja bola sodok tadi telah dipindahkan ke pinggir ruangan. Di tengah ruangan itu sekarang tergelar matras kusam dan delapan laki-laki telanjang bulat berdiri mengelilinginya. Selly didorong ke tengah-tengah lingkarang orang itu, hingga ia terjatuh ke atas matras, tubuhnya tersungkur tak berdaya untuk mengangkat tubuhnya. Selly merasakan tangan-tangan di seluruh tubuhnya mulai menarik, mendoorng dan mengangkat tubuhnya. Ketika Selly membuka matanya ia melihat seseorang telah berbaring telentang di bawah tubuhnya.

Orang itu adalah si Rony, dan penisnya sudah tegak berdiri. Kedua bibir vagina Selly kemudian dibuka oleh dua pasang jari-jari ketika perlahan tubuh Selly diturunkan mengarah ke penis Rony. Denga sisa-sisa sperma yang ada, penis itu dapat lebih mudah masuk ke dalam vagina Selly. Dan Selly sendiri hanya mengerang, merasakan kembali sakit walaupun tidak lagi menyengat ketika pertama kali ia diperkosa oleh Rony tadi. Seseorang kemudian menarik rambutnya, dan sebuah penis lain mendekati mulutnya. Selly dengan perlahan membuka mulutnya, berharap mereka tidak akan menyakitinya jika ia menuruti kemauan mereka. Penis itu masuk hingga ke tenggorokan Selly dan berhenti tak bergerak. Selanjutnya Selly merasakan sebuah tangan mendorong tubuhnya hingga turun. Kemudian tangan-tangan lain mulai membuka belahan pantatnya. Selly panik dan berusaha merangkak menjauhi tangan-tangan itu. Dengan merangkak Selly membuat penis di mulutnya masuk makin dalam ke tenggorokannya.
“Hei, lo suka juga akhirnya! Kalo gitu ayo mulai aja sayang!” kata orang yang memasukan penisnya ke mulut Selly sambil tersenyum.

Ia mulai menggerakan pinggulnya secepat dan sekuat tenaga. Tubuh Selly yang terdorong mundur karena gerakan orang itu, disambut dengan sebuah penis lain di liang anusnya. Sekarang rasa sakit yang perlahan mulai hilang dari tubuh Selly, kembali menyengat seluruh tubuhnya. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, sakit yang tidak pernah dirasakan Selly sebelumnya. Pikiran Selly menjerit-jerit kesakitan, sedangkan mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas diredam oleh penis yang keluar masuk. Rasa sakit itu makin menjadi-jadi, ketika ketiga orang itu mulai bergerak berirama. Tubuh Selly seperti terkoyak-koyak ketika penis-penis itu bergantian keluar masuk di dalam vagina dan anusnya. Dua orang kemudian mendekat memegangi tubuh Selly hingga ia tidak terjatuh ke samping. Semua lubang di tubuh Selly, mulut, vagina dan anus dipergunakan oleh mereka untuk memuaskan nafsu mereka secara bersamaan. Kemudian dua orang terkahir tadi menarik tangan Selly, melingkarkan jari-jari Selly di penis mereka dan menyuruhnya untuk mulai mengocok penis-penis mereka, sementara dua orang lainnya berlutut di samping Selly, dan menarik buah dadanya untuk kemudian digosokan pada penis mereka.

Sekarang Selly sudah dalam keadaan berlutut, tubuhnya bergoyang maju mundur. Tujuh dari sepuluh orang itu terus-menerus menggunakan tubuh Selly untuk membuat mereka puas. Tidak seorang pun peduli dan melihat bahwa Selly sama sekali tidak bisa bergerak. Semuanya tampak sangat bernafsu memperoleh bagian tubuh Selly.

Setelah beberapa menit rasa sakit itu mulai bisa ditekan oleh Selly. Selly terus memejamkan matanya karena ia tidak ingin melihat bagaiman orang-orang itu mempergunakan tubuhnya untuk memuaskan mereka. Ia hanya berharap semua itu segera selesai, karena dirinya hampir tidak bisa lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Orang di anus Selly lebih dulu orgasme. Ketika ia selesai dan menarik penisnya keluar, orang lain maju dan dengan mempergunakan sperma orang yang pertama, ia melumasi penisnya dan memasukannya ke anus Selly. Lalu orang di mulutnya menyemburkan sperma, membuat Selly tersedak tak bisa bernafas, berusaha sekuat tenaga menelan sperma orang itu. Lalu penis itu ditarik dan digantikan oleh penis lain, yang kali ini lebih besar. Selly berusaha membuka mulutnya, tapi orang itu tidak sabar dan langsung mendorong penisnya masuk, dan mulai bergerak. Ia mendorong penisnya dalam-dalam dan tidak menariknya keluar, terus menahannya di dalam tenggorokan Selly. Selly kemudian merasakan getaran dari tubuh Rony di bawahnya dan cairan hangat mengalir ke dalam vaginanya, segera setelah itu orang lain menggantikan posisi Rony tadi.

Orang-orang tadi bergantian memperkosa Selly di seluruh lubang yang ada, ia terus menelan semua sperma yang disemburkan di dalam mulutnya. Dua orang di depan wajahnya mengocok penisnya masing-masing dan mengarahkan penisnya ke wajah Selly. Ketika Selly melihat ke bawah, orang di bawah tubuhnya sedang menatap wajahnya dan kepalanya diganjal oleh kedua tangannya. Tak lama kemudian sperma kembali masuk ke dalam vagina Selly, dua detik kemudian sperma menyembur ke anusnya.

Penis lain kembali masuk ke vagina Selly. Selly kembali memejamkan matanya, ia sekarang hanya bisa mengeluarkan suara erangan, yang semakin tinggi ketika penis lain masuk ke anusnya. Ketika ia membuka matanya lagi, Selly melihat sebuah penis diarahkan ke wajahnya. Kepala penisnya berwarna ungu bulat, dan beberapa detik kemudian sperma menyembur menghantam wajahnya mengalir masuk ke mulutnya. Orang tubuh kemudian minggir dan sebuah penis lain maju mendekat.

Sepanjang malam Selly terus melanyani sepuluh orang itu hingga semuanya mendapat bagian menggunakan mulut, vagina dan anusnya paling sedikit satu kali. Dan ketika orang-orang tersebut puas dan menjauh dari tubuh Selly, tubuh Selly tetap tak bergeming dalam posisi merangkak, Selly lalu mengangkat wajahnya berusaha melihat orang-orang yang mengelilinginya, setelah itu semuanya gelap dan tubuhnya jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

TAMAT