Cerita Antara KitaOctober 20, 2006 5:01 am

Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Akupun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku nggak bisa konsentrasi sedikitpun, yang aku pikirkan cuma Rani. Aku pulang kerumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Rani keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk.
“Dodi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong..”
“Eh.. apa? Iya, iya aku nggak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu” jawabku, dan aku buru-buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, akupun segera mengajaknya berangkat. Rani menyarankan agar kami pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rani duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia memakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku nggak bisa lepas melirik kepahanya.

Sesampainya dibioskop, aku beranikan memeluk pinggangnya, dan Rani tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket aku peluk dia dari belakang. Aku tahu Rani merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Rani meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang nonton nggak begitu banyak, dan disekeliling kita tidak ditempati. Kita segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian aku dekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang-kadang lidahku digigitnya lembut. Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja aku selinapkan ke balik BH-nya, dan payudaranya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung diisap dengan kuat oleh Rani. Tangankupun semakin gemas meremas payudaranyanya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Rani mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu.

Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap-usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya aku singkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Rani berpindah menciumi telingaku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah. Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Aku elus-elus, pelan-pelan, aku usap dengan penuh perasaan, kemudian aku putar-putar, makin lama makin cepat, dan makin lama makin cepat. Tiba-tiba tangannya mencengkeram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badanya tersentak-sentak beberapa saat.
“Dodi.. aduuhh.., aku nggak tahan sekali.., berhenti dulu yaahh.., nanti dirumah ajaa..”, rintihnya. Akupun segera mencabut tanganku dari selangkangannya.
“Dodi.., sekarang aku mainin punya kamu yaahh..”, katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol. Aku bantu dia dengan aku buka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak. “Dodi.., ini sudah basah.., cairannya licin..”, rintihnya dikupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan. Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya. “Rani.., teruskan sayang..”, kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa penisku sudah keras sekali. Rani meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekali karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana.
“Rani.., aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..”, kataku dengan suara yang nggak yakin, karena masih keenakan.
“Waahh.., Rani belum mau berhenti.., punya kamu ini bikin aku gemes..”, rengeknya
“Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..?!” ajakku, dan ketika Rani mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Rani, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai. Di mobil tangan Rani kembali mengusap-usap celanaku. Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, “Nanti aku boleh nyium itunya yah..”. Aku pengin segera sampai ke rumah.

Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Rani membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan aku ciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Rani aku bimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri aku ciumi bibirnya, aku lumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya. Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi payudaranya yang masih dibalut BH. Dengan tak sabar BH-nya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga aku turunkan dan semuanya teronggok di karpet.

Badannya yang telanjang aku peluk erat-erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Rani yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Rani juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Rani melakukannya sambil memeluk badanku. penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya. uuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kami yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kami saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi payudaranya dengan bergantian. Tangan Rani juga sudah menggenggam dan mengelus penisku. Badan Rani bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas.

Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Rani mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat didepan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan kekepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan-pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku. Aku semakin mengerang, dan karena nggak tahan, aku dorong penisku sampai terbenam ke mulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ke tenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju-mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan-tekan agar penisku semakin terasa nikmat. Isapan mulut dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuatku merasa sudah nggak tahan. Apalagi sewaktu Rani melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat.

Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Rani menahannya dan tetap mengisap penisku. Maka akupun nggak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan rasa nikmat yang luar biasa. Spermaku langsung ditelannya dan dia terus mengisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, mulut Rani masih terus menjilat. Akupun akhirnya nggak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal-sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam.
“Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali”, kataku berbisik
“Ah.., aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu..”.
Kemudian ujung hidungnya aku kecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan aku ciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kita mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi payudaranya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri. Rani mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian kebawah lagi sampai merasakan bulu jembutnya, aku elus dan aku garuk sampai mulutnya menciumi telingaku. Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi payudaranya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan kenikmatannya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan kemaluannya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris serta liang kewanitaannya, membuat Rani semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya aku putar-putar terus, juga mulut kemaluannya bergantian.

“Ahh.., Dodii.., aahh.., teruss…, aahh.., sayaangg..”, mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang-goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Akupun segera menurunkan kepalaku kearah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya aku lipat ke atas, aku pegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga liang kewanitaan dan clitorisnya terbuka di depan mukaku. Aku tidak tahan memandangi keindahan liang kewanitaannya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan liang kewanitaannya. Cairan surganya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi bibir kemaluannya dengan ganas, dan lidahku aku selip-selipkan ke lubangnya, aku kait-kaitkan, aku gelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya aku putar dengan lidah, aku isap, aku sedot, sampai Rani meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut.

“Dodii.., aku nggak tahan.., aduuhh.., aahh.., enaakk sekalii..”, rintihnya berulang-ulang. Mulutku sudah berlumuran cairan kewanitaannya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian aku lepaskan mulutku dari liang kewanitaannya. Sekarang giliran penisku aku usap-usapkan ke clitoris dan bibir kemaluannya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan diliang senggamanya. Rani juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut ngebantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya.
“Ranii.., aahh.., enakk.., aahh..”
“aahh.., iya.., eennaakk sekalii..”.
Kita saling merintih. Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke bibir kemaluannya. Rani semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke liang senggamanya.
“Aduuhh.. Dodii.., saakiitt.., aadduuhh.., jaangaann..”,rintihnya
“Tahan dulu sebentar…, Nanti juga ilang sakitnya..”, kataku membujuk

Kemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian aku tekan lagi, aku keluarkan lagi, aku tekan lagi, kemudian akhirnya aku tekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Rani sampai terbuka tapi sudah nggak bisa bersuara. Punggungnya terangkat dari karpet menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan aku keluarkan lagi, aku dorong lagi, aku keluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini aku dorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama-sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka aku ciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding kemaluannya. Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kita saling mengisap dengan kuat. Kami sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka akupun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, makin cepat, makin cepat, dan goyangan pantat Rani juga semakin cepat.
“Dodii.., aduuhh.., aahh.., teruskan sayang.., aku hampir niihh..”, rintihnya.
“Iya.., nihh.., tahan dulu.., aku juga hampir.., kita bareng ajaa..”, kataku sambil terus menggerakkan penis makin cepat. Tanganku juga ikut meremasi susunya. Penisku makin keras kuhujam-hujamkan ke dalam liang surganya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa liang senggamanya juga menguruti penisku di dalam. penis kutarik dan tekan semakin cepat, semakin cepat.., dan semakin cepat..”.
“Raanii.., aku mau keluar niihh..”.
“Iyaa.., keluarin saja.., Rani juga keluar sekarang niihh”.
Akupun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Rani yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding kemaluannya dengan keras. Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Liang kewanitaannya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami liang senggamanya.
“aahh…, aahh.., aahh..”, kita sama-sama mengerang, dan liang kewanitaannya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan-nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya nggak akan berakhir. Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan liang senggamanya masih berdenyut meremas-remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa bersisa sedikitpun.
“aahh.., aahh.., aduuhh…”, kita sudah nggak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan.

Ketika sudah mulai kendur, aku ciumi Rani dengan penis masih di dalam liang senggamanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Aku ciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Rani sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur. Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek oleh penisku. Dan ketika penisku aku cabut dari sela-sela liang kewanitaannya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kami terus saling membelai, dan Rani masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.

TAMAT

Cerita Antara Kita 5:00 am

Aku pria berumur 22 tahun, kuliah disalah satu universitas di Jakarta. Sebut saja namaku Aldi. Dalam berpacaran aku sudah cukup berpengalaman. Tapi dalam soal seks aku masih pemula. Aku hanya melakukan sebatas pinggang ke atas. Setidaknya aku pernah melihat payudara cewek secara langsung. Aku melakukan terhadap cewekku yang terakhir. Pada cewek-cewekku sebelumnya aku tidak berani melakukannya, bahkan ciuman sekalipun. Mungkin suasana yang kurang mendukung. Cewekku yang terakhir inilah, aku melakukan ciuman bibir bahkan hampir melakukan hubungan seks. Itulah yang terjadi sebelum aku mengenal Fenny dan melakukan hubungan seks.

Begini ceritanya, dua bulan setelah jadian aku bertanya padanya sebut saja namanya Sisi. “Bolehkah aku mencium kamu..” Sisi diam sesaat kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju, tapi sebelum itu Sisi berkata, “Lain kali jangan tanya karena aku malu untuk menjawabnya..” Aku pun mengiyakan. Dengan posisi berdiri kurangkul dia dan mencium bibirnya, karena baru pertama kali, aku gemetaran dan hanya menempelkan bibirku ke bibirnya selama 1 detik.

Tiga bulan setelah jadian aku pun melakukan french kiss yang dahsyat sekali. Selama 2 bulan aku hanya melakukan ciuman tersebut. Memasuki bulan ke-5 setelah jadian, aku kembali melakukan french kiss tapi kali ini tanganku mulai jahil berusaha menyusup di balik kaos Sisi, Sisi berusaha untuk menghindar dan aku pun tidak berusaha untuk melanjutkannya. Ciuman kami makin dahsyat, aku tidak lagi menciumi bibirnya melainkan ke lehernya terus menciumi dan sesekali menjilatinya. Sisi mendesah panjang. Keringat mulai mengucur di wajah kami. Kembali aku meyusupkan tanganku ke balik kaosnya, kali ini Sisi diam saja. Jemari tanganku mulai menyentuh perutnya yang ramping terus menjalar ke atas, akhirnya aku menyentuh payudaranya yang padat berisi dan masih terbalut BH. Aku pun belum merasa puas, jemari tanganku berusaha membuka kaitan BH-nya. “Berhasil,” batinku. Kaitan BH terlepas. Aku menghentikan aktifitasku dan melepaskan pakaianku sehingga aku telanjang dada di hadapan Sisi.

Kemudian aku melepas juga pakaian Sisi. Sisi agak menolak, entah kenapa Sisi akhirnya membiarkan saja aku melepaskan pakaiannya. Mulailah kelihatan payudara Sisi yang putih bersih dengan BH-nya yang agak melorot ke bawah karena kaitannya sudah lepas dan aku pun melepaskannya dari tubuh Sisi. Karena malu, Sisi menutupi payudaranya dengan telapak tangannya. Dibalik celanaku, batang kejantananku ingin keluar dari sarangnya karena sudah tegak berdiri dari tadi.

Aku merentangkan kedua tangan Sisi, maka terlihat jelaslah 2 bukit yang indah yang dihiasi 2 putingnya yang berwarna coklat. Aku pun melumat salah satu puting tersebut ke dalam mulutku, tidak lupa salah satu tanganku menyentuh payudaranya yang menganggur. Sisi tidak tinggal diam, dia mengapit salah satu kakiku. Rupanya dia ingin memberikan kenikmatan pada liang senggamanya dengan cara tersebut, batang kejantananku tidak luput dari gesekan tersebut. Sekali-sekali aku pun mendesah ketika batang kejantananku menerima gesekan dari kakinya. Aku terus mempermainkan payudaranya secara bergantian. Kami berdua telah bermandikan keringat. Karena terus mengalami gesekan dari kaki Sisi, batang kejantananku tidak kuat lagi menahannya. Akhirnya aku memuncratkan maniku di dalam celanaku. Rupanya Sisi mengalami hal yang sama, karena saat itu Sisi berkata, “Aldi, ada sesuatu yang keluar dari kemaluanku..” Aku pun menerangkan kepada Sisi bahwa kita telah mencapai klimaksnya. Kami berdua pun saling rangkul. Kejadian tersebut terus berlangsung sampai beberapakali tapi aku belum juga berhasil melihat liang senggamanya karena Sisi selalu menolak. Akhirnya kami putus setelah jadian selama 10 bulan karena Sisi tidak bisa lagi menemuiku yang telah pindah keluar kota.

Setelah setahun berpisah dengan Sisi, keinginan untuk berpacaran lagi kembali timbul, apalagi setelah melihat teman kampusku yang bernama Fenny. Orangnya cantik, berkulit putih bersih, selain itu dia pun mudah bergaul dengan siapa saja. Kadang-kadang dia selalu curhat padaku dan dia pun bilang bahwa dia baru putus dengan cowoknya sekitar 2 bulan yang lalu, dan kadang-kadang juga selalu minta diantar karena aku memang punya motor. Walaupun aku sangat menginginkannya menjadi pacarku. Tapi aku belum berani mengucapkan kata cinta. Karena aku takut persahabatan kami putus gara-gara kejadian tersebut.

Pada suatu hari, tepatnya hari Sabtu. Salah seorang teman kampusku cewek mengadakan pesta yang diadakan di rumahnya. Dia mengundang seluruh teman kampusku termasuk aku dan Fenny. Fenny dan aku berangkat dari tempat yang terpisah, dia dijemput temannya pakai mobil dan aku naik motor punyaku. Singkat cerita pesta berakhir jam 8:00 malam, teman-teman telah bersiap untuk pulang. Tiba-tiba Fenny menghampiriku dan bertanya, “Kamu mau nggak nganterin aku pulang.” Aku mengiyakan. Kami pun berangkat, ditengah perjalanan Fenny berkata, “Aldii.. ke kost aku dulu ya.. ada bukuku yang tertinggal,” kata Fenny. “Baiklah,” kataku. Ditengah perjalankan kulihat cuaca menunjukkan tanda akan hujan.

Akhirnya kami sampai di kost Fenny. Tempat kost Fenny lumayan besar dan mempunyai kamar mandi. Disaat Fenny mengemasi buku-bukunya, hujan turun cukup lebat. Fenny telah selesai berkemas tapi hujan belum juga berhenti. Kami terus menunggu hujan berhenti sambil cerita-cerita. Jam 9:30 malam hujan belum juga reda, Fenny pun menelpon ke rumah melalui HP-nya.
“Ma.. aku nginap di kost-an aja, masih hujan di sini,” katanya.
Mamanya menyetujui, “Kalau begitu, aku akan pulang sendiri dong.” kataku, Fenny hanya tersenyum.

Jam 10:00 malam hujan belum juga reda. Fenny telah mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa, kaos oblong dengan celana pendek. Sambil menunggu hujan reda, kami pun kembali bercerita. Tetapi perhatianku tidak lagi terfokus pada ceritanya melainkan pada Fenny yang duduk di tepi ranjang. Paha putih mulusnya yang tersingkap karena memakai celana pendek. Walaupun hanya sedikit cukup membuat batang kejantananku tegak. Aku tidak tahan lagi, ketika Fenny menggoyang-goyangkan kakinya. Sebenarnya pemandangan tersebut biasa-biasa saja tapi aku telah dirasuki hawa nafsu.

Tiba-tiba saja aku langsung memeluknya, dan mencium bibirnya. Tidak sampai disitu, aku mendorong tubuhnya ke atas ranjang, kemudian menghimpitnya dengan tubuhku. Aku melanjutkan aktifitasku, mencium dan melumat bibirnya. Fenny kaget. Tapi Fenny tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terus menciuminya, tanganku yang nakal mulai menyusup di balik kaos Fenny. Fenny menangkisnya. Dengan sedikit gerakan, aku berhasil menepisnya dan terus menyusup sampai menyentuh payudara Fenny yang masih terbungkus BH. Aku meremas lembut payudara Fenny. Fenny mendesah. Aku terus meremas tidak lupa ciumanku terus melumat bibirnya. Aku mengalihkan ciumanku ke lehernya. Fenny kembali mendesah. Jemari tanganku mulai merayap ke punggungnya, dan berusaha melepas tali BH Fenny.

“Berhasil,” batinku. Fenny tersentak kemudian mendorong tubuhku ke samping. “Kita tidak boleh melakukan ini, Aldi.” kata Fenny. Aku terdiam tapi nafsuku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi dan berkata, “Memang tidak boleh sih, tapi..” Aku kembali merangkul Fenny, kali ini ciumanku lebih ganas dari yang pertama. Mulai dari bibir terus ke telinga menjalar ke lehernya. Jemari tanganku melanjutkan aksinya lagi menarik ke atas BH terus meremasnya, memuntir-muntir putingnya. Fenny pasrah dan kelihatan mulai panas dengan permainan yang kuterapkan. Aku mengangkat tubuh Fenny dan membuka baju serta BH-nya, aku pun demikian. Aku memulai lagi aksiku, kali ini ciuman kuarahkan ke payudaranya. Fenny menggeliat, apalagi tanganku menyentuh payudaranya yang satu lagi. Kami berdua telah bermandikan keringat. Tangan Fenny menjambak rambutku.

Permainan jemari tanganku mulai merangkak ke bawah dan berusaha menyusup ke balik celana pendek serta CD-nya. Fenny tidak lagi berusaha menangkisnya. Jemari tanganku sudah menyentuh rambut kelaminnya. Inilah pertama kali aku menyentuh rambut kelamin cewek. Aku merasa ketagihan. Kemudian jari-jari tanganku menggesek-gesek sekitar liang senggama Fenny. Fenny mendesah panjang dan membenamkan kepalaku ke payudaranya, untuk mendapatkan kenikmatan lebih.

Setelah beberapa lama, ciumanku mulai merangkak ke bawah sampai batas rambut kelaminnya yang sedikit terbuka. Aku kemudian meloroti celana pendek dan CD-nya. Aku pun demikian. Sekarang di atas ranjang, aku dan Fenny sudah telanjang bulat. Aku terkagum melihat pemandangan tubuh Fenny. Akhirnya aku berhasil melihat tubuh bugil cewek, apalagi yang seperti Fenny. Payudaranya putih padat berisi dihiasi putingnya yang berwarna coklat. Liang senggamanya dikelilingi rambut kelamin yang lebat. Tubuh Fenny hampir mirip tubuh Sisi tapi kelebihan tubuh Fenny aku melihat seluruhnya tanpa pakaian sedangkan Sisi hanya sebatas pinggang ke atas. Fenny yang selalu memejamkan mata, mulai membuka matanya, sedikit kaget saat melihat dirinya sudah tidak memakai apa-apa lagi dan melihat diriku dengan batang kejantanan tegak berdiri. Fenny menutupi payudaranya dengan meyilangkan kedua tangannya.

Aku kembali beraksi, kali ini daerah sasaranku liang senggamanya. Aku menciumi dan menjilati yang agak menonjol di sekitar liang senggamanya mungkin itu yang dinamakan klirotis. Setelah beberapa lama ciumanku kembali ke atas, merentangkan tangannya yang menutupi payudaranya. Terus menjilati tubuhnya dan akhirnya mendarat kembali di bibirnya. Alat kelaminku dan Fenny saling beradu. Ini membuat batang kejantananku ingin dimasukkan ke tempatnya. Aku mengatur posisi dan melebarkan kaki Fenny. Fenny tersadar dan berkata, “Kita sudah terlalu jauh, perlu kamu tahu inilah penyebab aku putus dengan cowokku karena aku tidak mau melakukan ini.” Aku tidak lagi mempedulikan kata-kata Fenny karena hawa nafsuku sedang menuju kepuncak. Aku kembali merangkul Fenny dan menciumi bibirnya, kali ini lebih dahsyat lidahku bergoyang-goyang di mulutnya.

Fenny tidak bisa berbuat apa-apa dan kelihatannya kembali larut dalam kenikmatan. batang kejantananku yang sudah gatal ingin segera memasuki liang kenikmatan Fenny. Aku mengambil posisi yang pas, batang kejantananku mulai memasuki pintu kewanitaannya. Karena baru pertama kali, batang kejantananku sering melenceng memasuki liang senggama Fenny, aku terus berusaha dan akhirnya masuk juga batang kejantananku ke dalam liang senggamanya. Fenny kembali mendesah panjang, “Aldi.. ntar aku hamil,” kata Fenny sambil memelas. “Aku akan bertanggung jawab,” kataku. Fenny sedikit tenang, batang kejantananku telah masuk sedikit demi sedikit. Akhirnya semua batang kejantananku tenggelam di liang senggama Fenny. Aku menggoyangkan pinggulku sehingga batang kejantananku keluar masuk di liang senggama Fenny. Makin lama makin cepat. Fenny mendesah sambil menyebut namaku. Kami berdua kembali bermandikan keringat walaupun cuaca sebenarnya lumayan dingin. Sesuatu cairan yang hangat menerpa batang kejantananku yang masih berada di liang senggama Fenny. Rupanya Fenny telah mencapai orgasme. Aku pun tidak tinggal diam dengan mempercepat gerakan batang kejantananku keluar masuk di liang senggama Fenny.

“Inilah saatnya,” batinku. Akhirnya puncak kenikmatanku datang, spermaku muncrat di dalam liang senggama Fenny. “Nikmat sekali,” batinku. batang kejantananku terkulai di dalam liang senggama Fenny dan aku pun mengeluarkannya. Sperma, cairan kewanitaan dan darah perawanan Fenny lengket di batang kejantananku yang sudah kembali seperti semula. Aku melihat Fenny menangis, aku berusaha menenangkannya dan mengatakan, “Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah aku lakukan kepadamu karena selama ini aku cinta kamu..” Tangisan Fenny sedikit mereda, aku merangkulnya dan mencium keningnya. Kami kemudian membersihkan diri di kamar mandinya. Karena kecapaian kami berdua langsung tertidur tanpa mengenakan pakaian dan tidur kami pun saling berangkulan. Aku lupa bahwa sebenarnya setelah mereda aku pulang.

Pagi harinya, Fenny bangun lebih dahulu dan langsung ke kamar mandi. Sesaat kemudian aku pun terbangun dan mendengar suara guyuran air di kamar mandi. Aku berjalan menuju ke kamar mandi dan mengetoknya. Fenny pun membuka pintu kamar mandi. Kembali aku terkesima melihat Fenny yang telanjang bulat dengan rambut yang basah. Gairahku kembali memuncak. Aku masuk dan langsung merangkul tubuh Fenny. “Mandi dulu dong,” pinta Fenny. Aku menuruti ajakannya kemudian mengguyuri tubuhku dengan air. Beberapa saat setelah itu aku menyabuni tubuhku dengan sabun cair. Fenny turut membantu, malah dia menyabuni batang kejantananku yang kembali tegak. Rasa malu Fenny telah hilang, Fenny mengocok-ngocok batang kejantananku dengan lembut. Nikmat sekali rasanya. Saat hampir mencapai klimaksnya aku melepaskan tangan Fenny karena belum saatnya. Gantian aku yang menyabuni Fenny, mula-mula kedua tangannya terus kedua kakinya. Sampailah ke daerah yang vital, aku berdiri di belakang Fenny terus merangkulnya dan menyabuni payudaranya dengan kedua telapak tanganku. Terdengar Fenny mendesah panjang. Usapanku merangkak ke bawah melewati perutnya hingga akhirnya sampai ke liang senggamanya. Kembali aku mengusapnya dengan lembut. Busa sabun hampir menutupi permukaan liang senggama Fenny. Kali ini Fenny merintih nikmat. Setelah puas aku mengguyur kedua tubuh kami yang masih berangkulan.

Fenny kemudian membalikkan tubuhnya dan kami pun saling berhadapan. Fenny kemudian mencium bibirku, aku membalasnya dan terjadi lagi french kiss yang dahsyat. Tangan kami pun tidak tinggal diam, aku menyentuh payudara Fenny dan Fenny pun menyentuh batang kejantananku yang masih perkasa berdiri. Setelah beberapa lama, Fenny membimbing batang kejantananku memasuki liang senggamanya. Dengan melebarkan kakinya batang kejantananku kembali memasuki liang senggama Fenny. Fenny melilitkan tangannya ke leherku. Kemudian aku menggendong Fenny dan menyandarkan ke dinding kamar mandi. Setelah itu aku kembali menggoyangkan pinggulku yang membuat batang kejantananku keluar masuk di liang senggama Fenny. Akhirnya spermaku keluar dan membasahi seluruh dinding liang senggama Fenny. Fenny ternyata belum mencapai klimaksnya, untuk membantunya aku menjilati liang senggama Fenny. Kemudian aku menyedotnya, ingin mengeluarkan isi dari liang senggama Fenny. Fenny sedikit menjerit dengan apa yang kulakukan. Akhirnya Fenny megeluarkan juga cairan dari liang senggamanya dan pas mengenai wajahku. Fenny terkulai nikmat, aku mengguyuri kembali tubuh kami berdua.

Aku dan Fenny telah selesai mandi, dan telah memakai pakaian masing-masing.
“Maukah kamu menjadi pacarku Fenny,” tanyaku. Fenny mengangguk pelan. Aku pamitan untuk pulang ke kost-ku, dan Fenny tetap tidak jadi pulang ke rumahnya. Begitulah caraku mengungkapkan cinta terhadap Fenny. Oh.. sungguh ungkapan cinta yang sangat nikmat.

TAMAT

Cerita Antara Kita 4:51 am

Kejadian ini terjadi di akhir tahun yang lalu, saat aku dinas audit di kantor bank cabang utama Malang selama 2 minggu. Saat di Malang aku tak bermalam di hotel, tetapi aku tingal di rumah adik laki-lakiku yang juga buka kost sebab bisa dapat penggantian 50 persen dari tarip hotel yang ditentukan. Jadi aku sewa kost 1 bulan di sana. Aku tiba di Malang hari Minggu siang karena melalui Surabaya. Di tempat adikku kamar kostnya ada 8 kamar di bawah dan 4 kamar di atas.

Saat itu kamar bawah terisi penuh mahasisiwi, sedang kamar atas hanya 2 orang lalu saya jadi masih satu kamar kosong. Yang di atas seorang karyawan bank dan seorang bekerja di karaoke, jadi berangkatnya sore hari dan pulang tengah malam bahkan fajar. Kamar mereka berjejeran dan sebelahnya kamar mandi, aku sendiri mengambil yang depan jadi ada kamar kosong di tengah-tengah. Adikku pertama menawarkan tidur saja di kamar dalam, tapi aku menolak sebab ini dinas jadi dapat biaya aku lebih baik kost saja, apalagi adikku kerjanya sebagai sales tiap Senin sudah keluar kota dan pulangnya hari Jumat malam, jadi aku agak rikuh dengan adik iparku perempuan.

Malam itu yang ada hanya seorang yaitu karyawan bank di bagian atas sedang yang bawah agak ramai sebab hari Minggu. Saat aku membenahi kamar atas, aku sering melihat anak bank itu lewat kamarku untuk turun ke bawah. Anaknya tinggi dan berkulit kuning serta rambut sebahu, payudaranya cuku besar sebab saat di rumah pakai celana pendek dan kaos untuk tidur saja, hingga kalau jalan terlihat payudaranya agak menantang malam itu setelah aku bercakap-cakap dengan adik dan adik iparku lalu aku masuk tidur. Sebelum tidur aku berpikir adik iparku itu orangnya baik sebab walapun dia sarjana, ia pilih kerja buka toko eceran di rumah walaupun wajah dan bodinya pun hebat tidak beda jauh dengan istriku. Alasannya sambil mengawasi anaknya yang masih kecil umur 2 tahun dan rumah kost.

Pagi hari setelah mandi dan siap-siap mengatur yang penting ke kantor, aku dikagetkan dengan kata-kata salam,
“Selamat pagi Oom!”
“Iya”, sahutku.
“Mari duluan”, katanya lagi dan
“silakan”, jawabku lagi.
Ternyata yang memberi salam itu adalah anak bank itu, tetapi kok tak pakai pakaian seragam. Lalu aku turun pula pinjam telepon adikku supaya aku dijemput di rumah adikku. Memang kalau pagi aku dijemput sebab antar jemput sedang kalau sore harus pulang sendiri sebab sering pulang lambat. Sementara adikku sudah harus berangkat keluar kota, aku ditemani oleh adik ipar. Ia bilang padaku,
“Mestinya Enci ikut ke sini sebab Koko kan dinasnya lama di sini, bisa-bisa nanti kesepian”, sambil tertawa manis.
“aach Eva kok macam-macam, Enci kan kerja kantor, susah dong untuk ikut”, sahutku.
“Paling-paling kalau kesepian ya ngomong sama Eva saja kan boleh”, tanyaku.
“Pasti boleh dong, jadi nanti malam kalau Koko mau nonton TV masuk ke sini saja sambil ngobrol-ngobrol”, ajaknya Eva.
“Baik, Eva nanti kalau Koko kesepian, Koko cari hiburan nonton TV sama Eva.” jawabku.
Sebentar mobil jemputanku datang dan pamit ke kantor dulu. Memang antara Eva (istri adik) dengan istriku sendiri boleh dikatakan sama sifatnya yaitu suka bergaul dan banyak ngomong serta agak manja kalau ngomong sehingga banyak orang gampang tertarik.

Hari pertama kerja, aku pulang hingga pukul 7 malam. Setelah beritirahat sebentar aku lalu mandi, begitu selesai dan keluar kamar mandi anak bank itu keluar kamar dan menyapa,
“Selamat malam Oom, baru palang ya?”
“Betul sekali”, jawabku.
Anak bank itu ganti mau masuk kamar mandi dan aku langsung masuk kamar untuk istirahat terus tidur. Besok harinya, sapaan manis itu kuterima lagi dan kali ini kulihat wajahnya, ternyata wajahnya manis dengan senyumnya tapi tatapan matanya tajam penuh arti. Hatiku jadi agak bergetar, padahal dengan Eva walaupun ngobrol-ngobrol tapi biasa saja sebab walaupun matanya kocak tapi pandangannya biasa saja. Begitu malam kupulang saat aku sedang rebahan di ranjang, anak bank itu juga lewat kamarku dan menyapa,
“Selamat malam Oom, sudah makan ya?”
“Sudah”, sahutku.
“Mari saya turun dulu mau makan”, katanya.
“silakan”, sahutku.
Kucoba lihat dari atas ternyata ia masak Indomie untuk makan malam. Kucoba rebahan lagi sambil baca koran, selang beberapa saat kudengar ia menyapa lagi,
“Masih belum tidur Oom?”
“Belum”, sahutku dan sambil bangun, ia sendiri sempat berhenti depan pintu kamarku sambil matanya menatap penuh arti dan ketika kucoba keluar kamar ternyata anak-anak kost yang di bawah masih ramai mengobrol di teras kamar, jadi ia pamit,
“Mari saya istrirahat dulu Oom.”
“silakan”, sahutku.

Memang pagar teras kamar atas itu dari besi hingga anak-anak di bawah bisa lihat ke atas. Esok paginya seperti biasa ia menyapa saat mau berangkat ke kantor, malam harinya ketika aku mau tidur terasa agak lapar padahal baru jam 9 malam, lalu aku keluar kamar dan ke depan rumah untuk lihat apakah yang jual pisang goreng depan rumah masih ada karena akan beli untuk pengisi perut. Aku beli 5 biji, sebelum aku masuk halaman lagi kucoba lihat-lihat lalu lintas sebentar, tiba-tiba anak bank itu juga keluar hanya pakai celana pendek dan kaos tidur saja. Aku sapa,
“Mau kemana dik malam-malam?”
“Mau beli pisang untuk sarapan besok pagi, sebab tadi lupa beli roti”, sahutnya.
“Ini Oom sudah beli, kita bagi saja”, kataku.
“Jangan Oom, nanti Oom kurang”, katanya.
“Nggak apa-apa, Oom kan sendiri ini kan lebih dari cukup sebab ada 5 biji besar-besar lagi”, kataku.
“Bolehlah, saya cukup 1-2 saja”, katanya lagi.
“Ngomong-ngomong kita belum pernah kenalan ya”, kataku sambil aku menjabat tangannya.
“Winarti nama saya dan Oom siapa?” katanya.
“Saya Ima…”sahutku.
“Winarti buru-buru mau tidur?” tanyaku.
“Nggak Oom, belum ngantuk.”
“Kalau gitu kita ngobrol sebentar sambil duduk di teras depan ini, mau?” tanyaku.
Ia menganggukkan kepala, lalu kita duduk di kursi teras depan yang memang disediakan untuk tamu-tamu anak kost.
“Apa betul Oom masih kakaknya tante kost?” tanyanya lagi.
“Betul, kok Win tahu?”
“Iya dari, ibu pembantu yang bilang tadi pagi”, sahutnya.
“Wah Win tanya apa lagi dari ibu pembantu?” kataku.
“Nggak, cuma ibu pembantu bilang Oom di sini sekitar 2-3 minggu untuk tugas di Bank BCA.” sahutnya.

Lalu kita saling bercerita dan ternyata Win itu adalah anak bungsu dari tiga saudara anak dari almarhum pensiunan militer (Sersan Mayor) asli Blitar, sedang ibunya pensiuan guru SD sekarang memberi les privat pada anak-anak SD. Sedang kakaknya nomor 1 sudah menikah dengan guru SMA di Banyuwangi dan kakaknya nomor 2 masih kuliah di Surabaya. Karena biaya tak mencukupi dalam masa krisis moneter ini maka ia pilih bekerja setelah lulus SMA tahun ini. Jadi Win baru bekerja di bank baru empat bulan maka dari itu belum dapat pakaian seragam.

Baru ngobrol kira-kira 1/2 jam, tiba-tiba 3 orang anak kost datang bersama pacar-pacarnya mungkin hingga suasana jadi ramai di teras itu. Lalu kita masuk dan naik ke kamar sampai depan kamarku, aku pamit masuk dulu dan Win menggangguk dengan pandangan mata yang penuh arti dan bernada sayu. Pagi harinya aku bangun agak terlambat hingga aku mandi juga terlambat. Saat aku keluar dari kamar mandi, Win sudah menunggu dekat pintu kamarnya dan berkata,
“Oom, Win berangkat dulu ya, nanti malam usahakan bisa ngobrol-ngobrol lagi ya?”
“Oke” sahutku.

Sore harinya aku pulang sekitar pukul 6 dengan naik taxi, kucoba perhatikan bank tempat Winarti bekerja sebab banknya itu ternyata tiap hari kulewati dan memang tak jauh dari bank tempatku. Saat dekat dengan banknya, kucoba perhatikan, eeehh ternyata Winarti masih ada di jalan depan bank untuk cari angkutan umum. Langsung kuperintahkan sopir untuk berhenti dekat Winarti. Melihat ada taxi mendekat, Win malah jalan menjauh sebab mungkin pikirnya ia tak menyetop taxi. Baru setelah kuturun dan memanggilnya ia lari-lari mendekat dan segera kupersilakan Win untuk masuk taxi. Ternyata ia pulang terlambat karena ada jumlah yang belum cocok, hingga sebagai teller harus dicari dulu kesalahannya. Karena hari sudah agak gelap, Win saya ajak makan malam sekalian sebelum pulang kost ternyata ia mau.

“Enaknya makan dimana ya?” tanyaku.
“Dekat rumah kost saja ada warung bakso yang nikmat”, sahutnya.
Ternyata betul kurang lebih 10 rumah sebelum kost ada jual bakso mie. Setelah turun dari taxi, lalu kita masuk dan duduk di meja yang kecil untuk berdua saja.
“Mau makan apa Oom?” tanya Win.
“Oom sih terserah sama Win saja, pokoknya hanya ikut makan.” jawabku.
“Oke, dan minumnya Oom mau apa?”
“Terserah sama Win juga”, sahutku.
Win kemudian memanggil pelayan dan pesan Mie Bakso 2 mangkok, lalu Coca Cola 2 botol. Kita ngobrol-ngobrol sampai akhirnya menyerempet itu-itu juga.

“Oom ke sini sendirian selama 2 minggu apa tidak stress?” tanya Win.
“Habis mau kemana sebab nggak ada teman di sini”, sahutku.
“Kenapa sih Oom cari teman, apakah Win bukan teman Oom?” kata Win.
“Betul Win, maksud Oom teman untuk santai.”
“Oom jangan pikir yang jauh-jauh, Win siap menemani Oom kapan saja Oom membutukan”, katanya.
“Huuussss, jangan ngomong begitu Oom kan sudah berkeluarga sedang Win kan masih gadis”, kataku.
Win terdiam sejenak dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca sambil menggelengkan kepala. Aku jadi terenyuh seketika segera kugenggam telapak tangannya erat-erat sambil berkata,
“Maksud Win bagaimana?”
Lalu berceritalah Win, kalau ia sudah diperawani oleh pacarnya saat awal di kelas 3 SMU dan dilanjutkan berhubungan intim terus sampai beberapa kali, hingga akhirnya Win terlambat bulan alias hamil. Begitu diberitahu kalau ia hamil, pacarnya mulai menjauhi bahkan tak mau bertanggung jawab. Karenanya sampai bulan ke-3 maka dengan terpaksa digugurkan dengan pertolongan bidan. Ini dilakukan karena pihak keluarga belum tahu semua persoalannya. Untung saat itu ia punya tabungan sebesar 300.000 Rupiah untuk biaya. Walaupun makan sudah di antar kami berdua belum makan, karena suasana masih syahdu.

Lalu kedua tangannya kugenggam erat-erat dengan penuh perasaan sambil menatap wajahnya. Win pun menatap mataku, pandangannya memelas sekali. Dan dari sejak itu, ia tak menyukai lagi berpacaran dengan laki-laki yang sebaya, ia lebih merasa aman berpacaran dengan laki-laki setengah umur kira-kira 35-40 th karena dianggap lebih bertanggung jawab dan mapan tidak hanya suka hura-hura saja. Setelah beberapa saat Win kuusap air matanya dengan sapu tanganku dan tangan kemudian dipegang erat-erat.
“Win, ayo makan nanti dingin nggak enak lho, sambil kita ngomong” kataku.
Ia menggangguk dan mulai makan sambil berkata,
“Oom, wajah Oom sangat berkesan di hatiku sebab wajah Oom dan penampilannya adalah seperti laki-laki yang kuidam-idamkan, itulah sebabnya pertama kali aku ketemu pandang dengan Oom langsung terkesima hatiku.”
“aacch jangan muluk-muluk kalau memuji, wajah tua seperti Oom ini sudah nggak laku sekarang.”
“Benar Oom, Win bukan memuji tapi dengan tulus hati, maka dari itu Wim ingin sekali berada dalam pelukan Oom.”
“Jangan kamu mengharapkan Oom, sebab sudah tak mungkin lagi Win”, sahutku.
“Win sadar akan hal itu, tapi hanya untuk selama Oom tinggal di sini saja, Win benar-benar butuh kasih sayang dari laki-laki yang sebaya dan seperti Oom.”
“Win benar-benar butuh sesuatu dari Oom.”
“Jangan Win kalau nanti hamil lagi bagaimana?” tanyaku.
“Oom, Win baru saja bersih dari mens hari Minggu kemarin saat Oom datang, ini benar-benar Oom, Win sumpah, Win tak akan menjebak Oom sebab tahu Oom itu orang baik”, katanya.

Ujung cerita, kita berjanji nanti malam ketemu di kamarnya, kalau semua anak kost bawah sudah masuk kamar. Dan supaya tak ketahuan, setelah makan ini Win dulu yang jalan pulang baru aku menyusul kemudian.
“Hati-hati di jalan ya!” seruku.
“Iya Oom, sampai nanti malam”, sahutnya.
Kemudian aku menyusul jalan di belakangnya, sampai kost aku berhenti sebentar beli pisang goreng dan kemudian aku naik ke kamar. Aku lihat Win sedang masuk ke kamar mandi.

Setelah ia selesai mandi, aku segera ke kamar mandi juga. Ketika aku selesai mandi dan ke kamar, kulihat suasana kost di bawah sepi. Cepat-cepat kuletakkan handukku dan pakaian kotorku di tempatnya kemudian dandan sedikit dan dengan hanya mengenakan kaos tidur dan celana pendekku ke kamar Win yang pintunya memang tak dikunci. Saat aku masuk ia sedang tiduran, ketika melihatku masuk ia tersenyum dan duduk di pinggir ranjang serta menyapa,
“Mari duduk sini Oom.”
Setelah pintunya kututup dan kukunci aku duduk sebelah Win. Kuelus-elus pahanya yang putih bersih itu. Ia kemudian memegang tanganku erat-erat dan menyandarkan kepalanya ke bahuku. Kupegang kepalanya dan kubisiki, “Win sayang, Oom bahagia juga di sebelahmu”, sambil kupeluk dia dan Win juga segera merangkul leherku. Aku mulai menciumi keningnya, hidungnya kugesek-gesek dengan hidungku lalu pipinya kuciumi juga lehernya dan ia kupeluk semakin kuat hingga terasa payudaranya hangat di dadaku.

Kukecup bibirnya dan kupermainkan bibirnya dengan lidahku. Rupanya ia masih hijau, jadi lidahnya tak dijulurkan untuk kukecup juga. Rambutnya yang masih agak basah kubelai-belai juga. Win semakin terangsang dan merasakan sesuatu yang baru kelihatannya. Kulanjutkan dengan membuka kaosnya yang dibantu tangan Win sekalian ia melepas BH-nya. Kupeluk lagi dia, payudaranya kuraba dan kuusap pelan-pelan sambil putingnya kupijit sedikit. Win mulai merintih pelan dan terus kulepas juga celana pendeknya dan CD-nya. Rambut kemaluannya yang hitam kilap dan lebat menutupi vaginanya. “Oooohh…. Oom, pakaian Oom buka juga ya?” pintanya.

Aku segera membuka pakaianku sampai telanjang seperti Win. Kemudian Win kurebahkan di kasur dan aku mulai beroperasi lagi dari atas kening dengan kecupan-kecupan mesra. Kucium dan kukecupi terus sampai ke leher dan tanganku juga beroperasi dengan meraba-raba dan mengusap-usap dengan penuh kemesraan bagian payudaranya. Setelah 2 bukit payudaranya kuciumi dan kukecupi termasuk putingnya kugigit dengan bibirku dan tanganku meraba mesra ke bagian perut dan atas rambut kemaluannya. Ciumanku terus menjelajahi seluruh bagian dada kemudian perut dan bawah perut. Rambut kemaluannya yang lebat kutarik-tarik pelan dengan gigitan bibirku juga clitorisnya yang sudah terlihat menonjol kujilati dan pahanya di dalam kubelai terus sampai ke lututnya. Bibir vaginanya kulumat semua dengan jilatan kecupan bibirku, hingga Winarti menggeliat-geliat terus tanpa henti.

Ciuman terus turun ke pahanya kiri dan kanan dan ke lutut, betis dan tangkai tumitnya kugigit pelan-pelan dengan dibarengi dengan usapan pada telapak kakinya. Win jadi geli dan nafsu. Paling akhir adalah telapak kakinya kuciumi dan 10 jari-jari kakinya kuhisap semua dengan rabaan pada pahanya. Win tampak mulai nggak tahan. Ia sendiri langsung meremas-remas payudaranya sendiri. Aku kembali ke atas dengan menindihnya dan mendekatkan penisku ke tangannya, rupanya Win tahu maksudku lalu segera dipegang dan dikocoknya senjataku.

Win kubisiki, “Win sayang, penis Oom sudah tegang di tanganmu, kakimu buka lebar-lebar ya sayang supaya penis Oom bisa masuk.” Win membuka kakinya lebar-lebar dan kemudian kuraba lubang vaginanya kemudian penisku kepalanya kupegang dan kumulai tekan pelan-pelan tapi pasti sedekit demi sedikit agar masuk. Terus kutekan pelan-pelan penisku ke dalam vaginanya dan akhirnya bleeessss…. masuk juga kepalanya.
“Oomm.. aduuuhh, waah besar sekali lho penismu.”
“Sakit Win?” tanyaku.
“Nggaak kok… aduh enaak Oom”, sahutnya.
Terus kutekan penisku pelan-pelan sehingga seluruh batangnya ambles ke dalam vaginanya.

Begitu ambles semua kubiarkan beberapa penisku di dalamnya, sambil terus kubelai rambutnya dan payudaranya kuusap-usap dengan remasan-remasan mesra. Win coba menggoyangkan pantatnya, lalu kutarik keluar penisku pelan-pelan terus gerakan ini kulakukan berulang-ulang hanya kecepatannya yang berubah-ubah dari pelan-pelan kemudian bertambah sedikit-sedikit jadi cepat begitu nafasnya Win mulai memburu kuperlahankan lagi hingga Win agak tenang lagi kemudian kupercepat lagi hingga nafsunya memuncak lagi. Akhirnya Win meminta,
“Om, Win sudah nggak tahan lagi kepingin orgasme.”
“Iya sayang, Oom akan temani Win sampai puncak sama-sama”, sahutku.

Lalu kucepatkan gerakan naik turunnya dan aku sendiri segera konsentrasikan pikiranku ke tubuhnya yang indah dan masih kencang itu supaya cepat naik nafsunya.

Aku juga lihat Win sudah ada tanda-tanda akan sampai puncak, karena ia terus menggenggam kain sprei lalu mencengkram punggungku kuat-kuat lalu pundakku digigitnya sambil mengaduh, “Seessstt, aduuuhh… aauuuhh… aku klimaks Oom.” Saat itu juga terasa ada semprotan mani pada penisku, otomatis aku tak tahan juga dan kutekan dalam-dalam penisku dan creeetttt… creeettt, maniku nyemprot ke vaginanya. “aaccchh… uuuhh, Oom klimaks juga”, katanya dan langsung aku dipeluk semakin erat dan kakinya pun didekapkan ke kakiku, hingga aku tak bisa turun dari tubuhnya. Kubelai-belai sayang lagi kening dan rambutnya dan kuciumi terus pipinya, “Oom jangan dicabut dulu yaa… biar badan Win tetap hangat”, pintanya.

Setelah beberapa menit nafas kita berdua mulai tenang, aku berkata,
“Win apakah nggak mau cuci dulu?”
“Win nggak cuci, punya Oom saja Win bersihkan ya?”
Lalu aku rebah di sebelahnya dan Win bangun mengambil kertas tissu dan dibasahi dengan aqua kemudian penisku dilapnya dengan hati-hati sekali. Setelah itu bibir vaginanya yang basah dilap juga lalu ia ke lemari untuk mengambil selimut dan kemudian tidur lagi di sebelahku dan tubuh kita berdua diselimutinya. Kupeluk Win, sambil kubisiki,
“Win apa nanti maninya nggak tumpah keluar?”
“Biar saja Oom, nantikan keluar sendiri tapi agak lama biasanya sampai 4-5 jam lagi.”
“Win capai ya..?”
“Nggak terlalu juga, Oom puas dengan pelayan Win? maaf ya Oom Win masih hijau dalam bermain seks.”
“Oooh Oom puas sekali semuanya jadi lega.”
“Sungguh Oom?”
“Betul Win!” sahutku lagi sambil kupeluk dia erat-erat dengan penuh perasaan kasih sayang.
“Oom, Win sangat bahagia malam ini, Win bukan saja dapat kenikmatan seks dari Oom, tapi lebih dari itu Win sangat merasakan kasih sayang dari Oom.”
“Dalam bermain seks Oom beda jauh dengan pacarku dulu, Oom sangat matang tekniknya juga hebat bisa terus membimbing Win sampai ke puncaknya, jadi bukan sekedar beda besar penisnya saja.”

Sebab punya pacar saya dulu kecil lagi hitam, sedang Oom punya besar dan bersih dan kuning langsat.”
“Malam ini Oom tak boleh meninggalkan Win, Win ingin tidur dalam pelukan Oom, Win ingin bahagia malam ini.” Aku bilang,
“Kalau Oom tidur di sini bisa ketahuan orang nanti Win.” Ia menjawab,
“Anak-anak kost di sini bangunnya paling pagi jam 6, hanya ibu pembantu yang jam 5, jadi besok sebelum pukul 5 nanti Win bangunkan Oom. Pokoknya malam ini Oom harus dengan Win.”
Ia kemudian mengusap dahiku yang berkeringat, saat mengusap tangannya kupegang dan kucium telapaknya dengan penuh arti dan Win pun merasakan hal ini dia memejamkan matanya dan air matanya menetes keluar.
“Win, jangan sedih Oom kan menunggumu malam ini.”
“Iya Oom” jawabnya. Setelah beberapa saat ia berkata,
“Oom, Win yakin dan tahu pasti kalau sebetulnya dalam hati Oom sayang sama Win. Benar ya?”
“Kok Win bisa bilang begitu?” kataku.
“Oom tak bisa dusta pada Win, dari pancaran mata Oom terlihat jelas sekali dan Win benar-benar merasakan kasih sayang Oom itu.” Lalu tambahnya,
“Saat Oom meniduri Win, Win tahu dari mata maupun tingkah Oom, Oom bukan semata-mata melampiaskan nafsu seks saja, tetapi Oom meniduri Win dengan penuh kasih sayang dan penuh kemesraan, hingga benar-benar Win merasa bahagia. Tidak meleset pandangan pertama Win terhadap Oom, memang Oom benar-benar adalah type laki-laki yang jadi dambaan Win. Sayang ketemunya sudah terlambat.”
“Win, kira-kira begitulah yang ada dalam hatiku” sahutku mesra sambil kubelai-belai punggungnya. Win berpesan kepadaku,
“Kalau Oom mau lagi setiap saat Win akan melayani jadi Oom jangan takut untuk membangunkan Win.”
Sambil ngobrol-ngobrol kita akhirnya tertidur. Pagi hari seperti biasa jam 4 aku sudah bangun, ternyata pagi itu penisku ikut bangun juga apalagi dekat cewek. Kucoba raba-raba dan remas pelan-pelan buah dadanya sambil keningnya kuciumi agar Win bangun.

Ternyata benar Win terbangun, jadi aku langsung singkirkan selimutnya dan mulai kupermainkan dengan mesra payudaranya sebentar saja nafsu seks-nya sudah bergairah tangannya lalu memijit penisku. Saat kulihat vaginanya ternyata maniku sudah tumpah keluar selain meleleh di pahanya juga jatuh di sprei jadi flek karena sudah agak mengering. Kubisiki Win, “Win, kamu mau main di atas?” Ia mengangguk dan segera bangun sedang aku tidur lalu ia jongkok hingga lubang kewanitaannya tepat berada diatas penisku. Kubantu memasukkan kepala penisku ke lubangnya dan Win menekan ke bawah pantatnya dan bleeess langsung masuk penisku. Win terus menggoyangkan naik turun pantatnya tapi belum bisa gerakan memutar karena memang belum banyak pengalaman. Sampai lebih dari 15 menit kita berdua belum klimaks, karena kulihat Win berkeringat, aku minta ganti dia yang tidur dan aku yang di atas. Operasi seperti pada malam hari kuulangi lagi yaitu dengan ciuman dan kecupan yang mesra, lalu raba-rabaan dan remasan dengan penuh kasih sayang serta gerakan-gerakan penis yang berirama cepat lambat bergantian kulakukan dengan santunnya. Begitu tangannya sudah mulai mencengkeram punggungku lagi dan mulutnya kembali menggigit leherku kudapat pastikan Win akan klimaks, segera aku konsentrasi juga pada Win yang manis agar maniku juga segera keluar. Rintihannya terulang lagi saat penisku menyemprotkan mani ke vaginanya dan sesaat lagi aku juga merasakan siraman maninya di penisku.

Karena jam sudah pukul 4.30 maka kuminta keluar kamar. “Sebentar Oom!” katanya. Ia lalu bangun mengambil tissu untuk membersihkan penisku yang berlumuran dengan maninya dia.
“Waah spreimu flek Win”, kataku.
“Ngak apa-apa Oom, aku malah senang”, katanya sambil mencium sprei yang flek.
Aku segera masuk ke kamar dan tidur lagi, hingga bangun agak kesiangan. Saat kubangun malah Win sudah berangkat ke bank. Siang hari itu aku mendapat telepon dari seorang teman, kata operator, setelah telepon kuterima ternyata dari seberang ada suara yang menyapa dari seorang wanita yang ternyata baru kutiduri semalam yaitu Win.
“Hallo Win”, jawabku.
“Darimana kamu tahu teleponku.”
“Win tanya pada operator di bank sini”, sahutnya.
“Om, nanti siang mau menemani Win makan siang?”
“Boleh saja, Win, mau makan dimana?” jawabku.
“Ach, makan yang dekat-dekat sini saja ya, nanti Oom tak usah naik taxi bisa naik becak saja sebab ke tempat hanya dekat”, jelasnya.
“Oke Win nanti jam 12 Oom jemput Win.”
“Trims ya, jam 12 Win akan tunggu Oom di luar” jawabnya dengan suara manja.
Ketika jam menunjukkan pukul 11.50 aku cepat-cepat pamit untuk keluar makan, aku segera cari becak untuk menuju ke banknya Winarti. Kira-kira pas 10 menit perjalanan becak sampailah aku di banknya Winarti. Baru saja aku bayar becak, kulihat Winarti sudah berlari-lari kecil menghampiriku. Saat sampai Win langsung merangkul pinggangku sambil badannya bersandar ke badanku dan mengajak berjalan menuju ke rumah makan.
“Makan di rumah makan ujung jalan itu saja ya Oom”, katanya.
“Oke.”
Win berjalan sambil merangkul pinggangku terus dengan senyum-senyum kecil. Dia tampak ceria sekali dan gayanya yang manja padaku.
“Kenapa Win kamu kok tampil beda sekali?” tanyaku.
“Kan Win lagi bahagia, sekarang jadi istrinya Oom? walaupun istri sementara saja” sahutnya.
Sampai di rumah makan Win memilih meja yang kecil letaknya di ujung, lalu mulai melihat menu masakan.
“Oom mau apa?” tanyanya.
“Oom terserah sama Win saja, kan suami tergantung dengan istrinya?” jawabku.
Dia mencubit tanganku dan bilang,
“Oom, jangan gitu ach, Win jadi pingin jadi istri Oom beneran lho.”
“Oom mau nggak makannya bagi-bagi dengan Win?”

Aku manggut-manggut saja. Win kemudian pilih nasi gudeg dan nasi pecel telur serta Coca Cola dan es campur.
“Oom nanti malam harus menemani Win lagi ya?” pintanya.
“Win kau capai nanti tiap malam main terus”, sahutku.
“Apakah Win minta main, Win minta Oom menemani Win tidur, soal Oom nanti mau main berapa kali Win selalu siap melayani, tapi bila Oom capai nanti Win yang mijit”, sahutnya.

Aku jadi kalah ngomong dan aku setuju saja akhirnya. Setelah makanan keluar, kita mulai makan aku diberi nasi gudeg dengan es campur dulu dan Win nasi pecel dan Coca Cola.
“Nanti bila sudah habis setengah kita ganti piring dan minumnya”, kata Win. Sambil makan dia berkata,
“Hari Sabtu dan Minggu, Oom kan libur nanti pergi dengan santai di Batu ya Oom? Sebab di kost kalau Sabtu dan Minggu anak-anak kost banyak di rumah jadi kita sulit untuk bermesraan.”
“Nanti aku pamit pulang ke Blitar sama tante kost dan Oom bilang diajak temannya ke Batu” katanya Win padaku.
Padahal sebenarnya aku hari Minggu akan diajak ke Surabaya, karena ada famili dari Eva yang menikah, jadi sekeluarga akan ke Surabaya. Kupikir dari ke Surabaya lebih baik rekreasi dan santai dengan Win di hawa dingin. Maka kusetujui ajakan dan usulannya. Selama makan tangan kiriku selalu digenggam erat-erat dengan tangan kirinya Win, hingga makannya kami hanya pakai sendok saja. Setelah aku makan separuh, kutunggu Win makan separuh nasinya, lalu piring kita tukar juga minumnya. “Oom, hari-hari ini Win merasa bahagia sekali, Oom juga?” tanyanya.

Kutatap matanya dalam-dalam dan aku bilang, “Perasaan Oom sama dengan perasaanmu.” Walaupun makan telah selesai, kita tetap ngobrol dulu tunggu sampai jam 1 siang kita berpegangan tangan dua-duanya.
“Oom nanti pulang pukul berapa? tanya Win.
“Kalau biasa sih pukul 6 sore”, sahutku.
“Kenapa Win?”
“Ya kalau bisa aku cuma ingin pulang bareng Oom seperti kemarin”, katanya.
“Win apa nggak tunggu lama nanti?” kataku.
Dia menggelengkan kepala. Keluar rumah makan Win tetap berjalan sambil merangkul pinggangku, sampai akhirnya sampai ke banknya dan kuantarkan sampai pintu depan, kemudian kita berpisah.

Aku balik ke kantor dengan becak lagi. Sore hari jam 6 aku pulang, aku naik taxi seperti biasa hanya saat mendekati banknya Win aku minta sopir jalan pelan-pelan, benar juga Win masih menunggu depan bank, begitu melihat ada taxi berhenti langsung dia berlari-lari kecil menghampirinya. Lalu kubuka pintu taxi dan Win ikut naik. Seperti kemarin kita berhenti di warung bakso untuk makan malam bersama-sama sekalian. Setelah makan Win berpesan,
“Begitu Oom habis mandi kalau ada kesempatan Oom supaya langsung masuk kamarnya Win ya.”
Lalu Winarti berjalan di muka lebih dulu dan aku menyusul pelan-pelan di belakangnya, sampai di kost aku ketemu Eva yang kebetulan belum tutup, lalu aku ceritakan kalau hari Sabtu akan ke Batu dengan teman-teman kantor, jadi Minggu tak bisa ikut ke Surabaya. Setelah basa-basi sebentar aku pamit untuk naik ke kamar. Sampai depan kamar, pas Win mau mandi dia berjalan menghampiriku dan bilang,
“Nanti malam kalau ke kamar Win supaya Oom membawa baju yang untuk ke Batu, nanti Win bawa dalam satu tas saja”, lalu ia pergi mandi dan aku menyiapkan 1 stel pakaian dalam dan 2 T-Shirt saja.

Selesai mandi Win turun dan saat lewat kamarku ia menyapa, “Oom, Win ke bawah sebentar untuk memasak Indomie buat kita kalau lapar lagi nanti malam, sekalian mau pamit kalau besok pulang sama tante kost.” Aku manggut-manggut saja dan kemudian pergi mandi, selesai mandi kulihat kamar Win masih terbuka kosong dan di bawah masih ada anak kost yang di luar kamar, sehingga aku masuk kamar untuk istirahat dan baca koran dulu. Beberapa saat kudengar Win naik tangga, lalu ia berhenti di muka kamarku sambil berkata pelan-pelan, “Oom sudah sepi, ayo cepat.” Aku segera membawa baju yang akan kubawa besok dan mengikuti Win masuk ke kamarnya. Ia meletakkan mangkok Indomienya di meja dan segera pintu kamarnya dikunci. “Om besok Win mau pakai kaos ini saja ya”, sambil menunjukkan 3 kaos, warna putih dengan motif kembang-kembang kecil, putih polos dengan gambar gesper di dada dan kuning polos. Yang putih dadanya agak terbuka lebar sedang yang kuning di bagian atas dada ada retsluitng kecil. Ia bilang,
“Kalau Win jalan sendiri agak malu pakai kaos ini, Oom.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Sebab kaos itu ketat sekali, jadi payudara Win kelihatan menonjol sekali, cowok-cowok kalau memandang kurang ajar kok”, jelasnya.
“Coba dipakai yang kuning ini Win”, pintaku.
Lalu Win melepas kaos tidurnya dan ganti pakai kaos kuning itu.
“Waahh betul-betul kamu kelihatan seksi pakai ini, apalagi retsluiting terbuka lekuk payudaramu jelas terlihat dari luar”, kataku.
“Tapi nggak apa, nanti kalau naik angkutan umum Win pakai jaket lagi jadi agak tak mencolok sexynya”, jelasku.
Win setuju kemudian dilepas lagi kaos kuningnya. Saat itu langsung kupeluk dan kubisiki,
“Win mau main lagi?”
“Iya Oom, Win sudah kepingin lagi kok.”
Lalu kulepas celana pendeknya dan ternyata Win tak pakai CD sebab ia langsung telanjang bulat.
“Win, sambil Oom ajari sedikit ya, supaya besok bisa dipraktekkan di Batu.” Win manggut-manggut.

Lalu ia kutarik berdiri menghadap kaca riasnya dan aku berdiri di belakangnya sambil memeluk Win dari belakang dan kuraba-raba dan meremas dengan penuh kemesraan.
“Win kalau kamu kukerjakan begini langsung kamu memegang penisnya Oom untuk Win permainkan sambil kaki Win yang sebelah diangkat lalu berpijak di meja rias, agar kewanitaan Win semakin terbuka dan mudah untuk diusap-usap.”
“Iya, Oom”, dan langsung kakinya naik kemeja serta tangannya mengocok penisku.
Setelah adegan ini berlangsung hampir 10 menit, Win kuajak tidur dan aku yang di bawah Win di atas. Setelah Win naik dan memasukkan penisku ke vaginanya, kuberi tahu,
“Win, pertama jangan kamu ambleskan semua penis Oom, yang masuk biar 1/3 bagian dulu lalu pantatmu gerakan memutar”, sambil aku memegang pinggangnya untuk membantu memutarkan pantatnya. Memang rasanya masih kaku belum luwes cara memutarnya, tapi tak apalah besok mungkin lebih bagus.
“nggak enak ya Oom?” tanya Win.
“Cukup bagus untuk permulaan”, kataku.

Kemudian Win mulai ganti goyang naik turun, hingga payudaranya bergoyang agak keras dan segera kutahan dengan kedua tanganku untuk kuusap-usap seraya meremasnya pelan-pelan dan sebentar-sebentar agak keras untuk merangsang nafsunya. Begitu ia mulai gairah kutidurkan dia dan teknik menyetubuhi seperti semalam kuulangi lagi yang membuat maninya Win serta air maniku keluar hampir bersamaan beda hanya sekitar 3 detik saja. Selesai main Win dan aku langsung tiduran sambil ngobrol dan merencanakan kepergiannya besok.
“Jadi besok pagi ketemu di rumah makan siang tadi, nanti Win yang berangkat dulu baru Oom nanti yang nyusul”,
“Oke.”
“Oya besok kita renang ya nanti Win bawa swim suit”, lalu ia membuka lemarinya mencari swim suit.
Dalam lemari itu kulihat roknya tak terlalu banyak seperti cewek-cewek bank lainnya, aku jadi iba dibuatnya dan aku ingin menghadiahkannya rok padanya. Setelah ketemu swim suit ditumpuk jadi satu dengan kaosnya, lalu ia naik keranjang tidur di sampingku lagi.

“Win, besok di Batu Oom ajari lagi yaa!”
“Boleh, tehnik apa Oom?”
“Menghisap”, kataku.
“Menghisap apa?” tanya Win.
Lalu Win kupeluk erat-erat sambil kucubit perutnya dan kataku,
“Win, kamu jangan pura-pura bloon ya.”
“Win betul-betul belum tahu kok.”
“Win, sayang, kalau punya Oom belum tegang seperti tadi, kan tangan Win yang Oom minta untuk mempermainkannya. Betul ya?” Ia manggut.
“Jalan lain yang lebih indah adalah dihisap pakai mulut, Win mau dan jijik nggak?”
“Untuk membuat kepuasan Oom, apa saja Win lakukan dan buat Oom tak terasa jijik. Win, ajari gimana caranya Oom!”
“Nanti fajar saja kalau punya Oom bangun, Oom akan ajari sekaligus praktek ya, sayang?” kataku. “Sekarang kita istirahat dulu sambil ngobrol.”

Win minta agar aku memeluknya lebih erat lagi dan ngomong, “Dari pembicaran Oom sebenarnya banyak kesamaannya dengan Win, baik mengenai makan, kebiasaan, pandangan hidup, cara berdandan yang sederhana, maka dari itu Oom makin lama semakin sayang pada Win, dan Win sendiri merasakan kasih sayang dari Oom itu.”
“Jangan banyak ngelamun Win, ayo tidur dulu.”
Lalu tubuhnya kuselimuti dan kudekap erat-erat kepalanya di dadaku. Seperti biasa jam 4 pagi terbangun dan barangku juga sudah bangun, tapi karena Win masih tidur terpaksa kubisiki kata rayuan mesra agar bangun. Memang hanya beberapa saat Win bangun dan kuajak main, karena punyaku sudah tegang sekali aku langsung naik ketubuhnya dan coba kumasukkan ke dalam vaginanya. Win berbisik,
“Katanya Oom mau ngajari hisap?”
“Iya sayang, tapi karena punya Oom sudah tegang banget, Oom masukkan dulu sebab Win kan harus mencapai klimaks juga. Nanti kalau Oom semprotkan dalam mulut langsung, kan Win nggak bisa klimaks”, kataku.
Ia menurut dan mulai merintih karena penisku sudah masuk dan sudah bergerak memutar divaginanya sambil kubelai sayang tubuhnya.

Napasnya mulai memburu kuimbangi juga dengan nafasku supaya Win benar-benar terangsang dan gerakannya kupercepat dan benar juga Win mulai mengcengkeram punggungku lagi. “Acch… Win mencapai puncak Oom, nikmat dan bahagia sekali Oom”, katanya lirih. Aku tekan terus penisku kevaginanya, begitu Win mulai terasa fit lagi aku turun dari atas tubuhnya dan kuambil tissue untuk membersihkan penisku. “Win, sekarang Oom ajari cara menghisap, tapi posisi di bawah dulu ya!” kataku. Aku duduk di tepi ranjang dan Win kuminta jongkok di hadapan penisku lalu kumulai kursus kilat ini.

“Win, peganglah penis Oom agak bagian bawahnya dan agak ditekan ke bawah supaya kepalanya tampak besar habis itu jilatilah kepalanya memutar terutama bagian tepi kepalanya.” Win mulai melakukannya, kira-kira sudah 5 menit kuganti instruksi lagi, “Win sekarang coba lubangnya dibuka-buka dengan ujung lidah kalau bisa gerakan lidahnya yang cepat.” Win mempraktekkan juga, tapi masih jauh dari nikmat mungkin benar-benar belum biasa. 5 menit kemudian ganti petunjuk lagi, “Masukkan mulut kepalanya lalu lidahmu gesek-gesekkan dan kemudian sambil dikenyut-kenyut supaya maninya cepat keluar.”

“Dan yang paling akhir bila penisnya Oom sudah tegang banget seperti ini, majukan dalam-dalam ke mulutmu lalu kamu keluar masukkan punya Oom ke mulut Win, seperti kalau masuk ke vagina dan sambil dibantu dengan kocok pelan-pelan supaya cepat nyemprot.” Memang Win benar-benar belum biasa menghisap, sebab saat menghisap air liur sering menetes keluar. Karena aku hampir klimaks maka kubantu mengocok penisku dan aku bisiki Win, “Win, Oom mau sampai puncak”, Dan creeettt… creettt…. creeeettt maniku menyemprot ke dalam mulutnya, Win terdiam sejenak. Lalu kuminta agar lubangku disedot. Ketika Win menyedot terasa seeeerrrr, sisa mani disaluran penisku keluar ke mulutnya. “Win, maninya Oom banyak ya?” tanyaku. Win hanya membuka mulutnya yang penuh dengan maniku yang kental dan putih. Aku bisiki lagi, “Win, kalau nggak jijik ditelan semua maninya Oom.” Win telan juga semua mani yang di mulutnya dan bilang, “Aku suka maninya Oom dan tidak jijik, kalau lain orang No! Rasanya sih asem-asem dan asin Oom.” Lalu segera kupeluk erat-erat dia dan kutatap matanya yang selalu memandang wajahku,
“Win, Oom sangat sayang padamu.”
“Win juga benar merasakannya Oom”, sahutnya.
Karena sudah hampir pukul 5, aku cepat-cepat kembali ke kamarku dan tidur lagi.

Saat aku terbangun kulihat cuaca sudah terang dan samar-samar dengar Win mandi, aku segera bangun dan bersiap-siap mandi. Begitu Win keluar dari kamar mandi aku segera yang masuk. Ketika selesai mandi kulihat Win telah selesai dandan, aku cepat ke kamar untuk ganti pakaian juga. Belum selesai menyisir rambut kudengar Win sudah berjalan keluar kamar, saat depan kamarku dia berhenti sebentar kupandangi dia dengan terpesona. Memang betul-betul seksi dengan celana ketat hitam dan kaosnya terbuka agak lebar dadanya. Apalagi perutnya yang ramping hingga payudaranya kelihatan sangat menonjol sekali, tapi dia pakai rompi untuk sedikit mengurangi penonjolan payudaranya.

Kemudian Win berkata,
“Win berangkat dulu yaa, nanti kira-kira 10-15 menit Oom nyusul ya?”
“Jangan-jangan nanti Win sudah kecantol cowok lain sebelum Oom datang”, gurauku.
Win dengan mimik gemes mencubit lenganku sambil ngomong,
“Oom kalau ngomong jangan yang aneh-aneh ya? Awas nanti di sana”, kemudian dia langsung turun tangga sambil membawa tas kecil dan dompet yang menggantung di pundaknya.

Kira 10 menit kemudian aku turun dan naik becak ke restauran terssbut, saat aku turun dari becak Win sudah tahu dan menghampiriku serta menggandeng tanganku erat-erat jalan masuk ke RM. Win ternyata sudah pesan kopi susu serta nasi plus telor mata sapi kesukaanku dan sandwich 1 potong. Aku bilang,
“Waah kamu belum dicantol orang ya?”
“Oom jangan gitu, yang bisa nyantol Win ya cuma Oom sendiri”, sahutnya sambil mencubit lenganku lagi dengan gemas.
“Win, Oom jangan dicubiti toch, lihat nanti punggung dan dada Oom yang penuh cacat kena cengkraman tangan dan gigitanmu saat Win mau klimaks” kataku.
“Oya, tapi Win betul-betul tanpa sadar melakukannya. Pantas di punggung Oom ada goresan-goresan, Win kira kenapa apa”, sahutnya.
Sambil ngomong dan makan, Win bilang nanti ke toko dulu untuk beli celana renang buatku dulu. Aku setuju, malah aku bilang untuk ke supermarket dulu untuk beli makanan kecil serta rok dan parfum. Win menolak dengan bilang,
“Oom jangan beli rok dan parfum untuk Win, Win lebih suka parfum asli tubuh Win juga rok nanti kalau sudah tak mode juga kepakai, jadi sayang kenangan akan hilang. Oom kan suka parfum aslinya Win, kan?” tanyanya.
“Pasti sayang, kan tiap malam Oom sudah bercampur dengan parfumnya Win toch..”
“Kalau Oom berkenan supaya kenangan itu tetap abadi dan akan Win pakai terus lebih baik cincin saja.”
“Kalau Win maunya gitu, Oom ikut saja.”
“Nanti Win pilih 2 biji, yang satu seperti wedding ring yang satu pakai permata, tapi nggak usah yang mahal-mahal”, jelasnya.

“Terserah sama Win sudah”, kataku sambil kugenggam tangannya erat-erat. Saat jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat, kita berangkat menuju kompleks pertokoan di Jl. Kayutangan. Di sana Win membeli macam-macam makanan kecil tapi anehnya tiap macam hanya 1 biji, lalu Win mengajak ke toko yang jual swim suit. Lalu dia pilih celana renang dan pilih yang warna biru,
“Yang ini saja ya Oom?”
“Terserah Win.”
Selama berjalan Win selalu menggandeng tanganku lalu memepetkan payudaranya kelenganku dan kepalanya kadang disandarkan ke bahuku. Win jalan dengan manjanya dan sedikit genit, hingga orang yang melihat kelihatan kagum akan kemesraan kita.

Win mengajak ke toko perhiasan di situ Win pilih-pilih cincin setelah ada yang cocok ditunjukkan padaku dan aku sih oke saja hanya kuanjurkan jangan yang telalu kecil beratnya, tapi Win bilang,
“Yang kecil saja cukup yang penting kesan dan kenangannya.”
Setelah tawar menawar, kubayar cincin itu lalu kita jalan terus dengan mesranya menyusuri sepanjang pertokoan.
“Gimana beli parfum dan rok ya?” tanyaku saja.
“Nggak Oom, Win cuma kenal bedak dan lipsticks saja, kan Oom lihat yang ada di meja rias Win.”
“Oke kalau gitu beli bedak dan lipstick serta BH dan CD ya?” tanyaku.
“Eeeeh.. kalau ngomong jangan macam-macam!” sahutnya sambil mencubit pahaku.
Akhirnya Win mau ke department store dan Win kuminta beli bedak dan lipstick kebiasaannya juga sekalian BH dan CD-nya, setelah itu kita jalan menuju tempat tunggu angkutan yang menuju Batu. Sampai di Batu kuminta turun depan Hotel Kartika Wijaya, kita langsung check-in sebab sudah jam 11.40. Kamarnya punya view kepegunungan dan di belakang hotel ada kolam renang. Win tampak ceria dan bahagia sekali ia selalu menempel terus ke tubuhku kemana saja aku pergi seperti ada magnetnya saja.

Siang itu kita makan di restoran hotel saja karena malas keluar lagi, saat makan itu aku diminta untuk memasangkan 2 cincin di jari manis tangan kiri serta kanannya. Habis kupasang, Win langsung merangkul leherku dan menciumku, kubalas juga ciumannya, hingga sempat jadi tontonan sesaat buat tamu restoran. Siang itu kita istirahat sambil berpelukan, tidur tindih menindih gantian sambil kuajari cara berciuman dengan mengeluarkan lidahnya untuk bisa dikulum. Win merasa senang sekali dengan ajaran itu hingga sering dipraktekan sekarang saat kucium.

Aku jadi terbangun saat merasa ada orang yang menciumku, saat membuka mata ternyata Win yang mencium sambil duduk di sampingku sudah dalam pakaian swim suit. Waah indah sekali seksi tubuhnya dalam pakaian swim suit, payudaranya menonjol dengan kelihatan bagian atasnya yang putih agak sedikit mencuat. “Ayo Oom kita renang!” sambil membawa celana renangku. Aku bangun dan pakai celana renang, lalu kita pergi ke kolam renang. Disana Wim langsung masuk kolam, karena banyak tamu pria lain yang renang matanya memandang terus bagian dadanya. Aku ikut masuk tapi tak renang hanya menemani Win dalam kolam. Win bilang, “Oom, Win kalau renang sendiri sulit sebab banyak cowok-cowok terutama yang sebaya langsung datang mengajak ngobrol tapi matanya ya cuma memandang payudaranya Win, jadi lama Win tak pernah renang.”

Setelah renang 1 1/2 jam, Win selesai renang dan sekaligus mandi di pancuran bersamaku, dia menyabuni tubuhku dan aku menyabuni tubuh Win, hingga banyak mata tamu yang melotot melihatnya. Selesai mandi kita langsung balik kamar dan tiduran sebentar berdua sambil Win terus minta dipeluk. Kira-kira pukul 6 sore, Win mengajak jalan-jalan keluar sekalian makan malam. Dia mengenakan celana ketat hitamnya dengan kaos yang kuning ketat dan retsluiting terbuka di dadanya. Betul-betul pemandangan yang menggiurkan bagi laki-laki. Win tetap berjalan dengan menggandeng tanganku atau merangkul pinggangku, hingga kita tampak mesra sekali. Karena penampilan Win dalam pakaiannya itu kita di jalan menjadi perhatian banyak turis domestik yang ketemu. Jam 9 malam lebih kita kembali ke hotel dan aku duduk nonton TV sedang Win langsung duduk di pangkuanku dengan tangannya merangkul leherku. Kupeluk dia sambil berciuman mesra dan tanganku mulai nakal main dan menyusup kebukaan retsluiting itu untuk meraih payudaranya yang sintal itu dan meremas-remasnya dengan penuh kemesraan. Win mulai mengaduh perlahan-lahan dan kancing serta retsluiting celananya mulai kubuka tapi karena ketat Win harus berdiri dulu untuk melepasnya sekaligus CD-nya dan kemudian kaos ketatnya pun kubantu membukanya serta BH-nya. Win juga membantuku melepas pakaian, hingga sekejap kita sudah bugil berdua. Aku tidur di ranjang dan Win telungkup di atas hingga payudaranya menempel ketat di dadaku. Win mulai mempraktekkan ciuman dan menghisap penisku dengan teknik yang kuajari, selanjutnya aku yang membimbingnya agar Win dapat mencapai klimaks bersamaku dan setelah itu Win minta agar punyaku jangan dicabut keluar supaya tetap tinggal di dalam vaginanya, katanya supaya badannya tetap hangat. Jadi malam itu kita tidur dengan penisku di dalam vaginanya.

Paginya saat aku bangun jam 4 aku terasa penisku sudah tegang lagi tetapi rasanya masih tetap dalam vaginanya. Karena penisku bergerak-gerak membesar, Win jadi terbangun dan langsung kita bermain cinta lagi sampai Win dan aku mencapai puncak bersama-sama. Sejak itulah tiap malam aku selalu tidur bersama Win, sekarang Win yang lebih sering ke kamarku dan tiap malam Win selalu mempraktekkan teknik yang kuajarkan sekali atau dua kali, sampai hari kepulanganku. Memang Win seorang yang pantas jadi istriku sebab kecocokan dalam kehidupan sehari-hari denganku, apalagi Win bukan type pemeras dan mata duitan walaupun hidupnya sederhana, sayang ketemunya terlambat.

Sampai hari ini Win kadang-kadang masih menginterlokal aku, dan aku juga minimum 1 bulan sekali kontak dia.

TAMAT

Cerita Antara KitaOctober 7, 2006 7:24 pm

Bermula dari 25 tahun silam, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Surabaya. Sebagai seorang pemuda perantau yang masih lugu, saya ke pulau Jawa untuk melanjutkan studi dan mengadu nasib. Paman dan Bibi yang tinggal di sebuah kota kecil LM sebelah timur Surabaya sudah dikirimi telegram untuk menjemput saya, namun karena komunikasi yang kurang lancar, sehingga kami tidak bertemu. Dengan berbekal alamat rumah Paman, saya memutuskan untuk langsung berangkat ke kota LM dengan menggunakan bis kota.

Tiba di kota LM sudah menjelang sore hari, dan dalam keadaan lapar saya menuju ke rumah Paman, namun ternyata Paman dan Bibi sudah sejak pagi berangkat ke Surabaya untuk menjemput saya. Berkat kebaikan tetangga (karena sudah diberitahu Bibi mengenai kedatangan saya) Pak Edy dan istrinya Bu Ning (keduanya berusia sekitar 45 tahunan), saya diberitahu untuk tinggal sementara di rumah mereka. Disinilah awal dari inti kisah nyata saya.

Bu Ning sebagai umumnya wanita Jawa setengah baya dan kebetulan belum dikarunia momongan selalu memakai kebaya dan rambutnya disanggul, sehingga penampilan selalu anggun. Bertubuh sekal, pinggul dan pantatnya yang besar, suka tersenyum dan sangat baik.

Malam itu kira-kira jam 19:00 Pak Edy sebagai petugas kantor pos harus lembur malam karena akhir Desember banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Sementara saya karena kecapaian setelah menempuh perjalanan panjang tertidur pulas di kamar yang telah disediakan Bu Ning.

Kira-kira jam 11 malam saya terbangun untuk ke kamar kecil yang ada di belakang rumah, dan saya harus melewati ruang tamu. Di ruang tamu saya melihat Bu Ning sedang menonton TV sendirian sambil rebahan di kursi panjang.
“Mau kemana Dik..? Mau keluar maksudnya..?” tanya Bu Ning lagi.
Karena rupanya Bu Ning tidak mengerti, akhirnya saya katakan bahwa saya mau kencing.
“Ohh.., kalau begitu biar Ibu antarkan.” katanya.

Waktu mengantar saya, Bu Ning (mungkin pura-pura) terjatuh dan memegang pundak saya. Dengan sigap saya langsung berbalik dan memeluk Bu Ning, dan rupanya Bu Ning langsung memeluk dan mencium saya, namun saya berpikir bahwa ini hanya tanda terima kasih.

Setelah kencing saya balik ke kamar, namun Bu Ning mengajak saya untuk nonton TV. Posisi Bu Ning sekarang tidak lagi berbaring, namun duduk selonjor sehingga kainnya terangkat ke atas dan kelihatan betisnya yang putih bulat. Sebagai pemuda desa yang masih lugu dalam hal sex, saya tidak mempunyai pikiran yang aneh-aneh, dan hanya menonton sampai acara selesai dan kembali ke kamar untuk tidur lagi.

Pagi-pagi saya bangun menimba air di sumur mengisi bak mandi dan membantu Bu Ning untuk mencuci, sementara Paman dan Tante belum kembali dari Surabaya karena mereka sedang mencari saya disana. Om Edy sudah berangkat lagi ke kantor, tinggal saya dan Bu Ning di rumah. Bu Ning tetap mengenakan sanggul. Beliau tidak berkebaya melainkan memakai daster yang longgar, duduk di atas bangku kecil sambil mencuci. Rupanya Bu Ning tidak memakai CD, sehingga terlihat pahanya yang gempal, dan ketika tahu bahwa saya sedang memperhatikannya, Bu Ning sengaja merenggang pahanya, sehingga kelihatan jelas bukit vaginanya yang ditumbuhi bulu yang cukup lebat, namun hingga selesai mencuci saya masih bersikap biasa.

Setelah mencuci, Bu Ning memasak, saya asyik mendengarkan radio, waktu itu belum ada siaran TV pagi dan siang hari. Siangnya kami makan bersama Om Edy yang memang setiap hari pulang ke rumah untuk makan siang.

Malam harinya Om Edy kembali lembur, dan Bu Ning seperti biasa kembali mengenakan kebaya dan sanggul, sambil nonton TV. Di luar hujan sangat lebat, sehingga membuat kami kedinginan, dan Bu Ning meminta saya untuk mengunci semua pintu dan jendela.

Pada saat saya kembali ke ruang tamu, rupanya Bu Ning tidak kelihatan. Saya menjadi bingung, saya cek apakah dia ada di kamarnya, juga ternyata tidak ada. Saya balik ke kamar saya, ternyata Bu Ning sedang berbaring di kamar saya, dan pura-pura tidur dengan kain yang tersingkap ke atas, sehingga hampir semua pahanya yang putih mulus terlihat jelas.

Saya membangunkan Bu Ning, namun bukannya bangun, malah saya ditarik ke samping ranjang, dipeluk dan bibir saya diciuminya. Karena saya masih bersikap biasa, Bu Ning membuka kebayanya dan meminta saya untuk mencium buah dadanya yang sangat besar dengan puting hitam yang sangat menantang. Saya menuruti dengan perasaan takut, dan ternyata ketakutan saya membuat Bu Ning semakin penasaran dan meminta saya untuk membuka baju dan celana panjang, sehingga tinggal CD, sementara Bu Ning mulai membuka kainnya.

Bu Ning mulai mencium adik kecil saya, dan meminta saya melakukan hal yang sama, dengan mencium vaginanya yang wangi dan merangsang secara bergantian. Sambil mencium vaginanya, tangan saya disuruh meremas buah dadanya yang masih keras dan kadang memilin putingnya yang mulai mengeras, nafas Bu Ning mulai terasa cepat, dan meminta saya untuk membuka CD dan mencium tonjolan daging yang tersembul di mulut vagina. Saya melakukan sesuai perintah Bu Ning, dan ternyata terasa basah di hidung saya karena banyaknya cairan yang keluar dari vagina Bu Ning, sementara Bu Ning mendesis dan mendesah keenakan dan kadang-kadang mengejangkan kakinya.

“Uhhh.. ohhh.. ahhh.. ohhh.., terus Dik..!” desahnya tidak menentu.
Meriam saya berdiri tegang dan Bu Ning masih mempermainkan dengan tangannya. Sesekali Bu Ning meminta saya untuk mengulum bibir dan putingnya. Setelah puas dengan permainan cumbu-cumbu kecil ini, Bu Ning kembali ke kamarnya dan saya pun teridur dengan pulasnya.

Pagi-pagi Paman dan Bibi yang rupanya telah kembali dini hari menjemput saya, dan rumah Paman dan rumah Om Edy ternyata bersambungan dan hanya dibatasi sumur yang dipergunakan bersama. Setelah berbasa-basi sebentar, dan Bu Ning katakan bahwa saya sudah dianggap anak sendiri, jadi kalau Paman dan Bibi berpergian, saya bisa tidur di rumah Om Edy. Kebetulan Paman pada saat itu sedang menyelesaikan tugas akhirnya di PTN di kota ML.

Kehidupan hari-hari selanjutnya kami lalui dengan biasa, namun kalau sedang berpapasan di sumur kami selalu senyum penuh arti, dan makin lama membuat saya mulai jatuh cinta kepada Bu Ning, senang melihat penampilannya yang anggun. Sebulan kemudian Paman dan Bibi harus ke Ml, dan saya dititipkan lagi pada Om Edy.

Hari itu adalah hari Jumat. Setelah selesai sarapan, Om Edy pamitan untuk ke BTR karena ada acara dari kantor sampai minggu sore, dan meminta saya untuk menjaga Bu Ning. Setelah Om Edy berangkat, saya dan Bu Ning mulai tugas rutin, yaitu mencuci, dan seperti biasanya Bu Ning selalu mengenakan daster, tanpa CD. Saya diminta Bu Ning agar cukup memakai CD.

Sambil mencuci kami bercengkrama, ciuman bibir dan mengulum putingnya. Saya berdiri menimba air dan Bu Ning jongkok sambil mencium adik kecil saya, atau Bu Ning yang menimba air saya yang jongkok sambil mencium klitorisnya yang sudah mulai mengeluarkan cairan. Ketika kami saling birahi dan sudah mencapai puncak, Bu Ning saya gendong ke kamar. Di ranjang, Bu Ning saya pangku. Sambil mencium leher, samping kuping dan mengulum putingnya (menurutnya kuluman puting cepat membuatnya horny), kemudian Bu Ning mengambil posisi telentang dan meminta saya untuk memasukkan meriam saya yang memang sudah tegang sejak masih berada di sumur.

Karena Bu Ning jarang melakukannya, maka meriam saya perlu dioleskan baby oil agar mudah masuk ke vaginanya yang sudah basah dengan cairan yang beraroma khas wanita. Pahanya dilebarkan, dilipatkan di belakang betis saya, pantatnya yang bahenol bergoyang naik turun. Sambil mencium keningnya, samping kupingnya, mengulum bibirnya, tangan kiri saya mengusap dan kadang menggigit kecil putingnya atau menjilat leher dan dadanya.

“Teruss.. Dikk..! Tekan..! Huh.. hah.. huh.. hahhh.. ditekan.. enakkk sekali.. Ibu rasanya.. nikmattt… terusss.., Ibu udah mau nyampen nih.. peluk Ibu yang erat Dikkk..!” desahnya mengiringi gerakan kami.
Sementara itu saya merasakan makin kencang jepitan vagina Bu Ning.
“Saya udahhh.. mauu.. jugaaa.. Bu..! Goyang.. Bu.., goyang..!”
Dan akhir.., pembaca dapat merasakannya sendiri. Akhirnya kami terkulai lemas sambil tidur berpelukan.

Jam 4 sore kami bangun, dan kemudian mandi bersama. Saya meminta Bu Ning menungging, dan saya mengusap pantat dan vaginanya dengan baby oil. Rupanya usapan saya tersebut membuat Bu Ning kembali horny, dan meminta saya untuk memasukkan kembali adik kecil saya dengan posisi menungging. Tangan saya mempermainkan kedua putingnya.
“Terusss.. ohhh.. terusss.. yang dalam Dik..! Kok begini Ibu rasa lebih enak..!” katanya.
“Ibu goyang dong..!” pinta saya.

Sambil pantatnya digoyangkan ke kiri dan ke kanan, saya melakukan gerakan tarik dan masuk.
“Oohhh.. ahh.. uhhh.. nikmat Dikkk.. terus..!” desahnya.
Akhirnya Bu Ning minta ke kamar, dan mengganti posisi saya telentang. Bu Ning duduk sambil menghisap putingnya.
“Ohhh.. uhhh.. nikmat Dikkk..!” katanya.
Kadang dia menunduk untuk dapat mencium bibir saya.

“Ibu.. udahhh.. mau nyampe lagi Dikk.. uhh.. ahhh..!” katanya menjelang puncak kenikmatannya.
Dan akhirnya saya memuntahkan sperma saya, dan kami nikmati orgasme bersama. Hari itu kami lakukan sampai 3 kali, dan Bu Ning benar-benar menikmatinya.

Malamnya kami hanya tidur tanpa mengenakan selembar benang pun sambil berpelukan. Dan keesokan harinya kami lakukan hal yang sama seperti kemarin, dan serasa kami sedang berbulan madu, sampai kedatangan Om Edy.

Pengalaman dengan mentor sex saya ini ternyata dikemudian hari ada juga manfaatnya untuk menghilangkan kejenuhan, karena mengajarkan bagaimana melakukan “foreplay” dengan pasangan sebelum sampai pada puncak permainan. Selain itu timbul suatu kelainan dalam kehidupan sex saya, karena hanya menikmati sex setelah melihat atau membayangkan atau melakukan dengan wanita STW yang berkebaya/sanggul atau rambut disasak.

Akhir bulan Februari tahun berikutnya saya harus berangkat ke Jakarta karena akan melanjutkan kuliah disana. Setiap liburan saya menyempatkan diri untuk berlibur di rumah Paman dan bertemu dengan kekasih saya, dan Mentor sex saya Bu Ning yang selalu mengenakan kebaya dan bersanggul. Dan juga apabila ada kesempatan, kami mengulangi permainan sex dengan pola permainan yang sama.

Demikian kisah nyata ini saya persembahkan untuk para pembaca dan akan bersambung pada kesempatan berikutnya, yaitu perjalanan kehidupan sex saya selanjutnya.

Cerita Antara KitaOctober 5, 2006 10:57 pm

Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional dengan tubuh dan wajah Vira. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam.

Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vira senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Vira di rumahnya.

Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vira, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vira mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?

Sepanjang perjalanan pulang Vira berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.

Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vira, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.

Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Vira yang duduk terdiam. “Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor”, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.

Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vira dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Vira. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.

Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan. Polantas tadi berkata, “Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.” Sersan tadi menimpali, “Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!” Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Vira yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.

Mereka lalu membuka sel Vira dan masuk ke dalam. “Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!” Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Vira sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Vira ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Vira berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Vira yang terus dipegangi oleh Sersan. “Wow, lihat dadanya.” Vira terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Vira, melemparkan tubuh Vira hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Vira. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Vira ke rangka di atas kepala Vira.

Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Vira. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Vira, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Vira mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Vira, sedangkan Vira hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.

Saya berdiri di dalam sel di seberang Vira tak berdaya untuk menolong Vira yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Vira. Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Vira menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.

“Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.” kata Polantas.
“Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!”
“Dia pasti sempit sekali”, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Vira.
Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Vira menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.
“Betul kan, masih sempit sekali.”

Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Vira. Kemudian mereka membuka kaki Vira lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Vira. Vira mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Vira.

Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Vira, mengelus-elus wajah Vira dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Vira menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.
“Ayo dong manis, buka mulut kamu”, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Vira.
“Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?” Vira tak bergeming.
“Buka!” bentak Sersan.
“Buka mulut kamu, brengsek!” Perlahan mulut Vira terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vira.

Mulut Vira terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Vira, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Vira, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Vira. Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!” Vira membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Vira, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Vira.

“San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!” Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Vira dan Polantas berjongkok di dekat wajah Vira. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Vira. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Vira yang masih sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Vira. “Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya.” Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Vira, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Vira. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Vira. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.

“Saya keluuarrhh. Aaahhh!” Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Vira, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Vira, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Saya mendengar Vira berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Vira meronta-ronta berusaha mencari udara.

“Iyya… yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh… aahhh… nikhmaattt!”
Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Vira langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Vira berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Vira terbatuk-batuk, “Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!”

Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Vira sekarang malah memegang pinggul Vira dan membalik tubuh Vira. Vira dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.
“Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan…”
“Aaahkk! Jangaaan!”
Vira menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Vira pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Vira. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Vira. Vira terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Vira hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.

Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Vira menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Vira. Sersan tidak peduli mendengar Vira berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Vira tanpa henti. Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Vira, kemudian menyembur ke pantat Vira dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Vira lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Vira. Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Vira dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, “Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!”

Dini hari, ketika Vira kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Vira. Mereka menendang tubuh Vira agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas menyodomi Vira sementara Sersan berbaring di bawah Vira dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Vira. Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Vira dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Vira. Mereka terus berganti posisi dan Vira terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Vira yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.

Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.
“Kalian boleh pergi.”
Saya membantu Vira mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Vira. Kemudian saya membersihkan tubuh Vira dan menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, “Jangan Pak, ampun Pak, sakit… ampuunn… sakiiit…”.

TAMAT

Cerita Antara Kita 10:56 pm

maaf, ini pertama kali membuat cerita nyata, sory klo agak engga nyambung…
di hari sabtu, sebut saja si andi dan dimas, mereka berdua berteman baik, mrk telah menduduki kelas 2 SMP. (dan masih sangat lugu tentunya) dan andi mempunyai kakak berumur 17 tahun, namanya wina, masih 3 SMA, wajahnya putih, benar2 cantik, membuat hati satu sekolah di pikat olehnya, tetapi tidak digubris olehnya. Badannya seksi, ukuran dadanya agak mencolok, rambutnya
panjang hitam agak kemerahan (karena di cat rambut), tingginya sepantaran anak2 SMA lainnya……..
berawal, di dimas dan si andi mulai mencoba membeli CD BF yang mereka pinjam dari teman mereka………..
lalu si andi dan dimas membuat kesepakatan………
“andi, kita nontonnya di rumah loe ajah, kan VCDnya dah ada di kamar lo” cetus dimas, lalu andi sempat berpikir……”hhmm……..bagaimana yahh………hmmmm, ok deh……” si andi menjawab……..”kapan ndi??” si dimas bertanya, “besok ajah, kan hari minggu, siang ya kerumah gw” jawab si andi……….
akhirnya mrk membuat kesepakatan.
dan esoknya, si dimas ke rumah andi yang megah (karena bokapnya pengusaha minyak terkenal).
lalu si dimas diajak andi ke lantai atas di kamarnya, di saat yg sama, di rumah yang besar itu hanya ada dimas, andi dan wina. Pembantunya sedang pulang kampung, sedangkan bokap nyokapnya pergi ke luar negeri untuk bisnis…..
lalu si andi dan si dimas mulai menonton adegan yang “hot” tersebut, kebetulan adegan itu sedang memperkosa orang.Ternyata si andi dan dimas yg tadinya lugu itu, jadi terangsang.
setelah menonton film BF tersebut selama 2 jam, mereka berpikir, bagaimana rasanya memperkosa orang??
lalu dimas berkata
“mau nyoba kayak gitu ngga?”
“mau sih, penasaran sih”
“maunya ama siapa??”
“siapa yah??”
“bagaimana klo kakak loe ajah?”
“muke gile loe!!!”
“berarti ngga mau kan??”
“tapi mau ngga ya??”
“udah deh, ngga apa2 kok”
“hhmm………..tapi siapin tali dulu yah”
“ya udah, gw siapin, di garasi kan?”
“yup” tegas si andi
lalu dimas ke garasi rumahnya, dan mengambil tali itu.
mrk berdua ke kamar wina, ternyata si wina sedang tidur saat itu, mukanya benar2 manis saat itu, lalu dengan hati2 si andi mengikat kedua tangan kakaknya di belakang.
lalu mereka mulai mencontoh apa yang ada di adegan BF itu, di andi mulai mencium mulut kakaknya dengan ganas, langsung saja terhentak si wina “andi!!kamu lagi ngapain???!!!”, andi menjawab “mau mencoba yang ada di vcd kakak (dgn lugunya menjawab)”, “ja, jangan andi….kakak ngga mau”, “cuma sebentar doang kakak”
lalu mulailah si andi membuka kancing baju kakaknya, “andi!, jangannn,ahhh”
ternyata si dimas tidak tinggal diam, dia menurunkan celana mini wina “jangaaann………”lalu si dimas menjilat2 dengan mesranya dari ujung jari kaki sampai pangkalnya, waktu sampai ke CDnya, si dimas terdiam,sedangkan si andi membuka bra wina, dan keluarlah 2 buah daging kenyal itu “andiiiii, jangaaann…………..”lalu andi dengan cepat menganbil baby lotion dan menuangkan ke 2 buah dada wina yang sangat menonjol itu, lalu dengan nikmatnya andi memijat2 agak keras ke dada wina, “andiiiiii, jangannn……ahhhh” si wina benar2 seksi saat itu,lalu si andi menggerayangi badan wina dengan ganasnya, dan mengisap puting wina, menggigit, memutar2 dan menekan2 puting wina, wina pun tidak tahan “cukupppp andiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……ahhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhh”, ternyata si dimas pun melepas CD wina dan telah menjilat2 vagina wina, wina tidak berdaya saat itu, tangannya diikat, dan digerayangi oleh kedua anak kecil yg sangat ingin tahu….

wina hanya bisa berteriak dan berkaca2 matanya, dia tidak menyangka adiknya bisa melakukan hal segila ini, tiba2 si dimas mengisap2 klitoris wina yang dari tadi agak menegang, seperti sedotan, “aaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh, janggaaaaaaaaaaaaaan”
badannya benar2 seksi saat itu, dengan bermandikan keringat dan dadanya memakai baby lotion, lelaki yg melihat itu pasti akan menggila.
lalu dimas menjilat2 bibis vaginanya kembali, wina hanya bisa mendesah pasrah “aaaaahhhhhhhhhhhhh, sudaahh cuukuup……….ahhhhhh”
lalu dimas memasukkan kedua jarinya ke vagina wina dan mulai menggosok2an
ke langit2 vagina, dia merasakan sesuatu yang kasar, lalu mulai menggesek2an ke langit2 vagina itu, lalu wina mendesah “aaahhhhhhhhhhhhhhh, jannggaaaaan…………………”
lalu wina mulai merasakan sesuatu, badannya menegang, kakinya menutup vaginanya dengan keras, darahnya berdesir hebat, dan wina pun mulai mengeluarkan desahan panjang “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”
ternyata dia baru orgasme, wina hanya tergeletak lemas tak berdaya, ternyata cairan orgasme itu dihisap habis oleh dimas yang dari tadi sudah bermain2 di bagian bawah wina………
wina pun badannya melemas…dioa sepertinya sudah tidak tahan, lalu andi mendorong sedikit dimas ke belakang, dan mulai mengeluarkan batang kejantanan yang sudah menegang tadi (ternyata besar juga)
dan mulai memasukkan ke lubang vagina wina, wina pun kaget, dan langsung mendesah “aannddiiiii, jaannggaannn…..ahhhhhhh, kakak udahhh nggaa taahhannnaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh……..”
lalu andi memulai kocokannya seperti di VCD yg telah mrk tonton, andi pun terangsang, “ahh, ahh, ahh, kakak, ini enak banget, ahh, ahh, bagaimana klo ini tiap hari kakak?, andi sepertinya udah ketagihan, ahh, ahh, ahh, ahh”
lalu wina pun masih tergolek menangis apa yg dibuat adiknya, perasaannya bercampur aduk, enak, menyenangkan, tapi juga memalukan……..
andi pun mulai mempercepat kocokannya, sampai andi pun mendesahh, “ahh kakakkk, maaauuu kkeellluuaarrrrrrr” lalu blessss……..sperma andi pun di keluar di vagina kakaknya, wina pun merasakan ada yg hangat di vaginanya….
lalu sekarang bergantian, si dimas mulai menjulurkan kejantanannya, lalu mulai memasukkan dan mengocok, wina hanya bs menangis menahan malu
kali ini kocokan dimas lebih cepat dari si andi, lalu wina sempat orgasme selama 4 kali, sedangkan si andi memulai kembali permainan di dada wina, dan itupun berlangsung selama 4 jam………
setelah itu selesai, ternyata mrk ulangi itu selama 4 hari, sampai si wina pingsan pun tetap di perkosa……………….
skarang wina pun sudah kuliah dan masih diperkosa oleh adiknya sampai sekarang……….

TAMAT

Cerita Antara Kita 10:42 pm

Hai, perkenankan aku untuk sedikit bercerita tentang pengalamanku. Aku memiliki seorang anak laki-laki yang telah berusia 5 tahun dan duduk di bangku TK-B. Aku dan istriku sama-sama bekerja, sehingga anakku biasanya kutitipkan di rumah kakak iparku (kakak perempuan istriku) disaat kami berdua pergi bekerja. Kebetulan rumah kakak iparku dan rumah kami bersebelahan, dan kakak iparku tidak bekerja, sehingga urusan menitipkan anak bukanlah suatu masalah, apalagi keponakanku (anak dari kakak iparku tersebut) ada yang berumur sebaya dengan anakku.

Namun, belum lama berselang, kakak iparku pindah ke Sumatra karena suaminya ditugaskan di kota Medan. Sejak itulah masalah anak muncul menjadi persoalan yang memusingkan, sementara itu tidak ada lagi sanak saudaraku ataupun sanak saudara istriku yang tinggal di Jakarta selain kakak iparku yang pindah ke Sumatra (kebanyakan keluarga kami tinggal di Yogyakarta dan beberapa di Solo). Keadaan ini memaksa kami untuk membayar seorang babby sitter untuk menjaga anak kami disaat kami berada di kantor. Sebagaimana biasanya, mempekerjakan seorang babby sitter adalah persoalan yang sangat menjengkelkan, bayangkan saja dalam 2 bulan kami telah 5 kali mengganti babby sitter dengan berbagai macam sebab yang aku rasa tidak perlu kupaparkan disini.

Namun akhirnya ada juga seorang babby sitter yang dapat bertahan bekerja selama hampir tiga bulan, ini merupakan rekor pertama yang telah dicapai setelah sebelumnya tidak pernah ada babby sitter yang bertahan lebih dari 3 minggu. Atas dasar alasan itu juga, aku menyarankan kepada istriku untuk menaikkan gajinya sebagai kompensasi atas kerja serta tanggung jawabnya.

Babby sitter yang satu ini memang agak berbeda dari semua babby sitter terdahulu. Kelima babby sitter sebelumnya yang sempat bekerja di tempat kami, rata-rata berusia dibawah 30 puluh tahun, bahkan ada yang baru berusia 19 tahun, namun babby sitter yang terakhir ini adalah seorang janda berusia 48 tahun. Kami memanggilnya Bu Darsih, bertubuh besar untuk ukuran seorang wanita (tingginya kurang lebih 165 cm), agak gemuk sebagaimana umumnya wanita paruh baya. Pada awalnya kami agak ragu kalau Bu Darsih ini akan sanggup merawat Rio putra kami, mengingat Bu Darsih sudah berumur, sementara Rio sangat hiperaktif, sehingga merawat Rio akan lebih melelahkan dibandingkan merawat anak-anak lain pada umumnya. Ternyata perkiraan kami salah, dan cukup surprise, ternyata Bu Darsih dapat merawat Rio dengan baik. Bahkan ada kejadian yang lebih mengejutkan lagi, dan ini yang ingin kuceritakan pada kesempatan ini.

Kami memiliki acara rutin, yaitu berenang yang kami lakukan seminggu sekali setiap hari Sabtu sore. Aku dan istriku selalu mengajak Rio berenang di gelanggang renang Ancol, dan biasanya selalu ada dua atau tiga orang anak tetangga teman bermain Rio yang ikut berenang bersama kami. Babby sitter selalu kami ajak ikut serta untuk membantu mengawasi anak-anak, meskipun tidak ikut berenang.

Sebagaimana biasanya, pada hari Sabtu kami pergi gelanggang renang Ancol, namun kali ini istriku tidak dapat ikut. Istriku pulang ke Yogyakarta yang rutin dilakukannya enam bulan sekali untuk menjenguk keluarga di sana, terutama orangtuanya (mertuaku), sehingga pada acara berenang kali ini, yang ikut hanya aku, Rio beserta lima orang temannya serta tidak ketinggalan Bu Darsih. Karena istriku tidak ikut, sementara teman Rio yang ikut lebih banyak dari biasanya, yaitu sampai lima orang (biasanya paling banyak tiga orang), aku berfikir bahwa Bu Darsih perlu ikut turun ke air untuk membantu mengawasi anak-anak. Masalahnya keselamatan anak-anak tetangga juga merupakan tanggung jawabku.

Menurut keterangannya, Bu Darsih dapat berenang, tetapi dia tidak memiliki pakaian renang. Bagiku, yang penting Bu Darsih dapat berenang, karena soal pakaian renang adalah soal mudah, tinggal beli saja, beres.

Sesampainya di kolam renang, aku mampir sebentar di sebuah kios yang menjual perlengkapan renang untuk membelikan baju renang Bu Darsih. Untungnya ada nomor yang pas untuknya, karena baju renang ukuran besar tidak begitu banyak. Setelah itu seperti biasanya, aku selalu menyewa kamar bilas keluarga yang dapat disewa per tiga jam. Aku selalu menyewa kamar bilas keluarga, karena kupikir lebih praktis. Di kamar bilas itu kami sekeluarga dapat berkumpul dan tidak perlu terpisah seperti di kamar bilas umum yang dipisahkan antara kamar bilas untuk pria dan wanita. Disamping itu, di kamar bilas keluarga semua perlengkapan, pakaian, tas dan sebagainya dapat disimpan di kamar bilas tersebut, tinggal dikunci dan beres, tidak perlu repot-repot antri ke tempat penitipan pakaian yang melelahkan, ditambah resiko kehilangan barang-barang. Shower juga sudah tersedia di dalam kamar bilas, tidak perlu repot-repot keluar kamar, ada air panasnya lagi. Begitu praktis, sehingga mengawasi anak-anak pun jadi lebih mudah.

Rio dan teman-temannya begitu antusias, di kamar bilas mereka mengganti pakaian dengan tergesa-gesa. Dan setelah selesai, mereka semua langsung lari ke kolam tanpa tunggu-tunggu lagi. Setelah semua anak-anak keluar menuju kolam, aku segera melepas pakaianku. Setelah aku telanjang bulat, aku bergegas menuju shower, namun… astaga… aku baru sadar kalau ternyata ada Bu Darsih di kamar bilas itu. Kulihat Bu Darsih mesem-mesem (tersipu malu) sambil mencari-cari sesuatu dari tasnya. Aku pun pura-pura bersikap biasa, seolah-olah telanjang bulat di depan Bu Darsih merupakan hal yang lumrah bagiku, padahal itu kulakukan untuk mengusir rasa malu.

Dengan sok berlagak tenang, aku menyuruh Bu Darsih untuk segera ganti pakaian.
“Ayo.. Bu Darsih.. cepat ganti baju.. itu anak-anak nggak ada yang ngejagain..”
Semua ucapanku itu betul-betul hanya bertujuan untuk mengusir rasa malu karena sudah terlanjur telanjang, sementara itu kulihat Bu Darsih terus saja mesem-mesem, dan ini mengundang perasaan aneh pada diriku. Sebetulnya aku mengerti makna mesem-mesemnya Bu Darsih, aku yakin kalau mesem-mesem-nya berkaitan erat dengan keadaanku yang sedang telanjang ini.
“Forget it..!” kupikir sambil tetap telanjang bulat, akhirnya aku langsung menuju shower untuk membasahi tubuhku, hal yang biasa kulakukan sebelum berenang.

Saat berada di bawah kucuran shower, aku sempat memperhatikan Bu Darsih saat sedang menanggalkan seragam babby sitternya yang berwarna putih, dan masih saja sambil mesem-mesem. Mungkin dia pikir buat apa malu-malu telanjang dihadapan majikannya ini, toh majikannya saja tidak malu telanjang bulat dihadapannya, semua ini membuat perasaan mesum mulai menjalari tubuhku. Selanjut pemandangan di hadapanku menjadi semakin mendebarkan. Bu Darsih sambil terus mesem-mesem sendiri mulai menanggalkan pakaian dalamnya, jantungku berdebar keras, apalagi disaat dia melepaskan kait-kait BH-nya, serta meloloskan tali-tali BH tersebut dari lengannya.

Belum pernah terbayangkan dalam pikiranku melihat Bu Darsih dalam keadaan yang kulihat saat ini. Selama ini gairahku sama sekali tidak pernah terusik oleh wanita paruh baya itu yang bertubuh besar dan agak gembrot, serta mengenakan pakaian seragam putih. Namun pemandangan di hadapanku kali ini sungguh-sungguh berbeda. Payudara yang sungguh besar dan montok dengan puting payudara yang lebar berwarna coklat gelap, menggantung di dadanya, begitu menggetarkan kalbuku. Apalagi saat dia memelorotkan celana dalamnya, membuat rambut lebat di kedua pangkal pahanya yang montok begitu jelas terpandang, sungguh membuat darahku menjadi berdesir dengan derasnya. Jantungku semakin berdetak tidak beraturan, dan tubuhku gemetar menahan gairah yang kali ini terusik oleh pemandangan yang sungguh benar-benar lain dari biasanya, serta tidak pernah terbayangkan sebelumnya olehku.

Disaat Bu Darsih hendak mengenakan pakaian renangnya, secara refleks aku langsung berkata kepadanya, “Ayoh… Bu Darsih.., mandi dulu… supaya nggak keram di kolam.”
Sebetulnya, ucapanku hanyalah akal bulusku yang semata-mata hanya agar aku dapat menikmati pemandangan tubuh bugil Bu Darsih lebih lama lagi. Namun ternyata, ‘Pucuk dicinta ulam tiba’, Bu Darsih batal mengenakan pakaian renangnya, dan melemparnya ke atas jok empuk berkulit plastik yang ada di kamar bilas itu. Lantas sambil terus mesem-mesem dan masih telanjang bulat, Bu Darsih melangkah menuju shower. Aku sedikit menggeser posisi berdiriku di bawah shower untuk memberi tempat bagi Bu Darsih.

Tubuh telanjangnya yang begitu montok dan besar, bergidik kedinginan saat air yang memancar dari shower menerpa tubuhnya. Bu Darsih mengusap-usap wajahnya yang terguyur air shower. Birahi yang sudah menguasai diriku membuatku nekat menjamah payudaranya yang sangat besar itu.., sungguh aku sangat gemetaran, takut kalau-kalau Bu Darsih menolak untuk disentuh. Tetapi ternyata Bu Darsih hanya diam saja saat aku mengusap-usap payudaranya. Hal ini membuatku nekat untuk berlanjut menjamah kemaluannya. Disaat jemariku menyentuh kemaluannya yang berambut lebat itu, dalam waktu yang hampir bersamaan tangan Bu Darsih juga menjamah batang penisku yang tengah tegang. Dia terus-terusan mengusap dan mengelus batang penisku.

Kupandangi wajah Bu Darsih, matanya menatap nakal dengan senyuman bandel di bibirnya. Wanita paruh baya itu ternyata begitu menggairahkan. Tanpa kuminta, Bu Darsih kemudian berjongkok di hadapanku, dia segera mengulum dan menjilati batang penisku sampai menimbulkan bunyi yang begitu khas. Keahliannya menyedot dan mengulum batang penisku begitu luar biasa, membuatku tidak dapat menahan diri lagi. Kutarik tangannya mengajak berdiri, lalu menggiringnya menuju jok berkulit plastik di kamar bilas itu. Kubimbing agar Bu Darsih duduk di jok empuk itu, dan tanpa kuminta, Bu Darsih pun langsung membengkangkan kedua kakinya, sehingga kemaluannya yang besar menantang di hadapanku. Tanpa buang-buang waktu, aku langsung menyibakkan rambut lebat yang menutupi vaginanya, sehingga kudapati bibir-bibir vagina yang tebal berwarna hitam kecoklatan. Lendir putih mengalir dari bibir-bibir vagina yang mulai merekah itu yang merupakan pertanda birahi luar biasa yang telah menghinggapi dirinya.

Saat bibir-bibir vagina itu ku renggangkan, muncul klitoris sebesar kacang tanah seperti menuntut untuk dijilati. Belum pernah kulihat klitoris sebesar itu, juga bibir-bibir vagina yang begitu tebal, mungkin karena badannya besar membuat klitoris-nya juga jadi besar sesuai dengan ukuran badannya yang juga besar dan gemuk. Kujilati klitoris itu dengan buas, membuat Bu Darsih mendesah keras, tubuhnya menjadi kejang dan gemetar menahan kenikmatan itu, pinggulnya terangkat menyambut jilatan lidahku pada vagina dan klitoris-nya. Vaginanya menjadi semakin menganga lebar, membuat dinding vaginanya yang merah menjadi jelas terlihat seperti menyampaikan kesiapannya untuk menerima coblosan batang penisku.
Akhirnya, “Bleesss..!” kubenamkan batang penisku ke lubang vaginanya.
Terasa begitu sempit dan menggigit, mungkin akibat Bu Darsih yang telah hampir 20 tahun menjanda, membuat otot-otot vaginanya kembali menguat.

Tubuh kami berguncang-guncang dahsyat di atas jok itu saling menekan, sementara batang penisku keluar masuk lubang vaginanya menggesek dan menggaruk dinding-dinding vagina yang sudah begitu gatal selama ini. Kujejalkan penisku lebih dalam lagi, Bu Darsih pun menyambut dengan mendorong pinggulnya supaya penisku masuk ke tempat yang paling dalam. Sementara itu jempol serta telunjukku memilin-milin klitoris-nya, membuat Bu Darsih mengalami kenikmatan yang sangat dahsyat, sampai-sampai matanya mendelik, sementara desahan dan erangan keras silih berganti mengiringi orgasme yang dirasakannya.

Spermaku menyembur deras di dalam lubang vagina Bu Darsih dan membanjiri rahimnya. Tubuhku menggeletak lemas di atas tubuhnya dengan batang penis yang masih terbenam di lubang vaginanya untuk beberapa waktu. Saat kucabut batang penisku, Bu Darsih kembali merenggut batang penisku dan memerasnya dengan begitu bernafsu, sehingga sisa-sisa sperma yang telah bercampur lendir vaginanya meleleh keluar dan langsung ditampung dengan lidahnya.

Setelah kejadian yang mengejutkan dan menegangkan itu, kami melanjutkan acara berenang, sementara hubunganku dengan Bu Darsih berjalan seperti biasa. Bu Darsih tetap bersikap sebagaimana aku adalah majikannya. Hanya disaat istriku meleng, kami pun langsung bergelut setubuh di atas ranjang tanpa malu-malu dan tanpa basa-basi. Namun selain di ranjang, sikapnya terhadap diriku begitu wajar seperti sediakala, bahkan meskipun istriku sedang tidak di rumah, sikapnya tetap saja begitu wajar. Sama sekali tidak tercermin di wajahnya maupun di sikapnya kalau wanita paruh baya itu sebetulnya bandel dan sering bergelut senggama dengan diriku. Wajah liar penuh birahi, mata binal, senyum nakal dan kebuasannya hanya muncul saat berada di atas ranjang. Setelah semuanya selesai, dan kenikmatan telah direguk, sikapnya kembali wajar seperti sediakala.

TAMAT

Cerita Antara Kita 10:24 pm

“Bung, sekarang giliran kamu. Hayoh! Jangan sungkan-sungkan!”
Saat aku menatap tubuh telanjang di atas tempat tidur itu, terus terang rasa tidak tegaku muncul. Gadis itu masih terlalu kecil, kataku dalam hati. Payudaranya saja belum tumbuh benar. Tapi lendir-lendir basah keputihan yang mengalir dari liang kemaluannya itu berkata lain.

“Tunggu apa lagi? Hayoh! Kalau tidak mau ya, jangan di sini!”
Gadis kecil itu membuka sedikit kelopak matanya. Aku terenyuh saat menyaksikan matanya seolah memohon agar penderitaannya segera diakhiri. Ia harus pulang, kata matanya, ia harus menyetor lembar puluhan ribu itu pada ibunya. Ia harus membayar untuk keperluan sekolahnya. Tapi ia masih terlalu kecil, lagi kata hatiku berseru. Kamu punya otak? Punya hati nurani? Otak mungkin sudah terbang, saat aku mendekati gadis kecil itu. Tapi nurani masih ada Bung, karena itu aku menutup mata.

“Hkk…” gadis kecil itu mengerang saat batang kemaluanku menusuk masuk.
Licin, gumamku dalam hati. Beberapa orang tertawa di belakangku.
“Begitu baru bagus. Hayoh..! Sikat dia! Tancap terus sampai mampus!”
Aku menggerakkan pinggulku tanpa perasaan. Tidak sekali pun kubuka mata ini. Sebab kalau kubuka dan aku melihat wajahnya yang meringis itu, aku pasti akan segera melarikan diri.
“Hayoh..! Hahaha..! Hayoh..!”

Laki-laki yang suka berseru “Hayoh!” itu bernama Jomblang. Jelas-jelas itu nama panggilan. Nama aslinya aku tidak tahu, karena aku baru mengenalnya malam itu, saat aku dan teman-temanku bersenda gurau di sebuah warung kopi. Sayang, saat Erwin menyapanya, aku tidak melihat gadis kecil itu berdiri di belakangnya. Lihatlah sekarang, apa yang sedang kulakukan. Aku sedang bersetubuh dengan seorang bocah ingusan yang kukira usianya terpaut dua puluh tahun denganku.

“AKK..! AKK..!” begitu aku mendengarnya memekik-mekik.
Suara tawa sahabat-sahabatku, beserta teriakan-teriakan penambah semangat mereka masih juga dapat kudengar.
“Hayoh..! Sikat, Bleh..!” juga suara si Jomblang yang parau itu.
Aku heran, kenapa juga tadi aku mau diajak ke rumah ini. Kenapa juga tadi aku mau disuruh masuk ke dalam kamar untuk menyaksikan semuanya. Dan kenapa aku mau pula saat disuruh ‘melakukan’?

“Ampun, Oom..! Ampun..!” tiba-tiba aku mendengar si gadis kecil merengek.
Tidak tahan, kubuka mataku. Benar juga. Hatiku pilu seketika. Ternyata gadis kecil itu sedang menangis sesunggukan. Beban lima lelaki pasti terlalu berat untuknya.
“Lihat! Dia minta ampun! Hahaha..!” suara si Jomblang terdengar lagi, tawanya semakin keras.
Aku berhenti menggerakkan pantatku. Ya. Aku berhenti. Kupandangi gadis itu yang sudah diam dalam-dalam. Kelopak matanya yang tadi terpejam juga membuka. Dan ia menatapku di balik genangan air matanya.
“Oom…”

“Hayoh..! Kenapa berhenti?”
“Sudah, Blang, sudah. Kasihan itu anak kecil.”
Saat aku menoleh, kulihat salah seorang temanku memegangi pundak si Jomblang. Tetapi orang berwajah liar itu langsung menepis.
“Edan! Masa cuma segitu? Hayoh! Terus lagi..!”
Aku kembali berpaling ke arah si gadis kecil. Hatiku merasa iba. Gadis kecil itu memejamkan matanya. Ia begitu pasrah.

Sorakan si Jomblang kembali terdengar saat aku bergerak lagi, “Hayoh..! Hayoh..! Hayoh..!”
Hayoh kepalamu, pikirku berang. Tapi aku bergerak juga. Akhirnya, aku tidak tahan lagi. Kutarik batang kemaluanku dan ejakulasi di atas bulu kemaluannya yang jarang-jarang itu. Sorakan-sorakan menghilang, juga hayoh-hayoh. Semua seolah meresapi kejadian itu. Bangsat..! Batinku dalam hati. Bukan pada si hayoh-hayoh itu. Tapi pada diriku sendiri.

“Bagus, Bung. Anda luar biasa..!” si Jomblang menepuk pundakku dari belakang.
Saat kubalikkan tubuh, teman-temanku berkerenyit dengan menggeleng. Erwin tampak menyiratkan rasa penyesalan itu di bibirnya yang tergigit. Selebihnya, hanya si hayoh-hayoh yang terkekeh-kekeh. Mengapa orang-orang ini begitu takut pada si liar itu, tanyaku dalam hati. Hatiku terasa kecut saat menyadari bahwa aku juga takut.

“Blang, kami pulang dulu.” akhirnya Erwin membuat semua orang selain si hayoh, bernafas lega.
Tanpa memperhatikan, Jomblang mengayunkan lengan.
“Hahaha. Oke, oke. Terima kasih dan hati-hati di jalan.”
Aku berharap dia mati ditabrak bus nyasar saat ia keluar wisma nanti. Bodoh, itu tidak akan terjadi. Sementara di depan mataku, yang terjadi saat itu si Jomblang sudah menindih tubuh gadis kecil itu dan menciuminya dari jidat ke payudara. Monyet, umpatku sekali lagi sebelum meninggalkan tempat itu.

Selama perjalanan pulang, tidak ada seorang pun dari kami berempat yang mengeluarkan suara. Semuanya sibuk dengan ingatan akan dosa masing-masing. Oke, kami tadi baru saja menggauli beramai-ramai seorang gadis di bawah umur. Menggelikan mengingat perut-perut buncit kami yang seharusnya kenyang berisi pengalaman tentang getir hidup. Seorang bocah dan lima lelaki? Sinting! Tapi itulah yang teradi belasan menit yang lalu.

“Hati-hati, Ton.”
“Iya, kalian juga,” balasku dengan memaksa diri untuk tersenyum.
Panther kelabu itu segera melaju dari hadapanku. Saat kubalikkan tubuh, yang kutatap pertama kali adalah rasa menyesal.

Rumah benar-benar sepi saat aku masuk. Lampu ruang tamu dan ruang tengah juga sudah dimatikan. Jam di atas TV menunjukkan pukul setengah dua pagi. Berusaha tidak menimbulkan kegaduhan, aku melepas sepatu kerja yang kukenakan, lalu menuju ke kamar tidur.

“Pa..?” wanita itu, isteriku, membalikkan tubuh saat aku menutup pintu.
“Belum tidur, Ma..?” tanyaku sambil tersenyum. Ia menggelengkan kepala.
“Dari mana..?”
Dari memperkosa seorang bocah, kata hatiku.
“Dari jalan-jalan. Dengan yang lainnya,” jawabku seraya melepas kemeja dan celana.
“Minum..?” kudengar wanita itu bertanya lagi.
“Tidak, hanya kopi.” kataku.

Kuraih sebuah kaos dan celana pendek.
“Sini..!” bisiknya setelah aku berpakaian.
Saat aku tiba di pinggir tempat tidur, ia merentangkan kedua tangannya.
“Aku mau memelukmu. Pelukan selamat datang.” bisiknya seraya tersenyum.
Kubalas senyumannya, lalu menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur, ke dalam pelukannya.

“Capek?” ia bertanya.
Tangannya memijat dada dan pangkal lengan kiriku. Aku mengangguk. Capeknya bukan di otot, Ma. Tapi di hati.
“Mau aku.. mmm..?”
Kupegang tangannya saat ia mulai mengelus bagian bawah pusarku.
“Aku mau keluar sebentar.” ucapku, mencoba untuk tersenyum.
Wanita itu mengangguk.

Aku bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah keluar kamar. Bingung. Apa yang harus kulakukan? Kulangkahkan kakiku menuju dapur, membuka kulkas, dan mengeluarkan botol jus melon yang isinya masih tersisa sepertiga. Jus melon itu membuat tenggorokanku yang kering menjadi lebih segar. Begitu pula otakku. Mungkin kalau ada jus melon penghilang rasa bersalah, akan sangat berguna saat itu. Tanpa sadar, kesegaran itu membawa kakiku melangkah melintasi lorong rumah. Saat kubuka pintu kamar berwarna merah jambu itu, aku tersenyum. Kamar itu terasa hangat sekali.

Aku tidak berani menyalakan lampu. Takut kalau bidadari kecil itu terbangun nantinya. Jadi kubiasakan pandanganku dalam gelap, sebelum melangkah lebih dekat, sampai ke pinggir tempat tidur. Angin dari AC ini dingin sekali, pikirku dalam hati. Aku membalikkan tubuhku dan menuju AC yang mendengung di belakangku. Aku sedikit heran saat melihat tombol sudah menunjuk ke LOW. Belum ada kontrol temperatur seperti AC di kamarku sendiri. AC tua ini masih bagus, selalu begitu kataku pada isteriku.

Masih merasa dingin dan bingung, aku mengangkat bahu dan melangkah mendekati tempat tidur. Senyumku mengembang saat melihatnya. Bidadari kecilku, bisikku dalam hati. Masih tersenyum, kuangkat selimut yang menutup sampai ke pundaknya. Dan bidadari kecilku menggeliat, menyadari kehadiran bapaknya.

Aku meloncat mundur dan memegangi tembok. Wajah gadis itu..! Gadis itu..! Gadis itu menyeringai ke arahku. Matanya membeliak mengerikan. Bola mata seolah hendak melompat dari situ. Ia menyeringai menampakkan deretan giginya yang kuning. Lalu matanya memutih dan seringainya hilang, berganti dengan mulut yang setengah membuka.
“AKK..! AKK..!” desahan itu menggema di kepalaku.
“Tidak..!” aku berbisik dan menutup telingaku. Kupejamkan mata.

Saat aku membuka mata, hanya dengung AC dan keremangan yang menyambutku. Keringat dingin mengucur di dahiku. Bulu tengkuk yang sedetik lalu berdiri sudah kembali lemas. Tapi jantungku masih berdegup kencang. Kuberanikan diri untuk kembali mendekat. Kuhembuskan napas lega saat melihat bidadari kecilku di sana. Masih tetap cantik dan molek, mirip ibunya. Tersenyum lega, kubetulkan tepian selimut yang menutupi tubuhnya. Saat itu mendadak hawa dingin kurasakan lagi. Kali ini lebih dingin. Berkerenyit ngeri, aku membalikkan tubuh menuju pintu keluar. Mirip kucing kena air, aku menutup pintu dan cepat-cepat kembali ke kamarku sendiri.

Isteriku menyambutku dengan wajah heran.
“Dari mana saja, Pa? Tadi aku mendengar suara. Papa baik-baik saja?”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku hanya memandang ke arahnya dengan pandangan kosong. Saat aku berhasil menguasai ketakutanku. Sedih muncul. Rasa bersalah muncul.

“Aku akan menjadi Papa yang baik,” begitu aku berkata padanya saat bidadari itu lahir ke dunia.
Aku masih mengingatnya dengan baik sekali. Dan waktu itu ia berkata, “Aku percaya padamu, Pa.”
Semuanya terasa menjadi sebuah kebohongan besar sekarang. Jadi bohong setelah bertahun-tahun tampak nyata.

Aku tidak sadar bagaimana ia mendadak ada di hadapanku. Isteriku mengangkat tangan dan menempelkan punggung telapaknya di keningku.
“Kamu berkeringat. Kamu sakit?” ucapnya dengan nada khawatir.
Kugelengkan kepala. “Tidak, aku tidak apa-apa.”
Lagi-lagi sebuah dusta. Entah berapa banyak lagi yang akan mengalir dari mulutku. Aku tidak tahu.

Isteriku lalu mencium bibirku. Aku merinding saat kusadari apa yang ia mau dariku saat itu. Tapi tubuhku tidak kuasa menahan gejolak yang ditimbulkannya. Dari gesekan-gesekan buah dadanya. Dari caranya memeluk dan mempermainkan cuping telingaku.

Tidak berapa lama kemudian, kami sudah bergulat tanpa busana di ranjang. Menggeluti satu dengan lainnya seperti ular, dengan tangan dan kaki. Bibir saling berpagutan. Tangannya bergerak aktif membelai bagian-bagian tubuhku. Aku pun tidak kalah sengit. Semakin bernafsu memainkan jemariku di dalam liang kewanitaannya. Masih berpagutan, ia tersenyum. Matanya yang semula mengatup menatapku mesra.

Sedetik setelah aku tersenyum, isteriku mendorong pundakku lalu mengangkangi tubuhku. Tidak tahan dengan sensasi yang muncul kala batang kemaluanku didudukinya, aku mengerang dan membusurkan punggungku. Isteriku bergerak-gerak maju mundur di atasku.
“Ahh.. ahh..!” erangannya dan eranganku menyatu.
“Ahh.. ah.. AKK..! AKK..!”

Aku membuka mata, membelalak ngeri.
GADIS ITU..! GADIS ITU..! IA DI ATASKU SEKARANG..! Ia menyeringai. Menyeringai jahat. Matanya membeliak, bolanya hendak melompat keluar. Kemudian matanya memutih, dan bibirnya setengah membuka. Hawa terasa dingin sekali seketika.
“AKK..! AKK..!”

“Aaarrggghhh..!” aku berteriak sekuat tenaga.
Aku mendorong lenganku dan melontarkan tubuh itu dari atasku. Kuayunkan lenganku ke depan.
“Pergi..! Pergi..!” teriakku seraya menutup mata.
Suara benda jatuh dan erang kesakitan membuatku tersadar. Saat kubuka mataku, kulihat isteriku mengaduh di lantai.

“Ma..?” panggilku terkejut.
Isteriku masih mengelus-elus pinggulnya saat ia menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.
“Pa..? Kenapa sih..? Ada apa..?”
Aku menutup wajahku dan tidak tahu harus berkata apa. Kurasakan tempat tidur bergerak saat isteriku naik. Tangannya menyisiri rambutku.
“Ada apa, Pa..? Ada masalah apa..?”
Aku tidak dapat menceritakannya. Aku tidak mau menghancurkan segalanya. Aku takut. Aku seorang bapak rumah tangga yang baik. Seperti yang pernah kuucapkan dulu.

“Aku hanya lelah. Itu saja.” aku berkata, seraya menurunkan tangan dan tersenyum.
Isteriku membalas senyumanku. Ia menarik kepalaku dan menyandarkannya di dadanya.
“Maaf, Pa. Aku tak tahu. Tidur saja ya?”
Aku mengangguk. Aku memang lelah sekali. Lelah di fisik dan otakku. Kemudian aku tertidur sepuluh menit kemudian.

Di kantor, keesokan harinya, semua tampak kusut. Semua tampak memikirkan kejadian kemarin. Semua merasakan hal yang sama. Rasa bersalah di dalam hati. Terutama Erwin, yang menjadi pemicu awal. Semuanya merasakan yang sama. Dihantui. Bukan hanya aku ternyata, semuanya menatap ke arah meja. Semuanya membaca lagi huruf demi huruf itu. Semuanya memandang ke arah gambar yang sama. Gadis itu, siapa lagi.

SEORANG GADIS DI BAWAH UMUR MENJADI KORBAN PERKOSAAN DAN PEMBUNUHAN.

Saat itu semuanya sadar. Rasa bersalah itu akan tetap ada. Rasa bersalah dan kengerian. Rasa menyesal saat kami sadar bahwa kami semua punya waktu untuk menghentikan segalanya. Waktu yang lenyap karena kebutaan, karena takut yang menopengi birahi setan dan iblis. Gadis itu pasti menyalahkan kami. Arwahnya pasti. Karena kami ikut menidurinya. Ikut meniduri calon bangkai itu. Bocah yang itu. Gadis yang itu.

Dalam hatiku bertanya-tanya. Pertanyaan serupa yang kukira mereka ajukan pula di benak mereka.
“Aku tidur dengan siapa malam nanti… apakah ia akan muncul lagi… apakah aku bisa tenang malam ini… lalu.. lalu… dan lalu..?”

TAMAT

Cerita Antara Kita 6:08 pm

Perjalanan pulang ke Solo kali ini awalnya biasa saja. Memang sudah menjadi kebiasaan ku untuk pulang ke Solo kota kelahiran , sekedar untuk buang pusing aja, tercatat minimal sebulan sekali selalu aku melakukan ritual ini.
Senja Utama Solo menjadi pilihan, selain untuk ngirit uang dibandingkan dengan pesawat, kereta ini juga membawa kenangan, masih kutemukan teman teman seperjuangan di antara gerbong gerbong lusuh penuh pengabdian.
Dari dulu sejak jadi gelandang gak punya uang, sampai sekarang sudah lumayan punya kendaraan, pilihan hati tetap tak berubah.

Ada suasana berbeda di emplasement setasiun jatinegara malam itu, yah , agak padat dibanding dengan kepulanganku sebelumnya, ada apa kah gerangan.
22 September 2006 jumat sore, aaaahhhh mungkin orang orang ini juga kepengen memulai Ramadhan di kampung benakku.

Benar dugaan, Senja Utama Solo terlihat penuh, ada beberapa yang tidak mendapat kursi, dan selonjoran di gang antara bangku, termasuk sesosok wanita yang ibunya duduk tepat di sebelahku ..
” Lho mbak, kok ndak pake tempat duduk” tanyaku
” Iya mas , soalnya tadi dadakan , kalau ibu sudah pesen duluan ” jawabnya
” oooo , ya sudah nanti diatur kalau sudah jalan ” ajakanku menuruti hati ku yang memang baik hati ini

Jalanlah kereta kesayangan dengan mulai malam telah tiba, dan para penumpang yang berbenah menggelar gelaran bagi yang akan selonjoran di bawah. Dan disinilah mulai.
” wah mas, aku ndak bawa koran e ” kata Leni, demikian dia mengenalkan diri.
” ya ndak apa apa, pake punya saya aja, bawa banyak kok ” ulur tanganku mengenai kebiasaanku

Singkat kata, sang ibu duduk selonjor di atas, dan Leni duduk selonjoran di bawah, disampingku.
Saling bercerita tentang kegiatan dia yang baru dua bulan kerja di Jakarta, dan apa yang menjadi kegiatannya, akhirnya, rasa kantuk mulai menuai, sementara sang ibu sudah terlelap,
Lampu kereta yang temaram sangat syahdu kala itu, melenakan kami berdua
” mas Leni ngantuk nih, gimana dong caranya bobok, sempit gini ” rajuknya
” hahaha wah aku sih sudah sering spt ini, sekarang caranya kita harus miring , biar cukup tempatnya ” hiburku

Dengan alasan masih ngobrol maka kita miring berhadapan, kebayang kan betapa dekatnya, dan entah magnet apa yang membuat segala nya terjadi, kita berbicara lebih dekat saling mendekat sampai bibir kami bersentuhan dan dilanjutkan dengan ciuman ciuman ringan , aaaaah segarnya lidahnya.

kondisi lampu yang benar benar padam, ditambah tertutupnya aktifitas kami dengan selimut yang aku sewa membuat kami berciuman semangkin dalam, tangaku sudah menanggalkan kancing baju depannya dan memuntir punting susu kecilnya aaahhh tangannya sudah menggapai penisku dengan gelora dan kedutan hasrat….

Gapai tangan kami melorotkan sedikit celana kami, termasuk celana dalam
dan trimakasih pada lampu yang barbaik hati mati di saat itu, dan terjadilah sebuah hubungan intim biarpun dengan posisi miring dan minim goyangan untuk menhindarkan kecurigaan sekeliling kami,
hanya kedutan lubang dan batang penis yang menjadi permainan ini

” aaaahhh maaasss ” rintih Leni sambil mengecup ringan bibirku,
” Len, sudah ya , disambung lain waktu mau gak ” tanyaku
” janji ya mas, kalau dah sampai di jakarta lagi, mas telpon aku yah ”
” iya … ”

tobe continued, baru mau full eksekusi nih
overal
breat 34B atau mungkin A, i dont mind tocil hehehe
height 160/50 mmm ya gitu deh
pantat bunder hehehe
vagina tanpa cukur, alami
GFE bgt …

Cerita Antara Kita 3:20 pm

Pada suatu liburan sekolah yang panjang, kami dari sebuah SLTA mengadakan pendakian gunung di Jawa Timur. Rombongan terdiri dari 5 laki-laki dan 5 wanita. Diantara rombongan itu satu guru wanita ( guru biologi) dan satu guru pria ( guru olah raga ). Acara liburan ini sebenarnya amat tidak didukung oleh cuaca. Soalnya, acara kami itu diadakan pada awal musim hujan. Tapi kami tidak sedikitpun gentar menghadapi ancaman cuaca itu. Ada yang sedikit mengganjal hati saya, yakni Ibu Guru Anisa ( saya memanggilnya Anisa ) yang terkenal galak dan judes itu dan anti cowok ! denger-denger dia itu lesbi. Ada yang bilang dia patah hati dari pacarnya dan kini sok anti cowok. Bu Anis usianya belum 30 tahun, sarjana, cantik, tinggi, kulit kuning langsat, full press body. Sedangkan teman - teman cewek lainnya terdiri dari cewek-cewek bawel tapi cantik-cantik dan periang, cowoknya, terus terang saja, semuanya bandit asmara ! termasuk pak Martin guru olah raga kami itu.

Perjalanan menuju puncak gunung, mulai dari kumpul di sekolah hingga tiba di kaki gunung di pos penjagaan I kami lalui dengan riang gembira dan mulus-mulus saja. Seperti biasanya rombongan berangkat menuju ke sasaran melalui jalan setapak. Sampai tengah hari, kami mulai memasuki kawasan yang berhutan lebat dengan satwa liarnya, yang sebagian besar terdiri dari monyet-monyet liar dan galak. Menjelang sore, setelah rombongan istirahat sebentar untuk makan dan minum, kami berangkat lagi. Kata pak Martin sebentar lagi sampai ke tujuan. Saking lelahnya, rombongan mulai berkelompok dua-dua. Kebetulan aku berjalan paling belakang menemani si bawel Anisa dan disuruh membawa bawaannya lagi, berat juga sih, sebel pula! Sebentar-sebentar minta istirahat, bahkan sampai 10 menit, lima belas menit, dan dia benar-benar kecapean dan betisnya yang putih itu mulai membengkak.

Kami berangkat lagi, tapi celaka, rombongan di depan tidak nampak lagi, nah lo ?! Kami kebingungan sekali, bahkan berteriak memanggil-manggil mereka yang berjalan duluan. Tak ada sahutan sedikitpun, yang terdengar hanya raungan monyet-monyet liar, suara burung, bahkan sesekali auman harimau. Anisa sangat ketakutan dengan auman harimau itu. Akhirnya kami terus berjalan menuruti naluri saja. Rasa-rasanya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang.

Sial bagi kami, kabut dengan tiba-tiba turun, udara dingin dan lembab, hari mulai gelap, hujan turun rintik-rintik. Anisa minta istirahat dan berteduh di sebuah pohon sangat besar. Hingga hari gelap kami tersasar dan belum bertemu dengan rombongan di depan. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di sebuah tepian batu cadas yang sedikit seperti goa.

Hujan semakin lebat dan kabut tebal sekali, udara menyengat ketulang sumsum dinginnya. Bajuku basah kuyup, demikian juga baju Anisa. Dia menggigil kedinginan. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan angin kencang yang dingin. Kami tersesat di tengah hutan lebat.

Tanpa sadar Anisa saking kedinginan dia memeluk aku. “Maaf” katanya. Aku diam saja, bahkan dia minta aku memeluknya erat-erat agar hangat tubuhnya. Pelukan kami semakin erat, seiring dengan kencangnya deras hujan yang dingin. Jika aku tak salah, hampir tiga jam lamanya hujan turun, dan hampir tiga jam kami berpelukan menahan dingin.

Setelah hujan reda, kami membuka ransel masing-masing. Tujuan utamanya adalah mencari pakaian tebal, sebab jaket kami sudah basah kuyup. Seluruh pakaian bawaan Anisa basah kuyup, aku hanya punya satu jaket parasut di ransel. Anisa minta aku meminjamkan jakaetku. Aku setuju. Tapi apa yag terjadi ? wow…Anisa dalam suasana dingin itu membuka seluruh pakaiannya guna diganti dengan yang agak kering. Mulai dari jaket, T. Shirt nya, BH nya, wah aku melihat seluruh tubuh Anisa. Dia cuek saja, payudaranya nampak samar-samar dalam gelap itu. Tiba-tiba dia memelukku lagi.
“Dingin banget” katanya. “Terang dingin , habis kamu bugil begini” jawabku.
“Habis bagaimana? basah semua, tolong pakein aku jeketmu dong ?” pinta Anisa.
Aku memakaikan jaket parasut itu ketubuh Anisa. Tanganku bersentuhan dengan payudaranya, dan aku berguman
” Maaf Nisa ?”
“Enggak apa-apa ?!”: sahutnya.
Hatiku jadi enggak karuan, udara yang aku rasakan dingin mendadak jadi hangat, entah apa penyebabnya. Anisa merangkulku, “Dingin” katanya, aku peluk saja dia erat-erat. ” Hangat bu ?” tanyaku ” iya, hangat sekali, yang kenceng dong meluknya ” pintanya. Otomatis aku peluk erat-erat dan semakin erat.

Aneh bin ajaib, Anisa tampak sudah berkurang merasakan kedinginan malam itu, seperti aku juga. Dia meraba bibirku, aku reflex mencium bibir Anisa. Lalu aku menghindar. “Kenapa?” tanya Anisa
” Maaf Nisa ? ” Jawabku.
” Tidak apa-apa Rangga, kita dalam suasana seperti ini saling membutuhkan, dengan begini kita saling bernafsu, dengan nafsu itu membangkitkan panas dalam darah kita, dan bisa mengurangi rasa dingin yang menyengat.
Kembali kami berpelukan, berciuman, hingga tanpa sadar aku memegang payudaranya Anisa yang montok itu, dia diam saja, bahkan seperti meningkat nafsu birahinya. Tangannya secara reflek merogoh celanaku kedalam hingga masuk dan memegang penisku. Kami masih berciuman, tangan Anisa melakukan gerakan seperti mengocok-ngocok ‘Mr. Penny’ku. Tanganku mulai merogoh ‘Ms. Veggy’nya Anisa, astaga ! dia rupanya sudah melepas celana dalamnya sedari tadi. Karena remang-remang aku sampai tak melihatnya. ‘Ms. Veggy’nya hangat sekali bagian dalamnya, bulunya lebat.

Anisa sepontan melepas seluruh pakaiannya, dan meminta aku melepas pula . Aku tanpa basa basi lagi langsung bugil. Kami bergumul diatas semak-semak, kami melakukan hubungan badan ditengah gelap gulita itu. Kami saling ganti posisi, Anisa meminta aku dibawah, dia diatas. Astaga, goyangnya!! Pengalaman banget dia ? kan belum kimpoi ?
” Kamu kuat ya?” bisiknya mesra.
” Lumayan sayang ?!” sahutku setengah berbisik.
” Biasa main dimana ?” tanyanya
“Ada apa sayang?” tanyaku kembali.
” Akh enggak” jawabnya sambil melepas ‘Ms. Veggy’nya dari ‘Mr. Penny’ku, dan dengan cekatan dia mengisap dan menjilati ‘Mr. Penny’ku tanpa rasa jijik sedikitpun. Anisa meminta agar aku mengisap payudaranya, lalu menekan kepalaku dan menuntunnya ke arah ‘Ms. Veggy’nya. Aku jilati ‘Ms. Veggy’ itu tanpa rasa jijik pula. Tiba-tiba saja dia minta senggama lagi, lagi dan lagi, hingga aku ejakulasi.

Aku sempat bertanya, “Bagaimana jika kamu hamil ?”
” Don’t worry !” katanya. Dan setelah dia memebersihkan ‘Ms. Veggy’nya dari spermaku, dia merangkul aku lagi. Malam semakin larut, hujan sudah reda, bintang-bintang di langit mulai bersinar. Pada jam 12 tengah malam, bulan nampak bersinar terang benderang. Paras Anisa tampak anggun dan cantik sekali. Kami ngobrol ngalor-ngidul, soal kondom, soal sekolah, soal nasib guru, dsb. Setelah ngobrol sekian jam, tepat pukul 3 malam, Anisa minta bersetubuh denganku lagi, katanya nikmat sekali ‘Mr. Penny’ku. Aku semakin bingung, dari mana dia tahu macam-macam rasa ‘Mr. Penny’, dia kan belum nikah ? tidak punya pacar ? kata orang dia lesbi.

Aku menuruti permintaan Anisa. Dia menggagahi aku, lalu meminta aku melakukan pemanasan sex (foreplay). Mainan Anisa bukan main hebatnya, segala gaya dia lakukan. Kami tak peduli lagi dengan dinginnya malam, gatalnya semak-semak. Kami bergumul dan bergumul lagi. Anisa meraih tanganku dan menempelkan ke payudaranya. Dia minta agar aku meremas-remas payudaranya, lalu memainkan lubang ‘Ms. Veggy’nya dengan jariku, menjilati sekujur bagian dagu. Tak kalah pula dia mengocok-ngocok ‘Mr. Penny’ku yang sudah sangat tegang itu, lalu dijilatinya, dan dimasukkannya kelubang vaginanya, dan kami saling goyang menggoyang dan hingga kami saling mencapai klimaks kenikmatan, dan terkulai lemas.

Anisa minta agar aku tak usah lagi menyusul kelompok yang terpisah. Esoknya kami memutuskan untuk berkemah sendiri dan mencari lokasi yang tak akan mungkin dijangkau mereka. Kami mendapatkan tempat ditepi jurang terjal dan ada goa kecilnya, serta ada sungai yang bening, tapi rimbun dan nyaman. Romantis sekali tempat kami itu. Aku dan Anisa layaknya seperti Tarzan dan pacarnya di tengah hutan. Sebab seluruh baju yang kami bawa basah kuyup oleh hujan. Anisa hanya memakai selembar selayer yang dililitkan diseputar perut untuk menutupi kemaluannya. Aku telanjang bulat, karena baju kami sedang kami jemur ditepi sungai. Anisa dengan busana yang sangat minim itu membuat aku terangsang terus, demikian pula dia. Dalam hari-hari yang kami lalui kami hanya makan mi instant dan makanan kaleng.

Tepat sudah tiga hari kami ada ditempat terpencil itu. Hari terakhir, sepanjang hari kami hanya ngobrol dan bermesraan saja. Kami memutuskan esok pagi kami harus pulang. Di hari terakhir itu, kesmpatan kami pakai semaksimal mungkin. Di hari yang cerah itu, Anisa minta aku mandi bersama di sungai yang rimbun tertutup pohon-pohon besar. Kami mandi berendam, berpelukan, lalu bersenggama lagi. Anisa menuntun ‘Mr. Penny’ku masuk ke ‘Ms. Veggy’nya. Dan di menggoyangkan pinggulnya agar aku merasa nikmat. Aku demikian pula, semakin menekan ‘Mr. Penny’ku masuk kedalam ‘Ms. Veggy’nya.

Di atas batu yang ceper nan besar, Anisa membaringkan diri dengan posisi menantang, dia menguakkan selangkangngannya, ‘Ms. Veggy’nya terbuka lebar, disuruhnya aku menjilati bibir ‘Ms. Veggy’nya hingga klitoris bagian dalam yang ngjendol itu. Dia merasakan nikmat yang luar biasa, lalu disuruhnya aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang ‘Ms. Veggy’nya, dan menekannya dalam-dalam. Mata Anisa merem melek kenikmatan. Tak lama kemudian dia minta aku yang berbaring, ‘Mr. Penny’ku di elus-elus, diciumi, dijilati, lalu diisapnya dengan memainkan lidahnya, Anisa minta agar aku jangan ejakulasi dulu,
“Tahan ya ?” pintanya. ” Jangan dikeluarin lho ?!” pintanya lagi.
Lalu dia menghisap ‘Mr. Penny’ku dalam-dalam. Setelah dia enggak tahan, lalu dia naik diatasku dan memasukkan ‘Mr. Penny’ku di ‘Ms. Veggy’nya, wah, goyangnya hebat sekali, akhirnya dia yang kalah duluan. Anisa mencubiti aku, menjambak rambutku, rupanya dia ” keluar”, dan menjerit kenikmatan, lalu aku menyusul yang “keluar” dan oh,,,,oh…oh….muncratlah air maniku dilubang ‘Ms. Veggy’ Anisa.
“Jahat kamu ?!” kata Anisa seraya menatapku manja dan memukuli aku pelan dan mesra. Aku tersenyum saja. ” Jahat kamu Rangga, aku kalah terus sama kamu ” Ujarnya lagi. Kami sama-sama terkulai lemas diatas batu itu.

Esoknya kami sudah berangkat dari tempat yang tak akan terlupakan itu. Kami memadu janji, bahwa suatu saat nanti kami akan kembali ke tempat itu. Kami pulang dengan mengambil jalan ke desa terdekat dan pergi ke kota terdekat agar tidak bertemu dengan rombongan yang terpisah itu. Dari kota kecil itu kami pulang ke kota kami dengan menyewa Taxi, sepanjang jalan kami berpelukan terus di dalam Taxi. Tak sedikitpun waktu yang kami sia-siakan. Anisa menciumi pipiku, bibirku, lalu membisikkan kata
” Aku suka kamu ” Aku juga membalasnya dengan kalimat mesra yang tak kalah indahnya. Dalam dua jam perjalanan itu, tangan dan jari-jari Anisa tak henti-hentinya merogoh celana dalamku, dan memegangi ‘Mr. Penny’ku. Dia tahu aku ejakulasi di dalam celana, bahkan Anisa tetap mengocok-ngocoknya. Aku terus memeluk dia, pak Supir tak ku ijinkan menoleh kami kebelakang, dia setuju saja. Sudah tiga kali aku ” keluar” karena tangan Anisa selalu memainkan ‘Mr. Penny’ku sepanjang perjalanan di Taxi itu.
” Aku lemas sayang ?!” bisikku mesra
” Biarin !” Bisiknya mesra sekali. ” Aku suka kok !” Bisiknya lagi.
Tidak mau ketinggalan aku merogoh celana olah raga yang dipakai Anisa. Astaga, dia tidak pakai celana dalam. Ketika jari-jari tanganku menyolok ‘Ms. Veggy’nya, dia tersenyum, bulunya ku tarik-tarik, dia meringis, dan apa yang terjadi ? astaga lagi, Anisa sudah ‘keluar’ banyak, ‘Ms. Veggy’nya basah oleh semacam lendir, rupanya nafsunya tinggi sekali, becek banget. Tangan kami sama-sama basah oleh cairan kemaluan. Ketika sampai di rumah Anisa, aku disuruhnya langsung pulang, enggak enak sama tetangga katanya. Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, aku menolaknya, biar aku saja yang membayar Taxi itu. Lalu aku pulang.

Hari-hari berikutnya di sekolah, hubunganku dengan Anisa guru biologiku, nampak wajar-wajar saja dari luar. Tapi ada satu temanku yang curiga, demikian para guru. Hari-hari selanjutnya selalu bertemu ditempat-tempat khusus seperti hotel diluar kota, di pantai, bahkan pernah dalam suatu liburan kami ke Bali selama 12 hari.

Ketika aku sudah menyelesaikan studiku di SLTA, Anisa minta agar aku tak melupakan kenangan yang pernah kami ukir. Aku diajaknya ke sebuah Hotel disebuah kota, yah seperti perpisahan. Karena aku harus melanjutkan kuliah di Australia, menyusul kakakku. Alangkah sedihnya Anisa malam itu, dia nampak cantik, lembut dan mesra. Tak rela rasanya aku kehilangan Anisa. Kujelaskan semuanya, walau kita beda usia yang cukup mencolok, tapi aku mau menikah dengannya. Anisa memberikan cincin bermata berlian yang dipakainya kepada aku. Aku memberikan kalung emas bermata zamrud kepada Anisa. Cincin Anisa hanya mampu melingkar di kelingkingku, kalungku langsung dipakainya, setelah dikecupinya. Anisa berencana berhenti menjadi guru, “sakit rasanya” ujarnya kalau terus menjadi guru, karena kehilangan aku. Anisa akan melanjutkan S2 nya di USA, karena keluarganya ada disana. Setelah itu kami berpisah hingga sekian tahun, tanpa kontak lagi.

Pada suatu saat, ada surat undangan pernikahan datang ke Apartemenku, datangnya dari Dra. Anisa Maharani, MSC. Rupanya benar dia menyelesaikan S2 nya.Aku terbang ke Jakarta, karena resepsi itu diadakan di Jakarta disebuah hotel bintang lima. Aku datang bersama kakakku Rina dan Papa. Di pesta itu, ketika aku datang, Anisa tak tahan menahan emosinya, dia menghampiriku ditengah kerumunan orang banya itu dan memelukku erat-erat, lalu menangis sejadi-jadinya.
“Aku rindu kamu Rangga kekasihku, aku sayang kamu, sekian tahun aku kehilangan kamu, andai saja laki-laki disampingku dipelaminan itu adalah kamu, alangkah bahagianya aku ” Kata Anisa lirih dan pelan sambil memelukku.
Kamu jadi perhatian para hadirin, Rina dan Papa saling tatap kebingungan. Ku usap airmata tulus Anisa. Kujelaskan aku sudah selesai S1 dan akan melanjutkan S2 di USA, dan aku berjanji akan membangun laboratorium yang kuberi nama Laboratorium “Anisa”. Dia setuju dan masih menenteskan air mata.

Setelah aku diperkenalkan dengan suaminya, aku minta pamit untuk pulang, akupun tak tahan dengan suasana yang mengharukan ini. Setelah lima tahun tak ada khabar lagi dari dia, aku sudah menikah dan punya anak wanita yang kuberi nama Anisa Maharani, persis nama Anisa. Ku kabari Anisa dan dia datang kerumahku di Bandung, dia juga membawa putranya yang diberi nama Rangga, cuma Rangga berbeda usia tiga tahun dengan Anisa putriku. Aku masih merasakan getaran-getaran aneh di hatiku, tatapan Anisa masih menantang dan panas, senyumnya masih menggoda. Kami sepakat untuk menjodohkan anak kami kelak, jika Tuhan mengijinkannya.

Tamat